Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus

DEMAM LAMA ec. SUSPEK ECHINOCOCCUS + DM


TIPE I + AIHA

Oleh :

Khairunnisa (04054821618086)
Annisa Khaira Ningrum (04054821719060)
Muhammad Mardian Safitra (04054821719061)

Pembimbing:
dr. R.M. Faisal, Sp.Rad (K)

Departemen Radiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Rumah Sakit Dr. Muhammad Hoesin Palembang
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus yang berjudul


Marasmus

Oleh :
Khairunnisa (04054821618086)
Annisa Khaira Ningrum (04054821719060)
Muhammad Mardian Safitra (04054821719061)

sebagai salah satu persyaratan mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik


Bagian Radiologi RSMH Palembang/Fakultas Kedokteran Unsri.

Palembang, 17 Juli 2017


Pembimbing,

dr. R.M. Faisal, Sp.Rad (K)


KATA PENGANTAR

Salam sejahtera,
Segala puji bagi Tuhan YME karena atas rahmat-Nya lah laporan kasus yang berjudul
Demam Lama ec. Suspek Echinococcus + DM TIPE I + AIHA ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. dr. R.M. Faisal, Sp. Rad (K) sebagai dosen pembimbing
2. Rekan-rekan seperjuangan yang turut meluangkan banyak waktu dalam membantu
proses penyelesaian laporan kasus ini.
3. Semua pihak yang telah ikut membantu proses penyusunan laporan kasus hingga
laporan kasus ini selesai.
Dalam penyusunan laporan kasus ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan, baik dari isi maupun teknik penulisan. Sehingga apabila ada kritik dan saran dari
semua pihak maupun pembaca untuk kesempurnaan laporan kasus ini, penulis mengucapkan
banyak terimakasih.

Palembang, Juli 2017

Penulis
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI
Nama : Novita Nurul Latifah
Umur : 13 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat badan : 31 kg
Tinggi badan : 135cm
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Alamat : Jl. H. Sanusi Lr. Kopral Slamet KM. 5 Kel. Suka Bangun Kec.
Sukarami Kota Palembang
MRS : 14 Juni 2017

II. ANAMNESIS
(Alloanamnesis dengan ibu kandung penderita, 10 Juli 2017)
Keluhan utama : Demam lama
Keluhan tambahan : Pucat
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh demam hilang
timbul yang turun dengan pemberian paracetamol. Penderita juga mengeluh timbul
benjolan pada leher kanan yang bertambah besar dan nyeri jika ditekan. Sejak 5 hari
sebelum masuk rumah sakit pasien batuk, sesak napas (-), diare (-), mual (-), dan muntah
(-).
Riwayat penyakit dahulu
Pasien sudah terdiagnosa DM tipe I sejak 1 bulan yang lalu.
Riwayat Pengobatan
Pasien menggunakan Levemir dan Novorapid.
Pasien mendapat antibiotik Amoxicilin selama 2 minggu.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
BB : 31 kg
TB : 135 cm
Gizi : Gizi buruk
Edema umum : tidak ada
Sianosis : tidak ada
Dyspnoe : tidak ada
Anemis : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Pernapasan : 24 kali/ menit
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 140 kali/ menit, isi dan tegangan cukup, reguler
Suhu : 39,7 oC

Keadaan Spesifik
Kepala dan Leher
Kepala : napas cuping hidung (-), sklera ikterik (-), konjungtiva anemis (-)
Tonsil : T1-T1, tidak hiperemis
Faring : tidak hiperemis
Konjungtiva : konjungtiva anemis (+), edema (-)

Mata
Sklera : ikterik (-)
Pupil : d= 3 mm, refleks cahaya +/+, pupil bulat, isokor
Leher : pembesaran KGB (+)

Thorax
Paru-paru
Inspeksi : statis dan dinamis simetris, retraksi tidak ada, pernapasan
torakoabdominal, iga manggembung (+)
Palpasi : stremfremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-).

Jantung
Inspeksi : pulsasi, iktus cordis dan voussure cardiaque tidak terlihat
Palpasi : thrill tidak teraba
Perkusi : jantung dalam batas normal
Auskultasi : HR= 140 kali/ menit, irama reguler, murmur dan gallop tidak ada
Bunyi Jantung I dan II normal

Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : lemas, hepar dan lien tidak teraba membesar
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal

Ekstremitas
Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada

Pemeriksaan Neurologis
Fungsi Motorik :
Tungkai Lengan
Pemeriksaan Kanan Kiri Kanan kiri
Gerakan Segala arah Segala arah Segala arah Segala arah
Kekuatan +5 +5 +5 +5
Tonus Eutoni Eutoni Eutoni Eutoni
Klonus - - - -
Refleks fisiologis +N +N +N +N
Refleks patologis - - - -

Fungsi sensorik : dalam batas normal


IV. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hematologi (11 Juli 2017)
Hb : 7,6 g/dl
Ht : 23 vol%
Eritrosit : 2.730.000/mm3
Leukosit : 20.500 /mm3
Trombosit : 209.000/mm3
Diff count : 0/0/90/6/4
LED : 50mm/jam

Faal Hemostasis (08 Juli 2017)


Waktu perdarahan : 1 menit
Waktu pembekuan : 9 menit
PT : 14.3 detik
APTT : 29.8 detik

Kimia Klinik (10 Juli 2017)


BSS : 281 mg/dl
Kolestrol total : 91 mg/dl
Asam urat : 5,3 mg/dl
Ureum : 50 mg/dl
Kreatinin : 0,5 mg/dl
Protein total : 7,8 g/dl
Albumin : 3,7 g/dl
Globulin : 4,7 g/dl
SGOT : 28 u/l
SGPT : 19 u/l
Na : 143 mmol/l
K : 3,9 mmol/l
Ca : 9.5 mmol/l
Cl : 111 mmol/l
Urinalisis (11 Juli 2017)
Urin lengkap
Warna : kuning
Kejernihan : jernih
Berat jenis : 1.010
pH : 6.0
Protein : negatif
Glukosa : positif +
Keton : negatif
Darah : negatif
Bilirubin : negatif
Sedimen urin
Epitel : positif +
Leukosit : 0-1/LBP
Eritrosit : 0-1/LBP
Silinder : negatif
Kristal : negatif
Bakteri : positif +
Mukus : positif +
Jamur : positif +

V. DIAGNOSIS KERJA
Demam lama ec. Suspek Echinococcus + DM tipe I + AIHA

VI. PROGNOSIS
Dubia ad malam

VII. FOLLOW UP
Tanggal
10 Juli 2017 S : demam (-), bebas demam 2 hari, A : demam lama ec suspek
muntah (-), nyeri perut (-), pucat (+) limfadenitits TB DD/ infeksi
Echinococcus dengan bebas
O : BB = 31 kg
TB = 135 cm demam 2 hari, DM tipe I,
Kepala AIHA
Mata : Konjungtiva anemis (+) P : - IVFD D 5 NS 20
Thorax : simetris, retraksi (-) gtt/meni
Cor : BJ I dan II N, bising (-) - Meropenem 3x650 mg
Pulmo : Vesikuler + N, rhonki (-/-), - Amikasin 2x250 mg
wheezing (-/-) - Albendazol 2x250mg
Abdomen : datar, lemas, H/L tidak teraba - Parasetamol tablet
membesar 500mg
Ekstremitas : akral hangat - Injeksi levemir 1x12
unit
- Injeksi novorapid 5-5-
5 IV
- Metilprednisolon 4mg
2-1-1
- Transfusi WE 2x150
cc
- Rencana CT-Scan
abdomen dengan
kontras
18 Juli 2017 S : demam (+), pucat (+), sesak napas (+) A : demam lama ec suspek
O: Echinococcus, DM tipe I,
Mata : Konjungtiva anemis (-) AIHA
Hidung dan Mulut : terpasang sungkup P : - IVFD D 5 NS 20
NRM 10L/menit gtt/meni
Thorax : simetris, retraksi (-), iga gambang - Injeksi meropenem
(-) 3x650 mg
Cor : BJ I dan II N, bising (-) - Injeksi amikasin
Pulmo : Vesikuler + N, rhonki (-/-), 2x250 mg
wheezing (-/-) - Albendazol 2x250mg
Abdomen : datar, lemas, H/L tidak teraba - Parasetamol tablet
membesar 500mg
Ekstremitas : akral hangat
- Injeksi levemir 1x12
unit
- Injeksi novorapid 5-5-
5 IV
- Metilprednisolon 4mg
2-1-1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. ECHINOCOCCUS
Echinococcosis merupakan zoonosis yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Penyakit ini
disebabkan cacing dewasa atau stadium larva (metasestoda) spesies Cestoda, genus
Echinococcus (famili Taeniidae). Terdapat enam spesies Echinococcus spp, empat di antaranya
menginfeksi manusia, yaitu Echinococcus multilocularis menyebabkan penyakit alveolar
echinococcosis, Echinococcus granulosus menyebabkan cystic echinococcosis, Echinococcus
vogeli dan Echinococcus oligarthrus meyebabkan polycystic echinococcosis.
Penyakit ini merupakan masalah kesehatan utama karena dapat menyebabkan emerging
dan re-emerging diseases. Habitat cacing dewasa di usus halus hewan karnivora seperti anjing
dan kucing (hospes defi nitif). Larva hidatid hidup pada inang antara (hospes perantara) hewan
ungulata (domba, babi, kuda, sapi, dan kerbau). Cacing dewasa memproduksi telur dalam usus
dan dikeluarkan bersama fases sehingga mencemari tanah. Hospes perantara dapat terinfeksi
karena termakan telur Echinoccocus spp yang mencemari rumput atau tanah. Manusia tertular
secara insidental melalui makanan yang tercemar telur Echinococcus spp infektif atau melalui
tangan yang tidak bersih pada saat makan.1-3 Echinococcus granulosus ditemukan di seluruh
dunia, dengan daerah endemik Amerika bagian selatan (Argentina, Brazil, Chili, Peru,
Uruguay), pantai Mediterania (Bulgaria, Siprus, Prancis, Yunani, Italia, Portugal, Spanyol,
Yugoslavia, Rusia selatan) Asia barat daya (Irak, Turki, Iran), Afrika Utara (Aljazair, Maroko,
Tunisia), Australia, New Zealand, Kenya dan Uganda. Distribusi geografi s E. multilocularis
ditemukan hanya di belahan bumi Utara yaitu Eropa Timur, Turki, Irak, India Utara, Cina
Tengah dan Jepang, Kanada, Alaska, Amerika Utara (Montana sampai Ohio Tengah), Eropa
bagian kutub utara, Asia, daratan Amerika. Echinococcus oligarthrus dan E. vogeli hanya
terdapat di Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Penelitian echinococcosis belum banyak, mungkin karena kurangnya kasus/kejadian.
Echinococcosis pernah dilaporkan oleh Palmieri (1984) pada masyarakat usia lebih 10 tahun
yang bermukim di Danau Lindu Sulawesi Tengah (17 di antara 903 serum darah yang diperiksa
positif antibodi Echinococcus spp). Namun, pemeriksaan feses anjing yang telah diberi
purgative arecolin HBr tidak menemukan telur serta cacing dewasa Echinococcus spp.3 Negara
endemik banyak melakukan penelitian penyakit zoonosis karena echinococcosis berdampak
pada kesehatan masyarakat dan perekonomian.
I. SIKLUS HIDUP ECHINOCOCCUS SPP

Siklus hidup Echinococcus granulosus dimulai dari cacing dewasa (panjang 3-6 mm) tinggal
dalam usus kecil hospes definitif (anjing, serigala, kucing, jackal). Proglotid yang matang
(gravid) akan melepaskan telur dan dikeluarkan bersama feses hospes definitif. Jika termakan
oleh hospes perantara yang cocok (di alam: domba, lembu, unta, babi, kuda), telur pecah di
usus kecil, melepaskan onkosfer yang berpenetrasi ke dinding usus dan bermigrasi mengikuti
sistem sirkulasi ke organ, terutama hati dan paru. Pada hati dan paru, onkosfer akan
berkembang menjadi kista, perlahan-lahan membesar dan menghasilkan protoskoleks dan kista
anak (daughter cyst), yang kemudian mengisi ruang kista.
Hospes definitif akan terinfeksi jika memakan organ hospes perantara yang terinfeksi
kista. Di usus, protoskoleks mengalami evaginasi dengan menempel pada dinding usus menjadi
cacing dewasa (32-80 hari). Siklus hidup yang sama juga terjadi pada E. multilocularis (ukuran
cacing dewasa 1,2 2,7 mm), E. oligarthrus (ukuran cacing dewasa 2,9 mm), dan E. vogeli
(ukuran cacing dewasa 5,6 mm), tetapi berbeda hospes definitifnya dan hospes perantaranya.

II. EPIDEMIOLOGI
Echinococcus granulosus
Secara geografi s, E. granulosus memiliki sejumlah galur dengan afi nitas berbeda-beda,
bergantung pada spesies hospes defi nitifnya. Studi biologi molekuler terhadap DNA
mitokondria E. granulosus memperoleh 10 galur tipe genetik (G1-G10): 2 galur dari domba
(G1 dan G2), 1 dari kuda (G4), 1 dari unta (G6), 1 dari babi (G7), 1 dari serigala, anjing, kucing,
atau tikus (G8), 1 dari babi (G9) di Polandia, dan 1 dari rusa kutub di Eurasia (G10). Galur G1
bersifat kosmopolit dan banyak menginfeksi manusia.
Prevalensi tinggi ditemukan di daerah beriklim sedang, seperti Amerika Selatan, pesisir
Mediterania, Rusia Tengah dan Selatan, Asia Tengah, Cina, Australia, dan beberapa negara
Afrika. Di Amerika Serikat, lebih banyak didiagnosis pada imigran berasal dari daerah
endemik echinococcosis. Penyebaran sporadik autokton terjadi di Alaska, California, Utah,
Arizona, dan New Mexico. Infeksi parasit E. granulosus bersifat re-emerging jika tidak
dikendalikan; di Bulgaria, pada 1970-1990 (annual incidence 0,7-5,4/100.000) meningkat pada
1993-2002 (annual incidence 3,4-8,1/100.000).
a. E. multilocularis
Cacing dewasa E. multilocularis hidup pada hospes defi nitif: rubah (Vulpes vulpes,
Vulpes ferrilata, Vulpes corsac, Alpex lagopus), serigala ( C. latrans), lynx (Lynx spp), felis
(Felis silvertris), rakun (Nyctereutes procyonoides), dan jackal. Hewan pengerat (Microtus
spp), termasuk mencit, merupakan hospes perantara. Parasit ini menyebabkan alveolar
echinococcosis (AE) yang pernah dilaporkan di Eropa Tengah, Rusia, Asia Tengah, Cina,
Kanada Barat dan Utara, Alaska Barat. Data kasus AE pada manusia sulit dievaluasi karena
rendahnya prevalensi, periode asimptomatik yang lama sehingga identifi kasi kejadian infeksi
berdasarkan tempat dan waktu sulit dilakukan.
Data annual incidence daerah endemik di Eropa menunjukkan peningkatan (0,1/100.000
di tahun 1993-2000 dan 0,26/100.000 di tahun 2001-2005).10,11 Penyebaran parasit E.
multilocularis dapat menyebar ke daerah nonendemik di Amerika Utara dan kepulauan
Hokkaido Jepang karena migrasi dan relokasi hewan rubah. Para pemburu bisa terinfeksi AV
karena sering kontak dengan rubah yang diambil bulunya.

b. E. vogeli dan E. oligarthrus


Echinococcus vogeli banyak ditemukan di kawasan hutan tropis seperti di Amerika Selatan.
Hospes defi nitifnya adalah pacas (Cuniculus paca), agoutis (Dasyprocta spp), dan spiny rats
(Proechmys spp). Di daerah endemik, hewan pemburu (anjing) biasanya memakan usus pacas
yang terinfeksi sehingga dapat tertular dan terpajan pada manusia. Echinococcus vogeli dapat
menyebabkan polycystic echinococcosis (PE) pada manusia.
Penyakit ini ditemukan di Panama, Peru, Ekuador, Kolombia, Venuzuela, dan Brazil.
Sementara itu, hospes defi nitif E. oligarthrus adalah kucing liar Felix (Felis colocolo, Felis
geyoffroyi, Felis pardalis, Felis yagouaroundi), Panthera onca, Puma concolor, dan Lynx
rufus. HospesperantaraE.oligarthrusadalah rodenliar (Proechmys spp, Didelphis marsupialis,
Tylomys panamensis, dan Sigmadon hispidus).

III. ECHINOCOCCOSIS PADA MANUSIA


a. Inkubasi
Periode inkubasi echinococcosis pada manusia berlangsung beberapa bulan sampai beberapa
tahun, dapat berlangsung 20-30 tahun. Perkembangan kista lambat dan lokasi kista tidak
spesifik.
b. Gejala Klinis
Gejala klinis echinococcosis bergantung pada ukuran, jumlah dan lokasi larva (metasestoda).
Pembesaran kista dapat merusak jaringan, biasanya tanpa gejala (asimptomatik). Gejala klinis
berupa adanya lesi luas pada jaringan/ organ.

Infeksi E. granulosus (cystic echinococcosis)


Manifestasi klinis cystic echinococcosis bervariasi, bergantung pada lokasi dan ukuran kista.
Pertumbuhan kista lambat, 1-5 cm per tahun, bersifat toleran pada jaringan/organ sekitar
sampai membesar dan menyebabkan disfungsi jaringan. Cystic echinococcosis biasanya
ditemukan di hati (65%) dan paru (25%), sedikit ditemukan di organ ginjal, jantung, tulang,
limpa, dan sistem saraf pusat. Kista di organ hati menyebabkan pembesaran organ, nyeri
epigastrik kanan, mual dan muntah. Jika pecah, dapat mengeluarkan cairan kista yang memicu
reaksi alergi dengan anafilaksis ringan sampai berat. Di paru, jika membran kista pecah,
cairannya dapat memasuki bronkus dan kelenjar getah bening yang merupakan media yang
baik untuk pertumbuhan jamur dan bakteri. Pertumbuhan larva di jaringan tulang jarang terjadi,
invasi larva pada rongga tulang dan lapisan spongiosa dapat menyebabkan pengikisan tulang.

Infeksi E. multilocularis (alveolar echinococcosis)


Larva E. multilocularis (metasestoda) menyebabkan alveolar echinococcosis (AE) pada
manusia. Hati merupakan organ utama tempat larva (metasestoda) E. multilocularis
bermetastasis dan lesi meluas ke paru, bahkan mungkin juga ke otak. Pada infeksi AE kronis,
ditemukan lesi nekrotik menetap berisi tipis jaringan fi brosa. Gejala AE biasanya tidak jelas,
bisa berupa nyeri epigastrik, hepatomegali, malnutrisi, atau ikterus.

Infeksi E. oligarthrus dan E. vogeli (polycystic hydatidosis)


Pada polycystic hydatidosis yang disebabkan oleh E. vogeli, larva biasanya ditemukan di hati,
tetapi dapat juga menginvasi jaringan atau organ lain. Gejala umum meliputi hepatomegali,
penurunan berat badan, pembesaran abdomen, ikterus, dan anemia. Jika menyerang paru,
menyebabkan batuk, nyeri dada, hemoptisis; pecahnya varises esofagus menyebabkan
hematemesis. Pada jantung, dapat menyebabkan gagal jantung kongestif. Pada beberapa kasus,
kista E. vogeli ditemukan di mesenterium saluran cerna.
Larva E. oligarthrus ditemukan di organ intestinal (usus), jaringan subkutan, dan otot
hospes perantara. Kasus pada manusia jarang, sehingga pengetahuan parasit ini pada manusia
sangat sedikit. Ditemukan dua kasus kista di belakang bola mata, yang menyebabkan iritasi,
eksoftalmia, dan kebutaan. Pernah ditemukan juga kasus terdapatnya kista di jantung orang
yang meninggal akibat tetanus. Infeksi E. oligarthrus ditandai dengan pembesaran jantung,
miokarditis, dan adanya cairan pericardial.

IV. Morbiditas dan Mortalitas


Kasus cystic echinococcosis paling banyak ditemukan pada manusia, dengan annual incidence
di daerah endemik 1-200 kasus/100.000 populasi; kasus alveolar echinococcosis juga cukup
banyak, dengan annual incindence 0,03-1,2 kasus/100.000 populasi. Infeksi Echinococcus spp
lebih banyak ditemukan pada dewasa. Infeksi cystic echinococcosis awalnya tanpa gejala
(asimptomatik). Syok dan reaksi anafilaktik terjadi jika kista pecah, terutama di organ vital.
Gejala akan tampak jika kista berada di otak hati, ginjal, dan jantung. Alveolar
echinococcosis juga banyak menginfeksi manusia dan berdampak serius; jika diagnosis
terlambat, berakibat fatal. Pengobatan jangka panjang dapat menyembuhkan dan mengurangi
gejala; peluang hidup 10-20 tahun dengan keberhasilan pengobatan 80%. Jika tidak diobati,
akan berdampak fatal (70-100%). Echinococcus vogeli menyebabkan polycystic
echinococcosis, yang juga sering menginfeksi manusia. Dilaporkan 170 kasus di tahun 2007
dan, sama seperti E. Multilocularis, memerlukan pengobatan jangka panjang. Kasus infeksi E.
oligarthrus jarang ditemukan pada manusia.

V. Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan imaging menggunakan CT scan, magnetic resonance imaging
(MRI), radiologi, dan ultrasonografi . Kini terdapat metode serologi pengenalan antibodi
Echinococcus spp dalam serum menggunakan coproantigen enzyme linked immunosorbent
assay (CA-ELISA), indirect immuno fluorescence, indirect emagglutination, imunoblotting,
dan latex agglutination. Metode complement fixation sudah jarang digunakan. Pada
beberapa penderita, perkembangan kista tidak terdeteksi oleh antibodi. Hasil positif
palsu dapat dijumpai jika terjadi reaksi silang dengan Taenia spp. Penggunaan antigen dan
PCR berguna untuk mendeteksi kista yang mengalami kalsifi kasi.

VI. Penatalaksanaan
Sejak 1981, cara bedah (operasi) merupakan pilihan utama dalam tata laksana cystic
echinococcosis. Beberapa metode lain pun telah dikembangkan, antara lain:
a. Biasanya dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan kista (pada cystic echinococcosis).
Pada kasus berat alveolar echonococcosis yang mengenai hati, dapat dilakukan
transplantasi organ hati.
b. Kemoterapi jangka panjang menggunakan mebendazol(40-50mg/kg/hari)danalbendazol
(10-15 mg/kg/hari) dapat menyusutkan dan menghancurkan kista.
c. Pilihan terapi kista hidatid di hati meliputi sonografi untuk memecah kista percutaneus,
aspirasi untuk mengeluarkan cairan kista, injeksi bahan protosclicidal (alkohol 95% atau
larutan salin hipertonik) selama 15 menit, re-aspirasi (PAIR-puncture, aspiration, re-
aspiration).

VII. Pencegahan
Pecegahan penyakit akibat larva (metasestoda) dilakukan dengan cara memutus siklus hidup
Echinococcus spp melalui kontrol hewan peliharaan, seperti mencegah anjing memakan bagian
visera hewan ungulata. Pajanan telur Echinococcus spp dari hewan liar ke bahan makanan sulit
dicegah, diperlukan perilaku higienis dan keamanan bahan makanan. Sayuran dan buah-buahan
terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan telur Echinococcus spp.
Area perkebunan sayur atau buah dipagari untuk mencegah akses anjing atau kucing
buang feses. Biasakan mencuci tangan setelah memegang hewan peliharaan, dari kebun,
sebelum menyiapkan makanan, dan sebelum makan. Sumber air tidak diolah, seperti sungai
dan air danau, mungkin tercemar telur Echinococcus spp sehingga sebaiknya dihindari untuk
keperluan sehari-hari.

VIII. SIMPULAN
Echinococcosis merupakan zoonosis masih menjadi problem kesehatan di beberapa negara
endemik di dunia. Kasus cystic echinococcosis (CS), alveolar echinococcosis (AV) dan
polycystic echinococcosis (PE) sering ditemukan pada manusia dan hewan ternak sehingga
dapat memiliki dampak sosial-ekonomi. Penatalaksanaan echinococcosis meliputi pemberian
antelmintik mebendazol dan albendazol jangka panjang, operasi, dan PAIR (puncture,
aspiration, re-aspiration). Diperlukan penelitian echinococcosis di Indonesia agar diperoleh
data prevalensi penyakit dan guna mengetahui hewan yang menjadi hospes definitif dan hospes
perantara.
BAB III
ANALISIS KASUS

Nama : By. Fariz M. Ilham


Umur : 5 bulan
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Berat badan : 3570 gram

Keluhan utama : BAB cair dan muntah


Keluhan tambahan : BB turun
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita BAB cair, dengan frekuensi
10x/ hari, volume gelas belimbing, lebih banyak cair > ampas, tidak berlendir, darah
pada BAB disangkal. OS muntah setiap kali menyusu, dengan frekuensi 10x/hari, volume
1/5 gelas belimbing, yang isinya susu. OS mengalami demam naik turun, tetapi tidak terlalu
tinggi. Batuk pilek disangkal, sesak tidak ada, kejang disangkal. Berat badan tertinggi 5200
gram pada saat OS usia 4 bulan.

- Kesadaran : Komposmentis
- Denyut Nadi: 140 x/menit
- Laju Pernapasan : 54 x/menit
- Suhu : 36,4oC
- Kulit : Anemis (-), kulit kendor, baggy pants (+), turgor lambat kembali, sianosis (-),
ikterik (-).
- Kepala : Mikrosefali, UUB datar.
- Mata : Anemis (-), ikterik (-), produksi air mata cukup, mata cekung
- Telinga : Simetris, sekret (-)
- Mulut : Mukosa bibir kering (-)
- Toraks / paru : Simetris, ronkhi (-), wheezing (-), iga menggembung (+)
- Jantung : S1 = S2 tunggal, bising (-)
- Abdomen : Datar, lemas H/L tidak teraba membesar
- Ekstremitas : Akral hangat, edem (-), sianosis (-)
- Genital, anus : , DBN
- Pemeriksaan neurologis : DBN

Pada kasus ini, anak mempunyai masalah dengan saluran pencernaan dan pernafasannya,
di mana anak sering muntah, diare dan mengalami demam yang turun naik. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan anak tampak rewel, adanya tanda-tanda gizi buruk yaitu anak tampak sangat
kurus tanpa edema, kulit keriput, turgor kembali lambat, mata cekung, iga menggambang
(piano sign), adanya baggy pants. Dan pada pemeriksaan antoprometri didapatkan :
BB/U = 3,57/7,4 = 48,2% KEP Berat
TB/U = 57/65 = 87,7%%
BB/TB = 3,57/5 = 71,4% (z-score <-3SD) Kesan : Gizi Buruk
Pada pemeriksaan penunjang yaitu laboratorium didapatkan Hb yang menurun dan
peningkatan leukosit yang merupakan tanda terjadinya anemia dan infeksi yang memang rentan
terjadi pada anak dengan gizi buruk. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, perhitungan status gizi,
dan pemeriksaan penunjang mengarah pada gizi buruk jenis marasmus.
Penderita mengalami diare dan muntah, tetapi tidak mengalami syok ataupun letargi,
sehingga dimasukkan ke dalam kondisi 3. Sehingga penatalaksanaannya sesuai dengan gizi
buruk kondisi 3 dalam 10 langkah tatalaksana gizi buruk dari Direktorat Bina Gizi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

2. Arisman, Dr. 2002. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.

3. Nelson. 2007. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Behrman Kliegman Aevin : EGC.

4. Staf Pengajar IKA FK UI. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FK UI.

5. Direktorat Bina Gizi.2011. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku 1, cetakan keenam.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

6. WHO.2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta : WHO Indonesia.

7. Bidaki MZ, Mobedi I, Nadaff SR, et al. Prevalence of Echinococcus spp. infection using
Coproantigen ELISA among Canids of Moghan Plain, Iran. Iranian J Publ Health.
2009;38(1):112-8.

8. Moro P, Schantz PM. Echinococcosis (review). Internat. J. Infect. Dis.2009;13:125-133


(diunduh 22 Nopember 2013).
http://www.idpublications.com/journals/PDFs/IJID/IJID_MostDown_1. pdf

9. Tarmudji. Ekinokokosis/Hidatidosis, Suatu Zoonosisparasit Cestoda Penting terhadap


Kesehatan. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. (diunduh 22 Nopember 2013).
http://digilib. litbang.deptan.go.id/repository/index.php/repository/download/6101/5971

10. Pan American Health Organization. Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of
the WHO. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals.3th ed.
ISBN 92 75 11993 7-Vol. 2003.
http://www2.paho.org/hq/dmdocuments/2010/ZoonosesVol-3.pdf. Diunduh 22
Nopember 2013.
11. CDC Altanta. Life cycle Echinococcus granulosus. http://
www.dpd.cdc.gov/dpdx/html/Echinococcosis.htm). Diunduh 24 Nopember 2013.

12. Kammerer WS, Schantz PM. Echinococcal disease. Infect Dis Clin North Am
1993;7:605.

13. IOWA State University. Echonococcosis. The Center for Food Securty and Public
Health. 2011. http://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/echinococcosis.pdf.
Diunduh 23 Nopember 2013.

14. Yang YR, Sun T, Li Z, Zhang J, et al. Community surveys and risk factor analysis of
human alveolar and cystic echinococcosis in Ningxia Hui Autonomous Region, China.
Bull WHO 2006;84:714-21.

15. Moro PL, Schantz PM. Echinococcosis: historical landmarks and progress in research
and control. Ann Trop Med Parasitol 2006;100:703-14.

16. Romig T, Dinkel A, Mackenstedt U. The present situation of echinococcosis in Europe.


Parasitol Int 2006;55:S187-91.

17. Schweiger A. Human alveolar echinococcosis after fox population increase, Switzerland.
Emerg Infect Dis 2007;13:878-2.