Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan laporan hasil Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini, laporan ini
kami susun berdasarkan hasil KKL di Situ Lengkong Panjalu, yang telah
kami susun dan kami tambahkan dengan pengetahuan kami dan dari
berbagai sumber baik internet atau pun sumber lain. Laporan ini disusun
dan diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah “Ekologi
Hewan”.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih banyak


kekurangan-kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan
pengetahuan, waktu, serta sumber yang kami miliki. Oleh karena itu kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Akhirnya Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi


kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Ciamis, Juni 2010


Penyusun,

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB I...................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN...................................................................................................... 2
BAB II .................................................................................................................... 6
ANALISIS DAN PEMBAHASAN.................................................................................6
BAB III.................................................................................................................. 23
PENUTUP.............................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 24

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

2
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara
organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari
kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup
maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah
ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834-1914).
Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau
sistem dengan lingkungannya. (Hutagalung. 2010)
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem
dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan
biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan
topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri
dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan. (Hutagalung. 2010)
Salah satu contoh ekosistem yaitu kawasan hutan Pulau Nusa
Gede dengan Luas kurang lebih 16 ha yang terletak di situ (danau),
yaitu Situ Lengkong Panjalu berada di Desa/Kecamatan Panjalu
Kabupaten Ciamis yang telah ditetapkan sebagai Cagar Alam
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda
(Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie)
pada tanggal 21 February 1919 Nomor 6 (Staatsblad No.90). 2(dua)
Tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 November 1921 diterbitkan
dalam surat keputusan yang sama ditetapkan bahwa Pulau Nusa
Gede (Island), selajutnya diberi nama "Pulau Kooders" dan Cagar
Alamnya "Cagar Alam Kooders".(Indra Mulyana.2009)
Keadaan Vegetasi didalam Cagar Alam ini cukup
beranekaragam jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer
yang masih utuh dengan tumbuhan yang didominasi diantaranya :
Kihaji (Dysaxilum), Kondang (Ficus Variegata), Huru (Litsea sp),
Kiara (Ficus sp), Kileho (Sauraula sp), Bungur (Lagerstromia sp),
sedangkan tumbuhan bawah diantaranya : Rotan (Calamus sp),
Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp). (Indra Mulyana.2009)
Satwa Liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong
(Pteropus Vampyrus), Biawak (Varanus Salvator) dan juga dapat
ditemukan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus
scops), Elang (Haliastur Indus), Raja Udang (Halcion chlors) dan
Walik (Treron Griccipilla). (Indra Mulyana.2009)

B. Identifikasi Masalah

3
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ


Lengkong?
2. Bagaimana Estimasi Populasi Hewan Tanah ?
3. Bagaimana faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ
Lengkong?
4. Bagaimana Estimasi Populasi Kalong ?
5. Bagamana cara memetakan Situ lengkong?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan


penyusunan laporan KKL ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ


Lengkong
2. Mengetahui Estimasi Populasi Hewan Tanah
3. Mengetahui faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ
Lengkong
4. Mengetahui Estimasi Populasi Kalong
5. Mengetahui Pemetaan Situ Lengkong

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah :

a. Studi Pustaka yaitu mencari informasi dari berbagai referensi


buku dan internet
b. Pengamatan (observasi), yaitu teknik pengumpulan data
melalui pengamatan langsung kepada obyek penelitian. Menurut
Soeratno & Lincolin Arsyad (1993) dalam (ahmad 2009),
pengamatan atau observasi merupakan “cara pengumpulan data
dengan jalan melakukan pencatatan secara cermat dan
sistematik”. Teknik observasi biasanya dilakukan bersamaan
dengan teknik lain untuk mengamati keadaan fisik, lokasi atau
daerah penelitian secara sepintas lalu (on the spot) dan dengan
melakukan pencatatan seperlunya (ahmad, 2009),
c. Wawancara (interview), yaitu teknik pengumpulan data yang
dilakukan melalui tatap muka dan wawancara antara pengumpul
data (pencacat) dengan responden. Wawancara dilakukan secara
langsung menanyakan dan mencatat data yang diperoleh dari
responden

4
E. Sistematika Penulisan

Agar data tersusun secara sistematis maka laporan ini disusun


dengan susunan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penelitian
E. Sistematika Penulisan
BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong
B. Estimasi Populasi Hewan Tanah
C. Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong
D. Estimasi Populasi Kalong
E. Pemetaan Situ Lengkong

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran

5
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Faktor Abiotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ Lengkong

1. Judul Praktikum : Penentuan Faktor Abiotik


2. Tujuan : mengetahui dan mengukur Faktor Abiotik Ekosistem
Terestrial Situ Lengkong
3. Alat dan Bahan

Alat

• Fotometer
• Termometer
• Higrometer
• Epavorimeter
• Anemometer/bendera
• Cawan petri
• Gelas Aqua
• Cangkul.
Bahan
• Formalin
• Sabun colek
• Air

4. Cara kerja
• Hari pertama praktikum dimulai dengan pemasangan patok di
12 titik di sekitar Situ Lengkong pada sore hari.
• Pada setiap patok diberi perlakuan :
o Di tempat terdapat patok di simpan cawan petri yang berisi air
sebanyak 0,75 bagian.
o Gelas aqua di kubur sampai batas permukaan dan bagian
dalamnya dibiarkan tidak terkubur, kemudian bagian dalmnya
diolesi sabun dan dimasukan formalin sebanyak 5 ml
bertujuan sebagai trap hewan yang berada di tempat patok
o Mengukur suhu dengan termometer.
o Mengukur kelembaban udara dengan higrometer

6
o Mengukur arah angin dengan bendera
o Mencatat hasil sementara.
• Pada esok harinya tepat jam 06.00 berangkat kembali
menglilingi danau untuk mengamati alat-alat yang telah
dipasang pada setiap patok dan memberi perlakuan pada setiap
patok sebagai berikut :
o Mengukur air yang berada pada cawan petri
o Mencatat hewan yang terjebak pada trap
o Mengukur suhu disekutar patok
o Mengukur kelembaban udara
o Mengukur arah angin
o Mengamati juga ke
5. Hasil Kerja

Tabel 2.1 Data hasil Keja Penelusuran Daratan

Lokasi/Patok
Faktor Abiotik
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Faktor Iklim Mikro
a. Intensitas
Cahaya
b. Temperatur 22o 22o 21o 22o 21o 21,5o 21,5o 23,5o 22o 22o 23o 23o
o
C
c. Kelembaban
21% 21% 21% 21% 21% 21% 21% 21% 21% 21% 21% 21%
Relatif
d. Evaporasi - - 0,00 0,02 0,00 0,03 0,01 - - - 0,01 -
8 3 8 6 9 9
e. Arah angin BD T S B BD BD BD BL B B BL B
f. Curah hujan
Faktor Geografis
a. Topografi Datar
b. Ketinggian
c. Kemiringan 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o 0,1o
Faktor Edafhis
a. Jenis Andosol
b. Tekstur Remah
c. Struktur Remah
d. Temperatur 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o 30o
e. Kelembaban
f. Ketersediaan
air
g. Keasaman 4 6 4 5 5 5 5 5 5 5 6 5
h. Kadar
seyawa
Organik
i. Ketebalan
serasah
j. Ketebalan
humus

6. Analisis dan Pembahasan


a. Cahaya

7
Cahaya matahari merupakan gelombang elektromagnit
yang disamping membawa energi cahaya juga membawa
energi panas. Penangkapan energi matahari melalui
fotosintesis sangat fundamental bagi kehidupan ekosistem.
Aspek cahaya yang penting antara lain adalah intensitas
cahaya (lux, footcandle, watt. m-2, nmol photon.m-2. s-1),
kualitas cahaya (bergantung pada panjang gelombang cahaya)
dan lama penyinaran (fotoperiode). Intensitas cahaya diukur
dengan fotometer, luxmeter atau light meter. (Eming dan Dadi.
2010)
Catatan : Karena alat yang di butuhkan tidak terdapat
maka kami tidak bisa mengukur intensitas cahaya di Situ
Lengkong.
b. Temperatur
Temperatur atau suhu merupakan faktor pembatas bagi
kehidupan ekosistem. Laju metabolisme organisme poikilotrem
sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Ada interaksi negatif
antara suhu dan ketinggian tempat (altitude) dan posisi garis
lintang (latitude). Suhu diukur dengan termometer dengan °C,
°F dan oK. (Eming dan Dadi. 2010)
Kelembaban udara sering diukur dengan nilai relatifnya,
yaitu kelembaban relatif udara (relative humidity/HR),
menggambarkan perbandingan antara tekanan uap air pada
saat itu dengan uap air jenuh pada suhu yang sama.
Kelembaban relatif udara (%) diukur dengan higrometer,
psikometer berdasarkan pembacaan suhu kering dan suhu
basah. (Eming dan Dadi. 2010)
Suhu dan kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman
spesies (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993 dalam Dony 2010).
Untuk kelaembaban di sekitar Situ lengkong berkisar
antara 21-27% hewan dan tumbuhan yang hidup di daerah Situ
Lengkong cukup beraneka ragam, misalnya berbagai jenis ikan
air tawar, ular, biawak, elang, kalong, dan banyak satwa
lainnya, serta di jumpai juga berbagai jenis tanaman hias,
tanaman yang besar seperti kelapa, palm, kihaji dan banyak
lagi

c. Evaporasi
Uap air yang terukur dalam nilai kelembaban relatif udara
terpengaruh oleh perubahan air dari fasa cair ke fasa gas. Nilai
evaporasi menggunakan kemampuan udara menguapkan
sejumlah air pada selang waktu tertentu. Banyak faktor yang

8
mempengaruhi penguapan air pada suatu tempat, misalnya
suhu, RH, angin dan sebagainya. Besarnya air yang diuapkan
dapat diukur dengan evaporimeter atau metoda gravimetri.
Dalam praktikum ini akan digunakan metoda gravimetri. Cawan
petri diisi air setinggi 0,75 bagian, ditimbang (a gram),
kemudian dibiarkan di suatu tempat sehingga air menguap
selama 1 jam dan segera ditimbang lagi (b gram), jika luas
permukaan cawan adalah L cm2, maka evaporasi di tempat
tersebut dapat dihitung dengan rumus: Evaporasi (g.cm-2. J-
1
)=(a-b). L-1 . t-1)

B.Estimasi Populasi Hewan Tanah


1. Judul Praktikum : Estimasi populasi hewan tanah
2. Tujuan
1. Mengetahui struktur dan komposisi fauna aktif di
permukaan tanah pada daerah berkanopi dan tidak berkanopi.
2. Mengetahui pengaruh faktor lingkungan di dua lokasi
terhadap kelimpahan masing-masing kelompok taksa hewan
tanah yang ditemukan.
3. Alat dan Bahan
Alat :
• Gelas aqua
• Ram kawat
• Cangkul
Bahan :
• Formali
• Deterjen

4. CARA KERJA
a. Di setiap lokasi yang telah ditentukan, pasangkan dua botol
jebakan, dengan cara :
- Tanah dilubangi dengan cangkul setinggi dan sebesar botol
gelas aqua
- Botol ditanam dalam lubang tersebut
- Permukaan tanah harus tepat sama dengan permukaan bibir
botol
- Isi botol dengan larutan formalin 4 % setinggi 1,5 s/d 2 cm
dan teteskan sedikit larutan deterjen, jangan sampai tanah
masuk ke botol
- Pasang pelindung jebakan agar tidak ada sampah dan air yang
masuk.
b. Setelah 12 jam , ambil botol dn seluruh isinya dituangkan ke
botol sampel, tutup dan beri label.

9
c. Identifikasi hewan yang terjebak dalam botol

5. DATA HASIL PENGAMATAN

Tabel 2.2 Estimasi Populasi Hewan Tanah

Nama Lokasi penelitian


∑ f k fr
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Spesies
4 5 0,33
=0.3 x10 x10
12 5 0,49
Semut 0 0 1 1 0 2 1 0 0 0 0 0 5
3 0 0

= 100 = 67,3
1 1 0,08
=0.0 x10 x10
Kumban 12 5 0,49
0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
g 8 0 0

= 20 = 16,3
1 1 0,08
=0.0 x10 x10
12 5 0,49
Cacing 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1
8 0 0

= 20 = 16,3
Jumlah 7 0,49 140 100

Lanjutan tabel 2.2...

Nama
kr N Pi Ln Pi H’ J
Spesies
Semut 100 67,3 +
x10 5
140 =0,0
71,3 138 ,6 - 3,32 - 0,339 0,328
0
= 138,6 36
= 71,3
Kumbang 20 16,3 + 1 - 3,41 - 0,348 0,336
x10 =0,0
140 138 ,6
14,3
0 33
= 30,6

10
= 14,3
Cacing 20 16,3 +
x10 1
140 =0,0
14,3 138 ,6 - 3,41 - 0,348 0,336
0
= 30,6 33
= 14,3
Jumlah 100 199,8 -
0,102 -1,035 1,00
10,14

C. Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong

1. Judul : Penentuan Faktor Abiotik dan Biotik Situ lengkong


2. Tujuan Praktikum : mengetahui dan mengukur Faktor
Abiotik Ekosistem Perairan Situ Lengkong
3. Alat yang diperlukan
• Termometer
• Secchi Disc
• Bola Kasur
• Volumemeter
• Tongkat
• Meteran
• Stopwatch
• PH meter
• Pelampung (bisa diganti Botol minuman)
• Heurap
4. Cara Kerja

a. Mengukur Suhu Air


Mengambil sampel air dari 4 titik yaitu arah utara, selatan,
timur, dan barat, dan masing masing titik tersebut di ambil 3
sampel yaitu dipermukaan air, di tengah dan di dasar.
pengukuran dapat digunakan dengan menggunakan alat yaitu
botol minuman diikatkan pada tongkat
Masukan termometer pada botol tersebut kemudian
tenggelamkan kedalam air dampai gelembung udaranya hilang
biarkan selama 5 menit dengan asumsi bahwa selama 5 menit
tersebut suhu dalam botol sama dengan suhu luar.

11
Alat yang digunakan adalah termometer air raksa, dengan
cara termometer ditenggelamkan dalam air dengan seutas tali
kemudian dibiarkan sampai air raksa tidak bergerak (± 5 menit).
Kemudian baca nilai pada tetmometer terebut

b. Mengukur Kecerahan Air


Alat yang digunakan adalah Secchi Disc. Pengukuran
kecerahan dilakukan dengan memasukkan Secchi disc melalui
seutas tali ke dalam perairan sampai warna hitam-putih dari
Secchi disc tidak kelihatan. Jarak antara jari yang memegang tali
(tepat di permukaan air) dengan Secchi disc pada saat hilangnya
warna tersebut merupakan kecerahan perairan tersebut
kemudian setelah secchi disk tidak keliatan tahan dan ukurlah
panjang tali dengan menggunakan meteran. Hasil pengukuran
dapat diklasifikasikan berikut:
• Perairan berkecerahan baik : lebih dari 60 cm
• Perairan berkecerahan sedang : kurang lebih 30 cm
• Perairan berkecerahan buruk : kurang dari 10 cm.

c. Kedalaman Air
Pengukuran kedalaman suatu perairan dapat dilakukan
dengan memasukkan tongkat atau tali (yang diberi pemberat)
ke dalam perairan sampai tongkat tersebut mencapai dasar
kemudaian mengukur tali atau tongkat tersebut dengan meteran

d.Kecepatan Arus (Aliran Air)


Lepaskan pelampung pada suatu titik yang telah
ditentukan. Pada saat pelampung dilepas ke dalam perairan.
Pada saat itu pula tekan tombol start pada stopwatch. Setelah
jarak tertentu matikan stopwatch. Lalu ukur jarak dan waktu
yang telah ditempuh. Ulangi pekerjaan ini 3 sampai 4 kali, dan
hasilnya dirata-ratakan. Kecepatan aliran air dinyatakan dalam
jarak per waktu (misal meter/detik, km/jam).

e. Pengukuran pH

12
Mengambil sampel air dari 4 titik yaitu arah utara, selatan,
timur, dan barat, dan masing masing titik tersebut di ambil 3
sampel yaitu dipermukaan air, di tengah dan di dasar.
pengukuran dapat digunakan dengan menggunakan alat yaitu
volumeter yang telah dimodivikasi dengan penutup karet dan di
beri benang dan diikatkan pada tongkat
Masukan alat tersebut ke dalam air, alat ini digunakan
untuk mengambil sampel air di tengah dan di dasar perairan.
Pengukuran pH perairan dapat dilakukan dengan pH meter
portabel. Sebelum digunakan, alat ini harus dikalibrasi yaitu
dengan memasukkan pH probe ke dalam larutan buffer (pH - 7)
dan apabila belum menunjukkan angka 7 aturlah pH meter
untuk membaca pH 7. Cucilah probe dengan akuades, lap
dengan tissue dan kemudian masukkan probe ke dalam larutan
buffer (pH = 4) dan aturlah pH meter untuk dapat membaca pH
4. Cucilah probe dengan akuades dan setelah dikeringkan
dengan tissue kemudian masukkan ke dalam sampel air.
Bacalah pH nya dan cucilah probe dengan akuades sebelum
digunakan untuk mengukur sampel yang lain. Cara pengukuran
yang lain dengan menggunakan kertas pH yang kemudian
dibandingkan dengan pH standar,
f. Mengetahui Komponen Biotik
Alat yang di gunakan adalah heurap, mengambil sampel di
titik yang digunakan untuk mengambil sampel faktor abiotik,
yaitu di titik utara, selatan, timur, dan barat. Tiap titik tersebut di
bagi menjadi tiga titik yaitu dekat nusa, antara nusa dan daratan
dan dekat daratan, tiga titik tersebut di bagi menjadi tiga lagi
yaitu permukaan air, tengah perairan, dan dasar perairan

13
5. Hasil Kerja

Tabel 2.3 Hasil Kerja Perairan Pada Sore hari

Suhu oC PH
Keceraha Kecepat Kedalam
Lokasi Waktu Ata Tenga Dasar Biotik Ata Ten Dasa
n Air an Arus an
s h s gah r
Selatan
30+62=46
Pinggir 1425 27 26,5 25 - 5 5 6 0,15 m/s 1,65 m
2
24+57=40
,5
Tengah 14.50 27 21 21 - 5 5 5 0,09 m/s 3,80 m

2
26+67=46
,5 Ikan
Dekat Nusa 15.10 27 27 26 5 5 5 0,03 m/s 1,52 m
Mujair
2
Timur
28+62=45
Pinggir 15.40 27 26 26 Betok 5 5 5 0,05 m/s 1,42 m
2
27+71=49
Tengah 15.40 27 26 25 Peril 3 5 5 5 0,11 m/s 3,30 m
2
20+53=36
,5
Dekat Nusa 15.30 27 26 26 - 5 6 6 0,07 m/s 1,05 m

2
Utara
24+58=29
Pinggir 16.50 27 25 25 Betok 5 5 5 0,14 m/s 0,90 m
2
45+63=54
Ikan
Tengah 17.05 27 26 26 5 5 5 0,20 m/s 2,35 m
Mujair
2
30+67=48
,5 Keong
Dekat Nusa 17.00 27 26,5 26 5 5 5 1,90 m/s 1,90 m
4
2
Barat
30+67=48
,5
Pinggir 17.28 28 27 27 - 5 5 5 0,05 m/s 1,40 m

2
30+67=48
,5
Tengah 17.33 28 27 27,5 - 5 5 5 0,11 m/s 2,40 m

2
30+67=48
,5
Dekat Nusa 17.40 28 26 26,5 - 5 5 5 0,04 m/s 1,30 m

14
Tabel 2.4 Hasil Kerja Perairan Pada Pagi hari

Suhu oC PH
Ata Tenga Bawah Kecerahan Ata Ten Ba Kecepat Kedalam
Lokasi Waktu Biotik
s h Air s gah wa an Arus an
h
Selatan
30+62=46
Pinggir 06.30 26 25,5 25,5 - 5 5 5 0,26 m/s 1,59 m
2
24+57=40,5
Tengah 06.42 26 26 26 - 6 6 6 0,16 m/s 2,59 m
2
26+67=46,5
Ikan
Dekat Nusa 06.50 26 26 26 5 5 5 0,17 m/s 1,70 m
Mujair
2
Timur
28+62=45
Pinggir 07.15 26 26 26 - 6 6 6 0,11 m/s 1,10 m
2
27+71=49
Tengah 07.25 26 26 26 - 6 6 6 0,21 m/s 2,59 m
2
20+53=36,5
Ikan
Dekat Nusa 07.37 26 26 26 6 6 6 0,08 m/s 0,93 m
Mujair
2
Utara
24+58=29
Pinggir 08.00 25 25 25 6 6 6 0,11 m/s 0,80 m
2
45+63=54
Ikan
Tengah 07.50 26 26 26 6 6 6 0,22 m/s 2,25 m
Mujair
2
30+67=48,5
Dekat Nusa 07.40 26 26 26 6 6 6 0,11 m/s 1,80 m
2
Barat
Pinggir 08.33 26 26 26 30+67=48,5 Biawak, 6 6 6 0,12 m/s 1,40 m

15
2
ular
30+67=48,5
Tengah 08.25 26 26 26 6 6 6 0,12 m/s 2,30 m
2
30+67=48,5
Dekat Nusa 08.15 26 26 26 6 6 6 0,07 m/s 1,20 m
2

6. Analisis dan Pembahasan

D.Estimasi Populasi Kalong

1. Judul : Estimasi Populasi Kalong


2. Tujuan Praktikum : Mengestimasi Populasi Kalong di Situ
Lengkong
3. Alat yang diperlukan
• Tally Counter
• Alat Tulis
• Kompas
• Patok
4. Cara Kerja
• Pemasangan patok di empat arah dengan titik pusat nusa, yaitu
di sebelah utara, selatan, timur, dan barat. Di tiap titik di
siagakan 4 orang anggota untuk menghitung keluar dan
masuknya kalong.

16
• Kalong diperkirakan pukul 16.30 waktu setempat akan keluar
mencari makan, jadi para penghitung disiagakan, sampai terlihat
tidak ada lagi kalong yang keluar
• Kemudian menghitung setiap kalong yang keluar selang waktu 5
menit dan mencatatnya
• Kemudian esok harinya para penghitung kembali harus siaga di
4 titik yang telah di tentukan penghitungan di mulai pada pukul
05.00 Waktu setempat. sampai terlihat tidak ada lagi kalong
yang masuk

5. Hasil Kerja

Tabel Hasil Pengamatan Kalong

Di Sekitar Situ Lengkong (Sore Hari)

Lokasi
No Waktu / Menit
Selatan Timur Utara Barat
Mulai Pukul
05.00
1 5
2 10

17
3 15
4 20
5 25
6 30
7 35
8 40
9 45 3
10 50 145 15
11 55 418 101
12 60 593 709
13 65 11 15 193 333
14 70 40 5 714 2
15 75 46 2 319
16 80 49 858
17 85 49 113
18 90 49
19 95 49
20 100 49
21 105 50
22 110
23 115
24 120
25 125
26 130
27 135
28 140
29 145
30 150
Jumlah 392 1181 2197 1160

Total keseluruhan yang terhitung adalah 4930

Tabel Hasil Pengamatan Kalong

18
Di Sekitar Situ Lengkong (Pagi Hari)

Lokasi
No Waktu / Menit
Selatan Timur Utara Barat
Mulai Pukul
05.00
1 5 2
2 10 2 -
3 15 - -
4 20 - 1
5 25 4 1
6 30 8 2 2
7 35 18 - -
8 40 22 1 - 11
9 45 31 5 6 23
10 50 38 34 13 81
11 55 49 21 99 218
12 60 54 31 29 260
13 65 55 44 441 253
14 70 19 42 814 157
15 75 19 367 169 107
16 80 704 859 683
17 85 161 216 394
18 90 48 336 657
19 95 25 50 251
20 100 142 7
21 105 25 -
22 110 - -
23 115 - -
24 120 - -
25 125 - 685
26 130 1791 4
27 135 1713
28 140
29 145
30 150
Jumlah 319 1483 6705 3797

Total keseluruhan yang terhitung adalah 12304

19
E. Pemetaan Situ Lengkong

1. Judul : Pemetaan Situ Lengkong


2. Tujuan Praktikum : Membuat Peta situ Lengkong
3. Alat yang diperlukan
• Kertas Corak catur
• Kompas Bidik
• Tali Ukuran 20 m
• Busur
4. Cara Kerja
• Menentukan titik pengamatan pertama
• Kelompok kerja di bagi menjadi dua kelompok, kelompok 1
berjalan mengitari danau searah jarum jam, kelompok kedua
berjalan berlawanan jarum jam.
• Gunakan tali sepanjang 20 m dari titik pertama ke titik kedua,
pada titik kedua gunakan kompas bidik untuk mengukur derajat
penyimpangan dari kutub utara begitu seterusnya
• Catat derajat yang tertera pada kompas bidik
• Gambarkan setiap titik yang telah di hitung pada kertas corak
catur dengan menggunakan skala 1 : 40

20
5. Hasil Kerja

Tabel Titik Sudut


Titi Titi Titi Titi Titi Titi
Deraj Deraj Deraj Deraj Deraj Deraj
k k k k k k
at at at at at at
Ke Ke Ke Ke Ke Ke
1 25 44 46 87 28 130 12 173 83 216 97
2 171 45 47 88 27 131 14 174 60 217 118
3 14 46 46 89 28 132 18 175 43 218 143
4 17 47 45 90 25 133 19 176 11 219 140
5 20 48 47 91 25 134 20 177 51 220 130
6 21 49 49 92 39 135 15 178 83 221 97
7 26 50 41 93 51 136 10 179 85 222 50
8 27 51 36 94 52 137 9 180 85 223 30
9 26 52 36 95 52 138 10 181 80 224 51
10 27 53 37 96 53 139 9 182 75 225 62
11 30 54 36 97 56 140 9 183 68 226 75
12 28 55 42 98 55 141 14 184 59 227 75
13 29 56 46 99 53 142 5 185 74 228 80
14 30 57 47 100 50 143 16 186 95 229 80
15 29 58 46 101 51 144 14 187 105 230 87
16 20 59 48 102 55 145 13 188 219 231 85
17 26 60 48 103 59 146 11 189 180 232 91
18 21 61 47 104 58 147 12 190 186 233 97
19 19 62 47 105 53 148 20 191 152 234 100
20 21 63 48 106 46 149 6 192 130 235 25
21 24 64 40 107 46 150 4 193 95 236 3
22 23 65 39 108 45 151 1 194 63 237 97
23 23 66 39 109 44 152 0 195 40 238 118
24 28 67 39 110 42 153 0 196 23 239 143
25 30 68 36 111 45 154 61 197 6 240 140
26 32 69 37 112 47 155 59 198 3 241 130
27 32 70 41 113 43 156 58 199 11 242 97
28 24 71 40 114 42 157 58 200 20 243 50
29 36 72 42 115 50 158 57 201 17 244 30
30 41 73 50 116 51 159 54 202 15 245 51
31 40 74 52 117 48 160 50 203 23 246 62
32 38 75 52 118 46 161 47 204 33 225 75
33 38 76 51 119 45 162 48 205 28 226 75

21
34 38 77 51 120 45 163 47 206 20 227 80
35 38 78 49 121 50 164 46 207 355 228 80
36 37 79 52 122 55 165 47 208 353 229 87
37 38 80 53 123 52 166 48 209 343 230 85
38 39 81 54 124 2 167 48 210 312 231 91
39 42 82 50 125 2 168 265 211 315 232 97
40 46 83 48 126 16 169 253 212 325 233 100
41 47 84 37 127 11 170 315 213 0 234 25
42 47 85 36 128 10 171 51 214 20 235 3
43 47 86 31 129 9 172 80 215 56 236 97

Tabel Titik Sudut


Titik Ke Derajat
237 337
238 20
239 214
240 219
241 130
242 135
243 143
244 152
245 152
246 125

Untuk Peta Lengkap Lihat Lampiran 1

22
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan

Faktor Abiotik dan Biotik Ekosistem Terestrial (daratan) Situ


Lengkong sangat berhubungan erat, apabila faktor Abiotik tersebut
mendukung habitat hidup faktor biotik maka akan berpengaruh
terhadap enyebaran populasi baik itu di daratan maupun perairan.

Pada Estimasi populasi kalong hasil yang diperoleh dipengaruhi


oleh tingkat ketelitian menghitung, sudut pandang penghitungan.
Hasil perhitungan kalong pada waktu sore (kalong Keluar Situ
lengkong) hari lebih sedikit dibandingkan hasil perhitungan pada pagi
hari (kalong yang masuk) hal ini dimungkinkan karena adanya kalong
yang keluar pada malam hari.

B.Saran
1. Alat dan bahan yang diperlukan tidak semua tersedia, jadi
untuk kedepan harus dipersiapkan sebaik-baiknya.
2. Untuk mempergunakan peralatan harus dikalibrasikan lebih
dahulu agar data yang dihasilkan lebih valid.
3. Pendamping lapangan diutamakan yang lebih menguasai
keilmuan tentang teknis lapangan praktikum.
4. Alokasi waktu praktikum kurang.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. Evaporasi. tersedia


http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan akses/online 26 Juni 2010
Dadi, & Sudiana, Eming. 2010. Penuntun Praktikum Ekologi. Ciamis :
modul tidak diterbitkan.
Dony. 2010. Komponen Biotik dan Abiotik Lingkungan Mangrove. Tersedia
http://dony.blog.uns.ac.id/2010/05/31/komponen-biotik-dan-abiotik-
lingkungan-mangrove/ akses/online 26 Juni 2010
Hutagalung RA. 2010. Ekologi. Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi
akses/online 26 Juni 2010
Mulyana, Indra. 2010. Situ Lengkong Panjalu (Cagar Alam Kooders).
tersedia http://www.wisataciamis.com/2009/08/situ-lengkong-
panjalu-cagar-alam.html akses/online 26 Juni 2010
Vicy Widuri. 2010. Ekosistem. tersedia
http://www.authorstream.com/Presentation/VICKYwiduri-390803-
ekosistem-biologi-vicky-chintia-widuri-0901145120-education-ppt-
powerpoint/ akses/online 26 Juni 2010

24