Anda di halaman 1dari 61

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
TAHUN 2014

Nomor : 53c/LHP/XV/05/2015
Tanggal : 12 Mei 2015

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210
Telp. (021) 25549000 Ext. 7102/Fax. (021) 5719273
Website : www.bpk.go.id
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................. i
DAFTAR TABEL .................................................................................................................. ii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................................... iii
RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN ....................................................................... 1
BAB I HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN ................................................................... 4
1.1 Pendapatan Negara dan Hibah ................................................................................... 4
1.1.1 Temuan - Sewa Gedung dan Bangunan pada Kementerian PPN/Bappenas Belum
Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku ..................................................................... 4
1.1.2 Temuan - Hibah Department Of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Tahun 2014
Senilai AUD99,000,000.00 pada Kementerian PPN/ Bappenas Belum Sepenuhnya
Sesuai Dengan Ketentuan ... 8
1.2 Belanja Negara ........................................................................................................... 12
1.2.1 Temuan - Terdapat Kelebihan Pembayaran Tunjangan Biaya Hidup dan Tunjangan
Biaya Buku pada Karyasiswa Beasiswa SPIRIT Tahun 2014 Minimal Senilai
Rp326.922.086,81 ...................................................................................................... 12
1.2.2 Temuan - Terdapat Kekurangan Volume atas Beberapa Pengadaan Belanja Modal
di Kementerian PPN/Bappenas Senilai Total Rp239.439.000,00 ............................. 17
1.3 Aset.............................................................................................................................. 23
1.3.1 Temuan - Pengelolaan Kas pada Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Belum
Tertib .......................................................................................................................... 23
1.4 Lain-lain ..................................................................................................................... 29
1.4.1 Temuan - Unit Badan Lainnya pada Kementerian PPN/Bappenas Belum
Sepenuhnya Menyampaikan Ikhtisar Laporan Keuangan dan Pernyataan Tanggung
Jawab kepada UAP BUN PBL Sesuai Dengan Ketentuan yang Berlaku .................. 29
BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL
PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN TAHUN 2005 s.d. 2013 ................................................................................. 33
DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM........................................................................... 34
LAMPIRAN

i
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1 Biaya Sewa Ruangan Selama Tahun 2014 yang Telah Disetorkan ke
Kas Negara ......................................................................................... 5
Tabel 1.2 Rincian Kelebihan Pembayaran Tunjangan Hidup dan Tunjangan
Buku Tahun 2014 ................................................................................ 13
Tabel 1.3 Kekurangan Volume Pekerjaan Perbaikan Aset Tanah Kompleks
19
Bappenas Sawangan ...........................................................................
Tabel 1.4 Kas Lainnya yang Masih Berada di di Bendahara Pengeluaran
Hingga Akhir Tahun 2014 ................................................................... 24
Tabel 1.5 Pengembalian Belanja yang Berasal dari Pembayaran LS-Bendahara
pada Tahun 2014 Dikembalikan pada Tahun 2015 ............................ 25
Tabel 1.6 Uang Titipan pada Satker MCC ......................................................... 25
Tabel 1.7 Pengeluaran 3 (tiga) Satker Dana Dekonsentrasi yang Terlambat
Disetor Melewati Tanggal 31 Desember 2014 .................................. 26
Tabel 1.8 UBL yang Merupakan Bagian Satker Bappenas Tahun 2014 ............ 29
Tabel 1.9 Anggaran dan Realisasi Belanja atas Ketiga UBL ............................ 29
Tabel 1.10 UBL yang Belum Sepenuhnya Menyampaikan ILK dan Pernyataan
Tanggung Jawab kepada UAP BUN PBL Sesuai dengan Ketentuan
yang Berlaku ........................................................................................ 30
Tabel 2.1 Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan atas Kepatuhan
terhadap Peraturan Perundang-Undangan Tahun 2005 2013............ 33

ii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kekurangan Volume Pekerjaan Akses Jalan Gudang BMN Jati Sampurna
dan Jalan Garasi Bus Pegawai Jati Sari
Lampiran 2 Kekurangan Volume Pekerjaan Renovasi Interior Gedung Utama
Lampiran 3 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan
terhadap Peraturan Perundang-Undangan

iii
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN


TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPK telah memeriksa
Neraca Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) tanggal 31 Desember 2014 dan 2013,
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, serta
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Laporan keuangan adalah tanggung jawab
Kementerian PPN/Bappenas. BPK telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan
atas Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 yang memuat opini
Wajar Tanpa Pengecualian dengan Nomor 53a/LHP/XV/05/2015 tanggal 12 Mei 2015 dan
Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern Nomor 53b/LHP/XV/05/2015
tanggal 12 Mei 2015.
Sebagai bagian pemerolehan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan
keuangan bebas dari salah saji material, sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN), BPK melakukan pengujian kepatuhan pada Kementerian PPN/Bappenas
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang
berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Namun,
pemeriksaan yang dilakukan BPK atas Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas tidak
dirancang khusus untuk menyatakan pendapat atas kepatuhan terhadap keseluruhan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, BPK tidak menyatakan suatu
pendapat seperti itu.
BPK menemukan adanya ketidakpatuhan dalam pengujian kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan pada Kementerian PPN/Bappenas. Pokok-pokok temuan
ketidakpatuhan adalah sebagai berikut.
1. Sewa Gedung dan Bangunan pada Kementerian PPN/Bappenas Belum Sesuai dengan
Ketentuan yang Berlaku;
2. Hibah Department Of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Tahun 2014 Senilai
AUD99,000,000.00 pada Kementerian PPN/ Bappenas Belum Sepenuhnya Sesuai
dengan Ketentuan;

BPK LHP KEPATUHAN - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 1


3. Terdapat Kelebihan Pembayaran Tunjangan Biaya Hidup dan Tunjangan Biaya Buku
pada Karyasiswa Beasiswa SPIRIT Tahun 2014 Minimal Senilai Rp326.922.086,81;
4. Terdapat Kekurangan Volume atas Beberapa Pengadaan Belanja Modal di Kementerian
PPN/Bappenas Senilai Rp239.439.000,00;
5. Pengelolaan Kas pada Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Belum Tertib; dan
6. Unit Badan Lainnya pada Kementerian PPN/Bappenas Belum Sepenuhnya
Menyampaikan Ikhtisar Laporan Keuangan dan Pernyataan Tanggung Jawab kepada
UAP BUN PBL Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku.

Sehubungan dengan temuan tersebut, BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala


Bappenas antara lain:
1. segera mengajukan permohonan persetujuan atas sewa gedung dan bangunan di
lingkungan Kementerian PPN/Bappenas kepada Kemenkeu sehingga segera dapat
dilakukan langkah-langkah sesuai ketentuan pemanfaatan sewa BMN;
2. memerintahkan Penanggung Jawab Kegiatan Hibah DFAT untuk segera melaksanakan
proses registrasi hibah baru tersebut dan memproses pengesahannya sesuai dengan
ketentuan;
3. memerintahkan Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas untuk:
a. menginstruksikan Kepala Biro Umum supaya lebih memperhatikan ketentuan yang
mengatur tata cara pelaksanaan sewa BMN;
b. menginstruksikan Kepala Pusbindiklatren untuk menyusun dan menetapkan prosedur
khusus yang terintegrasi untuk mengatur mekanisme perencanaan, pelaksanaan, dan
monitoring atas pembayaran biaya beasiswa SPIRIT;
c. memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada PPK Program Peningkatan Sarana dan
Prasarana Aparatur Bappenas (P2SPAB) serta Panitia Penerima Barang karena
ketidakcermatannya dalam pengendalian pelaksanaan:
1) Pekerjaan akses jalan gudang BMN Jati Sampurna dan jalan garasi bus pegawai
Jati Sari;
2) Pekerjaan perbaikan aset tanah Kompleks Bappenas Sawangan; dan
3) Pekerjaan renovasi interior Gedung Utama.
d. memberikan pembinaan kepada Bendahara Pengeluaran Satker Settama, Bendahara
Pengeluaran Satker MCC dan BPP supaya mengelola kas yang berada dalam
tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. memerintahkan Penanggung Jawab UBL untuk melaksanakan kewajiban dalam
menyampaikan ILK dan Pernyataan Pertanggungjawaban sesuai ketentuan.

BPK LHP KEPATUHAN - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 2


BAB I
HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN
TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Hasil pemeriksaan atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan


Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 adalah:
1.1 Pendapatan Negara dan Hibah
1.1.1. Temuan - Sewa Gedung dan Bangunan pada Kementerian PPN/Bappenas
Belum Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku
Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas TA 2014 menyajikan
saldo Pendapatan senilai Rp3.009.571.707,00 diantaranya senilai
Rp51.549.440,00 dari Pendapatan Sewa Tanah, Gedung dan Bangunan.
Pendapatan sewa tersebut merupakan pendapatan dari biaya sewa gedung dan
bangunan Kementerian PPN/Bappenas oleh Koperasi Pegawai Bappenas.
Koperasi Pegawai Bappenas menyelenggarakan antara lain usaha simpan
pinjam, perdagangan umum dan mengadakan kerjasama yang saling
menguntungkan. Koperasi Pegawai Bappenas menyelenggarakan kegiatan
perdagangan melalui toko ataupun kantin sebagai sarana penyediaan tempat
makan bagi pegawai. Selain itu, melalui Unit Usaha Otonom Penyelenggara Tes
(UUO-PT), Koperasi Pegawai Bappenas menyelenggarakan usaha jasa pelayanan
Tes Potensi Akademik (TPA), Tes Potensi Intelektual Umum (TPIU) dan Test of
English as a Foreign Language (TOEFL). Penyelenggaraan tes-tes tersebut dapat
diikuti oleh masyarakat baik individu maupun korporasi dengan melakukan
registrasi dan membayar biaya tes sesuai dengan tarif yang telah ditentukan
koperasi.
Koperasi Pegawai Bappenas menggunakan sebagian gedung dan
bangunan di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas dengan prasarananya antara
lain listrik dan air. Penggunaan gedung dan bangunan tersebut untuk kegiatan:
a. Penyelenggaraan tes TPA, TPIU dan TOEFL sebanyak 22 kali dan
memanfaatkan 44 ruangan;
b. Kegiatan operasional koperasi berupa kantor, swalayan, dan kantin pegawai
dengan menyewa ruangan seluas 186m2.
Biaya sewa ruangan untuk kedua kegiatan di atas selama tahun 2014
adalah senilai Rp41.000.000,00 dan telah disetorkan seluruhnya ke kas Negara
dan didukung dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dengan
rincian sebagai berikut.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 4 dari 37


Tabel 1.1 Biaya Sewa Ruangan Selama Tahun 2014 yang Telah Disetorkan ke Kas
Negara

(dalam Rupiah)

Nomor Tanggal Nomor NTPN Nilai Keterangan

Sewa ruang tes Januari-Juni


1 01-10-2014 1107130407050300 5.500.000,00
2014
Sewa ruang tes Januari-Juni
2 03-07-2014 0410051002001513 500.000,00
2014
Sewa ruang tes Juli-Desember
3. 29-12-2014 0112100112051514 5.000.000,00
2014
Sewa gedung kantor koperasi
4. 01-07-2014 1213081304090508 15.000.000,00
bulan Januari-Juni 2014
Sewa gedung kantor koperasi
5. 29-12-2014 0203051200010506 15.000.000,00
bulan Juli-Desember 2014

Total 41.000.000,00

Hasil pemeriksaan atas tata cara sewa gedung dan bangunan oleh
Koperasi Pegawai Bappenas, diketahui hal-hal sebagai berikut.
a. Pelaksanaan sewa gedung dan bangunan Kementerian PPN/Bappenas oleh
Koperasi Pegawai Bappenas belum mendapatkan persetujuan dari Menteri
Keuangan (Menkeu) selaku Pengelola Barang.
Sewa ruangan untuk penyelenggaraan tes TPA, TPIU dan TOEFL
dilaksanakan berdasarkan surat-menyurat yang dilakukan oleh Ketua
Koperasi Pegawai Bappenas dengan Kepala Biro Umum setiap kali
penyelenggaraan tes. Sedangkan dasar pelaksanaan sewa gedung dan
bangunan untuk kegiatan operasional Koperasi Pegawai Bappenas adalah
Memorandum Nomor 058/Koperasi Bappenas/IX/2008 tanggal 3 September
2008 perihal Pembayaran Sewa Gedung Pemerintah dengan persetujuan dari
Kepala Biro Umum. Memorandum tersebut hanya dibuat pada Tahun 2008
dan tidak ada perubahan hingga saat ini;
b. Besaran sewa gedung dan bangunan dihitung oleh Biro Umum Kementerian
PPN/Bappenas tanpa sebelumnya diajukan dan dinilai oleh tim penilai dari
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu.
Penentuan besaran sewa gedung dan bangunan dilaksanakan berdasarkan
kesepakatan antara Pengurus Koperasi dengan Kepala Biro Umum tanpa
melalui persetujuan besaran sewa BMN dari Kementerian Keuangan. Tarif
sewa ruangan untuk tes TPA, TPIU dan TOEFL disepakati senilai
Rp250.000,00 per ruangan setiap kali kegiatan. Sementara tarif sewa gedung
dan bangunan untuk kegiatan operasional Koperasi Pegawai Bappenas sesuai
Memorandum disepakati senilai Rp2.500.000,00 per bulan. Kedua tarif sewa
tersebut belum ditetapkan dalam bentuk keputusan Sewa oleh Pengguna
Barang;
c. Tata cara sewa terkait penentuan tarif sewa, mekanisme pembayaran sewa
dan perpanjangan sewa di atas, belum memperhatikan periodesitas sewa

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 5 dari 37


BMN sesuai PMK Nomor 33/PMK.06/2012 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Sewa BMN yang mengatur bahwa besaran dan jangka waktu sewa dapat
dihitung berdasarkan per tahun, per bulan, per hari dan per jam.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah, yaitu pada:
1) Pasal 28 ayat (1) huruf c yang menyatakan bahwa sewa Barang Milik
Negara/Daerah dilaksanakan terhadap Barang Milik Negara yang berada
pada Pengguna Barang;
2) Pasal 29
a) ayat (4) huruf a yang menyatakan bahwa formula tarif/besaran Sewa
Barang Milik Negara/Daerah berupa tanah dan/atau bangunan
ditetapkan oleh Pengelola Barang untuk Barang Milik Negara; dan
b) ayat (8) yang menyatakan bahwa hasil Sewa Barang Milik
Negara/Daerah merupakan penerimaan negara dan seluruhnya wajib
disetorkan ke rekening Kas Umum Negara/Daerah.
b. PMK Nomor 33/PMK.06/2012 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa BMN:
1) Pasal 5
a) ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa pihak yang dapat
menyewakan BMN adalah Pengguna Barang, dengan persetujuan
Pengelola Barang, untuk BMN berupa sebagian tanah dan/atau
bangunan; atau BMN selain tanah dan/atau bangunan; dan
b) ayat (2) huruf d poin 4 yang menyatakan bahwa pihak yang dapat
menyewa BMN meliputi Swasta, antara lain adalah Koperasi;
2) Pasal 8 ayat (1) yang menyatakan bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga
selaku Pengguna Barang memiliki kewenangan dan tanggung jawab,
yaitu:
a) mengajukan permohonan persetujuan Sewa BMN berupa sebagian
tanah/dan atau bangunan atau BMN selain tanah dan/atau bangunan
kepada Pengelola Barang;
b) menerbitkan keputusan pelaksanaan Sewa BMN berupa sebagian
tanah/dan atau bangunan atau BMN selain tanah dan/atau bangunan,
setelah mendapat persetujuan dari Pengelola Barang;
c) melakukan Sewa BMN berupa sebagian tanah/dan atau bangunan
atau BMN selain tanah dan/atau bangunan, setelah mendapat
persetujuan dari Pengelola Barang;
d) melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas
pelaksanaan Sewa BMN berupa sebagian tanah/dan atau bangunan
atau BMN selain tanah dan/atau bangunan; dan
e) melakukan penatausahaan BMN yang disewakan;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 6 dari 37


3) Pasal 10 tentang Jangka Waktu Sewa:
a) ayat (1) yang menyatakan bahwa jangka waktu sewa BMN paling
lama 5 (lima) tahun sejak ditandatanganinya perjanjian; dan
b) ayat (3) yang menyatakan bahwa jangka waktu sewa dapat dihitung
berdasarkan periodesitas sewa;
4) Pasal 12 tentang Pembayaran Sewa:
a) ayat (1) yang menyatakan bahwa pembayaran uang sewa dilakukan
secara sekaligus paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum
penandatangan perjanjian;
b) ayat (2) yang menyatakan bahwa pembayaran sewa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara menyetor ke Kas
Umum Negara; dan
c) ayat (4) yang menyatakan bahwa dikecualikan dari ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), sewa BMN yang
dilaksanakan dengan periodesitas sewa per hari dan per jam untuk
masing-masing penyewa, pembayaran uang sewa dilakukan secara
sekaligus paling lambat sebelum penandatanganan perjanjian, dengan
cara pembayaran secara tunai kepada pejabat pengurus BMN atau
menyetorkannya ke rekening kas bendahara penerimaan di
lingkungan Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna
Barang;
5) Pasal 18;
a) ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa besaran Sewa BMN
ditetapkan oleh Pengguna Barang untuk BMN berupa sebagian tanah
dan/atau bangunan; atau selain tanah dan/atau bangunan yang status
penggunaannya ada pada Pengguna Barang, setelah mendapat
persetujuan dari Pengelola Barang;
b) ayat (3) yang menyatakan bahwa penetapan besaran Sewa BMN
dilakukan oleh Pengguna barang dalam keputusan Sewa;
6) Pasal 20 tentang Formula Tarif Sewa ayat (1) yang menyatakan bahwa
formula tarif sewa BMN merupakan hasil perkalian dari:
a) tarif pokok sewa; dan
b) faktor penyesuai sewa;
7) Pasal 21 ayat (1) huruf c yang menyatakan bahwa penyewaan
BMN/daerah dilaksanakan dengan bentuk penyewaan atas sebagian tanah
dan/atau bangunan yang masih digunakan oleh pengguna barang;
8) Pasal 39 tentang Faktor Penyesuai Sewa ayat (1) yang menyatakan
bahwa faktor penyesuai sewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat
(1) huruf b meliputi diantaranya periodesitas sewa.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 7 dari 37


Permasalahan tersebut mengakibatkan tarif sewa gedung dan bangunan
yang dibebankan kepada Koperasi Pegawai Bappenas berpotensi lebih rendah
dari tarif yang seharusnya .

Hal tersebut disebabkan:


a. Menteri PPN/Bappenas belum mengajukan persetujuan atas sewa gedung dan
bangunan di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas kepada Menkeu selaku
Pengelola Barang; dan
b. Biro Umum Kementerian PPN/Bappenas belum sepenuhnya memahami
peraturan terkait pemanfaatan BMN.

Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat dan


akan menindaklanjuti dengan menyesuaikan tarif sewa ruang untuk tes (TPA,
TPIU dan TOEFL) dan operasional koperasi sesuai PMK Nomor
33/PMK.06/2012 dan mengajukan persetujuan sewa gedung dan bangunan
kepada Kemenkeu.

BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar:


a. segera mengajukan permohonan persetujuan atas sewa gedung dan bangunan
di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas kepada Kemenkeu sehingga
segera dapat dilakukan langkah-langkah sesuai ketentuan pemanfaatan sewa
BMN; dan
b. memerintahkan Sesmen PPN/Sestama Bappenas untuk menginstruksikan
Kepala Biro Umum supaya lebih memperhatikan ketentuan yang mengatur
tata cara pelaksanaan sewa BMN.

1.1.2 Temuan - Hibah Department Of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Tahun
2014 Senilai AUD99,000,000.00 pada Kementerian PPN/ Bappenas Belum
Sepenuhnya Sesuai dengan Ketentuan
Pada tanggal 26 Oktober 2014, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah
Australia menyepakati perubahan pertama atas perjanjian hibah tanggal 11
Februari 2010 Subsidiary Arrangement (SA) between The Goverment of
Australia (GOA) and The Goverment of the Republik Indonesia (GOI) Relating
to Australias Support to Indonesias National Program for Community
Empowerment (PNPM). Perjanjian hibah tersebut merupakan penuangan Pasal
IV Nota Kesepahaman The General Agreement on Development Cooperation
(GADC) pada tanggal 21 Juli 1999. Kesepakatan perubahan perjanjian tersebut
memuat antara lain:
a. mengubah judul kegiatan yang semula disebut Australias Support to PNPM
menjadi Australias Support to Indonesias Poverty Reduction and
Community Development serta Executing Agencies untuk Pemerintah
Australia yang semula The Australian Agency for International Development
(AusAID) of the Department of Foreign Affairs and Trade menjadi The
Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT). Tidak terdapat perubahan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 8 dari 37


Executing Agencies untuk Pemerintah Indonesia, yaitu The National
Development Planning Agency (BAPPENAS);
b. penambahan masa berlaku perjanjian yang semula berakhir pada 30 Juni
2014 diperpanjang menjadi 30 Juni 2018;
c. menambah nilai kontribusi hibah senilai AUD99,000,000.00 sehingga nilai
hibah dari perjanjian sebelumnya senilai AUD215,000,000.00 bertambah
menjadi AUD314,000,000.00;
d. tujuan dari pemberian penambahan hibah adalah untuk memperkuat sistem
manajemen pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan program
nasional pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat dan program prioritas
lainnya terkait pengurangan kemiskinan serta pembangunan masyarakat
secara berkelanjutan; dan
e. Perubahan perjanjian tersebut disepakati oleh Pemerintah Australia yang
diwakili oleh Head of Mission Department of Foreign Affairs and Trade
Indonesia dan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Deputi Bidang
Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas.

Hasil pemeriksaan atas hibah DFAT diketahui hal-hal sebagai berikut.


a. penambahan hibah DFAT senilai AUD99,000,000.00 adalah hibah baru
yang terpisah dengan hibah Australias Support to PNPM. Hibah DFAT
direncanakan akan diberikan dalam bentuk barang dan jasa;
b. terdapat perubahan mekanisme pendanaan hibah yang sangat berbeda dari
SA yang lama. Pada SA lama, dana dari pemerintah Australia masuk ke
dalam Trust Fund (TF) yang dikelola oleh Bank Dunia melalui PNPM
Support Facility (PSF) sementara hibah yang baru pengelolaannya tidak
masuk dalam TF. Hibah DFAT akan dikelola langsung oleh DFAT. DFAT
akan mengontrak Managing Contractor (MC) untuk mengelola kegiatan
secara administratif;
c. sampai dengan akhir tahun 2014, dana DFAT belum dimanfaatkan karena
MC masih dalam proses rekrutmen oleh DFAT;
d. hingga pemeriksaan berakhir, Deputi Kemiskinan, Ketenagakerjaan, Usaha
Kecil dan Menengah (K2UKM) selaku unit Eselon 1 Penanggung Jawab
Kegiatan belum mengajukan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) Hibah
DFAT kepada Sesmeneg PPN/Sestama Bappenas c.q. Kepala Biro Renortala
dan Inspektur Utama. RPK Hibah merupakan dokumen rencana pelaksanaan
kegiatan hibah yang meliputi rincian jenis kegiatan, lokasi, rencana alokasi
anggaran, satuan kerja pelaksana kegiatan, jadual pelaksanaan, kebutuhan
dana pendarnping, dan mekanisme pengadaan barang dan jasa. Dokumen
RPK diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah NPPLN/NPHLN
ditandatangani;
e. Kementerian PPN/Bappenas masih melakukan persiapan registrasi hibah
DFAT ke Kementerian Keuangan.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 9 dari 37


Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan
Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah:
1) Pasal 2 yang menyatakan bahwa pinjaman luar negeri dan penerimaan
hibah harus memenuhi prinsip:
a) transparan;
b) akuntabel;
c) efisien dan efektif;
d) kehati-hatian;
e) tidak disertai ikatan politik; dan
f) tidak memiliki muatan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan
negara.
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191 Tahun 2011 tentang Mekanisme
Pengelolaan Hibah, yaitu pada:
1) Pasal 15 ayat (1) yang menyatakan bahwa mekanisme pelaksanaan dan
pelaporan atas Pendapatan Hibah Langsung bentuk barang/jasa/surat
berharga dilaksanakan melalui pengesahan oleh Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang (DJPU);
2) Pasal 16 yang menyatakan bahwa pengesahan pendapatan dan pencatatan
belanja/pengeluaran pembiayaan, dilakukan melalui tahapan sebagai
berikut:
a) penandatanganan BAST dan penatausahaan dokumen pendukung
lainnya;
b) pengajuan permohonan nomor register;
c) pengesahan Pendapatan Hibah Langsung bentuk barang/jasa/surat
berharga ke DJPU; dan
d) pencatatan hibah bentuk barang/jasa/surat berharga ke KPPN.

3) Pasal 23 ayat (2) yang menyatakan bahwa hibah yang diterima langsung
oleh Kementerian/Lembaga dan tidak dikelola sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan ini (PMK 191 Tahun 2011) menjadi tanggung jawab
penerima hibah.
c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230 Tahun 2011 tentang Sistem
Akuntansi Hibah Pasal 23 ayat (3) yang menyatakan bahwa dalam rangka
pelaksanaan SIKUBAH, K/L penerima hibah mencatat realisasi belanja yang
bersumber dari hibah, belanja barang untuk pengesahan persediaan dari
hibah, belanja modal untuk pengesahan aset tetap/aset lainnya dari hibah
dalam Laporan Realisasi Anggaran dan mengungkapkan Pendapatan Hibah
dalam CaLK;
d. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Nomor 2 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kegiatan yang
Dibiayai Pinjaman/Hibah Luar Negeri di Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Bappenas:

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 10 dari 37


1) Bab III (Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan Pinjaman/Hibah Luar Negeri)
huruf A tentang Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)
a) Berdasarkan Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri/Naskah
Perjanjian Hibah Luar Negeri (NPPLN/NPHLN), Pejabat Eselon I
Penanggung Jawab Kegiatan menyusun RPK;
b) RPK berisikan rencana pelaksanaan kegiatan yang meliputi rincian
jenis kegiatan, lokasi, rencana alokasi anggaran, satuan kerja
pelaksana kegiatan, jadual pelaksanaan, kebutuhan dana
pendarnping, dan mekanisme pengadaan barang dan jasa;
c) RPK disampaikan kepada Sesmeneg PPN/Sestama Bappenas c.q.
Kepala Biro Renortala dan Inspektur Utama paling lambat 3 (tiga)
bulan setelah NPPLN/NPHLN ditandatangani;
d) Sesmeneg PPN/Sestama Bappenas atas nama Menteri PPN/Kepala
Bappenas menyampaikan RPK sebagaimana dimaksud pada angka 3
kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas; dan
e) Pejabat Eselon I Penanggung jawab Kegiatan dan Inspektorat Utama
menggunakan RPK sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan bahan
pemantauan, evaluasi, dan reviu pelaksanaan kegiatan.
2) Bab III Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan Pinjaman/Hibah Luar Negeri
huruf G tentang Perubahan NPPLN/NPHLN:
a) Unit Kerja Pelaksana Kegiatan melalui Pejabat Eselon I Penanggung
Jawab Kegiatan dapat mengajukan usulan perubahan
NPPLN/NPHLN kepada Sesmeneg PPN/Sestama Bappenas disertai
penjelasan alasan perubahan;
b) Sesmeneg PPN/Sestama Bappenas mengajukan usulan perubahan
NPPLN/NPHLN kepada Dirjen Pengelolaan Utang, Departemen
Keuangan dan Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan, Bappenas;
dan
c) Usulan perubahan terhadap NPPLN/NPHLN dapat berupa perubahan
sasaran kegiatan, perubahan alokasi dana, perpanjangan masa
berlaku perjanjian dan/atau pembatalan sebagian kegiatan dan/atau
dana.

Permasalahan tersebut mengakibatkan potensi tidak tercatatnya hibah


pada Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas serta tidak termonitornya
pelaksanaan hibah.

Hal tersebut disebabkan Unit Kerja Pelaksana Kegiatan dan Penanggung


Jawab Kegiatan Hibah DFAT belum melaksanakan mekanisme pengelolaan
hibah sesuai dengan ketentuan.
Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat dan
saat ini Bappenas sedang mempersiapkan proses registrasi hibah baru tersebut
dan akan memproses pengesahannya dengan BAST.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 11 dari 37


BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar
memerintahkan Penanggung Jawab Kegiatan Hibah DFAT untuk segera
melaksanakan proses registrasi hibah baru tersebut dan memproses
pengesahannya sesuai dengan ketentuan.

1.2 Belanja Negara


1.2.1. Temuan - Terdapat Kelebihan Pembayaran Tunjangan Biaya Hidup dan
Tunjangan Biaya Buku pada Karyasiswa Beasiswa SPIRIT Tahun 2014
Minimal Senilai Rp326.922.086,81
Pada tanggal 18 Maret 2011, Pemerintah Indonesia mengadakan
Perjanjian Pinjaman Luar Negeri Scholarships Program for Strengthening
Reforming Institutions Project (SPIRIT) dengan International Bank for
Reconstruction dan Development (IBRD).
Perjanjian Pinjaman Luar Negeri tersebut bertujuan memperkuat sumber
daya manusia aparatur negara dalam melaksanakan tugas-tugas fungsionalnya
dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola reformasi birokrasi melalui
pemberian beasiswa baik program Gelar (Degree) maupun Non Gelar (Non
Degree) bagi aparatur negara di Kementerian/Lembaga di Indonesia.
Sesuai naskah perjanjian, Pinjaman Luar Negeri dengan Nomor 8010-ID
tersebut dilaksanakan sesuai prinsip efektif dan ekonomis yang berpedoman pada
Guidelines on Preventing and Combating Fraud and Corruption in Projects
Financed by IBRD Loans and IDA Credits and Grants. Selain itu, proyek
dilaksanakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia.
Kementerian PPN/Bappenas sebagai Project Implementation Units (PIU)
mengelola program beasiswa SPIRIT yang dilaksanakan oleh Bidang Diklat
Perencanaan I pada Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Perencana
Bappenas (Pusbindiklatren). Program beasiswa yang diselenggarakan meliputi
Beasiswa Program Gelar S1 , S2 dan S3 Luar Negeri serta Program Non Gelar
antara lain penyelenggaraan diklat baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pusbindiklatren mengelola program beasiswa SPIRIT secara swakelola
melalui Project Management Unit (PMU) Beasiswa SPIRIT. Pengelolaan PMU
dilaksanakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen Dukungan Manajemen IV (PPK
DM IV) selaku PPK di lingkungan Pusbindiklatren. Pelaksana project secara
teknis adalah PNS di Kementerian PPN/Bappenas dan pegawai-pegawai tidak
tetap yang melaksanakan pekerjaan berdasarkan kontrak dengan PPK DM IV.
Pengelolaan pembayaran bagi karyasiswa beasiswa SPIRIT S2 Luar
Negeri pada Pusbindiklatren Kementerian PPN/Bappenas adalah sebagai berikut.
a. Peserta beasiswa luar negeri mendapatkan hak pembayaran berupa tuition
fee, application fee, living allowance, book allowance dan typing allowance
selama masa studi;
b. Standar biaya tunjangan hidup karyasiswa mengacu pada Keputusan Sesmen
PPN/Bappenas Nomor Kep.003/SPIRIT/01/2012 tentang Penetapan Indeks
Tunjangan Biaya Hidup Karyasiswa dalam Pelaksanaan Program Beasiswa
SPIRIT; dan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 12 dari 37


c. Setiap bulan, karyasiswa SPIRIT mendapatkan biaya tunjangan hidup dan
tunjangan buku. PPK DM IV membayarkan tunjangan biaya hidup dan buku
per bulan tersebut sekaligus 3 (tiga) atau 6 (enam) bulan dalam satu kali
pembayaran melalui transfer langsung pada masing-masing rekening bank
karyasiswa.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen pendukung pembayaran
biaya tunjangan hidup dan tunjangan buku Tahun Anggaran (TA) 2014 diketahui
terdapat kelebihan pembayaran biaya tunjangan hidup dan tunjangan buku senilai
minimal Rp326.922.086,81, dengan perincian pada tabel berikut.
Tabel 1.2 Rincian Kelebihan Pembayaran Tunjangan Hidup dan Tunjangan Buku
Tahun 2014

Nilai Pengembalian
Tanggal Lebih Mata Tunjangan Kurs Tengah Jumlah
No Nomor SP2D
SP2D Bayar Uang BI (Rp) (Rp)
Living Books Jumlah

1 141401103001618 2014-08-12 3 bulan USD 4,200.00 300.00 4.500,00 11.677,00 52.546.500,00

2 141401103000593 2014-04-07 1 bulan USD 1,350.00 100.00 1.450,00 11.282,00 16.358.900,00

3 141401103001618 2014-08-12 2 bulan USD 2,900.00 200.00 3.100,00 11.677,00 36.198.700,00

4 141401103000967 2014-05-14 1 bulan USD 1,350.00 100.00 1.450,00 11.487,00 16.656.150,00

5 141401103000876 2014-05-09 18 hari USD 783.87 100.00 883,87 11.563,00 10.220.200,00

6 141401101000652 2014-05-02 6 hari AUD 322.00 108.00 430,00 10.705,20 4.603.236,00

7 141401104000368 2014-05-02 7 hari Euro 248.50 72.00 320,50 15.989,72 5.124.705,26

8 141401104000361 2014-04-30 1 bulan Euro 1065.00 72.00 1.137,00 15.922,24 18.103.586,88

9 141401104000412 2014-05-14 7 hari Euro 248.50 72.00 320,50 15.746,39 5.046.718,00

10 141401104000387 2014-05-05 7 hari Euro 248.50 72.00 320,50 15.972,10 5.119.058.05

11 141401104000393 2014-05-09 7 hari Euro 248.50 72.00 320,50 16.000,89 5.128.285,25

12 141401104000639 2014-05-02 23 hari GBP 874.00 59.00 933,00 19.479,09 18.173.990,97

13 141401104000459 2014-04-04 1 bulan GBP 1,090.00 61.00 1.151,00 18.759,91 21.592.656,41

14 141401103002044 2014-09-29 5 bulan USD 8,745.00 500.00 9.245,00 12.120,00 112.049.400,00

Jumlah 326.922.086,81

Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa kelebihan pembayaran tersebut


terjadi karena jumlah biaya tunjangan hidup dan tunjangan buku yang dibayarkan
kepada karyasiswa melebihi jangka waktu penyelesaian masa studi di luar negeri.
Berdasarkan konfirmasi dengan PPK atas adanya kelebihan pembayaran tersebut
diketahui hal-hal sebagai berikut.
a. Selama Tahun 2014, pembayaran sekaligus untuk 3 (tiga) atau 6 (enam
bulan) tunjangan hidup dan tunjangan buku karyasiswa dalam sekali
pembayaran agar tidak terdapat keterlambatan pembayaran. Selain itu,
pembayaran sekaligus dilaksanakan untuk mengantisipasi adanya
penggunaan aplikasi pembayaran baru pada KPPN yang dapat
mengakibatkan keterlambatan pencairan dana;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 13 dari 37


b. Terdapat bagian pada PMU SPIRIT di Pusbindiklatren yang dapat memonitor
atas penyelesaian masa studi berikut kepulangan karyasiswa ke Indonesia.
Namun demikian, bagian tersebut selama ini belum dikoordinasikan dengan
bagian pengelolaan keuangan. Atas hal tersebut, bagian pengelolaan
keuangan tidak mengetahui informasi tanggal kepulangan karyasiswa yang
telah menyelesaikan masa studinya sehingga terdapat kelebihan pembayaran
tunjangan hidup dan tunjangan buku bagi karyasiswa yang telah
menyelesaikan studi selama tahun 2014; dan
c. Kelebihan pembayaran TA 2013
Terdapat kendala administratif untuk mengetahui dalam penghitungan
kelebihan pembayaran pada tahun TA 2013. Kendala tersebut antara lain
adalah kurang tertibnya pengelolaan administrasi beasiswa SPIRIT pada TA
2013, petugas yang telah berganti dan dokumen pendukung yang belum
diarsipkan dengan baik. Atas hal tersebut, nilai kelebihan pembayaran
tunjangan hidup dan tunjangan buku pad TA 2013 belum dapat diketahui.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yaitu pada:
1) Pasal 13 yang menyatakan bahwa PPK bertanggung jawab atas
kebenaran materiil dan akibat yang timbul dari penggunaan bukti
mengenai hak tagih kepada negara;
2) Pasal 16 yang menyatakan bahwa PPSPM bertanggung jawab terhadap
kebenaran administrasi; kelengkapan administrasi dan keabsahan
administrasi;
3) Pasal 122 yang menyatakan bahwa:
a) Pembayaran atas tagihan kepada negara yang dilakukan kepada pihak
yang tidak berhak dan/atau dibayarkan melebihi haknya merupakan
keterlanjuran pembayaran;
b) Keterlanjuran pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus disetorkan kembali ke rekening Kas Negara; dan
c) Penyetoran kembali ke rekening Kas Negara sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diperlakukan sebagai koreksi atas keterlanjuran
pembayaran dimaksud.
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK 0.5/2012 tentang Tata Cara
Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara, yaitu pada :
1) Pasal 12 ayat (1) yang menyatakan bahwa PPK melaksanakan
kewenangan KPA untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran anggaran belanja dan negara;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 14 dari 37


2) Pasal 13:
a) ayat (1) yang menyatakan bahwa dalam melakukan tindakan yang
dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara, PPK
memiliki tugas dan wewenang :
(1) menyusun rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan
dana berdasarkan DIPA;
(2) membuat, menandatangani dan melaksanakan perjanjian /kontrak
dengan Penyedia Barang/Jasa
(3) mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;
(4) menguji dan menandatangani surat bukti mengenai hak tagih
kepada negara;
(5) membuat dan menandatangani SPP
(6) menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen
pelaksanaan kegiatan; dan
(7) melaksanakan tugas dan wewenang lainnya yang berkaitan
dengan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran
belanja negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
b) ayat (3) yang menyatakan bahwa pengujian sebagaimaa dimaksud
pada ayat (1) huruf g dilakukan dengan menguji kebenaran materiil
dan keabsahan surat-surat bukti mengenai hak tagih kepada negara;
3) Pasal 14 ayat (1) yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan tugas dan
wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf h, PPK
menguji:
a) kelengkapan dokumen tagihan;
b) kebenaran perhitungan tagihan;
c) kebenaran data pihak yang berhak menerima pembayaran atas beban
APBN; dan
d) kebenaran, keabsahan serta akibat yang timbul dari penggunaan surat
bukti mengenai hak tagih kepada negara;
4) Pasal 16 yang menyatakan bahwa Pejabat Penanda Tangan SPM
(PPSPM) melaksanakan kewenangan KPA untuk melakukan pengujian
atas tagihan dan menerbitkan SPM;
5) Pasal 17 yang menyatakan bahwa dalam melakukan pengujian tagihan
dan menerbitkan SPM, PPSPM memiliki tugas dan wewenang sebagai
berikut:
a) Menguji kebenaran SPP beserta dokumen pendukung;
b) Menolak dan mengembalikan SPP, apabila SPP tidak memenuhi
persyaratan untuk dibayarkan;
c) Membebankan tagihan pada mata anggaran yang telah disediakan;
d) Menerbitkan SPM;
e) Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen hak tagih;
f) Melaporkan pelaksanaan pengujian dan perintah pembayaran kepada
KPA; dan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 15 dari 37


g) Melaksanakan tugas dan wewenang lainnya yang berkaitan dengan
pelaksanaan pengujian dan perintah pembayaran.

Permasalahan tersebut mengakibatkan terdapat kelebihan pembayaran


kepada karyasiswa program beasiswa SPIRIT minimal senilai Rp326.922.086,81.

Hal tersebut disebabkan:


a. Pusbindiklatren belum memiliki prosedur khusus yang terintegrasi untuk
mengatur mekanisme perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring atas
pembayaran biaya beasiswa SPIRIT;
b. kurangnya pengawasan langsung dari KPA Satker Settama Kementerian
PPN/Bappenas;
c. PPSPM Satker Settama Kementerian PPN/Bappenas dan PPK DM IV kurang
cermat dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan
pengeluaran anggaran Belanja Negara.

Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat dan


akan menindaklanjuti dengan langkah- langkah sebagai berikut.
a. Menginformasikan kepada 14 karyasiswa untuk mengembalikan kelebihan
pembayaran tunjangan biaya hidup dan biaya buku ke kas negara
b. senilai Rp326.922.086,81;dan
c. Melakukan penyempurnaan dalam pembayaran allowance kepada karyasiswa
dengan sosialisasi kepada karyasiswa dan merevisi SOP program SPIRIT.
d. Atas kelebihan pembayaran senilai Rp326.922.086,81, senilai
Rp206.714.399,93 telah disetor ke Kas Negara, sedangkan sisanya senilai Rp
Rp120.207.686,88 akan segera disetor ke Kas Negara.
BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar memerintahkan
Sesmen PPN/Sestama Bappenas untuk:
a. menginstruksikan Kepala Pusbindiklatren untuk menyusun dan menetapkan
prosedur khusus yang terintegrasi untuk mengatur mekanisme perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring atas pembayaran biaya beasiswa SPIRIT;
b. meningkatkan pengawasan atas pengelolaan beasiswa SPIRIT;
c. memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada PPSPM dan PPK DM IV agar
lebih cermat dalam melaksanakan tugas;
d. menginstruksikan kepada PPK DM IV supaya menagih kelebihan
pembayaran biaya tunjangan hidup dan tunjangan buku Tahun 2014 senilai
Rp326.922.086,81 kepada karyasiswa dan segera menyetorkan ke Kas
Negara; dan
e. menginstruksikan kepada PPK DM IV supaya menghitung kelebihan
pembayaran biaya tunjangan hidup dan tunjangan buku Tahun 2013 kepada
karyasiswa dan segera menyetorkan ke Kas Negara.
Atas rekomendasi tersebut, Kementerian PPN/Bappenas telah melakukan
penyetoran ke Kas Negara senilai Rp206.714.399,94 sementara sisanya senilai
Rp120.207.686,87 akan segera disetor ke Kas Negara. Penyetoran ke Kas Negara

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 16 dari 37


senilai Rp206.714.399,94 tersebut a.n Bendahara Pengeluaran Anggaran
Bappenas dengan rincian sebagai berikut:
1. Senilai Rp3.000.000,00 dengan bukti SSBP tanggal 8 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 0004070402020315;
2. Senilai Rp16.656.150,00 dengan bukti SSBP tanggal 7 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 1300090809071502;
3. Senilai Rp10.220.200,00 dengan bukti SSBP tanggal 29 April 2015 dan
NTPN Nomor 0612071200141107;
4. Senilai Rp4.603.236,00 dengan bukti SSBP tanggal 5 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 10700101113030711;
5. Senilai Rp5.124.705,26 dengan bukti SSBP tanggal 8 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 1514101311060906;
6. Senilai Rp5.046.718,00 dengan bukti SSBP tanggal 8 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 1209060413140713;
7. Senilai Rp5.119.058,05 dengan bukti SSBP tanggal 8 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 0305130604121311;
8. Senilai Rp5.128.285,25 dengan bukti SSBP tanggal 8 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 0705040003001014;
9. Senilai Rp18.173.990,97 dengan bukti SSBP tanggal 4 Mei 2015 dan NTPN
Nomor 0402150509141410;
10. Senilai Rp21.592.656,41 dengan bukti SSBP tanggal 24 April 2015 dan
NTPN Nomor 0305080215111113; dan
11. Senilai Rp112.049.400,00 dengan bukti SSBP tanggal 22 April 2015 dan
NTPN Nomor 0604120515081314.

1.2.2. Temuan - Terdapat Kekurangan Volume atas Beberapa Pengadaan Belanja


Modal di Kementerian PPN/Bappenas Senilai Rp239.439.000,00
LRA Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 melaporkan realisasi
Belanja Modal adalah senilai Rp32.186.118.738,00 atau 91,58% dari anggaran
Belanja Modal senilai Rp35.144.681.000,00.
Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas realisasi Belanja Modal,
diketahui terdapat kekurangan volume pekerjaan dengan uraian sebagai berikut.
a. Terdapat kekurangan volume pada Pekerjaan Akses Jalan Gudang BMN Jati
Sampurna dan Jalan Garasi Bus Pegawai Jati Sari senilai Rp191.553.000,00
Pekerjaan Akses Jalan Gudang BMN Jati Sampurna dan Jalan Garasi Bus
Pegawai Jati Sari dilaksanakan oleh PT. CA melalui SPK Nomor
142/SPK/02.01.01-BAPPENAS/10/2014 tanggal 22 Oktober 2014 dengan
jangka waktu pekerjaan selama 30 hari kalender (22 Oktober s.d. 19
November 2014) dengan nilai kontrak senilai Rp487.157.000,00. Pada

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 17 dari 37


tanggal 14 November 2014 dilakukan perubahan perjanjian pekerjaan Nomor
142/ADD/02.01.01-BAPPENAS/11/2014 dengan nilai kontrak senilai
Rp529.899.490,00. Pekerjaan tersebut telah dinyatakan selesai sesuai dengan
Berita Acara Serah Terima (BAST) Hasil Pekerjaan Nomor
463/BAST/02.01.01/11/2014 tanggal 19 November 2014. Pekerjaan juga
telah dibayar lunas melalui SP2D Nomor 140191302054 tanggal 22
Desember 2014 senilai Rp529.899.490,00.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 23 Maret 2015 sesuai
Berita Acara Pemeriksaan Fisik Nomor 25/BAPF/LK-BAPPENAS/03/2015,
diketahui terdapat kekurangan volume pada beberapa item pekerjaan aspal
senilai Rp191.553.000,00 dengan rincian terdapat pada Lampiran 1.
Dari pemeriksaan atas dokumen kontrak, Contract Change Order (CCO),
dan dokumen penganggaran Pekerjaan Akses Jalan Gudang BMN Jati
Sampurna dan Jalan Garasi Bus Pegawai Jati Sari diketahui hal-hal sebagai
berikut.
1) Pekerjaan ini dianggarkan pada Belanja Modal Gedung dan Bangunan
(533121) yang seharusnya dianggarkan pada Belanja Jalan dan Jembatan
(534141);
2) Masa pemeliharaan pekerjaan ini adalah 3 bulan dan termasuk dalam
kategori konstruksi semi permanen. Seharusnya pekerjaan pengaspalan
jalan adalah termasuk kategori konstruksi permanen, sehingga masa
pemeliharaannya adalah minimal 6 bulan; dan
3) Satuan pekerjaan aspal AC-BC dan AC-WC adalah m2 yang dihitung
dengan mengalikan panjang dan lebar jalan dengan tidak
memperhitungkan tebal aspal.
Menurut keterangan dari Sekretaris Tim Panitia Penerima Hasil Pekerjaan
berdasarkan Surat Pernyataan Memberikan Keterangan (SPMK) Nomor
01/SPMK/BPK/03/2015 diketahui bahwa:
1) Tim Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Jasa Konstruksi diminta
melakukan pemeriksaan pada tanggal 18 November 2014;
2) Tugas Tim Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Jasa Konstruksi adalah
melihat kesesuaian dokumen kontrak beserta perubahannya dengan
pelaksanaan, melihat dokumen kesesuaian material, dan pengukuran fisik
jalan;
3) Pengukuran jalan hanya dilaksanakan dengan mengukur luas jalan
(panjang dan lebar jalan);
4) Tim Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Jasa Konstruksi tidak
melaksanakan uji fisik coredrill aspal. Tim hanya melihat kesesuaiannya
berdasarkan hasil pengujian aspal yang dibuat oleh penyedia barang dan
jasa dan diketahui oleh pengawas lapangan Program Peningkatan Sarana
dan Prasarana Aparatur Bappenas (P2SPAB).

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 18 dari 37


b. Terdapat kekurangan volume pada Pekerjaan Perbaikan Aset Tanah Komplek
Bappenas Sawangan senilai Rp22.886.000,00
Pekerjaan Perbaikan Aset Tanah Komplek Bappenas Sawangan dilaksanakan
oleh PT LE melalui SPK Nomor 147A/SPK/02.01.01-BAPPENAS/10/2014
tanggal 27 Oktober 2014 dengan jangka waktu pekerjaan selama 45 hari
kalender (27 Oktober s.d. 10 Desember 2014) dengan nilai kontrak senilai
Rp386.788.000,00. Pada tanggal 24 November 2014, dilakukan perubahan
perjanjian pekerjaan Nomor 147A/ADD/02.01.01-BAPPENAS/11/2014
dengan nilai kontrak senilai Rp418.653.000,00. Pekerjaan tersebut telah
dinyatakan selesai sesuai dengan BAST Hasil Pekerjaan Nomor
27/BAPHP/KONSTRUKSI/12/2014 tanggal 5 Desember 2014. Pekerjaan
juga telah dibayar lunas melalui SP2D Nomor 140191304014827 tanggal 9
Desember 2014 senilai Rp418.653.000,00.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 24 Februari 2015 sesuai
Berita Acara Pemeriksaan Fisik Nomor 08/BAPF/LK-BAPPENAS/02/2015,
diketahui terdapat kekurangan volume pada beberapa item pekerjaan dengan
rincian sebagai berikut.
Tabel 1.3 Kekurangan Volume Pekerjaan Perbaikan Aset Tanah Komplek Bappenas
Sawangan
(dalam Rupiah)
Volume
Uraian Harga
Nomor Sat. Hasil Uji Selisih Nilai
Pekerjaan Kontrak Satuan
Fisik Kurang
1 2 3 4 5 6 = (4-5) 7 8 = (6x7)
Pek. Saluran
1 M 52 31,6 20,40 750.145,00 15.302.958,00
Terbuka
Pek. Paving
2 m2 190 170,36 19,64 82.500,00 1.620.300,00
Block
Pek. Pagar
3 Pembatas M 16,05 8,10 7,95 750.043,25,00 5.962.843,84
Lapangan Tenis

Jumlah 22.886.101,84
Pembulatan 22.886.000,00

c. Terdapat kekurangan volume pekerjaan pada Pekerjaan Renovasi Interior


Gedung Utama senilai Rp25.000.000,00
Pekerjaan Renovasi Interior Gedung Utama dilaksanakan oleh PT IUJM
melalui SPK Nomor 068/SPK/02.01.01-BAPPENAS/05/2014 tanggal 5 Mei
2014 dengan jangka waktu pekerjaan selama 120 hari kalender (5 Mei s.d 1
September 2014) dengan nilai kontrak Rp4.490.690.600,00. Terdapat tiga
kali addendum dengan rincian sebagai berikut.
1) Addendum pertama dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2014 dengan
Nomor 068C/ADD/02.01.01-BAPPENAS/09/2014 dengan perubahan
kontrak pada nilai kontrak dari semula senilai Rp4.490.690.600,00
menjadi senilai Rp4.883.212.700,00;
2) Addendum kedua pada tanggal pertama dilaksanakan pada tanggal 29
Agustus 2014 dengan Nomor 068B/ADD/02.01.01-BAPPENAS/09/2014
dengan perubahan kontrak pada perpanjangan waktu 30 hari dari semula
kontrak berakhir pada tanggal 1 September 2014 menjadi tanggal 30
September 2014;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 19 dari 37


3) Addendum ketiga dilaksanakan pada tanggal 20 September 2014 dengan
Nomor 068C/ADD/02.01.01-BAPPENAS/09/2014 dengan perubahan
kontrak pada nilai kontrak dari semula senilai Rp4.883.212.700,00
(addendum pertama) menjadi senilai Rp4.930.696.400,00.
Pekerjaan tersebut telah dinyatakan selesai sesuai dengan BAST Hasil
Pekerjaan Nomor 356/BAST/02.01.01/09/2014, serta telah dibayar lunas
terakhir melalui SP2D Nomor 140191304012345 tanggal 30 September 2014
senilai Rp1.512.447.510,00. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada
tanggal 16 Maret 2015 sesuai Berita Acara Pemeriksaan Fisik Nomor
20/BAPF/LK-BAPPENAS/03/2015, diketahui terdapat kekurangan volume
pada beberapa item pekerjaan senilai Rp25.000.000,00 dengan rincian pada
Lampiran 2.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 sebagaimana telah diubah melalui
Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 dan Peraturan Presiden Nomor 70
Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada:
1) Pasal 11 ayat (1) yang menyatakan bahwa PPK memiliki tugas pokok
dan kewenangan antara lain:
a) mengendalikan pelaksanaan kontrak; dan
b) melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan
hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setiap triwulan.
2) Pasal 18 ayat (5) yang menyatakan bahwa Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mempunyai tugas pokok
dan kewenangan untuk:
a) melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa
sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak;
b) menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui
pemeriksaan/pengujian; dan
c) membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil
Pekerjaan.
3) Pasal 95 ayat (5 huruf b) yang menyatakan bahwa khusus pekerjaan
konstruksi atau jasa lainnya masa pemeliharaan paling singkat untuk
pekerjaan permanen selama 6 (enam) bulan, sedangkan untuk pekerjaan
semi permanen selama 3 (tiga) bulan.
b. Peraturan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum
Tahun 2010 Divisi 6 tentang Perkerasan Aspal pada Seksi 6.3 angka 4
tentang Tebal Lapisan dan Toleransi Campuran Beraspal Panas yang
menyatakan bahwa:
1) Tebal setiap lapisan campuran beraspal harus diperiksa dengan benda uji
inti (core) perkerasan yang diambil oleh Penyedia Jasa sesuai petunjuk
Direksi Pekerjaan;
2) Tebal aktual hamparan lapis beraspal di setiap segmen, didefinisikan
sebagai tebal rata-rata dari semua benda uji inti yang diambil dari segmen
tersebut;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 20 dari 37


3) Segmen adalah panjang hamparan yang dilapis dalam satu hari produksi
AMP;
4) Tebal aktual hamparan lapis beraspal individual yang dihampar, harus
sama dengan tebal rancangan yang ditentukan dalam Gambar Rencana
dengan toleransi yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.1.(4).f;
5) Bilamana campuran beraspal yang dihampar lebih dari satu lapis, tebal
masing-masing tiap lapisan campuran beraspal tidak boleh kurang dari
tebal Nominal minimum rancangan seperti yang ditunjukkan pada tabel
6.3.1.(1) dan toleransi masing-masing yang disyaratkan dan tebal
rancangan yang ditentukan dalam Gambar Rencana; dan
6) Toleransi tebal untuk tiap lapisan campuran beraspal :
a) Latasir tidak kurang dari 2,0 mm;
b) Lataston Lapis Aus tidak kurang dari 3,0 mm;
c) Lataston Lapis Pondasi tidak kurang dari 3,0 mm;
d) Laston Lapis Aus tidak kurang dari 3,0 mm;
e) Laston Lapis Antara tidak kurang dari 4,0 mm; dan
f) Laston Lapis Pondasi tidak kurang dari 5,0 mm.
c. Syarat-syarat Umum Kontrak (SSUK) Kontrak Nomor 142/SPK/02.01.01-
BAPPENAS/10/2014, Nomor 147A/SPK/02.01.01-BAPPENAS/10/2014
tanggal 27 Oktober 2014 dan Nomor 068/SPK/02.01.01-
BAPPENAS/05/2014 Tanggal 5 Mei 2014 yang antara lain menyatakan
bahwa:
1) PPK mempunyai kewajiban mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang
dilaksanakan oleh penyedia; dan
2) Penyedia mempunyai kewajiban melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan secara cermat, akurat dan penuh tanggung jawab dengan
menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan angkutan ke atau dari
lapangan, dan segala pekerjaan permanen maupun sementara yang
diperlukan untuk pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan
yang dirinci dalam kontrak.
Permasalahan tersebut mengakibatkan terjadi kelebihan pembayaran
senilai Rp239.439.000,00 yang terdiri dari:
a. Pekerjaan Akses Jalan Gudang BMN Jati Sampurna dan Jalan Garasi Bus
Pegawai Jati Sari Pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT CA senilai
Rp191.553.000,00;
b. Pekerjaan Perbaikan Aset Tanah Komplek Bappenas Sawangan yang
dilaksanakan oleh PT LE senilai Rp22.886.000,00; dan
c. Pekerjaan Renovasi Interior Gedung Utama yang dilaksanakan oleh PT IUJM
senilai Rp25.000.000,00.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 21 dari 37


Hal tersebut disebabkan:
a. Kontraktor pelaksana tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kontrak;
b. Panitia penerima barang kurang cermat dalam melakukan pemeriksaan dan
membuat BAST; dan
c. Lemahnya pengawasan dan pengendalian dari Pejabat Pembuat Komitmen.
Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat dan
telah menindaklanjuti dengan menyetorkan seluruh kekurangan volume pekerjaan
senilai Rp239.439.000,00 ke Kas Negara.
BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar
memerintahkan Sesmen PPN/Sestama Bappenas untuk :
a. menarik kelebihan pembayaran senilai Rp239.439.000,00 dan
menyetorkannya ke Kas Negara. Nilai tersebut terdiri atas:
1) PT CA senilai Rp191.553.000,00;
2) PT LE senilai Rp22.886.000,00; dan
3) PT IUJM senilai Rp25.000.000,00.
b. memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada PPK Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana Aparatur Bappenas (P2SPAB) serta Panitia Penerima
Barang karena ketidakcermatannya dalam pengendalian pelaksanaan:
1) Pekerjaan akses jalan gudang BMN Jati Sampurna dan jalan garasi bus
pegawai Jati Sari;
2) Pekerjaan perbaikan aset tanah Kompleks Bappenas Sawangan; dan
3) Pekerjaan renovasi interior Gedung Utama.
Atas rekomendasi terkait kelebihan pembayaran tersebut, Kementerian
PPN/Bappenas telah menyetorkan seluruh kekurangan volume pekerjaan senilai
Rp239.439.000,00 ke Kas Negara dengan rincian sebagai berikut:
1. PT CA senilai Rp191.553.000,00 dengan bukti SSBP tanggal 9 Mei 2015 dan
NTPN Nomor 0202100001030300;
2. PT LE senilai Rp22.886.000,00 dengan bukti SSBP tanggal 28 April 2015
dan NTPN Nomor 0004070908110603; dan
3. PT IUJM senilai Rp25.000.000,00 dengan bukti SSBP tanggal 4 Mei 2015
dan NTPN Nomor 1312021207091013.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 22 dari 37


1.3 Aset
1.3.1 Temuan - Pengelolaan Kas pada Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014
Belum Tertib
Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas per 31 Desember 2014
menyajikan saldo Kas dan Setara Kas senilai Rp19.912.265.981,00 yang terdiri
dari Kas di Bendahara Pengeluaran senilai Rp22.328.943,00 dan Kas Lainnya
dan Setara Kas senilai Rp19.889.937.038,00.
Pengelolaan Kas di Kementerian PPN/Bappenas dilaksanakan oleh dua
Bendahara Pengeluaran (BP) pada Satuan Kerja (Satker) Pusat yaitu Satker
Sekretariat Utama (Settama) Kementerian PPN/Bappenas dan Satker Millenium
Compact Challenge (MCC). Selain itu, pengelolaan Kas juga dilaksanakan oleh
BP pada 32 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) yang
merupakan satker penerima Dana Dekonsentrasi.
Hasil pemeriksaan pada pengelolaan kas pada satker-satker di lingkungan
Kementerian PPN/Bappenas diketahui bahwa pengelolaan Kas belum
sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan penjelasan sebagai
berikut.
a. Satker Settama Bappenas
Pengelolaan kas pada Satker Settama Bappenas diselenggarakan oleh satu BP
dengan dibantu oleh 17 Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) yang
ditempatkan di masing-masing Eselon 1.
Hasil pemeriksaan atas pengelolaan Kas pada BP Satker Settama, BPP,
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dukungan Manajemen III Sekretariat
Menteri (Settmen)/ Sekretariat Utama (Settama) Bappenas (DM IIII), BPP
PPK DM IV Settmen/Settama Bappenas (DM IV) dan BPP PPK Program
Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Bappenas (P2SPAB) diketahui
hal-hal sebagai berikut.
1) Pengangkatan, pelaporan dan penatausahaan Kas di Bendahara
Pengeluaran pada Satker Settama belum sesuai dengan peraturan yang
berlaku, yang dijelaskan sebagai berikut.
a) Bendahara Pengeluaran Satker Settama dijabat oleh Kepala Bagian
(Kabag) Keuangan yang merupakan pejabat struktural setingkat
Eselon III. Sesuai Pasal 86 Peraturan Menteri Bappenas/PPN Nomor
005/M.PPN/Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian PPN/Bappenas, Kabag Keuangan bertugas dalam
penyusunan, penatausahaan, verifikasi, dan pelaporan keuangan serta
pengujian pembayaran.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Bagian Keuangan berfungsi
untuk melaksanakan penatausahaan kas dan anggaran belanja serta
pelaksanaan verifikasi data dan dokumen serta pelaporan keuangan.
Dengan demikian, belum terdapat pola pemisahan fungsi antara
kewenangan administratif dan pemegang fungsi pembayaran.
Pemisahan fungsi tersebut merupakan salah satu prinsip

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 23 dari 37


pengendalian internal yang penting untuk dilaksanakan dalam
pelaksanaan anggaran.;
b) Terdapat penggantian dua BPP selama Tahun 2014 yaitu BPP pada
PPK DM III dan BPP DM IV. Atas penggantian bendahara tersebut
tanpa disertai Berita Acara Serah Terima Kas;
c) Dari pemeriksaan atas pembukuan dan pelaporan kas diketahui BPP
DM III, BPP DM IV dan BPP P2SPAB belum menyajikan
pemasukan dan pengeluaran kas di Buku Kas Umum (BKU) secara
rutin setiap hari serta belum menyusun buku pembantu pajak;
d) Pemeriksaan fisik kas pada BPP DM IV diketahui terdapat uang
titipan dari PPK DM IV senilai Rp18.296.000,00 dan USD 720.00
tanpa disertai Berita Acara Penitipan Kas; dan
e) Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa kas pada akhir hari
kerja pada BPP DM IV adalah senilai Rp 118.622.144,00. Pada
setiap akhir kerja, uang tunai yang berada pada BP/BPP yang berasal
dari UP paling banyak adalah senilai Rp50.000.000,00. Kelebihan
uang tunai pada BPP DM IV senilai Rp68.622.144,00 tersebut
digunakan untuk penggantian (reimburse) biaya akomodasi yang
telah dikeluarkan terlebih dahulu oleh penerima beasiswa
(karyasiswa) Scholarship Program for Strengthening Reforming
Institutions Project (SPIRIT). Atas uang kelebihan tersebut tidak
terdapat berita acara terkait kelebihan kas.
2) Pengelolaan Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran atas pengembalian
belanja belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dijelaskan sebagai
berikut.
a) Terdapat Kas Lainnya yang masih berada di BP hingga akhir Tahun
2014 senilai Rp104.449.000,00 dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 1.4 Kas Lainnya yang Masih Berada di Bendahara Pengeluaran


Hingga Akhir Tahun 2014
(dalam Rupiah)

No Nomor SP2D Tanggal Pengembalian Keterangan Pengembalian BP/BPP


Tunjangan kinerja pegawai terkena Satker Settama
1 080761C/019/112 27/02/2013 18.495.000,00
hukuman disiplin
Transport konsinyering pegawai DM IV
2 14091701000177 12/03/2014 467.000,00
yang resign dan tidak diambil.
Transport lokal yang belum diambil
3 14091701000179 12/03/2014 200.000,00
oleh pegawai
Biaya Sewa Fotokopi yang belum
diserahkan karena mesin fotokopi
4 141401701000254 31/12/2014 15.366.500,00 rusak

Uang Transport Lokal yang belum


5 14091701000189 13/02/2014 220.500,00
diambil pegawai
Deputi Bidang Sarana
6 140191303015040 15/12/2014 69.700.000,00 Pengembalian Honor Detiknas
& Prasarana
104.449.000,00

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 24 dari 37


b) Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa atas Kas
Lainnya tersebut, terdapat kas dari Satker Settama senilai
Rp88.195.000,00 yang merupakan pengembalian belanja dari
pembayaran LS Bendahara Pengeluaran pada Tahun 2014. Atas
pengembalian belanja telah dikembalikan pada Tahun 2015,
disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1.5 Pengembalian Belanja yang Berasal dari Pembayaran LS


Bendahara pada Tahun 2014 Dikembalikan pada Tahun 2015
(dalam Rupiah)

Nomor SP2D Tanggal Nilai Tanggal NTPN


No
Pengembalian Setor
1 080761C/019/112 27/02/2015 18.495.000,00 20/03/2015 1413060208011410
2 140191303015040 15/12/2014 69.700.000,00 26/02/2015 0903091104000315
88.195.000,00

Sisa LS Bendahara Pengeluaran yang tidak diterima oleh yang


berhak seharusnya dikembalikan secepatnya ke Kas Negara.
b. Satker Millennium Challenge Compact (MCC)
Satker MCC merupakan satker baru yang berdiri pada Tahun 2011 di
lingkungan Kementerian PPN/Bappenas. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan
kas diketahui hal-hal sebagai berikut.
1) BP pada Satker MCC tidak membukukan pemasukan dan pengeluaran
kas pada BKU secara rutin setiap hari;
2) Hasil cek fisik kas diketahui pengelolaan kas di brankas Satker MCC
dikelola bukan oleh BP Satker MCC. Pengelolaan kas di brankas
dilaksanakan oleh pegawai CPNS pada Direktorat Energi,
Telekomunikasi dan Informatika di lingkungan Kementerian
PPN/Bappenas. Atas pengelolaan kas tersebut belum terdapat surat
keputusan penunjukan sebagai pengelola kas; dan
3) Berdasarkan cek fisik kas diketahui terdapat uang titipan senilai
Rp162.500.000,00 pada satker MCC tanpa disertai Berita Acara
Penitipan Kas yang diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 1.6 Uang Titipan pada Satker MCC
(dalam Rupiah)
No Uraian Jumlah Keterangan
1 Uang titipan Detiknas 67.500.000,00 Tanpa Berita
Acara Penitipan
2 Uang titipan dari Direktorat Energi 95.000.000,00 Kas
Total 162.500.000,00

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 25 dari 37


c. Satker Dana Dekonsentrasi
Pemeriksaan atas Satker Dana Dekonsentrasi diketahui terdapat Kas di
Bendahara Pengeluaran berupa Uang Persediaan (UP)/Tambahan Uang
Persediaan (TUP) yang masih terdapat di Bendahara Pengeluaran tiga Satker
Dana Dekonsentrasi yang terlambat disetor melewati tanggal 31 Desember
2014, yang dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel 1.7 Pengeluaran Tiga Satker Dana Dekonsentrasi yang Terlambat Disetor
Melewati Tanggal 31 Desember 2014
(dalam Rupiah)

No Satker Tanggal setor NTPN Nilai


Bappeda Provinsi 06 Januari 2015 1406001305100904
1 8.360.353,00
Sulawesi Tengah
Bappeda Provinsi 15 April 2015 1002101300150208
2 6.445.390,00
NTT
Bappeda Provinsi 07 Januari 2015 0400140209111012
3 7.523.200,00
Papua

Total 22.328.943,00

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yaitu pada Pasal
10:

1) ayat (2) yang menyatakan bahwa menteri/pimpinan


lembaga/gubernur/bupati/walikota mengangkat Bendahara Pengeluaran
untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan
anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah;dan

2) ayat (3) yang menyatakan bahwa Bendahara Penerimaan dan Bendahara


Pengeluaran adalah Pejabat Fungsional.

b. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 12 yang menyatakan bahwa
Belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan berdasarkan atas hak
dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran;

c. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 190/PMK 0.5/2012 tentang Tata


Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara, yaitu pada:
1) Pasal 24 ayat (1) yang menyatakan bahwa Bendahara Pengeluaran
melaksanakan tugas kebendaharaan atas uang/surat berharga yang
berada dalam pengelolaannya, yang meliputi uang/surat berharga yang
berasal dari UP, Pembayaran LS melalui Bendahara Pengeluaran;
Uang/surat berharga yang bukan berasal dari UP, dan bukan berasal dari
Pembayaran LS yang bersumber dari APBN;

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 26 dari 37


2) Pasal 24 ayat (2) yang menyatakan bahwa tugas kebendaharaan
Bendahara Pengeluaran meliputi: menerima, menyimpan,
menatausahakan, dan membukukan uang/surat berharga dalam
pengelolaannya; melakukan pengujian dan pembayaran berdasarkan
perintah PPK; menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi
persyaratan untuk dibayarkan; melakukan pemotongan/pemungutan
penerimaan negara dari pembayaran yang dilakukannya; menyetorkan
pemotongan/pemungutan kewajiban kepada negara ke Kas negara;
mengelola rekening tempat penyimpanan UP; dan menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Kepala KPPN selaku kuasa
BUN;
3) Pasal 27 yang menyatakan bahwa Bendahara Pengeluaran bertanggung
jawab secara pribadi atas uang/surat berharga yang berada dalam
pengelolaannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1);
4) Pasal 43 ayat (4) yang menyatakan bahwa pada setiap akhir hari kerja,
uang tunai yang berasal dari UP yang ada pada Kas Bendahara
Pengeluaran/BPP paling banyak senilai Rp50.000.000,-(lima puluh juta
rupiah);
5) Pasal 29 ayat (3) yang menyatakan bahwa dalam hal terdapat sisa uang
yang bersumber dari SPM LS Bendahara yang tidak terbayarkan kepada
yang berhak, Bendahara Pengeluaran/BPP harus segera menyetorkan sisa
uang dimaksud ke Kas Negara;dan
6) Pasal 29 ayat (4) yang menyatakan bahwa dalam hal tidak dimungkinkan
untuk menyetor sisa uang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ke Kas
Negara secepatnya, Bendahara Pengeluaran/BPP dapat menyetorkan sisa
uang dimaksud paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kerja sejak
tanggal diterbitkannya SP2D dari KPPN.
d. PMK Nomor 162/PMK.05/2013 tentang Kedudukan dan Tanggung Jawab
Bendahara pada Satuan Kerja Pengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara, Pasal 19 yang menyatakan bahwa jenis-jenis uang/surat berharga
yang harus ditatausahakan oleh Bendahara Pengeluaran/BPP meliputi:
1) Uang Persediaan
2) Uang yang berasal dari Kas Negara melalui SPM LS Bendahara;
3) Uang yang berasal dari potongan atas pembayaran yang dilakukannya
sehubungan dengan fungsi Bendahara selaku wajib pungut;
4) Uang dari sumber lainnya yang menjadi hak negara; dan
5) Uang lainnya yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
boleh dikelola oleh Bendahara,
e. Buletin Teknis 01 tentang Penyusunan Awal Neraca Pemerintah Pusat
mengenai Kas dan Setara Kas yang menyatakan bahwa kas pemerintah pusat
yang dikuasai dan di bawah tanggung jawab selain Bendahara Umum Negara
terdiri dari Kas di Bendahara Pengeluaran, Kas di Bendahara Penerimaan dan
Saldo kas lainnya yang diterima Kementerian Negara/Lembaga karena
penyelenggaraan pemerintahan;dan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 27 dari 37


f. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-37/PB/2014 tentang
Langkah-Langkah Menghadapi Akhir Tahun 2014 Pasal 27 yang menyatakan
bahwa sisa dana UP yang masih berada pada Kas Bendahara (baik tunai
maupun yang masih ada di rekening bank/pos) oleh Bendahara Pengeluaran
yang bersangkutan harus disetorkan kembali ke Kas Negara melalui
Bank/Pos Persepsi pada wilayah kerja KPPN Pembuku/mitra kerja KPPN
Pembayar dengan menggunakan SSBP, paling lambat tanggal 30 Desember
2014.
Permasalahan tersebut mengakibatkan:
a. potensi penyalahgunaan wewenang;
b. potensi tidak tercatatnya transaksi pada pembukuan kas; dan
c. potensi penyalahgunaan kas atas sisa pengembalian belanja yang belum
disetor ke Kas Negara.
Hal tersebut disebabkan:
a. kurangnya sumber daya manusia yang dianggap kompeten untuk menjadi
bendahara;
b. bendahara belum mempedomani peraturan pengelolaan Kas yang berlaku;
dan
c. kurangnya pengawasan atasan langsung atas pengelolaan Kas.
Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat,
namun perangkapan Bendahara Pengeluaran oleh Kepala Bagian Keuangan
dikarenakan keterbatasan jumlah SDM yang kompeten di Biro Umum.
Selanjutnya Kementerian PPN/Bappenas akan memperbaiki pengelolaan,
pembukuan dan pelaporan kas di masa mendatang dengan melakukan pencatatan
secara periodik, membuat berita acara penitipan kas dan mematuhi ketentuan
uang tunai yang dikelola serta menyimpan uang tunai menggunakan brankas.
BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar
memerintahkan Sesmen PPN/Sestama untuk:
a. melakukan proses kaderisasi bendahara pengeluaran;
b. memberikan pembinaan kepada Bendahara Pengeluaran Satker Settama,
Bendahara Pengeluaran Satker MCC dan BPP supaya mengelola kas yang
berada dalam tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
c. meningkatkan pengawasan atas pengelolaan kas di lingkungan Kementerian
PPN/Bappenas.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 28 dari 37


1.4 Lain-Lain
1.4.1 Temuan - Unit Badan Lainnya pada Kementerian PPN/Bappenas Belum
Sepenuhnya Menyampaikan Ikhtisar Laporan Keuangan dan Pernyataan
Tanggung Jawab kepada UAP BUN PBL Sesuai dengan Ketentuan yang
Berlaku
Unit Badan Lainnya (UBL) adalah unit organisasi yang merupakan
kekayaan negara yang tidak dipisahkan yang didirikan dengan tujuan untuk
melaksanakan program dan kegiatan tertentu sesuai yang diamanatkan oleh
peraturan perundang-undangan dan/atau mendukung fungsi
Kementerian/Lembaga dimana secara hirarkis tidak di bawah dan tidak
bertanggung jawab secara langsung kepada pimpinan Kementerian/Lembaga
tertentu.
Pada Tahun 2014, Kementerian PPN/Bappenas memiliki tiga UBL yang
merupakan bagian Satker, dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 1.8 UBL yang Merupakan Bagian Satker Bappenas Tahun 2014

No Nama UBL Unit Pelaksana Dasar Pendirian

1 Badan Koordinasi Direktorat Tata Ruang dan Keppres Nomor 4 Tahun


Penataan Ruang Nasional Pertanahan pada Deputi 2009 tentang Badan
(BKPRN) Bidang pengembangan Koordinasi Penataan
Regional dan Otonormi Ruang Nasional
Daerah)
2 Dewan Teknologi Informasi Direktur Energi, Keppres Nomor 1 Tahun
Dan Komunikasi Nasional Telekomunikasi dan 2014 tentang Dewan
(DETIKNAS) Informatika pada Deputi Teknologi Informasi dan
Bidang Sarana dan Komunikasi Nasional
Prasarana
3 Komite Kebijakan Deputi Bidang Sarana dan Perpres Nomor 42 Tahun
Percepatan Penyediaan Prasarana 2005 tentang Komite
Infrastruktur (KKPPI) Kebijakan Percepatan
Penyediaan Infrastruktur
sebagaimana diubah
dengan Keppres Nomor 12
Tahun 2011 tentang
Perubahan atas Perpres
Nomor 42 Tahun 2005
tentang KKPPI

Anggaran dan realisasi belanja atas ketiga UBL tersebut adalah sebagai
berikut.
Tabel 1.9 Anggaran dan Realisasi Belanja atas Ketiga UBL
(dalam Rupiah)

Realisasi
Anggaran dalam
No Nama UBL Belanja Belanja Jumlah realisasi
APBN Belanja pegawai Belanja barang
modal Lain-Lain
1 Badan
Koordinasi
Penataan
Ruang 2.058.488.000,00 0 2.055.394.835,00 0 0 2.055.394.835,00
Nasional
(BKPRN)

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 29 dari 37


Anggaran dalam Realisasi
No Nama UBL Belanja Belanja Jumlah realisasi
APBN Belanja pegawai Belanja barang
modal Lain-Lain
2 Dewan
Teknologi
Informasi
Dan 1.470.400.000,00 0 1.382.098.900,00 0 0 1.382.098.900,00
Komunikasi
Nasional
(DETIKNAS)
3 Komite
Kebijakan
Percepatan
1.491.680.000,00 292.800.000,00 1.129.543.549,00 0 0 1.422.343.549,00
Penyediaan
Infrastruktur
(KKPPI)
Total 5.020.568.000,00 292.800.000,00 4.567.037.284,00 0 0 4.859.837.284,00

Berdasarkan pemeriksaan dokumen dan wawancara dengan pengelola


UBL dan pengelola keuangan pada Kementerian PPN/Bappenas, diketahui bahwa
terdapat UBL yang terlambat menyusun dan menyampaikan ILK dan Pernyataan
Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) kepada Unit Akuntansi Pembantu
Bendahara Umum Negara Pelaporan Keuangan Badan Lainnya (UAP BUN PBL)
pada Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.
Berdasarkan ketentuan, UBL bagian Satker memiliki kewajiban untuk
menyusun dan menyampaikan Ikhtisar Laporan Keuangan secara semesteran dan
tahunan serta Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) yang
menyatakan bahwa ILK telah disusun berdasarkan data anggaran dan realisasi
belanja yang ada di UBL bagian Satker kepada UAP BUN PBL.
ILK tersebut harus disampaikan paling lambat pada:
1) akhir bulan Juli tahun berjalan, untuk ILK semesteran; dan
2) pertengahan bulan Februari tahun anggaran berikutnya, untuk ILK tahunan.
Namun pada realisasinya, UBL pada Kementerian PPN/Bappenas belum
sepenuhnya menyampaikan ILK dan Pernyataan Tanggung Jawab kepada UAP
BUN PBL sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan rincian pada tabel
berikut.
Tabel 1.10 UBL yang Belum Sepenuhnya Menyampaikan ILK dan
Pernyataan Tanggung Jawab kepada UAP BUN PBL
Sesuai dengan Ketentuan yang Berlaku
Tanggal Penyampaian ILK dan Pernyataan
Tanggung Jawab ke UAP BUN PBL
No Nama UBL
Semesteran Tahunan

1 Badan Koordinasi Penataan Ruang 15 Januari 2014 dan 10


14 Juli 2014
Nasional (BKPRN) Maret 2015 (revisi)
2 Dewan Teknologi Informasi Dan 10 Februari 2015 (tidak
Komunikasi Nasional (DETIKNAS) Tidak menyampaikan disertai Pernyataan
Tanggung Jawab)
3 Komite Kebijakan Percepatan
25 Agustus 2014 10 Maret 2015
Penyediaan Infrastruktur (KKPPI)

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 30 dari 37


Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217 Tahun 2013 tentang Perubahan
Kedua atas PMK Nomor 235 Tahun 2011 tentang Sistem Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan Badan Lainnya
1) Pasal 11:
a) ayat (2) yang menyatakan bahwa UBL bagian satker harus
menyampaikan ILK kepada UAP BUN PBL secara semesteran dan
tahunan; dan
b) ayat (3) yang menyatakan bahwa penyampaian ILK dilakukan paling
lambat:
(1) pada akhir bulan Juli tahun berjalan, untuk ILK semesteran; dan
(2) pada pertengahan bulan Februari tahun anggaran berikutnya
untuk ILK tahunan.
2) Pasal 13
a) ayat (2) yang menyatakan bahwa UBL bagian Satker harus
menyampaikan Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of
Responsibility) atas ILK yang disusunnya; dan
b) ayat (5) yang menyatakan bahwa Pernyataan Tanggung Jawab
(Statement of Responsibility) yang dibuat oleh UBL bagian satker
memuat pernyataan bahwa ILK telah disusun berdasarkan data
anggaran dan realisasi belanja yang ada di UBL bagian satker.
3) Pasal 15
a) ayat (1) yang menyatakan bahwa UBL yang terlambat atau tidak
menyampaikan laporan keuangan atau ILK dapat dikenakan sanksi;
dan
b) ayat (3) yang menyatakan bahwa sanksi dapat berupa:
(1) Teguran tertulis;
(2) Sanksi administratif, bagi UBL yang tidak mendapatkan dana
dari APBN; dan
(3) Usulan pemotongan anggaran kepada Direktur Jenderal
Anggaran dan/atau Menteri/Pimpinan Lembaga induknya, untuk
UBL yang mendapatkan dana dari APBN.
b. Lampiran III Perdirjen Perbendaharaan Nomor 57/PB/2013 tentang Pedoman
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga terkait
Sistematika Laporan Keuangan yang menjelaskan bahwa salah satu Laporan
Keuangan Pendukung adalah Ikhtisar Laporan Badan Lainnya.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:


a. Adanya potensi ILK yang disusun oleh UAP BUN PBL belum sepenuhnya
menginformasikan nilai riil realisasi seluruh UBL; dan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 31 dari 37


b. UBL pada Kementerian PPN/Bappenas berpotensi dikenakan sanksi dari
Kementerian Keuangan yang dapat menghambat kegiatan UBL tersebut.

Hal tersebut disebabkan kurangnya pemahaman dari pengelola UBL di


lingkungan Kementerian PPN/Bappenas.

Atas permasalahan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas sependapat dan


akan menindaklanjuti dengan menyampaikan ILK pada UBL sesuai dengan
ketentuan dan akan menginformasikan laporan tersebut dalam Laporan Keuangan
Kementerian PPN/Bappenas.

BPK merekomendasikan Menteri PPN/Kepala Bappenas agar


memerintahkan Penanggung Jawab UBL untuk melaksanakan kewajiban dalam
menyampaikan ILK dan Pernyataan Pertanggungjawaban sesuai ketentuan.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 32 dari 37


BAB 2
HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT
REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TAHUN 2005 s.d. 2013

Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kementerian PPN/Bappenas


Tahun 2014, BPK memantau tindak lanjut Kementerian PPN/Bappenas terhadap Laporan
Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan Kementerian
PPN/Bappenas Tahun 2005 s.d. 2013. Sesuai dengan Pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan
tindak lanjut menjadi tanggung jawab Pemerintah/Kementerian PPN/Bappenas dan DPR.
Pemantauan atas tindak lanjut Kementerian PPN/Bappenas terhadap temuan
tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut.

Tabel 2.1 Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan atas
Kepatuhan terhadapPeraturan Perundang-undangan
Tahun 2005 2013

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Jumlah Jumlah Tidak
No LHP Tahun Belum Belum
Temuan Rekomendasi Dapat
Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Ditindak-
Selesai lanjuti
lanjuti
1 Tahun 2013 9 13 8 5 - -
2 Tahun 2012 7 7 7 - - -
3 Tahun 2011 6 7 5 2 - -
4 Tahun 2010 - - - - - -
5 Tahun 2009 5 8 8 - - -
6 Tahun 2008 1 2 1 1 - -
7 Tahun 2007 2 2 2 - -
8 Tahun 2006 3 3 3 - - -
9 Tahun 2005 1 1 1 - - -
Total 34 43 35 8 - -

Kementerian PPN/Bappenas telah melaksanakan tindak lanjut atas rekomendasi


yang diajukan BPK sebanyak 43 rekomendasi terdiri dari 35 rekomendasi telah sesuai
dan 8 rekomendasi masih dalam proses tindak lanjut, adapun rincian rekomendasi dapat
dilihat pada Lampiran 3.

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 33 dari 37


DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM

A
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
AC-BC : Asphalt Concrete - Binder Coarse
AC-WC : Asphalt Concrete - Wearing Coarse
AMP : Asphalt Mixing Plant
AusAID : Australian Agency for International Development

B
Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BAST : Berita Acara Serah Terima
BI : Bank Indonesia
BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
BKU : Buku Kas Umum
BP : Bendahara Pengeluaran
BPK : Badan Pemeriksa Keuangan
BPP : Bendahara Pengeluaran Pembantu

C
CaLK : Catatan atas Laporan Keuangan
CCO : Contract Change Order
CPNS : Calon Pegawai Negeri Sipil

D
DETIKNAS : Dewan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Nasional
DFAT : Department of Foreign Affairs and Trade
DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
DJKN : Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
DJPU : Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
DM : Dukungan Manajemen
DPR : Dewan Perwakilan Rakyat

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 34 dari 37


G
GADC : General Agreement on Development Cooperation
GOA : Government of Australia

I
IBRD : International Bank for Reconstruction and Development
ILK : Ikhtisar Laporan Keuangan

K
K/L : Kementerian/Lembaga
KKPPI : Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur
KPA : Kuasa Pengguna Anggaran
KPPN : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

L
LHP : Laporan Hasil Pemeriksaan
LRA : Laporan Realisasi Anggaran
LS : Langsung

M
MCC : Millenium Challenge Corporation

N
NPHLN : Naskah Perjanjian Hibah Luar Negeri
NPPLN : Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri
NTPN : Nomor Transaksi Penerimaan Negara

P
P2SPAB : Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Bappenas
PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini
PIU : Project Implementations Unit
PMK : Peraturan Menteri Keuangan

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 35 dari 37


PMU : Project Management Unit
PNPM : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
PPK : Pejabat Pembuat Komitmen
PPN : Perencanaan Pembangunan Nasional
PPSPM : Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar
PSF : PNPM Support Facility
PT : Perseroan Terbatas
Pusbindiklatren : Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana

R
Renortala : Rencana. Organisasi, dan Tata Laksana
RPK : Rencana Pelaksanaan Kegiatan

S
SA : Subsidiary Agreement
Satker : Satuan Kerja
SDM : Sumber Daya Manusia
Settama : Sekretariat Utama
SOP : Standard Operating Procedure
SPIRIT : Scholarship Program for Strengthening Reforming Institutions Project
SPK : Surat Perintah Kerja
SPM : Surat Perintah Membayar
SPMK : Surat Pernyataan Memberikan Keterangan
SPP : Surat Permintaan Pembayaran
SP2D : Surat Perintah Pencairan Dana
SSBP : Surat Setoran Bukan Pajak
SSUK : Syarat-Syarat Umum Kontrak

T
TA : Tahun Anggaran
TOEFL : Test of English as Foreign Language
TPA : Taman Penitipan Anak
TPA : Tes Potensi Akademik

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 36 dari 37


TPIU : Tes Potensi Intelektual Umum
TF : Trust Fund

U
UBL : Unit Badan Layanan
UU : Undang-Undang
UUO-PT : Unit Usaha Otonom Penyelenggara Tes

BPK LHP Kepatuhan - LK Kementerian PPN/Bappenas Tahun 2014 Halaman 37 dari 37


Lampiran 1
KEKURANGAN VOLUME
PEKERJAAN AKSES JALAN GUDANG BMN JATI SAMPURNA DAN JALAN GARASI BUS PEGAWAI JATI SARI
(dalam Rupiah)
Tebal Aspal Uji Coredrill Luas ATB Harga Harga Nilai
Selisih Vol
No Jenis Pekerjaan Penyedia Barang/Jasa STA Panjang Lebar dalam Kontrak Selisih Satuan /m2 Satuan/m3 Kekurangan
Rata-rata (m2) ATB (m3) (Konversi)
(m) Volume
1 2 3 4 5 6 7 (8)=(6)-(7) 9 (10)=(8)x(9) 11 (12)=(11)/(6) (13)=(10)x(12)
AC-BC
Jati Sampurna
0+000 s.d. 0+0,8 0,8 5 0,07 0,03950 0,03050 4,00 0,1220000 136.866,52 1.955.236 238.538,79
0+0,8 s.d. 0+11,5 10,7 4 0,07 0,03225 0,03775 42,80 1,6157000 136.866,52 1.955.236 3.159.074,81
Ruas I
0+11,5 s.d. 0+30 18,5 4 0,07 0,02825 0,04175 74,00 3,0895000 136.866,52 1.955.236 6.040.701,62
0+30 s.d. 0+70 40 4 0,07 0,03675 0,03325 160,00 5,3200000 136.866,52 1.955.236 10.401.855,52
1 PT CARRESIH ABADI 0+70 s.d. 0+140,0575 70,0575 4 0,07 0,04075 0,02925 280,23 8,1967275 136.866,52 1.955.236 16.026.536,69

0+000 s.d. 0+111,1 111,1 4,1 0,07 0,03400 0,03600 455,51 16,3983600 136.866,52 1.955.236 32.062.663,81
Ruas II
0+111,1 s.d. 0+127,3 16,2 5 0,07 0,03400 0,03600 81,00 2,9160000 136.866,52 1.955.236 5.701.468,18

AC-WC 1097,54
Jati Sampurna
0+000 s.d. 0+0,8 0,8 5 0,04 0,01500 0,02500 4,00 0,1000000 93.477,68 2.336.942 233.694,20
0+0,8 s.d. 0+11,5 10,7 4 0,04 0,01000 0,03000 42,80 1,2840000 93.477,68 2.336.942 3.000.633,53
Ruas I
0+11,5 s.d. 0+30 18,5 4 0,04 0,00800 0,03200 74,00 2,3680000 93.477,68 2.336.942 5.533.878,66
0+30 s.d. 0+70 40 4 0,04 0,01100 0,02900 160,00 4,6400000 93.477,68 2.336.942 10.843.410,88
2 PT CARRESIH ABADI 0+70 s.d. 0+140,0575 70,0575 4 0,04 0,01200 0,02800 280,23 7,8464400 93.477,68 2.336.942 18.336.675,19

0+000 s.d. 0+111,1 111,1 4,1 0,04 0,01400 0,02600 455,51 11,8432600 93.477,68 2.336.942 27.677.011,71
Ruas II
0+111,1 s.d. 0+127,3 16,2 5 0,04 0,01400 0,02600 81,00 2,1060000 93.477,68 2.336.942 4.921.599,85

1097,54
AC-WC
Jati Sari
Ruas I 0+000 s.d. 0+102,5 102,5 4 0,04 0,017 0,023 410 9,4300000 93.477,68 2.336.942 22.037.363,06
3
Ruas II PT CARRESIH ABADI 0+000 s.d. 0+50,5 50,5 4,2 0,04 0,0315 0,0085 212,1 1,8028500 93.477,68 2.336.942 4.213.155,88

Ruas III 0+000 s.d. 0+136,963 136,963 4 0,04 0,0235 0,0165 547,85 9,0395250 93.477,68 2.336.942 21.124.845,63
1169,95
Total 191.553.108,01
Dibulatkan 191.553.000,00
Lampiran 2
KEKURANGAN VOLUME PEKERJAAN RENOVASI INTERIOR GEDUNG UTAMA
(dalam Rupiah)
V o l u m e
No. Uraian Pekerjaan Satuan Harga Satuan Jumlah
Kontrak CCO Hasil Uji Fisik Selisih
1 2 3 4 5 6 7 = (5-6) 8 9 = (7 x 8)

PEKERJAAN LANTAI
1 Lantai Marmer Tipe 1 ukuran 1200x1200 mm
Area koridor m2 48,70 48,70 48,40 0,30 995.000,00 298.500,00
Area entrance m2 9,60 9,60 7,18 2,42 995.000,00 2.407.900,00
Area meeting informal m2 24,70 24,70 24,09 0,61 995.000,00 606.950,00

2 Lantai Marmer Tipe 3 ukuran 600x600 mm


Ruang Meeting m2 69,20 69,20 70,93 (1,73) 957.900,00 (1.657.167,00)
Ruang pimpinan m2 36,69 36,69 14,19 22,50 957.900,00 21.552.750,00
Ruang service m2 12,79 11,19 10,16 1,03 957.900,00 986.637,00
Toilet eksekutif m2 10,75 9,05 8,80 0,25 957.900,00 239.475,00
Gudang m2 14,70 14,70 13,83 0,87 957.900,00 833.373,00
R. Pantry m2 5,76 5,76 6,12 (0,36) 957.900,00 (344.844,00)

3 Lantai Marmer Tangga


Bordes m2 8,00 8,00 7,58 0,42 957.900,00 402.318,00

PEKERJAAN DINDING
1 Dinding Partisi Plywood
Partisi Plywood 12mm+rangka hollow m2 140,83 140,83 143,28 (2,45) 279.600,00 (685.020,00)

PEKERJAAN SANITARI
1 Tissue Holder Unit 6,00 6,00 4,00 2,00 180.000,00 360.000,00

JUMLAH TOTAL 25.000.872,00


DIBULATKAN 25.000.000,00

Halaman 1 dari 1
Lampiran 3

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN


ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
(dalam Rupiah)
Hasil Pemantauan Tindak Lanjut
Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Tahun 2013
1. Terdapat Pembayaran 10.233.640,83 Menteri PPN/Kepala a. Telah melakukan penyetoran
Perjalanan Dinas Sebesar Bappenas agar Surat Setoran Bukan Pajak
Rp10,23 Juta Tidak Sesuai memerintahkan Sekretaris (SSBP) dengan NTPN
dengan Ketentuan Kementerian PPN/Sekretaris 0809021310131310 tanggal
Utama Bappenas untuk 21 April 2014 sebesar
memberi sanksi kepada PPK Rp9.927.000,00 dan NTPN
Kedeputian Bidang Sarana 0900140710030006 tanggal 3
dan Prasarana serta April 2014 sebesar
bendahara pengeluaran atas Rp306.605,00 sebelum
ketidakcermatan dalam tanggal LHP terbit.
pengendalian terkait dokumen b. Sekretaris Kementerian PPN/
pembayaran perjalanan dinas. Sekretaris Utama Bappenas
telah menginstruksikan PPK
Kedeputian Bidang Sarana
dan Prasarana, Bendahara
Pengeluaran, dan Bendahara
Pengeluaran Pembantu
Kedeputian Bidang Sarana
dan Prasarana untuk lebih
cermat dalam pengendalian
terkait dokumen pembayaran
perjalanan dinas.
Memorandum Nomor
401/Ses/07/ 2014 tanggal 23
Juli 2014.
2. Terdapat Pelaksanaan 92.180.700,00 Menteri PPN/Kepala a. Telah dilakukan penyetoran
Kegiatan Paket Meeting Bappenas agar Surat Setoran Bukan Pajak
Sebesar Rp75,59 Juta Tidak memerintahkan Sekretaris (SSBP) dengan NTPN
Sesuai dengan Ketentuan Kementerian PPN/Sekretaris 0815051314021115 tanggal
Utama Bappenas untuk 25 April 2014 sebesar
memberi sanksi kepada PPK Rp12.350.000,00
IRSDP atas ketidakcermatan b. Sekretaris Kementerian PPN/
dalam pengawasan dalam Sekretaris Utama Bappenas
pengawasan pelaksanaan telah menginstruksikan PPK

Halaman 1 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
kegiatan konsinyering. Kedeputian Bidang Sarana
dan Prasarana, Bendahara
Pengeluaran, dan Bendahara
Pengeluaran Pembantu
3. Terdapat Kemahalan Harga 7.000.000,00 Menteri PPN/Kepala a. Telah dilakukan penyetoran
Sewa Laptop/Komputer Bappenas agar SSBP dengan NTPN
Sebesar Rp7,00 Juta dan memerintahkan Sekretaris 1006120400011208 tanggal 7
Pekerjaan Konsultasi Telah Kementerian PPN/Sekretaris April 2014 sebesar
Diserahterimakan Sebelum Utama Bappenas untuk Rp7.000.000,00.
Pekerjaan Selesai memberi sanksi kepada PPK b. Sekretaris Kementerian PPN/
Seluruhnya Kedeputian Bidang Sarana Sekretaris Utama Bappenas
Prasarana atas telah menginstruksikan PPK
ketidakcermatan dalam Kedeputian Bidang Sarana
pengendalian terkait dokumen dan Prasarana untuk lebih
pembayaran pelaksanaan cermat dalam pengendalian
kegiatan. terkait dokumen pembayaran
pelaksanaan kegiatan.
Memorandum Nomor
401/Ses/07/2014 tanggal 23
Juli 2014.
4. Pelaksanaan Pekerjaan 102.817.855,00 Menteri PPN/Kepala
Konstruksi Pembangunan Bappenas agar
Gedung Pusbindiklatren memerintahkan Sekretaris
Sebesar Rp102,82 Juta Kementerian PPN/Sekretaris
Tidak Sesuai Dengan Utama Bappenas untuk: a. Telah dilakukan penyetoran
ketentuan a. memberi sanksi kepada SSBP dengan NTPN
Kelompok Kerja 0813001511120209 tanggal
ULP/Pejabat Pengadaan, 17 April 2014 sebesar
PPK, dan Panitia Rp91.033.622,00
Penerima Hasil (Rp84.797.282,00 +
Pekerjaan atas Rp3.691.973,00 +
ketidakcermatan dalam Rp2.544.367,00). Untuk
pengendalian terkait hasil Rp2.544.367,00 merupakan
pelaksanaan kegiatan; pembayaran atas kelebihan
dan pembayaran pekerjaan
tambah daya listrik PLN
gedung Pusbindiklatren
sebesar Rp5.910.000,00
Memorandum Nomor

Halaman 2 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
401/Ses/07/ 2014 tanggal 23
Juli 2014 kepada Panitia
Pengadaan Barang dan Jasa,
PPK P2SPAB, Panitia
Penerima Hasil Pekerjaan
untuk lebih cermat dalam
pengendalian terkait hasil
pelaksanaan kegiatan.
b. menginstruksikan kepada b. Memorandum Nomor
Kepala Biro Umum agar 401/Ses/07/ 2014 tanggal 23
segera memanfaatkan Juli 2014 kepada Kepala Biro
aset berupa pesawat Umum agar segera
telepon. memanfaatkan telepon untuk
menggantikan telepon yang
telah rusak/usang.
5. Kelebihan Pembayaran 5.910.000,00 Menteri PPN/Kepala a. Telah dilakukan penyetoran
Pada Pekerjaan Tambah Bappenas melalui Inspektur dengan 2 SSBP dengan
Daya Listrik PLN Gedung Utama Kementerian NTPN 0813001511120209
Pusbindiklatren Sebesar PPN/Bappenas untuk tanggal 17 April 2014 sebesar
Rp5.910.000,00 memberi sanksi kepada PPK Rp2.544.367,00 dan NTPN
P2SPAB dan Panitia 1112060302070113 tanggal
Penerima Hasil Pekerjaan 24 April 2014 sebesar
atas ketidakcermatan dalam Rp3.365.633,00.
pengendalian pelaksanaan b. Sekretaris Kementerian PPN/
kegiatannya. Sekretaris Utama Bappenas
telah menginstruksikan PPK
P2SPAB dan Panitia
Penerima Hasil Pekerjaan
untuk lebih cermat dalam
pengendalian terhadap
pelaksanaan kegiatannya.
Memorandum Nomor
401/Ses/07/2014 tanggal 23
Juli 2014.
6. Terdapat Perangkat Ruang 0,00 Menteri PPN/Kepala Sekretaris Kementerian PPN/
Decision Support System Bappenas melalui Sekretaris Sekretaris Utama Bappenas
(DSS) dan Alat Perangkat Kementerian PPN/Sekretaris telah menginstruksikan Kepala
Video Conference Ruang Utama Bappenas Kepala Pusdatin Renbang dan Kepala
Sesmen Senilai Pusdatin dan Kepala Biro Biro Umum agar berkoordinasi
Rp5.078.010.160,00 Yang Umum agar segera untuk menetapkan petugas

Halaman 3 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Belum Dimanfaatkan Secara menetapkan petugas operasional perangkat Video
Optimal operasional perangkat Vicon Conference dan memanfaatkan
dan memanfaatkan Perangkat perangkat ruang DSS dan Alat
Ruang Decision Support Perangkat Video Conference
System (DSS) dan Alat Ruang Sesmen. Memorandum
Perangkat Video Conference Nomor 401/Ses/07/2014 tanggal
Ruang Sesmen sesuai dengan 23 Juli 2014.
ketentuan. Bukti pendukung yang
disampaikan
a. Surat Tugas Kepala
Pusdatin No.
124/ST/P.02/12/2014
tanggal 1 Desember 2014
perihal penetapan petugas
dukungan teknis Ruang
DSS.Contoh pemanfaatan
Vicon , Memorandum dari
Sesmen ttg
b. Rapat Vicon dg Badan
Informasi Geospasial
tanggal 31 Desember 2014,
Daftar Hadir dan Foto.
7. Belanja Negara pada PPK 0,00 Menteri PPN/Kepala Sampai dengan tanggal 21 Mei
Dukungan Manajemen IV Bappenas melalui Sekretaris 2014, PPK DM IV telah
Setmen PPN/Settama Kementerian PPN/Sekretaris melakukan pembayaran sebesar
Bappenas Sebesar Utama Bappenas untuk Rp7,00 Miliar.
Rp7.390.647.481,00 Belum segera menyelesaikan Memorandum No.
Dilakukan Pembayaran pembayaran atas belanja PPK 401/Ses/07/2014 tgl 23 Juli 2014
Sampai Dengan Berakhirnya DM IV sebesar dari Sekretaris Kementerian
Tahun Anggaran (TA) 2013 Rp7.390.647.481,00 yang PPN/Sekretaris Utama
seharusnya dilakukan pada Bappenas kepada Kepala
TA 2013. Pusbindiklatren dan PPK DM IV
agar segera menyelesaikan sisa
pembayaran atas belanja PPK
DM IV sebesar
Rp388.015.047,00.

SPM dan SP2D Belanja pada


PPK DM IV yang seharusnya

Halaman 4 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
dibayar tahun 2013 : 3 buah
SPM dan SP2D senilai
Rp663.585.560,00 =
Rp296.585.560,00 +
Rp334.000.000,00 +
Rp33.000.000,00.
Jumlah belanja yang belum
diselesaikan menurut LHP
Rp388.015.047, seharusnya
Rp675.468.217,00 (Rincian
Lamp 3 LHP Kepatuhan).

Dengan demikian masih kurang


(belum diperoleh) bukti
pembayaran senilai
Rp11.882.657,00 .
8. Terdapat Pelaksanaan 7.324.390,00 Menteri PPN/Kepala Sestama Bappenas telah
Kegiatan Pada Satker Bappenas melalui Sekretaris menginstruksikan kepada:
Penerima Dana Kementerian PPN/Sekretaris
Dekonsentrasi Yang Tidak Utama Bappenas untuk:
Sesuai Dengan Ketentuan a. menginstruksikan KPA a. Sekretaris Kementerian
Satker Bappeda Prov. PPN/Sekretaris Utama
Sumut, Bappeda Prov. Bappenas telah
Jateng, dan Bappeda menginstruksikan kepada
Prov. Sulteng agar Satker Bappeda Provinsi
melaksanakan Sumut, Jateng, Sulteng
pengelolaan kas sesuai untuk melaksanakan
dengan ketentuan yang pengelolaan kas sesuai
berlaku; dengan ketentuan melalui
Surat Nomor
3986/Ses/07/2014 tanggal
24 Juli 2014, Surat Nomor
3987/Ses/07/2014 tanggal
24 Juli 2014, dan Surat
Nomor 3989/Ses/ 07/2014
tanggal 24 Juli 2014.

Bappeda Jateng sudah


menyampaikan Nota Dinas

Halaman 5 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Surat No. 700/17487
tanggal 19 November 2014
tentang Tindak Lanjut HP
BPK RI atas Laporan
Kementerian
PPN/Bappenas tentang
pelaksanaan tindak lanjut
sesuai dengan instruksi.
Nota Dinas Sekretaris
Bappeda Provinsi Jateng
Nomor 1062/SEK/INT/XI-
2014 tanggal 12 November
2014 kepada Bendahara
Dekonsentrasi perihal
peringatan tertulis agar
melaksanakan
pertanggungjawaban
pelaksanaan kegiatan lebih
baik dan melaksanakan
pengelolaan kas sesuai
ketentuan.
Dokumen tambahan belum
diperoleh terkait
implementasi untuk
melakukan koordinasi
dengan satker Dana
Dekonsentrasi.
Satker Bappeda Provinsi
Sumut dan Sulteng belum
menyampaikan
pelaksanaan implementasi
dari instruksi untuk
melakukan pengelolaan kas
sesuai ketentuan.
b. menginstruksikan KPA b. KPA Satker Bappeda Prov.
satker Bappeda Prov. Sumut telah melakukan
Sumut untuk mem-black penyetoran SSBP dengan
list agen travel yang NTPN 0900020810130814
terbukti menaikkan harga tanggal 7 Mei 2014 sebesar
tiket di atas harga resmi Rp2.906.400,00; dan

Halaman 6 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
serta menyetorkan menyetorkan kurang setor
kurang setor pajak pajak dengan NTPN
sebesar Rp45.000,00; 0403131101070704 dan
NTPN 0801140311011400
tanggal 18 Juni 2014
sebesar Rp30.000,00 dan
Rp15.000,00.
Belum ada surat black list
agen travel.
c. Memorandum Nomor
c. menginstruksikan
401/Ses/07/2014 tanggal
Sekretariat Pengelola
23 Juli 2014: Sekretaris
Dana Dekonsentrasi
Kementerian
berkoordinasi dengan
PPN/Sekretaris Utama
seluruh satker Dana
Bappenas
Dekonsentrasi terkait
menginstruksikan kepada
dengan anggaran
Sekretariat Pengelola Dana
Dekonsentrasi untuk
berkoordinasi dengan
seluruh satker Dana
Dekonsentrasi. Sekretariat
Pengelola Dana
Dekonsentrasi telah
melakukan penyetoran
SSBP dengan NTPN
100121104050903 tanggal
7 Maret 2014 sebesar
Rp4.372.990,00.
9. Sisa Uang Persediaan Menteri PPN/Kepala
sebesar Rp362.809.251,00 Bappenas melalui Sekretaris
dan Tambahan Uang Kementerian PPN/Sekretaris
Persediaan sebesar Utama Bappenas untuk
Rp34.810.707,00 Tahun memberi sanksi kepada:
Anggaran 2013 Terlambat di a. BPP pada masing-masing a. Sekretaris Kementerian
PPN/ Sekretaris Utama
Setor oleh Bendahara PPK atas ketidakcermatan
Pengeluaran dalam pengendalian atas Bappenas telah
penyetoran sisa UP/TUP; menginstruksikan kepada
dan BP dan BPP agar lebih
cermat dalam
pengendalian atas

Halaman 7 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
penyetoran sisa UP/TUP
Memorandum Nomor
401/Ses/07/2014
b. PPK atas ketidakcermatan b. Sekretaris Kementerian
dalam pengawasan PPN/ Sekretaris Utama
terhadap bendahara dalam Bappenas telah
melaksanakan pengelolaan menginstruksikan kepada
keuangan. PPK agar lebih cermat
dalam melakukan
pengawasan terhadap BPP
dalam melaksanakan
pengelolaan keuangan.
Memorandum Nomor
401/Ses/07/2014 tanggal
23 Juli 2014.

9 225.466.585,83 13 8 5 - -
Tahun 2012
1. Terdapat Kekurangan 53.096.445,00 Menegur PPK dan Panitia Sestama Bappenas telah
Volume Pekerjaan Penerima Hasil Pekerjaan menginstruksikan kepada PPK
Pembangunan Pagar yang kurang cermat dalam dan PPHP agar lebih cermat
Kompleks Perumahan melaksanakan fungsi dalam melaksanakan fungsi
Pegawai Kementerian pengawasan. pengawasan sesuai Memo
PPN/Bappenas di Nomor 465/Ses/08/2013 tanggal
Jatisampurna dan Jatisari 29 Agustus 2013.
Sebesar Rp53.096.445,55
2. Pekerjaan Pengadaan 13.832.060,00 Menegur PPK dan memungut Sestama Bappenas telah
Peralatan Kantor Kegiatan denda keterlambatan kepada menginstruksikan kepada PPK
Management Information rekanan sebesar agar lebih cermat dalam
System (MIS) for PNPM Rp13.832.060,00 dan melaksanakan fungsi
Mandiri (Phase 2) Project selanjutnya menyetorkan ke pengawasan sesuai Memo
Tidak Tertib kas negara. Nomor 465/Ses/08/2013 tanggal
29 Agustus 2013;
Telah dilakukan penyetoran ke
kas negara tanggal 8 Mei 2013.
3. Terdapat Indikasi 0,00 Memberikan sanksi sesuai Sestama Bappenas telah
Pemecahan Kontrak atas ketentuan yang berlaku menginstruksikan kepada PPK
Pekerjaan Pengadaan kepada Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pengadaan
Meubelair pada Direktorat Barang/Jasa dan PPK. Barang/Jasa agar lebih cermat

Halaman 8 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Penanggulangan dalam menentukan metode
Kemiskinan pengadaan barang/jasa sesuai
ketentuan yang berlaku (Memo
No 465/Ses/08/2013 tanggal 29
Agustus 2013).
4. Realisasi Pembayaran 7.387.580,00 Menegur PPK yang lalai Sestama Bappenas telah
Kegiatan pada PPK dalam melakukan pembayaran menginstruksikan kepada PPK
Program Peningkatan kegiatan tidak mengacu agar dalam merealisasikan
Sarana dan Prasarana kepada Standar Biaya Tahun kegiatan mengacu kepada
Aparatur Bappenas Tidak 2012. ketentuan Standar Biaya yang
Sesuai Ketentuan Sebesar berlaku sesuai Memo Nomor
Rp7.387.580,00 465/Ses/08/2013 tanggal 29
Agustus 2013.

5. Terdapat Kelebihan 2.555.000,00 Memerintahkan PPK Program Irtama Bappenas telah


Pembayaran Uang Kegiatan Dukungan Manajemen dan menginstruksikan kepada
pada Satuan Kerja Dana Pelaksanaan Tugas Teknis Inspektur Bidang Administrasi
Dekonsentrasi Bappeda Lainnya Bappenas pada Umum (IBAU) agar
Provinsi Lampung dan Satker Dana Dekonsentrasi meningkatkan pengawasan atas
Provinsi DI Yogyakarta Bappeda Provinsi Lampung Satker Dana Dekon (Memo No
Sebesar Rp1.995.000,00 dan Bappeda Provinsi DI 175/IU/08/2013 tanggal 28
serta Honor Pejabat pada Yogyakarta agar di masa Agustus 2013). IBAU telah
Bappeda Provinsi DI mendatang melakukan melakukan reviu RKA-KL dan
Yogyakarta Sebesar pengawasan secara lebih dokumen pertanggungjawaban
Rp560.000,00 cermat dan optimal dalam Satker Dana Dekon pada 3
menatausahakan bukti-bukti wilayah, yaitu wilayah Barat di
pertanggungjawaban serta Solo, wilayah tengah di
meningkatkan fungsi verifikasi Denpasar dan wilayah timur di
terhadap bukti-bukti tersebut. Manado; Tim Pengelola dana
Dekon telah menyampaikan
Surat kepada KPA Satker Dana
dekonsentrasi (Surat No
5273/B.04/09/2013 tanggal 10
September 2013).
6. Pembentukan Tim Pengarah 20.400.000,00 Memerintahkan Direktur Sestama Bappenas telah
Nasional dan Tim Pengairan dan Irigasi agar menginstruksikan kepada
Sekretariat Program lebih memperhatikan Direktur Pengairan dan Irigasi
Pembangunan Bidang ketentuan yang berlaku dan agar dalam penyusunan draft
Prasarana Sumber Daya Air lebih memahami dalam proses usulan pembentukan Tim
Tidak Mengacu pada persetujuan dan penyusunan Pengarah dan Tim Sekretariat

Halaman 9 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Peraturan Menteri draft usulan pembentukan Tim lebih memperhatikan ketentuan
PPN/Kepala Bappenas Pengarah dan Tim Sekretariat, yang berlaku (Memo Nomor
serta memerintahkan Biro 465/Ses/08/2013 tanggal 29
Hukum untuk lebih cermat Agustus 2013); Sestama
dalam proses legal drafting. Bappenas telah
menginstruksikan kepada Karo
Hukum agar lebih cermat dalam
melaksanakan legal drafting
(Memo Nomor 465/Ses/08/2013
tgl 29 Agt 2013).
7. Terdapat Kelebihan 2.679.000,00 Menegur PPK yang kurang Sestama Bappenas telah
Pembayaran Pengadaan cermat dalam menuangkan menginstruksikan kepada PPK
Pencetakan Buku pada klausul-klausul kontrak. agar lebih cermat dalam
Deputi Bidang Sarana dan menuangkan klausul-klausul
Prasarana Sebesar dalam kontrak (Memo Nomor
Rp2.679.000,00 465/Ses/08/2013 tanggal 29
Agustus 2013).
7 99.950.085,00 7 7 0 0 0
Tahun 2011
1. Realisasi Pembayaran 5.800.000,00 a. Menarik kembali kelebihan a. Telah disetor dengan bukti
Kegiatan pada Dua PPK pembayaran biaya paket setor dengan NTPN
Tidak Sesuai Ketentuan meeting senilai 090209061350506 tanggal
Sebesar Rp5,80 juta Rp5.800.000,00 dan 21/06/2012 sebesar
menyetorkannya ke kas Rp760.000,00 dan NTPN
negara; 09100610061008111111
tanggal 22/06/2012 sebesar
Rp5.040.000,00;
b. Sesmen
b. Memberikan sanksi kepada
PPK yang tidak cermat PPN/SestamaBappenastelah
dalam melakukan pengujian menginstruksikanBendaharaP
atas pertanggungjawaban engeluarandan PPK TA 2012
belanja paket meeting. agar dalam melakukan
pembayaran kegiatan
mengacu pada ketentuan
yang berlaku baik POK
maupun Standar Biaya.
2. Realisasi Belanja Akun 0,00 Menginstruksikan kepada Memo Sesmen Nomor
524119 pada Kegiatan PPK, pejabat pengujian dan 210E/Ses/04/2012 tanggal 20
Nomor 2936 dan Akun perintah pembayaran (penerbit April 2012 kepada PPK TA

Halaman 10 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
522113 pada Kegiatan SPM) dan Kepala Bagian 2012, Pejabat Penguji
Nomor 2937 Melebihi Pagu Verifikasi agar dalam SPP/Penerbit SPM TA 2012 dan
Anggaran Sebesar Rp21,56 melakukan tugas dan Kabag Verifikasi Anggaran agar
juta tanggung jawabnya lebih dalam melakukan tugas dan
optimal dan selanjutnya tanggung jawabnya lebih optimal
supaya dalam penyerapan danselanjutnya supaya dalam
anggaran dilakukan lebih penyerapan anggaran dilakukan
cermat dengan lebih cermat dengan
memperhatikan ketersediaan memperhatikan ketersediaan
pagu anggaran dalam DIPA. pagu anggaran dalam DIPA.
3. Terdapat Kurang Potong 7.062.700,00 Menginstruksikan kepada Memo Sesmen PPN/Sestama
PPh Pasal 23 Sebesar pejabat pengujian dan Bappenas Nomor
Rp7,06 juta atas perintah pembayaran (penerbit 210F/Ses/04/2012 tanggal 20
Pembayaran Beberapa SPM), dan bendahara April 2012 kepada Pejabat
Paket Pekerjaan pengeluaran supaya lebih Penguji SPP/Penerbit SPM TA
cermat dalam melaksanakan 2012 dan Bendahara
peraturan perpajakan. Pengeluaran TA 2012 agar lebih
cermat dalam melaksanakan
peraturan perpajakan.
4. Aset Tanah Kavling Seluas 372.360.000,00 Memerintahkan Sesmen SK Sesmen PPN/Sestama
460 m Senilai Rp372,36 PPN/Sestama Bappenas agar Bappenas tentang Penetapan
juta Digunakan oleh Pihak melakukan langkah-langkah Pengalihan Penggunaan Tanah
Lain Tanpa Hak pengosongan atas aset Kavling Nomor B-95 Perumahan
(rumah negara) yang masih Pegawai Bappenas Sawangan,
dalam penguasaan pihak yang Kedaung, Depok seluas 140 m
tidak berhak untuk ditargetkan minggu ke-4 Juni
dipergunakan bagi yang sudah terbit SK Menteri Negara
berhak. PPN/Kepala Bappenas Nomor
KEP 47 dan
48/M.PPN/HK/03/2012 tentang
Penetapan Penggunaan Tanah
Kavling Nomor A-128 dan
Nomor A-54 Perumahan
pegawai Bappenas; menetapkan
pengguna tanah kavling agar
membayar uang muka dan
cicilan kredit rumah serta
diwajibkan mengembalikan
tanah kavling tersebut kepada
Sesmen PPN up. Ka. Biro

Halaman 11 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Umum -
Bappenas telah membuat Surat
Keputusan Menteri PPN/Kepala
Bappenas nomor
70/M.PPN/HK/03/2012 tentang
Penetapan Penggunaan Tanah
Kavling Perumahan Pegawai
Bappenas
5. Fasilitas Umum dan Tanah 0,00 Memerintahkan Sesmen - Surat Kepala Biro Umum
Milik Kementerian PPN/Sestama Bappenas agar Nomor 1990/B.05/03/2012
PPN/Bappenas Digunakan melakukan langkah-langkah kepada Teuku Darmawan agar
Tidak Sesuai Peruntukannya penertiban atas tanah berupa membuat surat pernyataan
fasum dan tanah idle (sisa) bermeterai perihal tidak akan
yang digunakan tidak sesuai menguasai tanah negara dan
peruntukannya agar Nomor 1991/B.05/03/2012
dikembalikan fungsinya kepada Illin Suryawan agar
sebagaimana mestinya. segera membongkar bangunan
permanen (garasi) dan
mengembalikan fungsi seperti
semula. Masih satu pihak lagi
juga ditunggu surat pernyataan.
Bappenas berencana
membuat usulan penyerahan
fasilitas umum kepada
pemerintah kota Jakarta Selatan
dan Jakarta Barat jangka waktu
Januari-Desember 2012
- Dalam rangka pengusulan
tersebut sedang dilakukan
pengukuran tanah oleh BPN,
masih menunggu hasil
pengukuran dari pihak BPN.
6. Dokumen 0,00 Memerintahkan Kepala Biro Memo Sesmen PPN/Sestama
pemindahtanganan Umum supaya menyelesaikan Bappenas Nomor
Kendaraan Milik USAID permasalahan aset tersebut 210G/Ses/04/2012 kepada
Kepada Kementerian kepada USAID. kepala Biro Umum agar
PPN/Bappenas Belum menyelesaikan permasalahan
Lengkap aset tersebut kepada USAID.
Memo kepala Biro Umum
Nomor 370A/B.05/04/2012

Halaman 12 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
tanggal 23 April 2012 kepada
Direktur Hukum dan HAM agar
pengembalian kendaraan
kepada USAID segera diproses
dalam waktu yang tidak terlalu
lama
6 385.222.700,00 7 5 2 0 0
Tahun 2010
- - - - - - - -
0 0,00 0 0 0 0 0
Tahun 2009
1. Terdapat kelebihan 63.684.124,00 Memerintahkan Sekretaris a. Menegur seluruh PPK TA
pembayaran belanja Menteri untuk menegur secara 2009 dan 2010 secara tertulis
perjalanan dinas dalam tertulis Pejabat Pembuat dengan memorandum Sesmen
negeri sebesar Rp37,69 juta Komitmen dan Pejabat PPN/Sestama Bappenas Nomor
dan tidak dilengkapi bukti Penerbit SPM atas 378/SES/07/2010 tanggal
pendukung sebesar kelalaiannya dalam 19/7/2010;
Rp25,99 juta memverifikasi kelengkapan b. Menegur Pejabat Penerbit
dokumen dan biaya perjalanan SPM secara tertulis dengan
dinas serta menyetor memorandum Sesmen
kelebihan pembayaran PPN/Sestama Bappenas Nomor
perjalanan Dinas ke Kas 379/SES/07/2010 tanggal
Negara dan melengkapi 19/07/2010;
kekurangan dokumen. c. Kelebihan pembayaran yang
telah disetor adalah sebesar
Rp32.039.324 (Sesuai LHP
Nomor 027c/LHP/XV/04/2010
halaman 4, copy Bank/SSPB
terlampir) sehingga nilai yang
masih harus disetor
Rp5.646.299,00 tanggal
21/05/2010, copy Bank Mandiri
dan SSPB terlampir
d. Belanja Perjalanan Dinas
yang tidak dilengkapi dengan
bukti pendukung telah disetor
sebesar Rp1.342.200,00
(sesuai LHP Nomor
027c/LHP/XV/04/2010 halaman

Halaman 13 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
5, copy bank Mandiri terlampir
tanggal 17-5-2010) dan sebesar
Rp24.656.400,00 telah dibuat
surat keterangan yang
menyatakan bahwa yang
bersangkutan telah melakukan
perjalanan dinas (PPK Regional
dan Otda)
2. Terdapat kelebihan harga 201.902.200,00 Memerintahkan Sekretaris a. Menegur seluruh PPK TA
tiket perjalanan dinas Menteri untuk menegur secara 2009 dan 2010 secara tertulis
sebesar Rp88,78 juta dan tertulis PPK, Penanggung dengan memorandum Sesmen
tiket perjalanan dinas Jawab Kegiatan, dan Pegawai PPN/Sestama Bappenas Nomor
sebesar Rp113,12 juta yang atas kelebihan harga tiket dan 380/SES/07/2010 tanggal
tidak sesuai dengan tiket yang tidak sesuai dengan 19/7/2010;
konfirmasi perusahaan database Garuda. b. Diklarifikasi sebesar
penerbangan Rp30.203.675,00 dan telah
disetor ke Kas Negara sebesar
Rp58.615.525,00;
c. Sebesar Rp58.095.700,00
telah disetor ke kas negara, tiket
perjalanan dinas yang tidak
sesuai sebesar
Rp54.156.400,00 telah
diklarifikasi sebesar
Rp23.759.800 dan Sisa sebesar
Rp30.396.600 telah disetor ke
kas Negara
3. Kementerian PPN/Bappenas 35.500.000,00 a. Segera menetapkan Telah diterbitkan SK
terlambat dalam penanggung kerugian atas pembebanan penggantian
menetapkan tuntutan ganti hilangnya kendaraan; kerugian negara atas nama
rugi mobil Toyota KF 40 N0. b. Menegur secara tertulis Abdul Haris yaitu Keputusan
Pol B 8942 ER yang hilang Kepala Biro Umum atas Menteri PPN/Kepala Bappenas
atas nama Abdul haris ketidakcermatannya Nomor

sehingga menyebabkan melakukan pengelolaan KEP.55/M.PPN/HK/04/2011.
kerugian negara sebesar aset yang dimilikinya. Kerugian negara telah diangsur
Rp35,50 juta dan aset ke Kas Negara sebanyak dua
tersebut masih tercatat bulan.
dalam neraca Bappenas TA
2009

Halaman 14 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
4. Pembayaran angsuran dan 103.448.855,00 a. Menegur secara tertulis a. Menegur Kepala Biro Umum
denda atas penjualan tanah Kepala Biro Umum atas secara tertulis dengan
di Sawangan serta ganti rugi ketidakcermatannya memorandum Sesmen
atas kehilangan kendaraan melakukan pengelolaan PPN/Sestama Bappenas
dinas tidak tertib yang aset yang dimilikinya; Nomor 382/SES/07/2010
menyebabkan kekurangan tanggal 19/7/2010;
penerimaan negara sebesar b. Lebih intensif melakukan b. Menindaklanjuti dengan surat
Rp99,05 juta dan Rp4,40
penagihan atas penagihan atas pembayaran
juta pembayaran angsuran angsuran tanah di Sawangan
tanah di Sawangan dan Nomor 4342/B.05/07/2010
ganti Rugi Kendaraan yang tanggal 7 Juli 2010 dan atas
hilang. kendaraan hilang Nomor
4586/B.05/07/2010 tanggal 16
Juli 2010.
5. Terdapat aset berupa tanah 0,00 a. Menegur secara tertulis a. Telah dilakukan langkah-
kavling seluas 620 m yang Kepala Biro Umum karena langkah penyelesaian tanah
digunakan oleh pihak yang tidak melakukan kavling berupa: Penilaian
tidak berhak pengelolaan dan ulang (appraisal) rumah dan
pengawasan secara kavling oleh KPKNL
memadai atas BMN yang Kemenkeu pada tanggal 1
dikuasai; April 2011 dan menetapkan
bobot dan kriteria calon
penerima tanah kavling pada
tanggal 20 Mei dan 7 Juni
2011;
b. Telah diterbitkan 4 SK
b. Segera menentukan status
tanah kavling seluas 620 Penetapan Penggunaan
m. Tanah Kavling Perumahan
Pegawai Bappenas.
5 404.535.179,00 8 8 0 0 0
Tahun 2008
1. Pemanfaatan Tanah Negara 0,00 a. Mengajukan permintaan a. Telah diajukan usulan
Untuk Perumahan Pegawai persetujuan kepada Menteri permohonan status
Bappenas di Jatisari dan Keuangan mengenai penggunaan tanah
Jatisampurna Seluas 57.229 Permohonan Penetapan Jatisampurna dan Jatisari ke
m Belum Ada Ijin Dari Status Tanah untuk tanah Kementerian Keuangan pada
Pengelola Barang dan seluas 57.229 m yang tanggal 24 Juli 2009. Terakhir
Tanah Negara di Jatisari sudah terlanjur dibangun surat dari Kemenkeu Nomor
Seluas 12.000 m Terlantar perumahan pegawai; S-446/KN/2011 tanggal 28

Halaman 15 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
Februari 2011 perihal
Pengembalian Berkas
Permohonan Penetapan
Status BMN
b. Menyerahkan tanah seluas b. Kementerian Keuangan
12.000 m yang tidak menyarankan agar status
dimanfaatkan untuk penggunaan tanah diubah
menjadi
kepentingan
penyelenggaraan tugas pemindahtanganan/penjualan
pada tanggal 19 Januari
pokok dan fungsi
kementerian kepada 2011. dan terhadap tanah
Menteri Keuangan. seluas 12.000 m agar
dilakukan tindakan
pengamanan secara
administrasi, fisik, dan yuridis.
Surat Kepala Biro Umum
kepada Dirjen KN Cq. Dir
BMN Nomor
2486/B.05/04/2012 tanggal 18
April 2012 tentang usulan
pemindahtanganan dan
penetapan penggunaan tanah
Jatisari dan Jatisampurna,
dan atas tanahseluas 12.000
m telah dibuat peta kavling
perumahan pegawai
Bappenas.
1 0,00 2 1 1 0 0
Tahun 2007
1. Terdapat Realisasi Hibah 0,00 Menyusun suatu sistem a. Telah diterbitkan Peraturan
sebesar pengendalian intern secara Menteri PPN/Kepala Bappenas
Rp36.957.447.185,00 yang menyeluruh sehingga Nomor 2 Tahun 2009 tentang
tidak melalui mekanisme pelaporan dana-dana hibah Pedoman Pengelolaan Kegiatan
APBN dan belum dicatat yang diterima Bappenas, yang Dibiayai Pinjaman/Hibah
dalam LRA Bappenas TA dapat dilaporkan dan dicatat Luar Negeri di Kementerian
2007 secara transparan pada LK PPN/Bappenas;
Bappenas. b. 80% penyerapan realisasi
hibah pada tujuh Direktorat di
Lingkungan Kementerian
Negara PPN/Bappenas telah

Halaman 16 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
diaudit oleh auditor independen
sesuai dengan isi perjanjian
hibah dengan pihak donor.
c. Kementerian Negara PPN/
Bappenas akan berkoordinasi
dan berkonsultasi dengan
Departemen Keuangan perihal
perlakukan akuntansi terhadap
hibah masing-masing donor
punya karakter sendiri-sendiri
d. Kementerian Negara
PPN/Bappenas telah
menerbitkan Peraturan Menteri
Negara PPN/Kepala Bappenas
Nomor 2 Tahun 2009 tanggal 27
Februari 2009 tentang Pedoman
Pengelolaan Kegiatan yang
Dibiayai Pinjaman/Hibah Luar
Negeri di Kementerian Negara
PPN/Bappenas.
2. Terdapat Pemecahan 0,00 Bappenas lebih Saat ini seluruh sertifikat tanah
Pekerjaan Pengurusan memperhatikan ketentuan atas nama Kementerian Negara
Surat Tanah Bappenas di dalam pelaksanaan telah selesai. Pada masa
Jati Asih dan Jati Sampurna, pengadaan barang dan jasa di mendatang akan menjadi
Bekasi untuk menghindari lingkungan Bappenas. perhatian Kementerian
Pelelangan PPN/Bappenas dalam
melakukan pengadaan barang
dan jasa.
2 0,00 2 2 0 0 0
Tahun 2006
1. Pengelolaan dan 0,00 Menata kembali mekanisme Menindaklajuti temuan tersebut,
pertanggungjawaban dana penerimaan dan penggunaan Bappenas telah berkoordinasi
hibah yang diterima dana hibah melaui mekanisme dengan Departemen Keuangan
Kementerian Negara APBN dan mencatat serta untuk memasukkan dana Hibah
PPN/Bappenas Tahun 2006 melaporkannya dalam dalam DIPA. Setelah beberapa
sebesar Laporan Keuangan kali pembahasan, dana Hibah
Rp24.298.332.801,26 tidak Kementerian Negara telah seluruhnya masuk dalam
melaui mekanisme APBN PPN/Bappenas. DIPA 2007 revisi 30 November
2007.

Halaman 17 dari 18
Lampiran 3

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Tindak Lanjut Entitas yang Tidak Dapat
No Judul Temuan Nilai Temuan Rekomendasi Belum
Diperiksa Belum Ditindaklanjuti
Sesuai Ditindak-
Sesuai dengan alasan
lanjuti
yang sah
2. Empat unit kendaraan dinas 289.050.000,00 Menarik kembali kendaraan Bappenas telah mengirimkan
milik Kementerian Negara yang masih dalam surat kepada para pensiunan
PPN/Bappenas senlai penguasaan mantan pejabat yang menindaklanjuti dengan
Rp298.050.000,00 masih yang telah pensiun untuk mengembalikan kendaraan
dikuasai oleh pensiunan dipergunakan bagi operasioal tersebut kepada Bappenas.
pegawai dan digunakan kantor dan apabila dalam Kedua pihak telah melakukan
untuk kepentingan di luar batas waktu tertentu yang penandatanganan BAST
dinas bersangkutan tidak Kembali Kendaraan Dinas.
mengembalikan kendaraan
tersebut, supaya dilaporkan
kepada aparat penegak
hukum.
3. Ruangan gedung 0,00 Membuat kesepakatan Telah dibuat Surat kesanggupan
Kementerian Negara dengan koperasi Bappenas sewa ruangan dengan koperasi
PPN/Bappenas yang mengenai penetapan dan Bappenas. Harga sewa sebesar
digunakan pihak ketiga tidak pengenaan biaya sewa. Rp2,5 juta per bulan.
dikenakan biaya sewa
3 289.050.000,00 3 3 0 0 0
Tahun 2005
1. Penerimaan Negara sebesar 0,00 Sestama Bappenas agar Pelayanan TPA bukan termasuk
Rp1.796,58 juta Tidak mengajukan usulan penerimaan dari kegiatan
Dikelola dalam Sistem Rancangan Peraturan pelayanan yang dilaksanakan
APBN dan Tidak Tercatat Pemerintah sebagai dasar sesuai UU Nomor 20 Tahun
Dalam Laporan Keuangan penetapan penerimaan 1997. Sejak tanggal 24 Mei
Bappenas Tahun 2005 penyelenggaraan TPA 2006 tanggung jawab
sebagai dasar Penetapan pengelolaan Unit Pelayanan
Penerimaan Negara Bukan Penyelenggaraan (UPP) TPA
Pajak (PNBP). oleh koperasi Bappenas sesuai
Perjanjian Nomor 001/PKS-
TPA/05/2006
1 0,00 1 1 0 0 0

Halaman 18 dari 18