Anda di halaman 1dari 10

BAB III

PERENCANAAN

A. Identifikasi Masalah
Masalah yang dapat diidentifikasi dari hasil pengkajian di Ruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas sebagai berikut:
1. Input
a. Man
1) Kuantitas
Berdasarkan Pelayanan profesional jumlah tenaga kerja di
ruang Paviliun Wijayakusuma didapatkan hasil sebagai berikut
Menurut Douglas kebutuhan tenaga perawat yang ada diruang
Paviliun Wijayakusuma adalah 9 perawat, menurut Gilles
didapatkan hasil 6 perawat. Sedangkan menurut DepKes
penghitungan tenaga perawat adalah 19 perawat.
Sedangkan jumlah perawat yang ada di Ruang Paviliun
Wijayakusuma sebanyak 16 orang dan 1 admin. Menurut kepala
ruang jumlah ketenagakerjaan dengan perawat sejumlah 16 orang
sangat kurang, karena mengingat jumlah kapasitas bed yang berada
diruangan tersebut sebanyak 30 bed, walaupun untuk saat ini baru
16 tempat tidur yang baru dapat difungsikan. Jika ada perawat
yang izin cuti, hal tersebut akan mengurangi jumlah ketenaga
kerjaan didalam ruangan tersebut.Hal ini perlu dikoordinasikan
antara manajemen Rumah sakit dengan kepala ruang Paviliun
Wijayakusuma.
2) Kualitas
Sedangkan secara kuallitas, tingkat pendidikan didapatkan hasil
bahwa tenaga keperawatan berdasar pendidikan yang ada sebagian
besar perawat pendidikan DIII keperawatan (64,8%), perawat
dengan pendidikan Ners (29,4%) dan bagian Adminstrasi dengan
pendidikan SLTA (5,8%), sedangkan untuk ketenagakerjaan di

145
ruang Paviliun Wijayakusuma sebagian besar didominasi oleh
perempuan. Untuk pendidikan non formal, seluruh tenaga perawat
di Ruang Paviliun Wijayakusuma sudah pernah mengikuti
pelatihan seperti PPGD, BTCLS, Pelatihan PPI Dasar, Pelatihan
BHD dan Pelatihan Pasien Safety serta lainnya yang dapat
menunjang kinerja perawat dalam memberikan pelayanan
kesehatan.
b. Material
Dari segi fasilitas yang ada di Ruang Paviliun Wijayakusuma sudah
hampir memenuhi standar kebutuhan ruangan, karena ruangan
Paviliun Wijayakusuma tergolong ruangan yang baru, sehingga dari
segi fasilitas ada yang baru dan ada yang belum lengkap di masing
masing ruangan pasien seperti : kebutuhan mebeler masih kurang
banyak seperti tempat tidur pasien dan penunggu, meja teras, dan sofa.
Belum terpasangnya manual prosedur alat elektronik.
Sedangkan data inventaris linen jumlah kebutuhan handuk cuci tangan,
bantal, guling, kasur busa, dan kasur penunggu masih kurang sesuai,
ada yang jumlahnya bertambah dan ada juga yang berkurang. Untuk
data inventaris alat rumah tangga ada yang kurang seperti gelas pasien
25, dan baskom seka bayi baru tersedia 1. Hal ini perlu di tindak
lanjuti oleh manajemen RS dan pihak rumah sakit. Dan untuk
inventaris alat kesehatan rata rata dalam kondisi baik dan dapat
berfungsi dengan baik, dan untuk jumlah kebutuhan alat kesehatan
masih dalam batas standar atau cukup.
c. Methods
Berdasarkan hasil observasi di ruang Paviliun Wijayakusuma tidak
ditemukan adanya SAK. Standart Asuhan Keperawatan terakhir ada
tahun 2004. Sehingga tidak dipakai untuk Standart Asuhan
Keperawatan diruangan. Sedangkan untuk protap di Ruang Paviliun
Wijayakusuma ada sekitar 162. Namun, untuk SOP pada 10 besar

146
tindakan keperawatan seperti Discharge Planning, Manajemen
hiperglikemi, Perawatan luka insisi tidak ditemukan.
d. Marketing (Pemasaran)
Berdasarkan hasil pengkajian pengunjung ruang Paviliun
Wijayakusuma RSUD Banyumas periode 01 Januari 2016 s/d 31
Desember 2016 terbanyak dari kabupaten Banyumas yaitu sebanyak
522 orang dan jumlah keseluruhan pasien dari 19 kabupaten sebanyak
903 orang pengunjung/pasien. Untuk marketing tidak ada masalah

B. Proses
1. Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP )
Berdasarkan kajian data yang diperoleh dapat dianalisis bahwa secara
keseluruan Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP
) sudah terlaksana dengan kategori cukup 73,7%. Hal yang perlu
dioptimalkan adalah Post Conference 50%, ronde keperawatan 0% dan
Admission Care 60%.
a. Mutu pelayanan
1) Dokumentasi/Instrument A
Berdasarkan hasil penilaian dengan instrument A didapatkan
kesimpulan rata-rata dari kajian instrumen A adalah 83,3% yang
termasuk dalam kategori baik (>75%) menurut Arikunto (2006).
Masalah pada instrument A adalah Tidak adanya Standar Asuhan
Keperawatan 10 besar penyakit yang ada diruang Paviliun
Wijayakusuma (0%), contoh kasus 10 besar penyakit seperti
Dengue Fever (classical dengue), Dyspepsia, Congestive heart
failure, Cerebal infarction, Dengue hemorrhagic fever, Diarrhoe
and gastroentereitis of presume, Urinary tract infection, site not
specified, Fever , unspecified, Singleton, born in hospital, Vertigo
of central origin
2) Mutu Pelayanan Keperawatan/Instrument B

147
Berdasarkan hasil penilaian dengan instrument B didapatkan
tingkat kepuasan keluarga pasien terhadap pelayanan yang
diberikan kepada pasien dan keluarga pasien di ruang paviliun
wijayakusuma termasuk dalam kategori baik (91%).
Sedangkan berdasarkan tingkat kepuasan kerja perawat di ruang
Paviliun wijayakusuma yaitu perawat merasa puas dengan hasil
yang didapatkan dengan prosentase (89%). Jadi tidak ada masalah
pada mutu pelayanan keperawatan.
3) Prosedur Tetap Tindakan/ Instrumen C
Berdasarkan hasil penilaian dengan instrument C didapatkan
bahwa dari 5 tindakan yang dilihat dari kepatuhan SOP melakukan
tindakan memberikan obat melalui suntikan (87%), pemberian
produk darah (tranfusi) (93,3%), mengukur suhu badan di ketiak
(81,9%), menghitung pernapasan (87,3%) dan mengukur tekanan
darah (93,3%), dalam kategori baik. Jumlah SOP yang ada diruang
Paviliun Wijayakusuma ada 162 SOP.
Masalah pada instrument C adalah Belum lengkapnya SOP pada
10 besar tindakan keperawatan seperti Discharge Planning,
Manajemen hiperglikemi, Perawatan luka insisi.
2. SP2KP
a. Admission care (60%)
Hasil dari observasi dan wawancara dengan Keluarga tidak
mengetahui : Informasi tentang hak dan kewajiban pasien dan keluarga
pasien, kurang begitu paham tentang peraturan dan tata tertib dirumah
sakit dan Informasi tentang cara cuci tangan 6 langkah dan 5 moment.
b. Post Conference (50%)
Hasil dari observasi dan wawancara dengan kepala ruang dan perawat,
belum optimalnya pelaksanaan Post conference setiap jam dinas
perawat, dikarenakan post conference dianggap sudah dilakukan pada
saat timbang terima.
c. Ronde keperawatan (0%)

148
Berdasarkan pengkajian prosentase proses ronde keperawatan di ruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas termasuk dalam kategori
kurang (0%). Hal itu dikarenakan perawat tidak melakukan ronde
keperawatan, ronde keperawatan biasanya dilakukan 2 bulan sekali,
pada saat dilakukan pengkajian ruang Paviliun wijayakusuma sedang
tidak dalam jadwal melakukan ronde keperawatan sehingga tidak dapat
terkaji.
3. Patient Safety
Total untuk pasien safety di ruang Paviliun Wijayakusuma yaitu termasuk
dalam kategori baik dengan rata rata mencapai 95,3%. Namun,
dikarenakan total pasien safety < 100% dan hal tersebut nilai mutlak maka
terdapat masalah dalam penanganan pasien safety, seperti pada :
a. Kebersihan tangan (hand hygiene) 86,1%
b. Resiko Jatuh 85,7%
Sesuai hasil dari prosentase yang didapatkan < 100%, sehingga pada
kedua variabel tersebut dijadikan masalah dan akan
diimplementasikan sesuai permasalahan yang terjadi.
4. Pengendalian Pencegahan Infeksi (PPI)
Pelaksanaan pengendalian dan pencegahan infeksi yang timbul di Ruang
Paviliun Wijayakusuma adalah berdasarkan tabel observasi ditunjukan
bahwa di ruang Paviliun Wijayakusuma secara umum untuk pengendalian
dan pencegahan infeksi (PPI) dapat di kategorikan cukup (73,58%).
Pelaksanaan kebersihan tangan di ruang Paviliun Wijayakusuma dapat di
kategorikan baik (100%), namun masih terdapat kekurangan yaitu dengan
tidak ada cara cuci tangan yang benar di area tempat umum.
Penggunaan APD perawat sudah baik (100%) artinya perawat sangan
melindungi diri dari infeksi nosocomial. Pelaksanaan pengendalian
lingkungan di ruang Paviliun Wijayakusuma juga dapat di kategorikan
baik (86,8%) dan manajemen linen (87,5%). Pemrosesan peralatan pasien
sangatlah kurang yaitu hanya (81%), Penempatan pasien terutama pasien
yang mengalami airbone desease atau imunosuprise hasil prosentasenya

149
masih 0 % mungkin karena ruangan Paviliun Wijayakusuma merupakan
bangsal VIP yang bersifat umum, sehingga untuk pengaturan tempat
pasien yang mengalami airbone desease atau imunosuprise sulit
dimanajemen.
Etika batuk juga hasil prosentasenya kurang yaitu hanya 33,3%. sebagian
perawat sudah melakukan atau memahami etika batuk, akan tetapi untuk
pasien dan keluarga pasien sangat kurang atau tidak mengetahui, ini
dikarenakan belum adanya poster etika batuk di area pasien sehingga
pasien atau keluarga pasien tidak melakukan etika batuk ketika batuk.
Praktek menyuntik aman sudah bagus prosentasenya 100%. Sehingga
aman dalam mencegah infeksi dari menyuntik. Total untuk PPI di ruang
Paviliun Wijayakusuma yaitu 73,58% dengan Indikator 56 % - 74% hal
ini menunjukkan kategori cukup. Namun, dikarenakan PPI < 100% dan
hal tersebut nilai mutlak maka terdapat masalah pada bagian bagian yang
kurang PPI.
Jadi masalah yang diambil adalah Etika batuk (33,3%) , dan kewaspadaan
standar Perawat melakukan 5 moment cuci tangan pada pasien (81,2%),
pengunjung atau keluarga pasien cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan pasien dari 58,3% dan 66,6%.
C. Output
1. BOR (Bed Occupancy Rate) diruang Paviliun Wijayakusuma
menunjukkan pemakaian tempat tidur sesuai standar
2. ALoS (Avarage Length of stay) di ruang Paviliun Wijayakusuma lama
perawatan belum berjalan efisien.
3. TOI (Turn Over Interval) di ruang Paviliun Wijayakusuma sesuai standar
jumlah pasien yang bermasalah cukup tinggi sehingga jarang tempat tidur
yang kosong
4. BTO (Bed Turn Over) di ruang Paviliun Wijayakusuma frekuensi tempat
tidur sudah belajar efisien.
D. Masalah Yang Ada Di Ruang Paviliun Wijayakusuma
1. Identifikasi Masalah

150
a. Belum optimalnya admission care prosentase sebelumnya 60%.
b. Belum optimalnya aplikasi 6 langkah cuci tangan pada pasien dan
keluarga pasien prosentase sebelumnya 86,1%
c. Belum optimalnya 5 moment cuci tangan pada perawat (81,2%)
Belum optimalnya cuci tangan sebelum (58,3%) dan sesudah (66,6%)
kontak dengan pasien pada pengunjung atau keluarga pasien.
d. Belum optimalnya pelaksanaan Post conference setiap sift perawat
prosentase sebelumnya 50%
e. Belum optimalnya pemrosesan peralatan pasien prosentase
sebelumnya 85,7%
f. Belum optimalnya Etika batuk prosentase sebelumnya 33,3%
g. Belum optimalnya pelaksanaan Ronde Keperawatan prosentase
sebelumnya 0%
h. Belum Optimalnya pasien resiko Jatuh prosentase sebelumnya 85,7%
i. Belum tersedianya SAK terbaru 10 besar penyakit
j. Belum lengkapnya SOP pada 10 besar tindakan keperawatan:
Discharge Planning, Manajemen hiperglikemi dan Perawatan luka
insisi
2. Prioritas Masalah
a. Belum optimalnya admission care prosentase sebelumnya 60%.
b. Belum optimalnya aplikasi 6 langkah cuci tangan pada pasien dan
keluarga pasien prosentase sebelumnya 86,1%
c. Belum optimalnya 5 moment cuci tangan pada perawat 81,2%
d. Belum optimalnya cuci tangan sebelum (58,3%) dan sesudah
(66,6%) kontak dengan pasien pada pengunjung atau keluarga
pasien.
e. Belum optimalnya pelaksanaan Post conference setiap sift perawat
prosentase sebelumnya 50%
f. Belum optimalnya pemrosesan peralatan pasien prosentase
sebelumnya 85,71%
g. Belum optimalnya Etika batuk prosentase sebelumnya 33,3%

151
h. Belum optimalnya pelaksanaan Ronde Keperawatan prosentase
sebelumnya 0%
i. Belum Optimalnya pasien resiko Jatuh prosentase sebelumnya
85,7%
j. Belum tersedianya SAK terbaru 10 besar penyakit
k. Belum lengkapnya SOP pada 10 besar tindakan keperawatan;
Discharge Planning, Manajemen hiperglikemi dan Perawatan luka
insisi
3. Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan Menggunakan CARL
Prioritas masalah dilakukan dengan metode CARL (Capability,
Accesibilty, Readness, Leverage) dengan menggunakan skor 1-5 (nilai
tertinggi sampai terendah). Kriteria CARL tersebut mempunyai arti yaitu :
C : Ketersediaan Sumber Daya (Dana Dan Sarana/ Peralatan)
A : Kemudahan, Masalah Yang Ada Diatasi Atau Tidak,
Kemudahan Dapat Didasarkan Pada Ketersediaan
Metode/Cara/Teknologi Serta Penunjang Pelaksanaan Seperti
Peraturan Atau Petunjuk Pelaksanaan
R : Kesiapan Dari Tenaga Pelaksanaan Maupun Kesiapan Sasaran
Seperti Keahlian/Kemampuan Dan Motivasi.
L : Seberapa Besar Pengaruh Kriteria Yang Satu Dengan Yang Lain
Dalam Pemecahan Yang Dibahas

Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L = Prioritas Masalah


No Masalah C A R L Skor Peringkat
1 Belum optimalnya
4 4 4 4 256 1
admission care (60%)
2 Belum optimalnya
aplikasi 6 langkah cuci
3 5 4 4 240 2
tangan pada pasien dan
keluarga pasien.

152
(86,1%)
3 Belum optimalnya
kepatuhan etika batuk 4 2 4 4 128 6
(33,3%)
4 Belum optimalnya 5
moment cuci tangan 3 4 4 4 192 3
pada perawat (81,2)
5 Belum optimalnya
kepatuhan pemrosesan 3 3 4 4 144 5
alat (85,71%)
6 Belum optimalnya
sebelum kontak
dengan pasien pada
3 4 4 4 192 3
pengunjung atau
keluarga pasien
(58,3%)
7 Belum optimalnya
kewaspadaan standar
setelah kontak dengan
pasien pada 3 4 4 4 192 3
pengunjung atau
keluarga pasien
(66,6%)
8 Belum optimalnya
pelaksanaan Post
3 3 4 5 180 4
conference setiap sift
perawat (50%)
9 Belum optimalnya
pelaksanaan Ronde 3 3 3 4 108 7
Keperawatan (0%)

153
10 Belum Optimalnya
pasien resiko Jatuh 2 3 4 4 96 8
(85,7%)
11 Belum tersedianya
SAK terbaru 10 besar 2 3 4 3 72 9
penyakit (0%)
12 Belum lengkapnya
SOP pada 10 besar
tindakan keperawatan:
a. Discharge Planning
1 4 4 4 64 10
b. Manajemen
hiperglikemi
c. Perawatan luka
insisi
Keterangan :
1. : sangat kurang
2. : kurang
3. : cukup
4. : mampu
5. : mampu sekali

154