Anda di halaman 1dari 34

KUMPULAN SOAL JAWAB UJI KOMPETENSI DOKTER HEWAN KARANTINA (MEDIK VETERINER MUDA

MADYA) 2016

Uji Kompetensi Medik Veteriner Karantina Hewan (Dokter Hewan Karantina) adalah proses pengujian
dan penilaian yang dilakukan oleh Tim Penguji, untuk mengukur tingkat kompetensi Medik Veteriner
Karantina Hewan dalam rangka memenuhi syarat pengangkatan dari jabatan lain atau kenaikan jenjang
jabatan setingkat lebih tinggi.

Berikut Ini adalah beberapa contoh soal beserta jawaban Uji kompetensi Medik Veteriner Karantina
Hewan untuk kenaikan jenjang jabatan dari Medik Veteriner Muda ke Medik Veteriner Madya.

******

KUMPULAN SOAL JAWAB UJI KOMPETENSI DOKTER HEWAN KARANTINA

(MEDIK VETERINER MUDA MADYA) 2016

I. Essay

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar

1. Sebutkan aspek Kesejahteraan Hewan (Kesrawan) yang harus diperhatikan pada waktu pemeriksaan
hewan di tempat pemasukan / pengeluaran.

Jawab:

Ada 5 aspek Kesrawan yang harus diperhatikan:

-Bebas dari rasa lapar dan haus (freedom from hunger and thirsty)

-Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit (freedom from pain, injury and diseases)
-Bebas dari rasa tidak nyaman (freedom from discomfort)

-Bebas dari rasa takut dan stress (freedom from fear and distress)

-Bebas mengekspresikan tingkah laku alamiah (freedom to express natural behaviour)

2. Bagaimanakah Cara cara (teknik) untuk melakukan pemeriksaan fisik pada hewan?

Jawab:

Cara /telnik untuk melakukan pemeriksaan fisik hewan meliputi:

a. Inspeksi. Adalah memeriksa dengan cara mengamati atau melihat;

b. Palpasi. Adalah memeriksa pasien dengan cara meraba untuk mengetahui adanya benjolan-benjolan
ataupun kebengkaan abnormal dari suatu organ (kelenjar lymfe) bisa juga untuk memperkirakan suhu
pasien;

c. Perkusi. Adalah pemeriksaan dengan memukul baik dengan jari maupun dengan alat perkusi hummer.
Ini dilakukan untuk mengetahui kepekaan /kenyaringan suara yang dihasilkan dari hasil pukulan yang
kita lakukan terhadap organ mengenai ketebalan ataupun isi dari suatu organ yang kita maksud dalam
pemeriksaan (ada perbedaan suara yang ditimbulkan).

d. Auskultasi. Adalah memeriksa dengan alat pendengaran (stetoskop) untuk mendengarkan normal
atau tidaknya suara yang ada yang ditimbulkan oleh aktifitas fisiologis organ (suara nafas, detak
jantung, peristaltik usus, gerak rumen dll)

e. Membau. adalah memeriksa dengan membau /penciuman. Bau adalah merupakan hal penting dalam
pemeriksaan karena ada beberapa penyakit yang dapat diketahui dari baunya yang khas seperti
distemper ataupun parvo. Ada pula beberapa penyakit lain karena baunya, seperti: otitis ekstera,
nekrose mulut, karies gigi, radang saluran pernafasan dll.

3. Apakah pengertian dari Pemeriksaan Status Praesen?

Jawab:

Pemeriksaan Status Praesen adalah pemeriksaan fisik dengan ruang lingkup pemeriksaan terhadap
keadaan umum hewan: Sikap Berdiri, Turgor Kulit, Selaput Lendir Mata, Cermin Hidung, Kondisi Bulu
dan Kulit, Suhu Tubuh berapa derajad celcius, Frekuensi Nafas setiap menit, Frekuensi Pulsus setiap
menit dan jumlah Gerak Rumen setiap 5 menit.
4. Sebagai hasil pemeriksaan status praesen, berapakah data normal fisiologis hewan untuk sapi, kuda
dan kerbau (frekensi nafas /menit, pulsu / menit, suhu derajat Celsius gerak rumen)?

Jawab:

Hewan

Nafas /mnt

Pulsus /mnt

Suhu Celsius

Rumen /5 mnt

Sapi

24 42

54 - 84

37,6 39,0

5 10

Kuda

14 48

36 48

37,0 39,5

Kerbau

24 49

64 80

37,6 39,0

58
5. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik diatas alat angkut terhadap sapi /kuda?

Jawab:

Pemeriksaan fisik diatas alat angkut terhadap sapi /kuda dilakukan dg cara Inspeksi /melihat, membau
dan mendengar: keadaan umum hewan yang dimaksud:

a. Reflek, gerakan telinga, gerakan ekor (kepekaan terhadap lingkungan).

b. posisi berdiri, tidur, cara berjalan pincang?, Luka? ekspresi muka, suara suara (Keadaan tubuh hewan).

c. Keadaan kunjungtiva dan Ada /tidaknya leleran mulut, hidung, mata.

d. Ada tidaknya parasit kulit, keadaan bulu kulit,

e. Nafsu makan?

f. Feces (bentuk, konsistensi, bau dll).

6. Dimanakah tempat pemeriksaan pulsus pada sapi dan kuda?

Jawab:

Pulsus pada sapi dapat diraba/palpasi di Arteria maxillaris externa / a facialis atau a. Coccygea, pada
kuda pada a. Maxillaris/ a. M. Externa.

7. Apakah yang dimaksud dengan Pemeriksaan Klinis pada hewan?

Jawab:

Pemeriksaan Klinis adalah pemeriksaan fisik dengan ruang lingkup pemeriksaan terhadap keadaan
khusus hewan (kelainan organ) meliputi: Selaput Lendir (hidung, mulut, dll), Alat Gerak, Saluran
Pernafasan, Saluran Pencernaan, Saluran Genital /Perkencingan.

8. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan klinis pada alat percernaan sapi?


Jawab:

Pemeriksaan klinis Alat Pencernaan adalah sebagai berikut:

a. Sebelum melakukan pemeriksaan perhatikan nafsu makan dan minumnya, coba berikan pakan.
Perhatikan abdomen kanan dan kiri. Amati mulut, dubur dan sekitar dubur, kaki belakang. Perhatikan
cara memamahbiak atau ruminasinya, defekasinya dan tinjanya.

b. Mulut. Bukalah mulut sapi inspeksi dan palpasi; Perhatikan perubahan warna, lesi, benda asing atau
anomali lain yg mungkin tjd pada mukosa mulut, lidah, gusi, dan geligi geligi. Perhatian bau mulut; Raba
parynx dr sebelah luar, jangan lupa meraba lgl mandibularis.

c. Esophagus. Perhatikan leher sebelah kiri, terutama bila sapi sedang eruktasi, regurgitasi atau deglutisi.
Lakukan palpasi pangkal esophagus lewat mulut, lakukan palpasi dari luar. Perhatikan pula kemungkinan
adanya benda asing atau sumbatan pada esophagus.

d. Rumen. Lakukan Pemeriksaan secara inspeksi, palpasi (dg tinju), auskultasi, perkusi dan eksplorasi
rectal. Bandungkan abdomen kiri dan kanan. Perhatikan fossa paralumbalis. Hitung frekuensi gerak
rumen (palpasi /auskultasi). Normalnya adalah 5 10 kali dalam 5 menir.

e. Usus. lakukan auskultasi di daerah abdomen sebelah kanan, dengarkan peristaltik usus.

f. Rectum. Lakukan Pemeriksaan palpasi dan inspeksi untuk pemeriksaan rectum

g. Anus. Inspeksi dan palpasi.

9. Bagaimanakah cara melakukan pemeriksaan klinis pada alat pernafasan sapi?

Jawab:

Cara melakukan pemeriksaan klinis pada alat pernafasan sapi adalah:

a. Sebelum melakukan pemeriksaan perhatikan aksi aksi atau pengeluaran abnormal seperti batuk,
bersin, hick up (ceguken), Perhatikan frekuensi dan tipe nafas dan perbandingan frekuensi nafas dan
pulsus, perhatikan pula kelainan kelainan organ lain yang menunjang diagnosa alat pernafasan seperti
konjunctiva, suhu tubuh, nafsu makan, produksi susu (pada sapi perah).

b. Hidung. Perhatikan adakah leleran hidung, lesi lesi di dalam rongga hidung; Raba suhu lokal dengan
menempelkan punggung jari tangan pada dinding luar hidung; perhatikan cermin hidung: keadaan
normal bila selalu basah dan tidak panas.

c. Pharynx, Larynx dan Trachea. Lakukan palpasi dari luar, perhatikan kemungkinan adanya reaksi batuk
dan suhunya. Perhatikan lgl. Regional terutama lgl. Submaxillaris, suprapharyngealis dan
parapharengialis, perhatikan suhu, konsistensi dan besarnya (apakah ada kebengkaan pada lgl.nya)
bandingkan antara lgl. Kanan dengan kiri.

d. Paru paru (pulmo). Paru-paru terletak di rongga dada oleh karena itu pemeriksan yang dapat
dilakukan adalah dengan auskultasi maupun perkusi baik dari sebelah kanan maupun sebelah kiri.

10. Bagaimanakah cara melakukan pemeriksaan klinis pada sistem peredaran darah sapi?

Jawab:

cara melakukan pemeriksaan klinis pada sistem peredaran darah sapi adalah:

a. Perhatikan pemeriksaan umum seperti conjucxtiva dan adanya kelainan alat peredaran darah seperti:
anemia, cyanotis, edema/acites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan sikap tubuh hewan.

b. Nadi. Hitung pulsus /denyut nadi: frekuensi, ritma dan kualitasnya. Bandingkan dengan frekuensi
detak jantung sinkron atau lambat.

c. Jantung. Periksa secara inspeksi, palpasi auskultasi dan perkusi. Perhatikan frekuensi, ritme, kualitas/
dan kekuatan dan daerah pekak jantung.

11. Pada pemeriksaan sistem getah bening Pemeriksaan hanya dapat dilakukan pada saluran limfe dan
kelenjar getah bening (lymphoglandulae /lgl.) yang terletak superficial, pada sapi lgl apa saja yang bisa
dilakukan pemeriksaan dengan palpasi?

Jawab:

Limpoglandulae yang dapat dipalpasi pada sapi yaitu: lgl. Submaxillaris, lgl. Parotidea, lgl.
Retropharengialis, lgl. Cervicalis mesdius, lgl cervicalis caudalis, lgl. Prescapularis, lgl. precuris, lgl.
Inguinalis superficialis (lgl. Mammaria pada betina), lgl poplitea.

12. Sebutkan Instrumen yang Digunakan dalam Melakukan pengamatan /Observasi.

Jawab:

Instrumen yang Digunakan dalam Melakukan Pengamatan /Observasi:


a. Check list. merupakan suatu daftar yang berisikan nama-nama responden dan faktor- faktor yang
akan diamati.

b. Rating scale. merupakan instrumen untuk mencatat gejala menurut tingkatan- tingkatannya.

c. Anecdotal record. merupakan catatan yang dibuat oleh peneliti mengenai kelakuan-kelakuan luar
biasa yang ditampilkan oleh responden.

d. Mechanical device. merupakan alat mekanik yang digunakan untuk memotret peristiwa- peristiwa
tertentu yang ditampilkan oleh responden.

13. Kapan saat yang efektif /tepat untuk melakukan pengamatan di tempat pengasingan pada sapi?

Jawab:

Waktu yang efektif /tepat untuk melakukan pengamatan:

a. Saat pemberian pakan.

b. Beberapa saat setelah pemberian pakan.

c. Saat pengambilan sampel.

14. Bagaimana metode pengamatan di pengasingan pada sapi dalam rangka observasi?

Jawab:

Metode Pengamatan /Pemeriksaan dalam rangka observasi:

a. Inspeksi. Pengamatan dilakukan setiap hari selama masa karantina dengan mengamati gejala klinis
yang timbul (Kep Ka Barantan no 853 th 2011 ttg Juknis TK lalulintas sapi)

b. Pemeriksaan lainnya: status praesens, klinis maupun laboratoris.

15. Sebutkan beberapa poin pemeriksaan fisik organoleptik daging untuk komsumsi manusia?

Jawab:
a. Warna.

b. Bau.

c. Struktur jaringan daging.

d. Konsistensi (Pada daging segar dan daging dalam ciller)

e. Kebersihan dari cemaran-cemaran biologis, phisik maupun kimiawi.

16. Bagaimanakah bau normal dan bau abnormal daging hewan?

Jawab:

Bau daging hewan:

a. Bau normal. Daging hewan secara normal berbau segar sesuai spesie hewannya. ada beberapa faktor
yang mempengaruhi bau daging: Umur, Tipe pakan, Species /Bangsa, Jenis kelamin, Lemak, Lama waktu
dan kondisi peyimpanan.

b. Bau tidak normal:

-Bau tengik (kare penyimpanan yang terlalu lama).

-Bau busuk (karena mengalami penurunan suhu pada saat transportasi, karena gangguan genset
ataupun listrik di kapal dll).

-Bau anyir (karena adanya penyakit tertentu).

-Bau abnormal lain (misal dari bahan kimia tertentu).

17. pH normal daging adalah 5,4 5,8 sebutkan Faktor-faktor yang mempengaruhi pH daging?

Jawab:

Faktor-faktor yang mempengaruhi pH daging adalah:

a. Stress sebelum pemotongan.

b. Injeksi hormon atau obat-obatan.

c. Species.
d. Individu ternak.

e. Macam otot.

f. Stimulasi listrik.

g. Aktifitas enzim.

h. Dan terjadinya glikolisis.

18. Jelaskan teknik dan analisa pengambilan sampel tingkat kesulitan III (untuk sampel darah, serum,
sekresi, praeputium /vaginal wash).

Jawab:

-Sampel darah

a. sampel whole blood untuk pemeriksaan haematologi, kimia klinis, toksikologi, preparat ulas bakteri
atau parasit, uji PCR, uji imonologi atau biakan bakteri atau virus. Pengambilan sampel whole blood
diambil dengan pemberian antikoagulan ke dalam tabung. Diambil dari vena jugularis, caudal, brachial,
cephalic, mammae atau vena cava tergantung pada jenis hewannya.

-Sampel serum

Diperoleh dari pengambilan sampel darah yang tidak diberi antikoagulan, kemudian disentrifus dengan
kecepatan rendah atau dengan mendiamkan sampel darah dalam tabung yang dimiringkan 45. Serum
yang muncul kemudian diambil dengan pipet. Digunakan untuk pengujian serologi.

-Sampel sekresi

Sekresi diambil dengan vial, tube atau dengan menggunakan swab. Digunakan untuk uji diagnostic.

-Sampel praeputium /vaginal wash

Sampel yang diambil berupa air cucian praeputium /vagina atau swabnya Digunakan untuk penyidikan
penyakit reproduksi

19. Pada Tindakan Pemusnahan terhadap bangkai, Karantina Hewan menggunakan metode Insenerasi,
pembakaran, penguburan, pembakaran sekaligus penguburan. Banyak metode pemusnahan sebutkan
lainya?
Jawab:

Metode pemusnahan terhadap bangkai selain Insenerasi, pembakaran, penguburan, pembakaran


sekaligus penguburan adalah:

a. Dekomposisi /pembuatan kompos.

b. Fermentasi anaerob /Produk biogas.

c. Hidrolisis alkali.

d. Hidrolisis termal /Penyulingan organik.

e. Pemusnahan hewan di laut.

20. Selain kekurangan makan dan minum ada beberapa kondisi yang berhubungan dengan dehidrasi
pada hewan diantaranya:

Jawab:

kondisi yang berhubungan dengan dehidrasi adalah Demam, Diare, Muntah.

21. Sebutkan istilah istilah peradangan

Jawab:

Istilah peradangan:

-Rubor = Merah

-Calor = Panas

-Dolor = Sakit

-Tumor = Bengkak

-Functio Lesa = Kehilangan Fungsi.

22. Jelaskan apa yang dimaksud metode pengujian PCR.


Jawab:

PCR: Polymerase Chain Reaction yaitu suatu teknik untuk mengamplifikasi (memperbanyak) sepotong
fragmen DNA (< 1g) menjadi sejumlah copy DNA yang cukup untuk mengidentifikasi suatu target
melalui rangkaian DNA/RNA. Metode PCR kemudian dapat dilanjutkan dengan proses sequencing, atau
cloning . ada 2 tahapan PCR:

- Pre-PCR, terdiri dari ekstraksi DNA dan thermocycler

- Post-PCR, terdiri dari electrophoresis dan gel-documentation

23. Urutan pemeriksaan patologi pada bedah bangkai (Nekropsi) sapi, kuda, maupun hewan lainnya
adalah:

Jawab:

Urutan pemeriksaan patologi pada bedah bangkai (Nekropsi) sapi, kuda, maupun hewan lainnya adalah:
Inspeksi palpasi insisi.

24. Sebutkan

Sebutkan 5 penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk HPHK golongan I.

Jawab:

Berikut ini adalah 5 penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk HPHK golongan I:

-Camel Pox

-PMK

-Hendra Virus

-HPAI

-African Horse Sickness (AHS)

25. Sebutkan sumber sumber penularan Penyakit Mulut dan Kuku?


Jawab:

Sumber penularan penyakit Mulut dan Kuku adalah:

a. Hewan hewan yang terkena baik yang terinkubasi maupun klinis.

b. Leleran mulut, leleran hidung, tahi dan air kencing, susu dan sperma (diatas 4 hari sebelum gejala
klinis).

c. Daging dan produknya yang ber pH di atas 6,0.

d. Karier: sebagian sapi atau kerbau hewan sembuh dan yang tervaksin (virus tahan di oropharynk di
atas 30 bulan di sapi atau lebih lama di kerbau, 9 bulan di domba), kerbau afrika adalah tempat tinggal
alami dari serotype SAT.

26. Seberapa kuat ketahanan hidup virus PMK terhadap suhu, pH, desinfektan dan di alam?

Jawab:

Ketahanan virus PMK adalah:

a. Temperatur: Tertekan oleh pendinginan ataupun pembekuan dan sangat tidak aktif pada temperatur
di atas 50 derajad Celsiuc.

b. pH: Tidak Aktif pada pH <6.0 atao >9.0.

c. Desinfektan: Tidak aktif oleh sodium hydroxide (2 %), sodium carbonate (4 %), and citric acid (0,2 %).
Resistant terhadap iodophores, quaternary mmonium compounds, hypoclorite and phenol, khususnya
pada bahan organik.

d. Daya tahan hidup di alam: Hidup di kelenjar limpa dan bone marrow pada suhu netral, tetapi lemah
pada otot ketika pH < 6.0 setelah rigor mortis. Bisa tahan di alam di atas satu bulan tergantung pada
temperatur dan kondisi pH.

27. Bagaimanakah cara penularan PMK?

Jawab:

Cara Penularan PMK


a. Kontak langsung maupun tidak langsung (droplet).

b. Vektor hidup (manusia dll).

c. Bukan vektor hidup (mobil, peralatan dll).

d. Tersebar melalui angin, daerah beriklim khusus (mencapai 60 km di darat dan 300 km di laut
/menurut oie).

28. Apakah hospes alami PMK?

Jawab:

Inang /Hospes alami PMK: Bovidae (sapi, sebu, kerbau, yak, /bangsa sapi), domba, kambing, babi, semua
ruminansia liar dan golongan babi liar. Camelidae (unta, lama, /bangsa unta).

29. Bagaimana gejala klinis sapi terinfeksi PMK

Jawab:

a. Perexia, anorexia, menggigil, penurunan produksi susu untuk 2 - 3 hari, kemudian:

-Menggosokkan bibir, mengeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki: disebabkan oleh
vesikula membran mukosa hidung, bukae dan antara kuku.

-Setelah 24 jam: vesikulanya ruptur setelah terjadi erosi.

-Vesikula bisa juga terjadi pada kelenjar susu.

b. Komplikasi: Erosi di lidah, superinfeksi dari lesi, mastitis

30. Apakah sumber penularan penyakit BSE (sapi gila)?

Jawab:
Sumber virus: System saraf pusat (termasuk mata) pada kasus klinis terpengaruh secara alami. Pada sapi
percobaan yang diinfeksi, infektiktifitasnya terdeteksi pada distal ileum yang diduga terkait dengan
jaringan lymphoreticular.

31. Bagaimana cara penularan penyakit sapi gila (BSE)?

Jawab:

Cara Penularan: BSE terjadi sebagai akibat dari paparan diet pemberian bahan pakan yang mengandung
tepung daging dan tulang (MBM) yang terinfeksi; Ada beberapa bukti dari risiko maternal pada anak
sapi lahir dari induk sapi yang terkena dampak. Mekanisme biologis yang terlibat tidak diketahui, tetapi
efek ini tidak signifikan dalam epidemiologi tersebut.

32. Apakah hospes penyakit BSE?

Jawab:

Hospes: Bovidae (sapi, nyala, kudu besar, kijang, dan banteng), Felidae (kucing, cheetah, puma, kucing
hutan dan harimau), dalam percobaan bisa menular ke sapi, babi, domba, kambing, tikus, cerpelai, kera
marmoset dan kera makaka.

33. Seberapa kuat ketahanan hidup prion BSE terhadap suhu, pH, desinfektan dan di alam

Jawab:

Ketahanan terhadap tantangan fisik dan kimia

-Temperatur: Awet dengan pendinginan dan pembekuan. Inaktivasi fisik yang dianjurkan adalah dengan
memakai autoklaf pada suhu 134 -138 derajat C selama 18 menit (kisaran suhu ini mungkin tidak
sepenuhnya menonaktifkan)

-pH: Stabil pada rentang pH yang lebar.

-Desinfektan: Sodium hypochlorite mengandung sediaan chlorine 2 %, atau sodium hydroxida,


Aplikasikan lebih dari 1 jam pada suhu 20 derajat C, untuk permukaan atau peralatan.
-Ketahanan hidup: Bertahan dalam jaringan post-mortem setelah berbagai proses perubahan.

34. Bagaimanakah gejala klinis sapi yang terinfeksi BSE?

Jawab:

Gejala Klinis:

a. Subakut atau kronis, gangguan progresif (berkembang dari waktu kewaktu), Tanda klinis utama adalah
neurologis: Perasaan takut, takut, mudah kaget, atau depresi; Hyper-aesthesia (Sensitivitas yang
berlebihan terhadap semua stimulus /rangsangan) atau hyper-refleksia (reflek yang berlebihan);
Pergerakan adventisia (nama suatu lapisan bagian dari Jaringan): fasikulasi (gerakan lembut) otot,
tremor (gemetar) dan myoclonus (kedutan otot); Gaya berjalan ataksia (inkoordinasi), termasuk
hypermetria (tidak mampu menghentikan gerakan pada tempat yang dituju); Disfungsi syaraf otonom:
berkurang memamah biak, bradikardia (denyut jantung kurang dari normal) dan terubahnya ritme
jantung.

b. Pruritus (sensasi rasa ingin menggaruk), terjadi juga tetapi biasanya bukan ciri khusus.

c. Kehilangan berat badan.

35. Hewan apa saja yang rentan terhadap penyakit glanders?

Jawab:

Spesies rentan: Bangsa kuda umumnya terkena dan kejadiannya kronik tapi pada jenis keledai
dan Bagal (Mule) selalu berjalan akut. Kejadian pada manusia dan bangsa karnivora jarang terinfeksi.
Secara alami meskipun jarang terjadi bangsa sapi domba, babi dan anjing dapat pula tertular. Untuk
hewan-hewan percobaan jenis marmut dan juga tikus putih amat rentan. Manusia bersifat rentan,
pernah dilaporkan kematian pada manusia akibat glanders, yaitu pada manusia-manusia yang terlibat
secara dekat dengan kuda yang tertular.

36. Bagaimana cara penularan penyakit Glanders?

Jawab:
Kuda yang tertular merupakan hewan reservoir penyakit, dengan pola penularan melalui kontak
langsung dan tidak langsung. Penularan melalui kontak tidak langsung dapat terjadi melalui kantong
pakan, bak air minum, bahan pakan, tempat pakan, alas kandang, pakaian kuda, dan juga pakaian kuda
mempunyai peran penting dalam penyebaran penyakit.

Pada manusia, infeksi dapat terjadi melalui kontaminasi pada saat pemotongan atau pencukuran bulu,
atau juga dapat terjadi pada mereka yang merawat secara langsung kuda-kuda yang sakit. Atau dengan
kata lain penularan terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, bakteri dapat masuk
melalui lecet kulit, permukaan mukosa hidung dan mulut, atau terhirup. Bangsa karnivora dapat
terserang lewat makan karkas yang terkontaminasi.

37. Bagaimana gejala penyakit Glanders?

Jawab:

Pada umumnya kuda penderita glanders tidak menampakkan gejala penyakit, meskipun
sebenarnya kuda-kuda tersebut dapat merupakan sumber penularan untuk kuda-kuda lainnya. Gejala
pertama yang nampak merupakan gejala umum yang tidak spesik. Pada awalnya kuda nampak
menurun kondisinya, bulu tidak mengkilat dan kasar, mudah lelah, dan ada kalanya disertai batuk yang
kering. Gejala pertama adalah kelainan sebagai akibat adanya lesi di saluran nafas bagian atas atau kulit
yang disertai dengan demam naik turun dan hilangnya napsu makan dan minum. Gejala klinis penyakit
Glanders secara garis besar dapat dibedakan sebagai bentuk paru-paru, hidung, dan kulit, penderita
dapat pula termanifestasi dari ketiga bentuk tersebut.

Pada bentuk akut penyakit ditandai dengan demam, batuk serta bersin (nasal discharge),
selanjutnya proses berjalan secara periodik terjadi penyempitan cuping hidung. Kelenjar getah bening
submaxillary membesar dan terasa sakit jika dipegang. Juga terdapat gejala kegagalan respirasi
(respiratory distress) dan dapat terjadi kematian setelah 2 minggu. Bentuk akut biasanya umum terjadi
pada bangsa keledai dan Bagal, tetapi jarang pada bangsa kuda, dan jika terjadi pada kuda biasanya
adalah bentuk kronis dengan gejala stres.

Bentuk kronis ditandai dengan kelesuan, batuk, demam yang berselang-seling serta juga
bentuk hidung dan kulit juga dapat terlihat, serta pembesaran kelenjar getah bening submaxillary.
38. Apakah sumber infeksi penyakit Strangles?

Jawab:

Sumber infeksi penyakit Strangles yaitu cairan hidung (discharge) dari hewan yang terinfeksi yang
mencemari pakan, tempat minum, padang penggembalaan dll.

39. Bagaimanakah gejala penyakit Strangles?

Gejala Klinis

Setelah melewati masa inkubasi 4-8 hari, penyakit berkembang dengan cepat disertai demam
(suhu 39,5-40,5 C), anoreksia, dari hidung keluar cairan serous yang dengan cepat berubah menjadi
copius dan purulen, gejala pharyngitis dan laryngitis. Akibat pharyngitis, maka pada saat makan, kuda
sering mengalami regurgitasi melalui lubang hidung, serta terdengar batuk lembab, kesakitan dan
sangat mudah terangsang. Kepala menunduk untuk mengurangi rasa sakit pada tenggorokan.

40. Apakah penyakit Porcine Reproductive dan Respiratory Syndrome (PRRS) itu?

Jawab:

Porcine Reproductive dan Respiratory Syndrome (PRRS) adalah penyakit pada babi yang disebabkan
oleh virus yang ditandai dengan dua penampakan gejala klinis yang tumpang tindih, yaitu gangguan
/kegagalan reproduksi pada pembibitan ternak, dan penyakit pernafasan pada babi di segala usia.

41. Bagaimanakah cara penularan penyakit PRRS?

Jawab:

Penularan langsung: Virus PRRS (PRRSV) mudah menyebar melalui kontak langsung dan virus dapat
terdeteksi pada air liur, urin, susu, kolostrum, dan kotoran hewan yang terinfeksi. Penularan melalui air
mani juga dapat terjadi, baik melalui perkawinan alami maupun inseminasi buatan.
Penularan tidak lansung: Transportasi mekanik, Penularan melalui jarum terkontaminasi, fomites
(sepatu dan baju), personil pertanian (tangan), kendaraan transportasi (trailer yang terkontaminasi), dan
serangga (lalat dan nyamuk). Penyebaran (virus) melalui udara /airborne dalam percobaan telah
terbukti.

42. Apakah Penyakit Atropik rhinitis itu?

Jawab:

Atropic rhinitis adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh bakteri ditandai dengan
adanya sekresi hidung yang bersifat purulen, disertai perubahan bentuk hidung berupa moncong hidung
membengkok, atro tulang turbinatum dan penurunan produktitas. Atropic rhinitis kemungkinan telah
tersebar diseluruh dunia. Amerika serikat dan beberapa negara di Eropa menderita kerugian cukup
besar oleh penyakit ini.

43. Bagaimana cara penularan penyakit Atropik Rhinitis?

Jawab:

Cara penularan, Penularan terjadi secara aerosol, dari babi tertular ke babi sehat, melalui droplet
yang dikeluarkan babi tertular saat bersin. Penularan dapat terjadi pada semua umur dari beberapa hari
atau minggu. Induk babi yang tertular secara kronis akan menularkan penyakit pada anak-anak babi
secara kontak langsung lewat hidung mereka.

44. Apakah faktor predisposisi Atropik Rhinitis?

Jawab:

Faktor Predisposisi: Faktor-faktor manajemen dan lingkungan, seperti cara pemeliharaan tidak
intensif, ternak terlalu padat, ventilasi kurang, dan higiene makanan kurang baik, dapat merupakan
predisposisi terjadinya penyakit atropic rhinitis.

45. Jelaskan teknik dan analisa pemeliharaan koleksi kompleks (seed biakan jaringan bakteri, virus,
jamur).
Jawab:

Pemeliharaan koleksi dilakukan untuk memperpanjang hidup bakteri, jamur atau virus yang dijadikan
koleksi dengan cara Inaktif metabolic (cryopreservation dan drying) dan cara Aktif metabolic
(memindahkan koleksi secara periodic pada media).

Biakan koleksi dipindahkan ke tissue culture atau media bagi bakteri, jamur atau virus. Dapat juga
menggunakan telur embrio tertunas umur 3-4 hari untuk biakan virus.

Setelah dibiakkan kembali (propagasi), dicek daya virulensi virus atau bakteri atau jamur dengan
memasukkannya ke dalam TET atau hewan coba (mencit, marmot)

Kemudian disimpan kembali pada suhu yang sesuai dengan target

46. Apakah asas yang dianut di dalam Undang Undang No 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan,
Ikan dan Tumbuhan?

Jawab:

Undang Undang No 16 Tahun 1992 Tentang Karantina hewan, ikan, dan tumbuhan berasaskan
kelestarian sumber daya alam hayati hewan, ikan, dan tumbuhan.

47. Apakah tujuan adanya Undang Undang No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan
Tumbuhan?

Jawab:

Undang Undang No 16 Tahun 1992 tentang Karantina hewan, ikan, dan tumbuhan bertujuan :

a. mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik
Indonesia;
b. mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dari satu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik
Indonesia;

c. mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina dari wilayah negara Republik Indonesia;

d. mencegah keluarnya hama dan penyakit ikan dan organisme pengganggu tumbuhan tertentu dari
wilayah negara Republik Indonesia apabila negara tujuan menghendakinya.

48. Tindakan karantina meliputi (1) Pemeriksaan (2) Pengasingan (3) Pengamatan (4) Perlakuan (5)
Penahanan (6) Penolakan (7) Pemusnahan (8) Pembebasan, Apakah tujuan Tindakan Karantina
Pemeriksaan menurut Ayat 1 Pasal 11 UU No. 16 Tahun 1992?

Jawab:

Tujuannya adalah untuk:

a. Mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi dokumen, serta untuk

b. Mendeteksi hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme
pengganggu tumbuhan karantina.

49. Bagaimana Metode Pemeriksaan Fisik terhadap Media Pembawa HPHK sesuai Ayat 2 dan 4 Pasal 9
PP No. 82 Tahun 2000 ?

Jawab:

Metode Pemeriksaan Fisik terhadap MPHPHK adalah:

a. Pemeriksaan klinis pada hewan; atau

b. Pemeriksaan kemurnian atau keutuhan secara organoleptik pada bahan asal hewan, hasil bahan asal
hewan dan benda lain.
c. Jika pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum dapat dikukuhkan diagnosanya, maka
dokter hewan karantina dapat melanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium, patologi, uji biologis, uji
diagnostika, atau teknik dan metoda pemeriksaan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan teknologi.

50. Kapan waktu untuk melakukan tindakan karantina Pemeriksaan dan sebutkan dasar hukumnya

Jawab:

Sesuai Ayat 3 Pasal 9 PP 82 tahun 2000 Pemeriksaan Kesehatan dan Pemeriksaan Sanitasi Media
Pembawa HPHK dilakukan pada siang hari kecuali dalam keadaan tertentu menurut pertimbangan
dokter hewan karantina dapat dilaksanakan pada malam hari.

51. Dimanakah tempat untuk melakukan Tindakan Karantina menurut Ayat 1 dan 2 Pasal 20 UU No 16
tahun 1992?

Jawab:

Tempat melakukan Tindakan Karantina adalah:

a. di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina.

b. Dalam hal-hal tertentu, tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan di
luar tempat pemasukan dan/atau pengeluaran, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina.

C Tindakan karantina di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran di luar instalasi karantina dilakukan
antara lain di kandang, gudang atau tempat penyimpanan barang pemilik, alat angkut, kade yang
letaknya di dalam daerah pelabuhan laut, pelabuhan sungai, pelabuhan penyeberangan, bandar udara,
kantor pos, dan pos perbatasan dengan negara lain.

52. Apakah tujuan pengasingan sesuai Pasal 12 UU No. 16 th 1992 dan Ayat 1 Pasal 10 PP No. 82 th
2000?

Jawab:

Tujuan dilakukan Tindakan pengasingan adalah untuk:


a. Diadakan Pengamatan, untuk Mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit hewan karantina
karena sifatnya memerlukan waktu lama, sarana, dan kondisi khusus). (Pasal 12, UU No. 16 th 1992)

b. Diadakan pengamatan, pemeriksaan dan perlakuan untuk Mencegah kemungkinan Penularan HPHK.
(Ayat 1 Pasal 10 PP No. 82 th 2000).

53. Menurut peraturan dan perundangan dimanakah tempat dilakukan pengasingan untuk
Pengamatan?

Jawab:

Tempat dilakukan pengasingan untuk Pengamatan:

- Menurut UU No. 16 th 1992 adalah:

a. di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina.

b. Dalam hal-hal tertentu, tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan di
luar tempat pemasukan dan/atau pengeluaran, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina. Ayat 1
dan 2, Pasal 20 UU No. 16 th 1992

c. Tindakan karantina di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran di luar instalasi karantina dilakukan
antara lain di kandang, gudang atau tempat penyimpanan barang pemilik, alat angkut, kade yang
letaknya di dalam daerah pelabuhan laut, pelabuhan sungai, pelabuhan penyeberangan, bandar udara,
kantor pos, dan pos perbatasan dengan negara lain.

- Menurut PP No. 82 Th 2000 adalah:

a. Pemasukan dari luar negeri dilakukan pengamatan di Instalasi Karantina pada tempat atau area
pemasukan. Pasal 11 ayat 5 poin a PP No. 82 Th 2000

b. Untuk antar area diutamakan dilakukan pengamatan pada area pengeluaran. Pasal 11 ayat 5 poin b
PP No. 82 Th 2000

c. Untuk pengeluaran keluar negeri pengamatan disesuaikan debngan permintaan negara tujuan. Pasal
11 ayat 5 poin c PP No. 82 Th 2000

d. Jika media pembawa harus menjalani tindakan karantina secara intensif maka pemeriksaan kesehatan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilakukan di instalasi karantina. Pasal 40 ayat 2 PP No. 82 Th
2000.
54. Apakah sebab atau alasan dilakukan Tindakan Perlakuan menurut UU No. 16 th 1992?

Jawab:

Tindakan Perlakuan di berikan apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata:

a. Media Pembawa HPHK tertular HPHK.

b. Media Pembawa HPHK diduga tertular HPHK. (Ayat 2 Pasal 13 UU No 16 Th 1992)

55. Menurut PP No 82 Th 2000, Untuk dapat dilakukan Tindakan Perlakuan terhadap Media Pembawa
ada persyaratan yang harus di penuhi, apakah itu?

Jawab:

Perlakuan hanya dapat dilakukan setelah setelah Media Pembawa terlebih dahulu diperiksa secara fisik
dan dinilai:

Tidak mengganggu pengamatan, dan

Tidak mengganggu pemeriksaan selanjutnya. (Pasal 12 PP No 82 Th 2000)

56. Menurut peraturan dan perundangan, dimanakah lokasi dilakukan Tindakan Perlakuan?

Jawab:

Menurut pasal 15 dan 20 UU No. 16 Th 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Lokasi /tempat dilakukannya Perlakuan adalah:

a. Di atas alat angkut.

b. Di Tempat Pemasukan /Tempat Pengeluaran (Pelabuhan), baik di dalam maupun di luar Instalasi
karantina.

c. Dalam hal tertentu dapat dilakukan di luar Tempat Pemasukan /Tempat Pengeluaran (Pelabuhan),
baik di dalam maupun di luar Instalasi.
57. Apakah arti /definisi Tindakan Perlakuan menurut penjelasan pasal 10 huruf (d) UU no 16 tahun
1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan?

Jawab:

Perlakuan merupakan tindakan membebaskan atau menyucihamakan media pembawa dari hama dan
penyakit hewan, hama dan penyakit ikan, atau organisme pengganggu tumbuhan, yang dilakukan
dengan cara fisik, kimia, biologi, dan lain-lain.

58. Apakah arti /definisi Tindakan Perlakuan menurut pasal 12 PP No. 82 Th 2000 tentang karantina
Hewan:

Jawab:

Perlakuan merupakan tindakan untuk membebaskan dan menyucihamakan MPHPHK dari HPHK, atau
tindakan lain yang bersifat preventif, kuratif, dan promotif.

59. Apakah yang dimaksud dengan Pensucihamaan menurur penjelasan pada angka 21 Pasal 1 PP No. 82
Th 2000?

Jawab:

Pensucihamaan adalah tindakan membersihkan dari hama penyakit seperti antara lain desinfeksi,
desinsektisasi, dan fumigasi.

60. Apakah yang dimaksud dengan desinfeksi, desinsektisasi, dan fumigasi menurut penjelasan PP No.
82 Tahun 2000?

Jawab:

a. Desinfeksi adalah Upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari jasad renik secara
fisik atau kimia, antara lain seperti pemberian desinfektan, alkohol, NaOH, dll (Menurut PP No. 82 Thn
2000 Pejls Psl 1 angka 21).
b. Desinsektisasi adalah Upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari hama insekta,
antara lain seperti pemberian insektisida, DDT dll. (Pengertian menurut PP No. 82 Tahun 2000
Penjelasan Pasal 1 angka 21).

c. Fumigasi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari jasad renik dengan
cara pemberian uap fumigan, antara lain seperti KMn O4 dll. (Pengertian menurut PP No. 82 Tahun 2000
Penjelasan Pasal 1 angka 21).

61. Sebutkan pasal pasal berapa saja yang yang berhubungan dengan tindakan pemusnahan:

Jawab:

Sesuai UU No. 16 Th 1992:

PASAL 10; PASAL 16

Sesuai PP No. 82 Tahun 2000:

PASAL 8 ayat 2; PASAL 15 ayat 1, 2, 3, 4; PASAL 21 ayat 4; PASAL 22 ayat 5; PASAL 25 ayat 2; PASAL 27
ayat 2; PASAL 29 ayat 2, 4; PASAL 30 ayat 4; PASAL 32 ayat 2; PASAL 33 ayat 2; PASAL 34 ayat 4; PASAL
35 ayat 1; PASAL 46 ayat 1, 4; PASAL 48 ayat 2; PASAL 50 ayat 2; PASAL 51 ayat 1, 2, 3; PASAL 56 ayat 1,
2, 3; PASAL 65 ayat 4; PASAL 66 ayat 2

62. Menurut ayat 1 pasal 16 UU No. 16 Tahun 1992, Dalam keadaan yang bagaimana terhadap media
pembawa hama dan penyakit hewan karantina, yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari satu
area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan pemusnahan

Jawab:

Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, yang dimasukkan ke dalam atau
dimasukkan dari satu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan
pemusnahan apabila ternyata :

a. setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan, tertular
hama dan penyakit hewan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau busuk, atau rusak,
atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya atau
b. setelah dilakukan penolakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, media pembawa yang
bersangkutan tidak segera dibawa ke luar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan
oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan, atau

c. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan, tertular hama dan penyakit hewan karantina, atau
hama dan penyakit ikan karantina, atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina
tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau

d. setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakuan, tidak dapat
disembuhkan, dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina, atau hama dan
penyakit ikan karantina, atau tidak dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantina.

63. Apakah menurut peraturan yang berlaku, tindakan karantina perlakuan, penahanan, penolakan,
pemusnahan dan pembebasan terhadap Media pembawa (BAH, HBAH dan Benda lain) yang dimasukkan
ke dalam atau dimasukkan dari satu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dapat
dilakukan pada seluruh atau sebagian saja?

Jawab:

Sesuai dengan Ayat 2 Pasal 33 PP No. 82 Tahun 2000:

Tindakan perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan terhadap Media pembawa
(BAH, HBAH dan Benda lain) yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari satu area ke area lain di
dalam wilayah negara Republik Indonesia menurut pertimbangan dokter hewan karantina (atas dasar
pertimbangan ilmiah) dapat dilakukan terhadap seluruh atau sebagian saja dari media pembawa
dimaksud.

64. Menurut Pertaturan, bagaimanakah wewenang Petugas Karantina untuk melakukan Tindakan
karatina terhadap barang yang berada dalam status sebagai barang yang ditahan?

Jawab:

Menurut Pasal 66 PP No 82 Tahun 2000 tentang Karantuina Hewan:

a. Petugas karantina hewan berwenang melaksanakan tindakan karantina terhadap media pembawa
yang berstatus sebagai barang yang ditahan atau barang bukti dalam suatu perkara peradilan, sebelum
diserahkan kepada pejabat atau instansi yang berwenang untuk mencegah menyebarnya hama penyakit
hewan karantina.
b. Dalam hal tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa tindakan pemusnahan,
maka berita acara pemusnahan dapat dijadikan sebagai barang bukti oleh pejabat atau instansi yang
berwenang.

65. Sesuai Peraturan, wewenang apa saja yang dimiliki oleh Petugas karantina dalam menjalankan
tugasnya?

Jawab:

Sesuai Ayat 1 dan 2 Pasal 90 PP 82 th 2000 Dalam melakukan Tindakan Karantina Petugas Karantina
berwenang:

a. Memasuki dan memeriksa alat angkut, gudang, kade, apron, R keberangkatan, R kedatangan
penumpang ditempat pemasukan dan pengeluaran tuk mengetahui adanya media pembawa yang dilalu-
lintaskan.

b. Melarang orang memasuki instalasi /alat angkut serta tempat-tempat yg sedang dilaksanakan
tindakan karantina.

c. Melarang orang yang menurunkan /memindahkan media pembawa dalam tindakan karantina dalam
alat angkut.

d. Melarang orang memelihara, menyembelih, atau membunuh hewan ditempat pemasukan


pengeluaran atau IKH kecuali atas persetujuan dokter hewan karantina.

e. Melarang orang menurunkan atau membuang bangkai atau sisa pakan, sampah atau bahan yang
pernah berhubungan dengan hewan dari alat angkut.

f. Menetapkan cara perawatan dan pemeliharaan media pembawa yang sedang dalam TKH.

g. Berwenang dalam Bidang Kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di atas alat angkut,
instalasi karantina, tempat-tempat di lingkungan wilayah tempat pemasukan dan pengeluaran.

66. Apabila dalam pemeriksaan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina atau hama
penyakit ikan karantina ditemukan penyakit karantina yang mebahayakan kesehatan manusia, petugas
karantina di tempat pemasukan atau pengeluaran melakukan koordinasi dengan dokter kesehatan
pelabuhan. Sebutkan tiga saja dari enam Penyakit Karantina yang membahayakan kesehatan manusia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut dan
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara:
Jawab:

Penyakit karantina yang membahayakan kesehatan manusia di antaranya meliputi penyakit karantina
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut dan
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara yaitu:

a. pes (plaque);

b. kolera (cholera);

c. demam kuning (yellow fever);

d. cacar (smallpox);

e. typus bercak wabah, typhus exanthematicus infectiosa (louse borne typhus);

f. demam balik-balik (louse borne relapsing fever).

67. Bagaimana ketentuan menurut UU no 16 tahun 1992 bahwa Media pembawa dianggap telah keluar
dari wilayah negara Republic Indonesia?

Jawab:

Dianggap telah dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia apabila telah dimuat dalam suatu
alat angkut di tempat-tempat pengeluaran untuk dibawa ke suatu tempat lain di luar wilayah negara
Republik Indonesia.

68. Pengertian Hasil Bahan Asal Hewan diantaranya termasuk apa saja?

Jawab:

Pengertian hasil bahan asal hewan termasuk di antaranya daging rebus, dendeng, kulit yang disamak
setengan proses, tepung tulang, tulang, darah, bulu hewan, kuku dan tanduk, usus, pupuk hewan dan
organ-organ, kelenjar, jaringan, serta cairan tubuh hewan.

69. Pengertian Benda lain diantaranya termasuk apa saja:


Jawab:

Termasuk pengertian benda lain di antaranya bahan patogenik, bahan biologik, makanan ikan, bahan
pembuat makanan ternak dan/atau ikan, sarana pengendalian hayati, biakan organisme, tanah, kompos
atau media pertumbuhan tumbuhan lainnya, dan vektor.

70. Dalam hal-hal tertentu, sehubungan dengan sifat hama dan penyakit hewan atau hama dan penyakit
ikan, atau organisme pengganggu tumbuhan, Pemerintah dapat menetapkan kewajiban tambahan
disamping kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7 UU No. 16 tahun 1992.
Apakah kewajuban tambahan tersebut?

Jawab:

Kewajiban tambahan yang ditetapkan oleh Pemerintah antara lain berupa:

a. pemberian perlakuan tertentu terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama
dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina di negara asal, atau

b. pengenaan tindakan karantina di negara ketiga, atau

c. larangan diturunkannya media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit
ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang akan dimasukkan ke dalam
wilayah negara Republik Indonesia di negara tertentu apabila alat angkut yang membawanya transit di
negara tersebut, atau

d. keharusan melengkapi dengan sertifikat tertentu untuk pemasukan media pembawa tertentu.

71. Pengeluaran dan pemasukan media pembawa dilakukan di tempat pemasukan dan pengeluaran.
Apakah yang dimaksud dengan tempat pengeluaran dan tempat pemasukan tersebut?

Jawab:

Tempat pemasukan dan tempat pengeluaran adalah pelabuhan laut, pelabuhan sungai, pelabuhan
penyeberangan, bandar udara, kantor pos, pos perbatasan dengan negara lain, dan tempat-tempat lain
yang dianggap perlu, yang ditetapkan sebagai tempat untuk memasukkan dan/atau mengeluarkan
media pembawa hama dan penyakit hewan, hama dan penyakit ikan, atau organisme pengganggu
tumbuhan;
72. Apakah kewenangan penyidik dalam melaksanakan tugasnya sesuai ayat 3 pasal 30 UU 16 tahun
1992?

Jawab:

Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), berwenang untuk:

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana
dibidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan;

b. melakukan pemanggilan terhadap seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau
saksi dalam tindak pidana dibidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan;

c. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang karantina hewan, ikan,
dan tumbuhan;

d. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di
bidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan;

e. membuat dan menandatangani berita acara;

f. menghentikan penyidikan apabila tidak didapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana dibidang
karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

73. Apakah terhadap orang bisa dilakukan Tindakan Karantina Hewan?

Jawab:

Terhadap orang bisa dilakukan tidakan karantina hewan sesuai dengan pasal 21 UUno 16 tahun 1992:
Bunyi pasl 21: Dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, terhadap
orang, alat angkut, peralatan, air, atau pembungkus yang diketahui atau diduga membawa hama dan
penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan
karantina, dapat dikenakan tindakan karantina.

74. Apakah pengertian HPHK golongan I (Satu)?

Jawab:
Sesuai pengertian dalam PP 82 tahun 2000, Hama penyakit hewan karantina golongan I adalah hama
penyakit hewan karantina yang mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan
cepat, belum diketahui cara penanganannya, belum terdapat di suatu area atau wilayah negara Republik
Indonesia.

75. Apakah maksud pengertian preventif, kuratif dan promotive sesuai penjelasan ayat 1 pasal 12 PP 82
tahun 2000?

Jawab:

-Pengertian preventif dalam ayat ini ditujukan untuk pencegahan penyakit antara lain seperti vaksinasi.

-Pengertian kuratif ditujukan untuk penyembuhan antara lain seperti pengobatan melalui pemberian
antibiotika.

-Pengertian promotif ditujukan untuk pemulihan kondisi dan memacu pertumbuhan antara lain seperti
pemberian imbuhan pakan (feed supplement).

II. Soal Pemecahan Masalah (Kasus)

1. Di pelabuhan Tanjung Priok terdapat pemasukan susu sapi dari negara Jepang namun setelah
diperiksa dokumen yang menyertai adalah:

-Tidak dilengkapi sertifikat sanitasi dari negara Jepang, dokumen dari Jepang yang ada adalah
keterangan penolakan yang menerangkan bahwa susu tersebut tidak disertai sertifikat sanitasi yang
diterbitkan oleh karantina Indonesia. (ekspor Indonesia yang ditolak oleh negara tujuan).

-Sertifikat sanitasi dari Direktorat Jenderal Peternakan pada saat ekspor. (tidak melapor ke karantina
ketika ekspor).

Sebagai Medik Veteriner Tanjung Priok yang ditugaskan apa yang anda lakukan dengan kasus tersebut?

Jawab:

a. Periksa dokumennya, dan kesesuaian antar dokumen satu dengan yang lain (titik kritis dokumen).
b. Terhadap susu Lakukan Pemeriksaan fisik barang (kesesuaian jenis dan jumlah), lakukan penahan, dan
kemudian pemusnahan apabila berkenaan dengan ayat 4 pasal 65 PP 82 tahun 2000. Dilakukan
pelepasan apabila berkenaan dengan ayat 3 pasal 65 pp 82 tahun 2000.

c. Membuat laporan pada atasan dengan adanya pelanggaran ini sehingga:

Terhadap orangnya (eksportir /importir) agar segera dapat dilakukan penyelidikan /penyidikan dengan
pengambilan keterangan karena terbukti tidak melapor ke karantina ketika ekspor susu.

2. Terhadap pemasukan sapi bibit dari Australia diperoleh data dari permohonan pemeriksaan
(pelaporan) sebagai berikut: Terdapat Health certificate dari Australia (copy), Ijin pemasukan sapi bibit
dari kementerian perdagangan, Rekomendasi pemasukan dari direktorat jenderal peternakan, Sapi
brahman kros Jumlah 1500 ekor, jenis kelamin betina.

Setelah pemeriksaan diatas kapal didapat data sebagai berikut: Terdapat Health certificate dari Australia
(asli), Surat keterangan muatan dari kapten kapal (tidak ada kematian /kelahiran), sertifikat pedigree
hanya satu halaman untuk semua sapi /tidak lengkap, Sapi brahman kros semua betina, 60 % sapi
bunting.

Tehadap kasus ini TKH apa yang harus dilaksanakan?

Jawab:

a. Terhadap sapi lakukan penahanan, pengasingan, pengamatan dan pemeriksaan di Instalasi.

b. Terhadap orangnya /pemiliknya diminta untuk segera melengkapi dokumen sertifikat pedigree
dengan ketentuan sebagai berikut:

-Apabila pemilik segera melengkapi sertifikat pedigree dan apabila dari hasil pemeriksaan pengasingan
dan pengamatabn terbukti hewannya sehat untuk segera diberi pelepasan.

-Apabila tidak bisa melengkapi sertifikat pedigree, maka apabila dari hasil pemeriksaan pengasingan dan
pengamatabn terbukti hewannya sehat untuk segera diberi pelepasan, setelah pimpinan berkoordinasi
dengan Dir Jend Peternakan dan kesehatan hewan.

3. Importir daging melakukan pelaporan pemasukan daging (permohonan pemeriksaan) dari suatu
negara dengan dokumen lengkap, namun ada permasalahan sebagai berikut:

a. Dokumen Health certiffikat asli dari negara asal asli, surat ijin impor dari kementerian perdagangan
copy sesuai aslinya, sertifikat halal asli, dan surat pendukung lainnya sebagai ketentuan tertib
administrasi.
b. Setelah tanggal keberangkatan alat angkut tersebut, ada kabar dari oie (laporan minguan oie) terjadi
wabah penyakit golongan satu dari negara asal tersebut dan dengan analisa resiko ada kemungkinan
daging tersebut terinfeksi penyakit golongan satu tersebut namun belum ada pelarangan dari menteri
pertanian mengenai hal ini

Apa yang harus dilakukan?

Jawab:

a. Terhadap barang untuk dilakukan penahanan.

b. Terhadap orangnya lakukan pendekatan dan beri keterangan adanya wabah tersebut.

c. Buat laporan kepada atasan mengenai wabah dan penahan barang dari negara wabah penyakit
golongan I tersebut agar segera koordinasi dengan kementerian pertanian mengeanai hal ini.

d. Bagus apabila setelah dilakukan pendekatan bisa dilakukan penolakan

e. Karena tidak ada pelanggaran oleh importir, dan belum tentu barang tersebut terinfeks atau mebawa
penyakit, dan bila kementerian tidak segera memberi tanggapan maka setelah dilakukan perlakuan
tertentu barang bisa dilakukan pelepasan.

4. Dalam ijin pemasukan daging dari negara tertentu dipersyaratkan bahwa daging tersebut adalah
daging bone-less saja mengingat situasi hama penyakit dari negara asal. Dengan ketentuan ini
bagaimana langkah yang harus dilakukan apabila dalam suatu sigmen pemasukan oleh importir ternyata
setelah dilakukan pemeriksaan terdapat daging sapi bone-in?

Jawab:

Sesuai dengan ketentuan bahwa harus sesuai antara dokumen dan barangnya. Maka harus dilakukan
tindakan karantina penolakan, namun karena daging sapi ini di kemas dalam karton yang terpisah pisah
tidak bercampur antara daging sapi bone-in dan dan bone-less maka dapat dilakukan tindakan karantina
penolakan terhadap daging sapi bone in saja. Namun tidak berlaku untuk kebalikannya. Dan apabila
dalam waktu yang ditentukan daging bone in ini tidak segera keluar dari Indonesia maka segera
dilakukan pemusnahan.

Buat laporan kejadian pada atasan agar dapat segera dilakukan pemeriksaan pada importir apakah ini
suatu kejahatan, pelanggaran atau bukan pelanggaran karena salah kirim dari negara asal.
5. Apa Tindakan yang dilakukan pada kasus kesehatan pada sapi berikut ini:

-Pemasukan sapi jemis brahman cross 2300 ekor dari Australia, mati diperjalanan 6 ekor

-Dalam pengamatan 3 hari terdapat kematian 8 ekor

-Gejala penyakit yang terlihat: Diarrhea berat namun tidak anyir, bulu kusam, cermin hidung kering,
peristaltik usus frequen. cermin hidung kerring, bulu kusam, beberapa sapi yang sakit pincang dan
lemah.

-temperatur 39 derajad C.

=pakan di instalasi 100 % hijauan /rumput muda

Jawab:

-terhadap hewan yang mati Lakukan bedah bangkai, pastikan kelainan organ dan lesi2nya analisa dan
diagnosa penyakit apa? Buat laporan tertulis.

-Terhadap hewan yang hidup pastikan hijaun yang diberikan bukan hijauan /rumput muda

-Terhadap hewan yang sakit lakukan pemeriksaan secara detail, pastikan apabila harus diberi perlakuan
tidak mempengaruhi pemeriksaan hasil laboratorium yang dilakukan (bila dilakukan).

-Infus terhadap sapi yang terbaring /ambruk.

-Injeksi Vit B 1 atau Vit B plek.

-Injeksi Antibiotik long acting

*** Disusun oleh drh Giyono Trisnadi