Anda di halaman 1dari 8

Stabilisasi Tanah Dengan Semen

Stabilisasi tanah dengan semen diartikan sebagai pencampuran antara tanah yang telah
dihancurkan, semen dan air, yang kemudian dipadatkan sehingga menghasilkan suatu
material baru disebut Tanah Semen dimana kekuatan, karakteristik deformasi, daya tahan
terhadap air, cuaca dan sebagainya dapat disesuikan dengan kebutuhan untuk perkerasan
jalan, pondasi bagunan dan jalan, aliran sungai dan lain-lain (Kezdi, 1979 : 108)

Proses kimia pada stabilisasi tanah dengan Semen

Tahapan proses kimia pada stabilisasi tanah menggunakan semen adalah sebagai berikut:

a. Absorbsi air dan reaksi pertukaran ion;


Bila Semen Portland ditambahkan pada tanah, ion kalsium Ca++ dilepaskan melalui
proses hidrolisa dan pertukaran ion berlanjut pada permukaan partikel-partikel lempung,
Butiran lempung dalam kandungan tanah berbentuk halus dan bermuatan negatif. Ion
positif seperti ion hidrogen (H+), ion sodium (Na+), ion kalsium (K+), serta air yang
berpolarisasi, Dari reaksi-reaksi kimia tersebut di atas, maka reaksi utama yang berkaitan
dengan kekuatan ialah hidrasi dari A-lit (3CaO. SiO2) dan B-lit (2CaO.SiO2), sehingga
membentuk kalsium silikat dan kalsium aluminat yang mengakibatkan kekuatan tanah
meningkat.
Reaksi pozolan; semuanya melekat pada permukaan butiran lempung. Dengan reaksi ini
partikel-partikel lempung menggumpal sehingga mengakibatkan konsistensi tanah
menjadi lebih baik.

b. Reaksi pembentukan kalsium silikat dan kalsium aluminat;

Secara umum hidrasi adalah sebagai berikut:

2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+3Ca(OH)2

2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+ Ca(OH)2

Reaksi antara silika (SiO2) dan alumina (AL2O3) halus yang terkandung dalam tanah
lempung dengan kandungan mineral reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan kapur dan
air. Hasil reaksi adalah terbentuknya kalsium silikat hidrat seperti: tobermorit, kalsium
aluminat hidrat 4CaO.Al2O3.12H2O dan gehlenit hidrat 2CaO.Al2O3.SiO2.6H2O yang
tidak larut dalam air. Pembentukan senyawa-senyawa ini berlangsung lambat dan
menyebabkan tanah menjadi lebih keras, lebih padat dan lebih stabil.

Jadi semen yang umum digunakan untuk stabilisai tanah dengan bahan semen
adalah ordinary portland cement atau dikenal sebagai semen tipe I.

Bahan Renolith

Renolith merupakan bahan cair yang berfungsi memperbaiki kondisi tanah dasar. Bahan
renolith yang penggunaannya dibantu dengan semen. Renolith akan meningkatkan elastisitas,
meningkatkan kekuatan tanah, menutupi pori-pori tanah sehingga tanah menjadi lebih kedap
air. Tanah yang bisa diperbaiki secara optimal adalah tanah yang memiliki CBR minimal 6%.

Spesifikasi umum untuk Campuran renolith dalam Semen-Tanah

Untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan proses stabilisasi semen untuk konstruksi
dan untuk mengurangi kemungkinan kegagalan setiap stabilisasi semen karena penyusutan
dari semen tanah, maka perlu tentang pengaturan secara benar apabila dimasukkannya
renolith dimasukkan dalam campuran semen tanah.

Tabel. 3 Desain campuran Semen - Renolith untuk Berbagai Jenis Tanah

Typical Typical
Typical percentage
ASTM percentage of percentage of
AASHTO of OMC
Soil cement Renolit
Soil classification to aggregate weight
classification to aggregate to cement
(Approximatety)
weight weight
GW, GP,
A-1-a GM, SW, SP, 3-5 5 6%
SM
GM, GP,
A-1-b 5-8 5 6%
SM,SP
GM, GC, SM,
A-2 5-9 5-7 10% - 15%
SC
A-3 SP 7-11 10 10%
A-4 CL, ML 7-12 10 12%
A-5 ML,MH,CH 10-13 10-12 12%
A-6 CL,CH 10-15 10-12 10% - 12%
A-7 MH, CH 10-16 10-12 10% - 12%
***OMC = Optimum Moisture Content /Kadar air optimun

Metode Penelitian

Metode penulisan yang digunakan yaitu dengan melakukan riset experimental kemudian
ditunjang dengan berbagai literatur yang erat hubungannya dengan pokok masalah.

Pengujian dilakukan dilaboratorium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil

Universitas Hasnuddin. Beberapa pengujian yang akan dilakukan :

1. Pengujian sifat fisik (kadar air, berat jenis, batas konsistensi dan analisis granuler).

2. Pengujian sifat mekanik tanah (Kekuatan Tekan Bebas, permeabiliy , Proktor


standar, Swelling dan CBR rendaman).

Kombinasi Campuran

Dalam penelitian ini sampel uji terdiri dari masing-masing material asli dan campuran yang
dibuat berdasarkan variasi penambahan semen dan Renolith sebagai bahan renolithnya yang
jumlah penambahannya berdasarkan prosentase perbandingan berat semen dengan tanah
lempung dan perbandingan berat renolith dengan semen, Lama waktu pemeraman ditentukan
yaitu 0 dan 4 hari yang kemudian sampel berdasarkan variasi penambahan renolith dan lama
waktu pemeraman dibuat 2 sampel yang sama. Dari kombinasi campuran pada ketiga jenis,
tanah yang ada akan kami diperoleh pengaruh renolith dan semen terhadap perbaikan tanah
dasar .

Pengujian Sampel

Tentukan indeks propertis tanah. Sifat-sifat indeks ini diperlukan untuk mengklasifikasikan
tanah dalam menentukan jenis bahan stabilisasi dengan serbuk pengikat yang sesuai dan
menentukan perkiraan awal jumlah kadar bahan serbuk pengikat yang perlu ditambahkan ke
dalam tanah yang akan distabilisasi. Pengujian indeks ini adalah sebagai berikut: Batas cair (
LL), sesuai dengan SNI 03-1967-1990; Batas plastis dan indeks plastisitas sesuai dengan SNI
03-1966-1990; Berat jenis tanah sesuai dengan SNI 03-1964-2008/ASTM D854-
88(72)Kadar air sesuai dengan ASTM D 2216-(71) Analisa saringan sesuai dengan SNI 03-
1968-1990 Analisis hidrometer, sesuai dengan SNI 03-3423-1994
Pengujian Sampel

Tentukan indeks propertis tanah. Sifat-sifat indeks ini diperlukan untuk mengklasifikasikan
tanah dalam menentukan jenis bahan stabilisasi dengan serbuk pengikat yang sesuai dan
menentukan perkiraan awal jumlah kadar bahan serbuk pengikat yang perlu ditambahkan ke
dalam tanah yang akan distabilisasi. Pengujian indeks ini adalah sebagai berikut: Batas cair (
LL), sesuai dengan SNI 03-1967-1990; Batas plastis dan indeks plastisitas sesuai dengan SNI
03-1966-1990; Berat jenis tanah sesuai dengan SNI 03-1964-2008/ASTM D854-
88(72)Kadar air sesuai dengan ASTM D 2216-(71) Analisa saringan sesuai dengan SNI 03-
1968-1990 Analisis hidrometer, sesuai dengan SNI 03-3423-1994

a. Penyiapan benda uji;


1) Siapkan contoh tanah yang kering udara dengan cara digemburkan. Apabila contoh
tanah dalam kondisi basah, pengeringan dapat dilakukan dengan mengangin-
anginkan (air-dry)
2) Ambil contoh tanah yang lolos saringan No.4 (4,75 mm) dan disimpan dalam
kantong pada temperatur ruangan. Jika tanah tersebut mengandung agregat tertahan
No 4 (4,75 mm) maka ambil material tanah yang lolos saringan 19 mm tetapi
mengandung bahan yang tertahan saringan No.4 (4,75 mm) maksimum 35%. Berat
contoh tanah disesuaikan dengan kebutuhan untuk masing-masing standar
pengujian yang akan diterapkan;
3) Ambil contoh tanah secukupnya untuk pengujian kadar air awal (SNI 03-1965-
1990).
b. Lakukan uji pemadatan ringan atau pemadatan berat, jika diperlukan, untuk
mendapatkan kadar air optimum dan kepadatan kering maksimum Lakukan uji kekuatan
tanah dengan uji kuat tekan bebas.

Lakukan uji kekuatan tanah dengan uji kuat tekan bebas sesuai dengan SNI 03-3638-1994
atau uji CBR sesuai dengan SNI-1744-1989. Pengujian untuk tanah berbutir halus dianjurkan
menggunakan uji kuat tekan bebas, sedangkan uji CBR digunakan untuk tanah berbutir kasar.

Analisis butiran dari grafik diatas, hasil uji analisa diatas kemudian presentasi tanah lolos
tersebut diplotkan kedalam klasifikasi tanah sistem USCS sehingga diketahui jenis tanah
yang diuji termasuk dalam klasifikasi tanah lempung inorganic, dengan tingkat Plastisitas
Tinggi (CH). Batas butir kasar dan tanah butir halus adalh ayakan no.200 (0,075 mm). Jadi
pada kurva tersebut tanah berbutir halus = 80,52% dan tanah butir kasar = 19,48%.
Tabel 4. Persentase analisis butiran tanah

Kriteria Tanah Analisis butiran tanah


(%)
Pasir 19,48
Lanau 33,93
Lempung 46,59

Pengujian Sifat Mekanika Tanah Pengujian Pemadatan Tanah (Standart Proctor Test)

Uji pemadatan standart ini di lakukan untuk mengetahui berat kering maksimum (MDD) dan
kadar air optimum (OMC)

Tabel 5. Hasil Pengujian Proctor Standar

Tanah+ Semen Tanah+ Semen 10%+


Pengujian Tanah Asli
5%+Renolith 5% Renolith 10%
Kadar Air Optimun
35,02 % 31,919 % 30,063 %
(opt)
Berat Volume
kering Maks ( 1,308 gr/cm) 1,348 gr/cm) 1,401 gr/cm
dry)

Analisis hasil uji pemadatan, Dari uji kepadatan Tanah asli variasi campuran semen dan
renolith (5% dan 10%) nampak pengaruh kadar air (WC) terhadap pemadatan. Kepadatan
tanah meningkat dengan bertambahnya Berat isi kering yang dipengaruhi oleh penambahan
semen dan renolith serta berkurangnya kadar air. meskipun air berfungsi sebagai pelumas,
tapi penambahan air yang berlebihan dapat mengakibatkan kepadatan menurun karena air
mengambil alih tempat-tempat yang semula ditempati oleh butiran. Olehnya kadar air dimana
kepadatan tanah maksimun dinamakan kadar air optimun (c-opt).

Analisis terhadap tanah dasar (subgrade), Bahwa tanah dasar pada tanah galian umumnya
memiliki muka air tanah yang tinggi, sehingga harus dilengkapi dengan drainase bawah tanah
yang baik. kondisi yang terbaik yaitu dapat memelihara kadar air dalam keadaan
seimbang.////////
Pengujian CBR

A. CBR Tanpa rendaman ( Unsoaked )


Hasil dari pengujian CBR tanpa rendaman dengan variasi pencampuran semen dan
renolith dapat dilihat dalam tabel dan grafik gabungan dibawah ini:

Tabel 6 .Hasil pengujian CBR Tanpa rendaman

Variasi Campuran Nilai Rata-rata CBR unsoaked


Tanah+Semen 0%+Renolith 0% 18,355%
Tanah+Semen 5%+Renolith 5% 35,500%
Tanah+Semen 10%+Renolith
39,475%
10%

Analisis Hasil uji CBR tanpa rendaman. Tanah lempung semula memiliki kekuatan
bahan yang jelek ditandai dengan nilai indeks plastisitas tinggi, memiliki daya rekat yang
baik dan butirannya termasuk butiran halus dengan gradasi buruk. Pencampuran dengan
semen dan renolith renolit yang mampu bereaksi dengan tanah sehingga membentuk
gumpalan-gumpalan menjadikan butiran tanah lempung menjadi besar, tekstur yang
kasar dan sifatnya nonkohesif dapat mempengaruhi gradasi butrannya dengan demikian
dapat meningkatkan nilai CBRnya.

B. CBR rendaman (soaked)

Pengujian CBR rendaman adalah pengujian yang di lakukan didalam Laboratorium


mekanika tanah yang bertujuan untuk mencari besarnya nilai CBR, dan
nilai pengembangan CBR didalam keadan jenuh air. sehingga tanah mengalami
pengembangan yang maksimum, yang berarti tanah dan cetakan direndam didalam air
selama 4 hari.Hasil dari pengujian CBR tanpa rendaman dan CBR rendaman dengan
variasi pencampuran dapat dilihat dalam tabel 7 dan gambar 7 dibawah ini

Tabel 7 Hasil pengujian CBR rendaman

Nama Pengujian
Vaiasi Campuran
Nilai Rata-rata CBR
Soaked (%)
Tanah+Semen 0%+Renolith 0% 2,801
Tanah+Semen 5%+Renolith 5% 20,700
Tanah+Semen 10%+Renolith 10% 49,410

Analsisi Hasil pengujian CBR Rendaman. Dari tabel di atas diperoleh nilai CBR
rendaman tanah asli hanya 2,801% tidak memenuhi spesifikasi kekuatan tanah dasar
jalan raya yang dipersyaratkan (persyaratan nilai CBR >6%). Dengan stabilisasi semen
dan penambahan renolith 5% diperoleh nilai CBR 20,700 % sudah sesuai spesifikasi
kekuatan tanah dasar tapi bila mana diperuntukkan untuk lapis pondasi bawah harus
disarankan memakai variasi 10 % karena diperoleh nilai CBR rendaman 49,410% yang
memenuhi spesifikasi kekuatan untuk lapis fondasi bawah (persyaratan nilai CBR
rendaman >35%).

Pengujian Free Swell (uji pengembangan)

Dari pengujian CBR rendaman didapatkan pula nilai-nilai hasil pengembangan. Dimana nilai
hasil pengembangan CBR rendaman dapat dilihat dalam Tabel dan Grafik di bawah ini:

Tabel 8. Hasil nilai rata-rata uji pengembangan

Nilai rata-rata pengembangan


Waktu
Variasi Variasi Variasi
(jam)
0% 5% 10%
0,5 4,043947 3,342105 1,010987
1 4,979737 3,860132 1,336842
2 6,015789 4,110789 1,520658
3 6,466974 4,160921 1,570789
4 6,617368 4,194342 1,604211
24 6,918158 4,294605 1,671053
48 6,968289 4,595395 1,687763
72 7,001711 4,311316 1,704474
96 7,018421 4,311316 1,704474
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa tanah asli lempung memiliki nilai tingkat
pengembangan sebesar 7,018 %. Dengan Nilai CBR = 2,59%. Pembesaran volume tanah
lempung akibat bertambahnya kadar air. Jadi potensi pembesaran volume ini tergantung pada
komposisi mineral, peningkatan kadar air, indeks plastis, kadar lempung dan tekanan tanah
penutup.

Mengerjakan proses stabilisasi Tanah lempung dengan teknik konstruksi yang sesuai. Untuk
menghasilkan kualitas yang baik dari pekerjaan konstruksi, selama proses konstruksi tersebut
harus diawasi dengan baik dan juga pekerjaan konstruksi tersebut harus dikerjakan sesuai
dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Pada proses pengerjaan stabilisasi dengan semen dan
renolith dilapangan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu kebutuhan kadar
semen, renolith dan kadar air termasuk juga proses pencampurannya,pemadatan dilapangan
dan proses perawatan (curing). Pekerjaan stabilisasi harus dikerjakan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan, untuk mencegah agar proses hidrasi semen tidak terjadi sebelum
pemadatan akhir tercapai.