Anda di halaman 1dari 16

INTENSIVE CAR UNIT (ICU)

Pembimbing:
Dr. H. Ucu Nurhidayat, Sp.An
Dr. H. Sabur, Sp.An
Dr. Ade Nurkacan, Sp.An

Disusun Oleh:
Muhammad Hafiz Alfarizie
NIM: 030.13.126

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 8 MEI 2017 18 JUNI 2017
JAKARTA, MEI 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Intensive
Care Unit. Referat ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Anestesiologi RSUD Karawang.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih terutama
kepada dr. H Ucu Nurhidayat, Sp.An, dr. H Sabur, Sp.An, dan dr. Ade Nurkacan,
Sp.An selaku pembimbing atas masukan dan pengarahannya selama penulis belajar
dalam kepaniteraan klinik Ilmu Anestesiologi. Selain itu penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penyelesaian
referat ini, termasuk para dokter dan staf RSUD Karawang serta teman-teman
kepaniteraan klinik Ilmu Anestesiologi atas segala bentuk bantuan dan
dukungannya.
Penulis menyadari dalam pembuatan referat ini masih terdapat banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan segala kritik dan saran
guna menyempurnakan referat ini. Penulis juga berharap semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Karawang, Mei 2017

Muhammad Hafiz Alfarizie

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN REFERAT DENGAN JUDUL


INTENSIVE CARE UNIT
Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesiologi
di RSUD Karawang
Periode 8 Mei 2017 15 Juni 2017

karawang, Mei 2017

(dr. H Ucu Nurhidayat, Sp.An)

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1


BAB II. PEMBAHASAN ................................................................................ 2
2.1 Definisi ....................................................................................................... 2
2.2 Tujuan ........................................................................................................ 2
2.3 Klasifikasi .................................................................................................. 2
2.4 Indikasi masuk dan keluar ICU .................................................................. 3
2.5 Sarana dan prasarana .................................................................................. 5
2.6 Peralatan ICU ............................................................................................. 7
2.7 Jenis ICU .................................................................................................... 8
2.8 Skoring ICU ............................................................................................... 8
2.5 Infeksi nosokomial icu ............................................................................... 10
BAB III. KESIMPULAN ................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 12

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Ruang ICU merupakan ruang perawatan bagi pasien sakit kritis yang
memerlukan intervensi segera untuk pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara
terkoordinasi dan memerlukan pengawasan yang konstan secara kontinyu juga
dengan tindakan segera. Pada mulanya ICU dipelopori oleh seorang dokter spesialis
anestesiologi yang bernama Bjorn Ibsen, beliau melakukan intubasi pada pasien
yang mengalami poliomielitis. Dengan bantuan tersebut ternyata menurunkan
angka mortalitas yang diderita pasien, sehingga berkembanglah ICU hingga sampai
pada saat ini.(1)
Pada saat ini pelayanan ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien
pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang
mengalami lebih dari satu disfungsi atau gagal organ. Kelompok pasien ini dapat
berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun
kiriman dari Rumah Sakit lain. Meskipun pada umumnya ICU hanya terdiri dari
beberapa tempat tidur, tetapi sumber daya tenaga (dokter dan perawat terlatih) yang
dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di Indonesia sangat
terbatas.(1)
Rumah sakit tipe C dan yang lebih tinggi, sebagai pelayanan kesehatan
rujukan harus mempunyai instalasi ICU.(6) Di Indonesia sendiri pada tahun 2015
terdapat 2488 rumah sakit yang bertipe umum maupun privat, dengan total 837
rumah sakit berkelas tipe C yang tersebar diseluruh Indonesia. Namun Jumlah
ruang ICU sangat terbatas mengakibatkan tidak semua pasien dapat diterima di
ICU.(2) Karena tingginya jumlah kematian pasien oleh karena tidak semua pasien
dapat dirawat di ICU maka pasien yang akan dirawat di ICU ditentukan berdasarkan
level prioritas kondisi mediknya.(1)

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Intensive Care Unit (ICU) adalah bagian dari rumah sakit yang mandiri,
dengan staf khusus dan perlengkapan khusus yang ditujukan untuk observasi,
perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit dan cedera yang
mengancam nyawa atau berpotensi mengancam nyawa dengan prognosis yang
tidak tentu.(1,6)
2.2 Tujuan
Maupun tujuan adanya ICU di rumah sakit antara lain(1) :
1. mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan spesifik terhadap penyakit
penyakit akut yang mengancam myawa dan dapat menimbulkan kematian
dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
2. memberikan bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus
melakukan pelaksanaan sesifik problema dasar.
3. melakukan pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap
komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit.

2.3 Klasifikasi
Penyelengaraan pelayanan ICU di indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu(6) :
1. pelayanan ICU primer (pada rumah sakit tipe C)
2. pelayanan ICU sekunder (pada rumah sakit tipe B)
3. pelayanan ICU tersier (pada rumah sakit tipe A)
pelayanan ICU tersier merupakan pelayanan tertinggi, dapat mencakup semua
aspek pelayanan. Dalam hal ketenagaan, ICU tersier dipimpin oleh seorang dokter
intensivis, berbeda dengan yang dibawahnya yang dipimpin oleh dokter spesialis
anestesi atau dokter spesialis yang mengikuti pelatihan ICU. Tenaga medis maupun
non medis dan peralatan ICU tersier merupakan yang terbaik diantara pelayanan
ICU dibawahnya.(6)

2
Kemampuan pelayanan
No Primer Sekunder Tersier
1. Resusitasi jantung Resusitasi jantung paru Resusitasi jantung
paru paru
2. Pengelolaan jalan Pengelolaan jalan nafas, Pengelolaan jalan
nafas, intubasi intubasi trakeal, dan nafas, intubasi trakeal,
trakeal, dan ventilasi ventilasi mekanik dan ventilasi mekanik
mekanik
3. Terapi oksigen Terapi oksigen Terapi oksigen
4. Pemantauan EKG, Pemantauan EKG, Pemantauan EKG,
pulseoksimetri, dan pulseoksimetri, dan pulseoksimetri, dan
tekanan darah non tekanan darah non tekanan darah on
invasive invasive dan invasive invasive, invasive,
Swan Ganz, ICP, dan
ECHO monitor
5. Pelaksanaan terapi Pelaksanaan terapi secara Pelaksanaan terapi
secara titrasi titrasi secara titrasi
6. - Melakukan prosedur Melakukan prosedur
isolasi
Isolasi
7. - Melakukan hemodialisa Melakukan
secara intermitten dan hemodialisa secara
kontinyu intermitten dan
kontinyu

2.4 Indikasi masuk dan keluar ICU


Sebelum pasien dimasukan kedalam ICU, pasien atau keluarga pasien harus
mendapatkan penjelasan secara lengkap dan menyeluruh mengenai dasar
pertibangan mengapa psien dimasukan kedalam ICU dan tindakan medis apa yang
akan diberikan selama pasien berada di ICU. Penjelasan tersebut diberikan oleh

3
kepala ICU atau dokter yang bertugas, dan keluarga pasien menyetujui dan
menandatangani surat informed consent.(1)
Tidak semua pasien datang akan dirawat di ICU, hal ini dikarenakan jumlah
sarana dan prasarana ICU yang terbatas, sehingga dibutuhkan kriteria khusus untuk
menentukan apakah pasien masuk ICU atau tidak, kriteria tersebut digolongkan
menjadi tiga prioritas, dimana prioritas 1 lebih diutamakan. Kepala ICU
bertanggung jawab untuk menentukan prioritas pasien ICU.(1)
1. kriteria masuk
a. prioritas 1
pasien kelompok ini merupkan pasien sakit kritis, tidak stabil dan
memerlukan terapi intensive dan tertitrasi, seperti bantuan ventilasi atau alat
bantu suportif organ, infus obat obat vasoaktif kontinyu, obat anti aritmia
kontinyu, pengobatan kontinyu tertitrasi, dll.
b. prioritas 2
pasien kelompok ini memerlukan pelayanan dan pemamtauan di ICU,
sebab sangat berisiko apabila tidak mendapatkan terapi intensif segera,
seperti pasien dengan pulmonary arterial catheter, penyakit jantung dan paru
berat yang akut, gagal ginjal kronik, pascapembedahan mayor, dll.
c. prioritas 3
pasien kelompok ini adalah pasien sakit kritis yang tidak stabil status
kesehatannya, dan sangat kecil kemungkinan kesembuhannya, seperti
pasien keganasan dengan metastatik disertai dengan infeksi, tamponade
perikordial, dan penyakit penyakit terminal dengan disertai masalah akut.
Umumnya pengelolaan pada pasien golongan ini hanya untuk mengatasi
kegawatan akutnya.
d. Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, berdasarkan persetujuan kepala ICU,
indikasi masuk pada beberapa golongan pasien dapat dikecualikan, namun
sewaktu waktu pasien golongan tersebut dapat dipindahkan dari ICU agar
fasilitas ICU dapat digunakan oleh golongn prioritas 1,2, dan 3. pasien yang
tergolong demikian yaitu :

4
Pasien yang memenuhi kriteria masuk namun menolak untuk
dilakukan terapi bantuan hidup yang agresif dan hanya
perawatan yang biasa saja. Ini tidak menyingkirkan pasien
dengan perintah do not resucitate. Pasien pasien ini
mengharapkan dapat meningkatkan kemungkinan
keselamatannya selama berada di ICU.
Pasien dalam keadaan vegetatif permanen
Pasien yang mengalami mati batang otak, namun diperseiapkan
untuk donor organ.
2. kriteria keluar
a. pasien dipindahkan apabila pasien sudah tidak memerlukan
perawatan intensif di ICU karena keadaan pasien ang sudah stabil
dan tertangani. Contoh, pada pasien yang telah sadar dari koma,
telah dapat bernafas secara spontan, ekstubasi, dll. Namun untuk
pasien yang kecil kemungkinan selamat dengan kegagalan banyak
organ dan tidak mungkin untuk terus dilakukan terapi intensif di
ICU, maka pasien dapat dikeluarkan dari ICU.
b. Pasien menolak di terapi secara intensif di ICU
c. Pasien yang hanya memerlukan pemantaun intens dan observasi,
tanpa perlu terapi yang tertitrasi.
2.5 Sarana dan prasarana ICU
Lokasi ICU harus dekat dengan kamar bedah atau pusat bedah di rumah
sakit, hal ini untuk memudahkan transport pasien post op yang membutuhkan
pemantauan dan terapi intens.(6) Berikut merupakan sarana dan prasarana ICU di
rumah sakit(6) :
Terisolasi
Memnpunyai standar untuk bahaya api, bahaya radiologi, bahaya
bakteriologis
Ruangan ber AC dengan suhu ruangan 20 25C dan kelembapan 50 70%
Mempunyai ruangan isolasi untuk pasien khusus
Rungan penyimpanan alat medis yang bersih dan steril

5
Ruangan pembuangan kotor
Ruang perawat
Ruang dokter jaga
Ruang laboratorium
Desain ICU berdasarkan klasifikasi ICU di rumah sakit.(6)
Desain ICU primer ICU sekunder ICU tersier
Area pasien : 1 tempat cuci 1 tempat cuci 1 tempat cuci
Unit terbuka 12 tangan tiap 2 tangan tiap 2 tangan tiap 2
16 m2 tempat tidur tempat tidur tempat tidur
Unit tertutup 12 1 tempat cuci 1 tempat cuci 1 tempat cuci
16 m2 tangan tiap tangan tiap tangan tiap
tempat tidur tempat tidur tempat tidur
Outlet oksigen 1 2 3/ tempat tidur
valkum dan stop - 1 3/ tempat tidur
kontak 2/ tempat tidur 2/ tempat tidur 16/ tempat tidur
Lingkungan Ber AC Ber AC Ber AC
Suhu 20 25 C 20 25 C 20 25 C
Humiditas 50 70 % 50 70 % 50 70 %
Ruang isolasi - + +
Ruang - + +
penyimpanan alat
medis bersih
Ruang jaga + + +
perawat
Ruang jaga dokter - + +
Laboratorium Terpusat 24 jam 24 jam

6
2.6 Peralatan ICU
Peralatan yang memadai dalam hal kualitas maupun kuantitas sangat
menentukan kelayakan pelayanan ICU, jumlah dan peralatan bergantung dari tipe
klasifikasi, fungsi ICU dan harus sesuai dengan kelayakan standar yang beraku.
Peralatan tersebut harus di kalibrasi ulang atau dijaga secara berkala agar tetap
berfungsi dengan baik. Perlu adanya protokol atau pelatihan kerja untuk perawat
perawat ICU agar dapat mengoperasikan peralatan ICU dengan baik tanpa dan
mencegah ada malfungsi dari peralatan tersebut.(1)
Peralatan monitoring pasien di ICU harus memiliki sistem alarm, hal ini
untuk memberitahu perawat agar pasien yang mengalami kondisi kritis atau dalam
kondisi yang menrun dapat dipantau terus.(1)
Peralatan ICU primer ICU sekunder ICU tersier
Ventilasi mekani Sederhana Canggih Canggih
Alat hisap + + +
Alat ventilasi manual dan alat + + +
penunjang jalan nafas
Peralatan monitor + + +
Invasif
Monitor tek darah - + +
invasif
Tekana vena sentral + + +
Swan Ganz - - +

Non invasif
Tekanan darah + + +
Ekg dan pacu jantung + + +
Saturasi oksigen + + +
Kapnografi - + +

Suhu + + +
EEG - + +

7
Defibrilator dan alat pacu + + +
jantung
Pengatur suhu pasien + + +
Peralatan drai torak + + +
Pompa infus dan syringe - + +
Bronkoscopy + + +
Echocardiography - + +
Hemodialisa - + +
CRRT - + +

2.7 Jenis ICU


ICU sendiri terbagi dalam beberapa jenis, berdasarkan fungsinya ICU dibagi
menjadi, yaitu(1,6) :
1. Intensive Coronary Care Unit (ICCU)
Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) merupakan unit penanganan bagi
pasien gangguan jantung. Seperti penderita jantung koroner,pasien gagal
jantung atau gangguan berat pada fungsi jantung jenis lain.

2. Neonatal Intensive Care Unit (NICU)


Neonatal Intensive Care Unit (NICU) adalah ruangan untuk menangani
dedek-dedek bayi baru lahir,yang mengalami kondisi tidak baik,prematur
atau gejala-gejala lain yang memerlukan perawatan dan perlakuan khusus.

3. Pediatric Intensive Care Unit (PICU)


Pediatric Intensive Care Unit (PICU) adalah ruangan perawatan khusus
pasien anak-anak yang butuh penanganan intensif.

4. Post Anesthesi Care Unit (PACU)


Post Anesthesi Care Unit (PACU) adalah unit perawatan intensif pasca
operasi dan stabilisasi pasien setelh operasi bedah dan anestesi.

2.8 Skoring ICU


Intensivis memutuskan untuk membuat skoring beratnya penyakit terhadap
pasien-pasien yang dirawat di intensive care unit (ICU) dengan maksud

8
membandingkan populasi dan mengevaluasi hasil akhirnya. Hasil akhir dari suatu
perawatan intensif bergantung dari berbagai faktor atau keadaan yang ada yang
didapati pada hari pertama masuk ICU dan juga bergantung terhadap penyebab
sakitnya sehingga dirawat di ICU.(5)
Sistem skor APACHE II merupakan salah satu sistem skor paling banyak
digunakan untuk analisis kualitas IPI, penelitian berbagai penyakit dan terapi
terbaru suatu penyakit pada pasien rawat IPI. Sistem skor APACHE II lebih
diterima karena data yang dibutuhkan untuk menentukan skor lebih sederhana,
definisi tiap variabel jelas dan reproduksibel serta dikumpulkan dari pemeriksaan
rutin pasien di IPI.(5)

9
2.9 Infeksi nosokomial ICU
Infeksi nosokomial atau yang sekarang disebut sebagai Health care
Associated Infection (HAIs) adalah infeksi yang didapat di rumah sakit terjadi pada
pasien yang dirawat di rumah sakit paling tidak selama 72 jam dan pasien tersebut
tidak menunjukkan gejala infeksi saat masuk rumah sakit. Di Indonesia, infeksi
nosokomial mencapai 15,74 %.(3)
Berdasarkan informasi sekunder yang ada, infeksi nosokomial di ICU
menjadi masalah yang sering ditemukan di rumah sakit karena pengaruh
lingkungan sekitar yang terkontaminasi. Infeksi yang terjadi di ICU paling sering
disebabkan oleh Staphylococcus sp, Enterobacter agglomerans, dll.(4)

10
BAB III
KESIMPULAN

Intensive Care Unit (ICU) adalah bagian dari rumah sakit yang mandiri,
dengan staf khusus dan perlengkapan khusus yang ditujukan untuk observasi,
perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit dan cedera yang
mengancam nyawa atau berpotensi mengancam nyawa. Adapun tujuan ICU yaitu
mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan spesifik terhadap penyakit penyakit
akut yang mengancam nyawa, memberikan bantuan dan mengambil alih fungsi
vital tubuh, dan melakukan pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan
terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit, dengan harapan dapat
meningkatkan angka keselamatan pasien.
ICU sendiri memiliki indikasi masuk dan keluar yang jelas berdasarkan
prioritas dan kestabilan pasien, hal ini agar ICU menjadi tempat untuk perawatan
intensif khusus bagi pasien yang membutuhkan. ICU juga didukung oleh tenaga
medis yang lebih handal dan sarana prasarana yang lengkap, sehingga dapat
menjadi tempat rujukan dari unit lain untuk melakukan perawatan intensif dan
tertitrasi.
Namun perlu diawasi pelayanan dan kebersihan ICU terkait infeksi
nosokomial yang dapat menjangkit pasien ICU. Apabila pasien telah membaik atau
stabil kesehatannya maka pasien dapat dipindahkan ke unit lain untuk dilanjutkan
terapi nya, karena rawannya infeksi nosokomial di ICU.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Pedoman


Penyelengaraan Pelayanan HCU dan ICU di Rumah Sakit. Jakarta. 2011
2. Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015.
Jakarta. 2015
3. Nasution, LH. Infeksi Nosokomial. Departemen Kulit dan Kelamin FK
Universitas Sumatra Utara. 2014
4. Pola Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial Pada Ruang Perawatan
Intensif Anak RSUP PROF. DR. R. D. Kandau Manado. Manado. 2015
5. Handayani, Diah. Dkk. Sistem Skor Acute Physiology And Chronic
Health Evaluation (Apache) II Sebagai Prediksi Mortalitas Pasien
Rawat Instalasi Perawatan Intensif
6. Petunjuk Teknis Penyelengaraan Pelayanan Intensif Care Unit (ICU) Di
Rumah Sakit. Direktorat Jendral Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
2012

12