Anda di halaman 1dari 6

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru


melalui Penelitian & Pengembangan dalam Menghadapi Tantangan Abad-21
Surakarta, 22 Oktober 2016

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN SEBAGAI


IMPLEMENTASI KURIKURIKULUM 2013

Ghullam Hamdu1, Anggi Lestari2, Nisa Nurlaila3


1,2,3
Universitas Pendidikan Indonesia, Tasikmalaya, 46115

Email Korespondensi: ghullamh2012@upi.edu

Abstrak
Kurangnya sumber teori tentang penyusunan dan contoh perangkat pembelajaran menjadi langkah awal
penelitian lanjutan dari pengembangan perangkat pembelajaran berbasis PBL (Problem Based Learning) yang
menghasilkan produk perangkat pembelajaran yang telah valid dan layak digunakan untuk mengembangkan
pembelajaran IPA di Sekolah Dasar dengan pengintegrasian pembelajaran lain yang mendukung. Maka
dilakukan pengembangan sebuah buku tentang pengembangan perangakat pembelajaran. Didukung dengan
hasil pendahuluan bahwa kurangnya pemahaman guru dalam hal pengembangan perangkat pembelajaran.
Penelitian ini diharapkan menajadi referensi guru atau calon guru untuk mengembangkan perangkat
pembelajaran dipandu sebuah buku yang membantu guru dalam mengembangkannya. Penelitian dilakukan
menggunakan metode DBR (Desigen-Based-Research) yang dikemukaakan oleh Reeves tahun 2007. Tahap
pertama pada studi pendahuluan diperoleh data dari hasil wawancara dan studi dokumentasi. Tahap kedua
dilakukan pengembangan dalam pembuatan buku perangkat pembelajaran mencakup RPP, LKS, media, dan
asesmen. Tahap tiga, dilakukan validasi ahli dan mengalami revisi selanjutnya dilakukan validasi penggunaan
kepada guru atau caln guru dan mengalami revisi II. Hasil akhir pada tahap empat diperoleh buku tentang
perangkat pembelajaran yang membahas tentang teori, langkah-langkah, dan contoh perangkat pembelajran
yang mencakup RPP, LKS, Media, dan asesmen yang diharapkan dapat menjadi referensi untuk para pendidik.

Kata Kunci: IPA, Tematik, Perangkat Pembelajaran, Problem Based Learning (PBL).

Pendahuluan kemudahan bagi peserta didik untuk


melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam
Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada rangka mencapai tujuan pembelajaran. Oleh
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dilakukan sebab itu, dalam proses pembelajaran siswa
melalui pembelajaran dengan pendekatan harus secara aktif mengalami sendiri untuk
tematik-terpadu dari Kelas I sampai Kelas VI mencapai tujuan pembelajaran yang
(Salinan lampiran permendikbud no. 67 tahun dirumuskan guru dan bukan hanya menerima
2013 tentang kurikulum SD). Dengan dari pemberian guru. Pada proses
demikian pembelajaran pada kurikulum 2013 pembelajaran siswa harus dibiasakan terlibat
dilakukan dengan mengaitkan berbagai dalam memecahkan permasalahan-
kompetensi dasar atau mata pelajaran yang permasalahan. Saat proses belajar mengajar
masih satu konsep dalam satu tema tertentu. siswa banyak menerima teori dari guru,
Pembelajaran dilakukan secara tematik agar namun pada saat mereka dihadapkan pada
pengetahuan yang dimiliki siswa mengenai suatu permasalahan mereka bingung
suatu konsep dapat menyeluruh tidak terpisah menemukan solusi untuk menyelesaikannya.
pisah. Agar pembelajaran lebih bermakna Mereka tidak tahu cara mengaplikasikan teori
pembelajaran harus dikaitan dengan yang mereka dapat untuk menemukan solusi
permasalahan yang biasa dihadapi siswa atas permasalahan yang dihadapi. Kurangnya
sehari-hari. Untuk menemukan solusi dari aktivitas siswa dalam suatu pembelajaran
permasalahan diperlukan pengetahuan yang menyebakan mereka hanya menghapal teori
menyeluruh dari suatu konsep. yang didapat tanpa memahaminya.
Oemar Hamalik (Henawan et.al, How we teach must also change in order to
2007) menjelaskan bahwa pembelajaran prepare our students to cope with these new
merupakan prosedur dan metode yang situations: students need more than ever to be
ditempuh oleh pengajar untuk memberikan able to pose questions, seek and find
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016 | 375
appropriate resources for answering these masalah yang konkret ada dalam dunia siswa.
questions, and communicate their solutions Salah satu ciri dari pembelajaran berbasis
effectively to others. (Duch, et al , 2001) masalah adalah fokus kepada keterkaitan
Cara guru mengajar juga harus berbagai disiplin ilmu (Nurhadi dalam Putra,
berubah untuk mempersiapkan siswa J. D., 2013). Dengan demikian, berdasarkan
mengatasi situasi baru. Siswa perlu lebih dari uraian tersebut maka pembelajaran berbasis
sebelumnya untuk dapat mengajukan masalah sangat cocok apabila diterapkan
pertanyaan, mencari dan menemukan sumber dalam kurikulum 2013 yang menuntut
daya yang tepat untuk menjawab pertanyaan- pembelajaran secara tematik-integratif.
pertanyaan ini , dan mengkomunikasikan Namun permasalahan yang ada adalah
solusi mereka secara efektif kepada orang keterbaruan kurikulum 2013 ini belum
lain. Salah satu cara guru untuk membantu sepenuhnya diketahui oleh para guru di
siswanya belajar memecahkan masalah adalah sekolah. Penerapan kurikulum ini pun baru
dengan menggunakan metode pembelajaran secara bertahap diimplementasi di kelas kelas
berbasis masalah (Problem Based tertentu. Khusus untuk tingkat sekolah dasar
Learning/PBL). It is crucial that the students hanya diterapkan pada kelas 1 dan kelas 4 di
in a PBL curriculum become lifelong learners tahun pertama, dan diterapkan selanjutnya
who have learned to take responsibility for pada tahun kedua untuk kelas 1, 2, 4 dan 5 dan
their own learning process (Graaff & Kolmos, di tahun ketiga baru dilaksanakan secara
2003). menyeluruh di semua jenjang kelas. Atas
Pembelajaran berbasis masalah lebih dasar tersebut maka guru di lapangan
menitikberatkan pada proses kegiatan yang memerlukan contoh yang kongkrit bagaimana
siswa lakukan dalam suatu pembelajaran pelaksanaan pembelajaran dengan
(student centre). Melalui pembelajaran menggunakan kurikulum 2013 ini, terlebih
berbasis masalah siswa diajak untuk berpikir lagi membelajarkan dengan tematik di kelas
dan melakukan suatu aktivitas untuk atas (kelas 4, 5, dan 6) yang sebelumnya
menemukan solusi atas suatu permasalahan. belum pernah dianjurkan pada kurikulum
Menurut Nasution (2011) Masalah yang sebelumnya.
terpecahkan melalui problem solving mantap Penelitian yang akan dilaksanakan ini
dan sukar dilupakan, apalagi bila mengenai berusaha untuk menghasilkan perangkat
pemikiran pada taraf tinggi. Apabila siswa pembelajaran tematik dengan strategi
terlibat langsung dalam memecahkan masalah pembelajaran berbasis masalah sebagai
maka pembelajaran akan lebih bermakna dan contoh implementasi dari kurikulum 2013
sulit untuk dilupakan, dibandingkan siswa khususnya untuk kelas tinggi. Selain itu,
hanya diberikan teori terus menerus tanpa penelitian ini dapat memberikan contoh yang
adanya kegiatan yang dilakukan. konkrit bagaimana pelaksanaan pembelajaran
Esensi PBL berupa menyuguhkan berbasis masalah melalui video pelaksanaan
berbagai situasi bermasalah yang autentik dan pembelajaran.
bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi
sebagai batu loncatan untuk investigasi dan
penyelidikan (Arends, 2008). Sedangkan Metode Penelitian
menurut Dewey (dalam Sudjana 2006) belajar
Penelitian ini menggunakan motode DBR
berdasarkan masalah adalah interaksi antara
(Design-Based research). DBR didefinisikan
stimulus dengan respons, merupakan
oleh Barab and Squire (2004) dalam Herrington,
hubungan antara dua arah belajar dan
et.al (2007) sebagai a series of approaches,
lingkungan. Pada pembelajaran berbasis
with the intent of producing new theories,
masalah siswa dituntut untuk dapat
artifacts, and practices that account for and
menginvestigasi, menyelidiki dan
potentially impact learning and teaching in
menyelesaikan suatu permasalahan yang
naturalistic settings. Dengan mengadopsi
disajikan oleh guru. Masalah dijadikan
dan memodifikasi dari desain penelitian yang
langkah awal siswa untuk merekonstruksi
diberikan oleh Reeves, 2006 (dalam Jan van
pengetahuan baru yang akan didapatnya.
Akker, 2006), maka penelitian inidibagi
Masalah yang disajikan guru harus merupakan
376 | Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru Melalui Penelitian & Pengembangan
dalam Menghadapi Tantangan Abad-21
menjadi 4 tahap, yaitu Identifikasi dan mendapatkan prinsip desain yang diharapkan
Analisis masalah, Pengembangan prototype dan mengatasi berbagai permasalahan yang
program, Uji Coba dan implementasi muncul. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
Prototype Program, dan refleksi untuk pada gambar 3.1

Identifikasi
dan
Analisis
Hasil yang
Pengembanga diharapkan
n prototipe berupa perangkat
program: dan video
pelaksanaan
Uji coba dan
implementasi Adaptasi dari: Pendekatan
pengembanganP desain research (Reeves, 2006
dalam Jan van den Akker, et.
al, 2011 )
Refleksi untuk
mendapatkan
prinsip desain
Gambar 3.1. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian

Hasil Penelitian dan Pembahasan teori tentang perangkat pembelajaran dan


pengembangan buku tentang perangkat
Melakukan identifikasi dan analisis pembelajaran. Dengan tahapan.
masalah yang dilakukan peneliti dan
praktisi secara kolaboratif Standi Literatur
Dari hasil wawancara dan studi Tahap ini merupakan tahap kajian
dokumentasi terlihat bahwa kurangnya teori pengembangan perangkat pembelajaran.
sumber-sumber tentang teori, penyusunan, Adapun perangkat pembelajaran diantaranya,
dan contoh tentang perangkat pembelajaran. yaitu desain pembelajaran, lembar kerja
Pemahaman guru tentang bagaimana siswa, media pembelajaran asesmen otentik
membuat perangkat pembelajaran pun dirasa dan asesmen tes. Desain Pembelajaran
masih kurang. menurut Sagala (2005, hlm. 136) merupakan
pengembangan pengajaran secara sistematik
Mengembangkan Solusi yang Didasarkan yang digunakan secara khusus teori-teori
pada Patokan Teori, Design Principle yang pembelajaran untuk menjamin kualitas
Ada dan Inovasi Teknologi pembelajaran.
Setelah peneliti melakukan Menurut Munthe (2014, hlm. 53)
identifikasi terhadap masalah dalam desain strategi pembelajaran sangat strategis,
pengembangan perangkat pembelajaran di karena ia merupakan cara seorang guru
sekolah dasar, maka peneliti melakukan kajian sebagai ujung tombak perubahan melakukan
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016 | 377
usaha nyata untuk tercapainya kompetensi. Langkah-langkah pengembangan produk
Proses pembelajaran harus didesain dengan Ditahap yang kedua ini akan
strategi yang bervariasi. Penetapan tujuan dijabarkan langkah-langkah pengembangan
pembelajaran didasarkan pada standar produk. Pengembangan produk mengacu pada
kompetensi dan kompetensi inti (dalam hal ini model pembelajaran berbasis masalah.
menggunakan kurikulum 2013) sehingga Pengembangan media pembelajaran berbasis
siswa dapat terlibat aktif dalam penerapan- masalah dalam penelitian ini dilaksanakan
penerapan teori yang pada gilirannya menurut model pengembangan 4D (Four-D
menghasilkan karya. model) oleh Sivasailam Thiagarajan, Dorothy
Komponen utama Desain S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Adapun
Pembelajaran menurut Sujarwo ( t.t, hlm. 6) langkah-langkah cara membuat media
sebagai berikut: Kemampuan awal peserta pembelajaran yaitu Mengidentifikasi Masalah
didik dan potensi yang dimilkinya; Tujuan yang Dihadapi dalam Pembelajaran,
pembelajaran; Analisis materi pembelajaran Menganalisis Karakteristik Siswa,
yang digunakan untuk mencapai tujuan Merumuskan Tujuan Pembelajaran, Menelaah
pembelajaran; Analisis aktivitas Materi Ajar, dan Tahap Perancangan
pembelajaran; Pengembangan media (Design).
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, Pada tahap perancangan, Media
materi pembelajaran, dan kemampuan peserta pembelajaran yang dibuat akan memuat fitur-
didik; Strategi pembelajaran, Sumber belajar, fitur Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM),
dan Penilaian belajar. Dalam membuat sebuah seperti adanya masalah autentik, fokus
desain pembelajaran, ada komponen yang interdisipliner, kegiatan belajar berupa
harus disiapkan salah satunya adalah penyelidikan, menyuguhkan situasi belajar
LKS.LKS adalah lembaran-lembaran berisi kolaboratif, dan menjadi model bagi
tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. LKS terciptanya sebuah produk/karya sebagai
biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah dokumentasi hasil belajar. Media ini
untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas diharapkan mampu meningkatkan
yang diperintahkan dalam lembar kegiatan keterampilan berpikir dan keterampilan
harus jelas kaitannya dengan kompetensi yang mengatasi masalah pada diri siswa
akan dicapai. (Depdiknas dalam Alan, 2012). Selain media, didalam proses
Berikut Langkah-langkah membuat Lembar pembelajaran juga harus ada tes evaluasi yang
Kerja Siswa menurut Alan (2012) sebagai bertujuan untuk mengukur tingkat
berikut: menganalisis kurikulum, menyusun keberhasilan selama proses pembelaajaran
peta kebutuhan LKS, menentukan judul-judul berlangsung. Tes evaluasi yang
LKS dan menulis LKS. Dalam penulisan LKS dikembangkan pada buku salah satunya yaitu
dapat dilakukan dengan tiga langkah yaitu tes evaluasi berbasis HOTS (Higer Order
Perumusan KD yang harus dikuasai, Thinking Skill). Dalam membuat soal evaluasi
Penentuan alat penilaian, Penyusunan materi, berbasis HOTS ada beberapa tahapan yang
tergantung pada KD yang akan dicapai. Selain harus diperhatikan yaitu analisis siswa,
itu dalam penulisan dan penyusunan LKS analisis materi pembelajaran, analisis
terdapat beberapa komponen yang perlu indikator, analisis tujuan pembelajaran, dan
diperhatikan. Menurut Trianto (2009, hlm. penyususnan soal HOTS. Dalam menyususn
223), Komponen-komponen LKS meliputi: soal HOTS penyusunan dilakukan dalam 3
judul eksperimen, teori singkat tentang materi, tahap yaitu penyusunan kisi-kisi, penyusunan
alat dan bahan, prosedur eksperimen, data rubrik, dan soal tes berbasis HOTS tahap 1.
pengamatan dan kesimpulan untuk bahan Komponen yang terakhir dan harus ada dalam
diskusi. Keberadaan LKS memberi pengaruh pembuatan soal yaitu kunci jawaban.
yang cukup besar dalam proses belajar
mengajar, sehingga penyusunan LKS harus Meninjau Kembali Produk
memenuhi berbagai persyaratan yaitu syarat Setelah produk dibuat, divalidasi dan
didaktik, syarat konstruksi, dan syarat teknik. diperbaiki, kemudian produk ditinjau kembali.
berdasarkan kegiatan uji coba yang dilakukan
sebanyak empat kali dapat dikatakan secara
378 | Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru Melalui Penelitian & Pengembangan
dalam Menghadapi Tantangan Abad-21
keseluruhan produk yang dibuat sudah layak perangkat disertakan contoh seperangkat
digunakan. Desain pembelajaran layak desain pembelajaran berbasis PBL.
digunakan berdasarkan respon guru dan siswa
yang posistif terhadap pembelajaran yang Proses Berulang untuk Menguji dan
dilakukan, hal ini ditunjukan dari persentase Memperbaiki Solusi Secara Praktis
yang diperoleh yakni sebanyak 95,50 % siswa Validasi dilakukan oleh dua orang ahli
merespon positif terhadap pembelajaran, dalam pembuatan perangkat pembelajaran.
selain itu, kegiatan pembelajaran dapat Ada 10 indikator penilaian yan digunakan,
berjalan dengan lancar, efektif dan efisien, diantaranya.
sehingga pembelajaran dapat dilakukan a. Kesesuaian isi kandungan
dengan maksimal, lebih bermakna, b. Ketepatan isi kandungan
menumbuhkan rasa keingintahuan siswa dan c. Kemutakhiran isi kandungan
berpusat pada kegiatan siswa. Selain itu d. Kesesuaian dengan pemahaman guru
evaluasi tes berbasis HOTS yang digunakan e. Fokus kandungan
selama proses pembelajaran sudah layak f. Teknik penyajian kandungan
digunakan hal ini ditunjukan dengan hasil g. Keseuaian pembahasan materi untuk
validitas soal termasuk daya pembeda soal, setiap pokok bahasan
tingkat kesukaran soal, dan kualitas pengecoh h. Kelengkapan dokumentasi
sudah valid. Hasil validasi dengan
menggunakan SPSS dan Microshop excel Dari hasil validasi ahli ada beberapa revisi
menunjukan hasil yang sama, soal dikatakan salah satunya terkait evaluasi pada setiap bab
valid apabila skor valditas lebh dari R-table. pembahasan. Dengan adanya evaluasi
Selain itu pada rubrik penilaian kinerja hasil diharapkan guru akan lebih memahami terkait
pengujian validitas dan reliabilitas dengan materi dan penerapan perangkat
menggunakan software Microsoft Excel 2007 pembelajaran.
dan SPSS versi 16.0 dapat disimpulkan bahwa Validasi selanjutnya dilakukan kepada
baik rubrik penilaian kinerja individu maupun guru-guru sebagai tahap validasi penggunaan
rubrik penilaian kinerja kelompok telah oleh guru atau calon guru. Ada 3 indikaor
mencapai tingkat kevalidan (signifikan). Hasil yang digunakan dalam validasi yang
pengujian reliabilitas dengan menggunakan dilakukan oleh guru.
alpha Cronbach didapatkan nilai untuk rubrik a. Kesesuaian dengan pemahaman
penilaian kinerja individu sebesar 0,813 yang b. Fokus kandungan
dikategorikan sangat tinggi dan untuk rubrik c. Pemahaman materi untuk setiap pokok
penilaian kinerja kelompok pada bahasan
pembelajaran 1 sebesar 0,775 sedangkan Dari hasil validasi guru dapat dilihat
rubrik penilaian kinerja kelompok pada bagaimana tahap penerapan buku
pembelajaran 2 sebesar 0,772 yang perangkat pembelajaran. Dimana guru
dikategorikan tinggi. memberi beberapa masukan.

Penyusunan Perangkat Pembelajaran Melakukan Refleksi untuk Menghasilkan


Tahap ini merupakan tahap Design Principle serta Meningkatkan
penyusunan perangkat pembelajaran. Dalam Implementasi dari Solusi Secara Paraktis.
penyusunan perangkat pembelajaran
mencakup teori yang mendukung, lanngkah- Setelah melakukan validasi didapat produk
langkah dalam pembuatan perankat berupa perangkat pembelajaran berbasis PBL.
pembelajran, dan contoh perangkat Mencakup teori, cara pengembangan
pembelajaran. Teori-teori yang diambil perangkat, dan contoh perangkat
berkenaan dengan RPP, LKS, Media pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang
pembelajaran, dan Asesmen. Dalam tahap ini dikembangkan berupa RPP, LKS, media, dan
juga membahas langkah-langkah pembuatan asesmen.
perangkat pembelajaran. Sehingga bisa
mempermudah pembaca dalam menyusun
perangkat pembelajaran. Pada bagian akhir
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016 | 379
Simpulan, Saran, dan Rekomendasi Daftar Pustaka
Berdasarkan hasil penelitian dan Alan. (2012). Lembar Kerja Siswa. [online].
pegembangan perangkat pembelajaran dengan Diakses dari
metode DBR (Desigen-Based-Research) http://www.slideshare.net/alandonesyi/
diambil beberapa simpulan. handout-lks [15 September 2015]
1. Kurangnya sumber-sumber tentang teori, Arends, R. I. (2008a). Learning to teach
penyusunan, dan contoh tentang belajar untuk mengajar. Yogyakarta:
perangkat pembelajaran. Pemahaman Pustaka Pelajar.
guru tentang bagaimana membuat Graaff, Erik De & Kolomos, Annette. 2003.
perangkat pembelajaran pun dorasa Characteristics of Problem-Based
masih kurang Learning. Delft University of
2. Pengembangan perangkat pembelajaran Technology, the Netherlands Aalborg
dilakukan dengan melakukan. University, Denmark
a. Kajian litelatur terkait perangat Hernawan, Asep Herry. Asra. dan Dewi, L.
pembelajaran (2007). Belajar dan Pembelajaran SD.
b. Pengembangan langkah-langkah Bandung: UPI PRESS.
pembuatan produk Nasution, S. (2011). Berbagai Pendekatan
c. Meninjau kembali produk Dalam Proses Belajar Mengajar
d. Penyusunan buku perangkat (Cetakan Kelimabelas). Jakarta: PT
pembelajaran Bumi Aksara
e. Validasi ahli Putra, Juma de. (2013). Inspirasi Mengajar
f. Validasi penggunaan kepada gugu ala Harvard University. Yogyakarta:
3. Dihasilkan sebuah buku berisi perangkat DIVA Press.
pembelajaran mencakup teori, langkah- Sudjana, Nana. (2006). Penilaian Hasil
langkah pengembangan produk, dan Proses Belajar Mengajar. Bandung:
contoh prangkat pembelajaran. Remaja Rosdakarya.
Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna
Penelitian ini merupakan penelitian Pembelajaran. Bandung:
pengembangan yang memperoleh hasil akhr Alfabeta.Munthe, B. (2014). Desain
berupa buku tentang perangkat pembelajaran. Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Oleh karena itu dengan adanya produk ini Insan Madani.
diharapan beberapa hal, diantaranya. Sujarwo. (t.t). Desain Sistem Pembelajaran.
1. Membantu guru memahami terait teori Jurnal: Universitas Negeri Yogyakarta.
tentang perangkat pembelajaran Trianto. (2009). Mendesain Model
2. Membantu guru dalam memahami Pembelajaran Inovatif-Progresif:
langkah-langkah pembuatan perangkat Konsep, Landasan, dan
pembelajaran Implementasinya pada Kurikulum
3. Memberi contoh konkret tentang Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
perangkat pembalajaran Jakarta: KENCANA PRENADA
MEDIA GROUP
Dengan mengidentifikasi pengalaman Van den Akker, J. et al. (2006). Introducing
selama melaksanakan penelitian untuk Educational Design Research, dalam
pengembangan buku perangkat pembelajaran, Educational Design Research. New
peneliti memberikan saran untuk peneliti York: Routledge
selanjutnya, pengembangan buku perangkat
pembelajaran disertai langkah-langkah dan Pertanyaan :
contoh perangkat masih sangat diperlukan Budi Utami: Bagaimana cara
dilapangan, maka diharapkan peneliti akan menginformasikan kepada guru-guru yang
lebih banyak mengembangkan penelitian lain?
terkait pengembangan perangkat Jawab: Dengan cara mencetak dalam bentuk
pembelajaran. buku kemudian menyebarluaskan melalui
mahasiswa PPL
380 | Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru Melalui Penelitian & Pengembangan
dalam Menghadapi Tantangan Abad-21