Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI CARDIO VASKULER

Disusun Oleh :

DWI OKTA FITRIYANI

KARENINA MARIA FAIRUZ

YUNI RANITA

Poltekkes Kemenkes Palembang

Tahun Akademik 2016/2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Yang telah melimpahkan rahmat
serta hidayat-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang
berjudul Patafisiologi Kardiovaskuler.
Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Patafisiologi. Kami
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan.
Akhir kata , kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga selesainya makalah ini semoga segala upaya yang telah dicurahkan
mendapatkan berkah Allah swt.

Palembang, 17 Maret 2017

Kelompok 4
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar ............................................................................................ i
Daftar Isi ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2. Tujuan ...................................................................................... 1
1.3 Sasaran.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang
berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Sistem kardiovaskuler merupakan
salah satu sistem utama yang ada pada organisme. Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk
mempertahankan kualitas dan kuantitas cairan yang ada di dalam tubuh agar tetap
homeostatis. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari jantung
komponen darah dan pembuluh darah.
Organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung sebagai alat pompa utama,
pembuluh darah, serta darah. Sistem kardiovaskuler yang sehat ditandai dengan proses
sirkulasi yang normal, apabila sirkulasi terhambat akibat keabnormalan dari organ-organ
penyusun sistem kardiovaskuler ini maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan
bisa mematikan

Jadi penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah,
dalam hal ini adalah jantung dan urat-urat darah.
Jenis-jenis penyakit jantung itu sendiri bervariasi, seperti : jantung koroner, tekanan darah
tinggi, serangan jantung, stroke, sakit di dada (anginan) dan penyakit jantung rematik.

Oleh karena itu penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang
patofisiologi atau aspek yang terjadi pada berbagai fungsi tubuh akibat adanya penyakit dan
etiologi dari sistem kardiovaskuler.
Kelainan kardiovaskuler di Indonesia, sejalan dengan berubahnya pola hidup dan tradisi
budaya bangsa Indonesia menunjukkan kenaikan angka prevalensi dan insidensi. Hal ini
menuntut pemahaman komprehensif bagi para stakeholder kesehatan, untuk dapat mengatasi
masalah ini baik secara preventif, kuratif, promotif maupun rehabilitatif.

Uraian bab ini membahas secara superfisial hal-hal yang berkaitan dengan patofisiologi pada
kelainan sistem kardiovaskuler, baik dari segi patogenesisnya, kelainan yang mendasarinya
maupun manifestasi klinisnya.
1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui kelainan penyakit pada sistem kardiovaskular.
2. Untuk mengetahui etiologi dari sistem kardiovaskular

1.3 Sasaran
1. Menghubungkan patofisiologi penyakit kardiovaskuler dengan tanda tanda penyakit
tersebut. Juga dasar pemikiran cara pengobatannya (terapi)
BAB II

PEMBAHASAN

1. PATOFISIOLOGI KELAINAN ARTERI

Sebagaimana pembahasan kelainan pada organ lain, pembahasan kelainan pada arteri juga
dibedakan menurut proses yang mendasarinya, yaitu : kelainan bawaan, kelainan radang,
kelainan degeneratif, kelainan imunologik, neoplasma dan kelainan lain yang belum jelas
patofisiologinya.

1.1 Kelainan Bawaan

Yang termasuk kelainan bawaan pada kelainan arteri meliputi :

- Hipoplasia Aorta ascenden

Hipoplasia Aorta Ascenden adalah suatu kelainan bawaan pada arteri dimana aorta ascenden
tidak berkembang dengan sempurna. Aorta sendiri adalah pembuluh darah arteri paling besar
muara dari bilik kiri jantung, yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh peredaran
sistemik tubuh. Aorta ascenden adalah yaitu bagian bangunan dari aorta yang berjalan dari
orifisium oarta ke atas, sedangkan bagian yang menurun disebut aorta descenden.

- Atresia orifisium aorta

Atresia orifisium aorta adalah suatu kelainan bawaan pada arteri, dimana pada aorta tidak
tumbuh atau tidak terdapat lubang/ pintu (orifisium) yang menghubungkan antara bilik kiri
jantung dengan aorta.

- Atresia mitralis

Katub mitralis adalah katub pada jantung yang menghubungkan antara bilik (ventrikel) kiri
dengan serambi (atrium) kiri jantung. Pada kelainan atresia katub mitralis yang merupakan
kelainan bawaan, katub mitralis tidak tumbuh atau tidak terdapat katub mitral diantara atrium
dan ventrikel kiri.
- Anomali lengkung aorta

Anomali lengkung aorta adalah kelainan bawaan dimana lengkung aorta mempunyai bentuk
atau struktur yang tidak normal, misalnya :

-Koarktasio aorta dan duktus arteriosus paten.

Koarktasio aorta adalah kelainan bawaan pada aorta dimana lengkung aorta bentuknya tidak
normal sehingga aliran darah yang seharusnya melalui aorta ascenden melanjut ke lengkung
aorta kemudian ke aorta descenden, akan mengalami gangguan karena lengkung aorta yang
tidak normal bentuknya sehingga akan terjadi turbulensi aliran darah.

Pada kelainan Duktus arteriosus paten, terjadi kelainan bawaan pada aorta dimana duktus
arteriosus yang menghubungkan antara atrium kiri dan lengkung aorta menetap dan tetap ada,
dimana seharusnya duktus tersebut berubah menjadi ligamentum (ligamentum arteriosus
Botalli) yang tidak lagi berfungsi sebagai duktus saat bayi lahir.

Pada seluruh kelainan bawaan tersebut di atas tanda klinis yang terlihat adalah berupa sianosis
berat dan biasanya akan meninggal dalam beberapa hari, kecuali pada kasus yang dapat
dilakukan koreksi terhadap kelainan tersebut.

1.2 Radang

Kelainan radang pada sistem kardiovaskuler yang sering meliputi : arteritis akuta, arteritis
sifilitika, rheumatoid artritis, dan arteritis tuberculosis.

- Arteritis Akuta Infeksiosa

Arteritis Akuta Infeksiosa adalah kelainan peradangan infeksi yang biasanya disebabkan oleh
bakteri pada arteri. Pada kelainan ini mengakibatkan dinding arteri menjadi melemah oleh
karena terjadi infiltrasi sel sel peradangan & invasi dari kuman yang menginfeksi itu sendiri.

- Periarteritis Nodosa (Poliarteritis, Panarteritis)


Periarteritis Nodosa sesuai dengan namanya adalah arteritis atau peradangan dari jaringan di
sekitar atau yang mengitari arteri (peri = di tepi), dimana pada kelainan ini didapatkan nodus
(benjolan) sebagai akibat dari timbunan reaksi peradangan.

- Arteritis Sifilitika / Lues (disebabkan kuman Sifilis)

Arteritis Sifilitika / Lues adalah kelainan peradangan pada jaringan arteri yang disebabkan oleh
kuman Sifilis (Treponema Palida), dimana memberikan gambaran khas. Gambaran khas
berupa gambaran klinis umum penyakit sifilis, dimana infeksi biasanya disebarkan melalui
hubungan seksual (PMS mayor).

- Rheumatoid Arteritis

Rheumatoid Artritis adalah kelainan autoimun dimana di dalam serum darahnya didapatkan
faktor Rheumatoid. Kelainan yang menyertai biasanya adalah kelainan / manifestasi sistemik
dari kelainan autoimun ini.

- Arteritis Tuberculosis

Arteritis tuberkulosis adalah kelainan peradangan jaringan arteri yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis yang biasanya juga merupakan penyebaran sistemik dari infeksi
Tuberkulosis, yang secara primer biasanya masuk melalui saluran nafas dan berproses di paru.

- Penyakit Takayasu (Pulseless Disease)

Penyakit Takayasu adalah kelainan peradangan pada arteri yang juga bersifat autoimun. Pada
kelainan ini karena proses peradangan tersebut mengakibatkan elastisitas pembuluh menjadi
terganggu dan menyebabkan denyut nadi menjadi tidak teraba, oleh karenanya disebut sebagai
Pulseless disease.

1.3 Kelainan Degeneratif

Kelainan degeneratif, sejalan dengan perubahan pola hidup dan pola makan penduduk yang
cenderung berubah menjadi faktor risiko penyakit-penyakit degeneratif, baik di negara yang
sedang berkembang seperti Indoonesia maupun di negara-negara maju maka menjadi sering
dijumpai.

- Aterosklerosis

Aterosklerosis adalah kelainan degeneratif pada sistem kardiovaskuler yang mengenai arteri
besar dan sedang, dimana terjadi penimbunan lemak dan jaringan fibrosis, sehingga akan
timbul penimbunan berupa plak ateroma di pembuluh darah yang mengalami kelainan tersebut.
Karena adanya plak aterom ini maka akan terjadi penyempitan lumen pembuluh darah, dimana
penyempitan ini, biasanya tidak hanya karena sumbatan atau timbunan plak, namun biasanya
ditambahi karena adanya gangguan elastisitas dari dinding pembuluh darah. Adanya plak ini
bila mengalami kerontokan atau terlepasnya plak ateroma dari dinding pembuluh darah,
dimana plak ini menempel, maka rontokan plak ini akan mengakibatkan penyumbatan arteri
sebelah distal. Karena adanya penyumbatan arteri koronaria yang mendarahi jantung ini, maka
akan mengakibatkan keadaan iskemia jantung (Penyakit Jantung Koroner). Bila keadaan
serupa mengenai pembuluh darah serebral di otak maka akan menyebabkan keadaan iskemia
di otak, yaitu kelainannya disebut sebagai Stroke Non Perdarahan dan bila keadaan ini terjadi
di jaringan ginjal, yaitu di parenkhim atau pada jaringan glomerulus dan tubulus maka akan
terjadi Nekrosis Ginjal atau nekrosis tubuler yang biasanya bersifat kronik.

Kelainan degeneratif biasanya jarang terjadi pada umur kurang dari 40 tahun, dan akan
bertambah sejalan sesuai dengan bertambahnya umur. Pada usia di atas 70 tahun kelainan
degeneratif merupakan kasus yang paling banyak dijumpai.

Faktor risiko kelainan degeneratif dari aterosklerosis adalah :

- wanita post menopause,

- penyakit hipertensi,

- dislipidemi, yang ditandai dengan kenaikan kadar kolesterol (LDL + trigliserida) dan atau
rendahnya kadar HDL.

- diabetes melitus,

- obesitas,
- gaya hidup dengan pola konsumsi energi berlebih dan kurang olah raga (aktivitas fisik).

Terapi

Terapi non-farmakologi

Merubah pola hidup dengan melakukan penurunan berat badan (diet makanan).

Sering melakukan aktifitas fisik (olah raga),

Menghentikan kebiasaan merokok.

Terapi Farmakologi

Golongan anti hiperlipidemia

Golongan antiplatelet atau atau trombolitik

Terapi insulin, bagi penderita komplikasi dengan diabetes melitus.

Alternatif lain : Melakukan operasi, operasi berguna untuk pengobatan aterosklerosis,


dan juga operasi lebih sering dipilih dibanding obat-obatan. Ada berbagai jenis operasi untuk
pengobatan penyakit ini, salah satunya yang umum adalah:

Operasi bypass
Endarterectomy (pengangkatan lapisan arteri) dan
Penyambungan (memperbaiki atau mengganti pembuluh darah) adalah metode bedah lain
yang digunakan untuk aterosklerosis.

- Hipertensi

Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik dan atau diastolik mengalami
peningkatana dari angka atau tekanan batas normal. Batasan normal untuk tekanan sistolik pada
orang dewasa adalah 140 160 mmHg dan diastolik adalah 90 95 mmHg.

Hipertensi sendiri merupakan faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif, misalnya gagal
jantung, aterosklerosis dengan segala akibat, penyakit stroke, penyakit ginjal, penyakit mata
dan berbagai penyakit lain.
Menurut manifestasi klinik tersebut hipertensi dibedakan menjadi hipertensi benigna dan
hipertensi maligna. Dikatakan hipertensi benigna bila tekanan darah mengalami peningkatan
akan tetapi peningakatan tersebut tidak melebihi 200 mmHg untuk tekanan sistolik dan 120
mmHg untuk tekanan diastoliknya. Sedangkan hipertensi maligna adalah suatu keadaan
sebaliknya dari hipertensi benigna, yaitu tekanan diastolik maupun sistolik di atas yang tersebut
di atas, ataupun tekanannya kurang dari tersebut di atas (120 mmHg (diastolik)/ 200 mmHg
(sistolik)) namun telah terjadi gangguan atau kelainan pada organ target. Yang disebut dengan
organ target adalah organ vital yang mengalami gangguan oleh karena keadaan tekanan darah
yang abnormal tinggi tersebut. Organ-organ tersebut diantaranya jantung, ginjal, mata, dan
otak.

Kelainan atau gangguan yang muncul pada organ target tersebut akan sangat bergantung pada
organ yang terganggu dan derajat berat ringannya keadaan hipertensi serta faktor-faktor risiko
lainnya. Secara umum biasanya pada jantung akan mengalami serangan infark/ iskemia
jantung, pada ginjal juga mengalami keadaan iskemia sampai dengan nekrosis tubulus/
glomerulus ginjal. Sedangkan pada mata biasanya akan terjadi gangguan atau kerusakan
permanen dari retina. Pada mata ini juga merupakan suatu tempat dimana dapat dilihat seberapa
berat hipertensi dapat mempengaruhi keseimbanan organ-organ lain, karena di mata (retina)
bila dilihat dengan funduskopi akan terlihat adanya pola atau gambaran sklerotik pada
pembuluh darah mikro yang bisa terjadi akibat keadaan hipertensi ataupun keadaan iskemia
akibat perfusi yang tidak adekuat. Gambaran kelainan retina ini bila disebabkan oleh keadaan
hipertensi maka disebut sebagai retinopati hipertensi.

Etiologi / Penyebab

Hipertensi secara causatif atau bila dilihat penyebabnya dapat dibedakan menjadi hipertensi
primer (esensial) dan hipertensi sekunder

Hipertensi primer merupakan kasus hipertensi yang sering dijumpai, tidak diketahui
penyebabnya secara pasti. Namun demikian beberapa faktor yang diketahui berhubungan atau
menjadi faktor risiko dan mempengaruhi kejadian hipertensi primer adalah : genetik
(keturunan), kegemukan (obesitas), konsumsi makanan yang tidak seimbang dengan diit garam
berlebihan, pola hidup tidak tenang, yaitu dengan kepribadian tipe A (ambisius, sering
mengerjakan sesuatu dengan cepat dan dalam satu waktu ingin mengerjakan beberapa hal
sekaligus) serta aktivitas fisik yang berlebihan atau bahkan sebaliknya yaitu keadaan
kurangnya olahraga.

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan adanya kelainan atau keadaan dari
sistem organ lain, seperti kelainan ginjal, yaitu : Gagal Ginjal Kronik, Glomerulonefritis Akut,
Kelainan Endokrin : Tumor Kelenjar Adrenal, Sindroma Cushing, serta bisa juga diakibatkan
oleh penggunaan obat obatan : kortikosteroid dan hormonal (pil, suntik dan susuk
kontrasepsi.

Tatalaksana Terapi

. Terapi non-farmakologi
Penderita hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk memodifikasi gaya hidup termasuk:
Penurunan berat badan, melakukan diet makanan menurut pola DASH (Dietary
Approaches to Stop Hypertention),
Mengurangi asupan natrium hingga ledih kecil sama dengan 2,4 gram/hari,
Melakukan aktifitas fisik (olah raga),
Mengurangi konsumsi alkohol dan
Menghentikan kebiasaan merokok.

- Aneurisma

Aneurisma arteri adalah keadaan perubahan dinding arteri dimana dinding artei mengalami
dilatasi abnormal arteri yang biasanya disebabkan kelemahan dinding pembuluh darah,
dibedakan menjadi aneurisma sejati dan tidak sejati.

Keadaan tidak sejati disebabkan trauma yang menyebabkan ruptur pembuluh darah.

Aneurisma sejati disebabkan keadaan aterosklerotik (mis.: aneurisma aorta abdominalis


aterosklerotik), keadaan infeksi sifilis (aneurisma sifilitika).
1.4 Kelainan Imunologik

Kelainan imunologik adalah suatu kelainan pada arteri dimana proses yang mendasari adalah
respon tubuh yang salah dengan peneluaran mediator biokimia yang sebenarnya berfungsi
sebagai sistem imun akan tetapi justru akan merusak jaringan tubuh sendiri. Teramsuk di
dalamnya adalah :

- Sistemik Lupus Eritematosus (SLE)

SLE adalah kelainan imunologik dimana biasanya ditandai dengan kelainan kulit yang
dominan, serta gangguan persendian yang hebat. Pada arteri yang mengalami peradangan
akibat SLE akan mengalami gangguan elastisitas dan kurang intak.

- Ruptura Henoch Schonlein

Kelainan imunologik pada arteri ditandai dengan mudah rupturnya dinding pembuluh darah.

- Rheumatoid arteritis

Rheumatoid arteritis terjadi karena komplek antigen antibodi pada dinding pembuluh darah
yang menyebabkan terjadinya vaskulitis

1.5. Kelainan Vaskuler dengan etiologi tidak diketahui

- Buerger disease (Trombo-angitis obliterans)

Kelainan arteri dimana terjadi peradangan pada dinding arteri yang disertai juga dengan
penimbunan trombus serta biasanya sampai terjadi obliterasi (sumbatan)

- Takayasu disease

Penyakit Takayasu adalah kelainan peradangan pada arteri yang juga bersifat autoimun. Pada
kelainan ini karena proses peradangan tersebut mengakibatkan elastisitas pembuluh menjadi
terganggu dan menyebabkan denyut nadi menjadi tidak teraba, oleh karenanya disebut sebagai
Pulseless disease.
1.6 Tumor Pembuluh Darah

Tumor jinak biasa dijumpai adalah Hemangioma, sering di wajah / kulit kepala pada bayi.
Keadaan ini merupakan pertumbuhan jinak dari kapiler kecil, dapat menghilang dengan
sendirinya. Dibagi dua ; hemangioma kapialre, bila hanya berupa anyaman kapiler yang kecil,
dan hemangioma kavernosum bila terdiri dari anyaman pembuluh darah yang lebih besar.

Sedangkan tumor ganas yang terjadi adalah angiofibroma (tumor primer pembuluh darah) dan
Sarkoma Kaposi (biasanya sekunder akibat adanya infeksi HIV pada penderita AIDS).

2. PATOFISIOLOGI KELAINAN VENA

2.1 . Kelainan Bawaan

Sering terjadi pada pembuluh vena di otak, pulmonal dan vena umbilikal (vena umbilikalis
persisten)

2.2 . Radang

Peradangan vena dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri ataupun parasit yang disebut
dengan keadaan Phlebitis akuta.

2.3 Trombosis Vena

Trombosis vena biasanya terjadi karena hambatan aliran pembuluh vena sehingga terjadi
trombus (pembekuan atau penggumpalan darah)

Keadaan trombosis disebabkan karena imobilitas (istirahat lama di tempat tidur; pada orang
sakit, keadaan pasca operasi, patah tulang ) dan keadaan gagal jantung.

Trombosis sering terjadi pada vena di kaki dan perut bagian bawah.
patogenesa

Reaksi berantai koagulasi merupakan urutan tahapan dari rangkaian reaksi yang
menghasilkan pembentukan benang fibrin. Benang fibrin dapat diaktifkan baik melalui jalur
ekstrinsik dan instrinsik. Jalur instrinsik diaktifasi ketika muatan negatif menempati
permukaan yang terpapar dengan faktor aktif yang d iinhibisi heparin yang aktif pada darah.
Jalur ekstrinsik di aktifasi ketika jaringan vaskular yang rusak melepaskan tromboplastin
jaringan. Protein plasmin fibrinolitik akan menguraikan benang fibrin menjadi larut dan
hasilnya di kenal sebagai produk urai fibrin.

Tiga komponen utama, yaitu vena statik, luka vaskular, dan hiperkoagulabilitas
berperan utama pada pembentukan trombus patogen. Vena statik melambatkan aliran darah
pada vena dalam pada kaki dihasilkan dari kerusakan katub vena dan hambatan pembuluh.
Luka pembuluh darah dihasilkan dari operasi besar orthopedik, luka berat, atau pengunaan
kateter vena.

Walaupun trombus dapat terbentuk pada manapun sirkulasi vena kebanyakan trombi
awalnya terbentuk pada bagian yang sangat rendah. Sekali terbentuk, trombus vena dapat:

Asimtomatik sisa

Lisis spontan

Hambatan sirkulasi vena

Propagasi ke vena proksimal

Emboli

Terapi

Pengobatan objektif TEV adalah untuk mencegah perkembangan EP dan gejala


pascatrombosis, untuk mengurangi morbilitas dan mortalitas dari kejadian akut, dan untuk
meminimalisir efek samping dan biaya pengobatan.
Terapi farmakologi

Warfarin

Natrium danaparoid

Natrium fondaparinuks

- Inhibitor trombin langsung, contoh: lepirudin, argatroban, bivalirudin, desirudin,


ximelagatran.

2.4 Varikosis / Varises

Keadaan dimana pembuluh vena menjadi berkelok-kelok dan tegang, terjadi karena katup vena
rusak sehingga darah dari vena di bagian proksimal yang terletak lebih dalam mendesak ke
vena sebelah distal yang terletak di superfisial.

3. PATOFISIOLOGI KELAINAN JANTUNG

Dekompensasi jantung (gagal jantung / congestive heart failure)

Terkompensasi;

Dekompensasi jantung secara anatomis dibedakan decompensasi jantung kiri dan kanan.

Menurut kelainan yang mendasari : Penyakit Jantung Iskemik, Penyakit Jantung hipertensif,
Penyakit Jantung Rematik, Penyakit Jantung Kongenital, Penyakit Jantung Pulmonal, dan
infeksi endokarditis.
Gagal Jantung

Gagal jantung ialah keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah
secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi darah tubuh ; sedangkan tekanan pengisian
ke dalam jantung masih cukup tinggi.

Menurut derajat dekompensasi dibedakan ringan / sedang dan berat.

fungsi jantung normal bila istirahat dan muncul gejala bila beraktivitas (berjalan,
bekerja).Dinyatakan ringan / sedang

Sedangakan dekompensasi berat gejala ada meskipun saat istirahat, posisi tidur setengah duduk
akan memperingan gejala.

Keadaan gagal jantung disebabkan:

1. kegagalan pemompaan, ketidakmampuan miokardium untuk berkontraksi sempurna.

2. Beban jantung meningkat akibat beban tahanan yang berlebihan, misal pada keadaan
hipertensi, bila berlanjut menyebabkan keadaan hipertrofi.

3. Beban jantung akibat volume darah meningkat, karena katup jantung tidak menutup
sempurna

Kelainan Jantung menurut kelainan yang mendasari

Penyakit Jantung Iskemik

Sering dijumpai khususnya masyarakat moderen, merupakan penyebab utama kematian.

Kelainan ini disebabkan keadaan aterosklerosis dan oclusive trombosis dari arteri coronaria.
Terapi

i. Inhibitor Ace
ii. Golongan -Bloker
iii. Diuretik
iv. Digoksin
v. Antagonis Aldosteron
vi. Reseptor Angiotensin II Bloker (ARB)
vii. Nitrat dan Hidralazin

Berdasar berat ringannya manifestasi klinis dibedakan menjadi :

- Angina Pektoris

Suatu kelainan ditandai nyeri dada luar biasa, mendadak akibat iskemia akut dari miokardium,
rasa nyeri bertambah bila jantung bekerja lebih berat, sedangkan keadaan yang meringankan
nyeri adalah istirahat dan pemberian obat yang melebarkan kembali pembuluh darah
(vasodilator).

- Infark Miokardium

Keadaan kematian otot jantung yang terjadi secara mendadak akibat oclusio trombosis
acoronaria.

nyeri dada mendadak dan berat (tidak hilang dengan istirahat), lemah, sesak nafas, kulit
membiru atau pucat dan dingin, dan tekanan darah menurun.

kematian. kegagalan jantung menahun aritmia kordis yang menahun

Penyakit Jantung Hipertensi

Tekanan darah yang selalu tinggi akan mengakibatkan tahanan pembuluh darah menjadi
meningkat. Keadaaan ini akan menyebabkan beban jantung menjadi meningkat, sehingga
jantung akan bekerja lebih keras, dimana bila proses berjalan terus dan lanjut maka akan terjadi
hipertrofi otot jantung.
Dibedakan terkompensasi dan dekompensasi, bila keadaan masih bisa menjalankan fungsinya
untuk memberi perfusi jaringan, maka disebut sebagai keadaan yang masih terkompensasi, dan
bila keadaan sebaliknya, disebut sebagai dekompensasi.

Penyakit Jantung Rematik

jantung(katub katub) kompleks antigen antibodi infeksi kuman di luar jantung Disebabkan
suatu reaksi imunologi

Penyakit Jantung Kongenital

Kelainan jantung bawaan

Secara anatomis kelainan bawaan yang sering dijumpai adalah Defek Septum Atriol (terdapat
lubang di dinding antar atrium), Defek Septum Ventrikel (terdapat lubang di dinding antar
ventrikel), dan Duktus Arteriosus Persisten.

Penyakit Jantung Pulmonal

Kelainan jantung akibat Kelainan Paru Sebelumnya

Penyakit Infeksi Endokarditis

Infeksi bakteri terjadi otot jantung


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang
berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Sistem kardiovaskuler merupakan
salah satu sistem utama yang ada pada organisme. Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk
mempertahankan kualitas dan kuantitas cairan yang ada di dalam tubuh agar tetap homeostatis.

Organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung sebagai alat pompa
utama, pembuluh darah, serta darah.

Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya di atas
dan puncaknya di bawah. Ukuran jantung kira-kira sebesar kepalan tangan. Pada wanita normal
berat jantung kira-kira 250-300 gram dan pada pria sekitar 300-350 gram. Jantung dibedakan
menjadi bagian kanan dan bagian kiri. Bagian kanan ada 2 ruang yaitu Atrium kanan dan
Ventrikel kanan. Bagian kiri ada 2 ruang yaitu Atrium kiri dan Ventrikel kiri.

Bagian-bagian pembuluh darah, terdiri dari :

Vena, merupakan embuluh vena dapat menampung darah dalam jumlah yang banyak
dengan tekanan yang relatif rendah, karena itu maka sistem vena disebut sistem
kapasitas.
Venula, berfungsi sebagai saluran pengumpul dengan dinding otot yang relatif lemah.
Arteri, adalah pembuluh darah yang mengangkut darah kaya O2
Arteriola, dinding arteriola terutama terdiri dari otot polos dengan sedikit serabut
elastis.
Kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus yang menghubungkan arteriola
dengan venula.
Penyakit-penyakit sistem kardiovaskular yang telah kami bahas diantaranya ialah :
penyakit jantung hipertensi, aritmia jantung, gagal jantung, sindrome koroner akut,
arterosklerosis, dan tromboemboli vena jantung.

Kebanyakan penyakit di atas disebabkan oleh gaya hidup yang salah. Selain itu, satu
penyakit sistem kardiovaskular yang timbul dapat menyebabkan komplikasi dan menimbulkan
penyakit sistem kardiovaskular lainnya.

Oleh karena disebabkan faktor yang sama, tatalaksana terapi yang diterapkanpun
hampir sama, baik terapi farmakologi maupun terapi non-farmakologinya.
DAFTAR PUSTAKA

Sylvia Anderson , Lorraine McCarty Wilson . Konsep Klinik Proses-proses penyakit Edisi 2
Bagian 1 Jakarta: EGC

Sylvia Anderson , Lorraine McCarty Wilson . Konsep Klinik Proses-proses penyakit Edisi 2
Bagian 2 Jakarta: EGC

INTERNET