Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan

penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer,2000).

Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari,

melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal (Brunner dan Sudarth,

2002).

Berdasarkan data yang didapatkan menurut DEPKES RI, jumlah

pasien yang menderita penyakit apendiksitis di Indonesia berjumlah sekitar

27% dari jumlah penduduk di Indonesia, di Kalimantan Timur bcrjumlah

sekitar 26% dari jumlah penduduk di Kalimantan Timur, sedangkan dari data

yang ada pada rekam medik RS Islam Samarinda untuk bulan Januari sampai

Juni 2009, tercatat penderita yang dirawat dengan apendiksitis sebanyak 153

orang dengan rincian 57 pasien wanita dan 104 pasien pria. Hal ini

membuktikan tingginya angka kesakitan dengan kasus apendiksitis. Sebagian

besar kasus apendiksitis di rumah sakit Islam Samarinda diatasi dengan

pembedahan. Hasil survey pada tahun 2008 Angka kejadian appendiksitis di

sebagian besar wilayah indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia,

jumlah pasien yang menderita penyakit apendiksitis berjumlah sekitar 7%

dari jumlah penduduk di Indonesia atau sekitar 179.000 orang. Dari hasil

Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di indonesia, apendisitis akut

merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi

1
2

untuk dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen. Insidens apendiksitis di

Indonesia menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawatan abdomen

lainya (Depkes 2008). Jawa Tengah tahun 2009, jumlah kasus appendiksitis

dilaporkan sebanyak 5.980 dan 177 diantaranya menyababkan kematian.

Jumlah penderita appendiksitis tertinggi ada di Kota Semarang, yakni 970

orang. Hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang kurang pada

masyarakat modern (Dinkes Jateng, 2009).

Di RSUD Padang Panjang pada tahun 2016 kasus appendiksitis

merupakan kasus tertinggi di ruang bedah dengan jumlah kasus 224 per

tahun. Pada bulan Januari s/d April 2016 angka kejadian appendicitis 31

kasus.

Radang usus buntu (Appendisitis) umumnya disebabkan adanya

sumbatan pada pangkal usus buntu dan hal ini dapat diakibatkan kelainan

pada sekum (tempat usus buntu bermuara) yang menyebabkan penyempitan

dari muara usus buntu, kelainan usus halus bagian ujung (ileu terminal) yang

akan berakhir pada sekum, kelainan pada dinding usus buntu terutama pada

pangkalnya yang membuat salurannya menyempit atau tersumbat. Kelainan-

kelainan pada organ di atas dapat berupa radang, infeksi maupun tumor yang

pada akhirnya menyebabkan penyempitan pangkal appendiks. Penyebab lain

dari sumbatan appendiks, adanya sisa makanan yang masuk ke dalam

appendiks yang banyak dan memadat sehingga sulit keluar dari pangkal

appendiks dan menimbulkan sumbatan. Pada umumnya, appendisitis

disebabkan oleh kedua faktor penyebab sumbatan di atas yang membuat


3

appendiks teregang, melebar dan tegang dengan dinding makin tipis

(health.detik.com).

Penyebab apendiksitis adalah kurangnya mengkonsumsi serat dan

gaya hidup yang tidak sehat. Hingga tidak dapat dihindari, penyakit

apendiksitis menjadi kasus tersering yang diderita oleh klien dengan nyeri

abdomen akut. Insiden ini lebih tinggi terjadi pada laki-laki dari pada

perempuan dan ditemukan pada setiap umur, oleh karena itu, tetaplah

mengangkat diagnosa dini sangat dibutuhkan. Komplikasi yang mungkin

terjadi dapat dicegah dengan penyebab dan perawatan yang optimal.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, obstruksi merupakan

penyebab yang dominan dan merupakan pencetus untuk terjadinya

apendisitis. Kuman-kuman yang merupakan flora normal pada usus dapat

berubah menjadi patogen, menurut Schwartz kuman terbanyak penyebab

apendisitis akut adalah Bacteriodes Fragilis bersama E.coli. Beberapa

gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis;

merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain

adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti

alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik.

Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya

gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri

yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam

keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan

mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada lambung


4

adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks

terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.

Di dalam karya tulis ini penulis akan membahas seputar gangguan

pencernaan pada apendiks atau biasa dikenal dengan apendisitis yang

meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan,

diagnosis, penatalaksanaan, dan komplikasinya. Ketertarikan penulis sebagai

peneliti adalah karena banyaknya ditemui kasus apendiksitis di RSUD Kota

Padang Panjang.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mampu mengaplikasikan ilmu tentang pelaksaan asuhan keperawatan pada

klien dengan appendicitis.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu memahami definisi dari appendicitis.

b. Mampu melakukan pengkajian pada pasien appendicitis.

c. Mampu mengakkan diagnosa pada pasien appendicitis.

d. Mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai kebutuhan klien.

e. Mampu mengevaluasi dari asuhan keperawatan yang telah diberikan

kepada klien.

C. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa, untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan khususnya

dalam bidang Keperawatan medikal Bedah.


5

2. Bagi Institusi, asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Pre dan

Post Op Appendiktis dapat menambah bahanbahan referensi

diperpustakaan institusi.
3. Bagi Penulis, asuhan keperawatan pada klien yang mengalami pre dan

Post Op Appendiktis dari kebutuhan tubuh dapat dijadikan pengalaman

dan latihan bagi penulis dalam menyusun asuhan keperawatan.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
6

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira

10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.

Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam

sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil,

appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.

(Brunner dan Sudarth, 2002).

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat

mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih

sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer,

Arief,dkk, 2007).

Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya

lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing

usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi

membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti

Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis

(Ovedolf, 2006).

Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena

struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri

untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang, 2010)


6
7

Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi

tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau

akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009).

Gambar 1.1

2. Klasifikasi

a. Apendisitis akut

Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis

akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan

diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.

1) Penyebab obstruksi dapat berupa :

2) Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.

3) Fekalit

4) Benda asing

5) Tumor

Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang

diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin

meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan

intra mukosa juga semakin tinggi.


8

Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding

apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus/

nanah pada dinding apendiks.

Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran

infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen ke

apendiks.

b. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema

menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan

menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema

pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke

dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa

menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan

mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat

eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal

seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan

nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat

terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.

c. Apendisitis kronik

Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua

syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang

kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan

menghilang satelah apendektomi.


9

Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh

dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya

jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi

kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.

d. Apendissitis rekurens

Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri

berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan

hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila

serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun,

apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis

dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50

persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi

yang diperiksa secara patologik.

Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena

sering penderita datang dalam serangan akut.

e. Mukokel Apendiks

Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin

akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya berupa

jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa

infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu

kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.

Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di

perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka


10

kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut.

Pengobatannya adalah apendiktomi.

f. Tumor Apendiks

Adenokarsinoma apendiks, penyakit ini jarang ditemukan, biasa

ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis

akut. Karena bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan

hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh

lebih baik dibanding hanya apendektomi.

g. Karsinoid Apendiks

Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang

didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada

pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis

prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan

kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus,

dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid

perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan gejala

tersebut di atas.

Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa

memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai

radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan

pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal

atau hemikolektomi kanan.


11

Gambar 1.2

3. Etiologi

Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada

factor prediposisi yaitu:

a. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi

ini terjadi karena:

1) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.

2) Adanya faekolit dalam lumen appendiks

3) Adanya benda asing seperti biji-bijian

4) Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.

b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan

Streptococcus

c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30

tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan

jaringan limpoid pada masa tersebut.

d. Tergantung pada bentuk apendiks:

1) Appendik yang terlalu panjang

2) Massa appendiks yang pendek

3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks


12

4) Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul, 2009)

4. Patofisiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks

oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena

fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.

Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa

mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun

elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga

menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat

tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,

diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi

apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.

Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan

bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan

mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah

kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding

apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan

apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan

terjadi apendisitis perforasi.

Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang

berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa


13

lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut

dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum

lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.

Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang

memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi

mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,

2007) .

5. Tanda dan Gejala

Gambar 1.3

a. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam

ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.


b. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
c. Nyeri tekan lepas dijumpai.
d. Terdapat konstipasi atau diare.
e. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
f.Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
g. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau

ureter.
h. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
i. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang

secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.


14

j.Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai

abdomen terjadi akibat ileus paralitik.


k. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien

mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium

Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).

Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara

10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan

pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah

satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah

terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis

serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan

90%.

b. Radiologi

Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed

Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan

bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks,

sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang

menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang

mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi

USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan

92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan

sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.


15

c. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan

kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut

bawah.

d. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa

peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.

e. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk

memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.

f. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum.

Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan

awal untuk kemungkinan karsinoma colon.

g. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti

Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan

Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.

7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis

meliputi penanggulangan konservatif dan operasi.

a. Penanggulangan konservatif

Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang

tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian

antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada


16

penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan penggantian

cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik

b. Operasi

Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka

tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks

(appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik

dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses appendiks

dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).

c. Pencegahan Tersier

Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya

komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen.

Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila

diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam

fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan

intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan

dengan besar infeksi intra-abdomen.

8. Komplikasi

Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis.

Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor

penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis

meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke

rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini

menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi


17

komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang

tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75%

pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan

orang tua. Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis,

omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan

terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh

darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:

a. Abses

Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa

lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula

berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung

pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi

oleh omentum

b. Perforasi

Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri

menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam

pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.

Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran

klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari

38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis

terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi

bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.

c. Peritonitis
18

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi

berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila

infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan

timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai

timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit

mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.

Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri

abdomen, demam, dan leukositosis.

B. Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian

Hal penting dalam riwayat keperawatan pre operatif:

a. Umur

b. Alergi terhadap obat, makanan

c. Pengalaman pembedahan

d. Pengalaman anestesi

e. Riwayat pemakaian tembakau, alcohol, obat-obatan

f. Lingkungan

g. Kemampuan self care

h. Support system

Pemeriksaan Fisik

Pengkajian dasar pre operatif dilakukan untuk:

a. Menentukan data dasar


19

b. Masalah pengobatan yang tersembunyi

c. Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi

d. Potensial komplikasi post operasi

e. Fokus: Riwayat dan sitem tubuh yang mempengaruhi prosedur

pembedahan. System kardiovaskuler Untuk menentukan kekuatan

jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.

39 % kematian perioperatif. Perubahan jantung Sistem pernapasan

resiko atelektasis, kolap jaringan paru. Lansia, perokok, PPOM

Mencegah pertukaran oksigen/CO2. Intoleransi karena perubahan

dalam dada dan paru. Efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi

menurun. Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru.

Renal system

Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi

Skopolamin, morphin konfusi, disorientasi. Neuorologi system.

Kemampuan ambulasi Muskulosceletal mempengaruhi posisi intra dan

post operasi. Defomitas nyeri post operasi oleh karena immobilisasi.

menerima posisi Artritis Status Nutrisi resiko tinggi pembedahan.

Malnutrisi, obesitas Vit. C, vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka

dan pembentukan fibrin. wondhiling menurun oleh karena jaringan

lemak tinggi. Obesitas.

f. Psikososial assessment

Tujuan: menentukan kemampuan coping Informasi

Support
20

g. Laboratorium

h. Analisa:

1) Pengetahuan kurang berhubungan dengan pengalaman pre operasi

2) Kecemasan berhubungan dengan pengalaman pre operasi

Hal penting dalam riwayat keperawatan post operatif:

a. Identitas Pasien

Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,

suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor

register.

b. Riwayat Kesehatan

c. Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi

apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan

leukosit.

d. Riwayat Kesehatan masa lalu

Pola Kebiasaan Sehari hari

1) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan

Data subjektif: Mewawancarai klien tentang bagaimana klien

menganggap kebersihan terhadap dirinya terutama keadaan

lingkungan dan terhadap makanan, menanyakan riwayat kesehatan

dalam keluarga, apa upaya yang dilakukan untuk mempertahankan

kebersihan dan pencegahan penyakit.

Data objektif: Mengkaji kebersihan seluruh tubuh

2) Pola nutrisi metabolic


21

Data subjektif: Mewawancarai klien tentang kebiasaan makanan

dan minuman sehari-hari dan menanyakan bagaimana kenaikan

berat badan.

Data objektif: Mengkaji gambaran nutrisi tubuh atau berat badan,

kebiasaan makan, nilai kebersihan badan sendiri.

3) Eliminasi

Data subjektif :Mengkaji kebiasaan BAB / BAK sebelum sakit,

menanyakan riwayat penyakit kelamin yang pernah ada.

Data objektif :Mengkaji pola BAB/BAK

4) Pola tidur dan istirahat

Data subjektif :Mengkaji kebiasaan tidur sehari-hari (lama tidur

malam, tidur siang) apakah ada gangguan tidur dan kebiasaan

sebelum tidur.

Data objektif :Mengkaji tingkat kemampuan observasi mata dan

ekspresi wajah.

5) Pola persepsi kognitif

Data subjektif :Mengidentifikasi tingkat interval secara umum

kemampuan mengungkapkan perasaan nyaman atau nyeri dan

kemampuan berfikir, penginderaan, pengecapan serta penggunaan

alat bantu.

Data objektif :Mengobservasi kemampuan pendengaran,

penginderaan, pengecapan serta penggunaan alat bantu

6) Pola persepsi kognitif


22

Data subjektif :Mengidentifikasi bagaimana anggapan klien

terhadap perubahan berhubungan dengan penyakit yang

mengganggu citra tubuhnya, apakah klien ada putus asa atau

merasa rendah diri.

Data objektif : Mengkaji kemampuan dan keamanan atau

partisipasi klien dalam tindakan keperawatan.

7) Pola peran dan hubungan dengan masyarakat

Data subjektif :Mengidentifikasi hubungan klien dengan sesama,

saudara atau keluarga, cara klien untuk mengungkapkan masalah

pada teman atau keluarga serta dukungan dalam menghadapi

penyakit.

Data objektif :Klien berhubungan dengan keluarga dan

saudaranya.

8) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress

Data subjektif :Mengidentifikasi respon emosi klien pada saat

klien menghadapi masalah atau stres klien dan bagaimana klien

mengungkapkan atau melampiaskannya.

Data objektif :Mengkaji ekspresi wajah klien.

9) Pola sistem kepercayaan

Data subjektif :Bagaimana kepercayaan dan kegiatan klien

beribadah pada kepercayaan, apakah klien rajin berdoa selama

sakit.

e. Pemeriksaan Fisik
23

Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5C. Bila suhu

lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan

suhu aksilar dan rektal sampai 1 C.

1) Inspeksi

Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk

dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi

perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat

pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut

kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendikuler.

2) Palpasi

Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda

peritonitis lokal yaitu:

a) Nyeri tekan di Mc. Burney

b) Nyeri lepas

c) Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya

rangsangan peritoneum parietal.

d) Pada appendiks letak retroperitoneal, defans muscular mungkin

tidak ada, yang ada nyeri pinggang.

3) Auskultasi

Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus

paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.

Psoas sign. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan.

Pasien dimiringkan kekiri. Pemeriksa meluruskan paha kanan


24

pasien, pada saat itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha

kanan. (A. Mansjoer, dkk. 2000)

Tes Obturator. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha

pasien difleksikan. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah

kelateral, pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut

(tanda bintang), menghasilkan rotasi femur kedalam. (A. Mansjoer,

dkk. 2000)

Menurut Doenges (2000) pengkajian pada pasien dengan Appendiksitis:

Pre Appendiktomi

1) Aktivitas

Gejala : Malaise

2) Sirkulasi

Tanda: Tachicardia

3) Eliminasi

Gejala : Konstipasi pada awitan awal, diare (kadang-kadang)

Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan

penurunan/ tidak ada bising usus

4) Makanan/ cairan

Gejala : Anoreksia, mual/muntah

5) Nyeri/ kenyamanan

Gejala: Nyeri abdomen sekitar epigastrum dan umbilikus, yang

meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc Burney (setelah jarak

antara umbilikus dan tulang ileum kanan). Nyeri ini merupakan gejala

klasik appendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul


25

yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar

umbilicus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di

abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan

lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila

terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh

nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. (W. De Jong, R.

Sjamsuhidajat, 2004)

Tanda : Perilaku berhati-hati, berbaring ke samping atau telentang

dengan lutut ditekuk, meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah

karena posisi ekstensi kaki kanan/ posisi duduk tegak.

6) Keamanan

Tanda : demam (biasanya rendah). Demam terjadi bila sudah ada

komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas.

Suhu biasanya berkisar 37,5-38,5 C

7) Pernafasan

Tanda : takipnea/ pernafasan dangkal

8) Penyuluhan/ pembelajaran

Gejala : Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen

contoh pielitis akut, batu uretra, dapat terjadi pada berbagai usia

Post Appendiktomi

1) Sirkulasi

Gejala : riwayat masalah jantung, edema pulmonal, penyakit vaskuler

perifer.
26

2) Integritas ego

Gejala : perasaan takut, cemas, marah, apati.

Tanda : tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang,

stimulasi simpatis

3) Makanan/ cairan

Gejala : insufisiensi pangkreas, malnutrisi, membran mukosa yang

kering

4) Pernafasan

Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok

5) Keamanan

Gejala : alergi, defisiensi imun, riwayat keluarga tentang hipertermi

malignan/reaksi anastesi, riwayat penyakit hepatik, riwayat transfusi

darah

Tanda : munculnya proses infeksi yang melelahkah, demam

2. Diagnosa Keperawatan

Pre op
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (distensi jaringan
intestinal oleh inflamasi)
b. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunana
peristaltik
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah
d. Cemas berhubungan dengan akan dilaksankannya operasi
Post op
a. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appendiktomi)
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
nutrisi inadekut b/d faktor biologis ( mual, muntah, puasa)
27

c. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post


pembedahan)
d. Defisit self care berhubungan dengan nyeri
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang informasi

3. Rencana Asuhan Keperawatan

TUJUAN &
No DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
28

1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri :


berhubungan asuhan keperawatan, Kaji nyeri secara
dengan agen diharapkan nyeri klien komprehensif termasuk
injuri biologi berkurang dengan lokasi, karakteristik, durasi,
(distensi kriteria hasil: frekuensi, kualitas dan faktor
jaringan Klien mampu presipitasi.
intestinal oleh mengontrol nyeri Observasi reaksi nonverbal
inflamasi) (tahu penyebab dari ketidak nyamanan.
nyeri, mampu Gunakan teknik komunikasi
menggunakan tehnik terapeutik untuk mengetahui
nonfarmakologi pengalaman nyeri klien
untuk mengurangi sebelumnya.
nyeri, mencari Berikan lingkungan yang
bantuan) tenang
Melaporkan bahwa Ajarkan teknik non
nyeri berkurang farmakologis (relaksasi,
dengan distraksi dll) untuk mengetasi
menggunakan nyeri.
manajemen nyeri Berikan analgetik untuk
Tanda vital dalam mengurangi nyeri.
rentang normal Evaluasi tindakan pengurang
TD (systole 110- nyeri/kontrol nyeri.
130mmHg, diastole Monitor penerimaan klien
70-90mmHg), tentang manajemen nyeri.
HR(60-100x/menit),
RR (16-24x/menit), Administrasi analgetik:.
suhu (36,5-37,50C) Cek program pemberian
Klien tampak rileks analogetik; jenis, dosis, dan
mampu frekuensi.
tidur/istirahat Cek riwayat alergi.
Monitor V/S
Berikan analgetik tepat waktu
terutama saat nyeri muncul.
Evaluasi efektifitas analgetik,
tanda dan gejala efek
samping.
29

2 Perubahan Setelah dilakukan Pastikan kebiasaan defekasi


pola eliminasi asuhan keperawatan, klien dan gaya hidup
(konstipasi) diharapkan konstipasi sebelumnya.
berhubungan klien teratasi dengan Auskultasi bising usus
dengan kriteria hasil: Tinjau ulang pola diet dan
penurunan BAB 1-2 kali/hari jumlah / tipe masukan
peritaltik. Feses lunak cairan.
Bising usus Berikan makanan tinggi
5-30 kali/menit serat.
Berikan obat sesuai
indikasi, contoh : pelunak
feses

3 Cemas Setelah dilakukan Evaluasi tingkat ansietas,


berhubungan asuhan keperawatan, catat verbal dan non verbal
dengan akan diharapkan kecemasab pasien.
dilaksanakan klien berkurang Jelaskan dan persiapkan
operasi. dengan kriteria hasil: untuk tindakan prosedur
Melaporkan ansietas sebelum dilakukan
menurun sampai Jadwalkan istirahat adekuat
tingkat teratasi dan periode menghentikan
Tampak rileks tidur.

Anjurkan keluarga untuk


menemani disamping klien.
30

TUJUAN &
No DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
1 Nyeri Akut b/d Setelah dilakukan Manajemen nyeri :
agen injuri askep . jam tingkat Kaji nyeri secara
fisik kenyamanan klien komprehensif termasuk
meningkat, nyeri lokasi, karakteristik, durasi,
terkontrol dengan frekuensi, kualitas dan faktor
KH: presipitasi.
o klien melaporkan Observasi reaksi nonverbal
nyeri berkurang, dari ketidak nyamanan.
skala nyeri 2-3 Gunakan teknik komunikasi
o Ekspresi wajah terapeutik untuk mengetahui
tenang & dapat pengalaman nyeri klien
istirahat, tidur. sebelumnya.
o v/s dbn (TD Berikan lingkungan yang
120/80 mmHg, N: tenang
60-100 x/mnt, RR: Ajarkan teknik non
16-20x/mnt). farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi
nyeri.
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
Evaluasi tindakan pengurang
nyeri/kontrol nyeri.
Monitor penerimaan klien
tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik:.
Cek program pemberian
analogetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
Cek riwayat alergi.
Monitor V/S
Berikan analgetik tepat waktu
terutama saat nyeri muncul.
Evaluasi efektifitas analgetik,
tanda dan gejala efek
samping.

2 Ketidakseimba Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi


ngan nutrisi askep selama .. jam kaji pola makan klien
kurang dari klien menunjukan Kaji adanya alergi makanan.
kebutuhan status nutrisi Kaji makanan yang disukai
tubuh b.d adekuat dibuktikan oleh klien.
intake nutrisi dengan BB stabil Kolaborasi dg ahli gizi untuk
inadekut b/d tidak terjadi mal penyediaan nutrisi terpilih
faktor biologis nutrisi, tingkat energi sesuai dengan kebutuhan
31

( mual, adekuat, masukan klien.


muntah, puasa) nutrisi adekuat Anjurkan klien untuk
meningkatkan asupan
nutrisinya.
Yakinkan diet yang
dikonsumsi mengandung
cukup serat untuk mencegah
konstipasi.
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi dan
pentingnya bagi tubuh klien.
Kolaborasi dg ahli gizi
tentang dietnya jika perlu

Monitor Nutrisi
Monitor BB setiap hari jika
memungkinkan.
Monitor respon klien
terhadap situasi yang
mengharuskan klien makan.
Monitor lingkungan selama
makan.
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak bersamaan
dengan waktu klien makan.
Monitor adanya mual
muntah.
Monitor adanya gangguan
dalam proses mastikasi/input
makanan misalnya
perdarahan, bengkak dsb.
Monitor intake nutrisi dan
kalori.

3 Risiko infeksi Setelah dilakukan Kontrol infeksi :


b/d adanya askep . jam tidak Bersihkan lingkungan setelah
luka operasi, terdapat faktor risiko dipakai pasien lain.
imunitas tubuh infeksi dg KH: Batasi pengunjung bila perlu
menurun, bebas dari gejala dan anjurkan u/ istirahat yang
prosedur infeksi, cukup
invasive angka lekosit normal Anjurkan keluarga untuk cuci
(4-11.000) tangan sebelum dan setelah
V/S dbn kontak dengan klien.
Gunakan sabun anti microba
untuk mencuci tangan.
Lakukan cuci tangan sebelum
dan sesudah tindakan
32

keperawatan.
Gunakan baju dan sarung
tangan sebagai alat
pelindung.
Pertahankan lingkungan yang
aseptik selama pemasangan
alat.
Lakukan perawatan luka dan
dresing infus,DC setiap hari.
Tingkatkan intake nutrisi.
Dan cairan yang adekuat
berikan antibiotik sesuai
program.

Proteksi terhadap infeksi


Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal.
Monitor hitung granulosit
dan WBC.
Monitor kerentanan terhadap
infeksi.
Pertahankan teknik aseptik
untuk setiap tindakan.
Inspeksi kulit dan mebran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase.
Inspeksi keadaan luka dan
sekitarnya
Monitor perubahan tingkat
energi.
Dorong klien untuk
meningkatkan mobilitas dan
latihan.
Instruksikan klien untuk
minum antibiotik sesuai
program.
Ajarkan keluarga/klien
tentang tanda dan gejala
infeksi.dan melaporkan
kecurigaan infeksi.