Anda di halaman 1dari 23

Pengertian:

Dinding penahan tanah/ turap adalah suatu konstruksi yang bertujuan untuk menahan tanah agar tidak
longsor dan meninggikan lereng alam suatu tanah. Di lapangan dinding penahan tanah dapat ditemui
pada saluran air di samping jalan, pada pinggir sungai agar tebing sungai tidak longsor, pada bendungan
dan saluran irigasi dan dinding penahan bukit agar tidak longsor.
Bahan konstruksi untuk dinding penahan yaitu:
1. Dari kayu
2. Dari beton
3. Dari pasangan batu
4. Dari baja
Bentuk bentuk dinding penahan tanah:
1. Profil persegi
2. Profil jajaran genjang
3. Profil trapesium siku
4. Profil trapesium
5. Profil segitiga
untuk merencanakan sebuah dinding penahan tana perlu diperhatikan syarat kestabilitasan dinding:
1. dinding tidak terjungkal
2. dinding tidak tergeser
3. dinding tidak amblas
4. dinding tidak pecah
TEMBOK PENAHAN TANAH
May 17, 2015 by kicauanhitam

PENGERTIAN

Tembok Penahan Tanah (TPT) adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk menstabilkan
kondisi tanah tertentu pada umumnya dipasang pada daerah tebing yang labil. Jenis konstruksi
antara lain pasangan batu dengan mortar, pasangan batu kosong, beton, kayu dan sebagainya.

FUNGSI

Fungsi utama dari konstruksi penahan tanah adalah menahan tanah yang berada dibelakangnya
dari bahaya longsor akibat :

1. Benda-benda yang ada atas tanah (perkerasan & konstruksi jalan, jembatan, kendaraan, dll)

2. Berat tanah

3. Berat air (tanah)

Atau dengan kata lain merupakan pasangan batu yang dilekatkan dengan campuran semen, pasir
dan air untuk melindungi tebing dari keruntuhan tanahnya.

Fungsi khusus yang dapat diberikan oleh pasangan batu adalah :

1. Pemanfaatan ruang dari suatu pembangunan jenis sarana dan prasarana lain

2. Pemeliharaan, penunjang umur dan bagian dari jenis sarana dan prasarana lain, misalnya :
a. Dinding saluran irigasi

b. Prasarana tepi jalan kondisi khusus

c. Dan lain-lain

3. Perlindungan tebing

JENIS TEMBOK PENAHAN TANAH (TPT)

Jenis tembok penahan tanah :

1. Batu kali murni & batu kali dengan tulangan (gravity & semi gravity)

2. Tembok yang dibuat dari bahan kayu** (talud kayu)

3. Tembok yang dibuat dari bahan beton (talud beton)

Jenis Konstruksi TPT

KRITERIA PERENCANAAN
Secara garis besar, kriteria perencanaan untuk TPT adalah :

1. Sedapat mungkin memanfaatkan potensi sumber daya yang ada.

2. Konstruksi sederhana dan dapat dikerjakan oleh masyarakat.

3. Lokasi yang dipilih tepat dan memiliki manfaat yang besar baik sebagai sarana dan prasarana
penunjang atau pencegah bahaya longsor, banjir atau erosi.

4. Untuk alasan kemudahan pelaksanaan pembangunan dan efisiensi waktu dan biaya
pelaksanaan terhadap kemampuan pekerjaan pada kondisi normal, tinggi maksimal untuk
prasarana penahan tanah 4,00 meter.

5. Kedalaman minimum prasarana tembok penahan dapat disesuaikan sampai memenuhi


kestabilan konstruksi penahan tanah.

6. Ukuran bagian lain dari prasarana tembok penahan memenuhi persyaratan teknis dan memiliki
persyaratan keamanan yang memadai.

7. Prasarana tembok penahan tanah untuk sarana dan prasarana irigasi atau tanggul sedapat
mungkin bersifat kedap air selain dari persyaratan teknis dan persyaratan keamanan yang
memadai.

DATA KEBUTUHAN DESAIN

Pembuatan desain penahan tanah bisanya membutuhkan data-data :

1. Potensi sarana dan prasarana yang sudah ada dan potensi sumber daya alamnya.

2. Tanah letak rencana /bentuk lokasi,

Jenis tanah

Kedalaman tanah keras

Lapisan air tanah

3. Data kondisi lokasi, lingkungan, dan peruntukan konstruksi

Sungai sebagai saluran irigasi

Jalan sebagai pengaman tepi jalan

Perlindungan tebing keamanan sarana dan prasarana (jalan, pemukiman, dll) yang ada
diatas atau di bawahnya, pencegah gerusan.
Tanggul pencegah banjir, luapan air.

PERSYARATAN TEKNIS

Hal-hal teknis yang harus diperhatikam dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan Tembok
Penahan Tanah adalah sebagai berikut.

1. Ukuran / Dimensi. Rumus ancar-ancar dimensi TPT :

a. Lebar Atas (A) = H (tinggi tembok) dibagi 12. Dan minimal lebar atas adalah 25 Cm.

b. Lebar dasar (B) = (0,47 s.d 0,7) dikalikan H

c. Tebal kaki dan tumit* (B1) = (1/8 s.d 1/6) dikalikan H.

d. Lebar kaki dan tumit* (B3) = (0,5 s.d 1) dikalikan B1.

2. Kestabilan Prasarana. Analisis kestabilan antara lain meliputi :

a. Analisa terhadap guling.

b. Analisa terhadap geser.

c. Daya dukung tanah dasar.

d. Patah tembok akibat gaya yang diterimanya.

3. Kemiringan Dinding. Minimal 50 : 1 (H dibanding B2).


4. Jenis Tanah. Jenis tanah juga harus diperhatikan dalam perencanaan, seperti :

a. Tanpa lapisan air tanah. Analisa tekanan yang terjadi tidak mencakup tekanan akibat
air/lapisan air tanah, dan indikator tanah yang berpengaruh adalah tanah dalam kondisi biasa
(kering udara).

b. Ada lapisan air tanah. Analisa tekanan yang terjadi mencakup tekanan akibat air/lapisan air
tanah, dan indikator tanah yang berpengaruh adalah tanah dalam kondisi jenuh**.

c. Tanah lempung. Analisa tekanan yang terjadi ada pengaruh daya lekat tanah (kohesi).

d. Tanah Pasir. Nilai daya lekat tanah untuk tanah pasir (murni) biasanya kecil atau = 0 dan
pengaruh daya lekatnya dapat diabaikan.

5. Bahan penyusun. Bahan penyusun dapat diperkirakan sesuai dengan jenis konstruksi dari
TPT tersebut, misalnya :

a. Batu, batu yang digunakan biasanya batu kali atau batu gunung hitam.

b. Semen, semen yang digunakan haruslah yang mempunyai jenis yang baik dan dapat
menggunakan Portland Cement (PC) atau Portland Cement Composit (PCC).

c. Pasir, pasir yang digunakan harus bebas dari bahan lain seperti tanah lempung, sampah, atau
kotoran lainnya.

6. Kualitas Adukan. Disesuaikan dengan desain yang direncanakan dan dapat mengikat bahan
konstruksi dengan baik dan kuat, disyaratkan berat volumenya antara 2,0 s.d 2,3 t/m3 (PPI
1983).

Catatan :

* Mengikuti kaidah teknis bentuk tembok penahan yang direncanakan


** Tanah kondisi jenuh dapat diartikan kondisi tanah yang sudah maksimal dalam
menyerap air.

Gambar. Pelaksanaan Pembuatan TPT

PEMELIHARAAN dan PENINGKATAN TPT

Dalam hal pemeliharaan dan peningkatan dinding penahan tanah hal-hal yang perlu diperhatikan
antara lain :

1. Kebersihan lingkungan tepi sekitar dinding dari rumput-rumput atau tumbuhan dengan akar
yang dapat merusak dinding.

2. Keadaan suling-suling

3. Kondisi saluran air/drainase air

4. Perlindungan terhadap bahan utama. Misalnya :

Untuk material batu kali dan beton dapat dilakukan pemlesteran.

Untuk material kayu perlindungan terhadap rayap atau cuaca.

PERHITUNGAN DESAIN dan KEBUTUHAN KONSTRUKSI

Untuk Perhitungan Desain, Volume dan Kebutuhan Bahan dan Tenaga, dapat dilihat disini.

CONTOH PERHITUNGAN VOLUME DAN KEBUTUHAN TPT

A. DATA
Saya mencoba memberikan Contoh untuk Perhitungan TPT dengan model seperti ini.

Panjang : 50 M a : 0,25 M

b : 0,4 M. h1 : 0,55 M

h2 : 0,2 M. h3 : 0,05 M

Htot : 0,80 M.

Plesteran : lebar atas TPT ditambah tepi miring = 0,75 M

B. PERHITUNGAN VOLUME

1. Volume Galian Tanah

Volume = Panjang x b x (h2 + h3)

= 50 x 0,4 x 0,25

= 5 M3

2. Volume Urugan Pasir

Volume = Panjang x b x h3

= 50 x 0,4 x 0,05

= 1 M3

3. Volume Pasangan Batu

a. Volume Kaki = Panjang x b x h2


= 50 x 0,4 x 0,2

= 4 M3

b. Volume Dinding = panjang x ((a+b)/2) x h1 (volume trapesium)

= 50 x ((0,25 + 0,4)/2) x 0,55

= 8,94 M3

c. Volume Total = Volume Kaki + Volume Dinding

= 4 + 8,94

= 12,94 M3

4. Volume Plesteran

Volume = Panjang x Plesteran

= 50 x 0,75

= 37,5 M2

C. PERHITUNGAN KEBUTUHAN BAHAN DAN TENAGA KERJA

1. Galian Tanah

Analisa SNI 2835 : 2008 6.1 : Menggali 1 m3 tanah biasa sedalam 1 m

Tenaga :

Pekerja = Volume Galian x Koefisien

= 5 M3 x 0,75 HOK

= 4 HOK

Mandor = Volume Galian x Koefisien

= 5 M3 x 0,025 HOK

= 0,125 HOK

2. Urugan Pasir
Analisa SNI 2835 : 2008 6.11 : Mengurug 1 m3 pasir urug

a. Bahan

Pasir Urug = Volume Pasir Urug x Koefisien

= 1 M3 x 1,2

= 1,2 M3

b. Tenaga

Pekerja = Volume Pasir Urug x Koefisien

= 1 M3 x 0,3 HOK

= 0,30 HOK

Mandor = Volume Pasir Urug x Koefisien

= 1 M3 x 0,01 HOK

= 0,01 HOK

3. Pasangan Batu

Analisa SNI 2836 : 2008 6.3 : Memasang 1 m3 Pondasi Batu Belah 1 PC : 5 PP

Bahan :

a. Batu Belah = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 1,2

= 15,5 16 M3

b. Semen = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 2,72 Zak

= 35,19 35 zak

c. Pasir Pasang = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 0,544 M3
= 7,04 7 M3

Tenaga :

a. Pekerja = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 1,5 HOK

= 19 HOK

b. Tukang = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 0,75 HOK

= 10 HOK

c. Kepala Tukang = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 0,075 HOK

= 1 HOK

d. Mandor = Volume Pasangan Batu x Koefisien

= 12,94 M3 x 0,075 HOK

= 1 HOK

4. Plesteran

Analisa SNI 2837 : 2008 6.5 : Memasang 1 m2 plesteran, 1 PC : 5 PS, tebal 15 mm

Bahan :

a. Semen = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,12 Zak

= 5 zak

b. Pasir Pasang = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,026 M3

= 1 M3
Tenaga :

a. Pekerja = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,3 HOK

= 11 HOK

b. Tukang = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,15 HOK

= 6 HOK

c. Kepala Tukang = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,015 HOK

= 1 HOK

d. Mandor = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,015 HOK

= 1 HOK

5. Acian

Analisa SNI 2837 : 2008 6.27 : Memasang 1 m2 acian

Bahan :

a. Semen = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,07 Zak

= 3 zak

Tenaga :

a. Pekerja = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,2 HOK

= 8 HOK

b. Tukang = Volume Plesteran x Koefisien


= 37,50 M2 x 0,1 HOK

= 4 HOK

c. Kepala Tukang = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,01 HOK

= 0,375 HOK

d. Mandor = Volume Plesteran x Koefisien

= 37,50 M2 x 0,01 HOK

= 0,375 HOK

D. REKAPITULASI VOLUME BAHAN DAN TENAGA KERJA 1. Batu Belah : 16 M3


(lihat Perhitungan No. 3 Pasangan Batu) 2. Pasir Urug : 1 M3 (lihat Perhitungan No. 2 Urugan
Pasir) 3. Pasir Pasang : 8 M3 (lihat dan dijumlah dari Perhitungan No. 3 + No. 4) 4. Semen : 43
Zak (lihat dan dijumlah dari Perhitungan No. 3 + No. 4 + No. 5) 5. Pekerja : 42 HOK (lihat dan
dijumlah dari Perhitungan No. 1 + No. 2 + No. 3 + No. 4 + No. 5) 6. Tukang : 20 HOK (lihat dan
dijumlah dari Perhitungan No. 3 + No. 4 + No. 5) 7. Kepala Tukang : 2 HOK (lihat dan dijumlah dari
Perhitungan No. 3 + No. 4 + No. 5) 8. Mandor : 3 HOK (lihat dan dijumlah dari Perhitungan No. 1 +
No. 2 + No. 3 + No. 4 + No. 5) 9. Peralatan yang biasanya digunakan adalah : cangkul, sekop,
sendok semen, benang nilon, bambu, lori, palu godam dan kebutuhannya disesuaikan dengan
jumlah tenaga kerja. Untuk Biayanya sengaja tidak saya cantumkan karena silahkan pembaca
menyesuaikan dengan harga di daerah masing-masing saja. Dan caranya hanya tinggal
mengalikan Kebutuhan Bahan atau Tenaga dengan Harga Satuan masing-masingnya. Semoga
tulisan ini bisa bermanfaat dan ada komentar yang positif untuk kita semua.
Dinding Penahan (Retaining Wall)
Kamis, 10 November 2016

Konstruksi dinding penahan merupakan salah satu jenis konstruksi sipil yang berfungsi

untuk menahan gaya tekanan aktif lateral suatu tanah maupun air. Oleh karena itu suatu
konstruksi dinding penahan haruslah direncanakan dan dirancang agar aman terhadap gaya-
gaya yang berpotensi menyebabkan kegagalan struktur. Pada prinsipnya dinding penahan
menerima gaya-gaya berupa momen guling, gaya berat sendiri, gaya lateral tanah/air aktif -
pasif, gaya gelincir/sliding dan gaya angkat (uplift). Dengan demikian kestabilan suatu
konstruksi dinding penahan harus dirancang agar dapat menahan gaya-gaya tersebut.

Dinding penahan dalam praktik konstruksi sipil memiliki banyak jenis tergantung dari aplikasi
dan kasus yang akan digunakan baik untuk menahan tekanan tanah pada tebing/slope,
timbunan/embankment, konstruksi sub structure /basement, kolam tampungan retensi/pond,
konstruksi pembendung air, penahan transpor sedimen pada sungai dsb. Pada dasarnya
dinding penahan memiliki beberapa fungsi antara lain:
Menahan tekanan lateral tanah aktif (Active Lateral Force Soil) yang dapat berpotensi
menyebabkan terjadinya keruntuhan lateral tanah misalnya longsor/landslide.

Menahan tekanan lateral air (Lateral Force Water) yang dapat berpotensi menyebabkan
terjadinya keruntuhan lateral akibat tekanan air yang besar.

Mencegah terjadinya proses perembesan air/seepage secara lateral yang diakibatkan


oleh kondisi elevasi muka air tanah yang cukup tinggi. Dalam hal ini juga berfungsi
dalam proses dewatering yaitu dengan memotong aliran air (Flow net) pada tanah (Cut
Off).

Adapun jenis-jenis konstruksi dinding penahan yang umumnya digunakan dalam praktek
rekayasa konstruksi sipil antara lain:

1. Dinding Penahan Tanah Massa (Gravity Retaining Wall), jenis dinding penahan tanah ini
banyak digunakan untuk menahan tekanan tanah lateral pada timbunan tanah maupun pada
tebing-tebing yang landai sampai terjal. Prinsip kerja dari dinding penahan ini cukup unik yaitu
mengandalkan bobot massa dari badan konstruksinya dengan demikian kestabilan dari struktur
dapat lebih stabil dikarenakan bobotnya yang berat dalam menahan tekanan tanah lateral.
Material penyusun yang digunakan pada jenis konstruksi ini biasanya berupa material
pasangan batu ataupun beton bertulang (Reinforced Concrete).
2. Dinding penahan Tanah Tipe Jepit (Cantilever Retaining Wall), Jenis konstruksi dinding
penahan tanah tipe ini umumnya digunakan untuk menahan tekanan tanah pada timbunan
maupun pada tebing. Prinsip kerja dari jenis dinding penahan jenis ini yaitu dengan
mengandalkan daya jepit/fixed pada dasar tubuh strukturnya. Oleh karena itu ciri khas dari
dinding penahan jenis kantilever yaitu berupa model telapak/spread memanjang pada dasar
strukturnya yang bersifat jepit untuk menjaga kestabilan dari struktur penahan. Umumnya
konstruksi dinding penahan tipe jepit dibuat dari pasangan batu maupun dengan konstruksi
beton bertulang.
3. Dinding Penahan Tipe Turap (Sheet Pile), jenis konstruksi dinding penahan tipe turap
merupakan jenis konstruksi yang banyak digunakan untuk menahan tekanan tanah aktif lateral
tanah pada timbunan maupun untuk membendung air (coverdam). Jenis konstruksi tipe
turap/sheet pile umumnya terbuat dari material beton pra tegang (Prestrees Concrete) baik
berbentuk corrugate-flat maupun dari material baja. Konstruksi dinding penahan tipe sheet pile
berbentuk ramping dengan mengandalkan tahanan jepit pada kedalaman tancapnya dan dapat
pula dikombinasikan dengan sistem angkur/Anchord yang disesuaikan dengan hasil
perancangan. Dalam pelaksanaannya kedalaman tancap sheet pile dapat mencapai elevasi
sampai tanah keras.
4. Dinding Penahan Bronjong (Gabion), konstruksi dinding penahan tanah jenis ini
merupakan konstruksi yang berupa kumpulan blok- blok yang dibuat dari anyaman kawat
logam galvanis yang diisi dengan agregat kasar berupa batu batu kerikil yang disusun secara
vertikal ke atas dengan step-step meyerupai terasering/tanga-tangga. Kelebihan dari dinding
penahan jenis gabion selain berfungsi untuk menahan tekanan tanah juga berfungsi untuk
memperbesar konsentrasi resapan air ke dalam tanah (Infiltrasi).
5. Dinding Penahan Tipe Blok Beton (Block Concrete), jenis dinding penahan tanah tipe blok
beton merupakan kumpulan blok-blok beton masif padat yang disusun secara vertikal dengan
sistem pengunci/locking antar blok yang disusun. Umumnya blok beton dibuat secara modular
di fabrikasi berupa beton precash dan kemudian proses pemasangannya di lakukan di lokasi -
in situ.
6. Dinding Penahan Tanah Tipe Diaphragm Wall, jenis konstruksi dinding penahan tanah tipe
dinding bertulang (Diaphragm Wall) merupakan jenis konstruksi dinding penahan yang terbuat
dari rangkaian besi beton bertulang yang dicor di tempat atau dengan sistem modular yang
dibuat untuk membendung (cover) suatu konstruksi bawah tanah (sub-strucure) khusunya pada
konstruksi basement suatu bangunan. Diaphragm wall dapat dikombinasikan dengan sistem
anchord untuk menambah daya dukung terhadap tekanan aktif lateral tanah juga berfungsi
dalam proses dewatering untuk memotong aliran muka air tanah (Cut-Off Dewatering).
7. Dinding Penahan Tanah Continguous Pile dan Soldier Pile, jenis konstruksi penahan
continguous pile dan soldier pile merupakan konstruksi dinding penahan tanah yang digunakan
untuk menahan tekanan lateral tanah aktif pada konstruksi bawah tanah seperti pada konstruksi
basement suatu bangunan sama seperti jenis konstruksi dinding penahan diaphragm wall.
Continguous pile dan soldier pile juga biasanya dikombinasikan dengan sistem ankur/anchord
untuk meningkatkan daya dukung terhadap tekanan aktif lateral tanah dan berfungsi sebagai
pemutus aliran air bawah tanah (Cut Off). Continguous pile dibuat di tempat in-situ dengan
sistem bored pile berupa rangkaian besi beton bertulang maupun menggunakan profil baja
serta dikombinasikan dengan bentonited dan dirangkai membentuk dinding penahan yang
padat.
8. Revetment, jenis konstruksi sederhana yang berfungsi untuk perkuatan lereng/tebing maupun
untuk melindungi dari gerusan aliran sungai dan ombak pada alur pantai. Konstruksi jenis ini
pada dasarnya tidak memiliki fungsi utama dalam menahan tekanan aktif lateral tanah namun
lebih pada fungsi proteksi terhadap efek gerusan/erosi yang dapat merusak kestabilan
lereng/tanggul yang tentunya dapat berpotensi menimbulkan terjadinya longsor/land slide.
Dari paparan yang telah dijelaskan di atas tentunya jenis-jenis konstruksi dinding penahan
memiliki karakteristik berbeda-beda berdasarkan pada fungsi dan kegunaannya masing-
masing yang dapat diterapkan berdasarkan kasus konstruksi yang telah direncanakan. Oleh
karena itu seorang insinyur sipil diharapkan mengetahui karakteristik jenis-jenis konstruksi
penahan serta kegunaannya dalam praktik konstruksi di lapangan. Semoga dengan artikel yang
saya berikan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Terima Kasih.

Oleh: James Thoengsal, S.T., M.T., IPP.

E-Journal: Dep.Teknik Sipil, Universitas Teknologi Sulawesi (UTS) Makassar.