Anda di halaman 1dari 19

NETRALIZER (N-01)

Tugas :Menetralkan larutan HNO3 sebanyak 47,9389 kg/jam dan


H2SO4 sebanyak 197,3955 kg/jam dengan Larutan Na2CO3
sebanyak 304,6067 kg/jam.
Alat :Tangki Berpengaduk
Kondisi operasi : P = 1 atm
T = 15C

Ada 2 reaksi netralisasi yang terjadi di dalam Netralizer :


Na2CO3 (aq) + 2 HNO3(aq) NaNO3 (aq) + 2 H2O (aq)
A + B C + D
Na2CO3 (aq) + H2SO4 (aq) Na2SO4 (aq) + H2O(aq)
A + E F + D
Kemudian hitung spesifikasi untuk tangki netralizer sebagai berikut :

1) Neraca massa N-01


Hasil perhitungan neraca massa sebagai berikut. Kemudian kita menghitung Fv
dan mix
dengan rumus sebagai berikut:

= (2.1)

Dengan, Fv = Flowrate tiap komponen, m3/jam


M = Massa tiap komponen keluar netralizer (Outlet), kg/jam
= Massa jenis tiap komponen, kg/m3
mix didapat dengan rumus sebagai berikut:

mix = (2.2)

Dengan, mix = massa jenis campuran, kg/m3


M = Massa tiap komponen keluar netralizer (Outlet), kg/jam
Fv tot = Massa jenis tiap komponen, m3/jam

Kemudian flowrate tiap komponen dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1 Neraca Massa Netralizer (N-01)


Inlet, Na2CO3 Outlet, Fv,
No Komponen ,kg/m3
kg/jam 5%, kg/jam kg/jam m3/jam
1 HNO3 47,9389
2 H2SO4 197,3955
3 Gliserol 8,5699 8,5699 1264,5 0,0068
4 Nitrogliserin 2.537,9422 2.537,9422 1599,8 1,5864
5 Na2CO3 304,6067 50,7678 2540 0,0200
6 Water 36,6592 7310,5626 7.390,3265 998,2 7,4036
7 NaNO3 64,6795 2260 0,0286
8 Na2SO4 286,0211 2660 0,1075
9 CO2 105,3671
SUBTOTAL 2.831,9682 7615,1694 10.447,1376 9,1530
TOTAL 10.447,1376 10.447,1376
10.447,1376
Didapat Fv total = 9,1530 m3/jam dan mix = = 1162,916 kg/m3
9,1530

2) Perhitungan Volume Tangki Netralizer


Prinsip perhitungan mechanical design yang digunakan sama dengan
Reaktor Alir Tangki Berpengaduk R-01.
Volume yang dibutuhkan untuk reaksi netralisasi sangatlah kecil,
sehingga disain dilakukan dengan mengambil waktu tinggal tertentu sebagai
berikut.
Waktu tinggal () = 30 menit
Volume cairan = Fv/ = 9,1530 m3/jam / 30 menit x 1jam/60 menit
= 4,5765 m3
Overdesign = 20%
Volume tangki = 5,4918 m3
3) Perhitungan Mechanical Design Netralizer
3.1 Perhitungan Dimensi Netralizer dan Pengaduk
Pada perhitungan dimensi reaktor ini akan ditentukan tinggi dan diameter
shell dari reaktor alir tangki berpengaduk. Layout dari reaktor seperti gambar
berikut :

Gambar 2.1 Layout Reaktor


Keterangan :
ID = diameter dalam tangki
D = diameter pengaduk
l = panjang sudu pengaduk
b = lebar sudu
c = jarak pengaduk dari dasar tangki
L = tinggi cairan

Dipilih jenis turbine dengan 6 buah blade (flat blade). sesuai Fig. 8.4 (Rase,
1977) dan Fig. 5.2 (Ludwig, 1964) karena turbine cocok untuk immiscible
system dan berdasarkan Tabel 8.2 (Rase, 1977) aliran yang terbentuk radial
flow.
Dari buku Brown (1950) didapat data sebagai berikut :

= 3; = 2,7 3,9 ; = 0,75 1,3

Diambil :

= 3; = 3,3 ; = 1,1 (2.3)

Maka :

=

1
= 3,3
3

= 1,1 (2.4)

Volume reaktor :

= 2
4
1,1
= 2
4

Volume reaktor = 5,4918 m3


Diameter dalam tangki
3 4
= 1,1 = 1,8527 m

Tinggi reaktor :
4
= 2

H = 2,0380 m

Ukuran pengaduk:
Diameter pengaduk
d = ID/3 = 0,6176 m
Lebar sudu pengaduk
b = d/4 = 0,1544 m
Panjang sudu pengaduk
1 = d/5 = 0,1235 m
Jarak pengaduk dari dasar tangki
c = 1,1xd = 0,6793 m
Lebar baffle
B = 0,17xID = 0,3150 m

3.2 Pemilihan Bahan Konstruksi


Cairan di dalam tangki netralizer terdiri dari asam nitrat, asam sulfat,
nitrogliserin serta air. Asam nitrat dan asam sulfat merupakan bahan-bahan
yang sangat korosif. Untuk itu dipilih bahan konstruksi reaktor yang tahan
korosi yaitu Stainless Steel 316. Spesifikasi bahan Stainless Steel 316 diambil
dari buku Brownell & Young (1959), sebagai berikut :
Bahan Konstruksi : Stainless steel (316)
Design stress (f) : 18750 psi
Corrossion allowance : 0,125 inch
Jenis sambungan : Double-welded butt joint
Joint factor (J) : 0,8

3.3 Perhitungan tebal shell


Untuk tangki dengan diameter kurang dari 45 ft (13,72 m) maka tebal
minimum tangki 3/16 in sedangkan untuk diameter lebih besar, tebal
minimum tangki in (Brownell & Young, 1959).

Persamaan yang dipakai (Brownell & Young, 1959) :


.
= + (2.5)
.0,6

dengan:
t = tebal dinding reaktor minimum, in
p = tekanan, psi
E = efisiensi sambungan las
f = tekanan maksimum yang diizinkan, psi
C = korosi yang diizinkan, in
ri = jari-jari diameter dalam reaktor, in
Data untuk perhitungan dengan pesamaan diatas adalah sebagai berikut :
E = 0,8
f = 18.750 psi
C = 0,125 in
ri = 51,4092 in
p dicari dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
p = 14,7 + P hidro (2.6)
dengan P hidro = mix . g. h
P hidro = 1162,916 kg/m3 . 9,8 m/s2 . 2,0380 m
P hidro = 22789,083 N/m2
P hidro = 3,3044 psi
Sehingga p = 18,0044 psi
Dari persamaan () didapat nilai tebal minimum shell :
t = 0,1688 in
Dipilih tebal shell standar 3/16 in.

3.4 Pemilihan dan Perhitungan Head Reaktor


Pada perancangan netralizer ini tekanan yang digunakan tidak terlalu tinggi,
bedasarkan pertimbangan pemilihan jenis-jenis head maka dipilih
Torispherical head.

OD

icr b A
OA

B
sf

ID t
r
a

Gambar 2.2. Gambar Head Tangki


Tebal head dapat dihitung dengan persamaan berikut (Brownell and Young,
1959):
0,885
= + (2.7)
0,1

dengan:
tmin = tebal head minimm, in
rc = crown radius, in.
P = tekanan operasi, psi
f = allowable stress, psi
E = efisiensi sambungan las
C = kosorsi yang diizinkan, in.

Data data yang dibutuhkan untuk perhitungan menggunakan persamaan


(2.7) adalah sebagai berikut :
rc = 72,9428 in.
P = 18,0044 psi
f = 18.750 psi
E = 0,8
C = 0,125 in.
dari data data diatas dihitung tebal head dengan persamaan (2.7), maka
diperoleh tebal head :
tmin = 0,2025 in
Dipakai tebal head standar = 1/4 in
Untuk torispherical head, icr/r = 6% (Brownell dan Young, 1959)
icr = 0,006 rc = 0,006 (72,9428) = 4,3766 in.
Dari tabel 5.6 buku Brownel & Young (1959) untuk tebal head 1/4 in nilai
dari standard straight flange (sf) adalah 1,5 sampai 2,5 in. Untuk perhitungan
ini dipilih nilai :
Sf = 2,5 in
2
= ( )2 ( 2 ) (2.8)
(Brownell & Young 1959, hal.87)
b = 12,3520 in
OA = t + b + sf = 15,1020 in

Volum sebuah torispherical head :


Vh= 0,000049.IDh3. (2.9)

Dengan,
Vh = Volum torispherical head, ft3
IDh = Diameter dalam vessel, in
Dengan pesamaan () dihitung volum dari torispherical head sehingga
diperoleh :
Vh = 19,0171 ft3
Untuk volum total head dhitung dengan persamaan (2.10) berikut :
1
= + ( )2 () (2.10)
4

Dengan persamaan diatas didapat total volume head sebesar :


= 25,0598 ft3

4) Menentukan Kecepatan Putaran dan Power Pengaduk

Perhitungan menggunakan persamaan-persamaan berikut:

600 WELH
N= (2.11)
Di ( ft) 2 Di (in)
Dengan, WELH = water equivalent liquid height, m
Nilai WELH didapat dari rumus sebagai berikut :
= (2.12)
Dengan, Zl = Tinggi cairan, m
Sg = Specific Gravity
Nilai Sg merupakan perbandingan antara mix dengan air pada suhu 4
0
C. air pada suhu 4 0C adalah 999,972 kg/m3. Sehingga nilai Sg dapat
dicari sebagau berikut:
mix
Sg = (2.13)
water at suhu 4 0C

1162,916 kg/m3
Sg =
999,972 kg/m3
Sg = 1,1410
Sehingga nilai WELH adalah:
=
= 1,7747 1,1629
= 2,03
Sehingga kecepatan pengaduk yang digunakan adalah :

600 WELH
N=
Di ( ft) 2 Di (in)
N = 74,57 RPM

Jenis motor yang digunakan : fixed speed belt (harga murah dan mudah
mengganti bagian-bagiannya). Dipilih kecepatan putar standar:
N = 80 rpm (Tabel 8.9, Rase, 1977)
Kemudian kita tentukan jumlah pengaduk yang digunakan dengan
persamaan sebagai berikut :

= (2.14)

2,03
=
1,8527
= 1,09 = 2
Jadi jumlah pengaduk yang digunakan adalah sebanyak 2 buah.
Kemudian kita tentukan power yang digunakan untuk memutar
pengaduk. Pertama tama cari dulu bilangan reynoldnya sebagai berikut:
Bilangan Reynolds :
Di 2 N
Re
m (2.15)

Re = 41805,36
Dari fig. 477 Brown, no.15, diperoleh nilai Np = 3
Power pengaduk :
= . . 3 . 5 (2.16)
Pa = 728,967 watt
Pa = 0,9766 hp
Efisiensi motor = 0,84 (Gb. 13.38, Peters, 1985)
P
Daya motor : = 1,1638 hp

Dipakai motor dengan daya = 1,5 hp

5) Perhitungan Koil Pendingin

5.1) Perhitungan beban panas yang diserap oleh koil pendingin


Hitung terlebih dahulu beban panas yang akan diserap sebagai berikut :

Arus 13 (T=288 K)
Larutan natrium karbonat
(kmol/jam)
Na2CO3 2,8836
Arus 10 (T = 288 K) H2O 339,6280
(kmol/jam)
Netralizer 01
HNO3 (0,7636) 11
T =288 K, P=1 atm Arus 14 (T=288 K)
H2SO4
(2,0212) Outlet (kmol/jam)
H2O (2,0437) HNO3 0,7636
Na2CO3 (0,4806) H2SO4 2,0212
Nitrogliserin (11,1804) H2O 344,0746
Gliserin 0,0958
Nitrogliserin 11,1804
Gambar 2.3 Skema Neraca Panas Netralizer-01
Data :
Panas reaksi pembentukan natrium nitrat :
,298 = 2. ,3 + , + ,2 ,23 2. ,3
(2.17)
,298 = 2(447,4800) + (241,8140) + (393,5100)
(469,4150) 2. (131,3800)
0,24
,298 = 790,6690 BTU/mol x

= 189.760,5600 BTU/mol

Panas reaksi pembentukan natrium sulfat :


,298 = ,24 + , + ,2 ,23 ,3
,298 = (1389,5100) + (241,8140) + (393,5100)
(469,4150) (735,1300)
0,24
,298 = 820,2890 BTU/jam x

= 196.869,3600 BTU/mol

Netralizer bekerja pada temperatur 15o C, sehingga perlu dicari panas


reaksi pada suhu 15o C atau 288 K.
288
,288 = ,298 + 298 (2.18)
Dari persamaan tersebut maka diperoleh :
,288 3 = 189.794,9914 BTU/mol
,288 24 = 197.119,7655 BTU/mol
Neraca panas Netralizer:
Rate of heat input - Rate of heat output = Rate of heat accumulation
10 + 13 14 ,14 . ,14 . = 0
Dengan,
10 = ,10 + ,10 + ,10 + ,10 + ,10 (2.19)
13 = ,13 + ,13
14 = ,14 + ,14 + ,14 + ,14 +,14+,14
Masing-masing dihitung entalpinya pada suhu 288 K. Perhitungan
dengan menggunakan persamaan (9.26) sehingga diperoleh:
10 + 13 14 ,14 . ,14 . = 0 (2.20)
8.404,6785 + 93.471,9135 101.357,3173
0,7636. (189.794,9914 ) 2,0212. (197.119,7655 ) = 0
= 543.868,7422 BTU/jam
Artinya panas yang diambil dari sistem menggunakan pendingin sebesar
543.868,7422 BTU/jam.
Untuk tangki netralizer ini, pendingin yang digunakan adalah larutan
Brine CaCl2 25 %. Sehingga dari beban pendingin tersebut dapat kita cari
jumlah brine yang dibutuhkan dengan rumus sebagai berikut:
=

=

Dengan, W = jumlah brine yang dibutuhkan, lb/jam


Cp = kapasitas panas brine, Btu/lb/oF
= Perubahan temperatur brine, oF
Pada tangki netralizer ini, suhu larutan Brine CaCl2 25 % masuk adalah -
50C dan keluar pada suhu 50C. Data untuk perhitungan brine adalah
sebagai berikut
Cp =0,76 Btu/lb/F
= 10 oF
Sehingga jumlah brine yang dibutuhkan adalah
543.868,7422
=
0,76 . 10
= 71.561,677 /

5.2) Perhitungan Logarithmic Temperature Mean Difference (LMTD)


Diketahui dari data di atas sebagai berikut:
Hot Fluid, Cairan dalam reaktor
T masuk = T1 = 150C = 59 oF
T keluar = T2 = 150C = 59 oF
Cold fluid, larutan brine
T masuk = t1 = -50C = 23 oF
T keluar = t2 = 50C = 41 oF
Nilai LMTD dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut
(11)(22)
= 11 (2.21)
ln( )
22

(59 23) (59 41)


=
59 23
ln( )
59 41
= 25,9685

5.3) Perhitungan Koefisien Transfer Panas Overall


Dalam tangki netralizer ini kita menggunakan koil pendingin dengan
spesifikasi sebagai berikut :
NPS = 3,5
OD = 3,5 in
ID = 3,069 in
Sch. Number = 40
ao = 7,38 in
at = 0,917 ft2/ft
Susunan koil = helix
Diameter helix, dhe = 4,9303 ft (85% dari diameter reaktor)
Jarak antar lilitan, Jsp = 1,75 in
Bahan = Stainless steel (sumber : tabel 11 Kern, 1983)

Kemudian hitung koefisien transfer panas dalam koil dapat dihitung dengan
persamaan berikut :
. . 0,8 . 1/3
= 0,027 . . . [ 1 + 3,5 ] (2.22)

Dengan,
hi = koefisien transfernpanas konveksi dalam koil, Btu/jam/ft2/oF
ID = diameter dalam koil, ft
k = konduktivitas panas pendingin, Btu/jam/ft/oF
dhe = diameter helix, ft
cp = kapasitas panas, Btu/lb
= viskositas, lb/ft/jam
Gt = laju massa per luas. Lb/jam/ft2

Dalam kasus ini data yang diketahui adalah sebagai berikut :


k = 0,74 Btu/jam/ft/oF
cp = 0,76 Btu/lb
= 12,86 lb/ft/jam
ID = 0,2577 ft
Gt dicari dengan persamaan sebagai berikut:

= (2.23)


=
3,14 . 2 /4

71.561,677 /
=
3,14 . 0,2577 2 /4
71.561,677 /
=
3,14 . 0,2577 ft 2 /4

= 1.394.641,7
2
Dhe dicari dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

0,85 .
= (2.24)
12
0,85 . 72,9428
=
12
= 5,1668

Sehingga diperoleh nilai hi sebesar 777,5895 Btu/jam/ft2/jam. Kemudian


dihitung nilai hio dengan persamaan berikut :
hio=hi.ID/OD (2.25)

dengan, OD = 0,2917 ft

Maka diperoleh hio sebesar 681,6127 Btu/jam/ft2. Kemudian kita cari


Koefisien transfer panas dalam reaktor dengan persamaan berikut :
. 2 . 2/3 1/3 . c1/3
= 0,87 . ( ) . 1/3 . (w)2/3 (2.26)

Dengan,
ho = koefisien transfer panas konveksi dalam reaktor,
Btu/jam/ft2/oF
Di = diameter dalam tangki, ft
k = konduktivitas panas cairan , Btu/jam/ft/oF
L = Tinggi reaktor, ft
cp = kapasitas panas, Btu/lb
c = = c = viskositas cairan, lb/ft/jam
Np = jumlah putaran pengaduk, rotasi/jam
Dalam kasus ini data yang diketahui adalah sebagai berikut :
k = 0,1555 Btu/jam/ft/oF
cp = 0,4702 Btu/lb
= 33,5896 lb/ft/jam
Di = 6,0768 ft
N = 4800 rph
= 71,0818 lb/ft2
L = 2,0262 ft
Sehingga didapat nilai ho sebesar 155,6106 Btu/ jam/ft2. Kemudian kita
menghitung overall heat transfer dari sistem ini:
1 1 1
= + (2.27)

1 1 1
= +
155,6106 681,6127
= 126,6880 Btu/jam/ft2

5.4) Menghitung Luas Transfer Panas


Pertama-tama hitung dirt overall heat tranfer coefficient (Ud)
dengan rumus sebagai berikut:
(2.28)
Uc.hD
Ud
Uc hD
Dengan, Ud = dirt overall heat tranfer coefficient, Btu/ jam/ft2
Uc = overall heat tranfer coefficient, Btu/ jam/ft2
hD = 1/dirt factor
dalam kasus ini Rd = 0,001. Sehingga didapat Ud = 112,4428 Btu/ jam/ft2.
Kemudian dihitung luas transfer panas dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

= (2.29)
.

Dengan,
A = Luas Transfer Panas, ft2
Q = Beban Pendingin, Btu/jam
Ud = Dirt overall heat transfer coefficient, Btu/jam/ft2/oF
TLMTD =Logarithmic Temperature Difference, oF

Data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persaman diatas adalah sebagai


berikut :
Q = 543.868,7422 Btu/jam
Ud = 112,4428 Btu/jam/ft2/oF
TLMTD = 25,9685 oF
Dengan persamaan diatas maka didapat nilai luas transfer panas :
A = 186,25811 ft2

5.5) Menentukan dimensi koil


Pipa koil yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut (sumber : tabel
11 Kern, 1983) :
NPS = 3,5
OD = 3,5 in
ID = 3,069 in
Sch. Number = 40
ao = 7,38 in
at = 0,917 ft2/ft
Susunan koil = helix
Diameter helix, dhe = 4,9303 ft (85% dari diameter reaktor)
Jarak antar lilitan, Jsp = 1,75 in
Bahan = Stainless steel

Pada pembahasan ini akan dihitung panjang koil, jumlah putaran helix coil
dan tinggi helix coil.
Panjang koil dihitung dengan persmaan berikut :

= (2.30)

Dengan,
Lt = Panjang Koil, ft
A = Luas Transfer Panas, ft2
at = Luas Transfer Panas per Satuan Panjang Koil, ft2/ft
Perhitungan menggunakan persamaan (2.42) adalah sebagai berikut :

= (2.31)
186,25811
= 0,917

= 203,1168 ft

Kemudian dihitung jumlah putaran dari helix coil sebagai berikut :



= (2.32)

Dengan,
Nt = Jumlah putaran helix coil
Lt = Panjang koil, ft
dhe = Diameter helix coil, ft
Maka didapat jumlah putaran helix coil sebanyak :

= (2.33)

203,1168
= 5,1668

= 12,5198 putaran
= 13 putaran

Kemudian dihitung tinggi helix coil dalam reaktor sebagai berikut :


Ht = Nt.OD + (Nt-1). Jsp (2.34)
Dengan,
Ht = Tinggi koil pendingin, m
Nt = Jumlah putaran helix coil
OD = Diameter luar koil, m
Jsp = Jarak antar lilitan, m

Dihitung tinggi koil dengan pesamaan diatas sehingga didapat :


Ht = Nt.OD + (Nt-1). Jsp (2.35)
Ht = 13 x 0,0889 + (13-1). 0,04445
Ht = 1,6251 m
6) Rangkuman Spesifikasi Reaktor
Jenis Netralizer : Tangki Berpengaduk
Bahan tangki : Stainless Steel 316
Diameter shell : 1,7680 m
Tinggi shell : 1,945 m
Tinggi Pengaduk dari dasar shell : 0,6482 m
Tebal shell : 0,1875 in (6,35 mm)
Jenis head : Torispherical head
Tebal head : 5/16 in (7,9375 m)
Tinggi head : 0,4431 m
Jenis pengaduk : 6 flat blade turbine impeller
Kecepatan putar pengaduk : 80 rpm
Power pengaduk : 1 hp
Diameter pengaduk : 0,5893 m
Jenis pendingin : helix coil
Diameter helix : 4,9303 ft
Panjang koil : 74,2908 m
Jumlah putaran koil : 49
Tinggi koil : 6,3826 m