Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kegiatan PLI

Praktek Lapangan Industri (PLI) merupakan salah satu syarat yang

harus dipenuhi oleh setiap Mahasiswa Program Studi D3 dan S1 Teknik

Pertambangan Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP untuk menyelesaikan

program studinya. Praktek Lapangan Industri (PLI) merupakan Matakuliah

wajib pada semester akhir dengan bobot 4 SKS, dimana pelaksanaannya

meliputi tiga kegiatan pokok yaitu, kegiatan praktek lapangan dan penyusunan

laporan ilmiah serta desiminasi.


Tujuan umum kegiatan praktek lapangan industri untuk

mendapatkan/menggali pengetahuan dan pengalaman praktis di

lapangan/Industri, memupuk sikap dan etos kerja sebagai calon tenaga kerja

profesional yang siap kerja, serta mampu membahas suatu topik yang ditemui

di lapangan melalui metoda analisis ilmiah ke dalam bentuk suatu laporan

praktek lapangan industri(PLI). Kegiatan praktek lapangan industri

dilaksanakan di Perusahaan Pertambangan, Labor labor Dinas Pertambangan

dan Konsultan yang bergerak dibidang Pertambangan.


1. Tujuan Kegiatan PLI
a. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan/menggali pengetahuan dan pengalaman

praktis di lapangan/Industri, memupuk sikap dan etos kerja mahasiswa

sebagai calon tenaga kerja professional yang siap kerja, serta mampu

membahas suatu topik yang ditemui di lapangan melalui metoda

1
2

analisis ilmiah ke dalam bentuk suatu laporan Praktek Lapangan

Industri (PLI).
b. Tujuan Khusus
1) Mendapat pengetahuan dan pengalaman praktis di lapangan

tentang teknis perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan

pekerjaan teknik pertambangan dalam rangka melengkapi

pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkan dalam

perkuliahan.
2) Mampu mengintegrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan dan

keterampilan yang didapatkan dalam perkuliahan dengan

pengetahuan dan keterampilan praktis yang ada di lapangan

industri pertambangan.
3) Mampu menulis suatu laporan kegiatan pengalaman lapangan

industri yang berisi pengetahuan dan pengalaman lapangan yang

diperolehnya serta menganalisisnya.


4) Mampu mempresentasikan laporan kegiatan yang telah dibuatnya

didepan dosen dan mahasiswa.


2. Peserta Kegiatan PLI
Berdasarkan surat balasan dari PT. NAN RIANG tanggal 21

November 2017 dengan nomor surat 010/NR-BARA/I/2017 mengenai Izin

Praktek Lapangan Industri, perusahaan bersedia menerima kami untuk

mengikuti Praktek Lapangan Industri di perusahaan yang bersangkutan

yang beranggotakan 4 orang, yaitu :


a. Randa Septian Putra
b. Rahmad Setiawan
c. Agung Wijaya
d. Mhd Hafiz Diska Nofrial
3. Tempat Pelaksanaan PLI
3

Lokasi tempat pelaksanaan Praktek Lapangan Industri ini yaitu di

Tambang Terbuka Batubara PT. NAN RIANG, Kecamatan Muara

Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.


4. Langkah-langkah Pelaksanaan PLI
Sebelum melakukan pelaksanaan PLI ada beberapa langkah yang

harus dilakukan, yaitu :


a. Mempersiapkan dan melengkapi surat menyurat yang dirasa perlu.
b. Mengajukan surat permohonan untuk PLI ke Jurusan Teknik

Pertambangan dan Unit Hubungan Industri Fakultas Teknik

Universitas Negeri Padang.


c. Mengirim surat permohonan untuk mengikuti Praktek Lapangan

Industri ke Perusahaan yang diinginkan.


d. Menerima surat balasan dari perusahaan, bahwasannya mahasiswa

tersebut bersedia diterima untuk mengikuti Praktek Lapangan Industri.


e. Minggu pertama di perusahaan adalah orientasi lapangan dengan

melihat lihat bagaimana kondisi lapangan dan perkenalan dengan staf.


f. Minggu ke-2 sampai ke-4 mengamati lapangan dan mengambil data

yang dirasa perlu.


g. Minggu ke-4 sampai ke-5 menyusun laporan Praktek Lapangan

Industri dan mempresentasikan laporan di perusahaan.


B. Deskripsi Perusahaan

1. Sejarah PT.Nan Riang

PT Nan Riang merupakan perusahaan Perseroan Terbatas yang

bergerak dibidang usaha pertambangan yang berdiri pada tahun 2003.

Perusahaan ini mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) berdasarkan

keputusan Bupati Kabupaten Batanghari Nomor 01/KP/2003 tertanggal 22

Januari 2003. Perusahaan ini berkedudukan di Muara Tembesi, Batanghari,

Jambi.
4

PT. NAN RIANG merupakan perusahaan pertambangan swasta

dengan hasil bahan galian yaitu batubara dengan kepemilikan saham atas

nama Hendro. Perusahaan ini memliki luas daerah penambangan sebesar

385 Ha.PT. NAN RIANG mendapatkan izin dari pemerintah Provinsi

Jambi tentang izin untuk melakukan kegiatan penambangan batubara, serta

pembuatan dan penggunaan jalan tambang selama aktifitas penambangan

berlangsung.

PT. NAN RIANG merupakan perusahaan dengan status milik

sendiri dari kepemilikan tanah hingga semua alat berat yang digunakan

saat produksi. PT. NAN RIANG memiliki 4 site dengan lokasi yang

berbeda. Penelitian yang penulis lakukan berada di site Ampelu. Tiga site

lain yakni site Jebak, site Padang Kelapo yang merupakan anak

perusahaan PT. NAN RIANG bernama PT. Bukit Tambi, dan site

Kotoboyo yang baru akan dibuka.

2. Bidang Kegiatan

Jenis dan bidang usaha jasa pertambangan batubara yang diberikan

oleh PT. NAN RIANG meliputi:

a. Bidang Penambangan, sub bidang:

1) Pengupasan, pemuatan dan pemindahan Top Soil, Over Burden/

Inter Burden

2) Penggalian batubara

3) Menggunakan alat berat gali-muat Excavator Komatsu dan Volvo

b. Bidang Pengangkutan, sub bidang:


5

1) Menggunakan Truck CWM,

2) dan ADT.

3. Struktur Organisasi

Kegiatan operasional penambangan di PT. NAN RIANG dipimpin

oleh seorang Komisaris Utama yang mempunyai wewenang penuh

terhadap perusahaan.Dibawah Komisaris Utama terdapat Direktur Utama

dan Manager Site. Di Site terdapat beberapa pula divisi-divisi yang

menjabat. Dari Kepala Teknik Tambang, Geologist dan Pengawas

Operasional Produksi.Dibawah itu ada pula mekanik yang bertangung

jawab maintenance alat sekaligus merangkap kerja operator alat berat,

pembantu (helper) dan sopir dump truck (driver), serta teknisi las yang

bertugas memperbaiki bagian alat-alat yang rusak. Semua kinerja pada

divisi ini dibawah tanggung jawab kepala teknik. Sedangkan kepala

lapangan masing-masing pembagian kerjanya : pengawas lapangan,

security dan checker.(Lampiran 1)

4. Karyawan (pekerja)

PT. NAN RIANG mempunyai beberapa karyawan tetap yang

terdaftar sebagai karyawan PT. NAN RIANG. Selain itu ada karyawan

(pekerja) yang bukan karyawan tetap, dengan status sebagai karyawan

kontrak.

5. Kebijakan PT. NAN RIANG

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan

kondusif, serta dapat mencapai target produktivitas, PT. NAN RIANG


6

menerapkan kebijakan Tingkatkan Budaya K3 Untuk Mendorong

Produktivitas Dan Daya Saing Di Pasar Internasional.

C. Perencanaan Kegiatan Industri/Pekerjaan

1. Keadaan Umum Daerah Pertambangan

a. Lokasi dan Kesampaian Daerah

Areal Penambangan PT. NAN RIANG berlokasi di Desa

Ampelu dan Desa Jebak Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten

Batanghari, Propinsi Jambi. Batas-batas secara administratif Muara

Tembesi :

1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pemayung

2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Maro Sebo Ilir dan

Muara Bulian

3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batin XXIV

4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Mersam

Secara astronomis terletak pada kedudukan 104630

LSsampai 104727 LS dan 1030 0605 BT sampai 1030439 BT.

Perjalanan dari Padang ke Jambi jika menggunakan bus dapat

menempuh perjalanan selama 13 jam.Untuk bisa sampai ke lokasi

penelitian,perjalanan dimulai dari Kota Jambi dengan menggunakan

transportasi darat menuju ke Kecamatan Muara Tembesi melalui jalan

lintas Jambi - Sarolangun dengan jarak tempuh 150 km.Peta

kesampaian daerah PT. NAN RIANG bisa dilihat pada gambar 1.


7

Gambar1. Peta Kesampaian Daerah PT. NAN RIANG

b. Keadaan Topografi

Secara umum daerah Tambang PT. NAN RIANG mempunyai

topografi yang bervariasi mulai dari dataran rendah, hingga perbukitan.

Dataran rendah tersusun oleh alluvium dan endapan rawa, menempati

bagian timurlaut dan sebagian baratdaya dan daerahdaerah di sekitar

sungaisungai utama (Batanghari, Batangtembesi, Batangtebo),sementara

daerah perbukitan bergelombang merupakan unit morfologi terluas,

terhampar dari baratlaut hingga tenggara. Lereng bukit berkisar antara 5o

hingga 20o dengan ketinggian antara 50 200 m diatas permukaan laut.

Peta lokasi daerah penelitian desa Ampelu PT. NAN RIANG dapat dilihat

pada gambar 2.
8

Sumber: Geologis PT. NAN RIANG


Gambar 2. Peta lokasi Daerah Penelitian Desa Ampelu PT. NAN
RIANG,Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Propinsi
Jambi.

Secara geografi daerah penyelidikan dibatasi oleh koordinat-koordinat

seperti pada tabel 1:

Tabel 1. Daftar Koordinat Daerah Penyelidikan


Titik Koordinat L o n g i t u d e L a t i t u d e
1 103 06 48,06 - 1 4 6 30,00
2 103 06 59,00 - 1 4 6 30,00
3 103 06 59,00 - 1 4 8 15,00
4 103 04 48,06 - 1 4 8 15,00
5 103 04 48,06 - 1 4 7 27,00
Sumber: Geologis PT. NAN RIANG
9

Sementara peta lokasi KP PT. NAN RIANG dapat dilihat pada


gambar 3.

Gambar 3. Peta Lokasi KP PT. NAN RIANG

c. Iklim dan Cuaca


10

Daerah penambangan PT Nan Riang mempunyai iklim tropis

dengan curah hujan maksimum yang sangat tinggi yaitu 2779mm/

tahun.Kegiatan penambangan di PT. NAN RIANG ini sangat dipengaruhi

oleh keadaan cuaca. Hal ini disebabkan karena pada saat hujan turun,

kegiatan penambangan tidak dapat berjalan, dikarenakan pada saat

keadaan tersebut jalan menjadi licin dan lunak, sehingga apabila kegiatan

penambangan tetap dilaksanakan, maka dumptruck akan selip ,berakibat

rusaknya jalan tambang, dan konsumsi bahan bakar yang banyak. Oleh

karena itu, pada hari hari tidak turun hujan atau pada musim kemarau

harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berproduksi.Berdasarkan

data curah hujan Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG)

Batanghari periode 2005 2014 Untuk curah hujan tertinggi 375 mm pada

bulan Maret tahun 2005 danterendah 23 mm pada bulan juni 2008.

Dengan suhu rata rata 320 C, suhu tertinggi adalah 360 C, dan terendah

280C. Curah hujan Batanghari dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Curah Hujan Batanghari

Sumber : Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Batanghari

d. Morfologi Wilayah Pertambangan


11

Morfologi wilayah pertambangan sebagian besar merupakan

dataran rendah yang berada di bagian Bagian dan Utara daerah

penyelidikan dan sebagian merupakan perbukitan landai dengan

kemiringan lereng 50-150. Ketinggian bukit antara 10 m- 50 m di atas

permukaan laut terdapat dibagian Tengah dan Selatan wilayah

pertambangan.

e. Keadaan Geologi dan Statigrafi

Daerah penenelitian secara regional terletak diantara Cekungan

Sumatra Tengah dan Cekungan Sumatra Selatan.Cekungan Sumatra

Selatan memiliki luas mencapai 117.000 km2 (de Coster, 1974, dalam

Asikin Sukendar, 1990).Sedimentasi yang terjadi di cekungan ini

berlangsung terus menerus selama Tersier yang disertai penurunan dasar

cekungan.Pengendapan yang terjadi pada cekungan ini terjadi dalam 2

(dua) fase, yaitu:

1) Fase Transgresi, yang terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang

Akar, Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai.

2) Fase Regresi, yang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara

Enim, dan Formasi Kasai.

Tektonik dan struktur geologi daerah Cekungan Sumatera Selatan

dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu, Zona Sesar Semangko,

Zona perlipatan yang berarah Baratlaut-Tenggara dan Zona sesar-sesar

yang berhubungan erat dengan perlipatan serta sesar-sesar Pra-Tersier

yang mengalami peremajaan.


12

Zona perlipatan merupakan hasil proses tektonik orogenesa Plio-

Plistosen yang membentuk banyak antiklin dan sinklin yang berarah

Barat Laut-Tenggara sejajar dengan sumbu panjang Pulau Sumatera.

Menurut Pulunggono, 1986, dalam Asikin Sukendar, 1990), lipatan-

lipatan di Sumatera Selatan dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga)

antiklinorium besar, yaitu: Antiklinorium Muaraenim, Antiklinorium

Pendopo-Limau, dan Antiklinorium Palembang Utara. Antiklinorium

Muarenim terdapat di Sub-cekungan Palembang Selatan, dengan arah

baratlaut-tenggara sampai barat-timur, ditempati oleh Formasi

Muaraenim yang kaya akan lapisan-lapisan batubara.

Formasi Muaraenim ini diendapkan secara selaras diatas formasi

Air Benakat.Formasi ini diendapkan pada kala Pliosen.Litologi penyusun

formasi ini adalah batu pasir, batu lempung pasiran, dan lignit yang

mencapai 10 % dari ketebalan formasi. Berumur Mio Pliosen, Tebalnya

formasi ini mencapai 600 meter.

f. Statigrafi

Stratigrafi daerah penelitian disusun berdasarkan pengelompokan

lithologi dominan yang dapat diamati di lapangan. Penamaan satuan

batuan mengikuti tata nama satuan lithostatigrafi tidak resmi menurut

Sandi Stratigrafi Indonesia (SSI, 1996). Berdasarkan hal tersebut diatas,

maka daerah penelitian dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) satuan

batuan tidak resmi, dengan urutan dari tua sampai muda, sebagai berikut:

1) Satuan BatupasirMuaraenim
13

Satuan batupasir Muaraenim dicirikan oleh litologi batupasir

dengan sisipan batu lempung dan sisipan batubara. Pemerian

lapangan: Batupasir Kuarsa memperlihatkan warna abu-abu

kecoklatan, kuning struktur laminasi,cross bedding, ukuran butir pasir

sedang - pasir kasar ( 1/2 - 1/4 mm ), komposisi mineral: fragmen:

nodul-nodul lempung, mineral kuarsa, feldspar, dan plagioklas,

matrik: pasir sedang, semen: silika.Berdasarkan analisa petrografis

didapatkan: kuarsa (40%), feldspar (30%), mineral opak (5%) dan

mineral lempung (25%) dengan penamaan petrografis Arkosic Wacke

( Klasifikasi Pettijohn, 1972 ).

Sisipan batulempung, memperlihatkan warna coklat abu-abu,

struktur masif, ukuran butir: lempung ( 1/256 mm), semen silika.

2) Satuan Endapan Alluvial

Tersusun oleh kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung, yang

merupakan endapan sungai.Dilihat dari air yang menggenangi Sungai

Batang Tembesi ini keruh dan berwarna kecoklatan maka di

interpretasikan dasar Sungai Batang Tembesi ini adalah endapan

alluvial. Berasal dari batuan yang lebih tua yang telah mengalami

proses pelapukan, berupa batuan beku dan batuan sedimen.

Satuan Endapan Alluvial ini tersebar hanya dibagian Baratlaut

daerah penelitian, yang meliputi 6,7 % daerah penelitian.Berdasarkan

ciri litologinya, stratigrafi daerah Ampelu diurutkan dari tua ke muda

sebagai berikut.
14

a) Formasi Muara Enim

Formasi Muara Enim dibagi menjadi dua satuan, yaitu:

(1) Satuan bawah yang terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu

lempung dan batubara. Pada umumnya batu pasir dan batu

lanau lebih dominan dan sering dijumpai struktur laminasi

bergelombang hingga laminasi sejajar.

(2) Satuan atas yang terdiri dari batu pasir tufaan, batu lanau

tufaan, batu lempung tufaan dan batubara, terendapkan pada

lingkungan Delta Plain kala Mio Pliosen dengan litologi

pada satuan atas mempunyai ciri-ciri yaitu :

(a) Batu pasir :putih kecoklatan, terdiri dari kwarsa,

feldspar, tufaan, semen, dan matrik berupa oksida besi

dan silika.

(b) Batu lanau : abu-abu, terang sampai gelap.

(c) Batu lempung : abu abu gelap, menyerpih.

(d) Batubara : hitam kecoklatan, keras, kompak.

b) Formasi Air Benakat

Lithologi satuan ini adalah serpih gampingan yang kaya

akan foraminifera di bagian bawahnya, makin ke atas dijumpai

batu pasir yang mengandung gloukonit. Pada puncak satuan ini

pasirnya meningkat, kadang dijumpai sisipan tipis batubara atau

sisa sisa tumbuhan.

c) Formasi Gumai
15

Lithologi formasi ini berupa serpih dan lempung berpasir

baik, berwarna abu-abu dengan lensa batu pasir

glokonitanberwarna abu-abu kebiruan dijumpai dibagian tengah

runtunan dan tuf berwarna coklat kekuningan terdapat di bagian

atas runtunan.

Stratigrafi daerah penelitiam tanpa skala dapat dilihat pada

gambar 4.

Sumber: Engineering Department PT. NAN RIANG


Gambar 4. Stratigrafi daerah penelitian tanpa skala

g. Kualitas Batubara

Secara megaskopik batubara di daerah survei dapat

diklasifikasikan sebagai batubara jenis Soft Brown Coal.Dari pengujian


16

laboratorium untuk analisa proximate batubara saat pengapalan diketahui

gambaran kualitas batubaranya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Spesifikasi Kualitas Batubara

No Parameter Kandungan

1 Total Moisture 42,89% ar


2 Ash Content 7,90% adb
3 Volatile Matter 42,39% adb
4 Fixed Carbon 36,44% adb
5 Total Sulphur 0,32% adb
6 GrossnCalorific Value 5265 kcal/kg adb

Keterangan:

AC = Ash Content: kandungan debu pada batubara, semakin

tinggikadarabu, secara umum akan mempengaruhi tingkat

pengotoran.

VM = Volatile Matter: zat terbang yang terkandung dalam batubara.

Zat yang terkandung dalam volatile metter ini biasanya gas

hidrokarbon terutama gas methan.

FC = Fixed carbon: kadar karbon tetap yang terdapat pada batubara

setelah volatile matter dipisahkan dari batubara.

TS = Total Sulphur: sulfur yang terdapat pada batubara dalam

bentuk senyawa organik dan anorganik dapat dijumpai dalam

bentuk mineral pirit, markasit dalam bentuk sulfat


17

GCV = Gross Calorite Value: merupakan indikasi kandungan enegi

yang terdapat pada batubara, dan merespresentasikan kombinasi

pembakaran dari karbon, hidrogen, nitrogen dan sulfur

2. Peralatan Penambangan

Peralatan-peralatan yang beroperasi dalam melaksanakan

penambangan di PT. NAN RIANG terdiri dari (spesifikasi alat gali-muat

lampiran 3):

a. Excavator Komatsu PC400LC dan Excavator Volvo EC460 BLC

Excavator Komatsu PC400LC dan Volvo EC460BLC merupakan

alat berat yang digunakan sebagai alat gali-muat pada lapisan penutup

maupun pada batubara yang digunakan oleh PT. NAN RIANG untuk

melakukan aktivitas penggalian pada batubara yang terdapat di Site

Ampelu. Excavator Komatsu PC400LC dan Excavator Volvo EC460

BLC dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Excavator Komatsu PC400LC dan Volvo EC460BLC


b. Excavator Komatsu PC200LC

Excavator Komatsu PC200LCmerupakan alat berat yang

digunakan sebagai alat gali-muat pada batubara yang digunakan oleh


18

PT. NAN RIANG untuk melakukan aktivitas penggalian batubara

untuk memasukkan ke dalam Hopperpada alat crusher. Excavator

komatsu PC200LC dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Excavator Komatsu PC 200 LC

c. Dump Truck Nissan CWM330PS

Dump Truckmerupakan alat yang digunakan untuk mengangkut

batubara dari pit ke lokasi Conveyor, dan stockpile. Tipe atau seri dari

truck yang digunakan yaitu Nissan CWM330PS. Dump Truck Nissan

CWM330PS dapat dilihat pada gambar 7.


19

Gambar 7. Dump Truck Nissan CWM330PS

d. ADT Volvo

ADT merupakan alat berat dengan ukuran besar yang digunakan

untuk mengangkut OB, IB maupun Batubara. ADT Volvo dapat dilihat

pada gambar 8.

Gambar 8. ADT Volvo

e. Crusher

Crusher merupakan alat penghancur/ mengecilkan ukuran

batubara sesuai dengan permintaan pasar. Rangkaian alat Crusher


20

PT. NAN RIANG ini dirangkai sendiri oleh PT. NAN RIANG dan

memiliki dua buah alat Crusher dengan ukuran yang berbeda.

Salah satu crusher yang dapat beroperasi yaitu crusherlama dengan

ukuran yang lebih kecil memiliki panjang 24 meter dengan

ketinggian headmaterials yaitu 15 meter.Beltconveyor memiliki

lebar 120 cm dan sudut kemiringan beltconveyor yaitu 200. Crusher

baru dan crusher lama dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9. Crusher baru (kiri) Crusher lama (kanan)

f. Timbangan

Salah satu alat yang sangat penting dalam produktivitas

batubara yaitu timbangan. Semua truck-truck dari Jambi yang

memasuki PT. NAN RIANG untuk mengangkut batubara pesanan

konsumen harus melakukan penimbangan yang telah disediakan oleh

perusahaan di lapangan. Truck-truck yang datang akan ditimbang

dalam kondisi kosong dan dalam kondisi telah di muati oleh batubara.

Timbangan dapat dilihat pada gambar 10.


21

Gambar 10. Timbangan

3. Jam Kerja

Negara Indonesia sudah memiliki ketentuan mengenai jam kerja

yang di atur dalam Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85. Pada

kegiatan penambangan di PT. NAN RIANG jam kerja yang di terapkan

oleh perusahaan yaitu pukul 07.00-11.30 dan 13.00-17.30. Jadwal waktu

kerja tersedia PT. NAN RIANG dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Jadwal Waktu kerja Tersedia PT. NAN RIANG


Hari Waktu Kerja Jam Kerja Keterangan

Senin 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

Selasa 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

Rabu 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

Kamis 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

Jumat 07.00 11.00 & 13.30 17.30 8 Waktu normal

Sabtu 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

Minggu 07.00 11.30 & 13.00 17.30 9 Waktu normal

D. Perencanaan Kegiatan PLI


Adapun rencana kegiatan yang akan penulis lakukan selama di

perusahaan dalam kegiatan Praktek Lapangan Industri, yaitu:


22

a. Mengenal proses pekerjaan tambang dan area penambangan di PT. NAN

RIANG pada tanggal 17 Januari 2017.

b. Mengamati proses pekerjaan tambang ( lapangan ), yang dilaksanakan

tanggal 18 Januari 2017 s/d 25 Januari 2017.

c. Bimbingan mengenai pengamatan proses pekerjaan, pada tanggal 25

Januari 2017.

d. Pengambilan data primer dan data sekunder evaluasi, dari tanggal 26 - 7

Januari 2017.

e. Bimbingan evaluasi, dari tanggal 8 Januari - 17 Januari 2017.

f. Persentasi Laporan Kerja Praktek, tanggal 18 Februari 2017

E. Pelaksanaan Kegiatan PLI

Adapun kegiatan yang dilakukan selama praktek di PT. NAN RIANG

yang penulis mulai tanggal 16 Januari 2017 s/d tanggal 18 Februari 2017

adalah:

1. Pengenalan Lingkungan Perusahaan

Pada hari pertama kedatangan penulis di perusahaan, penulis

langsung di perkenalkan dengan alat GPS untuk latihan uji coba membuat

kontur dengan nge-track melalui GPS. Dalam minggu awal kedatangan

penulis di perusahaan, penulis di ajak ikut melakukan kegiatan-kegiatan

yang dilakukan oleh seorang Geologist yang mana ia adalah pembimbing

penulis saat di lapangan. Kegiatan-kegiatan yang penulis lakukan berupa :

pengambilan titik-titik waypoint batubara dengan GPS di lokasi stockpile

untuk data perusahaan, latihan langsung ke lapangan melihat nilai strike-


23

dip di salah satu sisi lereng di lokasi penambangan, serta ikut langsung

melakukan eksplorasi ke salah satu sisi hutan di Jebak untuk mencari

lokasi titik-titik yang akan di bor serta melihat singkapan. Kemudian

arahan penggunaan software autocad dan mapsource guna memindahkan

hasil track yang dilakukan saat eksplorasi dan membuat peta konturnya.

2. Kegiatan Lapangan

a. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Land Clearing merupakan salah satu tahap awal sebelum

dilakukannya penambangan. Tujuan dari pembersihan lahan ini adalah

untuk membersihkan area dari vegetasi yang berada di atasnya maupun

bongkahan batuan. Proses land clearing dapat dilihat pada gambar 11.

Gambar 11. Proses Land Clearing

b. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil)

Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan

bahan organik hasil pelapukan yang menyuburkan tanah, dilakukan

setelah pembersihan lahan penambangan. Lapisan tanah subur ini

dikupas dengan bulldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan


24

pada lokasi tertentu, kemudian dimuat menggunakan shovel dan

diangkut dengan dump truck ke tempat penyimpanan tanah pucuk.


c. Pengupasan Tanah Penutup
Kegiatan pembongkaran lapisan tanah penutup baik overburden

maupun interburden dilakukan dengan menggunakan Excavator

dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang,

langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke articulalated

dumptruck (ADT).
Lapisan penutup diangkut dari daerah penambangan ke lokasi

penimbunan (dumping area) yang tealh direncanakan, berupa daerah

bekas penambangan terdekat atau daerahdaerah mati yang ada

disekitar tambang. Pengupasan tanah penutup dapat dilihat pada

gambar 12.

Gambar 12. Pengupasan Interburden dengan ADT Volvo A40E

d. Penggalian Batubara

Perusahaan PT. NAN RIANG memiliki 4 lokasi penambangan.

Salahsatunya di Tembesi yang memiliki 2 pit yaitu site Ampelu dan

site Jebak. Hingga saat ini di site Ampelu sedang melakukan


25

penggalian batubara seam dua. Pada site Ampelu terdapat dua pit yakni

Pit Jalan dan Pit Ujung.

Saat penulis melakukan praktek industri yang sedang beroperasi

saat itu yaitu Pit Jalan. Karena keterbatasan alat berat dalam

melakukan kegiatan penggalian batubara. Alat berat yang digunakan

berupa 2 unit excavator Komatsu dan Volvo. Penggalian batubara

dapat dilihat pada gambar 13.

Gambar 13. Penggalian Batubara


e. Pemuatan dan pengangkutan

PT. NAN RIANG memiliki sejumlah alat-alat berat milik

pribadi. Alat gali-muat yang digunakan dalam penggalian batubara

menggunakan excavator Komatsu dan excavator Volvo serta alat


26

angkut batubara menggunakan dump truck CWM 330 MH ke lokasi

stockpile. Pemuatan dan pengangkutan batubara dapat dilihat pada

gambar 14.

Gambar 14. Pemuatan dan pengangkutan batubara

f. Crushing
Batubara yang berada di stockpile dilakukan tahap selanjutnya

yakni pengecilan ukuran batubara sesuai permintaan menggunakan

mesin crusher. Perusahaan ini memiliki alat crusher yang dirancang

dan dirangkai sendiri oleh perusahaan. Terdapat 2 alat crusher dengan

ukuran yang berbeda baik dari segi hopper maupun panjang dari belt

conveyor. Namun kedua crusher ini tidak digunakan secara bersamaan.


27

Salah satu crusher akan beroperasi apabila satu yang lainnya

mengalami kerusakan. Crusher dapat dilihat pada gambar 15.

Gambar 15. Crusher PT. NAN RIANG

g. Timbangan

Di lokasi timbangan, truck-truck yang memesan batubara ke PT.

NAN RIANG akan ditimbang terlebih dahulu dalam keadaan kosong.

Setelah truck-truck tersebut dimuati oleh batubara, truck-truck tersebut

akan ditimbang kembali sebelum meninggalkan PT. NAN RIANG.

Data timbangan sangat diperlukan bagi para konsumen dan

perusahaan. Timbangan dapat dilihat pada gambar 16.


28

Gambar 16. Timbangan PT. NAN RIANG

h. Vegetasi

Sebagian besar jenis tumbuhan yang ada di lokasi adalah hutan

yang didominasi oleh semak belukar, selain itu ada juga beberapa jenis

tanaman reklamasi di sekitar daerah penyelidikan.vegetasi pada areal

penambangan PT. NAN RIANG merupakan hutan sekunder dan semak

belukar. Semak belukar berasal dari hutan yang telah dilakukan

penebangan oleh PT. NAN RIANG untuk kegiatan penambangan dan

sebagian kecil dibuka oleh perusahaan untuk dijadikan lahan

pembibitan kegiatan reklamasi. Revegetasi yang dilakukan yaitu

dengan menanam bibit kelapa sawit, jambu, kayu jabon, dan kayu

pulai di lahan bekas tambang. Revegetasi jambu, kayu jabon, dan

kelapa sawit dapat dilihat pada gambar 17.


29

Gambar 17. Revegetasi jambu (kiri), kayu jabon (tengah), dan


kelapa sawit (kanan)

3. Kegiatan Penambangan

a. Metode Penambangan

Penambangan batubara di PT. NAN RIANG menggunakan

sistem penambangan tambang terbuka (open pit). Peralatan tambang

yang digunakan adalah kombinasi Excavator dan dump truck dibantu

dengan bulldozer sebagai alat garu-dorong dan grader untuk

perawatan jalan. Arah penambangannya menyesuaikan dengan arah

dip dan strike batubara.

b. Penunjang Penambangan

Kegiatan ini sangat mempengaruhi terlaksananya proses

penambangan dengan baik antara lain:

1) Truck Air

Penggunaan truck air ini sangat diperlukan di lokasi

penambangan guna mengurangi debu batubara yang sangat

mengganggu pandangan. Hal ini berpengaruh/ berdampak pada

kenyamanan supir-supir CWM saat mengangkut batubara.

Debu batubara dapat menyebabkan rusaknya paru-paru


30

pernapasan serta dapat terjadinya kecelakaan pada supir-supir

truck karena terganggunya pandangan mereka.

2) Grader
Grader merupakan alat berat yang untuk perawatan jalan.

Jalan-jalan tambang yang rusak atau dipenuhi lumpur ketika

dilewati oleh truck-truck, maka grader akan meratakan agar

tidak mengganggu aktivitas dari alat angkut yang lewat.


3) Bulldozer

Selain digunakan saat proses land clearing, bulldozer yang

fungsinya sebagai alat garu-dorong juga digunakan di lokasi

stockpile crusher untuk mendorong batubara yang akan di

crushing. Kegiatan Bulldozer mendorong batubara ke arah

excavator untuk di crushing dapat dilihat pada gambar 18.

Gambar 18. Saat Bulldozer mendorong batubara ke arah


excavator untuk di crushing
4) Mobil Oli

Mobil oli yang dibawa oleh para pekerja oil man

beroperasi saat adanya alat berat yang mengalami kehabisan oli


31

di tengah jam operasional. Mobil oli dapat dilihat pada gambar

19.

Gambar 19. Mobil Oil Man

5) Mekanik dan Workshop


Saat penambangan berlangsung, apabila terjadi kerusakan

pada alat secara tiba-tiba, mekanik yang bekerja untuk

perusahaan akan langsung terjun ke lapangan untuk

memperbaiki alat yang rusak di lokasi. Mekanik-mekanik

tersebut selalu siap setiap saat agar produktivitas penambangan

batubara tidak terganggu. Namun apabila alat tersebut

mengalami rusak berat maka alat berat tersebut akan di bawa ke

workshop tambang.

F. Hambatan dan Penyelesaian

Dari awal hingga selesai penulis melakukan pengalaman industri di

penambangan batubara PT. NAN RIANG, penulis menemukan beberapa


32

hambatan yang ada di lapangan. Adapun hambatan yang terjadi salah satunya

faktor iklim dan cuaca. Hambatan yang terjadi antara lain:

1. Iklim dan cuaca yang sangat berpengaruh dalam kegiatan proses

penambangan. Apabila musim hujan tiba, maka aktifitas penambangan

akan tetap terganggu, dan begitupun dengan pengangkutan batubara ke

stockpile akan terhambat dikarenakan keadaan jalan yang licin.


2. Selain itu apabila musim hujan, untuk pengupasan tanah penutup juga

akan terhambat dikarenakan alat angkut Dump Truck akan kehilangan

keseimbangan akibat jalan yang licin.


3. Dan jika terjadi hujan deras maka proses pengecilan batubara di conveyer

juga akan terganggu karena batubara akan lengket pada karpet dan

hasilnya tidak akan maksimal.


4. Dan sering terjadinya kerusakan alat angkut di lokasi penambangan

sehingga proses pengangkutan akan terhambat sampai alat angkut bisa

dioperasikan lagi.

Dari hambatan hambatan yang penulis temui di lapangan, ada beberapa

solusi untuk mengatasinya antara lain ialah:

a. Apabila musim hujan datang maka pada lokasi conveyer diberikan

tenda terpal biru diatas karpet untuk pencegahan terjadinya batubara

lengket pada karpet.

b. Pengecekan lebih detail oleh tim mekanik sebelum atau setelah

selasainya alat angkut beroperasi dilokasi penambangan agar paginya

alat siap untuk beroperasi kembali.


33

G. Temuan Menarik
1. Apabila musim hujan datang terjadinya banjir pada lokasi pengupasan

lapisan tanah penutup yang menyebabkan sulitnya alat angkut Dump Truck

untuk beroperasi dalam pengangkutan lapisan tanah penutup, dan juga alat

bantu dorong Bulldozer juga akan bekerja penuh untuk membantu jalannya

proses penimbunan di jalan site Ampelu. Banjir pada lokasi pengupasan

lapisan tanah penutup dapat dilihat pada gambar 20.

Gambar 20. Banjir Pada Lokasi Pengupasan Lapisan Tanah Penutup


2. Terjadinya longsor pada jalan di site Ampelu yang menyebabkan tidak

beroperasinya penambangan dan pengupasan lapisan tanah penutup

dikarenakan adanya genangan air maupun situasi lingkungan pada site

tersebut juga tidak memungkinkan alat alat untuk beroperasi. Longsor

pada jalan di Site Ampelu dapat dilihat pada gambar 21.


34

Gambar 21. Longsor Pada Jalan di Site Ampelu

3. Grade jalannya tidak sesuai standard ketentuan sehingga operasi alat

angkut terganggu di karenakan di beberapa titik jalan sewaktu alat angkut

berpapasan salah satunya harus berhenti terlebih dahulu. Grade jalan yang

tidak sesuai standard dapat dilihat pada gambar 22.

Gambar 22. Grade Jalan yang Tidak Sesuai Standard


4. Rambu rambu jalan tambang tidak ada pada lokasi penambangan

sehingga menambah resiko kecelakaan kerja. Rambu rambu jalan

tambang yang tidak ada dapat dilihat pada gambar 23.


35

Gambar 23. Jalan di Lokasi Penambangan Tanpa Rambu-Rambu


BAB II
PEMBAHASAN
A. LATAR BELAKANG PEMILIHAN MASALAH
Batubara merupakan bahan galian yang vital dalam pemenuhan

kebutuhan sebagai bahan alternatif pengganti minyak bumi dan gas. Adapun

pemakaian batubara terbesar adalah pada pembangkit tenaga listrik dan industri

baja dan lain- lain.


Investasi di bidang pertambangan memerlukan jumlah investasi yang

sangat besar. Agar investasi yang dikeluarkan tersebut menguntungkan, maka

komoditas endapan bahan galian tersebut harus mempunyai kualitas dan

kuantitas yang cukup untuk dapat mempengaruhi keputusan investasi. Sistem

penambangan dan pengolahan yang digunakan harus dapat beroperasi dengan

standar operasional yang baik. Disamping itu semua teknologi dan pembiayaan

yang direncanakan dengan matang juga dipertimbangkan terhadap asset

mineral yang dimiliki.


Jadi, di dalam pengelolaan tambang batubara diperlukan perencanaan

penambangan yang matang, baik ditinjau dari segi teknis maupun dari segi

keekonomisannya agar didapatkan manfaat yang maksimal salah satunya

adalah perencanaan alat muat dan alat angkut tambang.


Alat muat dan alat angkut tambang merupakan hal yang cukup vital bagi

industri pertambangan. Saat ini PT. NAN RIANG akan melaksnakan

penambangan batubara pada site Jebak 1 oleh karena itu penulis merasa tertarik

untuk melakukan kajian terhadap alat muat dan alat angkut tambang. Untuk itu

mengambil studi kasus di PT. NAN RIANG sebagai tempat penelitian dengan

judul Perencanaan Kebutuhan Alat Muat dan Alat Angkut Site Jebak 1

36
37

Tahun 2017 Di PT. NAN RIANG Kecamatan Muara Tembesi Kabupaten

Batanghari , Jambi
B. DASAR TEORI
1. Metode Penambangan
Secara umum metode penambangan dibagi atas dua, yaitu tambang

terbuka (surface mining) dan tambang dalam (underground mining).

Tambang terbuka dilakukan dengan cara pengupasan lapisan tanah penutup

untuk mendapatkan material yang menjadi target produksi. Pada tambang

terbuka ini para pekerja berhubungan langsung dengan udara luar.

Sedangkan tambang dalam dilakukan dengan membuat jalan masuk menuju

material target produksi sehingga para pekerja tidak berhubungan langsung

dengan udara luar.


Pemilihan metode ini didasarkan pada tingkat keekonomisan

tambang tersebut jika dilakukan produksi. Produksi adalah banyaknya

material yang dapat dipindahkan atau digali per satuan waktu. Produktivitas

adalah jumlah produksi per alat. Umumnya pemindahan material dihitung

berdasarkan volume (m3 atau cuyd), sedangkan pada batubara biasanya

kapasitas produksi dinyatakan dalam ton. Kapasitas alat adalah jumlah

material yang dapat diisi, dimuat atau diangkut oleh suatu alat. Pabrik

pembuatan alat akan memberikan spesifikasi unit alat termasuk kapasitas

teoritisnya. Kapasitas actual alat berkaitan erat dengan faktor

pengembangan material atau sering disebut swell factor. Hal ini disebabkan

adanya penambahan volume akibat pemberaian material insitu atau

pengurangan volume akibat pemadatan material loose.


Dalam perhitungannya, jumlah material umumnya dinyatakan dalam

volume aslinya di tempat atau bank (insitu), walaupun yang diangkut atau
38

dimuat sebenarnya adalah material lepas (loose). Ada tiga bentuk volume

material yang mempengaruhi perhitungan pemindahannya, yaitu dinyatakan

dalam bank cubic meter (BCM), loose cubic meter (LCM) dan compacted

cubic meter (CCM), terjadi karena adanya perbedaan densitas akibat

penggalian atau pemadatan dari material. Densitas merupakan faktor

penting yang menentukan berat bahan yang digali dari alat angkut dengan

kapasitas angkut dan kapasitas gali per BCM.


2. Sistem Penambangan
Sistem penambangan yang digunakan PT. NAN RIANG adalah

tambang terbuka dengan metode kombinasi excavator PC 400LC dan dump

truck CWM 330PS


3. Alat Gali Muat
Pemuatan adalah suatu proses pengambilan dan pemuatan material

kedalam alat angkut menggunakan alat muat. Pada Lokasi penambangan pit

Jebak PT. NAN RIANG jenis alat muat yang digunakan adalah excavator

PC 400LC .
Menurut Partanto ( 1996:102 ) menyatakan bahwa salah satu tolak

ukur yang dapat dipakai untuk mengetahui baik buruknya hasil kerja

(keberhasilan ) suatu alat pemindahan alat mekanis termasuk alat alat

muat adalah besarnya produksi yang dapat dicapai oleh alat tersebut.
Untuk pengambilan dan pemuatan material ke atas alat angkut

(lori,truk,dsb) dipergunakan alat alat muat yang sangat banyak jenisnya,

karena keadaan lapangan kerjanyapun sangat bermacam macam.


Adapun cara menghitung cycle time alat gali muat yang penulis

lakukan secara aktual dilapangan, dengan pembagian kegiatan alat gali muat

dibagi menjadi 4 kegiatan yaitu:


1). Waktu Muat
39

Waktu muat adalah waktu yang diperlakukan Excavator untuk

menggali bahan galian.


2). Swing isi
Swing isi adalah waktu yang diperlukan Excavator untuk

menggerakkan lengannya keatas bak dump truck dengan kondisi

bucket sedang terisi bahan galian .


3). Waktu Tumpah
Waktu Tumpah adalah waktu yang diperlukan Excavator untuk

mencurahkan bahan galian kedalam bak dump truck .


4). Swing kosong
Swing kosong adalah waktu yang diperlukan Excavator untuk

menggerakkan lengannya kembali ke tumpukan bahan galian

dengan kondisi bucket kosong.

4. Alat angkut
Alat angkut merupakan alat yang digunakan untuk mengangkut

bahan galian dari lokasi front tambang ke stock pile. Salah satu alat angkut

yang digunakan pada penambangan adalah dump truck CWM 330PS.


Pada aktivitas penambangan sebisa mungkin dump truck yang

digunakan sesuai dengan macam dan medan kerja seperti alat gali di lokasi

front tambang. Bentuk bak dump truck sebaiknya disesuaikan dengan

material yang akan diangkut, sehingga material yang diangkut bisa tumpah

dengan mudah. Alat angkut dikombinasikan dengan alat gali muat, maka

sangat perlu memilih kapasitas alat angkut yang serasi dengan kapasitas alat

gali muat. Kapasitas dari alat angkut yang digunakan akan sangat

mempengaruhi terhadap hasil produksi dari aktivitas penambangan,

sehingga perlu diketahui kapasitas dan jumlah dump truck yang

menguntungkan untuk digunakan.


40

Berikut ini perbandingan dump truck yang berkapasitas kecil dengan

dump truck berkapasitas besar:


a. Dump truck kapasitas kecil
Keuntungan dump truck dengan kapasitas kecil ialah lebih fleksibel

dalam manuver yang akan sangat menguntungkan pada jarak angkut

pendek dan memiliki kecepatan yang lebih tinggi. Sedangkan kerugian

dari dump truck berkapasitas kecil ialah memerlukan banyak unit dump

truck dan operator.

b. Dump truck kapasitas besar


Keuntungan dump truck dengan kapasitas besar ialah material yang

diangkut lebih banyak dan jumlah unit dump truck serta operator yang

dibutuhkan lebih sedikit dari pada penggunaan dump truck berkapasitas

kecil. Kerugian dari dump truck berkapasitas besar ialah waktu yang

dibutuhkan alat gali muat lebih lama dan suku cadang yang dibutuhkan

lebih sukar untuk didapatkan dipasaran.


Adapun cara menghitung cycle time alat gali angkut yang penulis

lakukan secara aktual di lapangan ,dengan pembagian kegiatan alat

angkut dibagi menjadi 6 kegiatan yaitu:


1) Loading dari alat gali

Waktu ini dihitung mulai dari dump truck selesai maneuver mundur

dan siap di isi sampai dump truck penuh, dan mulai berangkat untuk

mengangkut material ke lokasi pembuangan. Waktu muat ini akan

dapat lebih effisien bila alat gali-muatnya berukuran seimbang dengan

kapasitas dump truck, kondisi loadingpoint yang baik dan luas,

keahlian operator alat gali-muat yang bagus dan jenis material yang

digali tidak keras.


41

2) Waktu hauling bermuatan

Dimulai sejak dump truck meninggalkan lokasi pemuatan menuju ke

lokasi pembuangan sampai dump truck siap untuk maneuver (pada

posisi siap mundur di lokasi pembuangan). Lama waktu ini sangat

berpengaruh pada kondisi jalan sehingga kecepatan dump truck

dapat optimal dan jauh dekatnya lokasi.

3) Waktu manuver dumping

Waktu yang diperlukan dump truck untuk memposisikan posisinya di

disposal yang dihitung dari mulai mundurnya dump truck sampai

dump truck berhenti dan siap membuang muatan.

4) Waktu dumping

Waktu yang digunakan untuk membuang muatan dump truck yang

dimulai dari saat dump truck berhenti maneuver dan siap

mengangkat dump body sampai dump truck siap hendak bergerak

maju setelah muatan selesai dibuang.

5) Waktu kembali ke lokasi loading alat gali

Waktu dump truck kembali ke lokasi alat gali muat untuk di isi lagi

muatannya. Adapun perhitungan lama waktunya sama seperti waktu

angkut dump truck saat bermuatan.

6) Waktu manuver loading


42

Definisi dan perhitungan waktu ini sama seperti waktu maneuver

dump truck di lokasi dumping.

5. Alat Bantu/Penunjang
Alat gusur adalah alat yang merubah energi mesin menjadi energi

mekanik. Yang dimaksud dengan energi mekanik adalah berupa gaya

dorong/gusur yang sering disebut juga dozing, namun apabila energi

mekanik tersebut berupa tarikan oleh gaya tarik maka disebut alat tarik

(tractor). Sehingga tractor yang dilengkapi alat gusur (berupa blade)

dinamakan bulldozer.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas
Adapun faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah:
a. Kondisi cuaca.

Cuaca sangat mempengaruhi efisiensi kerja, baik operator

maupun peralatan mekanis yang akan digunakan. Karena aktivitas pada

metode tambang terbuka berhubungan langsung dengan cuaca.

Contohnya pada musim penghujan, ,jalan utama, jalan angkut dan

pemuatan akan menjadi licin dan jalan menjadi lengket akan

mempengaruhi cycle time batubara. jika hujan sangat deras maka

kegiatan penambangan di hentikan dan tidak dapat dilakukan.

Apabila cuaca panas, alat yang bekerja akan bergerak dengan

baik, karena jalan pengankutan yang akan dilalui oleh alat tidak licin

dan lengket. penggalian batubara akan lebih cepat tetapi jalan angkut di

sekitar lokasi penambangan akan berdebu dan akan menghalangi

operator excavator, dump truck, bulldozer dan alat lainnya yang sedang

beroperasi. karena jalan di lokasi penambangan berdebu maka


43

digunakan dump truck water tank untuk menyiram jalan agar debu

tidak terlalu banyak di lokasi penambangan.

b. Pola pemuatan
Pola pemuatan yang digunakan tergantung pada kondisi

lapangan serta alat mekanis yang digunakan dengan asumsi bahwa

setiap alat angkut yang datang, mangkuk (bucket) alat gali muat sudah

terisi penuh dan siap ditumpahkan. Setelah alat angkut terisi penuh

segera keluar dan dilanjutkan dengan alat angkut lainnya sehingga tidak

terjadi waktu tunggu dan dapat mengoptimalkan produktivitas. Pola

pemuatan pada operasi pengangkutan di tambang terbuka di jelaskan

seperti di bawah ini:


1). Berdasarkan pada posisi alat gali muat
a). Top Loading
Metode Pemuatan dengan cara top loading di lakukan

pada saat alat gali muat berada di atas material ataupun

jenjang.Alat gali muat berada lebih tinggi dari alat angkut

sehingga operator lebih mudah dalam melakukan kegiatan

pemuatan material dan waktu edar dari alatpun akan semakin

berkurang.Pola muat top loading dapat dilihat pada gambar 24.


44

Gambar 24. Pola Muat Top Loading


b). Bottom Loading
Metode pemuatan dengan cara bottom loading

dilakukan pada saat alat gali muat berada sejajar dengan alat

angkut sehingga waktu edar dari alat akan lebih banyak dari

metoda top loading operator juga lebih sulit dalam melakukan

pemuatan kedalam alat angkut karena keterbatasan penglihatan

dan swing lebih susah. Pola muat bottom loading dapat dilihat

pada gambar 25.

Gambar 25. Pola Muat Bottom Loading


2). Berdasarkan penempatan posisi alat angkut
a). Single back up
Yaitu alat angkut memposisikan diri untuk dimuat pada

satu tempat dan alat angkut berikutnya menunggu alat angkut

pertama dimuati sampai penuh ,setelah alat angkut pertama

berangkat alat kedua memposisikan diri untuk dimuati dan

seterusnya . Single back up dapat dilihat pada gambar 26.


45

Gambar 26. Single Back Up


b). Double back up
Yaitu alat angkut memposisikan diri untuk dimuati pada

satu tempat, kemudian alat gali muat mengisi salah satu alat angkut

sampai penuh setelah itu mengisi alat angkut kedua yang sudah

memposisikan diri di sisi lain sementara alat angkut kedua diisi,alat

angkut ketiga memposisikan diri di tempat yang sama dengan alat

angkut pertama dan seterusnya . Double back up dapat dilihat pada

gambar 27.

Gambar 27. Double Back Up


3). Berdasarkan posisi pemuatan
a). Frontal Cut
Excavator berhadapan dengan muka jenjang atau front

penggalian .pada pola ini excavator memuat pertama pada dump

truck sebelah kanan sampai penuh dan berangkat ,setelah itu


46

dilanjutkan pada dump truck sebelah kiri. Pola pemuatan frontal

cut dapat dilihat pada gambar 28.

Gambar 28. Pola Pemuatan Frontal Cut


b). Parallel Cut With Turn Drive By
Excavator bergerak melintang dan sejajar dengan front

penggalian . pola ini digunakan bila lokasi pemuatan berdekatan

dengan lokasi stockpile. Pola parallel cut with turn drive by dapat

dilihat pada gambar 29.


G

ambar 29. Pola Parallel Cut With Turn Drive By


c. Lebar jalan angkut
Jalan angkut pada lokasi tambang sangat mempengaruhi

kelancaran operasi penambangan terutama dalam kegiatan

pengangkutan. Perhitungan lebar jalan angkut didasarkan pada lebar

kendaraan terbesar yang dioperasikan. Semakin lebar jalan angkut yang

digunakan maka operasi pengangkutan akan semakin aman dan lancar.

Pada umumnya agar aman, lebar jalan angkut pada jalan lurus adalah

3,5 kali lebar dua alat angkut yang akan melewatinya, sehingga tidak
47

terjadi kecelakaan dan pengangkutan material lebih cepat. Sedangkan

pada tikungan dibuat agar lebih lebar dari jalan lurus sehingga manuver

alat angkut lebih cepat. Jika lebar jalan tikungan lebih sempit, otomatis

alat angkut akan memperlambat lajunya, dan membuat waktu edar lebih

lama.Semakin lebar jalan angkut yang digunakan maka operasi

pengangkutan akan semakin aman dan lancar.


1). Lebar jalan angkut minimum pada jalan lurus
2). Lebar angkut minimum yang dipakai untuk jalur ganda atau lebih

menurut AASHTO Manual Rural High-Way Design adalah :


L = n . Wt + ( n+1 ) ( 0,5 . Wt )
Keterangan :
L = Lebar jalan angkut minimum ( meter )
n = Jumlah jalur
Wt = Lebar truk jungkit ( meter )
3). Lebar jalan angkut minimum pada tikungan
Lebar jalan angkut minimum pada tikungan selalu lebih besar

daripada jalan angkut pada jalan lurus . Rumus yang digunakan

untuk menghitung lebar jalan angkut minimum pada belokan

adalah :
W = 2 ( U + Fa + Fb + Z ) + C
C = Z = ( U + Fa + Fb )
Keterangan :
U = Jarak jejak terluar roda depan dengan jejak terluar roda

belakang kendaraan ( meter )


Fa = Jarak roda depan dengan sisi samping terluar dump truck

dikalikan sinus sudut penyimpangan roda ( meter)


Fb = Jarak roda belakang dengan sisi samping terluar dump

truck dikalikan sinus sudut penyimpangan roda ( meter )


Z = Jarak sisi luar dump truck ke tepi jalan ( meter )
C = Jarak antara dua dump truck yang akan bersimpangan

(meter )
d. Faktor material
48

Jenis dan kondisi material yang akan digali akan berpengaruh

pada hasil produksi. Hal yang termasuk faktor material adalah:


1). Berat jenis (density)
Berat Bahan
Density Insitu=
Volume Insitu
Berat Bahan
Density Loose=
VolumeLoose
2). Faktor Pengembangan Material
Pengembangan (swell) adalah presentase pemberaian

volume material dari volume asli yang dapat mengakibatkan

bertambahnya jumlah material yang harus dipindahkan dari

kedudukan aslinya.
3). Sifat Kohesi
Sifat pengikatan/kelengketan material yang sama jenis,

terutama ditentukan oleh kadar lempung.


4). Sifat Mekanik Material
Berpengaruh pada kemampuan alat gali pada pengoperasian

penggalian. Sifat ini dipengaruhi oleh kuat tekan, kuat geser

material penggalian.
Faktor tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan

kekerasan material. Karena perbedaan kekerasan material yang

digali sangat bervariasi maka sering dilakukan pengelompokkan

sebagai berikut:
a). Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya tanah

atas atau top soil, pasir (sand), lempung pasiran (sandy clay),

pasir lempungan (clayed sand).


b). Agak keras atau medium hard digging, misalnya tanah liat atau

lempung (clay) yang basah dan lengket. Batuan yang sudah

lapuk (weathered rock).


c). Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya : batu sabak

(slate), material yang kompak (compacted material), batuan


49

sediman (sedimentary rock), konglomerat (conglomerate),

breksi (breccia).
d). Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau

batuan segar (fresh rock) yang memerlukan pemboran dan

peledakan sebelum digali, misal batuan beku segar (fresh

igneous rock), batuan malihan segar (fresh metamorphic rock).


e. Faktor isian mangkuk
Faktor isi (fill factor) adalah presentase volume yang sesuai

atau sesungguhnya dapat diisikan ke dalam bak (vessel) dump truck

dibandingkan dengan kapasitas teoritisnya. Suatu bak (vessel) truk

yang mempunyai faktor isi 87%, artinya 13% volume vessel itu

tidak dapat diisi. Mangkuk (bucket) dari excavator memiliki faktor

isi lebih dari 100% karena dapat diisi munjung (heaped).


Vn
Ff =
Vs
Keterangan :
Ff = Faktor isian
Vn= Kapasitas nyata mangkuk alat gali-muat, m3
Vs = Kapasitas baku mangkuk alat gali muat, m3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengisian mangkuk adalah :
a. Kandungan air, dimanan semakin besar kandungan air maka

faktor pengisian semakin kecil, karena terjadi pengurangan

volume material.
b. Ukuran material, semakin besar ukuran material maka faktor

pengisian akan semakin kecil.


c. Keterampilan dan kemampuan operator, dimana operator yang

berpengalaman dan terampil dapat memperbesar faktor

pengisian mangkuk.
50

Semakin banyak material yang dapat dimuat dalam bak alat

angkut, maka semakin tinggi nilai produktivitas, sehingga rencana

produksi dapat maksimal.


f. Waktu edar
Waktu edar (cycle time) adalah waktu yang diperlukan alat

mulai dari aktivitas pengisian atau pemuatan (loading), pengangkutan

(hauling) untuk dump truck dan sejenisnya atau swing untuk back hoe

dan shovel, pengosongan (dumping), kembali kosong dan

mempersiapkan posisi (manuver) untuk diisi atau dimuat. Disamping

aktivitas-aktivitas tersebut terdapat pula waktu menunggu (delay time)

bila terjadi antrian untuk mengisi atau memuat. Komponen waktu edar

(cycle time) untuk alat dorong, misalnya bulldozer adalah waktu

dorong material sampai jarak tertentu, waktu kembali mundur,

manuver, maupun siap dorong kembali.


Waktu edar (cycle time) terdiri dari dua jenis, yaitu waktu tetap

(fixed time) dan waktu variable (variable time). Jadi waktu edar total

adalah penjumlahan waktu tetap dan waktu variable. Yang termasuk

dalam waktu tetap adalah waktu pengisian atau pemuatan termasuk

manuver dan menunggu, waktu pengosongan muatan, waktu

membelok dan mengganti gigi dan percepatan, sedangkan waktu

variable adalah waktu mengangkut muatan dan kembali kosong.


1). Waktu edar alat gali-muat
Waktu edar alat gali muat dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ctgm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4
Keterangan :
Ctgm = waktu edar alat gali-muat, detik
Tm1 = waktu menggali material, detik
Tm2 = waktu putar dengan bucket terisi, detik
Tm3 = waktu menumpahkan muatan, detik
51

Tm4 = waktu putar dengan bucket kosong, detik


2). Waktu edar alat angkut
Waktu edar alat angkut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Cmt = (n x Cms) + (D/v1 + t1 + D/v2 + t2)
Keterangan :
Cmt = waktu edar alat angkut, menit
D = jarak angkut (meter)
v1 = kecepatan muatan (m/menit)
v2 = kecepatan kosong (m/menit)
t1 = waktu buang + stand by
t2 = waktu posisi pengisian
g. Keserasian kerja
Untuk mendapatkan hubungan kerja yang serasi antara alat

gali-muat dan alat angkut, maka produktivitas alat gali-muat harus

sesuai dengan produktivitas alat angkut. Faktor keserasian tersebut

didasarkan pada produktivitas alat gali-muat dan produktivitas alat

angkut, yang dinyatakan dalam Match factor (MF).


Secara perhitungan teoritis, produktivitas alat gali muat

haruslah sama dengan produktivitas alat angkut, sehingga perbandingan

antara alat angkut dan alat gali-muat mempunyai nilai satu, yaitu:
Produktivitas alat angkut = produkvitas alat gali muat
Produktivitas alat angkut
1 =
produktivitas alat muat
banyak alat angkut x produktivitas alat angkut
MF =
banyak alat galimuat x produktivitas alat galimuat
Bila hasil perhitungan diperoleh:
1). MF < 1, artinya alat gali-muat bekerja kurang dari 100%, sedang

alat angkut bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi

alat gali-muat karena menunggu alat angkut yang belum

datang.
2). MF = 1, artinya alat gali-muat dan angkut bekerja 100%, sehingga

tidak terjadi waktu tunggu dari alat tersebut.


52

3). MF > 1, artinya alat gali-muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut

bekerja kurang dari 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi

alat angkut.
i. Ketersediaan alat dan penggunaan alat
Ketersediaan alat adalah faktor yang menunjukan kondisi alat-

alat mekanis dalam melakukan pekerjaan dengan memperhatikan

kehilangan waktu selama kerja. Semakin baik kondisi alat, maka

produktivitas yang direncanakan dapat lebih optimal, dan kebalikannya

apabila kondisi alat buruk dapat mengurangi produktivitas. Kondisi

peralatan mekanis dibagi menjadi :


1). Kondisi peralatan 90% - 100%
Berlaku untuk peralatan baru dan siap pakai, kemampuan minimal

70% dan belum mengalami perbaikan apapun serta dalam keadaan

lengkap.
2). Kondisi peralatan 70% - 89%
Berlaku untuk peralatan lama yang dalam keadaan yang siap

beroperasi dengan kemampuan minimal 70 % namun sudah dipakai

lebih dari satu tahun atau seribu jam kerja.


3). Kondisi peralatan 50% - 69%
Peralatan yang dalam keadaan rusak ringan operasi. Kemampuan

alatnya minimal 60% dan sudah dioperasikan lebih dari dua tahun

atau tiga ribu jam kerja. Kondisi tersebut di pengaruhi oleh :


a). Kesediaan Mekanis ( Mechanical avaibility )
Faktor yang menunjukkan kesediaan alat dalam melakukan

pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu untuk

memperbaiki mesin ,peralatan dan alasan mekanis lainnya.


W
MA = x 100 %
W+R
Keterangan :
W = working hours , yaitu jam kerja yang dibebankan
53

kepada operator (alat dalam kondisi siap

dioperasikan)
R = repairs hours ,yaitu jumlah jam untuk perbaikan dan

waktu yang hilang karena menunggu saat perbaikan

termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang

serta untuk perawatan preventif.


b). Kesediaan Fisik ( Physical availability )
Faktor yang menunjukkan kesediaan alat untuk melakukan

kerja dengan memperhitungkan waktu yang hilang karena

rusaknya jalan , faktor cuaca dan lainnya.

W +S
PA= x 100
W +S+R
Keterangan :
S = Standby hours ,yaitu jumlah kerja alat yang tidak

dioperasikan pada hal alat tersebut tidak rusak

dan siap beroperasi .


W+R+S = scheduled hours, yaitu jumlah seluruh jam kerja

dimana alat di jadwalkan untuk beroperasi


7. Perhitungan produksi peralatan mekanis
Untuk memperkirakan produktivitas alat gali-muat dan alat

angkut, dapat digunakan rumus sebagai berikut :


a. Produktivitas alat gali-muat
Untuk memperkirakan produktivitas alat gali-muat dan alat

angkut, dapat digunakan rumus berikut ini :


KbWpSFFFEff 3600
Q=
Ct
Keterangan :
Q = Produktivitas alat gali muat (Bcm/jam)
Wp = Effisiensi kerja alat gali muat
Kb = Kapasitas bucket (m3)
SF = Swell Factor
FF = Fill Factor Bucket
Eff = Effisiensi Kerja
Ct = Cycle Time, detik
54

b. Produktivitas alat angkut


KbWpSFFFEff 60
Q=
Ct
Keterangan :
Q = Produktivitas alat gali-muat ( Bcm/jam )
Kb = Kapasitas Bucket (m3)
Wp = Effisiensi Kerja Alat
SF = Swell Factor
FF = Fill Factor Bucket
Eff = Effisiensi Kerja
Ct = Cycle Time (menit)

8. Efisiensi Kerja

Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan suatu

pekerjaan atau merupakan perbandingan antar waktu yang dipakai untuk

bekerja dengan waktu yang tersedia. Dari hasil pengamatan di lapangan

tentu terdapat keterlambatan dalam penggunaan jam kerja yang tersedia,

sehingga jam kerja efektif berkurang. Hambatanhambatan yang terjadi

selama jam kerja dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu hambatan yang

dapat dihindari dan hambatan yang tidak dapat dihindari. Waktu kerja

efektif dapat dihitung dengan rumus :


W ke =W k ( W hd + W hdt )
t
W ke
100
sedangkan efisiensi kerja = W kt
Keterangan :
Wke = Waktu kerja efektif, menit
Whd = Waktu hambatan yang dapat dihindari
Wkt = Waktu kerja yang tersedia

Whtd = Waktu hambatan yang tidak dapat dihindari

Faktor efisiensi kerja dapat dilihat pada tabel 5.


Tabel 5. Faktor Efisiensi Kerja
55

Kondisi Pemeliharaan Mesin

Operasi Alat Baik Baik Sedang Buruk Buruk

Sekali sekali

Baik Sekali 0,83 0,81 0,76 0,70 0,63

Baik 0,78 0,75 0,71 0,65 0,60

Sedang 0,72 0,69 0,65 0,60 0,54

Buruk 0,63 0,61 0,57 0,52 0,45

Buruk Sekali 0,52 0,50 0,47 0,42 0,32

Sumber : Buku Perhitungan alat berat Ir.Rochmanhadi

C. PEMBAHASAN

1. Produktifitas Alat Gali Muat

EXCAVATOR PC 400LC

Rumus:

Q = q x K x 3600 x E
CT
(Sumber: Specifications & Application Handbook Komatshu Edition 30,
December 2009)

Keterangan:
Q = produktifitas excavator (m3/jam)
q = kapasitas bucket (m3)
K = faktor fill bucket
E = efisiensi kerja
CT=cycle time
Diketahui:
q = 3 m3
K = 1,1
E = 0,65
56

CT = 22 detik
Maka, produktifitas excavator PC 400 adalah
Q = 3 x 1,1 x 3600 x 0,65 = 351 m3/jam
22s
Dikalikan density batubara 1,1 ton/ m3
Maka, produktifitas excavator PC 400 adalah 351 m 3/jam x 1,1 ton/ m3 =

386,1 ton/jam

2. Produktifitas Alat Angkut


Dump truck CWM 330PS melayani Excavator PC 400LC untuk

pemuatan batubara
Cycle time DT CWM 330PS untuk pemuatan batubara ke stockpile:
Diketahui:
n = kapasitas rata-rata DT CWM 330PS = 20 m3 = 6,06 = 7 bucket
kapasitas bucket x faktor bucket 3 m3 x 1,1
cms = 22 detik
(n x cms) = 7 x 22 = 154 detik = 2,56 menit
D = 1,7 km = 1700 m
V1 = 30 km/jam = 30000 m/ 60 menit = 500 m/menit
V2 = 50 km/jam = 50000 m/ 60 menit = 833,33 m/menit
t1 = 1,3 menit
t2 = 0,35 menit
jadi cycle time DT CWM 330PS adalah:
cmt = (n x cms) + (D/V1 + t1 + D/V2 + t2)
cmt = 2,56 menit + (1700/500 + 1,3 + 1700/833,33 + 0,35)
= 2,56 + 3,4 +1,3 + 2,04 + 0,35
= 9,65 menit
Menghitung produktifitas DT CWM 330PS
Diketahui:
n= 7
q = 3 m3
K = 1,1
E = 0,65
Cmt = 9,29 menit
P = n x q x K x 60 x E
Cmt

P = 7 x 3 x 1,1 x 60 x 0,65 = 93,35 m3/jam


9,65
Dikali density batubara 1,1 ton/m3
Maka, produktifitas DT CWM 330PS adalah 93,35 m3/jam x 1,1 ton/m3 =

102,68 ton/jam
3. Lama Waktu Penambangan Batu Bara
57

Batubara yang akan diambil adalah 919.168 ton. Dari volume batubara

tersebut,maka dengan target produksi 50.000 ton/bulan akan di dapatkan

lama waktu penambangan batubara dengan model perhitungan sebagai

berikut:
Maka: 919.168 ton : 50.000 ton/bulan = 18,3 bulan
4. Jumlah Alat Yang Diperlukan

a. Jumlah excavator PC 400LC

Dalam proses pengambilan batubara, direncanakan akan menggunakan

excavator PC 400LC yang mempunyai produksi 386,1 ton/jam. Dengan

jam jalan efektif rata-rata tiap bulan adalah 214,8 jam/bulan, maka

dalam 1 bulan produksi yang dihasilkan adalah:


386,1 ton/jam x 214,8 jam/bulan = 82.934,28 ton/bulan
Sedangkan target produksi batubara adalah 50.000 ton/bulan. Untuk

menentukan jumlah ex PC 400LC saat pengambilan batubara, dapat

dihitung dengan rumus sebagai berikut:


Target produksi batubara/bulan : produksi ex PC 400/bulan
50.000 ton/bulan : 82.934,28 ton/bulan = 0,60 1 buah ex PC 400

b. Jumlah dump truck CWM 330PS

Dump truck yang akan digunakan dalam proses pengangkutan batubara

ke stockpile adalah DT CWM 330PS dengan bermuatan 20 ton yang

mampu berproduksi 102,68 ton/jam untuk 1 buah DT tersebut. Dengan

jumlah rata-rata jam jalan efektif 229,8 jam/bulan, maka produksi untuk

1 buah DT CWM 330PS adalah:


102,68 ton/jam x 229,8 jam/bulan = 23.595,86 ton/bulan
Sedangkan target produksi untuk batubara adalah 50.000 ton/bulan.

Maka kebutuhan DT CWM 330PS yang akan digunakan, dihitung

dengan rumus:
Target produksi batubara/bulan : produksi DT CWM 330PS/bulan
58

50.000 ton/bulan : 23.595,86 ton/bulan = 2,11 3 buah DT CWM

330PS.
Berarti 1 EX PC 400 melayani 3 buah DT CWM 330PS.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan praktek kerja yang penulis lakukan di lapangan


dan pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut:

1. Aktivitas penambangan yang akan dilakukan di site Jebak menggunakan

kombinasi Excavator PC 400LC dan Dumptruck CWM 330PS


2. Dengan cadangan batubara sebanyak 919.168 ton direncanakan jumlah

alat pengambilan batubara dengan Excavator PC 400LC berjumlah 1 dan

pengangkutan batubara menggunakan Dumptruck CWM 330PS

berjumlah 3 dengan jarak ke stockpile 1,7 Km.

3. Alat penunjang sangat dibutuhkan sekali untuk meningkatkan produktivitas

peralatan utama sehingga target rencana dapat dicapai yaitu 50.000

ton/bulan.

B. Saran

Berdasarkan kegiatan praktek yang telah dilakukan dilapangan oleh


penulis, ada beberapa saran dalam upaya peningkatan produktivitas sebagai
berikut:

1. Usahakan tidak ada alat gali muat dan alat angkut yang tidak beroperasi,
hal itu mengakibatkan tidak tercapainya target produksi dan bertambahnya
biaya produksi.
2. Perawatan jalan di site Jebak harus dilakukan secara rutin agar proses
pengangkut bahan galian tidak terhambat dan tidak mengurangi waktu
produksinya.

64