Anda di halaman 1dari 34

BUKU PANDUAN

PRAKTIKUM AKUSTIK KELAUTAN

Disusun Oleh:

Tim Asisten Akustik Kelautan

Nama :

NIM :

Kelompok :

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan

rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku panduan Praktikum Akustik Kelautan

dapat kami susun dengan baik.

Memahami atas segala kekurangan dan keterbatasan refenrensi dalam

pelaksanaan Praktikum Akustik Kelautan, maka kami menyajikan suatu

pedoman dalam pelaksanaan praktikum yang pada dasarnya merupakan hasil

rangkuman dari berbagai referensi sebagai tuntutan praktikan dalam

melaksanakan praktikum. Dilengkapi dengan metode-metode sederhana yang

nantinya dapat digunakan untuk membantu dan memudahkan dalam

pengambilan data dan proses pengolahan data.

Kami sampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-

pihak yang secara langsung telah membantu dalam menyelesaikan buku ini.

Menyadari akan keterbatasan yang kami miliki, maka kami sangat mengharap

masukan-masukan berupa saran dan kritik yang konstruktif untuk

penyempurnaan buku ini di lain waktu. Besar harapan bahwa buku penuntun

praktikum praktis ini dapat bermanfaat bagi praktikan dan berbagai

pihak.Semoga Allah SWT senantiasa meridohai segala usaha kita.Amin.

Malang,Oktober 2015

Tim Asisten
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi akustik merupakan salah satu metode yang sangat efektif

dan berguna untuk eksplorasi dasar laut. Pengambilan data dasar perairan

seringkali memiliki kendala, misalnya dengan metode grab, yang hanya dapat

digunakan pada wilayah kedalaman yang terbatas dengan waktu yang tidak

singkat. Dengan menggunakan metode hidroakustik, pengambilan data atau

informasi tentang dasar perairan menjadi lebih mudah.Dengan metode ini kita

dapat mengetahui tipe dasar dari suatu perairan dengan menggunakan nilai

Backscattering volume dasar perairan/substrat.

Metode akustik adalah teori tentang gelombang suara dan

perambatannya di suatu medium dalam hal ini mediumnya adalah air. Akustik

kelautan merupakan proses pembentukan gelombang (pulsa) suara dan sifat-

sifat perambatannya serta proses-proses selanjutnya yang dibatasi oleh air

laut Instrumen akustik perikanan yang disebut echosounder merupakan

instrumen yang memancarkan dan membangkitkan gelombang suara pada

frekuensi tertentu ke kolom perairan. Gelombang suara tersebut melintasi air

hingga membentur obyek baik di kolom air maupun dasar laut kemudian

gelombang suara tersebut dipantulkan kembali untuk diterima oleh

echosounder.

Hidroakustik merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air

dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument).Teknologi

inimenggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian.

Keunggulan metode akustik antara lain & berkecepatan tinggi (great speed),

memperoleh dan memproses data secara real time, akurasi dan ketepatan,

dilakukan dengan jarak jauh (remote sensing).Hidroakustik dapat digunakan


untuk mendeteksi kedalaman perairan (batimetri), keberadaan, distribusi,

ukuran ataupun tingkah laku dari hewan dan tumbuhan bawah

air. Hidroakustik meliputi akustik pasif (mendengarkan gelombang suara yang

datang) dan akustik aktif yang dapat membuat dan menerima gelombang

suara, sering juga disebut echosounder.

Batimetri merupakan ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air

dan studi tentang dasar samudra dan danau.Batimetri umumnya

menampilkan relief lantai atau dataran dengan garis-garis kontur (contour

lines) yang disebut kontor kedalaman (depth contours atau isobath), dan

dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi

permukaan.Peta batimetri pada prinsipnya akan menunjukkan bentuk dasar

laut (relief) yang terdiri dari bentukan-bentukan, seperti palung laut atau trog,

lubuk laut atau basin, gunung laut, punggung laut, dan ambang laut atau

drempel.
1. AKUSTIK KELAUTAN

A. Definisi Akustik Kelautan

Akustik kelautan merupakan teori yang membahas tentang

gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium air laut. Akustik

kelautan merupakan satu bidang kelautan yang mendeteksi target di kolom

perairan dan dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai

mediannya. Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam akustik

kelautan ini yaitu, kecepatan gelombang suara, waktu (pada saat gelombang

dipancarkan hingga gelombang dipantulkan kembali), dan kedalaman

perairan. Hal-hal yang mendasari kita mempelajari akustik kelautan adalah

laut yang begitu luas dan dalam (dinamis), manusia sudah pernah ke planet

terjauh tetapi belum pernah ke laut terdalam, sehingga dibutuhkannya alat

dan metode untuk melakukan pendeskripsian kolom dan dasar laut, dan saat

ini metode yang paling baik adalah dengan menggunakan akustik.

B. Sejarah Perkembangan

Sejarah akustik bisa dimulai dari sekitar tahun 1490 dari catatan

harian Leonardo da Vinci yang berbunyi Dengan menempatkan ujung pipa

yang panjang didalam laut dan ujung lainnya di telinga Anda, maka Anda

dapat mendengarkan kapal-kapal laut di kejauhan.Sejarah akustik perikanan

dimulai dengan sonar banyaknya penelitian tentang perambatan suara di

dalam air.Diantara yang terkenal adalah Daniel Colloden (1822), beliau

menggunakan sebuah lonceng bawah air untuk menghitung kecepatan

perambatan suara di dalam air.Lalu Lewis Nixon (1906) yang mencoba

mengukur puncak gunung es.Perkembangan dipicu oleh kebutuhan militer

untuk mendeteksi kondisi di bawah permukaan air terutama setelah

ditemukannya kapal selam. Dalam perkembangan selanjutnya ada nama


Paul Langevin yang tahun 1915 menemukan alat sonar pertama untuk

mendeteksi kapal selam dengan menggunakan sifat-sifat piezoelektik kuartz.

Meski tak sempat terlibat lebih jauh dalam upaya perang, karya Langevin

berpengaruh besar dalam desain sonar.Hasil dari perkembangannya adalah

SONAR (SOUND NAVIGATION AND RANGING).

Sistem SONAR ini mula-mula dikembangkan oleh Inggris yakni

padamasa Pra Perang Dunia II dengan dibuatnya ASDIC (Anti

SubmarineDetection Investigation Committe).Kemudian pada Perang Dunia

II,ASDIC tersebut sangat berperan bagi Angkatan Laut negara-negarasekutu

untuk tujuan perang dan telah terbukti sukses besar dalampenggunaannya.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, peralatan

tersebutdikembangkan penggunaannya, selain untuk tujuan perang, juga

untuktujuan damai. Beberapa contoh penggunaannya pada saat itu adalah :

1. Mempelajari proses perambatan suara di dalam medium (air).

2. Penelitian sifat-sifat akustik dari air dan benda-benda bawah air.

3. Pengamatan benda-benda, dari echo yang mereka hasilkan.

4. Pendeteksian sumber-sumber suara bawah air.

5. komunikasi dan penetapan posisi dengan alat akustik bawah air.

Selanjutnya pada dekade 70-an barulah secara intensif diterapkan

dalam pendeteksian dan pendugaan stok ikan, yakni

dengandikembangkannya analog echo integrator dan echo

counter.Perkembangan yangmenyolok ini bukan saja di Inggris tetapi juga

diNorwegia, Amerika, Jepang, Jerman dan sebagainya.Kemudian setelah

diketemukan Digital Echo Integrator, dual-beamacoustic system, split-beam

acoustic system, quasi ideal bem system dananeka echo processor canggih

lainnya, barulah ketelitian dan ketepatanpendugaan stok ikan dapat


ditingkatkan sehingga akhir-akhir ini peralatanakustik menjadi Peralatan

standard dalam pendugaan stok ikan danmanajeman sumbardaya perikanan.

C. Kegunaan Akustik Secara Umum

Secara garis besar, penggunaan akustik dalam kelautan/ perikanan

dapat dikelompokkan menjadi lima yakni (1) Untuk Survai, (2) Untuk

Budidaya Perairan, (3) Untuk Penelitian Tingkah Laku, (4) Untuk mempelajari

penampilan dan (5) Selektivitas alat-alat penangkapan ikan dan lain-lain.

1. Aplikasi dalan Survai Kelautan/Perikanan

a. Untuk menduga spesies ikan.

b. Untuk menduga ukuran dari individu ikan;

c. Untuk menduga kulimpahan/stok sumberdaya hayati laut (plankton,

ikan dan seterusnya).

2. Aplikasi dalam Budidaya Perairan

a. Penentuan/pendugaan jumlah ekor atau biornass dari ikan,

b. Dalam jaring/kurungan pembesaran (penned fish/ enclosure).

c. Untuk menduga ukuran dari individu ikan dalam jaring kurungan.

d. Memantau tingkah laku ikan (dengan acoustic telemetering tags),

baik aktivitas makan (feeding activity) ataupun kesehatan(heart-beat)

dan sebagainya.

3. Aplikasi dalam Penelitian Tingkah Laku Ikan

a. Pergerakan/migrasi ikan (baik vertikal maupun horizontal).

b. Orientasi (tilt angle).

c. Untuk eksplorasi minyak dan mineral di dasar laut.

d. Untuk mempelajari proses sedimentasi.

e. Untuk pertahanan-keamanan (pendeteksian kapal-kapal

selamdengan pemasangan buoy-system);

4. Aplikasi dalam Studi Penampilan dan Selektivitas Alat tangkap


a. Pembukaan mulut trawl, kedalaman dan sebagainya.

b. selektivitas penangkapan (prosentase ikan yang tertangkapterhadap

yang terdeteksi di depan mulut trawl atau di dalamlingkaran purse

seine).

5. Lain-lain

a. Echo-location (komunikasi antar hewan laut).

b. Sifat-sifat akustik dari air laut dan obyek bawah air.

c. Pendeteksian kapal selam dan obyek-obyek bawah air lainnya.

Kegunaan lain dari akustik bawah air/ kelautan di luar yang telah

disebutkan di atas adalah:

1. Penentuan kedalaman dalam pelayaran.

2. Penentuan jenis dan komposisi dasar laut (lumpur, pasir, kerikil,

karang dan sebagainya).

3. Penentuan contour dari dasar laut;

4. Penentuan lokasi/ tempat kapal berlabuh atau pemasangan

bangunan laut.

5. Untuk eksplorasi minyak dan mineral di dasar laut.

6. Untuk mempelajari proses sedimentasi.

7. Untuk pertahanan-keamanan (pendeteksian kapal-kapal

selamdengan pemasangan buoy-system);

8. dan sebagainya.

Kondisi laut sangat dinamis sehingga peta batimetri harus selalu di

update dengan perubahan dan perkembangan kondisi perairan tersebut. Peta

batimetri dalam aplikasinya memiliki banyak manfaat dalam bidang kelautan

antara lain:

1. Penentuan jalur pelayaran yang aman

2. Perencanaan bangunan pinggir pantai


3. Pendeteksian adanya potensi bencana tsunami di suatu wilayah

4. Pertambangan minyak lepas pantai

5. Kondisi morfologi suatu daerah perairan


2. ECHOSOUNDER

A. Definisi

Echosounder adalah suatu alat navigasi elektronik dengan

menggunakan sistem gema yang dipasang pada dasar kapal yang berfungsi

untuk mengukur kedalaman perairan, mengetahui bentuk dasar suatu

perairan dan untuk mendeteksi gerombolan ikan dibagian bawah kapal

secara vertikal.

Gambar 1.Echosounder

B. Sejarah Echosounder

Salah satu referensi bahwa sinyal suara sudah digunakan mulai

sekitar tahun 1490 berasal dari catatan harian Leonardo da vinci yang

menuliskan Dengan menempatkan ujung pipa yang panjang didalam laut

dan ujung lainnya di telinga anda, dapat mendengarkan kapal-kapal laut dari

kejauhan.Ini mengindikasikan bahwa suara dapat berpropagasi di dalam

air.Ini yang disebutkan dengan Sonar pasif (passive Sonar) karena kita hanya

mendengar suara yang ada. Pada abad ke 19, Jacques and Pierre Currie

menemukan piezoelectricity, sejenis Kristal yang dapat membangkitkan arus


listrik jika kristal tersebut ditekan, atau jika sebaliknya jika kristal tersebut

dialiri arus listrik maka kristal akan mengalami tekanan yang akan

menimbulkan perubahan tekanan di permukaan kristal yang bersentuhan

dengan air. Selanjutnya signal suara akan berpropagansi didalam air. Ini

yang selanjutnya disebut dengan Sonar Aktif( Active Sonar). Penggunaan

akustik bawah air mulai berkembang pesat pada saat pecahnya Perang

Dunia pertama terutama untuk pendeteksian kapal selam dengan

penempatan 12 hydrophone (yang setara dengan microphone untuk

penggunaan didarat) yang diletakan memanjang di bawah kapal laut untuk

mendengarkan sinyal suara yang berasal dari kapal selam. Setelah Perang

Dunia I, perkembangan penggunaan akustik bawah air berjalan dengan

lambat dan hanya terkonsentrasi pada aplikasi untuk militer. Setelah pecah

perang Dunia II kembali pengguanaan akustik bawah air berkembang dengan

pesat. Penggunaan torpedo yang menggunakan sinyal akustik untuk mencari

kapal musuh adalah penemuan yang hebat pada jaman itu.

C. Kegunaan

Echosounder memiliki beberapa kegunaan, diataranya adalah

sebagai berikut :

a. Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut

(Subbottom Profilers).

b. Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping).

c. Pencarian kapal-kapal karam di dalam laut.

d. Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut.

e. Analisa Dampak Lingkungan di Dasar laut.


D. Macam Macam Echosounder

Echosounder merupakan instumen akustik yang memiliki berbagai

macam tipe. Berikut merupakan macam-macam dari echosounder:

a. Single-Beam Echosounder

Single-beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air

yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan

pengiriman sinyal gelombang suara.Komponen dari single-beam

terdiri dari transciever (transducer atau receiver) terpasang pada

lambung kapal.Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung

dari kapal penyelidikan. Transciever mengirimkan pulsa akustik

dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang

suara) menyusuri bagian bawah kolom air. Energi akustik

memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh

tranciever.Transciever terdiri dari sebuah transmiter yang mempunyai

fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang pulsa yang

dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi

yang diberikan.

b. Multi-Beam Echosounder

Multi-Beam Echosounder merupakan alat untuk menentukan

kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang luas.Prinsip

operasi alat ini secara umum adalah berdasar pada pancaran pulsa

yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar laut dan setelah itu

energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut (sea bad),

beberapa pancaran suara (beam) secara elektronis terbentuk

menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui sudut

beam. Multi beam echosounder dapat menghasilkan data batimetri


dengan resolusi tinggi (0,1 m akurasi vertikal dan krang dari 1 m

akurasi horizontalnya).

c. Split-Beam Echosounder

Split beam menggunakan receiving transduser yang displit

menjadi empat kuadran. Pemancaran gelombang suara dilakukan

dengan full-beam yang merupakan penggabungan dari keempat

kuadran dalam pamancaran secara simultan.Selanjutnya, sinyal yang

memancar kembali dari target diterima oleh masing-masing kuadran

secara terpisah. Output dari masing-masing kuadran kemudian

digabung lagi untuk membentuk suatu fullbeam dan dua set split

beam. Target tunggal diisolasi dengan menggunakan output dari

fullbeam sedangkan posisi sudut target dihitung dari kedua set split

beam. Split beam ini lebih sulit diimplementasikan karena

memerlukan hardware dan software yang lebih rumit untuk mengukur

beda fase antara sinyal-sinyal yang diterima pada kedua bagian atau

belahan beam.

d. Dual-Beam Echosounder

Pada transduser dengan beam ganda ini, acoustic signal

dipancarkan oleh narrow beam dan diterima oleh narrow-beam dan

wide-beam secara bersamaan. Faktor beam pattern untuk wide-

beam mendekati konstan pada main-lobe dari narrow-beam dan

wide-beam adalah sama untuk suatu target pada sumbu utama

beam (on-axis). Dual-beam processor mengisolasi dan merekam data

echo ikan tunggal yang diterima dari elemen-elemen marrow dan wide

beam-transduser. Kemudian program komputer akan memproses

data tersebut untuk menghitung nilai target strength dan

penyebarannya menurut kedalaman dan sebagainya. Informasi yang


diperoleh dengan metode ini bukan hanya akan meningkatkan akurasi

dari survai pendugaan stok ikan secara akustik, tetapi sekaligus

memberikan informasi yang sangat berharga tentang ukuran ikan di

dalam populasi.

Target Strength (TS) adalah kekuatan dari suatu target untuk

memantulkan suara dengan mengetahui nilai dan karakteristik target

strength, sehingga informasi mengenai yang dibutuhkan dalam

pendugaan stok ikan, seperti ukuran, dan kelimpahan sumberdaya

ikan dapat diketahui. Dalam pengkajian kelimpahan sumberdaya ikan

menggunakan system akustik, faktor pertama yang harus diketahui

adalah nilai TS karena merupakan faktor skala dalam perhitungan

kelimpahan ikan.Pengertian dari Scattering volume mirip dengan

Target strength dimana Target strength untuk ikan tunggal sedangkan

Scattering volume untuk kelompok ikan.

E. Prinsip Instrumen Akustik

Sistem sonar adalah suatu instrumen yang digunakan

untukmemperoleh informasi tentang obyek-obyek bawah air

denganmemancarkan gelombang suara dan mengamati/menganalisis

echo yangdihasilkan. Dengan menyebut sistem sonar ini sebenarnya

yang dimaksudadalah active sonar system'' yang digunakan untuk

mendeteksi danmeneliti target-target bawah air. Sedangkan passive

sonar system"adalah instrumen yang hanya untuk menerima suara-suara

yangdihasilkan oleh obyek-obyek bawah air (ikan dan binatang

airlainnya). Secara prinsip, sistem sonar tersebut terdiri dari lima

komponenutama yakni Time Base, Transmitter, Transducer, Receiver

danDisplay/Recorder.
Gambar 2.Komponen Echosounder

a. Time Base

Time base berfungsi sebagai penanda pulsa listrik

untukmengaktifkan pemancaran pulsa yang akan dipancarkan

olehtransmitter melalui transducer. Suatu perintah dari time base

akanmemberikan saat kapan pembentuk pulsa bekerja pada

unittransmitter dan receiver.

b. Transmitter

Transmitter merupakan komponen pemancar pulsa listrik yang

didalamnya terdapat amplifieryang berfungsi sebagai penguat tenaga dari

sinyal pulsa listrik.Adapun fungsi dari transmitter adalah untuk

memperkuat pulsa,media antara time base ke transducer, penstabilan

kekuatan pulsa.

c. Transducer

Transducer adalah komponen terpenting dari sistem

echosounderkarena betapapun canggihnya rangkaian listrik yang

menghasilkan transmitter receiver dan echo signal processor yang

akuratketelitiannya tetapi jika transducernya tidak memadai, maka tidak

ada artinya.Fungsi utama transducer adalah untuk mengubah energi


listrikmenjadi energi suara dan sebaliknya. Dengan demikian, ditinjau

darifungsinya ini, maka transducer dibagi menjadi dua kelompok yakni

transducer yang berfungsi untuk pemancaran suara

(transmittingtransducer) disebut projector dan yang berfungsi untuk

penerimaansuara (receiving transduce) disebut hydrophone.

d. Receiver

Sinyal echo (energi listrik) yang lemah yang dihasilkan

olehtransducer harus diperkuat beberapa ribu kali sebelum diteruskan

keRecorder. Penguatan echo ini dilakukan oleh Receiver Amplifier

danbesarnya penguatan dapat diatur oleh sensitivitas (sensitivity

control)ataupun pengatur volume. Untuk mungurangi atau

menghilangkanecho dari target yang terlalu dekat dengan transducer

sensitivitasreceiver secara otomatis dapat diatur (dikurangi).

e. Display/Recorder

Komponen yang berfungsi untuk mengukur selang waktu,

mencatatdata, mengumpulkan data, penerus data untuk target

strengthanalyzer, serta melakukan koordinasi dengan time base.


3. SKEMA KERJA PRAKTIKUM

3.1 Pengenalan Alat

Pada praktikum akustik kelautan kegiatan yang akan dilakukan adalah

perangkaian alat dan pengolahan data batimetri. Alat yang akan digunakan

pada praktikum akustik kelautan yaitu:

- Echosounder GPSMap 178 C Sounder : alat yang digunakan untuk

pengukuran bawah air dan mengetahui kondisi topografi bawah laut

dengan menggunakan gelombang akustik.

- Accu : untuk menyediakan dan mensuplai energy listrik.

- Tranducer : komponen yang berfungsi mengubah energy listrik

menjadi energi suara dan sebaliknya.

- Antena : untuk menangkap signal satelit.

- Kabel Penghubung : untuk menghubungkan transducer dan accu dengan

display.

3.2 Skema Kerja Pengunaan Echosounder

Langkah pertama dari skema kerja dari penggunaan instrument

akustik echosunder adalah merangkai semua komponen yang ada pada

echosunder. Rangkaian pertama yaitu pasang kabel antenna dengan

echosounder. Berikut merupakan gambar antenna (Gambar 3).

Gambar 3 Antenna
Kemudian pasang kabel transducer dengan echosounder. Berikut

merupakan gambar transducer (Gambar 4).

Gambar 4 Transducer

Pasang kabel penghubung yang menghubungkan transducer dengan

accu (Gambar 5). Untuk kabel yang menghubungkan dengan accu kabel

warna hitam berada pada kutub () dan kabel warna merah berada pada

kutub (+).

Kutub (+)

Kutub (-)

Gambar 5 Accu
Page Out

Quit In

Enter Tombol
arah
Menu
Navigation
Power
Find

Gambar 6 Tombol pada Echosounder

Setelah semua komponen terangkai, tekan tombol Power untuk

menyalakan echosounder.

Gambar 7 Tampilan pertama pada display

Ketika echosuonder sudah dapat digunakan, tekan tombol I Agree ,

kemudian tekan tombol Page hingga keluar page 1 sampai page 7.

Berikut ini penjelasan mengenai masing-masing page :

- Page 1 menunjukkan data satelit yaitu data yang bisa ditangkap

oleh antena echosonder.

- Page 2 menunjukkan lokasi kita berada.

- Pege 3 menunjukkan peta dan kedalaman perairan.

- Page 4 menunjukkan kedalaman perairan.


- Page 5 menunjukkan arah mata angin dan fungsinya seperti

kompas.

- Page 6 menunjykkan track pelayaran. Terdapat pula keterangan

waktu, off course, dist to next (jarak tempuh).

- Page 7 menunjukkan waypoint atau titik perjalanan.

3.3 Contoh Mendeteksi Ikan Menggunakan Echosounder

Setelah muncul page 1 hingga page 7, klik tombol menu

kemudian pilih sonar .

Gambar 8 Pengaturan pada Sonar

Kemudian tentukan fish symbol, lalu keluar dari menu set up sonar.

Gambar 9 Pilih fish symbol


Gambar 10 Pilih GPS

Lalu pilih GPS dan tekan tombol menu setelah itu pilih Start

Simulator. Amati hasil yang ada pada display.

Gambar 11 Start Simulation

3.4 Pengolahan Data Bathimetri

Tahapan yang dilakukan pada pengolahan data bathimetri mulai

dari pemindahan data hasil sounding (data disediakan oleh asisten),

perhitungan reduksi pasut, perhitungan kedalaman, pengolahan data

bathimetri menggunakan software. Software yang digunakan yaitu

MapSource, Ms.Excel dan Surfer. Software MapSource berfungsi untuk

meng-import jalur survey dan export hasil track dari alat sounding.
Ms.Excel berfungsi untuk melakukan perhitungan data reduksi pasut dan

kedalaman. Surfer berfungsi untuk menampilkan data dalam bentuk 2D

dan 3D.

3.4.1 Pengolahan Data pada MapSource

Pengukuran sounding dengan menggunakan echosounder

diperoleh data kedalaman yang disimpan dalam memory card GPS. Data

tersebut kemudian di export melalui software MapSource.

Pengolahan data pada MapSource untuk menyimpan data hasil

sounding kedalam bentuk (*.txt). Data bathimetri hasil sounding dalam

bentuk (*.GDB) di import melalui software MapSource, kemudian diatur

posisi menjadi UTM dan WGS 84., unit satuan diganti meter. Setelah itu

simpan data track dalam format (*.txt).

Berikut contoh langkah-langkah pengolahan data pada

MapSource hasil sounding pada kolam pelabuhan Tanjung Emas,

Semarang:

1. Buka software MapSource.

Gambar 12 MapSource
2. Buka data hasil sounding yang sudah di import dari memory card

echosounder.

Gambar 13. Hasil Track Survey

3. Ubah posisi Grid menjadi UTM, Datum WGS84 dan Unit satuan

menjadi meter dengan cara pilih Edit Prereferences.


4. Simpan data hasil sounding tersebut kedalam format (*.txt)

Gambar 14. Data Sounding pada MapSource

Gambar 15. Penyimpanan file hasil sounding

3.4.2 Pengolahan data pada Ms. Excel


Pengolahan data pasang surut dilakukan di Ms. Excel, tahapan-

tahapan proses pengolahan adalah sebagai berikut:

1. Buka data hasil pengamatan pasang surut (data disediakan oleh asisten)

pada excel, masukkan nilai elevasi dermaga pelabuhan pada kolom dan

masukkan data elevasi bacaan pasang surut pada kolom Jarak Elevasi

ke Muka Air.

2. Kemudian lakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai tinggi air (C)

dengan rumus [ = Elevasi Dermaga (A) Jarak Elevasi ke Muka Air (B) ].

Satuan dalam meter (m).

Tabel 1 Data Pengolahan Pasut

Elevasi Dermaga Jarak Elevasi Ke Muka Air Tinggi Air


JAM
A (m) B (m) C (m) =A-B
11:25:00 2.8 2.4 0.4
11:40:00 2.8 2.4 0.4
11:55:00 2.8 2.4 0.4
12:10:00 2.8 2.3 0.5
12:25:00 2.8 2.3 0.5
12:40:00 2.8 2.3 0.5
12:55:00 2.8 2.3 0.5
13:10:00 2.8 2.3 0.5
13:25:00 2.8 2.3 0.5

3.4.3 Reduksi Data Pasang Surut

Tujuan dilakukan reduksi pasang surut adalah untuk mengetahui

ketinggian air apabila mengalami kenaikan atau penurunan tinggi air.

Tahapan proses reduksi pasang surut adalah sebagai berikut:

1. Masukkan data tinggi air setiap 15 menit dari data pengamatan

pasang surut dalam satuan meter (m) (Tabel 1).


2. Buatlah grafik pengamatan pasang surut dari data tinggi air setiap 15

menit tersebut

Gambar 16. Grafik Pengamatan Pasut di Pelabuhan Tanjung Emas

3. Diketahui penurunan atau reduksi tiap ketinggian dari grafik,

masukkan data reduksi tinggi air dan waktu berdasarkan grafik.

Tabel 2 Reduksi Pasut


JAM TINGGI AIR

11:25 - 11:55 0.4 M

11:55 - 12:10 0.5 M


12:10 - 13:25 0.5 M
3.4.4 Perhitungan Kedalaman tetap

Setelah didapatkan data reduksi pasang surut, selanjutnya buka

kembali file hasil pengolahan data sounding.

1. Tambahkan kolom dari hasil data sounding untuk memasukkan data

seperti depth, transduser, reduksi pasang surut dan kedalaman tetap.

2. Selanjutnya, masukkan data kedalaman hasil sounding pada kolom

depth, data kedalaman transduser (draft) pada kolom transduser dan

data reduksi pasut pada kolom pasut. Berikut adalah contoh

pemasukan data untuk perhitungan reduksi kedalaman di Pelabuhan

Tanjung Emas, Semarang:


Tabel 3. Data Perhitungan

Depth (m) Pasut (m) Transduser


1.6 0.4 0.4
1.5 0.4 0.4
1.6 0.4 0.4
1.6 0.4 0.4
1.4 0.4 0.4
1.7 0.4 0.4
2.8 0.4 0.4

3. Kedalaman tetap didapatkan dari perhitungan kedalaman hasil

sounding (depth) ditambah kedalaman transduser dengan reduksi

pasut.

Tabel 4. Perhitungan Kedalaman Tetap

Kedalaman
Depth (m) Pasut (m) Transduser
Tetap (m)
1.6 0.4 0.4 1.6
1.5 0.4 0.4 1.5
1.6 0.4 0.4 1.6
1.6 0.4 0.4 1.6
1.4 0.4 0.4 1.4
1.7 0.4 0.4 1.7
2.8 0.4 0.4 2.8

4. Setelah mendapatkan data kedalaman tetap, simpan data-data

koordinat longitude dan lattitude, kedalaman tetap dalam format

(*.txt), selanjutnya dilakukan proses pengolahan data bathimetri.

Berikut adalah contoh data kedalaman kolam Pelabuhan Tanjung

Emas, Semarang yang akan digunakan untuk pengolahan data

bathimetri.

Tabel 5. Data Kedalaman

X y Z
435777 9231812 1.6
435781 9231813 1.5
X y Z
435781 9231812 1.6
435781 9231813 1.6
435782 9231813 1.4
435783 9231819 1.7
435784 9231819 2.8

3.4.5 Menampilkan Data Bathimetri menggunakan Surfer

Setelah melakukan kegiatan sounding kemudian didapatkan nilai

kedalaman dan koordinat. Selanjutnya dapat dilakukan pengolahan data

menjadi sebuah peta bathimetri. Berikut adalah tahapan-tahapan

pengolahan data bathimetri hasil sounding:

Masukkan Atur contour,


Grid data
contour dan scale, layout
kedalaman
pilih Ok peta

Export hasil
peta dalam
bentuk Jpeg

Gambar 17 Skema pengolahan bathimetri

1. Buka perangkat lunak surfer


2. Grid data kedalaman

3. Pilih contour data. Masukkan data yang sebelumnya digrid data.

4. Berikut merupakan tampilan hasil data.


5. Contoh hasil pengolahan data batimetri secara 2 dimensi dan 3 dimensi

setelah diatur contour dan scale di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang :

Kedalaman

Koordinat
lokasi Gambar 18 Hasil Bathimetri 2 Dimensi

Kedalaman

Koordinat
lokasi

Gambar 19 Hasil pengolahan bathimetri 3 Dimensi


Hasil tampilan 2 dimensi dan 3 dimensi dari bathimetri di

Pelabuhan Tanjung Emas. Pada kedua hasil diatas menunjukkan bahwa

warna biru menunjukkan perairan dangkal dan warna hijau menunjukkan

perairan dalam. semakin berwarna terang kedalaman semakin

bertambah.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Hasanuddin Z. 2007.GPS dan Survei Hidro-Oseanografi. Institut


Teknologi Bandung: Bandung
Al Kautsar, Muhammad, Bandi Sasmito, S.T., M.T., Ir. Haniah. 2013. Aplikasi
Echosounder Hi-Target Hd 370 Untuk Pemeruman Di Perairan Dangkal
(Studi Kasus : Perairan Semarang). Jurnal Geodesi Undip. Vol. II No.4
Hal : 222-239
Fachrurrozi, M., Sugeng Widada, Muhammad Helmi.2013. Studi Pemetaan
Batimetri Untuk Keselamatan Pelayaran Di Pulau Parang, Kepulauan
Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.Jurnal
Oseanografi. Volume II No. 3Hal : 310-317
Fahrulian, Henry Manik, dan Djoko Hartoyo. Dimensi Gunung Bawah Laut
Dengan Menggunakan Multibeam Echosounder Di Perairan
Bengkulu.Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol. V No. 1 Hal :
93-102
Ningsih, Ellis N., Freddy Supriyadi, dan Syarifah Nurdawati.2013. Pengukuran
Dan Analisis Nilai Hambur Balik Akustik Untuk Klasifikasi Dasar Perairan
Delta Mahakam.J. Lit. Perikan. Ind. Vol.19Hal :139-146
Rangkuti, Diva Yudha Utama, Ahmad Perwira Mulia Tarigan.2014. Studi
Karakteristik Fisik Muara Sungai Batang Natal Kabupaten Mandailing
Natal.Unsu. Medan
Saputra, Lufti Rangga, Moehammad Awaluddin, L.M Sabri.
Sathishkumar R, T.V.S Prasad Gupta, M.Ajay Babu. 2013. Echo Sounder for
Seafloor Object Detection and Classification. Journal of Engineering,
Computers & Applied Sciences (JEC&AS). Volume II No.1Hal : 32-37
Suvei Hidrografi menggunakan Single Beam Echosounder. 2010. Jakarta: Badan
Standardisasi Nasional
Siswanto. 2005. Pengantar Sistem Informasi Geografik. UPN Press.Surabaya.
KONTAK ASISTEN

No. Nama NIM No. HP

1 Niken Puteri Prayitno 125080600111003 085730636708

2 Jaka Harry M. W. 125080600111012 085785555845

3 Anthon Andrimida (CO) 125080600111019 085791010235

4 Sepdinia Ayuningtyas 125080600111043 08980334787

5 Dio Aditya Murtianto 125080601111013 087885975334

6 Evy Afriyani Sidabutar 125080601111014 085762797244

7 Endri Vitasari 125080601111016 081330227607

8 Liuta Yamano Aden 125080601111045 089681909393

9 M. Abdul Ghofur Al Hakim 125080601111060 08990435257

10 Rafaela Ronauli Gultom 125080601111063 085276569968


FORMAT LAPORAN

COVER
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
BAB 2. METODOLOGI
2.1 WAKTU DAN TEMPAT
2.2 ALAT DAN BAHAN
2.3 SKEMA KERJA
BAB 3. HASIL OBSERVASI
3.1 PENGENALAN ALAT (1 literatur masing2 komponen)
3.2 PERAKITAN ALAT (2 literatur alat yang digunakan)
3.3 SIMULASI ALAT (2 literatur pengoperasian alat)
3.4 PENGENALAN DATA (2 literatur metode pengolahan data)
BAB 4. PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
4.2 SARAN
LAMPIRAN (Daftar istilah dan dokumentasi)
DAFTAR PUSTAKA
ASISTEN ZONE

*catatan :
- Laporan diketik INDIVIDU
- Cover warna MERAH MAROON
- Font Arial 11, Space 1,5 , Margin (4,3,3,3)
- Literatur berasal dari jurnal DIATAS tahun 2005 atau website resmi