Anda di halaman 1dari 4

Kegawatdaruratan Saluran Cerna:

1. Perdarahan Gastrointestinal kemungkinan infeksi


2. Akut Abdomen

Tujuan: memiliki kompetensi dokter umum (lini pertama) dalam mengenal kegawatdaruratan
saluran cerna.

Perdarahan gastrointestinal merupakan kehilangan darah pada saluran cerna. Memiliki empat
bentuk yaitu:

1. Hematemesis: muntah darah, mengindikasikan perdarahan saluran cerna atas pada bagian
esophagus, gaster, atau duodenum.
2. Hematochezia: defekasi dengan darah segar per rectal. Perdarahan di bagian distal colon
3. Melena: feses hitam karena degradasi darah menjadi hematin atau hemokrom lainnya
akibat aktivitas enterobakteria. Perdarahan dapat berasal dari saluran cerna atas maupun
bawah bagian proksimal terutama usus halus.
4. Occult bleeding: perdarahan subakut yang samar.

Evaluasi terhadap kejadian perdarahan gastrointestinal:

1. Menilai ABC (Airway, Breathing, Circulation) dan kestabilan hemodinamik.


2. Lakukan pemeriksaan fisik, mencari bukti perdarahan.
3. Membuktikan perdarahan dengan pemeriksaan rectal dan atau pemeriksaan feses atau
muntahan untuk occult bleeding.
4. Dapatkan garis besar tes laboratorium yang diperlukan
5. Tes laboratorium yang mungkin dipikirkan: pemeriksaan darah lengkap, protombin time,
golongan darah dan cocok lintang, hitung retikulosit, blood smear, kreatinin atau urea-
nitrogen darah, elektrolit, dan pertimbangan kemungkinan disseminated intravascular
coagulation (koagulasi intravascular tersebar).
Keterangan: golongan darah dan cocok lintang dilakukan untuk memastikan apakah
benar darah yang diperoleh dari sampel merupakan darah dari pasien yang bersangkutan.

Tatalaksana awal kejadian perdarahan gastrointestinal:

1. Pertimbangkan cuci gaster untuk membedakan sumber perdarahan (atas atau bawah) dan
penilaian perdarahan yang sedang berlangsung.
2. Berikan terapi spesifik berdasarkan penilaian dan lokasi perdarahan.
3. Mulai pemberian cairan resusitasi dengan normal saline atau larutan Ringer's lactate
4. Pertimbangkan transfusi jika perdarahan berlanjut, gejala anemia, dan atau kadar
hematokrit <20%. Mulai terapi supresi asam intravena, didampingi PPI

(PPI digunakan dalam departemen emergensi pada kejadian perdarahan gastrointestinal terutama
sebelum dilakukan endoskopi)
Diagonis Diferensial Pada Perdarahan GI

Secara umum, perdarahan saluran cerna atas memiliki kecenderungan diagnosa diferensial
gastritis pada kelompok usia neonates, bayi, dan anak. Sedangkan anak usia sekolah dan remaja
memiliki kecenderungan diagonis diferensial esophageal varises.

Khusus untuk perdarahan saluran cerna bawah pada kasus neonatus memiliki kemungkinan
terbesar necrotizing enterokolitis. Kasus ini banyak ditemukan pada neonatus premature berat
lahir rendah.

Akut abdomen merupakan keluhan utama pasien di departemen emergensi, lebih dari separuh
kasus akut abdomen merupakan kasus gastroenteritis. Akut abdomen dapat berasal dari nyeri
pada saluran GI ataupun ekstra-GI seperti saluran kemih, organ reproduksi, keganasan, maupun
sumber lainnya.

Nyeri abdomen memiliki dua jalur transmisi utama (sudah pernah dibahas di modul neuroscience,
direview sedikit saja di sini):
1. Lewat serat saraf A fibers (sharp, nyeri dapat dilokalisir dengan baik) kulit dan otot
2. Lewat serat saraf C fiber (dull, nyeri sulit dilokalisir) organ visceral, peritoneum
Keterangan: synaps kedua jenis serat pada neuron afferent orde kedua sepanjang medulla spinalis
mengakibatkan muncul nyeri alih di daerah lain. Contoh nyeri alih pada bahu pada kasus
cholelithiasis.

Untuk diagnosis etiologi akut abdomen tentunya yang harus kita lakukan adalah anamnesis dan
pemeriksaan fisik ditunjang dengan radiologi dan studi laboratorium.

Pada anamnesis, perlu ditanyakan: (1) riwayat nyeri, (2) karakteristik nyeri, (3) apakah ada
gejala penyerta seperti diare, melena, hematochezia, demam? (4) riwayat makan terakhir, (5)
riwayat menstruasi, (6) perdarahan atau discharge per vagina, (7) gejala nyeri saat berkemih, dan
(8) gejala nyeri saat bernapas. Tanyakan juga riwayat terdahulu penyakit GI, perjalanan terakhir,
dan diet.

Pemeriksaan fisik akut abdomen meliputi:


1. Umum: tanda vital, keracunan, ruam, arthritis, jaundice.
2. Abdomen: nyeri pada palpasi, rebound, kaku, terdapat massa, atau perubahan bising usus
3. Rektal: pemeriksaan tinja untuk perdarahan samar
4. Pelvis: discharge, massa, nyeri pada pergerakan

Pemeriksaan penunjang yaitu:

a. Radiologi:
1. Lakukan foto polos untuk menilai ada atau tidaknya obstruksi, konstipasi, udara
bebas, batu empedu, dan batu ginjal, serta fot region thorax untuk mengecek ada atau
tidaknya pneumonia.
2. Pertimbangkan USG abdomen atau pelvis
3. Pertimbangkan endoskopi
b. Laboratorium: elektrolik, profil kimia serum, pemeriksaan darah lengkap, tes fungsi hati
dan ginjal, tes koagulasi, golongan darah dan cocok lintang, analisa urin, serta kadar
enzim pada serum (amylase, lipase)
c. Penanganan:
1. Segera:
Pasien tidak diberikan makanan lewat jalur oral (nothing per mouth)
Mulai rehidrasi
Pertimbangkan dekompresi nasogastrik, pemeriksaan abdomen, penilaian untuk
indikasi kasus bedah, ginekologi, atau GI, atasi nyeri, dan berikan antibiotic jika
diperlukan.
2. Definitif: Bedah atau endoskopi seperlunya

Berikut adalah kasus-kasus yang dibahas di slide karena mungkin banyak ditemukan pada kasus
pediatric di NICU (newborn intensive care unit):

1. Malrotasi: kegagalan rotasi midgut untuk menempati posisi anatomisnya selama


organogenesis, memiliki gejala muntah hijau karena obstruksi parsial usus oleh
peritoneum. Memiliki resiko tinggi pada kejadian (lanjut dibawah)
2. Midgut volvulus: puntiran usus di sekitar mesentrium dan sirkulasinya, menyebabkan
iskemia, infark, perforasi, dan nekrosis. Kesadaran pasien menurun (letargi), distensi
abdomen akibat puntiran dan feses berdarah.
3. Atresia: kegagalan pembentukan lumen, atresia dapat terjadi sporadic di sepanjang
saluran cerna. Kebanyakan di duodenum, kadang colon, jejunum, atau ileum (1:1.500
kelahiran). Atresia biasanya terjadi karena proses rekanalisasi tidak baik atau masalah
vascular. Atresia duodenum memiliki gejala muntah hijau. Biasanya pada kasus bayi
premature, defek jantung congenital, dan trisomi 21. Malrotasi, midgut volvulus, dan
atresia duoenum memiliki gambaran radiologi double bubble sign karena free air di
duodenum dan gaster sehingga ketika dimasukkan kontras tampak dua buah gelembung.
Sedangkan pada atresia gaster memiliki gambaran radiologi single bubble sign, jejunum
dan ileum memiliki gambaran triple bubble sign.
4. Perdarahan saluran cerna atas, memiliki presentasi: hematemesis +/-, melena, pada kasus
berat dapat dilihat kenaikan detak jantung dan penurunan denyut nadi. Penyebab
perdarahan adalah ulserasi pada duodenum atau gaster ataupun erosi. Tatalaksana dengan
transfusi darah.
5. Perforasi gaster/duodenum, presentasi: nyeri abdomen, kekakuan, hingga shock, terdapat
udara di bawah diafragma pada X-ray. Tatlaksana dengan resusitasi, antibiotic, dan repair.
6. Pakreatitis akut, memiliki gejala klinis nyeri konstan, muntah, hingga shock. Etiologi
biasanya karena sumbatan atau alkoholisme. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan
serum amylase (meningkat pada keadaan pancreatitis). Kadang ditemukan pseudokista
dan abses.
7. Divertikulum Meckels: merupakan kantong sisa duktus omphalomesenteric pada proses
organogenesis. Kejadian ini sangat jarang hanya 2% hingga 4% dari kelahiran. Dapat
mengalami perforasi, intussusepsi, maupun volvulus dan memiliki gambaran klinis
seperti appendicitis. Diagosis: CT scan, kedokteran nuklir, endoskopi. Tatalaksana bedah
reseksi.
8. Obstruksi intestinal: dapat terjadi karena penempela/adhesi, herniasi, maupun tumor.
Presentasi: nyeri kolik, muntah, konstipasi. Tatalaksana: resusitasi atau operasi.
9. Intussusepsi: invaginasi segmen usus ke bagian usus lainnya (prinsip seperti kerja
teleskop). Paling sering di ileum terminalis (ileocolon) pada usia 6 bulan hingga 3 tahun.
Presentasi: nyeri abdomen intermiten, muntah, feses berdarah (memiliki warna seperti
jelly pink), demam, letargi, dan pada palpasi ditemukan bentuk padat menyerupai sosis di
abdomen region atas. Tatalaksana: x-ray, kontras enema (memiliki efek terapetik pada
75% kasus intussusepsi karena tekanan hidrostatik agen kontras pada daerah intussusepsi.
Jika penggunaan kontras gagal, pertimbangkan prosedur bedah.
10. Infark mesenteric: oklusi arteri usus halus secara tiba-tiba, komplikasi berupa peritonitis.
Gejala: nyeri abdomen tiba-tiba, dapat mengalami shock jika kondisi infark tidak
ditangani. Tatalaksana: resusitasi atau operasi.
11. Hirschsprungs disease: kelainan kongenital aganglionik megakolon, aganglionik
dimulai dari distal rectum menjalar ke arah proksimal. Terjadi obstruksi karena terjadi
gangguan gerak peristaltic distensi. Pada newborn warning paling awal adalah gagal
mengeluarkan mekonium pada 24-48 jam pertama. Demam dan diare mengindikasikan
toksik megakolon. Merupakan salah satu kasus bedah dirujuk ke dokter spesialis
bedah gastroenterology untuk dilakukan kolostomi.
12. Hernia inguinalis: merupakan kasus bedah juga. Sering terjadi pada laki-laki dan bayi
premature. Terjadi kerena masuknya segmen usus ke dalam skrotum melalui prosesus
vaginalis yang mengalami kelemahan otot. Tatalaksana dengan bedah.
13. Hernia umbilikalis: penutupan cincin umbilicus yang tidak sempurna. Umumnya terjadi
pada bayi premature ras African-America. Biasanya cincin umbilicus tertutup pada usia
2-4 tahun. Perlu dirujuk ke dokter bedah bila:
a. Ukuran lebih besar dari 1,5 cm pada usia 2 tahun
b. Menetap hingga usia 4 tahun
c. Letak supraumbilikal