Anda di halaman 1dari 6

PANGGUL SEMPIT DAN DISPROPORSI SEFALOPELVIK

Pemeriksaan umum kadang-kadang sudah membawa pikiran kearah


kemungkinan kesempitan panggul. Sebagaimana adanya tuberculosis pada
kolumna vertebra atau pada panggul, luksasio koksa kongenitalis dan plolomielitis
dalam anamnesis memberi petunjuk penting, demikian pula ditemukannya kifosis,
ankilosis pada artikulasio koksa disebelah kanan atau kiri dan lain-lain pada
pemeriksaan fisik umum memberikan isyarat-isyarat tertentu. Pada wanita yang
lebih pendek dari ukuran normal bagi bangsanya, kemungkinan panggul kecil
perlu diperhatikan pula. Anamnesis tentang persalinan-persalinan terdahulu dapat
memberi petunjuk tentang keadaan panggul. Apabila persalinan tersebut berjalan
lancar dengan dilahirkannya janin dengan berat badan yang normal, maka kecil
kemungkinan bahwa wanita yang bersangkutan menderita kesempitan panggul
yang berarti.
Pengukuran panggul ( pelvimetri ) merupakan pemeriksaan yang penting
untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang keadaan panggul. Pelvimetri
luar tidak banyak artinya, kecuali untuk pengukuran pintu bawah panggul, dan
beberapa hal yang khusus seperti panggul miring. Pelvimetri dalam dengan tangan
mempunyai arti yang penting untuk menilai secara agak kasar pintu atas panggul
serta panggul tengah, dan untuk memberi gambaran yang jelas tentang pintu
bawah panggul. Dengan pelvimetri roentgonologik diperoleh gambaran yang jelas
tentang bentuk panggul dan ditemukan angka-angka mengenai ukuran-ukuran
dalam tiga bidang panggul. Akan tetapi pemeriksaan ini pada masa kehamilan
mengandung bahaya, khususnya bagi janin. Oleh sebab itu, tidak dapat
dipertanggungjawabakan untuk menjalankan pelvimetri roentgonologik secara
rutin pada masa kehamilan melainkan harus didasarkan atas indikasi yang nyata,
baik dalam masa antenatal maupun dalam persalinan.
Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan
persalinan, tetapi yang tidak kurang penting adalah hubungan antara kepala janin
dengan panggul ibu. Besarnya kepala janin dalam perbandingan dengan luasnya
panggul ibu menentukan apakah ada disproporsi sefalopelvik atau tidak. Masih
ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan apakah persalinan pervaginam akan
berlangsung dengan baik atau tidak, akan tetapi faktor-faktor ini baru dapat
diketahui pada waktu persalinan, seperti kekuatan his dan terjadinya moulage
kepala janin. Besarnya kepala janin,khususnya diameter biparietalisnya dapat
diukur dengan menggunakan sinar roentgen. Akan tetapi sefalometri
roentgonologik lebih sukar pelaksanaanya dan mengandung bahaya seperti
pemeriksaan-pemeriksaan roentgonologik lainnya. Pengukuran diameter
biparietalis dengan cara ultra sonic yang sudah mulai banyak dilakukan
memberikan hasil yang cukup memuaskan. Cara ini tidak berbahaya dibandingkan
dengan pemeriksaan roentgonologik.
Pada hamil tua dengan janin dalam presentasi kepala dapat dinilai agak
kasar adanya disproporsi sepalopelvik dan kemungkinan mengatasinya. Untuk hal
ini pemeriksaan dengan tangan yang satu menekan kepala janin dari atas kearah
rongga panggul, sedangkan tangan lain yang diletakkan pada kepala, menentukan
apakah bagian ini menonjol diatas simfisis atau tidak ( metode Osborn ).
Pemeriksaan yang lebih sempurna adalah metode Muller Munro Kerr tangan yang
satu memegang kepala janin dan menekannya kearah rongga panggul , sedang 2
jari tangan lain dimasukkan kedalam rongga vagina untuk menentukan sampai
berapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut. Sementara itu ibu jari tangan yang
masuk dalam vagina memeriksa dari luar hubungan antara kepala dan simfisis.

Penanganan
Dewasa ini 2 tindakan dalam penanganan disproporsi sepalopelvik yang
dahulu banyak dilakukan tidak diselenggarakan lagi. Cunam tinggi degan
menggunakan axis-traction forceps dahulu dilakukan untuk membawa kepala
janin yang dengan ukuran besarnya belum melewati pintu atas panggul kedalam
rongga panggul dan terus keluar. Tindakan ini yang sangat berbahaya bagi janin
dan ibu, kini diganti oleh sectio secarea yang jauh lebih aman. Induksi partus
prematurus umumnya juga tidak dilakukan lagi. Keberatan tindakan ini ialah
kesulitan untuk menetapkan:
a) Apakah janin walaupun belum cukup bulan, sudah cukup tua dan besar untuk
hidup dengan selamat diluar tubuh ibu dan
b) Apakah kepala janin dapat dengan aman melewati kesempitan pada panggul
bersangkutan.
Dewasa ini 2 cara merupakan tindakan utama untuk menangani
persalinan pada disproporsi sepalopelvik, yakni sectio secarea dan partus
percobaan. Disamping itu kadang-kadang ada indikasi untuk melakukan
simfisiotomia dan kraniotomia, akan tetapi simfisiotomia jarang sekali dilakukan
di Indonesia, sedangkan kraniotomia hanya dikerjakan pada janin mati.

Sectio secarea
Dapat dilakukan secara elektif atau primer, yakni sebelum persalinan
mulai atau pada awal persalinan, dan cara sekunder yakni sesudah persalinan
berlangsung selama beberapa waktu.
SC elektif direncanakan terlebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan
cukup bulan karena kesempitan panggul yang cukup berat, atau karena terdapat
disproporsi sefalopelvik yang nyata. Selain itu sectio tersebutdiselenggarakan
pada kesempitan yang ringan apabila ada faktor-faktor lain yang merupakan
komplikasi, seprti primigravida tua, kelainan letak janin yang tidak dapat
diperbaiki, kehamilan pada wanita yang mengalami masa infertilitas yang lama,
penyakit jantung dll.
Sectio sekunder dilakukan karena persalinan percobaan dianggap gagal,
atau karena timbul indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin,
sedang syarat-syarat untuk persalinan pervaginam tidak atau belum dipenuhi.
Persalinan percobaan
Setelah pada panggul sempit berdasarkan pemeriksaan yang teliti pada
hamil tua diadakan penilaian tentang bentuk serta ukuran-ukuran panggul dalam
semua bidang dan hubungan antara kepala janin dan panggul, dan setelah dicapai
kesimpulan bahwa ada harapan persalinan dapat berlangsung pervaginam dengan
selamat, dapat diambil keputusan untuk menyelenggarakan persalianan percobaan.
Dengan demikian persalinan ini merupakan suatu test terhadap kekuatan his dan
daya akomodasi, termasuk moulage kepala janin kedua faktor ini tidak dapat
diketahui sebelum persalinan berlangsung beberapa waktu.
Diatas sudah dibahas indikasi-indikasi untuk melakukan sectio secarea
elektif, keadaan-keadaan ini merupakan kontraindikasi untuk persalinan
percobaan. Selain itu janin harus berada dalam presentasi kepala dan tuanya
kehamilan tidak lebih dari 42 minggu. Alasan bagi ketentuan yang terakhir ini
ialah kepala janin bertambah besar serta lebih sukar mengadakan moulage, dan
berhubung dengan adanya disfungsi plasenta janin mungkin kurang mampu
mengatasi kesukaran yang dapat timbul pada persalianan percobaan. Perlu
disadari pula bahwa kesempitan panggul dalam satu bidang, seperti panggul
picak, lebih menguntungkan daripada kesempitan dalam beberapa bidang.
Mengenai penanganan khusus pada persalinan percobaan perlu diperhatikan hal-
hal berikut:
a) Perlu diadakan pengawasan yang seksama terhadap keadaan ibu dan janin.
Hendaknya ibu jangan diberikan makanan secara biasa melainkan dengan
jalan infuse intravena oleh karena ada kemungkinan persalinan harus diakhiri
dengan jalan sectio secarea. Keadaan denyut jantung janin harus pula diawasi
terus menerus.
b) Kualitas dan turunnya kepala janin dalam rongga panggul harus terus diawasi.
Perlu disadari bahwa kesempitan panggul tidak jarang mengakibatkan
kelainan his dan gangguan pembukaan serviks. Kemajuan turunnya kepala
dapat ditentukan dengan pemeriksaan luar dan dalam. Pemeriksaan dalam
penting untuk menilai turunnya kepala, untuk mengetahui keadaan serviks,
untuk mengetahui apakah ketuban sudah pecah dan mengetahui ada tidaknya
prolapsus funikuli atau prolapsus lengan. Mengingat bahaya infeksi pada
pemeriksaan dalam dan dengan demikian memperbesar resiko sectio secarea
apabila tindakan terakhir ini perlu dilakukan, maka pemeriksaan ini
seyogyanya dibatasi dan hanya dilakukan apabila diharapkan akan
memberikan bahan-bahan penting guna penilaian keadaan.
c) Sebelum ketuban pecah, kepala janin pada umumnya tidak dapat masuk
kedalam rongga panggul dengan sempurna. Pemecahan ketuban secara aktif
hanya dapat dilakukan apabila his berjalan secara teratur dan sudah ada
pembukaan serviks untukseparuhnya atau lebih. Tujuan tindakan ini adalah
untuk mendapatkan kepastian apakah dengan his yang teratur dan mungkin
bertambah kuat, terjadi penurunan kepala yang berarti atau tidak.
d) Masalah yang penting adalah menentukan berapa lama partus percobaan boleh
berlangsung. Apabila his cukup sempurna maka sebagai indicator berhasil atau
tidaknya partus percobaan adalah hal-hal yang mencakup keadaan-keadaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana kemajuan pembukaan serviks? Adakah gangguan pembukaan :
misalnya
a) Pemanjangan fase laten
b) Pemanjangan fase aktif
c) Sekunder arrest?
2. Bagaimanakah kemajuan penurunan bagian terendah janin ( belakang
kepala )?
3. Adakah tanda-tanda klinis dari pihak anak maupun ibu yang menunjukkan
adanya bahaya bagi anak maupun ibu ( gawat janin, rupture uteri yang
membakat dll ) ?
Apabila ada salah satu gangguan di atas, maka menandakan bahwa
persalinan pervaginam tidak mungkin dan harus diselesaikan dengan section
secarea. Sebaliknya bila kemajuan pembukaan serta penurunan kepala berjalan
lancer, maka persalinan pervaginam bisa dilaksanakan sesuai dengan persyaratan
yang ada.
Simfisiotomi
Ialah tindakan untuk memisahkan tulang panggul kiri dari tulang
panggul kanan pada simfisis supaya dengan demikian rongga panggul menjadi
lebih luas. Satu-satunya indikasi ialah apabila pada panggul sempit dengan janin
masih hidup terdapat infeksi intrapartum berat, sehingga section secarea dianggap
terlalu berbahaya.

Kraniotomi
Pada persalinan yang dibiarklan berlarut-larut dengan janin sudah
meninggal, sebaiknya persalinan diselesaikan dengan kraniotomi dan kranioklasi.
Hanya jika panggul demikian sempitnya sehingga janin tidak dapat dilahirkan
dengan kraniotomi, terpaksa dilakukan section secarea.

Sumber : Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro.1994.Ilmu Kebidanan. Penerbit Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo