Anda di halaman 1dari 37

BAB 11

TINJAWAN PUSTAKA

A. KONSEP LANSIA

1. Pengertian lansia

Berdasarkan definisi scara umum seseorang dikatakan lansia apabila


usianya 60 tahun ke atas, baik pria atau wanita (Kurhariyadi,2010).Sedangka
n departemen Kesehatan RI menyebutkan seorang dikatakan lanjut usia
dimulai dari usia 55 tahun keatas (Indriana,2012). Menurut badan Kesehatan
Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari usia 60 tahun (Wallnce,2007).

2. Batas Usia Lanjut

Batasan-batasan umur yang mencangkup batasan umur lansia dari


pendapat berbagai ahli yang di kutip dari Nugroho (2008) :

a. Menurut Undang-undang no.13 tahun 1998 dalam bab I pasal 1layat II yang
berbunyi lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun
keatas.

b. Menurut WHO

1). Usia pertengahan : 45-59 tahun

2).Lanjut usia : 60-74 tahun

3).Lajut usia tua : 75-90 tahun

4).Usia sangat tua : diatas 90 tahun (Kushariyadi,2010).

c. Perubahan yang terjadi pada lanjut usia

Menurut Mujahidullah (2012) dan Wallace (2010),beberapa perubahan


yang terjadi pada lansia diantaranya ialah perubahan fisik,intelektual, dan
keagaman.

1
2

1). Perubahan Fisik

a).Sel,saat seseorang memasusiki usia lanjut keadaan sel dalam tubuh


akan berubah,seperti jumlahnya yang menurun, ukuran lebih besar
sehingga mekanisme perbaikan sel akanterganggu dan proposi diotak,o
tot, ginjal dan hati berkurang.

b).Sistem persyarafan,keadaan system persyarafan pada lansia akan

mengalami prubahan seperti mengecilnya syaraf panca indra.

c).Sistem gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunnya seleraka


seringnya terjadi.konstipasi,menurunnya produksi air liur,dan gerak
peristaltic juga menurun.

d).sistem genitourinaria,pada lansia ginjal akan mengalami pengecila


sehingga aliran darah ke ginjal menurun.

e). Sistem musculoskeletal,pada lansia tulang akan kehilangan cairan dan


makin rapuh keadaan tubuh akan lebih pendek,persendiaan kaku dan
tendon mengerut.

f).Sistem kardiovaskuler,pada lansia jantung akan mengalami pompa


darah yang menurun, ukuran jantung secara keseluruhan menurun
dengan tidaknya penyakit klinis, denyut jantung pada lansia akan lebih
tebal dan kaku akibat dari akumulasi lipid. Tekanan darah sistolik
meningkat karena hilangnya distensibilitas arteri, dan tekanan diastolic
juga meningkat.

2). Perubahan Intelektual

Menurut Hochandel dan Kaplan dalam Mujahidullah (2012), akibat


dari proses menua akan terjadi kemunduran pada kemampuan otak seperti
perubahan IQ yaitu fingsi otak kanan mengalami penurunan sehingga lansia
akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal, pemecahan
masalah , kosentrasi dan kesulitan mengenal wajah seseorang.
3

3).Perubahan keagamaan

Menurut maslow dalam Mujahidin (2012), pada umumnya lansia akan


semakin teratur dalam kehidupan keagamaannya. hal tersebut bersangkutan
dengan keadaan lansia yang akan meningkat kan kehidupan dunia.

4). Penyakit yang sering terjadi pada lansia

a).OsteoAtritis (AO)

Peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan


biologi yang mengakibat penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi dan
perkaburan.AO merupakan penyebab utama ketidak mandirian pada
lansia.

b).Osteoporosis

Merupakan salah satu bentuk gangguan dimana masa tulang atau


kepadatan tulang berkurang.

c).Hipertensi

Merupakan kondisi dimana darah sama dengan atau lebih tinggi


dari 140/90 mmHg. Bila tidak ditangani akan menjadi stroke.

d).Diabetes Militus

Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa


dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa.
Keadaan ini berkembang dimana kadar gula sewaktu diatas 200mg/dl.

e).Dimensia

Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan


fungsi intelektual dan daya ingat secara berlahan sehingga mempengaruhi
aktivitas kehidupan sehari-hari.

F).Penyakit jantung koroner

Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah


menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri
dada,sesak nafas dan kebingungan.
4

Konsep Gout Atritis

Definisi

Gout Arthritis adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling
sering ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium uratdi
dalam ataupun di sekitar persendian. Monosodium urat ini berasal
darimetabolisme purin. Hal penting yang mempengaruhi penumpukan kristal
adalah hiperurisemiadan saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar
asam urat di dalam darah terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi
jaringan tubuh, penyakit artritis gout ini akan memiliki manifestasi berupa
penumpukan kristal monosodium urat secara mikroskopis maupun
makroskopis berupa tophi(Mandel, 2008).

Penyakit Pirai (gout) atau Arthritis Gout adalah penyakit yang


disebabkan oleh tumpukan asam/kristal urat pada jaringan, terutama pada
jaringan sendi. Gout berhubungan erat dengan gangguan metabolisme purin
yang memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia), yaitu
jika kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dl. (Catatan: kadar normal
asam urat dalam darah untuk pria adalah 8 mg/dl, sedangkan untuk wanita
adalah 7 mg/dl) (Junaidi, 2013).

Selain etiologi dari hiperurisemia, beberapa faktor risiko juga dapat


membuat seseorang menjadi lebih mudah untuk terkena penyakit artritis gout.
Secara garis besar, terdapat 2 faktor risiko untuk pasien dengan penyakit
artritis gout, yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat
dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia dan jenis
kelamin. Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah pekerjaan,
Glomerular Filtration Rate (GFR), kadar asam urat, dan penyakit-penyakit
penyerta lain seperti Diabetes Melitus (DM), hipertensi, dan dislipidemia
yang membuat individu tersebut memiliki risiko lebih besar untuk terserang
penyakit artritis gout (Sylvia, 2006).

Arthritis gout adalah penyakit yang terjadi akibat adanya peningkatan


kronis konsentrasi asam urat di dalam plasma (Stepan, 2012). Gout
merupakan terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi
kelainan metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan
heterogenous yang berhubungan dengan defek genetik pada metabolisme
purin (hiperurisemia) (Brunner dan Suddarth, 2012).
5

Etiologi

Arthritis gout ditandai dengan serangan-serangan nyeri hebat dan


kemerahan pada bagian bawah sendi dari ibu jari kaki, yang terjadi pada
waktu tengah malam. Serangan berkurang dalam beberapa hari tetapi berulang
kembali. Lama kelamaan, sendi dirusak oleh endapan kristal asam urat
didalam sinovia dan tulang rawan. Asam urat didalam serum meningkat.
Penyakit ini dianggap sebagai suatu penyakit orang berada yang memakan
makanan yang kaya akan DNA, yang memproduksi banyak asam urat
(Sibuea, 2009).

Faktor-faktor yang berpengaruh sebagai penyebab gout adalah:

Faktor keturunan dengan adanya riwayat gout dalam silsilah keluarga.

Meningkatnya kadar asam urat karena diet tinggi protein dan makanan
kaya senyawa purin lainnya. Purin adalah senyawa yang akan dirombak
menjadi asam urat dalam tubuh.

Konsumsi alkohol berlebih, karena alkohol merupakan salah satu


sumber purin yang juga dapat menghambat pembuangan urin melalui ginjal.

Hambatan dari pembuangan asam urat karena penyakit tertentu,


terutama gangguan ginjal. Pasien disarankan meminum cairan dalam jumlah
banyak .minum air sebanyak 2 liter atau lebih tiap harinya membantu
pembuangan urat, dan meminimalkan pengendapan urat dalam saluran kemih.

Penggunaan obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat,


terutama diuretika ( furosemid dan hidroklorotiazida )

Penggunaan antibiotika berlebihan yang menyebabkan


berkembangnya jamur, bakteri dan virus yang lebih ganas.

Penyakit tertentu dalam darah ( anemia kronis ) yang menyebabkan


terjadinya gangguan metabolism tubuh, missal berupa gejala polisitomia dan
leukemia.

Faktor lain seperti stress, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan
olahraga berlebihan ( VitaHealth, 2007 )
6

Anatomi Fisiologi Sendi

Gambar 2.1 Anatomi sendi

Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat


bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang
yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat
digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya.

Sendi merupakan tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Sendi dapat
dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:

Sendi fibrosa dimana tidak terdapat lapisan kartilago, antara tulang


dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua subtipe
yaitu sutura dan sindemosis;

Sendi kartilago dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin,


disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi subtipe yaitu
sinkondrosis dan simpisis; dan

Sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami


pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi oleh
kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus tendon-tendon yang
melintasi sendi, tidak meluas tetapi terlipat sehingga dapat bergerak
penuh. Sinovium menghasilkan cairan synovial yang berwarna kekuningan, b
ening,tidak membeku, dan mengandung lekosit.Asam hialuronidase
7

bertanggung jawab atas viskositas cairan synovial dan disintesis oleh


pembungkus sinovial.Cairan sinovial mempunyai fungsi sebagai sumber
nutrisi bagi rawan sendi.

Jenis sendi sinovial :

Ginglimus : fleksi dan ekstensi, monoaxis


Selaris : fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxila
Globoid : fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond multi axial
Trochoid : rotasi, mono aksis
Elipsoid : fleksi, ekstensi, lateral fleksi, sirkumfleksi, multi axis

Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial pada saat


bergerak terjadi tekanan yang mengakibatkan cairan bergeser ke tekanan yang
lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan, cairan bergeser mendahului
beban ketika tekanan berkurang cairan kembali ke belakang.

Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang


yang bersendi diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin.
Keseluruhan daerah sendi dikelilingi sejeniskantong, terbentuk dari jaringan
berserat yang disebut kapsul. Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang
menghasilkan cairan sinovial untuk meminyaki sendi. Bagian luar kapsul
diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang, menahannya kuat-
kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan.

Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai


mempunyai fungsi ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus
dan memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai
penahan beban dan peredam benturan. Agar rawan berfungsi baik, maka
diperlukan matriks rawan yang baik pula. Matriks terdiri dari 2 tipe
makromolekul, yaitu :

Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi, mengandung


70-80% air, hal inilah yang menyebabkan tahan terhadap tekanan dan
memungkinkan rawan sendi elastic
8

Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi, sangat
tahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi makin tebal,
sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan terhadap tarikan.

Disamping itu matriks juga mengandung mineral, air, dan zat organik lain
seperti enzim. (Evelyn Pearce, 2010)

Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan manifestasi klinik:

1. Stadium artritis gout akut

Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas
dan serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5-7
hari. Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya
keseleo atau kena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan
tidak melakukan pemeriksaan lanjutan. Pada serangan akut yang tidak berat,
keluhan-keluhan dapat hilang dalam beberapa jam atau hari. Pada serangan
akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.Faktor
pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet tinggi purin,
kelelahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obat diuretik atau
penurunan dan peningkatan asam.

2. Stadium interkritikal

Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu
tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada yang
hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata berkisar 1
2tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan seseorang lupa
bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout atau menyangka serangan
pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan penyakit gout. Walaupun
secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda akut, namun pada aspirasi sendi
ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses peradangan tetap
berlanjut, walaupun tanpa keluhan. Dengan manajemen yang tidak baik, maka
keadaan interkritik akan berlajut menjadi stadium dengan pembentukan tofi.
9

3. Stadium artritis gout menahun (kronik)

Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap
ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih.
Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering
meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang
berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium
urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di
sekitarnya. Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran kemih. pirai
menahun dan berat, yang menyebabkan terjadinya kelainan bentuk sendi.
Pengendapan kristal urat di dalam sendi dan tendon terus berlanjut dan
menyebabkan kerusakan yang akan membatasi pergerakan sendi. Benjolan
keras dari kristal urat (tofi) diendapkan di bawah kulit di sekitar sendi. Tofi
juga bisa terbentuk di dalam ginjal dan organ lainnya, dibawah kulit telinga
atau di sekitar sikut. Jika tidak diobati, tofi pada tangan dan kaki bisa pecah
dan mengeluarkan massa kristal yang menyerupai kapur (Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, 2007)

Patofisiologi

Untuk menjadi gout arthritis, asam urat harus melalui tahapan-tahapan


tertentu yang menandai perjalanan penyakit ini. Gejala awal ditandai oleh
hiperurisemia kemudian berkembang menjadi gout dan komplikasi yang
ditimbulkannya. Prosesnya berjalan cukup lama tergantung kuat atau
lemahnya faktor resiko yang dialami oleh seorang penderita hiperurisemia.

Jika hiperurisemia tidak ditangani dengan baik, cepat atau lambat


penderita akan mengalami serangan gout akut. Jika kadar asam urat tetap
tinggi selama beberapa tahun, penderita tersebut akan mengalami stadium
interkritikal. Setelah memasuki fase ini, tidak butuh waktu lama untuk menuju
fase akhir yang dinamakan dengan stadium gout kronis (Lingga, 2012)
10

WOC

Makanan : tinggi purin Jenis kelamin Gout primer Obesitas Gout sekunder
(daging, jeroan,
emping, alkohol, dll
Pada pria kadar asam Adanya metabolisme Kelebihan berat Konsumsi obat-obat
urat tinggi asam urat bawaan badan akan diuretik dan adanya
(faktor genetik dan menghambat eksresi penyakit ginjal
Kadar purin dalam
hormonal) asam urat karena (gangguan pada ginjal)
darah
metabolisme lemak

Produksi dan sintesis


Kelebihan enzim HGPRT asam urat terganggu
pada RNA dan DNA
Menghambat eksresi
asam urat ditubulus
Pembentukan asam urat ginjal
yang dihasilkan oleh
tubuh

Kadar purin bawaan

Peningkatan asam urat dalam


darah (Hiperuresemia)
11

Pengendapan cairan Pengendapan kristal monosodium


didalam sendi urat

Penimbunan pada membran Menimbulkan reaksi fagositosis


sinovial dan tulang rawan oleh leukosit
artikular

Erosi tulang rawan, Leukosit memakan kristal


ploriferasi cairan sinovial monosodium urat (fagositosis
kristal monosodium urat)

Terbentuknya tofus/tofi
Kerusakan pada jaringan sendi

Fibrosis, akilosis pada tulang


Mekanisme peradangan

Perubahan bentuk tubuh pada


Pelepasan mediator kimia
tulang dan sendi
prostagladin, histamia dan
bradikinin

Dirangsang oleh hipothalamus, MK : Nyeri


Pembentukan tukak sendi MK : Gangguan citra tubuh Eritema, panas
menstimulasi saraf nociceptor

Tofus mengering
Mekanisme nyeri

Kekakuan pada sendi


(membatasi pergerakan MK : Gangguan pola tidur

MK : Hambatan mobilitas Penurunan kekuatan


MK : Resiko Cidera Bagan 2.1
fisik otot
Sumber : (Kombinasi Lingga, 2012)
12

Manifestasi klinis

Tanda dan gejala arthritis gout secara umum adalah sebagai berikut:

Nyeri hebat yang tiba-tiba menyerang sendi pada saat tengah malam,
biasanya pada ibu jari kaki (sendi metatarsofalangeal pertama) atau jari
kaki (sendi tarsal)
Jumlah sendi yang meradang kurang dari empat (oligoartritis) dan
serangannya pada satu sisi (unilateral)
Kulit berwarna kemerahan, terasa panas, bengkak, dan sangat nyeri
Pembengkakan sendi umumnya terjadi secara asimetris (satu sisi
tubuh)
Demam, dengan suhu tubuh 38,30C atau lebih, tidak menurun lebih
dari tiga hari walau telah dilakukan perawatan
Ruam kulit, sakit tenggorokan, lidah berwarna merah atau gusi
berdarah
Bengkak pada kaki dan peningkatan berat badan yang tiba-tiba
Diare atau muntah.

(VitaHealth, 2007)

Komplikasi

Komplikasi yang muncul akibat gout artritis antara lain:

o Gout kronik bertophus

Merupakan serangan gout yang disertai benjolan-benjolan (tofi) di


sekitar sendi yang sering meradang. Tofi adalah timbunan kristal
monosodium urat di sekitar persendian seperti di tulang rawan sendi,
sinovial, bursa atau tendon. Tofi bisa juga ditemukan di jaringan lunak dan
otot jantung, katub mitral jantung, retina mata, pangkal tenggorokan.
13

o Nefropati gout kronik

Penyakit tersering yang ditimbulkan karena hiperurisemia. terjadi


akibat dari pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal. Pada
jaringan ginjal bisa terbentuk mikrotofi yang menyumbat dan merusak
glomerulus.

o Nefrolitiasi asam urat (batu ginjal)

Terjadi pembentukan massa keras seperti batu di dalam ginjal, bisa


menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.
Air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu seperti
kalsium, asam urat, sistin dan mineral struvit (campuran magnesium,
ammonium, fosfat).

Persendian menjadi rusak hingga menyebabkan pincang

Peradangan tulang, kerusakan ligament dan tendon

Batu ginjal (kencing batu) serta gagal ginjal

(Emir Afif, 2010)

10. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Radiologi

Foto Konvensional (X-Ray)


ditemukan pembengkakan jaringan lunak dengan kalsifikasi
(tophus) berbentuk seperti topi terutama di sekitar sendi ibu jari
kaki.
tampak pembengkakan sendi yang asimetris dan kista arthritis
erosif.
peradangan dan efusi sendi.

Pemeriksaan laboratorium

Asam Urat (Serum)


14

dijalankan untuk memantau asam urat serum selama pengobatan gout.

3-5 ml darah vena dikumpulkan dalam tabung tabung berpenutup merah.


Diusahakan supaya tidak terjadi hemolisis.

elakkan dari memakan makanan tinggi purin seperti jeroan (hati, ginjal, otak,
jantung), remis, sarden selama 34 jam sebelum uji dilakukan.

nilai normal : Pria Dewasa : 3,5 8,0 mg/dL, Perempuan Dewasa : 2,8 6,8
mg/dL

peningkatan kadar asam urat serum sering terjadi pada kasus gout, alkoholisme,
leukimia, limfoma, diabetes mellitus (berat), gagal jantung kongestif, stress, gagal
ginjal, pengaruh obat : asam askorbat, diuretic, tiazid, levodopa, furosemid,
fenotiazin, 6-merkaptopurin, teofilin, salisilat.

Asam Urat (Urine 24 jam)

Untuk mendeteksi dan/atau mengonformasi diagnosis gout atau penyakit ginjal.

sampel urine 24 jam ditampung dalam wadah besar, ditambahkan pengawet dan
didinginkan.

pengambilan diet makanan yang mengandung purin ditangguhkan selama


penampungan.

tidak terdapat pembatasan minuman.

nilai normal :250 750 mg/24 jam

Peningkatan terjadi pada kasus gout, diet tinggi purin, leukemia, sindrom Fanconi,
terapi sinarX, penyakit demam, hepattis virus, pengaruh obat: kortikosteroid,
agens sitotoksik (pengobatan kanker), probenesid (Benemid), salisilat (dosis
tinggi).

Kadar pH urine diperiksa jika terdapet hiperuremia. Batu urat terjadi pada pH
urine rendah (asam).

Pemeriksaan cairan sendi

Tes makroskopik
15

Warna dan kejernihan

Normal : tidak berwarna dan jernih

Seperti susu : gout

Kuning keruh : inflamasi spesifik dan nonspesifik karena leukositosis

Kuning jernih : arthritis reumatoid ringan, osteo arthritis

Bekuan

Normal : tidak ada bekuan

Jika terdapat bekuan menunjukkan adanya peradangan. Makin besar bekuan makin
berat peradangan

Viskositas

Normal : viskositas tinggi (panjangnya tanpa pututs 4-6 cm)

Menurun (kurang dari 4 cm : inflamatorik akut dan septik)

Bervariasi : hemoragik

Tes mucin

Normal : terlihat stu bekuan kenyal dalam cairan jernih

Mucin sedang : bekuan kurang kuat dan tidak ada batas tegas : rheumatoid arthritis

Mucin jelek : bekuan berkeping-keping : infeksi

Tes mikroskopik

Jumlah leukosit

Jumlah normal leukosit : kurang 200/mm3

200 500/mm3 penyakit non inflamatorik

2000 100 000/mm3 penyakit inflamatorik akut. Contoh : arthritis gout,


arthritis rheumatoid
16

20 000 200 000/mm3 kelompok septik (infeksi). Contoh : arthritis TB,


arthritis gonore

200 1000/mm3 kelompok hemoragik

Hitung jenis sel

Jumlah normal neutrofil : kurang dari 25%

Jumlah neutrofil pada akut inflamatorik: Arthritis gout akut : rata-rata 83%

Faktor rematoid : rata-rata 46%, Artrhritis rematoid : rata-rata 65%

Kristal-kristal

Normal : tidak ditemukan kristal dalam cairan sendi

Arthritis gout : ditemukan kristal monosodium urat (MSU) berbentuk jarum


memiliki sifat birefringen ketika disinari cahaya polarisasi

Arthritis rematoid : ditemukan kristal kolestrol

Tes kimia

Tes glukosa dan mikrobiologi

Laktat Dehidrogenase

(Joyce LeFever, 2008 )

11. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Keperawatan

Diet, dianjurkan menurunkan berat badan pada pasien yang gemuk.


Hindari makanan tinggi purin (hati, ikan sarden, daging kambing, dan
sebagainya), termasuk roti manis. Meningkatkan asupan cairan (banyak
minum).

Hindari obat-obatan yang mengakibatkan hiperurisemia seperti


tiazid, diuretic, aspirin, dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi
asam urat dari ginjal.
17

Mengurangi konsumsi alcohol (bagi peminum alkohol).

Tirah baring

Merupakan suatu keharusan dan diteruskan selama 24 jam setelah


serangan menghilang. Arthritis gout dapat kambuh bila terlalu cepat
bergerak.

Terapi es dapat menurunkan prostaglandin yang memperkuat


sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera dengan
menghambat proses inflamasi. Agar efektif, es dapat diletakkan pada
tempat cedera segera setelah cedera terjadi. Sementara terapi panas
mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan
kemungkinan dapat menurunkan nyeri dengan mempercepat
penyembuhan.

Relaksasi

adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari


ketegangan dan stress sehingga dapat meningkatkan toleransi nyeri. Teknik
relaksasi yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi
lambat, berirama. Pasien dapat memejamkan matanya dan bernafas dengan
perlahan dan nyaman. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu
untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri
kronis dan yang meningkatkan nyeri(Anarmoyo,2013).

Penatalaksanaan medik

Obat-obat yang diberikan pada serangan akut antara lain:

Kolkisin

Efek samping yang ditemui diantaranya sakit perut, diare, mual atau
muntah-muntah. Kolkisin bekerja pada peradangan terhadap kristal urat
dengan menghambat kemotaksis sel radang. Dosis oral 0,5-0,6 mg per jam
sampai nyeri, mual, atau diare hilang. Kemudian obat dihentikan biasanya
pada dosis 4-6 mg, maksimal 8 mg.
18

OAINS

OAINS yang paling sering digunakan adalah indometasin. Dosis


awal 25-50 mg setiap 8 jam, diteruskan sampai gejala menghilang (5-10
hari). Kontraindikasinya jika terdapat ulkus peptikum aktif, gangguan
fungsi ginjal dan riwayat alergi terhadap OAINS (obat anti inflamasi non
steroid).

Kortikosteroid

Jika sendi yang terserang monoartikular, pemberian intraartikular


sangat efektif, contohnya triamsinolon 10-40 mg intraartikular. Untk gout
poliartikuar, dapat diberikan secara intravena (metilprednisolon 40
mg/hair) atau oral (prednisone 40-60 mg/hari).

Analgesik

Diberikan bila rasa nyeri sangat hebat. Jangan diberikan aspirin


karena dalam dosis rendah akan menghambat ekskresi asam uratdari ginjal
dan memperberat hiperurisemia.

Preparat colchicin (oral atau parenteral) atau NSAID

Digunakan untuk meredakan serangan akut gout. Penatalaksanaan


medis hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan masalah renal
biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda. Preparat urikosurik
seperti probenesid akan memperbaiki keadaan hiperurisemia dan
melarutkan endapan urat. Allopurinol juga merupakan obat yang efektif
tetapi penggunaannya terbatas karena terdapat resiko toksisitas. Kalau
diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum, preparat urikosurik
merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya beresiko untuk mengalami
insufiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal), allopurinol merupakan obat
pilihan (Smeltzer, 2002).
19

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses


keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistimatis dalam
pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi status
kesehatan klien (Nursalam, 2008).

Menurut (Yuli, 2014) pengkajian yang perlu dilakukan pada lansia


dengan gout arthritisadalah sebagai berikut:

2. Identitas

Identitas klien yang bisa dikaji pada penyakit sistem


muskuloskeletal adalah usia, karena ada beberapa penyakit
muskuloskeletal banyak terjadi pada klien di atas usia 60 tahun.

3. Keluhan utama

Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan penyakit


muskuloskeletal seperti: arthritis rheumatoid, gout artritis, osteoatritis,
dan osteoporosis adalah klien mengeluh nyeri pada persendian tulang yang
terkena, adanya keterbatasan gerak yang menyebabkan keterbatasan
mobilitas.

Riwayat penyakit sekarang

Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit yang


diderita oleh khalayan dari mulai keluhan yang dirasakan sampai khalayan
dibawa ke Rumah Sakit, dan apakah pernah memeriksakan diri ke tempat
lain seperti Rumah Sakit Umumserta pengobatan apa yang pernah
diberikan dan bagaimana perubahannya dan data yang didapatkan saat
pengkajian.

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat kesehatan yang lalu seperti riwayat penyakit


muskuloskeletal sebelumnya, riwayat pekerjaan pada pekerja yang
20

berhubungan dengan adanya riwayat penyakit muskuloskeletal,


penggunaan obat-obatan, riwayat mengkonsumsi alkohol dan merokok.

Riwayat penyakit keluarga

Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama
karena faktor genetik/keturunan.

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum

Keadaan umum klien lansia yang mengalami gangguan muskuloskeletal bisaanya


lemah.

Kesadaran

Kesadaran klien bisaanya composmentis atau apatis.

Tanda-tanda vital:

Suhu menngkat (>370 C).

Nadi meningkat (N : 70-80x/menit).

Tekanan darah meningkat atau dalam batas normal.

Pernafasan bisaanya mengalami normal atau meningkat.

Pemeriksaan Review Of System (ROS)

Sistem Pernafasan (B1: Breathing)

Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih dalam batas normal.

Sistem Sirkulasi (B2: Bleeding)

Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apical sirkulasi perifer, warna, dan
kehangatan.

Gejala: fenomena raynaud jari tangan/kaki (mis., pucat intermiten, sianosis,


kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
21

Sistem Persyarafan (B3: Brain)

Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot, terlihat kelemahan/hilang


fungsi. Pergerakan mata/kejelasan melihat, dilatasi pupil. Agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri/ansietas).

Gejala : kebas / kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan. Pembengkakan sendi simetris.

Sistem Perkemihan (B4: Bleder)

Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urin, dysuria, distensi kandung


kemih,warna dan bau urin, dan kebersihan.

Sistem Pencernaan (B5: Bowel)

Konstipasi, konsisten feses, frekuensi eliminasi, auskultasi bising usus, anoreksia,


adanya distensi abdomen, nyeri tekan abdomen.

Sistem Muskuloskletal (B6: Bone)

Kaji adanya nyeri berat tiba-tiba/mungkin terlokalisasi pada area jaringan, dapat
berkurang pada imobilisasi, kekuatan otot, kontraktur, atrofi otot,laserasi kulit dan
perubahan warna.

Gejala : fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan
lunak pada sendi). Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pada pagi hari).

Pola Fungsi kesehatan

Yang perlu dikaji adanya aktivitas apa saja yang bisa dilakukan sehubungan
dengan adanya nyeri pada persendian, ketidakmampuan mobilisasi.

Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat

Menggambarkan persepsi, pemeliharaan, dan penanganan kesehatan.

Gejala : riwayat Gout pada keluarga (pada awitan ramaja). penggunaan makanan
kesehatan, vitHuda, penyembuhan artritis tanpa pengujian. Riwayat pericarditis,
lesi katup : vibrosis pulmonal, pleuritis. DRG menunjukkan rerata lama dirawat :
4,8 hari
22

Pertimbangan Rencana Pulang : Mungkin membutuhkan bantuan pada


transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/pemeliharaan rumah tangga.

Pola nutrisi

Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan dan elektrolit, nafsu makan, pola
makan, diet, kesulitan menelan, mual/muntah, dan makanan kesukaan.

Gejala:Ketidakmampuanuntuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/ cairan


adekuat: mual, anoreksia, kesulitan mengunyah (keterlibatan TMJ).

Tanda: penurunan BB, kekeringan pada membran mukosa.

Pola eliminasi

Menjelaskan pola fungsi ekskresi, kandung kemih, defekasi, ada tidaknya masalah
defekasi, masalah nutrisi, dan penggunaan kateter. Gejala : berbagai kesulitan
untuk melaksanakan aktiftas perawatan pribadi. Ketergantungan pada orang lain.

Pola tidur dan istirahat

Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan persepsi terhdapa energi, jumlah jam
tidur pada siang dan malam, masalah tidur, dan insomnia.

Pola aktivitas dan istirahat

Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan, dan sirkulasi, riwayat


penyakit jantung, frekuensi, irama, dan kedalaman pernafasan. Pengkajian indeks
KATZ.

Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pasa
sendi, kekakuan pada pagi hari, bisaanya terjadi secara bilateral dan simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan, keletihan
23

Tanda: Malaise, keterbatasan rentang gerak : atropi otot, kulit :


kontraktur/kelainan pada sendi dan otot

Pola hubungan dan peran

Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan perak kelayan terhadap anggota


keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan, tidak punya rumah, dan
masalah keuangan. Pengkajian APGAR keluarga (Tabel APGAR keluarga).

Gejala: kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan peran,
isolasi.

Pola sensori dan kognitif

Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola persepsi sensori meliputi


pengkajian penglihatan, pendengaran,perasaan, dan pembau. Pola klien katarak
dapat ditemukan gejala gangguan penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan
kerja dengan merasa diruang gelap. Sedangkan tandanya adalah tampak
kecoklatan atau putih susu pada pupil, peningkatan air mata. Pengkajian Status
Mental menggunakan Tabel Short Portable Mental Status Quesionare (SPMSQ).

Pola persepsi dan konsep diri

Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi terhadap kemampuan


konsep diri. Konsep diri menggambarkan gambaran diri, harga diri, peran, identtas
diri. Manusia sebaga sistem terbuka dan makhluk bio-psiko-sosio-kultural-spritual,
kecemasan, takutan, dan dampak terhadap sakit. Pengkajian tingkat Depresi
menggunakan Tabel Inventaris Depresi Back.

Gejala: faktor faktor stress akut/kronis : mis., finansial, pekerjan ,


ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusasaan dan ketidakberdayaan
(situasi ketidakmampuan). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas
pribadi (mis., ketergantunagn pada orang lain).

Pola seksual dan reproduksi

Menggunakan kepuasan/masalah terhadap seksualitas.


24

Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping

Menggambarkan kemampuan untuk mengurangi stress.

Gejala : kulit mengkilat, tegang, nodul subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan dalam menangani tugas, pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan
menetap. Kekeringan pada mata dan membran mukosa

Pola tata nilai dan kepercayaan

Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan termasuk spiritual.

2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia


(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana
perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi
secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah,
dan merubah (Carpenito, 2000).

Diagnosa yang muncul pada kasus gout arthritis antara lain:

Nyeri berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri persendian


25

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit, cidera

Difisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman pengobatan


dan perawatan di rumah

Resiko cidera berhubungan dengan penurunan kekuatan otot

Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri

(Sumber : Nurarif, 2013)


26

Perencanaan

Menurut Kozier et al.(1995), perencanaan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam, tahap yang
sistematis dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. Berikut dibawah ini
adalah perencanaan pada kasus gout arthritis.

INTERVENSI
DIAGNOSA
RASIONAL
NOC NIC

Nyeri NOC NIC


berhubungan Level nyeri : Manajemen nyeri
dengan Nyeri hebat Lakukan pengkajian nyeri secara Mengetahui perkembangan nyeri dan tanda-tanda nyeri
kerusakan Nyeri berat komprehensif termasuk lokasi, sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya
integritas Nyeri sedang karakteristik, durasi, frekuensi,
jaringan Nyeri ringan kualitas dan faktor presipitasi.
sekunder (sendi Tidak ada nyeri Observasi reaksi nonverbal dari Mengetahui respon pasien terhadap nyeri
sinovial) Control nyeri ketidaknyamanan.
Tidak pernah
Kadang-kadang Gunakan terapi komunikasi untuk Pasien dapat percaya dan mempercepat penyembuhan
Sewaktu-waktu mengetahui pengalaman nyeri.
Sering
Selalu Evaluasi pengalaman nyeri masa Mengontrol perubahan status nyeri
Dengan kriteria hasil : lampau..
Pasien mampu
mengontrol nyeri, (tahu
27

penyebab nyeri, mampu Kontrol lingkungan yang dapat Menurunkan rasa nyeri pasien
menggunakan mempengaruhi nyeri seperti suhu
teknik nonfarmakologi ruangan, pencahayaan dan
untuk mengurangi nyeri, kebisingan
mencari bantuan). Kurangi faktor presipitasi nyeri Dapat menurunkan tingkat nyeri pasien
Melaporkan bahwa nyeri Seperti presipitasi kristal
berkurang dengan monosodium urat
menggunakan Kaji tipe dan sumber nyeri untuk Mengetahui perkembangan nyeri dan menentukan
manajemen nyeri melakukan intervensi. lokasi intervensi selanjutnya
Mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda Ajarkan tentang tekpnik Menurunkan ketegangan otot, sendi dan melancarkan
nyeri). nonfarmakologi : napas dalam, peredaran darah sehingga dapat mengurangi nyeri
Menyatakan rasa nyaman relaksasi, distraksi, kompres
setelah nyeri berkurang. hangat/dingin.
Tanda vital dalam Berikan analgetik untuk m Analgetik berfungsi sebagai depresan system syaraf
rentang normal pusat sehingga mengurangi atau menghilangkan nyeri
Tidak mengalami engurangi nyeri
gangguan tidur Istirahat yang cukup dapat mengurangi rasa nyeri
Tingkatkan istirahat

Pemberian Analgesik Dengan mengetahui tipe nyeri maka akan membantu


Tentukan lokasi, karakteristik, memilih tindakan yang tepat
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat. Dengan mengetahuinya lokasi, karakteristik, kualitas
Cek instruksi dokter tentang jenis dan derajat nyeri sebelum pemberian, dapat dijadikan
obat, dosis, dan frekuensi acuan untuk tindakan penghilang nyeri setelah
pemberian obat
28

Mengetahui bahwa tindakan yang diberikan adalah


Cek riwayat alergi benar
Mengetahui adanya riwayat alergi terhadap obat untuk
Pilih analgesik yang diperlukan mempermudah pemberian obat selanjutnya
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu Analgesik yang tepat membantu mempercepat
Tentukan pilihan analgesik penurunan nyeri
tergantung tipe dan beratnya nyeri
Monitor vital sign sebelum dan Dengan memonitor vital sign sebelum dan sesudah
sesudah pemberian analgesik pemberian obat dapat memberikan perbandingan
pertama kali tentang tingkat nyeri sebelum dan sesudah dilakukan
tindakan
Berikan analgesik tepat waktu Pasien tidak merasa cemas dan mengerti sebab-sebab
terutama saat nyeri hebat nyeri
Evaluasi efektivitas analgesik, Mengetahui perubahan status kesehatan setelah
tanda dan gejala (efek samping). pemberian obat

Hambatan NOC NIC


Mobilitas Fisik Gerakan bersama : aktif Exercise therapy : ambulation
berhubungan Dengan Level : Monitoring vital sign Adaanya perbedaan ttv sebelum dan sesudah
dengan nyeri 1. Tidak ada gerakan sebelum/sesudah latihan dan lihat menandakan gangguan fisik pada pasien.
persendian 2. gerakan terbatas respon pasien saat latihan
3. gerakan cukup
29

4. gerakan baik Konsultasikan dengan terapi fisik Terapi ambulasi yang tepat mempercepat proses
5. gerakan sangat baik tentang rencana ambulasi sesuai penyembuhan
Nilai yang diharapkan 4 dengan kebutuhan
sampai 5
Bantu klien untuk menggunakan Hal ini membantu pasien dalam beradaptasi dengan
Tingkat mobilitas tongkat saat berjalan dan cegah kondisinya
Dengan Level : terhadap cidera
Tergantung, tidak bisa Ajarkan pasien atau tenaga Hal ini bertujuan untuk membantu tenaga kesehatan
berpartisipasi kesehatan lain tentang teknik dalam pemberian terapi pada pasien
memerlukan bantuan dan ambulasi
penjagaan
Memerlukan bantuan
Sedikit mandiri dengan Kaji kemampuan pasien dalam Untuk mengetahui perkembangan mobilisasi pasien
penjagaan mobilisasi
Mandiri
Nilai yang diharapkan 4 Latih pasien dalam pemenuhan Untuk melatih kemampuan pasien sesuai dengan
sampai 5 kebutuhan ADLs secara mandiri kemampuannya
sesuai kemampuan
Perawatan diri: aktifitas Dampingi dan bantu pasien saat Membantu pasien dalam meningkatkan kegiatan
sehari-hari mobilisasi dan bantu penuhi sehari-hari
Dengan Level : kebutuhan ADLs pasien
Tergantung,tidak bisa Berikan alat bantu jika pasien Alat bantu seperti kursi roda, dll sangat membantu jika
berpartisipasi memerlukan pasien kesulitan dalam mobilisasi
Memerlukan bantuan dan
penjagaan
Memerlukan bantuan Ajarkan pasien bagaimana Merubah posisi bertujuan agar otot tidak tegang/kaku
Sedikit mandiri dengan merubah posisi dan berikan
penjagaan bantuan jika diperlukan
30

Mandiri Menerapkan/ menyediakan Membantu pasien melakukan gerak secara mandiri


Nilai yang diharapkan 4 perangkat bantu (tongkat, walker,
sampai 5 atau weelcheir) untuk ambulation,
jika pasien tidak stabil
Kinerja transfer :
Dengan Level :
Tergantung, tidak bisa
berpartisipasi
Memerlukan bantuan dan
penjagaan
Memerlukan bantuan
Sedikit mandiri dengan
penjagaan
Mandiri.
Nilai yang diharapkan 4
sampai 5

Kriteria Hasil :
Klien meningkat dalam
aktivitas fisik.
Mengerti tujuan dari
peningkatan mobilitas.
Memverbalisasikan
perasaan dalam
meningkatkan kekuatan
dan kemampuan
berpindah.
Memperagakan
31

penggunaan alat Bantu


untuk mobilisasi.

Defesiensi NOC NIC


pengetahuan Pengetahuan proses Program penyuluhan
berhubungan penyakit pengetahuan proses penyakit
dengan Dengan Level : Kaji tingkat kemampuan klien Menentukan informasi yang diberikan.
kurangnya Tidak ada tentang penyakitnya.
pemahaman Terbatas Berikan kesempatan pada klien Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi apa yang
pengobatan dan Cukup untuk mengungkapkan dirasakan dan cara menghadapinya secara langsung.
perawatan di Sedang perasaannya.
rumah . Banyak
Nilai yang diharapkan 3
sampai 5 Pilih berbagai strategi belajar. Penggunaan cara yang berbeda tentang mengakses
informasi, meningkatkan penerapan pada individu
yang belajar.
Pengetahuan prilaku Tinjau tujuan dan persiapan Ansietas karena ketidaktauan akan meningkatkan stres
kesehatan diagnostik. dan akhirnya akan meningkatkan beban kerja jantung.
Dengan Level :
Tidak ada
Terbatas
Cukup Diskusikan tentang rencana diet. Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet akan
Sedang membantu pasien dalam merencanakan
Banyak makan/mentaati program.
Nilai yang diharapkan 3
sampai 5 Diskusikan tentang proses Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan
penyakit, efek, tanda dan gejala dalam kontrol Artritis rheumatoid.
Kriteria Hasil : dan faktor-faktor yang memegang
32

Pasien dan keluarga peranan dalam control arhtritis


menyatakan pemahaman rheumatoid. Dapat meningkatkan keinginan pasien untuk mematuhi
tentang penyakit,kondisi, Diskusikan tentang komplikasi program diet dan aktivitas sesuai jadwal.
prognosis dan program yang akan terjadi bila pasien tidak
pengobatan Pasien dan mematuhi program diet dan
keluarga mampu aktivitas serta pencegahan
melaksanakan prosedur komplikasi. Meningkatkan mekanisme koping keluarga
yang dijelaskan secara Berikan dukungan secara moril
benar Pasien dan keluarga dan spiritual pada keluarga.
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya
Gangguan citra NOC NIC
tubuh Citra tubuh Peningkatan citra tubuh
berhubungan Dengan Level : Kaji dan dokumentasikan respon Dapat menunjukan depresi atau keputusasaan.
dengan Tidak pernah positif verbal dan nonverbal pasien
penyakit, Jarang positif terhadap tubuh pasien.
deformitas sendi Kadang-kadang positif Indentifikasi mekanisme koping Meningkatkan perasaan kompetensi atau harga diri,
Sering yang biasa digunakan pasien. mendorong kemndirian partisipasi dalam terapi.
Selalu
Nilai yang diharapkan 4 Tentukan harapan pasien terhadap Memberi kesempatan untuk mendiskusikan persepsi
sampai 5 citra tubuh berdasarkan tahap pasienterhadap diri atau gambaran diri dan kenyataan
perkembangan. situasi individu.
Harga diri
Dengan Level :
Tidak pernah positif Tentukan apakah persepsi Menunjukan perasaan isolasi dan takut terhadap
Jarang positif ketidaksukaan terhadap penolakan dan penilaian orang lain.
33

Kadang-kadang positif karakteristik tertentu membuat


Sering diskusi paralisis social bagi
Selalu. remaja dan pada kelompok resiko
Nilai yang diharapkan 4 tinggi lainnya.
sampai 5 Tentukan apakah perubahan fisik Dapat menunjukan emosional ataupun metode koping
saat ini telah dikaitkan kedalam maladataif.
Kriteria Hasil : citra tubuh pasien.
Body image positif Identifikasi terhadap pengaruh Perubahan fisik dan psikologis seringkali
Mampu mengidentifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, menimbulkan stresor dalam hubungan keluarga yang
kekuatan personal dan usia pasien menyangkut citra mempengaruhui peran atau harapan semula.
Mendiskripsikan secara tubuh.
factual peubahan fungsi
tubuh
Mempertahankan Pantau frekuensi penyakit kritik Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi
interaksi sosial diri. persepsi diri.
Kesesuaian antara
realitas tubuh, ideal Ajarkan tentang cara merawat dan Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk
tubuh, perwujudan tubuh. perawatan diri, termasuk memperbaiki kepercayaan diri dan penerimaan situasi.
Gambaran internal diri komplikasi kondisi medis.
Deskripsi yang terkena
dampak. Rujuk ke pelayanan sosial untuk Pendekatan penyeluruhan diperlukan untuk membantu
Keinginan untuk merencanakan perawatan dengan pasien untuk menghadapi rehabilitas dan kesehatan.
menyentuh bagian tubuh pasien dan keluarga.
yang mengalami Dengarkan pasien dan keluarga Bantu pasien atau orang terdekat untu menerima
gangguan. secara aktif dan akui realitas perubahan dan merasakan baik tentang diri sendiri.
kekhawatiran terhadap perawatan,
kemajuan, dam prognosis.
Beri dorongan kepada pasien dan
34

keluarga untuk mengungkapkan Mendemonstrasikan penerimaan atau membantu


perasaan dan untuk berduka jika pasien untuk mengenal dan mulai perasaan ini.
perlu.
Bantu pasien dan keluarga utuk
mengidentifikasi dan mengunakan Membantu pasien atau keluarga untuk
mekanisme koping. mempertahankan kontrol diri, yang dapat
meningkatkan perasaan harga diri.
Berikan perawatan dengan cara
yang tidak menghakimi, jaga Mempertahankan penampilan yang dapat
privasi, dan martabat pasien. meningkatkan citra diri.
Risiko cedera NOC NIC
berhubungan Kontrol risiko Manajemen lingkungan
dengan Dengan Level : Identifikasi faktor yang Mengidentifikasi bantuan dan dukungan yang
hilangnya Tidak pernah mempengaruhi kebutuhan diperlukan.
kekuatan otot Jarang keamanan, misalnya perubahan
Kadang-kadang status mental, derajat keracunan,
Sering keletihan, usia kematangan,
Selalu pengobatan, dan defisit motorik
Nilai yang diharapkan 4 dan sensorik (misalnya
sampai 5 kesimbangan dan berjalan).
Identifikasi faktor lingkungan Mengidentifikasi lingkungan yang aman untuk pasien
yang memungkinkan resiko
Kriteria Hasil : terjatuh (mis, lantai licin, karpet
Klien terbebas dari yang sobek, anak tangga tanpa
cedera Klien mampu pengaman, jendela, kolam
menjelaskan cara/metode renang).
untuk mencegah injury/ Bantu ambulasi pasien jika perlu. Mencegah jatuh dengan cedera
cedera Orientasi kembali pasien terhadap Memperkenalkan lingkungan baru kepada pasien
35

realitas dan lingkungan saat ini


bila dibutuhkan.
Sediakan alat bantu berjalan. Membantu pasien dalam berjalan dan mengurangi
resiko jatuh.
Sediakan lingkungan aman untuk Mengurangi cidera yang tidak disengaja yang dapat
pasien. menyebabkan pendarahan.
Memasang side rail tempat tidur. Mengurangi resiko jatuh.

Menyediakan tempat tidur yang Memberikan kenyamanan dan mengurangi gangguan


nyaman dan bersih. tidur.

Menganjurkan keluarga Keluarga sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan.


menemani pasien.
Gangguan Pola NOC NIC
Tidur Anxiety reduction Sleep Enhancement
berhubungan Comfort level Determinasi efek-efek medikasi Mengetahui efek yang terjadi bila pola tidur tidak
dengan nyeri Pain level terhadap pola tidur teratur
Rest : Extent and Pattern
Kriteria Hasil : Jelaskan pentingnya tidur yang Kualitas tidur sangat penting untuk kesehatan
Jumlah jam tidur dalam adekuat
batas normal 6-8 jam/hari Fasilitas untuk mempertahankan Dapat membuat otot-otot lebih relaks sebelum tidur
Pola tidur, kualitas dalam aktivitas sebelum tidur (membaca)
batas normal Ciptakan lingkungan yang
Perasaan segar sesudah nyaman Lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan kualitas
tidur atau istirahat tidur
Mampu mengidentifikasi
hal-hal yang Diskusikan dengan pasien dan
meningkatkan tidur keluarga tentang teknik tidur Mengetahui teknik mendapatkan tidur yang berkualitas
36

pasien

Instruksikan untuk memonitor


tidur pasien Mengontrol waktu tidur pasien
Monitor waktu makan dan minum
dengan waktu tidur Memgetahui batasan antara waktu makan dan waktu
Monitor/ catat kebutuhan tidur tidur pasien
pasien setiap hari dan jam Mengetahui kualitas tidur pasien setiap harinya
Kolaborasi pemberian obat tidur
Obat tidur yang sesuai dapat membuat tidur lebih
berkualitas

(Sumber : Nurarif,A.H,2013; Sue, 2013; Gloria, 2013)


37

Implementasi Keperawatan

Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan adalah


kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai
tindakan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan
diselesaikan. Implementasi mencakup melakukan, membantu atau mengarahkan
kinerja aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan arahan perawatan untuk
mencapai tujuan yang berpusat pada klien dan mengevaluasi kerja anggota staf dan
mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan
kesehatan berkelanjutan dari klien. Implementasi meluangkan rencana asuhan
kedalam tindakan. Setelah rencana dikembangkan, sesuai dengan kebutuhan dan
prioritas klien, perawat melakukan intervensi keperawatan spesifik, yang mencakup
tindakan perawat dan tindakan (Potter & Perry, 2005).

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah proses keperawatan mengukur respon klien terhadap tindakan


keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Tahap akhir yang
bertujuan untuk mencapai kemampuan klien dan tujuan dengan melihat
perkembangan klien. Evaluasi klien gout artritis dilakukan berdasarkan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya pada tujuan (Potter & Perry, 2005).

Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang


dimiliki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk
kepentingan klien, perawat dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap secara tertulis dengan
tanggung jawab perawat (Hidayat, 2002).

c) Medik