Anda di halaman 1dari 28

Syekh Siti Jenar

SYEKH SITI JENAR (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan
Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di
Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak
varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling
Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual
yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya
sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi
pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran
Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan
aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
1. Konsep dan ajaran
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati,
Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syeh Siti Jenar memandang bahwa
kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum
sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya),
tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut
ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus
memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru
berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syech Siti Jenar juga berpendapat
bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh
para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal
sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan
sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat
(dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-
amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan
kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Marifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan.
Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf
yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun
pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima
ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran
Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan syariat. Sedangkan ajaran Siti Jenarsudah
memasuki tahap hakekat dan bahkan marifatkepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang
mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat
dibendung dengan kata SESAT.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya
sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda beda dan
menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing masing pemeluk
tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syech Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam
menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.
1. 1. Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan
Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan
kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, Manunggaling Kawula Gusti adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh
yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Quran yang menerangkan tentang penciptaan
manusia (Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia
dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72))>. Dengan demikian ruh
manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Quran dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik
bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling
Kawula Gusti.
2. Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama
dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung
atau Allah.
Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap
kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah. disekelilingnya
tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah
terhadap Hamba ini. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang
berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah
ditetapkan Allah untuk manusia.Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi
tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden
dll mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa
ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan
yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia
tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS.Maka Nabi ISA diangkat Allah
beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam
masyarakat jawa kematian ini disebut MUKSO ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

2. 1. Hamamayu Hayuning Bawana


Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin.
Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan
bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
3. Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat
kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan,
Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu
murid Syeh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit
(sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan
terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat
mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak
Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat
membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke
Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa
Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi [b]Syekh Siti
Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja.[/b] Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan
oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan
Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng. (Walet: Ini adalah Noordin M Top Jaman
Dulu)
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar.
Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena
beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika
memang ia dan budinya menghendaki.
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-
muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki
Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri kematian-nya dengan cara yang misterius seperti
yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.[rujukan?]
4. Kisah pada saat pasca kematian
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid
Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari
jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain
mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk
menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki
Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.
MENGENAL NAMA SYEKH SITI JENAR
Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil
pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh Abdul Jalil
(nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama
yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata;
nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan
pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang,
suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar
jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah
Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-
paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya
adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada
Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau
Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang,
serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan
Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh
Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.
Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu
kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan
dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini.
Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg
setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai
bentuk manunggaling rasa (menyatu rasa ke dalam Tuhan).
Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah
di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh
Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas
dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan
sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.
Asal Usul Syekh Siti Jenar
Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja,
Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta,
1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah
Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti
Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional
Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza
Javaansche Geschiedenis, s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol,
1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal
sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan
sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn
kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad
ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk mengubur segala yg berbau Syekh Siti
Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui
Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti
Jenar berasal dari cacing.
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, Wondene
kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa
darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang. [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti
Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat
jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]..
Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan
setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil
oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil adalah
putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin
Husain bin Syekh Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid Abdul Malikal-Qazam. Maulana Abdullah
Khannuddin adalah putra Syekh Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh
kalangan Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik
berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.
Syekh Abdul Malik adalah putra Syekh Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal
Syekh Isa al-Muhajir al-Bashari al-Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia,
menyiarkan agama Islam. Syekh Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya
pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain
bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek
buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah
Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke
Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana sa atau Syekh Datuk Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di
Malaka. Syekh Maulana Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk
Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian
menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan
pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan
Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan
Syekh Jabaranta dan Syekh Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti
Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh
Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban,
besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua
bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki
Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk
Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak
kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen
dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.
Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan
Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih
dan ilmu alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam
dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.
Padepokan Giri Amparan Jati
Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil
(San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik
agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus] .
Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama
nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi
kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung
Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari
perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri
Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.
Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad
untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia
bertekad untuk mencari sangkan-paran dirinya.
Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di
Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti
dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.
Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia.
Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi
tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, bersatu dan melebur (fana) dgn Dia Yang Hampa,
Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini,
aku menyatu dgn Aku. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu
keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana fi al-fana), yakni dimensi
tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi Aku.
Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar,
seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa
tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.
Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria
Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan
dari konsep nurun ala nur (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi
emanasi.
Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan
suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis
dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San
Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah
gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh
masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra
Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan
nama ke-ulama-an Syekh Datuk Abdul Jalil.
Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai
keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik
(pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang
futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh
jalan rohani); gurun riya (bangga rohani); rimba sumah (pamer rohani); samudera ujub (kesombongan
intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).
Pencerahan Rohani di Baghdad
Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan
Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama
pusat kota suci Makkah.
Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad
Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu
perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu ke-Esaan afal Allah, yakni kesadaran bahwa
setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat
pada hakikatnya adalah afal Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan
langsung bagaimana afal Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.
Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti
Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti
Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi
justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-
NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki
nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.
Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah
cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab
marifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh Abdul
Mubdi al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syiah Jafariyyah, yg di
kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.
Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922),
al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Taaruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-
nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu Arabi (1165-1240), Ihya
Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode
al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili,
merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.
Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili
ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syari madzhabi yg
ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada
paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena
kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan
sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan
Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.
Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar
adalah kitab Haqiqat al-Haqaiq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Marifat al-Awakhiri wa al-
Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab
tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh Abdul Karim al-Jili.
Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan
pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-
konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-
paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki
ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan
Ibnu Arabi.
Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas,
gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman
rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke
Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta
khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.
Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg
digelar diberbagai sama khana. Sama khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan
musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama khana mulai bertumbuhan di
Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah
al-Qawwal dgn penyanyi sufinya Abdul Warid al-Wajd.
Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawaid (memancarnya
potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan
menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami (mengejawantahnya cahaya rohani akibat
tersingkapnya fawaid), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam
kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai
penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan
pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu Arabi dan al-Jili.
Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting
dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-
akbar, fabudni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah
aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli
Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fabuduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir
nafsi, sebagai cerminan hasil man arafa bafsahu faqad arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh
Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah al-Insan sirri wa ana sirruhu (Manusia adalah
Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).
Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu Arabi
(560/1165-638-1240), Maruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik
dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami
intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.
Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)
SATU
Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.
Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: Pernyataan roh yg bertemu-hadapan
dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.
Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di
kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman
roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mirah al-haya (cermin yg memalukan). Bagi orang yg
sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana cermin tersebut akan muncul, yg
menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai
Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), aku ini kau, tapi
kau aku.
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki
wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat
kawula-Gusti.
DUA
Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang
pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur
bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula
budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai
pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu
pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula
menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan,
sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang
menyesalkan perbuatannya.
Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan
pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan
dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu
nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.
Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan
budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak
terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah,
Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga
nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syariat justru malah merendahkan nama-NYA.
TIGA
Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana
cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga.
Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya
seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam
semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan
batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam
semesta sesudah dia membuat dunia.
Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan
mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan
mengalami kerusakan atau tidak kekal.
Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik,
Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya. Sebab bagi Syekh Siti Jenar
manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam
semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk
semesta.
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang
Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh
seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman
yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah
menjadi tanah. Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.
EMPAT
Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah afal (perbuatan) Allah. Berbagai
hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan
yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah. Afal Allah harus dipahami
dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan
dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati
gerak pena. Di situlah berlaku dalil Wa Allahu khalaqakum wa ma tamalun (Qs.Ash-Shaffat:96), yg
maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna
mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg
terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ
berlaku dalil Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17), maksudnya bukanlah
engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada
hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni afal Allah sehingga berlaku dalil la
haula wa la quwwata illa bi Allahi al-aliyi al-adzimi. Rosulullah bersabda La tataharraku dzarratun illa bi
idzni Allahi, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.
Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain
adalah ke-Esa-an dalam afal Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar afal, sebab afal digerakkan oleh
dzat. Sehingga afal yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana afal itu dipancarkan.
LIMA
Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah.
Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg
lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku
dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti,
kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman
langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat
dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan
aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu
hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar
lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat
dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.
Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam
dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara
keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg
selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada
di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati.
Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena
ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh
suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan
berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.
Semoga yg ini bermanfaat dalam kepasrahan yg tidak bisa dipikir dgn Akal tapi dengan Hati yang sulit
mengungkapkan rasa Cinta itu secara Tulus.
Walaupun rasa Cinta itu sulit diungkapkan dgn bahasa kita yg sangat terbatas ini..amin.amin.
Surga dan Negara Syekh Siti Jenar
anal jannatu wa nara katannalr al anna, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan
hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah inna al-janatu wa al-naru qathun an
al-ana (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di
dunia ini). Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang
menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib
rusak dan binasa. Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan
pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari
keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu
kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup
Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu
sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia. Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk,
maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang
sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan
yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Quran sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia
hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ilaihi rajiun, ilaihi al-mashir
Puasa dan Haji Syekh Siti Jenar
Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik
haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan
terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak
kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.
Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya
besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal! Di
dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka
nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal
saja, yaitu Gusti Zat Maulana.
Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah omong kosong belaka,
atau wes palson kabeh(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan
anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syariat Islam. Yang
ditolak adalah reduksi atas syariat tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah iku wes palson
kabeh, yg artinya itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua. Tentu ini berbeda pengertiannya
dengan kata iku palsu kabeh atau itu palsu semua. Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah
penekanan bahwa syariat Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran
makna dalam pengertian syariat itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat
melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari
aplikasi formal syariat tsb.
Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau
kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu
ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka
semuanya merupakan keburukan di bumi.
Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat
hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syariat juga tidak
lagi memahami makna dan manfaat syariat itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi
syariat yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syariat menjadi hampa makna dan menambah
gersangnya kehidupan rohani manusia.
Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat
haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn
bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka
hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha
Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta
itulah shalat yg sesungguhnya.
MAKNA IHSAN SYEKH SITI JENAR
Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-
NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan
hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor,
untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat
dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.
Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua
puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia,
maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam
raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam
semesta, Ngidraloka.
Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah
merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih
Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat
langsung) langsung adanya si Mabud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg
kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.
Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-
NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan
sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan
memaklumkan pengalamannya dalam menyaksikan langsung ada-NYA Allah. Persaksian langsung
itulah terjadi dalam proses manunggal.
Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud,
seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya
atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada
bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.
Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh
eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan
membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu,
sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta
kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan
masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi
manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang WidhiAllah (seperti
Rosul sering sekali mengatakan bahwa Sesungguhnya mereka tidak mengerti).
Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta
merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya
sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab
akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan
hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syariat Islam.
Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan
proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia
merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka
akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg
dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi
terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia. Sehingga proses terjadinya keselamatan dan
kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia,
baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini
terjadi. Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir
dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan
menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan
terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia
tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham
keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.
TAFSIR KISAH MUSA DAN KHIDIR (SYEKH SITI JENAR)
Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani.
Apa yg disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu
tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu
adalah Lautan Makna (bahr al-mana), perlambang alam tidak kasatmata (alam al-ghaib) dan lautan
Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (alam asy-syahadat).
Sedangkan kawanan udang adalah perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di
perbatasan alam kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para penempuh
jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg
berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh diliputi
hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.
Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-
Quran Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah
peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah
saya jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-Quran tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna
(bahr al-mana) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan
atau sekat (barzakh).
Ikan dan lautan dalam kisah Qurani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (alam asy-syahadat)
yg berbeda dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (alam al-ghaib). Maksudnya,
jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri,
yaitu di wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat sang ikan berenang di
dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan
bahwa sang ikan yg berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air
(dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam
tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah
sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana
pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.
Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di
dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang diliputi udara
kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi
Musa AS hidup di dalam liputan udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak
bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi
Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana
pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa dilihatnya.
Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan
adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik keberadaan
pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi
manusia dari Kebenaran sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah). Itu
sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia
sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.
Adapun bekal makanan yg berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-amal ash-shalih)
yg hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran
sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya,
sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.
Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai
memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan
masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya
Nabi Musa AS.
Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu
melompat ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari
kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawaid berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat
Khidir AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari citra
ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).
Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air
Kehidupan (ma al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara
manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya
manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang (ar-Rahim).
Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg
tersembunyi di dalam diri manusia, Sang Penuntun anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran
Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid
adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki (as Rasyid).
Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi,
mursyid sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah
kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-mana) yg merupakan hamparan
permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashirab) itu pada titik
ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.
Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg
hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan
mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi
kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami
Nabi Musa AS.
Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan
perjalanan memasuki Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan
menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah
perlambang dari wahana (syariah) yg lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan,
yakni perlambang perbuatan baik (al amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna
menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya,
perahu (syariah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang
perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.
Setelah penumpang perahu mengenal air yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa
lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg merupakan permukaan
Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka
perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan
menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa
melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru
hamparan Lautan Wujud. Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain,
yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja menyukai
hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan
pengejawantahan Yang Maha Indah (al Jamal).
Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana (syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam
perjalanan menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.
Sebab, wahana adalah kendaraan bagi manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke
Taman Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam yg
tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk
menetapkan hukum yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS bertanya
sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat
perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syariat) dan akal sehat yg
berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan
menegakkan tembok runtuh tanpa upah.
Namun jika wahana (syariah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah
sama, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (aql) melainkan dgn
dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang
keras juga harus pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi
bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA
maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia
(walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg
tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan
mengharap limpahan rahmat dan hidayah-NYA.
Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai
berikut.
Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh
imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu
sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak
terganggu.
Sesungguhnya, di dalam perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana
keakuan kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari kehambaan dirinya terhadap
Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul).
Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika keakuan yg kerdil
dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat
dengan mata batin bahwa dia sesungguhnya adalah hamba dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya
Yang Terpuji (Nur Muhammad).
Sesungguhnya, keakuan kerdil yg kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia
yg cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti
merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan berbakti kepada
Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim
AS akan menyembelih Nabi Ismail AS Pembuhunan itu adalah perlambang puncak dari keimanan
mereka yg beriman (mumin).
Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ala) yg
disebut juga dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan
Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg
dibawahnya tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.
Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi
Musa AS, yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan jati diri
manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis),
terkucil sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu
adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mirah
al-hayaI).
Adapun gambaran tentang ayah yg salih dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah
Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-
futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa
AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan
rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).
Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua,
yaitu pertama keberadaan sebagai al-basyar anak Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg tercipta;
dan keberadaannya sebagai roh anak Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan
(nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad
ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).
Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan
warisan ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-jalal (al-
jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya,
saat itu keberadaan al-basyar anak Adam AS akan terserap ke dalam roh anak Nur Muhammad. Saat
itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ala Nurin) yg
merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa
diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan
dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.
TANYA JAWAB DENGAN SYEH SITI JENAR
Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek
kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari
ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia
dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang
khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok
yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup
yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.
Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk
dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian
dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang
kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur.
Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.
Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar
berkata,Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah. Antara
lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak,
berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan-
pertanyaan sebagai berikut;
M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?
S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama
manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun
sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah
adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh
mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang
bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak
berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di
mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.
M ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !
S ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana.
kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau
menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang.
Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu
dipersoalkan terlebih dahulu.
M ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?
S ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa
butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang
sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.
M ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat
disamakan dengan Allah ?
S ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap
berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah
yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit
dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.
M ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?
S ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan
menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara
syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan
orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan
sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan
cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan
Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi
bertuah.
M ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?
S ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu
dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak
Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan
suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.
M ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?
S ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan
zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat
kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan
air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali
kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun
mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu
membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ?
masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih
berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum
tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,..aneh!
M ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali
diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini
bagaimana ?
S ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu
mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna,
maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang
dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut
Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan
sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang
lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.
M ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?
S ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian
gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau
gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-
lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya
kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai
duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali
menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang
dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala
yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.
M ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?
S ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua
timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan,
kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku
(Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan
kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang
tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik
dalam wujud maupun dalam pengertian.
M ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?
S ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.
M ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?
S ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian.
Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya,
dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan
penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.
M ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?
S ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak
mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan
lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada
bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat
lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala
perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.
M ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci?
S ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat
disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai
warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada
bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan
seperti bintang yang bersinar cemerlang. Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya
indah sekali seperti cahaya.
M ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas
singgasana layaknya raja.
S ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, Itu salah besar, itu kebodohan.
Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi).
Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian
menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.
M ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?
S ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah. Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi
ada di mana-mana.
M ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?
S ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita.
Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin.
Hanya mereka yang dapat merasakannya.
M ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?
S ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi
dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali.
Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang
yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak,
mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi
satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu
aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan
keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur
Muhammad.
M ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ?
Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?
S ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja
memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh.
Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah
manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad
yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca
indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam. Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan
berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian
jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah
ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.
M ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?
S ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu,
kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di
dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak
menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan
sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui
kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak
bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat
dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang sesungguhnya adalah
setelah nyawa lenyap dari badan.
M ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan
kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?
S ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus
ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.
M ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?
S ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi, jiwa itu milik Allah, sedangkan akal
milik manusia. Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan
keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan.
Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur.
Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.
M ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia
diberi akal oleh Allah ?
S ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat
dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya
membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.
M ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?
S ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran,
dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.
M ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-
Gusti ?
S ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh
kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga
menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.
M ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika
kelak telah terlepas rohnya ?
S ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya
badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang
memberatkan dan menyakitkan roh kalian.
M ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?
S ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena
terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan serabut atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak
sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai
kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan
itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali
memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih
sampai pada makna yang hakiki.
M ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?
S ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu
sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan
siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian. Berada di dalam
jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat
menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi
kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut
surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang.
Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah
pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.
M ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?
S ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib
dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.
M ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah
merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia
agar tidak berbuat buruk ?
S ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di
akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir
merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya
hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun
badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah
yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar
biasa akan dirasakan.
M ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada
dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?
S ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di
dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan
dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia
baru untuk keduakalinya ? Tidak !
M ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya
dengan alam akhirat ?
S ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang
semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan
penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta
oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu
dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana
cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang
sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung
lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan
Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.
M ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?
S ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau
mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal
kehidupan palsu seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.
M ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?
S ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi
dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.
M ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab.
Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.
S ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa
nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.
M ; Maaf saya belum paham Syekh.
S ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam
diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan
dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka berbuat buruk. Apabila jiwa
mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa
membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan
mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.
M ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau
mencegah dan kadang membiarkannya ?
S ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai,
maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini
adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka
seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.
Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan
bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada.
Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka
mustahil sesuatu yang wujud itu ada.
Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih
terlalu awam terhadap Islam, sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.
AJARAN SYEKH SITI JENAR MENURUT PANGERAN PANGGUNG
.Saya mencari ilmu sejati yang berhubungan langsung dengan asal dan tujuan hidup, dan itu saya
pelajari melalui tanajjul tarki. Menurut saya , untuk mengharapkan hidayah hanyalah bias didapat dengan
kesejatian ilmu. Demi kesentausaan hati menggapai gejolak jiwa, saya tidak ingin terjebak dalam syariat.
Jika saya terjebak dalam syariat, maka seperti burung sudah bergerak, akan tetapi mendapatkan pikiran
yang salah. Karena perbuatan salah dalam syariat adalah pada kesalahpahaman dalam memahami
larangan. Bagi saya kesejatian ilmu itulah yang seharusnya dicari dan disesuaikan dengan ilmu
kehidupan. Kebanyakan manusia itu, jika sudah sampai pada janji maka hatinya menjadi khawatir,
wataknya selalu was-wassenantiasa takut gagal.Alam dibawah kolong langit, diatas hamparan bumi
dan semua isi didalamnya hanyalah ciptaan Yang Esa, tidak ada keraguan. Lahir batin harus bulat,
mantap berpegang pada tekad. (Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 1-2).
Yang membuat kita paham akan diri kita, Pertama tahu akan datang ajal, karena itu tahu jalan
kemuliaannya, Kedua, tahu darimana asalnya ada kita ini sesungguhnya, berasal dari tidak ada.
Kehendak-Nya pasti jadi, dan kejadian itu sendiri menjadi misal. Wujud mustahil pertandanya sebagai
cermin yang bersih merata keseluruh alam. Yang pasti dzatnya kosong, sekali dan tidak ada lagi. Dan
janganlah menyombongkan diri, bersikaplah menerima jika belum berhasil. Semua itu kehendak Sang
Maha Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, manusia didunia ini hanya satu repotnya. Yaitu tidak
berwenang berkehendak, dan hanya pasrah kepada kehendak Allah.
Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa. Itulah sarana utama, yakni
cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya,
melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai kebenaran,
dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang
Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya dengan Hidup
Sang Sukma, karena sukmaitu adalah Allah. .
Waktu shalat merupakan pilihan waktu yang sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat.
Mengertikah Anda, mengapa shalat dzuhur empat rakaat? Itu disebabkan kita manusia diciptakan
dengan dua kaki dan dua tangan. Sedang shalat Ashar empat rakaat juga, adalah kejadian bersatunya
dada dengan Telaga al-Kautsar dengan punggung kanan dan kiri. Shalat Maghrib itu tiga rakaat, karena
kita memiliki dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Adapun shalat Isya enjadi empat rakaat karena
adanya dua telinga dan dua buah mata. Adapun shalat Subuh, mengapa dua rakaat adalah perlambang
dari kejadian badan dan roh kehidupan. Sedangkan shalat tarawih adalah sunnah muakkad yang tidak
boleh ditinggalkan dua rakaatnya oleh yang melakukan, men-jadi perlambang tumbuhnya alis kanan dan
kiri.
Adapun waktu yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya. Shalat Subuh, yang
memiliki adalah Nabi Adam. Ketika diturunkan dari surga mulia, berpisah dengan istrinya Hawa menjadi
sedih karena tidak ada kawan. Lalu ada wahyu dari melalui malaikat Jibril yang mengemban perintah
Tuhan kepada Nabi Adam, Terimalah cobaan Tuhan, shalat Subuhlah dua rakaat. Maka Nabi
Adampun siap melaksanakannya. Ketika Nabi Adam melaksanakan shalat Subuh pada pagi harinya,
ketika salam. Telah mendapati istrinya berada dibelakangnya, sambil menjawab salam. Shalat Dzuhur
dimaksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim pada zaman kuno mendapatkan cobaan besar, dimasukkan
ke dalam api hendak dihukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu ilahi, disuruh untuk
melaksanakan shalat Dzuhur empat rakaat. Nabi Ibrahim melaksanakan shalat, api padam seketika.
Adapun shalat Ashar, dimaksudkan ketika Nabi Yunus sedang naik perahu dimakan ikan besar. Nabi
Yunus merasakan kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu itu terdapat wahyu Ilahi, Nabi
Yunus diperintahkan melaksanakan shalat Ashar empat rakaat. Nabi Yunus segera melaksanakan, dan
ikan itu tidak mematikannya. Malah ikan itu mati, kemudian Nabi Yunus keluar dari perut ikan.
Sedangkan shalat Maghrib pada zaman kuno yang memulainya adalah Nabi Nuh. Ketika musibah banjir
bandang sejagat, Nabi Nuh bertaubat merasa bersalah. Dia diterima taubatnya disuruh mengerjakan
shalat. Kemudian Nabi Nuh melaksanakan shalat Maghrib tiga rakaat, maka banjirpun surut seketika.
Shalat Isya sesungguhnya Nabi Isa yang memulainya. Ketika kalah perang melawan Raja Harkiyah
(Juga disebut Raja Herodes, atasan Gubernur Pontius Pilatus) semua kaumnya bingung tidak tahu utara,
selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa merasa susah, dan tidak lama kemudian datang malaikat Jibril
membawa wahyu dengan uluk salam. Nabi Isa diperintahkan melaksanakan shalat Isya. Nabi Isa
menyanggupinya, dan semua kaumnya mengikutinya, dan malaikat Jibril berkata, Aku yang
membalaskan kepada Pendeta Balhum. .
Menurut pemahaman saya, sesuai petunjuk Syekh Siti Jenar dahulu, anasir itu ada empat yang berupa
anasir batin dan ansir lahir. Pertama, anasir Gusti. Perlu dipahami dengan baik dzat, sifat, asma dan afal
(perbuatan) kedudukannya dalam rasa. Dzat maksudnya adalah bahwa diri manusia dan apapun yang
kemerlap di dunia ini tidak ada yang memiliki kecuali Tuhan Yang Maha Tinggi, yang besar atau yang
kecil adalah milik Allah semua. Ia tidak memiliki hidupnya sendiri. Hanya Allah yang Hidup, yang Tunggal.
Adapun sifat sesungguhnya segala wujud yang kelihatan yang besar atau kecil, seisi bumi dan langit
tidak ada yang memiliki hanya Allah Tuhan Yang Maha Agung. Adapun asma sesungguhnya, nama
semua ciptaan seluruh isi bumi adalah milik Tuhan Allah Yang Maha Lebih Yang Maha Memiliki Nama.
Sedangkan artinya afal adalah seluruh gerak dan perbuatan yang kelihatan dari seluruh makhluk isi bumi
ini adalah tidak lain dari perbuatan Allah Yang Maha Tinggi, demikian maksud anasir Gusti.
Anasir roh, ada empat perinciannya yang berwujud ilmu yang dinamai cahaya persaksian (nur syuhud).
Maksudnya adalah sebagai berikut : pertama, yang disebut wujud sesungguhnya adalah hidup sejati atau
amnusia sejati seperti pertempuran yang masih perawan itulah yang dimaksud badarullah yang
sebenarnya. Kedua, yang disebut ilmu adalah pengetahuan batin yang menjadi nur atau cahaya
kehidupan atau roh idhafi, cahaya terang menyilaukan seperti bintang kejora. Ketiga, yang dimaksud
syuhud adalah kehendak batin kejora. Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin tatkala
memusatkan perhatian terutama ketika mengucapkan takbir. Demikianlah penjelasan tentang anasir roh,
percayalah kepada kecenderungan hati.
Anasir manusia maksudnya hendaklah dipahami bahwa manusia itu terdiri dari bumi, api, angin dan air.
Bumi itu menjadi jasad, api menjadi cahaya yang bersinar, angin menjadi napas keluar masuk, air,
menjadi darah. Keempatnya bergerak tarik menarik secara ghaib. Demikianlah penjelasan saya tentang
anasir. .
WASIAT DAN AJARAN SYEKH AMONGRAGA
Syekh Amongraga adalah salah seorang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar pada masa Sultan Agung
Hanyokusumo (1645). Mengenai rincian kehidupan dan ajaran Syekh Amongraga dapat dibaca di serat
Centini.
Syekh Amongraga mewasiatkan berbagai inti ajaran yang meliputi (Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 24):
1. Rahayu ing Budhi (selamat akhlak dan moral).
2. Mencegah dan berlebihnya makanan.
3. Sedikit tidur.
4. Sabar dan tawakal dalam hati.
5. Menerima segala kehendak dan takdir Tuhan.
6. Selalu mensyukuri takdir Tuhan.
7. Mengasihi fakir dan miskin.
8. Menolong orang yang kesusahan.
9. Memberi makan kepada orang yang lapar.
10. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang.
11. Memberikan payung kepada orang yang kehujanan.
12. Memberikan tudung kepada orang yang kepanasan.
13. Memberikan minum kepada orang yang haus.
14. Memberikan tongkat penunjuk kepada orang yang buta.
15. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat.
16. Menyadarkan orang yang lupa.
17. Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah.
18. Mengasihi dan memuliakan tamu.
19. Memberikan maaf kepada kesalahan dan dosa sanak-kandung, saudara, dan semua manusia.
20. Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, merasalah
bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah
sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula) saja. Pakailah budi,
syukur, sabar, menerima, dan rela.
Syariat Palsu Para Wali Menurut Ki Cantula
Menurut ajaran guruku Syekh Siti Jenar, di dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini
tidak ada Hyang Agung serta malaikat. Akan tetapi bila saya besok sudah ada di alam kehidupan saya
akan berjumpa dan kadang kala saya menjadi Allah. Nah, di situ saya akan bersembahyang.
Jika sekarang saya disuruh sholat di mesjid saya tidak mau, meskipun saya bukan orang kafir. Boleh
jadi saya orang terlantar akan Pangeran Tuhan. Kalau santri gundul, tidak tahunya yang ada di sini atau
di sana. Ia berpengangan kandhilullah, mabuk akan Allah, buta lagi tuli.
Lain halnya dengan saya, murid Syekh Siti Jenar. Saya tidak menghiraukan ujar para Wali, yang
mengkukuhkan Syariat palsu, yang merugikan diri sendiri. Nah, Syekh Dumba, pikirkanlah semua yang
saya katakan ini. Dalam dadamu ada Al-Quran. Sesuai atau tidak yang saya tuturkan itu, kanda pasti
tahu. .
JAWABAN KI BISONO TENTANG SEMESTA, TUHAN DAN ROH
Ki Bisana menyanggupi kemudian menjawab pertanyaan dari Sultan Demak:
Pertanyaan pertama : Pertanyaan, bahwa Allah menciptakan alam semesta itu adalah kebohongan
belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Allah tidak membuat barang yang berwujud
menurut dalil : layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud.
Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya : drikumahiyati : artinya menemukan keadaan. Alam
semesta ini : la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya kalau hamba menguraikan bahwa
alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam Kuran.
Pertanyaan yang kedua : Paduka bertanya di mana rumah Hyang Widi. Hal itu bukan merupakan hal
yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua zat. Zat wajibul wujud itulah tempat tinggalnya,
seumpamanya Zat tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau hamba terangkan. Oleh karena itu
hamba cukupkan sekian saja uraian hamba.
Selanjutnya pertanyaan ketiga : berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis ke manakah perginya
nyawa itu. Nah, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa
itu bagaikan jasad , berupa gundukan, dapat aus, rusak dimakan anai-anai. Hal inipun akan panjang
sekali untuk hamba uraikan. Meskipun hamba orang sudra asal desa, akan tetapi tata bahasa kawi
hamba mengetahui juga, baik bahasa biasa maupun yang dapat dinyanyikan. Lagu tembang sansekerta
pun hamba dapat menyanyikan juga dengan menguraikan arti kalimatnya, sekaligus hamba bukan
seorang empu atau pujangga, melainkan seorang yang hanya tahu sedikit tentang ilmu.
Itu semua disebabkan karena hamba berguru kepada Syekh Siti Jenar, di Krendhasawa, tekun
mempelajari kesusasteraan dan menuruti perintah guru yang bijaksana. Semua murid Syekh Siti Jenar
menjadi orang yang cakap, berkat kemampuan mereka untuk menerima ajaran guru mereka sepenuh
hati.
Adapun pertanyaan yang keempat : paduka bertanya bagaimanakah rupa Yang Maha Suci itu. Kitab
Ulumuddin sudah memberitahukan : walahu lahir insan, wabatinul insani baitu-baytullahu (Arab asli : wa
Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widi.
Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widi. Banyak sekali yang tertulis dalam Kitab Ulumuddin, sehingga
apabila hamba sampaikan kepada paduka, Kanjeng Pangeran Tembayat tentu bingung, karena paduka
tidak dapat menerima, bahkan mungkin paduka mengira bahwa hamba seorang majenun. Demikianlah
wejangan Syekh Siti Jenar yang telah hamba terima.
Guru hamba menguraikan asal-usul manusia dengan jelas, mudah diterima oleh para siswa, sehingga
mereka tidak menjadi bingung. Diwejang pula tentang ilmu yang utama, yang menjelaskan tentang dan
kegunaan budi dalam alam kematian di dunia ini sampai alam kehidupan di Akhirat. Uraiannya jelas
dapat dilihat dengan mata dan dibuktikan dengan nyata.
Dalam memberikan pelajaran, guru hamba Syekh Siti Jenar, tiada memakai tirai selubung, tiada pula
memakai lambang-lambang. Semua penjelasan diberikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa
mengharapkan apa-apa sedikitpun. Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan
segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang
dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-
olah menjual sesuatu yang gaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang
menguntungkan untuk dirinya.
Hamba sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para wali mumin, diberitahu akan adanya
Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pangeran hamba. Ajaran yang dituntunkan
menuntun serta membuat hamba menjadi bingung dan menurut pendapat hamba ajaran mereka sukar
dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab
menjadi ilmu Budha, tetapi karena tidak sesuai kemudian mereka mengambil dasar dan pegangan
Kanjeng Nabi. Mereka mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal
ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadan, yang dilakukan dengan
mencegah makan, tiada berharap apapun.
Jadi jelas kalau para wali itu masih manganut agama Budha, buktinya mereka masih sering ketempat-
tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung atau tepi samudera dengan mengheningkan cipta,
sebagai laku demi terciptanya keinginan mereka agar dapat bertemu dengan Hyang Sukma. Itulah
buktinya bahwa mereka masih dikuasai setan ijajil. Menurut cerita Arab Ambiya, tiada orang yang dapat
mencegah sandang pangan serta tiada untuk kuasa berjaga mencegah tidur kecuali orang Budha yang
mensucikan dirinya dengan jalan demikian. Nah, silahkan memikirkan apa yang hamba katakan, sebagai
jawaban atas empat pertanyaan paduka..
SYEKH SITI JENAR MENURUT KI LONTHANG SEMARANG
Kalau menurut wejangan guru saya, orang sembahyang itu siang malam tiada putusnya ia lakukan. Hai
Bonang ketahuilah keluarnya napasku menjadi puji. Maksudnya napasku menjadi shalat. Karena tutur
penglihatan dan pendengaran disuruh melepaskan dari angan-angan, jadi kalau kamu shalat masih
mengiaskan kelanggengan dalam alam kematian ini, maka sesungguhnyalah kamu ini orang kafir.
Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, tanpa guna orang menyembah Rabbul alamien, Tuhan
sekalian alam, sebab di dunia ini tidak ada Hyang Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun
dicat dilapisi emas, akhirnya membusuk juga, hancur lebur bercampur dengan tanah. Bagaimana saya
dapat bersolek?
Menurut wejangan Syekh Siti Jenar, orang sembahyang tidak memperoleh apa-apa, baik di sana,
maupun di sini. Nyatanya kalau ia sakit, ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang
tempat. Jika ia miskin, mohon agar menjadi kaya tidak dikabulkan. Apalagi bila ia sakaratul maut,
matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan meninggalkan dunia ini. Demikianlah wejangan
guru saya yang bijaksana.
Umumnya santri dungu, hanya berdzikir dalam keadaan kosong dari kenyataan yang sesungguhnya,
membayangkan adanya rupa Zat ullahu, kemudian ada rupa dan inilah yang ia anggap Hyang Widi.
Apakah ini bukan barang sesat? Buktinya kalau ia memohon untuk menjadi orang kaya tidak diluluskan.
Sekalipun demikian saya disuruh meluhurkan Dzatllahu yang rupanya ia lihat waktu ia berdzikir,
mengikuti syara sebagai syariat, jika Jumat ke mesjid berlenggang mengangguk-angguk, memuji
Pangeran yang sunyi senyap, bukan yang di sana, bukan yang di sini.
Saya disuruh makbudullah, meluhurkan Tuhan itu, serta akan ditipu diangkat menjadi Wali, berkeliling
menjual tutur, sambil mencari nasi gurih dengan lauknya ayam betina berbulu putih yang dimasak bumbu
rujak pada selamatan meluhurkan Rasulullah. Ia makan sangat lahap, meskipun lagaknya seperti orang
yang tidak suka makan. Hal itulah gambaran raja penipu!
Bonang, jangan berbuat yang demikian. Ketahuilah dunia ini alam kematian, sedang akhirat alam
kehidupan yang langgeng tiada mengenal waktu. Barang siapa senang pada alam kematian ini, ia terjerat
goda, terlekat pada surga dan neraka, menemui panas, sedih, haus, dan lapar. .
Tiada usah merasa enggan menerima petuahku yang tiga buah jumlahnya. Pertama janganlah
hendaknya kamu menjalankan penipuan yang keterlaluan, agar supaya kamu tidak ditertawakan orang di
kelak kemudian hari. Yang kedua, jangan kamu merusak barang-barang peninggalan purba, misalnya :
lontar naskah sastra yang indah-indah, tulisan dan gambar-gambar pada batu candhi. Demikian pula
kayu dan batu yang merupakan peninggalan kebudayaan zaman dulu, jangan kamu hancur-leburkan.
Ketahuilah bagi suku Jawa sifat-sifat Hindu-Budha tidak dapat dihapus. Yang ketiga, jika kamu setuju,
mesjid ini sebaiknya kamu buang saja musnahkan dengan api. Saya berbelas kasihan kepada
keturunanmu, sebab tidak urung mereka menuruti kamu, mabuk doa, tersesat mabuk-tobat, berangan-
angan lam yakunil.
orang menyembah nama yang tiada wujudnya, harus dicegah. Maka dari itu jangan kamu terus-
teruskan, sebab itu palsu. .
KHOTBAH PERPISAHAN SUNAN PANGGUNG
Banyak orang yang gemar dengan ksejatian, tapi karena belum pernah berguru maka semua itu
dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu dianggap wjud lain. Sesungguhnya orang yng melihat sepeti
ini akan kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia berkeliling mencari, ia tidak
akan menemukan yang dicari. Padahal yang dicari, sesungguhnya telah ditimang dan dipegang, bahkan
sampai keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya tanpa guru
menyepelekan tulisan dan kesejatian Tuhan.
Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahaminya karena
ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yg diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya
itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa
sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah
ditentukan Tuhan.
Sembah puji dan puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran (asal dan tujuan).
Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur kafir yang
dijauhi justru membuat bingung sikapnya. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak
saling mendekati, sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap
ada dualisme antara Maha Pencipta dan Maha Memelihara.
Jika aku punya pemikiran yang demikian, lebih baik aku mati saja ketika masih bayi. Tidak terhitung tidak
berfikir, banyak orang yang merasa menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang dan berletih-letih
berpuasa. Semua itu dianggap akan mampu mengantarkan. Padahal salah-salah menjadikan celaka dan
bahkan banyak yang menjadi berhala.
Pemikiran saya sejak kecil, Islam tidak dengan sembahyang, Islam tidak dengan pakaian, Islam tidak
dengan waktu, Islam tidak dengan baju dan Islam tidak dengan bertapa. Dalam pemikiran saya, yang
dimaksud Islam tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram.
Adapun yang dimaksud orang Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan selamat sempurna sampai tempat
tinggalnya besok. Seperti bulu selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia
seperti itu keberadaannya.
Manusia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan.Alif menjadi panutan sebab uintuk
semua huruf, alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah.
Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat. Sebelum itu jagat ciptaan-Nya
sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud.
Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif wujud adalah Yang
Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata,
wajah, niat jati, iman, syariat.
Allah itu penjabarannya adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada
lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan
ganti dari alif, Allah itulah adanya.
Alif penjabarannya adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun
melihat Dzat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang
keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang benderang, itu memiliki
seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas
kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan dzat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua
menyebut dzikir sejati, laa ilaaha illallah. .
KEMATIAN DI MATA SUNAN GESENG
Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, pancaindera masih
tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung dan angan-angan sudah
diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah.
Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam
dalam angan-angan yang menyesatkan dan tidak nyata. Budi dan daya hidupnya tidak mau mati, ia
masih senang di dunia ini dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan pikirannya.
Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian,
pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu dan tidak tahu bahwa besok ia akan
hidup yang tiada kenal mati. Sesungguhnyalah dunia ini neraka.
Maka pendapat Kyai Siti Jenar betul, saya setuju dan tuan benar-benar seorang mukmin yang
berpendapat tepat dan seyogyanya tuan jadi cermin, suri tauladan bagi orang-orang lain.
Tarkumasiwalahu (Arab asli : tarku ma siwa Allahu), di dunia ini hamba campur dengan kholiqbta,
hambanya di surga, khaliknya di neraka agung.
Shalat (tarek dan Daim)
Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim.
Shalat tarek adalah shalat thariqah, diatas sedikit dari syariat. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang
yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling Kawula Gusti, sedang shalat daim
merupakan shalat yang tiada putus sebagai efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim
merupakan hasil dari pengalaman batin atau pengalaman spiritual. Ketika seseorang belum sanggup
melakukan hal itu, karena masih adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah shalat tarek.
Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu shalat, sedang shalat daim adalah shalat yang
tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan, mungkin
efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran ); pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.
Kata tarek berasal dari kata Arab tarki atau tarakki yang memiliki arti pemisahan. Namun maksud
lebih mendalam adalah terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-nya al-
Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah shalat yang dilakukan untuk dapat
melepaskan diri dari alam kematian dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar,
shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syariat adalah tindakan kebohongan, dan merupakan
kedurjanaan budi.
Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab 221; Shalat Tarek Limang Wektu.
(Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).
Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan dengan apa adanya dari Kitab Wedha
Mantra. Makna terjemahan yang bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman. Adapun
maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli dalam bahasa Jawa-Kawi, lebih mendalam
dan luas dari pemahaman dan terjemahan diatas.(penulisnya wanti-wanti banget). Pelaksanaan shalat
tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan shalat syariat sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan
secara terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya. Jika dalam shalat syariat, anggota
wudhu yang harus dibasuh adalah wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam shalat
tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga membasuh seluruh rambut, tempat-tempat
pelipatan anggota tubuh, pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar tumbuhnya
rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk shalat tarek sama halnya dengan mandi besar
(junub/jinabat).
Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada keduniaan, akan tetapi sudah
mendapatkan balasan surga sendiri. Maka paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya
dihafalkan, jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan ilmu ini, dapat saja dibuktikan.
Ketika kematian jasadnya didudukkan di daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub
(penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai tujuh hari, bisa dibuka, niscaya
tidak akan membusuk, (bahkan kalau iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam
kafan tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan, maka setelah mendapat tujuh hari
bisa digali kuburnya, niscaya jasadnya sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi manusia
sempurna. Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini, sudah menjadi manusia sejati.
Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara mendapatkannya adalah hasil
dari laku-prihatin, berada di dalam khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan
Tuhan sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).
Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak diperlukan, sebab yang terpenting adalah
penerapan pada diri kita masing-masing. Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita sudah
mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu jika dilaksanakan akan memancing
kehebohan, sebagaimana terjadi dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.
TIGA PULUH SATU
Shalat Subuh
Niat yang paling awal, Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya iku rohing Allah. Allah iku lungguh
ana ing paningal, shalat iku sajrone shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana
nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu taala Allahu akbar, tetep mantep
weruh ing awakku.
(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Allah. Allah yang menempati
penglihatan, shalat yang di dalam shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada
nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh,
kewajiban dari Allah taala, Allahu akbar tetap mantap mengerti akan diriku sendiri).
Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Niatnya, Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu taala Allahu akbar, tetep madhep langgeng weruh
ing sirku.
(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah taala, Allahu akbar, tetap menghadap
dengan abadi mengerti akan sir [rahasia]-ku).
Malaikatnya Haruman, pepujiannya, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Kemudian memuji; ya Rajamu, ya Rajaku. (Arab; Ya maliku al-Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, Sirrullah, darajatullah, sifatullah. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat, (Sungguh
puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung
membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku. (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku, (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
TIGA PULUH DUA
Shalat Luhur
Niat yang paling awal, Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya iku rohing Pangeran. Pangeran iku
lungguhe ana ing kaketek, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu taala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Pangeranku. (Aku
berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati
ketiak, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma
terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran
menyeluruh, kewajiban dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku).
Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Niatnya, Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu taala Allahu akbar, tetep mantep madhep
langgeng weruh ing osikku. (Aku berniat shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari Allah
taala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan bisikan nuraniku).
Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Kemudian memuji; Ya Rajamu, ya rajaku. (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, Sirrullah, darajatullah, sifatullah. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung,
tergulung membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
TIGA PULUH TIGA
Shalat Ashar
Niat yang paling awal, Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya iku rohing Rasul. Rasul iku
lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa
ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu taala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Rasulku.
(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Utusan. Utusan Tuhan
yang menempati ujung lidah, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di
dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat
kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).
Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Niatnya, Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu taala Allahu akbar, tetep mantep
madhep langgeng weruh ing angen-angenku.
(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap
menghadap dengan abadi mengerti akan angan-anganku).
Malaikatnya Mikail, pepujiannya, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Kemudian memuji; Ya Rajamu, ya rajaku. (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, Sirrullah, darajatullah, sifatullah. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung,
tergulung membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku. (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku, (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
TIGA PULUH EMPAT
Shalat Maghrib
Niat yang paling awal, Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku rohing Muhammad. Muhammad
iku lungguhe ana ing talingan, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa
ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu taala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Muhammadku.
(Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Muhammad. Muhammad yang
menempati ujung telinga, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di
dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat
kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
Muhammadku).
Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Niatnya, Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu taala Allahu akbar, tetep mantep madhep
langgeng weruh ing tekadku.
(Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap
dengan abadi mengerti akan tekadku).
Malaikatnya Israfil, pepujiannya, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Kemudian memuji; Ya Rajamu, ya rajaku. (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, Sirrullah, darajatullah, sifatullah. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung,
tergulung membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku, (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
TIGA PULUH LIMA
Shalat Isya
Niat yang paling awal, Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya iku rohing urip. urip iku lungguhe
ana ing napas, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu taala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing uripku.
(Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya kehidupan. Utusan
Tuhan yang menempati napas, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma,
di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat
kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
kehidupanku).
Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Niatnya, Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu taala Allahu akbar, tetep mantep madhep
langgeng weruh ing karepku.
(Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah taala, Allahu akbar, tetap mantap
menghadap dengan abadi mengerti akan keinginanku).
Malaikatnya Izrail, pepujiannya, Ya Hu, Ya Hu. Seratus kali.
Kemudian memuji; Ya Rajamu, ya rajaku. (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, Sirrullah, darajatullah, sifatullah. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung,
tergulung membuat semesta). Seratus kali.
Kemudian berdzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku, (Sungguh sudah kena
Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
TIGA PULUH ENAM
Inilah shalat satu rakaat salam, yang dilaksanakan setiap tanggal (bulan purnama), dengan waktu
tengah malam tepat :
a. Inilah niatnya, Ushalli urip dzatullah Allahu akbar (Aku berniat melaksanakan shalat kehidupan
dzatullah, Allahu akbar).
b. Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan menyebut, aku pan Sukma (Aku sang
pemilik Sukma).
c. Melakukan ruku dengan menyebut, langgeng urip dzatullah (Kehidupan abadi dzatullah).
d. Sujud dengan mengucapkan, ibu bumi dzatullah.
e. Duduk di antara dua sujud dengan doa, langgeng urip dzatullah tan kena pati (kehidupan abadi
dzatullah yang tidak terkena kematian).
f. Sujud lagi dengan bacaan, Ibu bumi dzatullah.
g. Tahiyat dengan membaca, Urip dzatullah.
h. Membaca syahadat dengan bacaan, Ashadu uripingsun lan sukma (Ashadu kehidupanku dan
Sukma).
I. Salam dengan bacaan, Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara kehidupan yang tidak terkena
kema-tian.
j. Membaca doa, Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan kena pati (Allahumma papan tulis
segala sesuatu yang abadi hidup yang tak pernah terkena mati).
k. Kemudian berdoa dalam hati, Ingsun kang agung ingsun kang wisesa suci dhiriningsun (ingsun yang
Agung, ingsun yang memelihara, suci diriku sendiri [ingsun]).
Dalam Islam dikenal shalat satu rakaat, namun itu hanya sebagian dari shalat witir (shalat penutup akhir
malam dengan rakaat yang ganjil).
Shalat satu rakaat salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah shalat witir, namun shalat ngatunggal,
atau shalat yang dilaksanakan dalam rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.
Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa Arab, hanya lafazh takbir dan al-
Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca satu madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi,
dan di Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat selain takbir dan al-Fatihah
boleh diucapkan dengan bahasa ajam (selain bahasa Arab).
TIGA PULUH TUJUH
Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan dalam hati menurut kehendak pribadi.
Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki. (Serat
Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33).
Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu hanyalah bentuk tata krama dan
bukan merupakan shalat yang sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara
total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam tingkatan aplikatif, pelaksanaannya
hanya merupakan kehendak masing-masing pribadi.
Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang lima waktu dan ibadah sejenisnya,
bukanlah esensi dari agama. Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi perhatian
manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja masing-masing orang memiliki sudut pandang
sendiri-sendiri.
TIGA PULUH DELAPAN
Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati,
menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan
Zat Allah yang bersama diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat Maulana yang nyata, yang tidak
dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 37).
Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal Walisanga tersebut, namun jelas
penolakan Syekh Siti Jenar atas model dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya
berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37 diatas, dan juga pernyataan mengenai
kebohongan syariat yang tanpa spiritualitas di bawah.
Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat, sebenarnya akal-budinya
mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-
karimah. Sifat khusyunya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat dalam kehidupan
keseharian.
Sehingga dalam al-Quran, orang yang melaksanakan shalat namun tetap memiliki sifat riya dan enggan
mewujudkan pesan kemanusiaan disebut mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab
ia melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Maun/107;4-7). Sedang dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11
disebutkan bahwa orang yang mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu. Dan
shalat yang khusyu itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak berikut : (1) menghindarkan diri dari hal-
hal yang sia-sia dan tidak berguna, juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan;
(2) menunaikan zakat dan sejenisnya; (3) menjaga kehormatan diri dari tindakan nista; (4) menepati janji
dan amanat serta sumpah; (5) menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah
yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi; kemanunggalan.
Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim yang melaksanakan shalat dipaksa
untuk berdiam, konsentrasi ketika melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran
yang liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran yang liar pasti menggagalkan pesan
khusyu tersebut. Khusyu itu adalah buah dari shalat. Sedangkan shalat hakikatnya adalah eksperimen
manunggal dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam, penyerahan diri . Sehingga doktrin manunggal
bukanlah masalah paham qadariyah atau jabariyah, fana atau ittihad.
Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu bukanlah latihan konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi
dan meditasi hanya salah satu alat latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti Jenar menyebut
ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan dan menyebut shalat yang diajarkan para Wali
adalah model shalatnya para pencuri.
TAFSIR MISTIK SYEKH SITI JENAR
Menurut Syekh Siti Jenar, bahwa al-Fatihah adalah termasuk salah satu kunci sahnya orang yang
menjalani laku manunggal (ngibadah). Maka seseorang wajib mengetahui makna mistik surat al-Fatihah.
Sebab menurut Syekh Siti Jenar, lafal al-Fatihah disebut lafal yang paling tua dari seluruh sabda-Sukma.
Inilah tafsir mistik al-Fatihah Syekh Siti Jenar. .
Bis kedudukannya. ubun-ubun.
Millahkedudukannya.. rasa.
Al-Rahman-al-Rahim.kedudukannyapenglihatan (lahir batin).
Al-hamdukedudukannya hidupmu (manusia).
Lillahikedudukannya. .cahaya.
Rabbil-alamin.kedudukannya..n yawa dan napas.
Al-Rahman al-Rahim.kedudukannyaleher dan jakun.
Maliki..kedudukannya dada.
Yaumiddin..kedudukannya jantung (hati).
Iyyakakedudukannya.. .hidung.
Nabudu..kedudukannya.. .perut.
Waiyyaka nastainkedudukannya.dua bahu.
Ihdinash.kedudukannya.. ..sentil (pita suara).
Shiratal..kedudukannya. lidah.
Mustaqimkedudukannya tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina..kedudukannya .dua ketiak.
Anamta..kedudukannya.. ..budi manusia.
alaihimkedudukannya tiangnya (pancering) hati.
Ghairil.kedudukannya .bungkusnya nurani.
Maghdlubi..kedudukannya .rempela/empedu.
alaihimkedudukannya .dua betis.
Waladhdhallinkedudukannya. mulut dan perut (panedha).
Aminkedudukannya. penerima.
Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling Kawula-Gusti, sehingga baik badan
wadag manusia sampai kedalaman rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal
surat al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan fungsi tubuh seharusnya
masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan
kebenaran tafsir tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman rohani/spiritual yang sering
dialami.
Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-Quran merupakan kalam yang
berarti pembicaraan. Jadi sifatnya adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan
semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar menghadirkan tafsir mistik yang
bercorak menggali makna di balik simbol yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis)

http://risalahparasufi.blogspot.co.id/p/syekh-abdul-qodir.html