Anda di halaman 1dari 32

Tugas Akhir

Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

BAB IV
STUDI KASUS

4.1 UMUM

Penimbunan pada tanah dengan metode drainase vertikal dilakukan secara


bertahap dari ketinggian tertentu hingga mencapai elevasi yang diinginkan.
Analisis penurunan atau deformasi tanah untuk kasus konstruksi timbunan
pada tugas akhir ini dilakukan dengan bantuan program PLAXIS. Tipe analisis
yang digunakan pada kasus timbunan ini adalah adalah analisis regangan
bidang (plane strain analysis).
Analisis penurunan tanah akibat timbunan yang dilakukan terdiri dari :
1. Penurunan tanah dengan drainase vertikal
2. Penurunan tanah dengan perkuatan cerucuk dan matting bambu
3. Penurunan tanah dengan perkuatan geotextile

Penurunan tanah dibagi dalam 2 kategori :


1. Penurunan segera (immediate settlement)
2. Penurunan konsolidasi (consolidation settlement)
Penurunan konsolidasi (consolidation settlement) dibagi menjadi 2 bagian,
yaitu :
a. Penurunan konsolidasi primer
b. Penurunan konsolidasi sekunder

Dalam tugas akhir ini, dilakukan adalah analisis penurunan konsolidasi


primer.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-1


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

4.2 DESKRIPSI KASUS

Studi kasus berikut ini mengambil kasus proyek Pembangkit Listrik Tenaga
Gas dan Uap (PLTGU) Tambak Lorok, Semarang. Suatu timbunan setinggi
+3m akan dibangun di atas tanah lempung yang sangat lunak (very soft clay).
Ternyata kondisi tanah dasar yang buruk di bawah timbunan menyebabkan
timbunan tidak mungkin langsung dikerjakan hingga setinggi +3m, karena
akan menyebabkan timbunan tersebut runtuh. Untuk itu perlu dipikirkan suatu
alternatif perancangan dalam mengerjakan timbunan tersebut. Studi kasus
berikut menggunakan vertical drain, perkuatan cerucuk bambu dan perkuatan
geotextile untuk meningkatkan stabilitas timbunan sehingga diharapkan
timbunan bisa langsung dikerjakan setinggi 3m.
Analisa yang dilakukan dalam studi kasus berikut meliputi :
Analisis daya dukung
Analisis deformasi
Analisis stabilitas

4.3 ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH

Analisis daya dukung dilakukan untuk menentukan apakah tanah dasar


mempunyai kekuatan yang cukup untuk dapat menahan beban di atasnya,
yang dalam hal ini adalah berat tanah timbunan. Perhitungan daya dukung
tanah dilakukan dengan menggunakan formula daya dukung Terzaghi
terhadap general failure dan local failure. Dari perhitungan daya dukung
tanah, didapat hasil perhitungan bahwa tanah dasar tidak kuat mendukung
beban timbunan. Untuk itu dicari alternatif untuk meningkatkan daya dukung
tanah di dasar timbunan.Dalam studi kasus ini, alternatif yang digunakan

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-2


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

adalah dengan mengganti lapisan tanah lunak (very soft clay) dengan tanah
dengan properti yang lebih baik. Alternatif lainnya adalah dengan
memberikan perkuatan cerucuk dan matting bambu dan dengan perkuatan
geotextile.

Terdapat tiga alternatif untuk memperbaiki daya dukung tanah, yaitu :


Mengganti lapisan tanah lunak (very soft clay)
Memberikan perkuatan cerucuk dan matting bambu
Memberikan perkuatan geotextile

4.3.1 Model dan Parameter Tanah


Model dan parameter tanah yang digunakan dalam analisa dapat
dilihat pada gambar Gambar 4.1 berikut. Penyelidikan tanah yang
dilakukan meliputi penyelidikan lapangan dan penyelidikan
laboratorium. Untuk penyelidikan lapangan, dilakukan Standard
Penetration Test (SPT), sedangkan untuk penyelidikan laboratorium
dilakukan uji kadar air, berat jenis, derajat kejenuhan, uji konsolidasi,
uji triaksial dan uji permeabilitas.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-3


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.1 Model tanah asli

Parameter tanah asli :


Tanah timbunan : = 20kN / m3
c = 6kPa
= 32
Very soft clay : = 16kN / m3
c = 6kPa
= 1
Soft clay : = 16kN / m3
c = 12kPa
= 1

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-4


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3


Identifikasi
Very Soft Clay Soft Clay Timbunan
Tipe Undrained Undrained Drained
dry (kN/m3) 15 15 18

wet (kN/m3) 16 16 20

k x (m/day) 0.0000864 0.0000864 0.08

k y (m/day) 0.0000864 0.0000864 0.08

v 0.4 0.4 0.33


Eref (kN/m2) 1800 3200 22425
c (kN/m2) 6 12 6
1 1 32
0 0 1
3
Einc (kN/m ) 0 0 0
yref (m) 0 0 0

Ck 100000 100000 100000


einit 1 1 1

Rinter 0.7 0.7 1


Interface
impermeable impermeable neutral
Permeability

Tabel 4.1 Parameter Tanah

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-5


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

4.3.2 Parameter Cerucuk dan Matting Bambu


Dalam tugas akhir ini, struktur cerucuk dan matting bambu akan
dimodelkan dengan cara equivalent beam dan equivalent spring,
sedangkan struktur matting bambu hanya dimodelkan sebagai
equivalent beam (Irsyam). Dalam hal ini, material keduanya dianggap
bersifat elastik. Jumlah bambu dalam satu tiang cerucuk (1 atau 3
batang/tiang), dengan penataan penampang seperti Gambar 4.2 dan
Gambar 4.3 Berikut akan dibahas cara pemodelan dengan kedua
metode tersebut.

Gambar 4.2 Transformasi Deret Tiang Cerucuk (1 bambu/tiang)


menjadi Equivalent Beam (Irsyam, M)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-6


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.3 Konfigurasi Jumlah Bambu per Tiang Cerucuk (Irsyam, M)

Bambu yang akan digunakan sebagai cerucuk diasumsikan memilki


diameter ratarata sebesar 100mm, dengan ketebalan dinding sebesar
8mm. Propertis material bambu dalam kondisi jenuh air yang akan
digunakan adalah sebagai berikut :
Modulus Young, E = 8400 Mpa = 8,4 . 106 kN/m2.
Berat jenis, = 6,0 kN/m3.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-7


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Parameter cerucuk dan matting bambu yang digunakan dapat dilihat


pada Tabel 4.2 berikut.

Identifikasi Matting Cerucuk 1bambu/tiang Cerucuk 3bambu/tiang


Momen Inersia (m4) 7.18E+01 4.27E-06 1.28E-05
Luas netto (m2) 1.01E-02 5.03E-03 1.51E-02
Berat ekuivalen (we) 6.00E-02 0.03 9.00E-02
EA (kN/m) 8.44E+04 4.22E+04 1.27E+05
2
EI (kN/m ) 7.18E+01 35.89 5.24E+02
Tebal, d (m) 0.1 0.1 0.1
Poisson ratio, n 0.25 0.25 0.25

Tabel 4.2 Parameter Cerucuk dan Matting Bambu Spasi 1m (Irsyam, M)

Gambar 4.4 Proses Pemasangan Cerucuk Bambu

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-8


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.5 Proses Perakitan Matting Bambu

4.3.3 Parameter Geotextile


Pada umumya penggunaan geotextile dalam aplikasi geoteknik
memiliki salah satu dari kelima fungsi berikut :
Separasi (separation)
Filtrasi (filtration)
Drainase (drainage)
Perkuatan (reinforcement)
Proteksi (protection)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-9


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Pada studi kasus kali ini, aplikasi geotextile yang digunakan adalah
sebagai perkuatan (reinforcement) timbunan di atas tanah lunak.

Parameter geotextile yang akan digunakan adalah 84 kN/m.

Gambar 4.6 Aplikasi Perkuatan Tanah dengan Geotextile

4.4 ANALISIS PENURUNAN

4.4.1 Tinggi Tahapan Timbunan


Dalam pelaksanaan konstruksi timbunan, harus diperhatikan elevasi
dari timbunan yang akan dilaksanakan. Bila konstruksi timbunan
direncanakan untuk mencapai elevasi tertentu, maka konstruksi
dilakukan bertahap agar tidak terjadi kegagalan konstruksi berupa
amblasnya timbunan.
5.Su
H kritis = (4.1)
.SF

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-10


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Untuk kuat geser tanah di atas tanah lempung dengan = 0 :

Su = c + .tan ' (4.2)

Su = c (4.3)
Substitusi persamaan 4.3 ke persamaan 4.1, didapat :
5.c
H kritis = (4.4)
.SF
Maka tinggi timbunan kritis :
5.(6)
H kritis = = 1, 2m (4.5)
20.(1, 25)

4.4.2 Penurunan Konsolidasi


Untuk tanah yang terkonsolidasi normal, besarnya penurunan dapat
dihitung dengan persamaan dan 2.13

Tabeltabel berikut menunjukkan penurunan konsolidasi yang terjadi


pada tiap lapisan tanah lunak :

po (i ) + p(i )
log
Tahap Tinggi Timbunan (m) po (i ) p(i ) eo po (i )
Penurunan
(m)
Awal O (Cut and fill 2,5) 7.7375 50 1.4 0.872857313 0.56925477
I +3,5 7.7375 70 1.4 1.002029908 0.65349777
II +4,5 7.7375 90 1.4 1.101460564 0.71834385
III +5,5 7.7375 110 1.4 1.182314148 0.77107444
IV +6,5 7.7375 130 1.4 1.250451534 0.81551187
V +7,5 7.7375 150 1.4 1.309334291 0.85391367
VI +5,5 7.7375 160 1.4 1.336029504 0.87132359

Tabel 4.3 Lapisan Very Soft Clay (Cc = 0.6)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-11


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

po (i ) + p(i )
po (i ) p(i ) eo log Penurunan
Tahap Tinggi Timbunan (m) p (m)
o ( i )

Awal 0 (Cut and fill 2,5) 61.9 50 1.2 0.257139438 0.73468411


I +1 61.9 70 1.2 0.328554147 0.93872613
II +2 61.9 90 1.2 0.389867125 1.11390607
III +3 61.9 110 1.2 0.443585228 1.26738636
IV +4 61.9 130 1.2 0.491384326 1.40395522
V +5 61.9 150 1.2 0.534440308 1.52697231
VI +5,5 61.9 160 1.2 0.554466653 1.58419044

Tabel 4.4 Lapisan Soft Clay (Cc = 0.4)

Total Penurunan pada lapisan tanah lunak ditunjukkan pada Tabel 4.6 di
bawah ini :

Tahap Tinggi Timbunan (m) Penurunan (m) Elevasi akhir (m)


Awal 0 (Cut and fill 2,5) + 18,7
1.303939
I +1 + 19,4
1.592224
II +2 + 20,1
1.83225
III +3 + 20,9
2.038461
IV +4 + 21,7
2.219467
V +5 + 22,6
2.380886
VI +5,5 + 23,04
2.455514

Tabel 4.5 Penurunan Total tiap Tinggi Timbunan

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-12


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Dalam bentuk grafik, dapat diplot kurva penurunan konsolidasi


terhadap tinggi timbunan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.7 di
bawah ini :

Gambar 4.7 Grafik Prediksi Penurunan Konsolidasi

4.5 ANALISIS STABILITAS


4.5.1 Kenaikan Kuat Geser tiap Tahapan Timbunan (Gain Strength)
Pada setiap penambahan timbunan akan terjadi kenaikan tegangan air
pori pada tanah lunak yang secara perlahanlahan akan berkurang
diikuti dengan meningkatnya tegangan efektif. Dengan meningkatnya
tegangan efektif, maka daya dukung tanah lunak juga akan bertambah.
Olek karena itu pada pekerjaan penimbunan bertahap, kecepatan
pekerjaan penimbunan ditentukan oleh kecepatan meningkatnya daya
dukung tanah lunak akibat pekerjaan penimbunan pada tahap
sebelumnya.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-13


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Untuk tanah kohesif, kenaikan kekuatan tanah adalah :


C = 0.22 ' (4.6)

Sebelum ada timbunan atau pembebanan :


C0 = Ctanah asli (4.7)

Setelah timbunan awal (tahap 1) :


C = C0 + 0.22 '1 (4.8)

Setelah timbunan berikutnya (tahap 2) :


C = C0 + 0.22 '1 + 0.22 '2 (4.9)

Awal (cut and fill 2,5 m)


Penurunan yang terjadi : 1.3 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su1 = 6 + 0.22(18 x 2.5) x 100% = 15.9 kN/m2
Untuk menimbun 1 m, maka terdisipasinya tegangan air pori
sebesar :
' 1*18
U% = = = 36%
o 2.5* 20
Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya
tegangan air pori sebesar 36%.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-14


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Timbunan I (1m)
Penurunan yang terjadi : 1.59 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su 2 = 15.9 + 0.22(18 x 1) x 100% = 19.86 kN/m2
Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya
tegangan air pori sebesar 38%.

Timbunan II (2m)
Penurunan yang terjadi : 1.83 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su 2 = 19.86 + 0.22(18 x 1) x 100% = 23.82 kN/m2
Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya
tegangan air pori sebesar 40%.

Timbunan III (3m)


Penurunan yang terjadi : 2.04 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su 2 = 23.82 + 0.22(18 x 1) x 100% = 27.78 kN/m2

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-15


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya


tegangan air pori sebesar 42%.

Timbunan IV (4m)
Penurunan yang terjadi : 2.22 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su 2 = 27.78 + 0.22(18 x 0.5) x 100% = 31.74 kN/m2
Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya
tegangan air pori sebesar 44%.

Timbunan V (5 m)
Penurunan yang terjadi : 2.38 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1
Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :
Su 2 = 31.74 + 0.22(18 x 1) x 100% = 35.7 kN/m2
Tinggi timbunan di atas dapat dilakukan jika terdisipasinya
tegangan air pori sebesar 46%.

Timbunan VI (5,5 m)
Penurunan yang terjadi : 2.46 m
Gain strength : Su = c + '.tan '

Su1 = co + 0.22 1

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-16


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Jika terdisipasinya tegangan air pori 100%, maka :


Su 2 = 35.7 + 0.22(18 x 0.5) x 100% = 37.68 kN/m2

4.5.2 Besarnya Excess Pore Pressure


Dalam perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan
kenaikan effective overburden pressure, terlebih dahulu harus dihitung
besarnya excess pore pressure yang timbul untuk masingmasing
tahapan timbunan.

Besarnya excess pore pressure tersebut dihitung dengan metoda


berikut :
1. Timbunan tahap awal, besarnya excess pore pressure (U1) dihitung
dengan metoda elemen hingga atau manual. Tinggi timbunan awal
adalah 2.5 m.
2. Tahapan timbunan berikutnya dengan tinggi timbunan 1 m, excess
pore pressure sisa adalah (U1) dikalikan (1-U%) ditambah
1*18kN/m3. Dengan asumsi U% disesuaikan dengan waktu yang
dibutuhkan untuk memperoleh tambahan effective overburden
pressure sebesar 18 kN/m2 akibat disipasi excess pore pressure
timbunan tahap awal.
Excess pore pressure sisa = (1-U%) * excess pore pressure awal
= (1-36%) * (25,5)
= 16,32 kN/m2
Dengan adanya gain strength, excess pore pressure menjadi :
Excess pore pressure = excess pore pressure sisa + 0.22(1*18)
= 16,32 + 3.96
= 20,28 kN/m2

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-17


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Dalam bentuk Tabel 4.6 berikut dapat dilihat excess pore pressure
pada tiap penambahan timbunan.

Tahapan Tinggi Excess pore Waktu


Timbunan Timbunan Initial pressure U% Tunggu
(m) (kN/m2) (Bulan)
Awal Cut and fill 2.5 25,5
0.36 0.5
I 1 20,28
0.38 0.7
II 2 16,54
0.40 0.74
III 3 13,88
0.42 0.8
IV 4 12,01
0.44 0.9
V 5 10,69
0.46 0.95
VI 5,5 7,75

Tabel 4.6 Excess pore pressure tiap Tinggi Timbunan

Gambar 4.8 Grafik Excess pore pressure vs Time

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-18


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

4.5.3 Jarak Vertical Drain (Spasi Drain = S)


Diketahui : Cv = 0.003 cm2/sec
Ch = (1.2 3.0)Cv, ambil Ch = 2Cv

. Perhitungan laju waktu penurunan :


Tv 90% = 0.848
H (m) = 10m

Tv .H 2 dr
Dari persamaan Cv = , didapat t = 436 bulan.
t
Agar konsolidasi berlangsung cepat, perlu didesain vertical drain.
Konfigurasi vertical drain yang akan digunakan ditunjukkan pada
Gambar 4.9 berikut ini.

Gambar 4.9 Konfigurasi vertical drain

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-19


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Untuk t90%, maka U = 0,9


Diameter drainase (dw) = 0,4 m
Tebal lapisan lempung = 10 m = panjang vertical drain
Spasi vertical drain (d) =1m
de = 1,05d (pola segitiga)
n = de/dw = 2.625
de 2 .Th
t90 0 0 =
Ch

(1.05) 2 *0.13
t90 0 0 = = 4.78 bulan
0.03

Pengaruh jarak vertical drain terhadap waktu proses konsolidasi untuk


berbagai spasi telah dihitung. Hasil dari perhitungan tersebut dapat
dilihat dalam Tabel 4.7 dan Gambar 4.10 hingga Gambar 4.12 berikut

U Th Waktu (bulan)
% Spasi 1m Spasi 1.2m V.drain spasi 1m V.drain spasi 1.2m Tanpa V.drain
90 0.13 0.17 4.78 9.00 436
80 0.08 0.125 2.94 6.62 282
70 0.055 0.085 2.02 4.50 210
60 0.04 0.06 1.47 3.18 146
50 0.028 0.041 1.03 2.17 100
40 0.02 0.029 0.74 1.53 65
30 0.0125 0.018 0.46 0.95 36
20 0.006 0.009 0.22 0.48 16

10 0.0018 0.0028 0.07 0.15 4


0 0 0 0.00 0.00 0

Tabel 4.7 Perhitungan Waktu Vs Derajat Konsolidasi untuk spasi Vertical Drain

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-20


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.10 Kecepatan laju konsolidasi tanpa vertical drain

Gambar 4.11 Kecepatan laju konsolidasi dengan vertical drain (spasi 1,2m)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-21


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.12 Kecepatan laju konsolidasi dengan vertical drain (spasi 1m)

Dari grafik di atas dapat dilihat pengaruh spasi vertical drain sangat
menentukan lamanya waktu konsolidasi. Sebagai contoh, akibat
perbedaan jarak spasi sebesar 20cm antara spasi 1m dan spasi 1,2m,
perbedaan waktu untuk mencapai konsolidasi 90% dapat mencapai 4
bulan. Maka pada analisis dengan menggunakan software PLAXIS,
digunakan vertical drain dengan spasi 1m.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-22


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

4.6 ANALISIS PENURUNAN

Analisis dibantu dengan software PLAXIS 7.11 dengan tipe regangan bidang
(plane strain). Satuan yang digunakan adalah meter (m) untuk panjang, kilo
Newton (kN) untuk gaya dan hari (day) untuk waktu. Hasil analisis penurunan
menggunakan beberapa metoda, yaitu :
Vertical drain
Cerucuk bambu dengan metoda Equivalent Beam (beam)
Cerucuk bambu dengan metoda Equivalent Spring (node to node
anchor)
Geotextile

4.6.1 Hasil analisis Penurunan Timbunan Bertahap (vertical drain)


Hasil analisis penurunan pada tanah yang dilengkapi dengan vertical
drain hampir sama dengan perkuatan tanah yang menggunakan
cerucuk dan matting bambu. Adapun data-data keluaran untuk metoda
vertical drain dapat dilihat pada Gambar 4.13 sampai Gambar 4.16.

Gambar 4.13 Deformed mesh timbunan awal (vertical drain)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-23


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.14 Total displacement timbunan awal

Gambar 4.15 Deformed mesh setelah akhir konstruksi

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-24


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.16 Total displacement setelah akhir konstruksi

4.6.2 Hasil analisis Penurunan dengan Perkuatan Bambu (Equivalent


Beam)
Pada metoda ini, cerucuk bambu akan dimodelkan sebagai elemen
beam yang kontinu dalam arah yang sama. Adapun data-data keluaran
untuk perkuatan ini dapat dilihat pada Gambar 4.17 sampai Gambar
4.20.

Gambar 4.17 Deformed mesh pemasangan bambu (equivalent beam)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-25


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.18 Total displacement pemasangan bambu (equivalent beam)

Gambar 4.19 Deformed mesh setelah akhir konstruksi

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-26


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.20 Total displacement setelah akhir konstruksi

4.6.3 Hasil analisis Penurunan dengan Perkuatan Bambu (Equivalent


Spring)
Pada metoda ini, cerucuk bambu akan dimodelkan hanya memikul
gaya aksial saja dengan node to node anchor. Adapun data-data
keluaran untuk perkuatan ini dapat dilihat pada Gambar 4.21 sampai
Gambar 4.24.

Gambar 4.21 Deformed mesh pemasangan bambu (equivalent spring)

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-27


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.22 Total displacement pemasangan bambu (equivalent spring)

Gambar 4.23 Deformed mesh setelah akhir konstruksi

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-28


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.24 Total displacement setelah akhir konstruksi

4.6.4 Hasil analisis Penurunan dengan Perkuatan Geotextile


Parameter geotextile yang digunakan 84 kN/m. Adapun data-data
keluaran untuk perkuatan geotextile dapat dilihat pada Gambar
4.25sampai Gambar 4.28.

Gambar 4.25 Deformed mesh pemasangan Geotextile

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-29


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.26 Total displacement pemasangan Geotextile

Gambar 4.27 Deformed mesh setelah akhir konstruksi

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-30


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

Gambar 4.28 Total displacement setelah akhir konstruksi

Pada Gambar 4.11 hingga Gambar 4.24, dapat dilihat perbandingan


penurunan antara metoda percepatan konsolidasi dengan metoda perkuatan
lapisan tanah lunak. Untuk metoda dengan vertical drain, equivalent beam,
equivalent spring dan geotextile berturut-turut penurunannya sebesar 0,1m ,
0,025m , 0,027m , 0,074m.

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-31


Fransiscus Tambunan (15002143)
Tugas Akhir
Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Tanah Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile
Studi kasus pada Discharge Channel Proyek PLTGU Tambak Lorok, Semarang

4.7 STABILITAS TIMBUNAN

Analisis stabilitas timbunan diperoleh dengan perhitungan angka keamanan


berdasarkan metoda phi-reduction yang terdapat pada calculation software
PLAXIS. Dalam kasus ini dapat dilihat angka keamanan stabilitas timbunan
berdasarkan displacement yang terjadi seperti yang ditunjukkan pada Tabel
4.8 berikut.

SF
Vertical Drain Equivalent Beam Equivalent Spring Geotextile
1,26 4.2 3.8 2.2

Tabel 4.8 Hasil perhitungan SF pada akhir konstruksi

Hotmatua Sinaga (15001108) IV-32


Fransiscus Tambunan (15002143)