Anda di halaman 1dari 578

MDDUL 1

Aktiva Tetap Berwujud: Perolehan,


Penggunaan, Pemberhentian,
Depresiasi, dan Pemberhentiannya
Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Akt.
PENDAHULUAN

ika Anda berkunjung ke suatu perusahaan, Anda akan dapat melihat


bahwa dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan tersebut
melibatkan berbagai macam barang. Barang-barang yang terlibat dalam
kegiatan usaha suatu perusahaan ditinjau dari kepemilikannya memiliki
2 kemungkinan, yakni (1) merupakan barang milik perusahaan tersebut atau
(2) bukan merupakan barang milik perusahaan. Barang yang merupakan
milik perusahaan bisa j adi merupakan barang titipan dari pihak lain atau bisa
juga merupakan barang yang disewa dari pihak lain, dan sebagainya. Barang-
barang yang merupakan milik perusahaan dalam akuntansi digolongkan
sebagai aktiva perusahaan. Aktiva perusahaan, seperti yang telah Anda
ketahui dari mata kuliah Pengantar Akuntansi, secara garis besar dibagi
menjadi 3, yaitu (1) Aktiva Lancar, (2) Aktiva Tetap, dan (3) Aktiva Lain-
lain. Aktiva Lancar didefinisikan sebagai kekayaan perusahaan yang
mempunyai manfaat ekonomis tidak lebih dari satu periode akuntansi. Aktiva
tetap didefinisikan sebagai kekayaan perusahaan yang mempunyai manfaat
ekonomis lebih dari satu periode akuntansi. Sedangkan, aktiva lain-lain
adalah kekayaan perusahaan yang tidak dapat digolongkan ke dalam aktiva
lancar ataupun aktiva tetap.
Aktiva tetap dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu (1) aktiva
tetap berwujud, dan (2) aktiva tetap tidak berwujud. Di dalam modul ini, kita
khusus membahas mengenai Aktiva Tetap Berwujud. Pembahasan mengenai
aktiva tetap berwujud ini mencakup pengertian, depresiasi, dan penilaian
kembali aktiva tetap berwujud. Kemudian, dilanjutkan ke modul berikutnya
yang akan membahas khusus mengenai Aktiva Tetap Tidak Berwujud dan
Aktiva Sumber Daya Alam.
1.2 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Modul ini akan membahas mengenai Aktiva Tetap Berwujud yang akan
dibagi menjadi 4 kegiatan belajar, yang terdiri atas berikut ini.
1. Pengertian, karakteristik, dan perolehan Aktiva Tetap Berwujud.
Kegiatan belajar ini akan membahas mengenai batasan dari Aktiva Tetap
Berwujud serta karakteristiknya, kemudian dilanjutkan dengan
pembahasan mengenai harga perolehan dan cara perolehan suatu Aktiva
Tetap Berwujud.
2. Pengeluaran-pengeluaran selama masa penggunaan dan pemberhentian
Aktiva Tetap Berwujud.
Dalam kegiatan belajar kedua ini akan dibahas tentang bagaimana
perlakuan akuntansi terhadap pengeluaran-pengeluaran berkenaan
dengan penggunaan Aktiva Tetap Berwujud, serta pemberhentian suatu
Aktiva Tetap Berwujud. Dalam kegiatan ini dibahas pula mengenai
asuransi kebakaran dalam suatu pokok bahasan khusus.
3. Pengertian, tujuan, dan metode-metode depresiasi.
Kegiatan belajar ini akan membahas mengenai pengertian dan tujuan
penyusutan dipandang dari aspek akuntansi. Selain itu, juga akan
dibicarakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan di dalam
melakukan penyusutan. Kemudian, dibahas tentang berbagai metode
depresiasi yang biasa digunakan serta diperkenankan oleh prinsip
akuntansi berterima umum.
4. Penilaian kembali aktiva tetap.
Pembahasan pada kegiatan belajar ini diarahkan pada pengertian
penilaian kembali dan akuntansi penilaian kembali dengan berbagai
kemungkinannya.

Dengan mempelajari modul ini dengan baik dan benar, diharapkan


Anda dapat memahami penanganan berbagai macam transaksi yang
mempengaruhi Aktiva Tetap Berwujud beserta prosedur akuntansinya.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda dapat:
1. menjelaskan kriteria penggolongan, dasar pencatatan, dan cara penyajian
Aktiva Tetap Berwujud di dalam laporan keuangan sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum (Generally Accepted Accounting Principles);
2. menjelaskan tujuan akuntansi terhadap Aktiva Tetap Berwujud
berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum;
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 3

3. mengidentifikasi berbagai transaksi yang mempengaruhi Aktiva Tetap


Berwujud dan perlakuan akuntansinya sesuai dengan prinsip akuntansi
berterima umum;
4. melakukan perhitungan terhadap transaksi asuransi kebakaran untuk
suatu Aktiva Tetap Berwujud;
5. menjelaskan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam proses
penyusutan;
6. melakukan pertimbangan terhadap faktor-faktor yang ada dalam
menangani kasus nyata;
7. menjelaskan berbagai metode depresiasi yang biasa digunakan dan
diperkenankan oleh prinsip akuntansi berterima umum (generally
accepted accounting principles);
8. mengidentifikasi karakteristik masing-masing metode depresiasi;
9. menerapkan metode-metode depresiasi pada kasus nyata;
10. menjelaskan pengaruh dari tiap metode depresiasi terhadap laporan
keuangan;
11. melaksanakan akuntansi terhadap penilaian kembali akti va tetap.
1.4 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 1

Pengertian, Karakteristik, dan Perolehan


Aktiva Tetap Berwuj ud

A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK AKTIVA TETAP


BERWUJUD

Pada waktu Anda menempuh mata kuliah Pengantar Akuntansi Anda


sudah dikenalkan dengan aktiva tetap. Dalam mata kuliah Akuntansi
Keuangan Menengah ini, Anda diingatkan kembali dengan aktiva tetap. Oleh
sebab itu, ada baiknya Anda membuka kembali sekedar bernostalgia modul
Pengantar Akuntansi. Namun, apabila Anda agak keberatan, tidak mengapa,
sebab kita akan mengulangi pelajaran tersebut, tetapi tentu saja dengan gaya
yang agak berbeda karena Anda sekarang sudah di tingkat menengah.
Kalaupun Anda melihat sebuah neraca maka pada umumnya jumlah
relatif seluruh komponen Aktiva Tetap Berwujud lebih besar dibandingkan
dengan komponen aktiva yang lain. Dari sini, Anda dapat menilai peranan
Aktiva Tetap Berwujud. Peranan Aktiva Tetap Berwujud berbeda antara satu
perusahaan dengan perusahaan yang lain. Perbedaan peranan tersebut
tergantung pada sifat, jenis, dan macam usahanya. Anda bisa membayangkan
sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dengan sebuah
perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, tentu peranan Aktiva Tetap
Berwujudnya terdapat perbedaan.
Sekarang Anda mungkin bertanya apa pengertian Aktiva Tetap
Berwujud. Pengertian Aktiva Tetap Berwujud adalah aktiva yang memiliki
bentuk fisik, dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dalam melaksanakan
operasi normalnya serta mempunyai manfaat dalam jangka panjang atau
masa kegunaan yang relatif permanen.
Untuk lebih yakin lagi, mari kita lihat pengertian aktiva tetap menurut
Standar Akuntansi Keuangan yang bisa dilihat pada PSAK No. 16 Edisi
Revisi 2002. Di sana disebutkan bahwa Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud
yang (1) dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau
menyediakan barang atau jasa, untuk disewakan atau untuk keperluan
administrasi dan (2) diharapkan dapat digunakan lebih dari satu periode.
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 5

Atas dasar pengertian Aktiva Tetap Berwujud tersebut di atas maka


Aktiva Tetap Berwujud mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1. Mempunyai bentuk fisik.
Dari pengertian berwujud berarti Aktiva Tetap Berwujud tentu saja
mempunyai wujud fisik. Dengan kata lain, dapat dilihat atau diraba.
2. Relatif permanen.
Kata permanen ini menunjuk pada suatu periode (waktu) yang panjang.
Panjang di sini mempunyai arti bahwa waktu pemakaian aktiva tetap
tersebut melebihi periode akuntansi yang ditentukan dalam penyusunan
laporan keuangan. Biasanya sebagai patokan untuk dapat dikategorikan
sebagai aktiva tetap umurnya harus lebih dari satu tahun.
3. Digunakan dalam operasi perusahaan.
Selain aktiva tetap harus relatif permanen juga harus digunakan dalam
operasi normal perusahaan. Dengan demikian, aktiva tetap yang tidak
digunakan untuk operasi seperti tanah yang dibeli untuk perluasan,
namun belum digunakan untuk tujuan tersebut tidak termasuk dalam
pengertian akti va tetap.
4. Tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.
Aktiva tetap dimiliki oleh perusahaan dengan maksud untuk digunakan
dalam kegiatan operasi normal perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk
diperjualbelikan. Dengan kata lain, sesuai dengan sifatnya yang
permanen dan tujuan utamanya untuk digunakan dalam operasi normal
perusahaan maka aktiva tetap tersebut tidak boleh dikelompokkan
sebagai barang dagangan.

Aktiva Tetap Berwujud dapat dibedakan atas Aktiva Tetap Berwujud


yang umurnya terbatas, seperti mesin, kendaraan, dan lain-lain, dan Aktiva
Tetap Berwujud yang tidak terbatas umurnya, seperti tanah. Perlakuan kedua
jenis Aktiva Tetap Berwujud jika dihubungkan dengan penyusutan
(depresiasi) maka Aktiva Tetap Berwujud yang disebut pertama merupakan
akti va tetap yang di susut, sedangkan yang kedua tidak di susut. Pengertian
penyusutan ini akan dibicarakan pada modul yang lain.

B. PENGAKUAN AKTIVA TETAP BERWUJUD

Secara umum, suatu akti va tetap harus diakui sebagai aktiva apabila
memenuhi 2 kriteria sebagai berikut.
1.6 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Besar kemungkinan (probable) manfaat ekonomi mas a datang yang


berkaitan dengan akti va tersebut akan mengalir ke perusahaan.
2. Harga perolehan aktiva dapat diukur secara andal.

Pada umumnya, aktiva tetap berwujud merupakan bagian utama dalam


aktiva perusahaan karena jumlahnya yang signifikan. Oleh karena itu, untuk
memenuhi kriteria pertama untuk pengakuan, menurut PSAK No. 16 edisi
revisi tahun 2002, suatu perusahaan harus menilai tingkat kepastian aliran
manfaat ekonomi masa datang berdasarkan bukti yang tersedia pada waktu
pengakuan awal. Adanya kepastian yang cukup bahwa manfaat ekonomi
masa datang akan mengalir ke perusahaan membutuhkan suatu kepastian
bahwa perusahaan akan menerima imbalan dan menghadapi risiko terkait.
Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika risiko dan imbalan telah diterima
perusahaan. Sebelum hal tersebut terj adi, transaksi untuk memperoleh akti va
dapat dibatalkan tanpa sanksi yang signifikan, dan jika demikian kondisinya
maka aktiva tidak diakui. Sedangkan, kriteria kedua untuk pengakuan
biasanya dapat dipenuhi langsung karena transaksi pertukaran mempunyai
bukti pembelian aktiva yang mengidentifikasi harga perolehannya.

C. HARGA PEROLEHAN

Mungkin sekali Anda bertanya lagi, dengan harga berapa aktiva tetap
berwujud yang diperoleh dicatat? Pertanyaan ini timbul karena dalam suatu
perolehan aktiva tetap pengeluaran yang terjadi bermacam-macam. Misalnya,
Anda membeli secara tunai sebuah mobil, yang Anda bayar terdiri atas harga
faktur, mungkin dikurangi dengan potongan, lalu membayar pajak penjualan,
bea balik nama, dan lain-lain pengeluaran dalam rangka Anda memperoleh
mobil tersebut. Nah, agar Anda dapat mencatat aktiva tetap tersebut maka
Anda harus mengetahui konsep harga perolehan. Mengapa demikian? Dasar
pencatatan untuk Aktiva Tetap Berwujud adalah Harga Perolehan (cost).
Jadi, pada saat aktiva tetap diperoleh harus dicatat sebesar harga
perolehannya.
Harga perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau
nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada
saat perolehan atau konstruksi. Dengan demikian, seluruh pengeluaran untuk
memperoleh suatu aktiva tetap, baik yang berupa kas maupun yang berupa
setara kas, merupakan komponen harga perolehan. Menurut PSAK No. 16
e EKMA431 3 / MODUL 1 1. 7

Edisi Revisi Tahun 2002, Harga perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari
harga belinya, termasuk bea impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi
(non-refundable), dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
hingga aktiva tersebut dalam kondisi siap pakai; setiap potongan dagang dan
rabat yang dikurangkan dari harga pembelian. Contoh biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung adalah:
1. biaya persiapan tempat;
2. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar-
muat (handling costs);
3. biaya pemasangan (installation costs);
4. biaya profesional, seperti arsitek dan insinyur;
5. estimasi biaya bongkar-muat dan memindahkan aktiva dan persiapan
lokasi, yang diakui sebagai kewajiban diestimasi sesuai PSAK 57:
Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aktiva Kontinjensi.
Harga perolehan dibedakan atas berikut ini.
a. Harga perolehan asli (original cost)
Harga perolehan asli dari suatu Aktiva Tetap Berwujud adalah
semua pengeluaran yang layak dan diperlukan pada saat aktiva itu
diperoleh.
b. Tambahan atas harga perolehan asli
Tambahan atas harga perolehan asli adalah pengeluaran-pengeluaran
yang menyangkut suatu aktiva tetap selama pemilikan dan
penggunaannya.

Tambahan atas harga perolehan asli ini akan kita bicarakan pada
Kegiatan Belajar 3. Pada Kegiatan Belajar 1 ini kita bicarakan dulu harga
perolehan asli.
Akan tetapi, tidaklah segampang yang dibayangkan dalam menentukan
harga perolehan suatu aktiva tetap berwujud karena tiap aktiva tetap
berwujud mempunyai persoalan-persoalan khusus sendiri-sendiri.
Berikut ini akan dikemukakan penentuan harga perolehan untuk
beberapa jenis Aktiva Tetap Berwujud, yakni tanah, bangunan, mesin dan
alat pabrik, mebel dan peralatan kantor, kendaraan, alat-alat kecil, dan alat-
alat pembungkus. Perlu diingat bahwa semua aktiva tersebut dimiliki dan
digunakan untuk operasi normal perusahaan.
1.8 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Harga Perolehan Tanah


Harga perolehan untuk tanah terdiri atas pengeluaran-pengeluaran yang
terjadi dalam rangka pemilikannya yang meliputi, antara lain harga beli,
komisi pembelian, bea balik nama, pajak-pajak yang menjadi beban pembeli,
serta biaya perataan dan pembersihan tanah. Di samping itu, mungkin pula
biaya pembongkaran bangunan di atas tanah tersebut bila kita membeli
sebidang tanah yang ada bangunannya tetapi sudah tua yang tidak akan kita
gunakan.
Perlu pula diketahui bahwa dapat pula timbul biaya-biaya yang
diperlukan untuk menambah manfaat tanah, seperti pembuatan pagar
sekelilingnya, assainering, trotoar, dan lain-lain yang umurnya terbatas.
Pengeluaran-pengeluaran semacam itu tidak termasuk komponen harga
perolehan tanah namun dicatat tersendiri dalam rekening, misalnya "J alan,
Jembatan, Pagar, dan Emplacement".

2. Harga Perolehan Bangunan


Harga perolehan bangunan, antara lain meliputi harga beli, biaya
perbaikan sebelum gedung itu dipakai, komisi pembelian, bea balik nama,
dan lain -lain.
Anda mungkin sudah akan bertanya bagaimana kalaupun bangunan itu
dibuat sendiri? Bila ban gun an dibuat sendiri maka harga perolehannya
meliputi, antara lain biaya-biaya pembuatan bangunan, biaya perencanaan
gambar, biaya bunga kredit pembangunan bangunan itu dan sebagainya. Hal
ini akan lebih jelas lagi nanti ketika Anda mempelajari Kegiatan Belajar 2.

3. Harga Perolehan Mesin dan Alat Pabrik


Harga perolehan Mesin dan Alat Pabrik meliputi, antara lain
pengeluaran-pengeluaran, seperti harga faktur, biaya pengangkutan, biaya
asuransi pengangkutan, biaya pemasangan, dan biaya percobaan.
Perlu Anda ketahui bahwa bila mesin dan alat pabrik diperoleh dengan
jalan menyewa maka biaya sewa tidak merupakan harga perolehan, tetapi
merupakan biaya sewa pada periode terjadinya.

4. Harga Perolehan Mebel dan Peralatan Kantor


Harga perolehan mebel dan peralatan kantor meliputi, antara lain harga
faktur, biaya pengangkutan, dan pajak-pajak yang jadi tanggungan pembeli.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.9

Mebel meliputi: meja, kursi, karpet, almari, dan lain-lain, sedangkan


peralatan kantor meliputi mesin ketik, kalkulator, dan sebagainya.

5. Harga Perolehan Kendaraan dan Alat-alat Transport


Yang termasuk harga perolehan kendaraan adalah harga faktur, bea balik
nama, biaya angkut, dan lain-lain. Pengeluaran, seperti izin trayek dan
asuransi kendaraan tersebut bukan merupakan harga perolehan. Pajak
kendaraan bermotor yang dibayar tiap periode juga bukan merupakan
komponen harga perolehan.

6. Harga Perolehan Alat-alat Kecil


Yang dimaksud dengan alat-alat kecil adalah aktiva tetap yang banyak
macamnya, akan tetapi relatif kecil nilainya yang umumnya dipakai aktif
dalam kegiatan produksi. Contohnya, drei, catut, pukul besi, dan lain-lain.
Alat-alat kecil dibedakan atas alat-alat mesin (machine tools) dan alat-alat
kerja tangan (hand tools). Harga perolehannya adalah harga beli dan biaya-
biaya untuk memperolehnya.

7. Harga Perolehan Alat-alat Bungkus (Tempat Barang)


Alat bungkus atau tempat barang adalah barang-barang yang dipakai
sebagai tempat produk yang dijual, seperti botol, drum, tangki, dan lain-lain
yang biasanya dikembalikan oleh pembeli dan harga tempat barang itu tidak
termasuk dalam harga jual. Harga perolehannya adalah harga beli dan biaya-
biaya untuk perolehannya.
Setelah Anda mengetahui penentuan harga perolehan dari beberapa jenis
aktiva tersebut di atas Anda pasti masih ingin bertanya. Pertanyaan Anda
kemungkinan adalah bukankah yang dibicarakan tersebut di atas adalah harga
perolehan kalau pembeliannya secara tunai? Betul! Yang dibicarakan tadi
adalah harga perolehan kalau pembeliannya secara tunai (kecuali bangunan
yang dibangun sendiri). Anda diminta bersabar sedikit karena memang cara
perolehan bukan cuma dengan cara pembelian tunai. Yang penting Anda
ketahui bahwa penentuan harga perolehan tergantung pula dari cara
perolehannya. Pembicaraan tentang harga perolehan yang dihubungkan
dengan cara perolehannya akan Anda pelajari pada Kegiatan Belajar
berikutnya.
1.10 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

D. CARA PEROLEHAN AKTIVA TETAP BERWUJUD

Pada Kegiatan Belajar 1, kita telah membicarakan secara garis besar


mengenai harga perolehan ATB (Aktiva Tetap Berwujud). Juga telah kita
ketahui pula bahwa Standar Akuntansi Keuangan mengharuskan ATB dicatat
sebesar biaya perolehannya yang merupakan harga pokok historis Aktiva
Tetap Berwujud tersebut. Pencatatan sebesar harga perolehan ini merupakan
perwujudan dari prinsip harga pokok (cost principle). Harga perolehan
Aktiva Tetap Berwujud sangat tergantung dari cara memperolehnya.
Tegasnya, cara perolehan suatu Aktiva Tetap Berwujud akan menentukan
besamya harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud tersebut.
Ada beberapa macam cara memperoleh suatu Aktiva Tetap Berwujud,
yang akan menjadi bahasan utama kita pada kegiatan belajar ini, yakni
berikut ini.
1. Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dari pembelian.
Adalah Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh dari transaksi pembelian
dengan pihak lain. Transaksi pembelian dicerminkan dengan adanya
pengeluaran kas oleh pihak pembeli. Pembelian ini bisa dilakukan secara
tunai, secara kredit, dan bisa juga dilakukan secara lumpsum, artinya
pembelian beberapa jenis Aktiva Tetap Berwujud dengan satu harga
gabungan.
2. Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dari membuat sendiri.
Perusahaan bisa memperoleh suatu Aktiva Tetap Berwujud dengan jalan
membuatnya sendiri. Dalam hal membuat Aktiva Tetap Berwujud
sendiri, perusahaan membeli bahannya, mengupah tenaga kerja, dan
membiayai pembuatannya.
3. Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dari basil pertukaran dengan Aktiva
Tetap Berwujud milik perusahaan.
Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud bisa dilakukan dengan disertai
adanya tambahan kas ataupun tidak. Pertukaran tersebut bisa merupakan
pertukaran antar-Aktiva Tetap Berwujud sejenis maupun dengan lain

Jents.
4. Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dari basil pertukaran dengan surat
berharga perusahaan.
Dengan menggunakan surat berharga sebagai penukamya, Aktiva Tetap
Berwujud yang dibutuhkan oleh perusahaan dapat diperoleh. Surat
berharga yang biasa digunakan untuk "membeli" suatu Aktiva Tetap
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 11

Berwujud adalah saham atau Surat Utang Obligasi yang diterbitkan oleh
perusahaan yang bersangkutan.
5. Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh dari pemberian pihak lain atau
dari basil temuan.
Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh dari pemberian maupun yang
berasal dari temuan tidak mengakibatkan timbulnya pengorbanan
ekonomis bagi perusahaan.

Sekarang marilah kita bahas kelima cara perolehan Aktiva Tetap


Berwujud di atas satu per satu.

a. Aktiva Tetap Berwujud Diperoleh dari Pembelian


Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dari pembelian ditandai dengan
adanya transaksi Kas antara perusahaan sebagai pembeli dengan pihak
penjual. Perolehan Aktiva Tetap Berwujud dengan cara membeli
mengakibatkan perubahan bentuk kekayaan (aktiva) perusahaan, yaitu yang
semula berbentuk kas sebagai elemen Aktiva Lancar menjadi Aktiva Tetap.
Pembelian Aktiva Tetap Berwujud ini bisa dilakukan secara tunai, kredit
ataupun secara lumpsum, yang masing-masing akan dibahas dengan disertai
contoh untuk mempermudah Anda memahaminya.

1) Pembelian Aktiva Tetap Berwujud Secara Tunai


Harga Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh dari pembelian tunai
adalah sebesar seluruh pengeluaran kas untuk mendapatkan Aktiva Tetap
Berwujud tersebut hingga siap digunakan. Pengeluaran kas yang
dikapitalisasi ke dalam harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud meliputi
Harga Faktur (harga beli), Biaya Asuransi selama perjalanan, Ongkos
Pengiriman yang menjadi tanggungan perusahaan, Biaya Pemasangan dan
Percobaan, serta biaya-biaya lainnya sehingga Aktiva Tetap Berwujud
tersebut siap digunakan. Apabila terdapat potongan tunai pada pembelian
Aktiva Tetap Berwujud maka baik dimanfaatkan atau tidak, potongan
tersebut harus tetap dikurangkan dari harga faktur Aktiva Tetap Berwujud.
Apabila potongan tunai tersebut tidak dimanfaatkan maka perusahaan
harus mengakui kerugian akibat potongan yang tidak dimanfaatkan tersebut.
Untukjelasnya, mari ikuti contoh berikut.
1.12 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Contoh 1.1.
UD Sahabat pada tanggal 16 Juni 2006 membeli sebuah kendaraan yang
akan digunakan sebagai alat transportasi perusahaan. Harga faktur
perusahaan sebesar Rp6.000.000,00 dengan termin 5/10, n/30. Biaya
administrasi pembelian kendaraan adalah Rp250.000,00 yang meliputi PPN,
pembuatan surat-surat kendaraan, serta biaya untuk membawa kendaraan
sampai ke perusahaan.
Apabila UD Sahabat membayar pembelian kendaraan tersebut tidak
melebihi tanggal 26 Juni 2006 maka jurnal untuk mencatat transaksi
pembelian kendaraan tersebut adalah:

Kendaraan .......................... . Rp5.950.000,00


Kas ........................................ Rp5.950.000,00
(mencatat pembelian kendaraan secara tunai)

Perhitungan:
Harga Faktur = Rp6.000.000,00
Potongan Tunai = 5% x Rp6.000.000,00 = (Rp 300.000,00)
Biaya Pembelian = Rp 250.000,00
Harga Perolehan Kendaraan Rp5 .950.000,00

Apabila perusahaan membayar pembelian kendaraan tersebut antara


tanggal 26 Juni sampai 16 Juli 2006 maka jurnal yang harus dibuat UD
Sahabat adalah berikut ini:
Kendaraan .................................... Rp5.950.000,00
Rugi Tidak Memanfaatkan Potongan ... Rp 300.000,00
Kas ................................................... Rp6.250.000,00
(mencatat pembelian kendaraan secara tunai tanpa memanfaatkan
potongan yang ditawarkan)

2) Pembelian Aktiva Tetap Berwujud Secara Angsuran


Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua jenis barang yang bernilai
cukup tinggi ditawarkan penjualannya dengan cara kredit, yang
pembayarannya dilakukan dengan cara mengangsur selama jangka waktu
tertentu. Bisa Anda bandingkan, harga barang yang dijual secara kredit
( angsuran) pasti lebih tinggi daripada dijual secara tunai. Hal itu dikarenakan
penjual memperhitungkan unsur bunga di dalam penjualan secara angsuran,
e EKMA431 3/MODUL 1 1.13

dengan alasan bahwa nilai uang dari waktu ke waktu mengalami penurunan
akibat adanya inflasi. Adanya unsur bunga dalam penjualan secara angsuran
juga bisa dikatakan sebagai perwujudan dari konsep time value of money.
Masalah yang akan kita bicarakan di sini adalah bagaimana perlakuan
akuntansi terhadap pembelian Aktiva Tetap Berwujud secara kredit. Jadi,
yang kita bicarakan di sini adalah akuntansi dari pihak pembeli, bukan
penjual.
Ada dua keadaan yang berkaitan dengan unsur bunga pada pembelian
Aktiva Tetap Berwujud secara angsuran, yaitu (a) Bunga dinyatakan secara
eksplisit sehingga dapat dengan mudah diketahui mana yang merupakan
harga beli dan mana yang merupakan unsur bunganya; dan (b) Bunga tidak
dinyatakan secara eksplisit. Apa pun keadaannya, pada prinsipnya unsur
bunga harus dikeluarkan dari harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud. Unsur
bunga ini harus diperlakukan sebagai biaya bunga selama periode
mengangsur. Oleh karena itu, dalam keadaan bunga tidak dinyatakan secara
eksplisit maka kita harus mengeluarkan unsur bunga tersebut dengan
mendasarkan pada tingkat bunga yang berlaku di pasar uang.
Contoh berikut ini akan mempermudah pengertian Anda terhadap
akuntansi pembelian Aktiva Tetap Berwujud secara kredit.

Contoh 1.2.
CV Angkasa membeli sebuah truk dengan cara mengangsur. Harga truk
jika dibeli secara tunai adalah Rp25.000.000,00. Pembayaran pertama sebesar
Rp 10.000.000,00 dilakukan saat truk diserahkan, yaitu pada tang gal 2 J anuari
2006. Kekurangannya diangsur sebanyak 3 kali yang harus dibayar tiap
tanggal31 Desember dengan dibebani bunga 10% per tahun dari saldo utang.
Jumal yang harus dibuat oleh CV Angkasa sehubungan dengan transaksi
di atas adalah berikut ini.
1.14 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

02/01/2006 Kendaraan .. .. ... ..... .... . .... ... .. ..... ... Rp25 .000.000,00
Utang Pembelian Kendaraan ..................... Rp15.000.000,00
Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ... ... .. ........ ... .... ... .. ... Rp 10. 000.000,00
(mencatat pembayaran pertama pembelian truk)

31/12/2006 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan ... Rp 1.500.000,00


Utang Pembelian Kendaraan ............. Rp 5.000.000,00
Kas ........................................................... Rp 6.500.000,00
(mencatat angsuran I pembelian truk dengan bunga 10 % x Rp15.000.000,00)

31/12/2007 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan .... Rp 1.000.000,00


Utang Pembelian Kendaraan .............. Rp 5.000.000,00
Kas .... ... .. ... ..... ....... .. .. ... ... .. ........ ... .... ... .. ... Rp 6. 000.000,00
(mencatat angsuran II pembelian truk dengan bunga 10 % x Rp 10.000.000,00)

31/12/2008 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan ...... Rp 500.000,00


Utang Pembelian Kendaraan ............... Rp5.000.000,00
Kas .............................................................. Rp5 .500.000,00
(mencatat angsuran III pembelian truk dengan bunga 10 % x Rp5.000.000,00)

Contoh 1.3.
Misalkan, pada contoh 1.2 angsuran dibayarkan tiap tanggal 31
Desember sebanyak 3 kali, masing-masing sebesar Rp6.245.235,00.
Dengan data di atas, kita bisa menghitung total kas yang dibayarkan oleh
CV Angkasa untuk membeli truk tersebut adalah Rp28.735.705,00, yaitu
RplO.OOO.OOO,OO + (3 x Rp6.245.235,00). Jumlah ini ternyata lebih besar
dari harga truk jika dibeli secara tunai dengan selisih Rp3.735.705,00. Selisih
inilah yang harus kita akui sebagai biaya bunga. Berapakah tingkat bunga
yang diperhitungkan pada jual beli angsuran tersebut? Untuk singkatnya,
tingkat bunga yang diperhitungkan adalah 12%, yaitu dengan cara
menghitung dengan coba-coba (trial and error). Apabila Anda masih
penasaran maka silakan buka kembali modul-modul yang mempelajari bunga
berbunga.
Adapun pengakuan biaya bunga untuk tiap angsuran adalah sebagai
berikut.

Tang gal Jumlah Biaya Bunga Utang Pokok Utang


02/01/99 - - - Rp15.000.000,00
31/12/99 Rp 6.245.235,00 12% X Rp15.000.000,00 = Rp1 .800.000,00 Rp 4.445.235,00 Rp10.554.765,00
31/12/00 Rp 6.245.235,00 12% x Rp10.554.765,00 = Rp1.266.572,00 Rp 4.978.663,00 Rp 5.576.102,00
31/12/01 Rp 6.245.235,00 12 % x Rp 5.576.102,00 = Rp 669.133,00 Rp 5.576.102,00 -
Jumlah Rp18.735.705,00 Rp3.735.705,00 Rp15.000.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1.15

Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian dengan data seperti di atas


adalah berikut ini:
02/01/06 Kendaraan ....................................... Rp 25.000.000,00
Utang pembelian Kendaraan .......................... Rp 15.000.000,00
Kas ................................................................ R p 10. 000. 000,00
(mencatat pembayaran pertama pembelian truk)

31/12/06 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan Rp 1.800.000,00


Utang pembelian Kendaraan .......... Rp 4.445.235,00
Kas ................................................................ Rp 6.245.235,00
(mencatat pembayaran angsuran I pembelian truk)

31/12/07 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan Rp 1.266.572,00


Utang pembelian Kendaraan .......... Rp 4.978.663,00
Kas ................................................................ R p 6. 245 .2 3 5 ,00
(mencatat pembayaran angsuran II pembelian truk)

31/12/08 Biaya Bunga Pembelian Kendaraan Rp 669.133,00


Utang pembelian Kendaraan .......... Rp 5.576.102,00
Kas ................................................................ Rp 6.245.235,00
(mencatat pembayaran angsuran III pembelian truk)

Pokok utang sebesar Rp 15.000.000,00 yang diangsur di atas dihitung


berdasarkan total nilai tunai masing-masing angsuran yaitu:

1
- Nilai tunai angsuran I = Rp6.245.235,00 x (1 + 0,12r =Rp5.576.102,00
2
- Nilai tunai angsuran II = Rp6.245.235,00 x (1 + 0,12r =Rp4.978.663,00
3
- Nilai tunai angsuran IIII = Rp6.245.235,00 x (1 + 0, 12r =Rp4.445.235,00
Total Nilai Tunai =Rp15.000.000,00
1.16 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

3) Pembelian Aktiva Tetap Berwujud Secara Gabungan (Lumpsum)


Kadang kala perusahaan membeli beberapa jenis Aktiva Tetap Berwujud
sekaligus dengan satu harga gabungan. Hal ini dilakukan karena biasanya
pembelian dengan cara seperti ini bisa menghasilkan harga yang lebih murah.
Penyebab lain dilakukannya pembelian secara lumpsum adalah karena pihak
penjual karena suatu sebab, hanya mau menjual barangnya apabila dibeli
secara lumpsum. Pencatatan terhadap harga perolehan Aktiva Tetap
Berwujud yang dibeli secara lumpsum ini harus dilakukan secara terpisah
untuk masing-masing jenis. Oleh karena itu, harga gabungan tersebut harus
dialokasikan ke tiap jenis Aktiva Tetap Berwujud, agar didapat harga
perolehan untuk masing-masing jenis Aktiva Tetap Berwujud tersebut. Dasar
alokasi yang digunakan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan adalah
nilai wajar (harga pasar) masing-masing Aktiva Tetap Berwujud. Akan tetapi
apabila harga pasar masing-masing Aktiva Tetap Berwujud tidak diketahui,
bisa digunakan dasar alokasi lain yang dirasa bisa mencerminkan nilai wajar
harga perolehannya, misalnya beban pajak masing-masing Aktiva Tetap
Berwujud atau nilai tunai penghasilan yang diharapkan bisa diperoleh dari
penggunaan masing-masing Aktiva Tetap Berwujud tersebut. Apabila tidak
ada satu pun dasar alokasi yang bisa digunakan, baru keputusan manajemen
digunakan untuk menentukan harga perolehan masing-masing Aktiva Tetap
Berwujud. Untuk jelasnya mari kita ikuti contoh berikut.

Contoh 1.4.
PT Nirwana membeli aktiva tetap sebuah perusahaan yang baru saja
gulung tikar. Aktiva tetap yang dibeli terdiri atas sebidang Tanah, Bangunan
Pabrik, dan Mesin-mesin yang semuanya nantinya akan dioperasikan kembali
oleh PT Nirwana. Harga yang disepakati oleh kedua belah pihak seluruhnya
adalah Rp850.000.000,00. Biaya administrasi pembelian dan biaya persiapan
sampai semua akti va tetap yang dibeli tersebut siap digunakan adalah
Rp50.000.000,00. Pada tanggal pembelian, diketahui harga pasar masing-
masing aktiva tetap yang dibeli adalah berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.17

Tanah ............................................. . Rp 600.000.000,00


Bangunan Pabrik ................................ . Rp 300.000.000,00
Mesin ............................................. . Rp 300.000.000,00
Jumlah Rp 1.200.000.000,00

Maka jurnal yang dibuat PT Nirwana atas pembelian aktiva tetap di atas
adalah sebagai berikut:
Tanah ........................................... Rp 450.000.000,00
Bangunan Pabrik ...........................Rp 225.000.000,00
Mesin ........................................ Rp 225.000.000,00
Kas .................................................................... Rp900. 000.000,00
(mencatat pembelian Tanah, Bangunan Pabrik, dan Mesin secara lumpsum)

Perhitungan alokasi:
Tanah = Rp 600.000.000,00 x Rp900.000.000,00 = Rp450.000.000,00
Rp 1. 200.000.000,00

Bangunan = Rp 300.000.000,00 x Rp900.000.000,00 = Rp225.000.000,00


Rp 1.200.000.000,00

Mesin = Rp 300.000.000,00 x Rp900.000.000,00 = Rp225.000.000,00


Rp 1.200.000.000,00

b. Aktiva Tetap Berwujud yang Diperoleh dari Membuat Sendiri


Setidaknya ada 4 alasan yang menyebabkan suatu perusahaan membuat
sendiri Aktiva Tetap Berwujud untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu berikut

Inl.
1. Mengharapkan adanya penghematan.
2. Memanfaatkan fasilitas yang menganggur.
3. Mendapatkan suatu Aktiva Tetap Berwujud dengan kualitas baik.
4. Tidak ada pihak lain yang bisa menyediakan Aktiva Tetap Berwujud
yang dibutuhkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan.

Terhadap Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat sendiri, Standar Akuntansi


Keuangan menetapkan bahwa pengakuannya menggunakan prinsip yang
sama, seperti suatu aktiva yang diperoleh. Jadi, aktiva tersebut diakui
berdasarkan biaya perolehan yang meliputi seluruh biaya yang terjadi
1.18 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

berkenaan dengan pembuatan aktiva tersebut hingga siap digunakan. Apa


yang dikemukakan SAK tersebut tidak terperinci sehingga masih terdapat
kontroversi terhadap elemen-elemen biaya yang harus dibebankan ke harga
perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat. Biaya Bahan dan Tenaga
Kerja Langsung tidak ada masalah, dan memang harus dimasukkan ke harga
perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang di konstruksi. Akan tetapi, untuk
Biaya Overhead yang merupakan biaya tidak langsung, ada perbedaan
pendapat mengenai perlakuan akuntansinya. Perbedaan pendapat mengenai
Biaya Overhead ini berakar dari pembuatan Aktiva Tetap Berwujud yang
mempunyai tujuan untuk memanfaatkan fasilitas pabrik yang menganggur.
Ada 3 perbedaan utama mengenai perlakuan akuntansi atas Biaya Overhead
berkenaan dengan pembuatan suatu Aktiva Tetap Berwujud, sebagai berikut.
1. Seluruh Biaya Overhead dialokasikan secara proporsional ke harga
perolehan Aktiva Tetap Berwujud dan ke harga pokok produksi.
Alasan atas pendapat ini bahwa pada kenyataannya aktiva yang dibuat
sendiri serta produk rutin perusahaan secara bersama-sama menikmati
Biaya Overhead tersebut. Maka dari itu, cukup adil dan beralasan apabila
seluruh Biaya Overhead yang ada dialokasikan secara proporsional ke
harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud dan ke harga pokok produksi.
Alokasi Biaya Overhead tersebut bisa dilakukan, misalnya dengan
menggunakan jam tenaga kerja sebagai dasar alokasi.
2. Biaya Overhead yang dibebankan ke harga perolehan Aktiva Tetap
Berwujud yang dibuat hanya sebesar tambahan biaya yang timbul
berkenaan dengan pembuatan Aktiva Tetap Berwujud.
Alasan yang mendukung pendapat ini bahwa Biaya Overhead tetap yang
besarnya tetap baik ada pembuatan Aktiva Tetap Berwujud maupun
tidak ada, tidak boleh dibebankan ke harga perolehan Aktiva Tetap
Berwujud yang dibuat. Hal ini mengingat Biaya Overhead tetap tersebut
besamya tidak berubah dengan adanya pembuatan Aktiva Tetap
Berwujud sehingga biaya tersebut harus dibebankan hanya ke harga
pokok produksi saja. Sedangkan Biaya Overhead yang boleh dibebankan
ke harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat hanyalah sebesar
tambahan Biaya Overhead berkenaan adanya pembuatan Aktiva Tetap
Berwujud.
3. Biaya Overhead dialokasikan ke harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud
yang dibuat sebesar kesempatan yang hilang untuk berproduksi akibat
adanya pembuatan Aktiva Tetap Berwujud.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.19

Pendapat ini didasari oleh konsep biaya alternatif (opportunity cost).


W alaupun konsep tersebut bagus dan menarik, namun untuk menentukan
besarnya opportunity cost dalam konstruksi aktiva tetap bukanlah
pekerjaan yang gampang dan sangat bersifat subjektif.

Selain masalah Biaya Overhead, masih terdapat pula perbedaan pendapat


mengenai perlakuan akuntansi biaya bunga yang timbul dari pembuatan
Aktiva Tetap Berwujud yang dibiayai dengan dana pinjaman. Ada 3 pendapat
yang berbeda dalam memperlakukan biaya bunga ini, yaitu berikut ini.
1. Biaya bunga tidak dikapitalisasikan ke harga perolehan Aktiva Tetap
Berwujud.
Alasan atas pendapat ini bahwa harus ada pemisahan antara biaya
pembuatan Aktiva Tetap Berwujud dengan biaya pembelanjaan (cost of
financing). Di samping itu, dinilai tidak adil apabila hanya karena
sumber dana yang berbeda berakibat dua Aktiva Tetap Berwujud yang
sama jenisnya mempunyai harga perolehan yang berbeda. Apalagi kalau
diingat bahwa biaya bunga tersebut tidak memberi tambahan manfaat
Aktiva Tetap Berwujud di masa yang akan datang sehingga tidak
beralasan jika harus ditunda pembebanannya.
2. Biaya bunga dikapitalisasi ke harga perolehan Aktiva Tetap sebesar yang
dibayarkan selama masa pembuatan Aktiva Tetap Berwujud.
Alasan yang mendasari pendapat ini bahwa pada kenyataannya
perusahaan menanggung beban bunga berkenaan dengan adanya
pembuatan Aktiva Tetap Berwujud, dan secara langsung biaya tersebut
terjadi dalam usaha untuk mendapatkan Aktiva Tetap Berwujud. Dengan
demikian, dirasa wajar apabila biaya bunga yang ditanggung dan
dikeluarkan perusahaan selama masa pembuatan Aktiva Tetap Berwujud
dikapitalisasi ke harga perolehannya.
3. Harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat sendiri oleh
perusahaan harus memperhitungkan biaya atas penggunaan dana.
Yang dimaksud dengan penggunaan dana di sini tidak hanya terbatas
pada dana pinjaman saja, melainkan juga terhadap semua dana yang
digunakan untuk membuat Aktiva Tetap Berwujud tanpa mempedulikan
sumbemya. Dengan demikian, biaya penggunaan dana juga tidak
terbatas pada biaya bunga aktual saja, tetapi juga harus
memperhitungkan taksiran biaya bunga atas penggunaan dana apabila
digunakan dana milik sendiri.
1.20 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Alasan yang mendasarinya bahwa pada prinsipnya pemakaian suatu dana


memerlukan suatu pengorbanan (biaya). Apabila dana yang digunakan
tersebut merupakan dana milik sendiri maka harus diperhitungkan
adanya opportunity cost atas penggunaan dana tersebut. Secara
konsepsional, pendapat ini bagus, namun dalam praktiknya sulit untuk
diterapkan secara objektif karena penentuan biaya bunga atas
penggunaan dana sendiri akan bersifat subj ektif.

Hal lain yang perlu Anda perhatikan dalam masalah Aktiva Tetap
Berwujud yang dibuat sendiri adalah perlakuan terhadap selisih biaya (harga)
perolehan membuat sendiri dengan harga perolehan apabila Aktiva Tetap
Berwujud tersebut dibeli dari pihak luar. Untuk memecahkan masalah ini,
kita harus kembali ke prinsip konservatisme (conservatism principle).
Dengan demikian, apabila harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang
dibuat sendiri ternyata lebih rendah dari harganya apabila membeli maka
tidak boleh diakui adanya keuntungan (laba). Akan tetapi, apabila temyata
harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat sendiri lebih tinggi
daripada jika didapat dari membeli maka harga perolehan Aktiva Tetap
Berwujud yang dipakai adalah harga pasarnya, selisihnya diakui sebagai
kerugian yang dibebankan pada periode terjadinya. Tegasnya, Aktiva Tetap
Berwujud yang dibuat sendiri pengakuan harga perolehannya paling tinggi
harus sebesar harga pasarnya.

c. Aktiva Tetap Berwujud yang Diperoleh dari Pertukaran


Dalam kehidupan sehari-hari, Anda sering melihat orang melakukan
barter (saling menukar) barang, agar masing-masing pihak bisa mendapatkan
barang yang dibutuhkan. Perusahaan pun bisa pula melakukan tukar-menukar
barang dengan pihak lain, apabila ia memerlukan suatu barang atau dalam hal
ini Aktiva Tetap Berwujud. Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud perusahaan
dilakukan, antara lain disebabkan hal-hal berikut.
1. Aktiva Tetap Berwujud lama sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan
perusahaan.
2. Perusahaan menginginkan Aktiva Tetap Berwujud baru yang
mempunyai manfaat lebih besar, sementara Aktiva Tetap Berwujud yang
lama sudah tidak diperlukan lagi.
3. Perusahaan menginginkan adanya penghematan pengeluaran kas.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.21

Mengenai pertukaran Aktiva Tetap Berwujud ini, Standar Akuntansi


Keuangan mengatur sebagai berikut.
"Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran
sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya
dari pos semacam itu diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau
yang diperoleh, yang mana yang lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar
aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau
setara kas yang di transfer.
Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aktiva
yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang
sama dan memiliki suatu nilai wajar serupa. Suatu aktiva tetap juga dapat
dijual dalam pertukaran dengan kepemilikan aktiva yang serupa. Dalam
kedua keadaan tersebut karena proses perolehan penghasilan (earning
process) tidak lengkap, tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui
dalam transaksi. Sebaliknya, biaya perolehan aktiva baru adalah jumlah
tercatat dari aktiva yang dilepaskan. Tetapi, nilai wajar aktiva yang diterima
dapat menyediakan bukti dari suatu pengurangan (impairment) aktiva yang
dilepaskan. Dalam keadaan ini aktiva yang dilepaskan diturun-nilai buku-kan
(written down) dan nilai turun nilai buku (written down) ini ditetapkan untuk
akti va baru. Contoh dari pertukaran akti va serupa termasuk pertukaran
pesawat terbang, hotel, bengkel dan properti real estat lainnya. Jika aktiva
lain, seperti kas termasuk sebagai bagian transaksi pertukaran, ini dapat
mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak memiliki suatu nilai
yang serupa."
Jelas sudah bahwa pada pertukaran Aktiva Tetap Berwujud, harga
perolehan dicatat sebesar nilai wajar (harga pasar) dari Aktiva Tetap
Berwujud yang diterima atau yang diserahkan, mana di antara keduanya yang
lebih jelas dan didukung bukti yang lebih kuat. Apabila nilai wajar keduanya
sama-sama jelasnya maka sesuai dengan prinsip harga perolehan (cost
principle), nilai Aktiva Tetap Berwujud yang diserahkanlah yang digunakan
sebagai dasar pencatatan pertukaran tersebut. Sedangkan apabila nilai waj ar
keduanya tidak bisa ditentukan secara jelas maka taksiran seorang ahli yang
independen digunakan sebagai dasar pencatatan.
Selanjutnya, di dalam pertukaran Aktiva Tetap Berwujud, sudah biasa
apabila nilai wajar Aktiva Tetap Berwujud yang digunakan sebagai dasar
pencatatan berbeda dengan nilai buku Aktiva Tetap Berwujud yang
diserahkan. Keadaan seperti ini memungkinkan adanya rugi atau laba
1.22 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

pertukaran. Lab a timbul apabila nilai buku lebih rendah dari nilai waj arnya,
sedang rugi timbul apabila nilai buku lebih tinggi dari nilai waj arnya.
Mengenai pengakuan terhadap laba pertukaran Aktiva Tetap Berwujud, harus
dibedakan antara pertukaran Aktiva Tetap Berwujud serupa dengan
pertukaran Aktiva Tetap Berwujud tidak serupa. Yang dimaksud dengan
pertukaran Aktiva Tetap Berwujud serupa bahwa Aktiva Tetap Berwujud
yang dipertukarkan mempunyai fungsi dan kapasitas yang relatif sama.
Sebagaimana disebutkan di atas, rugi atau laba pertukaran Aktiva Tetap
Berwujud yang tidak serupa diakui pada saat transaksi, sedangkan pada
pertukaran Aktiva Tetap Berwujud yang serupa, laba yang terjadi harus
ditangguhkan pengakuannya. Jika pertukaran Aktiva Tetap Berwujud yang
serupa memiliki nilai wajar yang serupa maka pengakuan dilakukan dengan
menggunakan nilai buku aktiva yang dilepaskan, kecuali jika nilai wajar
akti va yang diterima lebih kecil dari nilai buku tersebut. Dalam keadaan
demikian, aktiva yang dilepaskan diturun-nilai buku-kan, dan nilai turun nilai
buku ini ditetapkan untuk aktiva yang diterima.
Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud sering kali disertai dengan
pengeluaran atau penerimaan kas. Dalam hal pertukaran Aktiva Tetap
Berwujud yang serupa yang disertai dengan penerimaan kas, ada satu hal
yang perlu Anda perhatikan, yaitu bahwa pertukaran semacam itu
mengindikasikan adanya bagian dari Aktiva Tetap Berwujud yang diserahkan
dan dijual. Dengan demikian, terdapat dua transaksi pada pertukaran Aktiva
Tetap Berwujud sejenis dengan disertai dengan penerimaan kas, yaitu (1)
Transaksi pertukaran antara sebagian nilai dihargai sebesar kas yang
diterima, dan (2) Transaksi penjualan antara sebagian nilai dihargai sebesar
kas yang diterima. Apabila terdapat laba pada transaksi jenis ini maka atas
bagian nilai buku Aktiva Tetap Berwujud yang diserahkan dalam transaksi
pertukaran, laba harus ditangguhkan pengakuannya. Sedangkan atas bagian
nilai buku Aktiva Tetap Berwujud yang diserahkan dalam transaksi
penjualan, laba yang ada harus diakui pada saat terjadinya transaksi. Adapun
laba yang diakui dalam transaksi penjualan sebagian nilai buku Aktiva Tetap
Berwujud yang diserahkan adalah sebesar:

Total Laba x Kas Yang Diterima


Nilai Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud
di mana,
e EKMA4313/MODUL1 1.23

Nilai Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud = Kas yang diterima + Nilai Wajar
Aktiva Tetap Berwujud yang
digunakan sebagai dasar
pencatatan.
Dengan contoh berikut tentunya Anda akan bisa semakin jelas.

Contoh 1.5 Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Tidak Serupa -


Terdapat Laba Pertukaran
PT Makmur ingin membeli sebidang tanah untuk perluasan pabriknya.
Penjual tanah sepakat menerima pembayaran berupa kas sebesar
Rp10.000.000,00 dan sebuah truk bekas pakai. Nilai buku truk pada saat
transaksi adalah Rp15.000.000,00 (harga perolehan Rp20.000.000,00 dan
akumulasi depresiasi Rp5.000.000,00). Pada tanggal transaksi diketahui
bahwa harga pasar truk tersebut adalah Rp 16.000.000,00, sedang harga pasar
tanah yang dibeli adalah Rp25 .000.000,00.

J umal yang dibuat PT Sej ahtera untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
Tanah ............................... Rp26.000.000,00
Akumulasi Depresiasi Truk....... Rp 5.000.000,00
Laba Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud ... Rp 1.000.000,00
Kendaraan-Truk . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp20.000.000,00
Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . R p 10. 000. 000,00
(mencatat tukar tambah truk dengan tanah)
Perhitungan:
- Harga pasar truk Rp16.000.000,00
- Kas yang dibayarkan Rp10.000.000,00
- Harga perolehan tanah Rp26.000.000,00
- Harga pasar truk Rp 16.000.000,00
Nilai buku truk (Rp 15.000.000,00)
Laba pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Rp 1.000.000,00

Contoh 1.6 Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Tidak Serupa -


Terdapat Rugi Pertukaran

Apabila pad a contoh 1.5. diketahui bahwa harga pasar truk adalah
Rp13.000.000,00, makajurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah:
1.24 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tanah ............................................ Rp23.000.000,00


Akumulasi Depresiasi Truk . . . ............. Rp 5.000.000,00
Rugi Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Rp 2.000.000,00
Kendaraan-Truk .......................................... Rp20.000.000,00
Kas ............................................................ Rp 10.000.000,00
(mencatat pertukaran Aktiva Tetap Berwujud truk dengan tanah)

Perhitungan:
Harga pasar truk Rp 13.000.000,00
- Kas yang dibayarkan Rp 10.000.000,00
Harga perolehan tanah Rp23.000.000,00
- Harga pasar truk Rp13.000.000,00
- Nilai buku truk Rp 15.000.000,00
Rugi pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Rp 2.000.000,00

Contoh 1. 7 Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Serupa - Terdapat Rugi


Pertukaran dan Tidak Ada Penerimaan Kas

CV Bahari bermaksud hendak menukar kendaraan untuk direksi dengan


jenis yang lebih baru. Nilai buku kendaraan lama adalah Rp5.000.000,00
(harga perolehan Rp7 .500.000,00 dan akumulasi depresiasi Rp2.500.000,00).
Harga kendaraan baru jika dibeli tunai per kas adalah Rp 15.000.000,00.
Dalam transaksi ini CV Bahari masih harus membayar sebesar
Rp 11.000.000,00. Jurnal untuk mencatat transaksi di atas yang dibuat oleh
CV Bahari adalah:
Kendaraan (baru) ........................... Rp 15.000.000,00
Akumulasi Depresiasi Kendaraan (lama) Rp 2.500.000,00
Rugi Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Rp 1.000.000,00
Kendaraan (lama) ............................ Rp 7.500.000,00
Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp 11.000.000,00
(mencatat tukar tambah kendaraan)
Perhitungan:
Harga pasar kendaraan baru Rp15.000.000,00
- Kas yang dibayarkan (Rp11.000.000,00)
Harga jual kendaraan lama Rp 4.000.000,00
Nilai buku kendaraan lama Rp 5.000.000,00
- Rugi pertukaran kendaraan Rp 1.000.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1.25

Contoh 1.8 Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Serupa- Terdapat


Laba Pertukaran dan Tanpa Ada Penerimaan Kas

Apabila pada contoh 1.7. CV Bahari hanya diharuskan membayar


sebesar Rp7.500.000,00, makajurnal yang dibuat oleh CV Bahari adalah:

Kendaraan (baru) ........................ Rp 12.500.000,00


Akumulasi Depresiasi Kendaraan ... Rp 2.500.000,00
Kendaraan (lama) ................................. Rp7 .500.000,00
Kas .................................................... R p 7 .5 00. 000,00
(mencatat tukar tambah kendaraan)

Perhitungan:
Harga pasar kendaraan baru Rp15.000.000,00
Kas yang dibayarkan (Rp 7.500.000,00)
Harga jual kendaraan lama Rp 7.500.000,00
Nilai buku kendaraan lama Rp 5.000.000,00
Laba pertukaran yang pengakuannya harus ditunda Rp 2.500.000,00
Harga pasar kendaraan baru Rp 15.000.000,00
Harga perolehan kendaraan baru Rp12.500.000,00

Dari Contoh 1.7 dan 1.8, Anda bisa melihat bahwa pada transaksi
pertukaran Aktiva Tetap Berwujud serupa, apabila terjadi kerugian maka
kerugian yang timbul tersebut harus segera diakui. Akan tetapi, apabila
timbul laba dari pertukaran tersebut maka laba yang timbul pengakuannya
harus ditunda dengan jalan mengurangkan laba tersebut pada harga perolehan
Aktiva Tetap Berwujud yang diterima sehingga beban biaya depresiasi
periodik untuk Aktiva Tetap Berwujud yang baru nantinya lebih kecil.

Contoh 1.9 Pertukaran Aktiva Tetap Berwujud Serupa- Ada


Penerimaan Kas

UD Makmur menukar almari tempat dagangan dengan almari lain yang


lebih sederhana. Harga perolehan almari lama Rp250.000,00 dan telah
didepresiasikan sebesar Rp50.000,00. Harga almari baru jika dibeli tunai per
1.26 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

kas adalah Rp225.000,00. Dari transaksi ini UD Makmur menerima kas


sebesar Rp25 .000,00.
Jumal untuk mencatat transaksi tersebut yang harus dibuat oleh UD
Makmur adalah:
Kas ................................................. Rp 25.000,00
Perabot Toko - Almari (baru) ................ Rp 180.000,00
Akumulasi Depresiasi Perabot Toko ........... Rp 50.000,00
Lab a Penjualan Almari ............................. Rp 5.000,00
Perabot Toko - Almari (lama) ............. Rp250.000,00
(mencatat pertukaran almari)

Perhitungan:
- Harga pasar almari baru Rp225.000,00
Kas yang diterima Rp 25.000,00
- Harga jual almari lama Rp250.000,00
- Nilai buku almari lama (Rp200.000,00)
Totallaba pertukaran dan penjualan Rp 50.000,00
Bagian laba dari transaksi penjualan yang
diakui saat transaksi Rp 5.000,00*
Bagian laba dari transaksi pertukaran Aktiva
Tetap Berwujud yang ditunda pengakuannya Rp 45.000,00
- Harga pasar almari baru (Rp225 .000,00)
Harga perolehan almari baru Rp 180.000,00

* Bagian laba dari transaksi penjualan yang boleh diakui =

Rp50.000,00 X Rp25.000,00 =RpS.OOO,OO


Rp25.000,00 + Rp225.000,00

d. Aktiva Tetap Berwujud Diperoleh Melalui Pertukaran dengan Surat


Berharga
Untuk Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh melalui pertukaran dengan
surat berharga, pengakuan harga perolehannya pada dasarnya sama dengan
yang terdapat pada pertukaran Aktiva Tetap Berwujud karena keduanya
sama-sama merupakan transaksi nonmoneter. Dengan demikian, seperti
halnya pada pertukaran Aktiva Tetap Berwujud, harga perolehan Aktiva
e EKMA431 3/MODUL 1 1.27

Tetap Berwujud yang diterima dicatat sebesar nilai wajar Aktiva Tetap
Berwujud yang diterima atau surat berharga yang diserahkan tergantung
mana di antara keduanya yang lebih jelas. Dalam praktiknya, nilai wajar
(harga pasar) surat berharga lebih sulit ditentukan secara pasti, apalagi untuk
Indonesia di mana pasar modal belum berkembang dengan baik. Oleh karena
itu, pada umumnya harga pasar Aktiva Tetap yang diterimalah yang
digunakan sebagai dasar pencatatan pertukaran tersebut.
Berikut Anda diberikan sebuah contoh mengenai transaksi pertukaran
Aktiva Tetap Berwujud dengan surat berharga, yang dalam hal ini diambil
adalah Saham Biasa.

Contoh 1.1 0.
PT Andalas "membeli" sebuah mesin yang "dibayar" dengan 1.000
lembar Saham Biasa perusahaan tersebut. Nilai nominal per lembar saham
adalah Rp 10.000,00. Harga pasar mesin yang "dibeli" pada tanggal transaksi
adalah Rp 11.000.000,00.
Jumal yang dibuat PT Andalas untuk mencatat transaksi tersebut adalah
berikut ini.
Mesin ......................... . Rp11.000.000,00
Modal Saham Biasa ........................ Rp 10.000.000,00
Agio Saham Bias a .......................... Rp 1.000.000,00
(mencatat "pembelian" mesin yang "dibayar" dengan 1.000 lembar
saham biasa, nominal Rp10.000,00)

Dari contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa apabila harga pasar Aktiva
Tetap Berwujud yang diterima lebih besar dari total nominal saham yang
diserahkan maka selisihnya tidak diakui sebagai laba pertukaran melainkan
dicatat sebagai Agio Saham yang merupakan unsur dari Modal Yang Disetor.
Dengan demikian, dengan adanya pertukaran tersebut saldo Modal Yang
Disetor menjadi bertambah besar. Mengenai Modal Saham, Agio Saham, dan
Modal Yang Disetor ini akan dibicarakan lebih terperinci dalam modul
tersendiri.
1.28 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

e. Aktiva Tetap Berwujud dari Pemberian (Donasi) atau Hasil Temuan


Jika sebuab perusabaan memperoleb sebuab Aktiva Tetap Berwujud
yang baru berasal dari sumbangan (donasi) ataupun dari basil temuan, bisa
dikatakan babwa perusabaan tersebut tidak mengeluarkan pengorbanan
(biaya) dalam rangka mendapatkan Aktiva Tetap Berwujud tersebut sebingga
tidak bisa dilakukan pencatatan terbadap barga perolebannya sebesar selurub
pengeluaran dalam rangka mendapatkan Aktiva Tetap Berwujud tersebut,
seperti balnya pada cara peroleban Aktiva Tetap Berwujud lainnya. Untuk
memecabkan masalab ini, Standar Akuntansi Keuangan memberi araban agar
Aktiva Tetap Berwujud tersebut dicatat sebesar barga taksiran atau barga
pasar yang layak dengan mengkreditkan akun Modal Donasi/Temuan.
Apabila barga pasar Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleb tidak bisa
ditentukan maka barga taksiran dari seorang abli dalam bidangnya dan
independen merupakan dasar yang bisa digunakan dalam mencatat peroleban
Aktiva Tetap Berwujud.
Berikut diberikan contob mengenai pencatatan Aktiva Tetap Berwujud
yang diperoleb dari donasi.

Contob 1.11.
Toko Abadi memperoleb sumbangan sebuab kendaraan dari relasinya.
Harga pasar kendaraan tersebut pada saat diterima adalab Rp7 .500.000,00.
Jurnal untuk mencatat sumbangan kendaraan di atas yang dibuat oleb Toko
Abadi adalab berikut ini.

Kendaraan ................................ Rp7 .500.000,00


Modal Do nasi . . . . . . . . . . . . . . . .. . ... .. .. .. ... .. .. .. . . Rp7 .500.000,00
(mencatat penerimaan sumbangan kendaraan)

Apabila dalam proses penerimaan sumbangan perusabaan barus


menanggung sejumlab biaya, misalnya untuk contob di atas meliputi ongkos
untuk balik nama maka rekening Modal Donasi di debit sebesar biaya-biaya
tersebut. Misalkan dalam Contob 1.11, Toko Abadi barus mengeluarkan kas
sebesar Rp1.000.000,00 untuk keperluan balik nama dan lain-lain maka akan
dicatat sebagai berikut.
Modal Do nasi . . . . . . .. .. .. .. .. . . . . . . . . . . Rp 1.000.000,00
Kas . . . . . . . . ............................ .. Rp1.000.000,00
e EKMA4313/MODUL1 1.29

(mencatat pengeluaran kas untuk biaya administrasi pemindahan


hak milik kendaraan sumbangan)

Selama penggunaan kendaraan sumbangan tersebut, rekening Modal


Donasi diamortisasi dengan cara mendebitnya dengan rekening lawannya
adalah Akumulasi Depresiasi. Amortisasi ini dilakukan untuk bisa
mengetahui nilai buku kendaraan sumbangan tersebut. Mengenai amortisasi
dan akumulasi depresiasi, akan Anda jumpai kembali dalam modul
selanjutnya.

LATIHAN
---- ~ - .

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Berikanlah 3 buah contoh aktiva tetap yang tidak dapat digolongkan


sebagai Aktiva Tetap Berwujud!
2) Jika Anda masuk ke sebuah show room dealer mobil maka apakah
mobil-mobil yang dipajang itu dapat digolongkan sebagai Aktiva Tetap
Berwujud? Jelaskan secara singkat!
3) Bagaimanakah kriteria suatu Aktiva Tetap Berwujud agar dapat diakui
sebagai aktiva oleh perusahaan? Jelaskan secara singkat!
4) Sebutkan apa saja yang menjadi komponen harga perolehan jika Anda
membeli secara tunai sebuah sepeda motor!
5) Sebutkan cara perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang paling sering
terjadi!
6) Apa alasan yang menyebabkan suatu perusahaan membuat sendiri
Aktiva Tetap Berwujud untuk memenuhi kebutuhannya?
7) Apa yang dimaksud dengan harga perolehan asli (original cost) dari
suatu Aktiva Tetap Berwujud?
8) Pada tanggal 15 Mei 2006 PT Lintas Benua membeli sebuah mesin
dengan harga faktur Rp 10.000.000,00 dengan syarat pembayaran 4/5,
n/20. Biaya pengangkutan, pemasangan, dan lain-lain sebesar
Rp500.000,00. Hitunglah harga perolehan mesin tersebut jika
perusahaan memanfaatkan kesempatan potongan tunai yang diberikan!
9) PT Aneka membeli secara kredit sebuah mobil pada sebuah dealer.
Harga yang disepakati adalah Rp10.000.000,00 dengan pembayaran
sebagai berikut; uang muka Rp2.000.000,00, sedangkan sisanya diangsur
1.30 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

tiap 3 bulan sebesar Rp1.600.000,00 ditambah bunga 1% dari sisa utang.


Buatlah jumal-jurnal transaksi di atas mulai dari pemilikan sampai
dengan pelunasannya!
10) PT Ria pada tanggal 1 Januari 2006 menukarkan aktivanya dengan
aktiva yang baru. Harga perolehan aktiva lama Rp1.000.000,00 dengan
nilai buku Rp600.000,00, harga pasar aktiva yang lama adalah
Rp 1.500.000,00, dan harga aktiva baru jika dibeli tunai per kas adalah
Rp 1.200.000,00. Hitunglah laba-rugi pertukaran tersebut hila:
a. pada pertukaran tersebut PT Ria membayar kas sebesar
Rp 1.000.000,00 dan aktiva yang ditukarkan tersebut serupa;
b. pada pertukaran tersebut PT Ria membayar kas sebesar
Rp800.000,00 dan aktiva yang ditukarkan tersebut tidak serupa;
c. aktiva yang ditukarkan serupa dan tidak ada pembayaran atau
penerimaan kas.

Petunjuk Jawaban Latihan

1) 3 buah contoh dari Aktiva tetap yang tidak dapat digolongkan menjadi
Aktiva Tetap Berwujud adalah Kas, Piutang, dan Biaya Yang Dibayar di
Muka.
2) Pada Show Room Dealer Mobil, mobil-mobil yang dipajang tidak dapat
digolongkan ke dalam Aktiva Tetap Berwujud karena salah satu
karakteristik dari Aktiva Tetap Berwujud, yaitu aktiva yang tidak
dimaksudkan untuk dijual kembali.
3) Kriteria suatu aktiva tetap berwujud agar dapat diakui sebagai aktiva
oleh perusahaan, antara lain berikut ini.
a. Besar kemungkinan (probable) manfaat ekonomi masa datang yang
berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke perusahaan.
b. Harga perolehan aktiva dapat diukur secara andal.
4) Yang menjadi komponen harga perolehan jika membeli secara tunai
sebuah sepeda motor, yaitu harga faktur, bea balik nama, dan biaya
angkut.
5) Cara perolehan Aktiva Tetap Berwujud dari pembelian, yaitu Aktiva
Tetap Berwujud yang diperoleh dari transaksi pembelian baik secara
tunai maupun kredit dengan pihak lain.
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 31

6) Alasan yang menyebabkan suatu perusahaan membuat sendiri Aktiva


Tetap Berwujud untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu:
a. mengharapkan adanya penghematan;
b. memanfaatkan fasilitas yang menganggur;
c. mendapatkan suatu Aktiva Tetap Berwujud dengan kualitas baik;
d. tidak ada pihak lain yang bisa menyediakan Aktiva Tetap Berwujud
yang dibutuhkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan.
7) Harga perolehan asli (original cost) dari suatu Aktiva Tetap Berwujud
adalah semua pengeluaran yang layak dan diperlukan pada saat aktiva itu
diperoleh.
8) Perhitungan:
Harga Faktur : Rp10.000.000,00
Potongan Tunai 4% x Rp. 10.000.000,00 :(Rp 400.000,00)
Biaya Pengangkutan, pemasangan, dan lain-lain : Rp 500.000,00
Harga Perolehan Mesin : Rp10.100.000,00
9) (Jumal untuk mencatat pembayaran pertama pembelian mobil) :
Kendaraan ........................................... Rp 10.000.000,00
Utang Pembelian Kendaraan ........................ Rp 8.000.000,00
Kas ................................................................. Rp 2.000.000,00

(Jumal untuk mencatat angsuran I pembelian mobil dengan bunga


1% X Rp8.000.000,00):
Biaya Bunga Pembelian Kendaraan ........ Rp 80.000,00
Utang Pembelian Kendaraan ............... Rp 1.600.000,00
Kas. .. .. .. .. .. ... .. ... .. .... .. .. ... .. .. ... .. ... .. .. .. ... .. ... .. .. ... .. ... .. .. . R p 1. 6 80. 000,00

(Jumal untuk mencatat angsuran II pembelian mobil dengan bunga


1% X Rp6.400.000,00) :
Biaya Bunga Pembelian Kendaraan ......... Rp 64.000,00
Utang Pembelian Kendaraan ............. Rp 1.600.000,00
Kas ............................................................................. Rp 1.664.000,00

(Jumal untuk mencatat angsuran III pembelian mobil dengan bunga


1% X Rp4.800.000,00):
Biaya Bunga Pembelian Kendaraan .......... Rp 48.000,00
Utang Pembelian Kendaraan..................... Rp 1.600.000,00
Kas ............................................................................ R p 1.64 8 .000,00
1.32 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

(Jurnal untuk mencatat angsuran IV pembelian mobil dengan bunga


1% X Rp3.200.000,00) :
Biaya Bunga Pembelian Kendaraan ......... Rp 32.000,00
Utang Pembelian Kendaraan ............... Rp 1.600.000,00
Kas ..................................................... Rp1.632.000,00

(Jurnal untuk mencatat angsuran V pembelian mobil dengan bunga


1% X Rp 1.600.000,00) :
Biaya Bunga Pembelian Kendaraan .. .. . Rp 16.000,00
Utang Pembelian Kendaraan .............. Rp 1.600.000,00
Kas ....................................................... Rp1.616.000,00

10) Perhitungannya :
a. Harga pasar aktiva yang baru : Rp1.200.000,00
Kas yang dibayarkan : (Rp1.000.000,00)
Harga jual aktiva lama : Rp 200.000,00
Nilai buku aktiva lama : (Rp 600.000,00)
Rugi pertukaran aktiva : Rp 400.000,00

b. Harga pasar aktiva lama : Rp 1.500.000,00


Kas yang dibayarkan : Rp 800.000,00
Harga perolehan aktiva baru : Rp2.300.000,00
Harga pasar aktiva lama : Rp 1.500.000,00
Nilai buku aktiva lama : (Rp 600.000,00)
Laba pertukaran Aktiva Tetap : Rp 900.000,00
Berwujud

c. Harga pasar aktiva yang baru : Rp1.200.000,00


Hargajual aktiva lama : Rp1.200.000,00
Nilai buku aktiva lama : (Rp 600.000,00)
Laba pertukaran aktiva : Rp 600.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1.33

RANGKUMAN
------------------------------------

Setiap perusahaan hampir dapat dipastikan mempunyai Aktiva


Tetap Berwujud. Aktiva Tetap Berwujud merupakan aktiva yang
mempunyai bentuk fisik, digunakan untuk operasi normal perusahaan,
memiliki masa manfaat lebih dari 1 periode akuntansi, dan dimiliki
bukan dengan maksud untuk dijual kembali.
Apabila suatu akti va mempunyai bentuk fisik, tetapi tidak
digunakan dalam operasi normal perusahaan maka akan digolongkan
sebagai Investasi Jangka Panjang atau Aktiva Lain-Lain. Demikian pula
jika ada aktiva yang berumur lebih dari satu tahun, tidak digunakan
untuk operasi normal perusahaan, tetapi dimaksudkan untuk dijual
kembali maka aktiva tersebut termasuk sebagai barang dagangan.
Suatu aktiva tetap berwujud diakui sebagai aktiva oleh perusahaan
apabila memenuhi 2 kriteria, yaitu ( 1) memiliki manfaat ekonomis di
masa yang akan datang, dan (2) harga perolehan yang dapat diukur
secara andal.
Aktiva Tetap Berwujud dicatat sebesar harga perolehannya dan
penentuan harga perolehan tergantung pada jenis aktiva serta cara
perolehannya. Yang dijadikan dasar umumnya adalah harga faktur
ditambah biaya-biaya untuk memperolehnya. Kalaupun aktiva tetap
dibuat sendiri maka harga perolehannya adalah biaya-biaya pembuatan
akti va tetap tersebut.
Aktiva Tetap Berwujud dapat diperoleh dengan berbagai cara. Cara
perolehan akan menentukan besarnya harga perolehan yang dijadikan
sebagai dasar pencatatan. Cara perolehan Aktiva Tetap Berwujud antara
lain adalah pembelian tunai, pembelian kredit, membuat sendiri,
pertukaran, dan pemberian dari pihak lain.
Untuk Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh melalui pembelian
secara kredit (angsuran) akan dicatat sebesar harga jika aktiva tersebut
dibeli secara tunai (cash cost) . Dengan demikian, unsur bunga bukan
merupakan komponen harga perolehan. Tingkat bunga bisa dinyatakan
secara eksplisit maupun implisit.
Dalam suatu pembelian Aktiva Tetap Berwujud dapat terjadi untuk
beberapa aktiva sekaligus dengan harga gabungan. Apabila hal ini terjadi
maka alokasi harga perolehan ke masing-masing Aktiva Tetap Berwujud
didasarkan pada harga pasar masing-masing Aktiva Tetap Berwujud
yang bersangkutan.
Bila Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dengan jalan membuat
sendiri, timbul masalah perlakuan biaya overhead pabrik. Ada 3 cara
perlakuan BOP tersebut, yakni dialokasikan secara proporsional ke harga
1.34 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

perolehan dan harga pokok produksi; dibebankan ke harga perolehan


Aktiva Tetap Berwujud sebesar tambahan biaya yang timbul berkenaan
dengan pembuatan Aktiva Tetap Berwujud tersebut; dan dialokasikan ke
harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang dibuat sebesar kesempatan
yang hilang untuk berproduksi akibat adanya pembuatan Aktiva Tetap
Berwujud tersebut. Selain itu, juga timbul masalah perlakuan bunga
dalam rangka pembuatan suatu Aktiva Tetap Berwujud.
Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh melalui pertukaran harus
dicatat/diakui sebesar harga wajar dari aktiva yang diperoleh atau aktiva
yang diserahkan mana yang lebih jelas. Dalam pertukaran ini dibedakan
pula masalah serupa atau tidak serupa akti va yang dipertukarkan. Di
samping itu perlu pula diperhatikan apakah dalam pertukaran itu ada
serah terima uang kas. Hal ini penting untuk perlakuan adanya rugillaba
pertukaran.
Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh melalui pertukaran dengan
surat berharga juga dicatat sebesar nilai wajar Aktiva Tetap Berwujud
yang diterima atau surat berharga yang diserahkan tergantung mana yang
lebih jelas. Aktiva Tetap Berwujud yang diperoleh dari
donasi/hadiahlpemberian atau dari hasil temuan akan dicatat dengan
harga perolehan sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak.

TES FORMATIF 1- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1) Berikut ini yang bukan karakteristik Aktiva Tetap Berwujud adalah ....
A. mempunyai bentuk fisik
B. relatif permanen
C. mempunyai umur lebih dari satu periode akuntansi
D. dimaksudkan untuk dijual kembali

2) Dari yang disebut berikut ini, mana yang bukan Aktiva Tetap Berwujud
untuk perusahaan real estate?
A. Gedung kantor perusahaan
B. Mebel dan peralatan kantor
C. Tanah kapling
D. Alat-alat kecil (hand tools)
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 35

3) Untuk perusahaan dealer mobil, mana dari yang disebut di bawah ini
yang termasuk Aktiva Tetap Berwujud?
A. Simpanan di Bank
B. Gedung tempat show room
C. Mobil yang ada di show room
D. Tanah untuk perluasan gedung yang belum digunakan

4) Untuk perusahaan perbankan, mana dari yang disebut di bawah ini yang
termasuk Aktiva Tetap Berwujud?
A. Kendaraan
B. Simpanan giro
C. Tabungan
D. Deposito

5) Jika Anda membeli tanah maka yang bukan komponen harga perolehan
adalah ....
A. harga faktur pembelian
B. biaya perataan tanah
C. biaya pembuatan pagar keliling
D. komisi pembelian

6) Jika Anda membangun sendiri sebuah gedung maka mana dari


pernyataan berikut ini yang bukan komponen harga perolehan?
A. Harga tanah
B. Biaya pembangunan gedung
C. Biaya perencanaan gambar
D. Biaya bunga kredit pembangunan gedung

7) Berikut ini yang tidak termasuk Aktiva Tetap Berwujud adalah ....
A. mebel dan peralatan kantor
B. gedung
C. piutang jangka panjang
D. mesin pabrik

8) Yang merupakan aktiva tetap dari yang disebut di bawah ini adalah ....
A. persediaan barang
B. alat-alat bungkus
C. piutang jangka panjang
D. persekot asuransi
1.36 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

9) Yang bukan merupakan komponen harga perolehan dari pembelian


sebuah kendaraan adalah ....
A. harga faktur
B. biaya balik nama
C. biaya angkut
D. biaya asuransi

10) Yang bukan komponen harga perolehan dari pembelian sebuah mesin
adalah ....
A. harga faktur
B. biaya pemasangan
C. biaya percobaan
D. biaya sewa

11) Potongan tunai yang tidak dimanfaatkan dalam pembelian Aktiva Tetap
Berwujud akan diperlakukan sebagai ....
A. rugi tidak dimanfaatkannya potongan
B. menambah harga perolehan
C. mengurangi potongan penjualan
D. biaya pembelian

12) Sebuah Aktiva Tetap Berwujud dibeli secara angsuran sebesar


Rp10.000.000,00 dengan membayar uang muka Rp1.000.000,00 dan
sisanya dibayar 5 kali @ Rp 1.800.000,00. Aktiva tersebut jika dibeli
tunai harganya Rp8.500.000,00. Aktiva Tetap Berwujud tersebut harus
dicatat sebesar ....
A. Rp10.000.000,00
B. Rp 9.000.000,00
C. Rp 7.000.000,00
D. Rp 8.500.000,00

13) Pembelian Aktiva Tetap Berwujud yang terdiri atas gedung dan tanahnya
sekaligus harganya Rp15.000.000,00. Jika diketahui harga pasar gedung
dan tanah masing-masing adalah Rp6.000.000,00 dan Rp12.000.000,00
berturut-turut, maka berapakah harga perolehan gedung sebagai dasar
pencatatan?
A. Rp6.000.000,00
B. Rp5.000.000,00
C. Rp3.000.000,00
D. Rp9.000.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1.37

14) Manakah di antara alasan-alasan berikut ini yang bukan merupakan


alasan perusahaan membuat sendiri Aktiva Tetap Berwujud?
A. Harga perolehannya pasti lebih murah
B. Memanfaatkan fasilitas yang menganggur
C. Mendapatkan suatu Aktiva Tetap Berwujud dengan kualitas yang
baik
D. Tidak ada pihak lain yang bisa menyediakan Aktiva Tetap Berwujud
yang dibutuhkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan

Untuk soal nomor 15 sampai dengan nomor 18 gunakan data berikut.

Sebuah Aktiva Tetap Berwujud lama ditukarkan dengan Aktiva Tetap


Berwujud baru. Aktiva Tetap Berwujud lama memiliki harga pasar
Rp100.000,00 dengan nilai buku Rp80.000,00 dan akumulasi depresiasi
Rp70.000,00.
15) Jika dalam pertukaran itu diserahkan uang sebesar Rp20.000,00 dan
Aktiva Tetap Berwujud yang dipertukarkan serupa maka berapakah
harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud baru dicatat?
A. Rp 80.000,00
B. Rp100.000,00
C. Rp 70.000,00
D. Rp 90.000,00

16) Jika dalam pertukaran itu tidak terjadi serah terima uang dan aktiva yang
ditukarkan tidak serupa maka harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud
yang baru adalah ....
A. Rp100.000,00
B. Rp150.000,00
C. Rp 60.000,00
D. Rp 70.000,00

17) Jika Aktiva Tetap Berwujud yang dipertukarkan serupa dan dalam
pertukaran itu diterima uang sebesar Rp25.000,00 maka akan diakui laba
sebesar ....
A. Rp20.000,00
B. Rp16.000,00
C. Rp 3.333,00
D. Rp16.667,00
1.38 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

18) Melanjutkan nomor 17 maka Aktiva Tetap Berwujud baru akan dicatat
sebesar ....
A. Rp100.000,00
B. Rp 96.667,00
C. Rp150.000,00
D. Rp 58.333,00

19) Sebuah Aktiva Tetap Berwujud diperoleh dengan menyerahkan 100


lembar saham dengan nominal Rp100.000,00 per lembar. Jika harga
pasar Aktiva Tetap Berwujud Rp 11.000.000,00 dan harga pasar saham
Rp105.000,00 per lembar maka Aktiva Tetap Berwujud akan dicatat
sebesar ...
A. Rp10.000.000,00
B. Rp10.500.000,00
C. Rp 11.000.000,00
D. Rp 9.500.000,00

20) UD Subur memperoleh hadiah sebuah traktor dari Bapak Bupati. Harga
pasar traktor tersebut adalah Rp7 .000.000,00, sedang untuk
memperolehnya dikeluarkan biaya-biaya sebesar Rp 500.000,00. Maka,
traktor tersebut akan dicatat oleh UD Subur sebesar ....
A. Rp7.000.000,00
B. Rp6.500.000,00
C. Rp7.500.000,00
D. Rp 500.000,00

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
e EKMA431 3/MODUL 1 1.39

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
1.40 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 2

Pengeluaran-pengeluaran Selama Masa


Penggunaan dan Pemberhentian
Aktiva Tetap Berwuj ud

A. PENGELUARAN MODAL DAN PENGELUARAN


PENGHASILAN

Ketika kita membicarakan perihal harga perolehan ATB, sudah


disinggung bahwa harga perolehan bisa bertambah selama masa
penggunaannya. Tambahan harga perolehan ini disebabkan oleh adanya
pengeluaran pada mas a penggunaan ATB yang bersangkutan yang memang
harus dikapitalisasikan ke harga perolehannya. Memang tidak semua
pengeluaran pada masa penggunaan suatu ATB harus dikapitalisasikan ke
harga perolehannya. Untuk itu, pengeluaran-pengeluaran yang terjadi selama
masa penggunaan suatu ATB bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu
berikut ini.

1. Pengeluaran Penghasilan (Revenue Expenditure)


Merupakan pengeluaran kas berkenaan dengan pemakaian suatu ATB
yang harus dibebankan sebagai biaya periodik saat terjadinya.
Pengeluaran jenis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
a. Bersifat rutin (sering terjadi).
b. Bernilai relatif kecil.
c. Tidak menyebabkan bertambah panjangnya masa kegunaan ATB yang
bersangkutan ataupun menambah manfaat untuk masa yang akan datang.

Yang bisa dimasukkan ke dalam pengeluaran penghasilan, misalnya


biaya reparasi rutin, biaya perawatan, biaya asuransi ATB, dan lain-lain.

2. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure)


Merupakan pengeluaran sehubungan dengan pemakaian suatu ATB yang
pembebanannya harus ditangguhkan dengan jalan mengkapitalisasikan
pengeluaran tersebut ke harga perolehannya.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.41

Pengeluaran modal mempunyai ciri-ciri yang berkebalikan dengan ciri-


ciri pengeluaran penghasilan, yaitu berikut ini.
a. Jarang terjadi (bersifat insidental) dan bukan merupakan pengeluaran
yang diharapkan terj adi.
b. Menyangkut jumlah yang material (relatif besar).
c. Dapat dipastikan bahwa pengeluaran tersebut memberikan tambahan
manfaat di masa yang akan datang dan/atau memperpanjang umur
ekonomisnya.

Termasuk ke dalam jenis ini adalah reparasi besar, penambahan fisik


ATB, dan sebagainya.

W alaupun terdapat kriteria mengenai pengeluaran modal maupun


pengeluaran penghasilan, seperti telah diuraikan di atas, namun
kebijaksanaan manajemen masih berperan banyak dalam penggolongan
pengeluaran tersebut. Misalnya, ada suatu pengeluaran yang berjumlah besar,
tetapi karena pengeluaran tersebut sering terj adi maka dikategorikan sebagai
pengeluaran penghasilan. Begitu pula apabila ada sebuah pengeluaran yang
jarang sekali terjadi, namun karena berjumlah relatif kecil, bisa digolongkan
sebagai pengeluaran penghasilan pula.

B. PENGELUARAN-PENGELUARAN SELAMA MASA


PENGGUNAAN ATB

Telah dijelaskan bahwa ada 2 jenis pengeluaran berkaitan dengan


pemakaian suatu ATB. Perlakuan terhadap masing-masing jenis pengeluaran
tersebut akan mempengaruhi informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan, dan ini bisa menyesatkan pemakainya. Maka dari itu, kita harus
cukup berhati-hati di dalam menentukan jenis suatu pengeluaran berkaitan
dengan penggunaan ATB. Hal ini mengingat batas antara pengeluaran modal
dengan pengeluaran penghasilan memang tidak begitu jelas dan sering kali
penentuannya hanya berdasarkan kebijaksanaan manajemen saja.
Pada umumnya pengeluaran berkenaan dengan penggunaan sebuah ATB
meliputi berikut ini.
1. Pengeluaran untuk pemeliharaan (maintenances).
2. Pengeluaran untuk reparasi (repairs).
1.42 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

3. Pengeluaran untuk penggantian dan perbaikan (replacements dan


improvements).
4. Pengeluaran untuk penambahan (additions).
5. Pengeluaran untuk penyusunan kembali (reinstallations dan
rearrangement).

Berikut ini adalah pembahasannya.

1. Pemeliharaan
Yang dimaksud dengan pemeliharaan adalah pengeluaran untuk
membuat suatu ATB senantiasa dalam kondisi yang baik dan siap pakai.
Adanya kondisi yang baik ini menyebabkan ATB tersebut his a digunakan
secara baik. Pengeluaran untuk pemeliharaan ini harus diakui sebagai biaya
periodik saat terj adinya. Hal ini karena pemeliharaan bisa dikatakan tidak
menyebabkan ATB yang bersangkutan menjadi bertambah umur maupun
manfaat ekonomisnya. Yang his a dimasukkan ke dalam pemeliharaan adalah
misalnya pengecatan gedung, pelumasan mesin, pembersihan rutin, dan
sebagainya.

2. Reparasi
Reparasi suatu ATB bisa digolongkan menjadi 2 macam sebagai berikut.
a. Reparasi rutin.
b. Reparasi besar.

Reparasi rutin hampir bisa dikatakan sama dengan pemeliharaan. Biaya


yang dikeluarkan berkenaan dengan reparasi rutin jumlahnya relatif kecil.
Oleh karena itu, pengeluaran untuk keperluan reparasi rutin harus dibebankan
sebagai biaya periodik. Berlainan dengan reparasi rutin, reparasi besar
meliputi perbaikan besar-besaran yang sering kali memerlukan penggantian
elemen-elemen ATB yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga
mengakibatkan bertambahnya umur dan/atau manfaat ekonomis yang
disebabkan oleh perbaikan besar tersebut. Dengan adanya pertambahan umur
ataupun manfaat ekonomis yang disebabkan oleh reparasi besar ini, otomatis
kita harus memasukkan pengeluaran ini ke dalam pengeluaran modal.
Untuk pengeluaran modal dari reparasi besar ini, perlakuannya
dipisahkan menjadi 2 macam, yaitu berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.43

a. Menambah harga perolehan A TB yang bersangkutan.


Suatu pengeluaran modal dari reparasi besar diperlakukan sebagai
penambah harga perolehan ATB apabila reparasi tadi menjadikan
manfaat ekonomis ATB tersebut bertambah. Bertambahnya manfaat
ekonomis ini diwujudkan dengan adanya tambahan penghasilan yang
bisa diberikan oleh ATB tersebut.
Bertambahnya manfaat ekonomis akibat adanya reparasi besar
memberikan indikasi bahwa pengeluaran tersebut membuat ATB yang
bersangkutan mempunyai nilai lebih dari keadaan sebelumnya. Dengan
demikian, cukup beralasan apabila pengeluaran tersebut diperlakukan
sebagai penambah harga perolehan A TB.
b. Dikurangkan dari akumulasi depresiasi ATB yang bersangkutan.
Apabila pengeluaran sehubungan dengan reparasi besar suatu ATB
diperkirakan membuat umur ekonomisnya bertambah maka pengeluaran
tersebut diperlakukan dengan mengurangkannya dari Akumulasi
Depresiasi A TB yang bersangkutan. Perlakuan ini dilakukan karena
reparasi yang dilakukan tidak memberikan tambahan manfaat ekonomis
sehingga kita tidak bisa menambahkan pengeluaran tersebut ke harga
perolehan ATB. Dengan dikurangkannya pengeluaran tersebut dari
akumulasi depresiasi, berarti nilai buku ATB yang direparasi menj adi
bertambah. Selanjutnya, nilai buku tersebut disusut selama sisa umur
ekonomisnya.

3. Penggantian dan Perbaikan


Penggantian dan perbaikan merupakan istilah untuk menerangkan
adanya penggantian komponen suatu ATB. Penggantian komponen ini bisa
dilakukan dengan komponen substitusi setaraf atau bisa juga dilakukan
dengan menggunakan komponen substitusi berkualitas lebih baik.
Penggantian komponen dengan barang yang berkualitas lebih tinggi
dimaksudkan agar bisa menambah manfaat ekonomis ATB yang
bersangkutan.
Penggantian komponen suatu ATB dicatat dengan mengkredit harga
perolehannya sebesar proporsi bagian yang diganti dan mendebit rekening
akumulasi depresiasinya. Masalah utama yang ada di sini adalah menentukan
berapa bagian harga perolehan yang merupakan harga perolehan komponen
yang diganti. Penentuan bagian harga perolehan sering kali hanya
berdasarkan taksiran.
1.44 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Contoh berikut akan bisa menjelaskan Anda mengenai hal ini.

Contoh 1.12.
Untuk mempercantik penampilannya, pengelola Rumah Makan "Lezat"
memutuskan untuk mengganti ubinnya. Harga perolehan ubin ditaksir
sebesar 10% dari harga perolehan gedung seluruhnya, sedangkan harga
perolehan gedung adalah Rp50.000.000,00. Gedung rumah makan tersebut
sudah di susut sebesar Rp10.000.000,00. Harga ubin pengganti
Rp6.000.000,00. Biaya penggantian ubin sebesar Rp 1.000.000,00. Ubin
bekas laku dijual Rp500.000,00. Jurnal untuk mencatat penggantian ubin di
atas adalah berikut ini.
Gedung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp7 .000.000,00
Akumulasi depresiasi gedung . . . Rp 1.000.000,00
Rugi penggantian ubin . . . . . . . . . . . . Rp3.500.000,00
Gedung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp5 .000.000,00
Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp6.500.000,00
(mencatat penggantian ubin gedung)

Perhitungan:
Harga ubin baru Rp6.000.000,00
Biaya penggantian ubin Rp1.000.000,00
- Harga perolehan ubin untuk ditambahkan
ke harga perolehan gedung Rp7 .000.000,00
- Akumulasi depresiasi gedung yang
dihapus = 10% x Rp10.000.000,00 Rp 1.000.000,00
- Harga perolehan ubin lama yang dihapus
dari harga perolehan gedung =
10% X Rp50.000.000,00 (Rp5 .000.000,00)
Kas bersih yang dikeluarkan =
Rp7.000.000,00- Rp500.000,00 (Rp6.500.000,00)
- Rugi penggantian ubin Rp3.500.000,00

4. Penambahan
Pengeluaran karena adanya penambahan pada suatu A TB sudah tidak
diragukan lagi harus diperlakukan sebagai pengeluaran modal yang
menambah harga perolehan ATB tersebut karena dilihat dari fisiknya saja
sudah tampak adanya tambahan pada ATB tersebut. Lagi pula jelas bisa
e EKMA431 3/MODUL 1 1.45

dipastikan dengan adanya tambahan fisik terhadap suatu ATB karena adanya
penambahan, menjadikan ATB tersebut bertambah nilai dan manfaat
ekonomisnya. Sebagai contoh yang bisa dikatakan suatu penambahan adalah
penambahan beberapa kamar pada suatu penginapan atau hotel.
Masalah utama yang ada dalam penambahan ini jika di dalam
penambahan tersebut mengakibatkan adanya pembongkaran terhadap
sebagian bangunan ATB yang sudah ada. Bagaimanakah memperlakukan
harga perolehan dari bagian ATB yang dibongkar tersebut? Dibebankan
sebagai biaya periodik saat terjadinya ataukah dikapitalisasikan ke harga
perolehan tambahan ATB yang dibangun? Sebagai contoh, perusahaan jasa
penginapan yang menambah kamar. Penambahan kamar tersebut
mengakibatkan perlu dibongkarnya sebuah tembok penghubung.
Bagaimanakah memperlakukan harga perolehan tembok penghubung yang
dibongkar tersebut? Dibebankan sebagai biaya periodik saat terjadinya
pembongkaran ataukah dikapitalisasikan ke harga perolehan kamar yang
dibangun? Untuk menjawab permasalahan ini, kita harus melihat
perencanaan pembangunan tembok penghubung tersebut dahulu. Apabila
dalam perencanaan telah diperhitungkan akan dibongkar tembok tersebut jika
perusahaan membuat tambahan kamar baru maka harga perolehan tembok
yang dibongkar dikapitalisasikan ke harga perolehan kamar yang dibangun.
Akan tetapi, apabila di dalam perencanaan dulunya tidak atau belum
dipertimbangkan akan dibongkarnya tembok tersebut jika ada pembuatan
kamar baru maka harga perolehan tembok harus diakui sebagai kerugian
periode di mana pembongkaran tersebut dilakukan. Hal ini dikarenakan,
dengan tidak adanya rencana pada awal pembuatan tembok bahwa nantinya
apabila akan membangun tambahan kamar tembok tersebut perlu dibongkar,
menunjukkan adanya kecerobohan di dalam merencanakan sehingga
pembongkaran tembok tersebut harus diakui sebagai kerugian.

5. Penyusunan Kembali
Penyusunan kembali suatu A TB dilakukan dengan harapan akan bisa
diperoleh tambahan manfaat ekonomis untuk masa mendatang, misalnya
adanya peningkatan efisiensi kerja. Berbeda dengan perlakuan pada
penambahan, reparasi besar atau juga pada penggantian dan perbaikan, yang
mana pengeluaran untuk keperluan itu dikapitalisasikan ke harga perolehan
ATB maka untuk penyusunan kembali ini pengeluaran yang timbul
ditangguhkan pembebanannya dengan memasukkan pengeluaran tersebut ke
1.46 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

dalam pos Biaya Ditangguhkan. Biaya Ditangguhkan ini harus diamortisasi


sepanjang sisa umur ekonomisnya.
Masalah utama yang terdapat dalam penyusunan kembali ATB adalah
apabila di dalam penyusunan kembali tersebut timbul biaya untuk merakit
ulang ATB yang bersangkutan. Apabila hal ini terjadi maka nilai buku ATB
yang bersesuaian dengan biaya perakitan ATB pada awal perolehannya
dihapuskan dan diakui sebagai biaya periodik, sedangkan biaya perakitan
ulang dikapitalisasikan ke dalam harga perolehan ATB tersebut.

C. PEMBERHENTIAN ATB

Suatu ATB akan berhenti dari pemakaiannya disebabkan oleh beberapa


hal, baik disengaja maupun tidak. Pemberhentian yang tidak disengaja
misalnya rusak, hilang, dan terbakar. Sedangkan pemberhentian secara
sengaja, misalnya dijual, ditukar dengan aktiva lain, dan diberikan ke pihak
lain.
Apabila suatu ATB diberhentikan dari pemakaiannya maka semua
rekening yang berkaitan dengan ATB tersebut harus dihapuskan. Rekening-
rekening tersebut meliputi rekening ATB itu sendiri dan rekening akumulasi
depresiasinya. Laba harus diakui apabila karena pemberhentian tersebut
perusahaan mendapatkan aktiva yang mempunyai nilai lebih besar dari nilai
buku ATB yang diberhentikan. Sedangkan rugi apabila terjadi sebaliknya.
Pengakuan rugi atau laba yang terjadi pada pemberhentian ATB ini
sebenamya merupakan koreksi terhadap laba/rugi bersih perusahaan selama
menggunakan ATB tersebut. Dan ini memberikan suatu petunjuk adanya
ketidaktepatan manajemen dalam melakukan penaksiran terhadap umur
ekonomis atau nilai residu ATB tersebut. Mengenai kedua hal ini akan
dibahas secara khusus dalam modul selanjutnya.
Berikut akan diberikan penjelasan singkat mengenai pemberhentian
suatu ATB karena disengaja, dalam hal ini karena dijual, dan pemberhentian
ATB karena sesuatu yang tidak diharapkan.

1. Penjualan ATB
Disebabkan oleh satu dan lain hal, perusahaan melakukan penjualan
terhadap suatu ATB yang dimilikinya. Penjualan bisa dilakukan pada saat
ATB tersebut telah habis umur ekonomisnya, bisa pula dilakukan pada saat
umur ekonomis ATB tersebut masih ada. Laba/rugi penjualan ATB harus
e EKMA431 3/MODUL 1 1.47

diakui apabila penerimaan kas dari basil penjualan ATB tidak sama besar
dengan nilai bukunya. Untukjelasnya ikuti contoh berikut.

Contoh 1.13.
Dikarenakan mesin cetak milik Percetakan "Anjani" sudah tidak dapat
memenuhi kebutuhan perusahaan maka mesin tersebut dijual. Nilai buku
mesin cetak saat dijual adalah Rp3.000.000,00 (harga perolehan
Rp6.000.000,00 dan akumulasi depresiasi Rp3.000.000,00). Mesin tersebut
laku dijual Rp2.500.000,00.
Jurnal untuk mencatat penjualan mesin cetak tersebut adalah berikut ini.
Kas ....................................... Rp2.500.000,00
Akumulasi depresiasi mesin .......... Rp3.000.000,00
Rugi penjualan mesin cetak ........... Rp 500.000,00
Mesin cetak ........................................... Rp6.000.000,00
(mencatat penjualan mesin cetak)

Apabila dari penjualan mesin tersebut diterima kas sebesar


Rp3.250.000,00 maka jurnalnya adalah berikut ini.
Kas ....................................... Rp3.250.000,00
Akumulasi depresiasi mesin .......... Rp3.000.000,00
Lab a penjualan mesin cetak .................... Rp 250.000,00
Mesin cetak ...................................... Rp6.000.000,00
(mencatat penjualan mesin cetak)

2. Pemberhentian ATB Karena Hal Yang Tidak Diinginkan


ATB bisa terpaksa harus diberhentikan yang disebabkan oleh hal-hal
yang tidak diharapkan, misalnya hilang atau rusak. Apabila hal ini terj adi
maka jelas timbul kerugian dan kerugian tersebut harus diakui pada saat
terjadinya. Kerugian yang diakui adalah sebesar nilai buku ATB yang
bersangkutan. Coba Anda perhatikan contoh berikut.

Contoh 1.14.
Pada tanggal 1 Juli 2006, gudang UD Kencana yang kebetulan tidak ada
isinya mengalami kebakaran. Kebakaran tersebut diperkirakan
mengakibatkan rusaknya 80 % dari gudang tersebut. Harga perolehan gudang
adalah Rp15.000.000,00, dan sampai tanggal 31 Desember 2005 telah di
susut sebesar Rp5.000.000,00. Tarif depresiasi per tahun Rp 1.000.000,00.
1.48 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Atas kebakaran ini UD Kencana membuat jurnal sebagai berikut.


Akumulasi depresiasi gudang ...... Rp4.400.000,00
Kerugian kebakaran gudang ......... Rp7 .600.000,00
Gudang ....................................... Rpl2.000.000,00
(mencatat kerugian akibat kebakaran gudang)

Perhitungan:
Harga perolehan gudang yang terbakar
= 80% X Rp15.000.000,00 Rp 12.000.000,00
- Bagian akumulasi depresiasi yang harus dihapus
= 80% x Rp5.500.000,00*) Rp 4.400.000,00
- Rugi kebakaran gudang Rp 7.600.000,00

*) Akumulasi depresiasi gudang per 1 Juli 2006 =


Rp5.000.000,00 + 6/12 x Rpl.OOO.OOO,OO = Rp5.500.000,00

D. ASURANSI KEBAKARAN

Anda mungkin pernah mendengar atau membaca berita bahwa terjadi


kebakaran di pasar "X". Kerugian terj adi dan dialami oleh para pedagang
dalam jumlah yang besar. Namun, mungkin Anda pemah mendengar pula
bahwa sebagian pedagang, biasanya pedagang besar, menyatakan bahwa
kerugian mereka relatif kecil karena mereka telah mengasuransikan tokonya.
Memang dalam dunia usaha sudah dikenal masalah asuransi. Bila Anda ingin
sebagian risiko ditanggung oleh pihak lain maka Anda dapat
mengasuransikan harta kekayaan Anda pada pihak tersebut.
Pihak lain itu adalah perusahaan asuransi. J enis asuransi bermacam-
macam, antara lain asuransi jiwa, asuransi pengangkutan, asuransi kebakaran,
dan lain-lain. Yang akan Anda pelajari sehubungan dengan kegiatan belajar
ini adalah jenis asuransi kebakaran. Apabila Anda mengasuransikan, berarti
risiko kerugian berpindah kepada perusahaan asuransi. Lalu, Anda mungkin
bertanya, mengapa mau? Ah ... perusahaan asuransi tidak seperti yang Anda
bayangkan itu. Tentu saja mereka minta pada Anda semacam bayaran atas
tanggungan risiko yang berat itu. Apabila Anda mau mengasuransikan tentu
Anda membuat perjanjian (disebut polis) di mana Anda juga harus bersedia
membayar pada perusahaan asuransi yang disebut premi. Premi biasanya
dinyatakan dalam persentase (%) dari nilai polis. Polis juga mencakup
e EKMA431 3/MODUL 1 1.49

periode waktu pertanggungan. Bila selama periode pertanggungan Anda


mengalami kerugian (terjadi kebakaran) maka perusahaan asuransi akan
mengganti, namun bila tidak terjadi apa-apa premi tersebut tentu saja
dinikmati perusahaan asuransi.
Bagaimana dengan akuntansinya? Baiklah ikuti contoh berikut ini.

Contoh 1.15.
Pada 1 J anuari 2006 PT Aneka mengasuransikan gudangnya atas risiko
kebakaran dengan jumlah pertanggungan Rp10.000.000,00. Premi selama 1
tahun yang dibayar oleh PT Aneka adalah sebesar Rp120.000,00. Pada
tang gal 1 J uli 2006 gudang tersebut terbakar total. Harga pasar gudang saat
terbakar ditaksir Rp9.000.000,00.
Gudang tersebut dibeli pada tanggal 1 Januari 2004 dengan harga
perolehan (cost) Rp15.500.000,00 yang ditaksir mempunyai umur ekonomis
10 tahun dengan nilai residu Rp500.000,00, sedangkan penyusutan dilakukan
dengan metode garis lurus.
Jika ada jurnal tahun 2006 atas gudang tersebut adalah sebagai berikut.

Biaya asuransi ................................. Rp120.000,00


Kas ..................................................... Rp120.000,00
(mencatat biaya asuransi selama 1 tahun)

Biaya penyusutan gudang .................... Rp750.000,00


Akumulasi depresiasi gudang ....................... Rp750.000,00
(mencatat penyusutan periode 01/01/06-01/07 /06)

Akumulasi depresiasi gudang .............. Rp 750.000,00


Rugi kebakaran ............................. Rp11.750.000,00
Gudang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............................... Rp12.500.000,00
(mencatat kerugian kebakaran)

Kas/Piutang pada perusahaan asuransi ... Rp9.000.000,00


Rugi kebakaran .......................................... Rp9 .000.000,00
(mencatat ganti rugi atau janji ganti rugi dari
perusahaan asuransi)
Rugi kebakaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..... ... ... Rp60.000,00
Biaya asuransi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ............ .. ... Rp60.000,00
(memindahkan biaya asuransi ke kerugian kebakaran)
1.50 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana kalau harga pasar gudang saat


terbakar, misalnya Rp11.000.000? Bila demikian maka perusahaan asuransi
hanya akan mengganti sebesar maksimal jumlah pertanggungan yakni
Rp 10.000.000,00.
Dengan demikian, ganti rugi oleh perusahaan asuransi adalah sebesar
rugi riil berdasarkan harga pasar atau sebesar jumlah pertanggungan, mana
yang lebih rendah.

-
d . ....,.,.
LATIHAN
= - j-. ::J"C

--- ~

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Jelaskan dengan singkat apa yang dimaksud dengan Revenue


Expenditure!
2) Berikan contoh Capital Expenditure!
3) Bagaimana perlakuan untuk pengeluaran dari reparasi besar?
4) Bagaimana cara pencatatan pada penggantian komponen Aktiva Tetap
Berwujud?
5) Sebutkan masalah yang terdapat di dalam pencatatan penggantian
komponen Aktiva Tetap Berwujud!
6) Pada saat kondisi, seperti apa laba harus diakui di dalam pemberhentian
Aktiva Tetap Berwujud dalam suatu perusahaan?
7) Berapa besar ganti rugi yang dapat diberikan oleh asuransi jika terjadi
kerugian atas suatu Aktiva Tetap Berwujud?
8) Oleh karena beberapa kerusakan maka manajemen PT ELM
memutuskan untuk mengganti atap gedung kantor. Harga perolehan
atap gedung tersebut ditaksir 20% dari harga perolehan gedung. Harga
perolehan gedung adalah Rp100.000.000,00 gedung tersebut telah
disusutkan sebesar Rp70.000.000,00. Harga atap gedung pengganti
Rp60.000.000,00. Biaya penggantian atap tersebut sebesar
Rp30.000.000,00, sedangkan atap bekas laku dijual Rp2.000.000,00.
Hitunglah rugi penggantian atap!
9) PT GHI menjual mobilnya yang mempunyai nilai buku Rp7.000.000,00
dan akumulasi depresiasi Rp8.000.000,00. Mobil tersebut laku dijual
seharga Rp5.000.000,00. Buatlah jurnal sehubungan dengan transaksi
tersebut!
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 51

10) Pada 1 Januari 2006 PT ISTANA mengasuransikan gudangnya atas


risiko kebakaran dengan jumlah pertanggungan Rp25.000.000,00.
Premi selama 1 tahun yang dibayar oleh PT. 1STANA adalah sebesar
Rp3.000.000,00. Pada tanggal 1 Agustus 2006 gudang tersebut terbakar
total. Harga pasar gudang saat terbakar ditaksir Rp22.000.000,00. Bila
harga perolehan gudang adalah Rp40.000.000,00, yang ditaksir
mempunyai umur ekonomis 10 tahun dengan nilai residu
Rp12.000.000,00, sedangkan penyusutan dilakukan dengan metode
garis lurus maka buatlah jurnal yang harus dibuat PT ISTANA untuk
mencatat pembayaran ganti rugi yang diberikan oleh perusahaan
asuransi!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Revenue Expenditure merupakan pengeluaran kas berkenaan dengan


pemakaian suatu Aktiva Tetap Berwujud yang harus dibebankan sebagai
biaya periodik saat terjadinya.
2) Yang termasuk contoh dari Capital Expenditure adalah reparasi besar,
dan penambahan fisik Aktiva Tetap Berwujud.
3) Untuk pengeluaran dari reparasi besar, perlakuannya dipisahkan menjadi
2 macam sebagai berikut.
a. Menambah harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud yang
bersangkutan.
Suatu pengeluaran modal dari reparasi besar diperlakukan sebagai
penambah harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud apabila reparasi
tadi menjadikan manfaat ekonomis Aktiva Tetap Berwujud tersebut
bertambah. Bertambahnya manfaat ekonomis ini diwujudkan
dengan adanya tambahan penghasilan yang bisa diberikan oleh
Aktiva Tetap Berwujud tersebut.
Bertambahnya manfaat ekonomis akibat adanya reparasi besar
memberikan indikasi bahwa pengeluaran tersebut membuat Aktiva
Tetap Berwujud yang bersangkutan mempunyai nilai lebih dari
keadaan sebelumnya. Dengan demikian, cukup beralasan apabila
pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai penambah harga
perolehan Aktiva Tetap Berwujud.
b. Dikurangkan dari akumulasi depresiasi Aktiva Tetap Berwujud yang
bersangkutan.
1.52 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Apabila pengeluaran sehubungan dengan reparasi besar suatu


Aktiva Tetap Berwujud diperkirakan membuat umur ekonomisnya
bertambah maka pengeluaran tersebut diperlakukan dengan
mengurangkannya dari Akumulasi Depresiasi Aktiva Tetap
Berwujud yang bersangkutan. Perlakuan ini dilakukan karena
reparasi yang dilakukan tidak memberikan tambahan manfaat
ekonomis sehingga kita tidak bisa menambahkan pengeluaran
tersebut ke harga perolehan Aktiva Tetap Berwujud. Dengan
dikurangkannya pengeluaran tersebut dari akumulasi depresiasi,
berarti nilai buku Aktiva Tetap Berwujud yang direparasi menjadi
bertambah. Untuk selanjutnya, nilai buku tersebut di susut selama
sisa umur ekonomisnya.
4) Penggantian komponen suatu Aktiva Tetap Berwujud dicatat dengan
mengkredit harga perolehannya sebesar proporsi bagian yang diganti dan
mendebit rekening akumulasi depresiasinya.
5) Masalah utama yang ada di dalam pencatatan penggantian komponen
Aktiva Tetap Berwujud adalah menentukan berapa bagian harga
perolehan yang merupakan harga perolehan komponen yang diganti.
Penentuan bagian harga perolehan sering kali hanya berdasarkan
taksiran.
6) Laba harus diakui apabila karena pemberhentian Aktiva Tetap Berwujud
tersebut perusahaan mendapatkan aktiva yang mempunyai nilai lebih
besar dari nilai buku Aktiva Tetap Berwujud yang diberhentikan.
7) Ganti rugi oleh perusahaan asuransi adalah sebesar rugi riil berdasarkan
harga pasar atau sebesar jumlah pertanggungan, mana yang lebih rendah.
8) Perhitungan:
Harga atap baru Rp60.000.000,00
- Biaya penggantian atap Rp30.000.000,00
- Harga perolehan atap untuk ditambahkan
ke harga perolehan gedung Rp90.000.000,00
Akumulasi depresiasi gedung yang
dihapus = 20% x Rp70.000.000,00 Rp14.000.000,00
Harga perolehan atap lama yang dihapus
dari harga perolehan gedung =
20% X RplOO.OOO.OOO,OO (Rp20.000.000,00)
- Kas bersih yang dikeluarkan =
Rp90.000.000,00- Rp2.000.000,00 (Rp 88.000.000,00)
Rugi penggantian atap Rp 4.000.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 53

9) Jurnal untuk mencatat penjualan mobil tersebut adalah:


Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. .. .. .. .. .. .... .. .... .. ... Rp5 .000.000,00
Akumulasi depresiasi mobil ........................... Rp8.000.000,00
Rugi penjualan mobil .................................... Rp2.000.000,00
Mobil ............................................. Rp15.000.000,00
(mencatat penjualan mobil)
10) Jurnal untuk mencatat ganti rugi dari perusahaan asuransi adalah:
Kas/Piutang pada perusahaan asuransi ......... Rp22.000.000,00
Rugi kebakaran ....................................... Rp22.000.000,00
(mencatat ganti rugi dari perusahaan asuransi)

.: RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Selama pemilikan dan penggunaan ATB dapat terjadi pengeluaran-


pengeluaran sehubungan dengan ATB tersebut. Pengeluaran-
pengeluaran tersebut dibedakan atas pengeluaran penghasilan (revenue
expenditure) dan pengeluaran modal (capital expenditure). Kriteria dan
faktor yang menentukan apakah suatu pengeluaran termasuk pengeluaran
penghasilan atau pengeluaran modal adalah berikut ini.
1. Berulang tidaknya.
2. Besar kecilnya.
3. Menambah umur atau tidak.
4. Kebijaksanaan manajemen.

Pengeluaran-pengeluaran selama masa penggunaan ATB meliputi


pengeluaran untuk pemeliharaan, reparasi, penggantian dan perbaikan,
penambahan, serta untuk penyusunan kembali. Pengeluaran untuk
reparasi terdiri atas reparasi rutin dan reparasi besar. Perlakuan reparasi
besar bisa menambah harga perolehan atau bisa pula dikurangkan ke
akumulasi depresiasi ATB. Hal tersebut tergantung pada menambah
manfaat ataukah menambah umur ATB yang bersangkutan.
Suatu aktiva mungkin pula diberhentikan penggunaannya walaupun
umur ekonomisnya belum berakhir. Pemberhentian ini mungkin karena
dijual yang dapat menimbulkan rugi/laba pemberhentian atau bisa pula
karena sebab lain seperti kebakaran. Bila suatu Aktiva Tetap Berwujud
terbakar dan tidak diasuransikan maka kerugian yang ditanggung oleh
perusahaan akan relatif besar. Namun, apabila perusahaan
mengasuransikan ATB-nya, kemudian terbakar maka tentu akan
rnendapat ganti rugi dari perusahaan asuransi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Dengan demikian, kerugian perusahaan yang lebih besar
dapat dicegah.
1.54 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

TES FDRMATIF 2- - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1) Contoh pengeluaran modal adalah ....
A. reparasi rutin
B. reparasi besar
C. biaya perawatan
D. biaya asuransi

2) Dari yang disebut berikut ini, mana yang bukan jenis pengeluaran
pemeliharaan?
A. Pengecatan gedung
B. Pembersihan rutin
C. Pelumasan mesin
D. Pembuatan garasi

3) Suatu pengeluaran reparasi besar diperlakukan sebagai pengurang


akumulasi depresiasi hila ....
A. terj adi tiap tahun
B. menambah manfaat ekonomis
C. menambah umur ekonomis
D. nilai bukunya lebih kecil dari harga perolehannya

4) Contoh pengeluaran penghasilan, kecuali ....


A. biaya perawatan
B. biaya asuransi
C. biaya reparasi rutin
D. biaya sewajangka panjang

5) Pembuatan sebuah garasi di samping gudang kantor dikategorikan


sebagai ....
A. penambahan
B. perbaikan
C. penyusunan kembali
D. revenue expenditure
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 55

6) Sebuah mesin dengan harga perolehan Rp2.000.000,00 dan sudah di


depresiasi 60%-nya pada suatu saat diganti suku cadangnya yang
diperkirakan rnempunyai harga perolehan 20% dari harga perolehan
mesin. Suku cadang yang baru berharga Rp600.000,00. Atas penggantian
tersebut diakui rugi sebesar ....
A. Rp 60.000,00
B. Rp 160.000,00
C. Rp100.000,00
D. Rp300.000,00

7) Melanjutkan nomor 6, apabila suku cadang lama laku dijual seharga


Rp 10.000,00 maka rugi penggantian suku cadang tersebut sebesar ....
A. Rp 50.000,00
B. Rp 90.000,00
C. Rp150.000,00
D. Rp310.000,00

8) Penggantian sebuah busi mobil dikategorikan sebagai ....


A. Penambahan
B. Revenue expenditure
C. Capital expenditure
D. Penyusunan kernbali

9) Sebuah truk dijual dengan harga Rp2.000.000,00. Harga perolehan truk


adalah Rp8.000.000,00 dan sudah di susut 75%. Atas penjualan tersebut
terjadi ....
A. laba Rp500.000,00
B. rugi Rp2.000.000,00
C. TIDAK laba maupun rugi
D. rugi Rp1.500.000,00

10) Sebuah gedung yang diasuransikan dengan jumlah pertanggungan


Rp8.000.000,00 terbakar seluruhnya. Harga perolehan gedung
Rp10.000.000,00 dan telah di susut 25%. Harga pasar gedung saat
terbakar ditaksir Rp8.250.000,00. Atas transaksi tersebut ganti rugi yang
diterima adalah ....
A. Rp 8.000.000,00
B. Rp 7.500.000,00
C. Rp10.000.000,00
D. Rp 8.250.000,00
1.56 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.57

KEGIATAN BELAL.JAR 3

Pengertian, Tuj uan, dan


Metode-metode Penyusutan

A. PENGERTIAN PENYUSUTAN

Seperti telah Anda pelajari pada modul sebelumnya, bila suatu


perusahaan memperoleh suatu Aktiva Tetap Berwujud maka aktiva tersebut
akan digunakan dalam operasi perusahaan tersebut. Artinya tidak ada maksud
untuk menjualnya kembali. Dengan pemilikan suatu aktiva tetap diharapkan
dapat diperoleh dan ditingkatkan penghasilan di masa-masa yang akan
datang. Anda bisa membayangkan sebuah truk di perusahaan pengangkutan
atau sebuah mesin di suatu pabrik. Kalau truk atau mesin tersebut Anda pakai
selama bertahun-tahun maka apa yang terjadi? Tentu truk atau mesin tersebut
akan menjadi rusak atau aus sejalan dengan waktu dan akibat pemakaiannya.
Nah, persoalannya sekarang adalah kalaupun Anda membeli truk
tersebut pada awal tahun 2002 dengan harga perolehan sebesar
Rp50.000.000,00 dan setelah tahun kelima atau akhir tahun 2006 truk secara
ekonomis sudah tidak bisa dipergunakan lagi maka bagaimana dengan
pengeluaran Rp50.000.000,00 tersebut? Anda mungkin berpikir, ya ... sudah,
saya rugi Rp50.000.000,00 dan mungkin saya akan beli lagi dari basil
pemakaian truk tersebut. Anda benar! Namun, persoalannya kapan Anda
harus mengakui dan mencatat kerugian itu? Pada tahun 2002? Atau di tahun
2006? Tidak adil!! Oleh karena truk tersebut Anda pergunakan selama 5
tahun. Dengan kata lain, j as a truk tersebut dinikmati selama tahun 2002,
2003, 2004, 2005, dan 2006 maka pengeluaran yang telah Anda lakukan
sebesar Rp50.000.000,00 tersebut harus dialokasikan ke tahun-tahun tersebut.
Kesimpulan yang dapat Anda ambil adalah suatu harga perolehan atas
suatu aktiva tetap harus dialokasikan ke periode-periode di mana
penghasilan-penghasilan melalui penggunaan aktiva tersebut direalisasikan.
Anda sudah mengenal yang dimaksud dengan periode, yaitu periode
akuntansi atau juga tahun buku yang biasanya menggunakan tahun kalender.
Bila Anda sudah memahami uraian di atas maka Anda sudah memahami
pengertian penyusutan. Istilah penyusutan untuk aktiva tetap (berwujud)
adalah depresiasi.
1.58 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Baik! Anda ulangi lagi secara singkat pemahaman tentang penyusutan.


Aktiva tetap (kecuali tanah) tidak akan dapat digunakan selamanya. Pada
suatu saat pasti tidak dapat digunakan lagi atau harus diganti. Oleh karena
pemakaiannya, kerusakannya, keausannya, keusangannya, dan sebagainya
terhadap suatu aktiva tetap berwujud berakibat semakin berkurangnya nilai
dan prestasi aktiva tetap (berwujud) tersebut. Sebagai imbangan atas
kekurangan prestasi dan nilai tersebut perlu diadakan penyusutan dari tahun
ke tahun terhadap nilai akti va tetap yang bersangkutan.
Yang perlu Anda ingat adalah Anda meninjau pengertian penyusutan
dari pandangan akuntansi. Pengertian penyusutan dapat berbeda bila titik
pandangnya lain. Dari sisi pandang akuntansi, penyusutan adalah proses
alokasi harga perolehan, bukan pengumpulan dana untuk mengganti aktiva
yang di susut. Jadi tujuan penyusutan menurut akuntansi adalah alokasi harga
perolehan.
Untuk lebih mantapnya pengertian Anda tentang penyusutan atau
depresiasi ini mari Anda hayati definisi penyusutan dari The Committee on
Terminology of the American Institute of Certified Public Accountants
berikut ini.
"Akuntansi penyusutan adalah suatu sistem akuntansi yang bertujuan
untuk membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap
berwujud, dikurangi nilai sisa (kalau ada), selama umur kegunaan unit aktiva
itu yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva) dalam suatu
cara yang sistematis dan rasional. Ini proses alokasi, bukan penilaian. Beban
penyusutan untuk suatu periode adalah sebagian dari jumlah total beban itu
yang dengan sistem tersebut dialokasikan ke tahun yang bersangkutan.
Meskipun di dalam alokasi itu diperhitungkan hal-hal yang terjadi selama
tahun itu, tidaklah dimaksudkan sebagai suatu alat pengukur terhadap akibat-
akibat dari kejadian-kejadian itu".
Dari definisi di atas bisa ditarik kesimpulan atau pengertian pokok, yaitu
berikut ini.
1. Penyusutan dilakukan terhadap aktiva tetap yang nyata atau berwujud
(tangible capital assets).
2. Penyusutan merupakan pengalokasian dari biaya yang telah dikeluarkan
untuk mendapatkan akti va tersebut setelah dikurangi dengan nilai

s1sanya.

3. Pengalokasian harus dilakukan secara rasional dan sistematis sesua1
dengan umur ekonomis yang diharapkan atas aktiva tetap.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.59

4. Penyusutan merupakan proses pengalokasian harga perolehan dan bukan


merupakan proses penilaian.

Mungkin Anda masih bertanya-tanya tentang istilah yang belum Anda


ketahui. Sabar dulu, nanti Anda akan menemukannya. Mungkin pula Anda
bertanya, kalaupun misalnya dari contoh truk di atas, pada tahun 2003 dan
seterusnya, Anda tidak mengeluarkan uang kas, mengapa diakui sebagai
biaya? Dengan kata lain mungkin Anda berpendapat bahwa penyusutan
sebagai biaya (kerugian) tidak menggambarkan adanya suatu pengeluaran
yang sesungguhnya (actual expenditure) karena tidak adanya pengeluaran
kas yang nyata. Pendapat ini adalah tidak benar walaupun pembebanan
penyusutan ini tidak disertai pengeluaran kas pada periode pembebanannya,
namun penyusutan ini tetap merupakan biaya karena penyusutan tidaklah
diukur dari pengeluaran kas pada saat pembebanannya, tetapi pada suatu
periode berdasarkan bagian dari pengeluaran masa lalu yang berhubungan
dengan aktivitas sekarang.

B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENYUSUTAN

Pertanyaan lain akan timbul dari Anda setelah memahami pengertian


penyusutan. Pertanyaan itu mungkin adalah apa yang menyebabkan
dilakukannya penyusutan. Paton mengemukakan alasan mengapa penyusutan
harus dilakukan, yaitu berikut ini.

Aktiva tetap akan mempunyai kemampuan dalam memberikan daya


guna yang terbatas disebabkan adanya faktor-faktor atau kondisi-
kondisi "intern" dan "ekstern". Dalam hal yang pertama, aktiva tetap
merupakan subjek dari penggunaan dan keausan (wear and tear) dari
adanya kegiatan-kegiatan yang ada, kerusakan-kerusakan yang luar
biasa, penanganan yang tidak pada tempatnya, kecelakaan, dan
datangnya ketuaan dengan berputarnya waktu. Hal-hal tersebut dikenal
dengan sebab "fisik" atau "intern". Hal yang kedua, daya gun a akan
terbatas dengan keusangan (obsolescence), yang disebabkan oleh
perkembangan teknik, berkurangnya permintaan terhadap produk,
adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah, dan adanya kondisi
yang mengakibatkan aktiva tetap tidak efektif lagi untuk digunakan
terus. Hal yang kedua ini dikenal dengan sebab-sebab "fungsi" atau
"ekstern".
1.60 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dari pengertian di atas, penyusutan itu dilakukan oleh karena faktor


intern dan faktor ekstern. N amun, dari pengertian itu pula dapat diuraikan
penyebab penyusutan tersebut sebagai berikut.

1. Faktor-faktor Fisik (Intern)


Pengertiannya bahwa nilai guna aktiva tersebut menurun karena memang
keadaan fisiknya yang mulai turun. Penurunan itu umumnya disebabkan oleh
hal-hal berikut.
a. Pemakaian dan kerusakan
Pada umumnya penurunan nilai guna aktiva tetap disebabkan oleh kedua
faktor ini.
b. Keruntuhan
Penurunan nilai guna juga bisa disebabkan faktor keruntuhan. Kalaupun
hal tersebut terj adi maka biasanya terj adi penurunan fisik yang sangat
drastis.
c. Faktor alamiah atau berlalunya waktu
Faktor ini meliputi, antara lain perubahan cuaca, hujan, panas, dan hal-
hal lain yang disebabkan berlalunya waktu.
d. Faktor-faktor tidak terduga
Penurunan fisik aktiva tetap mungkin pula terjadi karena hal-hal di luar
dugaan manusia, seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, dan lain-lain.

2. Faktor-faktor Fungsional (Ekstern)


Suatu aktiva mungkin secara fungsional sudah tidak menguntungkan lagi
walaupun secara fisik masih dapat dioperasikan. Perusahaan yang
mempunyai aktiva tetap haruslah memperhitungkan faktor-faktor fungsional
ini di dalam penentuan beban biaya penyusutan.

Faktor-faktor fungsional itu, antara lain berikut ini.


a. Ketinggalan zaman (obsolescence)
Kemajuan teknologi yang sangat pesat kerap kali membuat aktiva tetap
yang belum lama dimiliki sudah ketinggalan zaman. Adanya penemuan-
penemuan baru mengakibatkan aktiva yang dimiliki saat sekarang
ketinggalan zaman. Hal ini harus diperhatikan oleh manajemen terutama
dalam hal penaksiran umur ekonomis aktiva tetapnya dalam rangka beban
biaya penyusutan. Dengan demikian, bukan tidak mungkin suatu perusahaan
e EKMA431 3/MODUL 1 1.61

akan mengganti aktiva tetapnya yang masih mempunyai kondisi fisik yang
baik, tetapi sudah tidak efisien lagi dalam menghadapi persaingan.

b. Ketidakcukupan (inadequacy)
Dalam keadaan di mana jumlah barang yang diminta meningkat cukup
tinggi sehingga perusahaan tidak mampu memenuhinya lagi melalui
pemanfaatan aktiva tetap lama maka perusahaan tentu akan berusaha untuk
memenuhinya dengan mengganti aktiva tetap lama dengan yang baru. Bila
kemungkinan-kemungkinan seperti ini diperkirakan akan terjadi maka
perusahaan harus memperhitungkannya dalam penaksiran umur ekonomis
aktiva tetap guna memperoleh pembebanan biaya penyusutan yang layak.

c. Pola pemakaian aktiva tetap


Yang dimaksud dengan pola pemakaian aktiva tetap adalah dari
pengambilan manfaat aktiva tetap tersebut yang berkaitan dengan sumbangan
(kontribusi) penghasilan yang diberikan oleh aktiva tetap untuk tiap periode
akuntansi. Apabila suatu aktiva tetap memberikan kontribusi penghasilan
yang sama besarnya untuk tiap periode akuntansi selama masa penggunaan
aktiva tetap tersebut maka penyusutan harus dilakukan sama besar untuk
masing-masing periode tersebut. Apabila kontribusi penghasilan yang
diberikan tidak sama besar untuk tiap periode akuntansi maka secara teoritis
akti va tetap tersebut harus disusutkan secara proporsional dengan kontribusi
penghasilannya.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN DALAM


PEMBEBANAN PENYUSUTAN

Biaya penyusutan periodik harus merupakan hasil alokasi harga


perolehan akti va dikurangi dengan taksiran nilai sisanya kepada peri ode-
periode di mana manfaat potensial aktiva tetap itu dikonsumsikan, guna
mendapatkan hasil alokasi yang sebanding dengan manfaat potensial yang
dikonsumsi pada masing-masing periode. Ada 4 faktor yang harus
dipertimbangkan atau yang menentukan di dalam penentuan biaya
penyusutan, yaitu berikut ini.
1.62 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Harga Perolehan (Costs)


Harga perolehan adalah keseluruhan pengeluaran yang layak dibebankan
atau dikapitalisasikan sebagai harga perolehan. Harga perolehan inilah yang
akan dialokasikan sebagai biaya penyusutan periodik. Oleh karena harga
perolehan ini yang akan dialokasikan maka dalam penentuan besarnya
alokasi harus dilakukan perhitungan yang teliti.

2. Umur Ekonomis (Useful-Life)


Umur ekonomis ialah umur suatu aktiva tetap sejak siap dipergunakan
sampai pada waktu aktiva tetap tersebut secara ekonomis sudah tidak
menguntungkan lagi untuk dipergunakan terus. Artinya, biaya yang
dikeluarkan untuk penggunaan aktiva tersebut sudah melebihi atau sudah
tidak seimbang lagi dengan daya guna yang dapat diberikannya.
Umur ekonomis dapat pula diartikan sebagai berikut.
a. Suatu jangka waktu, di mana suatu aktiva yang dapat di susut diharapkan
digunakan dalam suatu perusahaan.
b. Sejumlah produksi atau satuan yang sejenisnya yang diharapkan oleh
perusahaan akan diperoleh dari aktiva dimaksud.

Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa umur suatu


aktiva dapat dinyatakan dalam bentuk suatu faktor "waktu" (bulan, kuartal,
tahun, dan sebagainya) atau dalam bentuk suatu faktor "penggunaan" (jam,
kilometer, kilogram, dan sebagainya) atau dapat pula dalam bentuk faktor
produk yang dihasilkan.
Umur ekonomis suatu aktiva tetap harus ditaksir setelah memperhatikan
hal-hal berikut.
a. Taksiran kerusakan fisik karena pemakaian.
b. Keusangan karena waktu.
c. Hukum atau pembatasan-pembatasan lain terhadap penggunaan aktiva
tetap yang bersangkutan.

Umur ekonomis dibedakan dari umur teknis. Umur teknis suatu aktiva
adalah sejak mulai digunakan sampai saat betul-betul tidak dapat
dimanfaatkan lagi.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.63

3. Nilai Sisa atau Nilai Residu (Salvage Value)


Nilai sisa atau nilai residu ialah nilai aktiva tetap setelah habis umur
ekonomisnya atau jumlah uang yang diharapkan akan diperoleh melalui
penjualan aktiva yang bersangkutan kelak apabila tiba saatnya harus
diberhentikan dari pemakaiannya.
Nilai residu aktiva tetap yang dihapuskan akan meliputi harga penjualan
yang diperkirakan atau nilai pertukaran atau nilai bekas yang tak dipakai lagi
atau nilai akhir (junk value) jika aktiva tetap tersebut tidak dapat digunakan,
dikurangi dengan biaya-biaya dari pelaksanaan penarikan aktiva tetap
tersebut, seperti biaya pembongkaran, biaya lelang, biaya pemindahan, dan
lain-lain. Hasil penjualan aktiva tersebut setelah diberhentikan dari
pemakaiannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga dan keadaan
pasar serta kebijaksanaan pemberhentian aktiva dari pemakaiannya.
Di dalam kenyataannya penentuan nilai residu atau nilai sisa diakui
bukan sebagai hal yang mudah untuk dilaksanakan. Hal ini disebabkan nilai
sisa atau nilai residu berhubungan dengan keadaan di masa yang akan datang.

4. Metode Penyusutan
Metode penyusutan adalah suatu cara yang sistematis dan rasional
tentang bagaimana harga perolehan aktiva tetap berwujud dialokasikan
sebagai biaya operasional sepanjang umur aktiva.
Di dalam kenyataannya, tidak semua aktiva tetap yang digunakan dalam
operasi suatu perusahaan mengalami penyusutan atau penurunan nilai guna
dengan cara yang sama. Metode penyusutan yang dipilih dan dianggap cocok
untuk diterapkan untuk jenis aktiva tertentu belum tentu akan cocok untuk
diterapkan pada jenis aktiva yang lain karena perbedaan sifat dan pola
penggunaan aktiva-aktiva tersebut. Metode penyusutan yang dipilih
hendaknya sesuai dan menggunakan sifat dan pola penggunaan aktiva tetap
yang akan di susut. Begitu pula, prinsip konsistensi harus diperhatikan dalam
pemilihan metode penyusutan yang akan dipilih untuk digunakan.
Dilihat dari kepentingan akuntansi untuk kelayakan laporan keuangan
maka pembebanan biaya penyusutan dilakukan melalui beberapa metode
sesuai dengan penurunan manfaat aktiva tetap.
1.64 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

D. PENCATATAN DAN PELAPORAN PENYUSUTAN


(DEPRESIASI)

Depresiasi sebagai alokasi harga perolehan dicatat dengan mendebit


rekening "Biaya Depresiasi" dan mengkredit rekening "Akumulasi
Depresiasi" 0 Pendebitan rekening Biaya Depresiasi adalah merupakan
pengakuan pembebanan biaya untuk suatu periode akuntansi atas
pengambilan manfaat suatu aktiva tetapo Sedangkan pengkreditan rekening
Akumulasi Depresiasi merupakan pencatatan besarnya harga perolehan
akti va tetap yang telah di susut. Rekening akumulasi depresiasi ini di dalam
neraca disajikan sebagai pengurang rekening aktiva tetap yang bersangkutan
sehingga dapat diketahui berapa nilai buku aktiva tetap (harga perolehan
aktiva tetap yang belum di susut) pada tanggal neracao Rekening akumulasi
depresiasi hanya akan di debit apabila aktiva tetap diberhentikan atau
dilakukan suatu koreksi/pembetulan terhadapnyao Seperti halnya dengan pos
aktiva tetap yang dicatat secara terpisah untuk masing-masing jenisnya maka
rekening biaya depresiasi maupun rekening akumulasi depresiasi juga dicatat
terpisah untuk masing-masing jenis dengan pemisahan yang dilakukan pada
akti va tetap yang bersangkutano

Contoh 10160
Toko Mentari melakukan penyusutan terhadap peralatan tokonya untuk
periode akuntansi 20X1 sebesar Rp1000000,000 Jurnal untuk mencatat
depresiasi tersebut adalah berikut inio

Biaya depresiasi peralatan toko 00000oRp1000000,00


Akumulasi depresiasi peralatan toko 0000000oRp 1000000,00
( mencatat biaya depresiasi peralatan toko)

Apabila pada tanggal 31 Desember 20X1, yaitu saat Toko Mentari


melakukan tutup buku, rekening akumulasi depresiasi peralatan toko
mempunyai saldo Rp4000000,00 dan harga perolehan peralatan tokonya
adalah Rp100000000,00 maka neraca per tanggal 31 Desember 20X1 akan
disajikan sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.65

Toko Mentari
Neraca
Per 31 Desember 20X1

Aktiva Lancar

Aktiva Tetap
Peralatan Kantor Rp 1.000.000,00
Akum. Depr. Peralatan Ktr. Rp 400.000,00
Rp 600.000,00

E. MACAM-MACAM METODE DEPRESIASI

Dalam kegiatan belajar sebelumnya, Anda telah mempelajari bahwa


salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan penyusutan
terhadap suatu aktiva tetap adalah pola pemakaian aktiva tetap tersebut. Pola
pemakaian yang berbeda mengharuskan kita menggunakan metode depresiasi
yang berbeda pula. Metode depresiasi merupakan suatu cara yang sistematis
dan rasional tentang bagaimana harga perolehan akti va tetap dialokasikan.
Oleh karena itu, agar alokasi harga perolehan sebagai pengakuan biaya bisa
mendekati tepat maka harus digunakan metode depresiasi yang sesuai dengan
pola pemakaian aktiva tetap yang bersangkutan.
Ada beberapa metode depresiasi yang biasa digunakan dan perlu Anda
ketahui, yaitu berikut ini.
1. Depresiasi yang dihitung berdasarkan akti vitas akti va tetap (Metode
Aktivitas).
2. Metode Garis Lurus.
3. Depresiasi dengan pembebanan yang menurun.
a. Metode Jumlah Angka Tahunan.
b. Metode Persentase Tetap dari Nilai Buku.
4. Metode Depresiasi Khusus.
a. Metode Persediaan.
b. Metode Dengan Sistem Retirement dan Replacement.
c. Metode Umur Komposit.
1.66 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Berikut ini dijelaskan satu per satu mengenai metode-metode depresiasi


di atas. Untuk lebih memperjelas, masing-masing uraian akan diberikan
contoh penerapannya.

F. METODE AKTIVITAS

Suatu akti va tetap yang di depresiasi berdasarkan akti vitas


penggunaannya, metodenya disebut dengan metode aktivitas (activity
method). Metode aktivitas menggunakan pendekatan pembebanan variabel
dengan asumsi bahwa depresiasi merupakan fungsi dari produksi. Dalam
metode aktivitas, umur ekonomis aktiva tetap diukur berdasarkan jumlah jam
kerja atau jumlah unit produk yang mampu diberikan oleh aktiva tetap
tersebut. Secara konseptual, metode ini paling mendekati ketepatan terhadap
pola pemakaian aktiva tetap sehingga apabila dapat diketahui kemampuan
suatu aktiva tetap dalam memberikan manfaat ekonomis selama
pemakaiannya dan bisa ditentukan berapa banyak penggunaan manfaat
ekonomis aktiva tetap tersebut untuk satu periode maka akan dapat
ditentukan secara tepat besarnya alokasi harga perolehan akti va tetap untuk
satu periode tersebut.
Akan tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah mudah untuk dapat
menentukan kemampuan suatu aktiva tetap dalam memberikan manfaat
ekonomis, demikian pula tidaklah gampang menentukan penggunaan manfaat
ekonomis suatu aktiva tetap untuk satu periode. Maka dari itulah, secara
praktis metode ini cukup sulit untuk memberikan basil depresiasi yang tepat.

Contoh 1.17.
PT Berlian mempunyai sebuah mesin produksi yang diperkirakan selama
masa pakainya mampu memproduksi sebanyak 1.000.000 unit, dan apabila
digunakan secara nonstop dia akan bisa bekerja selama 50.000 jam kerja.
Harga perolehan mesin tersebut adalah Rp15.500.000,00, sedangkan nilai
residunya diperkirakan sebesar Rp500.000,00. Apabila pada tahun 2005 PT
Berlian menghasilkan produk sebanyak 100.000 unit maka pada tahun
tersebut harus diakui biaya depresiasi sebesar:
100.000 unit
- - - -X ( Rp 15 .500.000,00-Rp500.000,00) =Rp 1.500.000,00
1.000.000 unit
e EKMA431 3/MODUL 1 1.67

Jika perusahaan dalam menghitung depresiasi tidak menggunakan


jumlah unit yang diproduksi sebagai dasarnya, melainkan menggunakan jam
kerja mesin dan diketahui pada tahun 2005 mesin produksi tersebut
digunakan selama 5.000 jam kerja maka depresiasi dihitung sebagai berikut.

5
_ _.o_oo_j_am_ x ( Rp 15 .5oo.ooo,oo-Rp5oo.ooo,oo) =Rp 1.5oo.ooo,oo
50.000 jam

Apabila diketahui bahwa pada tahun 2006 PT berlian mempekerjakan


mesin produksinya selama 4.000 jam maka depresiasi untuk tahun 2006
adalah berikut ini.

4
_ _.o_oo_j_am_ x ( Rp 15 .5oo.ooo,OO-Rp50o.ooo,oo) =Rp 1.2oo.ooo,oo
50.000 jam

G. METODE GARIS LURUS (STRAIGHT-LINE METHOD)

Metode garis lurus dipakai untuk mendepresiasi suatu aktiva tetap


apabila diperkirakan bahwa aktiva tetap tersebut memberikan manfaat
ekonomis yang relatif sama besamya untuk setiap periode selama masa
penggunaannya. Umur ekonomis yang digunakan pada metode garis lurus
dihitung atas dasar umur (masa pakai) aktiva tetap yang bersangkutan.
Metode garis lurus ini menganggap depresiasi sebagai fungsi dari waktu.

Contoh 1.18.
Dengan menggunakan data pada Contoh 1.17. apabila mesin produksi
tersebut digunakan selama 5 tahun maka depresiasi per tahun dapat dihitung
sebagai berikut.

Rp 15.500.000,00-Rp500. 000,00
- - - - - - - - - - =Rp3.000.000,00
5 tahun
Adapun program depresiasi mesin untuk 5 tahun (selama umur
ekonomisnya) dapat Anda lihat pada tabel berikut.
1.68 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 1.1.
Program Depresiasi Dengan Metode Garis Lurus

Akum.
Depresiasi Nilai Buku Akhir
Harga Perolehan Depresiasi Akhir
Tahun PerTahun Tahun
(Rp) Tahun
(Rp) (Rp)
R:>:
0 - - - Rp15.500.000,00
2005 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp 3.000.000,00 Rp12.500.000,00
2006 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp 6.000.000,00 Rp 9.500.000,00
2007 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp 9.000.000,00 Rp 6.500.000,00
2008 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp12.000.000,00 Rp 3.500.000,00
2009 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp15.000.000,00 Rp 500.000,00

H. DEPRESIASI DENGAN PEMBEBANAN YANG MENURUN

Metode depresiasi yang lazim digunakan untuk pembebanan depresiasi


yang menurun ada 2, yaitu berikut ini.
1. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum ofThe Year's Digits Method)
2. Metode Persentase Tetap Dari Nilai Buku (Metode Saldo Yang
Menurun/Declining Balance Method)

Kedua metode tersebut didasarkan pada asumsi bahwa manfaat yang


dapat diberikan oleh suatu aktiva tetap menurun sejalan dengan makin
bertambahnya umur aktiva tetap tersebut. Dengan demikian, aktiva tetap
harus di depresiasi dengan jumlah besar pada tahun-tahun awal
penggunaannya dan semakin mengecil untuk tahun-tahun berikutnya.

1. Metode Jumlah Angka Tahun


Dengan menggunakan metode ini, suatu aktiva tetap di susut dengan
jumlah yang semakin mengecil. Depresiasi per tahun dihitung sebesar
proporsi antara Sisa Umur Penggunaannya dari Nilai Penjumlahan Umur
Penggunaan Aktiva Tetap terhadap bagian harga perolehan aktiva tetap
tersebut. Sebagai contoh, dengan menggunakan data pada Contoh 1.17. maka
pada tahun pertama mesin produksi masih bisa digunakan selama 5 tahun,
sedangkan nilai penjumlahan umur penggunaan mesin tersebut adalah 15,
yaitu 1 + 2 + 3 + 4 + 5. Dengan demikian, besarnya proporsi untuk
mendepresiasikan mesin pada tahun pertama adalah sebesar 7{5 . Untuk tahun
kedua karena pada tahun tersebut sisa umur penggunaan mesin tinggal 4
e EKMA431 3/MODUL 1 1.69

tahun maka besarnya proporsi untuk mendepresiasikan mesin adalah ;{5 , dan
seterusnya sampai tahun ke-5. Dengan menggunakan proporsi untuk masing-
masing tahun maka depresiasi per tahun dapat dihitung sebagai berikut.
Tahun ke-1 = 5/15 x (Rp. 15.500.000,00- Rp. 500.000,00) = Rp. 5.000.000,00
Tahun ke-2 = 4/15 x (Rp. 15.500.000,00- Rp. 500.000,00) = Rp. 4.000.000,00
Tahun ke-3 = 3/15 x (Rp. 15.500.000,00- Rp. 500.000,00) = Rp. 3.000.000,00
Tahun ke-4 = 2/15 x (Rp. 15.500.000,00- Rp. 500.000,00) = Rp. 2.000.000,00
Tahun ke-5 = 1/15 x (Rp. 15.500.000,00- Rp. 500.000,00) = Rp. 1.000.000,00
Jumlah = Rp. 15.000.000,00

Sedangkan program depresiasi untuk 5 tahun, seperti Tabel 1.2. berikut.

Tabel 1.2.
Program Depresiasi dengan Metode Jumlah Angka Tahun

Depresiasi Akum. Depresiasi Nilai Buku Akhir


Harga Perolehan
PerTahun Akhir Tahun Tahun
Tahun (Rp)
Rp Rp Rp
0 - - - Rp15.500.000,00
2005 Rp15.500.000,00 Rp5.000.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp1 0.500.000,00
2006 Rp15.500.000,00 Rp4.000.000,00 Rp 9.000.000,00 Rp 6.500.000,00
2007 Rp15.500.000,00 Rp3.000.000,00 Rp12.000.000,00 Rp 3.500.000,00
2008 Rp15.500.000,00 Rp2.000.000,00 Rp14.000.000,00 Rp 1.500.000,00
2009 Rp15.500.000,00 Rp1.000.000,00 Rp15.000.000,00 Rp 500.000,00

2. Metode Saldo yang Menurun


Dalam metode Saldo Yang Menurun, depresiasi suatu aktiva tetap
dihitung sebesar persentase tertentu dari nilai bukunya pada awal tahun.
Besarnya persentase tersebut dapat dihitung sebagai berikut.
(1 - r) X HP = NR
0

0
(1- r) = NR
HP
NR
1-r = n-
HP

r = 1-NR n

HP
di mana: r = besamya persentase untuk depresiasi.
NR = nilai residu aktiva tetap yang di depresiasi.
HP = harga perolehan akti va tetap yang di depresiasi.
n = taksiran umur menggunakan aktiva tetap.
1. 70 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dengan demikian, apabila kita menggunakan data dari Contoh 1.17.


maka besarnya persentase untuk tarif depresiasi dihitung sebesar:
500.000
r = 1 - 5 ----
15.500.000
r = 0,4968 atau 49,68%

Program depresiasi untuk waktu 5 tahun tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 1. 3.
Program Depresiasi dengan Metode Saldo yang Menurun

Depresiasi
Akum. Depresiasi Akhir Nilai Buku Akhir
Harga Tahun Berjalan
Tahun Tahun
Tahun Perolehan (Rp) 0,4968 X NB
(Rp) (Rp)
(Rp)
2005 Rp15.500.000,00 Rp7 .700.632,95 Rp 7.700.632,95 Rp 7. 799.367,05
2006 Rp15.500.000,00 Rp3.87 4.842,77 Rp11.575.475,72 Rp3.924.524,28
2007 Rp15.500.000,00 Rp1.949.762,65 Rp13.525.238,37 Rp1.974.761 ,63
2008 Rp15.500.000,00 Rp 981 .091 ,26 Rp14.506.329,63 Rp 993.670,37
2009 Rp15.500.000,00 Rp 493.670,37 Rp15.000.000,00 Rp 500.000,00

Besamya persentase sebagai tarif depresiasi pada metode saldo yang


menurun selain menggunakan rumus di atas, bisa pula menggunakan
persentase yang besamya 2 kali tarif depresiasi dengan metode garis lurus.
Penggunaan tarif sebesar 2 kali tarif garis lurus tersebut biasa disebut dengan
Double Declining Balance. Dari data pada Contoh 1.17. persentase
depresiasi tiap tahun adalah 20% atau Ys . Sehingga jika menggunakan
metode double declining balance, persentase untuk tarif depresiasi adalah
2 x 20% = 40%. Dengan demikian, program depresiasi selama 5 tahun
adalah sebagai berikut.

Tabel 1.4.
Program Depresiasi dengan Metode Double Declining Balance

Depresiasi
Akum. Depresiasi Nilai Buku Akhir
Harga Perolehan Tahun Berjalan
Akhir Tahun Tahun
Tahun (Rp) 0,4 X NB
(Rp) (Rp)
(Rp)
2005 Rp15.500.000,00 Rp6.200.000,00 Rp 6.200.000,00 Rp9.300.000,00
2006 Rp15.500.000,00 Rp3.720.000,00 Rp 9.920.000,00 Rp5.580.000,00
2007 Rp15.500.000,00 Rp2.232.000,00 Rp12.152.000,00 Rp3.348.000,00
2008 Rp15.500.000,00 Rp1.339.200,00 Rp13.491.200,00 Rp2.008.800,00
2009 Rp15.500.000,00 Rp1.508.800,00*) Rp15.000.000,00 Rp 500.000,00
e EKMA431 3 / MODUL 1 1. 71

*) Depresiasi untuk tahun ke-5 tidak dihitung atas dasar tarif, melainkan
dihitung dengan mengurangkan nilai residu dari nilai buku awal tahun
tersebut.

I. METODE DEPRESIASI KHUSUS

Ada beberapa j enis akti va tetap yang tidak praktis apabila di depresiasi
dengan menggunakan metode-metode yang telah diuraikan di muka. Aktiva
tetap dimaksud, misalnya alat-alat reparasi pada perusahaan bengkel,
peralatan makan minum pada rumah makan, kayu landasan rei kereta api
pada perusahaan jasa kereta api, dan sebagainya. Jenis aktiva tetap yang telah
disebut di atas mempunyai jumlah unit yang banyak sekali, namun harga
perolehan per unitnya relatif rendah sehingga tidak akan praktis apabila
digunakan metode depresiasi aktiva tetap untuk masing-masing unit. Untuk
itu ada beberapa metode khusus yang bisa digunakan untuk mendepresiasi
aktiva tetap yang memiliki jumlah unit banyak dan nilai per unitnya rendah,
yaitu berikut ini.
1. Metode persediaan (inventory method).
2. Metode pemberhentian dan penggantian (retirement and replacement
method).
3. Metode umur komposit (group of composite-life method).

1. Metode Persediaan (Inventory Method)


Metode persediaan yang juga biasa disebut sebagai Sistem Penilaian
(Appraisal System) digunakan untuk mendepresiasi suatu kelompok aktiva
tetap dengan cara yang mirip dengan penilaian persediaan. Metode ini
diterapkan pada aktiva tetap yang jumlah unitnya banyak, namun harga
perolehan per unitnya rendah sehingga tidak praktis apabila di depresiasi
secara individual. Dengan metode persediaan, terhadap suatu kelompok
aktiva tetap dilakukan penilaian pada setiap akhir periode untuk menentukan
besarnya depresiasi pada periode tersebut. Penilaian dilakukan berdasarkan
taksiran harga pasar aktiva tetap yang bersangkutan pada tiap akhir periode
selama masa penggunaannya. Taksiran harga pasar ini digunakan sebagai
nilai buku aktiva tetap dan dilaporkan dalam neraca akhir periode. Adapun
depresiasi untuk suatu periode akuntansi dihitung sebagai berikut.
1. 72 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Depresiasi periode 200X -- Nilai buku awal periode 200X + Pembelian


aktiva tetap selama 200X - Nilai aktiva
tetap yang diberbentikan selama 200X -
Nilai buku akhir periode 200X.

Perbitungan depresiasi di atas bisa dianalogikan dengan perbitungan


Harga Pokok Penjualan yang dilakukan terbadap Persediaan Barang
Dagangan.
Sekali lagi perlu Anda perbatikan babwa nilai buku aktiva tetap untuk
menghitung besarnya depresiasi dalam satu periode merupakan basil
penilaian aktiva tetap atas dasar barga pasarnya yang dilakukan oleb
manajemen. Oleb karena itu, depresiasi dengan menggunakan metode
persediaan memberikan basil yang kurang objektif. Berikut Anda akan
diberikan sebuab contob mengenai penerapan metode persediaan.

Contob 1.19.
Rumab Makan Sido Mampir mempunyai aktiva tetap berupa peralatan
makan dan minum. Untuk keperluan depresiasi, perusabaan
mengelompokkan aktiva tetap tersebut menurut jenisnya, dan berdasarkan
pertimbangan kepraktisan perusabaan menggunakan metode persediaan
dalam mendepresiasi aktiva tetapnya. Berikut data mengenai kelompok
piring untuk tabun 20X1 dan 20X2 adalab berikut ini.

Nilai Buku Akhir


Tahun Nilai Buku Awal Tahun Pembelian Hilang & Rusak
Tahun
20X1 Rp500.000,00 Rp150.000,00 Rp75.000,00 Rp475.000,00
20X2 Rp475.000,00 Rp200.000,00 Rp80.000,00 Rp525.000,00

Dari data di atas, depresiasi untuk tabun 20X1 dan 20X2 dihitung
sebagai berikut.

Tabun 20X1 Tabun 20X2


Nilai Buku awal tabun Rp500.000,00 Rp475.000,00
Pembelian selama 1 tabun Rp150.000,00 Rp200.000,00
Piring bilang atau rusak (Rp 75.000,00) (Rp 80.000,00)
Piring yang tersedia selama 1 tabun Rp575.000,00 Rp595.000,00
Nilai Buku akhir tabun (Rp475.000,00) (Rp525 .000,00)
Depresiasi kelompok piring 1 tabun Rp 100.000,00 Rp 70.000,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 73

2. Metode Pemberhentian dan Penggantian (Retirement & Replacement


Method)
Berbeda dengan metode depresiasi lainnya, metode depresiasi ini
menghitung depresiasi suatu aktiva tetap tidak pada setiap akhir periode
akuntansi. Depresiasi dengan metode pemberhentian dan penggantian
dihitung pada saat dilakukan pemberhentian atau penggantian aktiva tetap.
Perbedaan utama antara metode pemberhentian dengan metode penggantian
adalah adanya perbedaan penggunaan harga perolehan yang digunakan
sebagai dasar perhitungan depresiasi. Depresiasi untuk masing-masing
metode dihitung sebagai berikut.

Metode Pemberhentian
Depresiasi = Harga Perolehan Aktiva Nilai Residu Aktiva Tetap
Tetap yang Diberhentikan yang Diberhentikan

Metode Penggantian
Depresiasi = Harga Perolehan Aktiva Nilai Residu Aktiva Tetap
Tetap yang Ditempatkan yang Diganti

Contoh 1.20.
PT Telkom pada tahun 2001 memasang kabel untuk jaringan telepon
pada suatu daerah. Harga perolehan j aringan kabel telepon tersebut adalah
Rp30.000.000,00. Pada tahun 2006, Jj bagian jaringan kabel dinilai sudah
usang dan perlu diganti dengan yang baru. Harga perolehan kabel baru adalah
Rp15.000.000,00, sedangkan kabel lama yang diganti ditaksir akan laku
dijual senilai Rp 1.000.000,00.
Jurnal yang dibuat untuk masing-masing metode adalah berikut ini.

Metode Pemberhentian

Tahun 2006 Biaya Depresiasi Jaringan


Kabel Telepon ..................... Rp9 .000.000,00
Persediaan Kabel Bekas ....... Rp 1.000.000,00
Jaringan Kabel Telepon ..... Rp10.000.000,00
(mencatat pemberhentian kabel telepon dan pembebanan biaya depresiasi
untuk tahun 2001)
1. 74 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Perhitungan:
Bagian Harga Perolehan Kabel
yang diberhentikan = ~ x Rp30.000.000,00 = Rp10.000.000,00
Taksiran Nilai Residu Kabel yang diberhentikan = Rp 1.000.000,00
Biaya Depresiasi = Rp 9.000.000,00

Tahun 2006 Jaringan Kabel Telepon.... Rp15.000.000,00


Kas . .. .. .. .. ... .. .. ... .. ... .. .. ... .. .. ... .. ... .. .. .. ... R p 15 .000. 000,00
(mencatat penggantian kabel yang baru)

Metode Penggantian
Tahun 2006 Biaya Depresiasi Jaringan
Kabel Telepon .................. Rp 14.000.000,00
Persediaan Kabel Bekas ... Rp 1.000.000,00
Kas ..................................................... Rp 15.000.000,00
(mencatat penggantian kabel telepon dan pembebanan biaya depresiasi untuk
tahun 2006)

Perhitungan:
Harga Perolehan Kabel Baru = Rp15.000.000,00
Taksiran Nilai Residu Kabel yang diganti = Rp 1.000.000,00
Biaya Depresiasi = Rp14.000.000,00
Dari contoh di atas, Anda dapat menarik kesimpulan bahwa pada metode
penggantian harga perolehan jaringan kabel telepon secara keseluruhan tidak
berubah dengan adanya penggantian tersebut, yaitu tetap sebesar
Rp30.000.000,00. Sebaliknya, pada metode pemberhentian harga perolehan
seluruh jaringan kabel telepon bertambah sebesar Rp5.000.000,00 dengan
adanya penggantian kabel. Pertambahan harga perolehan tersebut merupakan
kenaikan harga perolehan kabel yang diganti, yaitu dari Rp 10.000.000,00
menjadi sebesar Rp15.000.000,00. Dengan demikian, penggantian kabel
tersebut menyebabkan harga perolehan kabel seluruh jaringan menjadi
sebesar Rp35.000.000,00. Pada metode penggantian, kenaikan harga
perolehan tersebut dibebankan sebagai biaya depresiasi.
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 75

3. Metode Umur Komposit (Group of Composite- Life Methot!)


Untuk mendepresiasi aktiva tetap secara kelompok, selain dengan
menggunakan metode persediaan, bisa pula menggunakan metode umur
komposit. Berbeda dengan metode persediaan yang tidak menghiraukan
harga perolehan dan umur ekonomis tiap unit aktiva tetap dalam kelompok,
pada metode umur komposit data mengenai harga perolehan, taksiran umur
ekonomis, serta taksiran nilai residu untuk masing-masing unit aktiva tetap
dalam kelompok harus diketahui.
Metode umur komposit bisa diterapkan pada kelompok aktiva tetap yang
anggotanya heterogen. Penghitungan depresiasi dengan metode ini pada
dasamya menggunakan metode garis lurus. Pertama, dihitung biaya
depresiasi per tahun untuk tiap unit aktiva tetap dengan menggunakan metode
garis lurus. Jumlah biaya depresiasi per tahun masing-masing unit dalam satu
kelompok merupakan biaya depresiasi gabungan untuk satu kelompok aktiva
tetap tersebut per tahun. Untuk mengetahui berapa lama kelompok aktiva
tetap tersebut harus di depresiasi, bisa dihitung umur ekonomis gabungan
kelompok aktiva tetap tersebut. Agar lebih jelas, ikuti contoh berikut.

Contoh 1.21.
PT Anugerah menggunakan metode umur komposit dalam
mendepresiasi alat-alat produksinya. Berikut informasi mengenai alat-alat
produksi milik PT Anugerah yang dijadikan satu kelompok untuk di susut
secara gabungan.

Jenis Taksiran Nilai HP Yang Taksiran Depresiasi


Harga Perolehan
AI at Residu Disusut Umur PerTahun
(Rp)
Produksi (Rp) (Rp) Ekonomis (Rp)
A Rp 500.000,00 Rp 50.000,00 Rp 450.000 9 Rp 50.000
B Rp 750.000,00 Rp1 00.000,00 Rp 650.000 13 Rp 50.000
c Rp 600.000,00 Rp 40.000,00 Rp 560.000 7 Rp 80.000
D Rp1.000.000,00 Rp 75.000,00 Rp 925.000 10 Rp 92.500
Rp2.850.000,00 Rp265.000,00 Rp2.585.000 Rp.272.500

Dari data di atas, kita bisa mengetahui bahwa besarnya biaya depresiasi
per tahun untuk kelompok aktiva tetap tersebut adalah Rp272.500,00.
Sedangkan umur ekonomis gabungan untuk kelompok tersebut adalah
berikut ini.
Rp2.5 85.000,00
- - - - - - x 1 tahun = 9,48 tahun a tau 9 tahun 6 bulan
Rp272.500,00
1. 76 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dengan demikian, kelompok alat-alat produksi tersebut akan habis di


susut selama 9 tahun 6 bulan.
Barangkali Anda bertanya, bagaimana kalau sebelum 9 tahun ada
pemberhentian salah satu alat produksi atau ada tambahan alat produksi baru?
Apabila sebelum habis umur ekonomis gabungan ada pemberhentian salah
satu jenis alat produksi maka tidak boleh diakui adanya laba ataupun rugi.
Laba atau rugi boleh diakui apabila pemberhentian dilakukan terhadap
seluruh alat produksi dalam kelompok yang bersangkutan. Pemberhentian
sebagian alat produksi dalam kelompok tersebut dicatat dengan mengkredit
harga perolehan alat produksi yang bersangkutan dan mendebit rekening
akumulasi depresiasi kelompok akti va tersebut.
Sebagai contoh, pada tahun ke-5 masa penggunaannya, alat produksi
jenis A diberhentikan dari pemakaiannya dan laku dijual seharga
Rp150.000,00. Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi tersebut adalah
berikut ini.
Akumulasi depresiasi ..... ............. ... Rp350.000,00
Kas ........................................ ......... Rp 150.000,00
Alat-alat produksi .............................. Rp500.000,00
(mencatat pemberhentian dan penjualan alat produksi jenis A)

Dengan adanya pemberhentian atas salah satu alat produksi tersebut


maka besamya biaya depresiasi gabungan per tahun menjadi berkurang
sebesar biaya depresiasi per tahun alat produksi jenis A yang diberhentikan,
dan umur ekonomis gabungan perlu dihitung kembali. Penghitungan terhadap
umur ekonomis gabungan ini juga dilakukan apabila terdapat penambahan
anggota kelompok aktiva tetap tersebut.

~,.. 3
1 '
. ~
'4
-
---
~
LATIHAN
-----------------------------------------
.~ - ~

-- -- -..-.;;

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Apa yang dimaksud dengan akuntansi penyusutan?


2) Jelaskan faktor-faktor fisik (intern) yang menyebabkan perlunya
penyusutan!
3) Salah satu faktor dalam penentuan besarnya biaya penyusutan adalah
umur ekonomis. Apa yang dimaksud dengan umur ekonomis?
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 77

4) Hal-hal apa yang harus diperhatikan dalam penentuan taksiran umur


ekonomis?
5) Bagaimana jurnal untuk mencatat penyusutan? Dan bagaimana pula
penyajiannya di neraca? Berikan contoh!
6) Sebutkan 2 macam metode depresiasi dengan metode pembebanan
menurun!
7) Apa asumsi yang digunakan pada metode depresiasi garis lurus?
8) Apa yang menjadi dasar pemikiran dilakukannya depresiasi dengan
menggunakan metode depresiasi dengan pembebanan yang menurun?
9) Apa perbedaan yang utama antara metode depresiasi sistem retirement
dengan replacement?
10) Percetakan Shinta membuat kebijaksanaan untuk mendepresiasi aktiva
tetapnya dengan menggunakan Straight-Line Method. Percetakan Shinta
mempunyai sebuah mesin cetak yang diperkirakan selama masa
pakainya mampu memproduksi sebanyak 2.000.000 unit, dan apabila
digunakan secara nonstop dia akan bisa bekerja selama 150.000 jam
kerja. Harga perolehan mesin tersebut adalah Rp20.000.000,00,
sedangkan nilai residunya diperkirakan sebesar Rp 1.000.000,00. Apabila
pada tahun 2006 Percetakan Shinta menghasilkan produk sebanyak
200.000 unit, mesin cetak tersebut digunakan selama 5 tahun.
Diminta:
a. Berapa tarif depresiasi per tahunnya?
b. Berapa besarnya biaya depresiasi yang harus diakui oleh perusahaan
untuk tahun 2007?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Akuntansi penyusutan adalah suatu sistern akuntansi yang bertujuan


untuk membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap
berwujud, dikurangi nilai sisa (kalau ada), selama umur kegunaan unit
aktiva itu yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva)
dalam suatu cara yang sistematis dan rasional.
2) Faktor-faktor fisik (intern) yang menyebabkan perlunya penyusutan,
antara lain berikut ini.
a. Pemakaian dan kerusakan
b. Keruntuhan
1. 78 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Penurunan nilai guna juga bisa disebabkan faktor keruntuhan. Kalau


hal ini terj adi maka biasanya terj adi penurunan fisik yang sangat
drastis.
c. Faktor alamiah atau berlalunya waktu
Faktor ini meliputi, antara lain perubahan cuaca, hujan, panas, dan
hal-hallain yang disebabkan berlalunya waktu.
d. Faktor-faktor tidak terduga
Penurunan fisik aktiva tetap mungkin pula terjadi karena hal-hal di
luar dugaan manusia, seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, dan
lain-lain.
3) Umur ekonomis ialah umur suatu aktiva tetap sejak siap dipergunakan
sampai pada waktu aktiva tetap tersebut secara ekonomis sudah tidak
menguntungkan lagi untuk dipergunakan terus. Artinya, biaya yang
dikeluarkan untuk penggunaan aktiva tersebut sudah melebihi atau sudah
tidak seimbang lagi dengan daya guna yang dapat diberikannya.
4) Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan taksiran umur
ekonomis, yaitu berikut ini.
a. taksiran kerusakan fisik karena pemakaian;
b. keusangan karena waktu;
c. hukum atau pembatasan-pembatasan lain terhadap penggunaan
akti va tetap yang bersangkutan.
5) Berikut ini adalah contoh dari pencatatan jurnal penyusutan dan
penyajiannya di dalam neraca berikut.
Toko Mawar melakukan penyusutan terhadap peralatan tokonya untuk
periode akuntansi 2006 sebesar Rp600.000,00. Jurnal untuk mencatat
depresiasi tersebut adalah berikut ini.
Biaya depresiasi peralatan toko ......... Rp600.000,00
Akumulasi depresiasi peralatan toko . . . Rp600.000,00
( mencatat biaya depresiasi peralatan toko)

Apabila pada tanggal 31 Desember 2006, yaitu saat Toko Mawar


melakukan tutup buku, rekening akumulasi depresiasi peralatan toko
mempunyai saldo Rp2.000.000,00 dan harga perolehan peralatan
tokonya adalah Rp5.000.000,00 maka neraca per tanggal 31 Desember
2006 akan disajikan sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 79

TokoMawar
Neraca
Per 31 Desember 2006
Akti va Lancar

Aktiva Tetap
Peralatan Kantor Rp. 5.000.000,00
Akum. Depr. Peralatan Ktr. Rp. 2.000.000,00
Rp. 3.000.000,00
6) Terdapat 2 macam metode depresiasi dengan metode pembebanan
menurun, yaitu berikut ini.
a. Metode Jumlah Angka Tahunan.
b. Metode Persentase Tetap Dari Nilai Buku.
7) Asumsi yang digunakan pada metode depresiasi garis lurus, yaitu apabila
diperkirakan bahwa aktiva tetap tersebut memberikan manfaat ekonomis
yang relatif sama besarnya untuk setiap periode selama masa
penggunaannya. Umur ekonomis yang digunakan pada metode garis
lurus dihitung atas dasar umur (masa pakai) aktiva tetap yang
bersangkutan. Metode garis lurus ini menganggap depresiasi sebagai
fungsi dari waktu.
8) Yang menjadi dasar pemikiran dilakukannya depresiasi dengan
menggunakan metode depresiasi dengan pembebanan yang menurun,
yaitu metode tersebut didasarkan pada asumsi bahwa manfaat yang dapat
diberikan oleh suatu aktiva tetap menurun sejalan dengan makin
bertambahnya umur aktiva tetap tersebut. Dengan demikian, aktiva tetap
harus di depresiasi dengan jumlah besar pada tahun-tahun awal
penggunaannya dan semakin mengecil untuk tahun-tahun berikutnya.
9) Perbedaan utama antara metode pemberhentian dengan metode
penggantian adalah adanya perbedaan penggunaan harga perolehan yang
digunakan sebagai dasar perhitungan depresiasi. Depresiasi untuk
masing-masing metode dihitung sebagai berikut.
Metode Pemberhentian
Depresiasi - Harga Perolehan Aktiva Nilai Residu Aktiva Tetap
Tetap yang Diberhentikan yang Diberhentikan

Metode Penggantian
Depresiasi = Harga Perolehan Aktiva Nilai Residu Aktiva Tetap
Tetap yang Ditempatkan yang Diganti
1.80 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

10) a. Tarif depresiasi tiap tahunnya adalah sebesar berikut ini.


Rp20.000.000, 00- Rpl .OOO.OOO, 00
- - - - - - - - - - = Rp3.800.000, 00
5 tahun
Adapun program depresiasi mesin untuk 5 tahun (selama umur
ekonomisnya) dapat Anda lihat pada tabel berikut.

Program Depresiasi dengan Metode Garis Lurus


Depresiasi Akum. Depresiasi Nilai Buku Akhir
Harga Perolehan
Tahun PerTahun Akhir Tahun Tahun
(Rp)
(Rp) (Rp) (Rp)
0 - - - Rp20.000.000,00
2006 Rp20.000.000,00 Rp3.800.000,00 Rp 3.800.000,00 Rp16.200.000,00
2007 Rp20.000.000,00 Rp3.800.000,00 Rp 7.600.000,00 Rp12.400.000,00
2008 Rp20.000.000,00 Rp3.800.000,00 Rp11.400.000,00 Rp 8.600.000,00
2009 Rp20.000.000,00 Rp3.800.000,00 Rp15.200.000,00 Rp 4.800.000,00
2010 Rp20.000.000,00 Rp3.800.000,00 Rp19.000.000,00 Rp 1.000.000,00
b. Biaya depresiasi tahun 2007 adalah Rp3.800.000,00. Oleh karena
metode yang digunakan adalah Metode Garis Lurus.

RANGKUMAN

Aktiva Tetap Berwujud tidak dapat digunakan dalam operasi


perusahaan untuk selamanya. Suatu saat Aktiva Tetap Berwujud akan
diakui, kecuali tanah. Aktiva Tetap Berwujud karena digunakan tentu
dapat rusak, aus, usang, dan lain-lain. Sejalan dengan itu, prestasi dari
Aktiva Tetap Berwujud tersebut tentu akan berkurang. Oleh karena
prestasinya semakin berkurang dan suatu saat tidak dapat digunakan lagi
maka akan dialami suatu kerugian atas harga perolehannya. Alokasi
harga perolehan ke periode-periode yang menikmati hasil Aktiva Tetap
Berwujud tersebut dalam akuntansi disebut penyusutan (depresiasi).
Faktor-faktor penyebab penyusutan dari suatu Aktiva Tetap
Berwujud tidak sekedar hanya faktor fisik, seperti rusak, runtuh, aus, dan
usang, namun juga faktor-faktor fungsional, seperti ketinggalan zaman,
ketidakcukupan, dan pola pemakaian.
Penyusutan sebagai alokasi harga perolehan menimbulkan biaya
penyusutan. Biaya penyusutan besarnya ditentukan oleh faktor harga
perolehan, umur ekonomis, nilai sisa, dan metode penyusutan. Harga
perolehan adalah keseluruhan pengeluaran yang layak dibebankan atau
dikapitalisasikan sebagai harga perolehan. Harga perolehan ini
dialokasikan selama taksiran umur ekonomis penggunaan Aktiva Tetap
Berwujud yang di susut sampai tidak menguntungkan lagi.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.81

Pada suatu saat Aktiva Tetap Berwujud secara ekonomis tidak


menguntungkan lagi. Pada saat itu aktiva tersebut mungkin masih
mempunyai nilai sebagai barang rongsokan. Nilai tersebut adalah nilai
sisa yang harus diperhitungkan sebagai pengurang harga perolehan yang
akan dialokasikan.
Pengalokasian harga perolehan harus dilakukan secara sistematis
dan rasional. Untuk itu diperlukan metode depresiasi. Metode yang akan
digunakan hendaknya sesuai dengan sifat dan pola penggunaan aktiva
yang akan disusutkan.
Pencatatan depresiasi adalah dengan mendebit biaya depresiasi dan
mengkredit akumulasi depresiasi dari aktiva tetap yang bersangkutan.
Akumulasi depresiasi merupakan rekening neraca dan diperlakukan
sebagai rekening pengurang (off-set account) dari rekening aktiva yang
bersangkutan. Harga perolehan suatu Aktiva Tetap Berwujud dikurangi
akumulasi depresiasi menghasilkan nilai buku aktiva tersebut.
Di dalam melakukan depresiasi terhadap Aktiva Tetap Berwujud,
terdapat beberapa metode yang bisa kita gunakan. Adanya beberapa
metode depresiasi dikarenakan tiap-tiap Aktiva Tetap Berwujud
mempunyai pola pemakaian yang berbeda-beda. Metode depresiasi yang
dipilih untuk digunakan sedapat mungkin sesuai dengan pola pemakaian
aktiva tetap yang disusutkan. Adapun penggunaan metode depresiasi
yang sesuai dengan pola pemakaian aktiva tetap bertujuan agar proses
pertemuan antara penghasilan dan biaya bisa mendekati ketepatan.
Hal ini disebabkan penggunaan metode depresiasi yang sesuai
dengan pola pemakaian aktiva tetap yang disusutkan akan menghasilkan
pengakuan biaya depresiasi sebagai alokasi harga perolehan aktiva tetap
sebesar yang seharusnya. Pada garis besarnya terdapat 4 metode
depresiasi, yaitu berikut ini.

1. Metode Aktivitas
Dengan metode ini depresiasi dihitung berdasarkan aktivitas-
aktivitas aktiva tetap. Metode ini akan menghasilkan alokasi harga
perolehan akti va tetap secara tepat, akan tetapi tidak mudah untuk
menentukan besarnya aktivitas aktiva tetap secara tepat sehingga dalam
praktiknya metode ini sulit digunakan.

2. Metode Garis Lurus


Metode ini mengasumsikan bahwa aktiva tetap mempunyai aktivitas
yang sama untuk tiap periode selama masa penggunaannya. Dan dalam
setiap periodenya aktiva tetap tersebut memberikan manfaat yang sama
besamya sehingga besarnya alokasi harga perolehan untuk tiap
periodenya sama besar.
1.82 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

3. Metode Depresiasi dengan Pembebanan yang Menurun


Metode ini mempunyai asumsi bahwa semakin tua suatu aktiva tetap
maka akan semakin kecil pula kemampuannya dalam memberikan
manfaat. Untuk itu alokasi harga perolehannya juga semakin kecil
seiring dengan bertambahnya umur aktiva tetap tersebut.

4. Metode Depresiasi Khusus


Metode depresiasi khusus digunakan untuk aktiva-aktiva tetap yang
apabila menggunakan metode lain tidak dimungkinkan ataupun kurang
praktis dan hasilnya kurang memuaskan.

TES FDRMATIF 3- - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!


1) Apabila Anda membeli sebuah komputer pada awal tahun 2000 seharga
Rp5.000.000,00 dan komputer tersebut Anda gunakan selama 3 tahun.
Pengeluaran sebesar Rp5.000.000,00 tersebut akan Anda anggap sebagai
biaya (dialokasikan) pada tahun ....
A. 2000
B. 2001
C. 2000 dan 2001
D. 2000, 2001, dan 2002

2) Istilah penyusutan untuk Aktiva Tetap Berwujud adalah ....


A. penyusutan
B. depresiasi
C. deplesi
D. amortisasi

3) Dari pernyataan-pernyataan berikut ini, manakah pengertian pokok dari


penyusutan?
A. Penyusutan dilakukan terhadap semua aktiva
B. Penyusutan merupakan alokasi harga perolehan setelah dikurangi
nilai sisa
C. Alokasi penyusutan yang dilakukan boleh berubah-ubah
D. Penyusutan merupakan proses penilaian

4) Penyebab penyusutan yang ditimbulkan dari faktor, kecuali ....


A. ketinggalan zaman
B. ketidakcukupan
C. pemakaian
D. tidak diterima pasar
e EKMA431 3/MODUL 1 1.83

5) Faktor intern dari penyebab penyusutan adalah ....


A. ketuaan karena faktor waktu
B. perkembangan teknologi
C. kebijaksanaan pemerintah
D. obsolescence

6) Faktor fungsional dari penyebab penyusutan adalah ....


A. pola pemakaian
B. ketidakcukupan
C. faktor alamiah
D. keruntuhan

7) Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan beban/biaya


penyusutan, kecuali ....
A. teknologi
B. kebijaksanaan pemerintah
C. nilai sisa
D. pola pemakaian

8) Yang dimaksud dengan umur ekonomis suatu aktiva adalah ....


A. sama dengan umur perusahaan
B. sama dengan umur teknis
C. sejak siap digunakan sampai secara ekonomis tidak dapat digunakan
D. sej ak dibeli sampai secara ekonomis tidak dapat digunakan lagi

9) U mur ekonomis ditaksir setelah memperhatikan, kecuali ....


A. taksiran kerusakan karena pemakaian
B. metode penyusutan yang digunakan
C. keusangan karena waktu
D. hukum atau pembatasan-pembatasan lain terhadap penggunaan
aktiva tetap

10) Mana dari pernyataan berikut yang benar?


A. Akumulasi depresiasi disajikan di neraca di sisi aktiva.
B. Biaya penyusutan disajikan di neraca di sisi pasiva.
C. Biaya penyusutan dihitung dari nilai sisa ditambah harga perolehan.
D. Pencatatan biaya penyusutan adalah dengan mendebit akumulasi
dan mengkredit biaya penyusutan.
1.84 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

11) Ditinjau dari laporan Laba/Rugi, biaya depresiasi dimasukkan sebagai


biaya variabel apabila digunakan metode ....
A. aktivitas
B. garis lurus
C. jumlah angka tahun
D. saldo yang menurun

12) Sebuah aktiva tetap mempunyai harga perolehan Rp12.000.000,00 dan


nilai residu Rp3.000.000,00. Aktiva tetap tersebut mempunyai umur
ekonomis 3 tahun. Apabila di depresiasi pada tahun ke-3 berjumlah
Rp1.500.000,00. Metode apa yang digunakan?
A. Garis Lurus
B. Saldo Yang Menurun
C. Akti vitas
D. Jumlah Angka Tahun

13) Jika sebuah perusahaan industri menggunakan metode aktivitas dengan


dasar unit yang diproduksi di dalam mendepresiasi aktiva tetapnya maka
besarnya biaya depresiasi yang diakui untuk tiap periode selama masa
kegunaannya akan ....
A. konstan
B. bervariasi tergantung basil penjualan
C. bervariasi tergantung jumlah unit penjualan
D. bervariasi tergantung jumlah unit yang diproduksi

14) Metode depresiasi berikut ini akan menghasilkan biaya depresiasi yang
jumlahnya bertambah dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya
umur akti va tetap ....
A. metode garis lurus
B. metode saldo yang menurun
C. metode jumlah angka tahun
D. jawaban A, B, dan C salah

15) Apabila dibuat grafik dengan sumbu vertikal "biaya depresiasi" dan
sumbu horizontal "umur aktiva tetap" maka biaya depresiasi tiap periode
selama umur ekonomis aktiva tetap dengan menggunakan Metode Garis
Lurus akan tergambar ....
A. lurus vertikal
B. lurus horizontal
C. garis miring ke kanan bawah
D. garis miring ke kiri bawah
e EKMA431 3/MODUL 1 1.85

16) Seperti pertanyaan nomor 15, namun digunakan Metode Jumlah Angka
Tahun. Maka grafiknya akan tergambar ....
A. lurus vertikal
B. lurus horizontal
C. garis miring ke kanan bawah
D. garis miring ke kiri bawah

17) Pada tanggal 1 Juli 2001 perusahaan roti "Nyam-Nyam" membeli sebuah
mesin seharga Rp3.600.000,00. Taksiran nilai residu Rp100.000,00.
Mesin tersebut akan di depresiasi selama 10 tahun dengan menggunakan
Metode Persentase Tetap Dari Nilai Buku dengan tarif dua kali garis
lurus (double declining balance method). Berapa besar biaya depresiasi
yang harus diakui untuk tahun 2002?
A. Rp720.000,00
B. Rp648.000,00
C. Rp630.000,00
D. Rp576.000,00

18) Pada tanggal 1 Januari 2001 perusahaan angkutan "Armada Jaya"


membeli sebuah kendaraan seharga Rp5.000.000,00. Kendaraan tersebut
diperkirakan mempunyai umur ekonomis selama 15 tahun dengan nilai
residu sebesar Rp500.000,00, apabila digunakan Metode Jumlah Angka
Tahun, berapa nilai buku kendaraan tersebut yang tercantum dalam
Neraca "Armada Jaya" per 31 Desember 2002?
A. Rp4.100.000,00
B. Rp4.000.000,00
C. Rp3.412.500,00
D. Rp2.800.000,00

19) Selama tahun 1999 PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengganti 30 batang
rel kereta api. Harga rel baru tersebut Rp50.000,00 tiap batang. Rel yang
lama mempunyai harga perolehan Rp10.000,00 per batang dan telah
berumur 20 tahun. Rel baru diperkirakan dapat digunakan selama 20
tahun. Dengan menggunakan metode retirement dalam melakukan
penyusutan, berapa depresiasi yang diakui PT KAI selama tahun 1999,
dan berapa besar tambahan nilai aktiva tetap berkenaan dengan adanya
penggantian rel kereta api tersebut?
A. Rp15.000,00 dan RpO
B. Rp300.000,00 dan Rp1.200.000,00
C. Rp300.000,00 dan Rp1.500.000,00
D. Rp1.500.000,00 dan RpO
1.86 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

20) Sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan Rp150.000,00 dan nilai
residu RpO serta umur ekonomis 5 tahun akan mempunyai nilai buku
sama besarnya baik menggunakan metode garis lurus maupun metode
jumlah angka tahun, pada akhir tahun ....
A. ke-2
B. ke-3
C. ke-4
D. tidak akan pernah mempunyai nilai buku yang sama

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 3.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 4. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang
belum dikuasai.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.87

KEGIATAN BELAL.JAR 4

Penilaian Kembali Aktiva Tetap

A. PENGERTIAN

Secara umum, tujuan utama penyelenggaraan akuntansi keuangan adalah


memberikan informasi mengenai kondisi keuangan serta hasil usaha
perusahaan yang bersangkutan. Tujuan tersebut tercermin pada hasil akhir
dari kegiatan akuntansi yang berupa laporan keuangan yang terdiri atas
Neraca dan Laporan Laba/Rugi. Neraca melaporkan posisi keuangan atau
kekayaan perusahaan, sedang Laporan Laba/Rugi memberikan informasi
tentang hasil usaha perusahaan dalam suatu periode. Neraca berisi "daftar"
kekayaan utang dan modal perusahaan beserta nilainya pada suatu saat,
sedang Laporan Laba!Rugi berisi hasil mempertemukan antara penghasilan
dan biaya selama periode tertentu.
Tujuan akuntansi keuangan tersebut mempunyai konsekuensi bahwa
informasi yang dihasilkannya harus mencerminkan keadaan yang
sesungguhnya, agar tidak menyesatkan pihak yang menggunakan.
Ketidaktepatan informasi yang diberikan oleh akuntansi keuangan bisa
mengakibatkan ketidaktepatan pihak yang berkepentingan dalam mengambil
keputusan yang menyangkut perusahaan tersebut. Keputusan yang tidak tepat
bisa menimbulkan dampak merugikan yang tidak kecil bagi perusahaan
ataupun bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
Selama ini, dalam mempelajari akuntansi keuangan, kita selalu
ditawarkan prinsip harga perolehan (cost principle) di dalam mencatat dan
melaporkan aktiva. Harga perolehan merupakan total nilai pengorbanan yang
dilakukan untuk mendapatkan suatu aktiva sehingga siap digunakan. Dengan
demikian, harga perolehan merupakan nilai akti va pada saat ia diperoleh. Di
dalam keadaan nilai mata uang yang stabil, penggunaan harga perolehan
sebagai dasar penilaian terhadap suatu akti va untuk keperluan pencatatan dan
pelaporan adalah tepat sekali. Hal ini tidak lain karena pada kondisi nilai
uang stabil, nilai uang di masa lalu akan mempunyai nilai yang tetap di masa
sekarang dan masa yang akan datang. Sehingga, harga perolehan akan
mewakili nilai yang sebenarnya dari aktiva yang bersangkutan.
1.88 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dalam kenyataannya, kita semua tahu bahwa nilai uang dalam jangka
panjang tidak mungkin stabil. Artinya, nilai uang di masa lalu akan berbeda
dengan nilai uang di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.
Perubahan nilai uang tersebut bisa turun sejalan dengan meningkatnya harga
barang-barang yang biasa disebut dengan istilah inflasi atau perubahan nilai
uang yang menjadikan uang menjadi semakin berharga sejalan dengan
menurunnya harga barang-barang yang biasa disebut dengan istilah deflasi.
Dalam kondisi semacam ini, jelas harga perolehan yang merupakan
pengorbanan di masa lalu tidak bisa mewakili nilai aktiva yang bersangkutan
di masa sekarang. Dengan demikian, apabila suatu aktiva dipaksakan untuk
dilaporkan dengan menggunakan dasar penilaian harga perolehan maka akan
memberikan informasi yang melenceng dari nilai yang sebenarnya.
Dalam kaitannya dengan adanya perubahan nilai uang serta mengingat
tujuan dari akuntansi keuangan, sudah selayaknya apabila di dalam menilai
aktiva untuk keperluan pencatatan dan pelaporan digunakan dasar penilaian
selain harga perolehan. Praktik semacam ini saat ini telah banyak dilakukan.
Sebagai contoh, penggunaan metode harga paling rendah antara harga
perolehan atau harga pasar (lower cost or market method) dalam menilai
persediaan, metode persentase penyelesaian dalam kontrak j angka panj ang,
investasi obligasi jangka panjang yang dinilai sebesar nilai tunai jatuh
temponya, dan lain-lain.
Penilaian dan pencatatan terhadap aktiva tetap berwujud atas dasar selain
harga perolehannya sebenarnya juga harus dilakukan apabila memang
terdapat perubahan nilai uang yang cukup berarti sehingga perlu dilakukan
penyesuaian terhadap harga perolehannya. Ini perlu dilakukan agar informasi
mengenai aktiva tetap yang dihasilkan oleh akuntansi bisa mewakili keadaan
yang sebenarnya. Akan tetapi, Standar Akuntansi Keuangan (SAK), seperti
yang terdapat pada Pasal 29 pada umumnya tidak memperkenankan
dilakukannya penilaian kembali atau revaluasi terhadap aktiva tetap. Hal ini
dikarenakan SAK menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan.
Penyimpangan dari ketentuan tersebut mungkin dilakukan berdasarkan
ketentuan pemerintah.
Ketentuan SAK tersebut kelihatannya agak janggal, namun sebenarnya
cukup beralasan. SAK pada dasarnya disusun untuk keperluan pemeriksaan
auditor independen sehingga SAK membuat ketentuan yang akan
mempermudah pelaksanaan pemeriksaan auditor independen terhadap
laporan keuangan perusahaan. Penggunaan harga perolehan yang biasa pula
e EKMA431 3/MODUL 1 1.89

disebut dengan harga historis terhadap aktiva tetap akan mempermudah


pelaksanaan pengauditan terhadap aktiva karena hal-hal berikut.
1. Harga perolehan atau harga historis bersifat objektif karena terbentuk
dari kesepakatan antara pihak-pihak yang independen. Misalnya,
perusahaan memiliki sebuah komputer yang didapat dari membeli. Harga
perolehan komputer tersebut merupakan harga belinya yaitu basil
kesepakatan antara perusahaan dengan pihak penjual komputer.
2. Harga historis didukung oleh bukti-bukti transaksi yang kuat sehingga
auditor independen akan lebih mudah dalam menguji kevalidan nilai
aktiva yang bersangkutan. Adanya bukti transaksi yang mendukung
harga perolehan tersebut karena ia timbul dari suatu transaksi yang
benar-benar terjadi.

Kedua alasan di atas tidak akan pernah ada apabila penilaian suatu aktiva
dilakukan tidak atas dasar harga perolehannya. Lagi pula untuk menentukan
cara penilaian kembali serta menentukan nilai baru dari suatu akti va agar bisa
mewakili keadaan yang sebenamya bukanlah pekerjaan yang mudah.

B. PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP BERDASARKAN


KETENTUAN PEMERINTAH

Meskipun SAK pada umumnya tidak memperkenankan dilakukannya


revaluasi terhadap aktiva tetap, namun perkecualian bisa dilakukan apabila
ada peraturan pemerintah yang memperbolehkan dilakukannya revaluasi.
Kebijaksanaan pemerintah yang memberikan kesempatan kepada badan
usaha untuk menyesuaikan nilai perolehan aktiva tetapnya dikeluarkan
sehubungan dengan adanya perubahan nilai tukar rupiah, misalnya karena
adanya devaluasi rupiah.
Kebijaksanaan pemerintah tersebut dikeluarkan dalam kaitannya dengan
pajak penghasilan. Dengan adanya perubahan nilai tukar rupiah, dalam hal ini
devaluasi, nilai perolehan akti va tetap yang merupakan nilai yang sebenarnya
pada saat devaluasi menjadi terlalu kecil. Sehingga biaya depresiasi yang bisa
diperhitungkan atas aktiva tetap tersebut juga menjadi terlalu kecil dari yang
semestinya. Akibatnya, laba akuntansi terhitung terlalu besar dan pajak
penghasilan yang harus ditanggung oleh badan usaha bersangkutan menjadi
terlalu besar.
1. 90 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dengan dikeluarkannya kebijaksanaan pemerintah yang memberi


kesempatan bagi badan usaha untuk menyesuaikan nilai perolehan aktiva
tetapnya, biaya depresiasi yang diperhitungkan oleh perusahaan ikut
tersesuaikan pula sehingga labalrugi perusahaan bisa sesuai dengan yang
semestinya. Adapun tujuan pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai
penyesuaian nilai perolehan aktiva tetap sehubungan dengan perubahan nilai
tukar rupiah adalah untuk menyehatkan posisi keuangan perusahaan.
Pemerintah telah beberapa kali mengeluarkan peraturan mengenai
penyesuaian nilai perolehan akti va tetap perusahaan. Adapun yang terakhir
adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1986,
dengan Aktiva Tetap (harta) berwujud sebagai objek peraturan ini. Peraturan
ini dibuat berkenaan dengan adanya devaluasi rupiah tanggal 12 September
1986. Berdasarkan peraturan tersebut, harga perolehan aktiva tetap berwujud
disesuaikan dengan mengalikan faktor penyesuaian yang telah ditentukan.
Faktor penyesuaian yang ditetapkan oleh peraturan tersebut adalah sebagai
berikut.

Tahun Perolehan Harta Berwu"ud Faktor Pen,esuaian


1970 dan sebelumnya 7,6159
1971 7,0779
1972 7,0181
1973 5,8106
1974 3,9454
1975 3,2879
1976 2,7379
1977 2,4389
1978 2,2238
1979 1,9847
1980 1,6618
1981 1,4347
1982 1,3152
1983 1,2553
1984 1'1956
1985 1,1513
1986 tanggal12 September dan sebelumnya 1'1 070
1986 tan~~ al13 Se :>tember dan sesudahnva 1,0000

Agar Anda jelas, sebagai contoh sebuah mesin yang dibeli oleh
perusahaan ABC pada tahun 1985 dengan harga Rp5.000.000,00 mulai
tanggal 1 Januari 1987 sesuai dengan mulai berlakunya PP Nomor 45 Tahun
1986 di atas, harga perolehannya menjadi Rp5.756.500,00, yaitu faktor
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 91

penyesuaian tahun 1985 sebesar 1,1513 dikalikan dengan harga perolehannya


Rp5 .000.000,00.

C. AKUNTANSI PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP

Walaupun SAK pada dasarnya tidak memperkenankan dilakukannya


revaluasi terhadap aktiva tetap, namun untuk menambah pengetahuan dan
pengertian Anda mengenai masalah penilaian kembali khususnya dan
pelajaran Akuntansi Keuangan umumnya maka di sini Anda diberikan sedikit
penjelasan terhadap penilaian kembali aktiva tetap berwujud. Sebelumnya
perlu Anda ketahui bahwa yang akan Anda pelajari di sini bukanlah teknik
penghitungan dan penyelenggaraan akuntansi terhadap penilaian kembali
aktiva tetap berdasarkan peraturan pemerintah, akan tetapi penyelenggaraan
akuntansi terhadap penilaian kembali aktiva tetap berwujud ditinjau dari
aspek akuntansi keuangan.
Seperti yang telah Anda ketahui, aktiva tetap berwujud bisa dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu berikut ini.
1. Aktiva tetap berwujud yang mempunyai umur tak terbatas sehingga
terhadapnya tidak mungkin dilakukan penyusutan, misalnya tanah.
2. Aktiva tetap berwujud yang mempunyai umur kegunaan yang terbatas
sehingga perlu dilakukan penyusutan terhadapnya, seperti mesin,
kendaraan, dan sebagainya.

Sementara itu, secara teoretis terdapat 2 kemungkinan pengaruh


penilaian kembali aktiva tetap terhadap harga perolehan, yaitu berikut ini.
1. Mengakibatkan harga perolehan aktiva tetap menjadi naik.
2. Mengakibatkan harga perolehan aktiva tetap menjadi turun.

Sekarang marilah kita membahas satu persatu kedua kemungkinan


penilaian kembali tersebut terhadap masing-masing j enis akti va tetap
berwujud. Kemudian, di akhir kegiatan belajar ini kita akan membahas
mengenai penjualan aktiva tetap berwujud yang telah mengalami penilaian
kembali.
1. 92 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

D. PENILAIAN KEMBALI YANG MENGAKIBATKAN KENAIKAN


HARGA PEROLEHAN

Penilaian kembali terhadap suatu aktiva tetap berwujud yang


mengakibatkan naiknya harga perolehan membuat nilai aktiva yang harus
dilaporkan di dalam neraca menjadi naik pula. Sebagai imbangannya, adanya
kenaikan nilai aktiva tersebut menjadikan nilai modal juga naik. Dengan
demikian, penilaian kembali yang membuat harga perolehan aktiva tetap
menjadi naik akan menimbulkan 2 buah rekening baru untuk tempat
mencatatnya, yaitu untuk mencatat naiknya nilai aktiva tetap itu sendiri dan
untuk mencatat kenaikan nilai modal sebagai imbangannya.
Bagi aktiva tetap berwujud yang mempunyai umur ekonomis terbatas,
penilaian kembali yang membuat harga perolehannya naik harus disertai
dengan penyesuaian terhadap akumulasi depresiasinya. Untuk itu, di sini
timbul pula rekening baru untuk mencatat perubahan nilai akumulasi
depresiasi akti va tetap yang bersangkutan.
Agar Anda bisa lebih memahami permasalahannya maka akan diberikan
beberapa contoh yang bisa membantu pengertian Anda.

Contoh 1.21. Penilaian Kembali terhadap Aktiva Tetap Berwujud


dengan Umur Ekonomis Tak Terbatas

Akibat adanya penurunan nilai uang yang terus-menerus sehingga harga


barang-barang menjadi naik terus, harga perolehan tanah yang dimiliki oleh
PT Sherley tidak lagi mencerminkan keadaan yang sebenamya. Untuk itu
Direksi dengan persetujuan pemilik perusahaan memutuskan untuk
mengadakan penilaian kembali terhadap tanah tersebut. Tanah perusahaan
pada masa sekarang mempunyai nilai Rp35.000.000,00, sedangkan harga
perolehan tanah tersebut adalah Rp10.000.000,00. Dengan demikian, ada
kenaikan nilai tanah sebesar Rp25.000.000,00. Jurnal untuk mencatat
penilaian kembali terhadap tanah oleh PT Sherley tersebut adalah berikut ini.
Tanah Penilaian Kembali ....................... Rp25 .000.000,00
Modal Penilaian Kembali-Tanah ........................... Rp25.000.000,00
(mencatat penilaian kembali tanah)
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 93

Kedua rekening baru yang timbul dengan adanya penilaian kembali di


atas akan dihapuskan bersamaan dengan rekening Tanah pada saat tanah
yang telah dinilai kembali tersebut dijual.

Contoh 1.22 Penilaian Kembali terhadap Aktiva Tetap Berwujud


dengan Umur Ekonomis Terbatas

Sehubungan dengan kejadian, seperti pada Contoh 1.22 PT Sherley juga


melakukan penilaian kembali terhadap aktiva tetap berwujudnya yang lain,
yaitu kendaraan dan peralatan kerja. lnformasi mengenai kedua aktiva tetap
berwujud tersebut berkaitan dengan penilaian kembali adalah sebagai berikut.

Kendaraan Peralatan Ker" a


Harga Perolehan Rp4.000.000,00 Rp3.000.000,00
Akumulasi Depresiasi Rp 900.000,00 Rp1.500.000,00
Taksiran Umur Ekonomis 8 tahun 6 tahun
Taksiran Nilai Residu Rp 400.000,00 RpO
Metode Penyusutan Garis Lurus Garis Lurus
Harga Perolehan Kembali (dalam keadaan Rp6.000.000,00 Rp6.000.000,00
baru) 8 tahun 8 tahun
Taksiran Umur Ekonomis Kembali (dalam
keadaan baru) Rp 500.000,00 RpO
Taksiran Nilai Residu Kembali

Dari informasi yang ada, kita bisa menghitung bahwa kendaraan telah
{Rp900.000, OOx 8 tahun)
digunakan selama 2 tahun, dan peralatan
Rp4.000.000, 00- Rp400.000, 00
( Rp1.500.000, 00 x 6 tahun)
kerja telah digunakan selama 3 tahun, yaitu - - - - - - - - - -
Rp3.000.000, 00

Setelah diadakan penilaian kembali ternyata untuk masa sekarang


apabila dalam kondisi baru, kendaraan mempunyai harga perolehan
Rp6.000.000,00 dan peralatan kerja juga mempunyai harga perolehan
Rp6.000.000,00. Untuk peralatan kerja setelah diperiksa kondisinya, ternyata
diperkirakan akan mempunyai umur ekonomis 2 tahun lebih lama dari
perkiraan semula. Sedang untuk kendaraan diperkirakan akan mempunyai
nilai residu Rp500.000,00, jadi lebih besar Rp100.000,00 dari taksiran
semula.
1. 94 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Sehubungan dengan adanya salah taksiran terhadap umur ekonomis dan


nilai residu aktiva tetap tersebut maka berarti PT Sherley telah melakukan
penghitungan pembebanan biaya penyusutan yang salah terhadap kedua
akti va tetap tersebut. U ntuk itu, ia perlu melakukan koreksi atas pembebanan
biaya depresiasi selama penggunaan akti va tetap sampai diadakan penilaian
kembali. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen PT Sherley telah
melakukan salah penaksiran yang menyebabkan pengakuan biaya depresiasi
untuk periode-periode sebelumnya tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
Adapun jurnal yang harus dibuat oleh PT Sherley untuk mencatat
penilaian kembali aktiva tetap di atas adalah sebagai berikut.

Penilaian Kembali Kendaraan

Akumulasi Depresiasi Kendaraan ............... Rp. 25.000,00


Koreksi Lab a Tahun-Tahun Lalu
(Lab a Yang Ditahan) .................................... Rp. 25.000,00
(mencatat koreksi kelebihan pengakuan biaya depresiasi pada
periode-periode yang telah lewat)

Perhitungan :
Akumulasi Depresiasi sebelum dikoreksi = Rp. 900.000,00
- Akumulasi Depresiasi setelah dikoreksi
4.000.000-500.000 X
2 = Rp. 875.000,00
8
- Kelebihan Akumulasi Depresiasi = Rp. 25.000,00

Kendaraan Penilaian Kembali ................. Rp. 2.000.000,00


Akumulasi Depresiasi
Kendaraan Penilaian Kembali ................................ Rp. 500.000,00
Modal Penilaian Kembali Kendaraan ..................... Rp. 1.500.000,00
(mencatat kenaikan harga perolehan kendaraan)

Perhitungan :
- Harga Perolehan Kendaraan sesudah penilaian kembali= Rp. 6.000.000,00
- Harga Perolehan Kendaraan sebelum penilaian kembali= Rp. 4.000.000,00
- Kenaikan harga perolehan kendaraan = Rp. 2.000.000,00
e EKMA4313/MODUL 1 1.95

- Akumulasi Depresiasi setelah penilaian kembali


(Rp. 6.000.000,00- Rp. 500.000,00) x 2/8 tahun = Rp. 1.375.000,00
- Akumulasi Depresiasi setelah dikoreksi, sebelum
penilaian kembali = Rp. 875.000,00
- Kenaikan akumulasi depresiasi, karena penilaian
kembali = Rp. 500.000,00
- Kenaikan harga perolehan kendaraan = Rp. 2.000.000,00
Kenaikan akumulasi depresiasi = Rp. 500.000,00
- Modal penilaian kembali kendaraan = Rp. 1.500.000,00

Penilaian Kembali Peralatan Kerja

Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja .................... Rp. 375.000,00


Koreksi Lab a Tahun-tahun Yang Lalu
(Laba Yang Ditahan) ....................................................... Rp. 375.000,00
(mencatat koreksi kelebihan pengakuan biaya depresiasi pada periode-
periode yang telah lewat)

Perhitungan :
Akumulasi Depresiasi sebelum ada koreksi = Rp. 1.500.000,00
- Akumulasi Depresiasi setelah ada koreksi
Rp. 3.000.000,00 x 3/8 tahun = Rp. 1.125.000,00
- Kelebihan akumulasi depresiasi = Rp. 375.000,00

Peralatan Kerja Penilaian Kembali ........................ Rp. 3.000.000,00


Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja
Penilaian Kembali ................................................... Rp. 1.125.000,00
Modal Penilaian Kembali Peralatan Kerja ............... Rp. 1.875.000,00
(mencatat kenaikan harga perolehan peralatan kerja)

Perhitungan :
Harga perolehan peralatan kerja penilaian kembali= Rp. 6.000.000,00
- Harga perolehan peralatan kerj a sebelum penilaian
kembali = Rp. 3.000.000,00
Kenaikan harga perolehan peralatan kerja = Rp. 3.000.000,00
1. 96 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

- Akumulasi depresiasi setelah ada penilaian kembali


(Rp6.000.000 x 3/8 tahun) = Rp. 2.250.000,00
- Akumulasi depresiasi setelah ada koreksi,
sebelum penilaian kembali = Rp. 1.125.000,00
- Kenaikan akumulasi depresiasi karena ada
penilaian kembali = Rp. 1.875.000,00
Hal yang perlu Anda perhatikan dari contoh di atas bahwa perusahaan
perlu mengadakan koreksi terhadap rekening akumulasi depresiasi terlebih
dahulu sebelum ia mencatat kenaikan harga perolehan aktiva tetap akibat
penilaian kembali. Koreksi terhadap rekening akumulasi depresiasi tersebut
berkenaan dengan adanya kesalahan penaksiran terhadap nilai residu dan
umur ekonomis. Dengan demikian, apabila kesalahan dilakukan oleh
perusahaan maka perusahaan tidak perlu melakukan koreksi terhadap
rekening akumulasi depresiasi terlebih dahulu. Artinya, atas penilaian
kembali aktiva tetap perusahaan langsung melakukan pencatatan terhadap
kenaikan harga perolehan.

E. PENILAIAN KEMBALI YANG MENGAKIBATKAN


PENURUNAN ATAS HARGAPEROLEHAN AKTIVA TETAP

Penilaian kembali terhadap aktiva tetap berwujud bisa pula


mengakibatkan terjadinya penurunan harga perolehan aktiva tetap. Hal ini
terjadi apabila perekonomian mengalami deflasi yang cukup berarti. Dalam
keadaan seperti itu, harga-harga barang mengalami penurunan yang cukup
besar. Sebuah akti va tetap yang dibeli pada saat harga barang tinggi
menjadikan harga perolehannya untuk tahun-tahun mendatang terlalu tinggi
dari nilai yang sebenarnya. Untuk menjadikan harga perolehan beserta
pengakuan biaya depresiasi akti va tetap tersebut mempunyai nilai yang bisa
mewakili keadaan yang sebenarnya, perlu dilakukan penilaian kembali.
Tidak seperti penilaian kembali yang mengakibatkan kenaikan harga
perolehan, penilaian kembali aktiva tetap yang mengakibatkan penurunan
harga perolehan tidak menimbulkan rekening baru. Penurunan harga
perolehan yang terjadi dicatat langsung mengurangi harga perolehan aktiva
tetap yang bersangkutan, dan sebagai imbangannya diakui adanya kerugian
dari penurunan nilai aktiva tetap tersebut. Untuk lebih jelasnya, mari kita
langsung ke contoh soal.
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 97

Contoh 1.23. Penilaian Kembali Aktiva Tetap Berwujud yang


Mempunyai Umur Ekonomis tidak Terbatas

Dengan mengambil data pada Contoh 1.21. diketahui bahwa penilaian


kembali terhadap tanah PT Sherley menghasilkan harga perolehan tanah yang
baru menjadi sebesar Rp8.000.000,00. Terhadap transaksi penilaian kembali
tanah tersebut, perusahaan melakukan pencatatan sebagai berikut.
Rugi Penilaian Kembali Tanah
(Laba Yang Ditahan) ............ Rp2.000.000,00
Tanah ........ .. ...... ...... ...... ...... .... Rp2.000.000,00
(mencatat penurunan nilai perolehan tanah akibat penilaian kembali)

Contoh 1.24. Penilaian Kembali Aktiva Tetap Berwujud yang


Mempunyai Umur Ekonomis Terbatas

Diketahui dari Contoh 1.22. bahwa dengan dilakukannya penilaian


kembali terhadap peralatan kerja menghasilkan harga perolehan yang baru
sebesar Rp2.000.000,00. Adanya penurunan harga perolehan peralatan kerja
tersebut PT Sherley melakukan pencatatan sebagai berikut.

Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja ..................... Rp. 750.000,00


Rugi Penilaian Kembali Peralatan Kerj a
(Lab a Yang Ditahan) ................................................ Rp. 250.000,00
Peralatan Kerja ..................................................................... Rp. 1.000.000,00
(mencatat penurunan nilai perolehan peralatan kerja karena penilaian kembali)
Perhitungan :
- Harga Perolehan Peralatan Kerja, sebelum penilaian kembali= Rp. 3.000.000,00
- Harga Perolehan Peralatan Kerja, setelah penilaian kembali = Rp. 2.000.000,00
- Penurunan harga perolehan, karena penilaian kembali = Rp. 1.000.000,00

- Akumulasi depresiasi, sebelum penilaian kembali = Rp.1.500.000,00


- Akumulasi depresiasi, setelah penilaian kembali = Rp. 750.000,00
- Penurunan akumulasi depresiasi, karena adanya
penilaian kembali = Rp. 750.000,00

Anda perlu memperhatikan di sini bahwa untuk penilaian kembali yang


menyebabkan penurunan harga perolehan aktiva tetap tidak perlu dilakukan
koreksi terhadap pengakuan biaya depresiasi pada tahun-tahun sebelumnya
1. 98 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

walaupun ketika dilakukannya penilaian kembali tersebut juga dilakukan


revisi terhadap umur ekonomis aktiva tetap yang bersangkutan.

F. DEPRESIASI TERHADAP AKTIVA TETAP BERWUJUD YANG


TELAH DILAKUKAN PENILAIAN KEMBALI

Di dalam melakukan depresiasi terhadap aktiva tetap yang telah dinilai


kembali kita harus menggunakan dasar harga perolehan yang baru dari aktiva
tetap yang telah dinilai kembali tersebut. Terhadap penilaian kembali yang
mengakibatkan kenaikan harga perolehan, depresiasi aktiva tetap selama sisa
umur ekonomis setelah dilakukan penilaian kembali diakumulasikan ke
dalam dua rekening akumulasi depresiasi yang ada, yaitu rekening
Akumulasi Depresiasi Aktiva Tetap yang bersangkutan dan rekening
Akumulasi Depresiasi Penilaian Kembali yang muncul berkenaan dengan
penilaian kernbali akti va tetap tersebut. Depresiasi akti va tetap yang telah
dinilai kembali yang diakumulasikan ke rekening Akumulasi Depresiasi
Penilaian Kembali merupakan amortisasi tiap periode terhadap Modal
Penilaian Kembali selama sisa umur ekonomis aktiva tetap tersebut. Mari
ikuti contoh berikut.

Contoh 1.25. Depresiasi Aktiva Tetap yang Telah Dilakukan Penilaian


Kembali dengan Harga Perolehan yang Naik

Dengan mengambil data dari Contoh 1.22. maka selama sisa umur
ekonomis kendaraan yaitu 6 tahun dan sisa umur ekonomis peralatan kerja,
yaitu 5 tahun, untuk tiap tahunnya dengan metode garis lurus PT Sherley
mencatat biaya depresiasi dan amortisasi Modal Penilaian Kembali sebagai
berikut.
Biaya Depresiasi Kendaraan ........... Rp437 .500,00
Akumulasi Depresiasi Kendaraan ....... Rp437.500,00
(mencatat pengakuan biaya depresiasi kendaraan untuk satu tahun)

Perhitungan:
- Biaya Depresiasi Kendaraan per tahun setelah ada koreksi nilai residu
= (Rp4.000.000,00 - Rp500.000,00) : 8 tahun = Rp437 .500,00
e EKMA431 3/MODUL 1 1. 99

Modal Penilaian Kembali Kendaraan .... Rp250.000,00


Akumulasi Depresiasi Kendaraan
Penilaian Kembali ........................ . Rp250.000,00
(mencatat Amortisasi Modal Penilaian Kembali Kendaraan selama
sisa umur ekonomisnya yaitu 6 tahun)

Perhitungan :
Amortisasi Modal Penilaian Kembali Kendaraan Per Tahun
= Rp. 1.500.000,00 : 6 tahun = Rp. 250.000,00

Biaya Depresiasi Peralatan Kerja ................ Rp. 375.000,00


Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja
Penilaian Kembali ................................................... Rp. 375.000,00
(mencatat pengakuan biaya depresiasi peralatan kerja untuk satu tahun)

Perhitungan:
Biaya Depresiasi Peralatan Kerja per tahun setelah ada koreksi umur
ekonomis = Rp. 3.000.000,00 : 8 tahun = Rp. 375.000,00

Modal Penilaian Kembali Peralatan Kerja .......... Rp. 375.000,00


Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja
Penilaian Kembali ................................................... Rp. 375.000,00
(mencatat Amortisasi Modal Penilaian Kembali Peralatan Kerja selama sisa
umur ekonomisnya yaitu 5 tahun)

Perhitungan :
- Amortisasi Modal Penilaian Kembali Peralatan Kerja Per Tahun
= Rp. 1.875.000,00 : 5 tahun = Rp. 375.000,00

Contoh 1.26. Depresiasi Aktiva Tetap yang Telah Dilakukan Penilaian


Kembali dengan Harga Perolehan yang Telah Turon

Dengan mengambil informasi dari contoh 4.4. maka selama sisa umur
ekonomis peralatan kerja yang 5 tahun, PT Sherley mencatat pengakuan
biaya depresiasi peralatan kerja untuk tiap tahunnya sebagai berikut.
1.100 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Biaya Depresiasi Peralatan Kerja ....... Rp250.000,00


Akumulasi Depresiasi Peralatan Kerja ................... Rp250.000,00
(mencatat pengakuan biaya depresiasi peralatan kerja per tahun)

Perhitungan:

Biaya depresiasi peralatan kerja per tahun selama s1sa umur
ekonomisnya
= Rp2.000.000,00 : 8 tahun = Rp250.000,00

G. PENJUALAN AKTIVA TETAP YANG TELAH DILAKUKAN


PENILAIAN KEMBALI

Seperti halnya dengan penjualan aktiva tetap yang tidak dilakukan


penilaian kembali, penjualan aktiva tetap yang telah dinilai kembali juga
mengakui adanya Laba/Rugi penjualan. Laba atau rugi ditentukan dengan
membandingkan antara harga jualnya dengan nilai buku aktiva tetap yang
dijual berdasarkan harga perolehan yang lama. Rekening Modal Penilaian
Kembali ditutup ke rekening Aktiva Tetap Penilaian Kembali sebagai
realisasi pengakuan adanya laba dari kenaikan harga perolehan. Tentu saja ini
hanya berlaku bagi penilaian kembali yang mengakibatkan naiknya harga
perolehan serta dari penjualan aktiva tetap yang menghasilkan laba, yaitu
harga jualnya lebih dari nilai buku berdasarkan harga perolehan yang lama.

Contoh 1.27. Penjualan Aktiva Tetap dengan Umur Ekonomis Tak


Terbatas setelah Dilakukan Penilaian Kembali

Apabila tanah pada Contoh 1.21 laku dijual Rp37.000.000,00 maka PT


Sherley melakukan pencatatan terhadap transaksi penjualan tanah tersebut
sebagai berikut.

Kas ................................................. Rp37 .000.000,00


Modal Penilaian Kembali Tanah ..... Rp25 .000.000,00
Tanah .............................................. Rp 10. 000.000,00
Tanah-Penilaian Kembali ............... Rp25.000.000,00
Laba Penjualan Tanah .................... Rp27.000.000,00
(mencatat penjualan tanah)
e EKMA431 3/MODUL 1 1.101

Perhitungan :
Harga Jual Tanah : Rp37 .000.000,00
- Harga Perolehan Tanah : (Rp10.000.000,00)
- Laba Penjualan Tanah : Rp27 .000.000,00

Dari jurnal di atas Anda dapat mengetahui bahwa laba yang diakui dari
penjualan tanah adalah selisih lebih antara harga jual dengan harga perolehan
tanah yang lama. Rekening Tanah Penilaian Kembali ditutup ke rekening
Modal Penilaian Kembali Tanah sebagai realisasi pengakuan laba dari
penjualan tanah yang dulunya ditunda.

Contoh 1.28. Penjualan Aktiva Tetap dengan Umur Ekonomis Terbatas


setelah Dilakukan Penilaian Kembali

Apabila kendaraan pada Contoh 1.22. dijual pada awal tahun ke-5 masa
pemakaiannya dengan harga jual Rp3.250.000,00 maka atas penjualan
tersebut PT Sherley melakukan pencatatan sebagai berikut.

Kas . .. .. .. .. ... .. .. ... .. ... .. . .... .. .. ... .. ... .. .. .. ... .. ... .. .. ... R p. 3 .2 50. 000,00
Akumulasi Depresiasi Kendaraan ................. Rp. 1.750.000,00
Kendaraan ................................................................ Rp. 4.000.000,00
Lab a Penjualan Kendaraan ...................................... Rp. 1.000.000,00
(mencatat penjualan kendaraan)
Perhitungan:
- Harga Perolehan Kendaraan (Lama) = Rp. 4.000.000,00
- Akumulasi Depresiasi Kendaraan pada awal tahun ke-5
= (Rp. 4.000.000,00- Rp. 500.000,00) x 4/8 tahun = Rp. 1.750.000,00
- Nilai Buku Kendaraan pada awal tahun ke-5 = Rp. 2.250.000,00
Hargajual kendaraan = Rp. 3.250.000,00
Laba Penjualan Kendaraan = Rp. 1.000.000,00
Akumulasi Depresiasi Kendaraan
Penilaian Kembali .......................................... Rp. 1.000.000,00
Modal Penilaian Kembali Kendaraan ............ Rp. 1.000.000,00
Kendaraan Penilaian Kembali ................................. Rp. 2.000.000,00
(menutup rekening-rekening yang berkaitan dengan penilaian kembali
kendaraan)
1.102 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Perhitungan :
Kenaikan harga perolehan kendaraan = Rp. 2.000.000,00
- Saldo Akumulasi Depresiasi Kendaraan Penilaian Kembali
pada awal tahun ke-5 = Rp. 2.000.000,00 x 4/8 tahun= Rp. 1.000.000,00
Saldo Modal Penilaian Kembali Kendaraan yang belum
diamortisasi sampai awal tahun ke-5 = Rp. 1.000.000,00

Contoh 1.28. di atas, memperlihatkan kepada Anda bahwa berkenaan


dengan penjualan aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali, semua
rekening yang berkaitan dengan akti va tetap terse but harus dihapuskan.
Selain itu, Anda juga dapat mengetahui bahwa labalrugi penjualan aktiva
tetap yang telah dilakukan penilaian kembali dihitung dari nilai buku aktiva
tetap berdasarkan harga perolehan sebelum dilakukan penilaian kembali.

.~
.- .!
- .
_ . ; .
, - .. _ ...,.,
-~
LATIHAN
--------------------

----~ ~ .

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Apakah yang dimaksud dengan revaluasi aktiva tetap?


2) Pada saat bagaimanakah aktiva tetap perlu di revaluasi?
3) Bagaimanakah pengaruh revaluasi aktiva tetap terhadap harga
perolehan?
4) Apakah Standar Akuntansi Keuangan membolehkan dilakukannya
revaluasi aktiva tetap?
5) Pada saat kondisi bagaimanakah penilaian kembali aktiva tetap
mengakibatkan penurunan terhadap harga perolehan?
6) Sebutkan 2 (dua) rekening yang muncul untuk mencatat akibat adanya
penilaian kembali yang mengakibatkan kenaikan terhadap harga
perolehan aktiva tetap!
7) Bagaimanakah cara pencatatan jurnal untuk penilaian kembali aktiva
tetap yang mengakibatkan kenaikan terhadap harga perolehan dengan
umur ekonomis tak terbatas?
8) Apa yang dapat dijadikan sebagai dasar di dalam melakukan depresiasi
terhadap Aktiva Tetap Berwujud yang telah dilakukan penilaian
kembali?
e EKMA431 3/MODUL 1 1.103

9) Bagaimana cara menentukan Laba/Rugi Penjualan terhadap aktiva yang


telah dilakukan penilaian kernbali?
10) Firma Aditya menjual kendaraan yang dimilikinya seharga
Rp4.250.000,00. Penjualan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 2002.
Neraca Perusahaan Per 31 Desember 2001 memberikan informasi
mengenai kendaraan tersebut sebagai berikut.

Aktiva Tetap Modal


Kendaraan Rp5.000.000,00 Modal Penilaian Kembali
Akumulasi Depresiasi (RQ3.000.000 00)
1 Kendaraan Rp1.200.000,00
Kendaraan Rp2.000.000,00

Kendaraan Penilaian Kembali Rp3.000.000,00


Akumulasi Depresiasi (RQ1.800.000 00)
1

Kendaraan Penilaian Kembali Rp1.200.000,00

Diminta: Buatlah jurnal untuk mencatat penjualan kendaraan tersebut!


Catatan: Perusahaan melakukan tutup buku tiap tanggal 31 Desember.

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Revaluasi atau penilaian kembali aktiva tetap adalah penyesuaian


terhadap harga perolehan aktiva tetap berwujud.
2) Aktiva tetap perlu di revaluasi pada saat adanya perubahan nilai tukar
rupiah, misalnya karena adanya devaluasi rupiah. Dengan adanya
perubahan nilai tukar rupiah, dalam hal ini devaluasi, nilai perolehan
akti va tetap yang merupakan nilai yang sebenarnya pada saat devaluasi
menjadi terlalu kecil. Sehingga biaya depresiasi yang bisa
diperhitungkan atas aktiva tetap tersebut juga menjadi terlalu kecil dari
yang semestinya. Akibatnya, laba akuntansi terhitung terlalu besar dan
pajak penghasilan yang harus ditanggung oleh badan usaha bersangkutan
menjadi terlalu besar.
3) Terdapat 2 pengaruh penilaian kembali aktiva tetap terhadap harga
perolehan, yaitu berikut ini.
a. Mengakibatkan harga perolehan aktiva tetap menjadi naik.
b. Mengakibatkan harga perolehan aktiva tetap menjadi turun.
4) Standar Akuntansi Keuangan yang menganut prinsip harga pokok
historis di dalam menilai dan mencatat aktiva, pada umumnya tidak
1.104 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

memperkenankan penilaian kembali terhadap aktiva tetap. Akan tetapi,


penyimpangan terhadap aturan tersebut bisa dilakukan apabila untuk
keperluan pajak, misalnya ada peraturan pemerintah yang memberi
kesempatan kepada badan usaha untuk melakukan penilaian kembali
aktiva tetapnya.
5) Penilaian kembali terhadap aktiva tetap berwujud bisa mengakibatkan
terjadinya penurunan harga perolehan aktiva tetap. Hal ini terjadi apabila
perekonomian mengalami deflasi yang cukup berarti. Dalam keadaan
seperti itu, harga-harga barang mengalami penurunan yang cukup besar.
Sebuah akti va tetap yang dibeli pada saat harga barang tinggi
menjadikan harga perolehannya untuk tahun-tahun mendatang terlalu
tinggi dari nilai yang sebenarnya. Untuk menjadikan harga perolehan
beserta pengakuan biaya depresiasi aktiva tetap tersebut mempunyai
nilai yang bisa mewakili keadaan yang sebenarnya, perlu dilakukan
penilaian kembali.
6) Terdapat 2 rekening yang muncul akibat adanya penilaian kembali yang
mengakibatkan kenaikan terhadap harga perolehan aktiva tetap, yaitu:
a. rekening untuk mencatat naiknya nilai aktiva tetap itu sendiri;
b. rekening untuk mencatat kenaikan nilai modal sebagai
imbangannya.
7) Jurnal yang timbul dari penilaian aktiva tetap yang mengakibatkan
kenaikan terhadap harga perolehan dengan umur ekonomis tak terbatas
adalah berikut ini.
Aktiva Tetap Penilaian Kembali .............................. XXX
Modal Penilaian Kembali - Aktiva Tetap ...................... XXX
8) Di dalam melakukan depresiasi terhadap Aktiva Tetap Berwujud
yang telah dinilai kembali, dasar yang dapat digunakan adalah harga
perolehan yang baru dari aktiva tetap yang telah dinilai kembali
tersebut.
9) Laba atau rugi penjualan aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian
kembali dapat ditentukan dengan membandingkan antara harga
jualnya dengan nilai buku aktiva tetap yang dijual berdasarkan harga
perolehan yang lama. Rekening Modal Penilaian Kembali ditutup ke
rekening Akti va Tetap Penilaian Kembali sebagai realisasi
pengakuan adanya laba dari kenaikan harga perolehan.
e EKMA431 3/MODUL 1 1.105

10) Kas ......................................................... Rp4.250.000,00


Modal Penilaian Kembali Kendaraan ..... Rp 1.200.000,00
Kendaraan .......... ... . ..... ...... .... .......................... ..Rp3. 000.000,00
Kendaraan- Penilaian Kernbali ....... ............. ....... Rp1.200.000,00
Lab a Penjualan Kendaraan ..... ............. ... ............... Rp 1.250.000,00

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Berkenaan dengan tujuan akuntansi keuangan untuk mernberikan


inforrnasi keuangan suatu badan usaha kepada pihak yang
berkepentingan maka sudah selayaknya apabila laporan keuangan yang
merupakan hasil akhir dari akuntansi keuangan menyajikan informasi
yang tidak menyesatkan pihak yang memakainya. Oleh karena itu,
apabila kondisi perekonornian kurang stabil sehingga terj adi perubahan
nilai uang yang cukup berarti, harga perolehan aktiva yang terbentuk
pada masa lalu perlu dilakukan penyesuaian nilai. Penyesuaian nilai
aktiva ini merupakan penyimpangan dari prinsip harga pokok historis
(historical cost).
Penyesuaian terhadap harga perolehan aktiva tetap berwujud biasa
disebut revaluasi atau penilaian kembali aktiva tetap. Standar Akuntansi
Keuangan yang menganut prinsip harga pokok historis di dalam menilai
dan mencatat aktiva, pada umumnya tidak mernperkenankan penilaian
kembali terhadap aktiva tetap. Akan tetapi, penyimpangan terhadap
aturan tersebut bisa dilakukan apabila untuk keperluan pajak, misalnya
ada peraturan pemerintah yang memberi kesempatan kepada badan
usaha untuk melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya.
Penilaian kembali terhadap aktiva tetap bisa mengakibatkan dua
kemungkinan bagi harga perolehannya, yaitu berikut ini.
1. Mengakibatkan kenaikan harga perolehan.
2. Menurunkan harga perolehan.

Penilaian kembali yang mengakibatkan naiknya harga perolehan di


dalam mencatatnya harus menunda laba akibat naiknya harga perolehan
sampai aktiva tetap yang bersangkutan dijual. Akan tetapi, untuk
sebaliknya, penilaian kembali aktiva tetap yang mengakibatkan turunnya
harga perolehan harus langsung diakui rugi penurunan harga perolehan
karena penilaian kembali pada saat penilaian kembali tersebut dilakukan.
Penilaian kembali terhadap aktiva tetap yang mempunyai umur
ekonornis terbatas, tidak hanya mempengaruhi besarnya harga perolehan
saj a, tetapi juga harus dilakukan penyesuaian terhadap akumulasi
depresiasinya. Penilaian kembali terhadap aktiva tetap yang mempunyai
1.106 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

umur ekonornis terbatas, dan mengakibatkan kenaikan harga perolehan


perlu dilakukan koreksi terlebih dahulu terhadap pengakuan biaya
depresiasi di tahun-tahun yang lewat, apabila dalam melakukan penilaian
kembali tersebut sekaligus dilakukan revisi terhadap umur ekonornis
ataupun nilai residu aktiva tetap yang bersangkutan. Depresiasi terhadap
akti va tetap yang telah dinilai kernbali harus didasarkan pada harga
perolehan basil penilaian kembali. Dan bagi penilaian kembali yang
membuat harga perolehan aktiva tetap naik, harus dilakukan amortisasi
terhadap kenaikan nilai buku aktiva tetap tersebut. Laba/rugi penjualan
aktiva tetap yang telah dinilai kembali diperhitungkan dari harga jualnya
beserta nilai buku aktiva tetap yang bersangkutan berdasarkan harga
perolehannya yang lama.

TES FORMATIF 4- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Apabila terj adi penurunan nilai uang maka penilaian kembali aktiva tetap
akan mengakibatkan harga perolehannya ....
A. mengalarni kenaikan
B. mengalami penurunan
C. tidak terpengaruh
D. tidak dapat ditentukan akibatnya

2) Kenaikan harga perolehan aktiva tetap karena penilaian kembali akan


dicatat ....
A. mengkredit rekening Aktiva Tetap Penilaian Kembali
B. mendebit rekening Akumulasi Penyusutan Penilaian Kembali
C. mendebit rekening Modal Penilaian Kembali
D. mendebit rekening Aktiva Tetap Penilaian Kembali

3) Apabila di dalam penilaian kembali yang mengakibatkan naiknya harga


perolehan aktiva tetap dilakukan revisi terhadap taksiran umur
ekonornisnya dan diperoleh taksiran umur ekonomis yang lebih panjang
maka akan menyebabkan ....
A. pengakuan biaya depresiasi aktiva tetap di tahun-tahun sebelumnya
terlalu besar
B. biaya depresiasi aktiva tetap di tahun-tahun sebelumnya diakui
terlalu kecil
C. tidak ada pengaruhnya terhadap biaya depresiasi di masa lalu
D. biaya depresiasi di masa yang akan datang juga akan mengalami
kesalahan
e EKMA431 3/MODUL 1 1.107

4) Sehubungan dengan pernyataan nomor 3, untuk revisi umur ekonomis


aktiva tetap akan diperlukan ....
A. tidak memerlukan perlakuan apa-apa
B. membuat jurnal dengan mendebit rekening Akumulasi Depresiasi
Aktiva Tetap
C. membuat jurnal dengan mendebit rekening Koreksi Laba Tahun-
tahun Lalu
D. membuat jurnal dengan mengkredit rekening Akumulasi Depresiasi

5) Apabila di dalam penilaian kembali yang mengakibatkan penurunan


harga perolehan akti va tetap dilakukan revisi terhadap umur
ekonomisnya dan diperoleh taksiran umur ekonomis yang lebih pendek.
Sehubungan dengan hal ini akan dilakukan koreksi dengan menjurnal. ...
A. mendebit rekening Akumulasi Depresiasi
B. mendebit rekening Koreksi Laba Tahun-tahun Lalu
C. mengkredit rekening Koreksi Laba Tahun-tahun Lalu
D. tidak membuat jurnal koreksi

6) CV Lydia melakukan penilaian kembali terhadap tanah miliknya. Harga


perolehan tanah semula Rp7 .500.000,00. Penilaian kembali
menghasilkan harga perolehan tanah menjadi Rp12.500.000,00.
Terhadap penilaian kembali tanah tersebut akan dilakukan pencatatan ....
A. mengkredit rekening Tanah sebesar Rp5.000.000,00
B. mendebit rekening Tanah sebesar Rp5.000.000,00
C. mendebit rekening Tanah Penilaian Kembali sebesar
Rp5 .000.000,00
D. mendebit rekening Modal Penilaian Kembali Tanah sebesar
Rp5 .000.000,00

7) Apabila tanah pada soal no. 6 tiga tahun kemudian dijual dengan harga
jual Rp11.000.000,00 maka akan diakui ....
A. laba Rp3.500.000,00
B. rugi Rp3.500.000,00
C. lab a Rp 1.500.000,00
D. rugi Rp1.500.000,00

8) Pada tanggal 1 Mei 1999 PT Dimas melakukan penilaian kembali


terhadap kendaraan miliknya. N eraca per 31 Desember 1999
menunjukkan bahwa kendaraan tersebut mempunyai nilai buku
Rp11.400.000,00 (harga perolehan Rp15.000.000,00 dan akumulasi
depresiasi Rp3.600.000,00). Kendaraan tersebut diperkirakan akan dapat
digunakan selama 10 tahun dari saat membelinya. Pada akhir tahun ke-
1.108 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

10 diperkirakan akan bisa dijual dengan harga Rp3.000.000,00. Metode


depresiasi yang digunakan adalah Garis Lurus. Penilaian kembali
tersebut menghasilkan harga perolehan kendaraan (dalam kondisi baru)
menjadi Rp21.000.000,00. Penilaian kembali ini tidak mengubah
taksiran umur ekonomis maupun nilai residunya. PT Dimas melakukan
tutup buku tiap tanggal 31 Desember. Berkenaan dengan penilaian
kembali kendaraan tersebut, rekening Modal Penilaian Kembali
Kendaraan akan di jurnal kredit ....
A. Rp4.200.000,00
B. Rp4.000.000,00
C. Rp6.000.000,00
D. Rp9.600.000,00

9) Sehubungan dengan soal nomor 8, rekening Kendaraan Penilaian


Kembali akan di jumal debit ....
A. Rp4.200.000,00
B. Rp4.000.000,00
C. Rp6.000.000,00
D. Rp9.600.000,00

10) Sehubungan dengan soal nomor 8, rekening Akumulasi Depresiasi


Kendaraan Penilaian Kembali akan di jurnal kredit ....
A. Rp4.000.000,00
B. Rp2.000.000,00
C. Rp4.200.000,00
D. Rp 1.800.000,00

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 4 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 4.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
e EKMA431 3/MODUL 1 1.109

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 4, terutama bagian yang
belum dikuasai.
1.110 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif 3


1) D 1) D
2) B 2) B
3) B 3) A
4) A 4) c
5) c 5) A
6) A 6) D
7) c 7) c
8) B 8) c
9) D 9) B
10) D 10) A
11) A 11) A
12) D 12) D
13) B 13) D
14) A 14) D
15) B 15) B
16) A 16) D
17) c 17) B
18) D 18) c
19) B 19) B
20) A 20) D

Tes Formatif2 Tes Formatif 4


1) B 1) A
2) D 2) D
3) c 3) A
4) D 4) B
5) A 5) B
6) B 6) c
7) B 7) A
8) c 8) B
9) c 9) c
10) A 10) B
e EKMA431 3/MODUL 1 1.111

Glosarium

Donasi/Sumbangan
Penerimaan aktiva tanpa keharusan untuk
(Donation) menyerahkan barang atau jasa sebagai
pembayaran.
Kewajiban
Kewajiban potensial yang keberadaannya tidak
Kontijensi pasti karena berg antung pad a basil dari kej adian
(Contingent di masa depan, seperti tuntutan hukum yang
Liability). belum diputuskan oleh pengadilan. Jumlah
kewajiban potensial mungkin atau tidak
mungkin ditentukan.
Nilai Buku (Book
Biaya aktiva jangka panjang yang tersisa untuk
Value). dialokasikan ke periode yang akan datang.
Dihitung sebagai harga perolehan historis
dikurangi akumulasi penyusutan.
Penyusutan
Proses pengalokasian biaya akti va tetap
(Depreciation). berwujud ke dalam beban periodik.
Periode Akuntansi
Interval waktu yang digunakan untuk pelaporan
(Accounting akuntansi; karena kebutuhan akan informasi
Periods). yang tepat waktu, hidup suatu perusahaan atau
entitas dibagi ke dalam periode akuntansi
tertentu untuk tujuan pelaporan ekstemal. Satu
tahun adalah periode pelaporan yang normal,
meskipun sebagian besar perusahaan besar di
AS juga menyediakan laporan triwulanan.
Prinsip
Suatu pandangan bahwa ketika terjadi keragu-
Konservatisme raguan mengenai dua atau lebih altematif
(Conservatism pelaporan, pemakai harus memilih alternatif
Principle). dengan dampak yang paling tidak
menguntungkan terhadap laba, aktiva dan
kewajiban dari entitas yang dilaporkan.
1.112 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Daftar Pustaka

Harnanto. (1992). Akuntansi Keuangan Intermediate. Yogyakarta: Liberty.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2002). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


No. 16. (Revisi 2002). Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. (2004). Intermediate Accounting,


Edisi 11. New York: John Wiley & Sons.
MDDUL 2

Aktiva Sumber Daya Alam dan


Aktiva Tetap Tak Berwuj ud
Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Akt.

PENDAHULUAN

ada modul sebelumnya, kita telah mempelajari aktiva tetap berwujud


~

dengan segala masalah akuntansinya. Anda tentu telah menguasai betul


materi mengenai akuntansi aktiva tetap berwujud tersebut. Pada modul ini
kita akan mempelajari lebih mendalam mengenai jenis aktiva tetap yang lain
yakni aktiva sumber alam dan aktiva tetap tak berwujud.
Aktiva sumber alam merupakan aktiva yang benar-benar berasal dari
alam. Artinya, manusia tidak bisa membuatnya, tetapi hanya bisa
mengolahnya. Aktiva ini juga disusut sebagaimana pada aktiva tetap
berwujud. Istilah penyusutan yang digunakan adalah deplesi. Kiranya kita
harus mengerti mengenai akuntansi sumber alam ini karena negara kita betul-
betul kaya dengan sumber alam. Dalam pembahasan aktiva sumber alam ini
Anda dianggap sudah mengenal istilah eksploitasi dan eksplorasi.
Aktiva tetap tak berwujud tentu sudah pernah Anda kenai pada waktu
mempelajari mata kuliah Pengantar Akuntansi. Di modul ini, Anda akan
mengenalnya lebih jauh lagi. Penyusutan atau alokasi harga perolehan untuk
aktiva tetap tak berwujud menggunakan istilah amortisasi.
Pada modul ini ada beberapa perhitungan dan istilah-istilah akuntansi,
seperti yang terdapat pada Aktiva Tetap Berwujud. Oleh sebab itu, apabila
Anda lupa, ada baiknya Anda membuka kembali modul Aktiva Tetap
Berwujud. Bukankah Anda ingat betul kata-kata bijak yaitu lancar kaji
karena diulang? Nab, jangan segan-segan membuka kembali modul terdahulu
bila Anda menemui kesulitan dalam mempelajari modul ini, terutama dengan
istilah-istilah teknis.
Setelah Anda mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat memahami
pengertian akuntansi aktiva sumber alam dan aktiva tetap tak berwujud. Anda
diharapkan pula mengetahui berbagai transaksi yang mempengaruhi aktiva
2.2 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

tetap tak berwujud, dasar penilaian, dan ketentuan penyajian dalam laporan
keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim.
Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan:
1. menjelaskan pengertian aktiva sumber alam;
2. menjelaskan arti penting deplesi terhadap aktiva sumber alam;
3. membedakan deplesi dengan depresiasi;
4. menjelaskan pengertian dasar dan kriteria aktiva tetap tak berwujud;
5. menjelaskan arti penting dari amortisasi dan atau pemberhentian aktiva
tetap tak berwujud;
6. melaksanakan praktik akuntansi aktiva sumber alam dan aktiva tetap tak
berwujud;
e EKMA431 3/MODUL 2 2.3

KEGIATAN BELAL.JAR 1

Aktiva Sumber Alam dan Deplesi

A. PENGERTIAN SUMBER ALAM

Anda sudah memahami aktiva tetap berwujud pada modul sebelumnya.


Demikian juga Anda sudah tahu persis mengapa aktiva tetap berwujud perlu
di susut dan Anda kemudian mengenal istilah depresiasi. Pada kegiatan
belajar ini Anda akan memahami satu jenis aktiva yang lain yaitu aktiva
sumber alam.
Bila Anda pernah memperhatikan atau mendengar berita tentang
kekhawatiran dunia terhadap habisnya minyak bumi, Anda mungkin berpikir
bahwa itu wajar saja. Yah, ... semua orang sadar, lambat laun minyak bumi
tersebut akan habis. Kenapa? Karena orang tidak mampu membuat minyak
sendiri. Minyak dihasilkan atau diperoleh dari perut bumi. Minyak
merupakan basil proses alam. Dengan demikian Anda juga sulit untuk bisa
membuat minyak, bahkan pengganti minyak saja sampai sekarang masih
terus dalam penelitian. J adi minyak hanya dapat dibuat oleh proses alam
(yah, ... tentu saja buatan Tuhan).
Hal serupa, juga terjadi pada batu bara, emas, intan, dan sebagainya.
Sumber alam tersebut tidak dapat diperbaharui. Anda bisa bandingkan jika
Anda punya mobil. Kalau beberapa tahun mobil Anda rusak, Anda tentu bisa
membeli lagi. Tetapi kalau batu bara misalnya, lama-kelamaan akan habis
dan tidak bisa diganti. Bayangkanlah Anda punya suatu perusahaan tambang
batu bara. Tambang tersebut pada suatu saat akan habis, dan batu bara yang
sudah habis tersebut tidak dapat diperbaharui lagi. Seperti halnya minyak,
batu bara juga terjadi dari proses alam dalam waktu yang lama sekali. Nah,
minyak, batu bara, emas, intan, dan lain-lain disebut aktiva sumber alam atau
wasting assets. Dengan demikian Anda dapat menyimpulkan bahwa wasting
assets atau aktiva sumber alam merupakan aktiva yang bersifat:
1. Semakin berkurang atau habis karena pengembangan atau pengambilan
secara langsung.
2. Penggantiannya hanya bisa terjadi melalui proses alam yang
memerlukan waktu sangat lama.
2.4 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Bila Anda telah memahami tentang pengertian aktiva sumber alam, tentu
Anda akan mempersoalkan masalah akuntansinya. Tentu saja masalah
akuntansi akan berhubungan dengan bagaimana penentuan harga
perolehannya dan bagaimana pula mengalokasikan harga perolehan tersebut.
Baiklah, persoalan tersebut akan dibicarakan pada uraian berikut ini.

B. PENENTUAN HARGA PEROLEHAN SEBAGAI DASAR


PERHITUNGAN DEPLESI

Penentuan harga perolehan suatu aktiva sumber alam pada umumnya


meliputi jangka waktu yang cukup panjang. Tidak jarang sumber alam yang
dicari tidak berhasil, padahal biaya yang dikeluarkan cukup besar. Karena
proses untuk memperoleh suatu aktiva sumber alam berbeda dengan
perolehan aktiva tetap berwujud maka elemen dari harga perolehannya pun
berbeda. Dalam usaha memperoleh aktiva sumber alam, biaya-biaya
dikelompokkan sebagai berikut.
1. Biaya perolehan pemilikanlhak penambangan atau pengambilan sumber
alam.
2. Biaya eksplorasi (pencarian).
3. Biaya pembangunan fasilitas (development costs).

Biaya perolehan dan biaya eksplorasi umumnya akan pasti terjadi


sedangkan biaya pembangunan fasilitas hanya terjadi bila suatu eksplorasi
telah berhasil.

1. Biaya Perolehan Pemilikan


Biaya perolehan pemilikan suatu aktiva sumber alam suatu perusahaan
ekstraktif tergantung dari cara perolehan aktiva sumber alam tersebut. Biaya
ini merupakan komponen harga perolehan.
Ada 2 cara perolehan, yaitu:
a. Pembelian atas dasar fee interest
Dalam cara perolehan ini di samping diperoleh hak atas aktiva sumber
alam yang ada juga hak atas tanah di mana lokasi sumber alam yang
bersangkutan terletak. Harga perolehannya meliputi harga atas hak tersebut,
komisi, biaya historis, biaya registrasi, dan lain-lain. Karena biasanya jumlah
yang dibayar mencakup hak atas tanah dan hak atas sumber alam maka harga
perolehannya pun dialokasikan.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.5

b. Hak Sewa atau Lease Hold Interest


Dalam cara perolehan ini si penyewa hanya berhak atas sumber alam
yang akan dieksplorasi. Harga perolehannya adalah semua pengeluaran atau
biaya yang terjadi untuk memperoleh hak sewa tersebut.

2. Biaya Eksplorasi
Biaya eksplorasi merupakan biaya yang cukup pelik perlakuannya,
disebabkan kegiatan eksplorasi belum tentu membawa basil atau eksplorasi
mungkin saja gagal. Bila Anda misalnya mempunyai hak menambang
minyak mentah di daerah Kalimantan Timur, tentu daerah yang luas itu Anda
lihat kemungkinan mendapat minyak tersebut. Anda melakukan eksplorasi di
Balikpapan, Samarinda, Tarakan, dan Berau. Ada kemungkinan salah satu
atau dua atau bahkan semuanya gagal alias tidak ada minyak mentahnya.
Pertanyaan yang mungkin timbul dari Anda adalah, apakah semua biaya
dikapitalisasi atau merupakan harga perolehan? Ataukah hanya biaya
eksplorasi yang sukses saja yang diperlakukan sebagai harga perolehan?
Untuk hal tersebut dikenal2 buah konsep/pendekatan, yaitu berikut ini.

a. Konsep Full Costing (a full-cost approach)


Menurut konsep atau pendekatan ini seluruh biaya yang terjadi untuk
eksplorasi dan pengembangan aktiva sumber alam merupakan beban dari
seluruh sumber yang ada. Biaya eksplorasi sumber-sumber yang tidak
menghasilkan dianggap dan dibebankan sebagai bagian dari harga perolehan
Aktiva Sumber Alam yang lain yang ditemukan.
Konsep ini berpendapat bahwa terjadinya biaya eksplorasi dan
pengembangan terhadap sumber alam tidak bisa dihindarkan oleh perusahaan
dalam setiap usaha untuk mendapatkan sumber alam tersebut. Dengan
demikian tidak ada alasan untuk menghindarkan diri dari kenyataan tentang
apakah dari kegiatan eksplorasi tersebut akan diperoleh sumber-sumber yang
produktif ataupun yang tidak produktif. Adalah sangat wajar
mengkapitalisasi biaya eksplorasi karena tanpa biaya eksplorasi tidak bisa
diharapkan adanya sumber-sumber alam tersebut baik sekarang maupun masa
yang akan datang. Konsep a full-cost menggambarkan keadaan yang
sewajarnya tentang kenyataan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan yang
bergerak dalam usaha sumber alam. Oleh karena konsep ini menganggap
bahwa seluruh biaya eksplorasi dikapitalisasikan maka perusahaan yang
menggunakan konsep ini tidak dibenarkan untuk mengakui kerugian atas
2.6 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

biaya eksplorasi suatu sumber alam yang gagal hila dari kegiatan serupa
diperoleh sumber lain yang produktif.

b. Konsep successful effort (successful efforts approach)


Menurut konsep ini, hanya biaya eksplorasi yang berhasil saja yang
dikapitalisasi dengan harga perolehan aktiva sumber alam yang
bersangkutan. Biaya eksplorasi yang tidak menghasilkan dibebankan sebagai
biaya periodik. Konsep ini mengaitkan biaya yang terjadi dengan
pendapatan-pendapatan yang akan diperoleh setepat-tepatnya dalam kegiatan
eksplorasi sumber alam. Biaya-biaya eksplorasi yang tidak menghasilkan
tidak dibenarkan untuk ditangguhkan pembebanannya. Konsep ini sifatnya
lebih konservatif daripada konsep full costing. Risiko akan adanya
kemungkinan nilai buku aktiva sumber alam yang melampaui nilai
kandungan sumber alam tersebut dapat diperkecil. Dengan konsep ini,
manajemen dapat mengikuti dan mengukur besamya prestasi untuk setiap
sumber secara individual karena konsep ini menggambarkan biaya historis
yang sesungguhnya dari masing-masing sumber alam.

3. Biaya Pembangunan Fasilitas (Development Cost)


Biaya pembangunan fasilitas atau disebut juga development cost adalah
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan dan pembuatan sarana sebelum
eksploitasi dimulai. Misalnya, biaya untuk pembuatan sumur-sumur,
terowongan, alat-alat produksi, dan lain-lain.
Biaya pembangunan fasilitas ini dibedakan atas 2 kelompok sebagai
berikut.

a. Tangible equipment cost


Termasuk dalam kelompok ini adalah berbagai mesin dan peralatan yang
diperlukan dalam mengolah sumber alam yang dimiliki sampai siap
diproduksi dan dikirim atau dijual. Dalam pengertian ini, alat perlengkapan
sama dengan aktiva tetap berwujud karena perlakuannya sama dengan aktiva
tetap berwujud. Maka, biaya-biaya ini bukan merupakan bagian dari harga
perolehan aktiva sumber alam.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.7

b. Intangible development cost


Termasuk dalam kelompok ini adalah biaya pengeboran, pembuatan
terowongan, sumur, dan sebagainya yang tidak mempunyai karakteristik atau
tidak dapat digolongkan sebagai tangible equipment cost, namun diperlukan
dalam memproses sumber alam yang dimiliki. Intangible development cost
merupakan bagian dari harga perolehan aktiva sumber alam. Oleh karenanya,
biaya ini merupakan subjek deplesi.

Dari uraian tentang penentuan harga perolehan di atas maka yang


termasuk harga perolehan aktiva sumber alam adalah berikut ini.
1. Biaya perolehan pemilikan (harga perolehan sumber mineral).
2. Biaya eksplorasi.
3. Intangible development costs.

C. PERHITUNGAN DAN PENCATATAN DEPLESI

1. Tarif Deplesi
Setelah harga perolehan untuk penentuan deplesi telah Anda ketahui
maka selanjutnya Anda dikenalkan dengan cara perhitungan dan pencatatan
deplesi. Anda tak usah khawatir, bila Anda sudah menguasai modul aktiva
tetap berwujud maka perhitungan dan pencatatan deplesi pasti akan Anda
kuasai dengan mudah.
Seperti telah Anda ketahui bahwa deplesi adalah istilah penyusutan
untuk aktiva sumber alam. Penyusutan adalah proses berkurangnya manfaat
ekonomis suatu aktiva tetap selama penggunaannya. Deplesi dapat pula
didefinisikan sebagai proses alokasi dari harga perolehan aktiva sumber alam
ke periode-periode akuntansi yang menikmati basil aktiva sumber alam
tersebut.
Sebagaimana halnya pada aktiva tetap berwujud, aktiva sumber alam
sebenarnya dapat di susut dengan metode satuan unit output yang dihasilkan.
Dengan demikian, Anda akan menghitung dulu tarif deplesi per satuan output
yang dihasilkan sebelum menghitung jumlah atau besarnya beban
penyusutan/deplesi.
2.8 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Ada tiga faktor yang menentukan besarnya tarif deplesi, yaitu berikut ini.
a. Harga perolehan aktiva sumber alam yang bersangkutan.
b. Taksiran nilai residu tanah di mana sumber itu berada, bila sumber alam
sudah habis dieksploitasi.
c. Taksiran kandungan sumber alam yang secara ekonomis dapat
dieksp1oitasi.

Bila ketiga faktor tersebut sudah ditentukan maka tarif deplesi dihitung
dengan rumus berikut.
Harga Perolehan - Taksiran Nilai Residu
Tarif deplesi/satuan output=
Taksiran kandungan

Besamya biaya deplesi untuk satu periode akuntansi tertentu dihitung dengan rumus:

Tarif deplesi/satuan output x kandungan sumber alam yang dieksploitasi


untuk periode yang bersangkutan

Tarif deplesi dapat diterapkan pada total harga perolehan aktiva sumber
alam dan dapat pula diterapkan pada masing-masing komponen harga
perolehan, yakni biaya perolehan pemilikan, biaya eksplorasi, dan intangible
development costs. Untuk lebih jelasnya, Anda ikuti uraian berikut ini.

a. Perhitungan deplesi dengan tariftunggal


Pada cara ini tarif deplesi hanya ada satu, yakni tarif yang dihasilkan dari
basil bagi seluruh harga perolehan aktiva sumber alam (biaya perolehan
pemilikan, biaya eksplorasi, dan intangible development costs) dengan
taksiran kandungan aktiva sumber alam yang bersangkutan.

Contoh 2.1.
PT Tambang Jaya mendapat hak eksplorasi minyak bumi seluas 100 ha
di daerah Kalimantan Timur. Hak eksplorasi diperoleh dengan biaya
seluruhnya sebesar Rp55 .000.000,00. Biaya yang telah dikeluarkan untuk
eksplorasi adalah sebesar Rp 100.000.000,00. Intangible development costs
yang terjadi untuk eksplorasi sampai siap dieksploitasi adalah sebesar
Rp850.000.000,00. Tanah bekas eksploitasi bila tambang telah habis
diperkirakan bernilai Rp5.000.000,00. Kandungan minyak mentah
diperkirakan sebanyak 1.000.000 barel. Minyak ditaksir akan ditambang
selama 5 tahun dengan rencana tahun I ditambang 10% adalah berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.9

.f b 55 juta + 100 juta + 850 juta- 5 juta


T an per arre1=
1.000.000

_ Rp1.000.000.000,00 =R 1.000 OO
- 1.000.000 p '

Tarif tunggal ini biasanya diterapkan bila biaya perolehan pemilikan


jumlahnya relatif kecil.

b. Tarif deplesi yang berbeda-beda untuk setiap komponen harga


perolehan aktiva sumber a/am
Ada kalanya suatu aktiva sumber alam yang ditaksir mengandung
sebesar "X" unit, misalnya 10.000 juta barrel, belum dikembangkan atau
disiapkan fasilitasnya secara keseluruhan. Sebagai contoh, dari 10.000 juta
barel minyak mentah yang terkandung baru dikembangkan untuk
dieksploitasi 75%-nya karena pengembangan sumber alam tersebut baru
mencapai 75%. Maka, intangible development costs yang telah dikeluarkan
oleh perusahaan untuk eksploitasi juga sampai dengan 75% kandungan
(7 .500 juta barel). Oleh sebab itu, deplesi terhadap harga perolehan aktiva
sumber alam mempunyai lebih dari satu tarif yakni tarif deplesi untuk biaya
perolehan pemilikan dan biaya eksploitasi untuk intangible development
costs.
Mari ikuti contoh berikut ini.

Contoh 2.2.
PT Tambang Emas memperoleh sebidang tanah pertambangan emas
dengan biaya perolehan Rp3.000.000.000,00 yang diperkirakan mempunyai
kandungan emas sebanyak 300 kg emas. Nilai tanah bila tambang habis
dieksploitasi ditaksir Rp300.000.000,00. Untuk tahap pertama telah disiapkan
untuk ditambang 80% dari kandungan yang diperkirakan. Intangible
development costs yang dikeluarkan Rp 1.200.000.000,00. Penambangan
tahap pertama akan memakan waktu 3 tahun atau 3 periode akuntansi. Tahun
pertama ditambang sebanyak 100 kg emas. Dari data tersebut berapakah
deplesi untuk tahun pertama penambangan?
Terlebih dahulu dihitung tarif deplesi, yakni untuk tarif per kilogram
biaya perolehan dan per kilogram intangible development costs.
2.10 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

T an.f kilogram, b.taya pero Ieh an -_ Rp3.000.000,00- Rp300.000.000,00 x R p l ,OO -_ Rp 9 .OOO .OOO ,OO
300kg
2 0
Tarifkilogram, biaya perolehan = Rp1. 00.000,00- xRpl,OO = Rp 5.000.000,00
80% X 300 kg
Deplesi tahun pertama =100 kg x (Rp 9.000.000,00 + Rp5.000.000,00) = Rp 1.400.000.000,00

2. Pencatatan Deplesi
Setelah Anda dapat menentukan tarif deplesi maka Anda tentu akan
dapat menentukan beban deplesi tiap periode akuntansi. Beban deplesi akan
dicatat umumnya pada akhir periode. Pencatatan deplesi ini adalah untuk
mempertemukan (matching) antara biaya (cost) dengan penghasilan
(revenue) yang setepat mungkin.
Dengan menggunakan Contoh 2.2. maka pencatatan atau jurnal yang
dilakukan adalah berikut ini.
Biaya Deplesi Sumber Alam ...................... Rp 1.400.000.000,00
Akumulasi Deplesi Sumber Alam ............. Rp1.400.000.000,00
(mencatat deplesi sumber alam)

D. PERUBAHAN TARIF DEPLESI

Anda sudah mengetahui dan dapat menghitung tarif deplesi. Tarif


deplesi dipengaruhi 3 faktor, seperti yang sudah Anda ketahui. Persoalannya
sekarang bahwa di antara ketiga faktor tersebut, dua faktor mengandung
unsur taksiran. Sesuatu yang ditaksir, betapa pun hebatnya si tukang taksir,
selalu ada risiko salah dalam penaksirannya. Dengan demikian, ada
kemungkinan salah taksir dalam penentuan besarnya jumlah kandungan
sumber alam dan nilai residu aktiva sumber alam tersebut. Kesalahan taksiran
nilai residu relatif lebih kecil dibanding kesalahan taksiran jumlah kandungan
sumber alam. Oleh sebab itu, penekanan selanjutnya hanya pada kesalahan
taksiran kandungan sumber alam saja.
Kesalahan taksiran kandungan bila terjadi akan berakibat kesalahan
dalam penentuan tarif deplesi. Kesalahan tersebut bisa berakibat tarif lebih
besar, bisa pula lebih kecil. Dengan kata lain, kesalahan yang terjadi
berakibat terj adinya perubahan tarif deplesi sehingga perhitungan tarif
deplesi dan bahkan deplesi perlu direvisi.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.11

Dalam hubungannya dengan perubahan tarif deplesi, ada 2 alternatif


perlakuan, yaitu berikut ini.
1. Revisi hanya diperlakukan untuk periode yang akan datang
2. Revisi diperlakukan sejak permulaan atau berlaku surut

Untuk lebih jelasnya ikuti contoh berikut ini.


Contoh 2.3.
Dari Contoh 2.2. misalnya pada permulaan tahun kedua diketahui bahwa
setelah tahun pertama ditambang 100 kg emas, diperkirakan sisanya masih
350 kg. Pada tahun kedua ditambang 150 kg emas. Dari persoalan tersebut
jika revisi hanya untuk periode yang akan datang (mulai tahun kedua) maka
tarif deplesi untuk biaya perolehan/pemilikan adalah:

(Rp3.000.000.000,00) - Rp 1.400.000.000,00- Rp300.000.000,00 x Rp 1,00


350kg
= Rp3. 714.286,00/kg.
Sehingga pada tahun kedua, beban deplesi adalah:

150 X Rp3.714.286,00 = Rp557.142.900,00

Bila revisi berlaku surut sejak awal tahun pertama, maka tarif deplesi
untuk biaya perolehan/pemilikan adalah:

(Rp3.000.000.000,00- Rp300.000.000,00) = Rp6.000.000,00/kg


(100 + 350) kg

Dengan demikian beban deplesi untuk tahun:


Pertama = 100 x Rp6.000.000,00 = Rp600.000.000,00
- Kedua = 150 x Rp6.000.000,00 = Rp900.000.000,00

Untuk tahun pertama, berarti beban deplesi biaya pemilikan terlalu


besar Rp300.000.000,00 yakni berasal dari (Rp900.000.000,00 - Rp
600.000.000,00). Jurnal yang dibuat pada akhir tahun kedua, khusus untuk
deplesi biaya pemilikan adalah:
2.12 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Akumulasi deplesi .............................. Rp300.000.000,00


Koreksi laha tahun lalu ............................... Rp300.000.000,00
(mencatat koreksi tahun lalu/tahun pertama)
Deplesi ... ........ .. ....... .... .. ... ... ........ .. ... Rp900.000.000,00
Akumulasi deplesi ....... . ........ . ...... . .. ..... ...... Rp900.000.000,00
(mencatat deplesi tahun sekarang/tahun kedua)

E. DEPLESI DAN DEPRESIASI

Sehelum Anda mengakhiri kegiatan helajar ini, Anda mungkin ingin


lehih mengetahui perhedaan deplesi dan depresiasi. W alaupun keduanya
merupakan alokasi dari harga perolehan, namun terdapat perhedaan antara
keduanya, yaitu herikut ini.
1. Deplesi merupakan perwujudan herkurangnya kuantitas kandungan
aktiva sumher alam, sedang depresiasi merupakan pengakuan atas
herkurangnya manfaat potensial dari aktiva tetap.
2. Deplesi diakui sehagai harga pokok hahan yang secara langsung akan
memhentuk produk jadi pada industri pengolahan sumher alam,
sedangkan depresiasi merupakan alokasi harga perolehan aktiva tetap
yang dialokasikan ke produk jadi dengan tiadanya hagian aktiva tetap
(secara fisik) yang memhentuk produkjadi tersehut.
3. Deplesi digunakan untuk aktiva sumher alam yang tidak dapat diganti
hila ia hahis, sedang depresiasi menyangkut aktiva tetap yang pada
umumnya dapat diganti hila hahis umur pemakaiannya.

~,.. 3
1 '
. ~
'4
-
---
~
LATIHAN
-----------------------------------------
.~ - ~

-- -- -..-.;;

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Coba Anda jelaskan, apa yang dimaksud dengan aktiva sumber alam!
2) Jelaskan perbedaan antara cara perolehan aktiva tetap berwujud dengan
aktiva sumber alam!
3) Sebutkan danjelaskan 2 cara perolehan aktiva sumber alam!
4) Apa yang dimaksud dengan Biaya Pembangunan Fasilitas (Development
Cost)?
e EKMA431 3/MODUL 2 2.13

5) Apa saja yang termasuk komponen barga peroleban Aktiva Sumber


Alam?
6) Apa yang dimaksud dengan Deplesi!
7) Sebutkan faktor-faktor yang menentukan besarnya tarif deplesi!
8) Bagaimana perlakuan hila terjadi perubaban tarif deplesi?
9) Sebutkan perbedaan antara Deplesi dengan Depresi!
10) PT Tambang Makmur mempunyai sebidang tanab pertambangan batu
bara dengan biaya pemilikan Rp6.000.000.000,00 yang diperkirakan
akan mengbasilkan batu bara 12.000 ton. Perusabaan merencanakan
untuk menambang dalam 4 tabap, tiap tabap adalab 3 tabun. Tabap
pertama akan ditambang 3.000 ton. Intangible development costs untuk
tabap pertama adalab Rp960.000.000,00. Tabun pertama ditambang 500
ton, tabun kedua 1.000 ton, dan tabun ketiga 1.500 ton.
Hitunglab:
a. Tarif deplesi untuk biaya pemilikan jika ditaksir nilai residu tanab
tambang adalab Rp240.000.000,00.
b. Bebanlbiaya deplesi untuk tabun pertama.
c. Jika pada akhir tabun kedua taksiran kandungan ternyata
diperkirakan masib mengandung 13.900 ton maka buatlab jurnal
untuk mencatat deplesi pada akhir tabun kedua!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Aktiva sumber alam (wasting assets) adalab aktiva yang berasal dari
alam yang berkurang atau babis karena pengembangan atau pengambilan
secara langsung dan penggantiannya banya bisa terjadi melalui proses
alam yang memerlukan waktu yang sangat lama.
2) Perbedaan antara cara peroleban Aktiva Tetap Berwujud dengan Aktiva
Sumber Alam adalab berikut ini.
Pada Aktiva Tetap Berwujud terdapat beberapa cara peroleban, yaitu
berikut ini.
a. Aktiva Tetap Berwujud diperoleb dari pembelian.
b. Aktiva Tetap Berwujud diperoleb dari membuat sendiri.
c. Aktiva Tetap Berwujud diperoleb dari basil pertukaran dengan
Aktiva Tetap Berwujud milik perusabaan.
d. Aktiva Tetap Berwujud diperoleb dari basil pertukaran dengan Surat
Berbarga perusabaan.
2.14 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

e. Aktiva Tetap Berwujud diperoleb dari pemberian pibak lain atau


dari basil temuan.
Sedangkan pada Aktiva Sumber Alam, cara perolebannya melalui 2 cara,
yaitu berikut ini.
a. Pembelian atas dasar fee interest.
b. Hak sewa (leasehold interest).
3) a. Pembelian atas dasar fee interest. Dalam cara peroleban ini di
samping diperoleb bak atas aktiva sumber alam yang ada juga bak
atas tanab di mana lokasi sumber alam yang bersangkutan terletak.
Harga perolebannya meliputi barga atas bak tersebut, komisi, biaya
bistoris, biaya registrasi, dan lain-lain.
b. Hak sewa (leasehold interest). Dalam cara peroleban ini si penyewa
banya berbak atas sumber alam yang akan dieksplorasi. Harga
perolebannya adalab semua pengeluaran atau biaya yang terjadi
untuk memperoleb bak sewa tersebut.
4) Yang dimaksud dengan Biaya Pembangunan Fasilitas (Development
Cost) adalab biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan dan
pembuatan sarana sebelum eksploitasi dimulai.
5) Yang termasuk barga peroleban aktiva sumber alam adalab berikut ini.
a. Biaya peroleban pemilikan (barga peroleban sumber mineral)
b. Biaya eksplorasi
c. Intangible development costs
6) Deplesi merupakan proses alokasi dari barga peroleban aktiva sumber
alam ke periode-periode akuntansi yang menikmati basil aktiva sumber
alam tersebut.
7) Ada tiga faktor yang menentukan besarnya tarif deplesi, yaitu berikut ini.
a. Harga peroleban aktiva sumber alam yang bersangkutan.
b. Taksiran nilai residu tanab di mana sumber itu berada, hila sumber
alam sudab babis dieksploitasi.
c. Taksiran kandungan sumber alam yang secara ekonomis dapat
dieksploitasi.
8) Dalam bubungannya dengan perubaban tarif deplesi, ada 2 alternatif
perlakuan, yaitu berikut ini.
a. Revisi banya diperlakukan untuk periode yang akan datang.
b. Revisi diperlakukan sejak permulaan atau berlaku surut.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.15

9) Terdapat beberapa perbedaan antara Deplesi dengan Depresi, yaitu


berikut ini.
a. Deplesi merupakan perwujudan berkurangnya kuantitas kandungan
aktiva sumber alam, sedang depresiasi merupakan pengakuan atas
berkurangnya manfaat potensial dari aktiva tetap.
b. Deplesi diakui sebagai harga pokok bahan yang secara langsung
akan membentuk produk jadi pada industri pengolahan sumber
alam, sedangkan depresiasi merupakan alokasi harga perolehan
aktiva tetap yang dialokasikan ke produk jadi dengan tiadanya
bagian aktiva tetap (secara fisik) yang membentuk produk jadi
tersebut.
c. Deplesi digunakan untuk aktiva sumber alam yang tidak dapat
diganti bila ia habis, sedang depresiasi menyangkut aktiva tetap
yang pada umumnya dapat diganti bila habis umur pemakaiannya.

10)
.f T b' l h Rp6.000.000,00- Rp240.000.000,00 R l OO
T an per on, 1aya pero e an = x p ,
a. 12.000 Ton
= Rp480.000,00
96
Tarif per Ton, Intangible D.C. = Rp 000.000,00- O x Rpl,OO = Rp320.000,00
3.000 Ton

b. Deplesi tahun pertama = 500 Ton x (Rp480.000,00 + Rp320.000,00)


= Rp400.000.000,00

c. Tarif deplesi untuk biaya perolehan/pemilikan adalah:


(Rp6.000.000.000,00- Rp240.000.000,00) = Rp400.000,00/ Ton
(500 + 13.900) Ton
Dengan demikian beban deplesi untuk tahun:
Pertama = 500 x Rp400.000,00 = Rp200.000.000,00
- Kedua = 1.000 x Rp400.000,00 = Rp400.000.000,00

Deplesi ........................................... Rp400.000.000,00


Akumulasi deplesi ................................... Rp. 400.000.000,00
(mencatat deplesi tahun sekarang/tahun kedua)
2.16 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

RANGKUMAN

Aktiva sumber alam (wasting assets) adalah aktiva yang berasal dari
alam yang berkurang atau habis karena penambangan atau pengambilan
dan penggantiannya hanya dapat dilakukan oleh proses alam yang
memerlukan waktu yang sangat lama. Contoh aktiva sumber alam adalah
minyak bumi, emas, batu bara, dan lain-lain. Alokasi harga perolehan
aktiva sumber alam disebut deplesi.
Elemen harga perolehan dari aktiva sumber alam ini terdiri atas
biaya pemilikan (perolehan), biaya eksplorasi, dan intangible
development costs. Ketiga elemen ini dapat berdiri sendiri-sendiri, dalam
arti deplesi dapat dilakukan per elemen harga perolehan tersebut.
Cara perolehan aktiva sumber alam adalah dengan pembelian atas
dasar fee interest dan dengan hak sewa (leasehold interest). Untuk biaya
eksplorasi, perlakuannya dapat menggunakan konsep full costing dan
konsep successful effort.
Alokasi harga perolehan (deplesi) aktiva sumber alam umumnya
didasarkan pada unit output. Dengan demikian, dapat dihitung tarif
deplesi per unit output. Tarif deplesi dapat dibagi 2, yakni tarif tunggal
dan tarif berbeda-beda untuk setiap elemen harga perolehan. Tarif
tunggal biasanya diterapkan bila biaya perolehan pemilikan relatif kecil.
Tarif sangat mungkin berubah (direvisi) karena perubahan taksiran
kandungan. Oleh karenanya, dapat terjadi penyesuaian terhadap biaya
deplesi.
Pencatatan deplesi adalah dengan mendebit biaya deplesi dan
mengkredit akumulasi deplesi. Deplesi tidak persis sama dengan
depresiasi walaupun keduanya merupakan alokasi harga perolehan. Ada
perbedaan antara pengertian deplesi dengan pengertian depresiasi.
Deplesi merupakan perwujudan berkurangnya kuantitas kandungan
sumber alam. Biaya deplesi membentuk harga pokok produk jadi dan
yang jelas istilah deplesi digunakan untuk alokasi harga perolehan aktiva
sumber alam.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.17

TES FORMATIF 1
-------------------------------
Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

1) Berikut ini adalah contoh aktiva sumber alam, yaitu ....


A. kayu
B. minyak bumi
C. pagar mewah
D. air

2) Aktiva sumber alam adalah aktiva yang bersifat ....


A. tidak dapat diperjualbelikan
B. dapat diganti dengan proses kimia dan pemeliharaan
C. semakin berkurang atau aus karena pemakaian dan diolah
D. semakin berkurang atau habis karena penambangan atau
pengambilan

3) Elemen harga perolehan suatu aktiva sumber alam, kecuali ....


A. biaya perolehan/pemilikan
B. intangible development costs
C. biaya eksploitasi
D. biaya eksplorasi

4) Konsep successful effort merupakan konsep yang ....


A. mengkapitalisasikan semua biaya eksplorasi
B. tidak mengaitkan biaya yang terjadi dengan pendapatan-pendapatan
yang akan diperoleh
C. bersifat lebih konservatif
D. memperkecil risiko adanya kemungkinan nilai kandungan
melampaui nilai buku aktiva sumber alam

5) Dari yang berikut ini mana yang tergolong akti va sumber alam ....
A. bijih besi
B. tanah
C. kayu
D. air
2.18 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

6) Tarif tunggal dalam deplesi biasanya diterapkan pada ....


A. aktiva sumber alam yang biaya pemilikannya relatif kecil
B. perusahaan minyak dan gas bumi
C. aktiva sumber alam yang biaya intangible development-nya relatif
besar
D. perusahaan penebangan kayu

7) Manakah dari pernyataan berikut ini yang benar?


A. Deplesi adalah merupakan perwujudan berkurangnya kuantitas
aktiva perusahaan
B. Deplesi adalah merupakan biaya yang diakui sebagai biaya produksi
C. Deplesi adalah merupakan istilah alokasi dari aktiva tetap berwujud
D. Deplesi sama dengan depresiasi aktiva tetap berwujud

8) Data dari sebuah perusahaan tambang emas adalah sebagai berikut


(dalam j utaan):
1. Biaya pemilikanlperolehan Rp1.000,00
2. Biaya intangible development Rp4.000,00
3. Biaya tangible development Rp2.000,00
4. Biaya eksplorasi Rp5.000,00
5. Taksiran kandungan 1.000 kg

Berapakah tarif deplesi per kg?


A. Rp12,00
B. Rp10,00
C. Rp 9,00
D. Rp 7,00

9) Sebuah perusahaan tambang batu bara memperoleh hak penambangan


dengan total harga perolehan sebesar Rp200.000.000,00. Pada awal
usaha penambangan ditaksir kandungan batu bara adalah sebanyak 2.000
ton. Nilai residu penambangan tersebut adalah Rp10.000.000,00.
Pada tahun pertama ditambang 200 ton dan tahun kedua 400 ton. Jika
pada akhir tahun kedua diketahui bahwa taksiran kandungan masih
tersisa 1.300 ton lagi, sedangkan revisi tarif berlaku surut maka
berapakah biaya deplesi tahun kedua?
A. Rp38.000.000,00
B. Rp40.000.000,00
C. Rp19.000.000,00
D. Rp10.000.000,00
e EKMA431 3/MODUL 2 2.19

10) Dengan menggunakan data no. 9 maka beban deplesi tahun pertama ....
A. terlalu besar Rp2.000.000,00
B. terlalu kecil Rp2.000.000,00
C. terlalu besar Rp 500.000,00
D. terlalu kecil Rp1.000.000,00

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90- 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
2.20 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 2

Aktiva Tetap Tak Berwujud

A. PENGERTIAN AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD


(INTANGIBLE FIXED ASSETS)

Anda telah mempelajari pengertian aktiva tetap berwujud (ATB). Dari


pengertian yang Anda ketahui tersebut, antara lain akti va tersebut
mempunyai wujud fisik. Nah, sekarang Anda akan dikenalkan pada aktiva
tetap yang lain, yaitu aktiva yang tidak mempunyai wujud fisik. Sekilas
tampak aneh! Tak berwujud, tetapi punya harga atau nilai. Namun, bila Anda
merenung kembali, tentu tidak aneh. Anda mungkin sering mendengar orang
berkata bahwa kekayaan di dunia ini adalah "kepercayaan". Kalau semua
orang sudah tidak percaya lagi pada Anda maka Anda sama saja dengan mati.
Misalnya, Anda sangat pandai mencipta lagu atau tari-tarian. Tidak semua
orang bisa membuat lagu. Suatu saat lagu Anda populer sekali, kaset lagu-
lagu Anda laku keras. Pada keadaan demikian, ada orang yang membuat
kaset rekaman lagu Anda tanpa sepengetahuan dan izin Anda maka besar
kemungkinan Anda marah. Oleh karena larisnya kaset lagu-lagu Anda,
kemudian orang sampai membajaknya berarti Anda dan lagu-lagu Anda
mempunyai nilai. Nah! Bila ini dimiliki oleh sebuah perusahaan, berarti
perusahaan tersebut punya "kekayaan" atau aktiva yang ada nilainya
walaupun wujudnya "keahlian" (mencipta lagu) tersebut tidak dapat
dinyatakan bentuknya.
Masalahnya adalah berapa nilai dari "kepercayaan" dan "keahlian"
tersebut. Penentuan nilai tersebut berkaitan dengan bagaimana cara
memperolehnya dan macam atau jenis dari aktiva tak berwujud tersebut.
Sebelum dibicarakan lebih jauh, Anda pelajari dulu definisi atau pengertian
dari aktiva tak berwujud dari beberapa penulis/ahli akuntansi berikut ini.
1. Aktiva tak berwujud adalah aktiva yang digunakan dalam operasi
perusahaan tetapi tidak mempunyai fisik dan mempunyai umur lebih dari
1 tahun.
2. Aktiva tak berwujud adalah aktiva yang tidak mempunyai wujud fisik
yang dilaporkan di neraca sebesar porsi dari harga perolehan yang
mempunyai kegunaan di masa yang akan datang.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.21

3. Aktiva tak berwujud adalah aktiva yang dimiliki oleh suatu unit
organisasi atau perusahaan yang tidak mempunyai bentuk fisik.

Dari definisi tersebut tentu Anda dapat menyimpulkan bahwa semuanya


menekankan pada tidak adanya bentuk fisik. Memang, hila Anda perhatikan
dengan saksama pos-pos neraca sebenarnya hanya perkiraan persediaan
barang dan aktiva tetap berwujud saja yang mempunyai wujud fisik. Kas,
Bank, Piutang, Biaya yang dibayar di muka merupakan aktiva yang tidak
mempunyai wujud fisik sehingga termasuk sebagai aktiva tak berwujud. Kas
atau uang tunai sebenarnya merupakan utang neraca kepada si pemegang atau
si pembawa. Uang yang disimpan di Bank, misalnya dalam bentuk giro juga
tidak berwujud karena ia sebenarnya hanyalah merupakan klaim terhadap
Bank yang menyimpan uang tersebut. Demikian juga penanaman modal
dalam kertas-kertas berharga yang sebenamya hanyalah klaim terhadap Bank
atau suatu perusahaan lain.
Dari penjelasan di atas maka aktiva tetap tak berwujud harus dibatasi
pada hak mutlak perusahaan terhadap sesuatu yang diperolehnya karena
keistimewaan tertentu dan yang diperoleh melalui pengeluaran biaya yang
sebenarnya. Pengeluaran tersebut mempunyai kegunaan di masa yang akan
datang dengan j angkauan waktu lebih dari 1 tahun atau 1 periode akuntansi.
Keistimewaan yang dimaksud, misalnya penemuan yang dimiliki
perusahaan dan sudah memperoleh paten atau keistimewaan dalam lokasi,
produksi, distribusi, nama, dan pengalaman suatu perusahaan yang membuat
ia menjadi lebih unggul dari perusahaan lain.
Dengan demikian, pengertian aktiva tetap tak berwujud adalah aktiva
yang:
1. diperoleh (dibeli) dari pihak lain atau dikembangkan oleh perusahaan;
2. memberikan hak-hak mutlak dan istimewa kepada pemiliknya
(perusahaan);
3. memberikan manfaat dan digunakan dalam operasi normal perusahaan;
4. mempunyai masa kegunaan relatif permanen atau lebih dari satu periode
akuntansi/lebih dari 1 tahun.

B. KRITERIA AKTIV A TETAP TAK BERWUJUD

Para pakar akuntansi telah sepakat tentang kriteria akti va tetap tak
berwujud. Kriteria tersebut adalah berikut ini.
2.22 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Immateriality
Pengertian immateriality adalah ketidakberwujudan dari aktiva ini. Ini
perlu diketahui agar tidak selalu salah pengertian dengan ketidakadaan nilai
dari aktiva tak berwujud. Aktiva tetap tak berwujud menggambarkan hak-
hak, privilege-privilege, dan keuntungan kompetitif yang luas terhadap
perusahaan selama pemilikannya. Seluruh hak yang dimaksud dalam
pengertian intangible mungkin sekali secara fisik mempunyai bukti-bukti,
seperti faktur, surat kontrak, sertifikat dan dokumen pendukung lainnya,
namun aktivanya sendiri tidak punya fisik yang nyata.

2. Interdependence
Telah Anda ketahui bahwa faktor apa yang utama yang mendukung
kemampuan menghasilkan laba (earning power) suatu perusahaan sulit untuk
dilacak. Oleh sebab itu, suatu aktiva tak berwujud dalam memberikan
sumbangannya terhadap earning power sangat tergantung pula pada aktiva
yang lain. Suatu paten misalnya, mungkin sekali sangat menentukan dalam
perusahaan pada pencapaian earning power, namun ia tidak berarti apa-apa
tanpa akti va yang lain.

3. Nontransferability
Aktiva tak berwujud tidak dapat ditransfer dalam pengertian
diperjualbelikan sebagaimana aktiva berwujud tanpa mengganggu jalannya
operasi perusahaan. Kalaupun ada istilah penjualan hak paten, hak cipta, dan
sebagainya, bukanlah berarti ia diperjualbelikan, seperti aktiva berwujud,
namun hanya pemberian hak pada perusahaan lain. Paten itu sendiri masih
atas nama pribadi atau perusahaan yang menemukan paten itu.

C. KLASIFIKASI AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD

Setelah Anda mengetahui pengertian dan kriteria akti va tetap tak


berwujud maka berikut ini Anda dikenalkan pada klasifikasi atau
penggolongan aktiva tetap tak berwujud. Secara umum aktiva tetap tak
berwujud digolongkan atas berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.23

1. Tipe A
Yakni aktiva tetap tak berwujud yang adanya (umurnya) dibatasi oleh
undang-undang, peraturan, perjanjian atau oleh sifat aktiva itu sendiri.
Contohnya adalah hak paten, hak cipta, lisensi,franchise, dan lain-lain.

2. Tipe B
Yakni aktiva tetap tak berwujud yang tidak terbatas waktunya. Aktiva
semacam ini pada waktu diperoleh tidak ada petunjuk mengenai umurnya.
Contohnya, goodwill, nama dan merek dagang, proses dan ramuan rahasia,
dan sebagainya.

3. Tipe C
Y akni kelebihan nilai investasi dalam saham untuk perusahaan induk
pada perusahaan anak di atas nilai kepentingannya pada kekayaan bersih di
perusahaan anak. Kelebihan ini dianggap sebagai aktiva tetap tak berwujud
dalam laporan konsolidasi.

Klasifikasi aktiva tetap tak berwujud secara lebih khusus


dikelompokkan sebagai berikut.
A. Dapat tidaknya diidentifikasi (identifiably) secara spesifik dengan hak
dan jenis aktivitas tertentu.
Dalam hal ini aktiva tetap tak berwujud terbagi menjadi pertama, yang
dapat diidentifikasi, seperti hak cipta, paten, dan lain-lain; dan kedua,
yang tidak dapat diidentifikasi, seperti goodwill.
B. Cara perolehan aktiva tetap tak berwujud (manner of acquisition).
Berdasarkan cara perolehan maka klasifikasi aktiva tetap tak berwujud
terdiri atas; Pertama, diperoleh dengan pembelian baik secara tunggal
maupun kelompok, seperti paten dan hak cipta. Kedua, diperoleh
dengan mengembangkan sendiri melalui riset, seperti formula rahasia.
Ketiga, diperoleh dari penggabungan perusahaan, seperti goodwill.
C. Periode keuntungan yang diharapkan (expected period of benefit).
Dalam hal ini aktiva tetap tak berwujud dikelompokkan berdasarkan
masa kegunaannya. Berdasarkan hal ini, aktiva tetap tak berwujud
dikelompokkan menjadi, pertama, terbatas kegunaannya baik menurut
undang-undang, kontrak atau faktur-faktur yang berhubungan dengan
kemanusiaan, ekonomi, dan lain-lain. Misalnya, hak paten dibatasi
2.24 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

kegunaannya selama 17 tahun. Kedua, tidak terbatas masa kegunaannya


atau umurnya tidak dapat ditentukan seperti goodwill.
D. Dapat tidaknya dipisahkan dari eksistensi perusahaan (reparability from
entire enterprise).
Dalam hal ini aktiva tetap tak berwujud digolongkan; pertama, dapat
dipisahkan dan dijual tersendiri, seperti hak cipta dan kedua, tidak dapat
dipisahkan, seperti goodwill.

D. AKUNTANSIAKTIVA TETAPTAKBERWUJUD

Akuntansi untuk aktiva tetap tak berwujud meliputi masalah yang sama,
seperti pada masalah akuntansi aktiva jangka panjang yang lain. Masalah
tersebut adalah penentuan harga perolehan, alokasi harga perolehan, dan
pemberhentian.
Alokasi harga perolehan untuk aktiva tetap tak berwujud adalah
amortisasi. Pemberhentian aktiva tetap tak berwujud pada umumnya
disebabkan oleh berakhirnya masa kegunaan aktiva tersebut. Bahkan ada
kemungkinan yang cukup besar bahwa masa kegunaannya sudah habis
sebelum taksiran masa kegunaan belum berakhir. Jadi, berakhirnya lebih
cepat dari taksiran semula.

1. Harga Perolehan
Harga perolehan dari suatu aktiva tetap tak berwujud tidak terlepas dari
cara perolehannya. Seperti telah Anda baca di depan bahwa cara perolehan
aktiva tetap tak berwujud umumnya adalah dari pembelian dan dengan
dikembangkan sendiri oleh perusahaan. Bila aktiva tetap tak berwujud
diperoleh dengan dikembangkan sendiri oleh perusahaan maka harga
perolehannya adalah semua pengeluaran yang terjadi dalam rangka
pengembangan aktiva yang bersangkutan. Sedangkan bila aktiva tak
berwujud diperoleh dengan pembelian maka unsur harga perolehan meliputi:
a. Harga yang dibayar kepada penjual
b. Biaya-biaya tambahan untuk mendapatkannya, seperti biaya notaris dan
biaya administrasi
c. Biaya percobaan dan pengembangan
d. Biaya untuk penyerahan hak (misalnya royalty dan lisensi)
e EKMA431 3/MODUL 2 2.25

2. Alokasi Harga Perolehan (Amortisasi)


Sebagaimana aktiva tetap berwujud, aktiva tetap tak berwujud juga
harus dialokasikan harga perolehannya terutama yang umurnya terbatas.
Untuk yang umumya tidak terbatas dapat pula diamortisasi dengan menaksir
umurnya yang biasanya dalam periode yang pendek. Satu hal yang perlu
diperhatikan bahwa amortisasi bila dianggap perlu dapat dipercepat.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan umur
atau masa kegunaan aktiva tetap tak berwujud, antara lain berikut ini.
a. Undang-undang, peraturan-peraturan, dan kontrak atau ketentuan-
ketentuan yang diatur dalam perjanjian.
b. Ketentuan dan syarat-syarat untuk memperbarui atau memperpanjang
penggunaan aktiva yang diatur dalam kontrak perjanjian.
c. Pengaruh persaingan, permintaan, ketinggalan zaman dan faktor
ekonomis lainnya.

Taksiran umur ini ditinjau kembali secara periodik untuk memastikan


ada atau tidaknya peristiwa atau keadaan yang mengakibatkan perlunya
peninjauan kembali tersebut. Adanya revisi umur tentu saja mengakibatkan
revisi tarif amortisasi. Ini berarti memerlukan penyesuaian (adjustment).
Nilai residu di dalam aktiva tetap tak berwujud hampir dapat dipastikan tidak
ada hingga faktor nilai residu ini selalu diabaikan.
Pencatatan amortisasi aktiva tetap tak berwujud dengan mendebit biaya
amortisasi dan mengkredit aktiva tetap tak berwujud yang bersangkutan.
Penggunaan rekening akumulasi amortisasi aktiva tetap tak berwujud jarang
digunakan.
Metode amortisasi terhadap aktiva tetap tak berwujud yang biasa
digunakan adalah metode garis lurus. Akan tetapi, tidak menutup
kemungkinan penggunaan metode yang lain.

3. Pemberhentian Aktiva Tetap Tak Berwujud


Aktiva tetap tak berwujud diberhentikan, antara lain melalui transaksi
berikut.
a. Penjualan.
b. Penukaran (ditukarkan) dengan aktiva lain.
c. Penghapusan karena sebab-sebab tertentu.
2.26 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Di dalam pemberhentian aktiva tetap tak berwujud karena dijual atau


ditukar dapat menimbulkan laba/rugi penjualan atau penukaran yang diakui
sebesar selisih nilai buku aktiva tetap tak berwujud dengan harga jualnya atau
nilai penukarannya.
Pemberhentian karena sebab-sebab tertentu (dihapuskan) menimbulkan
kerugian sebesar nilai buku aktiva tetap tak berwujud yang bersangkutan.

E. PENGERTIAN HARGA PEROLEHAN DAN UMUR EKONOMIS


DARI BEBERAPA AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD

Satu hal yang khas dari aktiva tetap tak berwujud bahwa setiap jenis
aktiva tetap tak berwujud berbeda dalam penentuan harga perolehan, program
amortisasi, dan masalah akuntansinya. Yang telah Anda pelajari sebelum
subbab ini adalah masalah akuntansi aktiva tetap tak berwujud secara umum.
Berikut ini Anda pelajari harga perolehan dan umur ekonomis dari
beberapa aktiva tetap tak berwujud serta sekaligus pengertiannya.

1. Aktiva Tetap Tak Berwujud Tipe A (Terbatas Umurnya)

a. Hak paten
Paten adalah suatu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak
yang menemukan sesuatu hal baru untuk membuat, menjual atau mengawasi
penemuannya selama 17 tahun. Kalaupun paten itu tidak dapat diperpanjang
maka penemuan tadi akan diperbarui atau diubah sehingga diperoleh paten
baru.
Yang termasuk harga perolehan paten jika paten itu diperoleh karena
pengembangan adalah ongkos-ongkos pendaftaran, biaya pembuatan
prototype, model-model dan gambar-gambar, dan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk membuat percobaan dan pengembangan. Bila paten
diperoleh dengan pembelian (diberi hak dari yang menemukan) maka harga
perolehannya adalah harga beli yang disepakati ditambah biaya-biaya lain
yang berhubungan dengan pembelian itu. Dengan demikian, paten dapat
digunakan sendiri oleh penemunya atau diserahkan pada pihak lain dengan
perj anjian-perj anjian tertentu. Apabila terj adi pelanggaran-pelanggaran
terhadap paten yang dimiliki maka biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
menjaga hak ini akan dikapitalisasikan.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.27

Harga perolehan paten harus diamortisasikan selama umur ekonomis


atau kegunaannya. Umur paten biasanya lebih pendek dari umur legalnya
disebabkan obsolescence (proses menualketinggalan zaman) dan adanya
paten baru untuk hal yang sama. Oleh karena itulah umur legal paten
digunakan sebagai dasar amortisasi hila paten diharapkan dapat
menghasilkan laba selama umur legalnya. Di samping itu, umur paten dapat
didasarkan pada unit produk yang akan dihasilkan sehingga amortisasinya
juga berdasarkan pada produksi tersebut.

Contoh 2.4.
Perusahaan XYZ yang bergerak di bidang elektronika pada awal tahun
2005 berhasil menemukan inovasi terbaru untuk salah satu produknya yang
berupa televisi. Kemudian, Perusahaan XYZ mematenkan produknya
tersebut. Untuk mendapatkan hak paten, Perusahaan XYZ harus
mengeluarkan biaya-biaya sebagai berikut.
1. ongkos-ongkos pendaftaran Rp 5.000.000,00
2. biaya pembuatan prototype Rp 100.000.000,00
3. model-model dan gambar-gambar Rp 10.000.000,00
4. percobaan dan pengembangan Rp 25.000.000,00
Total Rp 140.000.000,00

Jumal untuk mencatat perolehan paten tersebut adalah:

Paten .................................. Rp 140.000.000,00


Kas ....................................... Rp 140.000.000,00
(mencatat perolehan Paten)

Contoh 2.5.
Apabila perolehan Paten XYZ pada contoh 2.4. tersebut berlaku selama
20 tahun maka jurnal untuk mencatat amortisasi paten tersebut pada tahun
2005 adalah sebagai berikut.
Biaya amortisasi paten ............ Rp7.000.000,00
Akumulasi amortisasi paten ............ Rp7 .000.000,00
(mencatat amortisasi paten)
2.28 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Biaya amortisasi paten sebesar Rp7 .000.000,00 diperoleh dari:

Harga Perolehan Rp140.000.000,00


- = Rp?.OOO.OOO,O
Masa Berlaku/manfaat paten 20 tahun

b. Hak cipta (copy right)


Hak cipta adalah hak yang diberikan a tau dij amin oleh
pemerintahlundang-undang kepada pengarang atau pemain (artis) untuk
menerbitkan, menjual atau mengawasi karangannya, musik, pekerjaan
pementasan, gambar peta, dan basil kesenian lainnya. Di Amerika Serikat
sebelum tahun 1978, hak cipta diberikan untuk jangka waktu 28 tahun dan
masih dimungkinkan diperpanjang hingga 28 tahun lagi. Mulai tahun 1978
peraturan tersebut diubah yakni hak cipta diberikan atau dijamin seumur
penemuannya ditambah 50 tahun (dapat diturunkan haknya kepada ahli
waris).
Hak cipta ini dapat pula dijual atau diberikan kepada pihak lain dengan
perjanjian-perjanjian tertentu. Harga perolehan hak cipta adalah semua biaya
yang berhubungan dengan penyusunan pekerjaan itu, termasuk juga biaya-
biaya untuk mendaftarkan dan memperoleh hak tersebut. Dalam beberapa
kasus tertentu, harga perolehan hak cipta ini adalah minor (kecil) sehingga
dibebankan langsung kepada biaya (expense) ketika transaksi terjadi. Hanya
bila hak cipta itu diperoleh dengan pembelian maka pengeluarannya akan
cukup material sehingga dikapitalisasikan.
Amortisasi hak cipta didasarkan pada umur ekonomis dari hak cipta
tersebut yang biasanya lebih pendek dari umur legalnya. Umur dapat pula
didasarkan pada taksiran unit yang akan terjual yang berhubungan dengan
hak cipta itu. Kadang-kadang karena pertimbangan konservatisme, harga
perolehan hak cipta dihapuskan sekaligus dan dibebankan pada penghasilan
yang pertama kali dari sumber ini.

c. Lisensi atau konsensi


Suatu perusahaan (swasta) mungkin diberikan atau dijamin hak lisensi
atau konsensi sementara untuk menjalankan usahanya pada suatu lokasi
tertentu di mana tidak setiap orang mendapatkannya secara bebas atau
mudah. Hak tersebut dinamakan lisensi atau konsensi, di mana mungkin
lokasinya yang diberikan itu sangat berharga, seperti hak berjualan di peron
stasiun, terminal atau pelabuhan. Begitu pula contoh yang lebih jelas adalah
e EKMA431 3/MODUL 2 2.29

hak penguasaan hutan (concession right) di mana tidak semua orang dengan
hehas dan mudah mendapatkannya.
Harga perolehan dari lisensi dan konsensi ini adalah semua hiaya yang
dikeluarkan untuk mendapatkan hak tersehut. Sedangkan untuk amortisasinya
didasarkan pada umur lisensi atau konsensi yang telah ditentukan, yang
hiasanya ditentukan oleh pemerintah.

d. Hak monopoli (franchise)


Hak monopoli atau franchise adalah suatu kontrak yang sering terjadi
antara unit pemerintah dengan swasta di mana penjamin (grantor)
memherikan izin kepada yang dijamin (grantee) untuk mempergunakan atau
mengoperasikan atau menjual harang tertentu dalam jangka waktu terhatas
atau terus-menerus dengan disertai hak pencahutan kemhali atau tidak.
Jaminan tersehut dapat diherikan atas dasar pemhayaran honor periodik
ataupun gratis. Jadi franchise ini holeh dicatat dalam huku-huku apahila
hetul-hetul ada pengeluaran, haik langsung atau tidak langsung untuk
memperoleh hak itu. Pengeluaran-pengeluaran itulah yang akan diakui atau
dicatat sehagai harga perolehan. Bilafranchise terhatas umumya maka harga
perolehannya diamortisasi selama umur hak itu, namun hila tidak terhatas
maka hiasanya harga perolehannya akan tetap tampak dalam neraca.
Amortisasifranchise yang umurnya tidak terhatas dan dilakukan tanpa dasar-
dasar yang jelas maka he han amortisasi akan dianggap hehan luar hiasa.

2. Aktiva Tetap Tak Berwujud Tipe B (Tidak Terbatas Umurnya)

a. Hak merek dan nama dagang


Hak merek dan nama dagang adalah pengakuan tanda simhol, model dan
cap sehagai suatu identifikasi atas produk sehingga mudah dikenal oleh
pemheli. Hak untuk menggunakan merek dan nama dagang adalah tidak
terhatas, tetapi hak merek ini hila didaftarkan pada kantor paten maka
dilindungi undang-undang untuk jangka waktu tertentu. Merek dagang dapat
diperoleh dengan pemhelian dan mungkin pula dikemhangkan sendiri. Bila
merek dagang diperoleh dengan pemhelian maka harga perolehan yang
diakui dan dicatat adalah harga heli dan semua hiaya yang herkaitan
dengannya. Apahila diperoleh dengan memhuat sendiri maka harga
perolehannya adalah hiaya-hiaya untuk merencanakan dan mendaftarkan.
Umur merek dagang tidak terhatas sehingga amortisasi tidak dilakukan. Akan
2.30 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

tetapi, dengan adanya anggapan untuk membatasi umurnya serta kadang-


kadang karena anggapan akan adanya perubahan di masa yang akan datang
(misalnya adanya perubahan permintaan) maka harga perolehan merek
dagang akan dihapuskan dalam periode yang dikehendaki (biasanya dalam
periode pendek).

b. Ramuan dan proses rahasia (secret process and formula)


Di dalam perusahaan-perusahaan yang besar, sering dilakukan
penelitian/percobaan-percobaan untuk memperbaiki proses ataupun
produknya. Penelitian atau percobaan ini sering berkembang dan mempunyai
nilai yang besar untuk pemiliknya, yang mengakibatkan adanya monopoli
atau diperoleh persentase laba bersih serta lebih tinggi dari perusahaan lain
yang sejenis. Penelitian atau percobaan semacam itu dapat dipisahkan
menjadi 2 sebagai berikut.
1) Penelitian untuk memperbaiki proses-proses yang sedang berj alan.
2) Penelitian untuk menciptakan produk-produk baru.

Oleh karena penelitian atau percobaan ini akan memberikan manfaat


untuk masa-masa yang akan datang maka seharusnya biayanya
dikapitalisasikan dan dialokasikan (diamortisasikan) kepada periode-periode
yang nantinya akan memperoleh manfaat. Nilai dari hasil penelitian atau
percobaan ini yang mungkin menghasilkan ramuan atau proses didasarkan
atas biaya pengembangannya dan biaya riset yang bersangkutan atau harga
belinya. Ramuan atau proses ini mempunyai nilai selama sifat
kerahasiaannya tidak bocor ke tangan para pesaing. Bila ternyata bahwa
penelitian yang sudah dijalankan itu gagal maka biaya yang tadinya
dikapitalisasikan harus dihapus dan dibebankan sebagai kerugian. Sering pula
dijumpai biaya penelitian ini dibebankan sebagai biaya pada saat terjadinya.
Hal ini dilakukan karena ketidakpastian hasil penelitian itu sendiri.

c. Goodwill
Yang dimaksudkan dengan goodwill adalah semua kelebihan yang
terdapat dalam suatu usaha, seperti letak perusahaan yang baik, nama yang
terkenal, pimpinan yang ahli, dan lain-lain. Goodwill dalam arti akuntansi
hanya timbul dari pembelian sebagian perusahaan lain atau dari transaksi
penggabungan (merger), reorganisasi, perubahan bentuk perusahaan atau
perubahan pemilikan dalam firma.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.31

Ada 2 metode untuk menghitung nilai teoretis goodwill bagi suatu


perusahaan yang going concern, yaitu berikut ini.
1) Kapitalisasi laba bersih rata-rata
Dalam cara ini jumlah yang akan dibayarkan untuk perusahaan yang
dibeli dihitung dengan mengkapitalisasikan taksiran pendapatan yang
akan datang dengan tarif. Tarif ini menunjukkan hasil yang diharapkan
dari investasi tersebut. Selisih jumlah yang akan dibayarkan dengan nilai
bersih aktiva adalah jumlah yang akan dicatat sebagai goodwill.
2) Kapitalisasi kelebihan laba rata-rata
Pada cara ini penghitungan goodwill didasarkan pada pendapatan bersih
rata-rata dan nilai aktiva yang dibeli.

Umur goodwill mungkin terbatas, mungkin juga tidak. Goodwill yang


diperkirakan umurnya tidak terbatas akan dicatat dengan dasar harga
perolehannya, tetapi hila keadaan menunjukkan bahwa kelebihan-kelebihan
yang dimiliki oleh perusahaan telah berkurang dan kelebihan-kelebihan ini
tadinya dicatat sebagai goodwill maka harus diadakan penyesuaian terhadap
goodwill. Pengurangan ini akan dibebankan sebagai elemen-elemen tidak
biasa, namun kadang-kadang bisa pula sebagai biaya periode tersebut. Bila
goodwill umurnya terbatas maka dilakukan amortisasi setiap periode.
Anda mungkin masih bingung tentang goodwill ini, namun bagi Anda
yang mengambil jurusan akuntansi goodwill ini akan diperdalam pada mata
kuliah akuntansi keuangan lanjutan. Jadi, Anda memang tidak ditargetkan
untuk mendalami, tetapi hanya untuk sekadar mengetahui masalah
akuntansinya.

F. PENYAJIAN AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD DI NERACA

Aktiva tetap tak berwujud harus dicantumkan di neraca secara terpisah


menurut penggolongan aktiva tak berwujud, yaitu yang umurnya terbatas dan
yang tidak terbatas. Aktiva tetap tak berwujud ini merupakan aktiva yang
paling tidak likuid sehingga biasanya ditempatkan di neraca sebagai pos yang
terakhir. Bila aktiva tetap tak berwujud diperoleh dari pertukaran dengan
aktiva lain maka harus dibuat uraian penilaian sampai kepada angka harga
aktiva tersebut. Begitu pula halnya dengan amortisasi terhadap aktiva tetap
tak berwujud harus dijelaskan jumlah akumulasinya. Ini bukan berarti bahwa
harus ada rekening akumulasi amortisasi, sebab dalam praktik j arang sekali
2.32 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

digunakan rekening akumulasi amortisasi, tetapi langsung dikurangkan pada


rekening aktiva tetap tak berwujud yang bersangkutan. Akan tetapi, pada
dasamya tidak ada penolakan rekening akumulasi amortisasi aktiva tetap tak
berwujud.
Berikut ini contoh penyajian aktiva tetap tak berwujud di neraca:

Neraca

Aktiva Tetap Tak Berwujud:

Goodwill, harga perolehan dikurangi


Amortisasi dengan dasar 25 tahun . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 220.000,00

Lisensi, harga perolehan dikurangi


Amortisasi dengan dasar taksiran
urnur kegunaan 10 tahun . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 18.000,00

Paten, dirniliki dengan rnengeluarkan


1200 lernbar saharn biasa dengan harga
Rp5 .125 per lernbar dan dilaporkan
dengan nilai tersebut dikurangi
arnortisasi dengan dasar urnur 10 tahun . . . . . . . . . . . . . Rp. 107.500,00
Rp. 345.500,00

LATIHAN
----- -..,..,;

Untuk mernperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Berikan definisi aktiva tetap tak berwujud!


2) Jelaskan kriteria-kriteria aktiva tetap tak berwujud!
3) Sebutkan apa saja yang termasuk ke dalam Aktiva Tetap Tak Berwujud
berdasarkan dapat a tau tidaknya akti va diidentifikasi!
4) Sebutkan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan
umur atau masa kegunaan aktiva tetap tak berwujud!
5) Bagairnana cara pencatatan amortisasi aktiva tetap tak berwujud?
6) Apakah yang dimaksud dengan Hak Monopoli?
7) Sebutkan metode untuk menghitung nilai teoritis goodwill bagi suatu
perusahaan yang going concern!
e EKMA431 3/MODUL 2 2.33

8) Jelaskan Aktiva Tetap Tak Berwujud berikut ini.


a. Paten.
b. Goodwill.
c. Hak merek dan nama dagang.
9) Perusahaan SINAR yang bergerak di bidang elektronika pada awal tahun
2006 berhasil menemukan inovasi terbaru untuk salah satu produknya
yang berupa DVD Player. Kemudian, Perusahaan Sinar mematenkan
produknya tersebut. Untuk mendapatkan hak paten, Perusahaan Sinar
harus mengeluarkan biaya-biaya sebagai berikut.
a. ongkos-ongkos pendaftaran : Rp 4.000.000,00
b. biaya pembuatan prototype : Rp 120.000.000,00
c. model-model dan gambar-gambar : Rp 20.000.000,00
d. percobaan dan pengembangan : Rp 50.000.000,00
Buatlah jumal untuk mencatat perolehan paten!
10) Perusahaan SUTRA yang bergerak di bidang garment pada awal tahun
2006 berhasil menemukan inovasi terbaru untuk salah satu produknya
yang berupa Kebaya Jepang. Kemudian, Perusahaan SUTRA
mematenkan produknya tersebut. Untuk mendapatkan hak paten,
Perusahaan SUTRA harus mengeluarkan biaya-biaya sebagai berikut.
a. ongkos-ongkos pendaftaran : Rp 8.000.000,00
b. biaya pembuatan prototype : Rp 130.000.000,00
c. model-model dan gambar-gambar : Rp 40.000.000,00
d. percobaan dan pengembangan : Rp 6.000.000,00
Perolehan paten tersebut berlaku selama 25 tahun maka buatlah jurnal
guna mencatat amortisasi paten untuk tahun 2006!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Aktiva tak berwujud adalah aktiva yang tidak mempunyai wujud fisik
yang dilaporkan di neraca sebesar porsi dari harga perolehan yang
mempunyai kegunaan di masa yang akan datang.
2) Kriteria Aktiva Tetap Tak Berwujud adalah berikut ini.
a. Immateriality.
Pengertian immateriality adalah ketidakberwujudan dari aktiva ini.
Ini perlu diketahui agar tidak selalu salah pengertian dengan
ketidakadaan nilai dari aktiva tak berwujud. Aktiva tetap tak
berwujud menggambarkan hak-hak, privilege-privilege, dan
2.34 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

keuntungan kompetitif yang luas terhadap perusahaan selama


pemilikannya. Seluruh hak yang dimaksud dalam pengertian
intangible mungkin sekali secara fisik mempunyai bukti-bukti,
seperti faktur, surat kontrak, sertifikat dan dokumen pendukung
lainnya, namun aktivanya sendiri tidak punya fisik yang nyata.
b. Interdependence
Telah Anda ketahui bahwa faktor apa yang utama yang mendukung
kemampuan menghasilkan laba (earning power) suatu perusahaan
sulit untuk dilacak. Oleh sebab itu, suatu aktiva tak berwujud dalam
memberikan sumbangannya terhadap earning power sangat
tergantung pula pada aktiva yang lain. Suatu paten, misalnya
mungkin sekali sangat menentukan dalam perusahaan pada
pencapaian earning power, namun ia tidak berarti apa-apa tanpa
aktiva yang lain.
c. Nontransferability
Aktiva tak berwujud tidak dapat ditransfer dalam pengertian
diperjualbelikan sebagaimana aktiva berwujud tanpa mengganggu
jalannya operasi perusahaan. Kalaupun ada istilah penjualan hak
paten, hak cipta, dan sebagainya, bukanlah berarti ia
diperjualbelikan, seperti aktiva berwujud, namun hanya pemberian
hak pada perusahaan lain. Paten itu sendiri masih atas nama pribadi
atau perusahaan yang menemukan paten itu.
3) Dapat tidaknya diidentifikasi (identifiably) secara spesifik dengan hak
dan jenis aktivitas tertentu.
Dalam hal ini aktiva tetap tak berwujud terbagi menjadi pertama, yang
dapat diidentifikasi seperti hak cipta, paten, dan lain-lain; dan kedua,
yang tidak dapat diidentifikasi, seperti goodwill.
4) Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan umur atau
masa kegunaan aktiva tetap tak berwujud antara lain:
a. Undang-undang, peraturan-peraturan, dan kontrak atau ketentuan-
ketentuan yang diatur dalam perjanjian.
b. Ketentuan dan syarat-syarat untuk memperbarui atau
memperpanjang penggunaan aktiva yang diatur dalam kontrak

perJanJian.
c. Pengaruh persaingan, permintaan, ketinggalan zaman dan faktor
ekonomis lainnya.
5) Pencatatan amortisasi aktiva tetap tak berwujud adalah dengan mendebit
biaya amortisasi dan mengkredit aktiva tetap tak berwujud yang
bersangkutan/akumulasi amortisasi Aktiva Tetap Tak Berwujud.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.35

6) Hak monopoli atau franchise adalah suatu kontrak yang sering terjadi
antara unit pemerintah dengan swasta di mana penjamin (grantor)
memberikan izin kepada yang dijamin (grantee) untuk mempergunakan
atau mengoperasikan atau menjual barang tertentu dalam jangka waktu
terbatas atau terus-menerus dengan disertai hak pencabutan kembali a tau
tidak.
7) Ada dua metode untuk menghitung nilai teoretis goodwill bagi suatu
perusahaan yang going concern, yaitu berikut ini.
a. Kapitalisasi laba bersih rata-rata
Dalam cara ini jumlah yang akan dibayarkan untuk perusahaan yang
dibeli dihitung dengan mengkapitalisasikan taksiran pendapatan
yang akan datang dengan tarif. Tarif ini menunjukkan hasil yang
diharapkan dari investasi tersebut. Selisih jumlah yang akan
dibayarkan dengan nilai bersih aktiva adalah jumlah yang akan
dicatat sebagai goodwill.
b. Kapitalisasi kelebihan laba rata-rata
Pada cara ini perhitungan goodwill didasarkan pada pendapatan
bersih rata-rata dan nilai aktiva yang dibeli.
8) a. Paten adalah suatu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada
pihak yang menemukan sesuatu hal baru untuk membuat, menjual
atau mengawasi penemuannya selama 17 tahun. Kalau paten itu
tidak dapat diperpanjang maka penemuan tadi akan diperbarui atau
diubah sehingga diperoleh paten baru.
b. Goodwill adalah semua kelebihan yang terdapat dalam suatu usaha,
seperti letak perusahaan yang baik, nama yang terkenal, pimpinan
yang ahli, dan lain-lain. Goodwill dalam arti akuntansi hanya timbul
dari pembelian sebagian perusahaan lain atau dari transaksi
penggabungan (merger), reorganisasi, perubahan bentuk perusahaan
atau perubahan pemilikan dalam firma.
c. Hak merek dan nama dagang adalah pengakuan tanda simbol,
model dan cap sebagai suatu identifikasi atas produk sehingga
mudah dikenal oleh pembeli.
9) J umal untuk mencatat perolehan paten tersebut adalah:
Paten ........................................ Rp194.000.000,00
Kas ..................................................... Rp 194.000.000,00
10) Jumal untuk mencatat amortisasi paten tersebut pada tahun 2006 adalah
sebagai berikut.
Biaya amortisasi paten ..................... Rp7 .360.000,00
Akumulasi amortisasi paten ........................... Rp7 .360.000,00
2.36 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

RANG KUMA N;__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Aktiva Tetap Tak Berwujud adalah aktiva yang memberikan hak-


hak mutlak dan istimewa kepada pemilikannya yang memberikan
manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan dalam operasi
normal perusahaan, dan diperoleh dari pembelian atau dikembangkan
sendiri oleh pemiliknya.
Aktiva Tetap Tak Berwujud tidak mempunyai fisik yang nyata,
sang at tergantung pada akti va yang lain dan tidak dapat ditransfer.
Kalaupun ada istilah penjualan hak paten, hak cipta, dan sebagainya, itu
hanyalah pemberian hak pada perusahaan lain (pembeli). Paten dan hak
cipta itu sendiri tetap berada pada si pemilik.
Aktiva tetap tak berwujud digolongkan menjadi aktiva tetap tak
berwujud yang umurnya terbatas dan tidak terbatas. Selain itu, dapat
pula dikelompokkan atas dasar dapat tidaknya diidentifikasikan cara
perolehan, periode keuntungan yang diharapkan, dan dapat tidaknya
dipisahkan dari eksistensi perusahaan.
Masalah akuntansi aktiva tetap tak berwujud sama, seperti pada
masalah akuntansi aktiva tetap berwujud, yakni penentuan harga
perolehan, alokasi harga perolehan, dan masalah pemberhentian.
Persoalan khusus dalam akuntansi aktiva tetap tak berwujud ini bahwa
tiap jenis aktiva tetap tak berwujud mempunyai kekhasan tersendiri. Bila
ingin mengetahui akuntansi aktiva tetap tak berwujud maka harus
mengetahui akuntansi tiap jenis aktiva tersebut.
Alokasi harga perolehan akti va tetap tak berwujud disebut
amortisasi. Dalam amortisasi ini, salah satu yang perlu lebih mendapat
perhatian adalah masalah umur ekonomis. Umur ekonomis suatu aktiva
tetap tak berwujud dipengaruhi atau ditentukan oleh undang-undang,
pengaruh persaingan, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Nilai residu
pada aktiva tetap tak berwujud boleh dikatakan nol alias tidak ada.
Amortisasi aktiva tetap tak berwujud dipercepat terutama bila ada gejala
nilai aktiva tersebut sudah tidak memadai lagi.
Aktiva tetap tak berwujud diberhentikan karena sebab-sebab dijual,
ditukarkan, dan dihapuskan karena sebab-sebab tertentu. Pencatatan
amortisasi adalah dengan mendebit biaya amortisasi dan mengkredit
langsung pada rekening aktiva tetap tak berwujud yang bersangkutan.
Rekening akumulasi amortisasi jarang digunakan. Di neraca aktiva tetap
tak berwujud harus dijelaskan semaksimal mungkin agar si pembaca
neraca tidak tersesat.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.37

T E 5 F 0 R MAT IF 2;;__ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

1) Contoh aktiva tetap tak berwujud adalah ....


A. persediaan
B. kas
C. lisensi
D. piutang

2) Aktiva tetap tak berwujud adalah aktiva yang ....


A. diperoleh dengan mengembangkan sendiri
B. menjamin hak-hak mutlak kepada pembelinya
C. mempunyai masa manfaat lebih dari 20 tahun
D. wujud fisik berupa kertas-kertas berharga

3) Kriteria aktiva tetap tak berwujud, kecuali ....


A. interdependence
B. obsolescence
C. nontransferability
D. immateriality

4) Contoh aktiva tetap tak berwujud tipe B adalah . . ..


A. hak cipta
B. franchise
C. proses dan ramuan rahasia
D. lisensi

5) Istilah untuk harga perolehan aktiva tetap tak berwujud adalah ....
A. deplesi
B . depresiasi
C. devaluasi
D. amortisasi

6) Contoh aktiva tetap tak berwujud tipe A adalah . . ..


A. goodwill
B. hak merek dan nama dagang
C. proses dan ramuan rahasia
D. lisensi
2.38 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

7) Aktiva tetap tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan, yaitu ....
A. hak cipta
B. paten
C. hak merek dan nama dagang
D. goodwill

8) Suatu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak yang


menemukan sesuatu hal baru untuk membuat, menjual atau mengawasi
penemuannya disebut ....
A. hak cipta
B. paten
C. goodwill
D. lisensi

9) Mana dari pernyataan berikut yang benar?


A. Goodwill merupakan aktiva tetap tak berwujud yang dapat
diidentifikasikan.
B. Nilai residu dalam aktiva tetap tak berwujud umumnya dipunyai
perusahaan.
C. Salah satu cara perolehan dalam aktiva tetap tak berwujud adalah
dengan dikembangkan sendiri.
D. Aktiva tetap tak berwujud merupakan aktiva yang tidak likuid.

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
e EKMA431 3 / MODUL 2 2.39

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif2


1) B 1) c
2) B 2) A
3) c 3) D
4) A 4) c
5) A 5) D
6) A 6) D
7) D 7) D
8) B 8) B
9) A 9) c
10) D
2.40 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Glosarium

Amortisasi
Proses pengalokasian biaya dari akti va tak
(Amortization). berwujud ke dalam beban periodik; penyesuaian
beban bunga (baik untuk premium maupun
diskon) untuk mencerminkan bunga efektif
obligasi. Penyesuaian periodik ini menghasilkan
konvergensi (penyatuan) nilai tercatat (carrying
value) dan nilai wajar (fair value) obligasi
sepanjang berjalannya waktu.
Biaya Eksplorasi
Biaya yang dikeluarkan untuk mengidentifikasi
daerah yang memerlukan pengujian atau
menguji daerah khusus untuk mencari sumber
daya alam. Apabila usaha eksplorasi
menghasilkan penemuan sumber daya alam
yang cukup untuk ditambang, maka biaya ini
dikapitalisasi sebagai bagian dari dasar deplesi.
Deplesi (Depletion).
Biaya sumber daya clam yang dikeluarkan dari
akun aktiva sumber days clam pada set lap
peri ode.
Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang menggabungkan basil-
Konsolidasi basil keuangan dari induk perusahaan dan anak-
(Consolidated anak perusahaan.
Financial
Statements).
Penggabungan
Penggabungan duo perusahaan melalui
Usaha. pertukaran kas atau pertukaran saham.
e EKMA431 3/MODUL 2 2.41

Daftar Pustaka

Harnanto. (1992). Akuntansi Keuangan Intermediate. Yogyakarta: Liberty.

Ikatan Akuntan Indonesia. (1999). Standar Akuntansi Keuangan-Buku Satu.


Jakarta: Salemba Empat.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. (2004). Intermediate Accounting.


11th Edition. New York: John Wiley & Sons.
MDDUL 3

I nvestasi

Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Akt.

PENDAHULUAN

...,.. ada modul sebelurnnya kita telah mempelajari aktiva tetap berwujud dan
tak berwujud dengan segala masalah akuntansinya. Anda tentu telah
menguasai betul materi-materi tersebut. Pada modul ini, kita akan
mempelajari lebih mendalam mengenai jenis aktiva yang lain yakni aktiva
dalam bentuk investasi.
Prosedur akuntansi untuk investasi dijelaskan dalam PSAK No. 13
tentang Investasi. Dalam PSAK tersebut semua bentuk investasi dijelaskan
baik jangka pendek maupun jangka panjang. Namun, investasi yang
dimaksudkan dalam modul ini adalah investasi perusahaan dalam bentuk
sekuritas. Sekuritas adalah saham, partisipasi atau hak lain dalam properti
atau dalam perusahaan milik emiten atau kewajiban emiten yang
(1) ditunjukkan oleh suatu instrumen yang diterbitkan dalam bentuk atas
unjuk atau terdaftar atau jika tidak ditunjukkan dengan instrumen terdaftar
dalam pembukuan yang diselenggarakan untuk mencatat transfer oleh atau
atas nama emiten; (2) termasuk jenis yang biasanya terlibat dalam bursa atau
pasar sekuritas atau, hila ditunjukkan oleh instrumen, biasanya diakui di
semua wilayah penerbitan atau transaksinya sebagai media untuk investasi;
dan (3) berasal dari satu kelompok atau seri atau menurut syarat-syaratnya
dapat dibagi menjadi suatu kelompok atau seri saham, partisipasi, hak atau
kewajiban. Investasi yang demikian, disebut juga penyertaan modal. Artinya,
perusahaan berharap agar dana (uang) yang diinvestasikan akan terus
bertambah dan akhirnya memperoleh keuntungan.
Perusahaan mempunyai motivasi yang berbeda-beda untuk melakukan
investasi dalam sekuritas yang diterbitkan oleh perusahaan lain. Salah satu
motivasinya adalah untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi.
Sebuah perusahaan dapat menerima pendapatan dari investasi utang atau
pendapatan dividen dari investasi ekuitas. Selain itu, keuntungan modal atas
kedua jenis sekuritas itu dapat di realisasi. Motivasi lain dari berinvestasi
3.2 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

(dalam sekuritas ekuitas) adalah untuk mengamankan operasi atau perjanjian


pembiayaan tertentu dengan perusahaan lain. Selain itu, dalam PSAK No. 13
tentang investasi, perusahaan melakukan investasi dengan alasan yang
berbeda-beda. Bagi beberapa perusahaan, aktivitas investasi merupakan
unsur penting dari operasi perusahaan, dan penilaian kinerja perusahaan
mungkin sebagian besar atau seluruhnya bergantung pada hasil yang
dilaporkan mengenai aktivitas ini. Beberapa perusahaan melakukan investasi
sebagai cara untuk menempatkan kelebihan dana dan beberapa perusahaan
lain melakukan perdagangan investasi untuk mempererat hubungan bisnis
atau memperoleh suatu keuntungan perdagangan.
Terdapat beberapa jenis investasi yang dapat dibuktikan dengan
sertifikat atau dokumen lain yang serupa. Hakikat suatu investasi dapat
berupa utang, selain utang jangka pendek atau utang dagang atau instrumen
ekuitas. Pada umumnya investasi memiliki hak finansial, sebagian berwujud,
seperti investasi tanah, bangunan, emas, berlian atau komoditi lain yang
dapat dipasarkan.
Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar yang aktif yang dapat
membentuk nilai pasar. U ntuk jenis investasi tersebut, nilai pasar digunakan
sebagai indikator penetapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi yang
tidak memiliki pasar yang aktif, cara lain digunakan untuk menentukan nilai

waJar.
Dalam modul ini akan dibahas berbagai macam hal tentang investasi
perusahaan dalam bentuk sekuritas. Mulai dari ketika awal membelinya,
klasifikasinya, menjualnya kembali atau memegangnya hingga jatuh tempo,
dan penyajiannya dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, modul ini terbagi
menj adi 2 bagian sebagai berikut.
1. lnvestasi dalam Sekuritas Utang.
2. lnvestasi dalam Sekuritas Saham.

Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat:


1. menjelaskan dan mendefinisikan arti penting investasi bagi perusahaan;
2. membedakan investasi dengan bentuk aktiva perusahaan yang lainnya;
3. mengidentifikasi 3 kategori investasi utang;
4. mengidentifikasi kategori investasi saham;
5. memahami metode-metode akuntansi untuk pembelian dan penjualan
investasi;
6. memahami penyajian investasi dalam laporan keuangan.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.3

KEGIATAN BELAL.JAR 1

lnvestasi dalam Sekuritas Utang

A. PENGERTIAN SEKURITAS UTANG

Sekuritas utang (debt securities) merupakan instrumen yang


menunjukkan hubungan kreditor dengan suatu perusahaan. Sekuritas utang
meliputi sekuritas pemerintah, obligasi, utang yang dapat dikonversikan
(convertible debt), commercial paper, dan lain-lain. Piutang dagang dan
piutang pinjaman bukan merupakan sekuritas utang karena tidak memenuhi
definisi sekuritas.
Investasi dalam sekuritas utang dikelompokkan menj adi tiga kategori
untuk tujuan akuntansi dan pelaporan. Ketiga kategori tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Dimiliki sampai jatuh tempo (held-to-maturity).
Sekuritas utang yang menurut maksud dan kemampuan perusahaan akan
dimiliki sampai j atuh tempo.
2. Perdagangan (trading).
Sekuritas utang yang dibeli dan dimiliki terutama untuk dijual dalam
waktu dekat untuk menghasilkan keuntungan atas selisih harga jangka
pendek.
3. Tersedia untuk dijual (available for sale).
Sekuritas utang yang tidak diklasifikasikan sebagai sekuritas yang
dimiliki sampai jatuh tempo atau perdagangan.

B. PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SETIAP KATEGORI


SEKURITAS UTANG

Sebagai ilustrasi, berikut ini tabel perlakuan akuntansi untuk masing-


masing kategori sekuritas utang.
3.4 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 3.1
Perlakuan Akuntansi Sekuritas Utang

Keuntungan atau kerugian


Pengaruh lainnya
Kategori Penilaian kepemilikan yang belum di
terhadap laba
realisasi
Dimiliki Biaya yang Tidak diakui Bunga pada saat
sampai jatuh diamortisasi dihasilkan; keuntungan
tempo atau kerugian dari
penualan
Sekuritas Nilai wajar Diakui dalam laba bersih Bunga pada saat
perdagangan dihasilkan; keuntungan
atau kerugian dari
penualan
Tersedia Nilai wajar Diakui sebagai laba Bunga pada saat
untuk dijual komprehensif lainnya dan dihasilkan; keuntungan
sebagai komponen terpisah dari atau kerugian dari
ekuitas peme~ an~ sa ham penualan

Biaya yang diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan/


akuisisi yang disesuaikan untuk memperhitungkan amortisasi diskonto atau
premi, jika dianggap tepat. Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang
digunakan bila instrumen keuangan dipertukarkan dalam transaksi berjalan
an tara pihak-pihak yang berkeinginan, selain dari penjualan terpaksa atau
likuidasi.

C. PENGHITUNGAN SEKURITAS UTANG UNTUK SETIAP


KATEGORINYA

1. Sekuritas Utang yang Dimiliki hingga Jatuh Tempo


Hanya sekuritas utang yang dapat diklasifikasikan sebagai sekuritas yang
dimiliki sampai jatuh tempo. Hal ini dikarenakan, menurut definisinya,
sekuritas ekuitas tidak mempunyai tanggal jatuh tempo. Sekuritas utang harus
diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo hanya jika entitas yang
melaporkan mempunyai (a) niat positif, dan (b) kemampuan untuk
memiliki sekuritas ito sampai jatuh tempo. Perusahaan tidak boleh
mengklasifikasikan sekuritas utang sebagai sekuritas yang dimiliki sampai
jatuh tempo jika berniat untuk memiliki sekuritas tersebut selama periode
waktu yang tidak terbatas. Demikian pula jika perusahaan mengantisipasi
perubahan suku bunga, risiko mata uang asing, kebutuhan likuiditas atau
e EKMA431 3/MODUL 3 3.5

alasan manajemen aktiva kewajiban lainnya maka sekuritas itu tidak boleb
diklasifikasikan sebagai dimiliki sampai j atub tempo.
Sekuritas yang dimiliki sampai jatub tempo dipertanggungjawabkan
sebesar biaya yang diamortisasi, bukan pada nilai wajarnya. Jika manajemen
berniat untuk memiliki sekuritas investasi tertentu sampai jatub tempo dan
tidak mempunyai rencana untuk menjualnya maka nilai wajar (barga jual)
tidaklab relevan untuk mengukur dan mengevaluasi arus kas yang berkaitan
dengan sekuritas ini. Terakhir karena sekuritas yang dimiliki hingga jatub
tempo tidak disesuaikan ke nilai wajar maka sekuritas ini tidak meningkatkan
kestabilan (volatility) lab a yang dilaporkan atau modal yang dilaporkan,
seperti balnya sekuritas perdagangan dan sekuritas yang tersedia untuk dijual.
Agar lebib jelas, perbatikan contob berikut ini.

Contob 3.1.
PT Robin membeli obligasi 8% dari PT Master dengan nilai pari
Rp100.000.000,00 pada tanggal 1 Januari 2002, dan membayar
Rp92.278.000,00. Obligasi ini jatub tempo tanggal 1 Januari 2006; bunga
dibayar setiap tanggal 1 Juli dan 1 J anuari. Diskonto sebesar Rp7. 722.000,00
(Rp100.000.000,00 - Rp92.278.000,00) memberikan basil bunga efektif
sebesar 10%. J urnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi tersebut adalab
sebagai berikut:
01/01/02 Sekuritas yang dimiliki sampai jatub tempo Rp. 92.278.000,00
Kas ............................................................... Rp. 92.278.000,00
(mencatat pembelian obligasi yang dimiliki sampai jatub tempo)

Akun sekuritas yang dimiliki sampai jatub tempo digunakan untuk


menunjukkan jenis sekuritas utang yang dibeli. Diskonto atau premium atas
investasi jangka panjang dalam obligasi diamortisasi dengan cara metode
bunga efektif. Suku bunga efektif atau basil (yield) dibitung pada saat
investasi dilakukan dan dikenakan pada jumlab tercatat awalnya (nilai buku)
atas setiap periode bunga untuk mengbitung pendapatan bunga. Jumlab
tercatat investasi akan bertambab dengan diskonto yang diamortisasi atau
berkurang dengan premium yang diamortisasi dalam setiap periode. Berikut
ilustrasi metode bung a efektif untuk mengerj akan Contob 3.1 tersebut.
3.6 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 3.2.
Obligasi 8% yang Dibeli untuk Memberikan hasil (yield) 10%

Amortisasi
Kas Penda~atan Jumlah
Tanggal Diskonto
yang diterima Bunga Tercatat Obligasi
Obligasi
1/1/02 Rp 92.278.000,00
1/7/02 Rp 4.000.000,00a Rp 4.614.000,00b Rp 614.000,00C Rp 92.892.000,d
1/1/03 Rp 4.000.000,00 Rp 4.645.000,00 Rp 645.000,00 Rp 93.537.000,00
1/7/03 Rp 4.000.000,00 Rp 4.677.000,00 Rp 677.000,00 Rp 94.214.000,00
1/1/04 Rp 4.000.000,00 Rp 4.711.000,00 Rp 711.000,00 Rp 94.925.000,00
1/7/04 Rp 4.000.000,00 Rp 4.7 46.000,00 Rp 746.000,00 Rp 95.671.000,00
1/1/05 Rp 4.000.000,00 Rp 4.783.000,00 Rp 783.000,00 Rp 96.454.000,00
1/7/05 Rp 4.000.000,00 Rp 4.823.000,00 Rp 823.000,00 Rp 97.277.000,00
1/1/06 Rp 4.000.000,00 Rp 4.864.000,00 Rp 864.000,00 Rp 98.141.000,00
1/7/06 Rp 4.000.000,00 Rp 4.907.000,00 Rp 907.000,00 Rp 99.048.000,00
1/1/07 R~ 4.000.000 100 R~ 4.952.000 100 R~ 952.000 100 Rp1 00.000.000,00
Rp40.000.000,00 Rp4 7. 722.000,00 Rp7. 722.000,00

aRp 4.000.000,00 = Rp100.000.000,00 X 0,08 X 6/12


bRp 4.614.000,00 = Rp 92.278.000,00 X 0,1 X 6/12
CRp 614.000,00 = Rp 4.614.000,00- Rp4.000.000,00
ctRp92.892.000,00 = Rp 92.278.000,00 + Rp 614.000,00

Jumal yang digunakan untuk mencatat penerimaan pembayaran bunga


setengah tahunan yang pertama pada tanggal 1 Juli 2002 (dengan
menggunakan data Tabel 3 .2. di atas) adalah sebagai berikut.
01/07/02 Kas ...................................................... Rp4.000.000,00
Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo .. Rp 614.000,00
Pendapatan Bunga .................................... Rp4.614.000,00
(mencatat penerimaan pembayaran bunga)

Karena tanggal akuntansi PT Robin sama dengan tanggal kalender maka


perusahaan ini mengakrualkan bunga dan mengamortisasi diskonto pada
tang gal 31 Desember 2002 sebagai berikut. (data menggunakan data
Tabel 3 .2. di atas)
e EKMA431 3/MODUL 3 3.7

31/12/02 Piutang Bunga.. .................. ............ Rp4.000.000,00


Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo .. Rp614.000,00
Pendapatan Bunga ......................................... Rp4.614.000,00
(mencatat pendapatan bunga akrual)

PT Robin akan melaporkan pos-pos berikut ini yang berkaitan dengan


investasinya dalam obligasi PT Master pada Laporan Keuangannya Per 31
Desember 2002 yang disajikan dalam Tabel 3.3 sebagai berikut.

NERACA
Aktiva lancar
Piutang Bunga Rp 4.000.000
lnvestasi Jangka Panjang
Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo; pada biaya yang Rp93.537.000
diamortisasi
LAPORAN LABA-RUGI
Pendapatan dan Keuntungan lain
Pendapatan Bunga Rp 9.259.000

Penjualan sekuritas utang yang dimiliki sampai jatuh tempo menjelang


tanggal jatuh temponya yang mengubah suku bunga pasar tidak akan secara
signifikan mempengaruhi nilai wajar sekuritas itu sehingga dapat dianggap
penjualan terjadi sama dengan pada saat jatuh tempo. Perhatikan contoh
berikut.

Contoh 3.2.
Berdasarkan Contoh 3.1. apabila PT Robin menjual investasinya dalam
obligasi PT Master pada tanggal 1 November 2006 dengan kurs 99%
ditambah bunga akrual maka perhitungan dan jumal berikut ini akan dibuat.
Amortisasi sejak 1 Juli 2006 sampai 1 November 2006 adalah Rp635.000,00
(% x Rp952.000,00). Jurnal untuk mencatat amortisasi diskonto tersebut
adalah sebagai berikut.
01/11/06 Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo ... Rp635.000,00
Pendapatan Bunga ...................................... Rp635 .000,00
( mencatat amortisasi diskonto)
3.8 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Perhitungan keuntungan yang terealisasi (realized gain) atas penjualan


tersebut disajikan dalam Tabel 3.4 sebagai berikut.

Tabel 3.4.
Perhitungan Keuntungan yang Terealisasi

Harga jual obligasi (tidak termasuk bunga akrual) Rp99. 750.000,00


Dikurang: Nilai buku obligasi per 1 November 2006
Biaya yang diamortisasi, 1 Juli 2006 Rp99. 048.000
Ditambah: Diskonto yang diamortisasi untuk periode
1 Juli 2006 sampai 1 November 2006 Rp 635.000
Rp99.683.000,00
Keuntungan (Gain) atas penjualan obligasi Rp 67.000,00

Jurnal untuk mencatat penjualan obligasi tersebut adalah sebagai berikut.

01/11/06 Kas ........................... Rp100.385.000,00


Pendapatan B unga ................................ Rp 635.000,00
Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo Rp99.683.000,00
Keuntungan atas penjualan obligasi .......... Rp 67.000,00
(mencatat penjualan investasi obligasi)

Kredit ke pendapatan bunga menunjukkan bunga akrual selama 4 bulan,


dan untuk itu, pembeli membayar secara tunai. Debet ke kas menunjukkan
harga jual obligasi, yaitu Rp99.750.000,00 ditambah bunga akrual sebesar
Rp2.667 .000,00. Kredit ke akun Sekuritas yang Dimiliki Sampai Jatuh
Tempo menunjukkan nilai buku obligasi pada tanggal penjualan, dan kredit
ke Keuntungan atas Penjualan Sekuritas merupakan kelebihan harga jual atas
nilai buku obligasi.

2. Sekuritas Utang yang tersedia untuk dijual


Investasi dalam sekuritas utang yang termasuk dalam kategori tersedia
untuk dijual dilaporkan sebesar nilai wajar. Keuntungan dan kerugian yang
belum terealisasi (unrealized holding gain and loss) yang berkaitan dengan
perubahan nilai wajar sekuritas utang yang tersedia untuk dijual dicatat dalam
akun keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum terealisasi. Akun ini
dilaporkan sebagai laba komprehensif lainnya dan sebagai komponen
terpisah dari ekuitas pemegang saham sampai benar-benar terealisasi. Jadi,
perubahan nilai waj ar tidak dilaporkan sebagai bagian dari lab a bersih sampai
e EKMA431 3 / MODUL 3 3.9

sekuritas itu dijual. Pendekatan ini mengurangi volatilitas (ketidakstabilan)


laba bersih.

Contoh 3.3. Pembelian satu sekuritas


PT Grafik membeli obligasi 10%, 5 tahun, senilai Rp100.000.000,00
pada tanggal 1 Januari 2002, dengan bunga dibayar setiap tanggal 1 Juli dan
1 J anuari. Obligasi tersebut dijual dengan harga Rp 108.111.000,00 yang
menghasilkan premium obligasi sebesar Rp8 .111.000,00 dan suku bunga
efektif 8%.
Jumal untuk mencatat pembelian obligasi tersebut adalah sebagai berikut.

01/01/02 Sekuritas yang tersedia untuk dijual ... Rp108.111.000,00


Kas ... .. .. ... .. ... .. .. ... .. .. ... .. ... .. .. .. ... .. ... .. .. . R p 10 8 . 111.000,00
(mencatat pembelian obligasi yang tersedia untuk dijual)

Tabel 3.5. mengilustrasikan pengaruh amortisasi premium terhadap


pendapatan bunga yang dicatat setiap periode dengan menggunakan metode
bunga efektif.

Tabel 3.5.
Obligasi 10% yang Dibeli untuk Memberikan hasil (yield) 8%
Kas Amortisasi Jumlah
Tanggal Pendapatan Bunga
~ang diterima Premium Obligasi Tercatat Obligasi
1/1/02 Rp1 08.111.000,00
1/7/02 Rp 5.ooo.oooa Rp 4.324.000,00b Rp 676.000,00c Rp1 07 .435.000,00d
1/1/03 Rp 5.000.000 Rp 4.297.000,00 Rp 703.000,00 Rp1 06.732.000,00
1/7/03 Rp 5.000.000 Rp 4.269.000,00 Rp 731.000,00 Rp1 06.001.000,00
1/1/04 Rp 5.000.000 Rp 4.240.000,00 Rp 760.000,00 Rp1 05.241.000,00
1/7/04 Rp 5.000.000 Rp 4.210.000,00 Rp 790.000,00 Rp1 04.451.000,00
1/1/05 Rp 5.000.000 Rp 4.178.000,00 Rp 822.000,00 Rp1 03.629.000,00
1/7/05 Rp 5.000.000 Rp 4.145.000,00 Rp 855.000,00 Rp1 02.774.000,00
1/1/06 Rp 5.000.000 Rp 4.111.000,00 Rp 889.000,00 Rp1 01 .885.000,00
1/7/06 Rp 5.000.000 Rp 4.075.000,00 Rp 925.000,00 Rp1 00.960.000,00
1/1/07 R~ 5.000.000 R~ 4.040.000 100 R~ 960.000 100 Rp1 00.000.000,00
Rp50.000.000 Rp41.889.000,00 Rp8.111.000,00

aRp 5.000.000,00 = Rp100.000.000,00 X 0,10 X 6/12


bRp 4.324.000,00 = Rp108.111.000,00 X 0,08 X 6/12
CRp 676.000,00 = Rp5.000.000,00- Rp4.324.000,00
ctRp107.435.000,00 = Rp108.111.000,00- Rp676.000,00

Jumal yang digunakan untuk mencatat pendapatan bunga pada tanggal 1


J uli 2002 adalah sebagai berikut.
3.10 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

01/07/02 Kas ............................................. Rp5.000.000,00


Sekuritas yang tersedia untuk dijual ................ Rp 676.000,00
Pendapatan Bunga ............................................ Rp4.324.000,00
(mencatat penerimaan pembayaran bunga)

Pada tanggal 31 Desember 2002, P.T. Grafik akan membuat jurnal


seperti di bawah ini untuk mengakui pendapatan bunga akrual.

31/12/02 Piutang Bunga .................. Rp5.000.000,00


Sekuritas yang tersedia untuk dijual ... Rp 703.000,00
Pendapatan Bunga ................ Rp4.297 .000,00
(mencatat pendapatan bunga akrual)

Akibatnya, PT Grafik akan melaporkan pendapatan bunganya untuk


tahun 2002 sebesar Rp8.621.000,00 (Rp4324.000,00 + Rp4.297.000,00).
Untuk menerapkan metode nilai wajar pada sekuritas utang ini,
asumsikan nilai wajar obligasi pada akhir tahun adalah Rp105.000.000,00.
Setelah membandingkan nilai wajar ini dengan nilai obligasi yang tercatat
pada tanggal 31 Desember 2002, seperti yang tercantum pada Tabel 1.5., PT
Grafik mengakui suatu kerugian kepemilikan yang belum di realisasi sebesar
Rp1.732.000,00 (Rp106.732.000,00 - Rp105.000.000,00). Kerugian ini
dilaporkan sebagai laba komprehensif lainnya sebagai komponen terpisah
dari ekuitas pemegang saham. Jumal untuk mengakui kerugian tersebut
adalah sebagai berikut.
01/01/02 Keuntungan atau kerugian kepemilikan
yang belurn terealisasi - Ekuitas ................ Rp 1. 732.000,00
Penyesuaian nilai wajar sekuritas
(tersedia untuk dijual) ........................ Rp1.732.000,00
(mencatat kerugian yang belum terealisasi)

Jumal tersebut mengkredit akun penyesuaian nilai wajar sekuritas dan


bukan mengkredit akun sekuritas yang tersedia untuk dijual. Penggunaan
akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas (Tersedia untuk Dijual) ini
memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan catatan biaya/cost yang
diamortisasi. Karena akun penyesuaian dalam kasus ini mempunyai saldo
kredit maka saldo ini mengurangi (kontra akun/akun lawan) saldo akun
sekuritas yang tersedia untuk dijual agar mendapatkan nilai wajar. Nilai
e EKMA431 3/MODUL 3 3.11

wajar ini adalah jumlah yang dilaporkan di neraca. Pada setiap tanggal
pelaporan, obligasi ini akan dilaporkan sebesar nilai wajar dengan
penyesuaian ke akun keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum
terealisasi -ekuitas.

Contoh 3.4. Pembelian Portofolio (Lebih dari Satu) Sekuritas


PT Jaring mempunyai dua sekuritas utang yang dikategorikan sebagai
sekuritas yang tersedia untuk dijual. Tabel 3.6. menyajikan informasi
mengenai biaya yang diamortisasi, nilai wajar, dan jumlah keuntungan atau
kerugian yang belum terealisasi.

Portofolio Sekuritas Utang yang Tersedia untuk Dijual


31 Desember 2006
Keuntungan
Biaya/ Cost yang (Kerugian) yang
lnvestasi Nilai Wajar
Diamortisasi Belum Di
realisasi
Obligasi 6/o C.V. Wagiyo Rp 93.537.000,00 Rp1 03.600.000,00 Rp1 0.063.000,00
Obligasi 10/o PT Punah Rp200. 000.000,00 Rp180.400.000,00 (Rp19.600.000,00)
Tatal Portofolio Rp293.537 .000,00 Rp284.000.000,00 (Rp 9.537.000,00)

Saldo penyesuaian nilai -


wajar sekuritas sebelumnya
Penyesuaian nilai wajar (Rp 9.537.000,00)
sekuritas-Kr

Total nilai wajar portofolio PT Jaring yang tersedia untuk dijual adalah
Rp284.000.000,00. keuntungan kotor yang belum terealisasi adalah sebesar
Rp10.063.000,00 dan kerugian kotor yang belum terealisasi adalah
Rp19.600.000,00 yang menghasilkan kerugian bersih yang belum terealisasi
sebesar Rp9 .537 .000,00. Yaitu nilai wajar sekuritas yang tersedia untuk
dijual adalah lebih rendah Rp9.537.000,00 daripada biaya yang
diamortisasinya. Jurnal penyesuaian yang dibuat untuk mencatat penurunan
nilai dan kerugian tersebut adalah sebagai berikut.
3.12 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

31/12/06 Keuntungan atau kerugian kepemilikan


Yang belum terealisasi- Ekuitas ......... Rp9 .537.000,00
Penyesuaian nilai waj ar sekuritas
(tersedia untuk dijual) ............................ Rp9.537.000,00
(mencatat kerugian yang belum terealisasi)

Kerugian kepemilikan yang belum terealisasi sebesar Rp9.537.000,00


dilaporkan sebagai laba komprehensif lainnya dan sebagai pengurang ekuitas
pemegang saham. Seperti telah ditunjukkan sebelumnya, keuntungan dan
kerugian kepemilikan yang belum terealisasi yang berkaitan dengan investasi
yang diklasifikasikan dalam kategori tersedia untuk dijual tidak dimasukkan
dalam laba bersih.
Kemudian, jika obligasi yang tercatat sebagai investasi dalam sekuritas
yang tersedia untuk dijual lantas dijual sebelum tang gal j atuh tempo maka
harus dibuat jurnal untuk mengamortisasi diskonto atau premium pada
tanggal penjualan dan menghapus biaya yang diamortisasi atas obligasi yang
dijual dari akun Sekuritas yang Tersedia untuk Dijual. Untuk lebih jelas,
perhatikan contoh berikut ini.

Contoh 3.5.
Berdasarkan Contoh 3.4. di atas, asumsikan jika PT Jaring menjual
obligasi CV Wagiyo (dari Tabel 3.6.) pada tanggal 1 Juli 2007 dengan harga
Rp90.000.000,00. Asumsikan juga bahwa jumal untuk mengakui amortisasi
diskonto dan penerimaan bunga sampai tanggal 1 Juli 2007 sudah dicatat dan
biaya yang diamortisasi adalah Rp94.214.000,00. Perhitungan kerugian yang
di realisasi adalah sebagai berikut.
Biaya/Kos yang diamortisasi (Obligasi Wagiyo) Rp94.214.000,00
Dikurangi: Harga jual obligasi (Rp90. 000.000,00)
Kerugian atas penjualan obligasi Rp 4.214.000,00

Jumal yang digunakan untuk mencatat penjualan obligasi tersebut adalah


sebagai berikut:
01/07/07 Kas ......................................... Rp90.000.000,00
Kerugian atas penjualan sekuritas .... Rp 4.214.000,00
Sekuritas yang tersedia untuk dijual ............ Rp94.214.000,00
(mencatat penjualan obligasi yang tersedia untuk dijual)
e EKMA431 3/MODUL 3 3.13

Kerugian yang terealisasi ini dilaporkan dalam kelompok Behan dan


Kerugian Lain dalam laporan laba-rugi. Dengan mengasumsikan tidak ada
pembelian dan penjualan obligasi lain dalam tahun 2007, PT Jaring
menyiapkan informasi dalam Tabel 3.7. sebagai berikut pada tanggal 31
Desember 2007.

Portofolio Sekuritas Utang yang Tersedia untuk Dijual


31 Desember 2007
Keuntungan
Biaya/ Cost yang
lnvestasi Nilai Wajar (Kerugian) yang
Diamortisasi
Belum Di realisasi
Obligasi 1Oo/o PT Punah Rp200.000.000,00 Rp195.000.000,00 (Rp5.000.000,00)

Saldo penyesuaian nilai


wajar sekuritas
sebelumnya-Kr Rp9.537.000,00
Penyesuaian nilai wajar Rp4.537.000,00
sekuritas-Dr

Seperti telah ditunjukkan dalam Tabel 3.7. PT Jaring mempunyai


kerugian kepemilikan yang belum terealisasi sebesar Rp5 .000.000,00. Akan
tetapi, akun penyesuaian nilai wajar sekuritas sudah mempunyai saldo kredit
sebesar Rp9.537.000,00. Untuk menurunkan saldo akun penyesuaian ini ke
Rp5 .000.000,00, akun tersebut di debit sebesar Rp4.537 .000,00 dengan jurnal
sebagai berikut:

31/12/06 Penyesuaian nilai wajar sekuritas


(tersedia untuk dijual) ................ Rp4.537 .000,00
Keuntungan atau kerugian kepemilikan
yang belum terealisasi - Ekuitas ............... Rp4.537 .000,00
(mencatat penyesuaian nilai wajar sekuritas)

Selanjutnya, PT Jaring akan menyiapkan laporan keuangan yang berupa


Neraca dan Laporan Laba-Rugi Tahun 2007 yang memuat pos-pos dan
jumlah-jumlah berikut ini (In gat! Obligasi PT Punah merupakan investasi
jangka panjang tetapi tidak dimaksudkan untuk dimiliki sampai jatuh tempo).
3.14 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 3. 7.
Laporan Keuangan sederhana PT Jaring tanggal per 31 Desember 2007

NERACA
Aktiva lancar
Piutang Bunga Rpxxx
lnvestasi
Sekuritas yang tersedia untuk dijual; pada nilai wajar Rp195.000.000,00
Ekuitas Pemegang Saham
Akumulasi kerugian komprehensif lainnya Rp 5.000.000,00
LAPORAN LABA-RUGI
Pendapatan dan Keuntungan lain
Pendapatan Bunga Rpxxx
Beban dan kerugian lain-lain
Kerugian atas penjualan sekuritas Rp4.214.000,00

Sebagian akuntan mendukung dicantumkannya keuntungan atau


kerugian kepemilikan yang belum terealisasi dalam laba bersih dan bukan
diperlihatkan sebagai laba komprehensif lainnya. Akan tetapi, beberapa
perusahaan, terutama institusi keuangan, menyatakan bahwa mengakui
keuntungan dan kerugian atas aktiva, tetapi tidak atas kewajiban, akan
menimbulkan volatilitas yang substansial dalam laba bersih. Mereka
berargumentasi bahwa sering kali terdapat benturan (hedge) antara aktiva dan
kewajiban sehingga keuntungan dalam aktiva di-offset oleh kerugian dalam
kewajiban, dan sebaliknya. Singkatnya, mengakui keuntungan dan kerugian
hanya di sisi aktiva adalah tidak adil dan tidak mewakili aktivitas ekonomi
perusahaan.
Argumentasi tersebut meyakinkan bagi FASB. Akhirnya, keuntungan
dan kerugian yang belum di realisasi ini tidak dimasukkan dalam laba
bersih. Akan tetapi, pendekatan ini tidak memecahkan sebagian
permasalahan karena volatilitas modal masih terj adi. Hal ini
mengkhawatirkan institusi keuangan karena regulator/pembuat kebijakan
membatasi operasi institusi keuangan berdasarkan tingkat modal mereka.
Selain itu, perusahaan tetap bisa mengatur laba bersih mereka dengan terlibat
dalam perdagangan keuntungan (gains trading misalnya menjual yang
menang dan menahan yang kalah).
e EKMA431 3/MODUL 3 3.15

3. Sekuritas Utang Perdagangan


Sekuritas perdagangan (trading securities) dimiliki oleh suatu
perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam periode waktu yang singkat.
Perdagangan dalam konteks ini berarti pembelian dan penjualan sering
dilakukan dan sekuritas perdagangan digunakan untuk menghasilkan laba
dari selisih harga j angka pendek. Periode kepemilikan atas sekuritas ini
biasanya kurang dari 3 bulan dan mungkin lebih sering diukur dalam
hitungan hari atau jam. Sekuritas ini dilaporkan pada nilai wajar, dengan
keuntungan dan kerugian kepemilikan yang belum terealisasi (unrealized
holding gains and losses) dilaporkan sebagai bagian dari lab a bersih. Setiap
diskonto atau premi tidak diamortisasi. Keuntungan atau kerugian
kepemilikan (holding gain loss) adalah perubahan bersih dalam nilai wajar
sekuritas dari satu periode ke periode lainnya, tidak termasuk pendapatan
dividen atau bunga yang telah diakui, tetapi belum diterima. Singkatnya,
FASB memutuskan untuk menyesuaikan sekuritas perdagangan ke nilai wajar
pada setiap tanggal pelaporan. Selain itu, perubahan nilai wajar juga
dilaporkan sebagai bagian dari laba bersih, bukan laba komprehensif lainnya.
Agar lebih jelas, perhatikan contoh berikut ini.

Contoh 3.6.
Pada tanggal 31 Desember 2006, PT Barat menetapkan portofolio
sekuritas perdagangannya sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 3.8. di
bawah ini (asumsikan bahwa tahun 2006 merupakan tahun pertama PT Barat
memiliki sekuritas perdagangan). Pada tanggal akuisisi, sekuritas
perdagangan ini dicatat ke akun yang bernama Sekuritas Perdagangan pada
biaya atas harga pokok, termasuk komisi pialang dan pajak. Ini adalah
penilaian pertama untuk portofolio yang baru saja dibeli.
3.16 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Portofolio Sekuritas Utang Perdagangan


31 Desem ber 2006
Keuntungan
(Kerugian) yang
lnvestasi Biaya/Cost Nilai Wajar
Bel urn
Direalisasi
Obligasi 10/o PT Utara Rp 43.860.000,00 Rp 51.500.000,00 Rp7.640.000,00
Obligasi 11 /o PT Kristal Rp184.230.000,00 Rp175.200.000,00 (Rp9.030.000,00)
Obligasi 8/o PT Warner Rp 86.360.000,00 Rp 91.500.000,00 Rp5.140.000,00
Total Portofol io Rp314.450.000,00 Rp318.200.000,00 Rp3. 750.000,00

Saldo penyesuaian nilai wajar -


sekuritas sebelumnya
Penyesuaian nilai wajar Rp3. 750.000,00
sekuritas-Dr

Total cost/biaya portofolio perdagangan PT Barat adalah


Rp314.450.000,00. Keuntungan kotor yang belum terealisasi adalah
Rp12.780.000,00 (Rp7.640.000,00 + Rp5.140.000,00) dan kerugian kotor
yang bel urn terealisasi adalah Rp9 .030.000,00, yang menghasilkan
keuntungan bersih yang belum terealisasi sebesar Rp3.750.000,00 lebih
tinggi daripada harga pokoknya.
Pada tanggal 31 Desember, dibuat jurnal penyesuaian untuk melakukan
penyisihan penilaian yang disebut sebagai Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas
(perdagangan), mencatat kenaikan nilai tersebut, dan untuk mencatat
keuntungan kepemilikan yang belum terealisasi.
31/12/06 Penyesuaian nilai wajar sekuritas
(Perdagangan) .................................... Rp3. 7 50.000,00
Keuntungan atau kerugian kepemilikan
Yang belurn terealisasi- Laba ................ Rp3.750.000,00
(mencatat penyesuaian nilai wajar sekuritas)

Saldo akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas merupakan saldo debet


maka saldo ini ditambahkan ke akun Sekuritas Perdagangan sebagai biaya
sehingga didapatkan nilai waj ar sekuritas perdagangan tersebut. Nilai waj ar
sekuritas adalah jumlah yang dilaporkan di neraca.
Apabila sekuritas ini aktif diperdagangkan maka F ASB berkeyakinan
bahwa pelaporan keuangan akan lebih baik bila peristiwa-peristiwa ekonomi
yang terkait yang mempengaruhi perusahaan (perubahan nilai wajar) serta
keuntungan dan kerugian yang belum terealisasi dilaporkan dalam periode
e EKMA431 3/MODUL 3 3.17

yang sama. Dimasukkannya perubahan nilai wajar dalam laba akan


memberikan informasi yang lebih relevan kepada pemegang saham sekarang
yang komposisinya mungkin berbeda pada periode berikutnya.

LATIHAN
____ "-..i -

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Apa yang dimaksud dengan sekuritas utang?


2) Sebutkan dan jelaskan klasifikasi sekuritas utang!
3) Apa yang dimaksud dengan Sekuritas Utang Perdagangan?
4) Sebutkan kegunaan dari adanya Sekuritas Utang Perdagangan!
5) Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap keuntungan atau kerugian yang
belum terealisasi untuk setiap kategori?
6) Bagaimana pengaruh setiap kategori sekuritas utang tersebut terhadap
laba?
7) Apa yang dimaksud dengan Biaya yang diamortisasi?
8) Apa yang dimaksud dengan Nilai Wajar?
9) PT Rama membeli obligasi 10% dari PT Master dengan nilai pari
Rp150.000.000,00 pada tanggal 1 Januari 2004, dan membayar
Rp132.300.000,00. Obligasi ini jatuh tempo tanggal 1 Januari 2006;
bunga dibayar setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari. Diskonto sebesar
Rp17.700.000,00 (Rp150.000.000,00- Rp132.300.000,00) memberikan
basil bunga efektif sebesar 12%. Buatlah jurnal untuk mencatat
pembelian obligasi yang dimiliki sampaijatuh tempo!
10) PT SANJAYA membeli obligasi 20%, 5 tahun, senilai
Rp250.000.000,00 pada tanggal 1 Januari 2005, dengan bunga dibayar
setiap tangga11 Juli dan 1 Januari. Obligasi tersebut dijual dengan harga
Rp275.250.000,00 yang menghasilkan premium obligasi sebesar
Rp25.250.000,00 dan suku bunga efektif 12%. Buatlah jurnal untuk
mencatat pembelian obligasi yang tersedia untuk dijual!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Sekuritas utang (debt securities) merupakan instrumen yang


menunjukkan hubungan kreditor dengan suatu perusahaan.
3.18 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

2) Sekuritas Utang diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, yaitu


berikut ini.
a. Dimiliki sampai jatuh tempo (held-to-maturity)
Sekuritas utang yang menurut maksud dan kemampuan perusahaan
akan dimiliki sampai jatuh tempo.
b. Perdagangan (trading)
Sekuritas utang yang dibeli dan dimiliki terutama untuk dijual dalam
waktu dekat untuk menghasilkan keuntungan atas selisih harga
jangka pendek.
c. Tersedia untuk dijual (available for sale)
Sekuritas utang yang tidak diklasifikasikan sebagai sekuritas yang
dimiliki sampai jatuh tempo atau perdagangan.
3) Sekuritas Utang Perdagangan adalah sekuritas utang yang dibeli dan
dimiliki terutama untuk dijual dalam waktu dekat untuk menghasilkan
keuntungan atas selisih harga j angka pendek.
4) Sekuritas utang perdagangan digunakan untuk menghasilkan lab a dari
selisih harga j angka pendek.
5) Perlakuan Akuntansi terhadap Sekuritas Utang yang belum direalisasi,
yaitu berikut ini.

Keuntungan atau kerugian kepemilikan yang


Kategori
belum direalisasi
Dimiliki sampai atuh tempo Tidak diakui
Sekuritas perda~ anf an Diakui dalam laba bersih
Tersedia untuk dijual Diakui sebagai laba komprehensif lainnya dan
sebagai komponen terpisah dari ekuitas
peme an saham
6)
Kategori Pengaruh lainnya terhadap laba
Dimiliki sampai jatuh tempo Bunga pada saat dihasilkan; keuntungan atau
keruc ian dari penualan
Sekuritas perdagangan Bunga pada saat dihasilkan; keuntungan atau
keruc ian dari penualan
Tersedia untuk dijual Bunga pada saat dihasilkan; keuntungan atau
kerugian dari penjualan
7) Biaya yang diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan/akuisisi
yang disesuaikan untuk memperhitungkan amortisasi diskonto atau
premi, j ika dianggap tepat.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.19

8) Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang digunakan bila instrumen
keuangan dipertukarkan dalam transaksi berjalan antara pihak-pihak
yang berkeinginan, selain dari penjualan terpaksa atau likuidasi.
9) Jumal untuk mencatat pembelian obligasi yang dimiliki sampai jatuh
tempo:
Sekuritas yang dimiliki sampai jatuh tempo ... Rp 132.300.000,00
Kas .......................................................... Rp 132.300.000,00
10) Jurnal untuk mencatat pembelian obligasi yang tersedia untuk dijual :
Sekuritas yang tersedia untuk dijual ...... Rp275.250.000,00
Kas ....................................................................Rp275.250.000,00

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sekuritas Utang terbagi menjadi tiga kategori yang masing-masing


perlakuan akuntansi serta pelaporannya berbeda-beda untuk setiap
kategori. (1) Sekuritas Utang yang dimiliki sampai jatuh tempo, dicatat
dan dilaporkan pada biaya yang diamortisasi. (2) Sekuritas Utang
Perdagangan dinilai untuk tujuan pelaporan pada nilai wajarnya, dengan
keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum terealisasi
dimasukkan dalam laba bersih. (3) Sekuritas Utang yang tersedia untuk
dijual, dinilai untuk tujuan pelaporan pada nilai wajarnya, dengan
keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum terealisasi sebagai
laba komprehensif lainnya dan sebagai komponen terpisah dari ekuitas
pemegang saham.

T E S F 0 R MAT IF 1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

1) Manakah yang bukan termasuk klasifikasi Sekuritas Utang yang tersedia


untuk dijual?
A. Obligasi yang jatuh tempo 4 tahun lagi dibeli oleh perusahaan.
Perusahaan berharap untuk memegangnya hingga jatuh tempo. Akan
tetapi, perusahaan sedang mengalami kesulitan uang sehingga
mungkin saja obligasi itu akan dijual.
B. Obligasi dengan jangka waktu 4 tahun dibeli satu bulan yang lalu
ketika harganya turun. Segera setelah harga naik maka obligasi
tersebut dijual.
3.20 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

C. Obligasi yang akan j atuh tempo 5 tahun lagi dimiliki oleh


perusahaan. Perusahaan berencana memegangnya dalam waktu
lama. Akan tetapi, ada kemungkinan untuk dijual sebelum jatuh
tempo jika tiba-tiba perusahaan membutuhkan uang tunai.
D. Obligasi yang akan jatuh tempo 7 tahun lagi dimiliki oleh
perusahaan. Perusahaan berencana memegangnya dalam waktu lama
ketika membelinya 2 tahun lalu dan ada kemungkinan untuk dijual
sebelum jatuh tempo jika perusahaan mengalami kesulitan finansial.

2) Pada tanggal 1 Januari 2003, PT Tinggi membeli seharga Rp322.744,44


obligasi 12%, dengan nilai pari Rp300.000,00. Obligasi tersebut memiliki
suku bunga efektif sebesar 10%. Jika obligasi tersebut jatuh tempo pada 1
Januari 2008, berapakah pendapatan bunga yang diakui tahun 2003?
Obligasi tersebut dikategorikan sebagai held-to-maturity.
A. Rp32.274,44
B. Rp31.901,89
C. Rp31.492,08
D. Rp30.545,86

3) Pendapatan bunga tahun 2007?


A. Rp32.274,44
B. Rp31.901,89
C. Rp31.492,08
D. Rp30.545,86

4) Pendapatan bunga tahun 2004?


A. Rp32.274,44
B. Rp31.901,89
C. Rp31.492,08
D. Rp30.545,86

5) Pendapatan bunga tahun 2005?


A. Rp32.274,44
B. Rp31.901,89
C. Rp31.492,08
D. Rp30.545,86

6) Jika obligasi pada soal nomor 2 hingga 5 tersebut dikategorikan sebagai


Tersedia Untuk Dijual maka terdapat beberapa informasi tentang harga
pasar obligasi tersebut sebagai berikut.
Tahun 2003: Rp320.500,00
Tahun 2004: Rp309.000,00
e EKMA431 3/MODUL 3 3.21

Berapakah pengakuan gain atau loss tahun 2003 atas informasi tersebut?
A. Rp1.481,12
B. Rp1.511,31
C. Rp7 .401,89
D. Rp7.611,34

7) Berapakah pengakuan gain atau loss tahun 2004?


A. Rp1.481,12
B. Rp1.511,31
C. Rp7 .401,89
D. Rp7.611,34

8) Jika perusahaan menjual obligasi 12% dengan nilai pari Rp100.000,00


seharga Rp120.000,00 dan jatuh tempo 3 tahun lagi maka obligasi
tersebut masuk ke dalam kategori apa?
A. Dimiliki hingga jatuh tempo
B. Perdagangan
C. Tersedia untuk dijual
D. Tidak masuk salah satu pun

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90- 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
3.22 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 2

lnvestasi dalam Sekuritas Saham

A. PENGERTIAN SEKURITAS SAHAM

Sekuritas Ekuitas (equity securities) digambarkan sebagai sekuritas yang


menunjukkan bagian kepemilikan, seperti saham biasa, saham preferen atau
modal saham lainnya. Sekuritas ekuitas juga mencakup hak untuk
memperoleh atau melepaskan bagian kepemilikannya dengan harga yang
sudah disepakati atau yang dapat ditentukan, seperti warran, hak, serta opsi
beli (call option) atau opsi jual (put option). Sedangkan, sekuritas utang yang
dapat dikonversi, dan saham preferen yang dapat ditebus tidak diperlakukan
sebagai sekuritas ekuitas. Pada saat sekuritas ekuitas dibeli, harga pokoknya
mencakup harga beli sekuritas tersebut ditambah komisi pialang dan ongkos
lainnya yang berkaitan dengan pembelian itu.
Sejauh mana suatu perusahaan yang berperan sebagai investor
memperoleh bagian atas saham biasa perusahaan lain (in vestee), biasanya
menentukan perlakuan akuntansi untuk investasi tersebut sesudah akuisisi.
lnvestasi oleh satu perusahaan dalam saham biasa perusahaan lain dapat
diklasifikasikan menurut persentase saham dengan hak suara investee yang
dimiliki investor.
1. Kepemilikan kurang dari 20% (metode nilai wajarlfair value) - investor
mempunyai hak pasif.
2. Kepemilikan antara 20% dan 50% (metode ekuitas) - investor
mempunyai pengaruh yang signifikan.
3. Kepemilikan lebih dari 50% (laporan konsolidasi)- investor mempunyai
hak mengendalikan.

Tingkatan hak atau pengaruh ini serta penilaian dan pelaporan yang
harus diterapkan pada investasi ditampilkan dalam Tabel 3.8 berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.23

Tabel 3.8.

Persentase Kepemilikan 0/o- 20/o 20/o - 50/o > 50/o


Tin kat Pen aruh Kecil atau Tidak ada Si nifikan Kendali penuh
Metode Penilaian Metode Nilai waar Metode Ekuitas Konsolidasi

Oleh karena itu, akuntansi dan pelaporan untuk sekuritas ekuitas


tergantung pada tingkat pengaruh dan jenis sekuritas yang terlibat, seperti
diperlihatkan dalam Tabel 3.9 berikut ini.

Tabel 3.9.

Keuntungan atau Kerugian


Pengaruh
Kategori Penilaian Kepemilikan yang Belum
Lainnya terhadap Laba
Terealisasi
Kepemilikan
kurang dari 20/o
1. Tersedia Nilai Wajar Diakui dalam laba Dividen yang diumumkan,
untuk dijual komprehensif lainnya dan keuntungan dan kerugian
sebagai komponen terpisah dari penjualan
dari ekuitas pemegang
saham
2. Perdagangan Nilai Wajar Dividen yang diumumkan,
Diakui dalam laba bersih keuntungan dan kerugian
dari penualan
Kepemilikan Ekuitas Tidak diakui Bagian proporsional
antara 20/o dan dalam laba bersih
50o/o in vestee (disesuaikan
dengan amortisasi yang
teJat
Kepemilikan lebih Konsolidasi Tidak diakui Tidak dapat diterapkan
dari 50/o

B. PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SETIAP KATEGORI


SEKURITAS SAHAM

1. Sekuritas Saham yang Dimiliki Kurang dari 20%


Seperti telah disebutkan, sekuritas ekuitas dicatat pada biaya (cost) atau
harga pokok/cost-nya. Dalam beberapa kasus, biaya/cost sukar ditentukan.
Misalnya, sekuritas ekuitas yang diperoleh dalam pertukaran dengan imbalan
nonkas (properti atau jasa) harus dicatat pada (a) nilai wajar imbalan yang
diberikan atau (b) nilai waj ar sekuritas yang diterima, mana yang dapat
3.24 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

ditentukan dengan lebih jelas. Tidak adanya nilai yang dapat ditentukan
dengan jelas untuk properti atau jasa atau harga pasar sekuritas yang
diperoleh mungkin mengharuskan digunakannya penilaian atau estimasi agar
diperoleh suatu harga pokok (cost).
Pembelian 2 jenis atau lebih sekuritas dengan harga sekaligus (lump
sum) mengharuskan dilakukannya pengalokasian biaya/cost tersebut pada
jenis-jenis yang berbeda dengan cara yang wajar. Jika tersedia nilai wajar
(harga pasar) dari setiap jenis sekuritas maka cost lumpsum dapat dibagi
berdasarkan nilai wajar relatif (relative fair value). Jika tersedia harga pasar
untuk satu sekuritas, tetapi tidak untuk yang lainnya maka metode
inkremental (incremental method) dapat digunakan dan harga pasar tersebut
dibebankan ke sekuritas yang satu itu. Sedangkan, kelebihan biaya/cost
dibebankan ke yang lainnya. Jika harga pasar tidak tersedia pada tanggal
akuisisi beberapa sekuritas maka pembagian biaya/cost mungkin harus
ditunda sampai ada bukti tentang setidaknya satu nilai. Dalam beberapa
kejadian, pembagian cost harus menunggu sampai salah satu sekuritas dijual.
Dalam hal ini, basil dari penjualan satu jenis sekuritas tersebut dapat
dikurangkan dari cost-lumpsum sehingga menyisakan cost-residu yang harus
dibebankan sebagai cost sekuritas lainnya.
Apabila seseorang memiliki hak kurang dari 20% maka diasumsikan
bahwa investor itu mempunyai pengaruh yang kecil atau tidak mempunyai
pengaruh terhadap in vestee. Dalam hal ini, jika harga pasar tersedia maka
investasi itu dinilai dan dilaporkan setelah akuisisi dengan menggunakan
metode nilai wajar (fair value method). Metode nilai wajar mengharuskan
perusahaan mengklasifikasikan sekuritas ekuitas pada saat akuisisi sebagai
sekuritas yang tersedia untuk dijual atau sekuritas perdagangan. Oleh
karena sekuritas ekuitas tidak mempunyai tanggal jatuh tempo maka
sekuritas ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai sekuritas yang dimiliki
sampai jatuh tempo.

a. Sekuritas yang tersedia untuk dijual


Sekuritas yang tersedia untuk dijual pada saat diperoleh dicatat pada
cost-nya. Untuk menggambarkannya, perhatikan contoh berikut ini.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.25

Contoh 3.7.

Pada tanggal 3 November 2006, P.T. Republik membeli saham biasa dari
tiga perusahaan yang setiap investasinya menunjukkan hak kurang dari 20%.
Rinciannya sebagai berikut:
- P.T. Tenggara Rp259.700.000,00
- P.T. Sup Rp317 .500.000,00
- P.T. Kertas Rp141.350.000,00
Total portofolio Rp718.550.000,00

Investasi tersebut akan dicatat dalam jumal seperti di bawah ini:


03/11/06 Sekuritas yang tersedia untuk dijual. ....... Rp718.550.000,00
Kas ......................................................... R p 718 .55 0. 000,00
(mencatat pembelian saham secara lumpsum)
Pada tanggal 6 Desember 2002, P.T. Republik menerima dividen tunai
sebesar Rp4.200.000,00 atas investasinya dalam saham biasa P.T. Sup.
Dividen tunai ini dicatat dalam jurnal sebagai berikut:

06/12/06 Kas ............................................................ Rp4 .200. 000,00


Pendapatan Dividen ................................... Rp.4.200.000,00
(menurut pembelian saham secara Lumpsum)

Ketiga perusahaan investee melaporkan laba bersih untuk tahun berjalan,


tetapi hanya PT Sup yang mengumumkan akan membayar dividen kepada PT
Republik. Namun, seperti ditunjukkan sebelumnya jika seorang investor
memiliki kurang dari 20% saham biasa perusahaan lain maka dianggap
bahwa investor itu memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap investee.
Akibatnya, laba bersih yang dihasilkan investee tidak dianggap sebagai dasar
yang tepat untuk mengakui laba dari investasi oleh investor. Alasannya
bahwa investee bisa saja memilih untuk menahan kenaikan aktiva bersih yang
dihasilkan dari operasi yang menguntungkan itu untuk digunakan dalam
bisnisnya. Oleh karena itu, laba bersih tidak dianggap diperoleh investor
sampai dividen tunai diumumkan oleh investee.
Pada tanggal 31 Desember 2006, portofolio sekuritas ekuitas PT
Republik yang tersedia untuk dijual mempunyai cost/biaya dan nilai wajar
berikut ini.
3.26 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Portofolio Sekuritas Ekuitas yang Tersedia untuk Dijual


31 Desember 2006
Keuntungan
lnvestasi Biaya/Kos Nilai Wajar (Kerugian) yang
Belum Di realisasi
PT Tenggara Rp259. 700.000,00 Rp275.000.000,00 Rp15.300.000,00
PT Sup Rp317.500.000,00 Rp304. 000.000,00 (Rp13.500.000,00)
PT Kertas Rp141.350.000,00 Rp1 04.000.000,00 (Rp37.350.000,00)
Total Portofolio Rp718.550.000,00 Rp683. 000.000 00I (Rp35.550.000,00)

Saldo penyesuaian nilai -


wajar sekuritas
sebelumnya
Penyesuaian nilai wajar (Rp35.550.000,00)
sekuritas-Kr

Untuk portofolio sekuritas ekuitas PT Republik yang tersedia untuk


dijual, keuntungan kotor yang belum terealisasi adalah Rp15.300.000,00 dan
kerugian kotor yang belum terealisasi adalah Rp50.850.000,00
(Rpl3.500.000,00 + Rp37.350.000,00) sehingga menghasilkan kerugian
bersih sebesar Rp35 .550.000,00. Nilai wajar portofolio yang tersedia untuk
dijual adalah Rp35 .550.000,00 lebih rendah daripada kos/biayanya. Seperti
halnya sekuritas utang yang tersedia untuk dijual, keuntungan dan kerugian
bersih yang belurn terealisasi yang berkaitan dengan perubahan nilai waj ar
sekuritas ekuitas yang tersedia untuk dijual, dicatat dalam akun Keuntungan
atau Kerugian Kepemilikan yang belum Terealisasi - Ekuitas dan dilaporkan
sebagai bagian dari laba komprehensif lainnya serta sebagai komponen
ekuitas pemegang saham sampai terealisasi. Dalam hal ini, PT Republik
membuat sebuah jurnal penyesuaian yang mendebet akun Keuntungan atau
Kerugian Kepemilikan yang belum Terealisasi - Ekuitas dan mengkredit
akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas untuk mencatat penurunan nilai
wajar serta mencatat kerugian sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.27

31/12/(Xi Kellllttmgan atau kerugian k~rnilikan


yang belmn terealisasi- Ekuitas ............................ Rp. 35.550.(XX)
Penyesuaian nilai wajar sekuritas (tersedia mtuk dijual) ... Rp.35.550.(XX)
(rrencatat kerugian yang belmn terealisasi)

Pada tanggal 23 Januari 2007, P.T. Republik rrenjual seluruh saham biasa yang dimilikinya
pada P.T. Tenggara dan rrenerirm laba bersih sebesar Rp. 287.220.(XX),00. Kellllttmgan yang
terealisasi atas penjualan ini dihitung sebagai berikut :

Hasil bersih dari penjualan : Rp. 287.220.(XX),00


Biaya/Kos SahamP.T. Tenggara :(Rp. 259.700.CXX),00)
Kemtungan atas penjualan saham : Rp. 27.520.(XX),00
Penjualan tersebut, dicatat dalam jtnnal seperti eli bawah ini :

23/01/(J? :Kts ......................................................................... Rp. 287.220.(XX)


Sekuritas yang Tersedia mtuk Dijual ................................ Rp. 259.700.(XX)
Kemtungan atas Penjualan Saham ............................. Rp. 27.520.(XX)
(rrencatat penjualan saham beserta keunttmgannya)

Selain itu, asumsikan bahwa pada tanggal 10 Februari 2007, PT


Republik membeli 20.000 lembar saham PT Benua dengan harga pasar
Rp12.750,00 per saham ditambah komisi pialang Rp1.850.000,00 (total cost
Rp256.850.000,00).
Pada tanggal 31 Desember 2007, portofolio sekuritas PT Republik yang
tersedia untuk dij ual adalah sebagai berikut.

Portofolio Sekuritas Ekuitas yang Tersedia Untuk Dijual


31 Desember 2007
Keuntungan
lnvestasi Biaya/Kos Nilai Wajar (Kerugian) yang
Belum Di realisasi
PT Benua Rp256.850.000,00 Rp278.350.000,00 Rp21.500.000,00
PT Sup Rp317.500.000,00 Rp362.550.000,00 Rp45.050.000,00
PT Kertas Rp141.350.000,00 Rp139.050.000,00 (Rp 2.300.000,00)
Total Portofolio Rp715.700.000,00 Rp 779.950.000,00 Rp64.250.000,00

Saldo penyesuaian nilai Rp35.550.000,00


wajar sekuritas
sebel umnya-Kr
Penyesuaian nilai wajar Rp99.800.000,00
sekuritas-Dr
3.28 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Pada tanggal 31 Desember 2007, nilai wajar portofolio sekuritas ekuitas


PT Republik yang tersedia untuk dijual melebihi kos/biaya sebesar
Rp64.250.000,00 (keuntungan yang belum terealisasi). Akun penyesuaian
nilai wajar sekuritas mempunyai saldo kredit sebesar Rp35.550.000,00 pada
tanggal 31 Desember 2006, untuk menyesuaikan portofolio PT Republik,
akun penyesuaian nilai wajar sekuritas harus di debet sebesar
Rp99.800.000,00 (Rp35.550.000,00 + Rp64.250.000,00). Jurnal untuk
mencatat penyesuaian tersebut adalah sebagai berikut.

31/12/07 Penyesuaian nilai wajar sekuritas


(tersedia untuk dijual) ......................... Rp99 .800.000,00
Keuntungan atau kerugian kepemilikan
Yang belum terealisasi - Ekuitas ............. Rp99 .800.000,00
(mencatat penyesuaian nilai wajar sekuritas)

b. Sekuritas perdagangan
Jurnal untuk mencatat sekuritas ekuitas perdagangan sama, seperti dalam
sekuritas ekuitas yang tersedia untuk dijual. Perbedaannya ada pada
pencatatan keuntungan atau kerugian kepemilikan atau kerugian kepemilikan
yang belum di realisasi. Pada sekuritas ekuitas perdagangan, keuntungan atau
kerugian kepemilikan yang belum terealisasi dilaporkan sebagai bagian dari
lab a bersih. J adi, digunakan nama akun Keuntungan atau Kerugian
Kepemilikan yang Belum Terealisasi-Laba. Ketika penjualan dilakukan,
bagian keuntungan atau kerugian diakui dalam laba.

2. Sekuritas Saham yang dimiliki antara 20-50%


W alaupun perusahaan investor dapat memiliki saham perusahaan
investee kurang dari 50%, hal ini menyebabkan perusahaan investor tidak
memiliki kendali hukum terhadap perusahaan investee. Akan tetapi, meskipun
investor berinvestasi dalam saham dengan hak suara kurang dari 50%,
mereka masih mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengaruh yang
signifikan terhadap kebij akan operasi dan keuangan investee. U ntuk
memberikan pedoman akuntansi bagi para investor jika saham biasa dengan
hak suara yang dimiliki adalah 50% atau kurang, dan untuk mengembangkan
definisi operasional dari "pengaruh yang signifikan" maka APB dalam
Opinion No. 18 menyatakan bahwa kemampuan untuk menjalankan pengaruh
itu dapat ditunjukkan dalam beberapa cara. Beberapa contohnya adalah
e EKMA431 3/MODUL 3 3.29

perwakilan dalam dewan direksi, partisipasi dalam proses pembuatan


kebij akan, transaksi antarperusahaan yang material, pertukaran personil
manajerial atau ketergantungan teknologi. Pertimbangan penting lainnya
adalah besarnya kepemilikan investor hila dikaitkan dengan pemusatan
kepemilikan saham lainnya. Akan tetapi, kepemilikan yang substansial atau
mayoritas atas saham dengan hak suara investee oleh investor lain tidak akan
menghilangkan kemampuan untuk melaksanakan pengaruh yang signifikan
oleh investor tersebut.
Sering kali, diperlukan pertimbangan dalam menentukan apakah suatu
investasi sebesar 20% atau lebih menghasilkan "pengaruh yang signifikan"
terhadap kebijakan investee. Pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-
an, meningkatnya jumlah upaya merger dan pengambilalihan "secara paksa"
telah menciptakan situasi di mana "pengaruh yang signifikan" atas investee
sulit ditentukan. Oleh karenanya, FASB memberikan contoh-contoh kasus, di
mana investasi sebesar 20% atau lebih tidak memungkinkan investor untuk
melaksanakan "pengaruh yang signifikan". Berikut ini contoh-contoh yang
diberikan FASB.
a. Investee menentang akuisisi sahamnya oleh investor. Misalnya, investee
mengajukan tuntutan terhadap investor atau mengajukan pengaduan
kepada badan regulator pemerintah.
b. Investor dan investee menandatangani suatu perjanjian yang menyatakan
bahwa investor akan melepaskan hak-hak pemegang saham yang
signifikan. Hal ini biasanya terjadi jika investee menolak upaya
pengambilalihan oleh investor, dan investor setuju untuk membatasi
kepemilikan sahamnya dalam investee.
c. Bagian kepemilikan investor tidak menghasilkan "pengaruh yang
signifikan" karena kepemilikan mayoritas atas investee terpusat pada
sekelompok kecil pemegang saham yang mengoperasikan investee tanpa
memperhatikan pandangan investor lainnya.
d. Investor membutuhkan atau menginginkan lebih banyak informasi
keuangan daripada yang diterbitkan investee kepada publik. Kemudian,
mencoba mendapatkannya dari investee, namun gagal.
e. Investor mencoba dan gagal untuk menempatkan wakilnya dalam dewan
direksi investee.
3.30 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

FASB mengatakan bahwa daftar contoh ini belum mencakup semuanya.


Daftar ini dimaksudkan untuk memberikan contoh jenis-jenis bukti yang
memerlukan analisis lebih dalam untuk menentukan apakah investor dapat
atau tidak dapat menj alankan "pengaruh yang signifikan" terhadap in vestee.
Untuk mencapai tingkat keseragaman yang layak dalam penerapan
kriteria "pengaruh yang signifikan", profesi akuntan menyimpulkan bahwa
investasi (langsung atau tidak langsung) sebesar 20% atau lebih dalam saham
dengan hak suara, investee seharusnya mengarah pada anggapan bahwa tidak
ada bukti yang menunjukkan sebaliknya maka investor memiliki kemampuan
untuk menjalankan pengaruh yang signifikan terhadap investee.
Dalam hal terdapat "pengaruh yang signifikan" (biasanya investasi
sebesar 20% atau lebih), investor diharuskan untuk memperhatikan investasi
itu dengan metode ekuitas (equity method). Berikut ini penjelasan tentang
metode ekuitas.

C. METODE EKUITAS

Dalam metode ekuitas diketahui adanya hubungan ekonomi yang nyata


antara investor dan investee. Investasi pada awalnya dicatat pada cost/biaya
saham yang diperoleh, kemudian disesuaikan pada setiap periode untuk
memperhitungkan perubahan aktiva bersih investee, yaitu jumlah tercatat
investasi secara periodik ditambah (dikurangi) dengan bagian
proporsional investor atas laba (rugi) investee dan dikurangi dengan
semua dividen yang diterima investor dari investee. Metode ekuitas
mengakui bahwa laba investee akan menambah aktiva bersih investee, dan
bahwa kerugian serta dividen investee mengurangi aktiva bersih tersebut.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini yang membandingkan
antara metode nilai wajar dengan metode ekuitas.

Contoh 3.8.
PT Musim membeli 20% kepemilikan dalam PT Kecil. Untuk
menerapkan metode nilai wajar dalam contoh ini, asumsikan bahwa PT
Musim tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan pengaruh yang
signifikan dan sekuritas ini diklasifikasikan sebagai sekuritas yang tersedia
untuk dijual. Apabila metode ekuitas diterapkan dalam contoh ini, asumsikan
bahwa hak kepemilikan sebesar 20% itu akan memungkinkan PT Musim
e EKMA431 3/MODUL 3 3.31

untuk menerapkan pengaruh yang signifikan. Berikut ini jurnal-jurnal yang


dicatat oleh PT Musim terkait dengan investasinya di PT Kecil.

Jurnal oleh PT Musim (dalam ribuan rupiah)


Metode Nilai Wajar Metode Ekuitas
Pada tanggal 2 Januari 2005, PT Musim membeli 48.000 saham (20% saham biasa PT Kecil) dengan
biaya Rp1 0.000,00 per sa ham.
Sekuritas yang tersedia lnvestasi dalam saham PT
untuk dijual Rp480.000,00 Kecil Rp480.000,00
Kas Rp480.000,00 Kas Rp480.000,00
Untuk tahun 2005, PT Kecil melaporkan laba bersih sebesar Rp200.000.000,00; bagian PT Musim
adalah 20% atau Rp40.000.000,00.
lnvestasi dalam saham PT
Kecil Rp40.000,00
Tidak ada jurnal
Pendapatan dari Rp40.000,00
investasi
Pada tanggal 31 Desember 2005, 48.000 saham PT Kecil mempunyai nilai wajar (harga pasar)
Rp12.000,00 per saham atau Rp576.000.000,00.
Penyesuaian nilai wajar
sekuritas (tersedia untuk
dijual) Rp96.000,00
Keuntungan atau
Tidak ada Jurnal
kerugian
kepemilikan yang
belum terealisasi- Rp96.000,00
ekuitas
Pada tanggal 28 Januari 2006, PT Kecil mengumumkan akan membayar dividen tunai sebesar
Rp1 00.000.000; PT Musim menerima 20% atau Rp20.000.000,00.
Kas Rp20.000,00 Kas Rp20.000,00
Pendapatan dividen Rp20.000,00 lnvestasi dalam
Saham PT Kecil Rp20.000,00
Untuk tahun 2006, PT Kecil melaporkan kerugian bersih sebesar Rp50.000.000,00; bagian PT Musim
adalah 20% atau Rp10.000.000,00.
Kerugian atas investasi Rp1 0.000,00
Tidak ada Jurnal lnvestasi dalam
saham PT Kecil Rp10.000,00
Pada tanggal 31 Desember 2006, 48.000 sa ham PT Kecil mempunyai nilai wajar (harga pasar)
Rp11.000,00 per saham atau Rp528.000.000,00.
Keuntungan atau kerugian
kepemilikan yang belum
terealisasi-ekuitas
Penyesuaian nilai Rp48.000,00 Tidak ada Jurnal
wajar sekuritas
(tersedia untuk
dijual) Rp48.000,00
3.32 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Dari contoh tersebut, perhatikan bahwa menurut metode nilai wajar,


hanya dividen tunai yang diterima dari PT Kecil yang dilaporkan sebagai
pendapatan oleh PT Musim. Perolehan laba bersih oleh investee tidak
dianggap sebagai dasar yang tepat untuk mengakui laba dari investasi
oleh investor. Alasannya, kenaikan aktiva bersih yang berasal dari operasi
investee yang menguntungkan mungkin saja secara permanen ditahan dalam
bisnis oleh investee. Oleh karena itu, pendapatan tidak dianggap diperoleh
investor sampai di viden diterima dari investee.
Sedangkan, menurut metode ekuitas, PT Musim melaporkan hal tersebut
sebagai pendapatan atau bagiannya atas laba bersih yang dilaporkan PT
Kecil; dividen tunai yang diterima PT Kecil dicatat sebagai penurunan nilai
tercatat investasi. Akibatnya, investor mencatat bagiannya dalam laba bersih
investee pada tahun bagian itu diperoleh (menjadi hak). Dalam hal ini,
investor dapat memastikan bahwa setiap kenaikan aktiva bersih yang berasal
dari laba bersih akan dibayar dalam bentuk dividen jika diinginkan.
Menunggu sampai dividen diterima berarti mengabaikan fakta bahwa investor
akan diuntungkan jika investee memperoleh lab a.
Penggunaan dividen sebagai dasar untuk mengakui pendapatan dapat
menimbulkan masalah tambahan. Misalnya, asumsikan bahwa investee
melaporkan suatu kerugian bersih, tetapi investor memanfaatkan pengaruhnya
untuk memaksa pembayaran dividen dari investee. Dalam hal ini, investor
melaporkan laba walaupun investee mengalami kerugian. Dengan kata lain,
jika dividen digunakan sebagai dasar untuk mengakui pendapatan,
keadaan ekonomi tidak dilaporkan sebagaimana mestinya.

1. Kerugian In vestee Melebihi Jumlah Tercatat


Jika bagian investor atas kerugian investee melebihi jumlah tercatat
investasi maka apakah investor harus mengakui tambahan? Biasanya,
investor harus menghentikan penerapan metode ekuitas dan tidak mengakui
kerugian tambahan.
Akan tetapi, jika potensi kerugian investor tidak terbatas sampai jumlah
investasi awalnya (dengan jaminan kewajiban investee atau komitmen lain
untuk memberikan dukungan keuangan lebih lanjut) atau jika tampaknya
investee dapat dipastikan segera kembali ke operasi yang menguntungkan
maka tepat jika investor mengakui kerugian tambahan.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.33

2. Sekuritas Saham yang Dimiliki Lebih dari 50%


Jika suatu perusahaan memperoleh hak suara lebih dari 50%, yaitu hak
mengendalikan perusahaan lain maka perusahaan investor disebut sebagai
perusahaan induk (parent) dan perusahaan investee disebut sebagai
perusahaan anak (subsidiary). Investasi dalam saham biasa perusahaan anak
disajikan sebagai investasi jangka panjang dalam laporan keuangan tersendiri
yang dibuat oleh perusahaan induk.
Apabila perusahaan induk memperlakukan perusahaan anak sebagai
suatu investasi maka yang biasanya dibuat adalah laporan keuangan
konsolidasian (consolidated financial statements) dan bukan laporan
keuangan terpisah baik untuk perusahaan induk maupun perusahaan anak.
Laporan keuangan konsolidasian mengabaikan perbedaan antara entitas legal
yang terpisah dan memperlakukan perusahaan induk dan sebagai satu entitas
ekonomi. Masalah kapan dan bagaimana menyiapkan laporan keuangan
konsolidasian akan dibahas secara lebih mendalam dalam mata kuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan (Advanced Accounting). Apakah laporan
keuangan konsolidasian disiapkan atau tidak, investasi dalam anak
perusahaan umumnya diperhitungkan dalam pembukuan perusahaan induk
dengan memakai metode ekuitas seperti yang diterangkan dalam kegiatan
belajar ini.

~- -
-~ -; LATIHAN
------------------------------------------
-----
' - 1'(
--

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Apa yang dimaksud dengan sekuritas ekuitas?


2) Sebutkan klasifikasi a tau kategori sekuritas ekuitas!
3) Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap keuntungan atau kerugian yang
belurn terealisasi untuk setiap kategori?
4) Bagaimana pengaruh setiap kategori sekuritas ekuitas tersebut terhadap
lab a?
5) Sebutkan perbedaan dalam pencatatan sekuritas ekuitas perdagangan
dengan sekuritas ekuitas yang tersedia untuk dijual!
6) Apa yang harus dilakukan perusahaan dalam mengklasifikasikan
sekuritas ekuitas dengan menggunakan metode nilai wajar?
3.34 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

7) Apa yang harus dilakukan pada saat pembelian dua jenis atau lebih
sekuritas dengan harga sekaligus (lump sum)?
8) Pada tanggal 29 November 2006, PT BAGAS membeli saham biasa dari
tiga perusahaan yang setiap investasinya menunjukkan hak kurang dari
20%. Perinciannya sebagai berikut.
PT PUTRI Rp260.750.000,00.
PT ANGGARA Rp421.500.000,00.
PT SAMUDRA Rp231.350.000,00.
Buatlah jumal yang mencatat pembelian saham secara lump sum!
9) Pada tanggal 1 Januari 2006, PT ANGGUR membeli 50.000 saham
(20% saham biasa PT MANGGA) dengan biaya Rp12.000,00 per saham.
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi di atas dengan menggunakan
metode ekuitas!
10) Pada tanggal 1 Januari 2005, PT INDAH membeli 35.000 saham (20%
saham biasa PT PESONA) dengan biaya Rp15.000,00 per saham.
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi di atas dengan menggunakan
metode nilai wajar!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Sekuritas Ekuitas (equity securities) digambarkan sebagai sekuritas yang


menunjukkan bagian kepemilikan, seperti saham biasa, saham preferen
atau modal saham lainnya. Sekuritas ekuitas juga mencakup hak untuk
memperoleh atau melepaskan bagian kepemilikannya dengan harga yang
sudah disepakati atau yang dapat ditentukan, seperti warran, hak, serta
opsi beli (call option) atau opsi jual (put option).
2) Sekuritas Ekuitas diklasifikasikan menj adi beberapa kategori, yaitu
berikut ini.
a) Kepemilikan kurang dari 20%.
(1) Tersedia untuk dijual.
(2) Perdagangan.
b) Kepemilikan antara 20% dan 50%.
c) Kepemilikan lebih dari 50%.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.35

3)
Keuntungan atau Kerugian Kepemilikan
Kate ori tan Belum Terealisasi
Kepemilikan kurang dari 20/o
1. Tersedia untuk dijual Diakui dalam laba komprehensif lainnya
dan sebagai komponen terpisah dari
ekuitas pemegang saham

2. Perda~ an~ an Diakui dalam laba bersih


Ke pemilikan antara 20/o dan 50o/o Tidak diakui
Ke :>emilikan lebih dari 50/o Tidak diakui
4)
Pengaruh
Kategori Lainnya terhadap Laba
Kepemilikan kurang dari 20/o
1. Tersedia untuk dijual Dividen yang diumumkan, keuntungan dan
kerugian dari penjualan

2. Perdagangan Dividen yang diumumkan, keuntungan dan


keruc ian dari penualan
Kepemilikan antara 20/o dan 50/o Bagian proporsional dalam laba bersih investee
disesuaikan den an amortisasi 'Jan tepat
Ke pemilikan lebih dari 50/o Tidak dapat diterapkan

5) Perbedaan antara Sekuritas ekuitas perdagangan dengan sekuritas ekuitas


yang tersedia untuk dijual ada pada pencatatan keuntungan atau kerugian
kepemilikan atau kerugian kepemilikan yang belum direalisasi. Pada
sekuritas ekuitas perdagangan, keuntungan atau kerugian kepemilikan
yang belurn terealisasi dilaporkan sebagai bagian dari lab a bersih. J adi,
digunakan nama akun Keuntungan atau Kerugian Kepemilikan yang
Belum Terealisasi-Laba. Ketika penjualan dilakukan, bagian keuntungan
atau kerugian diakui dalam laba.
6) Metode nilai wajar mengharuskan perusahaan mengklasifikasikan
sekuritas ekuitas pada saat akuisisi sebagai sekuritas yang tersedia untuk
dijual atau sekuritas perdagangan.
7) Pembelian dua jenis atau lebih sekuritas dengan harga sekaligus (lump
sum) mengharuskan dilakukannya pengalokasian biaya/cost tersebut
pada jenis-jenis yang berbeda dengan cara yang wajar. Jika tersedia nilai
wajar (harga pasar) dari setiap jenis sekuritas maka cost lump sum dapat
dibagi berdasarkan nilai wajar relatif (relative fair value).
3.36 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

8) Jumal untuk mencatat pembelian saham secara lump sum, yaitu berikut

lnl.
Sekuritas yang tersedia untuk dijual ........ Rp913.600.000,00
Kas .......................................................... Rp913.600.000,00

9) Investasi dalam saham PT MANGGA............ Rp600.000.000,00


Kas ........................................................... Rp600. 000.000,00

10) Sekuritas yang tersedia untuk dijual. ............... Rp525 .000.000,00


Kas ........................................................ Rp525 .000.000,00

RANGKUMAN

Sekuritas ekuitas terdiri dari beberapa kategori yang perlakuan


akuntansi untuk masing-masing kategori berbeda-beda. Sejauh mana
satu perusahaan (investor) memperoleh hak dalam saham biasa
perusahaan lain (investee), biasanya menentukan perlakuan akuntansi
untuk investasi tersebut. Investasi jangka panjang oleh satu perusahaan
dalam saham biasa perusahaan lain dapat diklasifikasikan menurut
persentase saham dengan hak suara investee yang dimiliki investor.
Menurut metode ekuitas, diakui adanya hubungan ekonomi yang
substantif antara investor dan investee. Investasi pada awalnya dicatat
pada costlbiaya, tetapi sesudah itu disesuaikan setiap periode untuk
memperhitungkan perubahan aktiva bersih investee, yaitu jumlah tercatat
investasi itu secara periodik dinaikkan (diturunkan) sebesar bagian
proporsional investor atas laba (rugi) investee dan dikurangi oleh seluruh
dividen yang diterima investor dari investee. Menurut metode nilai
wajar, ekuitas dilaporkan oleh investor sebesar nilai wajar setiap periode
tanpa tergantung pada laba investee atau dividen yang dibayarkan kepada
investor. Metode ekuitas diterapkan pada kepemilikan investasi antara
20o/o dan 50%. Sedangkan, metode nilai wajar diterapkan pada
kepemilikan di bawah 20%.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.37

TES FORMATIF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Manakah yang merupakan perbedaan antara sekuritas ekuitas yang


tersedia untuk dijual dan sekuritas ekuitas perdagangan?
A. Pengakuan gain atau loss
B. Penempatan gain atau loss pada laporan laba-rugi
C. Dasar pelaporan besarnya investasi
D. Jangka waktu dimilikinya

2) PT Bang Emil menjual 10.000 saham PT Disko yang dimilikinya dengan


harga Rp27.500,00 per lembar. Komisi untuk broker Rp1.770.000,00.
Sekuritas ini termasuk perdagangan yang dulu dibeli dengan total cost
Rp250.000.000,00. Berapakah kas yang diterima oleh PT Bank Emil
dengan penjualan tersebut?
A. Rp273 .230.000,00
B. Rp275.000.000,00
C. Rp250.000.000,00
D. Rp276.770.000,00

3) Berdasarkan soal nomor 2 di atas, berapakah gain (keuntungan) yang


diperoleh?
A. Rugi Rp1.770.000,00
B. RpO
C. Rp25 .000.000,00
D . Rp23.230.000,00

4) PT Pacman membeli 300 lembar saham milik PT Galiga yang


diklasifikasikan sebagai perdagangan seharga total Rp9.900.000,00. Di
tahun ini, PT Galiga membayar dividen sebesar Rp3.250,00 per saham.
Berapakah dividen yang diterima oleh PT Pacman?
A. Rp 300.000,00
B. Rp 950.000,00
C. Rp 975.000,00
D. Rp 1.000.000,00
3.38 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

5) Jika pada akhir tahun harga pasar saham PT Galiga adalah Rp34.500,00
per saham, berapakah gain atau loss yang diakui oleh PT Pacman?
A. Tidak ada
B. Gain Rp300.000,00
C. Loss Rp450.000,00
D. Gain Rp450.000,00

6) PT Pena membeli 25% kepemilikan PT Pensil seharga


Rp300.000.000,00. Investasi ini memberikan PT Pena pengaruh yang
signifikan terhadap PT Pensil. Tahun ini, PT Pensil memperoleh laba
bersih sebesar Rp180.000.000,00. Bagaimana PT Pena mengakui hal ini?
A. lnvestasi berkurang Rp 180.000.000,00
B. lnvestasi berkurang Rp 45.000.000,00
C. lnvestasi bertambah Rp 180.000.000,00
D. Investasi bertambah Rp 45.000.000,00

7) Jika pada tahun yang sama PT Pensil membagikan dividen sebesar


Rp60.000.000,00 maka bagaimana PT Pena mengakui hal ini?
A. Pendapatan meningkat Rp15.000.000,00
B. Pendapatan meningkat Rp60.000.000,00
C. Investasi berkurang Rp60.000.000,00
D. Investasi berkurang Rp15.000.000,00

Informasi untuk soal nomor 8- 10.

Pada tanggal 31 Desember 2003, PT Macan menyediakan informasi


terkait portofolio sahamnya yang dikategorikan sekuritas perdagangan
sebagai berikut.

Portofolio Sekuritas Ekuitas Perdagangan


31 Desember 2003
lnvestasi Saham Biaya/Cost Nilai Wajar
PT Kalem Rp20.000.000,00 Rp19.000.000,00
PT Warna Rp1 0.000.000,00 Rp 9.000.000,00
PT Kerbau Rp20.000.000,00 Rp20.600.000,00

Selama tahun 2004, Saham PT Warna dijual dengan total seharga


Rp9.400.000,00. Nilai wajar saham pada 31 Desember 2004 adalah PT
Kalem sebesar Rp19.100.000,00 dan PT Kerbau sebesar
Rp20.500.000,00.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.39

8) Berapakah gain atau loss yang belum terealisasi yang disesuaikan ke


nilai buku sekuritas ekuitas perdagangan PT Macan?
A. Gain Rp 600.000,00
B. Loss Rp 600.000,00
C. Gain Rp 1.400.000,00
D. Loss Rp1.400.000,00

9) Berapakah gain atau loss yang diakui PT Macan terkait dengan


penjualan saham PT W arna di tahun 2004?
A. Gain Rp 600.000,00
B. Loss Rp 600.000,00
C. Gain Rp1.400.000,00
D. Loss Rp1.400.000,00

10) Pada tanggal 31 Desember 2004, berapakah gain atau loss yang belum
terealisasi yang diakui oleh PT Macan?
A. Gain Rp 400.000,00
B. Loss Rp 400.000,00
C. Gain Rp 1.000.000,00
D. Loss Rp1.000.000,00

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
3.40 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif2


1) B 1) A
2) A 2) B
3) D 3) c
4) A 4) c
5) A 5) c
6) A 6) B
7) D 7) A
8) D 8) D
9) B
10) B
e EKMA431 3/MODUL 3 3.41

Glosarium

Diskon/Diskonto/Disagio
Selisih an tara nilai nominal dan harga jual
Obligasi (Bond ketika obligasi dijual di bawah nilai
Discount). nominalnya.

Ekuitas (Equity)
Kepemilikan sisa atas aktiva suatu entitas
yang tersisa setelah dikurangi dengan
kewajibannya.
Laba Komprehensif
Konsep pengukuran dan pelaporan laba
(Comprehensive Income) yang mencakup seluruh perubahan pada
ekuitas pemilik kecuali investasi oleh
pemilik dan distribusi kepada pemilik.
Metode Suku Bunga
Metode amortisasi yang mengakui
Efektif (Effective- amortisasi premi atau diskon obligasi
Interest Method) menggunakan tarif sama; dihitung sebagai
suku bunga konstan di kali saldo investasi
yang berubah.
Modal Saham (Capital
Bagian dari jumlah yang diinvestasikan oleh
Stock) pemegang saham yang
ditetapkan sebagai nilai nominal atau nilai
yang dinyatakan (stated value).
Opsi Bell (Call Option)
Kontrak yang memberikan hak, dan
bukannya kewajiban kepada pemilik/peme-
gangnya untuk membeli aktiva pada harga
tertentu.
Opsi Jual (Put Option)
Kontrak yang memberikan hak, dan
bukannya kewajiban, kepada pemilik/peme-
gangnya, untuk menjual suatu aktiva pada
harga tertentu.
Premi/Agio Obligasi
5elisih 6ntara nilai nominal dan harga jual
(Bond Premium) ketika obligasi dijual di atas nilai
nominalnya.
3.42 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Saham Preferen (Preferr-


Jenis saham yang biasanya memiliki hak
ed Stock) atas dividen dan likuidasi lebih dulu
daripada pemegang saham biasa; pemegang
saham preferen biasanya tidak memiliki hak
suara untuk memilih dewan direksi.
e EKMA431 3/MODUL 3 3.43

Daftar Pustaka

Ikatan Akuntan Indonesia. (1999). Standar Akuntansi Keuangan-Buku Satu.


Jakarta: Salemba Empat.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. (2004). Intermediate Accounting.


Edisi ke-11. New York: John Wiley & Sons.
MDDUL 4

Utang Jangka Pendek dan


Utang Jangka Panjang
Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A, Akt.
PENDAHULUAN

alam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan pernah terlepas dari utang.
Mulai dari meminjam uang dari ternan, utang 'jajan' di warung
tetangga, sampai kredit usaha dari bank. Begitu pun kehidupan suatu
perusahaan. Utang merupakan salah satu instrumen pembiayaan selain
saham. Oleh karena itu, utang merupakan hal yang penting bagi perusahaan
untuk terus berkembang.
Utang menurut pengertian FASB didefinisikan sebagai kemungkinan
pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang timbul dari kewajiban
saat ini untuk mentransfer asset atau menyediakan j as a kepada entitas lain
sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lampau. Berdasarkan definisi
tersebut, terdapat tiga karakteristik utang, yaitu:
1. merupakan kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa
mendatang,
2. merupakan kewajiban saat ini untuk mentransfer asset atau menyediakan
j as a kepada entitas lain,
3. merupakan akibat dari transaksi dan/atau kejadian di masa lampau.

Karena utang merupakan pelunasan atau pembayaran dalam bentuk asset


atau jasa maka salah satu fitur yang paling penting adalah kapan waktunya
harus dibayar. Oleh karena itu, utang dapat dikategorikan sebagai utang
jangka pendek dan utang jangka panjang. Utang jangka pendek, artinya utang
yang jatuh tempo kurang dari satu tahun atau satu periode akuntansi.
Sedangkan, utang jangka panjang merupakan utang yang jatuh temponya
lebih dari satu tahun atau satu periode akuntansi.
Dalam modul ini, akan dibahas banyak hal tentang utang. Agar lebih
fokus, garis besar pembahasan modul ini didasarkan pada dua jenis utang,
yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Kemudian, secara lebih
4.2 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

khusus akan dibahas salah satu bentuk utang jangka panjang yang sangat
penting dan yang paling dikenal dalam dunia bisnis, yaitu utang obligasi.
Oleh karena itu, pembahasan modul ini akan dibagi menjadi 4 bagian
sebagai berikut.
1. Utang Jangka Pendek.
2. Utang Jangka Panjang.
3. Akuntansi Utang Obligasi.
4. Obligasi Berseri dan Obligasi Terkonversi

Dalam pembahasan utang obligasi, akan digunakan istilah SUO (Surat


Utang Obligasi), obligasi ataupun Utang Obligasi untuk pengertian yang
sama.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda bisa mengetahui secara
lebih mendalam mengenai utang, baik jangka pendek maupun jangka
panjang. Secara lebih khusus, tentang utang obligasi yang meliputi
pengetahuan mengenai apa itu obligasi, jenis-jenis obligasi, akuntansi
obligasi dari perhitungan, pencatatan, sampai pelaporannya.

Lebih lanjut lagi, Anda diharapkan mampu untuk dapat:


1. menjelaskan perbedaan sifat utang jangka pendek dan utang jangka

panJang;
2. menjelaskan pengertian utang obligasi;
3. menjelaskan karakteristik utang obligasi;
4. menjelaskan macam-macam tipe obligasi;
5. menentukan harga jual teoretis obligasi;
6. mengamortisasikan Premium atau Diskonto Utang Obligasi;
7. mencatat saat penerbitan, penjualan, saat dalam peredaran dan pelunasan
utang obligasi;
8. menyajikan pos Utang Obligasi di dalam Neraca;
9. melaksanakan akuntansi terhadap Obligasi Berseri dan Obligasi
Terkonversi.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.3

KEGIATAN BELAL.JAR 1

Utang Jangka Pendek

A. PENGERTIAN UTANG JANGKA PENDEK (UTANG LANCAR)

Utang lancar merupakan kewajiban yang pelunasannya menggunakan


sumber daya yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar atau dengan
pembentukan utang lancar baru. Definisi ini diterima secara luas karena tidak
fokus hanya pada salah satu jenis industri dan menghubungkan antara utang
lancar dan aktiva lancar. Selain itu, definisi tersebut hanya secara tersirat
memasukkan unsur siklus operasi yang memang di setiap industri terkadang
berbeda-beda. Secara umum, siklus operasi didefinisikan sebagai periode
waktu antara akuisisi barang dan jasa dalam proses manufaktur dengan
realisasi kas yang dihasilkan dari penjualan. Berikutnya akan dijelaskan
jenis-jenis utang lancar.

B. JENIS-JENIS UTANG LAN CAR

Ada banyak jenis utang lancar. Berikut ini jenis-jenis utang lancar yang
dibahas dalam modul ini.

1. Utang Usaha
Utang usaha muncul karena adanya perbedaan waktu penerimaan jasa
atau akuisisi aktiva dengan pembayarannya. Biasanya perbedaan waktu
tersebut dijelaskan dalam syarat penjualan yang biasanya 30 hingga 60 hari.
Misalnya, 2/10 dan n/30.
Kebanyakan, sistem akuntansi didesain untuk mencatat kewajiban dalam
pembelian barang adalah ketika barang tersebut diterima atau, secara praktik,
ketika bukti invoice diterima. Namun, sering kali terjadi penundaan
pencatatan barang dan kewajiban yang terkait. Pada prinsipnya jika hak milik
telah berpindah kepada pembeli sebelum barang diterima maka transaksi
tersebut harus dicatat saat perpindahan hak milik barang tersebut. Perhatian
juga harus diberikan pada transaksi yang terjadinya berdekatan dengan akhir
periode akuntansi dan awal periode selanjutnya. Penting sekali untuk
menentukan bahwa pencatatan barang yang diterima (inventory) merupakan
4.4 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

perjanjian dalam bentuk kewajiban (utang lancar), dan keduanya harus


dicatat dalam periode yang tepat.
Menentukan besarnya suatu utang lancar tidaklah sulit karena invoice
yang diterima dari kreditor sudah menjelaskan tanggal jatuh tempo dan
berapa jumlah uang yang harus dibayar. Perhitungan biasanya hanya berupa
potongan kas (discount cash)

2. Wesel Bayar Jangka Pendek


Wesel Bayar merupakan janji tertulis untuk membayar sejumlah uang
pada tanggal tertentu di kemudian hari. Biasanya muncul akibat dari
pembelian, pembiayaan, dan lain sebagainya. W esel bisa diklasifikasikan
jangka panjang atau jangka pendek, tergantung tanggal jatuh tempo
pembayarannya. Wesel bisa berupa interest-bearing atau zero-interest-
bearing.

a. Interest-bearing notes
Contoh 4.1.
Bank Nasional Istana sepakat untuk meminjamkan dana sebesar
Rp100.000.000 pada tanggal 1 Maret 2004 kepada PT Tanah Kosong. Jika
PT Tanah Kosong menandatangani pinjaman tersebut dengan bunga 12
persen dan jatuh tempo empat bulan kemudian maka jurnal yang dicatat oleh
PT Tanah Kosong adalah:

30/06/04 Biaya Bunga ............................. Rp4.000.000,00


Utang Bunga .............................................. Rp4.000.000,00
(mengakui bunga utang wesel Bank Nasional Istana untuk 4 bulan)
Jika P.T. Tanah Kosong menyiapkan laporan keuangan bulanan, maka jurnal
penyesuaian setiap akhir bulan akan mengakui biaya bunga dan utang bunga sebesar
Rpl.OOO.OOO,OO (Rp100.000.000,00 X 12% X 1/12).
Saat jatuh tempo (1 Juli), P.T. Tanah Kosong harus membayar nilai pari wesel
(Rp100.000.000,00) ditambah bunga sebesar Rp4.000.000,00 (Rp100.000.000,00 x
12% X 4/12).
Jurnal yang diperlukan untuk mencatat pembayaran tersebut adalah sebagai berikut:
01/07/04 Utang Wesel .......................... Rp 100.000.000,00
Utang Bunga.......................... Rp 4.000.000,00
Kas .......................................................... Rp 104.000.000,00
(mencatat pelunasan utang wesel)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.5

b. Zero-interest-bearing notes
Zero-interest-bearing notes tidak mencantumkan secara eksplisit tingkat
bunga wesel tersebut. Bunga tetap harus dibayar karena pada saat jatuh
tempo, peminjam harus mengembalikan uang yang dipinjamnya lebih besar
daripada uang yang diterimanya pada saat wesel diterbitkan. Dengan kata
lain, peminjam menerima uang dari wesel yang di-present value-kan. Present
value wesel, sebanding dengan nilai pari wesel saat j atuh tempo dikurangi
bunga atau diskon yang dibebankan oleh peminjam dalam persyaratan wesel.
Artinya, bank memintafee 'di depan' dan bukan pada saat jatuh tempo.

Contoh 4.2.
PT Tanah Kosong pada Contoh 4.1. menerbitkan wesel senilai
Rp104.000.000,00 4 bulan, zero-bearing-notes kepada Bank Nasional Istana.
Nilai wesel yang di-present value-kan sebesar Rp100.000.000.00 Pencatatan
transaksi tersebut adalah sebagai berikut.

01/03/04 Kas .................................... Rp100.000.000,00


Diskon utang wesel. ......... Rp 4.000.000,00
Utang Wesel ............................... Rp 104.000.000,00
(mencatat penerbitan Utang Wesel)

Akun U tang W esel di kredit sebesar nilai pari wesel yang lebih besar
Rp4.000.000,00 daripada uang yang diterima. Perbedaan antara kas yang
diterima dengan nilai pari wesel di debit ke Diskon utang wesel. Diskon
utang wesel merupakan rekening lawan (contra) dari rekening utang wesel
sehingga merupakan pengurang dari utang wesel dalam penyajiannya di
neraca. Penyajian neraca pada 1 Maret adalah sebagai berikut.

Kewajiban Jangka Pendek


Utang Wesel Rp1 04.000.000,00
Dikurangi: Diskon Utang Rp 4.000.000,00
Wesel Rp1 00.000.000,00

Diskon utang wesel sebesar Rp4.000.000,00 merupakan biaya


peminjaman (cost of borrowing) dari wesel Rp100.000.000,00 untuk 4 bulan.
Selanjutnya, diskon dibebankan ke biaya bunga selama umur wesel tersebut.
Oleh karena itu, rekening diskon utang wesel merupakan biaya bunga yang
akan dibebankan di masa yang akan datang. Jadi, merupakan suatu kesalahan
4.6 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

apabila mendebit biaya bunga sebesar Rp4.000.000,00 ketika pinjaman


diterima.

3. Utang Dividen Kas


Utang Dividen Kas merupakan jumlah yang harus dibayar oleh
perusahaan kepada para pemegang sahamnya setelah mendapatkan
persetujuan dari dewan direksi. Pada tanggal pengumuman, perusahaan
mengasumsikan kewajiban yang menempatkan para pemegang saham
sebagai kreditor sebesar jumlah yang diumumkan. Oleh karena utang dividen
kas biasanya selalu dibayar dalam kurun waktu kurang dari satu tahun
(biasanya 3 bulan), utang dividen dikategorikan utang jangka pendek.
Dividen yang terakumulasi, tetapi belum diumumkan pada saham
preferen pengakumulasian bukan merupakan kewajiban karena saham
preferen bukan merupakan kewajiban sampai ada perlakuan formal oleh
dewan direksi untuk menyetujui pendistribusian earnings (pendapatan).
Namun, jumlah dividen kumulatif yang belum dibayar harus diungkapkan
dalam catatan kaki (foot note) atau disajikan di bagian modal saham dari
neraca.

4. Deposito yang Dapat Dikembalikan


Sering kali suatu perusahaan meminta kepada konsumennya untuk
membayar sejumlah uang sebagai jaminan atas barang perusahaan yang
berada di tangan konsumen. Biasanya, keadaan semacam ini terjadi dalam
kontrak sewa. Uang yang dibayar konsumen tersebut disebut dengan
deposito. Contoh lain deposito adalah uang jaminan yang dibayar oleh
karyawan kepada perusahaan atas barang-barang perusahaan yang dipinjam
oleh si karyawan, seperti kunci, kendaraan, dan properti lainnya. Kedua
deposito di atas akan dikembalikan apabila kontrak telah selesai. Dengan
demikian, pengklasifikasian deposito sebagai j angka pendek atau j angka
panjang tergantung dari kontrak yang disepakati kedua belah pihak.

5. Pendapatan Diterima di Muka


Perusahaan yang bergerak di bidang media cetak, seperti majalah dan
koran biasanya menerima cek dari konsumennya untuk berlangganan.
Perusahaan penerbangan juga sering menjual tiketnya jauh hari sebelum
pemberangkatan. Selain kedua perusahaan tadi, restoran juga kadang-kadang
menjual semacam tiket kepada konsumennya untuk bisa ditukarkan atau
e EKMA431 3/MODUL 4 4.7

digunakan untuk membeli makanan. Pertanyaan yang muncul adalah


bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut memperlakukan pendapatan yang
telah diterimanya? Padahal, jasa atau barang belum dinikmati oleh
konsumen. Pendapatan-pendapatan seperti di atas disebut dengan Pendapatan
Diterima di Muka (Unearned Revenue). Berikut ini perlakuan akuntansinya.
a. Ketika uang diterima, kita mendebit kas, dan mengkredit utang/
kewajiban jangka pendek (current liabilities) yang disebut dengan
Pendapatan Diterima di Muka (Unearned Revenue).
b. Ketika barang atau jasa telah dinikmati konsumen (revenue is earned),
kita mendebit Pendapatan Diterima di Muka, dan mengkredit rekening
pendapatan.

Contoh 4.3.
Pada tanggal 6 Maret 2007, Majalah Tiga X menerima pesanan untuk
majalah edisi bulan April sebanyak 1.000 eksemplar dari pelanggannya.
Setiap majalah seharga Rp10.000,00. Jumal yang digunakan untuk mencatat
transaksi tersebut adalah sebagai berikut.

6/03/07 Kas .................................. Rp10.000.000,00


Pendapatan Majalah Diterima Di muka .......... Rp10.000.000,00
(mencatat pesanan pelanggan untuk 1.000 eksemplar majalah @

Rp 10.000,00
Saat majalah Tiga x edisi bulan April terbit dan didistribusikan kepada
konsumennya, maka jurnal yang dicatat adalah sebagai berikut:
06/04/07 Pendapatan Majalah Diterima Di muka ........... Rp 10.000.000,00
Pendapatan Majalah ......................................... Rp 10.000.000,00
(Mencatat Pendapatan Majalah)

C. AKUNTANSI UNTUK KONTINJENSI

Kontinjensi didefinisikan oleh F ASB sebagai suatu kondisi yang belum


pasti bagi perusahaan apakah kemungkinannya untung (gain contingencies)
atau rugi (loss contingencies) apabila suatu kejadian di masa mendatang
terjadi atau gagal terjadi. Berdasarkan definisi tersebut, kontinjensi dibagi
menjadi dua jenis, yaitu (1) untung (gain contingencies) dan (2) rugi (loss
contingencies)
4.8 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Gain Contingencies
Gain Contingencies merupakan klaim atau hak untuk menerima aktiva
(atau pengurangan kewajiban/utang) yang kemungkinannya belum pasti.
Beberapa contohnya, antara lain berikut ini.
a. Kemungkinan menerima uang kas yang berupa pemberian, donasi,
bonus, dan lain-lain.
b. Kemungkinan pengembalian pajak dari pemerintah.
c. Kemungkinan menang di pengadilan

Para akuntan sepakat untuk melakukan kebijakan konservatif. Gain


contingencies tidak dicatat. Akan tetapi, kejadian-kejadian tersebut
diungkapkan dalam catatan laporan keuangan apabila ada kemungkinan yang
sangat tinggi hal tersebut terealisasi. Akibatnya, sangatlah jarang kita
memperoleh informasi tentang gain contingencies dalam suatu laporan
keuangan maupun catatan kakinya.

2. Loss Contingencies
Loss contingencies merupakan situasi, di mana perusahaan menghadapi
kemungkinan kerugian. Kewajiban yang muncul akibat dari loss
contingencies ini disebut dengan kewajiban kontinjen (Contingent
Liabilities). Ketika loss contingencies terjadi, kemungkinan terjadi atau tidak
terjadinya suatu peristiwa di masa mendatang untuk menentukan munculnya
kewajiban kontinjen dapat dikategorikan sebagai probable, reasonable
probable, dan remote. Berikut penjelasan dari FASB:
a. Probable
Kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa sangat tinggi.
b. Reasonable Probable
Kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa lebih dari
remote, tetapi kemungkinannya tidak terlalu tinggi.
c. Remote
Kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa sangat rendah.

Perkiraan kerugian dari loss contingencies harus diakui dengan mencatat


biaya pada sisi debit dan kewajiban/utang pada sisi kredit, hanya jika 2
kondisi berikut ini dipenuhi.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.9

a. Tingkat kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa berada


pada tingkat probable dan informasi tersebut diketahui sebelum tanggal
penerbitan laporan keuangan.
b. Estimasi jumlah kerugiannya dapat diandalkan. (reasonably estimated).

~- :.;
t
.-
, ~ a~
.
4 ~
LATIHAN
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

-- -- ~

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Apakah yang dimaksud dengan Utang menurut FASB? Bagaimana


membedakan antara utang jangka pendek dengan utang jangka panjang?
2) Suatu perusahaan penerbangan menerima pesanan tiket penerbangan
yang akan dilakukan 1 bulan lagi. Dang kas sudah diterima dari
konsumen sebesar Rp500.000,00. Bagaimana Jurnal untuk mencatatnya?
3) Sebutkan beberapa contoh Gain Contingencies!
4) Sebutkan syarat diakuinya kerugian kontinjensi!
5) Sebutkan jenis-jenis utang lancar!
6) Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap Pendapatan Diterima di Muka?
7) Jelaskan apa yang dimaksud dengan Zero-interest-bearing notes!
8) Apa yang dimaksud dengan Kontinjensi menurut FASB?
9) Apa yang dimaksud dengan Gain Contingencies?
10) Bank Republik Impian sepakat untuk meminjamkan dana sebesar
Rp600.000.000,00 pada tanggal 1 April 2006 kepada PT Kacang Polong.
Jika PT Kacang Polong menandatangani pinjaman tersebut dengan
bung a 10% dan j atuh tempo 5 bulan kemudian maka buatlah jurnal untuk
mengakui bunga utang wesel Bank Republik Impian untuk 5 bulan!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Utang didefinisikan sebagai kemungkinan pengorbanan manfaat


ekonomi di masa depan yang timbul dari kewajiban saat ini untuk
mentransfer asset atau menyediakan jasa kepada entitas lain sebagai
akibat transaksi atau kej adian mas a lamp au.
Utang jangka pendek, artinya utang yang jatuh tempo kurang dari satu
tahun atau satu periode akuntansi. Sedangkan, utang jangka panjang
4.10 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

merupakan utang yang jatuh temponya lebih dari satu tahun atau satu
periode akuntansi.
2) Jumal pada awal terjadinya pesanan
Kas .. .. .. .. .. ... .. ... .. .. ... .. . .. .. .. ... .. .. ... .. .. R p 500.000,00
Pendapatan Diterima di Muka ............ Rp500.000,00

J urnal satu bulan kemudian, pada saat tiket diambil konsumen.


Pendapatan Diterima di Muka .. .. .. .. . Rp500.000,00
Pendapatan ....................................... Rp.500.000,00
3) Beberapa contoh Gain Contingencies antara lain berikut ini:
a. Kemungkinan menerima uang kas yang berupa pemberian, donasi,
dan bonus.
b. Kemungkinan pengembalian pajak dari pemerintah.
c. Kemungkinan menang di pengadilan.
4) Syarat diakuinya kerugian kontinjensi, yaitu berikut ini:
a. Tingkat kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa
berada pada tingkat probable dan informasi tersebut diketahui
sebelum tanggal penerbitan laporan keuangan.
b. Estimasi jumlah kerugiannya dapat diandalkan (Reasonably
Estimated).
5) Jenis-jenis utang lancar, antara lain berikut ini.
a. Utang Usaha.
b. Wesel Bayar Jangka Pendek.
c. Utang Dividen Kas.
d. Deposito yang Dapat Dikembalikan.
e. Pendapatan Diterima di Muka
6) Perlakuan akuntansi terhadap Pendapatan Diterima di Muka, yaitu
beriku t ini.
a. Ketika uang diterima, kita mendebit kas, dan mengkredit
utang/kewajiban jangka pendek (current liabilities) yang disebut
dengan Pendapatan Diterima di Muka (Unearned Revenue).
b. Ketika barang atau jasa telah dinikmati konsumen (revenue is
earned), kita mendebit Pendapatan Diterima di Muka, dan
mengkredit rekening pendapatan.
7) Zero-interest-bearing notes adalah wesel bayar jangka pendek yang
tidak mencantumkan secara eksplisit tingkat bunga wesel tersebut.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.11

Bunga tetap harus dibayar karena pada saat jatuh tempo, peminjam harus
mengembalikan uang yang dipinjamnya lebih besar daripada uang yang
diterimanya pada saat wesel diterbitkan. Dengan kata lain, peminjam
menerima uang dari wesel yang di-present value-kan. Present value
wesel, sebanding dengan nilai pari wesel saat jatuh tempo dikurangi
bunga atau diskon yang dibebankan oleh peminjam dalam persyaratan
wesel.
8) Kontinjensi didefinisikan oleh F ASB sebagai suatu kondisi yang belum
pasti bagi perusahaan apakah kemungkinannya untung (gain
contingencies) atau rugi (loss contingencies) apabila suatu kejadian di
masa mendatang terjadi atau gagal terjadi.
9) Gain Contingencies merupakan klaim atau hak untuk menerima aktiva
(pengurangan kewajiban/utang) yang kemungkinannya belum pasti.
10) Jurnal untuk mengakui bunga utang wesel Bank Republik Impian untuk
5 bulan
31/08/06 Biaya bunga ...... ................. Rp25 .000.000,00
Utang bunga .... .... .................... Rp25.000.000,00

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Utang merupakan salah satu instrumen pembiayaan selain saham


yang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu utang jangka pendek dan utang
jangka panjang. Utang jangka pendek masa jatuh temponya kurang dari
satu periode akuntansi. Beberapa contoh utang jangka pendek, antara
lain Utang Usaha, Utang Dividen Kas, Deposito yang Dapat
Dikembalikan, Pendapatan Diterima di Muka, dan Utang Wesel Jangka
Pendek. Setiap jenis utang jangka pendek mendapat perlakuan akuntansi
yang berbeda-beda karena karakteristik utang tersebut yang berbeda
pula.
Salah satu isu atau masalah akuntansi yang terkait dengan kewajiban
adalah tentang kontinjensi. Kontinjensi didefinisikan oleh F ASB sebagai
suatu kondisi yang belum pasti bagi perusahaan apakah kemungkinannya
untung (gain contingencies) atau rugi (loss contingencies) apabila suatu
kejadian di masa mendatang terjadi atau gagal terjadi. Berdasarkan
definisi tersebut, kontinjensi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu (1) untung
(gain contingencies) dan (2) rugi (loss contingencies). Terkait dengan
kewajiban maka loss contingencies perlu mendapat perhatian yang lebih
karena akuntansi menganut prinsip kehati-hatian (conservatism).
Pengakuan adanya rugi kontinjen harus memenuhi dua persyaratan, yaitu
4.12 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

peristiwa yang probable dan jumlahnya dapat di estimasi dengan andal


(reasonably estimated amount).

TES FDRMATIF 1
------------------------------
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Manakah di antara pilihan berikut ini yang bukan merupakan utang


jangka pendek?
A. Utang Obligasi
B. Utang Usaha
C. Deposito yang Dapat Dikembalikan
D. Utang Dividen Kas

2) Perusahaan XYZ membeli persediaan barang dagangannya pada tanggal


2 Januari 2007 seharga Rp200.000,00 secara kredit dengan termin
pembayaran 2/10, n/30. Jika XYZ melunasi utangnya pada tanggal 10
Januari 2007, hitunglah jumlah yang dibayar oleh XYZ dan diskon yang
diterimanya!
A. Rp200.000,00 dan Rp1.000,00
B. Rp200.000,00 dan Rp4.000,00
C. Rp196.000,00 dan Rp4.000,00
D. Rp198 .000,00 dan Rp2.000,00

3) Pada akhir bulan 28 Mei 2007, PT Terbang menerima pesanan tiket


untuk 25 orang, masing-masing 10 orang untuk penerbangan tanggal
30 Mei dan 15 orang lainnya untuk penerbangan tanggal 28 Juni 2007.
Harga setiap tiket adalah Rp400.000,00. Jika laporan keuangan PT
Terbang adalah bulanan maka berapakah pendapatan yang diakui oleh
PT Terbang pada tanggal 31 Mei 2007?
A. Rp10.000.000,00
B. Rp 4.000.000,00
C. Rp 6.000.000,00
D. Jawaban A, B, dan C salah

4) Pada tanggal 1 November 2006, PT Bersahaja menerbitkan utang wesel


jangka pendek senilai Rp10.000.000,00 selama 3 bulan, dengan tingkat
bunga nominal 12%. Berapakah bunga wesel yang diakui oleh
PT Bersahaja untuk tahun 2006?
A. Rp 200.000,00
B. Rp 1.200.000,00
e EKMA431 3/MODUL 4 4.13

C. Rp 100.000,00
D. Jawaban A, B, dan C salah

5) Pada tanggal 30 November 2006, PT Kapindo harus menghadapi


tuntutan hukum dari masyarakat sekitarnya terkait masalah pencemaran
lingkungan sebesar Rp1 Miliar. Namun, keputusan pengadilan belum
bisa diramalkan dengan tingkat probable karena PT Kapindo menyewa
pengacara terkenal dengan kontrak Rp30.000.000,00. Berapakah
kerugian kontinjen yang harus diakui oleh PT Kapindo?
A. Rp 1 Miliar
B. Rp500.000.000,00
C. Rp 30.000.000,00
D. Belum bisa diakui

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.14 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 2

Utang Jangka Panjang

A. KARAKTERISTIK DAN PENGERTIAN UTANG JANGKA


PANJANG

Utang Jangka Panjang merupakan utang perusahaan yang akan jatuh


tempo lebih dari satu periode akuntansi. Contoh Utang Jangka Panjang
adalah Utang Wesel Jangka Panjang dan Utang Obligasi.
Utang Jangka Panjang merupakan utang yang memerlukan proses formal
dalam pembentukannya, yaitu persetujuan dari dewan direksi danlatau
pemegang saham. Selain itu, utang jangka panjang selalu dibarengi dengan
perjanjian atau batasan-batasan tertentu untuk perlindungan baik kreditor
maupun debitur (peminjam).
Dalam modul ini, dibahas 2 jenis utang jangka panjang, yaitu (1) utang
wesel dan (2) utang obligasi. Pembahasan keduanya adalah sebagai berikut.

B. UTANG WESEL JANGKA PANJANG

Perbedaan Utang Wesel jangka panjang dan Utang Wesel Jangka Pendek
adalah pada saat jatuh temponya. Perbedaan utang wesel jangka panjang
dengan utang obligasi adalah utang wesel jangka panjang tidak tersedia di
pasar sekuritas umum. Sedangkan, persamaan antara utang wesel jangka
panjang dengan utang obligasi adalah keduanya dinilai pada present value
future interest dan arus kasnya, dengan diskonto atau premium yang
diamortisasi sepanjang umur wesel atau obligasi.

1. Wesel Diterbitkan pada Nilai Pari


Apabila suatu wesel diterbitkan pada saat tingkat suku bunga efektif dan
besarnya bunga yang tercantum pada nilai pari adalah sama maka tidak akan
ada diskon ataupun premium sehingga wesel tersebut dikatakan diterbitkan
pada nilai pari.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.15

Contoh 4.4.
PT Skandal menerbitkan wesel 3 tahun, Rp100.000.000 10% kepada PT
Bungalow pada tanggal 1 J anuari 2007. Pada saat itu, tingkat suku bunga
efektif adalah sebesar 10%. Bagaimana jurnal yang dilakukan oleh PT
Skandal pada saat penerbitan wesel dan pembayaran bunga setiap tahunnya?
01/1/07 Kas .................................. Rp100.000.000,00
Utang Wesel. ............................ Rp 100.000.000,00
(mencatat penerbitan obligasi)

31/12/07 Biaya Bunga ................ Rp 10.000.000,00


Kas .................................... Rp10.000.000,00
(mencatat pembayaran bunga tahun 2007)

2. W esel Diterbitkan Tidak Pada Nilai Pari


a. Zero-interest-bearing notes
Sarna halnya dengan utang wesel jangka pendek, Zero-interest-bearing
notes bukan berarti utang wesel jangka panjang yang tanpa bunga, tetapi
bunga tetap harus dibayar walaupun itu implisit dan disebut dengan tingkat
bunga implisit. Tingkat bunga implisit merupakan tingkat bunga basil dari
perbandingan kas (cash) yang diterima dengan jumlah (amount) yang
diterima di masa mendatang. Selisih antara nilai pari utang wesel dengan
nilai yang di-present value-kan (kas yang diterima) dicatat sebagai diskon
dan diamortisasi ke biaya bunga sepanjang umur utang wesel tersebut.

Contoh 4.5.
PT Perahu menerbitkan utang wesel yang akan jatuh tempo 3 tahun,
senilai Rp10.000.000,00, zero-interest-bearing notes pada tanggal 2 Januari
2006 kepada PT Kapal. Jumlah kas yang harus dibayar pada saat jatuh tempo
adalah Rp10.000.000,00. Setelah di-present-value-kan dengan tingkat bunga
implisit sebesar 9% maka jumlah kas yang diterima saat penerbitan adalah
sebesar Rp7.721.800,00 (present value Rp1,00 untuk 3 tahun pada tingkat
bunga 9% adalah Rp0,772180,00). Jurnal yang dicatat oleh PT Kapal adalah
sebagai berikut:
4.16 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

01/01/06 Kas ..................................... Rp7 .721.800,00


Diskon utang wesel. ......... Rp2.278.200,00
Utang W esel ............................ Rp 10.000.000,00
(mencatat penerbitan Utang Wesel)

Diskon utang wesel diamortisasi dan biaya bunga diakui setiap tahun
dengan menggunakan metode bunga efektif (effective interest method).
Berikut ini perhitungannya:

Tabel 2.1.
Perhitungan Amortisasi Diskon Utang Wesel dengan Metode Bunga Efektif
(Wesel 0%, didiskon pada 9%)

Kas Dibayar Biaya Bunga Amortisasi Diskon Nilai Buku Wesel


Saat penerbitan Rp 7.721.800,00
Akhir tahun ke-1 RpO,OO Rp 694.960,00a Rp 694.960,00b Rp 8.416.760,00c
Akhir tahun ke-2 0,00 Rp 757.510,00 Rp 757.510,00 Rp 9.174.270,00
Akhir tahun ke-3 0 00 Rp 825.730,00d Rp 825.730,00 Rp1 0.000.000,00
RpO,OO R~2.278.200,00 Rp2.278.200,00

a Rp7. 721.800,00 x 0,09 = Rp694.960,00


b Rp694.960,00 = Rp694.960,00

c Rp7.721.800,00 + Rp694.960,00 = Rp8.416.760,00

d Pembulatan

Biaya bunga pada akhir tahun pertama dengan metode bunga efektif di
atas dicatat oleh PT Kapal sebagai berikut:

31/12/06 Biaya Bunga ............................ Rp694.960,00


Diskon Utang Wesel. ................... Rp694.960,00
(mencatat bunga Utang Wesel)

Jumlah diskon adalah Rp2.278.200,00. Dalam hal ini, merupakan jumlah


biaya bunga wesel selama 3 tahun.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.17

b. Interest-Bearing Notes
Zero-interest-bearing notes merupakan contoh ekstrem perbedaan antara
tingkat bunga utang wesel yang tercantum dengan tingkat bunga efektif.
Padahal, di hampir semua kasus, perbedaannya tidaklah seekstrem
contoh di atas. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini:

Contoh 4.6.
PT Mercon menerbitkan utang wesel berbunga (interest-bearing notes)
Rp10.000.000. 3 tahun, dengan bunga 10% kepada PT Petasan pada tanggal
1 Januari 2005. Tingkat suku bunga pasar saat itu adalah 12%. Oleh karena
tingkat bunga efektif adalah 12 persen yang lebih besar daripada tingkat
bunga yang tercantum sebesar 10 persen maka present value utang wesel
tersebut lebih kecil dibandingkan dengan nilai parinya. Sehingga, utang
wesel tersebut ditransaksikan dengan diskon. Perhitungan uang kas dan
diskon yang diterima adalah sebagai berikut:

Nilai Pari Utang Wesel Rp1 0.000.000,00


Present Value Utang (principal)
Rp1 0.000.000 (PVF3,12%) Rp7.118.000,00
Present Value Bunga Utang
Rp1.000.000 (PVF-OA3,12%) Rp2.402.000,00
Present Value Utang Wesel Rp9.520.000,00
Diskon Rp 480.000,00

Jurnal yang dicatat oleh PT Mercon untuk transaksi ini adalah sebagai
berikut:
01/01/05 Kas .................................. Rp9.520.000,00
Diskon utang wesel. ..... Rp 480.000,00
Utang Wesel........... .. . . .... ... .. .. Rp 10.000.000
(mencatat penerbitan Utang Wesel)

Kemudian, diskon tersebut diamortisasi selama tiga tahun dengan


perhitungan sebagai berikut.
4.18 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 2.2.
Perhitungan Amortisasi Diskon Utang Wesel Berbunga dengan Metode Bunga
Efektif (Wesel 0%, Didiskon pada 9%)

Kas Dibayar Biaya Bunga Amortisasi Diskon Nilai Buku Wesel


Saat penerbitan Rp9.520.000,00
Akhir tahun ke-1 Rp1.000.000,00a Rp1 .142.000,00b Rp142.000,00c Rp9.662.000,00d
Akhir tahun ke-2 Rp1.000.000,00 Rp1.159.000,00 Rp159.000,00 Rp9.821.000,00
Akhir tahun ke-3 Rp1 0.000.000,00
RQ1.000.000,00 RQ1.179.000,00 RQ179.000,00
Rp3.000.000,00 Rp3 .480.000, 00 Rp480.000,00

Selanjutnya, pada akhir tahun pertama, penjurnalan untuk biaya bunga


yang diakui oleh PT Mercon adalah sebagai berikut.
31/12/06 Biaya Bunga .................................. Rp1.142.000,00
Diskon Utang Wesel. ............. ...Rp 142.000,00
Kas .... ..... . ....... .. ...... . ....... Rp 1.000.000,00
(mencatat bunga Utang Wesel)

C. UTANG OBLIGASI

Pengertian
Utang obligasi pada dasarnya merupakan suatu pernyataan pengakuan
utang berbunga secara tertulis, sekaligus surat kesanggupan untuk membayar
bunga secara periodik dan pelunasannya. Misalkan, Anda memiliki satu
lembar SUO (Surat Utang Obligasi) yang dikeluarkan oleh PT Libra maka
berarti PT Libra secara tertulis mengakui berutang kepada Anda. Sekaligus
PT Libra menyatakan sanggup untuk membayar bunga obligasi secara
periodik kepada Anda dan sanggup melunasi pada saatnya.
Secara umum di dalam SUO terdapat informasi mengenai hal-hal
berikut:
1. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum di dalam SUO. Nilai ini
merupakan jumlah yang diakui oleh perusahaan penerbit obligasi sebagai
pokok utang yang akan dilunasi pada saat jatuh tempo. W alaupun pada
umumnya jumlah yang akan dibayar/dilunasi oleh perusahaan penerbit
obligasi adalah sebesar nilai nominalnya, akan tetapi ada juga obligasi
yang pelunasannya tidak sebesar nilai nominalnya. Jika obligasi akan
dilunasi tidak sebesar nilai nominalnya maka kurs pelunasannya
dinyatakan dalam persentase tertentu dari nilai nominalnya.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.19

Sebagai contohnya, nilai nominal obligasi PT Libra yang Anda miliki


adalah sebesar Rp 100.000,00. Obligasi tersebut akan dilunasi oleh PT
Libra dengan kurs pelunasan 110. Maka, ketika obligasi yang Anda
miliki dilunasi, Anda akan menerima uang sebesar Rp 110.000,00, yaitu
110% X Rp100.000,00.
2. Tingkat bunga, yaitu besarnya bunga per tahun yang disanggupi penerbit
obligasi untuk dibayarkan secara periodik kepada pemegangnya. Tingkat
bunga ini biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu dari nilai
nominalnya.
Sebagai contoh, obligasi PT Libra yang Anda miliki mempunyai tingkat
bunga sebesar 12%. Ini berarti Anda berhak menerima pembayaran
bunga dari PT Libra sebesar Rp12.000,00 per tahun, yaitu
12% X Rp100.000,00.
3. Periode pembayaran bunga, merupakan jangka waktu pembayaran bunga
yang menjadi kewajiban perusahaan penerbit obligasi. Periode
pembayaran bung a ini bisa setahun sekali, tengah tahunan, tri wulanan,
dan sebagainya. Periode pembayaran bunga tengah tahunan, artinya
bunga obligasi dibayarkan setiap setengah tahun sekali.
Sebagai contoh, bunga obligasi PT Libra yang Anda miliki dibayarkan
tiap tanggal 1 April dan 1 Oktober. Maka, setiap tanggal 1 April dan
1 Oktober Anda akan menerima pembayaran bunga dari PT Libra
sebesar Rp6.000,00, yaitu 6/12 x 12% x Rp100.000,00. Pembayaran
bunga ini akan Anda terima terus selama Anda masih memiliki obligasi
tersebut sampai dilakukan pelunasan terhadapnya.
4. Tanggal jatuh tempo adalah saat obligasi harus dilunasi oleh
penerbitnya. Sebagai contoh, obligasi PT Libra yang Anda miliki
mempunyai tanggal jatuh tempo 1 Oktober 2020. Ini berarti obligasi
tersebut sudah harus dilunasi oleh PT Libra pada tanggal 1 Oktober
2020. Adakalanya jatuh tempo obligasi dinyatakan dalam bentuk umur
yang dihitung dari saat penjualannya. Misalnya, obligasi PT Libra di atas
dijual pada tanggal 1 Agustus 2000 dan mempunyai umur 15 tahun.
Maka, tanggal jatuh tempo obligasi tersebut adalah 1 Agustus 2015.
4.20 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

D. PENERBITAN SURAT UTANG OBLIGASI

Di pengantar sudah disinggung bahwa timbulnya utang obligasi karena


perusahaan memerlukan adanya tambahan dana untuk membiayai suatu
investasi yang memerlukan dana cukup besar. Sering kali hasil dari investasi
tersebut baru bisa dinikmati setelah beberapa tahun sehingga perusahaan
tidak bisa memenuhi dana dengan utang jangka pendek. Dan karena besarnya
kebutuhan dana tersebut, perusahaan juga tidak bisa menghimpunnya hanya
dari satu investor saja. Sedangkan untuk menghimpun dana dengan cara
mengeluarkan saham baru menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tertentu.
Dibandingkan dengan penerbitan saham baru, pemenuhan dana dengan
jalan menerbitkan obligasi memberikan beberapa keuntungan, antara lain
berikut ini.
1. Sering kali pengeluaran untuk membayar bunga obligasi jumlahnya lebih
kecil dibanding dengan pembayaran dividen saham.
2. Bunga merupakan pengeluaran yang bisa dikurangkan terhadap laba
sebelum pajak penghasilan, sedangkan dividen tidak. Sehingga
pembayaran bunga obligasi akan menimbulkan penghematan pajak
penghasilan.
3. Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan masih memiliki proporsi
yang tetap atas pemilikan terhadap perusahaan. Proporsi ini
kemungkinan besar akan berubah jika perusahaan mengeluarkan saham
baru.

Walaupun mempunyai beberapa keuntungan, pengeluaran obligasi masih


tetap mempunyai konsekuensi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Konsekuensi tersebut adalah dalam keadaan perusahaan menderita kerugian
pembayaran bunga harus tetap dilakukan. Hal demikian tidak berlaku pada
pembayaran dividen, di mana dividen akan dibayarkan jika perusahaan
memperoleh keuntungan.
Boleh tidaknya suatu perusahaan mengeluarkan obligasi ditentukan oleh
peraturan pemerintah yang berlaku di tempat berdirinya perusahaan yang
bersangkutan. Selain harus memperoleh izin dari pemerintah, pengeluaran
obligasi juga harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dan
otoritas dari Dewan Komisaris. Setelah perizinan diperoleh perusahaan bisa
menerbitkan obligasi dan menjualnya kepada calon investor yang berminat.
Calon investor bisa perorangan atau sebuah organisasi. Penjualan obligasi
e EKMA431 3/MODUL 4 4.21

bisa dilakukan oleh perusahaan sendiri atau diserahkan kepada penjamin


emisi (underwriter) yang biasanya merupakan lembaga keuangan.
Diserahkannya penjualan obligasi oleh penjamin emisi bertujuan untuk
menjaga kemungkinan rugi yang bisa diderita oleh perusahaan sehubungan
dengan penjualan obligasi tersebut.
Sesuai dengan tujuan pengeluaran obligasi untuk menghimpun dana
yang besar maka obligasi tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk dijual
kepada satu atau sedikit investor. Hal ini karena obligasi yang dikeluarkan
mempunyai total nominal yang besar sehingga jarang ada yang mampu
membeli seluruh obligasi yang dikeluarkan. Untuk memudahkan
penjualannya maka obligasi biasanya dipecah menjadi nominal yang kecil-
kecil, misalkan per lembar mempunyai nominal Rp10.000,00, Rp25.000,00,
Rp100.000,00, Rp500.000,00, dan sebagainya. Sebagai contoh, pemegang
saham dan dewan komisaris PT Libra mengotorisasi pengeluaran obligasi
dengan total nominal Rp 100.000.000,00. Obligasi tersebut dipecah dengan
nominal per lembar: Rp10.000,00 sebanyak 1.000 lembar, Rp25.000,00
sebanyak 1.000 lembar, Rp50.000,00 sebanyak 500 lembar, dan
Rp100.000,00 sebanyak 400 lembar.

E. JENIS UTANG OBLIGASI

Ada beberapa jenis obligasi yang bisa dibedakan dari beberapa tinjauan,
antara lain berikut ini.
1. Dilihat dari bukti kepemilikan obligasi, ada 2 jenis obligasi, yaitu berikut

Inl.
a. Obligasi atas nama (registered bonds).
Obligasi ini memerlukan pendaftaran nama pemiliknya dalam
catatan perusahaan. J ika terj adi pemindahan pemilikan, perusahaan
penerbit harus mengetahuinya. Dalam hal ini, obligasi yang dijual
dibatalkan dan diterbitkan obligasi baru atas nama pemilik baru.
b. Obligasi atas unjuk (beared bonds) atau obligasi kupon (coupon
bonds).
Obligasi ini mudah sekali pemindahan pemilikannya. Oleh karena
orang yang bisa menunjukkan surat utang obligasi tersebut atau
yang menyerahkan kupon yang memang disertakan dianggap
sebagai pemiliknya dan berhak atas pembayaran bunga.
4.22 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

2. Dilihat dari cara pelunasannya, obligasi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu


berikut ini.
a. Obligasi bersyarat (term bonds) atau straight bonds, ordinary bonds.
Adalah obligasi yang jatuh temponya pada satu tanggal. Pelunasan
terhadap obligasi ini dilakukan seluruhnya pada tanggal jatuh
temponya.
b. Obligasi berseri (serial bonds).
Adalah obligasi yang pelunasannya dilakukan secara bertahap.
Dengan kata lain, obligasi ini mempunyai tanggal jatuh tempo yang
tidak sama untuk masing-masing serinya.
c. Obligasi terpanggil (callable bonds) atau redeemable bonds.
Obligasi jenis ini saat pelunasannya tergantung pada perusahaan
yang menerbitkan. Jika perusahaan penerbit menginginkan untuk
mengurangi utang obligasinya maka ia akan memanggil dan
memberitahukan kepada pemilik obligasi mengenai bagian obligasi
yang akan dilunasi. Perusahaan, kemudian melunasi sebesar bagian
utang obligasi tersebut. B unga atas obligasi yang dilunasi
dibayarkan lagi.
3. Dilihat dari ada tidaknya jaminan, dikenal 2 jenis obligasi, yaitu berikut

lnl:
a. Obligasi terjamin (secured bonds).
Obligasi ini diterbitkan dengan disertai j aminan berupa harta
tertentu dari perusahaan penerbit.
b. Obligasi tak terjamin (unsecured bonds) atau debenture bonds.
Obligasi jenis ini tidak dijamin dengan harta tertentu dari
perusahaan penerbit. Tetapi walaupun begitu secara hukum obligasi
ini dijamin dengan setiap harta perusahaan yang belum dijadikan
jaminan untuk keperluan lain.
4. Obligasi Terjamin ditinjau dari harta untuk menjaminnya dibedakan
menj adi berikut.
a. Obligasi hipotek (mortgage bonds).
Obligasi ini dijamin dengan aktiva tetap tertentu milik perusahaan
penerbit.
b. Obligasi jaminan kepercayaan (collateral trust bonds).
Obligasi jenis ini pengeluarannya dijamin dengan surat berharga
perusahaan lain yang dimiliki perusahaan penerbit.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.23

c. Obligasi bergaransi (guaranteed bonds).


Merupakan obligasi yang dijamin oleh pihak ketiga.
5. Ditinjau dari pembayaran bunganya, obligasi bisa dibedakan:
a. Obligasi laba (income bonds).
Pada obligasi jenis ini pembayaran bunga dilakukan jika perusahaan
penerbit memperoleh laba dalam operasinya.
b. Obligasi penghasilan (revenue bonds).
Obligasi ini pembayaran bunganya diambilkan dari penghasilan
tertentu perusahaan penerbit.

Di samping jenis-jenis obligasi, seperti yang disebutkan di atas maka


masih ada jenis obligasi yang merupakan bagian dari obligasi-obligasi
tersebut. Misalnya, Subordinated Debentures Bonds, First Mortgage Bonds,
dan sebagainya.
Ada satu jenis obligasi yang akan dibicarakan secara khusus bersama
dengan pembahasan Obligasi Berseri pada Kegiatan Belajar 3. Obligasi
tersebut adalah Obligasi Terkonversi (Convertible Bonds). Obligasi jenis ini
bisa ditukarkan oleh pemiliknya dengan surat berharga lain yang dikeluarkan
oleh perusahaan penerbit obligasi. Biasanya surat berharga penukarnya
adalah saham biasa perusahaan penerbit atau perusahaan afiliasinya.

F. HARGA PASAR OBLIGASI

Surat Utang Obligasi sebagai satu jenis surat berharga yang dijual
melalui bursa surat berharga, sangat dimungkinkan memiliki harga jual yang
tidak sama dengan nilai nominalnya. Harga jual obligasi ini sangat
tergantung dari kondisi perusahaan penerbitnya. Kondisi yang baik dari
perusahaan penerbit obligasi, yang sering diukur dari bonafiditas dan tingkat
profitabilitasnya akan menyebabkan harga jual obligasinya menjadi tinggi.
Bisa juga harga jual obligasi ditentukan dengan memperhitungkan taksiran
tingkat bunga yang berlaku di pasar uang selama obligasi tersebut dalam
peredarannya.
Secara teoretis harga jual obligasi yang dikaitkan dengan tingkat bunga yang
berlaku di pasar uang bisa diterangkan sebagai berikut. Penentuan besamya
bunga obligasi yang akan dibayarkan secara periodik oleh perusahaan
penerbitnya biasanya dilakukan dengan mempertimbangkan besamya tingkat
bunga yang berlaku di pasar uang. Dalam hal ini, tingkat bunga yang berlaku
4.24 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

di pasar uang biasa disebut dengan tingkat bunga efektif. Akan tetapi, tingkat
bunga efektif yang bersifat dinamis dan besarnya tergantung dari
keseimbangannya yang terjadi di pasar uang maka bunga obligasi sering kali
besamya tidak sama dengan bunga efektif. Bisa jadi bunga obligasi lebih
besar dari bunga efektif atau sebaliknya. Agar beban bunga obligasi yang
menjadi tanggungan perusahaan penerbit sama dengan besarnya bunga
efektif maka perlu diperhitungkan besarnya bunga efektif pada penentuan
harga jual obligasi yang bersangkutan. Sehingga berdasarkan konsep time
1
value of money harga jual obligasi harus ditentukan dengan menghitung
nilai tunai (present value) dari bung a periodik yang dibayarkan dan nilai
tunai pelunasan obligasi pada saat j atuh temponya berdasarkan bunga efektif
yang diperkirakan akan berlaku selama masa edar obligasi yang
bersangkutan. Mungkin Anda akan lebih jelas jika mempelajari contoh
berikut.

Contoh 4.7.
Obligasi PT Libra dengan nominal Rp100.000,00 dengan tingkat bunga 12%
per tahun dibayar setahun sekali dan mempunyai masa edar selama 5 tahun.
Jika diperkirakan tingkat bunga efektif yang berlaku selama 5 tahun tersebut
adalah 10%, berapa harga jual yang layak atas obligasi tersebut?
Harga jual obligasi tersebut bisa dihitung sebagai berikut:
Bunga obligasi per tahun = 12% x Rp100.000,00 = Rp12.000,00 Nilai tunai
bunga obligasi untuk masing-masing tahun pembayaran adalah:
1
Akhir tahun ke-1 = Rp12.000,00 x (1 + 0,1r =Rp10.909,09
2
Akhir tahun ke-2 = Rp12.000,00 x (1 + 0,1r =Rp 9.917,36
3
Akhir tahun ke-3 = Rp12.000,00 x (1 + 0,1r =Rp 9.015,78
4
Akhir tahun ke-4 = Rpl2.000,00 x (1 + 0,1r =Rp 8.196,16
5
Akhir tahun ke-5 = Rpl2.000,00 x (1 + 0,1r =Rp 7.451,05
Jumlah nilai tunai anuitas selama 5 tahun Rp45.489,44

1
Time value of money menerangkan bahwa nilai uang akan berubah dari waktu ke waktu
menurut tingkat bunga yang berlaku di pasar uang. Uang sebesar Rp1,00 dengan berlakunya
bunga sebesar 10% per tahun pada 1 tahun berikutnya akan mempunyai nilai sebesar (1 +
0,1) = Rp1,10. Sebaliknya, dengan berlakunya tingkat bunga sebesar 10% per tahun, uang
1

sebesar Rp1,10 pada 1 tahun kemudian sekarang mempunyai nilai sebesar (1 + 0,1Y 1 =
Rp1,00.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.25

Nilai tunai dari nominal obligasi yang akan


dilunasi pada akhir tahun ke-5 adalah
Rploo.ooo,oo x cr + o,rrs Rp 62.092,57
Hargajual obligasi Rp107.582,01

Dari perhitungan di atas bisa kita lihat bahwa harga jual obligasi tersebut
ternyata lebih besar dari nilai nominalnya. Ini dikarenakan bunga efektif
yang berlaku lebih rendah dari bunga obligasi sehingga orang merasa
lebih untung jika menanamkan uangnya dengan membeli obligasi
tersebut. Dan ini mendorong harga obligasi menjadi lebih tinggi dari
nilai nominalnya, di samping sebagai penyesuai terhadap beban bunga
obligasi. Sebagai bahan pemikiran Anda, coba dipikirkan bagaimana
kalau bunga efektif lebih besar dari bunga obligasi, dan bagaimana jika
keduanya mempunyai besar yang sama?

~01 LATI HAN


.
t '

.- -. =....-<
*,

------.. . . .
_

.
....,.. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Bagaimanakah proses formal yang terjadi dalam penerbitan suatu utang


jangka panjang?
2) Utang wesel diterbitkan dengan nilai pari Rp20.000.000,00, 5 tahun,
dengan tingkat bunga nominal 12% per tahun. Tingkat bunga efektif
adalah 12%. Berapa bunga yang harus dibayar setiap tahun?
3) Apa yang dimaksud dengan utang obligasi?
4) Mengapa dalam keadaan tertentu menerbitkan utang obligasi lebih
menguntungkan dibandingkan dengan menerbitkan saham?
5) Apa perbedaan antara term bond dengan serial bond?
6) Apa yang dimaksud dengan bunga efektif?
7) Apa yang terj adi bila tingkat bung a efektif lebih rendah dari tingkat
bung a obligasi?
8) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis obligasi yang dilihat dari bukti
kepemilikan obligasi!
9) Sebutkan dan jelaskan informasi apa saja yang terdapat di dalam Surat
Utang Obligasi!
4.26 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

10) Obligasi PT Ribut dengan nominal Rp500.000,00 mempunyai masa edar


selama 5 tahun. Jika diperkirakan tingkat bunga efektif yang berlaku
selama 5 tahun tersebut adalah 10%, dan tingkat bunga nominal 15%,
berapa harga jual yang layak atas obligasi tersebut?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Utang Jangka Panjang merupakan utang yang memerlukan proses formal


dalam pembentukannya, yaitu persetujuan dari dewan direksi dan/atau
pemegang saham. Selain itu, utang jangka panjang selalu dibarengi
dengan perjanjian atau batasan-batasan tertentu untuk perlindungan baik
kreditor maupun debitur (peminjam).
2) Besarnya bunga yang harus dibayar setiap tahunnya, yaitu sebesar:
= Rp20.000.000,00 x 12% = Rp2.400.000,00
3) Utang obligasi pada dasarnya merupakan suatu pernyataan pengakuan
utang berbunga secara tertulis, sekaligus surat kesanggupan untuk
membayar bunga secara periodik dan pelunasannya.
4) Beberapa alasan mengapa dalam keadaan tertentu, menerbitkan utang
obligasi lebih menguntungkan dibandingkan dengan penerbitan saham
baru, antara lain berikut ini:
a. Sering kali pengeluaran untuk membayar bunga obligasi jumlahnya
lebih kecil dibanding dengan pembayaran dividen saham.
b. Bunga merupakan pengeluaran yang bisa dikurangkan terhadap laba
sebelum pajak penghasilan, sedangkan dividen tidak. Sehingga
pembayaran bunga obligasi akan menimbulkan penghematan pajak
penghasilan.
c. Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan masih memiliki
proporsi yang tetap atas pemilikan terhadap perusahaan. Proporsi ini
kemungkinan besar akan berubah jika perusahaan mengeluarkan
saham baru.
5) Perbedaan antara Obligasi Bersyarat (Term Bonds) atau Straight Bonds,
Ordinary Bonds dengan Obligasi Berseri (Serial Bonds), yaitu Obligasi
Bersyarat (Term Bonds) atau Straight Bonds, Ordinary Bonds, adalah
obligasi yang jatuh temponya pada satu tanggal. Pelunasan terhadap
obligasi ini dilakukan seluruhnya pada tanggal jatuh temponya.
Sedangkan Obligasi Berseri (Serial Bonds), adalah obligasi yang
pelunasannya dilakukan secara bertahap. Dengan kata lain, obligasi ini
e EKMA431 3/MODUL 4 4.27

mempunyai tanggal jatuh tempo yang tidak sama untuk masing-masing



sertnya.
6) Tingkat bunga efektif, yaitu tingkat bunga yang berlaku di pasar uang.
Tingkat bunga efektif merupakan tingkat bunga majemuk sebenamya
yang menyamakan harga penerbitan obligasi dengan nilai sekarang dari
pembayaran bunga dan nilai nominal. Tingkat bunga efektif ini tidak
perlu sama dengan tingkat bunga ditetapkan.
7) Jika bunga efektif yang berlaku lebih rendah dari bunga obligasi maka
orang akan merasa lebih untung jika menanamkan uangnya dengan
membeli obligasi tersebut. Dan ini mendorong harga obligasi menjadi
lebih tinggi dari nilai nominalnya, di samping sebagai penyesuai
terhadap beban bunga obligasi.
8) Dilihat dari bukti kepemilikan obligasi, ada 2 jenis obligasi, yaitu berikut

llli.
a. Obligasi Atas Nama (Registered Bonds).
Obligasi ini memerlukan pendaftaran nama pemiliknya dalam
catatan perusahaan. Jika terjadi pemindahan pemilikan, perusahaan
penerbit harus mengetahuinya. Dalam hal ini obligasi yang dijual
dibatalkan dan diterbitkan obligasi baru atas nama pemilik baru.
b. Obligasi Atas Unjuk (Beared Bonds) atau Obligasi Kupon (Coupon
Bonds).
Obligasi ini mudah sekali pemindahan pemilikannya. Karena orang
yang bisa menunjukkan surat utang obligasi tersebut atau yang
menyerahkan kupon yang memang disertakan dianggap sebagai
pemiliknya dan berhak atas pembayaran bunga.
9) Secara umum di dalam SUO terdapat informasi mengenai hal-hal
berikut.
a. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum di dalam SUO. Nilai ini
merupakan jumlah yang diakui oleh perusahaan penerbit obligasi
sebagai pokok utang yang akan dilunasi pada saatjatuh tempo.
b. Tingkat bunga, yaitu besarnya bunga per tahun yang disanggupi
penerbit obligasi untuk dibayarkan secara periodik kepada
pemegangnya. Tingkat bunga ini biasanya dinyatakan dalam
persentase tertentu dari nilai nominalnya.
c. Periode pembayaran bunga, merupakan jangka waktu pembayaran
bunga yang menjadi kewajiban perusahaan penerbit obligasi.
Periode pembayaran bunga ini bisa setahun sekali, tengah tahunan,
4.28 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

triwulanan, dan sebagainya. Periode pembayaran bunga tengah


tahunan, artinya bunga obligasi dibayarkan setiap setengah tahun
sekali.
d. Tanggal jatuh tempo adalah saat obligasi harus dilunasi oleh
penerbitnya.
10) Harga jual obligasi tersebut bisa dihitung sebagai berikut:
a. Bunga obligasi per tahun= 15% x Rp500.000,00 =Rp 75.000,00
nilai masing-masing tahun pembayaran adalah:
1
1) Akhir tahun ke-1 =Rp 75.000,00 x (1 +0,1r =Rp 68.181,81
2
2) Akhir tahun ke-2 =Rp 75.000,00 x (1 +0,1Y =Rp 61.983,50
3
3) Akhir tahun ke-3 =Rp 75.000,00 x (1 +0,1r =Rp 56.348,63
4
4) Akhir tahun ke-4 =Rp 75.000,00 x (1 +0,1Y =Rp 51.226,00
5
5) Akhir tahun ke-5 =Rp 75.000,00 x (1 +0,1Y =Rp 46.569.06 +
Jumlah nilai tunai anuitas selama 5 tahun =Rp284.309,00
b. Nilai tunai dari nominal obligasi yang akan
dilunasi pada akhir tahun ke-5 adalah
5
Rp 5oo.ooo,oo x c1 + o,1r =Rp310.46o,4o +
c. Harga jual obligasi =Rp594.769,40

RANGKUMAN

Utang Jangka Panjang merupakan utang yang jatuh temponya lebih


dari satu periode akuntansi. Terdapat 2 jenis utang jangka panjang yang
sangat dikenal di dunia bisnis, yaitu utang wesel dan utang obligasi.
Utang wesel jangka panjang sama halnya dengan utang wesel jangka
pendek, bisa diterbitkan pada nilai pari, zero-interest-bearing notes
ataupun interest-bearing notes. Bedanya adalah pada kapan jatuh
temponya.
Utang obligasi merupakan salah satu jenis utang jangka panjang.
Bunga yang dibayarkan dilakukan secara periodik. Dalam sebuah SUO
terdapat informasi mengenai nilai nominal, tingkat bunga, periode
pembayaran, dan tanggal jatuh tempo.
Penerbitan SUO umumnya dimaksudkan untuk keperluan dana yang
relatif cukup besar guna investasi. Hasil dari investasi tersebut biasanya
dinikmati setelah beberapa tahun setelah investasi itu dilakukan. Dalam
beberapa hal penerbitan SUO lebih menguntungkan dibandingkan
dengan menerbitkan saham. Keuntungan tersebut, antara lain dalam hal
penghematan pembayaran pajak penghasilan. Akan tetapi, konsekuensi
e EKMA431 3/MODUL 4 4.29

dari SUO bahwa bunga harus tetap dibayar walaupun perusahaan


menderita kerugian.
SUO mempunyai jenis, antara lain SUO atas nama, atas unjuk,
bersyarat, berseri, terpanggil, terjamin, tak terjamin, dan lain-lain.
Harga pasar SUO secara teoretis dikaitkan dengan tingkat bunga
yang berlaku di pasar uang yang disebut dengan bunga efektif. Dalam
hal tingkat bunga efektif lebih tinggi dari tingkat bunga nominal maka
harga jual obligasi akan lebih rendah dari nilai nominal. Perhitungan
harga jual teoretis adalah dengan menghitung nilai tunai (present value)
dari bunga periodik dan nilai tunai pelunasan obligasi dengan
menggunakan tingkat bunga efektif.

TES FDRMATIF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

Pernyataan untuk soal nomor 1 dan 2


Pada tanggal 02 November 2006, PT Hantu menerbitkan utang wesel
senilai Rp100.000.000,00, selama 3 tahun, dengan tingkat bunga
nominal 10% kepada PT Jeans. Pada saat diterbitkan tingkat bunga
efektif wesel tersebut adalah 12%.

1) Berapakah bunga wesel yang diakui pada tahun 2006?


A. Rp1.142.000,00
B. Rp 142.000,00
C. Rp 190.300,00
D. Jawaban A, B, dan C salah

2) Berapakah bunga wesel yang diakui pada tahun 2007?


A. Rp1.144.800,00
B. Rp 159.000,00
C. Rp1.159.200,00
D. Jawaban A, B, dan C salah

3) Informasi yang terdapat pada SUO, kecuali .. ..


A. nilai nominal
B. periode pembayaran bunga
C. harga jual obligasi
D. tingkat bunga
4.30 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

4) Alasan yang biasanya mendukung perusahaan menerbitkan utang


obligasi adalah untuk ....
A. membayar utang pajak
B. membeli barang dagangan
C. investasi yang relatif besar
D. membayar dividen

5) Bagi pemegang saham dengan dikeluarkannya SUO maka proporsi


pemilikan dari pemegang saham tersebut akan ....
A. bertambah besar
B. bertambah kecil
C. bisa tambah besar, bisa pula tambah kecil tergantung besarnya
nominal obligasi
D. tetap

6) Obligasi yang memerlukan pendaftaran nama pemiliknya dalam catatan


perusahaan disebut obligasi ....
A. bers yarat
B. atas nama
C. terpanggil
D. terkonversi

7) Obligasi bersyarat disebut juga ....


A. Callable bonds
B. Coupon bonds
C. Guaranteed bonds
D. Ordinary bonds

8) Obligasi yang pelunasannya dilakukan secara bertahap disebut ....


A. Serial bonds
B. Term bonds
C. Callable bonds
D. Straight bonds

9) Obligasi yang pembayaran bunganya diambilkan dari penghasilan


tertentu dari perusahaan penerbit disebut ....
A. Revenue bonds
B. Income bonds
C. Gain bonds
D. Profit bonds
e EKMA431 3/MODUL 4 4.31

10) Obligasi yang diterbitkan dengan jaminan aktiva tetap tertentu milik
perusahaan penerbit disebut ....
A. Secured bonds
B. Mortgage bonds
C. Collateral bonds
D. Assets bonds

11) PT Elly pada awal tahun 1999 menerbitkan obligasi dengan nominal
Rp1.000.000,00 dengan tingkat bunga 12% per tahun dibayar setahun
sekali dan obligasi akan mempunyai masa edar 4 tahun. Jika diketahui
bunga efektif yang berlaku adalah 10% maka jumlah nilai tunai bunga
selama 4 tahun tersebut adalah ....
A. Rp380.384,00
B. Rp383.383,00
C. Rp454.894,00
D. Rp303.833,00

12) Berdasarkan data nomor 11 di atas maka harga jual obligasi adalah ....
A. Rp 1.360.379,00
B. Rp1.630.397,00
C. Rp1.063.397,00
D. Rp 963.603,00

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.32 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 3

Akuntansi Utang Obligasi

A. PERMASALAHAN AKUNTANSI UTANG OBLIGASI

Setelah Anda mengenal apa itu Utang Obligasi dengan beragam


jenisnya, tentunya Anda akan bertanya, bagaimana perlakuan akuntansi
terhadap utang obligasi tersebut. Perlakuan akuntansi tentunya meliputi cara
pencatatannya sampai bagaimana menyajikan dalam laporan keuangan.
Dalam kegiatan belajar ini, akan kita bahas pencatatan utang obligasi yang
meliputi berikut ini.
1. Pencatatan pada saat pengeluaran obligasi.
2. Pencatatan pada saat obligasi dalam peredaran. Di sini akan dibahas
mengenai pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi terhadap
premium atau diskonto utang obligasi.
3. Pencatatan ketika dilakukan pelunasan terhadap utang obligasi.
Pelunasan ini bisa pada saat jatuh temponya atau sebelumnya, bisa juga
pelunasan ini dilakukan dengan jalan menukar obligasi dengan surat
berharga lainnya.

Selain itu, diterangkan pula mengenai metode-metode yang bisa


digunakan dalam akuntansi obligasi. Terakhir, akan ditunjukkan bagaimana
utang obligasi ini disajikan dalam neraca.

B. AKUNTANSI UTANG OBLIGASI SAAT PENGELUARANNYA

Maksud dari subbahasan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana


perusahaan penerbit obligasi harus mencatat atas pengeluaran dan penjualan
obligasi. Di dalam melakukan pencatatan terhadap pengeluaran obligasi ada 2
metode yang bisa digunakan, yaitu berikut ini.
1. Pencatatan dilakukan hanya terhadap obligasi yang terjual saja.
2. Pencatatan dilakukan tidak hanya terhadap obligasi yang terjual saja,
tetapi juga dilakukan terhadap obligasi yang masih bel urn terjual.

Kedua metode tersebut dipakai karena sering kali obligasi yang sudah
disetujui untuk dikeluarkan belum atau tidak langsung terjual semuanya.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.33

Sebagai contoh, pemilik dan dewan komisaris PT Libra telah menyetujui


diterbitkannya 1.000 lembar surat utang obligasi (SUO) dengan nominal @
Rp 100.000,00. Pada bulan pertama setelah penerbitannya, obligasi yang laku
terjual hanya sebanyak 100 lembar. Bulan berikutnya laku lagi sebanyak 300
lembar, dan seterusnya. Dari contoh tersebut bisa dihitung bahwa pada akhir
bulan pertama, utang obligasi PT Libra hanya sebesar nominal
Rp10.000.000,00, yaitu 100 lembar x Rp100.000,00. Sedang SUO yang
belum terjual pada saat itu adalah sebesar nominal Rp90.000.000,00, yaitu
(1.000- 100) lembar x Rp100.000,00.
Pada Kegiatan Belajar 1 telah disinggung bahwa sering kali harga jual
obligasi tidak sama dengan nilai nominalnya. Artinya, harga jual obligasi bisa
lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai nominalnya. Jika harga jual obligasi
lebih tinggi dari nominalnya maka akan timbul apa yang disebut dengan
Premium Utang Obligasi, yaitu selisih lebih antara harga jual dengan nilai
nominal obligasi. Contohnya, obligasi PT Libra bernominal Rp 100.000,00
laku dijual dengan harga Rp110.000,00. Premium utang obligasi yang timbul
dari transaksi tersebut, yaitu Rp 110.000,00 - Rp 100.000,00 = Rp 10.000,00.
Sebaliknya, jika harga jual obligasi lebih rendah dari nilai nominalnya maka
akan timbul Diskonto Utang Obligasi. Diskonto utang obligasi merupakan
selisih kurang antara harga jual dengan nilai nominal obligasi.
Terhadap Nilai Nominal, Premium, dan Diskonto Utang Obligasi,
pencatatannya dibukukan dalam rekening yang terpisah. Dengan kata lain,
Utang Obligasi dibukukan sebesar nilai nominalnya.
Mengenai pencatatan atas penerbitan SUO bisa Anda pelajari dari contoh
berikut:

Contoh 4.8.
Pada tanggal 1 Juni 2003 pemegang saham PT Libra menyetujui
penerbitan obligasi sebanyak 100 lembar dengan nominal @ Rp10.000,00.
B unga 12% per tahun yang akan dibayarkan tiap tang gal 1 J anuari dan 1 J uli.
Pencatatan terhadap transaksi di atas adalah berikut ini.
1. Menggunakan metode Obligasi Terjual Yang Dicatat.
2. Tidak ada jurnal terhadap penerbitan obligasi.
3. Menggunakan metode Tidak Hanya Obligasi Terjual Saja Yang Dicatat
1/6/03 Obligasi Bel urn Terjual ........ Rp 1.000.000,00
Otorisasi Obligasi ................... Rp 1.000.000,00
(mencatat otorisasi pengeluaran obligasi)
4.34 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Terhadap penjualan obligasi ada 3 hal yang akan dibahas di sini, yaitu
berikut ini.
1) Penjualan obligasi tepat pada tanggal jatuh tempo bunga.
2) Penjualan obligasi selain pada tanggal jatuh tempo bunga.
3) Penjualan obligasi dengan pesanan.
Mengenai ketiga hal tersebut akan dibahas satu per satu beserta
contohnya berikut ini:

1. Penjualan Obligasi Tepat pada Tanggal Jatuh Tempo Bunga


Obligasi yang penjualannya tepat pada tanggal jatuh tempo bunga, tidak
mengandung unsur bunga berjalan sehingga pencatatannya pun tidak perlu
memperhitungkan unsur bunga berjalan tersebut. Coba ikuti contoh berikut.

Contoh 4.9.
Pada tanggal 1 Juli 2003, obligasi PT Libra pada Contoh 4.1 terjual
sebanyak 50 lembar, dengan perincian sebagai berikut:
a. 20 lembar terjual dengan kurs 90.
b. 10 lembar terjual dengan kurs 100.
c. 20 lembar terjual dengan kurs 105.

Pencatatan terhadap penjualan obligasi tersebut adalah sebagai berikut:


1) Metode Obligasi terjual Yang Dicatat
1/7/03 Kas ....................................... Rp 180.000,00
Diskonto Utang Obligasi ..... Rp 20.000,00
Utang Obligasi .............................. Rp200.000,00
Perhitungan:
-Nominal Obligasi= 20 lembar x Rp10.000,00 = Rp200.000,00
- Harga Jual = 90% x Rp200.000,00 =(Rp180.000,00)
- Diskonto Utang Obligasi =Rp 20.000,00

1/7/03 Kas ................................................ Rp 100.000,00


Utang Obligasi ......................................... Rp 100.000,00
(mencatat penjualan 10 lembar SUO dengan kurs 100)
1/7/03 Kas ............................................... Rp210.000,00
Premium Utang Obligasi .......................... Rp 10.000,00
Utang Obligasi ........................................ Rp200.000,00
(mencatat penjualan 20 lembar SUO dengan kurs 105)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.35

Perhitungan:
- Hargajual SUO= 105% x 20 lembar x Rp10.000,00 = Rp210.000,00
- Norrrinal SUO = 20 lembar x Rp 10.000,00 =(Rp200. 000,00)
- Prerrrium Utang Obligasi =Rp 10.000,00

2) Metode Tidak Hanya Obligasi Terjual Saja Yang Dicatat


1/7/03 Kas ............................................ Rp 180.000,00
Diskonto Utang Obligasi .......... Rp 20.000,00
Obligasi Belum Terjual ....................... Rp200.000,00
(mencatat penjualan 10 lembar SUO dengan kurs 90)

1/7/03 Kas ............................................ Rp 100.000,00


Obligasi Belum Terjual ....................... Rp 100.000,00
(mencatat penjualan 10 lembar SUO dengan kurs 100)

1/7/03 Kas ............................................ Rp210.000,00


Premium Utang Obligasi ..................... Rp 10.000,00
Obligasi Belum Terjual ....................... Rp200.000,00
(mencatat penjualan 20 lembar SUO dengan kurs 105)

2. Penjualan Obligasi Selain pada Tanggal Jatuh Tempo Bunga


Jika penjualan obligasi dilakukan tidak tepat pada tanggal jatuh tempo
bunga maka kita harus memperhitungkan unsur bunga berjalan. Pengertian
bunga berjalan bisa dijelaskan sebagai berikut. Perusahaan penerbit obligasi
membayar bunga utang obligasi secara periodik (berkala) kepada pemegang
obligasi selalu dalamjumlah yang tetap. Jumlah yang akan dibayarkan adalah
sebesar tarif bunga obligasi dikalikan dengan nilai nominalnya. Contohnya,
dengan anggapan obligasi PT Libra pada Contoh 4.1. sudah terjual semua
maka setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli PT Libra harus membayar bunga
sebesar 6/12 x 12% x Rp1.000.000,00 = Rp60.000,00. Pembayaran bunga
tersebut dilakukan sampai utang obligasi sudah dilunasi. Pembayaran bunga
dalam jumlah yang tetap adalah dengan mempertimbangkan segi praktisnya,
yaitu kemudahan dalam pelaksanaannya. Konsekuensi dari hal tersebut jika
penjualan obligasi tidak tepat pada tanggal jatuh tempo bunga maka pembeli
harus mengembalikan terlebih dahulu kelebihan pembayaran bunga yang
akan diterimanya pada tanggal jatuh tempo tersebut. Kelebihan pembayaran
bunga tersebut adalah besarnya bunga untuk jangka waktu antara tanggal
4.36 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

jatuh tempo bunga sebelumnya sampai tanggal pembelian obligasi, dan


kelebihan pembayaran bunga inilah yang disebut dengan bunga berjalan.
Untuk lebih jelasnya cob a Anda ikuti contoh berikut:

Contoh 4.1 0.
Obligasi PT Libra pada Contoh 4.9 terjuallagi sebanyak 40 lembar pada
tang gal 1 September 2003, dengan perincian sebagai berikut:
1. 20 lembar dengan kurs 9 5.
2. 10 lembar dengan kurs 100
3. 10 lembar dengan kurs 11 0.

Pencatatan terhadap transaksi di atas adalah berikut ini.


1) Metode Obligasi Terjual Yang Dicatat.
1/9/03 Kas ................................... Rp 194.000,00
Diskonto Utang Obligasi .... Rp 10.000,00
Biaya Bunga Obligasi ................ Rp 4.000,00
Utang Obligasi .. .. .. . ... .. .. . .. ... .. .. . . Rp200.000,00
(mencatat penjualan 20 lembar SUO dengan kurs 95).
Perhitungan:
- Nominal SUO= 20 lembar x Rp10.000,00 = Rp200.000,00
- Diskonto Utang Obligasi = Rp 10.000,00
- Harga Jual SUO = 95% x Rp200.000,00 = Rp190.000,00
- Bunga Berjalan 1 Juli- 1 September 1999
2/12 X 12% X Rp200.000,00 = Rp 4.000,00
Kas yang diterima PT Libra Rp 194.000,00
e EKMA431 3/MODUL 4 4.37

1/9/03 Kas ................................................................. Rp 112.000,00


Premium Utang Obligasi .................................... Rp 10.000,00
Biaya Bunga Obligasi ......................................... Rp 2.000,00
U tang Obligasi ..................................................... Rp 100.000,00
(mencatat penjualan 10 lembar SUO dengan kurs 11 0)

Perhitungan:
Nominal SUO= 10 lembar x Rp10.000,00 = Rp100.000,00
Premium Utang Obligasi = Rp 10.000,00
Hargajual SUO= 110% x Rp100.000,00 = Rp110.000,00
Bunga Berjalan = 2/12 x 12% x Rp100.000,00 = Rp 2.000,00
Kas yang diterima PT. Libra = Rp 112.000,00

2) Metode Tidak Hanya Obligasi terjual Saja Yang Dicatat


1/9/03 Kas ........................................... Rp 194.000,00
Diskonto Utang Obligasi .......... Rp 10.000,00
Biaya Bunga Obligasi ........................................ Rp 4.000,00
Obligasi Belum Terjual ..................................... Rp200.000,00
(mencatat penjualan 20 lembar SUO dengan kurs 95)
1/9/03 Kas ............................................ Rp 102.000,00
Biaya Bunga Obligasi ................................................ Rp 2.000,00
Obligasi Belum Terjual ............................................. Rp 100.000,00
(mencatat penjualan 10 lembar SUO dengan kurs 100)
1/9/03 Kas ............................................ Rp112.000,00
Premium Utang Obligasi ................................... Rp 10.000,00
Biaya Bunga Obligasi ........................................ Rp 2.000,00
Obligasi Belurn Terjual ..................................... Rp 100.000,00
(mencatat penjualan 20 lembar SUO dengan kurs 95)
4.38 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Pencatatan terhadap bunga berj alan, seperti contoh di atas adalah


menggunakan Pendekatan Laba/Rugi, yaitu dengan cara mengkredit
rekening Biaya Bunga Obligasi terlebih dahulu. Pada saat jatuh tempo
bunga rekening Biaya Bunga Obligasi akan di debit sebesar kas yang
dibayarkan sehingga akhimya besamya biaya bunga obligasi hanya sebesar
yang memang ditanggung perusahaan. Menggunakan pendekatan rugi/laba
ini dinilai lebih praktis karena pencatatan terhadap pembayaran bunga
periodik tidak akan mengalami perubahan.

Pendekatan lain dalam mencatat bunga berjalan adalah Pendekatan


Neraca. Dengan pendekatan ini bunga berjalan dicatat dengan mengkredit
rekening Utang Bunga Obligasi. Pada saat jatuh tempo pembayaran bunga
rekening Utang Bunga Obligasi ini di debit bersama dengan rekening Biaya
Bunga Obligasi. Pendebitan rekening Biaya Bunga Obligasi adalah sebesar
biaya bunga bersih yang ditanggung perusahaan.

3. Penjualan Obligasi dengan Pesanan


Adakalanya calon investor memesan terlebih dahulu obligasi yang akan
dibelinya. Biasanya pemesanan tersebut disertai dengan pembayaran
sebagian dari harga obligasi yang dipesannya. Obligasi yang dipesan baru
diserahkan kepada pemesannya kalau harga obligasi tersebut telah dibayar
seluruhnya. Bunga baru diperhitungkan setelah obligasi diserahkan. Marilah
Anda ikuti contoh berikut, yang merupakan kelanjutan dari Contoh 4.8.

Contoh 4.11.
Pada tanggal 1 Desember 2003, seorang calon investor memesan
obligasi PT Libra sebanyak 5 lembar dengan kurs 105. Dang muka yang
dibayarkan sebesar 75% dari harga jualnya. Kekurangannya akan dibayarkan
1 bulan kemudian. Obligasi baru diserahkan pada saat harga obligasi telah
terbayar semua.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.39

Pencatatan terhadap pemesanan obligasi tersebut adalah:

1/12/03 Kas ..................................................... R p 3 9. 37 5


Piutang Pesanan Obligasi ................... Rp 13.125
Premium Utang Obligasi .............................. Rp 2.500
Utang Obligasi Pesanan ............................... Rp50.000
(mencatat pemesanan 5lembar SUO dengan kurs 105)

1/1/04 Kas ..................................................... Rp13.125


Piutang Pesanan Obligasi ............................... Rp 13.125
(mencatat pelunasan piutang pesanan obligasi)

1/1/04 Utang Obligasi Pesanan ................... Rp50.000


Utang Obligasi ............................................. Rp50.000
(mencatat penyerahan 5lembar SUO)

Perhitungan
- Nominal SUO= 5 lembar x Rp10.000 = Rp50.000
- Premium Utang Obligasi = Rp 2.500
- Harga Jual SUO= 105% x Rp50.000 = Rp52.500
- Dang muka pesanan = 75% x Rp52.500 = Rp39.375
- Piutang Pesanan Obligasi = Rp13.125

Pencatatan terhadap transaksi di atas sengaja menggunakan metode


Obligasi Terjual Yang Dicatat. Pencatatan dengan metode satunya
merupakan bahan latihan untuk Anda. Untuk selanjutnya, hanya metode ini
saja yang akan digunakan.

C. AKUNTANSI OBLIGASI SELAMA DALAM PEREDARAN

Permasalahan akuntansi terhadap obligasi selama dalam peredarannya


meliputi berikut ini.
1. Pengakuan dan pembayaran bunga periodik.
2. Amortisasi terhadap Premium atau Diskonto Utang Obligasi.
Mari kita bahas masalah tersebut satu per satu.
4.40 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Pengakuan dan Pembayaran Bunga Periodik


Di depan telah disinggung bahwa perusahaan penerbit obligasi
mempunyai kewajiban untuk membayar bunga obligasi secara berkala
kepada pemegangnya. Bunga yang dibayarkan adalah sebesar tarif bunga
dikalikan nilai nominal obligasi untuk jangka waktu yang telah ditetapkan.
Pembayaran bunga tetap merupakan kewajiban perusahaan selama utang
obligasi tersebut belum dilunasi. Pada umumnya bunga obligasi dibayarkan
di belakang, artinya pembayaran bunga dilakukan setelah pinjaman dinikmati
penerbit selama periode-periode pembayaran bunga. Sekarang coba Anda
pelajari contoh berikut ini:

Contoh 4.12.
PT Afla mempunyai utang obligasi yang berada dalam peredaran dengan
nilai nominal Rp100.000. Bunga 12% per tahun yang akan dibayarkan tiap
tanggal 1 April dan 1 Oktober. Pembayaran bunga dilakukan dengan cara
pemegang obligasi datang ke perusahaan untuk menerima pembayaran bunga
tersebut. Perusahaan melakukan tutup buku tiap tanggal31 Desember.
Jurnal-jurnal yang harus dibuat oleh PT Afla sehubungan dengan
kewajiban membayar bunga adalah sebagai berikut:

Tiap tanggal 1 April dan 1 Oktober


Biaya Bunga Obligasi .................................... Rp6.000,00
Utang Bunga Obligasi .................................. Rp6.000,00
(mencatat pengakuan atas kewajiban membayar bunga obligasi)

Perhitungan:
- Biaya bunga untuk 6 bulan= 6/12 x 12% x Rp100.000,00 = Rp6.000,00

Pada saat pemegang obligasi mengambil bunga


Utang Bunga Obligasi .................................. Rp6.000,00
Kas .................................................................... Rp6.000,00
(mencatat pembayaran bunga obligasi)

Pengakuan biaya bunga pada saat tutup buku


Biaya B unga Obligasi .................................... Rp3 .000,00
Utang Bunga Obligasi .................................. Rp3.000,00
(mencatat pengakuan biaya bunga 1 Oktober- 31 Desember)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.41

Perhitungan:
Biaya bunga 3 bulan= 3/12 x 12% x Rp100.000,00 = Rp3.000,00.

Agar setiap tanggal jatuh tempo bunga perusahaan bisa mencatat


pengakuan bunga dengan jumlah yang tetap, yang dalam contoh ini adalah
sebesar Rp6.000,00 maka pada awal tahun buku berikutnya harus dibuatkan
jurnal pembalikan (reversing entry), yaitu berikut ini:
1/1 Utang Bunga Obligasi .................................. Rp3.000,00
Biaya Bunga Obligasi .................................... Rp3.000,00
(mencatat jurnal re-adjustment atas pengakuan bunga)

Apabila Anda lupa mengenai jurnal pembalikan, pelajari kembali modul


Pengantar Akuntansi.

2. Amortisasi Premium atau Diskonto Utang Obligasi


Kalau Anda membaca Standar Akuntansi Keuangan (SAK) 1999, pada
paragraf 13 dari PSAK No. 13 Anda akan menemui prinsip yang mengatur
perlakuan terhadap premi atau diskonto obligasi (sekuritas utang). Aturan
mengenai perlakuan terhadap premium atau diskonto obligasi tersebut pada
garis besarnya berisi:
"Perbedaan antara biaya perolehan dan nilai penebusan (redemption
value) suatu investasi dalam sekuritas utang (diskonto atau premi pada
pembelian) biasanya diamortisasi oleh investor selama periode dari
pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga basil yang konstan (constant
yield) diperoleh dari investasi tersebut. Diskonto atau premi yang
diamortisasi tersebut dikreditkan atau dibebankan pada penghasilan bunga,
dan sehingga merupakan penambahan atau pengurangan dari nilai tercatat
sekuritas (carrying value) tersebut. Nilai tercatat yang dihasilkan, selanjutnya
dianggap sebagai harga perolehan".
Alokasi terhadap premium atau diskonto tersebut sebenarnya merupakan
penyesuaian terhadap beban bunga yang benar-benar menjadi tanggungan
perusahaan penerbit. Misalkan, pada premium Utang Obligasi yang timbul
karena adanya kelebihan harga jual dari nilai nominal obligasi maka beban
bunga yang harus ditanggung perusahaan tidak lagi sebesar yang
dibayarkannya. Untuk jelasnya coba Anda perhatikan contoh berikut. 12%
Obligasi PT Libra nominal Rp100.000,00 umur 3 tahun, laku dijual dengan
harga Rp110.000,00 maka:
4.42 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

- Total bunga periodik selama 3 tahun


= 3 X 12% X Rp100.000,00 = Rp36.000,00
- Premium Obligasi
= Rp110.000,00- Rp100.000,00 = (Rp10.000,00)
Behan bunga yang benar-benar menjadi
tanggungan PT Libra selama 3 tahun = Rp26.000,00
Dari contoh tersebut kita ketahui bahwa PT Libra sebenarnya hanya
menanggung beban bunga sebesar Rp26.000,00 selama umur utang obligasi
itu. Agar bisa diperoleh beban bunga yang adil dan wajar tiap periode
akuntansi maka premium yang timbul harus dialokasikan ke setiap
pengakuan/pembayaran bunga periodik. Jika Anda bertanya, bagaimana bisa
timbul premium, yang kemudian harus diamortisasikan tersebut maka
jawabannya bisa dijelaskan sebagai berikut.
Sebenamya perusahaan penerbit obligasi, dalam contoh di atas adalah
PT Libra, telah menetapkan tarif bunga periodik yang terlalu tinggi
dibandingkan dengan tarif bunga efektif yang berlaku di pasar uang. Oleh
karenanya, perusahaan sudah sewajarnya kalau menetapkan harga jual
obligasi dengan memperhitungkan bunga efektif. Dengan memperhitungkan
bunga efektif yang lebih rendah dari bunga obligasi dalam menentukan harga
jual, akibatnya harga jual obligasi menjadi lebih tinggi dari nilai nominalnya.
Dari sinilah timbul kelebihan harga yang disebut dengan premium obligasi.
Dan premium ini sebenarnya merupakan selisih lebih bunga obligasi terhadap
bunga efektif sehingga bunga obligasi yang dibayarkan secara periodik harus
disesuaikan secara adil dan wajar dengan premium yang timbul.
Sekarang tentunya Anda bertanya, bagaimana cara mengamortisasikan
premium atau diskonto obligasi tersebut? Nah, untuk itu Anda akan diberi
sebuah contoh agar Anda bisa mengerti cara mengamortisasi premium atau
diskonto obligasi sesuai dengan ketentuan SAK, yaitu dengan menggunakan
metode garis lurus dan metode bunga (interest method).

Contoh 4.13.
PT Naufal mengeluarkan 12% SUO dengan nominal Rp100.000,00.
Bunga dibayarkan di belakang tiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. SUO akan
jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2007. SUO tersebut laku dijual pada
tang gal 1 J anuari 2004.
a. Hargajual SUO jika diperhitungkan bunga efektif 10% per tahun
e EKMA431 3/MODUL 4 4.43

Rp6.000,00 Rp6.000,00 Rp6.000,00 Rp6.000,00


b. --------+ 05 1
+ 15
+ 20
+
( 1+0' 1) ' ( 1+0' 1) ,O ( 1+0' 1) ' ( 1+0' 1) '

Rp6.000,00 + Rp6.000,00 + Rp6.000,00 = . ,


25 30 30
105 701 99
( 1+0, 1) ' (1 +0, 1) ' ( 1+0, 1) '

c. Hargajual SUO jika diperhitungkan bunga efektif 15% per tahun


Rp6.000,00 Rp6.000,00 Rp6.000,00 Rp6.000,00
--------+05
+ 5
+ 20
+
(1+0,15) ' (1+0,15Yo (1+0,15Y (1+0,15) '
Rp6.000,00 + Rp6.000,00 + Rp10.000,00 =R .
25 30 30
94 141 89
(1 +0, 15) ' (1 +0, 15) ' (1 +0, 15) ' p '
Coba Anda perhatikan perhitungan di atas. Ingat bahwa bunga obligasi
dibayarkan tiap 6 bulan sekali.

a. Amortisasi Metode Garis Lurus


Dengan menggunakan metode garis lurus maka alokasi premium
ataupun diskonto obligasi dibagi sama rata ke setiap pembebanan bunga.
Coba Anda pelajari tabel amortisasi premium dan diskonto utang obligasi
dari Contoh 4.13 berikut ini.
1) Amortisasi Premium
Tabel 4.1.
Perhitungan Amortisasi Premium Utang Obligasi - Metode Garis Lurus

Tanggal Bunga Amortisasi Premium


Beban Bunga Nilai Buku
Jatuh Tempo Nominal Premium Utang
Riil Utang Obligasi
Bunga * ** Obligasi
- - - - Rp5.701 ,99 Rp1 05.701 ,99
1-7-2004 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp4.751 ,66 Rp1 04.701 ,99
1-1-2005 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp3.801 ,33 Rp1 03.801 ,33
1-7-2005 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp2.851 ,00 Rp1 02.851 ,00
1-1-2006 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp1.900,67 Rp1 01.900,67
1-7-2006 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp 950,34 Rp1 00.950,34
1-1-2007 Rp6.000 Rp950,33 Rp5.049,67 - Rp1 00.000,00
Catatan:
(*) Bunga obligasi 6 bulan= 6/12 x 12% x Rp100.000,00 = Rp6.000,00
(**) Amortisasi premium 6 bulan= 1/6 x Rp5.701,99 = Rp950,33
Jurnal untuk mencatat amortisasi premium utang obligasi pada tiap
tanggal jatuh tempo bunga adalah berikut ini:
Premium Utang Obligasi ................. Rp950,33
Biaya Bunga Obligasi .......................... Rp950,33
(mencatat amortisasi premium obligasi untuk 6 bulan)
4.44 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

2) Amortisasi Diskonto

Tabel 4.2.
Perhitungan Amortisasi Diskonto Utang Obligasi Metode Garis Lurus

Tanggal Bunga Amortisasi Diskonto


Beban Bunga Nilai Buku
Jatuh Tempo Nominal Disk onto Utang
Riil Utang Obligasi
Bunga (*) Obligasi
- - - Rp5.858, 11 Rp 94.141 ,89
1-7-2004 Rp6.000 Rp976,35 Rp6.976,35 Rp4.881 ,76 Rp 95.118,24
1-1-2005 Rp6.000 Rp976,35 Rp6.976,35 Rp3.905,41 Rp 96.094,59
1-7-2005 Rp6.000 Rp976,35 Rp6.976,35 Rp2.929,06 Rp 97.070,94
1-1-2006 Rp6.000 Rp976,35 Rp6.976,35 Rp1 .952,71 Rp 98.04 7,29
1-7-2006 Rp6.000 Rp976,35 Rp6.976,35 Rp 976,36 Rp 99.023,64
1-1-2007 Rp6.000 Rp976,36 Rp6.976,36 - Rp1 00.000,00
Catalan:
(*) Amortisasi Diskonto 6 bulan= 1/6 x Rp5.858,11 = Rp976,35
Jurnal untuk mencatat amortisasi diskonto utang obligasi pada tiap
tanggal jatuh tempo bunga adalah berikut ini:
Biaya Bunga Obligasi .................................... Rp950,33
Diskonto Utang Obligasi .............................. Rp950,33
(mencatat amortisasi diskonto obligasi untuk 6 bulan)
3) Amortisasi metode bunga (interest method)
Amortisasi dengan menggunakan metode bunga akan menghasilkan
beban bunga riil sebesar tarif bunga efektif untuk satu periode
pembayaran bunga dikalikan nilai buku utang obligasi.
Pelajari tabel amortisasi premium utang obligasi yang berkaitan dengan
Contoh 4.14 berikut:

Tabel4.3.
Perhitungan Amortisasi Premium Utang Obligasi Metode Bunga (Bunga Efektif
10% Per Tahun)
Tanggal Bunga Amortisasi Premium
Beban Nilai Buku
Jatuh Tempo Nominal Premium Utang
Bunga Riil Utang Obligasi
Bunga * Obligasi
- - - - Rp5.701 ,99 Rp1 05.701 ,99
1-7-2004 Rp5.159,19 Rp6.000 Rp 840,81 Rp4.861 ,18 Rp1 04.861,18
1-1-2005 Rp5.118, 15 Rp6.000 Rp 881 ,85 Rp3.979,33 Rp1 03.979,33
1-7-2005 Rp5.075, 11 Rp6.000 Rp 924,89 Rp3.054,44 Rp1 03.054,44
1-1-2006 Rp5.029,97 Rp6.000 Rp 970,03 Rp2.084,41 Rp1 02.084,41
1-7-2006 Rp4.982,62 Rp6.000 Rp1.017 ,38 Rp1.067,03 Rp101.067,03
1-1-2007 Rp4.932,97 Rp6.000 Rp1.067,03 - Rp1 00.000,00
e EKMA431 3/MODUL 4 4.45

Tarif bung a efektif untuk 6 bulan di atas dihitung sebagai berikut:


112
(1 + 15% ) - 1 = 0,0488 atau 4,88%
Jurnal untuk mencatat amortisasi premium utang obligasi di atas adalah
berikut ini:
1/7/2004 Premium Utang Obligasi ................. Rp840,81
Biaya B unga Obligasi ...................................... Rp840,81
(mencatat amortisasi premium utang obligasi untuk periode 1 Januari- 1 Juli
2000)
1/1/2005 Premium Utang Obligasi .................. Rp881 ,85
Biaya B unga Obligasi ...................................... Rp881 ,85
(mencatat amortisasi premium utang obligasi untuk periode 1 Juli 2000-
1 J anuari 2001)
Amortisasi premium utang obligasi tersebut dicatat sampai jatuh tempo
sebesar basil perhitungan, seperti pada tabel di atas. Metode bunga ini
lebih rumit perhitungannya dibandingkan dengan metode garis lurus,
padahal hasilnya pada umumnya tidak berbeda secara material (berarti).
Oleh sebab itu, metode ini dalam praktek sangat jarang digunakan.
Perhitungan untuk amortisasi premium utang obligasi dengan metode
bunga sengaja tidak diberikan untuk dijadikan bahan latihan bagi Anda.
4) Amortisasi Premium/Diskonto Jika Penjualan Obligasi Tidak Bertepatan
Dengan Tanggal Jatuh Tempo Bunga.

Pada contoh perhitungan amortisasi premium atau diskonto pada uraian


sebelumnya digunakan anggapan bahwa penjualan obligasi terjadi tepat pada
tanggal jatuh tempo bunga. Padahal, dalam kenyataan sering kali penjualan
obligasi terjadi tidak tepat pada tanggal jatuh tempo bunga. Untuk
mengamortisasi premium/diskonto dalam keadaan demikian, Anda bisa
mempelajarinya dari contoh berikut:

Contoh 4.14.
Obligasi PT Naufal pada Contoh 4.13. laku terjual pada tanggal
1 April 2004 dengan harga jual memperhitungkan bunga efektif 10% per
tahun. Amortisasi dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus.
Obligasi akanjatuh tempo 3 tahun kemudian.
4.46 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 4.4.
Perhitungan Amortisasi Premium Obligasi untuk Penjualan tidak Tepat pada
Tanggal Jatuh Tempo Bunga dengan Menggunakan Metode Garis Lurus

Tanggal Mas a
Bunga Amortisasi Premium
Jatuh Edar Beban Nilai Buku
Nominal Premium Utang
Tempo (Bu- Bunga Riil Utang Obligasi
(*) (**) Obligasi
Bunga Ian)
- - - - - Rp5.701 ,99 Rp1 05.701 ,99
1-7-2004 3 Rp3.000,00 Rp475,17 Rp2.524,83 Rp5.226,82 Rp1 05.226,82
1-1-2005 6 Rp6.000,00 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp4.276,49 Rp1 04.276,49
1-7-2005 6 Rp6.000,00 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp3.326,16 Rp1 03.326,16
1-1-2006 6 Rp6.000,00 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp2.375,83 Rp1 02.375,83
1-7-2006 6 Rp6.000,00 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp1.425,50 Rp1 01.425,50
1-1-2007 6 Rp6.000,00 Rp950,33 Rp5.049,67 Rp 475,17 Rp1 00.475,17
1-4-2007 3 Rp3.000,00 Rp475,17 Rp2.524,83 - Rp1 00.000,00

D. AKUNTANSI PELUNASAN UTANG OBLIGASI

Pada pokok bahasan ini kita akan membahas bagaimana akuntansi atas
pelunasan utang obligasi. Pelunasan utang obligasi bisa kita bedakan menjadi
dua bagian, yaitu (1) pelunasan pada tanggal jatuh tempo, dan (2) pelunasan
sebelumjatuh tempo.
Mari Anda ikuti dengan baik kedua masalah tersebut.

1. Pelunasan Utang Obligasi pada Tanggal Jatuh Tempo


Terhadap utang obligasi yang telah jatuh tempo, perusahaan penerbit
berkewajiban untuk melunasinya. Akuntansi (pencatatan) terhadap pelunasan
utang obligasi tersebut bisa Anda lihat pada contoh berikut.

Contoh 4.15.
Utang obligasi PT Naufal pada Contoh 4.13. dilunasi pada tanggal jatuh
temponya, yaitu tanggal 1 Januari 2007. Menurut perjanjiannya, utang
obligasi tersebut dilunasi sebesar nilai nominalnya. Jurnal terhadap pelunasan
utang obligasi tersebut adalah berikut ini:
1/1/2007 Utang Obligasi .............................. Rp 100.000,00
Kas ............................ .......... Rp 100.000,00
(mencatat pelunasan utang obligasi yang telah jatuh tempo)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.47

2. Pelunasan Utang Obligasi Sebelum Tanggal Jatuh Tempo


Utang obligasi yang bersifat Callable, memungkinkan perusahaan
penerbit melunasi utang sebelum tanggal jatuh tempo. Pelunasan utang
obligasi sebelum tanggal jatuh tempo bisa dilakukan dengan pertimbangan-
pertimbangan, antara lain berikut ini.
a. Perusahaan sudah mempunyai banyak dana untuk melunasinya dan dia
tidak mau lagi memikul beban bunga obligasi.
b. Perusahaan tidak lagi melihat adanya alternatif untuk menanamkan dana
yang sudah ada tersebut yang dapat menghasilkan keuntungan melebihi
beban bunga obligasi.

Masalah utama yang timbul dari pelunasan utang obligasi sebelum


tanggal jatuh tempo ini jika utang obligasi tersebut terdapat premium atau
diskonto. Pada dasamya, premium atau diskonto utang obligasi yang masih
belum diamortisasi harus dihapus pada saat pelunasan sebesar proporsional
dengan nilai obligasi yang dilunasi.
Dalam pelunasan sebelum tanggal jatuh tempo terhadap utang obligasi
bisa kerugian ataupun laba pelunasan. Laba akan timbul apabila kurs
pelunasan lebih kecil dari nilai buku utang obligasi yang dilunasi, sedang rugi
timbul bila terjadi kebalikannya. Rugi atau laba yang timbul dari pelunasan
tersebut akan diperhitungkan dalam laporan laba/rugi pada periode terjadinya
sebagai pos luar biasa (laba/rugi extraordinary).
Terhadap utang obligasi yang dilunasi yang sering pula disebut "ditarik
sebelum tanggal jatuh temponya", terdapat 2 kemungkinan perlakuan, yaitu
berikut ini.
1) Memang merupakan pelunasan terhadap utang obligasi yang
bersangkutan.
Terhadap pelunasan utang obligasi ini berarti rekening Utang Obligasi
harus di debit sebesar nominal yang dilunasi. Selanjutnya, SUO yang
telah ditarik tersebut tidak bisa dijual kembali ke pihak lain. Ini berarti
jika perusahaan memerlukan dana dari obligasi maka ia harus
menerbitkan SUO yang baru.
2) Pelunasan dengan tujuan untuk dapat dijual kembali ke pihak lain.
Dengan cara ini, perusahaan penerbit SUO dapat memperoleh
keuntungan ganda, yaitu laba yang bisa didapat dari pelunasannya dan
keuntungan yang bisa diperoleh dari kurs jual yang tinggi. Di samping
itu, perusahaan tidak perlu menerbitkan SUO yang baru lagi jika ia
4.48 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

membutuhkan dana dari obligasi. Pelunasan dengan tujuan seperti ini


tidak dicatat dengan mendebit rekening Utang Obligasi, namun dengan
cara mendebit sebuah rekening baru yang biasa disebut dengan Treasury
Bonds atau Obligasi Yang Ditarik Dari Peredaran. Treasury Bonds ini
nantinya disajikan dalam neraca sebagai pengurang dari rekening Utang
Obligasi.
Barangkali Anda akan lebih jelas mengenai pelunasan utang obligasi
sebelum tanggal jatuh temponya dengan mengikuti contoh berikut:

Contoh 4.16.
Utang obligasi PT Naufal pada Contoh 4.13. dilunasi seluruhnya pada
tanggal 1 April 2005 dengan kurs 101. Dengan menggunakan metode garis
lurus dalam mengamortisasi, jurnal beserta perhitungan transaksi tersebut
untuk masing-masing alternatif harga jual dan perlakuannya adalah sebagai
berikut:

1) Obligasi ditarik sebagai pelunasan


a) Hargajual dengan bunga efektif 10%
1/4/2005 Biaya Bunga Obligasi ............... Rp2.524,835
Premium Utang Obligasi ......... Rp 475,165
Kas ............................................... Rp3.000,00
(mencatat beban bunga dan amortisasi premium untuk jangka waktu 1
J anuari - 1 April 2005)

Perhitungan:
- Kas yang harus dikeluarkan untuk membayar
Bunga 3 bulan= 3/12 x 12% x Rp100.000,00 = Rp3.000,00
- Amortisasi premium utang obligasi 3 bulan
=316 X Rp950,33 = Rp 475,165
Behan bunga obligasi sesungguhnya = Rp2.524,835

1/4/2005 Utang Obligasi .................... Rp 100.000,00


Premium Utang Obligasi ... Rp 3.326,165
Laba Pelunasan Utang Obligasi ......... Rp 2.326,165
Kas ..................................................... Rp101.000,00
(mencatat pembayaran untuk melunasi utang obligasi yang jatuh
tempo pada tanggal 1 J anuari 2007)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.49

Perhitungan:
Nilai nominal utang obligasi yang dilunasi =Rp100.000,00
*
- Sisa premium utang obligasi per 1/1/2005 =Rp 3.801,33 )
*
- Nilai buku obligasi per 1/1/2005 =Rp103.801,33 )
Amortisasi premium untuk 3 bulan
( 1/1/2001 - 1/4/2001) = 3/6 X Rp950,33 =Rp 475,165
- Nilai buku obligasi per 1/4/2005 =Rp103.326,165
Kurs pelunasan =101% x Rp100.000,00 =Rp101.000,00
- Laba pelunasan utang obligasi =Rp 2.326,165

*
Catatan: ) Bisa Anda lihat pada Tabel3.1.
Terhadap besarnya premium obligasi yang harus dihapuskan,
perhitungannya sebagai berikut:

Sisa premium obligasi per 1/1/2005 =Rp3.801 ,33


- Amortisasi untuk 3 bulan (1/1/2005-1/4/2005)
= 3/6 X Rp950,33 =Rp 475,165
- Sisa premium yang belum diamortisasi
per 1/4/2005 =Rp3.326,165

b) Hargajual dengan bunga efektif 15%


1/4/2005 Biaya Bunga Obligasi .................... Rp3.488, 175
Diskonto Utang Obligasi ........................ Rp488.175
Kas .......................................................... R p3 .000,00
(mencatat beban bunga dan amortisasi diskonto untuk
jangka waktu 1 Januari- 1 April 2005)
Perhitungan:
- Pengeluaran kas untuk membayar bunga 3 bulan
(1/1/2005-1/4/2005) = 3/12 X 12% X Rp100.000,00 =Rp3.000,00
- Amortisasi diskonto utang obligasi 3 bulan
=3/6xRp976,35 =Rp 488,175
- Behan bunga obligasi sesungguhnya untuk 3 bulan =Rp3.488,175
1/4/2005 Utang Obligasi .................. Rp 100.000,00
Rugi Pelunasan Obligasi .... Rp 4.417,235
Diskonto Utang Obligasi ................... Rp3 .417,235
Kas .................................................... Rp 101.000,00
(mencatat pelunasan utang obligasi yang jatuh tempo pada tanggall Januari 2007)
4.50 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Perhitungan:
Nilai nominal utang obligasi yang dilunasi =Rp100.000,00
*
- Sisa diskonto utang obligasi per 1/1/2005 =Rp 3.905,41 )
*
- Nilai buku obligasi per 1/1/2005 =Rp 96.094,59 )
Amortisasi diskonto untuk 3 bulan
(1/1/2005- 1/4/2005) = 3/6 X Rp976,35 =Rp 488,175
- Nilai buku obligasi per 1/4/2005 =Rp 96.582,765
Kurs pelunasan =101% x Rp100.000,00 =Rp 101.000,00
Rugi pelunasan utang obligasi =Rp 4.417,235

*
Catatan: ) Bisa Anda lihat pada Tabel 3.2.
Besarnya diskonto obligasi yang dihapus sehubungan dengan pelunasan
utang obligasi adalah:
Sisa diskonto obligasi per 1/1/2005 =Rp 3.905,41
Amortisasi untuk 3 bulan (1/1/2005-1/4/2005)
=3/6xRp976,35 =Rp 488,175
Sisa diskonto yang belum diamortisasi
per 1/4/2005 =Rp3.417,235

2) Obligasi ditarik sebagai Treasury Bonds


a) Hargajual dengan bunga efektif 10%
1/4/2005 Biaya Bunga Obligasi ............... Rp2.524,835
Premium Utang Obligasi ..... .. .. Rp 475,165
Kas ................................................................. Rp3 .000,00
(mencatat beban bunga dan amortisasi premium obligasi untuk jangka
waktu 1/1/2005 -1/4/2005)

1/4/2005 Treasury Bonds ..................... Rp100.000,00


Premium Utang Obligasi ..... Rp 3.326,165
Lab a Pelunasan Obligasi ............................. Rp 2.326,165
Kas .............................................................. Rp101.000,00
(mencatat pelunasan utang obligasi yang jatuh tempo pada
tang gal 1 J anuari 2007)
e EKMA431 3/MODUL 4 4.51

b) Hargajual dengan bunga efektif 15%


1/1/2005 Biaya Bunga Obligasi .................... Rp3.488, 175
Diskonto Utang Obligasi ........................ Rp488.175
Kas .......................................................... R p 3 .000,00
(mencatat beban bunga dan amortisasi diskonto obligasi
untukjangka waktu 1 Januari- 1 April2005)

1/4/2005 Treasury Bonds .................... Rp 100.000,00


Rugi Pelunasan Obligasi ..... Rp 4.417,235
Diskonto Utang Obligasi ................ Rp 3.417,235
Kas .................................................. Rp101.000,00
(mencatat pelunasan utang obligasi yang jatuh tempo pada
tang gal 1 J anuari 2007)

Dari Contoh 4.16. Anda bisa menyimpulkan jika utang obligasi dilunasi
pada tanggal yang tidak bertepatan dengan tanggal jatuh tempo bunga maka
perusahaan penerbit harus memperhitungkan bunga yang menjadi
tanggungan untuk jangka waktu dari tanggal pembayaran terakhir sebelum
pelunasan sampai tanggal pelunasannya.
Mungkin Anda bertanya, bagaimana kalau pelunasan utang obligasi
hanya untuk sebagian saja. Pada prinsipnya adalah sama dengan contoh di
atas. Rekening utang obligasi atau Treasury Bonds di debit sebesar nominal
utang obligasi yang dilunasi. Sedang premium atau diskonto dihapus sebesar
proporsional nominal utang obligasi yang dilunasi. Mari Anda ikuti contoh
berikut:

Contoh 4.17.
Utang obligasi PT Naufal pada Contoh 4.13. dilunasi sebesar nominal
Rp50.000,00 dengan kurs 100. Pelunasan tersebut terjadi pada tanggal 1
J anuari 2006, dan dimaksudkan untuk tidak dijual lagi. Dahulunya obligasi
tersebut dijual dengan harga jual yang memperhitungkan bunga efektif 10%
per tahun. Metode amortisasi adalah garis lurus. Jurnal yang harus dibuat
oleh PT Naufal adalah berikut ini.
4.52 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1/1/2005 Utang Obligasi .................... Rp50.000,00


Premium Utang Obligasi ... Rp 950,335
Lab a Pelunasan Utang Obligasi ......... Rp 950,335
Kas ..................................................... Rp50.000,00
(mencatat pelunasan utang obligasi yang jatuh tempo pada
tanggal1 Januari 2007, nominal Rp50.000,00 dengan kurs 100)

Perhitungan:
Nominal utang obligasi yang dilunasi =Rp50.000,00
- Bagian premium yang belum diamortisasi
Untuk utang obligasi yang dilunasi =Rp 950,335*
- Nilai buku utang obligasi yang dilunasi
Per 1 J anuari 2007 =Rp50,950,335
Kurs pelunasan obligasi = 100% x Rp50.000,00 =Rp50.000,00
- Laba pelunasan utang obligasi =Rp 950,335

Keterangan:
*) Bagian premium utang obligasi yang dilunasi yang belum diamortisasi
dapat dihitung sebagai berikut:
Sis a seluruh premium yang belum diamortisasi per 1 J anuari 2006 (lihat
tabel) adalah Rp 1. 900,67.
- Bagian premium untuk nominal Rp50.000,00 yang belum diamortisasi
5
adalah Rp 0.000,00 x R 1.900 67 = R 950 335
Rp100.000,00 p ' p '

Dari contoh-contoh yang diberikan di atas, pada dasarnya Anda telah


mengetahui akuntansi utang obligasi. Untuk selanjutnya, Anda diharapkan
bisa mengembangkan pengetahuan tersebut, misalnya dengan mencari
jawaban kemungkinan-kemungkinan berikut.
a. Bagaimana perhitungan terhadap pelunasan utang obligasi sebelum
tanggal jatuh tempo jika metode amortisasi yang digunakan adalah
metode bunga.
b. Bagaimana pelunasan utang obligasi sebelum tanggal jatuh tempo, jika
dilunasi hanya sebagian dan dilakukan pada saat tidak bertepatan dengan
tanggal jatuh tempo bunga.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.53

c. Bagaimana perhitungan amortisasi premium atau diskonto terhadap


utang obligasi yang dijual tidak tepat tanggal jatuh tempo bunga dengan
menggunakan metode bunga.

E. PENYAJIAN UTANG OBLIGASI DALAM LAPORAN


KEUANGAN

Utang obligasi adalah kewajiban perusahaan terhadap kreditor dalam


neraca sehubungan dengan pelaporan posisi keuangan kepada pihak yang
berkepentingan. Utang obligasi yang merupakan utang jangka panjang
disajikan dalam neraca pada sisi Utang + Modal, dan diletakkan di bawah
rekening (akun) Utang Lancar (kewajiban jangka pendek). Terhadap utang
obligasi ini, Standar Akuntansi Keuangan mengatur penyajiannya sebagai
berikut.
"Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek,
jika:
1. diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal
operasi perusahaan;
2. jatuh tempo dalamjangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.

Semua kewajiban lainnya harus diklasifikasikan sebagai kewajiban


jangka panjang.

Seperti halnya dengan utang jangka panjang, utang obligasi yang akan
jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca disajikan dalam
neraca sebagai bagian dari utang lancar. Terhadap bunga utang obligasi
belum dibayarkan setelah tanggal jatuh tempo bunga disajikan dalam neraca
sebagai utang Iancar.
Untuk memperjelas pengertian Anda, bisa Anda lihat contoh penyajian
utang obligasi dalam neraca di bawah ini. Untuk keperluan ini diambilkan
utang obligasi PT Naufal pada Contoh 4.13. dengan masing-masing alternatif
harga jual dan amortisasi menggunakan metode garis lurus.
4.54 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. Harga jual dengan bung a efektif 10%


PT NAUFAL
NERACA
PER 31 DESEMBER 2005
AKTIVA UTANG + MODAL
Utang Lancar:

Utang Jangka Panjang:


Utang Obligasi, 12% ........ Rp1 00.000,00
Premium Utang Obligasi .. Rp 1.900,67
Rp1 01.900,67
2. Hargajual dengan bunga efektif 15%
PT NAUFAL
NERACA
PER 31 DESEMBER 2005
AKTIVA UTANG +MODAL
Utang Lancar:

Utang Jangka Panjang:


Utang Obligasi, 12% ........ Rp1 00.000,00
Premium Utang Obligasi .. Rp 1.952,71
Rp 98.047,29
Catatan:
Untuk mendapatkan besarnya premium dan diskonto utang obligasi di
atas bisa Anda lihat pada Tabel4.1. dan Tabel4.2.
Terhadap Treasury Bonds, penyajiannya dalam neraca diperlakukan
sebagai pengurang utang obligasi. Untuk dijadikan contoh, kita ambil data
dari Contoh 4.13., dengan perubahan bahwa obligasi ditarik sebagai treasury
bonds.
PT NAUFAL
NERACA
PER 31 DESEMBER 2006
AKTIVA UTANG + MODAL
Utang Lancar:

Utang Jangka Panjang:


Utang Obligasi, 12% ....... Rp1 00.000,00
Treasury Bonds ................ (Rp 50.000,00)
Rp 50.000,00
Premium Utang Obligasi Rp 950,34
Rp 50.950,34
e EKMA431 3/MODUL 4 4.55

- - -.' .......
-~ L AT I H A N
I '
- .., -~
' .., - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Berikut ini data tentang SUO yang harus Anda pahami sebagai latihan:
a. Pada tanggal1 Juni 2000 PT Jasa Marga menerbitkan obligasi 1.000
lembar dengan nominal Rp5.000,00 per lembar. Bunga 12% per
tahun, dibayarkan tiap 1 Januari dan 1 Juli. Obligasi akan jatuh
tempo 1 J uli 2005.
b. Pada tanggal 1 Juli 2000, 200 lembar SUO terjual tunai dengan
harga jual sebesar Rp5.300,00 per lembar. Di samping itu, 300
lembar dipesan oleh Tuan Ali dengan kurs 112. Uang muka 60%
dan sisanya dibayar 1 bulan kemudian.
c. Tanggal 1 September 2000, 500 lembar obligasi tersisa dijual
dengan harga Rp4.700,00 per lembar.
d. PT Jasa Marga menggunakan metode "tidak hanya obligasi terjual
saj a yang dicatat".
Dari data tersebut Anda diminta:
1. Membuatjurnal1 Juni 2000.
2. Membuat jurnal 1 Juli 2000.
3. Membuatjurnal1 Agustus 2000.
4. Membuat jurnal 1 September 2000.
5. Membuat tabel amortisasi untuk obligasi yang dijual tanggal 1
September 2000 dengan metode garis lurus.
6. Membuatjurnal pengakuan biaya bunga tanggal31-12-2000.
7. Misalnya, pada tanggal 1 April 2002 PT Jasa Marga melunasi SUO
yang dijual pada 1 September 2000 dengan kurs 101 maka
bagaimana jurnal pada 1 April 2002 tersebut.
2) a. Sebutkan 2 metode yang dapat digunakan di dalam melakukan
pencatatan terhadap pengeluaran obligasi!
b. Sebutkan pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan di
dalam pelunasan utang obligasi sebelum tanggal jatuh tempo!
c. Sebutkan dan jelaskan 2 kemungkinan perlakuan yang dapat terjadi
terhadap utang obligasi yang dilunasi yang sering pula disebut
"ditarik sebelum tanggal jatuh temponya"!
4.56 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Petunjuk Jawaban Latihan

1) 1/6/00 Obligasi Belurn Terjual .............. Rp5 .000.000,00


Otorisasi Obligasi ...................... Rp5.000.000,00
2) Anda harus membuat perhitungan 2 buah, supaya tidak bingung.
Perhitungan tersebut adalah untuk penjualan tunai dan untuk yang
dipesan.

Yang tunai:
Hargajual SUO = 200 lembar@ Rp5.300,00 = Rp1.060.000,00
Nominal = 200 lembar @ Rp5.000,00 = Rp1.000.000,00
Premium = Rp 60.000,00
Jumal: 1/7/00 Kas ....................................... = Rp 1.060.000,00
Premium Utang Obligasi .............Rp 60.000,00
Obligasi Belum Terjual. .. .. ... ... .. Rp 1.000.000,00
Yang dipesan:
Hargajual pesanan SUO= 300 lembar@ Rp5.000,00 x 112%= Rpl.680.000,00
Nominal = 300 lembar@ Rp5.000,00 = Rp1.500.000,00
Premium = Rp 180.000,00
Piutang pesanan obligasi = 40% x Rp 1.680.000,00 = Rp 672.000,00
Kas yang diterima = 60% x Rp 1.680.000,00 = Rpl.008.000,00

Jurnal: 1/7/00 Kas ............................................. Rpl.008.000,00


Piutang pesanan Obligasi Rp 672.000,00
Premium utang obligasi .................. Rp 180.000,00
Utang obligasi pesanan ....................Rp 1.500.000,00

3) Untuk 1 Agustus 2000


Pelunasan sis a harga = 40% x Rp 1.680.000,00 =Rp672.000,00
Bunga berjalan 1 bulan (1 Juli- 1 Agustus)
=1/12 X 12% X Rpl.500.000,00 =Rp 15.000,00
Jumlah kas diterima =Rp687 .000,00

1/8/00 Kas ............................................. Rp672.000,00


Piutang pesanan obligasi ......................... Rp672.000,00
(mencatat pelunasan piutang pesanan obligasi)
1/8/00 Utang Obligasi Pesanan .......... Rpl.500.000,00
Utang obligasi ..................................... Rp 1.500.000,00
e EKMA431 3/MODUL 4 4.57

4) Nominal SUO= 500 lembar@ Rp Rp5.000,00 =Rp2.500.000,00


Diskonto = 500 lembar @ Rp290,00 =Rp 145.000,00
Hargajual SUO =Rp2.355 .000,00
Bunga berjalan = 2/12 x 12% Rp2.500.000,00 =Rp 50.000,00
Kas diterima =Rp2.405.000,00
Jumal:
1/9/00 Kas ........................................................Rp2.405 .000,00
Diskonto Utang Obligasi ...................... Rp 145.000,00
Biaya Bunga Obligasi ............................ Rp 50.000,00
Obligasi Belurn terjual .......................... Rp2.500.000,00

5)
Tanggal
Mas a Bunga Amortisasi Disk onto
Jatuh Beban Nilai Buku
Edar Nominal Diskonto Utang
Tempo Bunga Riil Utang Obligasi
Bulan) (*) (**) Obligasi
Bun a
- - - - - Rp120.000,00 Rp2.355.000,00
1-1-2001 4 Rp1 00.000,00 Rp1 0.000,00 Rp11 0.000,00 Rp11 0.000,00 Rp2.365.000,00
1-7-2001 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 95.000,00 Rp2.380.000,00
1-1-2002 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 80.000,00 Rp2.395.000,00
1-7-2002 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 65.000,00 Rp2.41 0.000,00
1-1-2003 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 50.000,00 Rp2.425.000,00
1-7-2003 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 35.000,00 Rp2.440.000,00
1-1-2004 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 20.000,00 Rp2.455.000,00
1-7-2004 6 Rp150.000,00 Rp15.000,00 Rp165.000,00 Rp 5.000,00 Rp2.470.000,00
1-9-2004 2 Rp 50.000,00 Rp 5.000,00 Rp 55.000,00 - Rp2.475.000,00

6) Pengakuan bunga 31/12/2000 adalah 6 bulan sebesar:


6/12 X 12% X Rp5.000.000,00 = Rp300.000,00
7) - Kas untuk bayar bunga = 3/12 x 12% x Rp2.500.000,00 =
Rp75.000,00
Amortisasi diskonto = 3/6 x Rp15.000,00 = Rp 7.500,00
Beban bunga riil = Rp82.500,00

- Nilai nominal SUO yang dilunasi Rp2.500.000,00


Sisa diskonto per 1 Januari 2002 Rp 105.000,00
Nilai Buku SUO 1 April 2002 Rp2.395 .000,00
Amortisasi 1 J anuari - 1 April Rp 7.500,00
Nilai Buku SUO 1 April 2002 Rp2.402.500,00
Nilai Pelunasan = 101% x Rp2.500.000,00 Rp2.525 .000,00
Rugi Pelunasan Rp 122.500,00
4.58 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Utang Obligasi .......................... Rp2.500.000,00


Rugi Pelunasan SUO ................ Rp 122.500,00
Kas .............................................................. Rp2.525 .000,00
Diskonto SUO ............................................. Rp 97.500,00
8) Di dalam melakukan pencatatan terhadap pengeluaran obligasi ada 2
(dua) metode yang bisa digunakan, yaitu berikut ini.
a. Pencatatan dilakukan hanya terhadap obligasi yang terjual saja.
b. Pencatatan dilakukan tidak hanya terhadap obligasi yang terjual
saja, tetapi juga dilakukan terhadap obligasi yang masih belum
terjual.
9) Pelunasan utang obligasi sebelum tanggal jatuh tempo bisa dilakukan
dengan pertimbangan-pertimbangan, antara lain berikut ini.
a. Perusahaan sudah mempunyai banyak dana untuk melunasinya dan
dia tidak mau lagi memikul beban bunga obligasi.
b. Perusahaan tidak lagi melihat adanya alternatif untuk menanamkan
dana yang sudah ada tersebut yang dapat menghasilkan keuntungan
melebihi beban bunga obligasi.
10) Terhadap utang obligasi yang dilunasi yang sering pula disebut "ditarik
sebelum tanggal jatuh temponya", terdapat dua kemungkinan perlakuan,
yaitu berikut ini.
a. Memang merupakan pelunasan terhadap utang obligasi yang
bersangkutan.
Terhadap pelunasan utang obligasi ini berarti rekening Utang
Obligasi harus di debit sebesar nominal yang dilunasi. Selanjutnya,
SUO yang telah ditarik tersebut tidak bisa dijual kembali ke pihak
lain. Ini berarti jika perusahaan memerlukan dana dari obligasi maka
ia harus menerbitkan SUO yang baru.
b. Pelunasan dengan tujuan untuk dapat dijual kembali ke pihak lain.
Dengan cara ini, perusahaan penerbit SUO dapat memperoleh
keuntungan ganda, yaitu laba yang bisa didapat dari pelunasannya
dan keuntungan yang bisa diperoleh dari kurs jual yang tinggi. Di
samping itu perusahaan tidak perlu menerbitkan SUO yang baru lagi
jika ia membutuhkan dana dari obligasi. Pelunasan dengan tujuan
seperti ini tidak dicatat dengan mendebit rekening Utang Obligasi,
namun dengan cara mendebit sebuah rekening baru yang biasa
disebut dengan Treasury Bonds atau Obligasi Yang Ditarik Dari
Peredaran. Treasury Bonds ini nantinya disajikan dalam neraca
sebagai pengurang dari rekening Utang Obligasi.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.59

RANGKUMAN
------------------------------------

Akuntansi SUO mencakup 3 hal pokok yakni pencatatan pelunasan


obligasi, saat SUO dalam peredaran, dan pencatatan pelunasan SUO.
Untuk akuntansi SUO saat pengeluarannya ada 2 metode, yakni
pencatatan hanya obligasi yang terjual saja dan pencatatan tidak hanya
yang terjual saja, tetapi yang belum terjual juga. Apabila hal ini terjadi
maka tidak mengandung unsur bunga berjalan. Namun, apabila
penjualan terjadi tidak tepat pada tanggal pembayaran bunga maka harus
diperhitungkan bunga berjalan. Bunga berjalan adalah bunga yang
diperhitungkan untuk periode waktu antara jatuh tempo bunga
sebelumnya sampai dengan tanggal pembelian SUO.
Penjualan SUO mungkin pula terjadi melalui prosedur pesanan.
Dalam prosedur pesanan ini, SUO biasanya baru akan diselesaikan pada
saat pesanan tersebut sudah dilunasi.
Bunga akan dibayar tiap tanggal jatuh tempo yang tercantum dalam
SUO. Apabila tanggal jatuh tempo bunga bukan tanggal 31 Desember
(tutup buku) maka pada tiap tanggal 31 Desember tersebut akan ada
jurnal penyesuaian pengakuan bunga dan pada awal tahun buku
berikutnya dibuat jumal pembalikan.
Dalam penjualan SUO dapat terjadi premium atau diskonto SUO
yang merupakan selisih antara harga jual bersih dengan nilai nominal.
Premium atau diskonto tersebut harus diamortisasi selama umur utang
obligasi. Amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus atau metode
bung a.
SUO dapat dilunasi sebelum jatuh temponya. Bila terjadi pelunasan
yang demikian maka dapat terjadi rugi atau laba pelunasan. Pelunasan
SUO ada dua kemungkinan perlakuan, yaitu memang merupakan
pelunasan atau pelunasan dilakukan dengan tujuan dijual lagi pada pihak
lain. Yang terakhir ini dikenal dengan istilah treasury bonds.
Penyajian SUO di neraca harus memasukkan hal-hal pokok yang
dimuat dalam penyajiannya. Premium atau diskonto yang belum
diamortisasi harus ditambahkan/dikurangkan pada nilai jatuh tempo
SUO tersebut.
4.60 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

TES F'DRMATIF' 3

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

Tanggal 1 Agustus 1998 PT X menerbitkan 100 lembar obligasi 18%,


nominal Rp1.000,00 per lembar. Bunga dibayar tiap 1 Oktober dan 1
April. Obligasi akan jatuh tempo pada 1 Oktober 2002. Pada 1 Januari
1999, 100 lembar obligasi tersebut terjual dengan harga jual seluruhnya
Rp109.000,00. PT X membuat tabel amortisasi dengan metode garis
lurus.

1) Jika PT X menggunakan metode tidak hanya obligasi yang terjual saja


yang dicatat maka pada 1 Agustus 1998 PT X akan ....
A. mendebit Kas Rp109.000,00
B. mendebit SUO belum terjual Rp100.000,00
C. mengkredit Utang Obligasi Rp109.000,00
D. mengkredit Utang Obligasi Yang Belum Terjual Rp100.000,00

2) Pada penjualan SUO tanggal1 Januari 1999 terjadi ....


A. premium SUO Rp 9.000,00
B. diskonto SUO Rp 9.000,00
C. premium SUO Rp100.000,00
D. diskonto SUO Rp109.000,00

3) Berapakah bunga berjalan yang diperhitungkan pada penjualan 1 Januari


1999?
A. Rp18.000,00
B. Rp25.000,00
C. Rp 9.000,00
D. Rp 4.500,00

4) Dengan soal nomor 3, berarti jumlah kas terima tanggal 1 Januari 1999
adalah ....
A. Rp118.000,00
B. Rp113.500,00
C. Rp109.000,00
D. Rp127.000,00

5) Berapakah besarnya amortisasi premium/diskonto untuk tahun 1985?


A. Rp 800,00
B. Rp1.200,00
e EKMA431 3/MODUL 4 4.61

C. Rp 1.800,00
D. Rp 0,00

6) Berapakah nilai buku SUO pada 1 Januari 2000?


A. Rp109.000,00
B. Rp 107.000,00
C. Rp 106.000,00
D. Rp104.000,00

7) Jika obligasi tersebut dilunasi oleh PT X pada tanggal 1 Oktober 2001


dengan nilai pelunasan RplOO.OOO,OO maka PT X akan mengalami
rugi/laba pelunasan sebesar ....
A. Rp9.000,00
B. Rp2.400,00
C. Rp1.800,00
D. Rp4.500,00

8) Apabila sebuah perusahaan penerbit SUO-nya dipesan oleh investor


dengan kurs di atas nominal maka rekening yang akan di debit adalah ....
A. utang obligasi
B. piutang pesanan obligasi
C. premium SUO
D. utang obligasi pesanan

9) Amortisasi terhadap suatu premium SUO akan berakibat ....


A. saldo utang obligasi naik
B. mengurangi beban biaya
C. menambah nilai buku SUO
D. menambah bunga nominal

10) Yang menambah SUO dalam penyajiannya di neraca adalah ....


A. diskonto SUO
B. treasury bonds
C. premium SUO
D. piutang pesanan obligasi
4.62 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 3.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 4. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang
belum dikuasai.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.63

KEGIATAN BELA&JAR 4

Obligasi Berseri dan Obligasi Terkonversi

A. OBLIGASI BERSERI

Pada Kegiatan Belajar 1 Anda telah mengenal satu jenis utang obligasi
yang disebut dengan obligasi berseri. Berbeda dengan utang obligasi biasa,
pelunasan terhadap obligasi berseri dilakukan secara bertahap. Dengan
demikian, obligasi berseri tidak hanya mempunyai satu tanggal jatuh tempo.
Sebagai contoh, PT Arif menerbitkan obligasi berseri dengan total nominal
Rp100.000,00. Pelunasan dilakukan mulai akhir tahun ke-3 sampai akhir
tahun ke-6 sebesar Rp25.000,00 untuk tiap pelunasan. Dengan demikian,
pada akhir tahun ke-3 utang obligasi PT Arif tinggal Rp75.000,00, pada akhir
tahun ke-4 masih sisa Rp50.000,00, dan seterusnya sampai lunas pada akhir
tahun ke-6.
Dalam contoh tersebut PT Arif menerbitkan 4 seri obligasi dengan
nominal tiap seri Rp25 .000,00. Keempat seri obligasi tersebut mempunyai
tanggal jatuh tempo sendiri-sendiri.
Penerbitan obligasi berseri ini dimaksudkan agar perusahaan tidak
merasa terlalu berat dalam melunasinya pada saat jatuh tempo kelak. Bunga
periodik atas utang obligasi yang dibayarkan hanya terhadap saldo utang
obligasi yang belum dilunasi saja. Kadang kala pada obligasi berseri suku
bunga ditetapkan tidak sama besar untuk tiap serinya, tergantung lama masa
edarnya. Untuk jumlah pokok utang obligasi yang mempunyai masa edar
lebih lama, suku bunga biasanya ditetapkan lebih tinggi.
Masalah utama yang terdapat pada obligasi berseri ini adalah ( 1)
penentuan harga jual teoretis obligasi berseri, (2) penghitungan amortisasi
premium/diskonto obligasi berseri, dan (3) pelunasan obligasi berseri
sebelum tanggal jatuh temponya.

1. Penentuan Harga Jual Teoretis Obligasi Berseri


Seperti halnya pada obligasi biasa, harga jual obligasi berseri secara
teoretis ditentukan dengan memperhitungkan bunga efektif di pasar uang
yang diperkirakan berlaku selama masa edar obligasi tersebut. Harga jual
teoretis tersebut ditentukan dengan menghitung nilai tunai dari setiap uang
4.64 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

yang dibayarkan oleh perusahaan penerbit atas dasar bunga efektif. Untuk
jelasnya coba Anda perhatikan contoh berikut:

Contoh 4.18.
PT Arif mengeluarkan obligasi berseri nominal Rp100.000,00 dengan
bunga 12% per tahun yang dibayarkan di belakang tiap tanggal 1 Januari dan
1 J uli. Obligasi tersebut akan dilunasi tiap tang gal 1 J anuari sebesar nominal
Rp25.000,00. Pelunasan pertama dilakukan 2 tahun setelah obligasi beredar.
Jika diperhitungkan bunga efektif 10% per tahun maka harga jual obligasi
berseri tersebut dihitung sebagai berikut:
a. Bunga efektif 1 tahun = 10% maka efektif untuk 6 bulan adalah
= (1 + 0,1)6/12- 1 = 0,0488 atau 4,88%.
b. Bunga periodik untuk tiap nominal Rp25.000,00 adalah = 6/12 x 12% x
Rp25.000,00 = Rp1.500,00.
c. Nilai tunai nominal obligasi dan bunga periodik untuk masing-masing
seri adalah berikut ini:

Seri #1, yang dilunasi pada awal tahun ke-3


4
R 25.000 00 (1+0 1)-2 + Rp 1 .S00,00{ 1-( 1+0,0488 )} =R 25 994 83
p ' ' 0 048 8 p ' '
'

Seri #2, yang dilunasi pada awal tahun ke-4


6
1 1 1
R 25.000 00 (1+0 1)- + Rp .S00,00{ -( +0,0
3 488 )r =R 26 425 50
p ' ' 0 0488 p ' '
'

Seri #3, yang dilunasi pada awal tahun ke-5


8
R 25.000 00 (1 +0 1) 4 1 1 1
+ Rp .SOO,OO{ -( +0,0 488 ) r =R 26 817 01
p ' ' 0 048 8 p ' '
'
Seri #4, yang dilunasi pada awal tahun ke-6
10
1 1 1
R 25.000 00 (1+0 1)- + Rp .S00,00{ -( +0,0
5 488 )r =R 27 172 93
p ' ' 0 0488 p ' '
'

Total nilai seluruh seri =Rp106.410,27


e EKMA431 3/MODUL 4 4.65

Dari perhitungan di atas maka dapat kita ketahui bahwa penjualan


obligasi berseri oleh PT Arif terdapat premium sebesar Rp6.41 0,27, yaitu
Rp106.410,27 - Rp100.000,00. Dengan cara perhitungan yang sama, jika
diperhitungkan bung a efektif sebesar 15% per tahun, harga jual teoretis
obligasi tersebut akan sebesar Rp93.511,26 sehingga dari penjualan obligasi
tersebut akan timbul diskonto sebesar Rp6.488,74.

2. Amortisasi Premium atau Diskonto Obligasi Berseri


Pada kegiatan belajar sebelumnya, Anda telah dijelaskan mengenai
perlunya mengamortisasi premium atau diskonto yang timbul dari penjualan
obligasi. Premium atau diskonto perlu diamortisasi dengan maksud untuk
menyesuaikan beban bunga sesungguhnya yang merupakan tanggungan
perusahaan penerbit. Juga telah Anda ketahui bahwa metode amortisasi yang
diperkenankan oleh Standar Akuntansi Keuangan ada 2, yaitu (a) metode
garis lurus dan (b) metode bunga. Amortisasi ini juga berlaku pada premium
atau diskonto yang timbul dari penjualan obligasi berseri. Berikut Anda akan
diberi contoh mengenai cara mengamortisasi obligasi berseri dengan
menggunakan metode yang ada.

a. Amortisasi premium obligasi berseri


Dengan data yang diambil dari Contoh 4.18. dan misalnya obligasi
berseri tersebut laku terjual pada tanggal 1 Januari 2002 maka amortisasi
untuk masing-masing metode dapat Anda pelajari pada Tabel4.1. dan 4.2.

Tabel 4.1.
Perhitungan Amortisasi Premium Obligasi Berseri Metode Garis Lurus

Nominal Pel una-


Tanggal Bung a Proporsi Amorti Be ban Sal do Nilai Buku
Obligasi san
Jatuh Nominal Amorti sas1 Bung a Premium Utang
yang Utang
Tempo **) sas1 Premium Riil Obligasi Obligasi
Beredar Obliga-si
Bunga (Rp) Premium (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Rp Rp
- - - - - - 6.410,27 - 106.410,27
1/7/02 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 915,75 5.084,25 5.494,52 - 105.494,52
1/1/03 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 915,75 5.084,25 4.578,77 - 104.578,77
1/7/03 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 915,75 5.084,25 3.663,02 - 103.663,02
1/1/04 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 915,75 5.084,25 2.747,27 25.000,00 77.747,27
1/7/04 Rp 75.000,00 Rp4.500,00 75/700 686,81 3.813,19 2.060.46 - 77.060.46
1/1/05 Rp75.000,00 Rp4.500,00 75/700 686,81 3.813,19 1.373.65 25.000,00 51.373,65
1/7/05 Rp50.000,00 Rp3.000,00 50/700 457,88 2.542,12 915,77 - 50.915,77
1/1/06 Rp50.000,00 Rp3.000,00 50/700 457,88 2.542,12 457,89 25.000,00 25.457,89
1/7/06 Rp25.000,00 Rp1 .500,00 25/700 228,94 1.271 ,06 228,94 - 25.228,94
1/1/07 Rp25.000,00 Rp1.500,00 25/700 228,94 1.271 ,06 - 25.000,00
**) Bunga nominal= 6/12 x 12% x Nilai Nominal
4.66 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Tabel 4.2.
Perhitungan Amortisasi Premium Obligasi Berseri - Metode Bunga- Bunga
Efektif 10% Per Tahun

Tanggal Bunga Saldo Pelunasan Nilai Buku


Bunga Amortisasi
Jatuh Nominal Premium Utang Utang
Efektif *) Premium
Tempo **) Obligasi Obligasi Obligasi
(Rp) (Rp)
Bunga (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
- - - - 6.410,27 - 106.410,27
1/7/02 5.193,76 Rp6.000,00 806,24 5.604,03 - 105.604,03
1/1/03 5.154,41 Rp6.000,00 845,59 4.758,44 - 104.758,44
1/7/03 5.113,14 Rp6.000,00 886,86 3.871 ,58 - 103.871 ,58
1/1/04 5.069,85 Rp6.000,00 930,15 2.941 ,43 25.000,00 77.941,43
1/7/04 3.804,23 Rp4.500,00 695,77 2.245,66 - 77.245,66
1/1/05 3.770,27 Rp4.500,00 729,73 1.515,93 25.000,00 51.515,93
1/7/05 2.514,43 Rp3.000,00 485,57 1.030,36 - 51.030,36
1/1/06 2.490,73 Rp3.000,00 509,27 521,09 25.000,00 25.521 ,09
1/7/06 1.245,66 Rp1.500,00 254,43 266,76 - 25.266,76
1/1/07 1.233,24 Rp1.500,00 - 266,76
25.000,00 -
*) Bunga Efektif = Tingkat Bunga Efektif 6 bulan x Nilai Buku Utang
112
Obligasi di mana tingkat bung a efektif untuk 6 bulan = ( 1 + 10%) - 1 =
0,0488.

b. Amortisasi Diskonto Obligasi Berseri


Dengan data yang diambil dari Contoh 4.18. dan misalnya obligasi
berseri tersebut laku terjual pada tanggal 1 J anuari 2002 maka amortisasi
untuk masing-masing dapat Anda pelajari pada Tabel4.3. dan Tabel 4.4.

Tabel 4.3.
Perhitungan Amortisasi Diskonto Obligasi Berseri - Metode Garis Lurus

Pel una- Nilai


Tang gal Nominal Bunga Beban Saldo
Proporsi Amortisasi san Buku
Jatuh Obligasi Nominal Bung a Diskonto
Amortisasi Diskonto Utang Utang
Tempo Yang **) Riil Obligasi
Diskonto {Rp) Obligasi Obligasi
Bung a Beredar {Rp) {Rp) {Rp) {Rp)
Rp Rp
- - - - - - 6.488,74 - 93.511,26
1/7/02 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 926,96 6.926,96 5.561 ,78 - 94.438,22
1/1/03 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 926,96 6.926,96 4.634,82 - 95.365,18
1/7/03 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 926,96 6.926,96 3.707,86 - 96.292,14
1/1/04 Rp100.000,00 Rp6.000,00 100/700 926,96 6.926,96 2.780,09 25.000,00 72.219,11
1/7/04 Rp75.000,00 Rp4.500,00 75/700 695,22 5.195,22 2.085,68 - 72.914,32
1/1/05 Rp75.000,00 Rp4.500,00 75/700 695,22 5.195,22 1.390,46 25.000,00 48.609,54
1/7/05 Rp50.000,00 Rp3.000,00 50/700 463,48 3.463,48 926,98 - 49.073,02
1/1/06 Rp50.000,00 Rp3.000,00 50/700 463,48 3.463,48 463,45 25.000,00 24.536,52
1/7/06 Rp25.000,00 Rp1.500,00 25/700 231,74 1. 731 '74 231,74 - 24.768,26
1/1/07 Rp25.000,00 Rp1.500,00 25/700 231,74 1.731 '74 - 25.000,00 -
**) Bunga nominal= 6/12 x 12% x Nilai Nominal
e EKMA431 3/MODUL 4 4.67

Tabel 4.4.
Perhitungan Amortisasi Diskonto Obligasi Berseri - Metode Bunga - Bunga
Efektif 15% Per Tahun

Tang gal Sal do Pelunasan


Bung a Bung a Amortisasi Nilai Buku
Jatuh Diskonto Utang
Efektif *) Nominal**) Diskonto Utang
Tempo Obligasi Obligasi
(Rp) (Rp) (Rp) Obligasi (Rp)
Bung a Rp Rp
- - - - 6.488,74 - 93.511,26
1/7/02 6.769,38 Rp6.000,00 769,38 5. 719,36 - 94.280,64
1/1/03 6.824,01 Rp6.000,00 824,01 4.895,35 - 95.104,65
1/7/03 6.883,65 Rp6.000,00 883,65 4.011 ,7 - 95.988,3
1/1/04 6.947,61 Rp6.000,00 947,61 3.064,09 25.000,00 71.935,91
1/7/04 5.206,69 Rp4.500,00 706,69 2.357,4 - 72.642,6
1/1/05 5.257,84 Rp4.500,00 757,84 1.599,56 25.000,00 48.400,44
1/7/05 3.503,18 Rp3.000,00 503,18 1.096,38 - 48.903,62
1/1/06 3.539,60 Rp3.000,00 539,60 556,78 25.000,00 24.443,22
1/7/06 1.769, 14 Rp1 .500,00 269,14 288,62 - 24.711,38
1/1/07 1.788,62 Rp1.500,00 288,62 - 25.000,00 -
*) Bunga Efektif = Tingkat Bunga Efektif 6 bulan x Nilai Buku Utang
112
Obligasi di mana tingkat bunga efektif untuk 6 bulan = ( 1 + 15%) - 1 =
0,072381.

3. Pelunasan Obligasi Berseri Sebelum Tanggal Jatuh Tempo


Penanganan dan perhitungan terhadap obligasi berseri yang dilunasi
sebelum tanggal jatuh temponya pada dasarnya sama dengan pelunasan
sebelum tanggal jatuh tempo utang obligasi tidak berseri. Terhadap bagian
obligasi berseri yang dilunasi, premium atau diskonto yang belum
diamortisasi dihapuskan sebesar proporsinya. Dengan kata lain, bagian
obligasi berseri yang dilunasi dihitung sebesar nilai bukunya. Jika kurs
pelunasan lebih tinggi dari nilai buku bagian obligasi yang dilunasi maka
akan diakui adanya kerugian. Jika terjadi sebaliknya, akan diakui adanya laba
pelunasan. Laba/rugi pelunasan obligasi berseri ini disajikan dalam Laporan
Laba!Rugi sebagai pos Luar Biasa.
Apabila pelunasan dilakukan tidak bertepatan pada tanggal jatuh tempo
bunga, perusahaan penerbit perlu memperhitungkan adanya bunga berjalan.
Contoh berikut akan membantu Anda memahami masalah tersebut.

Contoh 4.19.
Utang obligasi berseri PT Arif pada Contoh 4.18 dilunasi sebagian
dengan perincian sebagai berikut.
4.68 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

a. Seri #1, yang seharusnya jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2004
dilunasi sebesar nominal Rp10.000,00 pada tanggal 1 Oktober 2003
dengan kurs pelunasan 99.
b. Seri #3, yang seharusnya jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2006
dilunasi sebesar nominal Rp15.000,00 pada tanggal 1 Oktober 2003
dengan kurs pelunasan 105.
c. Obligasi berseri tersebut dahulunya dijual dengan memperhitungkan
bung a efektif 10% per tahun. Amortisasi premium dilakukan dengan
menggunakan metode garis lurus.

Seperti halnya pada obligasi bukan berseri, pelunasan sebelum tanggal


jatuh tempo memberikan 2 kemungkinan, yaitu (1) penarikan obligasi yang
dimaksudkan sebagai pelunasan, dan (2) penarikan obligasi sebagai treasury
bonds yang nantinya dijual kembali. Misalnya, pada Contoh 4.18. obligasi
ditarik sebagai pelunasan maka jurnal yang dibuat oleh PT Arif adalah
berikut ini.
1/10/2003 Utang Obligasi ................ Rp 10.000,00
Premium Utang Obligasi ..... Rp 45,79
Laba Pelunasan Obligasi ......... Rp 145,79
Kas ......................................... Rp9.900,00
(mencatat pelunasan obligasi seri #1 nominal Rp 10.000,00
dengan kurs 99)

Perhitungan:
-Nominal Obligasi seri # 1 yang dilunasi =Rp 10.000,00
- Bagian premium belum diamortisasi yang melekat
Pada obligasi seri # 1 yang dilunasi per 1 Juli 2003

6 X RplO.OOO,OO X Rp 228,948*) =Rp 91,58


6 Rp25.000,00

- Nilai buku obligasi seri # 1 yang dilunasi,


per 1 Juli 2003 =Rp10.091,58
e EKMA431 3/MODUL 4 4.69

- amortisasi bagian premi yang melekat pada obligasi seri # 1


yang dilunasi, untuk 3 bulan (1 Juli- 1 Oktober 2003) =

~ X RplO.OOO,OO X Rp 228,94*) = Rp 45,79


6 Rp25.000,00

- Nilai buku obligasi seri # 1 yang dilunasi,


Per 1 Oktober 2003 = Rp 10.045,79
- Nilai buku obligasi seri # 1 yang dilunasi,
Per 1 Juli 2003 = Rp 10.091,58
- Kurs pelunasan = 99% x Rp 10.000 = Rp 9.900,00
- Laba pelunasan utang obligasi seri #
nominal Rp10.000,00 =Rp 145,79

Keterangan *)
Dari tabel 4.1. Anda dapat menghitung bagian premium
tiap seri obligasi, nominal Rp25.000,00 yang diamortisasi
per 6 bulan, yaitu:
25
Rp .000,00 x Rp 915,75 = Rp 228,94
Rp 100.000,00
(perhatikan Besamya amortisasi per 6 bulan untuk seluruh
obligasi, nominal Rp100.000,00 adalah sebesar Rp 915,75)
Pada tanggal 1 Juli 2003, masa edar obligasi seri #1 tinggal
6 bulan, sehingga sisa premium yang belum diamortisasi
yang melekat pada nominal Rp10.000,00 seri # 1 adalah
Rp 1O.OOO,OO/Rp25 .000,00 dari besarnya amortisasi
premium tiap seri untuk 6 bulan.

1/1/2003 Biaya Bunga Obligasi ........................ Rp254,21


Premium Utang Obligasi ................... Rp 45,79
Kas ......................................................... R p 3 00,00
(mencatat pembayaran bunga dan amortisasi premium
untuk jangka waktu 1 Juli - 1 Oktober 2003, premium
obligasi seri # 1 nominal Rp 10.000,00 yang dilunasi.
Bunga yang dibayar ini merupakan bunga berjalan atas
pelunasan obligasi yang bersangkutan)
4.70 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Perhitungan:
Kas untuk membayar bunga selama 3 bulan
( 1 Juli- 1 Oktober 2003) = 3/12 x Rp10.000,00 x 12%= Rp 300,00
- Amortisasi premium obligasi seri #1 nominal
Rp10.000,00 untuk 3 bulan
i X RplO.OOO,OO X Rp 228,94 = Rp 45,79
6 Rp25.000,00
Biaya bunga riil yang ditanggung perusahaan
atas obligasi nominal Rp10.000,00 untuk 3 bulan = Rp 254,21

1/10/2003 Biaya Bunga Obligasi .................... Rp 15.000,00


Premium Utang Obligasi ............... Rp 618,13
Rugi Pelunasan Utang Obligasi ..... Rp 131,87
Kas ........................................................... = R p 15 .7 50,00
(mencatat pelunasan obligasi seri # 3 nominal Rp 10.000,00
dengan kurs pelunasan 105)
Perhitungan:
-Nominal Obligasi Seri 3 yang dilunasi = Rp 15.000,00
- Bagian premium belum diamortisasi yang melekat
Pada obligasi seri # 3 yang dilunasi per 1 Juli 2003
30 X Rp15.000,00 X Rp 228,94 =Rp 686,82
6 Rp25.000,00
- Nilai buku Obligasi Seri # 3 yang dilunasi
per 1 Juli 2003 = Rp 15.686,82
- Amortisasi premium obligasi dari obligasi
seri # 3 yang dilunasi untuk 3 bulan
(1 Juli- 1 Oktober 2003) =
i X Rp15.000,00 X Rp 228,94 = Rp 68,68
6 Rp25.000,00
- Nilai buku obligasi seri # 3 yang dilunasi,
per 1 Oktober 2003 = Rp15.618,14
- Kurs pelunasan = 105% x Rp15.000,00 = Rp15.750,00

- Rugi pelunasan utang obligasi seri # 3


nominal Rp15.000,00 = Rp 131,86
e EKMA431 3/MODUL 4 4.71

Penjelasan:*) Obligasi seri # 3 yang baru akan jatuh tempo tanggal 1 Januari
2006, pada 1 Juli 2003 masih mempunyai masa edar 2,5 tahun
atau 30 bulan, sehingga premium obligasi nominal
Rp15.000,00 yang belum diamortisasi adalah:
3 Rp15.000,00 d . . . . . . b I
- x ar1 amorhsas1 hap ser1 hap 6 u an.
6 Rp25.000,00

1/10/2003 Biaya Bunga Obligasi .................... Rp 381,32


Premium Utang Obligasi ............... Rp 68,68
Kas ......................................................... Rp 450,00
(mencatat pembayaran bunga dan amortisasi premium
untuk jangka waktu 1 Juli- 1 Oktober 2003, dari obligasi
seri # 3 nominal Rp15.000,00 yang dilunasi. Bunga yang
dibayar ini merupakan bunga berjalan atas pelunasan
obligasi yang bersangkutan).
Perhitungan:
- Kas untuk membayar bunga selama 3 bulan
(1 Juli- 1 Oktober 2003) = 3/12 x Rp15.000,00 x 12% = Rp 450,00
- Amortisasi premium obligasi seri # 3 nominal
Rp15.000,00 untukjangka 3 bulan
l X RplS.OOO,OO X Rp 228,94 =Rp 68,68
6 Rp25.000,00
- Beban bunga riil untuk 3 bulan yang ditanggung perusahaan
Dari obligasi seri # 3 nominal Rp15.000,00 yang dilunasi =Rp381,32

B. OBLIGASI TERKONVERSI (CONVERTIBLE BONDS)

Obligasi terkonversi adalah jenis obligasi yang bisa ditukarkan dengan


surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan penerbit atau perusahaan
afiliasinya. Saham Biasa merupakan jenis surat berharga yang biasa untuk
menukar/melunasi obligasi terkonversi. Akan tetapi, surat berharga lainnya,
seperti Surat Utang Obligasi jenis lainnya dapat juga digunakan untuk
menukar/melunasi obligasi terkonversi, tergantung dari perjanjian yang telah
dibuat. Pelunasan utang obligasi yang dilakukan dengan menerbitkan surat
utang obligasi yang baru lazim disebut dengan Bonds Refunding (Pendanaan
Kembali Obligasi).
4.72 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Informasi yang harus ada pada obligasi terkonversi adalah rasio


pertukaran, yaitu perbandingan jumlah lembar antara obligasi terkonversi
yang akan dilunasi dengan jumlah lembar surat berharga yang digunakan
untuk melunasinya. Sebagai contoh, 1 lembar obligasi terkonversi bisa
ditukarkan/dilunasi dengan 10 lembar saham biasa. Ini berarti rasio
pertukaran obligasi tersebut adalah 1 : 10.
Pada umumnya obligasi terkonversi bersifat callable, artinya perusahaan
penerbit bisa mengkonversi obligasi ini setiap saat kapan diperlukan. Sifat
lain yang dimiliki oleh obligasi terkonversi adalah harga jualnya yang lebih
tinggi dibanding harga jual obligasi jenis yang lain.
Penerbitan obligasi terkonversi memberikan beberapa keuntungan, baik
bagi perusahaan penerbit maupun pihak pembeli. Keuntungan tersebut, antara
lain berikut ini.
1. Bagi Perusahaan Penerbit.
a. Behan bunga riil yang lebih rendah.
b. Perusahaan bisa memilih saat yang paling menguntungkan untuk
mengkonversikan obligasi tersebut. Hal ini karena adanya sifat
callable yang dimilikinya.
c. Sarana untuk menjamin penarikan modal yang bersifat permanen.
2. Bagi Pihak Pembeli.
a. Kesempatan untuk bisa menjadi pemegang saham perusahaan
penerbit obligasi tersebut.
b. Ada kepastian mendapatkan pelunasan atas obligasi yang dibelinya.
c. Adanya kemungkinan menikmati kenaikan kurs/saham yang
didapatnya.

Masalah utama yang akan dibahas pada subpokok bahasan obligasi


terkonversi ini adalah (1) akuntansi penjualan obligasi terkonversi,
(2) akuntansi saat berlangsungnya konversi, dan (3) bonds refunding. Mari
sekarang kita bahas masalah tersebut satu per satu.

1. Akuntansi Penjualan Obligasi Terkonversi


Terhadap penjualan obligasi terkonversi ini terdapat 2 pandangan yang
berbeda. Akibatnya, perlakuan akuntansinya pun ada 2 macam tergantung
sudut pandangan masing-masing. Dua pandangan yang berbeda tersebut
adalah (1) penjualan obligasi terkonversi dianggap hanya sebagai transaksi
utang saja, dan (2) penjualan obligasi terkonversi dianggap sebagai transaksi
e EKMA431 3/MODUL 4 4.73

utang dan modal yang terjadi secara bersamaan. Perbedaan sudut pandang ini
disebabkan oleh berlakunya harga jual obligasi terkonversi yang lebih tinggi
dibanding harga jual jika obligasi tersebut bukan terkonversi. Selisih harga
jual inilah yang dianggap sebagai transaksi setoran modal oleh pandangan
nomor (2). Anda tentunya akan lebih jelas jika diberi sebuah contoh.

Contoh 4.20.
PT Hafidz mengeluarkan obligasi terkonversi sebanyak 100 lembar
dengan nominal Rp1.000,00 yang bisa ditukar dengan saham biasa
perusahaan tersebut nominal @ Rp75 dengan rasio pertukaran 1 : 10. Bunga
obligasi tersebut 12% per tahun. Kurs jual obligasi tersebut adalah 105,
namun apabila obligasi tersebut tidak mempunyai hak konversi maka kurs
jualnya hanya 98. Obligasi ini akan jatuh tempo 10 tahun kemudian setelah
tanggal penjualannya.
a. Apabila penjualan dianggap sebagai transaksi utang saja
Jumal yang dibuat oleh PT Hafidz adalah:
Kas ..................................................... Rp 105.000,00
Premium Utang Obligasi .............................. Rp 5.000,00
Utang Obligasi ............................................. Rp 100.000,00
(mencatat penjualan obligasi terkonversi sebanyak 100 lembar,
nominal Rp1.000,00 dengan kurs 105)
b. Apabila penjualan dianggap sebagai transaksi utang dan modal
Jumal yang dibuat oleh PT Hafidz adalah berikut ini.
Kas ..................................................... Rp 105.000,00
Diskonto Utang Obligasi ................... Rp 2.000,00
Utang Obligasi ............................................. Rp 100.000,00
Modal Disetor- Hak Konversi Saham ........ Rp 7.000,00
(mencatat penjualan obligasi terkonversi sebanyak 100 lembar,
nominal Rp1.000,00 dengan kurs 105)
Perhitungan:
- Harga jual obligasi dengan hak konversi
= 105% X Rp100.000,00 = Rp105.000,00
Harga jual jika obligasi tidak mempunyai hak konversi
= 98% X Rp100.000,00 = Rp 98.000,00
Selisih harga jual yang dianggap sebagai setoran modal= Rp 7.000,00
4.74 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Kalau Anda menghitung beban bunga tahunan untuk masing-masing


anggapan di atas maka akan Anda dapatkan bahwa beban bunga tahunan
anggapan (1) lebih rendah dibanding yang diperhitungkan pada anggapan (2).
Dengan menggunakan anggapan (1), beban bunga tahunan adalah sebesar
Rp11.500,00, yaitu Rp12.000,00 yang dibayarkan dikurangi amortisasi
metode garis lurus per tahun dari premium sebesar Rp500,00. Sedangkan
dengan anggapan (2), beban bunga tahunan yang diperhitungkan adalah
sebesar Rp12.200 yaitu Rp12.000,00 yang dibayarkan ditambah dengan
amortisasi metode garis lurus diskonto per tahun Rp200,00.
Secara teoretis, pandangan nomor (2) lebih kuat daripada pandangan (1).
Akan tetapi dalam praktiknya, anggapan nomor (1) yang banyak digunakan.
Hal ini dikarenakan segi kepraktisannya.

2. Pelunasan Obligasi Terkonversi


Pelunasan terhadap obligasi terkonversi bisa dilakukan per kas atau
menukarkannya dengan surat berharga sesuai dengan ketentuan. Hal ini
tergantung pada apakah pemegang obligasi terkonversi memanfaatkan hak
konversinya atau tidak. Jika pemegang obligasi memanfaatkan hak
konversinya maka ada dua pandangan terhadap transaksi tersebut, yaitu
berikut ini:
a. Pertukaran dicatat atas dasar harga pasar yang paling jelas dari kedua
jenis surat berharga yang saling dipertukarkan tersebut. Pandangan ini
mengakui adanya laba/rugi yang timbul dari transaksi pelunasan obligasi
tersebut.
b. Pertukaran dicatat atas dasar nilai buku obligasi saat pertukaran
berlangsung.

Sebagai contoh, kita ambil data dari Contoh 4.6. Misalkan satu tahun
menjelang obligasi PT Hafidz jatuh tempo, perusahaan melunasi utang
obligasinya. Semua pemegang obligasi setuju untuk menggunakan hak
konversinya. Pada saat itu harga pasar saham biasa PT Hafidz sebesar
Rp80,00 per lembar. Penjualan obligasi dahulunya dianggap sebagai
transaksi utang, dan premium diamortisasi secara garis lurus.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.75

1) Pertukaran dicatat atas dasar harga pasar saham


Jurnal yang dibuat oleh PT Hafidz adalah:

Utang obligasi .................................... Rp 100.000,00


Premium Utang Obligasi .................... Rp 500,00
Modal Saham Biasa ........................................ Rp75.000,00
Agio Saham Bias a .......................................... Rp 5.000,00
Lab a Pertukaran Obligasi ............................... Rp 20.500,00
(mencatat pelunasan utang obligasi terkonversi
dengan menukarkannya dengan saham biasa, rasio
pertukaran 1 : 10)

Perhitungan:
- Nominal utang obligasi yang dilunasi
100 lembar x Rp1.000,00 =Rp 100.000,00
- Premium utang obligasi yang belum diamortisasi
Pada akhir tahun ke 9 = Rp5.000,00/10 =Rp 500,00

- Nilai buku utang obligasi pada saat pertukaran =Rp 100.000,00


- Kurs saham biasa = Rp80,00 x 10 lembar x 100 lembar =Rp 80.000,00

- Laba pertukaran obligasi =Rp 20.500,00

2) Pertukaran dicatat atas dasar nilai buku utang obligasi


Jurnal yang dibuat oleh PT Hafidz adalah:

Utang obligasi .................................... Rp 100.000,00


Premium Utang Obligasi .................... Rp 500,00
Modal Saham Biasa ........................................ Rp75.000,00
Agio Saham Bias a .......................................... Rp 25.500,00
(mencatat pelunasan utang obligasi terkonversi
dengan menukarkannya dengan saham biasa, rasio
pertukaran 1 : 10)
4.76 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Ditinjau dari penerapan prinsip akuntansi berterima umum, di antara


kedua perlakuan terhadap pelunasan obligasi terkonversi dengan saham biasa
di atas maka perlakuan nomor (2) yang diperbolehkan oleh prinsip akuntansi
berterima umum. Ini mengingat bahwa pengakuan laba atau rugi terhadap
transaksi modal tidak diperbolehkan.

3. Pendanaan Kembali Obligasi (Bonds Refunding)


Di muka telah kita singgung bahwa pelunasan utang obligasi yang
dilakukan dengan menerbitkan surat utang obligasi yang baru dan ditukarkan
terhadap obligasi yang lama lazim disebut dengan Bonds Refunding. Seperti
halnya dengan pelunasan obligasi lainnya, bonds refunding bisa dilakukan
pada tanggal jatuh tempo atau sebelumnya. Bonds refunding yang dilakukan
pada tanggal jatuh tempo pada dasamya tidak ada perbedaan dengan
pelunasan cara biasa. Perbedaan yang ada hanyalah kemungkinan adanya
rugi/laba yang harus diakui pada bonds refunding ini. Laba diakui jika nilai
buku obligasi yang dilunasi pada saat pelunasan lebih tinggi dari kurs jual
obligasi baru yang digunakan untuk melunasinya. Sedangkan pengakuan rugi
dilakukan jika terjadi sebaliknya.
Bonds refunding yang dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo biasanya
dilakukan apabila terj adi penurunan tingkat bunga di pasar uang. Penurunan
tingkat bunga di pasar uang ini menyebabkan beban bunga yang ditanggung
oleh perusahaan penerbit menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.
Sehingga dengan dilakukannya bonds refunding akan bisa mewajarkan
besarnya beban bunga yang harus ditanggung oleh perusahaan penerbit.
Terhadap premium atau diskonto obligasi yang belum diamortisasi
dalam bonds refunding sebelum tanggal jatuh tempo, dapat dipilih salah satu
perlakuan sebagai berikut:
a. Dihapuskan pada saat bonds refunding dengan mengakui laba atau rugi
yang timbul.
b. Tetap diamortisasi seperti biasa sampai obligasi yang dilunasi tersebut
jatuh tempo.
c. Diamortisasi selama umur obligasi terbitan baru yang digunakan untuk
melunasi obligasi lama.

Prinsip akuntansi berterima umum mendukung perlakuan nomor (1)


dengan alasan bahwa pada dasarnya semua transaksi pelunasan utang
obligasi sebelum tanggal jatuh temponya adalah sama apa pun caranya.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.77

LATI HAN
.-
--- - ~

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!
1) Pada tanggal 1/1/1998 PT XYZ menerbitkan SUO berseri, nominal
Rp100.000,00 dengan bunga 12% per tahun yang dibayar tiap 1 Januari.
Obligasi terdiri atas 2 seri yang akan dilunasi 1 Januari 2000 dan 1
Januari 2003 masing-masing Rp50.000,00. Bunga efektif yang berlaku
adalah 10%. PT XYZ menggunakan metode garis lurus dalam
melakukan amortisasi.
Dari data tersebut, berapakah:
a. Harga jual obligasi
b. Premium SUO
2) Sebutkan masalah utama yang terdapat pada obligasi berseri ini!
3) Apa yang dimaksud dengan Obligasi Terkonversi?
4) Apa yang dimaksud dengan Bonds Refunding?
5) Apa yang dimaksud dengan Rasio Pertukaran?
6) Sebutkan beberapa keuntungan dari adanya Penerbitan Obligasi
Terkonversi, bagi perusahaan penerbit!
7) Sebutkan beberapa pilihan perlakuan terhadap premium atau diskonto
obligasi yang belum diamortisasi dalam bonds refunding sebelum
tang gal j atuh tempo!
8) Sebutkan sifat-sifat yang terdapat dalam Obligasi Terkonversi! Jelaskan
apa yang dimaksud dengan callable!
9) Sebutkan apa yang menjadi penyebab timbulnya perbedaan sudut
pandang terhadap penjualan obligasi terkonversi!
10) PT HARAPAN mengeluarkan obligasi terkonversi sebanyak 150 lembar
dengan nominal Rp2.000.000,00 yang bisa ditukar dengan saham biasa
perusahaan tersebut nominal @ Rp100,00 dengan rasio pertukaran
1 : 10. Bunga obligasi tersebut 12% per tahun. Kurs jual obligasi tersebut
adalah 110, namun apabila obligasi tersebut tidak mempunyai hak
konversi maka kurs jualnya hanya 96. Obligasi ini akan jatuh tempo 10
tahun kemudian setelah tang gal penjualannya. Buatlah jumal yang dibuat
oleh PT HARAPAN untuk mencatat penjualan obligasi terkonversi
sebanyak 150 lembar, nominal Rp.2.000.000,00 dengan kurs 110,
apabila penjualan dianggap sebagai transaksi utang saja!
4.78 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Petunjuk Jawaban Latihan

1) a. Hitunglah:
2
6. 000 1 - ( 1 + 0' 1)-
2
5o.ooo c1 + o,1r + = 51.735,53
0,1
5
6. 000 1 - ( 1 + 0' 1)-
5
5o.ooo c1 + o,1r + = 53.790,79
0,1
Harga jual obligasi = 105.526,32

b. Premium= Harga Jual Obligasi- Harga Nominal


= 105.526,32- 100.000,00
= 5.526,32

2) Masalah utama yang terdapat pada obligasi berseri ini adalah :


a. penentuan harga jual teoretis obligasi berseri;
b. penghitungan amortisasi premium/diskonto obligasi berseri;
c. pelunasan obligasi berseri sebelum tanggal jatuh temponya.
3) Obligasi Terkonversi adalah jenis obligasi yang bisa ditukarkan dengan
surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan penerbit atau
perusahaan afiliasinya.
4) Bonds Refunding (Pendanaan Kembali Obligasi) adalah Pelunasan utang
obligasi yang dilakukan dengan menerbitkan surat utang obligasi yang
baru.
5) Rasio Pertukaran, yaitu perbandingan jumlah lembar antara obligasi
terkonversi yang akan dilunasi dengan jumlah lembar surat berharga
yang digunakan untuk melunasinya.
6) Keuntungan dari adanya Penerbitan Obligasi Terkonversi, bagi
perusahaan penerbit, yaitu berikut ini.
a. Behan bunga riil yang lebih rendah.
b. Perusahaan bisa memilih saat yang paling menguntungkan untuk
mengkonversikan obligasi tersebut. Hal ini karena adanya sifat
callable yang dimilikinya.
c. Sarana untuk menjamin penarikan modal yang bersifat permanen.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.79

7) Terhadap premium atau diskonto obligasi yang belum diamortisasi


dalam bonds refunding sebelum tanggal jatuh tempo, dapat dipilih salah
satu perlakuan sebagai berikut:
a. Dihapuskan pada saat bonds refunding dengan mengakui laba atau
rugi yang timbul.
b. Tetap diamortisasi seperti biasa sampai obligasi yang dilunasi
tersebut j atuh tempo.
c. Diamortisasi selama umur obligasi terbitan baru yang digunakan
untuk melunasi obligasi lama.
8) Pada umumnya obligasi terkonversi bersifat callable, artinya perusahaan
penerbit bisa mengkonversi obligasi ini setiap saat kapan diperlukan.
Sifat lain yang dimiliki oleh obligasi terkonversi adalah harga jualnya
yang lebih tinggi dibanding harga jual obligasi jenis yang lain.
9) Perbedaan sudut pandang ini disebabkan oleh berlakunya harga jual
obligasi terkonversi yang lebih tinggi dibanding harga jual jika obligasi
tersebut bukan terkonversi.
10) Kas . ... . .. .. .... . ...... . .. .... . ... ... .... Rp220.000,00
Premium............................... Rp 80.000,00
Utang Obligasi ............................... Rp300.000,00

RANGKUMAN

Obligasi berseri adalah merupakan obligasi yang pelunasannya


bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan perusahaan penerbit.
Masalah akuntansi pada Obligasi Berseri adalah sama dengan Obligasi
Bersyarat (obligasi biasa atau term bonds). Amortisasi dilakukan
terhadap premium atau diskonto, juga dimungkinkan pelunasan sebelum
jatuh tempo.
Pelunasan obligasi juga bisa dimaksudkan benar-benar sebagai
pelunasan dan his a pula sebagai treasury bonds.
Obligasi mungkin pula ditukarkan dengan jenis surat berharga yang
lain yang dikeluarkan oleh perusahaan penerbit. Obligasi yang dapat
diperlakukan seperti ini disebut obligasi terkonversi. Apabila perusahaan
penerbit menarik/melunasi SUO dengan jalan menerbitkan SUO yang
baru disebut dengan bonds refunding.
Terdapat 2 pandangan pada penjualan obligasi terkonversi, yakni
dianggap sebagai transaksi utang saj a dan dianggap sebagai transaksi
utang dan modal. Bila pemegang obligasi terkonversi menggunakan
4.80 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

haknya maka ukuran transaksi dapat menggunakan harga pasar dari surat
berharga yang ditukarkan mana yang paling jelas atau dapat pula
menggunakan dasar nilai buku obligasi saat pertukaran berlangsung.

TES FORMATIF 4- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

Untuk soal nomor 1 sampai dengan 5 menggunakan data berikut.


PT INA mengeluarkan obligasi berseri nominal Rp600.000,00 dengan
bunga 9% per tahun dibayar di belakang tiap tanggal 1/1 dan 1/7. Obligasi
akan dilunasi tiap tanggal 1 Januari sebesar nominal Rp200.000,00 yang
dimulai 2 tahun setelah obligasi beredar. Seluruh obligasi terjual pada saat
penerbitannya. Bunga efektif yang diperhitungkan adalah 12%. Metode yang
digunakan adalah metode garis lurus.

1) Dalam transaksi tersebut harga jual obligasi adalah ....


A. Rp650.965,64
B. Rp506.965,64
C. Rp560.965,64
D. Rp506.956,64

2) Dengan demikian terjadi ... .


A. premium Rp50.965,64
B. premium Rp 6.695,64
C. diskonto Rp39 .034,36
D. diskonto Rp93.044,36

3) Amortisasi untuk periode pertama pembayaran bunga adalah ....


A. Rp 6.505,73
B. Rp 5.662,85
C. Rp 10.338,26
D. Rp 773,96

4) Jika pada saat pelunasan seri #1 SUO seri #2 juga dilunasi dengan nilai
pelunasan Rp200.000,00 maka pelunasan SUO seri #2 akan
mengalami ....
A. Rp6.505,73 laba
B. Rp2.168,58 rugi
e EKMA431 3/MODUL 4 4.81

C. Rp8.674,30 laba
D. Rp4.337 ,15 rugi

5) Jurnal dari nomor 1 maka rekening yang di debit adalah ....


A. utang obligasi
B. diskonto SUO
C. kas
D. premium SUO

Untuk soal nomor 6 sampai dengan 9, gunakan data berikut:


PT DEF mengeluarkan obligasi terkonversi sebanyak 500 lembar dengan
nominal Rp1.000,00 per lembar yang bisa ditukarkan dengan saham
biasa perusahaan, nominal = Rp300,00 per lembar dengan rasio 1 : 5.
B unga 10% per tahun. Kurs jual obligasi tersebut adalah 100, namun bila
tidak punya hak konversi maka kursnya adalah 94. Obligasi akan jatuh
tempo 5 tahun kemudian setelah penjualannya. Semua obligasi terjual
dengan hak konversi. Amortisasi dilakukan dengan metode garis lurus.

6) Jika penjualan dianggap sebagai transaksi utang saja maka akan


terjadi ....
A. diskonto SUO Rp20.000,00
B. diskonto SUO Rp30.000,00
C. premium SUO Rp30.000,00
D. premium SUO Rp20.000,00

7) Jika penjualan dianggap sebagai transaksi utang dan modal maka ....
A. terjadi premium Rp30.000,00
B. terjadi diskonto Rp20.000,00
C. terjadi premium Rp20.000,00
D. tidak terj adi premium atau diskonto

8) Misalkan, 1 tahun sebelum jatuh tempo perusahaan melunasi utang


obligasi. Harga pasar saham per lembar adalah Rp250,00, sedangkan
penjualan obligasi dulunya dianggap sebagai transaksi utang, dan
pertukaran tersebut dicatat atas dasar harga pasar saham. Maka, yang
akan terj adi adalah ....
A. rugi pertukaran Rp250.000,00
B. rugi pertukaran Rp125.000,00
C. laba pertukaran Rp250.000,00
D. tidak ada rugi/laba pertukaran
4.82 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

9) Jika dicatat atas dasar nilai buku SUO maka pelunasan pada nomor 8
menimbulkan ....
A. agio saham Rp125.000,00
B. disagio saham Rp125.000,00
C. disagio saham Rp250.000,00
D. agio saham Rp250.000,00

10) Bonds refunding yang dilakukan sebelumjatuh tempo terjadi karena ....
A. perusahaan mengalami kerugian
B. kenaikan tingkat bunga di pasar uang
C. penurunan tingkat bunga di pasar uang
D. menyesuaikan nilai nominal SUO

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 4 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 4.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 4, terutama bagian yang
belum dikuasai.
e EKMA431 3 / MODUL 4 4.83

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif2 Tes Formatif 3 Tes Formatif 4


1) A 1) A 1) A 1) c
2) c 2) c 2) D 2) c
3) B 3) c 3) B 3) A
4) A 4) c 4) D 4) D
5) D 5) D 5) c 5) A
6) B 6) B 6) B
7) D 7) B 7) D
8) A 8) B 8) B
9) A 9) c 9) c
10) B 10) c 10) c
11) A
12) c
4.84 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Glosarium

Nilai Pari (Par Value).


Nilai nominal yang ditetapkan pada saham
berdasarkan anggaran dasar perusahaan.
Nilai Sekarang (Present
Jumlah arus kas masuk atau ke luar di masa
Value). depan yang didiskontokan terhadap nilai
sekarangnya pada tingkat suku bunga yang

sesua1.
Obligasi Terkonversi
Obligasi yang memberikan hak kepada
(Convertible Bonds). penerbitnya untuk membayar kewajibannya
sebelum obligasi tersebut jatuh tempo.
Pos-Pos Luar Biasa
Keuntungan atau kerugian luar biasa dari
(Extraordinary Item). kejadian atau transaksi yang sifatnya tidak
bias a (unusual) dan j arang terj adi.
Wesel Berbunga
Wesel yang diterbitkan dalam bentuk, di mana
(Interest-Bearing pembuatnya berjanji untuk membayar jumlah
Notes). pokok/nominal ditambah bunga pada tingkat
tertentu; dalam bentuk ini, biasanya jumlah
pokok sama dengan nilai sekarang wesel yang
diterbitkan.
e EKMA431 3/MODUL 4 4.85

Daftar Pustaka

Harnanto. (1992). Akuntansi Keuangan Intermediate. Yogyakarta: Liberty.

Ikatan Akuntan Indonesia. (1999). Standar Akuntansi Keuangan-Buku Satu.


Jakarta: Salemba Empat.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. (2004). Intermediate Accounting.


Edisi 11. New York: John Wiley & Sons.
MDDUL 5

Akuntansi untuk Leasing


(Sewa Guna Usaha)
Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Akt.

PENDAHULUAN

alam PSAK No. 30 tentang Leasing, disebutkan bahwa kegiatan sewa


guna usaha (leasing) diperkenalkan untuk pertama kalinya di Indonesia
pada tahun 1974 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Menteri
Keuangan, Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian No. Kep-
122/MK/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974 dan No. 30/Kpb/1174 tanggal 7
Februari 1974 tentang "Perizinan Usaha Leasing". Sejak saat itu dan
khususnya sejak tahun 1980 jumlah perusahaan sewa guna usaha dan
transaksi sewa guna usaha makin bertambah dan meningkat dari tahun ke
tahun untuk membiayai penyediaan barang-barang modal dunia usaha.
Hadirnya perusahaan sewa guna us aha patungan (joint venture) bersama
perusahaan swasta nasional telah mampu memopulerkan peranan kegiatan
sewa guna usaha sebagai alternatif pembiayaan barang modal yang sangat
dibutuhkan para pengusaha di Indonesia, di samping cara-cara pembiayaan
konvensional yang lazim dilakukan melalui perbankan. Perluasan cara-cara
pembiayaan tersebut sejalan dengan definisi leasing atau sewa guna usaha
sebagaimana dituangkan dalam pasal 1 SKB Menteri Keuangan, Menteri
Perdagangan dan Menteri Perindustrian tersebut di atas yang menyatakan:
"Leasing ialah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk
penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan
untuk suatu jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran
secara berkala disertai dengan hak pilih (New York Optie) bagi perusahaan
tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau
memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah
disepakati bersama".
Definisi tersebut tampaknya hanya menampung satu jenis sewa guna
usaha yang lazim disebut finance lease atau sewa guna usaha pembiayaan.
5.2 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Namun demikian, dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Keuangan


No. 1251/KMK.013/1988 tanggal 20 Desember 1988, jenis kegiatan sewa
guna usaha telah diperluas sebagaimana tersirat dalam pasal 1 keputusan
tersebut yang menampung definisi -definisi berikut ini.
1. Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company) adalah badan usaha
yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang
modal baik secara Finance Lease maupun Operating Lease untuk
digunakan oleh Penyewa Guna Usaha selama jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran secara berkala.
2. Finance Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha, di mana Penyewa
Guna Usaha pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk
membeli objek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati
bersama.
3. Operating Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha, di mana Penyewa
Guna Usaha tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna
us aha.
4. Penyewa Guna Usaha (Lessee) adalah perusahaan atau perorangan yang
menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak Perusahaan
Sewa Guna Usaha (lessor).

Dengan semakin berkembangnya permasalahan-permasalahan tentang


leasing maka sangat perlu bagi kita untuk mengetahui lebih mendalam
tentang leasing ini. Modul ini membahas berbagai hal tentang leasing, mulai
dari dasar dan keunggulan leasing, akuntansi leasing oleh lesse, serta
akuntansi leasing oleh lessor. Oleh karena itu, modul ini terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu berikut ini.
1. Dasar-Dasar Leasing.
2. Akuntansi Lease oleh Lessee.
3. Akuntansi Lease oleh Lessor.

Dengan mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat:


1. menjelaskan pentingnya leasing dan keunggulannya;
2. menjelaskan kriteria dan prosedur kapitalisasi lease;
3. membedakan lease modal dengan lease operasi dalam pencatatan oleh
Lessee;
e EKMA431 3/MODUL 5 5.3

4. menjelaskan 3 metode akuntansi oleh Lessor, yaitu lease operasi, lease


pembiayaan langsung, dan lease penjualan;
5. menjelaskan dampak nilai residu, baik yang dijamin maupun yang tidak
dijamin terhadap akuntansi leasing;
6. menjelaskan pengungkapan dalam leasing.
5.4 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 1

Dasar-dasar Leasing

A. PENGERTIAN LEASING

Leasing adalah perjanjian kontraktual antara lessor dan lessee yang


memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan properti tertentu yang
dimiliki oleh lessor selama periode waktu tertentu dengan membayar
sejumlah uang (sewa) yang sudah ditentukan, yang pada umumnya dilakukan
secara periodik. Unsur penting dari perjanjian leasing bahwa hak
kepemilikan lessor atas propertinya yang di-lease menjadi berkurang.
Oleh karena lease adalah suatu kontrak maka perjanjian yang disetujui
oleh lessor dan lessee dapat sangat bervariasi dan hanya dibatasi oleh
keinginan kedua pihak tersebut. Durasi (jangka waktu lease) dapat bervariasi
dari periode waktu yang pendek hingga seluruh umur manfaat dari aktiva
yang bersangkutan. Pembayaran sewa (rental payments) dapat dilakukan dari
tahun ke tahun dalam jumlah yang meningkat atau menurun; sementara
nilainya dapat ditetapkan terlebih dahulu atau dapat bervariasi dengan
penjualan, suku bunga utama, indeks harga konsumen atau beberapa faktor
lainnya. Umumnya, jumlah sewa ditetapkan sedemikian rupa agar lessor
dapat menutup cost aktiva itu ditambah pengembalian yang wajar selama
masa lease.
Kewajiban untuk pajak, asuransi, dan cost pemeliharaan (executory cost)
dapat dibebankan, baik kepada lessor maupun lesse. Atau dapat dibagi antara
kedua belah pihak. Pembatasan (restrictions) yang dapat diperbandingkan
dengan perjanjian obligasi dapat membatasi aktivitas lessee dalam hal
pembayaran dividen atau penambahan utang dan kewajiban lease demi
melindungi lessor dari default atas sewa itu. Kontrak lease mungkin bersifat
tidak dapat dibatalkan (non-cancelable) atau mungkin memberikan hak untuk
dibatalkan lebih cepat pada tingkat harga tertentu ditambah dengan denda.
Dalam kasus default atau lessee tidak dapat membayar lease, lessee
berkewajiban untuk membayar seluruh pembayaran di masa depan secara
langsung, memperoleh hak kepemilikan properti sebagai pertukaran; atau
lessor dapat mempunyai hak untuk menjual kepada pihak ketiga dan menagih
dari lessee semua atau sebagian perbedaan harga jual dengan biaya lessor
yang belum tertutupi.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.5

Berbagai alternatif bagi lessee pada saat kontrak berakhir berkisar dari
tidak adanya hak untuk membeli aktiva yang di-lease pada nilai pasar wajar
atau hak untuk memperbarui atau membeli harga nominal.

B. KEUNGGULAN LEASING

Walaupun leasing memiliki kekurangan, tetapi pertumbuhan


pengaplikasiannya menunjukkan bahwa lease sering kali memiliki
keunggulan tambahan terhadap kepemilikan properti. Beberapa keunggulan
yang umumnya dinikmati lessee adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan 100% dengan suku bunga tetap. Lease sering
ditandatangani tanpa membutuhkan uang muka dari lessee, yang
membantu menghemat dana kas yang terbatas, khususnya sangat
diinginkan oleh perusahaan baru dan sedang berkembang. Selain itu,
pembayaran lease juga sering bersifat tetap sehingga melindungi lessee
dari inflasi dan meningkatnya cost uang (cost of money).
2. Proteksi terhadap keusangan. Peralatan yang di-lease dapat
mengurangi risiko keusangan bagi lessee, dan dalam banyak kasus, dapat
memindahkan risiko nilai residu kepada lessor.
3. Fleksibilitas. Perjanjian lease memiliki lebih sedikit batasan-batasan
hila dibandingkan dengan perj anjian utang lainnya. Lessor yang inovatif
mampu membuat perjanjian lease disesuaikan dengan kebutuhan khusus
lessee. Misalnya, pembayaran sewa dapat diatur untuk memenuhi waktu
pendapatan kas yang dihasilkan oleh peralatan yang di -lease sehingga
pembayaran dapat dilakukan pada saat peralatan tersebut mulai
produktif.
4. Pembiayaan yang lebih murah. Beberapa perusahaan menyadari
bahwa pembiayaan dengan lease temyata jauh lebih murah daripada
jenis pembiayaan lainnya.
5. Pembiayaan di luar neraca (off-balance-sheet financing). Beberapa
lease tidak mengakibatkan bertambahnya kemampuan perusahaan untuk
melakukan pinjaman. Pembiayaan di luar neraca semacam itu penting
bagi perusahaan tertentu.
5.6 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

C. SIFAT KONSEPTUAL LEASE

Apabila PT Terbang meminjam Rp47.000.000,00 dalam bentuk wesel10


tahun dari Bank Kota Nasi untuk membeli sebuah pesawat jet Boeing 757,
jelaslah bahwa aktiva dan kewajiban terkait harus dilaporkan pada neraca PT
Terbang sebesar jumlah tersebut. Jika PT Terbang membeli pesawat seharga
Rp47.000.000,00 tersebut langsung dari Boeing dengan cara mencicil selama
10 tahun maka jelas bahwa aktiva dan kewajiban terkait harus dilaporkan.
Namun, jika PT Terbang me-lease Boeing 757 selama 10 tahun melalui
transaksi lease yang tidak dapat dibatalkan dengan melakukan pembayaran
dalam jumlah yang sama seperti pada transaksi pembelian cicilan maka
bagaimana pelaporan transaksi tersebut?
Secara singkat, F ASB setuju dengan pendekatan kapitalisasi apabila
lease serupa dengan pembelian seluruh cicilan, dengan menyatakan bahwa
lease yang secara substansial memindahkan seluruh manfaat dan risiko dari
kepemilikan properti harus dikapitalisasi. Pemindahan kepemilikan dianggap
terjadi hanya jika lease tersebut tidak dapat dibatalkan. Tidak dapat
dibatalkan berarti bahwa kontrak lease bisa dibatalkan hanya hila terjadi
suatu hal yang bersifat kontinjensi atau ketentuan pembatalan dari penalty
kontrak begitu tinggi bagi lessee sehingga kemungkinan pembatalan terjadi
sangat kecil. Hanya lease yang tidak dapat dibatalkan yang perlu
dikapitalisasi.
Dengan demikian, dapat diambil 3 kesimpulan. (1) Karakteristik yang
menunjukkan bahwa secara substansial semua manfaat dan risiko
kepemilikan yang telah ditransfer harus diidentifikasi. (2) Karakteristik yang
sama harus diterapkan secara konsisten kepada lessee dan lessor. (3) Lease
yang tidak mentransfer semua manfaat dan risiko secara substansial disebut
sebagai lease operasi. Kontrak lease ini tidak perlu dikapitalisasi, tetapi
diperlakukan sebagai pembayaran lease dan penerimaan lease.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Apakah yang dimaksud dengan leasing?


2) Sebut dan jelaskan keunggulan leasing yang dinikmati oleh Lessee!
e EKMA431 3/MODUL 5 5.7

3) Jelaskan secara singkat konseptualleasing!


4) Apa yang menjadi unsur penting dalam perjanjian Leasing?
5) Apa yang terj adi apabila terdapat kasus default atau lessee tidak dapat
membayar lease?
6) Sebutkan beberapa alternatif bagi lesse pada saat kontrak berakhir!
7) Sebutkan beberapa kelemahan dari Leasing!
8) Apa yang dimaksud dengan Lease Modal?
9) Apa yang dimaksud dengan Pembayaran Lease Minimum?
10) Apa saja hal-hal yang termasuk ke dalam Pembayaran Lease Minimum?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Leasing adalah perjanjian kontraktual antara lessor dan lessee yang


memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan properti tertentu
yang dimiliki oleh lessor selama periode waktu tertentu dengan
membayar sejumlah uang (sewa) yang sudah ditentukan, yang pada
umumnya dilakukan secara periodik.
2) Beberapa keunggulan Lease bagi Lessee, yaitu berikut ini:
a. Pembiayaan 100% dengan suku bunga tetap. Lease sering
ditandatangani tanpa membutuhkan uang muka dari Lessee, yang
membantu menghemat dana kas yang terbatas, khususnya sangat
diinginkan oleh perusahaan baru dan sedang berkembang. Selain itu,
pembayaran lease juga sering bersifat tetap sehingga melindungi
lessee dari inflasi dan meningkatnya cost uang (cost of money).
b. Proteksi terhadap keusangan. Peralatan yang di-lease dapat
mengurangi risiko keusangan bagi lessee, dan dalam banyak kasus,
dapat memindahkan risiko nilai residu kepada lessor.
c. Fleksibilitas. Perjanjian lease memiliki lebih sedikit batasan-
batasan bila dibandingkan dengan perjanjian utang lainnya. Lessor
yang inovatif mampu membuat perjanjian lease disesuaikan dengan
kebutuhan khusus lessee. Misalnya, pembayaran sewa dapat diatur
untuk memenuhi waktu pendapatan kas yang dihasilkan oleh
peralatan yang di-lease sehingga pembayaran dapat dilakukan pada
saat peralatan tersebut mulai produktif.
d. Pembiayaan yang lebih murah. Beberapa perusahaan menyadari
bahwa pembiayaan dengan lease ternyata jauh lebih murah daripada
jenis pembiayaan lainnya.
5.8 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

e. Pembiayaan di luar neraca (Off-Balance-Sheet Financing).


Beberapa lease tidak mengakibatkan bertambahnya kemampuan
perusahaan untuk melakukan pinjaman. Pembiayaan di luar neraca
semacam itu penting bagi perusahaan tertentu.
3) Sifat Konseptual dari Lease, yaitu berikut ini.
a. Karakteristik yang menunjukkan bahwa secara substansial semua
manfaat dan risiko kepemilikan yang telah ditransfer harus
diidentifikasi.
b. Karakteristik yang sama harus diterapkan secara konsisten kepada
lessee dan lessor.
c. Lease yang tidak mentransfer semua manfaat dan risiko secara
substansial disebut sebagai lease operasi. Kontrak lease ini tidak
perlu dikapitalisasi, tetapi diperlakukan sebagai pembayaran lease
dan penerimaan lease.
4) Unsur penting dari perjanjian leasing bahwa hak kepemilikan lessor atas
propertinya yang di-lease menjadi berkurang.
5) Dalam kasus default atau lessee tidak dapat membayar lease, lessee
berkewajiban untuk membayar seluruh pembayaran di masa depan
secara langsung, memperoleh hak kepemilikan properti sebagai
pertukaran; atau lessor dapat mempunyai hak untuk menjual kepada
pihak ketiga dan menagih dari lessee semua atau sebagian perbedaan
harga jual dengan biaya lessor yang belurn tertutupi.
6) Berbagai alternatif bagi lessee pada saat kontrak berakhir berkisar dari
tidak adanya hak untuk membeli aktiva yang di-lease pada nilai pasar
wajar atau hak untuk memperbarui atau membeli harga nominal.
7) Beberapa kelemahan yang terdapat pada Leasing, yaitu berikut ini.
a. Pembiayaan 100% atas aktiva yang di-lease juga berarti total
pengeluaran jumlah dollar yang lebih tinggi untuk bung a.
b. Pembiayaan di luar neraca hanya menutupi fakta bahwa lapisan
utang baru sedang ditanggung.
c. Leasing peralatan siap pakai mungkin menghasilkan produk yang
mutunya lebih rendah dan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya
penjualan bagi Lessee.
8) Lease Modal adalah kontrak lease yang pada hakikatnya memindahkan
semua risiko dan imbalan kepemilikan aktiva yang di-lease dari lessor
kepada lessee.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.9

9) Pembayaran Lease Minimum adalah pembayaran yang harus dilakukan


oleh lessee sehubungan dengan properti yang di-lease.
10) Pembayaran lease minimum mencakup hal-hal berikut ini:
a. Pembayaran sewa minimum - pembayaran minimum yang harus
dilakukan oleh lessee kepada lessor berdasarkan kesepakatan lease.
Dalam beberapa kasus, pembayaran sewa minimum dapat sama
dengan pembayaran lease minimum. Namun, pembayaran lease
minimum dapat juga mencakup nilai residu yang dijamin Gika ada),
penalti atas kegagalan memperbarui atau opsi untuk membeli
dengan harga khusus Gika ada).
b. Nilai residu yang dijamin - nilai residu adalah estimasi nilai wajar
(pasar) dari properti yang di -lease pada akhir mas a lease. Sering kali
lessor memindahkan risiko kerugian kepada lesee atau pihak ketiga
melalui penjaminan atas estimasi nilai residu. Nilai residu yang
dijamin (guaranteed residual value) adalah (1) jumlah tertentu atau
yang dapat ditentukan di mana lessor memiliki hak untuk meminta
lessee membeli aktiva atau (2) jumlah yang dijanjikan oleh penjamin
lessee atau pihak ketiga untuk diperoleh oleh lessor. Jika tidak
dijamin secara penuh maka nilai residu yang tidak dijamin (un-
guaranteed residual value) merupakan estimasi nilai residu
eksklusif dari setiap bagian yang dijamin.
c. Penalty atas kegagalan memperbarui atau memperpanjang lease -
jumlah utang yang ditanggung lessor jika perjanjian lease
menyatakan bahwa lease harus diperpanjang atau diperbarui dan
lessee gagal melakukannya.
d. Opsi untuk membeli dengan harga khusus, sebagaimana
diindikasikan sebelumnya, opsi diberikan kepada lessee untuk
membeli peralatan pada akhir masa lease dengan harga yang
ditetapkan jauh di bawah nilai wajar yang diharapkan sehingga pada
awallease pembelian akan terjadi.

RANGKUMAN- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Lease adalah suatu perj anjian kontraktual antara lessor dan lessee
yang memberikan kepada lessee hak untuk menggunakan properti
tertentu, yang dimiliki lessor selama periode waktu tertentu. Sebagai
imbalan atas hak ini, lessee setuju untuk melakukan pembayaran kas
5.10 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

periodik (sewa) kepada lessor. Keunggulan transaksi lease adalah


(1) pembiayaan 100%, (2) proteksi terhadap keusangan, (3) fleksibilitas,
(4) biaya pembiayaan yang lebih murah, (5) keuntungan pajak, dan
(6) pembiayaan di luar neraca (off-balance- sheet- financing).

TES FDRMATIF 1- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Manakah yang bukan termasuk keunggulan lease?


A. Kesempatan untuk membeli aktiva dengan harga yang lebih tinggi
B. Pembiayaan 100%
C. Proteksi terhadap keusangan
D. Fleksibilitas

2) Berikut ini jenis-jenis lease oleh Lessor, kecuali ....


A. capital lease
B. operating lease
C. direct-financing lease
D. sales-type lease

3) Perjanjian lease memiliki lebih sedikit batasan-batasan bila


dibandingkan dengan perjanjian utang lainnya. Lessor yang inovatif
mampu membuat perjanjian lease disesuaikan dengan kebutuhan khusus
lessee. Pernyataan tersebut merupakan penjelasan keunggulan lease
dalam hal apa?
A. Fleksibilitas
B. Pembiayaan 100%
C. Proteksi dari keusangan
D. Off-balances sheet financing

4) Berikut ini alasan-alasan mengapa lease dikatakan lebih murah daripada


pembiayaan aktiva lainnya, kecuali . .. .
A. keuntungan pajak
B. tidak ada biaya depresiasi
C. biaya bunga yang dibayar
D. pajak yang lebih rendah
e EKMA431 3/MODUL 5 5.11

5) Suatu kontrak lease dikatakan non-cancelable apabila ....


A. pembayaran yang tidak tetap
B. perjanjian tidak dapat dibatalkan
C. tidak ada batasan kepada lessee
D. Opsi membeli dengan harga murah

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90- 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
5.12 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 2

Akuntansi oleh Lessee

A. PENCATATAN LEASE

Jika lessee mengkapitalisasi lease maka lessee akan mencatat aktiva dan
kewajiban yang umumnya sama dengan nilai sekarang pembayaran sewa,
lessor yang sudah memindahkan secara substansial seluruh manfaat dan
risiko kepemilikan, mengakui penjualan dengan mengeluarkan aktiva dari
neraca dan menggantikannya dengan piutang. Jurnal yang dibuat oleh lessor
dan lessee dengan asumsi peralatan di-lease dan dikapitalisasi adalah sebagai
berikut:
Lessee Lessor
Peralatan yang di-lease Rp:XXX Piutang lease (bersih) RpXXX
Kewajiban lease RpXXX Peralatan RpXXX

Karena sudah mengkapitalisasi akti va, lessee akan mencatat penyusutan.


Lessor dan lessee akan memperlakukan pembayaran lease sebagai
pembayaran pokok dan bunga.
Jika kontrak lease tidak dikapitalisasi, tidak ada yang dicatat oleh lessee
dan tidak ada aktiva yang dikeluarkan dari pembukuan tersebut. Pada saat
pembayaran lease dilakukan, lessee mencatat beban sewa dan lessor
mengakui pendapatan sewa.
Untuk lease yang dicatat sebagai Lease Modal (capital lease), lease
harus dianggap tidak dapat dibatalkan, dan memenuhi satu dari lebih empat
kriteria berikut ini:
1. Lease mentransfer kepemilikan properti kepada lessee.
2. Lease memiliki opsi untuk membeli dengan harga khusus (bargain
purchase option).
3. Jangka waktu lease sama dengan atau lebih 75% dari estimasi umur
ekonomis aktiva yang di-lease.
4. Nilai sekarang (present value) dan pembayaran lease minimum (tidak
termasuk biaya executory) sama dengan atau melebihi 90% dari nilai
wajar properti yang di-lease.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.13

Lease yang tidak memenuhi salah satu kriteria di atas diklasifikasikan


sebagai Lease Operasi (operating lease).

B. KRITERIA KAPITALISASI

Keempat kriteria kapitalisasi yang berlaku untuk lease bersifat


kontroversial dan sulit diterapkan dalam praktik. Kriteria-kriteria tersebut
akan dibahas berikut ini.

1. Pengujian Pengalihan Kepemilikan


Jika lease tersebut mengalihkan kepemilikan aktiva kepada lessee maka
lease itu dianggap sebagai lease modal. Kriteria ini tidak bersifat
kontroversial dan mudah untuk diterapkan.

2. Pengujian Opsi untuk Pembelian dengan Harga Khusus (Bargain


Purchase Option)
Opsi pembelian khusus adalah sebuah provisi yang memungkinkan
lessee untuk membeli properti yang di-lease dengan harga yang secara
signifikan lebih rendah dibandingkan nilai waj ar properti yang diharapkan
pada tanggal opsi itu dapat digunakan. Pada awal lease, perbedaan antara
harga opsi dengan nilai pasar wajar yang diharapkan harus cukup besar
sehingga realisasi dari opsi bisa dipastikan secara layak.

3. Pengujian Umur Ekonomis (Pengujian 75%)


Jika periode lease sama dengan atau melebihi 75% dari umur ekonomis
aktiva, di mana sebagian besar risiko dan imbalan atas pemilikan barang
dialihkan ke lessee maka perlu dilakukan kapitalisasi. Akan tetapi, penentuan
jangka waktu atau masa lease dan umur ekonomis aktiva dapat menimbulkan
masalah.
Pada umumnya, jangka waktu lease dianggap sudah tetap dan tidak bisa
dibatalkan. Namun, periode ini dapat diperpanjang jika ada opsi untuk
memperbarui kesepakatan lease dengan harga khusus. Opsi untuk
memperbarui dengan harga khusus adalah provisi yang memungkinkan lessee
untuk memperbarui lease dengan nilai sewa yang lebih rendah dari nilai
wajar sewa yang diharapkan pada tanggal opsi dapat digunakan. Pada awal
lease, perbedaan antara nilai sewa yang diperbarui dengan nilai wajar sewa
5.14 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

yang diharapkan harus cukup besar untuk memastikan digunakannya opsi


untuk memperbarui tersebut.
Penentuan estimasi umur ekonomis juga dapat menimbulkan masalah,
terutama jika item yang di-lease bersifat khusus atau telah digunakan selama
periode waktu yang lama.

4. Pengujian Pemulihan Investasi (Pengujian 90%)


Jika nilai sekarang (present value) dari pembayaran lease minimum
(minimum lease payments) sama dengan atau melebihi 90% dari nilai pasar
wajar aktiva maka aktiva yang di-lease harus dikapitalisasi. Dasar pemikiran
untuk pengujian ini bahwa jika nilai sekarang pembayaran lease minimum
tidak berbeda banyak dengan harga pasar aktiva maka secara efektif aktiva
tersebut dapat dibeli.
Dalam menentukan nilai sekarang dari pembayaran lease minimum, ada
tiga konsep penting yang harus diperhitungkan: (1) pembayaran lease
minimum, (2) cost executory, dan (3) tingkat diskonto. Berikut ini penjelasan
masing-masing konsep.

a. Pembayaran lease minimum (minimum lease payments)


Pembayaran ini adalah pembayaran yang harus dilakukan oleh lessee
sehubungan dengan properti yang di-lease. Pembayaran lease minimum
mencakup hal-hal berikut ini.
1) Pembayaran sewa minimum - pembayaran minimum yang harus
dilakukan oleh lessee kepada lessor berdasarkan kesepakatan lease.
Dalam beberapa kasus, pembayaran sewa minimum dapat sama dengan
pembayaran lease minimum. Namun, pembayaran lease minimum dapat
juga mencakup nilai residu yang dijamin Uika ada), penalti atas
kegagalan memperbarui atau opsi untuk membeli dengan harga khusus
Uika ada).
2) Nilai residu yang dijamin - nilai residu adalah estimasi nilai wajar
(pasar) dari properti yang di-lease pada akhir masa lease. Sering kali
lessor memindahkan risiko kerugian kepada lessee atau pihak ketiga
melalui penjaminan atas estimasi nilai residu. Nilai residu yang dijamin
(guaranteed residual value) adalah (1) jumlah tertentu atau yang dapat
ditentukan di mana lessor memiliki hak untuk meminta lessee membeli
aktiva atau (2) jumlah yang dijanjikan oleh penjamin lessee atau pihak
ketiga untuk diperoleh oleh lessor. Jika tidak dijamin secara penuh maka
e EKMA431 3/MODUL 5 5.15

nilai residu yang tidak dij amin (unguaranteed residual value) merupakan
estimasi nilai residu eksklusif dari setiap bagian yang dijamin.
3) Penalty atas kegagalan memperbarui atau memperpanjang lease -
jumlah utang yang ditanggung lessor jika perjanjian lease menyatakan
bahwa lease harus diperpanjang atau diperbarui dan lessee gagal
melakukannya.
4) Opsi untuk membeli dengan harga khusus, sebagaimana diindikasikan
sebelumnya, opsi diberikan kepada lessee untuk membeli peralatan pada
akhir masa lease dengan harga yang ditetapkan jauh di bawah nilai wajar
yang diharapkan sehingga pada awallease pembelian akan terjadi.

b. Cost executory
Sebagaimana aktiva lainnya, aktiva berwujud yang di-lease juga
membutuhkan beban asuransi, pemeliharaan, dan pajak- disebut cost/biaya
executory - selama umur ekonomisnya. Jika lessor tetap bertanggung jawab
atas pembayaran biaya-biaya jenis kepemilikan ini maka bagian dari setiap
pembayaran lease yang mencerminkan cost executory harus dikeluarkan dari
perhitungan nilai sekarang pembayaran lease minimum. Hal ini dikarenakan
cost executory tersebut bukan merupakan pembayaran atau pengurangan
kewajiban. Jika bagian dari pembayaran lease minimum yang
merepresentasikan biaya executory tidak ditentukan dari perjanjian lease
maka harus dibuat estimasi atas jumlah semacam itu. Akan tetapi, banyak
perjanjian lease yang menyatakan bahwa biaya executory dibayarkan oleh
lessee kepada pihak ketiga secara langsung. Dalam hal ini, pembayaran sewa
dapat digunakan tanpa penyesuaian dalam perhitungan nilai sekarang.

c. Tingkat diskonto
Lessee menghitung nilai sekarang dari pembayaran lease minimum
dengan menggunakan suku bunga pinjaman inkremental lessee yang
didefinisikan sebagai: "Suku bunga yang pada awal lease, harus dikeluarkan
lessee untuk meminjam dana yang diperlukan guna membeli aktiva yang di-
lease menurut pinjaman yang dijamin, dengan jangka waktu pelunasan yang
serupa dengan skedul pembayaran dalam kontrak lease.
Akan tetapi, terdapat satu pengecualian dari ketentuan ini. Jika ( 1) lessee
mengetahui suku bunga implisit yang dihitung oleh lessor dan (2) suku bunga
itu lebih rendah dari suku bunga pinjaman inkremental lessee maka lessee
harus menggunakan suku bunga implisit lessor. Suku bunga implisit dalam
5.16 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

lease adalah tingkat diskonto yang jika diterapkan pada pembayaran lease
minimum dan setiap nilai residu yang tidak dijamin yang terutang kepada
lessor, akan menyebabkan nilai sekarang agregat sama dengan nilai wajar
properti yang di-lease kepada lessor.

C. AKTIVA DAN KEW AJIBAN YANG DIPERLAKUKAN SECARA


BERBEDA

Dalam transaksi lease modal, lessee menggunakan lease sebagai sumber


pembiayaan. Lessor membiayai transaksi (menyediakan modal investasi)
melalui aktiva yang di-lease, dan lessee melakukan pembayaran sewa, yang
sebenamya merupakan pembayaran cicilan. Oleh karena itu, selama umur
properti yang di-lease, pembayaran sewa kepada lessor mencakup
pembayaran pokok ditambah bunga.

1. Pencatatan Aktiva dan Kewajiban


Dalam metode lease modal, lessee memperlakukan transaksi lease
seolah-olah aktiva telah dibeli dalam transaksi pembiayaan di mana aktiva
diperoleh dan kewajiban diakui. Oleh karena itu, lessee mencatat lease modal
sebagai aktiva dan kewajiban pada nilai terendah antara (a) nilai sekarang
(present value) dari pembayaran lease minimum (tidak termasuk cost
executory) atau (b) nilai pasar wajar aktiva yang di-lease pada awal lease.
Dasar pemikiran untuk pendekatan ini bahwa aktiva yang di-lease tidak boleh
dicatat lebih tinggi dari nilai pasar wajarnya.

2. Periode Penyusutan
Salah satu aspek yang menyulitkan akuntansi untuk penyusutan aktiva
yang di -lease yang dikapitalisasi berhubungan dengan periode penyusutan.
Jika perjanjian lease mengalihkan kepemilikan aktiva kepada lessee
(Kriteria 1) atau mencakup opsi pembelian dengan harga khusus (Kriteria 2)
maka aktiva yang di-lease dengan cara yang konsisten melalui kebijakan
penyusutan norma lessee atas aktiva yang dimilikinya, dengan menggunakan
umur ekonomis aktiva. Sebaliknya, jika lease tidak mengalihkan kepemilikan
atau tidak mencakup opsi pembelian dengan harga khusus maka aktiva
disusutkan selama masa lease. Dalam hal ini, aktiva yang di-lease kembali ke
lessor sesudah periode waktu tertentu.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.17

3. Metode Bunga Efektif


Selama jangka waktu lease, metode bunga efektif digunakan untuk
mengalokasikan setiap pembayaran lease antara pokok dan bunga. Metode
ini menghasilkan beban bunga periodik yang sama dengan persentase
konstan dari nilai tercatat kewajiban lease.
Tingkat diskonto yang digunakan oleh lessee untuk menentukan nilai
sekarang dari pembayaran lease minimum harus digunakan oleh lessee ketika
mengaplikasikan metode bung a efektif pada lease modal.

4. Konsep Penyusutan
Walaupun jumlah yang awalnya dikapitalisasi sebagai aktiva dan dicatat
sebagai kewajiban telah dihitung pada nilai sekarang yang sama, tetapi
penyusutan aktiva dan pengurangan kewajiban adalah 2 proses akuntansi
yang independen selama jangka waktu lease. Lessee harus menyusutkan
aktiva yang di-lease dengan menggunakan metode penyusutan konvensional;
garis lurus, jumlah angka tahun, saldo menurun, unit produksi, dan lainnya.

D. METODE LEASE MODAL (OLEH LESSEE)

Contoh 5.1.
PT Lessor dan PT Lessee menandatangani perjanjian leasing tertanggal 1
Januari 2003, di mana PT Lessor me-lease-kan peralatan kepada PT Lessee
mulai tanggal 1 Januari 2003. Jangka waktu dan provisi perjanjian lease
tersebut dan data terkait lainnya adalah sebagai berikut.
1. Jangka waktu lease adalah 5 tahun, dan perjanjian lease tidak dapat
dibatalkan, yang mengharuskan pembayaran sewa yang sama sebesar
Rp25.981.620,00 pada awal setiap tahun (dasar anuitas jatuh tempo).
2. Peralatan tersebut memiliki nilai wajar pada awal lease sebesar
Rp100.000.000,00 dengan estimasi umur ekonomis 5 tahun tanpa nilai
residu.
3. PT Lessee membayar seluruh biaya/cost executory secara langsung
kepada pihak ketiga, kecuali untuk pajak properti sebesar
Rp2.000.000,00 per tahun, yang dimasukkan dalam pembayaran tahunan
kepada lessor.
4. Lease ini tidak mencakup opsi pembaruan, dan peralatan kembali
menjadi milik PT Lessor pada akhir masa lease.
5. Suku bunga pinjaman inkremental PT Lessee adalah 11% per tahun.
5.18 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

6. PT Lessor menetapkan sewa tahunan untuk memperoleh tingkat


pengembalian atas investasi sebesar 10% per tahun; hal ini diberitahukan
kepada PT Lessee.

Lease ini memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai lease modal


dengan alas an sebagai berikut: ( 1) J angka waktu lease selama 5 tahun yang
sama dengan estimasi umur ekonomis peralatan selama 5 tahun, memenuhi
pengujian 75 %. (2) Nilai sekarang dari pembayaran lease minimum
(Rp 100.000.000,00) sebagaimana dihitung di bawah, melebihi 90% nilai
wajar properti (Rp100.000.000,00).
Pembayaran lease minimum adalah Rp119.908.100,00
(Rp23.981.620,00 x 5), dan jumlah yang dikapitalisasi sebagai aktiva yang
di-lease dihitung sebagai nilai sekarang dari pembayaran lease minimum
(tidak termasuk cost executory - pajak properti sebesar Rp2.000.000,00)
sebagai berikut:
Jumlah yang dikapitalisasi = (Rp25.981.620,00- Rp2.000.000,00) X Nilai sekarang
anuitas j atuh tempo
sebesar Rp 1 selama
- Rp23.981.620,00 X 4,16989 peri ode pada 10%)
- Rp100.000.000,00
Suku bunga implisit lessor sebesar 10% yang digunakan, bukan suku
bunga pinjaman inkremental lessee sebesar 11% karena (1) nilainya lebih
rendah dan (2) lessee mengetahui suku bunga ini.
Jumal untuk mencatat lease modal pada pembukuan PT. Lessee per 1
J anuari 2003 adalah sebagai berikut:
01/01103 Peralatan yang di-lease menurut Lease modal ...... Rp100.000.000,00
Kewajiban menurut Lease modal ............ ... ... ... ... ... Rp 100.000.000,00
(mencatat awal perjanjian leasing )

Perhatikan bahwa jurnal di atas mencatat kewajiban pada jumlah bersih


sebesar Rp.100.000.000,00 (nilai sekarang dari pembayaran sewa masa
depan) dan bukanjumlah kotor sebesar Rp119.908.100 (Rp23.981.620 x 5).
Jumal untuk mencatat pembayaran lease pertama per 1 Januari 2003 adalah:
01101103 Biaya Pajak properti ............. ... ... ... ... ... Rp 2.000.000,00
Kewajiban menurut Lease modal ... ... ..Rp23 .981.620,00
Kas .......................................................... Rp25 .981.620,00
(mencatat pembayaran lease pertama)
e EKMA431 3/MODUL 5 5.19

Setiap pembayaran lease sebesar Rp25.981.620,00 terdiri dari 3 unsur


(1) pengurangan kewajiban lease , (2) biaya pendanaan (biaya bunga), dan (3)
cost executory (pajak properti). Total biaya pendanaan (biaya bunga) selama
jangka waktu lease adalah Rp19.981.100,00 yaitu perbedaan antara nilai
sekarang pembayaran lease (RplOO.OOO.OOO,OO) dengan kas aktual yang
dikeluarkan, dikurangi cost executory (Rp119.908.100,00). Oleh karena itu,
biaya bunga tahunan, dengan menggunakan metode bunga efektif adalah
fungsi dari kewajiban yang beredar, sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.1.
berikut ini:
PT. LESSEE
Skedul Amortisasi Lease
dasar anuitas jatuh tempo

Tanggal Pembayaran Cost Executory Bunga 10% atas Pengurangan Kewajiban Lease
Lease Tahunan kewajiban yang kewajiban
belum dibayar

(a) (b) (c) (d) (e)

1/1/03 Rp1 00.000.000,00

1/1/03 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 Rp -0- Rp23.981.620,00 Rp76.018.380,00

1/1/04 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 Rp 7.601 .840,00 Rp16.379.780,00 Rp59.638.600,00

1/1/05 Rp25.981 .620,00 Rp2.000.000,00 Rp5.963.860,00 Rp18.017.760,00 Rp41 .620.840,00

1/1/06 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 Rp4.162.080,00 Rp19.819.540,00 Rp21.801.300,00

1/1/07 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 Rp2.180.320,00 Rp21.801.300,00 Rp -0-

Rp129.908.100,00 Rp1 0.000.000,00 Rp19.908.100,00 Rp1 00.000.000,00


Pad a akhir tahun fiskal 31 Desember 2003, PT. Lessee mengakui bung a akrual
(accruea interest) yang disebut sebagai berikut:

31/12/03 Biaya bunga .................. Rp7.601.840,00


Utang bunga .......................... Rp7 .601.840,00
(mencatat pengakuan bunga akrual)

Penyusutan atas peralatan yang di-lease selama 5 tahun jangka waktu lease
dengan menggunakan kebijakan penyusutan normal PT. Lessee (metode garis lurus),
menghasilkan jurnal pada tanggal 31 Desember 2003 sebagai berikut.
31/12/03 Biaya penyusutan -Lease Modal .............. Rp20.000.000,00
Akumulasi Penyusutan- Lease Modal .......... Rp20.000.000,00
(mencatat penyusutan = Rp 100.000.000,00 -;- 5 tahun).
5.20 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Pada tanggal 31 Desember 2003, aktiva yang dicatat menurut lease


modal telah diidentifikasi secara terpisah pada neraca lessee. Demikian juga,
kewajiban terkait diidentifikasi secara terpisah. Bagian yang akan jatuh
tempo dalam satu tahun atau siklus operasi, mana yang lebih lama,
diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar dan sisanya sebagai kewajiban
tidak lancar. Sebagai contoh dari total kewajiban per 31/12/03 sebesar
Rp76.018.380,00 pada skedul amortisasi lessee adalah jumlah pengurangan
kewajiban pada tahun 2003 atau Rp16.379.780,00. Bagian kewajiban yang
berhubungan dengan transaksi lease pada tanggal 31 Desember 2002 akan
disajikan sebagai berikut.

Kewaiiban Lancar
L

Utang bunga Rp 7.601.840,00


Kewajiban menurut lease modal Rp 16.379.780,00

Kewaiiban tidak lancar


L

Kewajiban menurut lease modal Rp59.638.600,00

Jumal untuk mencatat pembayaran lease per 1 Januari 2004 adalah sebagai berikut.
01/01/04 Biaya pajak properti ............................... Rp 2.000.000,00
Biaya bunga (atau utang bunga) ............. Rp 7.601.840,00
Kewajiban menurut lease modal ............ Rp16.379.780,00
Kas .................................................................. Rp25 .981.620,00
(mencatat pembayaran lease)

Jumal yang dicatat sampai tahun 2007 akan mengikuti pola di atas. Cost
executory lainnya (asuransi dan pemeliharaan) yang dikeluarkan oleh PT
Lesse akan dicatat dengan pola yang sama, seperti digunakan untuk mencatat
setiap biaya operasi lainnya yang terjadi atas aktiva yang dimiliki oleh PT
Lessee.
Pada saat berakhirnya mas a lease, jumlah yang dikapitalisasi sebagai
peralatan telah seluruhnya diamortisasi dan kewajiban lease telah seluruhnya
dilunasi. Jika tidak dibeli, peralatan tersebut akan dikembalikan kepada
lessor, serta peralatan yang di-lease dan akun akumulasi penyusutan terkait
akan dihapus dari pembukuan. Jika peralatan dibeli pada akhir masa lease
dengan harga Rp5.000.000,00 dan estimasi umur peralatan diubah dari 5
menjadi 7 tahun maka jurnal yang dicatat adalah sebagai berikut:
e EKMA431 3/MODUL 5 5.21

01/01/07 Peralatan (Rp100.000.000,00 + Rp5.000.000,00) .. Rp105.000.000,00


Akumulasi penyusutan- lease modal ................Rp 100.000.000,00
Peralatan yang di-lease menurut lease modal. .... Rp100.000.000,00
Akumulasi penyusutan - peralatan .................... Rp 100.000.000,00
Kas ......................................................................... Rp 5. 000.000,00
(mencatat pembelian peralatan lease pada akhir mas a lease)

E. METODE LEASE OPERASI (OLEH LESSEE)

Dalam metode operasi, beban sewa (dan kewajiban yang berhubungan)


harus diakrualkan dari hari ke hari ke lessee ketika properti digunakan.
Lessee membebankan sewa ke periode-periode yang memperoleh manfaat
dari penggunaan aktiva dan mengabaikan dalam akuntansi setiap komitmen
untuk melakukan pembayaran di masa depan. Akrual dan penangguhan
(deferal) yang tepat akan dilakukan jika akhir periode akuntansi terjadi antara
tanggal-tanggal pembayaran.

Contoh 5.2.
Misalkan, lease modal yang diilustrasikan pada Contoh 5 .1. sebelumnya
tidak memenuhi kriteria sebagai lease modal dan karenanya diperlakukan
sebagai lease operasi. Biaya tahun pertama ke operasi adalah
Rp25.981.620,00, yaitu jumlah pembayaran sewa. Jurnal untuk mencatat
pembayaran ini pada tanggal 1 J anuari 2003 adalah sebagai berikut:

01/01/03 Biaya sew a ............................. Rp25 .981.620,00


Kas.................................. Rp25.981.620,00
(mencatat pembayaran sewa lease operasi)

Aktiva yang disewa maupun setiap kewajiban jangka panjang untuk


pembayaran sewa di masa depan tidak dilaporkan di neraca. Biaya sewa akan
dilaporkan pada laporan laba/rugi. Sebagai tambahan, catatan pengungkapan
juga diwajibkan untuk semua lease operasi yang memiliki jangka waktu lease
yang tidak dapat dibatalkan melebihi satu tahun.
5.22 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

F. PERBANDINGAN LEASE MODAL DENGAN LEASE OPERASI

Sebagaimana diindikasikan pada penjelasan sebelumnya, jika lease


diklasifikasikan sebagai lease operasi maka biaya tahun pertama akan
menjadi Rp25.981.620,00, yaitu jumlah pembayaran sewa. Akan tetapi, jika
transaksi diperlakukan sebagai lease modal maka biaya tahun pertama
sebesar Rp29.601.840,00 yang terdiri dari penyusutan Rp20.000.000,00
(metode garis lurus). Beban bunga Rp7.601.840,00 dan cost executory
Rp2.000.000,00. Pada Tabel 4.2. menunjukkan walaupun beban operasi
selama jangka waktu lease adalah sama, baik apakah lease diperlakukan
sebagai lease modal maupun lease operasi, tetapi menurut perlakuan lease
modal, biaya akan lebih besar di tahun-tahun awal dan lebih rendah di tahun-
tahun terakhir. Berikut ini penyajian Tabel 4.2.

PT.LESSE
Skedul Biaya Operasi
Lease Modal vs. Lease Operasi
(dalam ribuan rupiah)
Lease Modal Biaya Lease
Tahun Penyusutan Cost Bung a Total Biaya Operasi Perbedaan
Executory
2003 20.000 2.000 7.601,84 29.601,84 25.981 ,62 3.620,22
2004 20.000 2.000 5.963,86 27.963,86 25.981 ,62 1.982,24
2005 20.000 2.000 4.162,08 26.162,08 25.981 ,62 180,46
2006 20.000 2.000 2.180,32 24.180,32 25.981 ,62 (1.801 ,30)
2007 20.000 2.000 - 22.000 25.981 ,62 3.981 ,62)

100.000 10.000 19.908,10 129.908,10 129.908,10 -0-


e EKMA431 3/MODUL 5 5.23

Jika metode penyusutan dipercepat (accelerated depreciation method)


digunakan maka perbedaan antara jumlah biaya operasi menurut kedua
metode tersebut akan semakin besar di tahun-tahun awal dan akhir.
Selain itu, penggunaan pendekatan lease modal akan mengakibatkan
aktiva dan kewajiban terkait sebesar RplOO.OOO.OOO,OO dilaporkan pertama
kali pada neraca: tidak ada aktiva dan kewajiban seperti ini yang akan
dilaporkan menurut metode lease operasi. Oleh karena itu, perbedaan-
perbedaan berikut ini akan terjadi jika lease modal dan bukan lease operasi
yang digunakan.
1. Kenaikan jumlah utang yang dilaporkan (baik jangka panjang maupun
jangka pendek).
2. Kenaikan jumlah total aktiva (terutama aktiva jangka panjang).
3. Laba yang rendah pada awal masa lease dan karenanya laba ditahan
menjadi lebih rendah.

Jadi, banyak perusahaan percaya bahwa lease modal memiliki dampak


yang merugikan terhadap posisi keuangan mereka. Hal ini dikarenakan rasio
utang terhadap total ekuitas meningkat dan tingkat pengembalian atas total
aktiva menurun. Sebagai akibatnya, perusahaan cenderung menolak
mengkapitalisasi lease.

~-- - ~:s
..
j I ~.
I
.... "!"

...,..,.,
LATIHAN
. ' a .-i"f
.r

____ = ~ 7
-....;
.. ~

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Sebutkan dan jelaskan dua metode akuntansi leasing yang dilakukan


oleh lessee!
2) Apa saja kriteria kapitalisasi lease oleh lessee?
3) Sebutkan prosedur akuntansi untuk mengaplikasikan metode lease
operasi oleh lessee!
4) Sebutkan prosedur akuntansi untuk mengaplikasikan metode lease modal
oleh lessee!
5) Apa yang dimaksud dengan nilai residu yang dijamin (guaranteed
residual value) dalam Pembayaran Lease Minimum?
6) Apa yang dimaksud dengan Suku Bunga Pinjaman Inkremental Lessee?
5.24 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

7) Mengapa banyak perusahaan percaya bahwa Lease Modal memiliki


dampak yang merugikan terhadap posisi keuangan perusahaan?
8) Selama jangka waktu Lease, untuk apa Metode Bunga Efektif
digunakan?
9) Jika seorang Lessee menyewa ruangan sebesar Rp500.000,00 sebulan.
Maka buatlah ayat jurnal untuk mencatat pembayaran beban sewa
bulanan (untuk pembukuan Lessee)!
10) Pada tanggal 1 Januari 2004, Perusahaan Northern dan Perusahaan
Western menandatangani Lease berjangka tiga tahun yang tidak dapat
dibatalkan atas sebuah aktiva dengan estimasi umur ekonomis 3 tahun.
Perjanjian ini tidak mengandung ketidakpastian penagihan, dan kinerja
Lessor telah seluruhnya dilaksanakan. Ketiga pembayaran Lease masing-
masing berjumlah Rp365.558.537,00 jatuh tempo tanggal 1 Januari
2004, 2005, dan 2006. Nilai pasar wajar aktiva pada saat dimulainya
Lease adalah Rp 1.000.000.000,00 yang juga merupakan nilai tercatat
(harga perolehan) dalam pembukuan Lessor. Lease ini tidak memuat hak
opsi pembaruan atau pembelian, dan aktiva kembali kepada Lessor pada
akhir periode tiga tahun. Suku bunga pinjaman tambahan (incremental
borrowing rate) Lessee adalah 10%. Perusahaan Northern dan
Perusahaan Western menyusutkan aktivanya dengan menggunakan
metode garis lurus untuk keperluan pembukuan, nilai residu aktiva
diestimasikan RpO,OO. Tahun akuntansi berakhir tanggal 31 Desember
untuk kedua belah pihak. Suku bunga implisit Lessor (tingkat
pengembalian yang ditargetkan), yaitu suku bunga yang menyamakan
nilai sekarang pembayaran dengan nilai pasar aktiva adalah 10%.
Buatlah ayat jurnal Lessee untuk tahun pertama!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Metode akuntansi leasing yang dilakukan oleh lessee, antara lain berikut

1m:
a. Metode Lease Modal. Dalam metode ini, kontrak Lease pada
hakikatnya memindahkan semua risiko dan imbalan kepemilikan
aktiva yang di-lease dari Lessor kepada Lessee.
b. Metode Lease Operasi. Semua Lease yang tidak memindahkan
secara substansial semua risiko dan manfaat kepemilikan dari Lessor
kepada Lessee.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.25

2) Beberapa Kriteria kapitalisasi Lease oleh Lessee, antara lain berikut ini.
a. Lease mentransfer kepemilikan properti kepada lessee.
b. Lease memiliki opsi untuk membeli dengan harga khusus (bargain
purchase option).
c. Jangka waktu lease sama dengan atau lebih 75% dari estimasi umur
ekonomis aktiva yang di-lease.
d. Nilai sekarang (present value) dan pembayaran lease minimum
(tidak termasuk biaya executory) sama dengan atau melebihi 90%
dari nilai wajar properti yang di-lease.
3) Prosedur akuntansi untuk pengaplikasian Metode Lease Operasi, yaitu
dalam metode operasi, beban sewa (dan kewajiban yang berhubungan)
harus diakrualkan dari hari ke hari ke lessee ketika properti digunakan.
Lessee membebankan sewa ke periode-periode yang memperoleh
manfaat dari penggunaan aktiva dan mengabaikan dalam akuntansi
setiap komitmen untuk melakukan pembayaran di masa depan. Akrual
dan penangguhan (deferal) yang tepat akan dilakukan jika akhir periode
akuntansi terjadi antara tanggal-tanggal pembayaran.
4) Prosedur akuntansi untuk pengaplikasian Metode Lease Modal, yaitu
dalam metode ini Lessee mencatat properti yang di-lease dalam neraca.
Nilai pasar waj ar properti yang terlibat dikapitalisasi sebagai akti va
neraca, dan kewajiban utang yang timbul dicatat sebagai kewajiban. Dari
sudut pandang akuntansi, perlakuan ini sama, seperti jika properti itu
dibeli, di mana perolehannya dimungkinkan dengan pembiayaan 100%.
Lessee bahkan mengakui beban penyusutan atas aktiva yang di-lease
tersebut.
5) Nilai residu yang dijamin (guaranteed residual value) adalah (1) jumlah
tertentu atau yang dapat ditentukan di mana lessor memiliki hak untuk
meminta lessee membeli aktiva atau (2) jumlah yang dijanjikan oleh
penjamin lessee atau pihak ketiga untuk diperoleh oleh lessor.
6) Suku bunga pinjaman inkremental lessee adalah suku bunga yang pada
awal lease, harus dikeluarkan lessee untuk meminjam dana yang
diperlukan guna membeli aktiva yang di-lease menurut pinjaman yang
dijamin, dengan jangka waktu pelunasan yang serupa dengan skedul
pembayaran dalam kontrak lease.
7) Banyak perusahaan percaya bahwa lease modal memiliki dampak yang
merugikan terhadap posisi keuangan mereka, dikarenakan rasio utang
terhadap total ekuitas meningkat dan tingkat pengembalian atas total
5.26 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

aktiva menurun. Sehagai akihatnya, perusahaan cenderung menolak


mengkapitalisasi lease.
8) Selama jangka waktu lease, metode hunga efektif digunakan untuk
mengalokasikan setiap pemhayaran lease antara pokok dan hunga.
Metode ini menghasilkan hehan hunga periodik yang sama dengan
persentase konstan dari nilai tercatat kewajihan lease.
9) Behan Sewa .............. .......... ............... Rp 500.000,00
Kas ............................................ Rp500.000,00
10) 1 J anuari 2004 - untuk mencatat Lease
Aktiva yang di- Lease ........... Rp 1.000.000.000,00
Kewajihan Lease ..................................... Rp 1.000.000.000,00
(Rp365.558.537,00 (PVAD, 10%, 3) = Rp 365.558.537,00 x 2,73554)

Kewajihan Lease ............ Rp365 .558.537,00


Kas ................................................... R p 3 6 5. 55 8. 53 7, 00

RANG KUMA N~-----------------

Suatu lease akan dianggap sehagai lease modal hila satu atau lehih
dari kriteria-kriteria herikut ini dipenuhi: (1) lease itu mengalihkan
kepemilikan properti kepada lessee; (2) lease itu mencakup opsi
pem.belian dengan harga khusus; (3) masa lease adalah sama dengan
75% atau lehih dari estimasi umur ekonomis properti yang di-lease;
(4) nilai sekarang dari pemhayaran lease minimum (tidak termasuk hiaya
executory) sama dengan atau melehihi 90% dari nilai wajar properti yang
di-lease. Untuk lease modal, lessee mencatat aktiva dan kewajihan pada
nilai terendah antara (1) nilai sekarang dari pemhayaran lease minimum
atau (2) nilai pasar wajar properti yang di-lease pada awallease.
Total hehan operasi adalah sama selama umur lease apakah lease itu
diperlakukan sehagai lease modal atau lease operasi. Menurut perlakuan
lease modal, hehan yang lehih tinggi terj adi pada a wal tahun dan lehih
kecil pada tahun terakhir. Jika metode penyusutan dipercepat digunakan
maka perhedaan antara jumlah yang dihebankan ke operasi menurut
kedua metode akan lehih hesar pada awal maupun akhir periode. Hal-hal
herikut ini akan terjadi jika digunakan metode lease modal dan hukan
lease operasi : (1) meningkatnya jumlah yang dilaporkan sehagai utang
Uangka pendek dan jangka panjang), (2) meningkatnya jumlah total
aktiva (terutama aktiva jangka panjang), dan (3) lehih rendahnya laha
pada awal umur lease dan karenanya laba ditahan menjadi lebih kecil.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.27

TES FDRMATIF 2
~-----------------------------

Pilihlah satu j a waban yang paling tepat!

Informasi untuk soal nomor 1 sampai dengan 3.


PT Air melakukan perjanjian lease dengan PT Api untuk menyewa
peralatan. J angka waktu lease adalah 4 tahun dan pembayaran sewa sebesar
Rp37.283.000,00 di setiap awal tahun. Peralatan tersebut mempunyai nilai
wajar sebesar Rp130.000.000,00, estimasi umur ekonomis 4 tahun tanpa nilai
residu. PT Air membayar cost executory langsung ke pihak ketiga. Tingkat
suku bunga efektif adalah 10%.

1) PT Air memperlakukan lease tersebut sebagai apa?


A. Perjanjian sewa biasa
B. Direct financing lease
C. Operating lease
D. Capital lease

2) Berapakah nilai aktiva yang dicatat pada awal perjanjian lease oleh PT
Air?
A. RpO,OO
B. Rp149.132.000,00
C. Rp130.000.000,00
D. Rp143.000.000,00

3) Berapa rupiah yang harus dibayar oleh PT Air pada pembayaran


pertamanya?
A. RpO,OO
B. Rp37 .283.000,00
C. Rp32.500.000,00
D. Rp37.750.000,00

Informasi untuk soal nomor 4 sampai dengan 7.

PT Pat menyewa mesin yang nilai wajarnya Rp8.725.000,00 dengan


perjanjian lease dengan PT John. Syarat-syaratnya adalah sebagai
berikut:
a. Jangka waktu 50 bulan yang tidak dapat dibatalkan.
b. Pembayaran sewa Rp200.000,00 setiap akhir bulan. (Nilai sekarang
dari 1% per bulan adalah Rp7.840.000,00 untuk 50 bulan).
5.28 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

c. Estimasi nilai residu setelah 50 bulan adalah Rp 1.180.000,00. (Nilai


sekarang dari 1% per bulan adalah Rp715.000,00).
d. Estimasi umur ekonomis adalah 60 bulan.
e. Tingkat bunga inkremental yang dari PT Pat adalah 12% per tahun
(1% per bulan). Tingkat bunga efektif dari PT John tidak diketahui.

4) Perjanjian lease di atas dicatat oleh PT Pat sebagai lease jenis apa?
A. Perj anjian sewa biasa
B. Operating lease
C. Capital lease
D. Sales type lease

5) Berapakah nilai aktiva yang dicatat pada awal perjanjian lease oleh PT
Pat?
A. Rp 7.545.000,00
B. Rp10.000.000,00
C. Rp 7.840.000,00
D. Rp 8.555.000,00

6) Jika PT Pat menggunakan metode garis lurus sebagai depresiasinya


maka berapakah depresiasi yang dicatat PT Pat pada bulan pertama?
A. Rp147.500,00
B. Rp150.900,00
C. Rp200.000,00
D. Rp156.800,00

7) Berapakah biaya bunga yang diakui oleh PT Pat pada saat pertama
membayar Lease ini?
A. Rp 86.660,00
B. Rp 85.550,00
C. Rp100.000,00
D. Rp 78.400,00

8) Perusahaan Lessee yang mengklasifikasikan leasing-nya sebagai capital


lease daripada operating lease akan menyebabkan terjadinya perbedaan-
perbedaan dalam hal tertentu. Berikut ini perbedaan-perbedaan tersebut,
kecuali ....
A. meningkatnya pendapatan bunga
B. kenaikan jumlah utang yang dilaporkan (baik jangka panjang
maupun jangka pendek)
C. kenaikanjumlah total aktiva (terutama aktivajangka panjang)
D. laba yang rendah pada awal masa lease dan karenanya, laba ditahan
menjadi lebih rendah
e EKMA431 3/MODUL 5 5.29

Cocokkanlahjawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
5.30 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

KEGIATAN BELAL.JAR 3

Akuntansi oleh Lessor

A. KEUNGGULAN LEASING BAGI LESSOR

Pada kegiatan belajar sebelumnya, kita telah membahas keunggulan


leasing bagi lessee. Sedangkan, keunggulan leasing bagi lessor adalah
sebagai berikut.
1. Pendapatan bunga. Leasing adalah salah satu bentuk pembiayaan. Oleh
karena itu, lembaga keuangan dan perusahaan leasing menganggap
leasing sangat menarik karena menyediakan marjin bunga yang
kompetitif
2. Insentif Pajak. Dalam banyak kasus, perusahaan yang me-lease tidak
dapat menggunakan manfaat pajak, tetapi leasing memberikan mereka
peluang untuk mengalihkan manfaat pajak semacam itu kepada pihak
lain (lessee) berupa pengembalian atas tarif sewa yang lebih rendah dari
aktiva yang di-lease.
3. Nilai Residu yang Tinggi. Keunggulan lain bagi lessor adalah
pengembalian properti pada akhir mas a lease. Nilai residu dapat
menghasilkan lab a yang sangat besar.

B. EKONOMI LESSOR

Lessor menentukan jumlah sewa berdasarkan tingkat pengembalian -


suku bunga implisit - yang dibutuhkan untuk menjustifikasi leasing aktiva.
Faktor-faktor penting yang dipertimbangkan dalam menentukan tingkat
pengembalian adalah posisi yang kredit lessee, lamanya lease, dan status nilai
residu (dijamin vs. tidak dijamin). Pada Contoh 5.1. PT Lessor dan
PT Lessee, suku bunga implisit lessor adalah 10%, biaya peralatan bagi
lessor adalah Rp100.000.000,00 (sama dengan nilai pasar wajar), dan
estimasi nilai residu adalah nol. PT Lessor menentukan jumlah pembayaran
lease sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.31

Nilai pasar wajar yang di-lease Rp 100.000.000,00


Dikurangi: Nilai sekarang dari nilai residu Rp 0,00
Jumlah yang akan dipulihkan oleh lessor melalui pembayaran leaseRp100.000.000,00

Lima pembayaran lease awal tahun untuk menghasilkan


Pengembalian 10% (Rp100.000.000,00 -;- 4,16986a) Rp23 .981.620,00

Jika nilai residu dilibatkan (baik dijamin ataupun tidak dijarnin), lessor
tidak harus menutup pembayaran lease sebesar itu. Oleh karena itu,
pembayaran lease akan menj adi lebih kecil.

C. KLASIFIKASI LEASE OLEH LESSOR

Dari sudut pandang lessor, semua lease dapat diklasifikasikan untuk


tujuan akuntansi sebagai berikut.
1. Lease operasi.
2. Lease pembiayaan langsung.
3. Lease jenis penjualan.

Jika pada tanggal perjanjian lease (awal) lessor adalah pihak yang
memenuhi satu atau lebih kriteria Kelompok I berikut ini ( 1, 2, 3, dan 4) dan
kedua kriteria Kelompok II berikut ( 1 dan 2) maka lessor harus
mengklasifikasikan dan memperhitungkan perjanjian ini sebagai lease
pembiayaan langsung atau lease jenis penjualan.

Kriteria Kapitalisasi (Lessor)


Kelompok I
1. Lease mengalihkan kepemilikan properti kepada lessee.
2. Lease mencakup opsi pembelian dengan harga khusus.
3. Jangka waktu lease sama dengan atau lebih dari 75 % estimasi umur
ekonornis properti yang di-lease.
4. Nilai sekarang dari pembayaran lease minimum (kecuali cost executory)
sama dengan atau melebihi 90% nilai wajar properti yang di-lease.
5.32 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Kelompok II
1. Ketertagihan pembayaran yang diperoleh dari lessee dapat diprediksi
secara layak.
2. Tidak ada ketidakpastian yang penting di seputar jumlah biaya/cost yang
tidak dapat dibayarkan kembali meskipun telah dikeluarkan oleh lessor
menurut lease (apa yang perlu dilakukan oleh lessor secara substansial
telah selesai atau biaya masa depan dapat diprediksi secara layak).

Mengapa kriteria Kelompok II disyaratkan? Jawabannya bahwa profesi


ingin memastikan bahwa lessor telah benar-benar mengalihkan risiko dan
manfaat kepemilikan. Jika ketertagihan pembayaran tidak dapat diprediksi
atau jika apa yang perlu dilakukan oleh lessor tidak lengkap maka kriteria
untuk pengakuan pendapatan belum dipenuhi, dan hal itu harus
diklasifikasikan sebagai lease operasi.
Perbedaan antara lease pembiayaan langsung dan lease jenis penjualan
bagi lessor adalah ada a tau tidaknya untung (atau kerugian) produsen a tau
penyalur: lease jenis penjualan melibatkan keuntungan produsen atau
penyalur. Sedangkan, lease pembiayaan langsung tidak memiliki keuntungan
tersebut. Keuntungan (atau kerugian) lessor adalah perbedaan nilai wajar
properti yang di-lease pada awal lease dengan nilai buku lessor. Umumnya
lease jenis penjualan terjadi apabila perusahaan manufaktur atau penyalur
menggunakan leasing sebagai sarana memasarkan produk mereka.
Sebagai akibat dari penambahan kriteria Kelompok II untuk lessor
adalah mungkin bahwa lessor yang tidak memenuhi kedua kriteria itu akan
mengklasifikasikan lease sebagai lease operasi. Sementara lessee akan
mengklasifikasikan lease yang sama sebagai lease modal. Dalam kondisi
seperti ini, baik lessor maupun lessee akan mencatat aktiva pada pembukuan
dan keduanya akan menyusutkan aktiva yang dikapitalisasi itu.

D. METODE PEMBIA YAAN LANGSUNG (DIRECT FINANCING


LEASE)- OLEH LESSOR

Pada hakikatnya, lease merupakan pembiayaan atau pembelian aktiva


oleh lessee yang mengharuskan lessor mengganti aktiva yang di-lease
dengan "piutang pembayaran lease". Informasi yang dibutuhkan untuk
mencatat lease pembiayaan langsung (direct financing lease) ditunjukkan
pada pembahasan berikut.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.33

Perhitungan investasi kotor (piutang pembayaran lease) sering membi-


ngungkan karena ketidakpastian mengenai bagaimana memperhitungkan nilai
residu. Ingat, bahwa pembayaran lease minimum mencakup hal-hal berikut

Inl.
1. Pembayaran lease (tidak termasuk cost executory)
2. Opsi pembelian dengan harga khusus Uika ada)
3. Nilai residu yang dijamin Gika ada)
4. Denda atau penalty atas kegagalan untuk memperbarui Gika ada)

Jika "piutang pembayaran lease" didefinisikan sebagai pembayaran lease


minimum ditambah nilai residu yang tidak dijamin maka berarti bahwa nilai
residu, baik yang dijamin (karena dimasukkan sebagai bagian dari
"pembayaran lease") ataupun yang tidak dijamin (karena ditambahkan
kembali untuk menghitung investasi kotor), dimasukkan sebagai bagian dari
piutang pembayaran lease jika hal ini relevan bagi lessor (yaitu, jika lessor
memperkirakan akan memperoleh aktivanya kembali).
Selain itu, jika lessor membayar costlbiaya executory maka pembayaran
lease harus dikurangkan dengan jumlah tersebut untuk menghitung
pembayaran lease minimum. Dengan kata lain, piutang pembayaran lease
mencakup hal-hal berikut.
1. Pembayaran lease (dikurangi costlbiaya executory yang dibayar oleh
lessor).
2. Opsi pembelian dengan harga khusus Uika ada).
3. Nilai residu yang dijamin Gika ada).
4. Denda atau penalti atas kegagalan untuk memperbarui Gika ada).

Pendapatan bunga diterima di muka diamortisasi ke pendapatan


sepanjang waktu lease dengan mengaplikasikan metode bunga efektif. Jadi,
tingkat pengembalian yang konstan dihasilkan atas in vestasi bersih dalam
lease. Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh 5.3.
Dengan menggunakan data yang sama dengan contoh sebelumnya, yaitu
Contoh 5.2. penjelasan berikut ini menggambarkan perlakuan akuntansi
untuk lease pembiayaan langsung. Informasi yang relevan bagi PT Lessor
dalam akuntansi untuk transaksi lease ini adalah sebagai berikut.
5.34 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

1. J angka waktu lease adalah 5 tahun yang dimulai tang gal 1 J anuari 2003,
tidak dapat dibatalkan, dan membutuhkan pembayaran sewa yang sama
sebesar Rp25.981.620,00 pada setiap awal tahun; pembayaran termasuk
Rp2.000.000,00 biaya executory (pajak properti).
2. Peralatan memiliki cost Rp100.000.000,00 bagi PT Lessor, nilai wajar
pada awal lease sebesar Rp100.000.000,00, estimasi umur ekonomis
selama 5 tahun, dan tidak ada nilai residu.
3. Tidak ada biaya langsung awal yang dikeluarkan untuk negosiasi dan
menutup transaksi lease.
4. Lease tidak memiliki opsi untuk memperbarui kontrak dan peralatan
dikembalikan kePT Lessor pada akhir masa lease.
5. Ketertagihan dapat dijamin dan tidak ada biaya tambahan (dengan
pengecualian pajak properti yang ditagih dari lessee) yang harus
dikeluarkan oleh lessor.
6. PT Lessor menentukan pembayaran lease tahunan untuk menjamin
tingkat pengembalian 10% (suku bunga implisit) atas investasinya
sebagai berikut:

Nilai pasar wajar peralatan yang di-lease Rp100.000.000,00


Dikurangi: Nilai sekarang dari nilai residu -0-
Jumlah yang dipulihkan oleh lessor melalui pembayaran Rp 100.000.000,00
-----------
Lima pembayaran lease awal tahun untuk menghasilkan
Pengembalian 10% (Rp100.000.000,00 7 4,16986a) Rp 23.981,620,00

apy dari anuitas jatuh tempo sebesar Rp 1 selama 5 tahun pada 10%

Lease tersebut memenuhi kriteria klasifikasi sebagai lease pembiayaan


langsung karena (1) jangka waktu lease melebihi 75% estimasi umur
ekonomis peralatan, (2) nilai sekarang dari pembiayaan lease minimum
melebihi 90% nilai wajar peralatan, (3) ketertagihan pembayaran dapat
dipastikan secara layak, dan (4) tidak ada biaya tambahan yang harus
dikeluarkan oleh PT Lessor. Lease ini tidak termasuk lease jenis penjualan
karena tidak ada selisih antara nilai wajar peralatan (Rp100.000.000,00)
dengan biaya yang dikeluarkan oleh lessor (Rp100.000.000,00).
Piutang pembayaran lease (investasi kotor) dihitung sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.35

Piutang = Pembayaran lease minimum dikurangi biaya executory


pembayaran yang dibayar oleh lessor ditambah nilai residu yang
lease tidak dij amin.
= [(Rp25.981.620,00 - Rp2.000.000,00) X 5] + RpO,OO
= Rp119.908.100,00

Pendapatan bunga diterima di muka dihitung sebagai perbedaan antara


piutang pembayaran lease dengan nilai pasar wajar peralatan yang di-lease
bagi lessor, seperti berikut:

Pendapatan bunga dite- = Piutang pembayaran lease dikurangi nilai


rima di muka pasar wajar aktiva
= Rp119.908.100,00- Rp100.000.000,00
= Rpl9.908.100,00

Investasi bersih dalam lease pembiayaan langsung adalah


Rp100.000.000,00, yaitu investasi kotor Rp119.908.100,00 dikurangi
pendapatan bunga diterima di muka sebesar Rp19.908.100,00.
Lease aktiva, piutang, dan pendapatan bunga diterima di muka dicatat
per 1 J anuari 2003 ( awallease) sebagai berikut:

01/01/03 Piutang pembayaran lease ................. Rp 119.908.100


Peralatan ....................................................... Rp 1.000.000.000
Pendapatan bunga diterima di muka ............. Rp 19.908.100
(mencatat awal perjanjian lease)

Pendapatan bunga diterima di muka diklasifikasikan sebagai pengurang


piutang pembayaran lease di neraca jika piutang itu dilaporkan pada jumlah
kotornya. Umumnya, piutang pembayaran lease walaupun dicatat pada
jumlah investasi kotornya, dilaporkan di neraca pada jumlah investasi bersih
(investasi kotor dikurangi pendapatan bunga diterima di muka) dan diberi
nama akun "lnvestasi bersih dalam lease modal". Hal ini dapat
diklasifikasikan, baik sebagai lancar maupun tidak lancar, tergantung pad a
kapan investasi bersih itu dipulihkan.
Peralatan yang di -lease dengan cost perolehan sebesar
Rp100.000.000,00, yang menggambarkan investasi PT Lessor, diganti
dengan piutang lease bersih. Dengan cara yang sama dengan perlakuan
5.36 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

bunga oleh Lessee, lessor menggunakan metode bunga efektif dan mengakui
pendapatan bunga sebagai fungsi dari investasi bersih yang belum
dipulihkan, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 3.1 berikut ini.

PT. LESSOR
Skedul Amortisasi Lease
Dasar anuitas iatuh tern o
Pembayaran Cost/Biaya Bunga 10% atas Pemulihan
Tang gal lnvestasi Bersih
Lease Tahunan Executory investasi bersih investasi besih
(a) (b) (c) (d) (e)
1/1/03 Rp1 00.000.000,00
1/1/03 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 RpO,OO Rp23.981.620,00 Rp 76.018.380,00
1/1/04 Rp25.981 .620,00 Rp2.000.000,00 Rp7.601 .840,00 Rp16.379.780,00 Rp59.638.600,00
1/1/05 Rp25.981.620,00 Rp2.000.000,00 Rp5.963.860,00 Rp18.017.760,00 Rp41.620.840,00
1/1/06 Rp25.981 .620,00 Rp2.000.000,00 Rp4.162.080,00 Rp19.819.540,00 Rp21 .801 .300,00
1/1/07 R~25.981.620,00 R~2.000.000,00 R~2.180.320,00 * R~21.801.300,00 RpO,OO
Rp129.908.1 00,00 Rp1 0.000.000,00 Rp19.908.100,00 Rp1 00.000.000,00

1. Sewa tahunan yang menyediakan pengembalian 10% atas investasi


bersih.
2. Biaya executory termasuk dalam pembayaran sewa.
3. Sepuluh persen dari saldo sebelumnya (e), kecuali untuk tanggal1/1/03.
4. di kurang (b) dan (c)
5. Saldo sebelumnya di kurang (d)
*
pembulatan
Pada tanggal 1 Januari 2003, jurnal untuk mencatat penerimaan
pembayaran lease tahun pertama adalah sebagai berikut.

01/01/03 Kas ............................................. Rp 25.981.620,00


Piutang pembayaran lease ............................ Rp 23.981.620,00
Biaya/utang pajak properti ............................. Rp 2.000.000,00
(mencatat penerimaan pembayaran lease tahun pertama)

Pada tanggal 31 Desember 2003, pendapatan bunga yang diperoleh


selama tahun pertama diakui dengan mencatat jumal sebagai berikut:

31/12/03 Pendapatan bunga diterima di muka ...... Rp 7.601.840,00


Pendapatan bung a lease .................................... Rp 7.601.840,00
(mencatat pendapatan bunga tahun pertama)
e EKMA431 3/MODUL 5 5.37

Pada tanggal 31 Desember 2003, investasi bersih menurut lease modal,


dilaporkan dalam neraca lessor di antara aktiva lancar atau aktiva tidak lancar
atau keduanya. Bagian yang jatuh tempo dalam waktu kurang dari atau sama
dengan satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih lama,
diklasifikasikan sebagai aktiva lancar dan sisanya sebagai aktiva tidak lancar.
Total investasi bersih pada tanggal 31 Desember 2003 adalah sama
dengan Rp83.620.220,00 (saldo per 1 Januari 2003 sebesar Rp76.018.380,00
ditambah piutang bunga untuk tahun 2003 sebesar Rp7 .601.840,00). Bagian
lancar adalah investasi bersih yang akan diterima pada tahun 2003,
Rp16.379.780,00 ditambah bunga Rp7.601.840,00 sisanya sebesar
Rp59.638.600,00 (piutang pembayaran lease sebesar Rp71.944.860,00
[Rp23.981.620,00 x 3] dikurangi pendapatan bunga diterima di muka
Rp.12.306.260,00 [Rp5 .963.860,00 + Rp4.162.080,00 + Rp.2.180.320,])
harus dilaporkan pada kelompok aktiva tidak lancar.
Bagian aktiva yang berhubungan dengan transaksi lease per 31
Desember 2002 disajikan sebagai berikut:

Aktiva lancar
lnvestasi bersih dalam lease modal Rp23.981.620,00

Aktiva tidak lancar (investasi)


Investasi bersih dalam lease modal Rp59.638.600,00

Jumal-jurnal berikut ini digunakan untuk mencatat pembayaran lease


tahun kedua dan pengakuan pendapatan bunganya.

01/01/04 Kas ............................................. Rp 25.981.620,00


Piutang pembayaran lease ............................ Rp 23.981.620,00
Biaya/utang pajak properti ............................. Rp 2.000.000,00
(mencatat penerimaan pembayaran lease tahun kedua)

Pada tanggal 31 Desember 2004, pendapatan bunga yang diperoleh


selama tahun kedua diakui dengan mencatat jurnal sebagai berikut.

31/12/04 Pendapatan bunga di terima di muka ... Rp5.963.860,00


Pendapatan bunga lease ............................. Rp5.963.860,00
(mencatat pendapatan bunga tahun kedua)
5.38 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Jurnal yang dibuat sampai tahun 2007 akan mengikuti pola yang sama,
kecuali tidak ada jurnal yang dicatat untuk pendapatan bunga tahun 2007
(tahun terakhir). Oleh karena piutang akan ditagih seluruhnya pada 1 Januari
2007 maka tidak ada saldo (investasi) yang beredar pada tahun 2007, di mana
PT Lessor akan menanggung setiap bunga. Pada saat lease berakhir (apakah
itu anuitas biasa atau anuitas jatuh tempo), piutang kotor dan pendapatan
bunga diterima di muka akan dihapus seluruhnya. PT Lessor tidak mencatat
penyusutan. Jika peralatan dijual kepada PT Lessee seharga Rp5 .000.000,00
pada akhir masa lease maka PT Lessor akan mengakui disposisi peralatan
sebagai berikut.

E. METODE OPERASI (oleh Lessor)

Menurut metode operasi, setiap penerimaan sewa oleh lessor dicatat


sebagai pendapatan sewa. Aktiva yang di-lease disusutkan dalam cara yang
biasa, di mana beban penyusutan periode berjalan ditandingkan dengan
pendapatan sewa. Jumlah pendapatan yang diakui dalam setiap periode
akuntansi berjumlah sama (dasar garis lurus) tanpa memandang ketentuan
atau provisi lease, kecuali dasar lain yang sistematis dan rasional lebih
mencerminkan pola waktu, di mana manfaat itu diperoleh dari aktiva yang di-
lease. Selain biaya penyusutan, biaya pemeliharaan dan biaya jasa lain yang
diberikan menurut provisi lease yang berkaitan dengan periode akuntansi
berjalan juga dicatat sebagai biaya. Biaya-biaya yang dibayarkan kepada
pihak ketiga yang independen seperti honor penaksiran, honor penemu, dan
biaya kredit cek, diamortisasi selama umur lease. Perhatikan contoh berikut

lnl:

Contoh 5.4.
Untuk mengilustrasikan metode operasi, asumsikan lease pembiayaan
langsung pada Contoh 5.3. tersebut tidak memenuhi kualifikasi sebagai lease
modal dan karenanya diperhitungkan sebagai lease operasi. Jurnal untuk
mencatat penerimaan sewa, dengan asumsi biaya pajak properti
Rp2.000.000,00 adalah sebagai berikut.
e EKMA431 3/MODUL 5 5.39

01/01/03 Kas .......................................... Rp25.981.620,00


Pendapatan sewa .................................. Rp25 .981.620,00
(mencatat penerimaan sewa lease operasi)

Penyusutan dicatat oleh lessor sebagai berikut (dengan asumsi metode


garis lurus digunakan, biaya perolehan Rp 1.000.000.000,00 dan umur
manfaat 5 tahun)

31/12/03 Biaya penyusutan- Peralatan yang di-lease ....... .Rp 20.000.000,00


Akumulasi penyusutan - Peralatan yang di-lease ......... Rp20.000.000,00
(mencatat penyusutan = Rp 100.000.000,00 7 5 tahun)

Jika pajak properti, asuransi, pemeliharaan, dan biaya operasi lainnya


selama setahun adalah kewajiban lessor maka biaya-biaya ini dicatat sebagai
biaya yang dapat dibebankan ke pendapatan sewa kotor.
Jika lessor memiliki aktiva pabrik yang digunakan selain untuk di-lease-
kan kepada pihak lain maka peralatan yang di-lease dan akumulasi
penyusutannya akan diklasifikasikan secara terpisah dalam akun seperti
Peralatan yang Di-lease. Jika jumlah atau aktivitasnya signifikan maka
pendapatan sewa dan biaya yang berhubungan, dipisahkan pada laporan laba-
rugi dari pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan.

01/01/07 Kas .............................................. Rp5.000.000,00


Kerugian penjualan peralatan yang di-lease Rp5.000.000,00
(mencatat penjualan peralatan yang di -lease)

F. METODE PENJUALAN (LESSOR)

Sebagaimana telah disebutkan di awal pembahasan Kegiatan Belajar 3


ini bahwa perbedaan utama antara lease pembiayaan langsung dengan lease
jenis penjualan adalah untung (atau rugi) kotor produsen atau penyalur.
Informasi yang dibutuhkan untuk mencatat lease jenis penjualan adalah
sebagai berikut.
lnvestasi kotor dan pendapatan bunga diterima di muka adalah sama,
apakah melibatkan nilai residu yang dijamin atau yang tidak dijamin.
Ketika mencatat pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan, ada
perbedaan antara akuntansi untuk nilai residu yang dijamin dan tidak dijamin
5.40 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

nilai residu yang dij amin dapat dianggap sebagai bagian dari pendapatan
penjualan karena lessor mengetahui bahwa seluruh aktiva telah terjual.
Terdapat kepastian yang kecil bahwa bagian nilai residu yang tidak dijamin
dari aktiva telah "terjual" (misalnya akan direalisasi); oleh karena itu,
penjualan dan harga pokok penjualan hanya diakui untuk bagian aktiva yang
realisasinya terjamin. Akan tetapi, jumlah laba kotor dari penjualan aktiva
adalah sama apakah nilai residu yang digunakan dijamin atau tidak dijamin.
Untuk lebih memahami, perhatikan contoh berikut ini:

Contoh 5.5.
Untuk mengilustrasikan lease jenis penjualan dengan nilai residu dijamin
dan lease jenis penjualan dengan nilai residu tidak dijamin, asumsikan data-
data yang sama dengan Contoh 5.3. pada lease pembiayaan langsung.
Estimasi nilai residu adalah Rp5 .000.000,00 (dengan nilai sekarang
Rp3.104.600,00) dan harga perolehan peralatan yang di-lease PT Lessor
adalah sebesar Rp85.000.000,00. Asumsikan bahwa nilai pasar wajar dari
nilai residu adalah Rp3.000.000,00 pada akhir masa lease.
Jumlah-jumlah yang relevan untuk lease jenis penjualan dihitung sebagai
berikut.

Lease Jenis Penjualan


Nilai Residu Dijamin Nilai Residu Tidak Dijamin
lnvestasi Kotor Rp121.185.450,00 Sama
([23.237 .090 X 5] + 5.000.000)
Pendapatan bunga diterima di Rp21.185.450 Sam a
muka (121.185.450- 100.000.000)
Harga jual aktiva Rp1 00.000.000 Rp96.895.400,00
(96.895.400 + 3.1 04.600)
Harga pokok penjualan Rp85.000.000,00 Rp81.895.400,00
(85.000.000- 3.1 04.600)
Laba Kotor Rp15.000.000,00 Rp15.000.000,00
100.000.000- 85.000.000 96895.400- 81.895.400

Keuntungan yang dicatat oleh PT Lessor pada saat penjualan adalah


sama sebesar Rp15.000.000,00, apakah nilai residu dijamin atau tidak. Akan
tetapi, jumlah pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan berbeda.
Nilai sekarang dari nilai residu yang tidak dij amin dikurangkan dari
pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan karena dua alasan: (1)
kriteria untuk pengakuan pendapatan belum terpenuhi, dan (2) penandingan
antara biaya dengan pendapatan yang belum diakui tidak tepat. Kriteria
e EKMA431 3 / MODUL 5 5.41

pengakuan pendapatan belum dipenuhi karena ketidakpastian yang


melingkupi realisasi nilai residu yang tidak dij amin.
Jumal untuk mencatat transaksi per 1 Januari 2003, dan penerimaan nilai
residu pada akhir masa lease disajikan berikut ini.

Jurnal oleh P.T. Lessor


Lease Jenis Penjualan
(dalam ribuan rupiah)
Nilai Residu Dijamin Nilai Residu Tidak Dijamin

Untuk mencatat lease jenis penjualan pada awal/ease (1 Januari 2003)

Harga pokok penjualan 85.000,00 Harga pokok 81.895,40


Piutang pembayaran 121.185,45 penjualan
lease Piutang 121.185,45
Pendapatan penjualan 100.000,00 pembayaran
Pendapatan bunga 21.185,45 lease
diterima di muka Pendapatan 96.895,40
Persediaan 85.000,00 penjualan
Pendapatan 21.185,45
bunga diterima
di muka
Persediaan 85.000,00

Untuk mencatat penerimaan pembayaran /ease pertama (1 Januari 2003)

Kas 25.237,09 Kas 25.237,09


Piutang 23.237,09 Piutang 23.237,09
pembayaran lease pembayaran
Biaya/utang 2.000,00 lease
pajak properti Biaya/utang 2.000,00
pajak properti

Untuk mengakui pendapatan bunga yang diperoleh selama tahun pertama (31 Desember
2003)

Pendapatan bung a 7.676,29 Pendapatan 7.676,29


diterima di muka bunga diterima
Pendapatan bunga 7.676,29 di muka
Pendapatan 7.676,29
bung a
5.42 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Untuk mencatat penerimaan pembayaran /ease kedua (1 Januari 2004)

Kas 25.237,09 Kas 25.237,09


Piutang Piutang 23.237,09
pembayaran lease 23.237,09 pembayaran
lease
Biaya/utang pajak 2.000,00 Biaya/utang 2.000,00
properti pajak properti

Untuk mengakui pendapatan bunga yang diperoleh selama tahun kedua (31 Desember
2004)

Pendapatan bu nga 6.120,21 Pendapatan 6.120,21


diterima di muka bunga diterima
Pendapatan bunga 6.120,21 di muka
Pendapatan 6.120,21
bung a

Untuk mencatat penerimaan nilai residu pada akhir masa lease (31 Desember 2007)

Persediaan 3.000,00 Persediaan 3.000,00


Kas 2.000,00 Kerugian Lease 2.000,00
Piutang 5.000,00 modal
pembayaran lease Piutang 5.000,00
pembayaran
lease

Estimasi nilai residu yang tidak dijamin dalam lease jenis penjualan (dan
lease pembiayaan langsung) harus dikaji ulang secara periodik. Jika estimasi
nilai residu yang tidak dij amin berkurang maka akuntansi transaksi ini harus
direvisi dengan menggunakan estimasi yang diubah. Penurunan ini
mencerminkan pengurangan investasi bersih lessor dan diakui sebagai
kerugian pada periode, di mana estimasi nilai residu menurun. Penyesuaian
terhadap estimasi nilai residu tidak diakui.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut!

1) Sebutkan dan Jelaskan keuntungan lease bagi lessor!


2) Sebutkan dan Jelaskan klasifikasi lease oleh Lessor!
e EKMA431 3/MODUL 5 5.43

3) Apa saja kriteria kapitalisasi lease oleh Lessor? Jelaskan!


4) Apa yang membedakan antara Lease jenis Pembiayaan dengan
Penjualan?
5) Mengapa nilai sekarang dari nilai residu yang tidak dijamin dikurangkan
dari pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan ketika lessor
mencatat lease sebagai jenis penjualan?
6) Mengapa kriteria kapitalisasi Kelompok II disyaratkan?
7) Sebutkan informasi apa yang dibutuhkan untuk mencatat Lease jenis
penjualan!
8) Apa yang dimaksud dengan Hak Opsi Pembelian?
9) PT GRACIA melease sebuah komputer dari PT REXIMO uutuk masa 2
tahun dimulai tanggal 1 April 2004. PT GRACIA sepakat untuk
membayar PT REXIMO Rp 50.000.000,00 setahun, yang terutang di
muka tanggal 1 April setiap tahunnya. Sementara itu, PT REXIMO
bertanggung jawab atas biaya kepemilikan, seperti pemeliharaan, pajak
properti, dan asuransi. Lessee hanya menanggung satu risiko, yaitu
pembayaran sewa, dan memperoleh satu manfaat berupa penggunaan
sementara atas aktiva. Oleh karena risiko dan manfaat kepemilikan tidak
berpindah maka ini merupakan suatu Lease Operasi. Asumsikan bahwa
periode akuntansi kedua perusahaan berakhir pada tanggal 31 Desember.
Dan diketahui harga perolehan komputer tersebut sebesar
Rp300.000.000,00 dengan umur ekonomis 10 tahun. Buatlah ayat jurnal
bagi PT REXIMO guna mengakui penerimaan pembayaran Lease untuk
Tahun 2004!
10) PT TARUNA me-lease sebuah mesin cetak dari PT GASIMO untuk
masa 5 tahun dimulai tanggal 1 September 2005. PT TARUNA sepakat
untuk membayar PT GASIMO Rp 150.000.000,00 setahun, yang
terutang di muka tanggal 1 September setiap tahunnya. Sementara itu PT
GASIMO bertanggung jawab atas biaya kepemilikan, seperti
pemeliharaan, pajak properti, dan asuransi. Lessee hanya menanggung
satu risiko, yaitu pembayaran sewa, dan memperoleh satu manfaat
berupa penggunaan sementara atas aktiva. Oleh karena risiko dan
manfaat kepemilikan tidak berpindah maka ini merupakan suatu Lease
Operasi. Asumsikan bahwa periode akuntansi kedua perusahaan berakhir
pada tanggal31 Desember. Buatlah ayatjurnal bagi PT TARUNA!
5.44 AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II e

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Keunggulan leasing bagi lessor adalah sebagai berikut.


a. Pendapatan bunga. Leasing adalah salah satu bentuk pembiayaan.
Oleh karena itu, lembaga keuangan dan perusahaan leasing
menganggap leasing sangat menarik karena menyediakan margin
bunga yang kompetitif.
b. Insentif Pajak. Dalam banyak kasus, perusahaan yang me-lease
tidak dapat menggunakan manfaat pajak, tetapi leasing memberikan
mereka peluang untuk mengalihkan manfaat pajak semacam itu
kepada pihak lain (lessee) berupa pengembalian atas tarif sewa yang
lebih rendah dari aktiva yang di-lease.
c. Nilai Residu yang Tinggi. Keunggulan lain bagi lessor adalah
pengembalian properti pada akhir mas a lease. Nilai residu dapat
menghasilkan laba yang sangat besar.
2) Dari sudut pandang lessor, semua lease dapat diklasifikasikan untuk
tujuan akuntansi sebagai berikut.
a. Lease operasi.
b. Lease pembiayaan langsung.
c. Lease jenis penjualan.
3) Beberapa Kriteria kapitalisasi Lease oleh Lessor, antara lain berikut ini.
Kelompok I
a. Lease mengalihkan kepemilikan properti kepada lessee.
b. Lease mencakup opsi pembelian dengan harga khusus.
c. Jangka waktu lease sama dengan atau lebih dari 75% estimasi umur
ekonomis properti yang di-lease.
d. Nilai sekarang dari pembayaran lease minimum (kecuali cost
executory) sama dengan atau melebihi 90% nilai wajar properti yang
di-lease.
Kelompok II
a. Ketertagihan pembayaran yang diperoleh dari lessee dapat
diprediksi secara layak.
b. Tidak ada ketidakpastian yang penting di seputar jumlah biaya/cost
yang tidak dapat dibayarkan kembali meskipun telah dikeluarkan
oleh lessor menurut lease (apa yang perlu dilakukan oleh lessor
secara substansial telah selesai atau biaya masa depan dapat
diprediksi secara layak).
e EKMA431 3/MODUL 5 5.45

4) Perbedaan antara lease pembiayaan langsung dan lease jenis penjualan


bagi lessor adalah ada atau tidaknya untung (atau kerugian) produsen
atau penyalur: lease jenis penjualan melibatkan keuntungan produsen
atau penyalur. Sedangkan, lease pembiayaan langsung tidak memiliki
keuntungan tersebut. Keuntungan (atau kerugian) lessor adalah
perbedaan nilai wajar properti yang di-lease pada awal lease dengan
nilai buku lessor. Umumnya lease jenis penjualan terjadi apabila
perusahaan manufaktur atau penyalur menggunakan leasing sebagai
sarana memasarkan produk mereka.
5) Nilai sekarang dari nilai residu yang tidak dij amin dikurangkan dari
pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan karena 2 alasan
(a) kriteria untuk pengakuan pendapatan belum terpenuhi, dan (b)
penandingan antara biaya dengan pendapatan yang belum diakui tidak
tepat. Kriteria pengakuan pendapatan belum dipenuhi karena
ketidakpastian yang melingkupi realisasi nilai residu yang tidak dij amin.
6) Alasan mengapa kriteria kapitalisasi kelompok II disyaratkan yaitu
karena profesi ingin memastikan bahwa lessor telah benar-benar
mengalihkan risiko dan manfaat kepemilikan. Jika ketertagihan
pembayaran tidak dapat diprediksi atau jika apa yang perlu dilakukan
oleh lessor tidak lengkap maka kriteria untuk pengakuan pendapatan
belum dipenuhi, dan hal itu harus diklasifikasikan sebagai lease operasi.
7) Informasi yang dibutuhkan untuk mencatat lease jenis penjualan adalah
sebagai berikut. (a) investasi kotor Uuga "piutang pembayaran lease"),
(b) pendapatan bung a diterima di muka, (c) harga jual aktiva, dan (d)
harga pokok penjualan.
8) Hak Opsi Pembelian adalah suatu hak opsi yang memperbolehkan
Lessee membeli properti yang di-lease dengan harga yang lebih rendah
daripada perkiraan nilai pasar properti tersebut pada tanggal pelaksanaan
hak opsi sehingga pelaksanaan (pada tanggal dimulainya lease) tampak
terj amin secara layak.
9) 1 April 2004-Untuk mencatat penerimaan pembayaran pertama:
Kas ............................................................. Rp 50.000.000,00