Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KELOMPOK 7

Automatic Weather Observation System (AWOS)

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah


Peralatan Meteorologi II

Disusun oleh:
1. Nurul Aufa Tri Wahyuni
41.15.0069
2. Riki Setyono 41.15.0079
3. Roi Jujur Sihombing 41.15.0081

PROGRAM SARJANA TERAPAN INSTRUMENTASI

SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI


TANGERANG KLIMATOLOGI
SELATAN DAN GEOFISIKA
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt karena rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Automatic Weather Observation
System (AWOS).
Penulisan makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Peralatan
Meteorologi II di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Penulisan makalah
ini memiliki banyak kendala dan kesulitan. Namun, penulisan makalah dapat selesai berkat
bimbingan, bantuan, saran, dan nasihat berbagai pihak, khususnya dosen pengampu mata
kuliah Peralatan Meteorologi II sehingga kendala dan kesulitan dapat teratasi dengan baik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak
kekurangan baik dari aspek kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penelitian dalam
makalah ini.
Selanjutnya dengan tulus penulis menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak
yang telah membantu hingga makalah ini dapat diselesaikan. Pihak-pihak tersebut adalah:
1. Agustina Rachmawardhani selaku dosen pengampuh mata kuliah Peralatan
Meteorologi II.
2. Teman-teman kelas Instrumentasi IVC yang telah memberikan masukan dan saran.
3. Berbagai pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan, serta berbagi
pengalaman pada proses penyusunan makalah ini.

Demikian, penulis berharap bahwa makalah ini dapat memberikan manfaat dan
memperluas wawasan bagi berbagai pihak.

Tangerang Selatan, Juli 2017

Penulis

2
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................4

1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................................4

1.4 Manfaat Penulisan....................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN 6
2.1 Pengertian AWOS.....................................................................................................6

2.2 Bagian-bagian AWOS................................................................................................7

2.3 Jaringan AWOS.........................................................................................................8

2.4 Sensor pada AWOS ..................................................................................................9

2.5 Pemeliharaan AWOS 15

2.6 Kalibrasi AWOS 16

BAB II PENUTUP 17
DAFTAR PUSTAKA 18

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengamatan meteorologi adalah salah satu atau serangkaian tindakan yang
meliputi kegiatan menaksir, mengukur, dan atau menghitung parameter meteorologi,
baik secara visual maupun menggunakan alat. Pengamatan meteorologi dilakukan
untuk memperoleh data unsur-unsur meteorologi dan keadaan cuaca saat itu. Data
parameter meteorologi tersebut, selanjutnya disiapkan untuk berbagai keperluan,
seperti untuk dikumpulkan hingga jangka waktu tertentu, diolah menjadi data olahan,
diplot pada peta geografis khusus, untuk dianalisa pola cuaca saat itu, untuk pelayanan
informasi keadaan meteorologi sesaat, dan keperluan penerbangan.
Automatic Weather Observation System (AWOS) adalah peralatan meteorology yang
umumnya digunkan di bandara perbedaannya dengan AWS adalah AWOS dilengkapi
dengan alat ukur visibility yaitu transmissometer dan scattermeter beserta alat ukur
ketinggian dasar awan yaitu ceilometer. Pada makalah ini akan dibahas mengenai
AWOS, sensor yang digunakan, dan prinsip kerja dari AWOS.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Apa itu AWOS?
1.2.2 Apa saja sensor yang tersedia di dalam AWOS?
1.2.3 Bagaimana bagian, prinsip kerja, pemasangan, pemeliharaan, dan kalibrasi
AWOS?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 Memberikan informasi tentang pengertian detail AWOS.


1.3.2 Membantu taruna-taruni STMKG memahami cara kerja, instalasi, pemeliharaan,
analisis data, dan kalibrasi AWOS.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.4.1 Memberikan pengetahuan kepada para pembaca.
1.4.2 Menjadi sumber rujukan taruna-taruni dalam studi tentang AWOS.

4
5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian AWOS

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merupakan suatu instansi pemerintah


yang bertugas memberikan pelayanan jasa di bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika.
Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut, BMKG melakukan pengamatan unsur-unsur cuaca
baik secara manual maupun menggunakan peralatan yang otomatis. Peralatan pengamatan
cuaca otomatis yang dioperasikan BMKG diantaranya adalah AWOS atau Automatic Weather
Observation System.
AWOS atau Automatic Weather Observation System merupakan suatu alat pengamatan
cuaca otomatis yang ditempatkan pada bagian-bagian tertentu yang ada pada landasan pacu
di suatu bandara. Pada umumnya, AWOS ini dibedakan menjadi 2 macam jenis. Yang
pertama, yakni big AWOS. Big AWOS ini mempunyai sensor cuaca lengkap dan juga
ditempatkan pada bandara-bandara yang memiliki tingkat kesibukan super tinggi. Yang
kedua, yaitu small AWOS. Small AWOS mempunyai sensor yang jauh lebih sedikit yang mana
disesuaikan dengan kebutuhan dari bandara terkait yang ada.
Data cuaca yang telah berhasil AWOS tampilkan ini bisa menjadi salah satu pembanding
alat-alat konvensional yang bisa digunakan dalam proses pengamatan suatu cuaca. Jika
untuk saat ini, seluruh perangkat AWOS yang telah dioperasikan oleh BMKG (Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) di seluruh Indonesia masih mengandalkan
perangkat-perangkat yang didatangkan dari luar negeri. Jadi, bisa dikatakan, biaya yang
harus dikeluarkan menjadi terbilang mahal dan membuang begitu banyak waktu dalam
proses untuk menginstall perangkat tersebut. Sementara itu, diharapkan, untuk waktu atau
di masa yang akan datang ini, BMKG bisa melakukan suatu bentuk kerja sama beserta
dengan produsen atau bahkan teknisi yang sudah jauh lebih terampil di dalam negeri, demi
terciptanya penggunaan teknologi dalam negeri yang tepat guna.

Berikut ini macam-macam sensor yang ada pada small AWOS :


1. Sensor angin. Sensor angin ini diletakkan pada ketinggian sekitar 10 meter dari
permukaan tanah, serta jauh dari obstacle.

6
2. Sensor temperature dan kelembapan. Sensor yang satu ini dilengkapi dengan
blower udara sehingga bisa membuat sensor menjadi tetap kering.

3. Visibility dan Present weather sensor. Sensor yang bisa memberikan informasi
mengenai jarak pandang serta cuaca yang aktual pada saat dilakukan suatu
pengamatan.

4. Ceilometer. Alat yang memiliki teknologi LIDAR (Light Detector and Raging) dengan
adanya pemandu laser pada sensor tersebut, yang berguna untuk mengetahui
jumlah serta tinggi dasar awan di sekitar runway.

5. Barometer. Barometer atau alat pengukur tekanan udara ini terpasang pada kotak
FDCU, yang berguna untuk mengetahui tekanan udara di area touchdown.

6. Rain gauge. Rain gauge atau dalam bahasa Indonesia dinamakan dengan penakar
hujan, yang menggunakan prinsip typing bucket untuk bisa mengukur jumlah curah
hujan yang jatuh di permukaan.

Secara umum, pelaporan dari AWOS ini dilakukan dengan interval sekitar 20 menit dan
tidak ada laporan pengamatan spesial terhadap perubahan dari daanya kondisi cuaca.
Prinsip kerja AWOS berdasarkan sensor dari masing-masing unsur cuaca yang diamati.
Kemudian hasil dari sensor ini dikirim menggunakan via LAN di WORK station
(stasiun Observasi) selanjutnya dikirim di stasiun komunikasi dan Forecaster.

2.2 Bagian-bagian AWOS

1. Sensor dan Interface sensor Sensor digunakan untuk merespon setiap perubahan
dari parameter meteorologi ; pengukuran ; resolusi ; ketidakpastian, response time
dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

2. Data Collection Unit DCU digunakan untuk mengambil dan mengumpulkan data
dari output sensor dalam bentuk engineering unit seperti ohm, ampere, voltage dan
merubahnya ke dalam bentuk satuan meteorologi seperti derajat celcius, m/sec, dst.

7
3. Central Control and Processing unit Bagian ini menerima data dari
DCU, menghasilkan report meteorologi dan message, mengirim ke local dan remote
terminal serta penyimpanan semua data dan log file.

4. Display unit Menampilkan data meteorologi dimanapun tempat yang dibutuhkan

5. Communication interface Melakukan komunikasi antara DCU, CPU dan remote


serta local terminal.

6. Power supplies Mensupplay power system

2.3 Jaringan AWOS

Sebaiknya jaringan AWOS mempunyai fasilitas diantaranya :

Mengumpulkan, memproses dan menampilkan data meteorologi


Melakukan otomatisasi generate message dan pengiriman report
meteorologi seperti halnya SYNOP, METAR, SPECI dll.
Dapat melakukan konfigurasi sensor
Mendukung banyak pilihan sistem komunikasi data
Managemen semua komunikasi protocol untuk beberapa sensor dan komunikasi
data peralatan
Penyimpanan data (database) yang dapat ditampilkan sesuai dengan data yang
diinginkan
Memungkinkan input data manual apabila ada data otomatis tidak masuk.
Mempunyai kemampuan quality control terhadap data pengukuran dan pesan yang
dihasilkan.
Memungkinkan pemakai dapat mengakses data dari remote untuk beberapa pilihan
yang diinginkan.
Dapat dikonfigurasi otomatis switch untuk beberapa mode pilihan yang berbeda
Memungkinkan pengiriman pesan (message) untuk interval yang diinginkan.

8
Gambar 2.1 Layout Penempatan Sensor di Taman Observasi

Gambar 2.2 Komponen-komponen AWOS

2.4 Sensor Pada AWOS


1. Sensor Arah dan Kecepatan Angin
2. Sensor RUNWAY VISUAL RANGE (RVR)
3. Sensor Present Weather
4. Sensor Ceilometer ( sky condition)

9
5. Sensor Temperature
6. Sensor Barometric Pressure and Altimeter
7. Sensor Tipping Bucket Rain Gauge
8. Sensor Thunderstorm sensor
9. Sensor Solar Radiation

2.4.1 Sensor Arah dan Kecepatan Angin


Sensor menggunakan gelombang suara untuk mengukur kecepatan dan arah angin.
Pengukuran ini didasarkan pada waktu yang dibutuhkan untuk pulsa ultrasonic
untuk bepergian dari satu transduser ke yang lain, yang bervariasi tergantung pada
faktor-faktor kecepatan angin. Waktu transit diukur di kedua arah selama beberapa
(biasanya dua atau tiga) pasang kepala transduser. Berdasarkan hasil tersebut,
sensor menghitung kecepatan dan arah angin.

Gambar 2.3.1 Sensor Arah dan Kecepatan angin

2.4.2 Sensor RUNWAY VISUAL RANGE (RVR)


Transmissometers menggunakan sinar cahaya inframerah yang dikirim dari satu
ujung sensor terhadap penerima, tapi offset dari garis langsung ke penerima dengan
sudut tertentu. Jumlah cahaya tersebar oleh partikel di udara dan diterima oleh
penerima menentukan koefisien kepunahan. Koefisien kepunahan berasal dari
jumlah cahaya yang hilang di udara.

10
Gambar 2.4 Runway Visual Range (RVR)

2.4.3 Sensor Present Weather


Berasal dari data untuk beberapa parameter, termasuk suhu udara, titik embun,
suhu, visibilitas, petir (bila tersedia), dan jenis curah hujan dan data rate dari sensor
cuaca. Menggunakan Light Emitting Diode Weather Identifier (LEDWI) untuk
menentukan jenis curah hujan yang jatuh. Sensor LEDWI mengukur pola kilau dari
curah hujan yang jatuh melalui sensor sinar inframerah (berdiameter sekitar 50
milimeter) dan menentukan dari analisis pola ukuran partikel dan kecepatan jatuh
apakah curah hujan hujan atau salju.

Gambar 2.5 Sensor Present Weather

2.4.4 Sensor Ceilometer ( sky condition)


Pengukuran awan yang diambil oleh Ceilometer laser. Ceilometer CL51 didasarkan
pada pengukuran dari waktu yang diperlukan untuk pulsa pendek dari cahaya untuk
melintasi atmosfer dari pemancar ceilometer untuk basis hamburan balik awan dan
kembali ke penerima ceilometer tersebut.

Gambar 2.6 Sensor Ceilometer ( sky condition)

11
2.4.5 Sensor Temperature
Menampilkan nilai-nilai terbaru untuk Suhu , Dew Point (titik embun), dan
Kelembaban Relatif. Model 5190 Temperature and Humidity Probe ini beroperasi
dengan pasokan tegangan DC dan memiliki arus rendah. Kelembaban relatif diukur
dengan sensor kapasitor film tipis, sementara suhu diukur menggunakan Pt100
Resistance Temperature Detector (RTD) yang sangat akurat.

Gambar 2.7 sensor temperature

2.4.6 Sensor Barometric Pressure and Altimeter

Pengaturan Altimeter dihitung berdasarkan tekanan udara, ketinggian tempat,


ketinggian sensor dan - opsional - suhu udara. Pengaturan Altimeter dilaporkan dalam inci
merkuri (dalam langkah 0,01 inHg) atau seluruh hectopascals, dibulatkan ke bawah.

Barometer menggunakan transduser tekanan dengan silikon peizoresistive. Sensor


tekanan memiliki hysteresis dan pengulangan karakteristik yang sangat baik, ketergantungan
suhu rendah, dan stabilitas jangka panjang yang sangat baik.

Gambar 2.8 sensor Barometric Pressure and Altimeter

2.4.7 Sensor Tipping Bucket Rain Gauge

12
Hujan memasuki pengukur melalui corong besar, yang dilindungi oleh cincin logam
untuk mencegah distorsi. Pengukuran didasarkan pada banyaknya tip yang memiliki
resolusi tertentu sehingga menentukan jumlah curah hujan.

Gambar 2.9 sensor Tipping Bucket Rain Gauge


2.4.8 Sensor Thunderstorm sensor
Mendeteksi muatan listrik dalam radius 200 mil. Model 6500 adalah sensor pasif
yang mendengarkan sinyal elektromagnetik dengan antena penerima. Tidak ada
pemancar, dan karena itu tidak ada transmisi berbahaya.Dapat menghubungkan
tanda listrik dan magnetik dari sambaran petir lebih baik daripada sistem lain karena
teknologi saluran yang cangih. Antena telah dirancang untuk membantu menyaring
suara berdenyut dari sumber selain muatan listrik atmosfer untuk memastikan
pembacaan yang akurat. Prosesor deteksi petir mendigitalkan, analisis, dan
mengubah sinyal dibuang ke jangkauan dan data, kemudian menyimpan data dalam
memori.

13
Gambar 2.10 Sensor Thunderstorm sensor

2.4.9 Sensor Solar Radiation


Pyranometer (pengukuran radiasi matahari pada permukaan) menggunakan elemen
penginderaan yang menggabungkan elemen thermopile. Elemen penginderaan ini
dilapisi dengan lapisan karbon berbasis non-organik yang sangat stabil, yang
memberikan penyerapan spektrum yang sangat baik.

Gambar 2.11 Sensor Solar Radiation

2.5 Pemeliharaan AWOS


Penggantian komponen secara berkala :
1. Penggantian sensor arah dan kecepatan angin, sensor tekanan, sensor radiasi
matahari, ceilometers, dan visibilitymeter setiap 5 (lima) tahun;
2. Penggantian sensor suhu dan sensor kelembaban setiap 2 (dua) tahun;
3. Penggantian penakar hujan tipping bucket dan lightning detector setiap 10
(sepuluh) tahun;
4. Penggantian, Data Logger, sistem Display, sistem komunikasi, dan UPS setiap 5
(lima) tahun;
5. Penggantian kabel data setiap 2 (dua) tahun;
6. Penggantian tiang dudukan dan casing setiap 10 (sepuluh) tahun.

Pemeliharaan berkala :
Pemeliharaan berkala wajib dilakukan mingguan, bulanan, dan tahunan.

Perbaikan peralatan pada saat terjadi kerusakan :


1. Kerusakan pada sensor-sensor, ceilometer, dan visibilitymeter harus dilakukan
penggantian alat;
2. Kerusakan pada penakar hujan tipping bucket dapat dilakukan perbaikan;
3. Kerusakan pada dudukan dan casing dapat dilakukan perbaikan;

14
4. Kerusakan software dapat dilakukan instalasi ulang.

2.6 Kalibrasi AWOS


Kalibrasi merupakan kegiatan yang dilaksanakan, dengan meng-kondisi-kan
parameter yang ditentukan, kemudian ditentukan hubungan antara nilai yang
ditampilkan oleh pengukuran peralatan dengan nilai yang ditampilkan oleh alat
standard.
System AWOS harus dikalibrasi untuk memelihara kualitas data
Direkomendasikan untuk dikalibrasi di Laboratorium dalam jangka waktu
tertentu dan dikeluarkan sertifikat kalibrasi.
Prosedur kalibrasi untuk kalibrasi lapang dan kalibrasi laboratorium harus
lebih dulu ditentukan untuk masing-masing komponen.
Prosedur kalibrasi harus melakukan test peralatan.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
AWOS atau Automatic Weather Observation System merupakan suatu alat
pengamatan cuaca otomatis yang ditempatkan pada bagian-bagian tertentu yang ada
pada landasan pacu di suatu bandara.
Pelaporan dari AWOS ini dilakukan dengan interval sekitar 20 menit dan tidak ada
laporan pengamatan spesial terhadap perubahan dari daanya kondisi cuaca.
Prinsip kerja AWOS berdasarkan sensor dari masing-masing unsur cuaca yang
diamati. Kemudian hasil dari sensor ini dikirim menggunakan via LAN di WORK station
(stasiun Observasi) selanjutnya dikirim di stasiun komunikasi dan Forecaster.
Secara umum, AWOS sama dengan AWS tetapi ditambahkan beberapa sesor yaitu
visibility meter dan ceilometer.

3.2 Saran
Dengan menambahkan informasi dari sumber yang kredibel, makalah ini dapat
diperbaiki sehingga dapat digunakan sebagai pustaka terkait peralatan MKG-I
khususnya pada bidang pengukuran visibilitas. Untuk makalah ini tidak membahas
keseluruhan isi dengan detail, karena instrument ini mempunyai berbagai macam
bentuk dari berbagai pabrikan.

16
DAFTAR PUSTAKA
WMO No.8 edisi ke 7, diperbarui tahun 2010.

vaisala.com/en/products/

17