Anda di halaman 1dari 11

Gambaran Binaan Wilayah Kelurahan Sukoharjo Kota Malang

Kondisi Geografis dan Demografis

Secara Geografis Kelurahan Sukoharjo memiliki Luas wilayah + 54,74 Km2. Dan berada di
ketinggian 444 m2 diatas permukaan air laut. Kelurahan Sukoharjo yang berada tepat di tengah
kota Malang, berbatasan langsung dengan 4 kelurahan lain, sebagai berikut:

Di sebelah Utara : Kelurahan Kidul Dalem

Di sebelah Selatan : Kelurahan Ciptomulyo

Di sebelah Timur : Kelurahan Jodipan

Di sebelah Barat : Kelurahan Kauman

Secara Demografis, Kelurahan Sukoharjo merupakan pemukiman dengan penduduk yang


sangat padat dengan begitu banyak ragam suku bangsa yang ada, seperti Suku Jawa, Suku
Madura, Keturunan Tionghoa, Keturunan Arab, Keturunan India, dan Keturunan Bangsa Asing
lainnya. Kelurahan Sukoharjo memiliki jumlah penduduk sebagai berikut:

Jumlah Penduduk

Laki-laki : 5.851 Jiwa

Perempuan : 6.056 Jiwa

Jumlah : 11.907 Jiwa

Jumlah penduduk menurut Agama

Islam : 9.232 Jiwa

Kristen : 768 Jiwa

Katholik : 477 Jiwa

Hindu : 85 Jiwa

Budha : 234 Jiwa


Jumlah penduduk menurut mata pencaharian

Petani : 0 Orang

Pengusaha : 1.021 Orang

Pedagang : 1.200 Orang

Buruh : 74 Orang

Pensiunan : 79 Orang

TNI/POLRI : 15 Orang

PNS : 88 Orang

Jasa : 205 Orang

Fasilitas Umum

1. Tempat Ibadah
Kelurahan Sukoharjo memiliki banyak fasilitas keagamaan yang bisa digunakan untuk
masyarakatnya dan masyarakat umum di sekitar Sukoharjo, Fasilitas tersebut antara
lain:

a. Masjid At Taqwa Jl. Aris Munandar

b. Masjid Qudtise Jl. Kh. Ahmad Dahlan

c. Masjid At-Taqwa Jl. Kh. Ahmad Dahlan

d. Masjid Annur Jl. Prof Moh. Yamin V

e. Vihara Budha Mitreya Jl. Laksamana Martadinata

f. Gereja Pantekosta Jl. Aris Munandar

g. Gereja Kristus Jemaat Malang Jl. Prof Moh. Yamin

2. Sekolah

a. SD Negeri Sukoharjo I Jl. Laksamana Martadinata 4/2


b. SD Negeri Sukoharjo II Jl. Prof. Muhammad Yamin

c. SDK Petra JL. Prof M Yamin, 16

d. SMP Negeri 2 Malang Jl. Prof. MOCH. YAMIN 60

e. SMP Negeri 9 Malang JL. PROF. MOCH. YAMIN VI/26

f. SMA Negeri 2 Malang JL. LAKS. MARTADINATA NO 84

JL. PROF. MOH. YAMIN SH. NO


g. SMAK Petra Malang
53

3. Rumah Makan

1. Depot Pak Iwan Jl. Aris Munandar

2. Kedai Nasi Mawut Jl. Aris Munandar

3. Ronde Titoni Jl. Zainal Arifin

4. Kedai Mie 31 Jl. Zainal Arifin

5. Kedai Cwimie Hok Lay Jl. KH. Ach Dahlan

6. Rumah KDS Jl. Jenderal Gatot Subroto

7. Al Mirah Caf Jl. Jenderal Gatot Subroto

8. Depot Baksoku Jl. KH. Achmad Dahlan

Rumah Makan Nikmat


9. Jl. Jenderal Gatot Subroto
Lezat

10. Rumah Makan Cita Rasa Jl. Pasar Besar

11. Rumah Makan Tiga Putra Jl. Pasar Besar

12. Depot Miramar Jl. Pasar Besar

Tahu Lontong Lonceng


13. Jl. Martadinata
Panca Budhi

14. Warung Soto Lamongan Jl. Martadinata

Warung Nasi Goreng Jawa


15. Jl. Kyai Tamin
Kidul Pasar

16. Warung P. Nawi Jl. Prof Moh. Yamin V


17. Warung Lama H. Ridwan Jl. Pasar Besar

18. Depot Mie Gajahmada Jl. Pasar Besar

19. McD. Carrefour Jl. KH. Agus Salim

20. Fast Food Malang Plaza Jl. KH. Agus Salim

21. Warung Bu Haji Jl. Kapten Ustman

22. Restoran Dragon Phoenix Jl. KH. Ach Dahlan

4. Bank
Untuk kebutuhan finansial ada berbagai fasilitas Bank-bank dan Automatic Teller
Machine (ATM) yang berada di Kelurahan Sukoharjo ini, yaitu:

BANK

PT. Bank Pasar


Jl. KH. Ach Dahlan
Sumber Arto

Bank CNB Jl. Zainal Arifin

Bank BCA Jl. Zainal Arifin

Bank BNI Syariah Jl. Jenderal Gatot Subroto

Bank BRI
Jl. Martadinata
Martadinata

Bank CIMB Niaga Jl. Kyai Tamin

Bank Ekonomi Jl. Pasar Besar

Bank Hagakita Jl. Pasar Besar

ATM

ATM Bank
Jl. KH. Achmad Dahlan
Bukopin

ATM Bank Mandiri Jl. KH. Achmad Dahlan

ATM Bank Mega Jl. Jend. Gatot Subroto


ATM Bank
Jl. Zainal Arifin
Maspion

ATM Bank
Jl. Pasar Besar
Ekonomi

ATM Bank
Jl. Pasar Besar
Hagakita

ATM Bank BNI Jl. Pasar Besar

ATM Bank BNI Jl. Jenderal Gatot Subroto

ATM Bank BRI Jl. Martadinata

5. Hotel
Berbagai Fasilitas Penginapan bisa digunakan oleh warga pendatang baik turis
domestik maupun turis luar negeri dengan harga yang masih terjangkau namun memiliki
fasilitas yang bagus.

1. Hotel De Warna Jl. Zainal Arifin

2. Hotel Malang Jl. Zainal Arifin

3. Hotel Malinda Jl. Zainal Arifin

4. Hotel Margosuko Jl. KH. Ach Dahlan

5. Hotel Tosari Jl. KH. Ach Dahlan

6. Hotel Santoso Jl. KH. Agus Salim


Peta wilayah kelurahan Sukoharjo
Analisis Situasi Pengendalian ISPA

1. Pengendalian Pneumonia Balita.


Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
terutama pada Balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupakan pembunuh
nomor dua pada Balita (13,2%) setelah diare (17,2%). Hasil survei morbiditas yang
dilaksanakan oleh subdit ISPA dan Balitbangkes menunjukkan angka kesakitan 5,12%,
namun karena jumlah sampel dinilai tidak representatif maka subdit ISPA tetap
menggunakan angka WHO yaitu 10% dari jumlah Balita. Angka WHO ini mendekati
angka SDKI 2007 yaitu 11,2%. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian oleh Rudan,et
al (2004) di negara berkembang termasuk Indonesia insidens pneumonia sekitar 36%
dari jumlah Balita. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap insidens pneumonia
tersebut antara lain gizi kurang, ASI ekslusif rendah, polusi udara dalam ruangan,
kepadatan, cakupan imunisasi campak rendah dan BBLR.
Sejak tahun 2000, angka cakupan penemuan pneumonia Balita berkisar antara
20%-36%. Angka cakupan tersebut masih jauh dari target nasional yaitu periode 2000-
2004 adalah 86%, sedangkan periode 2005-2009 adalah 46%-86%. Rendahnya angka
cakupan penemuan pneumonia Balita tersebut disebabkan antara lain:
Sumber pelaporan rutin terutama berasal dari Puskesmas, hanya beberapa
provinsi dan kabupaten/kota yang mencakup rumah sakit dan sarana pelayanan
kesehatan lainnya.
Deteksi kasus di puskesmas masih rendahnya karena sebagian besar tenaga
belum terlatih.
Kelengkapan pelaporan masih rendah terutama pelaporan dari kabupaten/kota
ke provinsi.

2. Kesiapsiagaan dan Respon terhadap Pandemi Influenza serta penyakit saluran


pernapasan lain yang berpotensi wabah
Kasus flu burung (FB) pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan pada
Juni 2005. Kasus FB pada manusia kumulatif sudah tersebar di 13 propinsi (Sumut,
Sumsel, Sumbar, Lampung, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, DI
Yogyakarta, Sulsel dan Bali) dan 53 kabupaten/kota. Klaster terbesar ditemukan di
Kabupaten Karo, Sumut dimana 6 orang meninggal dari 7 kasus positif (confirmed).
Pada tahun 2011, kasus FB masih ditemukan di 4 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jabar, DI
Yogyakarta dan Bali. Indonesia masih pada fase 3 pandemi (penularan dari hewan ke
manusia), belum ada bukti penularan antar manusia yang efisien. Indonesia adalah
yang terbanyak kasus FB di dunia dengan kematian 149 orang dari 181 kasus positif
(CFR 82,3%) dan 15 klaster (Oktober 2011).
Walaupun kasus FB di Indonesia tetap ditemukan, namun jumlah kumulatif
kasus pertahun sudah menunjukkan penurunan. Disaat Indonesia sedang berupaya
menanggulangi kasus flu burung, dunia dikejutkan dengan munculnya virus Influenza A
Baru (H1N1) di San Diego, Amerika Serikat dan menyebar ke Mexico pada April 2009,
yang menyebar dengan cepat ke berbagai negara di dunia. Sampai dengan Februari
2010, sudah menyebar lebih dari 211 negara dan menyebabkan kematian sekitar
15.000 orang. Sedangkan di Indonesia ditemukan 1.097 kasus positif dan 10 orang
(CFR 0.9%) diantaranya meninggal (10 Februari 2010).
Melihat kejadian pandemi sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa kemungkinan
akan terjadi mutasi virus flu burung atau reassortment (pencampuran genetik 2 virus
influenza atau lebih) yang akan menyebabkan timbulnya virus baru yang patogenitasnya
tinggi dan menular antar manusia secara efisien. Oleh karena itu semua negara di dunia
tetap mewaspadai kemungkinan tersebut dengan penguatan kesiapsiagaan dan respon
(core capability) sesuai situasi negara masing-masing.
Indonesia telah menyusun Rencana Strategi Penanggulangan Flu Burung dan
Kesiapsiagaan Pandemi Influenza tahun 2005. Berbagai upaya pengendalian telah
dilakukan oleh Kemenkes antara lain penyiapan rumah sakit rujukan,penguatan
surveilans, laboratorium virologi dan BSL-3, KIE, aspek hukum, logistik, koordinasi
LP/LS, kerjasama internasional dan simulasi. Subdit ISPA bekerjasama dengan LP/LS
telah melaksanakan simulasi penanggulangan episenter pandemi influenza di Bali (April
2008) dan Makassar (April 2009), Tabletop Exercise di 6 propinsi (Jabar, Sumut, Jambi,
Bengkulu, Sulut dan Sulteng), penyusunan rencana kontijensi penanggulangan
episenter di 11 propinsi (Sumut,
Sumsel, Sumbar, Lampung, Riau, Banten, Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan
Sulsel) dan 80 kabupaten/kota, penyusunan pedoman dan modul, sosialisasi H1N1 ke
33 propinsi dengan melibatkan LP/LS, dll.
Melihat data diatas masih banyak propinsi dan kabupaten/kota yang diharapkan
dapat mengadopsi atau mereplikasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
3. Pengendalian ISPA umur 5 tahun
Sejak pertengahan tahun 2007 Pengendalian ISPA telah mengembangkan
Surveilans Sentinel Pneumonia di 10 provinsi masing-masing 1 kabupaten/kota (10
Puskesmas, 10 RS). Pada tahun 2010 telah dikembangkan menjadi 20 provinsi masing-
masing 2 kabupaten/kota (40 RS, 40 Puskesmas terlampir). Secara bertahap akan
dikembangkan di semua provinsi, sehingga pada 2014 lokasi sentinel menjadi 132
lokasi (66 RS dan 66 Puskesmas). Biaya operasional sentinel ini dibebankan pada
anggaran rutin ISPA.
Tujuan dibangunnya sistem surveilans sentinel pneumonia ini adalah:
Mengetahui gambaran kejadian pneumonia dalam distribusi epidemiologi
menurut waktu, tempat dan orang di wilayah sentinel
Mengetahui jumlah kematian, angka fatalitas kasus (CFR) pneumonia usia 0 59
bulan (Balita) dan 5 tahun
Tersedianya data dan informasi faktor risiko untuk kewaspadaan adanya sinyal
epidemiologi episenter pandemi influenza
Terpantaunya pelaksanaan program ISPA
Dalam pelaksanaannya, kendala utama yang dihadapi adalah ketepatan dan
kelengkapan laporan. Disamping itu, pengiriman laporan masih bulanan dan hanya
beberapa lokasi sentinel yang menggunakan fasilitas internet dan fax sehingga
berdampak pada kelambatan deteksi dini, analisis data dan umpan balik.

4. Faktor risiko ISPA


Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai potensi kebakaran hutan dan telah
mengalami beberapa kali kebakaran hutan terutama pada musim kemarau. Asap dari
kebakaran hutan dapat menimbulkan penyakit ISPA dan memperberat kondisi
seseorang yang sudah menderita pneumonia khususnya Balita. Disamping itu asap
rumah tangga yang masih menggunakan kayu bakar juga menjadi salah satu faktor
risiko pneumonia. Hal ini dapat diperburuk apabila ventilasi rumah kurang baik dan
dapur menyatu dengan ruang keluarga atau kamar.
Indonesia juga merupakan negara rawan bencana seperti banjir, gempa, gunung
meletus, tsunami, dll. Kondisi bencana tersebut menyebabkan kondisi lingkungan
menjadi buruk, sarana dan prasarana umum dan kesehatan terbatas. Penularan kasus
ISPA akan lebih cepat apabila terjadi pengumpulan massa (penampungan pengungsi).
Pada situasi bencana jumlah kasus ISPA sangat besar dan menduduki peringkat
teratas.
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang sangat infeksius dan 90%
mengenai Balita. Dikhawatirkan apabila anak Balita menderita penyakit campak dengan
komplikasi pneumonia dapat menyebabkan kematian. Status gizi seseorang dapat
mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi, demikian juga sebaliknya. Balita
merupakan kelompok rentan terhadap berbagai masalah kesehatan sehingga apabila
kekurangan gizi maka akan sangat mudah terserang infeksi salah satunya pneumonia.
Penanggulangan faktor risiko di atas dilaksanakan oleh unit lain yang terkait baik
pusat maupun daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Namun disadari
bahwa data mengenai hubungan antara faktor risiko dengan kejadian kasus pneumonia
belum tersedia, sehingga pengendalian ISPA belum dilaksanakan lebih komprehensif.
Indikator ISPA
Cara
No Indikator Pembilang Penyebut
Penghitungan
1 Penuruanan jumlah Jumlah awal Jumlah keberhasilan a x 100%
kasus ISPA di penderita ISPA penyembuhan ISPA b
Kelurahan Sukoharjo sebelum dilakuakn setelah dilakukan
intervensi intervensi
2 meningkatnya Hasil pre test Hasil post test a x 100%
pengetahuan ibu-ibu pengetahuan pengetahuan tentang b
kelurahan Sukoharjo tentang ISPA ISPA
tentang ISPA
3 Meningkatnya Hasil pre test Hasil post test a x 100%
pengetahuan Ibu-ibu penatalaksanaan penatalaksanaan b
tentang tentang ISPA tentang ISPA
penatalaksanaan ISPA
di kelurahan Sukoharjo
4 Jumlah organisasi jumlah pelayanan jumlah pelayanan a x 100%
berbasis masyarakat kesehatan yang kesehatan yang b
yang memiliki kegiatan tidak berjalan berjalan (posyandu)
yang mendukung (posyandu)
program pengendalian