Anda di halaman 1dari 3

Sosialisasi Belkaga penyakit kaki gajah yang dibuka Kepala Puskesmas Suak Tapeh dan diikuti para

kader filariasi, bidan desa dan beberpa kepala desa se-Kecamatan Suak Tapeh.
Kepala Puskesmas Suak Tapeh, Dr Lice Niati dalam sambutannya menyampaikan, kaki gajah adalah
penyakit infeksi bersifat menahun disebabkan oleh Cacing Falaria yang ditularkan oleh nyamuk.
Penyakit Filariasis ini, salah satu program prioritas Nasional dibidang kesehatan, dalam upaya
pengendalian penyakit menular. Maka bagi masyarakat berusia 2-70 tahun, yang tidak lagi hamil atau
penderita sakit berat, wajib minum obat pencegah penyakit kaki gajah, ucapnya.
lanjutnya Dr Lice Niati berharap sosialisasi ini dilakukan untuk mencapai kesepahaman bersama seluruh
elemen masyarakat terkait dalam pemberian obat pencegahan penyakit kaki gajah kepada masyarakat,
para kader filariasis, bidan, kepala desa untuk menyampaikan sosialisasi ini pada masyarakat dan kepada
seluruh masyarakat untuk aktif dan menerima obat filariasis tersebut dan mengkonsumsi obat filariasis
yang diterima.
Disalah satu desa di wilayah kecamatan Suak Tapeh sudah ditemukan penderita penyakit kaki gajah
(filariasis), dari itu hal pencegahan ini perlu dilakukan untuk langkah antisipasi dan jika pemberian obat
filariasis dinilai gagal maka pemberian obatan ini akan diperpanjang, jelasnya.
Adapun sesuai dengan peraturan pemerintahan, jika kegiatan pemberian obat filariasis dinilai gagal maka
akan diperpanjang 3 kalilipat, tegasnya.
Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) penyakit Infeksi yang bersifat menahun disebabkan Cacing Filaria dan
ditularkan oleh nyamuk. Penularan penyakit kaki gajah dari seorang yang darahnya mengandung
mikrofilaria kepada orang lain melalui gigitan nyamuk, jelasnya
Gejala dan tanda penyakit kaki gajah demam berulang-ulang, pembengkakan saluran getah bening
sehinggah terlihat bengkak didaerah lipatan paha, ketiak yang tampak kemerahan panas dan sakit. Timbul
Abses (bisul) bahkan pembesaran kaki, lengan, payudara, atau buah zakar, ungkapnya.
Sosialisasi dan advokasi
Pemberi Obat Pencegahan Massal
(
POPM
)
filariasis di
K
abupaten
/Kota
;
q.
Pelaksanaan POPM filariasis melalui:
1)
Sosialisasi di
K
ecamatan/
P
uskesmas;
2)
Pelatihan kader;
3)
Pendataan sasaran;
4)
Pengemasan obat;
5)
Distribusi obat;
6)
Pelaksanaan POPM;
dan
7)
Sweeping

Wasor Kusta Kabupaten Kayong Utara ; M.Trisno Yuwono, SKM

Mulai kemarin (9/7), Dinas Kesehatan (Dinkes) KKU memulai intensifikasi kusta, Tb paru, dan
frambusia (penyakit kulit bahaya) tahun 2012 di sepuluh desa dari lima kecamatan. Ini bagian
dari program pemberantasan penyakit menular.

Untuk Kecamatan Sukadana di Desa Riam Berasap Jaya, Pangkalan Buton, Pampang Harapan.
Di Kecamatan Teluk Batang, intensifikasi dilaksanakan di Desa Teluk Batang Selatan, Teluk
Batang Utara, Banyu Abang, Padu Banjar. Di Kecamatan Seponti, dilaksanakan di Desa Sungai
Sepeti. Kecamatan Pulau Maya di Desa Dusun Besar dan Dusun Kecil.

Program pemberantasan penyakit (P2) kusta di Dinkes KKU dari tahun 2009-2011 sudah banyak
melakukan kegiatan. Seperti penemuan penderita kusta antara lain penemuan penderita kusta
secara aktif maupun pasif.

Pembinaan dan pengobatan penderita kusta selama 6-12 bulan. Pemeriksaan laboratorim
(skinmaer). Pemeriksaan rutin dalam pencegahan reaksi kusta dan obat kusta. Konfirmasi
diagnosis kusta oleh Wakil Supervisor (Wasor) Kusta KKU. Monitoring pencegahan cacat
prevention of disability (POD), pencegahan cacat, dan pemeriksaan fisik secara rutin. Survei
kontak anak sekolah. Penyuluhan terhadap masyarakat dan peran serta masyarakat tentang
penyakit kusta dengan leprosy elimination champagne (LEC).

Pemeriksaan rutin secara pasif ke penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan selama
2-5 tahun. Pelatihan dokter dan pengelola kusta puskesmas. Pelatihan Wasor kusta kabupaten.
Pencatatan, pelaporan, dan manajemen logistik.

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. Merasa tekanan batin. Takut terhadap
penyakitnya dan terjadinya kecacatan. Takut menghadapi keluarga dan masyarakat karena sikap
penerimaan mereka kurang wajar.

Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi
orang lain, seperti jadi pengemis, gelandangan.
Masalah terhadap keluarga seperti menjadi panik. Berubah mencari pertolongan termasuk dukun
dan pengobatan tradisional. Keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarakat di sekitarnya.
Berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat di sekitarnya.
Mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan.

Pada umumnya masyarakat mengenal kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. Sehingga
pendapat tentang kusta merupakan penyakit sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit
keturunan, kutukan Tuhan, nasjid, dan menyebabkan kecacatan. Masyarakat mendorong agar
penderita dan keluarganya diasingkan.

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar di mana-mana. Maksudnya


mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif, dan percaya
diri.

Metode penanggulangan ini terdiri dari metode pemberantasan dan pengobatan, rehabilitasi.
Terdiri dari rehabilitasi medis, sosial, karya, dan pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir
dari rehabilitasi. Di mana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok
sendiri. Ketiga metode itu merupakan suatu sistem saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.