Anda di halaman 1dari 8

TERAPI AKUPRESUR MEMBERIKAN RASA TENANG DAN NYAMAN

SERTA MAMPU MENURUNKAN TEKANAN DARAH LANSIA


ACUPRESSURE GIVING QUIET AND COMFORTABLE AND ABLE TO REDUCE BLOOD
PRESSURE ELDERLY

Yudi Abdul Majid1 , Puji Setya Rini 2


STIKES Muhammadiyah Palembang. Jln. A. Yani 13 Ulu Palembang
yudi_majid@yahoo.co.id

ABSTRAK

Hipertensi yang terjadi pada lansiaberdampak buruk terhadap kesehatan dan kualitas hidup lansia. Ke khawatiran
akan efek samping dari penggunaan obat-obatan yang dikeluhkan penderita hipertensi menjadikan terapi
komplementer sebagai alternatif pilihan terapi. Sebagai terapi komplementer yang lebih murah, mudah, dan aman
akupresur dapat dijadikan salah satu terapi untuk mengatasi hipertensi pada lansia. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh akupresur terhadap tekanan darah lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Teratai
Palembang.Rancangan penelitian adalah quasi experimen dengan pendekatan pre and post test control group.
Pemilihan sampel dengan teknik concecutive sampling yang terdiri dari 32 responden, yang terbagi menjadi 16
responden kelompok perlakuan dan 16responden kontrol. Kelompok perlakuan di intervensi akupresur sebanyak 3 kali
dalam seminggu.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna tekanan darah (sistole dan
diastole) responden antara sebelum dan sesudah akupresur pada kelompok perlakuan (p value 0,001) dan terdapat
perbedaan yang bermakna tekanan darah (siastole) responden kelompok perlakuan dan kontrol setelah akupresur (p
value 0,008). Perbedaan tersebut terlihat dari penurunan rata-rata tekanan darah antara sebelum dan sesudah
akupresur. Terapi akupresur yang dilakukan akan menstimulasi sel saraf sensorik disekitar titik akupresur akan
diteruskan kemedula spinalis, kemudian ke mesensefalon dan komplek pituitari hipothalamus yang ketiganya diaktifkan
untuk melepaskan hormon endorfin yang dapat memberikan rasa tenang dan nyaman. Akupresur juga menstimulai
pelepasan histamin yang berpengaruh pada vasodilatsi pembuluh darah, kedua manfaat akupresur tersebut dapat
menurunkan tekanan darah lansia.

Kata Kunci: Akupresur, Hipertensi, Lansia

ABSTRACT

Acupressure is theOne of the complementary therapy. The objective of the research was to determine the effect of
acupressure on elders blood pressureat Panti Sosial Tresna Werdha Teratai Palembang.The research design used was
quasi-experiment withpre and post-test control group approach. Sampling was carried out by a concecutive sampling
technique, involving 32 respondents. The intervention group received an acupressure intervention 3 timesa week .
Theresults showed that there was a significant difference in the respondents blood pressureefore and after an
acupressure in the intervention group (p value 0,001).Acupressure therapy performed will stimulate sensory nerve cells
around the acupressure point will be forwarded to medula spinal, then to hypothalamic pituitary mesensefalon complex
and enabled to release endorphins that can provide a sense of calm an d comfortable. stimulation histamine release
vasodilation that affect blood vessels, both the benefits of acupressure can reduce blood pressure elderly.

Keywords: Acupressure, Hypertension, Elderly


1. PENDAHULUAN hipertensi untuk pria sekitar 26,6% dan wanita
sekitar 26,1% dan diperkirakan pada tahun
Pembangunan kesehatan merupakan bagian 2025 jumlahnya akan meningkat menjadi
dari pembangunan nasional yang bertujuan 29,2% (Apriany, 2012). Studi pendahuluan
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan yang dilakukan peneliti di Panti Sosial Tresna
kemampuan masyarakat untuk hidup sehat Werdha Teratai Palembang. Dari 10
agar tercapai derajat kesehatan yang optimal. Responden yang diwawancarai dan diukur
Salah satu indikator keberhasilan tekanan darahnya 6 diantaranya menderita
pembangunan kesehatan adalah meningkatnya hipertensi. Dari 6 lansia yang menderita
umur harapan hidup. Meningkatnya umur hipertensi tersebut mengeluhkan berbagai
harapan hidup artinya persentase penduduk keluhan yang menyertai seperti kepala sering
lanjut usia (lansia) semakin meningkat pusing, penglihatan berkurang, tidak bisa tidur,
(Kementerian Kesehatan RI, 2013). dan kesulitan untuk melakukan aktivitas
sehari-hari. Dengan keluhan tersebut
Menurut Undang-Undang No.13 tahun 1998 berdampak buruk terhadap kesehatan dan
tentang kesejahteraan lansia, yang dimaksud kualitas hidup lansia.
dengan lansia adalah seseorang baik laki-laki
maupun perempuan yang telah berusia 60 Berbagai upaya penatalaksanaan hipertensi
tahun atau lebih (Kementerian Sosial RI, yaitu dengan penatalaksanaan farmakologis
2008). Jumlah lansia di dunia tumbuh dengan atau nonfarmakologis. Secara farmakologis
sangat cepat bahkan tercepat dibanding penatalaksanaannya dengan pemberian obat
kelompok usia lainya. Saat ini jumlah lansia di anti hipertensi. Terapi non farmakologis untuk
dunia mencapai 500 juta jiwa dengan usia rata- penderita hipertensi salah satunya adalah
rata 60 tahun. Badan kesehatan dunia akupresur (Sukanta, 2009).
memprediksi penduduk lansia di Indonesia
pada tahun 2020 mendatang mencapai 11,44 Akupresur merupakan terapi tusuk jari dengan
% atau tercatat 28,8 juta lansia, begitu juga memberikan penekanan dan pemijatan pada
proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan titik tertentu pada tubuh yang didasarkan pada
Nasional (BAPPENAS) jumlah lansia pada prinsip ilmu akupunktur (Fengge, 2012).
tahun 2025 diperkirakan akan meningkat Penekanan ujung-ujung jari tangan pada
menjadi 36 juta jiwa, jumlah tersebut daerah tertentu dipermukaan kulit yang
merupakan jumlah penduduk lansia terbesar di berdampak positif terhadap kondisi fisik,
dunia. Jumlah penduduk lansia di Indonesia mental dan sosial (Hartono, 2012). Dengan
pada tahun 2012 mencapai 18,55 juta jiwa atau dasar tersebut peneliti tertarik untuk
7,78 % dari total penduduk Indonesia (BPS, mengetahui pengaruh akupresur terhadap
2012). Jumlah tersebut menempatkan tekanan darah lansia di Panti Sosial Tresna
Indonesia pada urutan ketiga dari negara- Werdha Teratap Palembang.
negara Asia dengan jumlah lansia terbesar
setelah Cina dan India (Kementerian 2. METODE PENELITIAN
Kesehatan RI, 2013).
Rancangan penelitian adalah quasi experiment
Meningkatnya jumlah lansia tersebut diiringi dengan pendekatan pre and post test control
dengan permasalahan kesehatan yang group. Intervensi akupresur dilakukan pada
dihadapi. Salah satu permaslahan kesehatan kelompok perlakuan di beberapa titik
yang banyak dialami lansia adalah hipertensi. akupunktur yaitu (Titik Lr 2 (Xingjian), Titik
Menurut survey yang dilakukan oleh Word Lr 3 (Taichong), Titik Sp 6 (Sanyinjiaoi), Titik
Health Organization (WHO) pada tahun 2000, Ki 3 (Taixi), Titik Li 4 (Hegu), Titik PC 6
jumlah penduduk dunia yang menderita (Neiguan). Pengukuran tekanan darah
dilakukan sebelum intervensi dan sesudah dilakukan dengan menggunakan rumus
intervensi pada hari ketiga. federer. Berdasarkan hasil perhitungan
didapatkan jumlah sampel 32 responden yang
Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia terbagi menjadi 16 kelompok intervensi dan 16
yang tinggal di Panti Sosial X Palembang kelompok kontrol.
yaitu 62 lansia. Teknik sampling yang
digunakan adalah consecutive sampling yaitu Kriteria inklusi responden yang disertakan
metode pemilihan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini: a) lansia yang menderita
dengan memilih semua individu yang ditemui hipertensi, b) bersedia menjadi responden dan
dan memenuhi kriteria pemilihan, sampai 3) dapat bekerjasama dalam penelitian. Kriteri
jumlah sampel yang diinginkan terpenuhi ekslusi responden dalam penelitian ini adalah
Dharma (2011). Penentuan jumlah sampel lansia yang mengkonsumsi obat hipertensi

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Responden

Variabel n Mean SD Min Max 95% CI


Perlakuan 16 66,31 3,61 60 72 64,39 68,24
Usia
Kontrol 16 66,13 4,15 60 71 63,92 68,33
Keterangan: * Uji t Independen

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa rata-rata Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah
usia responden tidak jauh berbeda dimana rata- Responden Sebelum Akupresur
rata usia kelompok perlakuan (66,31 mmHg)
Tekanan Darah Responden Sebelum Akupresur
dan kontrol (66,13 mmHg).
Tekanan Mean
Kelompok n SD
Darah (mmHg)
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Jenis Kelamin, Pendidikan, Siastole 157,50 9,86
Intervensi 16
dan Lama Tinggal di Panti Diastole 96,69 6,17
Siastole 159,44 8,98
Kelompok Kontrol 16
Diastole 93,12 3,77
Karakteristik Kategori Perlakuan Kontrol
f % f % Dari tabel 3 diketahui rata-rata tekanan darah
Jenis Laki-laki 6 37,5 8 50,0 sebelum akupresur pada kelompok intervensi
Kelamin Perempuan 10 62,5 8 50,0 adalah 157,50 mmHg (siastole) dan 96,68
Tidak sekolah 5 31,3 5 31,3 mmHg (diastole) dan kelompok kontrol 159,44
SD 5 31,3 8 50,0 mmHg (siastole) dan 93,12 mmHg (diastole).
Pendidikan
SLTP 4 25,0 2 12,5
SMA 2 12,5 1 6,3 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah
Lama < 1 tahun 3 18,8 4 25,2 Responden Setelah Akupresur
tinggal Tahun 8 50,0 9 56,3
dipanti 5 31,3 3 18,8 Tekanan Darah Responden Setelah Akupresur
5 tahun
Tekanan Mean
Kelompok n SD
Darah (mmHg)
Berdasarkan dari tabel 2 responden penelitian
Siastole 147,81 12,79
lebih banyak perempuan. Tingkat pendidikan Intervensi 16
Diastole 87,94 6,02
responden lebih banyak dengan pendidikan SD
Siastole 158,69 8,15
dan tidak sekolah. Sebagian besar responden Kontrol 16
sudah tinggal dipanti selama 1 sampai 5 tahun. Diastole 90,88 4,30
Dari tabel 4 diketahui bahwa setelah akupresur Tabel 6. Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah
terjadi penurunan rata-rata tekanan darah Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah
Akupresur
responden pada kelompok intervensi adalah
147,81 (siastole) dan 87,94 (diastole) dan Kelompok Kontrol
kelompok kontrol 158,69 mmHg (siastole) dan Tekanan Mean SD p
Variabel n
90,88 mmHg (diastole). Darah (mmHg) (mmHg) value
Sebelum 16 159,44 8,98
Siastole 0,101*
Tabel 5. Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Sesudah 16 158,69 8,15
Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Sebelum 16 93,12 3,797
Akupresur Diastole 0,012
Sesudah 16 90,88 4,30
Kelompok Intervensi
Keterangan: * Uji wilcoxon
Tekanan Variabel n Mean SD p
Darah (mmHg) (mmHg) value
Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa tidak terjadi
Sebelum 16 157,50 9,86
Siastole 0,001 penurunan yg signifikan rata-rata tekanan
Sesudah 16 147,81 12,79
darah (siastole dan diastole). hasil uji statistik
Sebelum 16 96,69 6, 17
Diastole 0,001 tekanan darah sebelum dan sesudah akupresur
Sesudah 16 87,94 6, 02
dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan rata-
rata tekanan darah sebelum dan seseudah
Dari tabel 5 dapat dilihat penurunan rata-rata akupresur pada tekanan darah diastole (0,012)
tekanan darah (siastole dan diastole). Hasil uji dan tidak terdapat perbedaan yang berarti
statistik menunjukan perbedaan rata-rata pada tekanan darah siastole (0,101).
tekanan darah sebelum dan seseudah
akupresur pada kelompok intervensi dengan
nilai p value 0,001 baik pada siastole dan
diastole.
Tabel 7. Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Antara Kelompok Perlakuan dan Kontrol Sebelum Akupresur

Kelompok Variabel n Mean (mmHg) SD (mmHg) p value


Intervensi 16 157,50 9,86
TD Siastole 0,539*
Kontrol 16 159,44 8,98
Intervensi 16 96,69 6,17
TD Diastole 0,058
Kontrol 16 93,12 3,77
Keterangan: * Uji Mann-Whitney

Dari tabel 7 diketahui bahwa hasil uji statistik (diastole). Artinya tidak terdapat perbedaan
perbedaan tekanan darah kelompok intervensi rata-rata tekanan darah diastole dan siastole
dan kontrol sebelum akupresur didapatakan antara kelompok intervensi dan kontrol
nilai p value 0,539 (siastole) dan 0,058 sebelum akupresur.

Tabel 8. Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Antara Kelompok Perlakuan dan Kontrol setelah Akupresur

Kelompok Variabel n Mean (mmHg) SD (mmHg) p value


Intervensi 16 147,81 12,79
TD Siastole 0,008*
Kontrol 16 158,69 8,15
Intervensi 16 87,94 6,02
TD Diastole 0,124
Kontrol 16 90,88 4,30
Keterangan : * Uji Mann Whitney
Dari tabel 8 diketahui bahwa hasil uji statistik Berdasarkan hasil penelitian dan teori terkait
perbedaan tekanan darah antara kelompok maka peneliti berpendapat bahwa lansia
intervensi dan kontrol sesudah akupresur beresiko untuk menderita hipertensi, hal ini
didapatakan nilai p value 0,008 (siastole) dan disebabkan oleh berbagai faktor seperti
0,124 (diastole). Artinya terdapat perbedaa penuruan struktur anatomi dan fisiologis
nrata-rata tekananan darah siastole antara sistem kardiovaskuler karena proses
kelompok intervensi dan kelompok kontrol, degeneratif pada lansia, selain itu berdasarkan
namun tidak terdapat perbedaan rata-rata wawancara pada beberapa responden
tekanan darah diastole antara kelompok menyatakan mengalami gangguan tidur dan
intervensi dan kontrol setelah akupresur. banyak pikiran (stress emosional) sehingga
gangguan tidur dan stress dapat menjadi faktor
Berdasarkan hasil analisis diskriptif tekanan penyebab peningkatan tekanan darah pada
darah lansia kelompok intervensi sebelum lansia.
dilakukan terapi akupresur menunjukan bahwa
seluruh responden memiliki tekanan darah Hasil penelitian menunjukanterjadinya
tinggi. Tekanan darah tertinggi sebelum penuruan rata-rata tekanan darah sebelum dan
dilakukan akupresur adalah 172 mmHg sesudah akupresur. Perubahan rata-rata
(siastole) dan 108 mmHg (diastole). Rata-rata tersebut terlihat dari rata-rata tekanan darah
tekanan darah siastole adalah 157,50 dan siastole sebelum (157,50 mmHg) turun
diastole 96,69. Begitu juga pada kelompok menjadi (147,81 mmHg). Rata-rata tekanan
kontrol dengan Tekanan darah tertinggi darah diastole dari 96,69 mmHg turun menjadi
sebelum dilakukan akupresur adalah 170 87,94 mmHg sesudah akupresur. Dari hasil uji
mmHg (siastole) dan 99 mmHg (diastole). statistik tekanan darah sebelum dan sesudah
Rata-rata tekanan darah adalah 159,44 mmHg akupresur dapat dilihat bahwa terdapat
(siastole) dan 93,12 mmHg (diastole). Hal ini perbedaan rata-rata tekanan darah sebelum dan
sesuai dengan kriteria sampel penelitian ini seseudah akupresur pada kelompok intervensi
yang menghendaki responden adalah lansia dengan nilai p value 0,001 baik pada siastole
yang menderita hipertensi. Jika dikategorikan dan diastole.
berdasarkan JNC VII dan JNC VI, responden
pada penelitian ini masuk pada hipertensi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
derajat sedang. Adam (2011) yang mengungkapkan bahwa
rangsangan akupresur dapat menstimulasi sel
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan mast untuk melepaskan histamine sebagai
darah diastolik dan siastole yang intermiten mediator vasodilatasi pembuluh darah,
atau menetap. Insiden hipertensi meningkat sehingga terjadinya peningkatan sirkulasi
seiring bertambahnya usia (Stockslager, 2008). darah yang menjadikan tubuh lebih relaksasi
Penyebab lain dari hipertensi adalah aktivitas dan pada akhirnya dapat menurunkan tekanan
atau olahraga, pola hidup, konsumsi tinggi darah
garam, konsumsi obat, merokok, minum kopi,
kelebihan berat badan, stres dan gangguan Penuruan tekanan darah tersebut diyakini oleh
tidur. Jika dihubungkan dengan faktor usia peneliti sebagai pengaruh dari intervensi yang
semua responden telah masuk usia lansia dilakukan. Akupresur adalah cara pengobatan
dengan rata-rata 66,31 tahun.. Aktivitas lansia yang berasal dari Cina (Tradisional Chinese
dipanti mayoritas sama yaitu mengikuti jadwal Medicine) yang biasa disebut dengan pijat
yang telah ditetapkan panti. Untuk akupunktur yaitu metode pemijatan pada titik-
menghindari adanya bias dalam penelitian ini titik akupunktur (acupoint) ditubuh manusia
responden yang dijadikan sampel adalah lansia tanpa menggunakan jarum (Sukanta, 2008).
yang tidak mengkonsumsi obat hipertensi.
Menurut Rice (2006) akupresur adalah Konsep pengobatan TCM (Traditional
memberikan stimulus atau rangsangan pada Chinese Medicine) meyakini bahwa masalah
titik-titik meridian tubuh dengan hipertensi pada seseorang karena adanya
mengggunakan jari-jari yang bertujuan untuk ketidakseimbangan energi (chi) dan zat
mempengaruhi organ tubuh tertentu dengan fundamental (shen) dalam tubuh. Shen di
mengaktifkan aliran energi (qi) tubuh. Pada diartikan sebagai materi kehidupan yang
penelitian ini titik yang diintervensi adalah mencakup semangat, hasrat, pikiran, jiwa dan
titik (Titik Lr 2 (Xingjian), Titik Lr 3 kesadaran dalam bertindak. Ketika lansia
(Taichong), Titik Sp 6 (Sanyinjiaoi), Titik Ki 3 mengalami stress emosional, kurang mendapat
(Taixi), Titik Li 4 (Hegu), Titik PC 6 perhatian dari keluarga, merasa keinginanya
(Neiguan). Memberikan stimulus pada titik belum tercapai menyebabkan kerja otak
tersebut akan menstimulasi sel saraf sensorik menjadi lebih berat sehingga terjadinya
disekitar titik akupresur selanjutnya diteruskan ketidakharmonisan hubungan fungsional
kemedula spinalis, mesensefalon dan komplek antara organ dalam tubuh seperti jantung,
pituitari hipothalamus yang ketiganya ginjal, limpa dan akhirnya akan terganggunya
diaktifkan untuk melepaskan hormon endorfin shen dalam tubuh (Sukanta, 2008 & Hartono,
yang dapat memberikan rasa tenang dan 2012). Gangguan pada fungsi jantung dan
nyaman (Saputara & Sudirman, 2009). energi pada limpa menyebabkan hambatan
Kondisi yang relaksasi tersebut akan saluran energi ke organ lain. Begitu juga
berpengaruh terhadap perubahan tekanan ketika energi pada ginjal lemah maka
darah lansia. Hal ini sejalan dengan hasil hubungannya dengan jantung akan terputus
penelitian Tsay, Cho, Chen (2004) yang sehingga shen jantung tidak terpelihara dengan
menyatakan bahwa akupresur efektif untuk baik (Sukanta, 2008).
menenangkan suasana hati, mengurangi
kelelahan dan dapat menurunkan tekanan Akupresur pada titik-titik intervensi yang telah
darah. dipilih peneliti dapat memperkuat fungsi
limpa, menambah darah sehingga dapat
Akupresur merupakan terapi dengan prinsip menenangkan shen. Perangsangan pada titik
healing touch yang lebih menunjukan prilaku tersebut dapat menguatkan energi dan unsur
caring pada responden, sehingga dapat yin pada ginjal serta melemahkan unsur yang
memberikan perasaan tenang, nyaman, jantung sehingga akan terjadi keseimbangan
perasaan yang lebih diperhatikan yang dapat energi dalam tubuh. Terjadinya keseimbangan
mendekatkan hubungan terapeutik antara energi tubuh tersebut akan mengoptimalkan
peneliti dan responden (Metha, 2007). fungsi dan sistem organ dalam tubuh
seseorang sehingga dapat terjadi peningkatan
Pengaruh lain dari reaksi akupresur adalah kesehatan termasuk penurunan tekanan darah
merangsang pengeluaran serotonin yang (Sukanta, 2009).
berfungsi sebagai neurotransmiter pembawa
signal rangsangan ke batang otak yang dapat Berdasarkan pembahasan di atas jelas bahwa
mengaktifkan kelenjar pineal untuk akupresur memberikan pengaruh yang positif
menproduksi hormon melatonin (Chen, Lin, baik secara fisik maupun psikologis pada
Wu & Lin (1999). Hormon melatonin inilah responden. Peneliti meyakini bahwa
yang dapat mempengaruhitekanan darah. penurunan tekanan darah responden adalah
Sebagaimana hasil penelitian vascular helath pengaruh akupresur yang dilakuan. Kelompok
and risk management yang menyatakan perlakuan menunjukan penurunan tekanan
bahwa terdapat hubungan antara tekanan darah darah secara bermakna setelah akupresur,
dengan melantonin terutama pada malam hari. sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami
perubahan tekanan darah yang bermakna . Hal
ini membuktikan bahwa akupresur indonesia.com/portal/index.php?option=co
memberikan pengaruh terhadap penurunan m_supas&task=&Itemid=>[15/09/15]
tekanan darah lansia Chen M.L., Lin L.C., Wu S.C & Lin J.G.
(1999). The effectiveness of acupressure in
4. SIMPULAN DAN SARAN improving the quality of sleep of
institutionalized residents. Journal of
Simpulan dari hasil penelitian ini adalah ada Gerontology 54A: 389-394
pengaruh akupresur terhadap tekanan darah Dharma, K, K. (2011). Metodologi Penelitian
lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Teratai Keperawatan Panduan Melaksanakan dan
Palembang. Menerapkan Hasil Penelitian. Jakarta:
Trans Info Media
Saran yang dapat diberikan terkait dengan Fengge, A. (2012). Terapi Akupresur Manfaat
hasil penelitian adalah sebagai berikut: dan Teknik Pengobatan. Yogyakarta: Crop
a. Panti Circle Corp
Hasil penelitian ini hendaknya dapat Hartono, R. I. W. (2012). Akupresur Untuk
dipelajari dan menjadi intervensi perawat Berbagai Penyakit. Yogyakarta: Rapha
dalam upaya penatalaksanaan hipertensi Publishing
lansia di panti atau komunitas Kementerian Kesehatan RI. (2013). Gambaran
b. Pendidikan Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan Melalui
kajian (evidence based practice)ditatanan <http://www.depkes.go.id/downloads/Bulet
akademik sebagai upaya pengembangan in%20Lansia.pdf /> [02/01/14]
teori dan praktik keperawatan Kementerian Sosial RI. (2008). Pelayanan
komplementer. Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia.Artikel
c. Penelitian lanjut Kementerian Kesehatan. Melalui
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data <http://www.kemsos.go.id/> [02/01/14]
dasar untuk penelitian lebih lanjut. Saputra, K., Sudirman, S. (2009). Akupunktur
Contohnya, penelitian eksperimen dengan Untuk Nyeri Dengan Pendekatan
membandingkan efektivitas beberapa terapi Neurosain. Jakarta: Sagung Seto
terhadap perubahan tekanan darah lansia Silvanasari, I, A. (2013). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kualitas Tidur Yang
Buruk Pada Lansia Di Desa Wonojati
DAFTAR PUSTAKA Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember.
Melalui
Adam, M. (2011). Pengaruh Akupresur <http://hdl.handle.net/123456789/3229>
Terhadap Kekuatan Otot dan Rentang [13/03/14]
Gerak Ekstremitas Atas Pada Pasien Sukanta, P. O. (2008). Pijat Akupresur Untuk
Stroke Pasca Rawat Inap di RSUP Kesehatan.Jakarta: Penebar Plus
Fatmawati Jakarta. Melalui Sukanta, P. O. (2009). Terapi Pijat Tangan
<http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/2028 Cara Penyembuhan Aman, Mudah dan
1860-TMuhamad Adam.pdf> [10/09/15] Bermanfaat. Jakarta: Penebar Plus
BPS. (2012). Statistik Penduduk Lanjut Usia Tsay S.L., Cho Y.C., Chen M. L. (2004).
2012 Hasil Survei Sosial Ekonomi Acupressure and Transcutaneous Electrical
Nasional.melalui<http://www.bps.go.id/ha Acupoint Stimulation in Improving
sil_publikasi/stat_lansia_2012/files/search/ Fatigue, Sleep Quality and Depression in
searchtext.xml> [12/09/2015] Hemodialysis Patients. Journal of Chinese
BPS. (2012). Data Statistik Indonesia. Medicine. Vol. 32, No. 3: 407-416.
Melalui<http://www.datastatistik-
Profil Panti Sosial Tresna Werdha teratai
Palembang Tahun 2014