Anda di halaman 1dari 1

Laporan Komite Kantor Keuskupan Bandung (MEP)

1. Potensi masalah
a. Keterlambatan penunjukan DC MEP serta Subkontraktor PL.
b. Pekerjaan finishing Area Office sudah dimulai sementara dari pekerjaan MEP area terkait
belum ada.
c. Potensi penyediaan equipment yang disesuaikan dengan sumbangan jamaah gereja dan
memiliki dimensi, parameter design serta sistem pemasangan yang berbeda dengan
rancangan konsultan.
d. Informasi tingginya frekuensi keputusan perubahan design dari tim design Owner.
2. Saran-saran/Usul
a. Tim MEP TATA dianjurkan segera memanggil seluruh DC, DS untuk menyusun roadmap
menuju penyelesaian beberapa kebutuhan milestone penting untuk tahap saat ini:
Skedul pembuatan composite drawing & shop drawing.
Skedul material approval.
Identifikasi seluruh outstanding, baik dari segi engineering, program konstruksi, test,
termasuk outstanding pekerjaan sipilnya yang berpotensi menghambat.
b. Diingatkan segera berkoordinasi dengan DC MEP terkait batasan pekerjaan (definisikan) dan
tanggung jawab perbaikan jika berpotensi merusak pekerjaan finishing.
c. Agar rutin membuat BA pekerjaan MEP yang merusak pekerjaan sipil agar dapat diproses
biaya perbaikannya.
d. Diusulkan tetap rutin mengingatkan ketertinggalan pekerjaan MEP terhadap finishing
(termasuk semisal BA pelaksaan pekerjaan finishing yang tak bisa menunggu) sehingga jika
ada kerusakan akibat pelaksanaan pekerjaan MEP dapat diproses biaya perbaikannya.
e. Segera mengantisipasi kebutuhan gambar reflected ceilin plan (RCP) dan reflected wall plan
(RWP). Sebaiknya seluruh penempatan instalasi, fixtures serta accesories dievaluasi
terhadap RCP & RWP ini agar lebih dapat terkoordinasikan dan perkecil resiko akibat
kekeliruan yang tak perlu terjadi, termasuk penempatan manhole sebaiknya dibuat seminim
mungkin namun efektif.
f. Mengingatkan aktif dan kapabel serta cukup jumlah tim engineering DC sehingga mampu
imbangi potensi perubahan design dari Owner serta penyesuaian terhadap equipment
sumbangan jamaah.
g. Menyurati secara aktif setiap keterlambatan dari Owner (termasuk persetujuan shop
drawing, material approval, keputusan perubahan atau penyesuaian design) dan potensinya
terhadap kemunduran proyek.