Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN KOLOM WINOGRADSKY

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN


KOLOM WINOGRADSKY

OLEH
KHAIDIR ANUAR
0903121342

LABRATORIUM MIKROBIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kolom Winogradsky pertama kali digunakan pada tahun 1880 oleh Sergei Winogradsky (1856-1953),
seorang ahli mikrobiologi Rusia, untuk mempelajari interaksi kompleks antara kondisi lingkungan
dan aktivitas mikroba dan peran pengayaan tanah dalam isolasi bakteri kultur murni. Banyak ahli
mikrobiologi dari waktu, seperti Louis Pasteur dan Robert Koch terisolasi budaya untuk belajar, tapi
pekerjaan Winogradsky adalah yang pertama untuk mempelajari lingkungan campuran
mikroorganisme.
Kolom winogradsky bukanlah lingkungan alami. Semua organisme dicampur selama persiapan dan
hanya untuk mempelajari lingkungan yang berkembang dari waktu ke waktu. Ketika itu disegel dan
terkena cahaya, suksesi mikroba akan berkembang sesuai dengan konsentrasi oksigen, nutrisi dan
cahaya yang tersedia. Tergantung pada berbagai konsentrasi nutrisi dan jenis tanah yang digunakan,
berbagai bakteri akan muncul dari waktu ke waktu. Namun, model yang sangat baik ekologi mikroba.
Setiap organisme tergantung pada yang lain untuk mengatur kondisi untuk pengembangan dan
seluruh kolom dijalankan pada energi cahaya. Kolom Winogradsky adalah sebuah demonstrasi klasik
keragaman metabolisme prokariota.
1.2 TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana metode penggunaan kolom winogradsky
2. Mengetahui keanekaragaman mikroba pada beberapa jenis tanah melalui segregasi
warna pada
kedalaman kolom winogradsky.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kolom winogradsky adalah salah satu cara sederhana untuk mempelajari suatu lingkungan alami di
laboratorium. Kolom ini ditemukan oleh ahli mikrobiologi Rusia bernama Sergei Winogradsky (1856-
1953) dan Martinus W. Beijerinck (1851-1931) yang digunakan sebagai model untuk mempelajari
interaksi populasi bakteri pada berbagai komunitas perairan dan sedimen perairan dan sedimen.
Menurut Deacon (2005), Kolom winogradsky menggambarkan bagaimana mikroorganisme yang
berbeda membentuk hubungan interdependen, dimana aktivitas suatu organisme mampu
mempengaruhi organisme lain untuk tumbuh atau sebaliknya.
Kolom winogradsky terdiri atas lumpur dan sedimen yang dimasukkan kedalam gelas silinder atau
plastik tansparan. Penyusunan dalam bentuk "kolom" memungkinkan terbentuknya kondisi aerob di
permukaan kolom dan kondisi mikroaerofil atau anoxic di bagian bawah Bagian permukaan kolom
terpapar dengan oksigen semakin ke bagian bawah kolom semakin kekurangan oksigen sampai ke
bagian dasar merupakan zona anaerob. Bagian permukaan dan tepi kolom terpapar dengan cahaya
sehingga dapat menggambarkan spektrum pertumbuhan organisme dari yang memutuhkan oksigen
dan cahaya sampai organisme yang membutuhkan cahaya tetapi tidak membutuhkan oksigen.
Menurut Atlas (1988), lumpur dan sedimen yang digunakan mengandung atau teraugmentasi dari
substrat senyawa organik karbon, sulfide, dan sulfat. Hal ini yang mengakibatkan perkembangan
sejumlah bakteri heterotrop dan photoautotroph termasuk bakteri sulfur photosintetik anaerob.
Kolom ini dapat diisi dengan tanah, Lumpur, dan air dari berbagai macam lingkungan dan dapat
dimodifikasi dengan kultur pengkayaan. Komunitas bakteri di alam mempunyai kelimpahan dan
diversitas terbanyak misalnya dalam tanah.

Jumlah besar selulosa (misalnya koran) ditambahkan awalnya mendorong pertumbuhan


mikroba yang cepat yang segera menghabiskannya oksigen di dalam sedimen dan kolom air. Hanya
bagian paling atas kolom tetap diaerasi karena oksigen berdifusi sangat lambat melalui air.

Organisme yang dapat tumbuh dalam kondisi anaerobik adalah organisme yang
memfermentasi bahan organik. Fermentasi adalah proses di mana senyawa organik yang
terdegradasi tidak sempurna; Misalnya, ragi memfermentasi gula ke alkohol respirasi anaerob
adalah proses di mana substrat organik benar-benar terdegradasi menjadi CO2, tetapi menggunakan
zat lain selain oksigen sebagai akseptor elektron terminal. Beberapa bakteri bernafas dengan
menggunakan ion nitrat atau sulfat, dengan cara yang sama seperti kita menggunakan oksigen
sebagai akseptor elektron terminal selama respirasi ( Deacon 2005)
Beberapa spesies yang menggunakan selulosa misalnya Clostridium mulai tumbuh ketika
oksigen habis dalam sedimen. Semua spesies Clostridium anaerobik karena sel-sel vegetatif mereka
dibunuh oleh paparan oksigen, tetapi mereka dapat bertahan sebagai spora dalam kondisi aerobik.
Clostridium menurunkan selulosa menjadi glukosa dan kemudian memfermentasi glukosa untuk
mendapatkan energi, memproduksi berbagai senyawa organik sederhana (etanol, asam asetat, asam
suksinat, dll) sebagai produk fermentasi akhir ( Deacon 2005)
Sulfur-mengurangi bakteri seperti Desulfovibrio dapat memanfaatkan produk-produk fermentasi
oleh respirasi anaerobik, baik menggunakan sulfat atau bentuk teroksidasi sebagian lain dari
belerang (misalnya tiosulfat) sebagai terminal akseptor elektron, menghasilkan sejumlah besar H2S
dengan proses ini Dalam respirasi aerobik sendiri kita menggunakan O2 dan mengurangi ke H2O.
H2S akan bereaksi dengan besi dalam sedimen, menghasilkan sulfida besi hitam. Inilah sebabnya
mengapa danau sedimen sering hitam. Namun, beberapa dari atas dengan H2S berdifusi ke dalam
kolom air, di mana ia dimanfaatkan oleh organisme lain Thiobacillus-Thiobacillus yang
chemoautotrophs dan memerlukan sumber energi anorganik. Mereka ditemukan dalam kondisi
aerobik yang mengandung belerang atau sulfida. Metode utama untuk mengisolasi mereka adalah
campuran Menengah Starkey itu, Menengah tiosulfat dan innoculant debu batubara. Metode lain
adalah untuk mengambil sampel tanah dan memasaknya sampai 80 C. Thiobacillus akan sporolate
dan mereka kemudian dapat diisolasi dan tumbuh (Benton 2005)

Difusi dari H2S dari sedimen ke dalam kolom air memungkinkan bakteri fotosintetik anaerob
untuk tumbuh.organisme ini biasanya dipandang sebagai dua sempit, yaitu pita berwarna cerah
tepat di atas sedimen - sebuah zona bakteri sulfur hijau maka zona bakteri sulfur berwarna ungu.
Bakteri sulfur hijau dan ungu memperoleh energi dari reaksi cahaya dan menghasilkan bahan selular
mereka dari CO2 dalam banyak cara yang sama seperti tanaman lakukan. Namun, ada satu
perbedaan penting: mereka tidak menghasilkan oksigen selama fotosintesis karena mereka tidak
menggunakan air sebagai reduktor, melainkan mereka menggunakan H2S. Persamaan yang
disederhanakan berikut menunjukkan paralel.
6 CO 2 + 6 H 2 0 = C 6 H 12 O 6 + 6 O 2 (fotosintesis tanaman)
6 CO 2 + 6 H 2 S = C 6 H 12 O 6 + 6 S (fotosintesis anaerob bakteri)
Sebenarnya, persamaan yang seimbang: 6 CO2 + 12H2S = C6 H12O6 + 6H2O + 12S
Bakteri sulfur ungu biasanya memiliki sel besar dan mereka deposit butiran belerang di dalam sel.
Organisme tersebut adalah spesies Thiocapsa. Bakteri sulfur hijau memiliki sel lebih kecil dan
biasanya belerang deposito eksternal. Sulfur (atau sulfat terbentuk dari itu) yang dihasilkan oleh
bakteri fotosintetik kembali ke sedimen di tempat yang dapat didaur ulang oleh Desulfovibrio -
bagian dari siklus sulfur dalam perairan alami ( Deacon 2005)
Sebagian besar kolom air di atas bakteri fotosintesis berwarna merah cerah dengan populasi
besar ungu non-belerang bakteri.
Bakteri ini tumbuh dalam kondisi anaerobik, memperoleh energi mereka dari reaksi ringan namun
menggunakan asam organik sebagai sumber karbon mereka untuk sintesis seluler. Jadi organism ini
disebut photoheterotrophs. Asam organik yang digunakan adalah produk fermentasi bakteri
anaerob lainnya (misalnya Clostridium spesies), tapi non-belerang ungu bakteri toleran terhadap
konsentrasi tinggi H2S, sehingga terjadi di atas zona dimana bakteri sulfur hijau dan ungu ditemukan.
Banyak mikroorganisme dapat tumbuh di zona oksigen di bagian atas dari kolom air, tapi tiga
jenis yang khas adalah:
H2S yang berdifusi ke dalam zona aerobik dapat dioksidasi menjadi sulfat oleh bakteri
pengoksidasi sulfur. Bakteri ini memperoleh energi dari oksidasi H2S, dan mensintesis materi organik
sendiri dari CO2.
Cyanobacteria yang dapat melakukan fotosintesis dapat tumbuh di zona atas. Setelah mulai
tumbuh cyanobacteria dapat oksigen banyak air.
Bagian atas dari kolom air dapat mengandung populasi besar bakteri berkoloni. Selubung terbuat
dari campuran kompleks dari protein, polisakarida dan lipid, dan berpikir untuk melindungi sel dari
predasi oleh protozoa. Selubung memberikan penampilan kuning atau berkarat pada koloni.
BAB III
METODELOGI

3.1 WAKTU DAN TEMPAT

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 21 November 2011 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengaetahuan Alam Universitas Riau Pekanbaru

3.2 ALAT DAN BAHAN

Tabung gelas transparan (100 ml)


Kertas koran/ kertas saring 2,5 g
CaCO3 o,25 gram
CaSO4 5 gram
1 butir telur matang
Air dari berbagai sumber
Aluminium foil

3.3 CARA KERJA

1. Dipotong kertas kecil-kecil masukkan kedalam lumpur. Jika terlalu padat ditambahkan dengan
hkan dengan dengan sedikit air
2. Di dalam 200 gram lumpur, di tambahkan CaCO3 dan CaSO4 .
3. Dihancurkan telur ( kuning telur) dan dicampurkan dengan campuran lumpur
4. Dimasukkan lumpur ke dalam tabung sampai 1/3 volume tabung. Di catat sumber lumpur yang
di pakai
5. Ditambahkan air dari sumber yang sama sampai 2/3 tabung. 1/3 lagi dibiarkan kosong
6. Ditutup kolom dengan alumunium foil untuk menghindari penguapan.
7. Kolom diletakkan ditempat yang terkena cahaya matahari
8. Diamati selama 2 minggu dicatat perubahan dan waktunya pada kolom.
9. Setelah 2 minggu dilepaskan alumunium foil dan dicatat penampakan kolom. Bagian bawah
seharusnya akan berwarna hitam
10. Tanpa menutup kolom kembali , dibuat ruangan seperti dalam suasana lampu pijar 60-75 watt
kolom.
11. Diinkubasi pada suhu ruang selama beberapa minggu.

PENGAMATAN
Diperiksa kolom secara teratur. Dicatat waktu pembentukan lapisan berwarna merah, coklat atau
hijau ini menandakan perumbuhan bakteri anorganik fotosintetik
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL

Tabel hasil pengamatan miroorganisme dalam kolom winogradsky


Sampel Waktu
2 minggu 5 minggu
Lapisan dari Warna Tinggi Lapisan dari Warna Tinggi
terendah- lapisan lapisan terendah- lapisan lapisan
tinggi tinggi
Lapisan Abu-abu 41 ml Lapisan Abu-abu 40 ml
pertama pertama
Lapisan Endapan 5 ml Lapisan lumpur 5 ml,
kedua coklat kedua coklat
kemerahan
Lapisan Coklat muda 24 ml Lapisan orange 15 ml
ketiga ketiga
Lapisan Endapan abu- 5 ml Lapisan air 17 ml
keempat abu keempat berwarna
kemerahan kuning
pudar
(keruh)
Lapisan Lapisan air 15 ml
kelima kelima berwarna
coklat
muda
4.2 PEMBAHASAN
Kolom winogradsky adalah salah satu cara sederhana untuk mempelajari hubungan timbal balik
mikroorganisme dengan lingkungan alami di laboratorium. Kolom ini digunakan sebagai model
untuk mempelajari interaksi populasi bakteri pada berbagai komunitas perairan dan sedimen
perairan dan sedimen. Menurut Atlas (1988), lumpur dan sedimen yang digunakan mengandung
atau teraugmentasi dari substrat senyawa organik karbon, sulfide, dan sulfat. Hal ini yang
mengakibatkan perkembangan sejumlah bakteri heterotrop dan photoautotroph termasuk bakteri
sulfur photosintetik anaerob. Kolom ini dapat diisi dengan tanah, Lumpur, dan air dari berbagai maca
lingkungan dan dapat dimodifikasi dengan kultur pengkayaan.
Sebelum inkubasi kolom hanya terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan air dan lapisan lumpur. Inkubasi ini
dilakukan 2 kali pengamatan yaitu pada minggu ke 2 dan minggu ke 5. Kolom winogradsky ini
diletakkan di tempat yang terkena cahaya matahari. Tanah dan air berasal dari kolam ikan yang
terletak di jalan bina widya gang damai. Pada saat pembuatan kolom winogradsky ini ditambahkan
dengan kertas Koran yang bermanfaat sebagai sumber selulosa yang terdapat dalam kolom tersebut.
Dari table diatas pada minggu kedua kolom winogradsky hanya terrdiri dari 4 lapisan. Penentuan
warna lapisan dimulai dari bawah keatas. Lapisan pertama berwarna abu-abu dengana tinggi kolom
41 ml. sedangkan warna yang kedua berupa endapan warna coklat dengan tinggi kolom 5 ml. pada
lapisan yang ketiga barwana coklat muda dengan tinggi kolom 24 ml. dan lapisan yang berbentuk
endapan abu-abu kemerahan dengan ketinggian kolom 5 ml. Apabila kita hubungkan dengan
literatur pada setiap lapisan tersebut berbeda mikroorganisme yang menghuninya. Bagian
permukaan kolom terpapar dengan oksigen semakin ke bagian bawah kolom semakin kekurangan
oksigen sampai ke bagian dasar merupakan zona anaerob. Bagian permukaan dan tepi kolom
terpapar dengan cahaya sehingga dapat menggambarkan spektrum pertumbuhan organisme dari
yang membutuhkan oksigen dan cahaya sampai organisme yang membutuhkan cahaya tetapi tidak
membutuhkan oksigen.
Pada pengamatan dari minggu ketiga petutup kolom dibuka, lebih lanjut, kolom winogradsky
tersebut ditambahkan dengan air yang sampai batas 90 ml. penambahan air tersebut bertujuan
untuk menghindari terjadinya kekeringan pada lingkungan mikroorganisme tersebut. Pengamatan
pada minggu kelima didapatkan 5 lapisan. Pengamatan lapisan dimulai dari yang paling bawah.
Lapisan pertama terbentuk lumpur berwarna abu-abu, Ketebalannya 40 ml. lapisan kedua berbentuk
lumpur coklat kemerahan dengan volume 5 ml. pada lapisan ketiga berisis air berwarna orange
dengan volume 15 ml. lapisan keempat berwarna kuning pudar dengan volume 17 ml. pada lapisan
ini organisme butuh kadar oksigen rendah atau tidak butuh sama sekali seperti contohnya bakteri
sulfur ungu dan bakteri non-sulfur ungu.[10]sedangkan lapisan terakhir berwarna coklat muda
dengan volumenya 15 ml Dari perbandingan warna dan volume pada masing-masing lapisan
terdapat perbedaan lapisan. Pada minggu kedua hanya terdiri dari 4 lapisan sedangkan pada minggu
yang ke 5 terdapat 5 lapisan dan warnanya juga berbeda. Perbedaan warna tersebut disebabkan
aktivitas mikroorganisme yang ada dalam setiap lapisan tersebut dan tinggi rendahnya lapisan
disebabkan karena pengaruh dari subtract yang terkandung dalam kolom sebagai sumber energi.
Menurut literature Mikroorganisme berkembang biak dan membentuk zona-zona berbeda.
Mikroorganisme aerobik akan berkumpul di permukaan, biasanya alga, cyanobacteria, dan bakteri
pengoksidasi sulfur karena adanya oksigen( Madigan, et al. 2008)
Pada aktivitas mikroorganisme terdapat metanogen yang menghasilkan gas metana (CH4) dan
bakteri pereduksi sulfat yang menghasilkan gas H2S. Beberapa bakteri metanogen yang ada antara
lain Methanobacterium, Methanocaldococcus, dan Methanosarcina sedangkan bakteri pereduksi
sulfat yang ada antara lain: Desulfovibrio, Desulfobacter, dan Desulfuromonas ( Madigan, et al.
2008).
Dari gambar setelah tutup kolom dibuka maka pada kolom bagian atas airnya akan keruh karena
adanya pertumbuhan bakteri fotoautotrof menggunakan cahaya matahari untuk tumbuh secara
aerob seperti Cyanobacter sp. dan Chlorobium dan bakteri pengoksidasi sulfat seperti Thiobacillus sp
sehingga Warna hitam di permukaan tanah dapat terjadi karena H2S yang bereaksi dengan Fe
membentuk endapan(Benton 2005).
Adanya pertumbuhan bakteri secara aerob dan anaerob dapat terjadi di dalam kolom Winogradsky
karena adanya mekanisme sintropi. Dalam hal ini, hasil metabolisme dari bakteri perekduksi sulfat
yang menghasilkan gas H2S, digunakan oleh bakteri pengoksidasi sulfat untuk mengoksidasi sulfat.
Selain itu, bakteri metanogen yang menghasilkan gas CH4 dapat digunakan untuk pertumbuhan
bakteri metanotrof yang menggunakan CH4 sebagai sumber karbon untuk menghasilkan gas CO2 (
Madigan, et al. 2008) . Secara tidak langsung dapat diketahui bahwa telah terjadi aliran energi dan
siklus materi yang seimbang pada kolom Winogradsky sehingga dapat terjadi pertumbuhan yang
baik pada bakteri kondisi aerob dan anaerob (Ogunseitan 2005)
Gas-gas yang terbentuk akan membuat terbentuknya rongga udara pada kolom yang semakin lama
akan semakin membesar dan akan mengangkat tanah diatasnya semakin tinggi. Kebalikan dengan
oksigen yang semakin ke bawah semakin berkurang, hidrogen sulfida makin bertambah (Benton
2005 )
Saat kolom tersebut dibuka, akan tercium bau belerang yang disebabkan oleh gas HS dari bakteri-
bakteri pereduksi sulfat, contohnya Desulfovibrio sp. Selain itu juga terbentuk warna kehitam-
hitaman di lumpur bagian atas yang disebabkan oleh kegiatan bakteri-bakteri aerob yang
menghasilkan S042- seperti contohnya Thiobacillus sp. dan Beggiatoa sp (Madigan, et al. 2008)

BAB V
KESIMPULAN
Dari pratikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kolom winogradsky adalah salah satu cara sederhana untuk mempelajari suatu lingkungan
mikroorganisme yang alami di laboratorium.
2. Mikroorganisme yang terdapat dikolom dalam winogradsky dapat dilhat dari lapisannya.
Mikroorganisme tersebut ada yang menempati bagian atas mempunyai sifat fotoautotrof. Pada
lapisan bawah kolom merupakan mikroorganisme yang bersifat anaerobik.
3. Mikroorganisme dalam kolom winogradsky menghasilkan bau belerang yang apabila dibuka
penutupnya maka akan tercium bau yang kurang sedap.
4. Mikroorganisme yang ada di dalam kolom winogradsky mempunyai keanekaragaman pada
setiap lapisan.

DAFTAR PUSTAKA
Atlas dan Bartha .1993. Ekologi Mikroba. Benjamin Cummings. Jakarta.

Benton C. 2005. http://Winogradsky ColumnDiakses pada 30 Desember 2011

Burns and Slater.1982. Experimental Microbiology . Blackwell Scientific. Inggris

Deacon,Jim.2005. Institute of Cell and Molecular Biology. University of Edinburgh

Hudson, Barbara K. 1998. Microbiology in Today's World 2nd ed.. Kendall-Hunt Publishing. Newyork.

Madigan, Martinko and Parker.2000. Brock Biology of Microorganisms 9th ed Prentice-Hall


Publishing. New York
Sagan, Dorion, dan Margulis, Lynn. 1988. Taman Delights Mikroba Harcourt, Brace, Jovanovich.
Boston