Anda di halaman 1dari 2

BAB VI

PEMBAHASAN

Pengetahuan seseorang berperan penting dalam memberikan wawasan terhadap


pembentukan sikap orang tersebut untuk berpartisipasi terhadap kesehatan seperti mendonorkan
darahnya untuk menolong orang lain dan untuk keselamatan dirinya maupun orang lain.
Pengetahuan seseorang bersumber pada
(1) Kepercayaan berdasarkan tradisi, adat dan agama, adalah berupa nilai-nilai warisan nenek
moyang. Sumber ini biasanya berbentuk norma-norma dan kaidah-kaidah yang terkandung
pengetahuan yang kebenarannya boleh jadi tidak dapat dibuktikan secara rasional dan empiris,
tetapi sulit dikritik untuk diubah begitu saja. Jadi, harus diikuti dengan tanpa keraguan dengan
percaya. Pengetahuan yang bersumber dari kepercayaan cenderung bersifat tetap tetapi subjektif.
(2) Pengetahuan yang berdasarkan pada otoritas kesaksian orang lain, juga masih diwarnai oleh
kepercayaan. Pihak-pihak pemegang otoritas kebenaran pengetahuan yang dapat dipercayai
adalah orangtua, guru, ulama serta tokoh masyarakat. Apa pun yang mereka katakan benar atau
salah, baik atau buruk, indah atau jelek, pada umumnya diikuti dengan patuh tanpa kritik karena
kebanyakan orang telah mempercayai mereka sebagai orang-orang yang cukup berpengalaman
dan berpengetahuan lebih luas dan benar.
(3) Pengalaman indrawi. Bagi manusia, pengalaman indrawi adalah alat vital penyelenggaraan
kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan mata, telinga, hidung, lidah dan kulit, orang bisa
menyaksikan secara langsung dan bisa pula melakukan kegiatan hidup.
(4) Akal pikiran, ini bersifat rohani karena itu lingkup kemampuannya melebihi panca indra,
yang menembus batas-batas fisik sampai pada hal-hal yang bersifat metafisik. Oleh karena itu,
akal pikiran senantiasa bersikap meragukan kebenaran pengetahuan indriawi sebagai
pengetahuan semu dan menyesatkan.

Dari sumber pengetahuan inilah maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan
responden dari 57 orang terdapat 39 orang (68,4%) memiliki pengetahuan baik dan 18 orang
(31,6%) memiliki pengetahuan kurang. Tingginya partisipasi masyarakat dalam mendonorkan
darah salah satunya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan. Masyarakat yang tidak mempunyai
pengetahuan yang luas tentang donor darah, tidak akan termotivasi untuk berperan serta dalam
donor darah .