Anda di halaman 1dari 137

BAB II

TINJAUAN LAHAN

A. KAJIAN SITUASIONAL
1. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT
a. Sejarah Singkat RSUD Banyumas
Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas adalah rumah sakit tipe B
pendidikan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas dengan
jumlah tempat tidur 435 TT, luas tanah 6,99 Ha dan luas bangunan 4,95
Ha. Berada di lingkungan daerah pedesaan tepatnya di Desa Kejawar,
Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan letak geografis tersebut diatas dan beberapa faktor
terkait lainnya, RSUD Banyumas tidaklah berada dalam posisi yang
strategis dalam banyak hal. Namun, apresiasi terhadap RSUD Banyumas
baik dari masyarakat sebagai pelanggan maupun dari pemerintah RI terus
meningkat secara bermakna. Pada tahun 1997 RSUD Banyumas
mendapat predikat juara I tingkat nasional lomba kinerja RS kelas C,
tahun 2000 terakreditasi secara penuh untuk akreditasi tingkat lanjut dari
Kemenkes pertama di jawa tengah. Tahun 2003 terakreditasi untuk
akreditasi penuh tingkat lengkap dari Kemenkes pertama di Indonesia,
dan tahun 2006 RSUD Banyumas mendapat predikat juara I lomba
pelayanan publik tingkat nasional, dan masih banyak apresiasi yang di
raih RSUD Banyumas. Sejak tahun 1992 sampai dengan sekarang
tercatat lebih dari tiga puluh predikat membanggaan yang diraih RSUD
Banyumas baik tingkat regional maupun nasional. Prestasi demi prestasi
ini diraih RSUD Banyumas bukan dengan cara yang sederhana dan
proses yang mudah. Sejak tahun 1992, diadakan upaya perbaikan mutu
pelayanan yang intensif melalui penerapan Total Quality Management
yang dibarengi dengan kegiatan continuous improvement lainnya.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 4
Tahun 2001, RSUD Banyumas adalah salah satu Badan Teknis Daerah
milik Pemerintah Kabupaten Banyumas yang mempunyai tugas

8
9

melaksanakan upaya kesehatan secara efektif dan efisien dengan


mengutamakan upaya penyembuhan serta pemulihan yang dilaksanakan
secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta
melaksanakan upaya rujukan. Dalam perkembangannya RSUD
Banyumas terus melesat secara bermakna dari tugas sesuai Perda tersebut
diatas.
RSUD Banyumas terus memperlihatkan hasil produk pelayanan
kesehatan yang semakin diminati oleh masyarakat Kabupaten Banyumas
dan sekitarnya. Disisi lain prestasi dan apresiasi secara ersisten diperoleh
juga merupakan untaian benang merah dari pelayanan yang terbaik oleh
seluruh karyawan, manajemen yang berkompeten serta dukungan dari
seluruh pihak. Menyikapi dengan perkembangan yang signifikan dari
RSUD Banyumas ini, pengelolaan RSUD Banyumas pun menjadi satu
kebutuhan untuk diubah dari status swadana menjadi Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD). Berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas
Nomor 445/371/2008 tentang Pola Pengelolaan Keuangan, RSUD
Banyumas pun berubah status pengelolaannya menjadi BLUD yang
menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah
(PPK-BLUD).
Dari catatan sejarah RSUD Banyumas berdiri pada tanggal 30 april
1925 pada masa Hindia Belanda. Berikut adalah perjalanan sejarah
RSUD Banyumas dari masa ke masa.
Sejarah Periode tahun 19251935 RSUD Banyumas diberi nama
Julianna Bugerziekenheis yang pada waktu itu lebih dikenal dengan
Rumah Sakit Julianna yang pengelolaannya dibawah Pemerintah Hindia
Belanda. Periode tahun 19351945 RS Julianna tersebut diberi nama
Rumah Sakit Banyumas yang pengelolaannya di bawah Pemerintah
Jepang. Periode tahun 19451947, Rumah Sakit Banyumas
pengelolaannya dibawah Kabupaten Banyumas. Periode tahun 1950
1953 dengan nama Rumah Sakit Umum Banyumas yang pengelolaannya
dibawah Departemen Kesehatan Kabupaten Banyumas. Periode tahun
1953 sampai dengan tahun 1992 RSU Banyumas dengan nama
10

RumahSakit Umum Daerah Banyumas, pengelolaannya dibawah


Pemerintah Daerah. Periode tahun 19921993 Rumah Sakit tersebut
dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas dengan status kelas
D yang pengelolaannya dibawah Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Periode tahun 19932000 Rumah Sakit tersebut dengan nama
Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas dengan status kelas C yang
pengelolaannya di bawah Pemerintah Kabupaten Banyumas. Periode
tahun 20002001, RSUD Banyumas menjadi RS kelas B non-Pendidikan
yang pengelolaannya dibawah Pemerintah Kabupaten Banyumas. Periode
tahun 20012008 Rumah Sakit tersebut diberi nama Rumah Sakit Umum
Daerah Banyumas dengan status kelas B pendidikan yang
pengelolaannya dibawah Pemerintah Kabupaten Banyumas, sesuai
keputusan Bupati Banyumas nomor 445/371/2008 tertanggal 16 Juli
2008 diberi kewenangan untuk melaksanakan Pola Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD).
b. Landasan Hukum
- Undang undang No. 1 tahun 2004, tentang perbendaharaan
negara.
- Peraturan pemerintah no. 23 tahun 2005, tentang pengelolaan
keungan badan layanan umum
- Peraturan pemerintah no. 24 tahun 2005, tentang standart akutansi
pemerintah
- Peraturan pemerintah no. 58 tahun 2005, tentang pengelolaan
keuangan daerah.
c. Filosofi, Motto, Visi, Misi, dan Budaya Organisasi
1) Filosofi
Filosofi adalah seperangkat nilai yang mengakar dan menjadi
rujukan semua kegiatan dalam organisasi dan menjadi landasan serta
arahan seluruh rencana jangka panjang (Keliat & Akemat, 2010).
Filosofi RSUD Banyumas adalah Keselamatan, Kesembuhan dan
Kepuasan Pelanggan adalah Kebahagiaan Kami.
11

2) Motto Pelayanan RSUD Banyumas CEMERLANG


- Cepat, pelayanan yang segar, sigap dan tanggap.
- Efektif, pelayanan dengan hasil yang memuaskan dan tingkat
kepuasan yang tinggi.
- Mudah, pelayanan yang mudah dimengerti dan tidak berbelit-
belit.
- Efisiensi, pelayanan dengan biaya yang minimal dengan hasil
yang optimal.
- Ramah, pelayanan dengan senyuman, salam dan sapa yang
hangat.
- Lancar, pelayanan yang berkesinambungan.
- Aman, pelayanan yang memberikan rasa aman baik fisik,
mental-emosional maupun material-spiritual.
- Nyaman, pelayanan dengan lingkungan yang bersih, indah dan
penuh kekeluargaan.
- Gairah, pelayanan yang diberikan dengan semangat disiplin
disertai rasa senang dan gembira.
3) Visi Dan Misi
Visi adalah pernyataan singkat yang menyatakan alasan dan
tujuan organisasi tersebut dibentuk. Visi harus dirumuskan sebagai
landasan perencanaan organisasi (Keliat & Akemat, 2009). Visi
RSUD Banyumas adalah Menjadi Rumah Sakit Pendidikan yang
bermutu tinggi, seimbang dan komprehensif.
Sedangkan Misi RSUD Banyumas adalah pernyataan yang
menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah
ditetapkan (Keliat & Akemat, 2009). Misi RSUD Banyumas, antara
lain:
a) Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan riset bidang
kesehatan yang bermutu tinggi, manusiawi dan terjangkau bagi
masyarakat.
b) Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan riset bidang
kesehatan yang seimbang, komprehensif dan terintegrasi.
12

c) Mengembangkan profesionalisme Sumber Daya Manusia.


d) Meningkatkan kesejahteraan pihak-pihak yang terkait.
d. Budaya Organisasi RSUD Banyumas
1) Sukses peningkatan mutu (5M)
a) Mutu
Petugas mampu memberikan pelayanan sesuai standar
pelayanan sesuai standar pelayanan, beretika dan menimbulkan
kepuasan pelanggan.
b) Mudah
Pelayanan yang mudah akan menyenang pelanggan, apabila bisa
dipermudah mengapa harus dipersulit.
c) Murah
Seluruh aspek pelayanan yang diberikan dapat terjangkau oleh
masyarakat termasuk masyarakat tidak mampu, dengan kualitas
pelayanan yang sama.
d) Mantap
Petugas yang melayani bersikap professional dalam melayani.
e) Marem
Petugas dalam melayani memberikan kepuasan lebih dari yang
diharapkan oleh pelanggan.
2) Sukses peningkatan disiplin (5R)
a) Rapi
Petugas yang rapi dalam penampilan, rapi dalam penataan ruang
dan rapi dalam barisan akan menyenangkan pelanggan.
b) Rajin
Perilaku petugas yang didorong oleh semangat untuk selalu
melakukan aktivitas yang efisien dan efektif guna meningkatkan
kedisiplinan diri.
c) Resik
Menjaga kebersihan di lingkungan kerjanya masing-masing.
13

d) Ramah
Sikap yang ditunjukkan petugas dalam memberikan pelayanan
tanpa membedakan status sosial, asal, suku dan agama dengan
5S: senyum, salam, sapa, sentuh, sopan atau santun.
e) Rukun
Kemampuan yang dimiliki petugas dalam kerjasama tim dalam
mewujudkan pelayanan yang terbaik. Rukun diwujudkan dalam
upaya saling mengenal satu sama lain, saling membantu, saling
memahami, saling menghargai dan saling mengingatkan.
3) Sukses Peningkatan Efisiensi (CUBIT)
a) Cukup
Pengadaan barang dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang
efisien dan efektif, semua terpenuhi tetapi tidak berlebih.
b) Urgen
Pengadaan dilaksanakan sesuai dengan skala prioritas.
c) Baik
Pengadaan barang atau jasa mengutamakan yang berkualitas
baik dengan harga yang terjangkau.
d) Irit
Penggunaan barang oleh petugas harus efisien dan efektif (tidak
boros).
e) Terawat
Semua sarana dan prasarana selalu dalam kondisi siap pakai dan
selalu terawat sesuai dengan jadwal perawatannya.
4) Keyakinan Dasar
a) Mutu adalah unsur utama dalam pelayanan.
b) Prosedur pelayanan yang mudah akan menyenangkan
pelanggan.
c) Sikap ramah dan professional akan sangat membantu pasien
untuk mencapai kesembuhan dan kepuasan.
d) Pengetahuan, sikap dan ketrampilan sangat mempengaruhi mutu
pelayanan.
14

e) Bekerja adalah ibadah, oleh karena itu keikhlasan disertai


semangat kerja yang tinggi dan bergairah sangat diperlukan
untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
f) Salah satu tolak ukur keberhasilan RSUD Banyumas adalah
pemanfaat RSUD Banyumas oleh masyarakat.
g) Kritik dan saran dari masyarakat membuat kami sadar akan
kekurangan yang ada sehingga kami senantiasa
memperbaikinya.
e. Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan
1) Pelayanan Rawat Inap di RSUD Banyumas
a) Pelayanan Rawat Inap di RSUD Banyumas
1. Ruang Dahlia (Ruang Perawatan bedah pria kelas 2 dan 3)
2. Ruang Edelwais (Ruang Perawatan bedah wanita kelas 2 dan
3)
3. Ruang Flamboyan (Ruang Perawatan umum kelas 1)
4. Ruang Gardena (Ruang Perawatan umum kelas 1)
5. Ruang Anggrek (Ruang Perawatan obstetri ginekologi kelas 2
dan 3)
6. Ruang bougenvile (Ruang Perawatan dalam wanita kelas 2
dan 3)
7. Ruang Cempaka (Ruang Perawatan dalam pria kelas 2 dan 3)
8. Ruang Melati (Ruang Perawatan dalam kelas 3)
9. Ruang Teratai (Ruang Perawatan dalam kelas 3)
10. Ruang Kantil (Ruang Perawatan anak kelas 1,2 dan 3)
11. Ruang Perinatologi (Ruang Perawatan bayi bermasalah)
12.Ruang Permata Hati (Ruang Perawatan maternitas kelas 3)
13. Ruang VK (Ruang perawatan ibu bersalin)
14. Unit Stroke (Ruang perawatan untuk pasien stroke)
15.Ruang Wijayakusuma 1 (Ruang perawatan umum untuk
pasien kelas I)
16. Ruang Paviliun Wijayakusuma (Ruang perawatan umum
untuk pasien VIP).
15

17. Ruang ICU (Ruang perawatan untuk pasien intensive care)


18. Ruang HCU (Ruang perawatan untuk pasien high care)
19. Ruang Arjuna (Ruang perawatan pasien dengan gangguan
jiwa kelas 1 dan VIP)
20. Ruang Bima (Ruang perawatan pasien dengan gangguan
jiwa kelas 2 dan kelas 3)
21.Ruang Nakula (Ruang perawatan pasien dengan gangguan
jiwa kelas 3)
22. Ruang Sadewa (Ruang perawatan pasien dengan gangguan
jiwa kelas 3).
b) Pelayanan Penunjang
1. Ruang Thalasemia (Ruang untuk pasien dengan thalasemia
yang akan melakukan transfuse darah)
2. Instalasi Pamulasaran Jenazah
3. Instalasi Gizi
4. Instalasi Rehabilitasi Medis ( IRM )
5. Ruang Pelayanan BPJS terpadu
6. Instalasi Farmasi (rawat inap dan rawat jalan)
7. Instalasi Sterilisasi Sentral ( ISS ) dan CSSD
8. Instalasi Tekhnologi Infromasi (ITI)
9. Instalasi Rekam Medis (IRM)
10. Ruang ISPL (instalasi sanitasi dan pengolahan limbah)
11. Unit Hemodialisa (HD)
12. Instalasi Radiologi, CT-Scan, USG
13. instalasi Bank Darah & Laboratorium
14. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
15. Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI)
16. Instalasi Bedah Sentral (IBS)
17. Instalasi P2CSR
18. Instalasi pemulasaran jenazah
19. Pendaftaran pasien
20. TPPRI ( tempat pendaftaran pasien rawat inap)
16

21. Perpustakaan
22. Instalasi Aset dan Pemeliharaan Sarana RS (IPSRS)
c) Pelayanan Poliklinik
1. Endoscopi, EEG, dan Brain Mapping
2. Poliklinik Bedah Umum 2 dan Konsultan Bedah Digestif
3. Poliklinik Bedah Umum 1 dan Konsultan Bedah Anak
4. Poliklinik Gigi dan Mulut
5. Poliklinik Jiwa
6. Poliklinik Kandungan 1
7. Poliklinik Kandungan 2
8. Poliklinik Kulit dan Kelamin
9. Poliklinik Konsul Gizi
10. Poliklinik Kecantikan/Kosmetik
11. Poliklinik Laktasi, Imunisasi dan Tumbang
12. Poliklinik Mata
13. Poliklinik Orthopaedi
14. Poliklinik Penyakit Anak
15. Poliklinik Psikologi
16. Poliklinik Penyakit Dalam 1(dr.Haidar)
17. Poliklinik Penyakit Dalam 2 (dr.Hery)
18. Poliklinik Penyakit Dalam 3 (dr.Made)
19. Poliklinik Penyakit Dalam 4 (dr.Tri Agus Wibowo,
SpPD.,M.Sc)
20. Poliklinik Penyakit Dalam 5 (dr.Ria Anggoro, SpPD)
21. Poliklinik Penyakit Jantung
22. Poliklinik Paru-paru
23. Poliklinik Syaraf 1
24. Poliklinik Syaraf 2 ( dr.Siti Farida Setyaningrum,Sp.S.MSc)
25. Poliklinik THT
26. Poliklinik VIP
27. VCT (Poli Bunga Harapan)
17

B. PENGUMPULAN DATA
1. Data Umum Ruangan
a. Tenaga dan Pasien (M1-Man)
1) Kuantitas
a) Kajian Teori
Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling dominan
di rumah sakit. Perawat adalah tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan selama 24 jam kepada pasien sehingga
perawat menjadi orang yang paling mengetahui perkembangan
pasien. Perilaku perawat mencerminkan citra rumah sakit karena
perilaku perawat dapat mempengaruhi kualitas pelayanan asuhan
keperawatan. Pelayanan keperawatan yang diberikan hendaknya
bermutu, efektif dan efesien. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan adalah
ketersediaan sumber daya manusia. Jumlah sumber daya
manusia/perawat harus sesuai dengan kebutuhan dari rumah sakit.
Keberhasilan Rumah Sakit sangat tergantung pada
kemampuan manajemen dalam menentukan tenaga perawat
dengan sistem, struktur organisasi, teknologi, tugas, budaya kerja
dan lingkungannya. Sumber daya manusia seringkali menjadi
penyebab kegagalan rumah sakit dalam mengembangkan kualitas
pelayanan, Oleh karena itu penetapan sumber daya manusia di
Rumah Sakit dalam hal ini tenaga perawat perlu diperhatikan.
Penetapan jumlah tenaga keperawatan adalah proses membuat
perencanaan untuk menentukan berapa banyak tenaga yang
dibutuhkan pada suatu ruangan inap. Untuk keperluan itu,
beberapa orang ahli telahmengembangkan beberapa formula.
Formula tersebut juga dapat digunakan untuk menilai dan
membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup, kurang,
atau berlebih.
18

(1) Menurut Gillies (1994)


Kebutuhan tenaga perawat secara kuantitatif dapat
dirumuskan dengan perhitungan sebagai berikut:
/
[ = ]atau
/ /

365
[() = ]
(365 )/
Keterangan :
A :Jam efektif /24 jam : waktu perawatan yang dibutuhkan
klien.
B : Sensusharian : BOR x jumlah tempat tidur.
C : Jumlah hari libur.
Dengan catatan :
Libur hari minggu = 52hari
Cuti tahunan = 12 hari
Libur nasional = 14 hari
(2) Menurut Douglas (1994)
Penghitungan jumlah tenaga keperawatan menurut
Douglas dihitung berdasarkan tingkat ketergantungan untuk
setiap shift klien dan hasil keseluruhan ditambah (1/3) untuk
perawat yang libur atau cuti. Kebutuhan tenaga perawat
berdasarkan klasifikasi tingkat ketergantungan untuk tiap
shift jaga seperti pada tabel berikut.
Sedangkan klasifikasi derajat ketergantungan klien
terhadap keperawatan menurut Douglas berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
(a) Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam
per 24 jam, dengan kriteria :
Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan
sendiri.
Makandan minum dilakukan sendiri.
Ambulasi dengan pengawasan.
19

Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shift.


Pengobatan minimal, status psikologi stabil.
Persiapan pengobatan memerlukan prosedur.
(b) Perawatan intermediate memerlukan waktu 3-4 jam per
24 jam dengan kriteria :
Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu.
Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
Folley catheter/intake output dicatat.
Klien dengan pemasangan infus, persiapan
pengobatan memerlukan prosedur.
(c) Perawatan maksimal atau atau memerlukan waktu 5 6
jam / 24 jam dengan kriteria :
Segalanya diberikan / dibantu.
Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam.
Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi
intravena.
Pemakaian suction.
Gelisah / disorientasi.
(3) MenurutDepkes (2001)
Beberapa model pendapatan yang dilakukan dalam
perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah :
Rata-rata jam perawatan
Bedah 4 jam/ hari/ klien
Dalam 3,5 jam/hari/klien
Anak 4,5 jam/hari/klien
Total Care 6,16 jam/ hari/klien
Gawat 10 jam/ hari/ klien
Kebidanan 2,5 jam/ hari/ klien
20

Formula perhitungan tenaga keperawatan menurut


Depkes adalah:
(a) Jumlah jam perawatan di ruangan/hari
Jam efektif perawat
Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu
ditambah (faktor koreksi) dengan : hari libur/cuti/hari besar
(loss day)
(b) (Jml hr mgg dlm 1 thn+cuti+hr besar ) x Perawat
tersedia
Jumlah hari kerja efektif per tahun
Tenaga keperawatan yang mengerjakan pekerjaan non
keperawatan diperkirakan 25% dari jam pelayanan
keperawatan.
(c) (Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25%
Jumlah tenaga = tenaga yang tersedia + faktor koreksi

b) Kajian Data
Berdasarkan hasil pengkajian diperoleh data jumlah
pegawai di Ruang Paviliun Wijayakusuma ini adalah 17orang,
dengan perincian 1 orang Kepala Ruang, 2 orang Ketua Tim,
12orang Perawat Pelaksana, 1 orang perawat siaga dan 1 orang
dibagian administrasi. Dari 16 tenaga perawat yang ada di ruang
Paviliun Wijayakusumadibagi menjadi 3 shift jaga yaitu:
Shift pagi : 6 orang
Shift sore : 3 orang
Shift malam : 3 orang
Libur & Lepas : 4 orang
Perawat yang bertugas dalam shift pagi secara menetap
adalah Kepala Ruang dan Ketua tim. Kapasitas tempat tidur
diruang Paviliun Wijayakusuma adalah 30 tempat tidur yang
semuanya merupakan tempat tidur untuk kelas VIP, yang baru
difungsikan adalah 16 tempat tidur.
21

Berikut ini adalah perhitungan jumlah kebutuhan tenaga di


ruang Paviliun Wijayakusuma:
(1) Jumlah tenaga perawat yang diperlukan Ruang
Paviliun Wijayakusuma menurut Gillies

Tabel 2.1
Data BOR Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode Bulan Januari - Maret 2017
Rata-rata jam
Jumlah Jumlah
No Bulan perawatan BOR
Pasien TT
pasien/hari
1. Januari 75 3,5 88,59 16
2. Februari 59 3,5 69,76 16
3. Maret 60 3,5 74,69 16
Rata-rata 65 3,5 77,68 16

A x B x 365
Tenaga Perawat (TP) =
(365 C) x jam kerja/hari

Tenaga Perawat (TP)= 3,5 x (77,68/100 x 16) x 365


(365 78) x 7

= 7,89 orang

Jadi rata-rata kebutuhan perawat yang di ruang Paviliun


Wijayakusuma menurut Gilles adalah 7,89 orang yang jika di bulatkan
menjadi 8 orang.
22

(2) Jumlah tenaga perawat yang diperlukan Ruang


Paviliun Wijayakusuma menurut Douglas

Tabel 2.2
Data Angka ketergantungan pasien
di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
periode tanggal 11-13 April 2017
11-13 April 2017 Ketergantungan
Pasien Minimal Partial Total
11-4-2017 3 10 3
12-4-2017 3 10 3
13-4-2017 2 11 2
Jumlah 8 31 8
Rata-Rata 3 10 3
Berdasarkan perhitungan tenaga menurut Douglas (1994) jumlah
tenaga yang dibutuhkan diruang Paviliun Wijayakusuma pada tabel
dibawah ini :

Tabel 2.3
Data Kebutuhan Perawat Menurut Shift Jaga
di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode tanggal 11-13 April 2017
Kebutuhan Tenaga Perawat
Klasifikasi Pasien
Pagi Sore Malam
Minimal Care 0,17 x 3 = 0,51 0,14 x 3 = 0,42 0,07 x 3 = 0,21
Intermediet care 0,27 x 10 = 2,7 0,15 x 10 = 1,5 0,10 x 10 = 1

Total care 0,36 x 3 = 1,08 0,30 x 3 = 1,08 0,20 x 3 = 0,4

Jumlah 4,29 3 1,61

Jadi perawat yang dibutuhkan Ruang Paviliun Wijayakusuma


menurut Douglas:
Pagi : 4,29 orang = 4 orang
Sore : 3 orang
Malam : 1,61 orang = 2 orang
Jumlah perawat jaga dalam 24 jam = 9 orang.
Perawat libur/cuti = 1/3 x 9 = 3 orang
Perawat pengelola = 1 orang
Jadi dihitung menurut formula Douglas= 9 + 3 + 1 = 13 orang.
23

(3) Jumlah tenaga perawat yang diperlukan Ruang Paviliun


Wijayakusuma menurut Depkes
Berdasarkan klasifikasi pasien cara penghitungan:
Rata-rata jumlah pasien setiap hari = 16
Rata-rata jam perawatan/pasien/hari =
- Bedah : 5 x 4 = 20
- Dalam : 15 x 3,5= 52,5
- Anak : 3 x 4,5 = 13,5
- Obgyn : 3 x 2,5 = 7,5 +
93,5 = 13,35
7
Jumlah jam perawatan / jam kerja efektif per shift = 7 jam
Untuk mengetahui jumlah tenaga tersebut perlu ditambah faktor
koreksi dengan hari libur/cuti/hari besar (lossday).
Jumlah hari minggu dalam 1 th + cuti + hr besar x jumlah perawat tersedia
Jumlah hari kerja efektif
= (52+12+14) x 11 orang = 78 x 13,35 = 3,62
( 365 78 ) 287
Jumlah tenaga yang mengerjakan tugastugas non
keperawatan (non jabatan nursing) seperti contoh tenaga
administrasi, kebersihan ruangan, kebersihan alat makan, dan lain
lain diperkirakan 25% dari jam pelayanan kesehatan.
Jumlah tenaga keperawatan + lossday x 25%
= 13,35 + 3,62 x 25% = 4,24 orang
Jumlah tenaga yang tersedia + faktor koreksi
13,35 + (3,62 + 4,24) = 21,21 orang dibulatkan menjadi 21
orang
= 21 orang + 1 orang kepala ruang
= 22 orang
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan di ruangan Paviliun
Wijayakusuma adalah 22 orang.
24

Berdasarkan data tersebut maka perlu di tindaklanjuti


pembuatan struktur oganisasi secara spesifik di Paviliun
Wijayakusuma.
Table 2.4
Data Hasil perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan
Berdasarkan 3 Rumus penghitungan kebutuhan tenaga
di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Metode Hasil Yang ada Keterangan
Gillies 8 16 Lebih 8 orang perawat
Douglas 13 16 Lebih 3 orang perawat
Depkes 2001 22 16 Kurang 6 orang perawat
Sumber : Penghitungan Tenaga Ruang Paviliun Wijayakusuma

c) Analisa Data
Dari tabel di atas terdapat tiga metode penghitungan tenaga
keperawatan yang ada di ruang Paviliun Wijayakusuma
menggunakan rumus menurut Gillies, Douglas dan
Depkes.Menurut Gillies kebutuhan tenaga perawat yang ada
diruang Paviliun Wijayakusuma adalah 8 perawat, hal ini
didasarkan dari perhitungan jumlah pasien, rata-rata jam
perawatan/hari, jumlah BOR dan jumlah tempat tidur yang
rasionya seimbang antara jumlah perawat dan pasien yang ada
sehingga beban kerja perawat menjadi lebih proporsional. Hasil
rumus yang digunakan Gillies hampir sama halnya dengan rumus
penghitungan jumlah tenaga perawat menurut Douglas. Dari
penghitungan tenaga perawat menurut Douglas didapatkan hasil
yang berdasarkan tingkat ketergantungan pasien didapatkan hasil
13 perawat. Sedangkan menurut Depkes (2001) penghitungan
tenaga perawat adalah 22 perawat hal itu berdasarkan loss day dan
faktor koreksi yang ada di ruang Paviliun Wijayakusuma. Dari
ketiga hasil penghitungan jumlah kebutuhan tenaga perawat yang
ada di ruang Paviliun Wijayakusuma hasil dari Depkes cenderung
lebih besar karena mempertimbangkan banyak askpek seperti loss
day (jumlah hari minggu satu tahun, hari cuti, hari besar) dan
faktor koreksi.
25

2) Kualitas Tenaga Perawat


a) Kajian Teori
Kualitas pelayanan merupakan tipe pengawasan yang
berhubungan dengan kegiatan yang dimonitor dan diatur dalam
proses pemberian pelayanan berdasarkan kebutuhan atau
pandangan konsumen. Keberhasilan sebuah organisasi rumah
sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam
menyerasikan unsur-unsur karyawan (tenaga perawat) dengan
sistem, struktur organisasi, tekhnologi, tugas, budaya kerja dan
lingkungannya. Hal ini telah disadari bahwa SDM seringkali
menjadi penyebab kegagalan suatu organisasi di rumah sakit.
Menurut analisis Teng (2002) dalam Soeroso (2003)
penyebab kegagalan organisasi dari sisi SDM yaitu, sikap serta
pola pikir yang negative, Staff Turnover (tingkat pergantian staff)
yang tinggi, program insentif yang buruk, dan rendahnya
kemampuan merngembangkan dan memotivasi karyawan.Dalam
keperawatan tujuan kualitas pelayanan adalah untuk memastikan
bahwa jasa pelayanan keperawatan yang dihasilkan sesuai
standar/keinginan pasien. Kualitas pelayanan asuhan keperawatan
merupakan salah satu indikator untuk menentukan keberhasilan
rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat.
Secara teori indikator keberhasilan rumah sakit dalam
memberikan pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan oleh
pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. Asuhan
keperawatan yang berkualitas ditentukan juga oleh sumber daya
manusia yang melakukan pelayanan perawatan itu, yang
diharapkan adalah tenaga yang berkualitas tinggi dan profesional
sesuai dengan tugas dan fungsinya.
PPNI sendiri sebagai organisasi profesi telah mengusulkan
pula perpaduan perawat di suatu ruangan adalah: 85% perawat
26

profesional (D III ke atas), 9% perawat bukan profesional dan 6%


asisten perawat.
Menurut Djojodibroto (2008) konsep pengembangan SDM
atau Human Reseource Development (HRD) mempunyai 3
program yaitu :
(1) Training, yaitu aktivitas dimana proses belajar diarahkan
pada pekerjaan saat ini.
(2) Education, yaitu aktivitas dimana proses belajar diarahkan
untuk pekerjaan yang akan datang.
(3) Development, yaitu aktivitas dimana proses belajar diarahkan
untuk pekerjaan pegawai yang bersangkutan secara
langsung.Disamping itu perlunya direncanakan rotasi dan
mutasi SDM untuk menyesuaikan beban dan tuntutan
pelayanan di masa depan. Sehingga penyesuaian keahlian
yang dibutuhkan dilakukan melalui pelatihan secara terus
menerus dan berkesinambung.
Bagi tenaga profesional di rumah sakit menurut
Djojodibroto (2008), pelatihan, kursus dan lokakarya yang
diperlukan untuk Ruang adalah:
(1) Etika komunikasi.
(2) Komunikasi terapeutik dalam perawatan.
(3) Etika keperawatan.
(4) Management keperawatan.
(5) Hospital management training.
(6) Audit Medik.
(7) Pencegahan penyakit nosokomial.
b) Kajian Data
Sumber Daya Manusia (SDM) Ruang Paviliun
Wijayakusumaterdiri dari Kepala Ruang, Ketua Tim, Perawat
Pelaksana, Administrasi dengan total 17orang.
Adapun pengembangan kompetensi tenaga keperawatan
yang sudah dan akan dilaksanakan perlu diselaraskan dengan
27

tuntutan dan kebutuhan profesi, sistem penghargaan,


perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan. Berdasarkan standar VI RSUD Banyumas
(2004), tentang pengembangan staff dan program pendidikan
jenis-jenis pelatihan di Ruang Paviliun Wijayakusuma adalah
sebagai berikut:
Tabel 2.5
Daftar Nama Perawat Ruang Paviliun Wijayakusuma
No Nama Perawat Pendidikan Jabatan TMT Pelatihan
1. Dewi Natalia H., Ners Karu 2002 1. Pelatihan pembimbing klinik,
S.Kep., Ns tahun 2009
2. Strategi meraih pasar kerja
bidang keperawatan di luar
negeri pada era global, tahun
2006
3. Komunitas keperawatan dan
perkembangan dalam mencapai
kemandirian profesi di era
milenia, tahun 2000
4. Pelatihan penatalaksanaan
pasien paliatif di RS kanker
dharmais, tahun 2009
5. ISO 9001:2000 Awarness and
development training, tahun
2008
6. PPGD-EN, tahun 2009
7. PPGD basic II, tahun 2010
8. Penerapan universal precaution
dalam pelayanan keperawatan,
aplikasi komunikasi terapetik,
semangat kerja, tahun 2004
9. Herapi cairan pada pasien
perioperative dan implikasinya
bagi perawat, tahun 2004
10. Pelatihan metodologi penelitian
kualitatif, tahun 2008
11. Kegawatdaruratan obstetric dn
neonatal dalam gerakan saying
ibu dan anak, tahun 2005
12. Plebotomi dari BD, tahun 2011
13. Workshop rehabilitasi penyakit
paru bagi perawat, tahun 2005
14. Kongres asia pasifik psikoterapi,
tahun 2008
15. Introduction to interpersonal
psychotherapiest, tahun 2008
16. Transpersonal psycoterapi, tahun
2008
17. Penggunaan standarisasi nursing
language NANDA, NOC, NIC
tahun 2011
28

18. Workshop manajemen nyeri


terkini, tahun 2014
19. Keperawatan cardiovaskuler
dasar, tahun 2008
20. Bimbinan teknis menyusun
program peningkatan mutu dan
keselamatan pasien (QPS level
1), tahun 2014
21. Pelatihan Trainer of Traine,
tahun 2015
22. Pelatihan Assessment Kinerja
Perawat Berbasis Kompetensi,
tahun 2015
23. Pelatihan Aplikasi Patient
Savety di Rumah Sakit, Tahun
2015
24. Pelatihan audit keperawatan, th
2016
25. Pelatihan evaluasi clinical
pathway, th 2016
26. Pelatihan PPI (Internal), th 2015
2. Tri Agus, S.Kep., Ns Ners KaTim I 1998 1. The Nurse Day tahun 2008
2. Meng-Upgrade dan reframing
kinerja otak tahun 2008
3. Kejahatan seksual tahun 2009
4. Therapy cairan pada pasien
perioperative dan implikasinya
bagi perawat tahun 2004
3. Andriyana, S.Kep.,Ns Ners KaTim II 2005 1. Seminar psikiatri anak
interprofesional treatment of
attention deficit and hiperactivity
disorder tahun 2013
2. Seminar dan workshop merawat
wajah agar cantik dan sehat
tahun 2015
3. Pelatihan aplikasi pasient safety
di RS tahun 2015
4. Pelatihan BLS tahun 2015
5. Seminar kegawatan bedah
pediatrik tahun 2015
6. Seminar deteksi dini kelainan
congenital neonatus tahun 2015
7. Bakti sosial di desa kejawar
kabupaten banyumas dan
outbond di The Picas
Banjarnegara, Hari perawat
sedunia tahun 2015
8. Workshop assasment and nursing
care in trauma patient tahun 2015
9. Workshop senam kaki diabetes
tahun 2015
10. Seminar manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
11. Pelatihan in house trainning
pelatihan dasar PPI tahun 2015
12. Seminar pelatihan dan
29

psikoedukasi pada pasien DM


untuk mencegah depresi tahun
2015
13. Ceramah ilmiah kontinuitas
asuhan keperawatan dalam
paliatif care tahun 2016
14. Bakti sosial donor darah dalam
rangka IND tahun 2016
15. Kongres nasional II hipmebi
peningkatan kualitas pelayanan
keperawatan medikal bedah
dalam mensukseskan masyarakat
ekonomi asia tahun 2016
16. Seminar update manajemen DM,
peran mandiri perawat dalam
penatalaksanaan DM tahun 2016
17. Seminar assasment dan intervensi
psokologis terkini dalam praktek
keperawatan profesional tahun
2016
4. Ngasirotun Jamilah, D3 PP 2004 1. Semnas mendobrak revolusi
AMK mental melalui subconcious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling
compalint tahun 2016
2. Assasment dan intervensi
psikologis terkini dalam praktik
keperawatan professional tahun
2016
3. Workshop assasment and nursing
care in trauma patient tahun 2015
4. Pelatihan BLS tahun 2015
5. Seminar luka bakar tahun 2014
6. Workshop senam kaki diabetes
mellitus tahun 2015
7. Seminar cardiovascular
emergency tahun 2016
8. Semnas manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
9. Semnas perawatan dan
psikoedukasi pada pasien DM
untuk mencegah depresi tahun
2015
5. Apit Nurjanah, AMK D3 PP 2009 1. Seminar keperawatan
cardiovaskular dasar pada
perawat dan bidan tahun 2014
2. Seminar smart parenting dan
smart teaching paguyuban
puntadewa tahun 2014
3. Semnas penanganan
kegawatdaruratan kardiomaternal
jowocare clinic magelang tauhn
2015
4. Workshop RJP neonatus tahun
2015
30

5. Semnas kegawatan bedah


pediatrik tahun 2015
6. Semnas deteksi dini kelainan
kongenital neonatus tahun 2015
7. Semnas manajemen luka modern
berbasis riset tahun 2015
8. Workshop assasment and nursing
care in trauma patient tahun 2015
9. Semnas update deteksi dini,
pencegahan dan penanganan
bunuh diri tahun 2015
10. Workshop senam kaki DM tahun
2015
11. Semnas manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
12. Semnas mendobrak revolusi
mental melalui subconcious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling
compalint tahun 2016
13. Semnas updating cardiovascular
emergency with AHA guidelines
2015 and disaster nursing
competency tahun 2016
6. Yuliana K, AMK D3 PP 2008 1. Seminar psikiatri anak
interprofesional treatment of
attention deficit and
hiperactivity disorder tahun
2013
2. Seminar dan workshop merawat
wajah agar cantik dan sehat
tahun 2015
3. Pelatihan aplikasi pasient safety
di RS tahun 2015
4. Pelatihan BLS tahun 2015
5. Seminar kegawatan bedah
pediatrik tahun 2015
6. Seminar deteksi dini kelainan
congenital neonatus tahun 2015
7. Bakti sosial di desa kejawar
kabupaten banyumas dan
outbond di The Picas
Banjarnegara, Hari perawat
sedunia tahun 2015
7. Ratna Lukita, AMK D3 PP 2008 1. Seminar deteksi dini kelainan
congenital neonatus tahun 2015
2. Bakti sosial di desa kejawar
kabupaten banyumas dan
outbond di The Picas
Banjarnegara, Hari perawat
sedunia tahun 2015
3. Workshop assasment and nursing
care in trauma patient tahun 2015
4. Workshop senam kaki diabetes
tahun 2015
31

5. Seminar manajemen kolaborasi


penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
6. Pelatihan in house trainning
pelatihan dasar PPI tahun 2015
7. Seminar pelatihan dan
psikoedukasi pada pasien DM
untuk mencegah depresi tahun
2015
8. Ceramah ilmiah kontinuitas
asuhan keperawatan dalam
paliatif care tahun 2016
9. Bakti sosial donor darah dalam
rangka IND tahun 2016
10. Kongres nasional II hipmebi
peningkatan kualitas pelayanan
keperawatan medikal bedah
dalam mensukseskan masyarakat
ekonomi asia tahun 2016
11. Seminar update manajemen DM,
peran mandiri perawat dalam
penatalaksanaan DM tahun 2016
8. Supratiwi Utami, D3 PP 2009 1. Semnas mendobrak revolusi
AMK mental melalui subconcious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling compalint
tahun 2016
2. Assasment dan intervensi
psikologis terkini dalam praktik
keperawatan professional tahun
2016
3. Workshop assasment and nursing
care in trauma patient tahun 2015
4. Pelatihan BLS tahun 2015
5. Seminar luka bakar tahun 2014
6. Workshop senam kaki diabetes
mellitus tahun 2015
7. Seminar cardiovascular
emergency tahun 2016
8. Semnas manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
9. Semnas perawatan dan
psikoedukasi pada pasien DM
untuk mencegah depresi tahun
2015
10. Semnas manajemen luka modern
berbasis riset tahun 2015
11. Seminar perawatan tali pusat dan
pencegahan kejadian omphalitis
pada bayi baru lahir tahun 2013
12. Pelatihan venipucture techniques
using vacutainers tahun 2012
13. Phlebotomy arterial & venous
blood sample training tahun 2012
32

14. Seminar deteksi dini kegawatan


kardiovaskular pada ibu hamil
dan neonatus
9. Evi Indriyani, AMK D3 PP 2009 1. Seminar sehari perawatan luka
terkini tahun 2010
10. Tri Astuti, S.Kep., Ns Ners PP 2014 1. Seminar keperawatan
cardiovaskular dasar pada
perawat dan bidan tahun 2014
2. Seminar smart parenting dan
smart teaching paguyuban
puntadewa tahun 2014
3. Semnas penanganan
kegawatdaruratan
kardiomaternal jowocare clinic
magelang tauhn 2015
4. Workshop RJP neonatus tahun
2015
5. Semnas kegawatan bedah
pediatrik tahun 2015
6. Semnas deteksi dini kelainan
kongenital neonatus tahun 2015
7. Semnas manajemen luka modern
berbasis riset tahun 2015
8. Workshop assasment and
nursing care in trauma patient
tahun 2015
9. Semnas update deteksi dini,
pencegahan dan penanganan
bunuh diri tahun 2015
10. Workshop senam kaki DM tahun
2015
11. Retno S, S.Kep., Ns Ners PP 2017 1. Pelatihan BLS tahun 2015
2. Pelatihan BTCLS tahun 2012
12. Eva Vivtin, AMK D3 PP 2010 11. Seminar keperawatan
cardiovaskular dasar pada
perawat dan bidan tahun 2014
12. Seminar smart parenting dan
smart teaching paguyuban
puntadewa tahun 2014
13. Semnas penanganan
kegawatdaruratan
kardiomaternal jowocare clinic
magelang tauhn 2015
14. Workshop RJP neonatus tahun
2015
15. Semnas kegawatan bedah
pediatrik tahun 2015
16. Semnas deteksi dini kelainan
kongenital neonatus tahun 2015
17. Semnas manajemen luka modern
berbasis riset tahun 2015
18. Workshop assasment and
nursing care in trauma patient
tahun 2015
19. Semnas update deteksi dini,
pencegahan dan penanganan
bunuh diri tahun 2015
20. Workshop senam kaki DM tahun
33

2015
21. Semnas manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
22. Semnas mendobrak revolusi
mental melalui subconcious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling
compalint tahun 2016
23. Semnas updating cardiovascular
emergency with AHA guidelines
2015 and disaster nursing
competency tahun 2016
24. BT & CLS AGD 118 tahun 2016
25. Plebotomy arterial and venous
blood sample trainning tahun
2012
26. Semnas perawatan dan
psikoedukasi pada pasien DM
untuk mencegah depresi tahun
2015
27. Pelatihan BLS tahun 2015
13. Dina Ujiana, AMK D3 PP 2010 1. Assasment dan intervensi
psikologis terkini dalam praktek
keperawatan professional tahun
2017
2. Peran perawat dalam manajemen
code blue terkini tahun 2017
3. BLS tahun 2015
4. BTCLS tahun 2016
5. Cardiovaskuler dasar bagi
perawat dan bidan tahun 2014
6. Perawatan dan psikoedukasi
pada pasien DM untuk
mencegah depresi tahun 2015
7. Updating cardiovaskuler
emergency with guidelines 2015
and disaster nursing competency
tahun 2016
8. Pelaksanaan terkini benign
prostat hyperplasia dan batu
saluran kencing tahun 2015
9. Deteksi dini kelainan kongenital
neonates tahun 2015
10. Manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
11. Kegawatan bedah pediatric
tahun 2015
12. Workshop senam kaki diabetes
tahun 2015
13. Assasment and nursing care in
trauma patients tahun 2015
14. Mendobrak revolusi mental
melalui subconscious
34

empowerment dengan
peningkatan terapeutik dan
handling complaint tahun 2016
15. Seminar sehari perawatan luka
terkini tahun 2010
16. Seminar perawatan tali pusat dan
pencegahan kejadian omphalitis
pada bayi baru lahir sesuai
dengan trends and evidence
based practice
14. Unikmah, AMK D3 PP 2014 1. Workshop senam kaki diabetes
mellitus tahun 2015
2. SEMNAS keperawatan
kegawatan bedah pediatric tahun
2015
3. SEMNAS keperawatan deteksi
dini kelainan congenital neonates
tahun 2015
4. Aplikasi pasien safety di rumah
sakit tahun 2015
5. Pelatihan penanganan
kegawatdaruratan medis dan
psikiatri RSUD banyumas tahun
2014
6. Manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
7. Deteksi dini dan tata laksana
kegawatan cardiovascular pada
ibu hamil, neonates dan anak
serta simulasi resusitasi BBL
tahun 2016
8. SEMNAS keperawatan yang
dilaksanakan mendobrak revolusi
mental melalui subconscious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling
complaint tahun 2016
9. Assasment dan intervensi
psikologis terkini dalam praktik
keperawatan professional tahun
2016
10. Cardiovascular dasar bagi
perawat dan bidan tahun 2014
11. Implementasi pelayanan
keperawatan melalui aspek legal
dalam hukum kesehatan tahun
2014
12. Updating cardiovascular
emergency with AHA guide lines
2015 and disaster nursing
competency tahun 2016
13. Penatalaksanaan terkini benign
prostat hyperplasia dan batu
saluran kencing tahun 2015
14. Perawatan dan psikoedukasi pada
35

pasien DM untuk mencegah


depresi tahun 2015
15. Sakarta medical service and
training 119 tahun 2012
16. 1000 hari pertama kehidupan
early life nutrition tahun 2015
17. Pelatihan BLS 2015
15. Fita Rizki, AMK D3 PP 2014 1. SEMNAS keperawatan yang
dilaksanakan mendobrak revolusi
mental melalui subconscious
empowerment dengan
peningkatan komunikasi
terapeutik dan handling
complaint tahun 2016
2. Assasment dan intervensi
psikologis terkini dalam praktik
keperawatan professional tahun
2016
3. Seminar & workshop service
excellent pengkajian kunci
keberhasilan asuhan keperawatan
tahun 2016
4. SEMNAS keperawatan deteksi
dini kelainan congenital neonates
tahun 2015
5. Workshop RJP Neonatus tahun
2015
6. Manajemen kolaborasi
penanganan DM dalam berbagai
aspek bidang kesehatan tahun
2015
7. SEMNAS Keperawatan
kegawatan bedah pediatric
tahun 2015
8. Seminar nasional penanganan
kegawat daruratan cardio
maternal tahun 2015
9. Penatalaksanaan terkini benign
prostat hyperplasia dan batu
saluran kencing tahun 2015
10. Seminar perawatan tali pusat &
pencegahan kejadian omphalitis
pada bayi baru lahir sesuai
dengan trends & evidence based
practice tahun 2013
11. Workshop senam kaki diabetes
tahun 2015
12. Seminar perawatan & psikososial
pada pasien DM untuk mencegah
depresi tahun 2015
13. Pelatihan aplikasi patient safety
di RS tahun 2015
14. Workshop assasment and nursing
care in trauma patients tahun
2015
16. Ibnu Mansyur, AMK D3 PP 2016 3. Pelatihan BLS tahun 2015
4. Pelatihan BTCLS tahun 2012
5. Playihan Sirkumsisi 2014
36

6. Pelatihan IGD ICU


Sumber : Data Pegawai Intalasi Rawat Inap Paviliun Wijayakusuma

Tabel 2.6
Klasifikasi Pendidikan Formal Tenaga
di Ruang Paviliun Wijayakusuma
No Jenis pendidikan Jumlah %
1. S.Kep. Ners 5 29,4%
2. D III keperawatan 11 64,8%
3. SLTA 1 5,8 %
Jumlah 17 100%
Sumber :Pengkajian Ruang Paviliun Wijayakusuma11-13 April tahun
2017
c) Analisa Data
Tingkat pendidikan tenaga perawat di ruang Paviliun
Wijayakusuma rata-rata adalah DIII keperawatan sebanyak 11
orang (64,8%), Ners sebanyak 5 orang (29,4%) dan SLTA 1 orang
(5,8%). Untuk pendidikan non formal, seluruh tenaga perawat
diruang Paviliun Wijayakusuma sudah pernah mengikuti pelatihan
seperti PPGD, BTCLS, Pelatihan PPI Dasar, Pelatihan BHD dan
Pelatihan Pasien Safety serta lainnya yang dapat menunjang kinerja
perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pelatihan-
pelatihan yang telah dilakukan oleh para perawat ruang Paviliun
Wijayakusumatersebut tidak lain untuk menambah pengatahuan,
pengalaman, dan keterampilan. Dimana semakin banyak pelatihan
yang diikuti maka akan semakin banyak ilmu yang didapatkan.
Sehingga bisa berbagi dengan perawat lain sebagai pembelajaran
dan meningkatkan kualitas, karena kualitas seseorang tidak hanya
dilihat dari pendidikan formal semata saja.
b. Sarana dan Prasarana (M2-Material)
1) Kajian Teori
Standar peralatan keperawatan adalah penetapan peralatan
keperawatan yang meliputi kebutuhan (jumlah, jenis dan
spesifikasi) serta pengelolaannya dalam upaya mewujudkan
pelayanan keperawatan yang berkualitas (Depkes, 2001).
Perawatan yang di maksud dalam standar ini terdiri dari :
37

a) Alat Tenun
Merupakan penetapan kebutuhan alat tenun berdasarkan
jumlah, jenis, dan spesifikasi menjamin tersedianya alat tenun
yang memadahi untuk mencapai pelayanan keperawatan.
Prinsip dasar alat Tenun :
(1) Menyerap keringat/air
(2) Mudah dibersihkan
(3) Ukuran memenuhi standarisasi yang ditetapkan
(4) Pemilihan warna memperhatikan aspek psikologi pasien
Tabel 2.7
Standar Alat di Ruang Inap dengan
Kapasitas 30 Pasien/Ruangan
No Nama Barang Ratio Pasien Alat
1. Sprei 1:4
2. Sarung guling 1:4
3. Selimut 1:1
4. Sarung bantal 1:5
5. Baju tindakan 1:2
6. Perlak 1:1
7. Pengalas Besar 1:2

b) Alat keperawatan
Penetapan kebutuhan alat keperawatan baik dari segi
jumlah, jenis dan spesifikasi menjamin tersedianya alat
keperawatan yang memadahi untuk mencapai tujuan pelayanan
keperawatan.
Prinsip dasar alat kesehatan
(1) Mudah dibersihkan
(2) Tidak mudah berkarat
(3) Ukuran standar secara umum (dewasa, anak, bayi)
(4) Aman pengunaan baik bagi petugas dan klien
(5) Tidak berfungsi sebagai mediator kuman
(6) Untuk alat-alat keshatan tertentu memenuhi pernyaratan
agronomi
(7) Tersedianya suku cadang terhadap kesinambungan alat
(8) Tersedianya manual pengunaan alat dan prosedur
38

Tabel 2.8
Standar Alat di Ruang Inap dengan
Kapasitas 30 Pasien/Ruangan
No Nama Barang Ratio Pasien Alat
1. Stetoskop 4/ruangan
2. Tensi meter 4/ruangan
3. KOM Kassa 1/ruangan
4. Bak instrumen kecil 3/ruangan
5. Bengkok 2/ruangan
6. Standar infus 1: 2
7. Syrnge pump 1/ruangan
8. Gunting 1/ruangan
9. Termometer 2/ruangan

c) Alat rumah tangga


Penetapan kebutuhan alat rumah tangga baik dari segi jumlah,
jenis, spesifikasi menjamin tersedianya alat rumah tangga yang
memadahi untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan.

Tabel 2.9
Standar Alat Rumah Tangga
No Nama Barang Ratio Pasien Alat
1. Nampan 1-3/ruangan
2. Plato/piring makan 1:1
3. Piring snack 1:1
4. Gelas 1:2
5. Tatakan dan tutup gelas 1:2
6. Sendok 1:2
7. Garpu 1:2
8. Kran air 1:1
9. Baki 5/ruangan
10. Tempat sampah pasien 1:1
11. Senter 2/ruangan

2) Kajian Data
Tabel 2.10
Daftar alat kesehatan
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 2017
JML MUTASI JML
NO NAMA ALAT KET
AWAL TMBH KRG AKHIR
1 Ambu Bag 2 - - 2 Baik
2 EKG 1 1 - 2 Baik
39

3 Glucotest 1 - - 1 Baik

4 Kursi Roda 1 1 2 1 baik, 1 rusak

5 Mortar 1 - - 1 Baik

6 Nebulizer 1 - - 1 Baik

7 Pispot 13 - - 13 Rusak

8 Reflek Hammer 1 - - 1 Baik

9 Senter 1 - - 1 Baik

10 Standar Infus mobile 35 - - 35 Baik

11 Stamper 1 - - 1 Baik

12 Stetoskop 4 4 Baik

13 Suction Pump 1 1 - 2 1 baik, 1 rusak

14 Tensimeter 4 - - 4 Baik

15 Termometer 9 - - 9 2 rusak, 7 baik

16 Timbangan Dewasa 1 - - 1 Tidak akurat

17 Torniquet 2 - - 2 Baik

18 Troli Medikasi 5 - - 5 Baik

19 Tromol Besar 1 1 Baik

20 Tromol Kecil 2 2 Baik

21 Urinal medis 13 13 Baik

22 Kasur Decubitus 1 1 2 1 baik, 1 rusak

23 Troli linen kotor - 1 1 Baik

24 Troli tempat status - 4 4 Baik

25 Bedsite monitor - 1 1 Baik

26 Timbangan bayi - 1 Sering tidak


1
akurat
Sumber: Pengkajian Ruang Paviliun Wijayakusuma11-13 April tahun 2017

Tabel 2.11
Data inventaris Mebeler
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas Periode 2017
JML MUTASI JML
NO NAMA ALAT KET
AWAL TMBH KRG AKHIR
1 Etalase 1 - - 1 Baik

2 Kontainer besar 2 - - 2 Baik

3 Kursi Bundar (nurse 7 - 2 5 Baik


40

station)

4 Kursi Putar 2 - 1 1 Baik

5 Tempat Tidur Pasien 13 30 13 30 Baik

6 Tempat Tidur Penunggu - - - - Belum


tersedia
7 Troly Air seka 1 - - 1 Baik

8 Lemari Kayu besar 2 - - 2 Baik


(linen)
9 Lemari Kayu kecil 1 - - 1 Baik
(lemari bon)
13 Overtable 13 - - 13 Baik

14 Sofa 13 Set - 6 set 7 set Baik

15 Sofa Petugas 1 set - - 1 set Baik

Sumber: Pengkajian Ruang Paviliun Wijayakusuma11-13 April tahun 2017

Tabel 2.12
Data inventaris Linen
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas Periode 2017
JML MUTASI JUMLAH
NO NAMA ALAT KET
AWAL TAMBAH KURANG AKHIR
1. Baju Operasi 22 - - 22 Baik
2. Baju Tindakan 39 - - 39 Baik
3. Bantal 13 30 13 30 Baik
4. Guling 13 30 13 30 Baik
5. Handuk Cuci 358 - 58 300 Baik
tangan
7. Kasur busa 13 30 13 30 Paramount di
(MAK) (paramount) kembalikan
asset
9. Perlak 10 - - 10 Baik
10. Sarung bantal 159 - - 159 Baik
11. Sarung guling 119 - - 119 Baik
12. Selimut 17 - - 17 Baik
13. Sprei 147 - - 147 Baik
14 Stik laken 67 - - 67 Baik
Sumber: Data ruangan Paviliun Wijayakusuma bulan maret Tahun 2017
41

Tabel 2.13
Data inventaris Alat listrik dan elektronik
Ruang Paviliun WijayakusumaRSUD Banyumas
periode Maret 2017
NO NAMA JUMLAH MUTASI JUMLAH KET
ALAT AWAL TAMBAH KURANG AKHIR
1. AC Split 13 33 13 33
2. Komputer 2 - - 2 Baik
3. CPU 2 - - 2 Baik
4. Kipas Angin 1 - - 1 Krg baik
5. Kamera Cc tv - 16 - 16 1 belum
berfungsi
6. Layar cc tv - 1 - 1 Baik
7. Kulkas Besar 1 - - 1 Baik
8. Kulkas Kecil 13 - - 13 Kurang
baik
9. Lampu Baca 1 - - 1 Kurang
Rontgen Baik
10. Lampu 0 - - 0 Rusak
Emergensi
12. Remote AC 13 33 13 33 Baik
13. Remote TV 13 30 13 30 Baik
14. Shower 13 32 13 rusak 32 Baik
15. TV Berwarna 1 - 1 - Baik
14 Inc(
tabung)
16. TV LED 12 30 12 30 Baik
Sumber: Data ruangan Paviliun Wijayakusuma bulan maret Tahun 2017

Analisa data :
a) Inventaris Linen
Berdasarkan data di atas inventaris linen di ruang Paviliun
Wijayakusuma semua dalam kondisi baik dan pelaporan inventaris linen
berjalan dengan lancar dan rutin, tetapi untuk jumlah kebutuhan handuk
cuci tangan, bantal, guling, kasur busa, dan kasur penunggu masih
kurang sesuai, ada yang jumlahnya bertambah dan ada juga yang
berkurang. Hal ini perlu ditindak lanjuti oleh IPSRS dan pihak Rumah
Sakit.
b) Inventaris Mebeler
Berdasarkan data di atas inventaris mebeler di ruang Paviliun
Wijayakusuma masih dalam kondisi baik dan dapat berfungsi dengan
42

baik, tetapi untuk kebutuhan mebeler masih kurang banyak seperti


tempat tidur pasien dan penunggu, meja teras, dan sofa
c) Inventaris Alat Rumah Tangga
Berdasarkan data inventaris peralatan rumah tangga di ruang Paviliun
Wijayakusuma dalam kondisi baik tetapi masih ada yang kurang seperti
gelas pasien 25, dan bascom seka bayi baru tersedia 1. Yang perlu di
tindak lanjuti oleh manajemen RS dan pihak rumah sakit.
d) Inventaris Peralatan Elektronik
Berdasarkan data di atas inventaris peralatan elektronik di ruang Paviliun
Wijayakusuma dalam kondisi baik. Namun belum terpasangnya manual
prosedur alat elektronik.
e) Inventaris Alat Kesehatan
Berdasarkan data di atas inventaris alat kesehatan di ruang paviliun
wijayakusuma dalam kondisibaik dan dapat berfungsi dengan baik, dan
untuk jumlah kebutuhan alat kesehatan masih dalam batas standar atau
cukup. Ada beberapa alat yang sudah di uji kalibrasi pada bulan Oktober
dan November 2016, seperti ECG monitor, Sphygmomanometer, syringe
pump.

c. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (M3-Methods)


1) Standar Asuhan Keperawatan (SAK)
a) Kajian Teori
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar
jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode saat dinyatakan
sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran,
fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang
dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik,
sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak
mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan.
Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap
manusianya sendiri (Council of Nurses, 1965).
43

Proses adalah suatu rangkaian tindakan yang mengarah


pada suatu tujuan. Proses akhir dari proses perawatan bisa berupa
sebuah pembebasan dari gejala, eliminasi resiko, pencegahan
komplikasi, argumentasi pengetahuan atau ketrampilan kesehatan
dan kemudahan dari kebebasan maksimal. Proses perawatan
merupakan pemberian asuhan keperawatan yang logis, sistematis,
dinamis dan teratur.
Di Indonesia, standart keperawatan dipakai sebagai
pedoman dan instrumentasi penerapan standart asuhan
keperawatan yang disusun oleh Kemenkes yaitu:
(1) Standar I Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan berisi tentang data ananemsa,
observasi yang paripurna dan lengkap serta dikumpulkan
secara terus menerus tentang keadaan pasien untuk
menentukan asuhan keperawatan sehingga data keperawatan
harus bermanfaat bagi semua anggota tim. Data pengkajian
meliputi pengumpulan data, pengelompokan data, dan
perumusan masalah.
(2) Standar II Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon pasien yang
dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien,
dianalisis dan dibandingkan dengan norma kehidupan pasien,
dan komponennya terdiri dari masalah penyebab dan gejala
(PES) bersifat actual dan potensial dan dapat ditanggulangi
perawat.
(3) Standar III Perencanaan atau Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan komponennya meliputi prioritas masalah, tujuan
asuhan keperawatan dan rencana tindakan.
(4) Standar IV Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksaan tindakan
yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien
44

terpenuhi secara maksimal yang mencangkup aspek


peningkatan, pencegahan dan pemulihan kesehatan dengan
mengikutsertakan keluarga.
(5) Standar V Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik,
sistematis, terencana untuk menilai perkembangan pasien.
(6) Standar VI Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan dilakukan secara individu
oleh perawat selama dirawat inap maupun rawat jalan yang
digunakan sebagai informasi, komunikasi dan laporan.
Dokumentasi dibuat setelah tindakan dilakukan sesuai dengan
pelaksanaan proses keperawatan setiap mencatat harus
mencantumkan inisial atau paraf atau nama perawat,
menggunakan formulir yang baku, dan disimpan sesuai
peraturan yang berlaku.
b) Kajian data
Ruang perawat mempunyai prosedur SAK (Standart
Asuhan Keperawatan) minimal 10kasus terbanyak yang ada
diruangan. Standart diperlukan untuk menentukan mutu,
bagaimana kegiatan-kegiatan akan dikerjakan dan untuk dinilai
mutu, seberapa baik kegiatan-kegiatan dikerjakan.
Tabel 2.14
10 Besar Penyakit
di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 01 Januari 2016 31 Desember 2016
No Jenis Penyakit Jumlah Presentase %
1 Dengue Fever (classical dengue) 52 17,44%
2 Dyspepsia 47 15,77%
3 Congestive heart failure 46 15,43%
4 Cerebal infarction 38 12,75%
5 Dengue hemorrhagic fever 34 11,40%
6 Diarrhoe and gastroentereitis of presume 23 7,71%
7 Urinary tract infection, site not specified 15 5,03%
8 Fever , unspecified 15 5,03%
9 Singleton, born in hospital 15 5,03%
10 Vertigo of central origin 13 4,36%
Jumlah 298 99,95%
Sumber : ITI RSUD Banyumas
45

Tabel 2.15
10 Besar Tindakan Keperawatan
di Ruang Paviliun WijayakusumaRSUD Banyumas
Periode Januari - Des 2016
No Kode Tindakan Jumlah Presentase %
1 0012 Administrasi medikasi : parenteral 85.590 74,8%
2 0295 Phlebotomy : Venous Blood Sample 6.825 5,97%
3 0224 Memberikan makanan melalui slang NGT 6.465 5,65%
4 0061 Discharge planning 5.460 4,77%
5 0184 Manajemen hiperglikemi 3.180 2,78%
6 0109 Insersi intravena 2.535 2,21%
7 0328 Perawatan luka 1.635 1,43%
8 0433 Transport 1.065 0,93%
9 0014 Administrasi produk darah 780 0,68%
10 0402 Therapi intravena 765 0,66%
Jumlah 114.300 99,88%
Sumber : ITI RSUD Banyumas

Tabel 2.16
10 Besar Diagnosa Keperawatan
di Ruang Paviliun WijayakusumaRSUD Banyumas
Periode 01 Januari 2016 31 Desember 2016
No Diagnosa Jumlah Presentase %
1. 1 Nyeri akut 404 100%
2. 2 Hipertermi 183 21,30%
3. 3 Pola nafas tidak efektif 68 7,91%
4. 4 Inefektif perfusi jaringan : serebral 52 6.05%
5. 5 Cemas 41 4,77%
6. 6 Bersihan jalan nafas tidak efektif 30 3,49%
7. 7 Gangguan pertukaran gas 26 3,02%
8. 8 Diare 24 2,79%
9. 9 Inefektif perfusi jaringan : cardiopulmonal 18 2,09%
10. 10 Defisit perawatan diri : hygiene 13 1,51%
Jumlah 859 155,32
Sumber : ITI RSUD Banyumas
Analisa Data :
Berdasarkan dataperiode 01 Januari 31 Desember 2016, Besar
Penyakitdi Ruang Paviliun Wijayakusumadari 10 penyakit menempati
urutan pertama yaitu Dengue Fever (Classical Dengue) dengan presentase
17,44% sedangkan berada diurutan terakhir Vertigo of central origin
dengan presentase 4,36%. Dari 10 daftar penyakit di Ruang Paviliun
Wijayakusuma, ruangan sudah memiliki SAK (standar asuhan
keperawatan). Dari pengkajian ditemukan bahwa dari 10 besar diagnosa
keperawatan penyakit yang sering muncul adalah nyeri akut menempati
46

urutan pertama dengan presentase 100%. Data 10 Besar Tindakan


Keperawatan yang paling banyak yaitu administrasi medikasi: parenteral
dengan presentase 74,8%, sedangkan yang paling kecil therapi intravena
dengan presentase 0,66%.

2) Prosedur Tetap
a) Kajian Teori
Prosedur tetap adalah tahap kegiatan yang pasti untuk
menyelesaikan suatu aktivitas. Prosedur tetap atau standard
Operating Prosedur (SOP). Suatu ruang perawatan didalam sebuah
Rumah Sakit idealnya mempunyai Prosedur Tetap (Protap)
tindakan yang berlaku secara resmi, dipahami dan diterapkan oleh
seluruh staf ruangan.
Berdasarkan Clinical Practice Guideline (2007), standar
merupakan keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan
sempurna yang dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal
atau disebut juga sebagai kisaran variasi yang masih dapat
diterima. Standar diperlukan untuk memberi suatu indikasi kualitas
yang diinginkan dengan kata lain standar yang digunakan untuk
menilai mutu dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya
peningkatan mutu sesuai yang diharapkan sebagai pedoman dalam
kegiatan pelayanan keperawatan diruang terdapat protab atau
kebijakan yang telah ditetapkan oleh Direktur.
Protapadalah suatu tingkat kinerja yang secara umum di
kenal sebagai sesuatu yang dapat diterima, adekuat atau
memuaskan dan digunakan sebagai tolak ukur/titik acuan yang
digunakan sebagai pembanding (Marr & Giebing,2001).
Berdasarkan Clinical Practice Guideline, protap merupakan
keadaan ideal atau tingkat pencapaian tinggi atau sempurna yang
dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut juga
sebagai kisaran variasi yang dapat di terima. Protap diperlukan
untuk memberi suatu indikasi kualitas yang diinginkan.
47

b) Kajian Data
Berdasarkan observasi yang dilakukan 3 hari dari tanggal
11 13 April 2017, daftar prosedur tetap yang banyak dilakukan di
ruang Paviliun Wijayakusuma kami sampaikan pada tabel berikut:

Tabel 2.17
Data Ketersedian SOP
di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
No Tindakan yang ada di Ruang Paviliun Wijayakusuma
1 Pemasangan AV Shunt
2 Penghapusan linen / afkir
3 Pelayanan kerohanian
4 Penanganan complain pelanggan secara lisan melalui telepon
5 Penanganan complain pelanggan secara terbuka di unit-unit kerja
6 Penanganan complain pelanggan secara terbuka melalui media masa
7 Pemberian kartu identitas pengunjung diluar jam besuk
8 Pembuangan sampah infeksius
9 Pembuangan sampah benda tajam
10 Pembuangan sampah
11 Transfer pasien antar ruang perawatan
12 Indikasi pasien masuk ICU
13 Penerimaan pasien HCU
14 Pemindahan pasien HCU ke ruang rawat inap
15 Identifikasi pasien
16 Pemasangan penandaan pasien resiko jatuh rawat inap non psikiatri
17 Penilaian pasien resiko jatuh rawat inap dewasa menggunakan skala morse non psikiatri
18 Konsul lewat telepon
19 Penyimpanan norum atau lasa di ruang pelayanan perawatan
20 Penandaan lokasi operasi
21 Pemasangan gelang pasien hilang atau lepas
22 Identifikasi pasien yankeswa
23 Pelepasan gelang pasien
24 Penatalaksanaan pasien resiko jatuh non psikiatri
25 Pelayanan laboratorium rujukan 1 pintu
26 Perlindungan barangbberharga
27 Perlindungan terhadap kekerasan fisik
28 Pengambilan penitipan kemasan steril
29 Pengendalian barang kadaluarsa
30 Pengambilan instrument on steril
31 Pengembalian instrument on steril
32 Dokumentasi alat medis non logam
33 Dokumentasi alat medis logam
34 Peminjaman instrument steril
35 Penerimaan kemasan on steril
36 Bantuan pemberian ASI
37 Melakukan penilaian nyeri dan sedasi dengan comfort scale
38 Melakukan pengkajian nyeri pada anak-anak
48

39 Pemberian inhalasi melalui nebulizer


40 Relaksasi nafas dalam
41 Pemberian obat : oral
42 Melakukan pengkajian nyeri
43 Memberikan oksigenasi dengan RM ( Rebreathing Mask )
44 Pelepasan kateter menetap pria
45 Pelepasan kateter menetap wanita
46 Mengukur suhu badan diketiak
47 Pemasangan infus pada anak
48 Memberikan obat melalui oral
49 Bantu perawatan diri : mandi
50 Serah terima (operan) jaga perawat
51 Memandikan pasien ditempat tidur
52 Menghitung pernafasan
53 Menghitung kompres demam
54 Menghitung distraksi
55 Menghitung denyut nadi
56 Melakukan pemeriksaan EKG
57 Pemasangan kateter menetap pada pria
58 Pemasangan kateter menetap pada wanita
59 Mengukur tekanan darah
60 Pemasangan infus dewasa
61 Melakukan injeksi intra vena bolus
62 Admission care
63 Melakukan pengkajian nyeri pada bayi
64 Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda
65 Memberi obat melalui kulit
66 Kurangi perdarahan gastrointestinal
67 Intubasi selang gastrointestinal
68 Perawatan luka amputasi
69 Bantu selama pemeriksaan
70 Bantu pemberian ASI
71 Bantu perawatan diri : berpakaian/ berdandan
72 Mengukur tinggi badan dan berat badan dewasa
73 Peningkatan latihan peregangan otot
74 Memberikan obat melalui rectum
75 Perawatan telinga
76 Memberikan obat tetes telinga
77 Aplikasi panas dingin
78 Dekontaminasi tingkat tinggi (DTT) dengan kimia
79 Perawatan peralatan pasien
80 Pembersihan permukaan lingkungan tercemar tumpahan darah/ cairan tubuh
81 Pencegahan dan pengendalian phlebitis
82 Menyuntik aman
83 Transfer pasien di rumah sakit dengan pasien airbone disease
49

84 Pencegahan dan pengendalian infeksi aliran darah primer ( IADP)


85 Pencegahan dan pengendalian luka tekan ( decubitus)
86 Pencegahan dan pengendalian infeksi daerah operasi (IDO)
87 Pengambilan spesimen pada dugaan infeksi akibat pemasangan infus dan CVL
88 Penatalaksanaan pasca pajanan limbah tajam terkontaminasi atau cairan tubuh
89 Penatalaksanaan tertusuk jarum/ benda tajam
90 Penggunaan alat pelindung diri ( APD)
91 Kebersihan tangan
92 Pengambilan specimen urine
93 Pengumpulan linen kotor
94 Pengambilan linen kotor
95 Pengadaan atau bon linen baru
96 Serah terima linen baru
97 Distribusi linen bersih
98 Penyimpanan barang berbahaya dan beracun (B3) golongan gas medic
99 Penyimpanan barang berbahaya dan beracun (B3) golongan cairan mudah menyala
100 Penyimpanan barang berbahaya dan beracun (B3)
101 Identifikasi bahan berbahaya beracun
102 Pengiriman specimen
103 Pengiriman spesimen sputum
104 Penjelasan hak pasien dalam pelayanan
105 Pelaporan kecelakaan kerja
106 Perlindungan penculikan bayi / anak
107 Pencegahan terhadap penculikan bayi / anak
108 Perlindungan kerahasiaan informasi pasien
109 Perlindungan kelompok beresiko
110 Permintaan untuk tidak dilakukan DNR
111 Permintaan darah untuk pelaksanaan transfusi darah
112 Bladder training
113 Dukungan spiritual
114 Cara penentuan hasil kritis
115 Penggunaan APAR
116 Penatalaksanaan paska pajanan
117 Perawatan menghadapi kematian
118 Pengambilan spesimen (feses)
119 Penanganan spesimen khusus ( cairan pleura, cairan drain dan cairan asites
120 Penatalaksanaan TB HIV
121 Etika Batuk
122 Penegakan diagnosa Tuberkolosa (TB)
123 Pemantauan pengobatan tuberkolosa (TB)
124 Alur pelayanan Tuberkolosa (TB) dirawat jalan
125 Pencatatan dan pelaporan pasien tuberkolosa (TB)
126 Penetapan klasifikasi dan tipe pasien tuberkolosa (TB)
50

127 Pengobatan tuberkolosa (TB)


128 Alur pelayanan tuberkolosis (TB) dirawat inap
129 Penempatan pasien dengan pnyakit menular / suspek
130 Pencegahan dan pengendalian saluran kencing (ISK)
131 Memberikan obat tetes dan salep mata
132 Pijat oksitosin
133 Administrasi medikasi topical
134 Memberikan obat tetes hidung
135 Resusitasi bayi baru lahir
136 Perawatan intrapartum
137 Pemberian produk darah
138 Ekcercise terapi : kontrol otot
139 Memberikan obat per vaginal
140 Perawatan kuku
141 Administrasi medikasi : parenteral
142 Bantuan perawatan diri : eliminasi
143 Excercise terapi : keseimbangan
144 Bantuan perawatan diri : makan
145 Pembidaian
146 Pemberian obat : enteral
147 Water tapid sponge
148 Pemberian makan melaui selang enteral
149 Mengukur suhu badan lewat rektal / anus
150 Irigasi bowel
151 Kompres demam
152 Irigasi kandung kemih
153 Excercise terapi : mobilitas
154 Memberi obat melalui sublingual
155 Perawatan bayi
156 Perawatan mata
157 Memberikan oksigenasi dengan nasal kanul
158 Memberikan informed consent
159 Penjagaan kulit
160 Oral hygiene
161 Memberikan oksigenasi NRM
162 Perawatan bedrest

Analisa Data :
Berdasarkan hasil wawancara di ruang Paviliun Wijayakusuma
telah menerapkan prosedur tetap perawatan secara umum yang telah
ditetapkan oleh pihak RSUD Banyumas. Setiap tindakan atau prosedur
51

keperawatan harus memilki standar yang telah ditetapkan dan dibakukan.


Protap yang dijadikan acuan oleh Ruang Paviliun Wijayakusuma ini dalam
melakukan asuhan keperawatan mengacu pada protap perawatan secara
umum yang telah dibuat oleh RSUD Banyumas tahun 2015.

3) Pasien
a) Kajian Teori
Undang-undang No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah
Sakit.
Pasien adalah orang yang menerima perawatan medis.
Pasien adalah orang sakit yang dirawat oleh dokter dan tenaga
kesehatan lainya ditempat praktek (Yuono, 2003).
b) Kajian Data
Ruang Paviliun Wijayakusuma adalah ruang perawatan
bangsal umumdengan kapasitas 30 tempat tidur. Ruang Paviliun
Wijayakusuma merupakan ruang rawat yang bersifat umum yang
menangani semua kasus penyakit dengan distribusi jumlah pasien
masuk yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.18
Data Jumlah Pasien
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode Januari Maret 2017
No Bulan Jumlah Pasien Presentase(%)
1. Januari 75 38,6%
2. Februari 59 30,4%
3. Maret 60 31%
Jumlah 194 100%
Sumber : ITI RSUD Banyumas
Analisa Data:
Berdasarkan data diatas dapat diketahui pasien yang dirawat di
Ruang Paviliun Wijayakusuma selama 3 bulan terakhir (Januari Maret
52

2017) sebanyak 194 orang (100%), dengan prosentase pada bulan Januari
dengan jumlah pasien 75 orang (38,6%), bulan Februari dengan jumlah
pasien 59 orang (30,4%) dan bulan Maret dengan jumlah pasien 60 orang
(31%). Pada interval bulan Januari Maret terjadi fluktuatif jumlah pasien.

d. Pembiayaan (M4-Money)
1) Kajian Teori
Money atau uang merupakan salah satu unsur yang tidak
dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai.
Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang
beredar dalam institusi. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools)
yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus
diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan
berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga
kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil
yang akan dicapai dari suatu organisasi (Council of Nurses, 1965).
Salah satu fungsi rumah sakit memberikan pelayanan
kesehatan bagi petugas medis maupun non medis. Dalam pelayanan
tersebut agar pelayanan rumah sakit berjalan seoptimal mungkin dan
dapat di rasakan oleh seluruh masyarakat maka rumah sakit perlu
mempersiapkan peralatan jasa non medis dan jasa pemborongan.
RSUD Banyumas mempunyai dana yang bersumber dari
pemerintah kabupaten yang oleh rumah sakit sendiri untuk
memajukan dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Berdasarkan hasil pengkajian RSUD Banyumas merupakan
rumah sakit pemerintah kabupaten yang pembiayaannya bersumber
dari anggaran APBD/APBN dan berasal dari penghasilan rumah
sakit termasuk tarif pelayanan ruangan.Sumber dana RSUD
Banyumas yaitu:
a) APBN
Anggaran Pendapatan Badan Negara (APBN) adalah rencana
keuangan tahunan pemerintah negara indonesia yang disetujui
53

oleh dewan perwakilan rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan


terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran
negara selama satu tahun anggaran (1 Januari-31 Desember).
b) APBD
Anggaran Pendapatan Badan Daerah (APBD) adalah suatu
rencana keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan
peraturan daerah selama satu tahun. Penyusunan dan penetapan
APBD diatur dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia
nomer 105 tahun 2000 tentang pengeluaran dan pertanggung
jawaban keuangan daerah.
c) BLUD
BLUD adalah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) atau unit
kerja pada satuan kerja perangkat daerah lingkungan pemerintah
daerah di Indonesia yang dibentuk untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang
dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam
melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
produktivitas.
2) Kajian Data
Tabel 2.19
Data Pendapatan Perdebitur
Periode: 01/01/2016 s/d 31/12/2016
JASA JASA
NO DEBITUR BAHAN JUMLAH
RUMAH SAKIT PELAYANAN
1. BPJS NON PBI 0 553. 038. 000 134. 856. 500 687.894.500
2. UMUM 0 103.078.000 25.156.500 128.234.500
3. ASKES 0 2.030.000 490.000 2.520.000
4. ASKES 0 1.015.000 245.000 1.260.000
HEALTH
5. TELKOM PWT 0 0 140.000 140.000
JUMLAH 0 659.161.000 160.888.000 820.049.000
Sumber: ITI RSUD Banyumas
AnalisaData :
Berdasarkan data diatas diperoleh hasil pendapatan Ruang Paviliun
Wijayakusuma RSUD Banyumas pada bulan Januari Desember 2016
terbanyak adalah BPJS NON PBI dan pendapatan terendah di Ruang Paviliun
Wijayakusuma adalah TELKOM PWT.
54

e. Pemasaran (M5-Marketing)
Tabel 2.20
Data Asal Pengunjung Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode: 01/01/2016 s/d 31/12/2016
No. Kabupaten Jumlah
1. Kabupaten Banyumas 522
2. Kabupaten Cilacap 206
3. Kabupaten Banjarnegara 90
4. Kabupaten Purbalingga 47
5. Kabupaten Kebumen 13
6. Kabupaten Brebes 8
7. Jepara 2
8. Klaten 2
9. Madiun 2
10. Pemalang 2
11. Purworejo 1
12. Kota Bekasi 1
13. Lombok 1
14. Semarang 1
15. Siak 1
16. Sleman 1
17. Temanggung 1
18. Jakarta Barat 1
19. Pekalongan 1
Jumlah 903
Sumber : ITI RSUD Banyumas

Analisa :
Berdasarkan data diatas asal pengunjung ruang Paviliun
Wijayakusuma RSUD Banyumas periode 01 Januari 2016 s/d 31 Desember
2016 terbanyak dari kabupaten Banyumas sebanyak 522 orang dan jumlah
keseluruhan terdapat 19 kabupaten dengan jumlah pengunjung (pasien) 903
orang.
55

2. Data Khusus Ruangan (Fungsi Manajemen Keperawatan di


Ruangan).
a. Fungsi Perencanaan
1) Visi Ruang Paviliun Wijayakusuma
Menjadi ruang SP2KP ynag bermutu tinggi dengan berbasis
keselamatan pasien.
2) Misi Ruang Paviliun Wijayakusuma
a) Memberikan pelayanan keperawatan profesional yang bermutu
tinggi, seimbang dan komprehensif dengan mengutamakan
keselamatan dan kepuasan pelanggan
b) Meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme sumber
daya manusia dengan pendidikan dan pelatihan
berkesinambungan
c) Memberikan keamanan dan kenyamanan pelanggan
d) Meningkatkan kesejahteraan pihak-pihak terkait
3) Standar Operasional Prosedur
4) Standar Asuhan Keperawatan
5) Standar kinerja
b. Fungsi Pengorganisasian
1) Struktur Organisasi
a) Kajian Teori
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang
secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan
antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau
perusahan dalam menjalankan kegiatan operasional. Untuk
mencapai tujuan yang diharapkan dan dilingkungan. Struktur
organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan
pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana
hubungan aktifitas dan fungsi dibatasi. Struktur formal ialah suatu
organisasi yang memiliki struktur yang jelas pembagaian tugas
56

yang jelas serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau


organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan
hubungan-hubungan kerja, wewenang, kekuasaan dan tanggung
jawab antara pejabat dalam suatu organisasi.
57

b) Kajian Data

STRUKTUR ORGANISASI PAVILIUN WIJAYAKUSUMA RSUD


BANYUMAS

DIREKTUR
MSMSNNNSNWJJ
Dr. AR. SISWANTO BW, M. Kes

WAKIL DIREKTUR PELAYANAN


Dr. SUPRAPTINI, MMR

KABID / KABAG INSTALASI LAIN

KEPALA INSTALASI RAWAT INAP


Dr. SRI BANUN SAPARDINA

KEPALA RUANG PAVILIUN


WIJAYAKUSUMA
DEWI NATALIA H, S. Kep., Ns
KETUA TIM I KETUA TIM II

TRI AGUS, S. Kep., Ns ANDRIANA, S.Kep., Ns

PERAWAT
SIAGA

PERAWAT PELAKSANA: RETNO, S.Kep., PERAWAT PELAKSANA:


Ns
1. NGASIROTUN J, AMK 1. APIT NURJANAH, AMK
2. RATNA LUKITASARI, AMK 2. YULIANA K, AMK
3. SUPRATIWI UTAMI, AMK 3. EKA VIVTIN, AMK
4. EVI INDRIYANI, AMK 4. DINA UJIANA S, AMK
5. TRI ASTUTI, S.Kep., Ns 5. VITA RIZKI A, AMK
6. IBNU MANSUR, AMK 6. UNIKMAH, AMK

ADMINISTRASI
NASILEM
58

c) Analisa Data
Berdasarkan data sekunder yang dilakukan struktur
organisasi Ruang Paviliun Wijayakusuma sudah ada dan sudah
berfungsi secara optimal. Hal ini terlihat dengan perawat sudah
melakukan tugas dan kewajibannya. Struktur organisasi ruang
Paviliun Wijayakusuma mengacu pada organisasi staf. Struktur
organisasi ruang Paviliun Wijayakusuma berada langsung
dibawah Instalasi rawat inap dan dipimpin oleh 1 kepala ruang.
Metode yang digunakan di RuangPaviliun Wijayakusuma adalah
metode tim, dimana ada 2 tim yang dipimpin oleh ketua tim yang
diikuti oleh perawat pelaksana dan ada 1 perawat siaga.
2) Denah
a) Kajian teori
Denah adalah suatu gambaran mengenai letak tempat.
Dengan denah akan mempermudah kita menemukan berbagai
macam tempat- tempat tertentu, tanpa harus bertanya pada orang
lain. Atau definisi denah lainnya yaitu tampak atas dari suatu
bangunan yang terpotong secara horizontal minimal berjarak 1
Meter dari ketinggian 0,00, dimana sebuah bangunan dengan
bagian atas bangunan tersebut dihilangkan dan denah juga sebagai
penunjuk atau untuk memisahkan antar ruangan yang satu dengan
yang lainnya.
Fungsi dari denah :
- Fungsi ruang
- Susunan ruang
- Sirkulasi ruang
- Dimensi ruang
- Letak pintu dan bukaan
- Isi ruang
- Fungsi fasilitas ruang seperti AC, air dan lain-lain pada denah-
denah tertentu.
59

b) Kajian Data
Gambar 2.1
DENAH RUANG PAVILIUN WIJAYAKUSUMA
60

Analisa :
Berdasarkan data denah diatas bahwa ruang Paviliun
Wijayakusuma sebelah selatan berbatasan dengan sawah, sebelah utara
berbatasan dengan poli VIP, sebelah timur berbatasan dengan sungai dan
ruang sanitasi, dan sebelah barat berbatasan dengan sawah.

3) Uraian Tugas
a) Kajian Teori
(1) Kepala Ruang
Kepala ruang merupakan seorang perawat profesional yang
diberi wewenang dan tanggung jawab dan mengelola kegiatan
pelayanan perawatan di satu ruang rawat.
(a) Tugas Pokok
Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di
ruang rawat yang menjadi tanggung jawab sejak pasien
masuk untuk rawat inap dengan aman sesuai standar
keselamatan pasien di rumah sakit.
(b) Uraian Tugas Umum
1. Menerangkan kepada pasien dan keluarganya mengenai
peraturan yang berlaku pada rumah sakit / Unit, keadaan
pasien pada situasi tertentu.
2. Mengusahakan dan memelihara hubungan kerja yang
harmonis dan berdaya guna antara perawat dan perawat,
perawat dengan Dokter / petugas lainnya, pasien dan
keluarga.
3. Mengatur dan mengendalikan kegiatan perawat /
pegawai lain / siswa dalam kegiatan pelayanan
keperawatan.
4. Mengatur dan mengawasi pelaksanaan pelayanan rumah
sakit yang berlaku di unit keperawatan.
5. Mengenal jenis dan penggunaan barang, serta
mengusahakan pengadaan sesuai kebutuhan di Unit
61

perawatannya agar tercapai pelayanan perawatan yang


optimal.
6. Merencanakan, melaksanakan dan menilai pelayanan
perawatan sesuai dengan kebutuhan pasien berdasarkan
proses perawatan.
7. Mengklarifikasi pasien menurut tingkat kegawatan /
infeksi dan non infeksi untuk memudahkan cara
merawatnya.
8. Mengawasi dan meneliti pemberian obat, makanan / diit
dengan perhatian khusus terhadap pasien yang perlu di
bantu.
9. Mengawasi dan meneliti pencatatan medik dan catatan
perawatan pasien.
10. Membimbing tenaga perawat dalam melaksanakan
teknik perawatan.
11. Mengadakan pendekatan terhadap setiap pasien yang
dirawat untuk mengetahui keluhan / masalah yang di
hadapi.
12. Memelihara dan meningkatkan system pencatatan dan
pelaporan secara teratur dan berkesinambungan tentang
keadaan pasien untuk kepentingan perawatan.
13. Mengisi buka catatan pribadi dan menandatangani buku
catatan dari prlaksanaan perawatan unitnya.
14. Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan
keluarganya sesuai dengan penyakitnya.
15. Mengadakan penilaian pelayanan perawatan dan petugas
lainnya secara merata dan seefektif mungkin.
16. Menyusun jadwal dinas dari perawatan dan petugas
lainnya secara merata dan seefektif mungkin.
17. Membantu mengawasi dan membimbing siswa /
mahasiswa perawat untuk mendapatkan pengalaman
belajar di unitnya.
62

18. Menjaga rahasia yang menyangkut penyakit dan keadaan


pasien di unitnya sesuai dengan sumpah jabatan.
19. Menjaga terpeliharanya kebersihan, keterampilam dan
keindahan di untinya serta lingkungan.
20. Menjaga perasaan nyaman bagi pasien petugas dan
petugas selama melaksnakan kegiatan perawatan.
21. Mengadakan rapat berkala dengan pelaksana perawat
badan petugas lainya di ruang perawatan.
22. Mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan kerja
petugas.
23. Memberikan orientasi kepada tenaga perawat baru.
24. Menyusun rencana operasional yang di perlukan unit.
25. Menyelenggarakan administrasi umumdan ketata
usahaan serta logistik unitr sesuai peraturan yang
berlaku.
26. Menyusun rencana pengembangan unit.
27. Menyusun rencana kegiatan pemberdayaan SDM
Paviliun Wijayakusuma dalam rangkapeningkatan SDM
28. Melaksanakan pelimpahan tugas dari kepala instalasi.
(c) Uraian Tugas Khusus / Spesifik
1. Melakukan kompetensi dasar perawat
2. Melakukan kompetensi manajemen

(2) Ketua Tim


Ketua tim merupakan seorang petugas yang membawahi
anggota tim untuk membuat pengkajian sampai perencaan pada
pasien.
(a) Tugas Pokok
Memberikan asuhan keperawatan pada di ruang
rawat yang menjadi tanggung jawabnya sejak pasien masuk
sampai pasien pulang, dengan aman sesuai standar
keselamatan pasien di rumah sakit
63

(b) Uraian Tugas Umum


1. Melakukan pertolongan pertama kepada pasien dalam
keadaan darurat secara tepat dan benar sesuai dengan
kebutuhan, serta prosedur tetap yang berlaku.
Selanjutnya segera melaporkan tindakan yang telah
dilakukan dokter penanggung jawab pasien (DPJP) /
dokter konsulen.
2. Mendokumentasikan dengan lengkap asuhan
keperawatan yang di berikan pada pasien yang menjadi
tanggung jawabnya
3. Memberi pengarahan dan motivasi kepada anggota ntim
untuk melaksanakan asuhan keperawatan sesuai
keentuan / standar yang berlaku.
4. Mengatur mengontrol dan mengkoordinasikan
pemeliharaan peralatan yang dibutuhkan pasien agar
selalu dalam keadaan siap pakai dalam jam dinasnya.
5. Melaksanakan program orientasi kepada pasien baru dan
keluarganya meliputi penjelasan tentang peraturan rumah
sakit, tata tertib dan fasilitas yang ada.
6. Mendampingi kunjungan dokter selama kunjungan
keliling ( visit dokter ) dan mencatat rencana medik dari
dokter.
7. Menyiapkan peralatan untuk pasien yang akan keluar /
pulang seperti obat-obatan, hasil pemeriksaan surat surat
yang di perlukan (surat istirahat, resume keperawatan,
surat keterangan kematian ) dan meretur sisa obat bila
masih ada.
8. Mengontrol dan memeriksa ketepatan pemberian asuhan
keperawatan dan pemberian obat / pemeriksaan
penunjang pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya
sesuai dengan rencana medik dari dokter.
64

9. Mengisi daftar permintaan makanan, berdasarkan macam


dan jenis makanan pasien kemudian memeriksa ulang
pada saat penyajian sesuai dengan siitnya pasa sift sore,
malam dan hari libur.
10. Melaksanakan serah terima tugas kepada penanggung
jawab (PJ) sift berikutnya secara lisan maupun pada saat
pergantian dinas.
11. Melaksanakan pertemuan berkala yang diadakan oleh
kepala ruang Paviliun Wijayakusuma, Kepala / wakil
IRNA, Kepala bidang / kasie Keperawatan.
12. Berkoordinasi dengan kepala ruang / PJ sift atau dokter
spesialis terkait untuk menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan pasien / keluarga.
13. Melakukan tugas tugas lain yang diberikan oleh kepala
ruang apabila diperlukan.
14. Melaporkan secara lisan dan tertulis kepada kepala ruang
apabila ada hal-hal yang segera di laporkan.
15. Menjaga kerahasiaan pasien.
(c) Uraian Tugas Khusus / Spesifik
1. Melakukan kompetensi dasar perawat
2. Melakukan kompentensi inti PK III di area Penyakit
Bedah-Dalam
3. Melakukan komunikasi interpersonal
Kriteria Katim :
a) DIII Keperawatan masa kerja RSUD Banyumas
minimal 6 tahun minimal gol II/d.
b) SI Keperawatan Ners RSUD Banyumas minimal 3
tahun.
c) Mempunyai STR dan SIK/SIPP.
d) Diutamakan pernah mengikuti pelatian klinik
keperawatan fungsional.
65

(3) Perawat Pelaksana


Perawat pelaksana adalah seorang tenaga keperawatan yang
diberi wewenang untuk melaksanakan pelayanan/asuhan
keperawatan langsung pada klien.
(a) Persyaratan :
1. Sehat jasmanai dan rohani
2. Pendidikan minimal D III Keperawatan
3. Lulus tes wawancara
4. Telah mengikuti pelatihan PPGD
(b) Tugas Pokok
Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di
ruang rawat yang menjadikan langsung jawabannya sejak
pasien masuk sampai pasien pulang, dengan aman sesuai
standar keselamatan pasien di rumah sakit.
(c) Uraian Tugas Umum
Melaksanakan rencana keperawatan yang sudah
dibuat oleh penanggung jawab group primer ( Ketua Tim)
1. Menerima Pasien baru dalam keadaan insidentil
membuat pengkajian, diagnose dan perencanaan
keperawatan yang kemuadian disyahkan oleh
penanggung jawab group primer (Ketua Tim)
2. Memberikan Perawatan paripurna pada sejumlah
pasien yang sudah didelegasikan oleh penanggung
jawab ( Ketua Tim)
3. Menerapkan Perilaku caring
4. Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan diagnostik
5. Melakukan kerja sama dan konsultasi kepada
penanggung jawab / ketua tim bila terjadi masalah
masalah yang terjadi pada pelaksanaan asuhan
keperawatan
6. Mengambil keputusan bila terjadi masalah-masalah
yang berhubungan dealam pelaksanaan asuhan
66

keperawatan pada waktu dinas sore, malam dan hari


libur dan melapor pada PPJR
7. Memelihara sarana, fasilitas dan menata ruangan
perawatan dengan mengawasi kebersihan,
kelengkapan peralatan dan mebelair untuk kelancaran
pelaksanaan pelayanan pasien
8. Memberikan pendidikan kesehatan padsa pasien dan
memberikan bimbingan kepada pasien atau keluarga
tentang penanggungan obat, kebersihan perorangan,
makanan dan cara hidup sehat serta memberi motivasi
dalam rangka memberikan pelayanan pada pasien
9. Melakukan evaluasi terhadap tindakan
10. Melaporkan Ke PPJP (Perawat Penanggung Jawab
Pasien) dalam rangka pemberian pelayanan pada
pasien
11. Menghadiri konferensi keperawatan, tim, kesehatan
lain untuk membicarakan dan membahas kasus kasus
untuk mendapatkan cara pemecahan masalah dalam
rangka meningkatkan mutu pelayanan pada pasien
12. Mengikuti serah terima tugas yang dipimpin oleh
penanggung jawab / ketua tim
13. Melaksanakan tugas sore, malam dan hari libur secara
bergilir sesuai dengan jadwalyang telah dibuat oleh
kepala ruang / ketua tim
14. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di
bidang keperawatan dengan mengikuti pertemuan dan
kegiatan ilmiah atau rapat-rapat khusus
15. Melakukan kegiatan penunjang sesuai dengan jenis
jabatan fungsional keperawatan
16. Melaksanakan tugas lain yang di berikan oleh atasan
dalam hal yang berkaitan dengan pelaksanaan di
ruang keperawatan
67

17. Membina hubungan terapeutik dengan pasien /


keluarga sebagai lanjutan kontrak yang sudah
dilakukan PPJP (Perawat Penanggung Jawab Pasien )
(d) Uraian Tugas Khusus / Spesifik
1. Melakukan dasar kompetensidasar keperawatan
2. Melakukan kompetensi inti PK I di area penyakit dalam
dan bedah
3. Melakukan komunikasi interpersonal

b) Kajian Data

Tabel 2.21
Penilaian Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Tanggal 11-13 April 2017
Observasi
No Variabel yang dinilai
11 12 13
1 Mengisi buku catatan pribadi dan menandatangani buku catatan dari
perawat pelaksana di unitnya

2 Menyusun jadwal dinas dari perawat dan petugas lainnya secara merata
dan selektif mungkin

3 Mengadakan rapat berkala dengan perawat pelaksana dan petugas


lainnya di ruang perawatan

4 Memberikan asuhan keperawatan pada pasien diruang rawat yang


menjadi tanggungjawabnya sejak pasien masuk sampai pasien pulang, - - -
dengan aman sesuai standar keselamatan pasien dirumah sakit
5 Mengatur dan mengendalikan kegiatan perawat / perawat lain/siswa
dalam kegiatan pelayanan keperawatan
6 Merencanakan, melaksanakan dan menilai pelayanan perawat sesuai -
dengan kebutuhan pasien berdasarkan proses perawatan
7 Membimbing tenaga perawat dalam teknik perawatan

8 Menerangkan kepada pasien dan keluarganya mengenai peraturan yang


berlaku di rumah sakit / UPF, keadaan pasien pada situasi tertentu
9 Mengusahakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dan
berdaya guna antara perawat dengan perawat, perawat dengan dokter /
petugas lain, pasien dan keluarga
10 Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya -
sesuai dengan penyakitnya
11 Menyusun rencana operasional harian (bahan habis pakai) di ruang
Pavilun Wijayakusuma
12 Menyusun rencana kegiatan pemberdayaan SDM Paviliun
Wijayakusuma dalam rangka peningkatan SDM
68

13 Melaksanakan tugas pelimpahan dari atasan

14 Mengenal jenis dan penggunaan barang, serta mengusahakan pengadaan


sesuai kebutuhan di unit perawatannya agar tercapai pelayanan
perawatan yang optimal
15 Mengadakan penilaian pelayanan perawat dan petugas lainnya secara
merata dan selektif mungkin
16 Menjaga terpeliharanya kebersihan, kerapihan dan keindahan diunitnya
serta lingkungan
17 Mengutamakan kesejahteraan dan keselamatan kerja petugasnya

18 Mengatur dan mengawasi pelaksanaan pelayanan rumah sakit yang


berlaku di unit perawatan
19 Mengawasi dan meneliti pelaksanaan pemberian obat, makan / diit - -
dengan perhatian khusus terhadap pasien yang perlu dibantu
20 Membantu mengawasi dan membimbing siswa / mahasiswa perawat
untuk mendapatkan pengalaman belajar diunitnya
21 Menjaga rahasia yang menyangkut penyakit dan keadaan pasien
diunitnya sesuai sumpah jabatan
22 Menyelenggarakan administrasi umum dan ketatausahaan serta logistik
ruang wijayakusuma sesuai peraturan yang berlaku
23 Menyusun rencana pengembangan ruangan wijayakusuma

24 Mengklarifikasi pasien menurut tingkat kegawatan / infeksi dan non


infeksi untuk memudahkan cara merawatnya
25 Mengawasi dan meneliti pencatatan medik dan catatan perawatan pasien

26 Mengadakan pendekatan kepada setiap pasien yang dirawat untuk


mengetahui keluhan / masalah yang dihadapi
27 Memelihara dan meningkatkan sistem pencatatan dan pelaporan secara
teratur dan berkesinambungan tentang keadaan pasien untuk kepentingan
perawatan
28 Menjaga perasaan nyaman bagi pasien dan petugas selama melaksanakan
kegiatan perawatan
Sub Total 25 26 26
Total 77
Prosentase
77
100 % = 91,6 %
84

Analisa :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di ruang Paviliun
Wijayakusuma didapatkan bahwa kepala ruangan di Paviliun Wijayakusuma
sudah baik dengan prosentase 91,6%.
69

Tabel 2.22
Penilaian Pelaksanaan Tugas Ketua Tim
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Tanggal 11-13 April2017
NO Aspek Yang Dinilai Observasi
11 12 13
1 Bertugas pada pagi hari. 2 2 2

2 Memberi informasi & orientasi kepada setiap pasien baru / 2 1 2


keluarga, mengenai ruang perawatan, grup perawat, peraturan dan
tata tertib ruang perawatan, rencana asuhan keperawatan.
3 Bersama PA menerima operan tugas jaga dari PA yang bertugas 2 2 2
jaga malam.
4 Melakukan pre conference dengan semua PA yang ada dalam 2 2 1
setiap TIM pada setiap awal dinas pagi.
5 Bersama PA melakukan konfirmasi / supervisi tentang kondisi 2 2 2
pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien.
6 Membagi tugas / pasien kepada PA sesuai kemampuan dan beban 1 2 1
kerja pada setiap sift jaga.
7 Mendampingi PA dalam operan tugas jaga kepada group yang 2 2 2
tugas berikutnya
8 Memonitor dan membimbing tugas PA 1 2 2

9 Melaksanakan studi kasus dengan dokter dan tim kesehatan lain 1 1 1


tiap minggu
10 Menyelenggarakan diskusi kasus sesuai prosedur 2 2 2

11 Membagi pasien/tugas pada anggota group sesuai kemampuan dan 2 2 2


beban kerja
12 Melakukan pengkajian, menetapkan masalah/ diagnose dan 2 2 2
perencanaan keperawatan semua pasien yang menjadi
tanggungjawabnya da nada bukti di rekam medis keperawatan
13 Mendelegasikan tugas kepada PA pada S/M/HL 2 2 2

14 Melaksanakan pendelegasian tugas kepala ruang pagi hari bila 2 2 2


tidak bertugas
15 Melakukan studi kasus dalam pertemuan rutin keperawatan di 2 2 2
ruang minimal sebulan sekali
16 Membantu tugas PA untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien 2 2 2

17 Memperkenalkan anggota group yang ada dalam satu group/yang 2 1 2


akan merawat selam pasien dirawat pada klien/ keluarga baru
18 Mengoreksi, merevisi dan melengkapi catatan askep yang 2 2 2
dilakukan oleh PA yang ada dibawah tanggungjawabnya
19 Melaksanakan post conference setiap akhir dinas dan menerima 0 0 0
laporan akhir tugas jaga dari PA pada groupnya untuk persiapan
operan tugas jaga berikutnya
20 Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai dengan 2 2 2
tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan di rekam
medis keperawatan.
70

21 Melakukan tugas lain, selain uraian tugasnya 2 2 2

Jumlah 37 37 37
Prosentase 111
100 % = 88%
126

Analisa:
Berdasarkan uraian tabel diatas pelaksanaan tugas kepala tim di ruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas menyatakan bahwa tugas kepala tim 1
dan 2 sudah baik dengan persentase 88%, tetapi untuk tindakan post conference
belum dapat dilaksanakan secara optimal. Hal itu dibuktikan dalam 3 hari
observasi tidak dilakukan post conference karena menurut perawat post
conference sudah dilakukan bersamaan dengan serah terima jaga (operan jaga)
dan tidak dilakukan studi kasus dengan dokter maupun tim kesehatan lain pada
setiap minggunya.

Tabel 2.23
Penilaian Pelaksanaan Tugas Perawat Pelaksana
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Tanggal 11-13 April 2017
Nilai
No Variabel yang dinilai
PP1 PP2 PP3 PP4 PP5
1 Mengikuti pre conference yang diadakan oleh PP tiap dinas pagi

2 Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien - -


yang menjadi tanggung jawabnya dan ada di bukti rekam
keperawatan
3 Melaksanakan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan
kepada PP yang ada dalam satu group
4 Melakukan evaluasi askep setiap akhir tugas pada semua pasien
yang menjadi tanggung jawabnya dan ada di bukti rekam
keperawatan
5 Berkoordinasi dengan PP/Ka Ruang/dokter/tim kesehatan lain bila
ada masalah klien pada S/M/HL
6 Melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien segera - -
setelah operan

7 Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi


tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan
8 Melakukan konsultasi tentang masalah klien/keluarga kepada PP

9 Bila PP tidak ada, wajib mengenalkan anggota group yang ada


dalam satu group yang akan memberikan askep pada jaga
berikutnya kepada klien/keluarga
10 Melaksanakan tugas pendelegasian PP pada sore, malam dan atau
hari libur
71

11 Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas anggota tim -

12 Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam - -


keperawatan

13 Menerima keluhan klien/keluarga dan berusaha mengatasinya

14 Mengikuti diskusi kasus dalam pertemuan rutin keperawatan di


ruangan
15 Mengikuti post conference yang dilakukan oleh PP pada akhir tugas - - - - -
dan melaporkan kondisi dan perkembangan semua pasien yang
menjadi tanggung jawabnya pada PP
16 Mengikuti diskusi kasus dengan tim kesehatan lain tiap satu - - -
minggu sekali

17 Melengkapi catatan askep pada semua pasien yang menjadi


tanggung jawabnya
Jumlah 15 14 13 14 14
Persentase Total
% = , %

Analisa :
Berdasarkan tabel diatas uraian tugas perawat pelaksana di ruang paviliun
wijayakusumadalam kategori baik dengan prosentase 82,3%. Namun, dari uraian
tugas di atas masih ada yang belum dilaksanakan oleh petugas PA seperti halnya
melakukan post conference kepada PP shift selanjutnya dan tidak mengikuti
diskusi kasus dengan tim kesehatan setiap minggunya.

4) Pengaturan Jadwal Dinas


a) Kajian Teori
Menurut ILO (2003) shift kerja merupakan kerja bergilir
diluar jam kerja normal baik itu bergilir atau berotasi dengan sifat
kerja atau permanen. Sistem shift kerja sendiri dapat berbeda
antara instansi atau perusahaan, walaupun biasanya menggunakan
tiga shift setiap hari dengan delapan jam kerja setiap shift.
Perawat merupakan petugas pelayanan kesehatan di rumah
sakit yang bekerja secara shift. Shift kerja dirumah sakit yang ada
di indonesia secara umum terdiri dari tiga shift yaitu:
(1) Shift pagi bekerja selama 7 jam mulai pukul07.00-14.00
(2) Shift sore bekerja 7 jam mulai jam 14.00-20.00
(3) Shift malam bekerja 12 jam mulai 20.00-08.00.
72

b). Kajian Data


Tabel 2. 24
JADWAL DINAS PERAWAT RUANG PAVILIUN WIJAYAKUSUMA
BULAN APRIL 2017

TANGGAL
PEND/
NO NAMA JAB TMT 2
PK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 30
9

DEWI NERS/
1 KARU 2002 P L P P P P P P L P P P P L P L P P P P P P L L P P P P P L
NATALIA H PK3

TIM 1

KATI
1 NERS 1998 P L P P P P P P L P P P P L P L P P P P P P L L P P P P P L
TRI AGUS M

NGASIROTU C C C H
2 AN DIII 2004 S S L L M M M L S S S L P P P L M M M L S S L P P P
N JAMILAH 1 2 3 B

RATNA H H
3 AN DIII 2008 M M L S S S L P P L M M M L S S L P P P L M M M L S S S
LUKITA B B

SUPRATIWI H
4 AN DIII 2009 P P P L M M M L S S S L P P L M M M L S S S L P P P L M M
UTAMI B

EVI H
5 AN DIII 2009 S L P P P L M M M L S S L P P P L M M M L S S S L P P P L
INDRIYANI B

IBNU H
6 AN DIII 2016 P L M M M L S S L P P P L M M M L S S S L P P S L M M M L
MANSUR B
73

H
7 AN DIII 2014 L P P P L M M M L S S S L P P P L M M M L S S L P P P L M
TRI ASTUTI B

TIM 2

KATI
1 NERS 2005 P L P P P P P P L P P P P L P L P P P P P P L L P P P P P L
ANDRIYANA M

APIT H H
2 AN NERS 2009 P P L M M M L S S S L P P L M M M L S S S L P P L M M M
NURJANAH B B

H H
3 AN DIII 2004 L M M M L S S S L P P L M M M L S S L P P P L M M M L S
YULIANA K B B

H H
4 AN DIII 2010 S S S L P P L M M M L S S S L S P P L M M M L S S L S P
EKA VIVTIN B B

DINA H H
5 AN DIII 2010 M L S S S L P P P L M M M L S S S L P P L M M M L S S L
UJIANA B B

H H
6 AN DIII 2014 M M M L S S S L P S L M M M L S S L P S P L M M M L S S
UNIKMAH B B

H H
7 AN DIII 2014 L S S S L P P L M M M L P S S L S P L M M M L S S S L P
FITA RISKI B B

1 NASILEM ADM SLTA 1993 P L P P P P P P L P P P P L P L P P P P P P L L P P P P P L


Analisa :
Pengaturan jadwal dinas di ruang Paviliun Wijayakusuma dibuat oleh kepala
ruang yang terdiri dari 3 shift yaitu shift pagi (pukul 07.00-14.00) = 7 jam, shift siang
(pukul 14.00-20.00) = 6 jam dan shift malam (pukul 20.00-08.00) = 11 jam. Setiap
perawat mendapatkan kesempatan libur (L), libur hari besar (HB) dan cuti (C).
Dengan keterangan jadwal dinas selama 1 bulan per perawat ruang Paviliun
Wijayakusuma sebagai berikut :
1. Dewi Natalia H : 161 jam/bulan
2. Tri Agus : 161 jam/bulan
3. Ngasirotun Jamilah : 150 jam/bulan
4. Ratna L : 171 jam/bulan
5. Supratiwi Utami : 180 jam/bulan
6. Evi Indriyani : 165 jam/bulan
7. Ibnu Mansur : 177 jam/bulan
8. Tri Astuti : 170 jam/bulan
9. Andriyana : 161 jam/bulan
10. Apit Nurjanah : 177 jam/bulan
11. Yuliana K : 170 jam/bulan
12. Eka Vivtin : 161 jam/bulan
13. Dina Ujiana : 160 jam/bulan
14. Unikmah : 174 jam/bulan
15. Fita Rizki : 155 jam/bulan
16. Nasilem : 161 jam/bulan

c. Fungsi Pengarahan
1) Kajian Teori
a) Meeting Morning
(1) Definisi
Suatu pertemuan yang dilakukan dipagi hari sebelum dimulainya
operan tugas jaga antara sift malem ke sift pagi.
(2) Tujuan
(a) Koordinasi intern ruang perawatan (wahana informasi dan
komunikasi).
(b) Dilakukan diruang rawat inap atau intalasi yang ada kaitannya
dengan pelayanan keperawatan agar tercapai pemberian askep
yang optimal yang tepat.
(c) Dilakukan tiap pagi hari sebelum jaga, waktu pelaksanaan kurang
lebih 15 menit.
(d) Diikuti oleh perawat jaga malam, perawat jaga pagi, administrasi
ruang.
(3) Prosedur
(a) Ka Ru menyiapkan tempat untuk melakukan meeting morning.
(b) Ka Ru memberikan pengarahan pada staf dengan materi yang telah
disiapkan sebelumnya.
(c) Ka Ru melakukan klarifikasi apa yang telah disampaikan pada staf.
(d) Memberikan kesempatan kepada staf untuk mengungkapkan
permasalahan yang muncul diruangan.
(e) Bersama staf mendiskusikan pemecahan masalah yang dapat
ditempuh.
(f) Ka Ru memberi motivasi dan reinforcement pada staf.

b) Timbang Terima/Operan
(1) Definisi
Timbang terima (operan) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan pasien.
(2) Tujuan
(a) Perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna.
(b) Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
(c) Akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang bertanggungjawab
antar anggota tim perawat.
(d) Terlaksananya asuhan keperawatan terhadap pasien yang
berkesinambungan.
(3) Manfaat
(a) Dapat menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindak lanjuti
oleh perawat pada shift berikutnya.
(b) Dapat melakukan cross check ulang tentang hal-hal yang
dilaporkan dengan keadaan pasien yang sebenarnya.
(c) Pasien dapat menyampaikan masalahnya secara langsung bila ada
yang belum terungkap.
(4) Metode Pelaporan
(a) Perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien melaporkan
langsung kepada perawat penanggung jawab berikutnya. Cara ini
memberikan kesempatan diskusi yang maksimal untuk kelanjutan
dan kejelasan rencana keperawatan.
(b) Pelaksanaan timbang terima dapat dilakukan di ruang perawat
kemudian dilanjutkan berkeliling mengunjungi pasien satu persatu.
(5) Prosedur pelaksanaan
(a) Kedua kelompok dinas sudah siap.
(b) Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara
penuh terhadap masalah, kebutuhan dan segenap tindakan yang
telah dilaksanakan serta hal-hal yang penting lainnya selama masa
perawatan (tanggungjawab).
(c) Hal-hal yang sifatnya khusus, memerlukan perincian yang matang
sebaiknya dicataat khusus untuk kemudian diserah terimakan
kepada petugas berikutnya.
(d) Hal-hal yang perlu disampaikan dalam timbang terima:
(e) Identitas pasien dan diagnosa medis.
(f) Masalah keperawatan yang masih muncul.
(g) Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (secara umum).
(h) Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan.
(i) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam
kegiatan operatif, pemeriksaan laboratorium/ pemeriksaan
penunjang lain, persiapan untuk konsultasi/ prosedur yang tidak
rutin dijalankan.
(j) Prosedur rutin yang biasa dijalankan tidak perlu dilaporkan.
(6) Hal-hal yang perlu diperhatikan
(a) Dilaksanakan tepat waktu pada saat pergantian dinas yang
disepakati.
(b) Dipimpin oleh penanggung jawab pasien atau perawat primer.
(c) Diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas.
(d) Adanya unsur bimbingan dan pengarahan dari penanggungjawab.
(e) Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematik dan
menggambarkan kondisi pasien pada saat ini serta kerahasiaan
pasien.
(f) Timbang terima harus berorientasi pada masalah keperawatan yang
ada pada pasien dengan kata lain informasi yang diberikan berawal
dari masalahnya terlebih dahulu (setelah diketahui melalui
pengkajian), baru kemudian terhadap tindakan yang telah
dilakukan dan belum dilakukan serta perkembangan setelah
dilakukan tindakan.
(g) Timbang terima dilakukan didekat pasien, menggunakan volume
suara yang pelan dan tegas (tidak berbisik) agar pasien
disebelahnya tidak mendengarkan apa yang dibicarakan untuk
menjaga privasi pasien, terutama mengenai, hal yang perlu
dirahasiakan, sebaiknya jangan dibicarakan didekat pasien tetapi
diruang perawat.

c) Pre Confrence
Pre Conference yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah
selesai operan yang dipimpin oleh katim atau penanggungjawab tim isi pre
conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan
rencana dari katim atau PJ tim:
Pre Conference
(1) Mengenali masalah pasien
(2) Membuat rencana asuhan keperawatan
(3) Membagi tugas kepada PP
(a) Melakukan analisis kritikan, memilih alternative pemecahan
masalah dan pendekatan kreatif.
(b) Memberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dalam
penyelesaian masalah.
(c) Menerima umpan balik dari kelompok.
(d) Meningkatkan kemampuan untuk memformulasikan ide.
(e) Meningkatkan percaya diri dalam berinteraksi dalam kelompok.
(f) Mengembangkan kemampuan berargumentasi.
(g) PP membagikan pasien yang menjadi tanggung jawab PA.
(h) PP menjelaskan tentang karakteristik pasien.
(i) PP mengkaji kembali persiapan PA untuk menghadapi dan
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien baik aspek
perencanaan sampai ke rencana evaluasi.

d) Post Confrence
Post conference, yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana
tentang hasil kegiatan sepanjang sift dan sebelum operan.
Post Conference:
(1) Mengetahui perkembangan pasien
(2) Mengetahui pencapaian tujuan asuhan keperawatan
(3) Mengetahui kendala yang dihadapi selama pemberian asuhan
keperawatan
(4) Mengetahui kejadian-kejadian lain yang ditemukan
(a) Melakukan analisis kritikan, memilih alternatif pemecahan
masalah dan pendekatan kreatif.
(b) Memberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dalam
penyelesaian masalah.
(c) Menerima umpan balik dari kelompok.
(d) Meningkatkan kemampuan untuk memformulasikan ide.
(e) Meningkatkan percaya diri dalam berinteraksi dalam kelompok.
(f) Mengembangkan kemampuan berargumentasi.
(g) Mengembangkan keterampilan kepemimpinan.
(h) PP melakukan diskusi dengan PA untuk membahas.
e) Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan adalah suatu metode kunjungan ke pasien secara
langsung untuk mengobservasi kondisi pasien, meninjau kembali asuhan
keperawatan yang diberikan dan mengumpulkan informasi dari pasien serta
mendemonstrasikan intervensi keperawatan secara spesifik. Tujuan
dilaksanakan ronde keperawatan meliputi:
(1) Memberikan pengetahuan keperawatan kepada perawat
pelaksana,pasien dan keluarga.
(2) Mendiskusikan tentang perubahan ide yang berkaitan dengan masalah
dan cara menyelesaikan masalah yang bertujuan untuk meningkatkan
asuhan keperawatan secara spesifik.
(3) Meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
Prosedur pelaksanaan Pra ronde
(a) Menentukan kasus dan topik.
(b) Menentukan tim ronde
(c) Menentukan literature
(d) Memebuat proposal
(e) Mepersiapkan pasien
(f) Diskusi pelaksanaan
Pembukaan
(a) Salam pembuka
(b) Memperkenalkan tim ronde
(c) Menyampaikan identitas dan masalah pasien
(d) Menjelaskan tujuan ronde
Penyampaian masalah :
(a) Memberikan salam dan memperkenalkan pasien dan keluarga
kepada tim ronde
(b) Menjelaskan riwayat penyakit dan keperawatan pasien
(c) Menjelaskan masalah pasien dan rencana yang telah dilaksanakan
dan serta menetapkan prioritas yang perlu di diskusikan
Validitas data :
(a) Mencocokan dan menjelaskan kembali data yang telah
disampaikan.
(b) Diskusi antar naggota tim dan pasien tentang masalah
keperawatan tersebut.
(c) Pemberian justifikasi oleh PP atau konselor atau kepala ruang
tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan
dilakukan.
(d) Menentukan tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang
telah ditetapkan.
(e) Evaluasi dan rekomendasi intervensi keperawatan, penutup.
2) Kajian Data

Table 2.25
Pelaksanaan Meeting Morning
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Pengkajian Tanggal 11 13 April 2017
Observasi
No Variabel Yang Dinilai
1 2 3
1 KaRu menyiapkan tempat untuk melakukan meeting morning -
2 KaRu memberikan pengarahan pada staf dengan materi yang -
telah disiapkan sebelumnya
3 KaRu melakukan klarifikasi apa yang telah disampaikan pada
staf
4 Memberikan kesempatan kepada staf untuk mengungkapkan
permasalahan yang muncul diruangan
5 Bersama staf mendiskusikan pemecahan masalah yang dapat
ditempuh
6 KaRu memberi motivasi dan reinforcement pada staf -
7 Melaksanakan doa di awal

Jumlah 6 5 7

Prosentase % = , %

Analisa:
Berdasarkan tabel diatas dari hasil pengkajian 3 hari periode 11 13 April 2017
persentase proses meeting morning di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
didapatkan bahwa kepala ruang di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam menjalankan meeting
morning masuk dalam kategori baik (85,7%).
Table 2.26
Pelaksanaan Timbang Terima/Operan
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Pengkajian Tanggal 11 13 April 2017
Sift Sift Sift Jumlah
No Variabel
P S M P S M P S M
1 Mempersiapkan buku laporan sift dan 9
melengkapi buku laporan jaga
2 Menyiapkan tempat untuk serah - - 7
terima tugas jaga.
3 Mempersiapkan anggota untuk - 8
dimulai timbang terima (karu, ketua
tim dan anggota).
4 Mempersilahkan perawat jaga shift 9
sebelumnya untuk melaporkan
pasiennya.

5 Menyebutkan kondisi pasien sesuai 9


buku laporan shift.
6 Melakukan kunjungan pasien sambil - - - - 5
menyampaikan review kondisi pasien.
7 Menginformasikan kepada pasien atau - - - 6
keluarga nama perawat shift
berikutnya pada akhir tugas.
8 Memberikan salam pada pasien dan - - 7
keluarga serta mengobservasi dan
menginspeksi keadaan pasien serta
menanyakan keluhan-keluhan pasien
(klarifikasi).
9 Menutup dengan doa pulang untuk - - - - - - 3
perawat shift sebelumnya dan doa
untuk mengawali kegiatan untuk
perawat shift baru.
10 Menandatangani buku laporan jaga - - - - - 4
oleh penanggung jawab kedua shift.
Presentase
% = , %

Analisa:
Berdasarkan tabel diatas dari hasil pengkajian 3 hari periode 11 13 April 2017
persentase proses timbang terima/operan di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
didapatkan bahwa kepala ruang di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam menjalankan timbang
terima/operan masuk dalam kategori cukup (74,4%).
Table 2.27
Pelaksanaan Pre Conference
Ruang Dahlia RSUD Banyumas
Pengkajian Tanggal 11 13 April 2017
Shift Shift Shift
No. Variabel yang dinilai
P S M P S M P S M Jumlah
Pre conference
1. Menyiapkan tempat untuk pre 9
coference
2. Menyiapkan rekam medik pasien 9
yang menjadi tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan pre - - - - - - - - - 0
conference
4. KaTim memandu pelaksanaan pre 9
conference
5. Menjelaskan masalah keperawatan 9
pasien dan rencana keperawatan
yang menjadi tanggung jawabnya
6. KaTim membagi tugas pada PA 9
sesuai kemampuan yang dimiliki
dengan memperhatikan
keseimbangan kerja
7. Mendiskusikan cara dan strategi 9
pelaksanaan asuhan keperawatan
pasien/tindakan
8. Memotivasi untuk memberikan 9
tanggapan dan penyelesaian
masalah yang sedang didiskusikan
9. Mengklarifikasikan kesiapan PA 9
untuk melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.

10 Memberikan reinforcemen positif 9


pada PA
11 Menyimpulkan hasil pre 9
conference
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 90
Persentase

= %

Analisa:
Berdasarkan tabel diatas dari hasil pengkajian 3 hari periode 11 13 April 2017
persentase proses pelaksanaan pre conference di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD
Banyumas didapatkan bahwa kepala tim di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam menjalankan
pre conference masuk dalam kategori baik (90%).
Table 2.28
Pelaksanaan Post Conference
Ruang Paviliun WijayakusumaRSUD Banyumas
Pengkajian Tanggal 11 13 April 2017
Post conference
Jumlah
Variabel yang dinilai P S M P S M P S M
1. Menyiapkan tempat untuk post - - - - - - 3
coference
2. Menyiapkan rekam medik/PN pasien 9
yang menjadi tanggung jawab
3. Menjelaskan tujuan dilakukan post - - - - - - 3
conference
4. Menerima penjelasan dari PP tentang - - - - 5
hasil tindakan/hasil asuhan keperawatan
yang telah dilakukan
5. Mendiskusikan masalah yang telah - - - 6
ditemukan dalam memberikan askep
pada pasien dan mencari upaya
penyelesaian masalah
6. Memberi reinforcemen pada PP - - - - - 4
7. Menyimpulkan hasil post conference - - - - - - 3
8. Mengklarifikasi pasien sebelum - - - - - - 3
melakuakan operan tugas jaga shift
berikutnya (melakukan ronde
keperawatan)
Jumlah 36

Persentase % = %

Analisa:
Berdasarkan tabel diatas dari hasil pengkajian 3 hari periode 11 13 April 2017
persentase proses post conference di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
didapatkan bahwa kepala ruang di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam menjalankan post
conference masuk dalam kategori kurang (50%).
Table 2.29
Pelaksanaan Ronde Keperawatan
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 1 Januari 31 Maret 2017
Observasi
No. Pertanyaan
Ya Tidak
1 Pra ronde :
Menentukan kasus dan topik

2 Menentukan tim ronde


3 Menentukan literature
4 Membuat proposal
5 Mempersiapkan pasien
6 Diskusi pelaksanaan
7 Pembukaan :Salam pembuka
8 Memperkenalkan tim ronde
9 Menyampaikan identitas dan masalah pasien
10 Menjelaskan tujuan ronde
11 Penyampaian masalah :
Memberikan salam dan memperkenalkan
pasien dan keluarga kepada tim ronde
12 Menjelaskan riwayat penyakit dan
keperawatan pasien

13 Menjelaskan masalah pasien dan rencana yang


telah dilaksanakan dan serta menetapkan
prioritas yang perlu di diskusikan
14 Validitas data :
Mencocokan dan menjelaskan kembali data
yang telah disampaikan
15 Diskusi antar anggota tim dan pasien tentang

masalah keperawatan tersebut
16 Pemberian justifikasi oleh PP atau konselor
atau kepala ruang tentang masalah pasien serta
rencana tindakan yang akan dilakukan
17 Menentukan tindakan keperawatan pada
masalah prioritas yang telah ditetapkan

18 Evaluasi dan rekomendasi intervensi


keperawatan

19 Penutup
Jumlah 0
Prosentase 0%
Analisa :
Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil dari pengkajian selama 3 hari yaitu
pada periode 11 13 April 2017 prosentase proses ronde keperawatan di ruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas termasuk dalam kategori kurang (0%). Hal
itu dikarenakan perawat tidak melakukan ronde keperawatan, ronde keperawatan
biasanya dilakukan 2 bulan sekali, pada saat dilakukan pengkajian ruang Paviliun
Wijayakusuma sedang tidak dalam jadwal melakukan ronde keperawatan. Terakhir
dilakukan ronde keperawatan pada Bulan Maret 2017.

Tabel 2.30
Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Perawat Dengan Dokter/Tim Kesehatan
Lain Di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
No. Variabel yang dinilai Ya Tidak
1. Ka Ru melakukan supervisi seluruh pasien yang ada di ruangan tiap -
awal tugas.
2. PP atau PA melakukan visite bersama dokter atau petugas kesehatan -
lain.
3. PP melakukan diskusi kasus dengan dokter/tim kesehatan minimal -
1x/minggu
4. Hubungan profesional/kemitraan dengan dokter /tim kesehatan lain -
tercermin dalam dokumen rekam medik
5. PP atau PA dapat segera memberikan data pasien yang akurat dengan -
cepat dan tepat kepada dokter/tim kesehatan lain bila dibutuhkan
6. PP/PA menggunakan rekam medik sebagai sarana hubungan -
profesional dalam rangka pelaksanaan program kolaborasi
7. Dokter/tim kesehatan lain menggunakan rekam keperawatan sebagai -
sarana hubungan profesional dalam rangka program kolaborasi
8. Dokter/tim kesehatan lain mengetahui setiap pasien siapa PP nya
9. PP memfasilitasi pelaksanaan konsultasi pasien/keluarga dengan -
dokter/tim kesehatan lain
JUMLAH 8
100%
9
= 88,8%
Prosentase % 88,8%

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi mengenai hubungan profesional antar staf perawat
dengan dokter/tim kesehatan lain di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
menyatakan, bahwa hubungan antar staf perawat dengan dokter/tim kesehatan lain di ruang
Paviliun Wijayakusuma dalam kategori baik (88,8%).
Tabel 2.31
Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Keperawatan
Di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017

No Variabel yang dinilai Ya Tidak


1. Ka Ru mengadakan pertemuan rutin dengan seluruh staf
keperawatan minimal sebulan sekali
2. Ka Ru mengadakan pertemuan rutin dengan Ka Tim minimal
seminggu sekali
3. Ka Tim mengadakan pre conference pada tiap awal dan akhir jaga
pagi
4. Ka Tim/ PJ shift mengadakan post conference pada tiap awal dan
akhir jaga pagi
5. Ka Tim menerima serah terima dari PA dari tugas jaga sebelumnya
6. Ka Tim mendampingi serah terima dari PA dan tugas jaga berikutnya
7. PA melakukan serah terima dengan PA tugas jaga berikutnya
8. Ka Tim melengkapi catatan askep/dokumentasi terutama dalam
pengkajian, diagnosa dan rencana keperawatan pada pasien yang
menjadi tanggung jawabnya
9. PP melakukan catatan askep/dokumentasi terutama dalam
pelaksanaan dan evaluasi keperawatan
10. Ka Tim membuat laporan tugas pada Ka Ru setiap akhir tugas
terutama keadaan umum pasien dan permasalahan yang ada.
11. Ka Tim memberi motivasi/bimbingan/reinforcement dengan PA
setiap hari
12. PP menggantikan tugas bila Ka Tim tidak ada
13. Ka Tim mengantikan tugas Ka Ru pada tugas S/M/HL
11
JUMLAH 13
100 = 84,6%
Persentase 84,6%

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi mengenai hubungan profesional antar staf keperawatan
di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas menyatakan bahwa hubungan antar
sesama perawat di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam kategori cukup (84,6%).

Tabel 2.32
Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Perawat
Dengan Pasien Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 Apri l2017
No VARIABEL YANG DINILAI Hari I Hari II Hari III

1. Ka. Ruang melakukan supervisi seluruh pasien yang


ada di ruangan tiap awal tugas
2. PP dan PA melakukan supervisi seluruh pasien yang
menjadi tanggung jawabnya segera setelah menerima -
operan tugas
3. PP menginformasikan peraturan dan tata tertib RS
yang berlaku pada tiap pasien atau keluarga pasien
4. PP mengenalkan perawat dalam satu group yang akan
merawat selama pasien di RS
5. PP atau PA melakukan visit/monitoring pasien untuk
mengetahui perkembangan pasien

6. PP memberi penjelasan tiap rencana tindakan atau
program pengobatan sesuai wewenang dan tanggung
jawabnya
7. Setiap akan melakukan tindakan perawatan PP atau
PA memberi penjelasan atas tindakan yang akan
dilakukan pada pasien/keluarga pasien
8 PP atau PA bersedia menerima konsultasi/keluhan
pasien/keluarga dan berupaya mengatasi
9. Pasien atau keluarga mengetahui siapa PP atau PA
yang bertanggung jawab selama pasien dirawat - -
10. PP atau PA memberitahu dan mempersiapkan pasien
yang akan pulang/melakukan discharge planning
JUMLAH 9 9 9

% % %
Prosentasi
= % = % = %
Prosentase Total 90%

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi mengenai hubungan profesional antar staf perawat
dengan pasiendi ruang Paviliun Wijayakusuma menyatakan bahwa hubungan perawat dengan
pasien di ruang Paviliun Wijayakusuma dalam kategori baik (90%).

Table 2.33
Pelaksanaan Admission Care
Di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
No Variabel yang dinilai Ya Tidak

1. Apakah perawat memberikan informasi tentang ruang perawatan. -


2. Apakah perawat memberikan informasi hak-hak dan kewajiban pasien. -
3. Perawat memberikan informasi tentang fasilitas ruangan dan cara -
penggunaan.
4. Perawat memberikan informasi tentang tata tertib kunjungan di rumah -
sakit.
5. Perawat memberikan informasi kepada keluarga pasien tentang petugas -
yang berjaga.
6. Perawat memberikan informasi tentang tarif pelayanan. -
7. Perawat memberikan informasi tentang peraturan dan tata tertib di -
rumah sakit .
8. Perawat memberikan gelang identitas. -
9. Perawat menjelaskan tentang cara mencuci tangan 6 langkah dan 5 -
moment.
10. Perawat melakukan assessment terhadap pasien dengan resiko jatuh. -
Jumlah
= %

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi mengenai pelaksanaan admission care di ruang Paviliun
Wijayakusuma RSUD Banyumas menyatakan bahwa pelaksanaan admission care di ruang
Paviliun Wijayakusuma dalam kategori kurang dengan hasil 60%.

Tebel 2.34
Pelaksanaan SP2KP Di Ruang Paviliun Wijayakusuma
RSUD Banyumas Periode 11-13 April2017
No Variabel yang Dinilai Hasil
1 Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang 91,6%
2. Pelaksanaan Tugas Ketua Tim 88%
3. Pelaksanaan Tugas Perawat Pelaksana 82,3%
4. Pelaksanaan pre conference 90%
5. Pelaksanaan post conference 50%
6. Pelaksanaan ronde keperawatan 0%
7. Pelaksanaan meeting morning 85,7%
8. Pelaksanaan timbang terima 74,4%
9. Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Perawat Dengan 88%
Dokter/Tim Kesehatan Lain
10. Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Perawat 84,6%
11. Penilaian Hubungan Profesional Antar Staf Perawat Dengan 90%
Pasien
12. Penilaian Admission Care 60%
Jumlah Prosentase 884,6%
, %
Rata rata
= , %

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi mengenai pelaksanaan SP2KP di ruang Paviliun
Wijayakusuma RSUD Banyumas menyatakan bahwa pelaksanaan SP2KP di ruangan dalam
kategori cukup (73,7%).

d. Pengendalian
1) Indikator Mutu
a) Kajian Teori
Mutu pelayanan rumah sakit perlu untuk ditingkatkan dengan
pendekatan sistem, menurut Kemenkes (2001), bahwa penilaian mutu terbagi
atas input/struktur, proses, dan outcame. Struktur meliputi peralatan dan
sarana fisik, keuangan, organisasi, dan sumber daya kesehatan lainnya. Baik
tidaknya struktur sebagai input yang dapat diukur dari jumlah besernya input,
mutu struktur atau mutu input, besarnya anggaran biaya, kewajaran. Mutu
asuhan keperawatan adalah suatu keselarasan antara perawatanaktual dan
kriteria yang telah dibentuk sebelumnya (Pramuditya, 2013). Mutu dinilai
dari proses pelaksanaan asuhan keperawatan, kepuasan pasien dan keluarga
pasien serta kegiatan tindakan yang sesuai dengan SPO di ruang Paviliun
Wijayakusuma.
Selain dari kajian data di atas mutu pelayanan keperawatan dapat
dinilai dari indikator. Indikator adalah pengukuran tidak langsung suatu
peristiwa atau kondisi. Indikator juga mempunyai arti variable yang
menunjukkan satu kecenderungan system yang dapat dipergunakan untuk
mengukur perubahan (Green,1992). Sedangkan WHO (1981) menguraikan
indikator adalah variable untuk mengukur suatu perubahan baik langsung
maupun tidak langsung.
Sedangkan indikator klinik adalah ukuran kualitas sebagai pedoman
untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas asuhan pasien dan berdampak
terhadap pelayanan (Direktori Bina Pelayanan Keperawatan, Dirjen Bina
Pelayanan Medik Depkes RI, 2008).
Karakteristik suatu indikator adalah:
(1) Sahih (Valid)
(2) Dapat dipercaya (reliable)
(3) Peka (sensitive)
(4) Spesifik (Spesific)
(5) Berhubungan (Relevan)
Pada tahap pertama ditetapkan indikator mutu pelayanan keperawatan
klinik sebagai berikut:
(1) Keselamatan pasien (patient safety)
Pasien aman dari kejadian jatuh, dekubitus,kesalahan pemberian obat
dan cedera akibat restrain.
(2) Perawatan diri
Kebersihan dan perawatan diri merupakan kebutuhan dasar manusia
yang harus terpenuhi agar tidak timbul masalah lain sebagai akibat
daritidak timbul masalah lain sebagai akibat dari tidak terpenuhinya
kebutuhan kebersihan dan perawatan diri, misalnya penyakit kulit, rasa
tidak nyaman, infeksi saluran kemih, dekubitus dan lain-lain.
(3) Kepuasan pasien
Tingginya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan
tercapai bila terpenuhinya kebutuhan pasien/ keluarga terhadap
pelayanan keperawatan yang diharapkan.
(4) Kecemasan
Kecemasan adalah perasaan individu dan pengalaman subjektif yang
tidak diamati secara langsung dan perasaan tanpa objek yang spesifik
dipacu oleh ketidaktahuan dan didahului oleh pengalaman yang baru
(Stuart and Sunddeen, 1998).
(5) Kenyamanan
Rasa nyaman (comfort) adalah bebas dari rasa nyeri atau rasa terkontrol.
(6) Pengetahuan
(7) Discharge planning
Discharge planning adalah suatu proses yang dipakai sebagai
pengambilan keputusan dalam hal memenuhi kebutuhan pasien untuk
kesempurnaan kepindahan pasien dari satu tempat perawatan ke tempat
lainnya. Dalam perencaan, pemulangan, pasien dapat dipindahkan ke
rumahnya sendiri atau keluarga, fasilitas rehabilitasi, nursing home,
hospiece, homecare atau tempat-tempat lain di luar rumah sakit.
Infeksi nosokomial ini dapat menyebar melalui beberapa jalur
yaitu jalur kontak, jalur droplet dan jalur debu. Jalur kontak dibagi atas
kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung adalah adanya
kontak fisik langsung antara jalur penyebaran yang paling sering,
misalnya melalui tangan perawat, alat medis atau darah (Depkes RI,
2003).

2) Efisiensi Ruang Rawat


a) Kajian Teori
Efisiensi pelayanan meliputi 4 (empat) indikator mutu pelayanan
kesehatan Rumah Sakit, yang meliputi:
(1) BOR (Bed Occupancy Rate), menunjukkan seberapa jauh pemakaian
tempat tidur yang tersedia di Rumah Sakit dalam jangka waktu tertentu.
Standar nasional untuk RSU dalam satu tahun adalah 75 85%.
Perhitungan BOR:

BOR = Jumlah hari perawatan x 100%


Jumlah TT x hari perawatan/periode

(2) LOS (Length Of Stay), menunjukkan lama waktu yang dirawat pada
setiap pasien. Waktu rawat yang baik maksimum 12 hari. Standar
Nasional untuk Rumah Sakit dalam satu tahun adalah 7 10 hari.
Perhitungan LOS:
LOS = Lama hari perawatan x 100%
Jumlah pasien keluar hidup atau mati
(3) TOI ( Turn Over Internal ), menunjukkan waktu rata-rata suatu tempat
tidur kosong atau waktu antara satu tempat tidur ditinggalkan oleh
pasien sampai dengan diisi lagi. Standar 1-3 hari untuk RSU dalam
satu tahun
Perhitungan TOI :
TOI = Jumlah hari rawat x 100%
Jumlah tempat tidur

(4) BTO ( Bed Turn Over ), menunjukkan frekuensi pemakaian tempat tidur
rumah sakit satu satuan waktu tertentu. BTO menggambarkan tentang
tingkat pemakaian tempat tidur. Standar 4 45 kali untuk RSU dalam
satu tahun, sedangkan yang baik lebih dari 40 kali (Djojodibroto, 1997).

Tabel 2.36
Standar Indikator Efisiensi
Ruangan Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode Januari Maret 2017
NO INDIKATOR STANDAR
1 BOR 70 - 85% (Depkes)
2 LOS 6 - 9 Hari (Depkes)
3 TOI 1 - 3 Hari (Depkes)
4 BTO 30 /40 kali(Depkes)
b) Kajian Data

Tabel 2.37
Efisiensi Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Bulan Januari - Maret 2017
No Bulan Indikator
BOR LOS TOI BTO NDR GDR
1. Januari 88,59 % 5 1 6 2,67 % 4,00 %
2. Februari 69,76 % 6 2 5 3,39 % 3,39 %
3. Maret 74,69 % 6 2 5 1,67 % 1,67 %
Jumlah 233,04 17 5 16 7,73 % 9,04 %
%
Rata rata 77,68 % 5 1 5 2,6 % 3,02 %
Sumber: Laporan Statisitik Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Analisa :
(1) BOR di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas selama Januari - Maret
2017 rata-rata jumlah BOR adalah 77,68 % dan dengan demikian apabila
dibandingkan dengan standar nasional 70 85%, maka pemakaian tempat tidur
yang tersedia di ruang Paviliun Wijayakusuma pada Januari - Maret 2017 masih
tercukupi.
(2) LOS (lama rata-rata hari perawatan) pasien di Ruang Paviliun Wijayakusuma
RSUD Banyumas bulan Januari - Maret 2017 yaitu 5 hari hal ini menunjukkan
lama rata-rata hari dalam kategori baik karena semakin sedikit lama hari
perawatan maka akan semakin baik.
(3) TOI (waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong) di Ruang Paviliun Wijayakusuma
RSUD Banyumas bulan Januari - Maret 2017 adalah 1 hari, hal ini menunjukkan
bahwa ruang Paviliun Wijayakusuma sangat diminati atau dibutuhkan pasien.
(4) BTO (frekuensi pemakaian tempat tidur) di Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD
Banyumas pada bulan Januari - Maret 2017 adalah 16 kali yang artinya pemakaian
tempat tidur sangat sering dipakai.

3) Dokumentasi Asuhan Keperawatan/Instrumen A


a) Kajian Teori
(1) Pengertian
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) adalah uraian pernyataan
tingkat kinerja yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan
hasil dapat dinilai. Hubungan kualitas dan standar menjadi dua hal yang
saling terkait erat, karena melalui standar dapat dikuantifikasi sebagai
bukti pelayanan meningkat dan memburuk (Wilkinson, 2006).
(2) Tujuan
Tujuan ditetapkan standar asuhan keperawatan diantaranya
berdasarkan Sitorus (2006):
(a) Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dengan memusatkan
upaya dan meningkatkan motivasi perawat terhadap pencapaian
tujuan.
(b) Mengurangi biaya asuhan keperawatan dengan mengurangi kegiatan
perawat yang tidak penting terhadap kebutuhan pasien.
(c) Memberikan landasan untuk mengantisipasi suatu hasil yang tidak
memenuhi standar asuhan keperawatan atas kelalaian petugas.
(3) Manfaat SAK
(a) Dalam praktek klinik : memberikan serangkaian kondisi untuk
mengevaluasi mutu asuhan keperawatan dan juga alat pengukur
mutu penampilan kerja perawat yang sangat diperlukan sebagai
umpan balik dalam meningkatklan kinerja kerja perawat.
(b) Dalam administrasi pelayanan keperawatan : sebagai program
pengembangan staf dan mengidentifikasi isi dari program pelatihan.
(c) Dalam pendidikan keperawatan : membantu pendidikan
keperawatan dalam merencanakan kurikulum.
(d) Sebagai area riset dan penelitian keperawatan
(e) Dalam sistem pelayanan kesehatan secara umum, perawat dapat
menggunakan standar untuk mengkomunikasikan inti asuhan
keperawatan kepada konsumen dan profesi kesehatan yang lain
(Depkes RI, 2005)
(4) Indikator Standar Asuhan Keperawatan
Indikator standar asuhan keperawatan (Depkes, 2010) sebagai
berikut:
(a) Standar I Pengkajian Keperawatan
Hal ini berupa data anamnesa, observasi yang paripurna dan
lengkap serta dikumpulkan secara terus menerus tentang keadaan
pasien untuk menentukan asuhan keperawatan, sehingga data dalam
pengkajian bermanfaat bagi semua tim.
(b) Standar II Diagnosa Keperawatan
Yaitu respon pasien yang dirumuskan berdasarkan data status
kesehatan pasien, dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi
kehidupan pasien dan komponennya terdiri dari masalah, penyebab
dan gejala, bersifat aktual dan potensial dan dapat ditanggulangi
oleh perawat.
(c) Standar III Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksankan untuk menanggukangi masalah
sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan
tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. Dalam pembuatan rencana
keperawatan ini, perawat menyusun daftar masalah klien, yang
memerlukan intervensi keperawatan dalam urutan prioritas,
merumuskan hasil yang diharapakan serta menyusun intervensi
untuk mencapai hasil terebut. Disusun berdasarkan diagnosis
keperawatan, komponennya meliputi prioritas masalah, tujuan
asuhan keperawatan dan rencana tindakan.
(d) Standar IV Intervensi Keperawatan
Berupa pelaksanaan tindakan keperawatan yang ditentukan
dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal
yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan, serta
pemulihan kesehatan dengan mengikut sertakan keluarga.
(e) Standar V Evaluasi Keperawatan
Dilakukan secara periodik sistematik dan berencana untuk
menilai perkembangan pasien. Menentukan keberhasilan tindakan
keperawatan dan kebutuhan akan oerubahan rencana perawatan.
Evaluasi merupakan fase penilaian proses keperawatan yang
bertujuan untuk menilai kefektifan tindakan keperawatan dan
mengidentifikasi kemajuan klien terhadap pencapaian tujuan.
(f) Standar IV Catatan Asuhan Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam
sistem pelayanan kesehatan, karena adanya dokumentasi yang baik,
informasi mengenai keadaan kesehatan klien dapat diketahui secara
berkesinambunga. Disamping itu dokumentasi merupakan dokumen
legal tentang pemberian asuhan keperawatan.
Prinsip prinsip dokumentasi keperawatan menurut Allen
(2008) yaitu:
(a) Tersedia format untuk dokumentasi.
(b) Dokumentasi dilakukan oleh orang yang melakukan tindakan
atau mengobservasi langsung.
(c) Dokumntasi dibuat segera setelah melakukan segera.
(d) Catatan dibuat kronologis.
(e) Penulisan singkatan dilakukan secara umum.
(f) Mencantumkan tanggal, waktu, tanda tangan dan inisial penulis.
(g) Dokumentasi akurat, benar, komplit jelas, dapat dibaca.
Tujuandokumentasi keperawatan adalah sebagai berikut :
(a) Sebagai sarana komunikasi.
(b) Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat.
(c) Sebagai informasi stastistik.
(d) Sebagai sarana pendidikan.

b) Kajian Data
Tabel 2.38
PROSES ASKEP (Instrumen A)
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
Persentase
RM
No Aspek yang dinilai (%)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pengkajian
a. Data yang dikaji sesuai
%

dengan pedoman = , %
pengkajian - - -
b. Data dikelompokan (bio-
sosio-spiritual)
c. Data dikaji sejak pasien
masuk sampai pulang - -
d. Masalah dirumuskan
berdasar kesenjangan antar
status kesehatan dengan
norma dan pola fungsi
kehidupan
2 Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan
% =
berdasar masalah yang
telah dirumuskan 79,1%
b. Diagnosa keperawatan - -
mencerminkan PE/PES
c. Merumuskan diagnosa - - -
keperawatan aktual/
potensial/sindroma/
kesejahteraan

3 Perencanaan
%
a. Berdasar diagnosa
keperawatan =
b. Disusun berdasar urutan 70,8%
prioritas
c. Merumuskan tujuan - - - - - -
mengandung komponen
pasien / subyek,
perubahan, perilaku,
kondisi pasien dan atau
kriteria waktu
d. Rencana tindakan mengacu
pada tujuan dengan
kalimat perintah, terinci - - - - - - - -
dan jelas
e. Rencana tindakan
menggambarkan
keterlibatan pasien /
keluarga
f. Rencana tindakan
menggambarkan kerja
sama dengan tim kesehatan

4 Tindakan
% =
a. Tindakan dilaksanakan - - - -

mengacu pada rencana 65,6 %


keperawatan
b. Perawat mengobservasi - - -
respon pasien terhadap
tindakan keperawatan
c. Revisi tindakkan - -
berdasarkan hasil evaluasi
d. Semua tindakan yang telah - -
dilakukan dicatat ringkas
dan jelas
5 Evaluasi
%
a. Evaluasi mengacu pada
tujuan =
b. Evaluasi dilaksanakan 100%
secara terus menerus
(setiap operan jaga)
c. Hasil evaluasi dicatat

6 Catatan
%
a. Keadaan umum pasien
b. Rencana program terapi/ =
tindakan medis 100%
c. Rencana asuhan
keperawatan
d. Nutrisi/diit
e. Aktivitas pasien

Jumlah total presentase 83,3%

Tabel 2.39
Hasil Evaluasi SAK dengan Instrumen A
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
ASPEK YANG
NO HASIL (%) KETERANGAN
DINILAI
1 Pengkajian 84,3% Baik
2 Diagnosa 79,1% Baik
3 Perencanaan 70,8% Cukup
4 Tindakan 65,6% Cukup
5 Evaluasi 100% Baik
6 Catatan Asuhan 100% Baik
Keperawatan
Rata-Rata 83,3% Baik

Analisa :
Hasil Observasi diatas menunjukan pelaksanaan proses standar asuhan
keperawatan (SAK) di ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas termasuk
dalam kategori baik (83,3%), namun pada pelaksanaan perencanaan dan tindakan
masih dalam kategori cukup dengan persentase 70,8% dalam aspek perencanaan dan
65,6% dalam aspek tindakan.
4) Mutu Pelayanan Keperawatan / Instrument B
a) Kajian Teori
Mutu pelayanan keperawatan sebagai indikator kualitas pelayanan
kesehatan menjadi salah satu faktor penentu citra institusi pelayanan
kesehatan di mata masyarakat. Hal ini terjadi karena keperawatan merupakan
kelompok profesi dengan jumlah terbanyak, paling depan dan terdekat
dengan penderitaan, kesakitan, serta kesengsaraan yang dialami pasien dan
keluarganya. Salah satu indikator dari mutu pelayanan keperwatan itu adalah
apakah pelayanan keperawatan yang diberikan itu memuaskan pasien atau
tidak. Kepuasan merupakan perbandingan antara kualitas jasa pelayanan
yang didapat dengan keinginan, kebutuhan dan harapan (Tjiptono, 2001
dalam Nursalam, 2012).
Pelaksanaan kegiatan jaminan mutu pelayanan keperawatan di rumah
sakit dapat pula dilakukan dalam bentuk kegiatan pengendalian mutu.
Kegiatannya dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pengendalian mutu.
Kegiatannya dapat dilaksanakan dalam dua tingkat yaitu tingkat rumah sakit
dan tingkat ruang rawat. Tingkat rumah sakit dapat dilaksanakan dengan cara
mengembangkan tim gugus kendali mutu yang memiliki program baik
jangka pendek maupun jangka panjang. Ada 6 indikator utama kualitas
pelayanan kesehatan di rumah sakit, yaitu :
(1) Keselamatan (patient safety), yang meliputi : angka infeksi nosokomial,
angka kejadian pasien jatuh/ kecelakaan, skabies, kesalahan dalam
pemberian obat, dan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
kesehatan.
(2) Pengelolaan pasien lari dan kenyamanan.
(3) Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan.
(4) Perawatan diri.
(5) Kecemasan pasien.
(6) Perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan) pasien.
Berdasarkan Andyani (2009), kesempatan berkarir, upah, dan fasilitas
lingkungan kerja merupakan aspek yang berhubungan dengan kepuasan kerja
dan produktifitas karyawan.
Pemberian pelayanan keperawatan yang holistic (Bio, Psiko, Sosio dan
spiritual) merupakan bentuk pelayanan prima dalam praktik asuhan
keperawatan (Puspitasari, 2009). Oleh karena itu, dalam hal ini diharapkan
agar dapat dipertahankan indikator kepuasan pasien yang sudah berjalan
optimal dan ditingkatkan indikator kepuasan pasien yang masih belum
berjalan optimal.

b) Kajian Data
Tabel 2.40
Kepuasan Pasien Dan Keluarga (Instrumen B)
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017

NO KRITERIA YA TIDAK
jml % Jml %
1 Apakah perawat selalu memperkenalkan diri. 11 2
2 Apakah perawat melarang anda / pengunjung
12 1
merokok diruangan.
3 Apakah perawat menanyakan bagaimana nafsu
10 3
makan anda / keluarga anda.
4 Apakah perawat pernah menanyakan pantangan
7 6
dalam hal makan anda / keluarga anda.
5 Apakah perawat menanyakan / memperhatikan
berapa jumlah makanan dan minuman yang bisa 9 4
anda/ keluarga anda habiskan.
6 Apakah anda / keluarga anda tidak dapat makan
0 13
sendiri, apakah perawat membantu menyuapinya.
7 Pada saat anda / keluarga anda dipasang infus,
apakah perawat selalu memeriksa cairan / tetesannya 11 2
dan area pemasangan jarum infus.
8 Selama anda / keluarga anda belum mandi (dalam
keadaan istirahat total) apakah dimandikan oleh 1 12
perawat
9 Apakah alat-alat tenun seperti seprei, selimut ,dll
12 1
diganti setiap kotor
10 Pada saat perawat membantu anda /keluarga anda
waktu buang air besar / buang air kecil apakah
perawat memasang sampiran/selimut, menutup pintu 3 10
atau jendela, mempersilahkan pengunjung keluar
ruangan
11 Selama anda/keluarga anda dalam perawatan apakah
perawat mengawasi keadaan anda/keluarga anda 13 0
secara teratur pada pagi, sore maupun malam hari
12 Apakah perawat selalu memberikan penjelasan
sebelum memberikan tidakan perawatan / 13 0
pengobatan
13 Apakah perawat bersikap sopan dan ramah 12 1
14 Apakah lantai kamar mandi/WC selalu bersih, tidak
13 0
licin, tidak berbau dan cukup terang
15 Dalam hal memberikan obat apakah perawat
7 6
membantu menyiapkan/meminumkan obat
16 Apakah anda/keluarga anda dibantu jika tidak
mampu menggosok gigi, membersihkaran mulut, 3 10
menggantikan pakaian /menyisir rambut
17 Selama anda/keluarga anda dalam perawatan apakah
12 1
perawat segera memberikan bantuan saat diperlukan
18 Apakah ruangan tidur anda/keluarga anda selalu
dijaga kebersihannya dengan disapu dan dipel setiap 12 1
hari
19 Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan
13 0
memperhatikan setiap keluhan anda/keluarga anda
20 Apakah perawat pernah memberikan penjelasan
11 2
akibat dari kurang bergerak, berbaring terlalu lama
21 Apabila anda/keluarga anda mengalami kesulitan
buang air besar, apakah perawat menganjurkan
10 3
makan buah-buahan, sayuran, minum yang cukup
dan banyak gerak
22 Selama anda /keluarga anda dalam perawatan apakah
12 1
perawat memanggil nama dengan benar
23 Apakah anda/keluarga anda mengetahuai perawat
10 3
yang bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas
24 Selama anda/keluarga anda dirawat apakah diberikan
penjelasan tentang perawatan / pengobatan /
13 0
pemeriksaan lanjutan setelah anda / keluarga anda
diperbolehkan pulang
25 Pada saat anda/keluarga anda masuk rumah sakit
apakah perawat menjelaskan tentang fasilitas yang
12 1
tersedia dan cara penggunaannya, peraturan, tata
tertib yang berlaku

x
Jumlah

100 %
242 137
%= = %
93%

Tabel 2.41
Kepuasaan Perawat
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
No Variable Jumlah
1 Gaji/ salary Ya Tidak
- Saya puas dengan sistem pemberian gaji di tempat saya bekerja 8 2
- Gaji yang diterima sesuai dengan tingkat pendidikan saya 8 2
2 Kondisi Kerja
- Saya merasa puas dengan kondisi lingkungan kerja saya 6 4
- Kondisi kerja sangat menyenangkan dan nyaman 9 1
3 Kebijakan Perusahaan
- Saya merasa tidak puas dengan cara RS menerapkan kebijakan 7 3
yang berlaku
- Sanksi yang diterapkan oleh RS tidak merugikan karyawan 7 3
4 Hubungan antar pribadi
- Tingkat kebersamaan diantara rekan kerja lebih memuaskan saya 10 0
- Rekan kerja saya di RS ini menyenangkan 10 0
5 Supervise
- Komunikasi dengan atasan sangat baik 10 0
- Atasan membantu dalam permasalahan yang menyangkut pekerjaan 10 0
6 Prestasi
- Saya puas dengan prestasi kerja saya saat ini 9 1
- Saya mendapatkan pengakuan yang selayaknya atas prestasi kerja
10 0
saya
7 Pengakuan
- Saya sangat dihargai ditempat kerja 10 0
- Atasan saya sangat menghargai hasil kerja saya 10 0
8 Pekerjaan Itu sendiri
- Pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai dengan job descripsion 9 1
- Saya bisa menyelesaikan tugas-tugas saya selama jam kerja 9 1
9 Tanggung jawab
- Saya merasa puas dengan tingkat tanggungjawab dalam pekerjaan
9 1
yang saya emban
- Sebagai perawat saya bertanggungjawab atas pekerjaan yang
10 0
diberikan kepada saya
10 Promosi / pengembangan karier
- Saya puas karena mendapat pelatihan yang sesuai untuk
9 1
mendukung pelaksanaan pekerjaan saya
- Kenaikan posisi/promosi/gaji ditandai dengan adil dengan
8 2
memperhatikan masa kerja, kinerja dan kemampuan.
Jumlah 178 22


Presentase X 100% = 89 %

Analisa :
Berdasarkan tingkat kepuasan keluarga pasien terhadap pelayanan yang
diberikan kepada pasien dan keluarga pasien di ruang Paviliun Wijayakusuma
termasuk dalam kategori baik (93%).
Sedangkan berdasarkan tingkat kepuasan kerja perawat di ruang Paviliun
Wijayakusuma yaitu perawat merasa puas dengan hasil yang didapatkan (89%).

5) Prosedur Tetap Tindakan / Instrumen C


a) Kajian Teori
Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah Suatu standar/ pedoman
tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu
kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar operasional prosedur
merupakan tata cara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui
untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry dan Potter, 2005).
Tujuan SOP (SOP Rumah Sakit Dr. Kariadi, 2011):
(1) Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja
petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.
(2) Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam
organisasi.
(3) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas
terkait.
(4) Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas dari malpraktek atau
kesalahan administrasi lainnya.
(5) Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan
inefisiensi.
b) Kajian Data
Berdasarkan observasi sejak tanggal 11 13 April 2017 dengan
menggunakan instrumen pelaksanaan penerapan standar asuhan keperawatan
di rumah sakit Banyumas pada tahun 2015.

Tabel 2.42
Standar Operasional Prosedur
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Memberikan Obat Melalui Suntikan
Kegiatan yang
No Aspek yang dinilai Perawat Keterangan
dilakukan
1 2 3 4 5

1 Memberikan A. Kriteria Persiapan


Obat Melalui
Suntikan
1. Spuit dispossible sesuai
kebutuhan
2. Kapas Alkohol 70%

3. Obat yang akan diberikan

4. Pasien diberi penjelasan

B. Kriteria Pelaksanaan

1. Cuci tangan - - -

2. Memperhatikan prinsip
aseptik
3. Membaca etika obat - - -

4. Membaca dosis obat - -

5. Memasukkan obat ke
dalam spuit, kemudian
udara dalam spuit
dikeluarkan
6. Mengatur posisi pasien

7. Menentukan daerah yang


disuntik
8. Mendesinfeksi kulit / area Tindakan injeksi
penyuntikan yang akan dilakukan lewat
disuntik sesuai dengan selang infus
teknik penyuntikan pasien tidak
langsung kekulit.
9. Memasukkan jarum sesuai
dengan teknik
penyuntikan
10. Melakukan aspirasi - - - -

11. Memasukkan obat dengan


perlahan-lahan
12. Memperhatikan respon
pasien
13. Mencabut jarum perlahan -
lahan
14. Mendesinfeksi kulit / area Tindakan injeksi
penyuntikan dengan kapas dilakukan lewat
alkohol 70% selang infus
pasien tidak
langsung kekulit.
15. Mencatat respon pasien
dan pemberian obat
16. Mencuci tangan

Sub total 18 18 17 18 16

Total

Persentase
% = %

Tabel 2.43
Standar Operasional Prosedur
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Pelaksanaan Pemberian produk darah
Kegiatan yang
No Aspek yang dinilai Perawat Ket
dilakukan
1 2 3 4 5

2 Pemberian produk A. Kriteria persiapan


darah (Tranfusi)

1. Cairan isotonik : Nacl 0,9 %

2. Produk darah

3. Transfusi set

4. Alkohol swab

5. Steril dressing

6. Sarung tangan

B. Kriteria pelaksanaan

1. Verifikasi order dokter

2. Lakukan informed consent


pasien
3. Kebersihan tangan

4. Ucapkan salam
assalamualaikum/selamat
pagi/selamat sore/selamat
malam
5. Perkenalkan diri - - - - -

6. Pastikan identitas pasien

7. Jelaskan tujuan, prosedur


tindakan, tanda dan gejala dari
reaksi transfusi
8. Jaga privasi pasien

9. Dekatkan alat ke pasien

10. Periksa produksi darah yang


telah disiapkan, tipe dan cross
match (jika dapat di pakai)
untuk resipien
11. Monitor tempat IV terhadap
tanda dan gejala dari infiltrasi,
phlebitis, infeksi lokal
12. Ganti infuse set dengan
transfusi set
13. Berikan Nacl 0,9 % kurang
lebih 100 cc
14. Berikan produk darah sesuai
order terapi
15. Monitor reaksi transfusi

16. Monitor kecepatan selama


aliran transfusi
17. Ganti transfusi set dengan - - - -
transfusi baru jika darah sudah
habis
18. Berikan cairan Nacl 0,9 %

19. Rapikan pasien, alat dan


lingkungan pasien
20. Bersihkan tangan

21. Dokumentasi tindakan

Sub total 25 26 25 25 25

Total 126

Prosentase
% = , %

Tabel 2.44
Standar Operasional Prosedur
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Mengukur Suhu Badan Di Ketiak
Kegiatan yang
No Aspek yang dinilai Perawat Jumlah
dilakukan
1 2 3 4 5
3 Mengukur suhu badan A. Persiapan
di ketiak
1. Termometer

2. Alkohol swab - - -
3. Bengkok - - - - -

4. Tissue - -

5. buku catatan suhu badan

B. pelaksanaan

1. kebersihan tangan

2. Ucapkan salam
assalamualaikum/selamat
pagi/selamat sore/selamat
malam
3. Pastikan identitas pasien

4. Perkenalkan diri - - - -

5. Jelaskan prosedur tindakan

6. Buka baju pasien

7. Keringkan ketiak dengan - - - - -


tissue
8. Pastikan termometer

9. Jepitkan termometer tepat


ditengan ketiak dan lengan
pasien diletakkan di dada
10. Biarkan selama 10 menit

11. Angkat termometer dan baca


hasilnya, catat dalam buku
12. Lap termometer dengan tissue - -

13. Bereskan alat

14. Pamitan dengan pasien

15. Kebersihan tangan sesuai


prosedur
16. Dokumentasikan hasil
tindakan
Sub total 18 18 16 16 18

Total 86

Jumlah
% = , %

Tabel 2.45
Standar Operasional Prosedur
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Menghitung Pernapasan
Kegiatan yang
No Aspek yang dinilai Perawat Ket
dilakukan
1 2 3 4 5
4 Menghitung A. Persiapan
pernapasan
1. Arloji tangan dengan petunjuk
detik
2. Buku catatan
B. Pelaksanaan
1. Kebersihan tangan - -
2. Ucapkan salam
assalamualaikum/selamat
pagi/selamat sore/selamat malam
3. Pastikan identitas pasien
4. Perkenalkan diri - - - - -
5. Hitung pernapasan dengan
memperhatikan irama napas selama
1 menti
6. Bereskan alat
7. Pamitan
8. Kebersihan tangan
9. Dokumentasikan hasil dalam buku
catatan dan rekam medis pasien
Sub total 10 10 9 10 9
Total 48
Jumlah
% = , %

Tabel 2.46
Standar Operasional Prosedur
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Mengukur Tekanan Darah
Kegiatan yang
No Aspek yang dinilai Perawat Jumlah
dilakukan
1 2 3 4 5
5 Mengukur Tekanan A. Persiapan
Darah
1. Tensi meter
2. Stetoskop

3. Buku catatan

B. Pelaksanaan

1. Kebersihan tangan

2. Ucapkan salam
assalamualaikum/selamat
pagi/selamat sore/selamat
malam
3. Pastikan identitas pasien

4. Perkenalkan diri - - - - -

5. Jelaskan prosedur tindakan - -

6. Buka dan gulung lengan baju


pasien
7. Pasang manset tensi meter
pada lengan atas dengan pipa
karetnya berada disisi luar
lengan
8. Pasang pompa tensi meter
9. Pasang pangkal stetoskop di
telinga
10. Raba arteri brachialis, lalu
membran stetoskop di
tempatkan pada daerah
tersebut
11. Tutup sekrup balon karet,
pengunci air raksa dibuka,
selanjutnya balon dipompa
sampai denyut arteri tidak
terdengar lagi dan air raksa di
dalam pipa gelas naik
12. Buka sekrup balon perlahan-
lahan sehingga air raksa turun
perlahan-lahan. Sambil
memperhatikan turunnya air
raksa dengarkan bunyi denyut
pertama.
13. Dengarkan terus sampai
denyutan yang terakhir
14. Rapikan pasien

15. Bereskan alat

16. Pamitan dengan pasien

17. Kebersihan tangan setelah


selesai melakukan tindakan
keperawatan
18. Dokumentasikan hasil
tekanan darah dalam buku
catatan
Sub total 20 20 19 20 19

Total 98

Jumlah
% = , %

Analisa :
Berdasarkan hasil observasi ruang Paviliun Wijayakusuma bahwa dari 5
tindakan yang dilihat dari kepatuhan SOP melakukan Memberikan Obat Melalui
Suntikan (87%), Pemberian produk darah (Tranfusi) (93,3%), Mengukur suhu badan
di ketiak (81,9%), Menghitung pernapasan (87%) dan Mengukur Tekanan Darah
(93,3%), dalam kategori baik
c) Kajian Data
Tabel 2.35
Penilaian Mutu Pelayanan Keperawatan
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
No Instrumen Hasil pengkajian
1. Instrumen A 83,3%
2. Instrumen B 91%
3. Instrumen C 86,3 %
Rata rata 86,8 %

Analisa:
Berdasarkan hasil observasi pada penilaian mutu pelayanan keperawatan di
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas didapatkan hasil 86,8 %.
6) Keamanan Pasien (Patient Safety)
a) Kajian Teori
(1) Pengertian
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu
sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem
tersebut meliputi: assessment risiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut diharapkan
dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang
seharusnya dilakukan. (Depkes RI, 2006).
Menurut Supari tahun 2005, patient safety adalah bebas dari
cidera aksidental atau menghindarkan cidera pada pasien akibat
perawatan medis dan kesalahan pengobatan.

Tujuan
(a) Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
(b) Meningkatnya akutanbilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat.
(c) Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.
(d) Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
Enam International Patient Safety Goals (IPSG) versi Joint
Commision International 2011
a) Identifikasi pasien dengan benar atau tepat.
Indikator melakukan identifikasi secara benar :
1) Pasien indentifikasi menggunakan dua identitas pasien, seperti
nama pasien dan tanggal lahir pasien, tidak termasuk nomor dan
lokasi kamar.
2) Pasien diidentifikasi sebelum melakukan pemberian obat,
tranfusi darah atau produk lainnya.
3) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan specimen
lain untuk keperluan pemeriksaan.
4) Pasien didentifikasi sebelum memberikan perawatan atau
prosedur lainnya.
- Setiap pasien yang masuk rawat dipasangkan gelang
identitas pasien.
- Ada 3 identitas yaitu menggunakan NAMA, TEMPAT
LAHIR dan NO RM yang disesuaikan dengan tanda
pengenal resmi. Pengecualian prosedur identifikasi dapat
dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan pasien di IGD,
ICU dan kamar operasi dengan tetap memperhatikan data
pada gelang identitas pasien.Gelang identifikasi apa saja
yang digunakan di rumah sakit.
- Gelang identitas
Pasien laki-laki : BIRU MUDA
Pasien perempuan : MERAH MUDA
- Gelang pasien resiko jatuh : KUNING
- Gelang alergi : MERAH
Langkah-langkah :
- Petugas meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal
lahir sebelum melakukan prosedur dengan pertanyaan terbuka,
contoh : tolong sebutkan tanggal lahir bapak.
- Jika pasien telah memakai gelang identitas, tetap dikonfirmasi
secara verbal.
- Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama identitas pasien dapat
ditanyakan kepada penunggu / pengantar pasien.
- Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama, gelang identitas
harus diperiksa kecocokannya dengan rekam medik oleh dua
orang staf.
b) Meningkatkan komunikasi efektif
Cara komunikasi yang efektif di rumah sakit:
- Perawat menggunakan tehnik SBAR (Situation Background-
Assessment- Recomendation) dalam melaporkan kondisi pasien
untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar pemberi
layanan.
Situation : kondisi terkini yang terjadi pada pasien.
Background : informasi penting apa berhubungan dengan
kondisi pasien terkini.
Assessment : hasil pengkajian kondisi pasien terkini
Recommendation : apa yang perlu dilakukan untuk
mengatasi masalah pasien saat itu.
- Komunikasi Verbal
Intruksi / laporan hasil tes secara verbal dan telepon ditulis
oleh penerima intruksi.
Untuk istilah yang sulit atau obat-obatan kategori LASA
(Look Alike Sound Alike) diminta
penerima pesan mengeja kata tersebut penghurup misalnya :
UBRETID.
c) Meningkatkan keamanan obat-obat dengan tindakan keperawatan
kewaspadaan tinggi.
Obat-obat yang termasuk HIGH ALERT medication :
- Elektrolit pekat : KCl, MgSO4, Natrium Bikarbonat, NaCl 0,3%.
- NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) / LASA (Look Alike
Sound Alike) yaitu obat-obat yang terlihat mirip dan
kedengaranya mirip.
Pengelolaan High Alert Medication :
- Penyimpanan di lokasi khusus dengan akses terbatas dan diberi
penandaan yang jelas berupa stiker berwarna merah bertuliskan
High Alert.
- NaCl 0,3% dan KCl tidak boleh disimpan di ruang perawatan
kecuali di Unit Pearawatan Intensif (ICU).
- Ruang perawatan yang boleh menyimpan elektrolit pekat harus
mematikan bahwa elektrolit pekat disimpan dilokasi dengan
akses terbatas bagi petugas yang diberi wewenang.
- Obat diberi penandaan yang jelas baerupa stiker warna merah
bertuliskan High Alert dan khusus untuk elektrolit pekat,
harus ditempelkan stiker yang dituliskan Elektolit pekat,
harus diencerkan sebelum diberikan.
- Pisahkan atau beri jarak penyimpanan obat dengan kategori
LASA.
- Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi dimeja dekat
pasien tanpa pengawasan.
- Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat
menerima / memberi instruksi.
d) Memastikan benar lokasi operasi, benar prosedur, dan benar pasien.
Indikator keselamatan Operasi :
- Menggunakan tanda yang mudah dikenali untuk identifikasi
lokasi operasi dan mengikutsertakan pasin dalam proses
penandaan.
- Menggunakan cheklist atau proses lain untuk verifikasi lokasi
yang tepat, dan pasien yang tepat sebelum operasi, serta seluruh
peralatan yang dibutuhkan tersedia benar dan berfungsi.
- Seluruh tim operasi membuat dan mendokumentasikan prosedur
time out sesaat sebelum prosedur time out sesaat sebelum
prosedur operasi dimulai.
Prosedur penandaan lokasi yang akan dioperasi:
- Orang yang bertanggung jawab untuk membuat tanda pada
pasien adalah operator/ orang yang akan melakukan tindakan.
- Operator yang membuat tanda itu hadir pada operasi tersebut.
- Penandaan titik yang akan dioperasi adalah sebelum pasien
dipindahkan ke ruang dimana operasi akan dilakukan.
- Tanda berupa X dititik yang akan dioperasi.

e) Mengurangi resiko infeksi terkait dengan pelayanan kesehatan.


Indikator usaha menurunkan Infeksi Nosokomial :
- Menggunakan panduan hand hygiene terbaru yang diakui umum.
- Mengimplementasikan program kebersihan tangan yang efektif.
- Semua petugas di rumah sakit termasuk dokter melakukan
kebersihan tangan pada 5 momen yang telahditemukan,yakni :
Sebelum kontak dengan pasien
Sesudah kontak dengan pasien
Sebelum tindakan asepsis
Sesudah terkena cairan tubuh pasien
Sesudah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
Ada 2 cara cuci tangan yaitu:
- Handwash dengan air mengalir.
Waktunya : 40-60 detik
- Handrub dengan gel berbasis alkohol.
Waktunya : 20-30 detik
f) Mengurangi resiko bahaya akibat pasien jatuh.
Indikator usaha menurunkan resiko cedera karena jatuh:
- Semua pasien baru dinilai resiko jatuhnya dan penilaian diulang
jika diindikasikan oleh perubahan kondisi pasien atau pengobatan
dan lainnya.
- Hasil pengukuran dimonitor dan ditindak lanjuti sesuai derajat
resiko jatuh pasien guna mencegah pasien jatuh serta akibat tak
terduga lainnya.
Langkah-langkah :
- Seluruh pasien rawat inap dinilai resiko jatuhnya dengan
menggunakan checklist penilaian resiko.
- Pasien anak memakai formulir checklist penilaian resiko pasien
anak, skala humpty dumpty.
- Pasien dewasa memakai formulir : skala jatuh morse.
- Pasien geriatric memakai formulir :penilaian resiko jatuh pada
pasien geriatri.
- Pengkajian resiko di ulang dilakukan jika ada perubahan kondisi
atau pengobatan.
Urgensi Patient safety :
Tujuan utama rumah sakit adalah merawat pasien yang sakit
dengan tujuan agar pasien segera sembuh dari sakitnya dan sehat
kembali, sehingga tidak dapat ditoleransi bila dalam perawatan di
rumah sakit pasien menjadi lebih menderita akibat dari terjadinya
risiko yang sebenarnya dapat dicegah, dengan kata lain pasien harus
dijaga keselamatannya dari akibat yang timbul karena error. Bila
program keselamatan pasien tidak dilakukan akan berdampak pada
terjadinya tuntutan sehingga meningkatkan biaya urusan hukum,
menurunkan efisisiensi, dll.
g) Isu, Elemen, dan Akar Penyebab Kesalahan yang Paling Umum
dalam Patient safety :
- Lima isu penting terkait keselamatan (hospital risk) yaitu:
- Keselamatan pasien;
- Keselamatan pekerja (nakes);
- Keselamatan fasilitas (bangunan, peralatan);
- Keselamatan lingkungan;
- Keselamatan bisnis.
a. ElemenPatient safety :
- Adverse drug events(ADE)/ medication errors (ME)
(ketidakcocokan obat/kesalahan pengobatan)
- Restraintuse (kendali penggunaan)
- Nosocomial infections (infeksi nosokomial)
- Surgical mishaps (kecelakaan operasi)
- Pressure ulcers (tekanan ulkus)
- Blood product safety/administration (keamanan produk
darah/administrasi)
- Antimicrobial resistance (resistensi antimikroba)
- Immunization program (program imunisasi)
- Falls(terjatuh)
- Blood stream vascular catheter care (aliran darah
perawatan kateter pembuluh darah)
- Systematic review, follow-up, and reporting of
patient/visitor incident reports (tinjauan sistematis,
tindakan lanjutan, dan pelaporan pasien/pengunjung
laporan kejadian)
b. Most Common Root Causes of Errors (Akar Penyebab
Kesalahan yang Paling Umum):
- Communication problems (masalah komunikasi)
- Inadequate information flow (arus informasi yang tidak
memadai)
- Human problems (masalah manusia)
- Patient-related issues (isu berkenaan dengan pasien)
- Organizational transfer of knowledge (organisasi transfer
pengetahuan)
- Staffing patterns/work flow (pola staf/alur kerja)
- Technical failures (kesalahan teknis)
h) Standar Keselamatan Pasien
Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada Hospital
Patient safety Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision
on Accreditation of Health Organizations, Illinois, USA, tahun
2002), yaitu:
a. Hak pasien
Standarnya adalah pasien & keluarganya mempunyai
hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil
pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian
Tidak Diharapkan). Kriterianya adalah sebagai berikut:
- Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.
- Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana
pelayanan.
- Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan
penjelasan yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga
tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau
prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya
KTD.
i) Mendidik pasien dan keluarga
Standarnya adalah RS harus mendidik pasien & keluarganya
tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriterianya adalah keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat
ditingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah partner dalam proses
pelayanan. Karena itu, di RS harus ada sistim dan mekanisme
mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung
jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut
diharapkan pasien & keluarga dapat:
(a) Memberikan info yang benar, jelas, lengkap dan jujur.
(b) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab.
(c) Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
(d) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
(e) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS.
(f) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
(g) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.
j) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Standarnya adalah RS menjamin kesinambungan pelayanan dan
menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan dengan
kriteria sebagai berikut:
(a) Koordinasi pelayanan secara menyeluruh.
(b) Koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan
kelayakan sumber daya.
(c) Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi.
(d) Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan.
k) Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan
pasien.
Standarnya adalah RS harus mendisain proses baru atau
memperbaiki proses yang ada, memonitor & mengevaluasi kinerja
melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, &
melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP dengan
criteria sebagai berikut:
(a) Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan
(design) yang baik, sesuai denganTujuh Langkah Menuju
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
(b) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja.
(c) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif.
(d) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan
informasi hasil analisis.

l) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien


Standarnya adalah:
(a) Pimpinan dorong& jamin implementasi program Keselamatan
Pasien melalui penerapan 7 Langkah Menuju Keselamatan
Pasien Rumah Sakit.
(b) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif
identifikasi risiko Keselamatan Pasien& program mengurangi
KTD.
(c) Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar
unit & individu berkaitan dengan pengambilan keputusan
tentang Keselamatan Pasien.
(d) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk
mengukur, mengkaji, & meningkatkan kinerja Rumah Sakit
serta tingkatkan Keselamatan Pasien.
(e) Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinya
dalam meningkatkan kinerja Rumah Sakit&Keselamatan
Pasien, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program
keselamatan pasien.
b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko
keselamatan dan program meminimalkan insiden.
c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua
komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi.
d. Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden,
termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah,
membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian
informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal
berkaitan dengan insiden.
f. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis
insiden.
g. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela
antar unit dan antar pengelola pelayanan.
h. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan.
i. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi
menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi
efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan
pasien.
m) Mendidik staf tentang keselamatan pasien.
Standarnya adalah:
(a) RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara
jelas.
(b) RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan & memelihara kompetensi
staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan
pasien, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang
memuat topik keselamatan pasien.
b. Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap
kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas
tentang pelaporan insiden.
c. Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok
(teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan
kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
n) Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien.
Standarnya adalah:
(a) RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi
KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal.
(b) Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat, dengan
criteria sebagai berikut:
a. Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain
proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi
tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.
b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala
komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada.
b) Kajian Data
Data yang didapatkan dalam pelaksanaan pasien safety diruang
Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas didapatkan hasil:

Tabel 2.49
Pelaksanaan Patient Safety Identification
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11-13 April 2017
Observasi
No Variable
1 2 3
1. A. Kriteria persiapan
1. Terpasang identitas pasien
(nama, tgl lahir, no RM)
2. Pasien perempuan terpasang
gelang pink dan atau pasien
laki-laki terpasang gelang biru
3. Bila pasien alergi terpasang
gelang merah.
4. Bila pasien resiko jatuh terpasang
gelang kuning
5. Pada saat tindakan injeksi dan
pemberian produk darah perawat
menanyakan nama dan melihat
gelang penanda untuk
mencocokan.
2. B. Kriteria Pelaksanaan
1. Tanyakan nama pasien.
2. Lakukan pengecek gelang
identitas yang dipakai pasien
pada pasien sadar
Sub total 7 7 7
Total 21

Presentase % =100%

Tabel 2.50
Pelaksanaan Pasien Safety Komunikasi Efektif
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
Observasi
No Variable
1 2 3
1. A. Kriteria persiapan
1. Terdapat telepon di ruangan
2. Terdapat rekam medis pasien
2. B. Kriteria Pelaksanaan
1. Hasil konsultasi Via telepon
didokumentasikan dengan SBAR
2. Penerima instruksi via telepon dan
membacakan kembali instruksi yang
diberikan.
3. Adanya konfirmasi kembali dari
pemberian laporan.
4. Penerima menandatangani hasil
konsultasi.
Sub total 6 6 6
Total 18
Presentase
% = 100%

Tabel 2.51
Pelaksanaan Pasien Safety Hand hygiene
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
Observasi
No Variable
1 2 3
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1. A. Kriteria persiapan
1. Tersedia wastafel dengan kran
yang berfungsi dengan baik.
2. Terdapat sabun cair
3. Terdapat handuk kecil/ tissue
4. Terdapat handscrub
2. B. Kriteria Pelaksanaan
1. Perawat dapat melakukan cuci
tangan 6 langkah dengan benar
2. Perawat mencuci tangan 6
langkah benar sebelum ke pasien
3. Perawat mencuci tangan 6
langkah benar sesudah ke pasien
4. Perawat mencuci tangan 6
langkah benar setelah kontak
dengan cairan tubuh pasien
5. Perawat mencuci tangan 6
langkah benar setelah kontak
dengan lingkungan pasien
6. Perawat mencuci tangan 6
langkah benar sebelum
procedural aseptic
7. Perawat menjelaskan langkah
cuci tangan kepada keluarga
pasien
8. Keluarga pasien dapat melakukan
cuci tangan 6 langkah sebelum ke
pasien
Sub total 10 2 10 2 11 1
Total 31
Presentase
% = , %

Tabel 2.52
Pelaksanaan Pasien safety pemberian obat
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
Observasi
No Variable 1 2 3
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1. A. Kriteria persiapan
1. Adanya tempat obat high alert
2. Adanya daftar obat high alert
3. Adanya pemberian label nama obat
high alert
2. B. Kriteria Pelaksanaan
1. Double cek saat akan menggunkana
obat high alert
2. Pemisahan obat NORUM (Nama,
Obat, Rupa, dan Ucapan mirip)
3. Tidak menyimpan obat kategori
kewaspadaan tinggi di meja dekat
pasien tanpa pengawasan
4. Mencatat penggunaan obat high alert
pada buku catatan
Sub total 7 7 7
Total 21
Presentase
x 100% = 100%

Tabel 2.53
Pelaksanaan pasien safety resiko pasien jatuh
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
Observasi
No Variable 1 2 3
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1. A. Kriteria persiapan
1. Terdapat side rail pada tempat tidur
2. Terdapat tanda resiko jatuh
3. Terdapat gelang resiko jatuh
2. B. Kriteria Pelaksanaan
1. Melakukan identifikasi resiko jatuh
2. Memasang side rail pada tempat

tidur
3. Memasang gelang resiko jatuh \
4. Memasang tanda resiko jatuh pada
- - -
tempat tidur atau pintu
Sub total 6 1 6 1 6 1
Total 18

Presentase % = , %

Tabel 2.54
Pelaksanaan pasien safety operasi Tepat
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 13 April 2017
No Variable yang dinilai Observasi
11 12 13
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1. A. kriteria persiapan
1. Terdapat baju operasi
2.Terdapat informant concent
3.Terdapat gelang identitas
2. B. kriteria pelaksanaan
1.Memberikan informed concent
2.Menganjurkan pasien untuk berpuasa

sebelum dilakukan operasi
3.Periksa gelang identitas pasien
4.Memeriksa kembali penandaan daerah

operasi
Sub Total 7 7 7
Total 21
Persentase
% = %

Tabel 2.55
Monitoring evaluasi pelaksanaan pasien safety
di Ruang Paviliun wijayakusuma
pada tanggal 11 13 April 2017
NO VARIABEL YANG DINILAI HASIL
1 Identifikasi pasien 100%
2 Komunikasi efektif 100%
3 Kebersihan tangan 86,1%
4 Pemberian obat 100%
5 Resiko jatuh 85,7%
6 Operasi tepat 100 %
Jumlah Prosentase 95,3%

Analisa :
Berdasarkan data di atas tentang pasien safety di ruang Paviliun Wijayakusuma sudah
optimal dan termasuk dalam kategori baik (93%) yaitu untuk indikator identitifikasi pasien
(100%), komunikasi efektif (100%), pemberian obat (100%), hand hygiene (86,1%), operasi
tepat (100%) dan pencegahan resiko jatuh (85,7%) termasuk dalam kategori baik. Total
untuk pasien safety di ruang Paviliun Wijayakusuma yaitu termasuk dalam kategori baik
dengan Indikator tersebut lebih dari 75%. Namun, dikarenakan total pasien safety <100% dan
hal tersebut nilai mutlak maka terdapat masalah dalam penanganan pasien safety.

7) Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI)


a) Kajian Teori
Adapun 10 Pilar PPI adalah sebagai berikut:
1. Kebersihan tangan
Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di Rumah Sakit.
Menjaga kebersihan tangan dengan baik dan benar dapat mencegah
penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi nosokomial.
Kepatuhan terhadap kebersihan tangan merupakan pilar pengendalian
infeksi. Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah.
Dapat memakai antiseptik, dan air mengalir atau handrub berbasis
alkohol.
Kebersihan tangan merupakan prosedur terpenting untuk mencegah
transmisi penyebab infeksi (orang ke orang;objek ke orang). Banyak
penelitian menunjukkan bahwa cuci tangan menunjang penurunan insiden
MRSA, VRE di ICU.
Cuci tangan adalah menggosok air dengan sabun secara bersama-sama
seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas kemudian dibilas
di bawah aliran air (Larsan, 2005).

Kapan Mencuci Tangan


(a) Sebelum kontak dengan pasien.
(b) Sebelum tindakan aseptik.
(c) Setelah kontak dengan pasien.
(d) Setelah kontak dengan lingkungan pasien.
(e) Setelah terkena cairan tubuh pasien.
Alternatif Kebersihan Tangan
1. Handsrub berbasis alkohol 70%:
- Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas.
- Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau.
- Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml 100 ml alkohol 70 %)
- Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan air bersih mengalir dan
sabun harus dilakukan.
Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat
organik, sehingga jika tangan kotor harus mencuci
tangan sabun dan air mengalir.
Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan sabun dan
air mengalir.
Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama
efektifnya mencuci tangan sabun antimikroba (Pereira, Lee
dan Wade 2007).
Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit.
Enam langkah kebersihan tangan :
(a) Langkah 1 : Gosokkan kedua telapak tangan
(b) Langkah 2 : Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan
kanan, dan lakukan sebaliknya.
(c) Langkah 3 : Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan
saling menyilang.
(d) Langkah 4 : Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan
kanan dan lakukan sebaliknya.
(e) Langkah 5 : Gosok Ibu Jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan
secara memutar, dan lakukan sebaliknya.
(f) Langkah 6 : Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas
telapak tangan kiri, dan lakukan sebaliknya.
2. Penggunaan APD
Penggunaan secara rasional dan konsistensi APD yang tersedia serta
higiene sanitasi tangan yang menandai juga akan membantu mengurangi
penyebaran infeksi. Meskipun memakai APD dalah langkah yang paling
kelihatan dalam upaya pengendalian dan penularan infeksi, namun upaya ini
adalah yang terakhir dan paling lemah dalam hirarki kegiatan IPC. Oleh
karena itu jangan mengandalkan sebagai strategi utama pencegahan. Bila tidak
ada langkah pengendalian administratif dan rekayasa teknis yang efektif, maka
APD hanya memiliki manfaat yang terbatas.
3. Penatalaksanaan sterilisasi alat
Sterilisasi yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk
spora bakteri pada benda yang telah didekomentasi dengan tepat. Tujuan
sterilisasi yaitu untuk memusnahkan semua bentk kehidupan mikroorganisme
patogen termasuk spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran
dan perawatan yang dipakai. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih
metode sterilisasi yaitu sifat bahan yang akan disterilkan.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :
a. Sterilisasi dengan pemanasan kering
1) Pemijatan
2) Dengan cara udara panas kering
b. Sterilisasi dengan pemanasan basah
1) Dimasak dalam air biasa
c. Sterilisasi dengan penambahan zat-zat kimia
d. Sterilisasi dengan radiasi ultraviolet
e. Sterilisasi dengan filtrasi
Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan suatu proses dengan
metode tertentu dapat memberikan hasil akhir yaitu suatu bentuk
keadaan yang tidak dapat di tunjukan lagi adanya mikroorganisme hidup.
Metode sterilisasi cukup banyak, namun alternatif yang dipilih sangat
bergantung pada keadaan serta kebutuhan setempat. Apapun pilihan
metodenya, harus tetap menjaga kualitas hasil sterilisasi peralatan medis
perlu dijaga terus, meningat resiko kontaminasi kembali saat
penyimpanan dan terutama pada saat akan di gunakan dalam tindakan
medis. (Darmadi, 2008).
Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan seluruh
mikroorganisme, termasuk spora. Penguapan dengan tekanan, gas etilen
oksida (ETO) dan kimia merupakan agens sterilisasi yang paling umum
(Potter & Perry, 2000).
Langkah langkah sebelum melakukan proses sterilisasi
(a) Dekontaminasi : salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan
jumlah mikroorganisme pada benda mati (alat) sehingga aman
untuk di gunakan.
(b) Pencucian : suatu cara yang digunakan untuk menghilangkan /
memberisihkan kontaminan (debu, tanah, tinja, darah, pus atau
nanah dan sejumlah besar mikroorganisme) yang terdapat pada alat
atau bahan yang dicuci. Melakukan pencucian sebelum proses
disinfeksi dan sterilisasi adalah sangat di perlukan dan harus
dilakukan.
(c) Disinfeksi : suatu cara yang digunakan untuk membunuh /
menghilangkan / menghancurkan mikroba tapi dalam proses ini
tidak semua ini tidak semua mikroba dapat dihilangkan.
4. Pengolahan sampah
a. Pengertian
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan,
pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini
biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan
manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap
kesehatan, lingkungan, atau radioaktif dengan metode dan keahlian
khusus untuk masing-masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah
berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga
antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara
daerah perumahan dengan daerah industri.
Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukaan dan institusi di
area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daera,
sedngkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya
ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah
berbeda-beda tergantung banyak hal, diantaranya tipe zat sampah, tanah
yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area.
Tujuan Pengelolaan sampah yaitu
- Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis.
- Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan
bagi lingkungan hidup.
5. Penatalaksanaan linen
Pengertian linen adalah bahan / kain yang digunakan di rumah sakit untuk
kebutuhan pembungkus kasur, bantal, guling dan alat instrument steril lainnya.
6. Kesehatan karyawan
Keselamatan dan kesehatan adalah suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah
tenaga kerja pada khususnya, hasil karja dan budaya untuk menuju masyarakat
adil dan makmur. Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari
dan menggungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan.
7. Penempatan Pasien
Kamar tersendiri atau kohorting (penelitian tidak terbukti kamar tersendiri
mencegah HAIs). Kohorting adalah menempatkan pasien terinfeksi atau
kolonisasi patogen yang sama di ruang yang sama, pasien lain tanpa patogen
yang sama dilarang masuk.
8. Etika batuk
Batuk bukanlah suatu penyakit, batuk merupakan mekanisme tubuh pernapsan
dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi
ditenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.
Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dari segi baik dan
buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Etika batuk adalah tata cara
batuk yang baik dan benar, dengan cara menutup hidung dan mulut dengan
tisu atau lengan baju. Jadi bakteri tidak menyebar ke udara dan tidak menular
ke orang lain.
9. Teknik menyuntik yang aman
Jarum suntik adalah perangkat yang paling banyak menyebabkan luka bagi
petugas kesehatan .
a. Intruksi penyuntikan oleh dokter.
b. Persiapan meja suntik dengan tersedia diatasnya seperti kapas alkohol 70%
dalam wadah tertutup.
c. Persiapan pasien, cek ulang identitas pasien dan cek ulang riwayat alergi.
d. Persiapan obat, cek jenis obat, dosis obat, cara pemberian dengan intruksi
penyuntikan.
e. Lakukan tindakan aseptik antiseptik.
f. Lakukan penyuntikan.
g. Cara penyuntikan secara intravena langsung, tentukan vena mana yang
akan disuntik.
h. Tindakan lumbal pungsi
i. Suatu cara untuk mengambil cairan cerebro spinalis dengan menusuk
jarum pungsi pada celah tulang belakang antara L 3-4 dan antara L 4-5
dengan maksud untuk mengukur tekanan likuor dan mengurangi tekanan
tersebut bila perlu.

b) Kajian Data
Tabel 2.50
Monitoring Pelaksanaan PPI
DI Ruang Paviliun Wijayakusuma pada
Tanggal 11 13 April 2017
Jenis Hari Jumlah
No Indikator
Monitoring 1 2 3
1. Kebersihan a.Sarana kebersihan tangan handrub:
Tangan 1) Tersedianya Handscrub disetiap 3
troly tindakan.
2) Handrub tertera tanggal di buka. 3
Jumlah 6/6 x 100% = 100%
b.Sarana kebersihan tangan handwash:
1) Tersedia wastafel untuk cuci tangan. 3
2) Wastafel bersih bebas dari peralatan 3
lain.
3) Kran berfungsi dengan baik. 3
4) Tersedia sabun cuci tangan. 3
5) Tersedia tissu/handuk sekali pakai. 3
6) Tersedia tempat sampah non 3
infeksius / tempat handuk kotor.
Jumlah 18/18x100 = 100%
Rata - rata 100 %
2. Alat a.Sarana alat perlindungan diri
perlindungan 1) Sarung tangan tersedia dalam 3
diri (APD) tempatnya.
2) Masker tersedia dalam tempatnya. 3
Jumlah 6/6x100 = 100%
b.Kepatuhan penggunaan APD
1) Pemakaian sarung tangan sesuai 3
indikasi.
2) Pemakaian masker sesuai indikasi. 3

Jumlah 6/6x100 = 100%


Rata - rata 100%
3. Pengendalian a.Kebersihan Lingkungan
Lingkungan 1) Lantai dalam keadaan bersih. 3
2) Kaca dalam keadaan bersih. 3
3) Meja dalam keadaan bersih. 3
4) Lemari pasien bersih dan rapi. - - 1
5) Meja tindakan dalam keadaan bersih 3
dan rapi.
6) Botol infus yang tidak terpakai tidak 3
tergantung.
Jumlah 16/18x100 = 88,8%

b.Manajemen Limbah
1) Tersedia tempat sampah infeksius 3
berwarna kuning.
2) Tersedia tempat sampah non 3
infeksius berwarna hitam.
3) Tersedia jeligen di troly menyuntik. 3
4) Membuang sampah infeksius (kassa, 3
blood set, selang infus, kateter urine,
dll) ke tempat sampah infeksius /
kantong kuning.
5) Membuang sampah non infeksius 3
(kertas, tissu, plastik, pembungkus
spuit dll) ke tempat sampah non
infeksi / kantong hitam.
6) Membuang sampah benda tajam 3
(ujung infus set, spuit, jarum, pisau,
potongan ampul dll) ke tempat safety
box.
7) Semua tempat sampah isi dibuang. - 2
Jumlah 20/21x100 = 95,2%
Rata rata 86,8 %
4. Manajemen 1) Lemari penyimpanan linen bersih 3
Linen bebas dari debu dan tertutup.
2) Linen diganti setiap hari. 3

3) Membebaskan linen dari benda padat 3


dan benda tajam ketika memasukan
linen dalam kantong plastik.
4) Tidak meletakan linen di lantai. - 1

5) Linen infeksius dimasukan ke 3


kantong plastik kuning.
6) Linen non infeksius ke kantong 3
plastik putih.
7) Tidak menghitung ulang linen yang - 2
sudah di kantong plastik.
8) Pengirimkan linen kotor di masukan 3
dalam troly kotor (infeksius dan non
infeksius dipisahkan).

Jumlah 21/24x100 = 87,5%


5. Pemrosesan a.Fasilitas pemrosesan peralatan pasien
peralatan 1) Tersedia enzimatik dalam 3
pasien tempatnya.
2) Tersedia klorin dalam tempatnya. 3
3) Tersedia spill kid siap pakai. 3
4) Penempatan cairan B3 tersendiri 3
disertai MSDS nya.
Jumlah 12/12x100 = 100 %
B.Kepatuhan pemrosesan peralatan
pasien
1) Manset dicuci seminggu sekali atau - 2
bila kotor.
2) Stetoskop dibersihkan dengan - - 1
alkohol 70% setiap kali habis
dipakai.
3) Termometer dibersihkan setiap kali - 2
dipakai dengan alcohol 70%.
4) Proses Pre-Clining alat semikritikal 3
dan kritikal:
Rendam dengan enzimatik selama 5-
15 menit sesuai indikasi.
5) Proses Clining : cuci dengan air 3
mengalir sesuai dengan alatnya dan
dikeringkan.
6) DTT dengan kimiawi : rendam - 2
dalam cairan kimiawi 5-15 menit
sesuai indikasi.
7) Alat semikritikal dilakukan DTT - 2
atau sterilisasi suhu rendah.
8) Sterilisasi dilakukan di CSSD. 3
9) Alat steril tersimpan dalam tempat 3
bersih, tertera label ED.
10) Alat-alat semikritikal tersimpan 3
dalam pouches dan setiap pakai.
11) Penanganan tumpahan dengan 3
menggunakan spill kid infeksi.
Jumlah 27/33x100 = 81,8 %
Rata rata 81 %
6. Penempatan 1) Pasien Airborne deasease sesuai - - - 0
pasien tempatnya.
2) Pasien Imunosuprise sesuai - - - 0
tempatnya.
3) Kohorting. - - - 0
Jumlah 0/9x100 = 0%
7. Etika batuk 1) Menggunakan masker ketika sedang - 2
sakit batuk/flu.
2) Ada poster etika batuk. - - - 0
3) Karyawan / petugas patuh etika - 2
batuk.
4) Pengunjung patuh etika batuk - - - 0
Jumlah 4/12x100 = 33,3 %
8. Praktek 1) Tersedia kapas alkohol swab. 3
menyuntik 2) Semua obat injeksi berlebel. 3
aman 3) Bak instrumen dicuci dan 3
dibersihkan dengan alkohol 70%
sebelum dipakai.
4) Tidak menutup kembali spuit yang 3
telah digunakan.
5) Membuang jarum habis pakai ke 3
dalam safety box.
6) Obat injeksi multidos ampul di 3
masukan dalam spuit disimpan
dalam kulkas dan diberi identitas dan
tanggal.
Jumlah 18/18x100 = 100%
Total Persentase 73,58 %

Tabel 2.51
Monitoring Evaluasi Pelaksanaan PPI
DI Ruang Paviliun Wijayakusuma pada
Tanggal 11 13 April 2017
No Variabel yang Dinilai Hasil
1 Kebersihan tangan 100%
2 Alat23 pelindung diri (APD) 100%
3 Pengendalian lingkungan 86,8 %
4 Manajemen linen 87,5 %
5 Pemrosesan peralatan pasien 81 %
6 Penempatan pasien 0%
7 Etika batuk 33,3 %
8 Praktek menyuntik aman 100 %
Rata-Rata 73,58 %
Analisa :
Berdasarkan tabel diatas ditunjukan bahwa di ruang Paviliun Wijayakusuma
secara umum untuk pengendalian dan pencegahan infeksi (PPI) dapat di kategorikan
cukup (73,58 %). Pelaksanaan kebersihan tangan di ruang paviliun wijayakusuma
dapat di kategorikan baik, namun masih terdapat kekurangan yaitu dengan tidak ada
tempat handscrub dan cara cuci tangan yang benar diarea tempat umum. Penggunaan
APD perawat sudah baik (100%) artinya perawat sangan melindungi diri dari infeksi
nosocomial.
Pelaksanaan pengendalian lingkungan di ruang paviliun wijayakusuma juga
dapat di kategorikan baik (86,85%) dan manajemen linen (87,5%). Pemrosesan
peralatan pasien cukup yaitu hanya 81 % . Penempatan pasien terutama pasien yang
mengalami airbone desease atau imunosuprise hasil prosentasenya masih 0 %
mungkin karena ruangan paviliun merupakan bangsal umum kelas VIP, sehingga
untuk pengaturan tempat pasien yang mengalami airbone desease atau imunosuprise
belum termanajemen, penempatan pasien tersebut masih bergabung dengan pasien
yang non airbone desease atau imunosuprise, ini dapat menimbulkan pengendalian
dan pencegahan infeksi masih kurang atau sulit.
Etika batuk juga hasil prosentasenya kurang yaitu hanya 33,3% . Sebagian
perawat sudah melakukan atau memahami etika batuk , akan tetapi untuk pasien dan
keluarga pasien sangat kurang atau tidak mengetahui, ini dikarenakan pasien belum
memahami pentingnya etika batuk, padahal di area pasien terdapat poster etika batuk.
Sedangkan untuk praktek menyuntik aman sudah bagus prosentasenya 100%.
Sehingga aman dalam mencegah infeksi dari menyuntik. Total untuk PPI di ruang
Paviliun Wijayakusuma yaitu 73,58% dengan Indikator 56 % - 74% hal ini
menunjukkan kategori cukup. Namun, dikarenakan PPI < 100% dan hal tersebut nilai
mutlak maka terdapat masalah juga pada bagian PPI.
8) Pelaksanaan Standar Precaution
a) Kajian Teori
Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial dirumah sakit untuk
menghindari terjadinya infeksi selama pasien dirawat dirumah
sakit.Pelaksanaan upaya pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas
kewaspadaan universal, tindakan invasive, tindakan non invasive sterelisasi
dan disinfeksi. Standar precation atau kewaspaan universal adalah suatu
pedoman yang ditetapkan oleh center for disease control (CDC) tahun 1985
untuk pencegahan penyebaran dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui
darah dilingkungan dirumah sakit, maupun sarana kesehatan lain.
b) Kajian Data
Tabel 2.52
Pelaksanaan Kewaspadaan Standar
Ruang Paviliun WijayakusumaRSUD. Banyumas
Periode 11 13 April 2017
5 moment Kebersihan Tangan
No. Perawat Sub Total
1 2 3 4 5
1 P1 - 4
2 P2 - - 3
3 P3 5
4 P4 - 4
5 P5 - 4
6 P6 - 4
7 P7 - 4
8 P8 - 4
9 P9 - 4
10 P 10 5
11 P 11 - 4
12 P 12 - 4
13 P13 - 4
14 P14 5
15 P15 - - 3
16 P16 - 4
Total 65

Persentase % = 81,2 %

Keterangan:
1. Perawat mencuci tangan sebelum kontak dengan pasien
2. Perawat mencuci tangan sebelum melakukan tindakan aseptic
3. Perawat mencuci tangan setelah kontak dengan pasien
4. Perawat mencuci tangan setelah terkena cairan tubuh pasien
5. Perawat mencuci tangan setelah kontak dengan lingkungan pasien

Tabel 2.53
Pelaksanaan Kewaspadaan Standar
Ruang Paviliun Wijayakusuma RSUD Banyumas
Periode 11 -1 3 April 2017
Langkah Kebersihan Tangan
No. Pengunjung Sebelum Kontak Setelah Kontak
dengan Pasien dengan Pasien
1 P1
2 P2 -
3 P3 -
4 P4 -
5 P5
6 P6 -
7 P7 -
8 P8 -
9 P9
10 P 10 -
11 P 11 -
12 P 12 -
Jumlah 7 8
Prosentase 58,3 % 66,6%

Analisa Data :
Dari hasil observasi data tabel diatas menunjukan bahwa kewaspadaan standar
pada perawat di Ruang Paviliun Wijayakusuma termasuk dalam kategori baik
(81,2%). Sedangkan dari hasil observasi pada pengunjung/keluarga pasien yang
mencuci tangan sebelum kontak dengan pasien (58,3%) dan sesudah kontak dengan
pasien (66,6%) termasuk dalam kategori kurang. Hal tersebut menunjukkan
pengunjung/keluarga pasien dalam melakukan kewaspadaan standar belum optimal.
Namun, dikarenakan pasien safety dan termasuk salah satunya masuk dalam
pengurangan infeksi yaitu < 100% dan hal tersebut nilai mutlak maka terdapat
masalah.

A. Analisis SWOT
Langkah selanjutnya setelah dilakukan identifikasi masalah adalah melakukan
analisa SWOT.Analisa SWOT yang kelompok lakukan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
135

Analisis Swot

Internal Eksternal
No. Element
Strength Weakness Opportunity Threats
(Kekuatan) (Kelemahan) (Peluang) (Ancaman)

1. MAN 1. Terdapat perawat di ruang 1. Sebanyak 64,8% perawat 1. Adanya peluang 1. Adanya tuntutan tinggi dari
Paviliun Wijayakusuma masih berpendidikan DIII dilakukannya masyarakat untuk pelayanan
Ketenagaan
yang berpendidikan DIII 2. Kepala ruang belum penambahan tenaga lebih profesional.
keperawatan (64,8%) dan mendapat pelatihan perawat yg akan datang. 2. Banyaknya rumah sakit lain
Profesi Ners (29,4%). management kepala ruang 2. Adanya peluang perawat sebagai competitor.
2. Ruang Paviliun 3. Jumlah ruangan yang ada di untuk meningkatkan 3. Adanya SDM terlatih dari
Wijayakusuma 5 Paviliun Wijayakusuma jika kualitas kesehatan luar negeri/ asing.
Perawat memiliki full mencapai 30 bed pasien. 4. Banyaknya SDM yang sudah
pendidikan Ners nantinya, untuk tenaga 3. Peluang perawat untuk berpendidikan tinggi.
3. Adanya kepala ruang yang perawat baru ada 16 perawat. meningkatkan
berpendidikan Ners pendidikan dan
4. Sudah terdapat uraian tugas profesionalisme.
untuk masing-masing 4. Adanya kebijakan
jabatan. Pemerintah untuk
5. Untuk pendidikan non meningkatkan
formal, seluruh tenaga keprofesionalisasian
perawat sudah pernah dalam pelayanan
mengikuti pelatihan seperti keperawatan.
136

PPGD, BTCLS, Pelatihan


PPI Dasar, Pelatihan BHD
dan Pelatihan Pasien Safety
serta lainnya yang dapat
menunjang kinerja perawat
dalam memberikan
pelayanan kesehatan.

2. MATERIAL/ 1. Mempunyai peralatan yang 1. Belum terpakainya sarana 1. Adanya kebijakan 1. Karakteristik pasien yang
sarana dan cukup lengkap seperti dan dan prasarana secara pemerintah tentang semakin kritis dan sadar
prasarana semua perawat ruangan optimal. profesionalisasi akan pentingnya kesehatan
mampu menggunakannya. 2. Ada beberapa linen yang perawat. terhadap pelayanan
2. Ruang Paviliun jumlahnya kurang seperti 2. Adanya kesempatan keperawatan.
Wijayakusuma menjadi handuk cuci tangan dan untuk menambah alat- 2. Adanya kebijakan baru yang
ruang perawatan umum bantal jumlahnya masih alat lain yang diterapkan pemerintah
dengan kapasitas tempat kurang dari standar diperlukan. beresiko untuk mengubah
tidur 30 tempat tidur, tetapi 3. Beberapa prasarana seperti 3. Adanya penambahan suatu sistem yang bisa
yang baru layak untuk AC split, shower, dll kelengkapan sarana dan menaikkan ataupun
dipakai ada 16 kamar 4. Belum adanya manual prasarana diruangan. menurunkan pendapatan.
3. Adanya budaya organisasi prosedur untuk alat-alat
RSUD Banyumas yaitu elektronik
sukses peningkatan efisien 5. Kebutuhan mebeler masih
yang terdiri dari cukup, kurang banyak seperti
137

urgen, baik,irit, dan terawat tempat tidur pasien dan


(CUBIT) penunggu, meja teras, dan
4. Sarana dan prasarana rata - sofa
rata masih baru.

3. Metode (SAK / 1. Adanya bagian mutu 1. Tidak adanya SAK di 1. Adanya kebijakan 1. Adanya kebebasan pers yang
SOP) keperawatan yang ruangan. Sesuai 10 besar pemerintah tentang mengakibatkan mudahnya
mengelola SAK. penyakit. profesionalisasi perawat. penyebaran informasi ke
2. Pengelolaan jenjang 2. Belum lengkapnya SOP 2. Adanya kemauan pasien masyarakat luas.
pelatihan perawat ruang sesuai 10 besar tindakan maupun keluarga untuk 2. Perawat dituntut untuk
sudah ada. keperawatan seperti: mengikuti anjuran yang melakukan asuhan
3. Adanya SOP di ruang a. Discharge Planning diberikan oleh perawat. keperawatan pada pasien
Paviliun Wijayakusuma b. Manajemen hiperglikemi 3. Pengadaan seminar atau sesuai dengan SAK dan
sebanyak 162 c. Perawatan luka insisi workshop terkait SOP.
pelaksanaan SAK 3. Budaya dan keyakinan
4. Adanya SAK terbaru masyarakat yang tidak
sesuai 10 besar penyakit. mendukung pelayanan
5. Lengkapnya SOP sesuai kesehatan.
10 besar tindakan 4. Adanya tuntutan masyarakat
keperawatan. dalam penjelasan penyakit
sesuai dengan SAK yang
ada
5. Adanya tuntutan dari pihak
138

rumah sakit dalam


pengaplikasian SAK dan
SOP.

4. Proses 1. Tersedia fasilitas wastafel 1. Perawat, Pengunjung/ 1. Adanya akreditasi 1. Adanya tuntutan model
untuk cuci tangan (sumber keluarga pasien belum Rumah Sakit yang pelayanan keperawatan
- Pelaksanaan
air mengalir, tersedianya melakukan kewaspadaan berakreditasi B. profesional dilaksanakan
Kewaspadaa
sabun, lap tangan dan standar secara optimal. 2. Adanya tuntutan model sesuai dengan teori.
n Standar
handscrub) di ruangan. 2. Belum terpasangnya protap pelayanan keperawatan 2. Resiko terjadinya infeksi
- Pelaksanaan
2. Adanya filosofi RSUD 6 langkah cuci tangan dan 5 professional yang nosokomial pada pasien dan
pasien safety
Banyumas keselamatan, moment di area wastafel dilaksanakan sesuai keluarga pasien.
- SP2KP
kesembuhan, dan kepuasan 3. Pelaksanaan post dengan MPKP. 3. Adanya tuntutan terhadap
- Instrumen
pelanggan adalah conference ruang Paviliun 3. Dukungan manajemen mutu pelayanan keperawatan
ABC
kebahagiaan kami Wijayakusuma dalam dalam meningkatkan professional di Rumah Sakit.
- PPI
3. Adanya poster 6 langkah kategori kurang yaitu 50% mutu pelayanan. 4. Tuntutan pasien akan
cuci tangan yang benar dan 4. Belum adanya buku 4. Adanya tim supervisi keselamatan dan kenyamana
etika batuk sudah dipasang. panduan penerimaan pasien yang membawahi kepala dalam proses keperawatan.
baru ruang untuk mendukung
5. Pelaksanaan ronde program-program
keperawatan dalam kategori penunjang.
kurang dengan prosentase 5. Adanya mahasiswa ners
0% yang sedang praktik
6. Belum adanya leflet cuci manajemen keperawatan
139

tangan atau etika batuk untuk mengontrol


7. Tidak adanya SAK pelaksanaan patient
diruangan safety
8. Belum adanya poster atau 6. Lebih meningkatkan dan
protap pemrosesan alat menerapkan PPI
pasien 7. Adanya mahasiswa
9. Kurang lengkapnya SOP praktik yang menjalani
berdasarkan 10 besar stase manajemen
tindakan keperawatan keperawatan untuk
10. Belum ada tanda resiko meroleplaykan proses
jatuh pada tempat tidur atau pelaksanaan meeting
pintu morning, pre conference,
post conference dan
timbang terima.ronde
Keperawatan
140

STRATEGI SWOT

Internal Kekuatan: Kelemahan:


1. Terdapat perawat di ruang Paviliun 1. Sebanyak 64,8% perawat masih
Wijayakusuma yang berkualitas berpendidikan DIII, sedangkan
dengan pendidikan DIII Keperawatan sebesar 29,4% yang berpendidikan
dan Profesi Ners. ners S1.
2. Ruang paviliun vijayakusuma 5 2. Belum terpakainya sarana dan
Perawat memiliki pendidikan S1 Ners. prasarana secara optimal dan perlu di
Eksternal 3. Adanya kepala ruang yang telah tambahkan alat-alat lain yang
berpendidikan Ners. diperlukan.
Internal 4. Sudah terdapat uraian tugas untuk 3. Perawat, Pengunjung/ keluarga pasien
masing-masing jabatan. belum melakukan kewaspadaan
5. Mempunyai peralatan yang cukup standar secara optimal. Pada
lengkap dan semua perawat ruangan pengunjung/ keluarga pasien yang
mampu menggunakannya. mencuci tangan sebelum kontak
6. Ruang Paviliun Wijayakusuma dengan pasien termasuk dalam
menjadi ruang perawatan umum kategori kurang 58,3% dan sesudah
dengan kapasitas tempat tidur 30 kontak dengan pasien 66,6%, hal ini
tempat tidur terbagi menjadi, tetapi termasuk dalam kategori kurang dari
yang layak dipakai baru 16 kamar 100%. Hal tersebut menunjukkan
7. Adanya budaya organisasi RSUD pengunjung/keluarga pasien dalam
141

Banyumas yaitu sukses peningkatan melakukan kewaspadaan standar


Eksternal efisien yang terdiri dari cukup, urgen, belum optimal.
baik,irit, dan terawat (CUBIT). 4. Pelaksanaan post conference ruang
8. Adanya bagian mutu keperawatan Paviliun Wijayakusuma dalam
yang mengelola SAK. kategori kurang yaitu 50%
9. Pengelolaan jenjang pelatihan perawat 5. Pelaksanaan ronde keperawatan dalam
ruang sudah ada. kategori kurang dengan prosentase 0%
10. Tersedia 163 protap di ruang Paviliun 6. Sesuai 10 besar tindakan keperawatan,
Wijayakusuma ada beberapa SOP yang tidak ada
11. Tersedia fasilitas wastafel untuk cuci 7. Belum adanya buku panduan
tangan(sumber air mengalir, penerimaan pasien baru
tersedianya sabun, lap tangan dan 8. Belum adanya leaflet cuci tangan dan
handscrub) di ruangan. etika batuk
12. Adanya poster 6 langkah cuci tangan 9. Belum adanya manual prosedur untuk
yang benar dan etika batuk sudah alat-alat elektronik
dipasang. 10. Tidak adanya SAK diruangan
13. Adanya filosofi RSUD Banyumas 11. Belum adanya poster atau protap
keselamatan, kesembuhan, dan pemrosesan alat pasien
kepuasan pelanggan adalah 12. Kurang lengkapnya SOP berdasarkan
kebahagiaan kami 10 besar tindakan keperawatan
13. Belum ada tanda resiko jatuh pada
tempat tidur atau pintu
142

Peluang: SO :. WO :.
1. Adanya peluang dilakukannya pelatihan managemen
1. Mengoptimalkan seluruh peralatan yang 1. Meningkatkan PPI, post conference serta
untuk kepala ruang RSUD Bnayumas
ada di ruangan dengan tepat guna ronde keperawatan untuk kelengkapan
2. Adanya peluang perawat untuk meningkatkan kualitas
2. Optimalkan jumlah perawat dengan akreditasi, pendidikan dan
kesehatan pasien.
kebutuhan pasien serta dalam pelatihan profesionalisme.
3. Peluang perawat untuk meningkatkan pendidikan dan
dibidang kesehatan. 2. Meningkatkan kualitas pelayanan asuhan
profesionalisme.
3. Perawat dan mahasiswa bekerja sama keperawatan terhadap pasien.
4. Adanya kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan
dalam melaksanankan pasien safety dan 3. Lebih meningkatkan dan menerapkan
keprofesionalisasian dalam pelayanan keperawatan
pencegahan dan pengendalian infeksi komunikasi terapeutik terhadap
5. Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisasi
(PPI) untuk akreditasi dan peningkatan pasien/keluarga
perawat.
mutu pelayanan. 4. Lebih mengoptimalkan pelaksanaan post
6. Adanya kesempatan untuk menambah alat-alat lain
4. Mengoptimalkan fasilitas yang sudah conference
yang diperlukan
tersedia di ruangan..
7. Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisasi
5. Membantu antara perawat dan mahasiswa
perawat.
mengenai manajemen ruangan sesuai
8. Adanya kemauan pasien maupun keluarga untuk
dengan SP2KP.
mengikuti anjuran yang diberikan oleh perawat.
9. Pengadan seminar atau workshop terkait pelaksanaan
SAK
10. Adanya akreditasi Rumah Sakit yang berakreditasi B.
11. Adanya tuntutan model pelayanan keperawatan
professional yang dilaksanakan sesuai dengan MPKP.
12. Dukungan manajemen dalam meningkatkan mutu
143

pelayanan.
13. Adanya tim supervisi yang membawahi kepala ruang
untuk mendukung program-program penunjang.
14. Adanya mahasiswa ners yang sedang praktik
manajemen keperawatan untuk mengontrol
pelaksanaan patient safety
15. Adanya SAK terbaru sesuai 10 besar penyakit.
16. Lengkapnya SOP sesuai 10 besar tindakan
keperawatan.
17. Lebih meningkatkan dan menerapkan PPI
18. Adanya mahasiswa praktik yang menjalani stase
manajemen keperawatan untuk meroleplaykan proses
pelaksanaan meeting morning, pre conference, post
conference dan timbang terima.ronde Keperawatan
Ancaman : ST : WT :
1. Adanya tuntutan tinggi dari masyarakat untuk 1. Tingkatkan penerapan pencegahan
1. Optimalkan seluruh perawat ruang
pelayanan lebih profesional. dan pengendalian infeksi (PPI) untuk
Paviliun Wijayakusuma dalam hal
2. Banyaknya rumah sakit lain sebagai competitor. meningkatkan mutu pelayanan
pelatihan untuk memenuhi tuntutan dari
3. Adanya SDM terlatih dari luar negeri/ asing. keperawatan professional di Rumah
masyarakat dalam hal pelayanan yang
4. Karakteristik pasien yang semakin kritis dan sadar Sakit.
lebih professional.
akan pentingnya kesehatan terhadap pelayanan 2. Optimalkan protap Post conference,
2. Optimalkan pelaksanaan post conference
keperawatan. ronde keperawatan serta kepatuhan
untuk memenuhi tingkat kepercayaan
5. Adanya kebijakan baru yang diterapkan pemerintah tindakan keperawatan di ruang
pasien terhadap keamanan pelayanan
144

beresiko untuk mengubah suatu sistem yang bisa keperawatan. Paviliun Wijayakusuma untuk
menaikkan ataupun menurunkan pendapatan. 3. Memanfaatkan adanya wastafel dan mencegah menurunnya tingkat
6. Adanya kebebasan pers yang mengakibatkan poster 6 langkah 5 momen cuci tangan kepercayaan pasien terhadap
mudahnya penyebaran informasi ke masyarakat luas. untuk mengurangi infeksi pada pasien. keamanan pelayanan yang diberikan
7. Perawat dituntut untuk melakukan asuhan oleh perawat ruang Paviliun
keperawatan pada pasien sesuai dengan SAK. Wijayakusuma.
8. Budaya dan keyakinan masyarakat yang tidak 3. Optimalkan tingkat pendidikan
mendukung pelayanan kesehatan. perawat ruangan untuk memenuhi
9. Adanya tuntutan masyarakat dalam penjelasan tuntutan Pemerintah dalam hal
penyakit sesuai dengan SAK yang ada pelayanan yang lebih professional.
10. Adanya tuntutan dari pihak rumah sakit dalm 4. Tingkatkan penggunaan sarana dan
pengaplikasian SAK. prasarana yang ada dalam
11. Adanya tuntutan model pelayanan keperawatan pemenuhan pelayanan keperawatan
profesional dilaksanakan sesuai dengan teori. pasien, tingkatkan fasilitas peralatan
12. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien dan kesehatan yang dibutuhkan
keluarga pasien. 5. Optimalkan dalam pelaksanaan
13. Adanya tuntutan terhadap mutu pelayanan Kewaspadaan Standar langkah cuci
keperawatan professional di Rumah Sakit. tangan dan perhatikan 5 moment cuci
14. Tuntutan pasien akan keselamatan dan kenyamana tangan
dalam proses keperawatan.