Anda di halaman 1dari 5

1.

IRDA AYU ASTINA

NAMA : IRDA AYU ASTINA

NPM : 2012 41 094

TUGAS : ASKEB IV (PATOLOGI)

Seorang perempuan berusia 32tahun datang ke RS dalam keadaan kejang dengan usia kehamilan
34minggu. Pemeriksaan TD 130/100mmhg, nadi dan pernafasan sangat cepat, terjadi hiperrefleksi
pada ektremita. TFU pertengahan pusat dan prossesus xipoideus. Djj ada, proteinuria 2++, tidak
oedema.

1) Pengkajian data
A. Data subjektif
Ibu mengatakan usianya 32tahun
Ibu mengatakan ini kehamilanbnya yang kedua
Ibu mengatakan bahwa ia mengalami kejang
Ibu mengatakan usia kehamilannya 34 minggu
B. Data objektif
KU ibu tidak baik
TTV :
TD: 130/100 mmHg
N : 95x/menit
S : 36c
P : 28x/menit
Mata : conjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik
Muka : tidak oedema
Leopold :
L1 : TFU pertengahan pusat dan prossesus xipoideus, pada bagian
fundus uteri teraba bagian lunak, besar dan tidak melenting
L2 : pada bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian kecil janin,
pada bagian kiri terasa tahanan memanjang dari atas ke bawah
L3 : pada bagian bawah perut ibu, teraba bagian keras, bundar, dan
melenting
L4 : tidak dilakukan
Auskultasi
Frekuensi : 140x/menit
Irama : teratur
Kekuatan : kuat
Perkusi : dalam batas normal
Pemeriksaaan penunjang
Hb : 10gr%
Protein urine : (++)
Glukosa urine : (-)
2) Ibu hamil G2 P1 A0 Ah1 usia kehamilan 34-35 minggu, janin tunggal hidup intrauterin, puki,
preskep, keadaan jalan lahir normal, KU ibu dan janin tidak baik dengan eklamsi
3) Tindakan segera
2. IRDA AYU ASTINA

Membaringkan pasien pada posisi miring kiri


Bila keadaan ibu tidak membaik segera rujuk
4) Asuhan yang diberikan :
Memberitahu keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan
Melindungi pasien dari kemungkinan trauma dengan mengikat pasien tetapi jangan
di ikat terlalu kuat
Memberitahu keluarga pasien bahwa akan di pasang infuse RL(rigen laktat)
Memberitahu keluarga pasien bahwa pasien akan di berikan obat anti kejang berupa
MgSO4 dengan syarat pemberian
Frekuensi pernafasan minimal 16x/menit
Reflex patella positif
Urin minimal 30ml/jam dalam 4jam terakhir atau 0,5 ml/kgBB/jam
Menyiapkan ampul KalsiumGlukonas 10% dan 10ml
Memberitahu keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan oksigen 4-6 liter/menit
Menbaringkan posisi pasien ke sebelah kiri untuk mengurangi resiko aspirasi
Memberitahu keluarga pasien akan dilakukan rujukan ke pasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih tinggi
5) Pemeriksaan penujang
Hb : 10 gr%
Protein urine : (++)
Glukosa urine : (-)
3. IRDA AYU ASTINA

Preeklamsia dan Eklamsia


Penanganan Umum
Segera rawat penderita dan lakukan pemeriksaan klinis terhadap keadaan umum, sambil
mencari tahu riwayat kesehatan sekarang dan terdahulu pasien atau keluarganya. Jika pasien
tidak bernafas, bebaskan jalan nafas, berikan O2 dengan sungkup dan lakukan intubasi jika
perlu. Jika pasien kehilangan kesadaran/koma, bebaskan jalan nafas, baringkan pada satu sisi,
ukur suhu dan periksa apakah ada kaku kuduk.

Jika pasien kejang (eklamsia)


Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi
kemungkinan aspirasi sekret, muntahan atau darah, bebaskan jalan nafas. Pasang spatel lidah,
untuk menghindari tergigitnya lidah. Fiksasi untuk menghindari pasien jatuh dari tempat
tidur.

Peeklampsia berat dan Eklampsia


Penanganan preeklampsia berat dan eklamsia sama, kecuali persalinan harus berlangsung
dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.

Penanganan kejang :
Beri obat kejang (antikonvulsan).
Perlangkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, pengisap lender, masker oksigen
dan oksigen).
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma.
Aspirasi mulut dan tenggorokan.
Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi tradelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi.
Berikan O2 4-6 liter/menit.
Penanganan umum
Jika tekanan diastolik>110mmHg, berikan obat anti hipertensi sampai tekanan diastolik
antara 90-100mm/Hg. Pasang infus ringer laktat dengan jarum besar nomor 16 atau
lebih. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload. Kateterisasi urin
untuk mengukur volum dan pemeriksaan proteinuria. Infus cairan dipertahankan 1,5-2
liter/24 jam.

Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan


kematian ibu dan janin. Observasi tanda vital, reflex dan denyut jantung janin setiap 1
jam. Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan
tanda-tanda edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan
diuretic (misalnya furosemid 40 mg IV). Nilai pembekuan darah dengan uji
pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan terjadi
koagulopati.

Persalinan
Pada preeklamsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam. Sedangkan pada
eklamsia, persalinan harus terjadi dalam 6 jam sejak eklamsia timbul. Jika terjadi gawat
janin atau persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam (pada eklamsia), lakukan operasi
Caesar. Jika bedah akan dilakukan, beberapa hal harus diperhatikan :

Tidak terdapat koagulopati. Koagulopati berkontraindikasi dengan anestesi spinal.


Anestesi yang aman/terpilih adalah anestesi umum untuk eklamsia dan spinal untuk
PEB. Dilakukan anestesi lokal bila risiko anestesi terlalu tinggi.
4. IRDA AYU ASTINA

Jika serviks telah mengalami pematangan, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IU
dalam dextrose 10 tetes/menit atau dengan cara pemberian prostaglandin/misoprostol.
Perawatan Post Partum
Antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam post partum atau kejang yang terakhir. Teruskan
terapi hipertensi, jika tekanan diastolik masih > 90 mmHg. Lakukan pemantauan jumlah urin.

Pada kasus preeklampsia berat, di masa setelah kelahiran dapat terjadi eklampsia. Dilaporkan
lebih dari 44% eklamsia dapat terjadi, terutama pada wanita yang melahirkan pada usia
kehamilan aterm. Wanita yang timbul hipertensi atau gejala preeklamsia setelah kehamilan
(sakit kepala, gangguan penglihatan, mual dan muntah, nyeri epigastrum), sebaiknya dirujuk
ke spesialis.

Wanita dengan kelahiran yang disertai preeklampsia berat (atau eklampsia), sebaiknya
dilakukan pemantauan dengan optimal pasca melahirkan. Dilaporkan dapat terjadi eklampsia
setelah minggu ke-4.

Terapi anti-hipertensi sebaiknya tetap dilanjutkan pasca kehamilan. Walau pada awalnya
tekanan darah turun, biasanya akan kembali naik kurang lebih 24 jam setelah kehamilan.
Pengurangan terapi anti-hipertensi, sebaiknya dilakukan secara berjenjang.

Kortikosteroid digunakan pada pasien dengan sindrom HELLP. Hasil penelitian terbaru
memperkirakan, corticosteroid dapat memicu perbaikan gangguan biokimia dan menatology
secara cepat. Tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan kortikosteroid dapat menurunkan
morbiditas.

Rujukan
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap jika :
Terdapat oliguria (<400ml/24 jam).
Terdapat sindrom HELLP.
Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang.
Antikonvulsan
Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada
preeklamsia dan eklamsia. Alternative lain adalah diazepam dengan risiko terjadinya
depresi neonatal.

Magnesium sulfat untuk preeklamsia dan eklamsia :


1. Dosis awal adalah 4 gram intravena sebagai larutan 40% selama 5 menit.
2. Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5g IM dengan iml Lignokain (dalam semprit yang sama)
3. Sebelum pemberian MgSO4 ulangan, lakukan pemeriksaan :
Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
Ada reflek patella
Urin minimal 30ml/jam dalam 4 jam terakhir
Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit
4. Cara pemberian MgSO4 IV/drip ialah :
Setelah pemberian dosis awal, diberikan 12 gram dalam 500 ml RL dengan tetes
15/menit (2 gram/jam).
5. IRDA AYU ASTINA

Reflex patella tidak ada, bradipnea (16 kali/menit)


Urin < 30ml/jam pada hari ke 2
5. Hentikan pemberian MgSO4, jika :
Terjadi henti nafas bantu pernafasan dengan ventilator
Beri kalsium glukonas 2 gram (20ml dalam larutan 10%) IV. Perlahan-lahan samapai
pernafasan mulai lagi.
Diazepam untuk Preeklamsia dan Eklamsia
Dosis awal adalah 10mg IV. Diberikan secara perlahan selama 2 menit. Jika kejang
berulang, ulangi pemberian sesuai dosis awal.
Dosis pemeliharaan adalah 40 mg dalam 500 ml larutan ringer laktat melalui infus. Depresi
pernafasan ibu baru mungkin terjadi bila dosis 30 mg/jam. Jangan berikan melebihi 100
mg/jam.
Anti Hipertensi
Pemberian antihipertensi sebaiknya dimulai pada wanita dengan tekanan darah sistolik lebih dari
160 mmHg, atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg. Pemberian labetalol secara oral
atau intravena, nifedipine secara oral atau intravena hydralazine dapat lakukan untuk
menatalaksana hipertensi berat.

Ada konsensus bersama, bila tekanan darah lebih dari 170/110 mmHg, lakukan penanganan
terhadap tekanan darah ibu. Obat terpilih yang digunakan adalah labetalol, nifedipine, atau
hydralazine. Labetalol memiliki keuntungan dapat diberikan awal lewat mulut, pada kasus
hipertensi berat dan jika diperlukan, bisa secara intravena.

Terdapat konsensus, bila tekanan darah dibawah 160/100, tidak dibutuhkan secara mendesak
pemberian terapi antihipertensi. Terdapat perkecualian, bila ditemukan indikasi untuk penyakit
dengan gejala yang yang lebih berat, yakni potenuria berat atau gangguan hari, atau hasil tes
darah. Pada kondisi demikian, peningkatan tekanan darah dapat diantisipasi, dengan terapi
antihipertensi pada level tekanan darah yang lebih rendah yang telah disesuaikan.

Anda mungkin juga menyukai