Anda di halaman 1dari 28

TUTORIAL 1 BLOK 2.

3
KELOMPOK 4

Tutor :dr. Hj. Mientje Oesmaini, M.Kes

Susan Fatika Sari G1A112002

M Ridho Rifhansyah G1A112004

M Dema Prakasa G1A112008

Khaidarni G1A112011

Lusi Novia Alisma G1A112018

Nusi Hotabilardus G1A112052

Ririn Azhari G1A112056

Vidia Hikmana G1A112058

Iffanisa Surya G1A112074

Alvin Pratama G1A112083

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS JAMBI
2013
SKENARIO

Edo, laki-laki, umur 24 tahun datang dengan keluhan pada plantar pedis sinistra bengkak

dan bernanah. Keluhan sudah dirasakan sejak tiga hari yang lalu. Awalnya saat Edo bermain bola

kaki, telapak kakinya tertusuk batu kerikil kecil. Karena Edo merasa lukanya kecil dan hany

anyeri sedikit, Edo membersihkan lukanya dengan betadine saja. Pada malam harinya Edo

terbangun dari tidurnya karena lukanya semakin nyeri, setelah dilihat ternyata lukanya sudah

merah, panas dan bengkak.ini merupakan reaksi yang timbul akibat respon imun yang ada pada

Edo. Dua hari kemudian luka tersebut menjadi bernanah(terdapat pus) dan Edo merasa badannya

demam. Dokter mengatakan bahwa telah terjadi infeksi pada luka Edo.
I. KLARIFIKASI ISTILAH

Luka :Terganggunya kontinuitas yang normal dari jaringan.

Nyeri :Sensasi sakit atau rasa tidak nyaman yang lebih atau kurang
terlokalisasi, akibat rangsangan pada ujung-ujung saraf khusus.

Respon imun :Reaksi perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh
sel/organ khusus pada suatu organisme.

Pus :Cairan hasil proses peradangan yang terbentuk dari leukosit, debris
seluler dan cairan encer (liquor puris) yang kaya akan protein.

Demam :Suatu respon imun internal berupa naiknya suhu tubuh di atas normal
akibat dari suatu infeksi.

Infeksi :Invasi dan multiplikasi mikroorganisme atau parasite dalam jaringan


tubuh.

II. DEFINISI MASALAH

1. Apa saja jenis-jenis luka?


2. Bagaimana cara penanganan pertama pada luka?
3. Bagaimana mekanisme nyeri?
4. Apa saja macam-macam nyeri?
5. Bagaimana mekanisme bengkak?
6. Mengapa lukanya bisa merah, panas, dan bengkak?
7. Apa saja klarifikasi sistem imun?
8. Apa fungsi sistem imun?
9. Apa saja target - target dari sistem imun?
10. Bagaimana mekanisme dari pus?
11. Apa saja kandungan dari pus?
12. Bagaimana mekanisme dari demam?
13. Apa saja penyebab terjadinya demam?
III. ANALISIS MASALAH

1. Apa saja jenis-jenis luka?

Jenis luka menurut tingkat kontaminasi terhadap luka :

Clean Wounds (Luka bersih):yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi
proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan,
genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang
tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson Pratt).
Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.

Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi):merupakan luka


pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi
luka adalah 3% - 11%.

Contamined Wounds (Luka terkontaminasi):termasuk luka terbuka, fresh, luka


akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau
kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi
nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.

Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi):yaitu terdapatnya


mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :

Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi


pada lapisan epidermis kulit.

Stadium II : Luka Partial Thickness :yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda
klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.

Stadium III : Luka Full Thickness :yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi
kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi
tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis,
dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu
lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka Full Thickness: Yaitu luka yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

Menurut waktu penyembuhan, luka dibagi menjadi :

1. Luka akut
yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang
telahdisepakati.

2. Luka kronis
yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapatkarena faktor
eksogen dan endogen.

Menurut bentuk luka, dibagimenjadi:

Luka tertutup (closed wound)

1. Luka memar (vulnus contusum)


Kulit tidak apa-apa, pembuluh darah subkutandapat rusak, sehingga terjadi hematom.
Bila hematom kecil, maka ia akan diserap oleh jaringan sekitarnya. Bila hematom
besar maka penyembuhannya berjalan lambat.

2. Vulnus traumaticum
Terjadi di dalam tubuh, tetapi tidak tampak dari luar. Dapat memberikan tanda-tanda
dari hematom hingga gangguan sistem tubuh. Bila melihat organ vital,m aka
penderita dapat meninggal mendadak. Contoh : luka pada benturan dada, perut, leher,
dan kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam.
Luka terbuka (open wound)

1. Luka lecet (Vulnus excoratio)


Luka yang paling ringan dan paling cepat sembuh. Terjadi karena gesekan tubuh
dengan benda-benda rata, misalnya aspal, semen, atau tanah.

2. Luka sayat (Vulnus Scissum/Incisivum


Tepi luka tajam dan licin. Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit maka luka tidak
terlalu terbuka. Bial memotong pembuluh darah maka darah sukar berhenti karena
sukar terbentuk cincin thrombosis.

3. Luka robek (Vulnus laceratum)


Biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi luka tidak rata dan perdarahan sedikkit
karena mudah terbentuk cincin thrombosis akibat pembuluh darah yang hancur dan
memar.

4. Luka tusuk (Vulnus punctum)


Luka ini disebabkan oleh benda runcing memanjang. Dari luar, luka tampak kecil,
tetapi didalam mungkin rusak berat. Deerajat bahaya tergantung benda yang menusuk
(besarnya, kotornya) dan daerah yang tertusuk. Luka tusuk yang mengenai abdomen
atau thoraks sering pula disebut vulnus penetrosum (luka tembus) pada luka ini
sebaiknya dilakukan tindakan eksplorasi (membuka dan melebarkan luka).

5. Luka potong (Vulnus caesum)


Luka inindisebabkan benda tajam, misalnya kleweng, kampak,disertai tekanan. Tepi
luka tajam dan rata, dan luka sering terkontaminasai, oleh karena itu kemungkinan
infeksi lebih besar.

6. Luka tembak (Vulnus sclopetorum)


Tepi luka dapat tidak teratur. Corpus alienum (benda asing) dapat dijumpai dalam
luka, misalnya pecahan granat, anak peluru, sobekan baju yang mengikuti peluru ke
dalam tubuh. Kemungkinan infeksi dengan bakteri anaerob dan gangrene gas lebih
besar.

7. Luka gigit (Vulnus morsum)


Disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia. Kemungkinan infeksi lebih besar.
2. Bagaimana cara penanganan pertama pada luka?

Ada 4 langkah yang dilakukan, yaitu :

Evaluasi luka
Meliputi pemeriksaan fisik, eksplorasi asal luka dan lokasi luka. Hal ini
untuk menyingkirkan kemungknian adanya cedera pada struktur yang lebih
dalam, menentukan adanya jaringan yang mati dan menemukan keberadaan
benda asing dalam luka.

Tindakan antiseptis
tindakan penyuciaan sangat diperlukan dengan menggunakan alcohol
NaCl 0,9 % atau dengan air yang matang dan kassa atau kain bersih bukan
dengan kapas atau tissue karena luka dapat menjadi tempat perkembangbiakan
bakteri dan juga menghalangj pertumbuhan jaringan yang baru. Tindakan
antiseptis dilakukan dengan teknik sirkuler.

Pembersihan luka
Pembersihan luka dari benda benda asing yang terdapat di dalam luka.

Penutupan luka dan pembalutan luka


Luka ditutup dan dibalut

Fungsi pembalut

1. Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.


2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.

3. Bagaimana mekanisme nyeri?


Dimulai dari stimulusi naciceptor oleh stimulus noxious pada jaringan, yang
kemudian mengakibatkan stimulus naciceptor dimana stimulus noxious akan berubah
menjadi potensial aksi. Proses ini disebut tranduksi (aktivasi reseptor). Selanjutnya
potensial aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat yang
berhubungan dengan nyeri. Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron
aferen primer ke kornu dorsalis medula spinalis, pada kornu dorsalis ini neuron dorsalis
medula spinalis bersinap dineuron susunan saraf pusat, jaringan neuron naik ke atas
dimedula spinalis menuju batang otak dan talamus. Terjadi hubungan timbal balik
antara talamus dan pusat pusat yag lebih tinggi diotak yang mengurusi respon persepsi
dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Tetapi rangsangan nosiseftif tidak selalu
menimbulkan persepsi nyeri dan sebaliknya persepsi nyeri bisa timbul tanpa stimulasi
nosiseftif. Terdapat proses modulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri
tersebut, tempatnya di cornu medula spinalis. Proses terakhir persepsi dimana pesan
nyeri direlay menuju ke otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan.

4. Apa saja macam-macam nyeri?

Klasifikasi nyeri berdasarkan waktu :


Nyeri Akut adalah nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan terjadinya singkat.
Contoh : nyeri trauma.
Nyeri Kronis adalah nyeri yang terjadi atau dialami sudah lama.
Contoh : kanker.

Klasifikasi nyeri berdasarkan tempat terjadinya nyeri :


Nyeri Somatik adalah nyeri yang dirasakan hanya pada tempat terjadinya
kerusakan, atau gangguan, bersifat tajam, mudah dilihat dan mudah ditangani.
Contoh : nyeri karena tertusuk.
Nyeri Visceral adalah nyeri yang terkait kerusakan organ dalam.
Contoh : nyeri karena trauma di hati atau paru-paru.
Nyeri Reperred adalah nyeri yang dirasakan jauh dari lokasi nyeri.
Contoh : nyeri angina.

Klasifikasi nyeri berdasarkan persepsi nyeri:


Nyeri Nosiseptis adalah nyeri yang kerusakan jaringannya jelas,
Nyeri Neuropatik adalah nyeri yang kerusakan jaringan tidak jelas. Contoh :
nyeri yang diakitbatkan oleh kelainan pada susunan saraf.

5. Bagaimana mekanisme bengkak?

Aliran darah lokal meningkat sehingga tekanan darah kapiler naik dan terjadi
akumulasi protein di cairan interstitial sehingga tekanan osmotic koloid cairan
interstitial naik, kedua factor ini menyebabkan cairan pindah keluar kapiler kemudian
terjadi ultrafiltrasi dan menurunnya reabsorbsi cairan kapiler sehingga terjadi edema
local (inflamasi local).
6. Mengapa luka Edo bisa merah, panas, dan bengkak?

Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cidera dan
melibatkan lebih banyak mediator. Tanda tanda pokok peradangan yaitu adanya
kemerahan, panas, nyeri, pembengkakan, dan kehilangan fungsi.
Saat terjadi cedera, adanya mediator kimia menyebabkan ukuran dan aliran
vaskuler segera berubah. Vasodilatasi awalnya melibatkan arteriol yang selanjutnya
diikuti dengan pembukaan dinding kapiler baru di daerah cedera sehingga terjadi
peningkatan aliran darah yang menyebabkan peningkatan suhu dan kemerahan di
daerah inflamasi. Vasodilatasi ini diikuti oleh peningkatan permeeabilitas vaskuler
(kebocoran vaskuler) yang menyebabkan keluarnya cairan kaya protein dari
pembuluh darah ke jaringan intertisial (eksudasi), hilangnya protein plasma
menurunkan tekanan osmotik intravaskuler dan meningkatkan tekanan osmotik cairan
intertisial yang akan memperkuat pengaliran keluar cairan intravaskuler untuk
berakumulasi di jaringan intertisial. Sehingga terjadi peningkatan cairan
ekstravaskuler/ oedem. Banyaknya toksin kuman dan cairan eksudat merangsang
ujung saraf perasa sehingga timbulah dolor. Nyeri yang terus menerus akhirnya dapat
menimbulkan functio laesa.

7. Apa saja klasifikasi sistem imun?

1. Imunitas genetik (innate)


Adalah sistem imun yang ada sejak lahir dan bersifat nonspesifik.
Sistem ini dibagi dalam 2 kelompok yaitu :

Pertahanan luar
Adalah barier pertama pertahanan tubuh terhadap infeksi mikroorganisme yang
mau menyerang tubuh.
Kulit.
Membran mukosa yang pada traktus gastrointestinal, traktus respiratorius,
traktus urogenital.

Pertahanan dalam
Adalah pertahanan kedua dalam sistem imunitas. Bersifat nonspesifik dalam
membunuh mikroorganisme yang berhasil menginfeksi tubuh
Phagocyte
Demam
NK cells
Antimikrobial protein
Inflamasi
2. Imunitas didapat (adaptif)
Imunitas tubuh yang terbentuk akibat terpapar oleh mikrooganisme
Imunitas adaptif terbagi 2 :
Imunitas Humoral : Sel Limfosit B
Sel Limfosit B ini juga berfungsi membentuk antibodi. Antibodi inilah yang
akan menyerang mikroorganisme.
Imunitas Selular : Sel Limfosit T
Sel Limfosit T bekerja didalam sel sehingga jika ada mikroorganisme yang
berhasil masuk kedalam sel maka akan diserang oleh Limfosit T.

8. Apa fungsi sistem imun?

Menghancurkan Pathogen (faktor-faktor yang menyebabkan penyakit)


Mendeteksi dan menghancurkan sel yang tidak normal (sel kanker)
Membersihkan sel-sel yang mati

Fungsi lainnya:

Perannya dalam pertahanan adalah menghasilkan resistensi terhadap agen


penginvasi seperti mikroorganisme
Perannya dalam surveilans adalah mengidentifikasi dan menghancurkan sel-sel
tubuh sendiri yang bermutasi dan berpotensi menjadi neoplasma (tumor)
Perannya dalam homeostasis adalah membersihkan sisa-sisa sel dan zat-zat
buangan sehingga tipe-tipe sel tetap seragam dan tidak berubah.

9. Apa saja target - target dari sistem imun?


Parasit :cacing

Mikroorganisme :protozoa, bakteri, fungi

Lainnya : sel-sel nekrotik & sel-sel kanker.

10. Bagaimana mekanisme dari pus?


Terjadi luka patogen masuk makrofag dan neutrofil akan memakan patogen dan
cairan nekrotik kemudian mati dan berkumpul dalam suatu rongga membentuk
pus yang bersifat autolisis yang akan di reabsorpsi oleh jaringan sekitar.
11. Apa saja kandungan dari pus?
1. Jaringan nekrotik
2.Netrofil mati
3. Makrofag
4.Cairan jaringan

12. Bagaimana mekanisme dari demam?


Degenerasi jaringan tubuh bakteri toksik pirogen (protein, pecahan protein, toksik
polisakarida) respon tubuh bakteri / pecahan jaringan difagositosis leukosit darah,
makrofag jaringan dan limposit pembuluh bergranula besar zat interleukin I dilepas ke
cairan tubuh disebut zat pirogen luekosit atau pirogen endogen IL I sampai di
hipotalamus menginduksi pembentukan prostaglandin E2 menginduksi
hipotalamus sehingga suhu naik dalam waktu 8 sampai 10 menit.

13. Apa saja penyebab terjadinya demam?


Infeksi bakteri yang meransang pelepasan interleukin I.
Olahraga yang berkepanjangan.
Produksi panas berlebihan karena peningkatan kadar hormone thyroid atau
epinephrine darah.
Malfungsi pusat control hypothalamus.
IV. HIPOTESIS

Edo mengalami respon imun terhadap infeksi luka karena tertusuk batu kerikil
sehingga terjadinya reaksi inflamasi.

V. MIND MAP

JENIS-JENIS PENANGANAN
LUKA TERHADAP LUKA

LUKA

INFEKSI

RESPON
IMUN

DEMAM REAKSI INFLAMMASI

TUMOR

RUBOR

CALOR

DOLOR

FUNGSIOLESA
VI. SINTESIS

LUKA

Luka adalah terganggunya kontinuitas yang normal dari jaringan. Sedangkan jenis luka
dapat dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:

Jenis luka Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka :

- Clean Wounds (Luka bersih):

yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan
infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih
biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup
(misal; Jackson Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.

- Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi):

merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau


perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan
timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.

- Contamined Wounds (Luka terkontaminasi):

termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar
dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga
termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.

- Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi):

yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :

Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema)

yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.

Stadium II : Luka Partial Thickness :

yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis.
Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang
yang dangkal.
Stadium III : Luka Full Thickness :

yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan
yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot.
Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak
jaringan sekitarnya.

Stadium IV : Luka Full Thickness

Yaitu luka yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya
destruksi/kerusakan yang luas.

Menurut waktu penyembuhan, luka dibagi menjadi :

1. Luka akut

yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang
telahdisepakati.

2. Luka kronis

yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapatkarena


faktor eksogen dan endogen.
Menurut bentuk luka, dibagi menjadi:

Luka tertutup (closed wound)

1. Luka memar (vulnus contusum)


Kulit tidak apa-apa, pembuluh darah subkutandapat rusak, sehingga terjadi hematom.
Bila hematom kecil, maka ia akan diserap oleh jaringan sekitarnya. Bila hematom
besar maka penyembuhannya berjalan lambat.

2. Vulnus traumaticum
Terjadi di dalam tubuh, tetapi tidak tampak dari luar. Dapat memberikan tanda-tanda
dari hematom hingga gangguan sistem tubuh. Bila melihat organ vital,m aka
penderita dapat meninggal mendadak. Contoh : luka pada benturan dada, perut, leher,
dan kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam.

Luka terbuka (open wound)

1. Luka lecet (Vulnus excoratio)


Luka yang paling ringan dan paling cepat sembuh. Terjadi karena gesekan tubuh
dengan benda-benda rata, misalnya aspal, semen, atau tanah.

2. Luka sayat (Vulnus Scissum/Incisivum


Tepi luka tajam dan licin. Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit maka luka tidak
terlalu terbuka. Bial memotong pembuluh darah maka darah sukar berhenti karena
sukar terbentuk cincin thrombosis.

3. Luka robek (Vulnus laceratum)


Biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi luka tidak rata dan perdarahan sedikkit
karena mudah terbentuk cincin thrombosis akibat pembuluh darah yang hancur dan
memar.

4. Luka tusuk (Vulnus punctum)


Luka ini disebabkan oleh benda runcing memanjang. Dari luar, luka tampak kecil,
tetapi didalam mungkin rusak berat. Deerajat bahaya tergantung benda yang menusuk
(besarnya, kotornya) dan daerah yang tertusuk. Luka tusuk yang mengenai abdomen
atau thoraks sering pula disebut vulnus penetrosum (luka tembus) pada luka ini
sebaiknya dilakukan tindakan eksplorasi (membuka dan melebarkan luka).
5. Luka potong (Vulnus caesum)
Luka inindisebabkan benda tajam, misalnya kleweng, kampak,disertai tekanan. Tepi
luka tajam dan rata, dan luka sering terkontaminasai, oleh karena itu kemungkinan
infeksi lebih besar.

6. Luka tembak (Vulnus sclopetorum)


Tepi luka dapat tidak teratur. Corpus alienum (benda asing) dapat dijumpai dalam
luka, misalnya pecahan granat, anak peluru, sobekan baju yang mengikuti peluru ke
dalam tubuh. Kemungkinan infeksi dengan bakteri anaerob dan gangrene gas lebih
besar.

7. Luka gigit (Vulnus morsum)


Disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia. Kemungkinan infeksi lebih besar.

Adapun langkah-langkah dalam penanganan pertama pada luka :

Ada 4 langkah yang dilakukan, yaitu :

Evaluasi luka
Meliputi pemeriksaan fisik, eksplorasi asal luka dan lokasi luka. Hal ini
untuk menyingkirkan kemungknian adanya cedera pada struktur yang lebih
dalam, menentukan adanya jaringan yang mati dan menemukan keberadaan
benda asing dalam luka.

Tindakan antiseptis
tindakan penyuciaan sangat diperlukan dengan menggunakan alcohol
NaCl 0,9 % atau dengan air yang matang dan kassa atau kain bersih bukan
dengan kapas atau tissue karena luka dapat menjadi tempat perkembangbiakan
bakteri dan juga menghalangj pertumbuhan jaringan yang baru. Tindakan
antiseptis dilakukan dengan teknik sirkuler.

Pembersihan luka
Pembersihan luka dari benda benda asing yang terdapat di dalam luka.

Penutupan luka dan pembalutan luka


Luka ditutup dan dibalut

Fungsi pembalut

Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.


Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
NYERI

Definisi Nyeri
Nyeri adalah sensasi sakit atau rasa tidak nyaman yang lebih atau kurang terlokalisasi, akibat
rangsangan pada ujung-ujung saraf khusus.

Mekanisme Nyeri
Dimulai dari stimulusi naciceptor oleh stimulus noxious pada jaringan, yang kemudian
mengakibatkan stimulus naciceptor dimana stimulus noxious akan berubah menjadi potensial
aksi. Proses ini disebut tranduksi (aktivasi reseptor). Selanjutnya potensial aksi tersebut akan
ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat yang berhubungan dengan nyeri. Tahap
pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron aferen primer ke kornu dorsalis medula
spinalis, pada kornu dorsalis ini neuron dorsalis medula spinalis bersinap dineuron susunan saraf
pusat, jaringan neuron naik ke atas dimedula spinalis menuju batang otak dan talamus. Terjadi
hubungan timbal balik antara talamus dan pusat pusat yag lebih tinggi diotak yang mengurusi
respon persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Tetapi rangsangan nosiseftif tidak
selalu menimbulkan persepsi nyeri dan sebaliknya persepsi nyeri bisa timbul tanpa stimulasi
nosiseftif. Terdapat proses modulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tersebut,
tempatnya di cornu medula spinalis. Proses terakhir persepsi dimana pesan nyeri direlay menuju
ke otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan.(ipd)

Jenis-jenis Nyeri

Klasifikasi nyeri berdasarkan waktu :


Nyeri Akut adalah nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan terjadinya singkat.
Contoh : nyeritrauma
Nyeri Kronis adalah nyeri yang terjadi atau dialami sudah lama.
Contoh : kanker

Klasifikasi nyeri berdasarkan tempat terjadinya nyeri :


Nyeri Somatik adalah nyeri yang dirasakan hanya pada tempat terjadinya
kerusakan, atau gangguan, bersifat tajam, mudah dilihat dan mudah ditangani.
Contoh : nyeri karena tertusuk.
Nyeri Visceral adalah nyeri yang terkait kerusakan organ dalam. Contoh : nyeri
karena trauma di hati atau paru-paru.
Nyeri Reperred adalah nyeri yang dirasakan jauh dari lokasi nyeri. Contoh :
nyeri angina.

Klasifikasi nyeri berdasarkan persepsi nyeri:


Nyeri Nosiseptis adalah nyeri yang kerusakan jaringannya jelas,
Nyeri Neuropatik adalah nyeri yang kerusakan jaringan tidak jelas. Contoh :
nyeri yang diakitbatkan oleh kelainan pada susunan saraf.

Sistem Imun

Sistem imun adalah suatu system dan mekanisme pertahanan tubuh dari antigen yang dapat
mengancam kelangsungan proses metabolime dan homeostasis pada tubuh manusia.

Fungsi sistem imun :

Melindungi tubuh terhadap mikroorganisme, memusnahkan patogen,


mendeteksi dan membunuh sel yang abnormal dan sel kanker, membuang sel
mati dan debris lainnya dari tubuh.
Mematikan atau menetralisir kuman dan membentuk memori sehingga
pertemuan berikutnya akan memberi respon spesifik yang jauh lebih cepat.
Respon yang terinduksi dini dan non-adaptif meliputi mekanisme efektor
tertuju pada mikroorganisme. Respon tersebut dipicu oleh reseptor tetapi
responnya tidak memberi imunitas tahan lama atau menimbulkan memori.
Pertahanan dengan menggunakan resistensi untuk agen penginvasi
mikroorganisme
Surveylense : mengidentifikasi dan menghancurkan sel-sel tubuh sendiri
yang bermutasi dan berpotensi menjadi neoplasma
Homeostasis : membersihkan sisa-sisa sel dan zat buangan sehingga tipe-tipe
sel tetap seragam dan tidak berubah
Jenis respon imun :

Non spesifik Spesifik

a. Fisik a. Humoral
- Kulit sel B
- Selaput lender - IgD
- Silia - IgM
- Batuk - IgG
- Bersin - IgE
b. Larut - IgA
Biokimia b. Selular
- Lisozim ( keringat ) - Sel T
- Sekresi sebaseus - Th 1
- Asam lambung - Th 2
- Laktoferkin - Ts/Tr/Th3
- Asam neuraminik - Tdth
c. Selular - CTL/Tc
Fagosit
- Mononuclear
- Polimorfonuklear
- Sel NK
- Sel mast
- Basofil

Sistem Imun non spesifik


Merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menhadapi serangan berbagai mikroorganisme,
karena hal ini tidak ditunjukkan terhadap mikroorganisme tertentu.
a. Pertahanan fisik
Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin dapat membantu atau mencegah
kuman patogen masuk kedalam tubuh.
b. Pertahanan larut
Pertahanan biokimia adalah bahan yang disekresi mukosa saluran napas, kelenjar
subaseus kulit, kelenjar kulit, telinga, spermin dalam semen merupakan bahan yang
berperan dalam pertahan tubuh. Asam hidrokrolik dalam cairan lambung, lisosim dalam
keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu dapat melindungi tubuh terhadap kuman Gram
positif dengan jalan menghancurkan dinding kuman tersebut. Air susu ibu mengandung
laktoferin dan asam neurominik yang mempunyai sifat antibaktertial terhadap E. coli dan
stafilokok.
Udara yang kita kita hirup , kulit dan saluran cerna mengandung banyak mikroba, biasanya
berupa bakteri dan virus, kadang jamur atau parasit. Sekresi kulit yang bakterisidal, asam
lambung, mucus dan silia di saluran napas dapat membantu menurunkan jumlah mikroba
yang masuk ke tubuh, epitel yang sehat biasanya dapat mencegah mikroba masuk kedalam
tubuh.

c. Pertahanan seluler
- Fagosit

Sel yang berperan adalah sel monokuler ( monosit dan makrofag ) serta sel polimorfokuler
seperti neutrofil. Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietikyang
sama.Fagosit dini yang efektifpada invasi kuman, akan dapat mencegah timbulnya
penyakit. Proses fagosit dapat dilakukan dengan cara: kemotaksis, menangkap dan
mencerna.

- Natural killer cell ( sel NK )


Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma. Interferon
mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel NK.

- Sel mast
Sel mast berperan dalam reaksi alergi dan juga dalam pertahanan pejamu yang jumlahnya
menurun pada sindrom imunodefisiensi. Selain itu juga berperan pada imunitas terhadap
parasit dalam usus dan invasi bakteri.
System imun spesifik
System imun spesipik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing
bagi dirinya. Sisistem imun spesipik dapat bekerja sendiriuntuk menghancurkan benda asing
yang berbahayabagi badan, tapi pada umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibody,
komplemen, fagosit dan antara sel T-makrofag.

a. System imun humoral

Yang berperan dalam system imun humoral adalah limfosit Batau sel B. bila sel B
dirangsang benda asing, sel tersebut akan berpoliferasi dan berdeferensiasi menjadi sel
plasma yang dapat membentuk antibody. Antibody yang dilepas dapat ditemukan di dalam
serum. Fungsi utama antibody ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus
dan menetralisasi toksin.
b. System imun spesifik seluler

Yang berperan dalam system imun spesifik seluler limfosit T atau sel T. fungsi sel T
adalah :
Membantu sel B dalam memproduksi antibody
Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
Mengaktifkan magrofag dalam fagositosis
Mengintrol ambang dan kualitas system imun.

Terjadinya respon imun :


Pembuluh kapiler yang mensuplai suatu jaringan membawa oksigen, dan bahan berat
molekul kecil ke sel, dan mengambil CO2 dan produk metabolisme dan produk sekresi. Terdapat
juga secara konstan, pasase protein plasma dan leukosit (hampir semua limfosit) dari kapiler
kejaringan (normal), protein dan leukosit ini kembali kedarah melalui sistem limfatik setelah
memasuki kapiler limfatik. Limfosit ini meninggalkan kapiler darah secara aktif melewati sel
endotel. Limfosit menerobos kapiler limfatik dan masuk ke cairan limfe. Kemudian melewati
kelenjar limfe lokal pada umumnya akan melewati satu limfe lagi sebelum memasuki ductus
thoracicus, ke vena dalam thorax dan abdomen. Limfosit darah juga langsung masuk kekelenjar
limfe melalui venula pasca kapiler.

Tipe imunitas :
1. Innate defenses (Imunitas alami)
Potensi untuk menolak agen asing tanpa pernah berkontak. Imunitas alami di anggap
non spesifik karena dipertahankan oleh NK, jenjang C, interferon, serta kulit dan selaput lendir
tanpa bergantung pada mekanisme imun spesifik. Proses didalam tubuh seperti fagositosis dan
peradangan juga berperan menghasilkan imunitas alami.
2. Adaptive defenses (Imunitas didapat)
Terjadi setelah tubuh terpajan ke suatu imunogen setelah lahir. Bersifat aktif atau pasif.
Imunitas aktif adalah resistensi terhadap suatu imunogen yang terjadi akiibat kontak dengan
imunogen asing.sedang imunitas pasif adalah resistensi relative yang bergantung pada produksi
immunoglobulin oleh orang atau pejamu lain.

Tanda-tanda terjadi peradangan (reaksi inflammasi) :

Warna merah (rubor)


Terjadi karena jaringan yang meradang mengandung banyak darah akibat
kapiler-kapilernya melebar dan kapiler-kapiler yang tadinya kosong menjadi
berisi darah juga. Seiring dengan dimulainya reaksi peradangan, arteriol yang
memasok daerah tersebut berdilatasi sehingga memungkinkan lebih banyak darah
mengalir kedalam mikrosirkulasi lokal.

Panas (calor)
Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan pada reaksi
peradangan akut. Juga akibat sirkulasi darah yang meningkat. Naiknya suhu ini
tidak melebihi suhu rektum sehingga diambil kesimpulan bahwa peningkatan
metabolisme tidak seberapa menyebabkan kenaikan suhu ini.

Pembengkakan (tumor)
Disebabkan sebagian oleh hiperemi dan sebagian besar oleh eksudat yang
terjadi pada radang. Aspek paling mencolok dari peradangan akut mungkin adalah
tumor, atau pembengkakan yang dihasilkan oleh cairan dan sel-sel yang
berpindah dari aliran darah ke jaringan interstitial. Campuran cairan dan sel-sel ini
yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat.
Bengkak juga bias terjadi karena cedera seluler suatu sel. Efek pertamanya
yaitu perubahan kimia yang terjadi akibat reaksi metabolic sel. Pembengkakan
terjadi karena adanya perubahan degenerative sel, yaitu dengan penimbunan air di
dalam sel yang cidera yang menyebabkan hilangnya pengaturan volume pada
bagian bagian sel.
Dalam homeostatis sel menggunakan energy metanolik untuk memompa
natrium pada tingkat membrane sel. Saat membrane sel mengalami cedera sel
tidak bias memompa ion natrium keluar dari sel yang mengakibatkan terjadinya
peningkatan osmotic di dalam sel, sehingga air masuk ke dalam sel dan jaringan.
Sehingga terlihat pembengkakan pada organ yang mengalami cedera.

Rasa nyeri (dolor)


Disebabkan pengaruh zat pada ujung saraf perasa yang dilepaskan oleh sel
yang cedera, zat ini mungkin histamin. Rasa nyeri agaknya juga disebabkan oleh
tekanan yang meninggi dalam jaringan akibat terjadinya eksudat. Perubahan pH
lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf.
Hal yang sama, pelepasan zat-zat kimia tertentu seperti histamine atau zat-zat
kimia bioaktif lain dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan
yang meradang menyebabkan peningkatan tekanan lokal yang tidak diragukan
lagi dapat menimbulkan nyeri.

Fungsio Laesa (Perubahan fungsi)


Meruapakan bagian yanag lazim pada reaksi peradangan. Sepintas mudah
dimengerti dengan bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dan
lingkungan kimiawi lokal yang abnormal. Akan tetapi, cara bagaimana fungsi
jaringan yang meradang itu terganggu tidak dipahami secara terperinci.
Mekanisme Pus

Bila netrofil dan makrofag menelan sejumlah besar bakteri dan jaringan nekrotik, pada
dasarnya semua netrofil dan sebagian besar makrofag akhirnya akan mati. Sesudah beberapa
hari, di dalam jaringan yang meradang akan terbentuk rongga yang mengandung berbagai bagian
jaringan nekrotik, netrofil mati, makrofag mati, dan cairan jaringan. Campuran seperti ini
biasanya disebut pus. Setelah proses infeksi dapat ditekan, sel-sel mati dan jaringan nekrotik
yang terdapat dalam pus secara bertahap akan mengalami autokatalisis dalam waktu beberapa
hari, dan kemudian produk akhirnya akan diabsorpsi ke dalam jaringan sekitar dan cairan limfe
hingga sebagian besar tanda kerusakan jaringan telah hilang.

Mekanisme lainnya yaitu fibrinogen yang terfiltrasi dari pembuluh darah akan
membekukan area sekitar luka, sehingga mengurung atau mengisolasi pathogen dalam suatu
lubang yang lembab. Pathogen tersebut dikumpulkan dan dihancurkan oleh leukosit. Neutrophil,
makrofag dan sel lainnya mati bersama bakteri. Jaringan nekrotik mengalami autolysis menjadi
suatu cairan berwarna kekuningan yang disebut pus.

Mekanisme Demam
Demam ditimbulkan oleh senyawa yang dinamakan pirogen. Dikenal dua jenis
pirogen,yaitu pirogen eksogen dan endogen. Pirogen eksogen merupakan senyawa yang berasal
dari luar tubuh pejamu dan sebagian besar terdiri dari produk mikroba, toksin atau mikroba itu
sendiri. Bakteri gram negatif memproduksi pirogen eksogen berupa polisakarida yang disebut
sebagai endotoksin. Bakteri gram-positif tertentu dapat pula memproduksi pirogen eksogen
berupa polipeptida yang dinamakan ekso-toksin. Pirogen eksogen menginduksi pelepasan
senyawa didalam tubuh pejamu yang dinamakan pirogen endogen. Pirogen endogen tersebut
diproduksi oleh berbagai jenis sel didalam tubuh pejamu terutama sel monosit dan makrofag.
Senyawa yang tergolong pirogen endogen ialah sitokin, seperti interleukin (interleukin-1,
interleukin-1, interleukin-6), tumor nekrosis faktor (TNF-, TNF-) dan interferon.
Pirogen endogen yang dihasilkan oleh sel monosit, makrofag dan sel tertentu lainya
secara langsung atau dengan perantara pembuluh limfe masuk sistem sirkulasi dan dibawa ke
hipotalamus. Didalam pusat pengendalian suhu tubuh pirogen endogen menimbulkan perubahan
metabolik, antara lain sintesis prostaglandin E2 (PGE2) yang mempengaruhi pusat pengendalian
suhu tubuh sehingga set point untuk suhu tubuh tersebut ditingkatkan untuk suatu suhu tubuh
yang lebih tinggi. Pusat ini kemudian mengirimkan impuls kepusat produksi panas untuk
meningkatkan aktivitasnya dan kepusat pelepasan panas untuk mengurangi aktivitasnya sehingga
suhu tubuh meningkat atau terjadi DEMAM.
Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya demam
pelepasan pirogen eksogen yang berasal dari mikroorganisme
pengaruh pengaturan otonom akan menyebabkan terjadinya vasokonstriksi
perifer sehingga pengeluaran panas menurun dan pasien merasa demam
keadaan toksemia, karena keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat
gangguan pada pusat pengaturan regulasi suhu sentral dapat menyebabkan
peninggian suhu. Contoh : heat stroke, koma, dan pendarahan otak
agen infeksi : bakteri, virus, parasit, protozoa, jamur
inflamasi
dehidrasi -> demam fisiologis
kanker atau tumor -> demam infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland. 2007. Jakarta : Penerbit Buku

Kedokteran EGC

Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 2008. Jakarta : Penerbit Buku

Kedokteran EGC

Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.

Jilid I. Edisi keempat. 2006. Jakarta : Pusat Penerbitan Departeman Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 1.

Edisi keenam. 2005. Jakarta : EGC

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC

Guyton, Arthur C dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Mescher, Anthony L.. 2011. Histologi Dasar Junqueira. Jakarta: EGC

McKinley, Michael dan Valerie Dean OLoughlin. 2012. Human Anatomy. New York:

McGraw-Hill Inc

Tortora, Gerard J dan Bryan Derrickson. 2012. Principle of Anatomy and Physiology.

United States of America:John Wiley & Sons, Inc

Sherwood, Lauralle. 2010. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC

Snell, Richard S. 2011. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta: EGC

Wonodirekso, Sugito. 2003. Penuntum Praktikum Histologi. Jakarta: Penerbit Dian

Rakyat

Sadler, T.W. 2006. Langmans Medical Embryology. Jakarta: EGC