Anda di halaman 1dari 31

CASE REPORT

Cystography dengan klinis gross hematuri

Oleh :

Seffia Riandini, S. Ked


1518012162

Pembimbing :

dr. Enid Sola Gratia Irescha Pathiwel, Sp. Rad, M. Sc

SMF RADIOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
DAFTAR ISI

BAB I PROFIL PASIEN

1.1. ANAMNESIS ..........................1


A. IDENTITAS PASIEN ........1
B. DATA DASAR
1.2. PEMERIKSAAN FISIK ..2
1.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG............... 4
1.4. DIAGNOSIS KERJA ......7
1.5. DIAGNOSIS BANDING .....8
1.6. PENATALAKSANAAN .....8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan fisiologi traktus urinarius...............9


2.2. Hematuria ........ 12
2.3. Patologi Vesica Urinaria........13
2.4. Pemeriksaan Cystography 14

BAB III ANALISA KASUS....14

BAB IV KESIMPULAN..................14

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PROFIL PASIEN

1.1. ANAMNESIS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Umur : 73 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Sukadana
Datang di RS : 20 juli 2016
No.MR : 296188

B. DATA DASAR
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 22 Juli 2016

a. Keluhan Utama : Buang air kecil berdarah sejak 2 hari yang lalu

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RS.Ahmad Yani pada tanggal 20 juli 2016
dengan keluhan bak berdarah seperti air bilasan daging kadang
juga disertai gumpalan darah sejak 2 hari yang lalu dan tidak
disertai nyeri. Darah yang keluar mengalir bersamaan dengan
banyak nya air kencing yang keluar. Keluhan dirasakan setiap kali
bak. Pasien juga merasa perut bagian bawah nya terasa sakit.

Keluhan ini sudah dirasakan sekitar 2 bulan yang lalu, namun


kencing bercampur darah ini tidak terus menerus, pasien juga
mengeluhkan susah memulai bak kadang perlu mengedan untuk
dapat bak dan terkadang bak hanya menetes. Pasien juga
mengeluhkan rasa tidak puas setelah bak..

1
Riwayat demam dan menggigil tidak ada, riwayat trauma pada
perut dan pinggang tidak ada, pasien belum pernah mengobati
keluhan nya.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
b. Riwayat tekanan darah tingi : disangkal
c. Riwayat alergi obat & makanan : disangkal
d. Riwayat asma : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Riwayat penyakit serupa : ada (hipertensi)
b. Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
c. Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
d. Riwayat sakit darah tinggi : disangkal

e. Riwayat Pribadi
Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak remaja, jarang
berolahraga dan pola makan pasien normal (3 kali sehari).

1.2. PEMERIKSAAN FISIK


a. Keadaan Umum
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran: Compos mentis (GCS 15 : E4 V5 M6)
Gizi : Cukup

b. Vital signs
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 72x/menit
Respirasi rate : 20 x/menit
Suhu : 37,60C

A. KEPALA
Bentuk normocephal, wajah simetris, rambut warna hitam, mudah
rontok (-), konjungtiva tidak anemis, tidak ada ikterik.Pupil bulat
isokhor, refleks cahaya (+).

B. LEHER
Trakea di tengah, simetris, pembesaran tiroid (-), pembesaran kelenjar
getah bening (-), JVP tidak meningkat.

C. THORAKS

2
Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostalis (-), sela iga melebar
(-), pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-).

1. JANTUNG
Ictus cordis teraba, tidak ada kuat angkat, tidak ada thrill, batas
jantung kanan linea sternalis dextra, kiri linea midclavicularis kiri,
atas intercostalis 3.Bunyi jantung I-II reguler, intensitas BJ I sama
dengan BJ II, tidak terdengar bising sistolik maupun diastolic,
tidak ada suara tambahan

2. PULMO
Simetris, sonor-redup, ekspansi (+), vocal fremitus (+), wheezing
(-/-), Ronki basah halus (-/-)

D. ABDOMEN
Supel, timpani, limpa tidak teraba, ruang traube kosong, bising usus
normal, tidak ada nyeri tekan epigastrium, nyeri ketuk pinggang
kanan(-), nyeri tekan suprapubik (+)

E. GENITOURINARIA
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-), lendir (-), nanah (-).
Batu/Kristal (-), darah (+)

F. EKSTREMITAS
Edema : -/-

1.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan Laboratorium ( 20 Juli 2016)
Leukosit : 11,8 x 103/uL
Eritrosit : 3, 4 x 106/uL
Hemoglobin : 10,0 g/dl
Hematokrit : 29,4 %
MCV : 86,5 fl
MCH : 29,4 pg
MCHC: 34,0 g/dl
Trombosit : 417 x 103/uL

GDS : 109 mg/dL


Ureum : 18 mg/dL
Kreatinin: 1,1 mg/dL

3
Urinalisis :
Warna : Merah
PH : 6
Berat jenis : 1025
Darah samar : +3
Protein/Albumin : +2
Sedimen leukosit : 30
Sedimen Eritrosit : 68

b. Pemeriksaan Radiologi (22 Juli 2016)


Foto Abdomen AP View

Gambar 1. Foto abdomen AP View pada pasien

Hasil :
- Pre peritoneal fat line tegas
- Distrbusi udara usus dan fecal material prominent
- Renal outlines tak tampak
- Psoas lines samar dan simetris
- Tak tampak distensi sistema usus

4
- Tak tampak lesi opaq di proyeksi traktus urinarius
- Tampak osteophyte, bridging ostephyte dan subchondral sclerosis
pada sistema tulang Vertebra lumbalis

Kesan :

- Tak tampak distensi sitema usus


- Tak tampak batu opaq di proyeksi traktus urinaria
- Spondyloarthrosis lumbales

Cystography

Gambar 2. Cystografi proyeksi AP pada pasien

5
Gambar 3. Cystografi proyeksi Oblique pada pasien

Hasil :

- Tampak bahan kontas mengisi VU, dinding aspek cranial


sedikit tak licin, tak tampak indentasi maupun additional
shadow, tampak filling defect lobulated

Kesan :

- Massa VU sangat mungkin stolsel


- Cystitis ringan

1.4. DIAGNOSIS KERJA


Sistitis + Susp. Ca Buli

6
1.5. DIAGNOSA BANDING
- Batu saluran kemih
- Truma instrumental urogenitalia
- Tumor prostat
- Tumor Uretra

1.6. PENATALAKSANAAN
Pasien mendapatkan terapi infus RL, anbacim, omeprazole, ondansentron,
asam traneksamat, sucralfat, ketoprofen

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan fisiologi traktus urinarius


Sistem organ saluran kemih atau tractus urinarius terdiri atas ginjal, ureter,
kandung kencing, dan uretra. (Pearce,Evelyn C.1999.)

7
Gambar 4. Komponen sistem urinaria

Keterangan gambar :
1. Ginjal
2. Ureter
3. Vesica urinaria
4. Uretra

8
a. Ginjal
Ginjal terletak pada retroperitoneal, terutama pada daerah lumbal sebelah
depan kanan dan kiri tulang belakang. Kedudukan Ginjal dapat
diperkirakan mulai dari ketinggian Th XII L III.
Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena hati menduduki
ruang banyak disebelah kanan.Panjang setiap ginjal 10-12 cm, lebarnya
5-6 cm, tebalnya 2,5-3 cm.Ginjal berbentuk bean shape dan ada 2 buah.
Fungsi ginjal :
1. Pengatur kosentrasi garam dalam darah
2. Ekskresi produk sisa
3. Pengatur keseimbangan cairan dan elektrolit

b. Ureter
Terdapat dua ureter berupa dua saluran yang masing-masing bersambung
dari ginjal berjalan ke kandung kencing. Panjangnya 35 sampai 40 cm,
diameter 1mm-1cm.
Ureter mempunyai tiga penyempitan :
a. Uretropelvic junction, yaitu ureter bagian proksimal mulai dari renal
pelvis sampai bagian ureter yang mengecil.
b. Pelvic brim, yaitu ureter yang bermula dari sisi pelvis yang
berpotongan antara pembuluh darah iliaka dengan uterus.
c. Uretrovesical junction, yaitu ujung ureter dan masuk ke dalam
vesika urinaria.
Fungsi : Menyalurkan urine dari ginjal ke vesika urinaria.

c. Vesika Urinaria
Kandung kencing berbentuk buah pier. Terletak pada posisi postero
superior simpisis pubis. Daya tampungnya maksimumnya kira-kira 350-
500 ml. pada pria berhubungan erat dengan prostat dan vesica seminalis.
Fungsi : Sebagai resevoir / penampung urine sementara.

9
d. Uretra
Uretra merupakan saluran yang berjalan dari leher kandung kencing ke
lubang luar, dilapisi membran mukosa yang bersambung dengan
membran yang melapisi kandung kencing. Letaknya diatas orifisium
uretra interna pada vesika. Panjang uretra pada wanita 3-4 cm dan pada
laki-laki 17-22 cm.
Uretra dibagi menjadi 2 bagian :
1. Uretra posterior
Pars prostatika : bagian uretra yang melewati prostat, panjang
sekitar 2,5 cm.
Pars membranecea : bagian uretra setinggi musculus sphrincter
uretra (diafragma pelvis), panjang sekitar 2 cm.
2. Uretra anterior
Pars bulbaris : terletak diproksimal,bagian uretra yang melewati
bulbus penis.
Pars cavernosa : bagian uretra yang melewati yang melewati
corpus spongiosum penis
Pars glandis : bagian uretra di glands penis.
Pars membranosa dan pars kavernosa pada uretra laki-laki juga
berfungsi sebagai saluran ekskresi dari sistem reproduksi.

Fungsi : untuk transport urine dari kandung kemih ke meatus eksterna

10
2.2. Hematuria
Hematuri adalah suatu gejala yang ditandai dengan adanya darah atau sel
darah merah dalam urin. Secara klinis, hematuri dapat dikelompokkan
menjadi: Hematuri makroskopis (gross hematuria) adalah suatu keadaan
urin bercampur darah dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Keadaan ini
dapat terjadi bila 1 liter urin bercampur dengan 1 ml darah. Hematuri
mikroskopis yaitu hematuri yang hanya dapat diketahui secara mikroskopis
atau tes kimiawi.

Gambar 5. Etiologi hematuria berdasarkan lokasi kelainan

11
Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam
sistem urogenitalia atau kelianan yang berada di luar urogenitalia. Kelainan
yang berasal dari sistem urogenitalia antara lain :
- Infeksi/inflamasi, antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis,
sistitis, dan uretritis
- Tumor jinak/tumor ganas, antara lain tumor Wilm, tumor Grawitz,
tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, hiperplasia
prostat jinak
- Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain kista ginjal dan ren
mobilis
- Trauma yang mencederai sistem urogenitalia
- Batu saluran kemih

Diagnosis dan diferensial diagnosis Hematuri merupakan gejala yang


penting dan serius, serta dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Agar
diagnosis penyebab hematuri dapat ditegakkan secara pasti, diperlukan
pemeriksaan yang sistematik dan terarah meliputi anamnesis,
pemerikasaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan khsusus lainnya, dan
menghindari pemeriksaan yang tidak perlu. Karakteristik suatu
hematuria dapat dipakai sebagai pedoman untuk memperkirakan lokasi
lokasi penyakit primernya, yaitu apakah terjadi pada awal miksi, semua
proses miksi, atau pada akhir miksi.

Tabel 1. Porsi hematuri pada saat miksi


Terjadi pada Inisial Total Terminal
Lokasi Uretra Buli-buli, ureter, Leher buli-buli
kelainan ginjal

12
2.3. Patologi Vesica urinaria
Ilmu yang mempelajari tentang gangguan sistem organ pada Visica urinaria
(ing.urinary bladder) ataupun disebut juga urinary bladder

Adapun Macam-macam bentuk patologi VU berupa :

1. Kanker kandung kemih (Kanker Buli)


Dinding kandung kemih dilapisi oleh sel transisional dan sel skuamosa.
Lebih dari 90% kanker kandung kemih berasal dari sel transisional dan
disebut karsinoma sel transisional, sisanya adalah karsinoma sel
skuamosa.

Etiologi:
Penyebab yang pasti dari kanker kandung kemih tidak diketahui.
Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa kanker ini memiliki
beberapa faktor resiko :
- Usia
- Merokok
- Lingkungan pekerjaan
- Infeksi, terutama infeksi parasit (skistosomiasis)
- Ras, orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih besar, resiko
terkecil terdapat pada orang Asia.
- Pria, memiliki resiko 2-3 kali lebih besar.
- Riwayat keluarga.

Gejala:
- Hematuria (adanya darah dalam air kemih)
- Rasa terbakar atau rasa nyeri ketika berkemih
- Desakan untuk berkemih
- Frekuensi berkemih meningkat
- Gejala dari kanker kandung kemih menyerupai gejala infeksi
kandung kemih (sistitis) dan kedua penyakit ini bisa terjadi secara

13
bersamaan. Patut dicurigai suatu kanker jika dengan pengobatan
standar untuk infeksi,k gejalanya tidak menghilang.

Klasifikasi :

Karsinoma buli-buli terdiri atas bebrapa tipe yaitu:

1. Karsinoma sel transisional

Karsinoma sel transisional merupakan karsinoma terbanyak

dengan presentasi mencapai 90% dari semua kasus

karsinoma buli-buli.

2. Karsinoma sel non transisional

a) Karsinoma sel skuamosa

Jumlah tipe ini sekitar 7-8% dari karsinoma buli-buli yang

biasanya dikaitkan dengan adanya iritasi kronis pada

urotelium (misalnya schistosomiasis, batu buli-buli atau

adanya benda asing pada buli-buli)

b) Adenokarsinoma

Karsinoma ini menyumbang 1% sampai 2% dari kasus dan

berhubungan dengan infeksi kronis, ekstrofi buli buli, atau

sisa-sisa urachal dalam kubah buli-buli. Adenokarsinoma

cenderung merupakan tumor penghasil mukus.

3. Karsinoma tipe lain

Yang termasuk jenis ini adalah jenis small cell carcinoma,

sarcoma, melanoma, dan tumor karsinoid.

14
Stadium/ Derajat Invasif Tumor:

Penentuan derajat invasi tumor berdasarkan sistem TNM dan stadium

menurut Marshall.

Gambar 6. Derajat invasif Tumor

15
Diagnosis:

Anamnesis

85% pasien dengan karsinoma buli-buli memberikan gejala hematuria

yang bersifat total atau mikroskopik, tidak nyeri, dan bersifat kambuhan

(intermitten). Pada sebagian kecil kasus dapat disertai gejala-gejala iritasi

seperti frekuensi Sekitar, urgensi dan disuria.Gejala ini sering ditemukan

pada pasien dengan karsinoma insitu atau karsinoma yang telah

mengadakan infiltrasi luas yang menurunkan kapasitas buli-buli atau juga

disebabkan oleh overaktivitas dari buli-buli.

Hematuria dapat menimbulkan retensi bekuan darah sehingga pasien

datang dengan keluhan tidak dapat miksi. Keluhan akibat penyakit yang

lebih lanjutberupa obstruksi saluran kemih bagian atas atau edema tungkai.

Edema tungkai disebabkan karena penekanan aliran limfe oleh massa

tumor atau oleh kelenjar limfe yang membesar pada daerah pelvis. Nyeri

pada karsinoma buli-buli disebabkan karena tumor lokal yang makin

berkembang atau karena telah bermetastasis. Nyeri pada daerah panggul

dapat mengindikasikan adanya obstruksi uretra. Nyeri pada daerah

suprapubik dapat disebabkan karena invasi tumor ke jaringan lunak

perivesika, obstruksi pada muara buli-buli dan adanya retensi urin.Nyeri

pada tulang mengindikasikan bahwa tumor telah bermetastasis ke tulang.

16
Pemeriksaan fisis:

Rectal Touche dengan bimanual dapat dilakukan dengan analgetik umum

(agar otot buli-buli relaks) pada saat sebelum dan setelah reseksi tumor

TUR buli-buli. Jari telunjuk kanan melakukan colok dubur sedangkan

tangan kiri melakukan palpasi pada daerah suprasimfisis untuk

memperkirakan infiltrasi tumor. Selain itu pemeriksaan ini dilakukan untuk

mengetahui ada tidaknya massa dan penyebarannya, ukuran, mobilitas,

dan derajat fiksasi pada organ lain. Jika buli-buli tidak mobile, hal ini

menunjukkan fiksasi tumor pada struktur didekatnya melalui invasi

langsung.

Pemeriksaan Penunjang Diagnostik:

Pielografi eksretorik

Gambar 7. Pelografi eksretorik tumor VU

Pemeriksaan ini dapat melihat pelvis renis, ureter apakah terdapat tumor

dan pengaruh tumor terhadap fungsi ginjal. Pencitraan buli-buli dapat

17
melihat defek pengisian, infiltrasi dinding buli-buli menjadi keras dan

tidak beraturan.

USG

Gambar 8. USG Tumor VU

USG dapat menemukan tumor di atas 0,5 cm, jika dilakukan scanning

transuretral, akurasi dapat mencapai 94%, dapat secara lebih tepat

mengetahui lingkup invasi dan stadium tumor. Akhir-akhir ini penggunaan

pencitraan ultrasonik 3 dimensi dapat menunjukkkan bentuk dan lokasi

tumor secara stereoskopik.

CT-Scan

Gambar 9. CT Scan Tumor VU

18
Akurasi stadium lebih tinggi dibandingkan dengan USG, dapat mencapai

90%.Peemriksaan ini dapat memahami secara tepat hubungan tumor dan

sekitarnya maupun ada tidaknya metastasis kelenjar limfe regional.

Sistoskopi

Sistoskopi merupakan metode paling utama dalam diagnosis, dapat

langsung melihat lokasi, ukuran, jumlah, bentuk, situasi tangkai dan

derajat infiltrasi di basis tumor. Karsinoma in situ selain mukosa setempat

yang mengalami eritema, tidak ada kelainan lain. Pada waktu sistoskopi,

harus diperhatikan hubungan tumor dengan ostium ureter dan leher buli-

buli dan dilakukan biopsi. Belakangan ini terutama diperhatikan lesi

patologis mukosa buli-buli, dilakukan biopsi random, jika secara visual

ditemukan karsinoma in situ pada mukosa normal, hiperplasia atipikal,

pertanda prognosis tidak baik.

Biopsi

Semua jenis tumor buli-buli harus dipastikan dengan pemeriksaan

histology. Terdapat dua instrument yang sering digunakan untuk tujuan

biopsy antaranya forsep dan resektoskopi. Jaringan yang diambil

hendaklah pada dasar tumor dan harus mengambil sedikit jaringan yang

sehat pada dinding buli-buli.

2. Kandung kemih exstrophy

19
Bladder Extrophy merupakan suatu kelainan bawaan, dimana kandung
kemih terletak pada bagian luar dari dinding abdomen. Permukaan
bagian dalam dinding belakang kandung kemih berada pada bagian
tengah dinding perut bagian bawah dengan pinggir mukosa yang
bersatu dengan kulit. Kelainan ini umumnya melibatkan banyak sistem
organ tubuh, termasuk saluran kemih, otot rangka, tulang, alat genital,
dsb. Pada keadaan berat dapat melibatkan saluran pencernaan dan
susunan saraf pusat

3. Infeksi kandung kemih, jenis-jenis infeksi yaitu :


a) Sistitis interstisial

Adalah penyakit kandung kemih etiologi tidak diketahui ,ditandai


oleh dinding kandung kemih disusupi oleh sel inflamasi
mengakibatkan ulserasi mukosa dan jaringan parut, spasme otot
detrusor, hematuria, urgensi, frekuensi meningkat, dan rasa sakit
saat buang air kecil.

b) Sistitis Cystica

Adalah glandularis sistitis kronis disertai dengan pembentukan


kista. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi kronis saluran
kemih.

4. Kandung kemih kejang


Disebabkan karena trauma ataupun sering menahan kencing.

5. Kandung kemih Sphincter Dyssynergia

Suatu kondisi dimana penderita tidak dapat mengkoordinasikan


relaksasi sfingter uretra dengan kontraksi otot-otot kandung kemih

6. Batu kandung kemih

Disebabkan oleh abnormarnya fungsi ginjal dalam memfiltrasi urine


sehingga terbentuk endapan yang bermuara pada kandung kemih

20
8. Ruptur kandung kemih
Ruptur VU dapat terjadi jika kandung kemih terlalu penuh dan tidak
dikosongkan. Hal ini dapat terjadi dalam kasus peminum pesta yang
telah mengkonsumsi sejumlah besar cairan, tetapi tidak sadar akan
kebutuhan untuk buang air kecil karena pingsan. Kondisi ini sangat
jarang terjadi pada wanita, tapi tidak terjadi. Gejalanya termasuk nyeri
local dan uremia

2.4 Pemeriksaan Cystografi

2.4.1. Definisi

Teknik atau prosedur pemeriksaan urinary bladder (blass) setelah


memasukkan media kontras melalui kateter dengan menggunakan
sinar-x untuk menegakkan diagnosa.

2.4.2. Indikasi (Klinis)


Tumor

Trauma

Calculi (batu VU)

Inflamantory urinary bladder (sisitis)

2.4.3. Persiapan Pasien

Pasien Melepaskan benda-benda logam yang dapat mengganggu


gambaran. Tidak ada persiapan khusus, hanya pasien harus
mengosongkan bulinya terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter
dilakukan.

2.4.4. Persiapan Alat dan Bahan

Pesawat sinar-X,kaset dan Film 24x30 cm

21
Media kontras iodium 50 cc

Aqua steril 100 cc

Poly cateter 16 G

Spuit 50 cc (spuit kaca 200cc)

Needle 19 G

2.4.5. Prosedur Pemeriksaan


Bahan kontras dicampur dengan aqua steril dengan perbandingan
1 : 3 atau 1 : 4 (1 kontras dan aqua steril).

Plain foto khusus daerah blass (setelah pasien kencing).

Pasang kateter , menuju blass melalui uretra.

Masukkan kontras yang telah dicampur aqua 100 200 cc .

2.4.6. Teknik Pemotretan

a) Proyeksi Foto AP

o Posisi pasien : Supine, kedua kaki lurus, MSP // pertengahan


buck (meja pemeriksaan)

o Central Ra: 10 - 15 ke caudad (agar blass tdk superposisi


symphisis pubis)

o CP : 2 inchi (5 cm) superior symphisis pubis.

o Eksposi : ekspirasi tahan nafas.


o Krit.gambar : Urinary blader tidak superimposisi dengan
Symphis pubis

22
Gambar 6. Cystography Proyeksi AP

a) Proyeksi Oblique bilateral (kanan dan kiri)

o Posisi Pasien : Semi supine (bagian posterior menempel meja)

o Posisi Obyek : Rotasikan tubuh 45- 60,Tekuk lutut yang jauh


darikaset ,luruskan kaki yang dekat dengan kaset, tangan yang
dekat dengan kaset gunakan sebagai ganjalan kepala, yang jauh
dari kaset diletakkan di depan tubuh.

o CR : tegak lurus kaset

o CP : 2 inchi superior symphisis pubis dan 2 inchi medial SIAS

o Eksposi : ekspirasi tahan nafas

o Krit. gambar : Urinari blader tidak superimposisi dengan


bagian kaki yang ditekuk

23
Gambar 7. Cystography proyeksi oblique

Proyeksi Lateral

o Proyeksi ini tidak umum dilakukan.

o Proyeksi ini umumnya dilakukan dengan klinis : fistel


vesicorectal atau vesicouteral .

o Posisi pasien : True lateral (lateral recumbent), kedua tangan


digunakan sebagai bantalan kepala, kedua lutut ditekuk, dan
letakkan bantal diantara lutut.

o CR : tegak lurus terhadap kaset

o CP : 2 inchi superior dan posterior symphisis pubis.

o Eksposi : ekspirasi tahan nafas.

o Krit. gambar : Hip dan femur super posisi.

Gambar 8. Cystography Proyeksi Lateral

24
BAB III

ANALISA KASUS

Pada kasus ini seorang laki-laki 73 tahun datang dengan keluhan hematuria sejak
2 hari yang lalu setiap kali kencing yang tidak disertai rasa nyeri. Keluhan
dirasakan setiap kali bak. Pasien juga merasa perut bagian bawah nya terasa sakit.
Terdapat juga keluhan berupa gejala hesitansi dan terminal dribbling. Pada
pemeriksaan fisik pasien tanda-tanda vital dalam batas normal dan nyeri tekan
suprapubik (+). Pasien ini mempunyai riwayat seperti merokok sejak remaja.
Untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini sesuai indikasi diatas akan
dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti
pemeriksaan radiologis yaitu foto rontgen Abdomen dan cystography.

25
Pasien ini mengalami klinis gross hematuri yang kemungkinan mengarah pada
keganasan. Berdasarkan anamnesis didapatkan trias symptom tumor buli-buli
yaitu hematuria total, painless dan hematuria intermittency dalam 2 bulan terakhir.
Didapatkan faktor resiko terjadinya tumor buli-buli pada pasien ini, pasien ini
mempunyai kebiasaan merokok sejak dari remaja dimana mengikut teori rokok
mengandungi nitrosamine dan polycyclic aromatic hydrocarbon yang bersifat
karsinogenik.

Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital pasien dalam batas normal. Pada pasien
tidak dilakukan pemeriksaan rectal toucher bimanual karena pasien kurang
kooperatif. Seharusnya dilakukan pemeriksaan rectal toucher bimanual untuk
memastikan ada tidaknya massa pada dinding VU. Dari klinis tersebut dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium yang didapatkan hasil
Leukosit : 11,8 x 103/uL, HB 10,0 g/dl, Trombosit 417 x 103/Ul , Ureum : 18
mg/dL dan Kreatinin: 1,1 mg/dL. HB pasien dibawah nilai normal menunjukkan
bahwa telah terjadi perdarahan kronik pada pasien ini. Hasil leukosit lebih tinggi
sedikit dari nilai normal pasien menunjukkan tanda-tanda infeksi ringan dalam
darah pasien. Melalui pemeriksaan ini dapat dipikirkan nyeri abdomen sebagai
akibat adanya cystitis dan akibat massa.

Seharusnya dilakukan juga sitologi urin. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat
sel-sel urotelium yang terlepas bersama urin. Pemeriksaan ini berguna untuk
mendeteksi adanya tumor pada pasien dengan gejala simptomatik dan untuk
menevaluasi pengobatan. Namun tidak dilakukan terhadap pasien ini.

Dilakukan juga foto rontgen abdomen AP View pada pasien tidak didapatkan
gambaran batu di traktus urinaria dan adanya gambaran spondyloarthrosis
lumbales. Pemeriksaan ini menyingkirkan diagnosa batu saluran kemih. Selain itu
juga dilakukan pemeriksaan cystography dengan proyeksi AP dan oblique pada
pasien didapatkan gambaran massa VU berupa stosel yang merupakan bekuan
darah karena hematuria sehingga menimbulkan keluhan sulit untuk miksi dan
cystitis ringan.

26
Pemeriksaan radiologi lainnya yang dapat menunjang diagnostik adalah USG
abdomen. USG dapat mendeteksi tumor buli-buli dan kelainan pada traktus
urinarius atas. Dengan USG diharapkan tampak tumor di daerah buli-buli dengan
batas tegas dan permukaan rata, bisa juga terlihat adanya suatu massa kistik atau
solid dengan echogenitas yang heterogen. Pemeriksaan IVP juga dapat dilakukan
untuk melihat pelvis renalis dan ureter apakah terdapat tumor dan pengaruh tumor
terhadap fungsi ginjal. Pencitraan buli-buli dapat melihat defek pengisian,
infiltrasi dinding buli-buli menjadi keras dan tidak beraturan. Kemudian
pemeriksaan lain dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan CT-Scan diperlukan
untuk dapat melihat ukuran, bentuk, dan lokasi tumor lebih jelas. Namun, pada
pasien tidak dilakukan pemeriksaan USG, IVP maupun CT Scan.

BAB IV

KESIMPULAN

Pada kasus ini seorang laki-laki 73 tahun datang dengan keluhan hematuria setiap
kali kencing yang tidak disertai rasa nyeri, perut bagian bawah nya terasa sakit
dan terdapat juga keluhan berupa gejala hesitansi dan terminal dribbling.

Pada pemeriksaan abdomen AP View pada pasien tidak didapatkan gambaran batu
di traktus urinaria dan adanya gambaran spondyloarthrosis lumbales. Selain itu
juga dilakukan pemeriksaan cystography dengan proyeksi AP dan oblique pada
pasien didapatkan gambaran massa VU berupa stosel dengan cystitis ringan.

27
Diagnosa pasien secara klinis dan pemeriksaan didapatkan kemungkinan
keganasan pada buli-buli (Ca buli-buli) dan cystitis. Seharusnya pemeriksaan
dilakukan lebih lengkap pada pemeriksaan fisik dan penunjang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Digital Urology Channel. Hematuria. Http://www.duj.com. [diakses 25 juli


2016]
2. Adler SN, Gasbara DB. Hematuria. Http://www.wrongdiagnosis.com. [diakses
25 juli 2016
3. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Tumor kandung kemih. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi ke2. Jakarta : EGC. 2004. 780-782

28
4. Weese DL, Greenberg HM, Zimmern PE. Contrast media reactions during
voiding cystourethrography or retrograde pyelography. Urology. 1993 Jan.
41(1):81-4
5. Cheung W, MD. Cystography Technique. Department of Urology, State
University of New York Downstate Medical Center. 2014.
6. Bontrager Kenneth L. 2010, Textbook of Positioning and Related Anatomy, Fifth
Edition. CV. Mosby Company, St. Louis.

29