Anda di halaman 1dari 4

SOP PENGUKURAN TOPOGRAFI

PEKERJAAN PEMBANGUNAN GROUNDSILL DI BOJONEGORO

1. TITIK REFERENSI PENGUKURAN

Titik referensi ketinggian sebagai titik ikat awal pengukuran :

Deskripsi Titik Referensi

No Nama X Y Elevasi Keterangan

1 BJ.KI 591950,805 9211272,143 +23,581 Timur Bendung Gerak


Bojonegoro

2 BJ.KA 591465,489 9211140,622 +23,594 Barat Bendung Gerak


Bojonegoro

3 BS.KA 592132,201 9210354,108 +15,756 Sebelah kanan Sungai


Bengawan Solo diujung
bangunan revetment 8
meter dari tepi sungai /
revetment

4 BS.KI 592247,149 9210507,321 +16,453 Sebelah kiri Sungai


Bengawan Solo, diujung
bangunan revetment 9
meter dari tepi sungai /
revetment

2. PEMATOKAN PATOK KAYU

Patok kayu dipasang pada sisi kanan dengan jarak 50 m. Patok kayu berfungsi sebagai titik
kontrol pengikatan ketinggian pada pengukuran penampang melintang (cross section).
3. PEMATOKAN PATOK BETON (BENCH MARK DAN CONTROL POINT)

Terdapat 2 (dua) jenis patok beton yang dipasang sepanjang lokasi pekerjaan :

a. Bench Mark (BM) ukuran 20 x 20 x 80 cm, dipasang di dekat as rencana groundsill sisi
sebelah kanan dan kiri dengan jumlah seluruhnya 6 buah.

b. Control Point (CP) dengan ukuran diameter 10 cm dan panjang 60 cm dipasang pada
sisi kanan dan kiri sungai dengan jumlah sesuai kebutuhan lapangan.

4. PENGUKURAN POLIGON

Pengukuran poligon tujuannya adalah untuk menentukan posisi planimetris (x, y) suatu titik
ikat pengukuran yang ditandai dengan patok beton, sehingga seluruh detail situasi yang
diukur dapat ditentukan posisinya terhadap titik ikat pengukuran. Pengukuran poligon dapat
disebut sebagai pengukuran jaringan titik ikat untuk penentuan kerangka horisontal.
Jaringan poligon dapat berbentuk loop (jaringan tertutup) atau jaringan terbuka. Jaringan
poligon tertutup diawali dan diakhiri titik ikat poligon yang sama yang telah diketahui
koordinatnya, sedangkan jaringan poligon terbuka diawali dengan suatu titik ikat yang
diketahui koordinatnya dan diakhiri dengan titik ikat poligon lain yang juga telah diketahui
koordinatnya. Kedua jenis jaringan poligon tersebut merupakan pengukuran dengan terikat
sempurna. Akuisisi data poligon dilakukan pengukuran sudut horisontal dan jarak.

a. Pengukuran poligon sebagai kerangka dasar horisontal pemetaan harus diikatkan


terhadap 2 (dua) Control Point (CP) yang telah diketahui koordinat dan elevasinya;

b. Pengukuran sudut poligon dilakukan secara 2 (dua) seri ganda (B,LB,B,LB) selisih sudut

hasil pengamatan tidak melebihi 10 dengan menggunakan alat ukur jenis Orde I (T2

atau yang setara), toleransi penutup sudut tidak boleh lebih dari 10N (N=jumlah titik

poligon);

c. Pengukuran jarak poligon dilakukan pergi pulang dengan menggunakan alat ukur Total
Station dengan selisih hasil pengukuran jarak pergi pulang tidak boleh lebih dari 5 mm;

d. Kesalahan linier pada pengukuran sudut dan jarak harus lebih kecil dari 1 : 10000.

5. PENGUKURAN SITUASI

a. Pengukuran situasi dimulai dan diakhiri dengan patok poligon yang sama (poligon
tertutup), digambar dengan interval kontur pada setiap 1 (satu) meter;
b. Pengukuran detail harus mencakup semua tampakan, yang alamiah maupun
buatan manusia sehingga dapat digambar sesuai keadaan lapangan dan
dilengkapi notasi yang jelas.

c. Pengukuran situasi mengacu kepada patok BM/CP yang dijadikan sebagai


referensi koordinat (x,y,z) data situasi, sehingga dapat mempermudah
pengecekan terhadap hasil pengukuran.

d. Untuk pengambilan detail situasi tergantung pada kondisi lapangan, apabila


diantara dua lintasan pengukuran penampang melintang (cross section) terdapat
unsur buatan seperti bangunan air atau bangunan-bangunan lainnya, maka pada
bagian tersebut dilakukan pengukuran situasi. Pelaksanaan pengukuran situasi
menggunakan alat Total Station, dan interval kontur 1 m.

6. PENGUKURAN WATERPASS

a. Pengukuran waterpass pada titik-titik poligon dilakukan pergi pulang, tidak boleh
dengan cara double stand/diikatkan pada minimal 2 (dua) CP yang telah diketahui
elevasinya dan merupakan jalur tertutup;

b. Pembacaan rambu harus dilakukan dengan pembacaan tiga benang (benang


atas, benang tengah dan benang bawah) sebagai kontrol 2 bt = ba + bb;

c. Dalam pemindahan rambu pada setiap slag rambu dijadikan rambu belakang
dengan memutar arah rambu, rambu berdiri di atas landasan yang terbuat dari
besi plat;

d. Hasil pengukuran pergipulang setiap seksi dan kesalahan penutup tinggi tidak

boleh lebih dari 8 mm D, dimana D = jumlah jarak 1 (satu) seksi dalam satuan

km;

e. Selisih beda tinggi antar patok hasil pengukuran pulang pergi tidak boleh lebih
besar 3 mm.
7. PENGUKURAN PENAMPANG MELINTANG (CROSS SECTION)

Pengkuran penampang memanjang mengikuti hasil ukur pengukuran di setiap


penampang melintang :

a. Jarak antara penampang melintang setiap 100 m pada sungai yang lurus, untuk
yang berbelok dengan jarak 25 m;

b. Pengukuran tampang melintang tegak lurus as sungai, dengan bentang ke arah


luar selebar 50 m dari tebing kanan dan kiri sungai, serta menunjukkan minimal
elevasi bagian tengah/bagian pinggir kanan kiri dasar sungai maupun sampai
dengan rencana tanggul/tebing kanan dan kiri sungai.

8. PENGUKURAN SIPAT DATAR

Pengukuran sipat datar melalui patok CP dan BM, metode yang digunakan adalah
pergi-pulang dari CP ke CP/BM diselesaikan dalam 1 (satu hari) dan memenuhi

toleransi yang diijinkan yaitu < 8mm D, dimana D adalah jarak (Km). Selisih beda

tinggi antar patok hasil pengukuran pulang pergi tidak boleh lebih besar 3 mm.

9. ACUAN

Acuan yang dipergunakan dalam seluruh kegiatan pengukuran topografi pekerjaan


Pembangunan Groundsill di Bojonegoro adalah :
PT 02 Persyaratan Teknis Bagian Pengukuran
KP 07 Kriteria Perencanaan Bagian Standar Penggambaran