Anda di halaman 1dari 25

Referat

Aspek Radiologis Trauma Pada Tulang Cranium

Oleh :

Nadya Ayu Saraswati, S.Ked

Pembimbing:

dr. KMS. H. M. Sani, Sp.Rad

DEPARTEMEN RADIOLOGI

RSUP DR MOH HOESIN PALEMBANG

FK UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

Referat dengan judul:

Aspek Radiologis Trauma Pada Tulang Cranium

Disajikan oleh:

Nadya Ayu Saraswati, S.Ked

Pembimbing:

Dr. KMS. H. M. Sani. Sp.Rad

telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran
Univesitas Sriwijaya RSUP DR. Mohammad Hoesin Palembang periode 10 Juli-
23 Juli 2017.

Palembang Juli 2017

Pembimbing

Dr. KMS. H. M. Sani, Sp.Rad

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah.SWT, Rabb semesta


alam atas segala kemudahan yang diberikan-Nya sehingga referat ini akhirnya
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tak lupa shalawat dan salam selalu
tercurah kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Muhammad.SAW, keluarga, dan
para sahabatnya.

Referat dengan judul Aspek Radiologis Trauma Pada Tulang Cranium buat
sebagai salah satu syarat pada Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen
Radiologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya


saya berikan kepada Dr. KMS. H. M. Sani. Sp.Rad atas bimbingan yang telah
diberikan kepada penulis.

Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan dan
masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan dimasa yang akan datang.
Saya berharap semoga referat ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Palembang, Juli 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... ii
KATA PENGANTAR................................................................................... iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 2
2.1. Anatomi dan fisiologi kepala............................................................... 2
2.2. Trauma Kepala ................................... 3
2.3. Interpretasi Radiologis Pada Trauma Kepala............................................. 8
BAB III KESIMPULAN ............................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 18

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Trauma kepala merupakan penyebab utama kematian di berbagai negara di dunia,


terutama pada kelompok usia di bawah 40 tahun. Di negara berkembang seperti Indonesia,
seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan, frekuensi trauma kepala cenderung
makin meningkat.

Trauma kepala didefiniskan sebagai trauma non degeneratif-non kongenital yang


terjadi akibat trauma yang mencederai kepala yang kemungkinan berakibat gangguan
kognitif, fisik, dan psikososial baik sementara atau permanen yang berhubungan dengan
berkurang atau berubahnya derajat kesadaran. Mekanisme dari cedera kepala itu sendiri dapat
berasal dari cedera langsung ke jaringan otak, rudapaksa luar yang mengenai bagian luar
kepala (tengkorak) yang menjalar ke dalam otak, ataupun pergerakan dari jaringan otak di
dalam tengkorak.

Trauma kepala berperan pada kematian akibat trauma, mengingat kepala merupakan
bagian yang rentan dan sering terlibat dalam kecelakaan. Laki-laki 2 3 kali lebih sering
dibandingkan wanita, terutama pada kelompok usia resiko tinggi (usia 15 24 tahun dan >75
tahun). Berdasarkan studi epidemiologi, kecelakaan sepeda motor dan violence-related
injuries merupakan penyebab trauma kepala yang paling sering.

Pasien dengan trauma kepala memerlukan penegakan diagnosis sedini mungkin agar
tindakan terapi dapat segera dilakukan untuk menghasilkan prognosa yang baik. Peranan
diagnosa imajing juga diperlukan terutama pada pasien dengan tingkat resiko sedang-berat.
Tujuan utama dari pemeriksaan imajing pada pasien trauma kepala adalah untuk
mengkonfirmasi adakah cedera intrakranial yang berpotensi mengancam jiwa pasien bila
tidak segera dilakukan tindakan.

Hadirnya modalitas imajing seperti CT scan telah merevolusi cara mengevaluasi


diagnosa trauma kepala. Penelitian menunjukkan tindakan operasi pada trauma kepala berat
dalam rentang waktu 4 jam pertama setelah kejadian, dapat menyelamatkan kurang lebih
70% pasien. Sebaliknya, tingkat mortalitas dapat naik sampai 90% bila tindakan intervensi
dilakukan lebih dari 4 jam. Penegakan diagnosa trauma kepala diperoleh dengan pemeriksaan
klinis awal yang diteliti dan tentu ditunjang oleh diagnosa imajing.
1
BAB II

TINJAUAN
PUSTAKA

2.1. Anatomi
Fisiologi Kepala dan
Bagiannya
2.1.1 Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit,
connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose
connective tissue atau jaringan penunjang longgar, dan pericranium.
2.1.2 Tulang Tengkorak
Anatomi normal tengkorak ditunjukkan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Masalah yang
paling umum pada foto tengkorak polos adalah membedakan sutura tengkorak dari alur
pembuluh darah dan fraktur. Sutura utama adalah koronal, sagital, dan lambdoid. Sebuah
sutura juga berjalan dalam bentuk pelangi di atas telinga. Pada orang dewasa, sutura
berbentuk simetris dan memiliki tepi yang sklerotik (sangat putih). Alur vaskular biasanya
terlihat pada tampilan lateral dan meluas pada sisi posterior dan superior dari hanya di depan
telinga. Alur vaskular tersebut merupakan gambaran dari Arteri Meningea Media, yang mana
jika terjadi trauma kepala dapat menyebabkan arteri ini pecah, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya perdarahan epidural.

Gambar 1.a Foto Polos Kepala dari Proyeksi Lateral

2
Gambar 1.b. Skematik Foto Polos Kepala
Proyeksi Lateral (A) dan AP (B)

Gambar 2. Vaskularisasi pada Tulang Tengkorak

2.1.3 Meningia

Gambar 3. Potongan
Melintang Tulang
Tengkorak dan
Meningens

Meningia merupakan selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Fungsi
meningia yaitu melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan

3
sekresi (cairan serebrospinal), dan memperkecil benturan atau getaran. Meningiaterdiri atas 3
lapisan, yaitu :

a. Duramater (Lapisan sebelah luar)

Duramater adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat
tebal dan kuat, dibagian tengkorak terdiri dari selaput tulang tengkorak dan
duramater propia di bagian dalam. Duramater pada tempat tertentu mengandung
rongga yang mengalirkan darah vena dari otak, rongga ini dinamakan sinus
longitudinal superior yang terletak diantara kedua hemisfer otak.

b. Arachnoid (Lapisan tengah)

Arachnoid adalah membran impermeabel halus yang meliputi otak dan terletak
diantara piamater di sebelah dalam dan duramater di sebelah luar. Ruang sub
arachnoid pada bagian bawah serebelum merupakan ruangan yang agak besar
disebut sistermagna.

c. Piamater (Lapisan sebelah dalam)

Piamater merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak.
Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat.

2.1.4 Otak

Otak merupakan suatu organ tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat dari
semua organ tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak
(kranium) yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terdiri dari otak besar
(cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (Trunkus serebri). Besar otak orang
dewasa kira-kira 1300 gram, 7/8 bagian berat terdiri dari otak besar.

Gambar 4. Bagian
Utama dari Otak

4
a. Otak besar (cerebrum)

Otak besar adalah bagian terbesar dari otak dan terdiri dari dua hemispherium
cerebri yang dihubungkan oleh massa substansia alba yang disebut corpus
callosum. Setiap hemisfer terbentang dari os frontale sampai ke os occipitale,
diatas fossa cranii anterior, media, dan posterior, diatas tentorium cerebelli.
Hemisfer dipisahkan oleh sebuah celah dalam, yaitu fossa longitudinalis cerebri,
tempat menonjolnya falx cerebri.

Otak mempunyai 2 permukaan, permukaan atas dan permukaan bawah. Kedua


lapisan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (substansia grisea) yaitu pada bagian
korteks serebral dan substansia alba yang terdapat pada bagian dalam yang
mengandung serabut saraf. Fungsi otak besar yaitu sebagai pusat berpikir
(kepandaian), kecerdasan dan kehendak. Selain itu otak besar juga mengendalikan
semua kegiatan yang disadari seperti bergerak, mendengar, melihat, berbicara,
berpikir dan lain sebagainya.

b. Otak
kecil
(ce rebellu
m)

Otak
kecil terletak dibawah otak besar. Terdiri dari dua belahan yang dihubungkan oleh
jembatan varol, yang menyampaikan rangsangan pada kedua belahan dan
menyampaikan rangsangan dari bagian lain. Fungsi otak kecil adalah untuk
mengatur keseimbangan tubuh serta mengkoordinasikan kerja otot ketika
bergerak.

5
c. Batang Otak (Trunkus serebri)

Batang otak terdiri dari :

1. Diensefalon

Bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebellum dengan


mesensefalon, kumpulan dari sel saraf yang terdapat dibagian depan lobus
temporalis terdapat kapsula interna dengan sudut menghadap kesamping.
Diensefalon ini berperan dalam proses vasokonstriksi (memperkecil pembuluh
darah), respiratorik (membantu proses pernafasan), mengontrol kegiatan refleks,
dan membantu pekerjaan jantung.

2. Mesensefalon

Atap dari mesensefalon terdiri dari empat bagian yang menonjol ke atas, dua di
sebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan dua disebelah bawah
disebut korpus kuadrigeminus inferior. Mesensefalon ini berfungsi sebagai pusat
pergerakan mata, mengangkat kelopak mata, dan memutar mata.

3. Pons varoli

Pons varoli merupakan bagian tengah batang otak dan arena itu memiliki jalur
lintas naik dan turun seperti otak tengah. Selain itu terdapat banyak serabut yang
berjalan menyilang menghubungkan kedua lobus cerebellum dan
menghubungkan cerebellum dengan korteks serebri.

4. Medula Oblongata

Medula oblongata merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis. Medulla oblongata
memiliki fungsi yang sama dengan diensefalon.

2.1.5 Cairan Serebrospinal

Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid. Cairan ini bersifat alkali,
bening mirip plasma dengan tekanannya 60-140 mmH2O. Sirkulasi cairan serebrospinal yaitu
cairan ini disalurkan oleh plexus khoroid ke dalam ventrikel-ventrikel yang ada di dalam
otak. Cairan itu masuk ke dalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga ke dalam
ruang subaraknoid melalui celah-celah yang terdapat pada ventrikel keempat. Setelah itu
cairan ini dapat melintasi ruangan di atas seluruh permukaan otak dan sumsum tulang

6
belakang hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi araknoid pada sinus
sagitalis superior. Oleh karena susunan ini maka bagian saraf otak dan sumsum tulang
belakang yang sangat halus terletak diantara dua lapisan cairan. Dengan adanya kedua
bantalan air ini maka sistem persarafan terlindungi dengan baik. Cairan serebrospinal ini
berfungsi sebagai buffer, melindungi otak dan sumsum tulang belakang dan menghantarkan
makanan ke jaringan sistem persarafan pusat.

2.1.6 Tekanan Intra Kranial (TIK)

Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan peningkatan


tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu perfusi otak dan akan memacu
terjadinya iskemia. Tekanan intrakranial normal pada saat istirahat adalah 10 mmHg. Tekanan
intrakranial yang lebih dari 20 mmHg khususnya bila berkepanjangan dan sulit diturunkan
akan menyebabkan hasil yang buruk kepada penderita

Doktrin Monro-Kellie

Doktrin Monro-Kellie adalah suatu konsep sederhana namun penting sekali dapat
menerangkan pengertian dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa volume total
intrakranial harus selalu konstan, karena rongga kranium pada dasarnya merupakan rongga
yang tidak mungkin membesar. Oleh karena itu segera setelah cedera kepala, suatu massa
perdarahan dapat membesar sementara tekanan intrakranial masih tetap normal. Namun bila
batas penggeseran cairan serebrospinal dan darah intravaskuler terlampaui maka tekanan
intrakranial akan mendadak meningkat dengan cepat.

Doktrin Mo

Votak + VCSS + Vdarah + Vmassa = Konstan

nro-Kellie(kompensasi intrakranial terhadap massa yang berkembang):

Dalam Doktrin Monro-Kellie, dijelaskan bahwa volume isi intrakranial akan selalu
konstan. Bila terdapat penambahan massa seperti adanya hematoma akan menyebabkan
tergesernya CSS dan darah vena keluar dari ruang intrakranial dengan volume yang sama,
TIK akan tetap normal. Namun bila mekanisme kompensasi ini terlampaui maka kenaikan
jumlah massa yang sedikit saja akan menyebabkan kenaikan TIK yang tajam.
Kurva Volume-Tekanan menjelaskan bahwa isi intrakranial dapat mengkompenasi
sejumlah massa baru intrakranial, seperti perdarahan subdural atau epidural sampai pada titik
tertentu. Bila volume masa perdarahan ini telah mencapai 100-150 ml, akan terjadi

7
peningkatan tekanan intrakranial yang sangat cepat dan akan menyebabkan penghentian
aliran otak.
2.2 Trauma Kepala
2.2.1 Definisi
Trauma kepala atau trauma kepala adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa
struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan
fungsional jaringan otak. Menurut Brain Injury Association of America, trauma kepala adalah
suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi
disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi
fisik.

2.2.2 Patofisiologi

Lesi pada kepala dapat terjadi pada jaringan luar dan dalam rongga kepala. Lesi
jaringan luar terjadi pada kulit kepala dan lesi bagian dalam terjadi pada tengkorak, pembuluh
darah tengkorak maupun otak itu sendiri. Terjadinya benturan pada kepala dapat terjadi pada
tiga jenis keadaan yaitu, kepala diam dibentur benda yang bergerak, kepala yang bergerak
membentur benda yang diam, dan kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar pada
benda yang lain dibentur oleh benda yang bergerak.

Dalam mekanisme trauma kepala dapat terjadi peristiwa contre coup dan coup.
Contre coup dan coup pada trauma kepala dapat terjadi kapan saja pada orang orang yang
mengalami percepatan pergerakan kepala. Trauma kepala pada coup disebabkan hantaman
otak bagian dalam pada sisi yang terkena sedangkan contre coup pada sisi yang berlawanan
dengan daerah benturan.

Berdasarkan patofisiologinya trauma kepala dibagi menjadi trauma kepala primer dan
trauma kepala sekunder. Trauma kepala primer merupakan cedera yang terjadi saat atau
bersamaan dengan kejadian cedera, dan ini merupakan suatu fenomena mekanik. Cedera ini
umumnya menimbulkan lesi permanen. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali membuat
fungsi stabil, sehingga sel-sel yang sakit dapat menjalani proses penyembuhan yang optimal

Trauma kepala sekunder merupakan proses lanjutan dari trauma kepala primer dan
lebih merupakan fenomena metabolik. Pada penderita trauma kepala berat, pencegahan
trauma kepala sekunder dapat mempengaruhi tingkat kesembuhan penderita. Penyebab
trauma kepala sekunder antara lain penyebab sistemik (hipotensi, hipoksemia, hipo atau

8
hiperkapnea, hipertermia, dan hiponatremia) dan penyebab intrakranial (tekanan intrakranial
meningkat, hematoma, edema, pergeseran otak (brain shift), vasospasme, kejang, dan infeksi.
2.2.3 Tingkat Keparahan Trauma kepala dengan Skala Koma Glasgow (SKG)
Skala koma Glasgow adalah nilai (skor) yang diberikan pada pasien trauma kepala,
gangguan kesadaran dinilai secara kuantitatif pada setiap tingkat kesadaran. Bagian-bagian
yang dinilai adalah:

1. Proses membuka mata (Eye Opening)

2. Reaksi gerak motorik ekstrimitas (Best Motor Response)

3. Reaksi bicara (Best Verbal Response)

Pemeriksaan tingkat keparahan trauma kepala disimpulkan dalam suatu tabel Skala Koma
Glasgow (SKG).

Tabel 1. Skala Koma Glasgow

Eye Opening(E)

Mata terbuka dengan spontan 4

Mata membuka setelah diperintah 3

Mata membuka setelah diberi rangsang nyeri 2

Tidak membuka mata 1

Best Motor Response (M)

Menurut perintah 6

Dapat melokalisir nyeri 5

Menghindari nyeri 4

Fleksi (dekortikasi) 3

Ekstensi (decerebrasi) 2

Tidak ada gerakan 1

Best Verbal Response (V)

Menjawab pertanyaan dengan benar 5

Salah menjawab pertanyaan 4

Mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai 3

Mengeluarkan suara yang tidak ada artinya 2

9
Tidak ada jawaban 1
Berdasarkan Skala Koma Glasgow, trauma kepala dibagi atas:
1. Trauma kepala Ringan
Trauma kepala ringan adalah trauma kepala dengan SKG 14-15 dimana tidak
dijumpai keadaan hilangnya kesadaran (< 30 menit), pasien dapat mengeluh
pusing dan nyeri kepala, pasien dapat menderita abrasi, laserasi, atau
hematoma kulit kepala serta tidak adanya kriteria cedera sedang-berat.
2. Trauma kepala Sedang
Trauma kepala sedang adalah trauma kepala dengan SKG 9-13. Pasien
mungkin bingung atau somnolen namun tetap mampu untuk mengikuti
perintah sederhana. Dapat dijumpai konkusi, amnesia pasca-trauma, muntah,
kejang serta tanda kemungkinan fraktur kranium (Battle sign, mata rabun,
otorea, atau rinorea cairan serebrospinal).
3. Trauma kepala Berat
Trauma kepala berat adalah trauma kepala dengan SKG 3-8 dimana terdapat
penurunan derajat kesadaran secara progresif (koma). Pada keadaan ini dapat
dijumpai tanda neurologis fokal, serta trauma kepala penetrasi atau teraba
fraktur depresi kranium. Hampir 100% trauma kepala berat dan 66% trauma
kepala sedang menyebabkan cacat yang permanen. Pada trauma kepala berat
terjadinya cedera otak primer seringkali disertai cedera otak sekunder apabila
proses patofisiologi sekunder yang menyertai tidak segera dicegah dan
dihentikan.

2.2.4 Fraktur Tulang Kepala

Fraktur tulang kepala atau tengkorak dapat terjadi pada atap maupun dasar tengkorak,
dapat berbentuk garis atau bintang, dan dapat pula terbuka ataupun tertutup. Adanya tanda-
tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan kita untuk melakukan
pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara lain ekimosis periorbital (raccoon eyes
sign), ekimosis retroaurikular (battles sign), kebocoran cairan serebrospinal dari hidung
(rhinorrhea) atau dari telinga (otorrhea) dan gangguan fungsi saraf kranialis V2 (fasialis) dan
V2 (gangguan pendengaran) yang mungkin timbul segera atau beberapa hari paska trauma
kepala.

10
2.2.5 Perdarahan Intrakranial

2.2.5.1 Perdarahan Subgaleal

Subgaleal hematoma adalah perdarahan antara periosteum dan galea aponeurosis.


Sebagian besar terjadi karena tindakan vaccum pada saat persalinan (ventouse assisted
delivery), dimana terjadi ruptur pada vena emissary (penghubung antara dural sinus dan vena
scalp) yang menyebabkan akumulasi darah dibawah aponeurosis dan di permukaan
periosteum. Subgaleal hematoma juga sering terjadi pada trauma kepala, perdarahan
intrakranial, atau fraktur tengkorak. Hal-hal tersebut tidak berhubungan secara signifikan
dengan tingkat keparahan perdarahan subgaleal.

2.2.5.2 Perdarahan Epidural

Perdarahan epidural adalah perdarahan antara tulang kranial dan duramater, yang
biasanya disebabkan oleh robeknya arteri meningea media. Kelainan ini pada fase awal tidak
menunjukkan gejala atau tanda. Baru setetelah hematoma bertambah besar akan terlihat tanda
pendesakan dan peningkatan tekanan intrakranial. Penderita akan mengalami mual dan
muntah diikuti dengan penurunan kesadaran. Gejala perdarahan epidural yang klasik atau
temporal berupa kesadaran yang semakin menurun (biasanya somnolen), disertai oleh
anisokoria pada mata ke sisi dan mungkin terjadi hemiparese kontralateral.

2.2.5.3 Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terletak diantara duramater dan


arakhnoid. Perdarahan subdural merupakan perdarahan intrakranial yang paling sering
terjadi. Karakteristik perdarahan subdural biasanya dibagi berdasarkan ukuran, lokasi dan
lama kejadian.

a. Perdarahan subdural akut

Secara umum perdarahan subdural akut terjadi dibawah 72 jam dan biasanya
pasien dalam keadaan koma. Gejala klinis perdarahan subdural akut dapat berupa
pusing, mual, bingung, penurunan kesadaran, sulit berbicara, henti napas dan
hilangnya kontrol atas denyut nadi dan tekanan darah.

b. Perdarahan subdural subakut

Perdarahan subdural subakut, biasanya terjadi dari hari ketiga hingga minggu
ketiga setelah cedera.

11
c. Perdarahan subdural kronis

Perdarahan subdural kronis biasanya terjadi setelah 21 hari atau lebih. 25


hingga 50 persen dari pasien yang menderita perdarahan subdural kronis tidak
memiliki riwayat trauma kepala, biasanya trauma kepala yang terjadi adalah trauma
kepala ringan. Gejala klinis dari perdarahan ini dapat berupa penurunan kesadaran,
pusing, kesulitan berjalan atau keseimbangan, disfungsi kognitif atau hilang ingatan,
perubahan kepribadian, defisit motorik, kejang, dan inkontinensia.

2.2.5.4 Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah ekstravasasi darah ke dalam rongga subaraknoid


yang terdapat di antara lapisan piamater dan membran araknoid. Etiologi yang paling sering
dari perdarahan subaraknoid non traumatik adalah pecahnya aneurisma intrakranial (berry
aneurism). Gejala klinisnya biasanya tampak sepuluh hingga dua puluh hari setelah
terjadinya ruptur. Gejala yang paling sering berupa sakit kepala, nyeri daerah orbital,
diplopia, gangguan penglihatan, gangguan sensorik dan motorik, kejang, ptosis, disfasia.

2.2.5.5 Perdarahan Intraventrikular

Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada ventrikel otak.


Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi perdarahan intraserebral.

2.2.5.6 Perdarahan Intraserebral

Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada jaringan otak yang


semakin lama semakin banyak dan menimbulkan tekanan pada jaringan otak sekitar. Hal ini
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang dapat menyebabkan konfusi dan letargi.
Gejala klinis biasanya timbul dengan cepat bergantung pada lokasi perdarahan. Gejala yang
paling sering adalah sakit kepala, nausea, muntah, letargi atau konfusi, kelemahan mendadak
atau kebas pada wajah, tangan atau kaki yang biasanya pada satu sisi, hilangnya kesadaran,
hilang penglihatan sementara, dan kejang.

2.3. Interpretasi Radiologis Pada Trauma Kepala


2.3.1. Indikasi Pemeriksaan Radiologis
Tidak semua pasien dengan cedera kepala membutuhkan pemeriksaan
neuroradiologis. Penelitian menunjukkan bahwa kurang dari 10% pasien dengan cedera
kepala ringan ternyata memiliki hasil yang positif pada pemeriksaan CT scan, dimana kurang

12
dari 1% yang membutuhkan intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sejumlah
kecil pasien yang diuntungkan dengan pencitraan radiologis.

Pasien harus diperiksa secara klinis dan diagnosis dibuat berdasarkan apakah pada
pemeriksaan fisik dan riwayat perjalanan penyakit menunjukkan cedera kepala sedang hingga
berat atau cedera kepala ringan. CT, MRI, atau radiografi tengkorak tidak diperlukan untuk
pasien berisiko rendah. Risiko rendah didefinisikan sebagai mereka yang tidak menunjukkan
gejala atau hanya pusing, sakit kepala ringan, kulit kepala lecet, atau hematoma, usia lebih
dari 2 tahun, dan tidak memiliki temuan yang berisiko sedang ataupun tinggi.

Pasien dengan resiko sedang adalah mereka yang memiliki salah satu kondisi berikut:
riwayat penurunan tingkat kesadaran beberapa waktu ataupun setelah terjadi cedera kepala,
sakit kepala berat atau progresif, kejang pasca-trauma, muntah terus menerus, multipel
trauma, cedera wajah yang serius, tanda-tanda dari fraktur tengkorak basilar (hemotympanum,
raccoon eyes, rinorrea atau otorrea), dugaan kekerasan pada anak, gangguan perdarahan,
atau usia lebih muda dari 2 tahun.

Pasien berisiko tinggi adalah mereka dengan salah satu kondisi berikut: temuan
neurologis fokal, pasien dengan derajat kesadaran berdasarkan GCS dengan skor 8 atau
kurang, dipastikannya terdapat penetrasi tengkorak, gangguan metabolik, keadaan postictal,
atau penurunan atau depresi tingkat kesadaran (tidak berhubungan dengan narkoba, alkohol ,
atau obat-obatan depresan pada system saraf pusat lainnya). Jika terdapat cedera sedang atau
berat dan pasien dengan kondisi neurologis yang tidak stabil, CT scan harus dilakukan untuk
menyingkirkan adanya hematoma. Jika pasien dengan kondisi neurologis yang stabil, MR
scan lebih digunakan untuk mencari cedera dengan penekanan parenkim. Dalam cedera
kepala ringan (tanpa kehilangan kesadaran atau defisit neurologis), pasien dapat hanya
diobservasi. Jika sakit kepala terus-menerus terjadi setelah trauma, CT scan harus dilakukan.

2.3.2. Foto Polos Kepala

Foto polos kepala hanya menunjukkan ada tidaknya patah tulang, dan tidak mampu
menghasilkan visibilitas yang baik pada otak atau adanya darah untuk menunjukkan cedera
intrakranial. Adanya patah tulang tengkorak tanpa kelainan neurologis tidak begitu signifikan.
Patah tulang tengkorak yang ditentukan berdasarkan pemeriksaan foto polos kepala pada
pasien dengan cedera kepala ringan telah dilaporkan dengan angka sangat rendah, mulai dari
1,9% hingga 4,3%. Patah tulang tengkorak tidak selalu berarti cedera intrakranial yang
signifikan, meskipun tidak adanya patah tulang tengkorak, pasien dapat memiliki kelainan

13
patologis yang signifikan pada intrakranialnya.

Foto polos kepala sangat membantu pada pasien yang dicurigai tidak cedera akibat
kecelakaan, patah tulang tengkorak depresi, cedera kepala akibat penetrasi oleh benda asing,
atau trauma kepala pada anak-anak kurang dari 2 tahun,walaupun tanpa gejala neurologis.

- Fraktur pada Tulang Tengkorak

Pemeriksaan foto polos kepala untuk melihat pergeseran (displacement) fraktur tulang
tengkorak, tetapi tidak dapat menentukan ada tidaknya perdarahan intrakranial. Fraktur pada
tengkorak dapat berupa fraktur impresi (depressed fracture), fraktur linear, dan fraktur
diastasis (traumatic suture separation). Fraktur impresi biasanya disertai kerusakan jaringan
otak dan pada foto terlihat sebagai garis atau dua garis sejajar dengan densitas tinggi pada
tulang tengkorak (Gambar 9.a). Fraktur linear harus dibedakan dari gambaran pembuluh
darah normal atau dengan garis sutura interna, yang tidak bergerigi seperti sutura eksterna.
Garis sutura interna bersifat superimposisi pada sutura yang bergerigi, sedangkan fraktur
akan menyimpang dari itu di beberapa titik. Selain itu, pada foto polos kepala, fraktur ini
terlihat sebagai garis radiolusen, paling sering di daerah parietal (Gambar 9.a). Garis fraktur
biasanya lebih radiolusen daripada pembuluh darah dan arahnya tidak teratur. Fraktur
diastasis lebih sering pada anak-anak dan terkihat sebagai pelebaran sutura (Gambar 9.a).

Gambar 9.a Gambaran Fraktur Impresi (kiri), Fraktur Linear (tengah), dan Fraktur Diastasis
(kanan) pada Foto Polos Kepala

2.3.3 CT scan (Computerized Tomography, CT) Kepala


- Indikasi CT scan pada Trauma Kepala
Dengan CT scanisi kepala secara anatomis akan tampak dengan jelas. Pada trauma
kepala, fraktur, perdarahan dan edema akan tampak dengan jelas baik bentuk maupun
ukurannya. Indikasi pemeriksaan CT scanpada kasus trauma kepala adalah seperti berikut:
1. Bila secara klinis didapatkan klasifikasi trauma kepala sedang dan berat.
2. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak.
3. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii.

14
4. Adanya defisit neurologi, seperti kejang dan penurunan gangguan kesadaran.
5. Sakit kepala yang hebat.
6. Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi jaringan otak.
7. Kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral.
Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat seluruh struktur anatomis kepala, dan
merupakan alat yang paling baik untuk mengetahui, menentukan lokasi dan ukuran dari
perdarahan intrakranial.
- Interpretasi Gambaran CT Scan pada Trauma Kepala

- Fraktur Tulang Kepala

Fraktur pada dasar tengkorak seringkali sukar dilihat. Fraktur dasar tengkorak (basis
kranii) biasanya memerlukan pemeriksaan CT Scan dengan teknik Jendela Tulang (bone
window) untuk mengidentifikasi garis frakturnya. Fraktur dasar tengkorak yang melintang
kanalis karotikus dapat mencederai arteri karotis (diseksi, pseuoaneurisma ataupun
trombosis) perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pemeriksaan angiography cerebral.

Gambar 10. Gambaran Fraktur Basis Kranii


pada CT Scan Kepala

Pada Gambar 10, memperlihatkan gambaran fraktur tulang temporal petrous kiri,
yang melibatkan telinga tengah (panah kecil). Dapat dilihat juga adanya gambaran sedikit
udara pada fossa posterior dari tulang tengkorak (panah terbuka).

- Perdarahan Epidural

Hematoma epidural didefinisikan sebagai perdarahan ke dalam ruang antara


duramater, yang tidak dapat dipisahkan dari periosteumtengkorak dan tulang yang berdekatan

15
Hematoma epidural biasanya dapat dibedakan dari hematoma subdural dengan bentuk
bikonveks dibandingkan dengan crescent-shape dari hematoma subdural. Selain itu, tidak
seperti hematoma subdural, hematoma epidural biasanya tidak melewati sutura. Hematoma
epidural sangat sulit dibedakan dengan hematoma subdural jika ukurannya kecil. Dengan
bentuk bikonveks yang khas,elips, gambaran CT scan padahematoma epidural tergantung
pada sumber perdarahan, waktu berlalu sejak cedera, dan tingkat keparahan perdarahan.
Karena dibutuhkan diagnosis yang akurat dan perawatan yang cepat, diperlukan pemeriksaan
CT scan dengan cepat dan intervensi bedah saraf

Pada Gambar 11, pasien mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, terlihat


peningkatan kepadatan (hiperdens) di daerah lenticular pada CT Scan aksial non kontras di
wilayah parietalis kanan. Ini biasanya terjadi akibat pecahnya arteri meningeal media.
Sedikit perdarahan juga terlihat di lobus frontal kiri (perdarahan intraserebral).

Gambar 11. Gambaran Perdarahan Epidural


pada CT Scan Kepala Non-kontras

- Perdarahan Subdural

Sebelum CT scan dan teknologi pencitraan magnetik (MRI), hematoma subdural


didiagnosis hanya berdasarkan efek massa, yang digambarkan sebagai perpindahan dari
pembuluh darah pada angiogram atau sebagai kalsifikasi kelenjar hipofisis pada foto polos
kepala. Munculnya CT scan dan MRI telah menjadi pilihan diagnosik rutin bahkan untuk
perdarahan kecil.

16
Temuan CT scan dalam hematoma subdural tergantung pada lamanya perdarahan
(Gambar 11).

Pada fase akut, hematoma subdural muncul berbentuk bulan sabit, ketika cukup besar,
hematoma subdural menyebabkan pergeseran garis tengah. Pergeseran dari gray matter-white
matter junction merupakan tanda penting yang menunjukkan adanya lesi.

Gambar 13. Gambaran


Perdarahan Subdural
pada CT Scan

Jika ditemukan hematoma subdural pada CT scan, penting untuk memeriksa adanya
cedera terkait lainnya, seperti patah tulang tengkorak (Gambar 14), kontusio intra parenkimal,
dan darah pada subaraknoid (Gambar 14). Adanya cedera parenkim pada pasien dengan
hematoma subdural adalah faktor yang paling penting dalam memprediksi hasil klinis
mereka.

Gambar 14. Gambaran Perdarahan Subdural dengan Fraktur Tengkorak (kiri)


dan Perdarahan Subdural disertai Perdarahan Subarakhnoid (kanan)
- Perdarahan Subaraknoid

Pada CT scan, perdarahan subaraknoid (SAH) terlihat mengisi ruangan subaraknoid


yang biasanya terlihat gelap dan terisi CSF di sekitar otak. Rongga subaraknoid yang
biasanya hitam mungkin tampak putih di perdarahan akut. Temuan ini paling jelas terlihat
dalam rongga subaraknoid yang besar.

17
Gambar 15. Gambaran
Perdarahan Subarakhnoid
pada CT Scan Kepala

Ketika CT scan dilakukan beberapa hari atau minggu setelah perdarahan awal, temuan
akan tampak lebih halus. Gambaran putih darah dan bekuan cenderung menurun, dan tampak
sebagai abu-abu. Sebagai tambahan dalam mendeteksi SAH, CT scan berguna untuk
melokalisir sumber perdarahan.
- Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral biasanya disebabkan oleh trauma terhadap pembuluh darah,
timbul hematoma intraparenkim dalam waktu -6 jam setelah terjadinya trauma. Hematoma
ini bisa timbul pada area kontralateral trauma. Pada CT scan sesudah beberapa jam akan
tampak daerah hematoma (hiperdens), dengan tepi yang tidak rata.

Gambar 17. Gambaran Perdarahan Intraserebral pada CT Scan Kepala

- Perdarahan Intraventrikular
Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada ventrikel otak.
Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi perdarahan intraserebral (Gambar
18).Pada perdarahan intraventrikular akan terlihat peningkatan densitas dari gambaran CT

18
scan kepala. Jika terlambat ditangani, perdarahan intraventrikular akan menyebabkan
terjadinya ventrikulomegali pada sistem ventrikel (hidrosefalus) dari gambaran CT scan.

Gambar 18. Gambaran Perdarahan Intraserebral disertai


Perdarahan Intraventrikular pada CT Scan Kepala

BAB III

KESIMPULAN

19
Trauma kepala adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala
sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan
otak. Berdasarkan Skala Koma Glasgow, trauma kepala dibagi atas trauma kepala ringan
(SKG 14-15), sedang (SKG 9-13) dan berat (SKG 3-8). Trauma kepala dapat menimbulkan
perdarahan intrakranial berupa fraktur yulang kepala, perdarahan epidural, perdarahan
subdural, perdarahan subarakhnoid, perdarahan intraventrikular, dan perdarahan
intraserebral. Pemeriksaan foto polos kepala digunakan untuk melihat pergeseran
(displacement) fraktur tulang tengkorak, tetapi tidak dapat menentukan ada tidaknya
perdarahan intrakranial.
Pemeriksaan tomografi komputer(CT Scan) kepala sangat berguna pada trauma kepala
karena isi kepala secara anatomis akan tampak dengan jelas. Pada trauma kepala, fraktur,
perdarahan dan edema akan tampak dengan jelas baik bentuk maupun ukurannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. American College of Surgeons. Advance Trauma Life Support For Doctor. 7th ed.
2004. USA: First Impression.

20
2. Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Radiologi Diagnostik. Edisi 7. 2001. Balai
Penerbit FKUI

3. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke -6. 2006.Jakarta:
EGC.

4. Irwan O. Trauma Kepala. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2006.

5. Mansjoer A., Suprohaita, Wardhani WI., SetiowulanW. Kapita Selekta Kedokteran.


Edisi Ketiga. 2000. Jakarta: Media Aesculapius.

6. Malueka R. G. Radiologi Diagnostik.Edisi 2. 2007. Yogyakarta: Pustaka Cendekia


Press Yogyakarta

21