Anda di halaman 1dari 82

SAMPUL

PEMETAAN POTENSI BENCANA TANAH LONGSOR


BERDASARKAN ANALISIS SPASIAL SISTEM INFORMASI
GEOGRAFI (SIG)
STUDI KASUS: KABUPATEN KOLAKA TIMUR

SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN


MENCAPAI DERAJAT SARJANA (S1)

DIAJUKAN OLEH:

WA ODE SUWARDI
F1G1 12 040

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
DESEMBER
2016

i
Halaman Persetujuan

Skripsi

Pemetaan Potensi Bencana Tanah Longsor Berdasarkan


Analisis Spasial Sistem Informasi Geografi (SIG)
Studi Kasus: Kabupaten Kolaka Timur

Diajukan oleh:

Wa Ode Suwardi
FIG1 12 040

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. La Ode Ngkoimani, S.Pd, M.Si Erwin Anshari, S.Si, M.Eng


NIP. 19711231 199903 1 046 NIP. 19880628 201504 1 001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Teknik Geologi

Erzam Sahaluddin Hasan, S.Si, M,Si


NIP. 19700311 19989802 1 002

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kekhodirat Allah Subhanahu Wataala, atas

limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat dan salam selalu tercurahkan

kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, sebagai suri tauladan bagi umat

manusia.

Skripsi ini berjudul Pemetaan Potensi Bencana Tanah Longsor Berdasarkan

Analisis Spasial Sistem Informasi Geografi (SIG) Studi Kasus: Kabupaten

Kolaka Timur merupakan laporan hasil penelitian yang disusun secara seksama

berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dipadukan dengan teori yang telah

ada.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan lebih

detail mengenai tingkat bencana tanah longsor daerah penelitian, sehingga dapat

menjadi database bagi pemerintah setempat dalam rangka merencanakan

pembangunan daerah.

Melalui pengantar skripsi ini, tak lupa penulis menghaturkan rasa

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis (La Ode Ngaju

dan Wa Ode Kiaja) dan Ibunda tercinta ( Hj. Wa Ode Zaenab Hibi, dan Ny Wa

Kaebara), terimakasih atas doa dan dukunganya selama ini

Penulis juga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Dr. La Ode

Ngkoimani, S.Pd., M.Si., selaku pembimbing I dan Erwin Anshari, S.Si., M.Eng.,

selaku pembimbing II, yang telah meluangkan waktu,tenaga, pikiran, arahan dan

iii
motifasi sehingga berbagai kesulitan dapat teratasi, serta kepada tim penguji

Deniyatno, S.Si., MT, Jufri Karim, S.Pi.,M.Sc, serta Dr. Ir (Reg) Muh. Chaerul,

S.T.,S.Km, M.Sc., atas segala bimbingan, kritik dan saran yang diberikan kepada

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan tak lupa pula terimakasih kepada :

1. Rektor Universitas Halu Oleo, selaku pimpinan Universitas Halu Oleo.

2. Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo Prof.

Dr. Ir. Weka Widayati, M.S

3. Ketua Jurusan Teknik Geologi Erzam S. Hasan, S.Si, M.Si dan Sekretaris

jurusan Teknik Geologi Harisma Buburanda, S.T, M.T,.

4. Bapak dan ibu dosen di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi

Kebumian Universitas Halu Oleo yang telah mengajar, mendidik, dan

memberikan ilmu pengetahuan selama penulis menempuh pendidikan. Bapak

Asri Arifin, Suriawan Asfar, ST.,M.Si, dan yang tidak sempat di sebutkan

5. Saudara Kandung penulis La Ode Hamsa Alias, Wa Ode Irmawati Dahni,

AMk, Wa Ode Siti Aminah, Amd Kep, dan La Ode Agus Yaslim terimakasih

atas bantuannya baik moril maupun material khususnya doa dan motifasi

untuk penulis

6. Partner lapangan yang setia menemani dalam proses penelitian Adi Pangestu,

Alan Afandi dan Nurrahman Saputra, terimaksih telah membantu dilapangan

maupun proses penyelesaian skrispi ini

7. Ekstension Joint 2012 serta personil Jomblo area yang telah memahami,

menghibur, memotivasi menyayangi serta mengajarkan banyak hal, Ria

Ramayanti, Syahnaz Ayu Mentari, Viny Ariani, Andi Fitriyani, Jamilah

iv
midong, Eka Ardillah, Iken Farida, Rustiani, Hanifa, Feni Alfiani, Yusna

Sari, Ria Asria Indah Amalia Sasmita, Hikma Asri Sekar Sari, dan Kasria

Kasman, Erick Syarifuddin, Sevtho linggi allo, Efrianto, Muh. Syukron

Adriyansyah, Ahsan Hidayat, Muh. Nurhidayat, Abdiawan Hasan, Robin,

Taslim, Muh. Ridwan, Haldin, Muh. Alfaruk, Hajirin Ramadhan, Yogi Fadly

Yadi, pandi, Ikhsan, Dul Farni, Ahmad Jumardin, Alfian.

8. Anggota Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia Universitas Halu

Oleo, Erich Purnama, Moh. Suryiaidulman Rianse, Wahyu Darmawan, Suma

Fitra Aldillah, Ariadi, Muh. Apriajum, Esti Hermastuti, Nurlianti, La Ode

Muh. Zulkifli, Ham Karim Tumada, Arif Rahman Sinapoi, La Ode Abdul

Rahmat, Reinaldi Oska, Ahmad Rifai, Andriani, Marta Ayu Dita Nurbara

Samuna, dan yang tidak sempat di sebutkan.

9. Kakak Jeni Rahmat dan Dian Sari Reski yang senantiasa membantu,

Memotivasi dan Memberikan Pengarahan Kepada Penulis.

10. Teman-teman geofisika 2012, Dimas Sukadi Putra, Hasrul Abidin, Dodi,

Muh Reza Rifaldi, Widya Meita Christin, dan yang tidak sempat disebutkan

namanya serta teman-teman Reksos Dwi Cahyo Andiyanto, Septira Nur

Widia Absyah Saleh serta junior-junior pertambangan, Jalil, Miqdad, Awal,

Sawir, Nuzul, Yusuf, Alif, Fani, Hiro, Raemaka, Sidiq, Cucu, kiki, Ansar

Dan yang tidak sempat disebutkan semoga kita dipertemukan kembali dalam

keadaan yang berbeda.

11. Para Alumni, senior dan junior Teknik geologi.

v
12. Guru-Guru SMK Geologi Pertambangan yang telah memberikan arahan dan

motifasi kepada penulis.

13. Sepupu-sepupu yang senantiasa mengerti keadaanku , Wa Ode Wahyuni, Wa

Ode Hamriati, Wa Ode Siti Salwia, Wa Ode Nur Ila, Wa Ode siti Nur Baya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak

kekurangan, karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya semata. Oleh karena itu,

saran dan kritik yang positif sangat diperlukan untuk perbaikan skripsi ini.

Demikian pengantar ini, akhir kalam, Billahi Fii Sabililhaq, Fastabiqul

Khairat, WassalamualaikumWarahmatullahi Wabarakatu.

Kendari, Desember 2016

Penulis

vi
PEMETAAN POTENSI BENCANA TANAH LONGSOR BERDASARKAN
ANALISIS SPASIAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)
STUDI KASUS: KABUPATEN KOLAKA TIMUR

Wa Ode Suwardi
Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Halu
Oleo
waodesuwardi1@gmail.com
Sari

Penelitian ini terletak di kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara.


Tujuan dari peneitian ini adalah menentukan potensi bencana tanah longsor dan
Dapat menentukan sebaran potensi bencana tanah longsor di kabupaten Kolaka
Timur. Metode yang digunanakan dalam penelitian ini yaitu metode Overlay dan
Pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang. Penggunaan metode ini dengan
melihat nilai paling tertinggi dan nilai yang paling rendah, kemudian dibagi
dengan jumlah klasifikasi. Penelitian menggunakan lima parameter yaitu
kemiringan lereng, curah hujan, tata guna lahan, geologi, dan jenis tanah yang
masing-masing memiliki skor dan bobot, kemudian dilakukan overlay sehingga
menghasilkan peta potensi bencana tanah longsor. Terdapat 5 potensi bencana
longsor pada daerah penelitian yaitu potensi sangat tinggi dengan luas 35.63 km2
atau 0,8%, potensi tinggi dengan luas 1455.25 km2 atau 35,07%, potensi sedang
dengan luas 2145.04 km2 atau 51,69%, potensi rendah dengan luas 498.112 km2
atau 12%dan potensi sangat rendah dengan luas 15.14 km2 atau 0,36%. Sebaran
potensi bencana tanah longsor sangat tinggi paling luas terdapat pada Kecamatan
Uluiwoi dengan luas 11 Km2, dan yang paling sempit terdapat pada kecamatan
Loea dengan luas 0.3 Km2. Sebaran Potensi bencana longsor tinggi terluas pada
kecamatan Kecamatan Uluiwoi dengan luas 891.9 Km2 dan paling sempit terdapat
pada Kecamatan Loea dengan luas 22.67 Km2. Potensi bencana longsor sedang
terdapat pada kecamatan Lambandia dengan luas 418.89 Km2 dan pada
Kecamatan Loea 9.90 Km2. Sebaran potensi bencana tanah longsor rendah berada
di seluruh kecamatan sedangkan ancaman bencana tanah longsor sangat rendah
hanya terdapat pada beberapa kecamatan pada daerah penelitian.
Kata kunci : Potensi Longsor, Analisis Spasial, System Informasi Geografi

vii
MAPPING OF LANDSLIDE DISASTER POTENTIAL BASED OF
GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) SPATIAL ANALYSIS
CASE STUDY: EAST KOLAKA REGENCY

Department of Geological Engineering


Faculty of Earth Science Technology
Halu Olue Uneversity

waodesuwardi1@gmail.com

ABSTRAK

Located of this research area in the East Kolaka regency, Southeast Sulawesi
Province. The purpose of this research is to determine landslides potential and to
determine potential landslides distribution in the district of East Kolaka. Method
in this research is overlay methods and tired quantative weighted approach. This
method use to determine highest value and the lowest value, then divided by the
number of classifications. This research used five parameters: slope, rainfall,
land use, geology, and soil types, each of which has a score and weight, then be
overlaid to produce a potential landslides map. There are 5 potential of landslides
potential in the study area, there is very high potential area 35.63 km2 or 0,85%,
high potential area 1455.25 km2 or 35,07, broad potential area 2145.04 km2 or
51,69, low potential area 498 112 km2 or 12% and very low potential area 15,14
km2 or 0,36%. Distribution of very high landslides potential most widely found in
this district is 11 km2 in Uluiwoi sub district, and the narrowest is 0.3 km2 in
Loea sub district. High extensive landslides potential distribution is 891.9 Km2 in
Uluiwoi sub district and high narrowest 22.67 km2 in Loea. Moderate landslides
potential were found in Lambandia sub districts there is 418.89 km2 and 9.90 km2
in Loea Sub district. Distribution of landslides potential were lower in all sub
districts, while the threat of landslides is very low only in a few sub districts in the
research area.

Keyword : Potential Landslide, Spatial Analysis, geographic information system


(GIS)

viii
DAFTAR ISI

SAMPUL ................................................................................................................. i
Halaman Persetujuan ............................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................................. viii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii
Arti Lambang dan Singkatan ............................................................................... xiv
1. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan masalah......................................................................................... 2
C. Tujuan penelitian .......................................................................................... 3
D. Manfaat penelitian ........................................................................................ 3
2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 4
A. Geologi Regional ......................................................................................... 4
1. Geomorfologi Regional ............................................................................ 5
2. Stratigrafi Regional .................................................................................. 7
3. Struktur Regional ................................................................................... 11
B. Tanah Longsor ........................................................................................... 12
1. Faktor Penyebab Tanah Longsor ............................................................ 14
2. Faktor Pengontrol ................................................................................... 16
3. Faktor Pemicu ......................................................................................... 20
C. Sistem Informasi Geografis (SIG) ............................................................. 23
1. Cara Kerja SIG ....................................................................................... 24
2. Fungsi Analisis ....................................................................................... 25
3. Perangkat Lunak ArcView ...................................................................... 26
3. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................ 28

ix
A. Waktu Dan Tempat Penelitian ................................................................... 28
B. Jenis Penelitian ........................................................................................... 28
C. Bahan Atau Materi Penelitian .................................................................... 29
D. Instrumen Penelitian................................................................................... 29
E. Prosedur Penelitian..................................................................................... 30
F. Pengolahan Data Dan Analisis Hasil Penelitian ........................................ 31
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 35
A. Kondisi Umum Daerah Penelitian .................................................................. 35
B. Tingkat Rawan Longsor Daerah Penelitian .................................................. 49
C. Sebaran Tingkat Rawan Bencana Tanah Longsor ........................................ 58
5. PENUTUP ..................................................................................................... 63
A. Kesimpulan ................................................................................................ 63
B. Saran ........................................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 65

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1.Alat yang di gunakan dalam penelitian ....................................................29


Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian ...............................................30
Tabel 3. Klasifikasi intensitas curah hujan ( Puslit, 2004) ....................................31
Tabel 4. Klasifikasi Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1983) ............................. 32
Tabel 5. Klasifikasi Pemanfaatan Lahan (Karnawati,2003) ................................. 32
Tabel 6. Klasifikasi jenis tanah (Sobirin,2013) .....................................................32
Tabel 7. Nilai Skor Geologi ................................................................................. 32
Tabel 8. Bobot tiap parameter .............................................................................. 32

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pembagian Mandala Geologi Sulawesi ( Surono, 2010)........................4


Gambar 2. Bagian Selatan Lengan Sulawesi Dari Citra IFSAR (Surono,2013)......7
Gambar 3. Peta Geologi Lengan Tenggara Sulawesi ( disederhanakan Oleh
Rusman dkk, 1999) .............................................................................9
Gambar 4. Stratigrafi regional Lengan Tenggara Sulawesi (Rusmana dkk, 1993b;
Simandjuntak dkk, 1993a, b, c, Surono 1994) .......................................................10 10
Gambar 5. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya. Disederhanakan dari Silver
dkk. (1983) dan Rehahult dkk (1991). ...................................................................11
Gambar 6. Uraian subsistem-subsistem SIG (Eddy Prahasta, 2002) ....................24
Gambar 6. Lokasi Daerah Penelitian ....................................................................28
Gambar 7.Bagan Alir Penelitian ...........................................................................34
Gambar 8. Peta kemiringan lereng daerah penelitian ...........................................37
Gambar 9. Peta penggunaan lahan daerah penelitian ............................................39
Gambar 10. Peta jenis tanah daerah penelitian ....................................................41
Gambar 11. Peta geologi kabupaten daerah penelitian .........................................44
Gambar 13. Peta curah hujan daerah penelitian ....................................................46
Gambar 14. Peta tingkat rawan longsor daerah peneltian .....................................48
Gambar 15 (A) singkapan batuan sekis dengan Arah foto N1170E, (B) jenis tanah
podsolik dengan Arah foto N1170E, (C) kejadian longsor dengan
Arah foto N2200E ..............................................................................50
Gambar 16. (A) Singkapan batuan sekis dengan arah foto N500E ........................51
Gambar 17. (B) kejadian longor dengan arah foto N3400E ...................................53
Gambar 18 (A)potensi longsor rendah arah foto N2260E dan (B) jenis
tanah podsolik Kecamatan Tinondo dengan arah foto N 3500E .....54
Gambar 19. Singkapan batuan beku (peridotit) dengan arah foto N 670E .............55
Gambar 20. Potensi longsor rendah dengan arah foto N170E................................56
Gambar 21. Persentase potensi bencana tanah longsor ..........................................59

xii
DAFTAR LAMPIRAN

xiii
Arti Lambang dan Singkatan

xiv
1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sutikno, 1997 menyatakan Bencana alam merupakan peristiwa alam yang

diakibatkan oleh proses alam, baik yang terjadi oleh alam itu sendiri maupun

diawali oleh tindakan manusia, yang menimbulkan resiko bahaya terhadap

kehidupan manusia baik harta benda maupun jiwa manusia. Karakteristik bencana

alam ditentukan oleh keadaan lingkungan fisik : iklim, topografi, geomorfologi,

geologi, tanah, tata air, penggunaan lahan, dan aktifitas manusia.

Sutikno (2001) menyatakan bahwa secara geologis, geomorfologis, dan

klimatologis indonesia selalu menghadapi bencana alam yang berupa: banjir,

kekeringan, longsoran, letusan gunungapi, gempa bumi dan tsunami. Kejadian

bencana alam di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu, baik jenis

maupun frekuensinya, demikian juga dengan kejadian yang dapat ditimbulkan.

Bencana alam longsor merupakan salah salah satu bencana alam yang

banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang sangat besar. Elifas

(1989) menyatakan bahwa secara umum longsoran dipengaruhi oleh lima

parameter yaitu: (1) kondisi geologi ( struktur, litologi, dan stratigrafi, (2)curah

hujan (lama dan intensitas hujan), (3) vegetasi (kondisi hutan), (4) gempa bumi

(lokasi episentrum dan besaran gempa), (5) eksploitasi oleh manusia (usaha

pertanian, dan pengembangan infra struktur).

Perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografis sekarang ini telah

memberikan manfaat pada berbagai bidang. Bidang bidang tersebut mencakup

1
2

tata ruang wilayah, pembangunan, sumber daya alam, geologi, militer, ekonomi,

pengawasan bencana, dan beberapa bidang lainnya. Penerapan Sistem Informasi

Geografis dalam bidang pengawasan bencana alam di Indonesia sangat

dibutuhkan untuk mengurangi atau meminimalisir dampak bencana alam yang

terjadi di Indonesia.

Kabupaten Kolaka Timur merupakan salah satu daerah di Indonesia yang

dalam masa perkembangan, akibatnya kebutuhan akan ruang baik untuk

keperluasan pemukiman, perkantoran, industri, pertokoan, fasilitas umum, sarana

dan prasarana, dan sebagainya juga akan meningkat. Kondisi topografi wilayah

Kabupaten Kolaka Timur berdasarkan bentuk bentang alamnya (morfologinya)

Kabupaten Kolaka Timur dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu pedataran

dibagian barat, bergelombang dibagian tengah dan pegunungan dibagian Timur.

Seperti yang diketahui bahwa faktor penyebab tanah longsor yang paling utama

adalah keadaan topografi. Untuk itu perlu dilakukan penelitian Pemetaan Tingkat

Ancaman Bencana Alam Tanah Longsor Berbasis Geographic Information

System (GIS) Daerah Kabupaten Kolaka Timur.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan

yang muncul dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana potensi b e n c a n a t a n a h longsor di Kabupaten Kolaka

Timur?

2. Bagaimana sebaran potensi bencana tanah longsor di kabupaten Kolaka

Timur?
3

C. Tujuan penelitian

Dalam penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai penulis adalah:

1. Dapat menentukan potensi bencana tanah longsor di Kabupaten Kolaka

Timur.

2. Dapat menentukan sebaran potensi bencana tanah longsor di kabupaten

Kolaka Timur

D. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi keilmuan

Sebagai sumber literatur bagi penelitian sejenis di masa mendatang.

2. Bagi masyarakat

Dapat mengenali daerah-daerah yang berpotensi longsor, Sebagai bahan

pertimbangan dalam melakukan pembangunan pada daerah yang

berpotensi longsor

3. Bagi pemerintah

Dapat digunakan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah dan

pihak yang berkompeten dalam pembangunan dan tata ruang di daerah

penelitian khususnya pada daerah yang tingkat longsorannya tinggi.


2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Geologi Regional

Simandjuntak dalam Surono (2010), menjelaskan bahwa berdasarkan sifat

geologi regionalnya Pulau Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi menjadi beberapa

mandala geologi yakni salah satunya adalah mandala geologi Sulawesi Timur.

Mandala ini meliputi lengan Tenggara Sulawesi, Bagian Timur Sulawesi Tengah

dan Lengan Timur Sulawesi. Lengan Timur dan Lengan Tenggara Sulawesi

tersusun atas batuan malihan, batuan sedimen penutupnya dan ofiolit yang terjadi

dari hasil proses pengangkatan (Obduction) selama Miosen. Pembagian mandala

geologi Sulawesi dapat dilihat pada gambar 1

Gambar 1. Pembagian Mandala Geologi Sulawesi (Surono, 2010).

4
5

1. Geomorfologi Regional

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini,

terdiri atas pegunungan mekongka, pegunungan tangkelemboke, pegunungan

mandoke, dan pegunungan rumbian yang terpisah di ujung selatan tenggara.

Satuan morfologi ini mempunya topografi yang kasar dengan kemirinngan lereng

yang tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini mempunya pola yang

hampir sejajar berarah barat laut-tenggara arah ini sejajar dengan pola struktur

sesar regional kawasan ini. Pola tersebut mengeindikasikan bahwa pembentukan

morfologi pegunungan itu erat dengan sesar regional.

Ditinjau dari citra IFSAR di bagian Tengah dan Ujung Selatan Lengan

Tenggara Sulawesi, ada lima bagian satuan morfologi yang terdapat di Sulawesi,

yaitu satuan pegunungan, satuan perbukitan rendah, dan satuan dataran.

a. Satuan Pegunungan

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini, yang

terdiri atas pegunungan Mekongga, Pegunungan Tangkelemboke, Pegunungan

Mendoke, dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung Selatan Lengan

Tenggara. Satuan morfologi ini mempunyai topografi yang kasar dengan

kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini mempunyai

pola yang hampir sejajar berarah Barat laut-Tenggara. Pola tersebut

mengindentifikasikan bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat

hubungannya dengan sesar regional. Satuan pegunungan ini di bentuk oleh batuan

malihan dan batuan ofiolit. Ada perbedaaan morfologi yang khas di antara kedua

batuan penyusun itu. Pegunungan yang disusun dari batuan ofiolit mempunyai
6

punggung gunung yang panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta

kemiringan yang tajam. Sementara itu, pegunungan yang dibentuk batuan

malihan, punggung gunungnya terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak

rata walaupun bersudut tajam.

b. Satuan Perbukitan Tinggi

Morfologi perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara.

Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 mdpl dengan

morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi ini berupa batuan sedimen klastika

Mesozoikum dan Tersier.

c. Satuan Perbukitan Rendah

Satuan morfologi perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan

ujung Selatan Lengan Tenggara. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah

dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama

batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.

d. Satuan Dataran

Satuan morfologi dataran rendah dijumpai di bagian Tengah ujung Selatan

Lengan Tenggara. Tepi Selatan dataran Wawotobi dan Dataran Sampara

berdasarkan langsung dengan satuan morfologi pegunungan. Penyebaran satuan

dataran rendah ini tampak sangat dipengaruhi sesar geser mengirih (Sesar Kolaka

dan System Sesar Konaweha). Kedua sistem sesar ini diduga masih aktif, yang

ditunjukkan dengan adanya torehan pada endapan alluvial dalam kedua dataran

tersebut (Surono dkk, 1997), sehingga angat mungkin kedua dataran itu terus

mengalami penurunan. Penurunan ini tentu berdampak buruk pada dataran


7

tersebut, diantarannya pemukinan dan pertanian di kedua dataran itu akan

diterjang banjir yang semakin parah setiap tahunnya.

e. Satuan Karst

Morfologi karst melempar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan ini

dicirikan perbukitan kecil dengan sungai di bawah permukaan tanah. Sebagian

besar batuan penyusun sauan ini didominasi oleh batu gamping berumur paleogen

dan selebihnya batugamping Mesozoikum.

Gambar 2. Bagian Selatan Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR (Surono, 2013).

2. Stratigrafi Regional

Formasi batuan penyusun peta geologi regional lembar Kolaka dan lembar

lasusua diurutkan dari termuda sebagai berikut:


8

a. Aluvium (Qa)

Aluvium (Qa) terdiri atas lumpur, lempung, pasir kerikil dan kerakal. Satuan

ini merupakan endapan sungai, rawa dan endapan pantai. Umur satuan ini adalah

Holosen.

b. Formasi Alangga (Qpa)

Formasi Alangga (Qpa) terdiri atas konglomerat dan batupasir. Umur dari

formasi ini adalah Plistosen dan lingkungan pengendapannya pada daerah darat-

payau. Formasi ini menindih tak selaras formasi yang lebih tua yang masuk

kedalam kelompok Molasa Sulawesi.

c. Formasi Langkowala (Tml)

Formasi Langkowala (Tml) terdiri atas konglomerat batupasir, serpih dan

setempat kalkarenit. Konglomerat mempunyai fragmen beragam yang umumnya

berasal dari kuarsa dan kuarsit, dan selebihnya berupa batupasir malih, skis dan

ultrabasa. Formasi ini banyak dibatasi oleh kontak struktur dengan batuan lainnya

dan bagian atas menjemari dengan bagian bawah batuan sedimen Formasi

Boepinang (Tmpb). Hasil penanggalan umur menunjukan bahwa batuan ini

terbentuk pada Miosen Tengah.

d. Kompleks Pompangeo (MTps)

Kompleks Pompangeo (MTpm) terdiri atas skis mika, skis glukofan, skis

amphibolite, skis klorit, rijang, pualam dan batugamping meta, sekis berwarna

putih, kuning kecoklatan, kehijauan kelabu: kurang padat sampau sangat padat

serta memperlihatkan perdaunan. Setempat menunjukan struktur chevron, lajur

tekuk (kimk banding) dan augen serta di beberapa tempat perdaunan terlipat.
9

Rijang berwarna kelabu sampai coklat. Pulam berwarna kehijauan, kelabu sampai

kelabu gelap, coklat sampai merah coklat, dan hitam bergaris putih, sangat padat

dengan persekisan, tekstur umumnya nematoblastik yang memperlihatkan

pengarahan. Persekisan dalam batuan ini didukung oleh adanya pengarahan kalsit

hablur yang ytergabung dengan mineral lempungdan mineral kedap (opak).

Batuan terutama tersusun oleh kalsit dolomit dan piroksen. Mineral lempung dan

mineral bijih dalam bentuk garis. Wolastonit dan apatit terdapat dalam jumlah

sangat kecil. Plagioklas jenis albit mengalami penghabluran ulang dengan

piroksen. Satuan ini mempunyai kontak struktur geser dengan satuan yang lebih

tua di bagian utara yaitu kompleks mekongga (Pzm). Berdasarkan penarikan

umur oleh kompleks pompangeo mempunyai umur Kapur Akhir Paleosen

bagian bawah.

e. Kompleks Ultramafik (Ku)

Kompleks Ultramafik (Ku) terdiri atas harzburgit, dunit, wherlit,

serpentinit, gabbro, basal, dolerit, diorit, mafik meta, amphibolit, magnesit dan

setempat rodingit. Satuan ini diperkirakan berumur Kapur.

f. Formasi Tokala (Tjt)

Formasi ini terdiri atas kalsilutit, batugamping, batupasir, serpih dan napal.

Kalsilutit berwarna kelabu muda, kelabu sampai merah jambu, berbutir halus,

serta memiliki perlapisan yang baik, denga kekar yang diisi urat kalsit. Umumnya

telah mengalami perlipatan kuat. Formasi ini diperkirakan berumur trias-jura awal

dengan lingkungan pengendapan laut dangkan (Neritik).


10

g. Pualam Paleoziokum (Pzmm)

Terdiri atas pualam dan batugamping. Satuan ini merupakan batugamping

yang telah mengalami metamrfossa lanjut yang ditandai ddengan struktur

mendaun. Umur satuan ini diperkirakan karbon-perm.

h. Batuan Malihan Palezoikum (Pzm)

Terdiri dari sekis, gneise, filit, batusabak dan sedikt pualam. Satuan ini

diperkirakan berumur karbon-perm yang mempunyai hubungan menjemari

dengan satuan pualam paleozoikum.

Gambar 3. Korelasi satuan peta geologi lembar kolaka dan lembar lasusua,
Sulawesi.
11

3. Struktur Regional

Sesar kolaka diberi nama oleh Simandjuntak dkk (1993) berdasarkan kota

Kolaka yang dilaluinya memanjang sekitar 250 km dari pantai barat Teluk Bone

sampai ujung selatan lengan tenggara sulawesi, Sesar Kolaka, yang relatif sejajar

dengan sesar lawanopo, dan sesar konaweha ini nampak jelas pada citra jauh,

udara, landsat dan IFSAR.

Struktur geologi yang dijumpai di daerah kegiatan adalah sesar, lipatan

dan kekar. Sesar dan kelurusan umumnya berarah baratlaut tenggara searah

dengan Sesar geser jurus mengiri Lasolo. Sesar Lasolo aktif hingga kini. Sesar

tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala

Oligosen (Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo,

sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo; yaitu

beranjaknya batuan ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga, Formasi Meluhu dan

Formasi Matano. Sesar Anggowala juga merupakan sesar utama, sesar mendatar

menganan (dextral), mempunyai arah baratlaut-tenggara.


12

Gambar 5. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya. Disederhanakan dari Silver dkk. (1983) dan
Rehahult dkk (1991).

B. Tanah Longsor

Tanah longsor secara umum merupakan perpindahan material pembentuk

lereng berupa batuan, tanah, bahan rombakan, bergerak ke bawah atau keluar

lereng. Secara geologi pengertian longsor adalah suatu peristiwa geologi

dimana terjadi pergerakan tanah seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan

besar tanah (Nandi, 2007).

Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2005) menyatakan

bahwa tanah longsor boleh disebut juga dengan gerakan tanah. Didefinisikan

sebagai massa tanah atau material campuran lempung, kerikil, pasir, dan kerakal
13

serta bongkah dan lumpur, yang bergerak sepanjang lereng atau keluar

lereng karena faktor gravitasi bumi.

Dibyosaputro (1999) dalam Septianto (2008), mendefinisikan gerakan

tanah atau yang lebih dikenal dengan istilah tanah longsor adalah proses

bergeraknya suatu massa tanah dan batuan dalam jumlah yang besar menuju ke

tempat yang lebih rendah. Gerakan massa atau longsor merupakan proses

bergeraknya puing-puing batuan (termasuk tanah di dalamnya) secara besar-

besaran menuruni lereng secara lambat hingga cepat oleh pengaruh langsung dari

gravitasi. Gaya yang menahan sejumlah massa tanah tersebut dipengaruhi oleh

sifat fisik tanah dan kemiringan lereng yang terdapat di sepanjang lereng tersebut.

Menurut Van Zuidam (1983) gerakan tanah merupakan terminologi umum

semua proses dimana masa dari material bumi bergerak oleh gravitasi baik

lambat atau cepat dari suatu tempat ke tempat lain. Proses gerakan tanah

dipengaruhi oleh faktor/parameter penggunaan lahan, kemiringan lereng,

ketebalan lapisan tanah, dan stratigrafi (geologi). Data-data dari setiap parameter

tersebut dilakukan suatu analisis dan diberikan pengkelasan sesuai dengan

kepekaan untuk terjadinya proses gerakan tanah.

Selanjutnya Karnawati (2005) mendefenisikan tanah longsor sebagai

gerakan menuruni atau keluar lereng oleh massa tanah atau batuan penyusun

lereng ataupun percampuran keduanya sebagai bahan rombakan, akibat dari

terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut.

Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng

lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya penahan pada umunya dipengaruhi oleh
14

kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan daya pendorong

dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, beban serta berat jenis batuan.

Proses terjadinya tanah longsor dapat di jelaskan sebagai berikut, air yang

meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus

sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah

menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng

dan luar lereng.

1. Faktor Penyebab Tanah Longsor

Tanah longsor yang terjadi pada suatu daerah dipengaruhi oleh banyak

faktor antara lain faktor faktor geologis, faktor curah hujan, dan faktor buatan

manusia. Faktor pengontrol terjadinya longsoran merupakan fenomena yang

mengkondisikan suatu lereng menjadi berpotensi bergerak, meskipun pada saat

ini lereng tersebut masih stabil (belum bergerak atau belum longsor). Lereng

yang berpotensi untuk bergerak ini baru akan bergerak apabila ada gangguan

yang memicu terjadinya gerakan (Karnawati, 2005).

Faktor-faktor pengontrol gerakan tanah meliputi kondisi morfologi,

geologi, struktur geologi, hidrogeologi, dan tata guna lahan. Faktor-faktor tersebut

saling berinteraksi sehingga mewujudkan suatu kondisi lereng yang cenderung

atau berpotensi untuk bergerak. Kondisi lereng yang demikian disebut sebagai

kondisi rentan untuk bergerak. Gerakan pada lereng baru benar-benar dapat

terjadi apabila ada pemicu gerakan. Pemicu gerakan merupakan proses-proses

alamiah ataupun non alamiah yang dapat mengubah kondisi lereng dari rentan

(siap bergerak) menjadi mulai bergerak.


15

Selanjutnya Karnawati (2005) menjelaskan bahwa terjadinya longsor

karena adanya faktor kontrol dan merupakan proses pemicu gerakan (Gambar

2.2). Faktor kontrol merupakan faktor-faktor yang membuat kondisi suatu lereng

menjadi renta atau siap bergerak di antaranya geomorfologi, geologi meliputi

struktur geologi dan litologi, dan kondisi soil. Faktor pemicu gerakan merupakan

proses-proses yang mengubah suatu lereng dari kondisi rentan atau siap bergerak

menjadi dalam kondisi kritis dan akhirnya bergerak. Proses-proses pemicu

gerakan seperti, infiltrasi air ke dalam lereng, getaran, tata guna lahan dan

aktivitas manusia.

Arsyad (1989) dalam Effendi (2008) mengemukakan bahwa tanah longsor

ditandai dengan bergeraknya sejumlah massa tanah secara bersama-sama dan

terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu volume tanah di atas suatu lapisan agak

kedap air yang jenuh air. Lapisan yang terdiri dari tanah liat atau mengandung

kadar tanah liat tinggi setelah jenuh air akan bertindak sebagai peluncur.

Longsoran akan terjadi jika terpenuhi tiga keadaan sebagai berikut :

1. Adanya lereng yang cukup curam sehingga massa tanah dapat bergerak

atau meluncur ke bawah,

2. Adanya lapisan di bawah permukaan massa tanah yang agak kedap air dan

lunak, yang akan menjadi bidang luncur, dan

3. Adanya cukup air dalam tanah sehingga lapisan massa tanah yang tepat di

atas lapisan kedap air tersebut menjadi jenuh. Lapisan kedap air dapat

berupa tanah liat atau mengandung kadar tanah liat tinggi, atau dapat juga

berupa lapisan batuan.


16

2. Faktor Pengontrol

a. Topografi/Kelerengan (Slope)

Kelerengan menjadi faktor yang sangat penting dalam proses terjadinya tanah

longsor. Semakin miring lereng suatu tempat maka daerah tersebut semakin

berpotensi terhadap terjadinya tanah longsor. Kondisi kemiringan lereng lebih 15

perlu mendapat perhatian terhadap kemungkinan bencana tanah longsor dan

tentunya dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mendukung.

Biasanya lereng/lahan yang mempunyai kemiringan melampaui 40% sudah bisa

menimbulkan longsor. Pada dasarnya sebagian besar wilayah di Indonesia

merupakan daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan

miring. Namun tidak selalu lereng atau lahan yang miring berbakat atau

berpotensi longsor. Potensi terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada

kondisi batuan dan tanah penyusun lerengnya, struktur geologi, curah hujan,

vegetasi penutup, dan penggunaan lahan pada lereng tersebut.

Karnawati (2005) menjelaskan bahwa dari beberapa kajian terhadap

kejadian longsor dapat teridentifikasi tiga tipologi lereng yang rentan untuk

bergerak/longsor, yaitu:

1. Lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah residu yang dialasi oleh batuan

atau tanah yang lebih kompak;

2. Lereng yang tersusun oleh perlapisan batuan yang miring searah

kemiringan lereng maupun berlawanan dengan kemiringan lereng;

3. Lereng yang tersusun oleh blok-blok batuan.


17

b. Kondisi Geologi

Faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah struktur

geologi, sifat batuan, hilangnya perekat tanah karena proses alami (pelarutan).

Struktur geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah: kontak

batuan dasar dengan pelapukan batuan, retakan/rekahan, perlapisan batuan, dan

patahan.

Menurut Busthan (2007), faktor-faktor geologi penyebab tanah longsor

adalah faktor stratigrafi, sifat bawaan batuan, sifat fisik tanah dan pelapukan

batuan, struktur geologi, gempa bumi, kegiatan gunungapi dan sifat keairan.

- Faktor stratigrafi meliputi susunan dan kedudukan batuan yang

sering membentuk bidang diskontinuitas yang lemah yaitu : perselingan

antara batuan keras dengan batuan lemah dan plastis. Selain itu, batuan

vulkanik berumur kuarter yang menumpang tidak selaras di atas batuan

sedimen tersier.

- Sifat bawaan batuan yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah adalah :

Bidang perlapisan batuan yang membentuk bidang lemah dan

memperbesar tegangan geser seperti bidang perlapisan, foliasi dan

cleavage.

Kelulusan air, batuan lulus air menumpang di atas batuan kurang lulus

air atau kedap air, akan memperkecil kuat geser dan membentuk bidang

lemah.
18

Kekuatan batuan, batuan keras menumpang di atas batuan lemah

akan menyebabkan kuat gesernya menurun atau hilang jika menyerap

air atau kandungan airnya naik

Sifat mineral, mineral pembentuk batuan lemah akan semakin lemah

saat perubahan kadar air atau perubahan lain, mengakibatkan kuat geser

menurun, misalnya material organik, lempung sedimen, serpih, batuan tufa

berbutir halus dan adanya mineral pipih seperti mika, sekis dan serpentin.

Tekstur butiran, perubahan tekstur butiran dari bersudut menjadi bulat

akan memperkecil sudut geser dalam dalam tanah (sudut geser dalam naik

mengikuti angularitas batuan).

Kemiringan lapisan batuan, kemiringan lapisan batuan yang searah

dengan kemiringan lereng medan dan mengarah ke bidang bebas akan

memperkecil kuat geser.

- Sifat fisik tanah dan pelapukan batuan seperti

Pengeringan lempung menyebabkan timbulnya retakan dan

mengakibatkan kohesi turun, diikuti oleh pengikisan air.

Pengembangan lempung atau anhidrit akan memperbesar tekanan lateral

dan mengakibatkan tegangan geser membesar diikuti oleh kehilangan

atau penurunan kohesi yang menyebabkan kuat geser tambah menurun.

Kehilangan bahan perekat oleh proses pelarutan

Tanah pelapukan semakin tebal

Pelapukan bagian bawah lereng mengakibatkan tahanan bawah hilang

dan tegangan geser bertambah besar.


19

- Struktur geologi, mengakibatkan terbentuknya bidang lemah dan

mengakibatkan mengecilnya kuat geser, yaitu akibat terdapat : bidang

sesar, kekar, cermin sesar, zona breksiasi

- Gempa bumi, yang merambatkan gelombang geser (S-wave) akan

meningkatkan tegangan geser dan menyebabkan kemantapan lereng

terganggu.

- Kegiatan gunungapi, fluktuasi permukaan danau kawah dan meningkatnya

getaran tremor akan memperbesar tegangan geser.

- Keairan, faktor keairan yang dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor

adalah:

Curah hujan, menyebabkan kandungan air pada lapisan tanah

meningkat dan jenuh air mengakibatkan: tekanan air pori bertambah

besar, menyebabkan kuat geser menurunp, kandungan air dalam tanah

naik dan terjadi pembuburan tanah pengembangan lempung,

mengakibatkan kuat geser tanah menurun/hilang.

Genangan air dan rembesan mataair berpengaruh sama seperti di atas

Rembesan air dalam retakan dan belahan batuan menyebabkan

tekanan lateral naik dan tegangan geser membesar.

Susut cepat (drawdown) permukaan air secara cepat

(tiba-tiba) mengakibatkan airtanah di bagian tepi dari waduk atau

tebing akan kehilangan penahannya sehingga perubahan tekanan air

yang tidak normal dan mengakibatkan tegangan geser bertambah besar.


20

c. Kondisi Tanah

Jenis tanah sangat menentukan terhadap potensi erosi dan longsor. Tanah

yang gembur karena mudah meloloskan air masuk ke dalam penampang tanah

akan lebih berpotensi longsor dibandingkan dengan tanah yang padat (massive)

seperti tanah bertekstur liat (clay). Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah

lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 meter. Tanah jenis ini

memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain

itu tanah ini sangat rentan terhadap tanah longsor karena menjadi lembek terkena

air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

3. Faktor Pemicu

Gangguan yang merupakan pemicu tanah longsor merupakan proses alamiah

atau tidak alamiah ataupun kombinasi keduanya, yang secara aktif

mempercepat proses hilangnya kestabilan pada suatu lereng. Jadi pemicu ini

dapat berperan dalam mempercepat peningkatan gaya penggerak/peluncur

/driving force, mempercepat pengurangan gaya penahan gerakan/resisting force,

ataupun sekaligus mengakibat keduanya. Secara umum ganguan yang memicu

tanah longsor adalah

a. Hujan

Kejadian tanah longsor di Indonesia umumnya terjadi pada musim

penghujan. Ketahanan batuan akan menurun tajam pada musim penghujan dan

mengakibatkan lereng yang disusunnya menjadi labil dan mudah

longsor. Peningkatan air pori akibat pembasahan atau peningkatan kadar air akan
21

meningkatkan muka air tanah serta menurunkan ketahanan batuan/tanah yang

bersangkutan disepanjang bidang gelincirnya.

Curah hujan akan meningkatkan presepitasi dan kejenuhan tanah

serta naiknya muka air tanah. Jika hal ini terjadi pada lereng dengan material

penyusun (tanah dan atau batuan) yang lemah maka akan menyebabkan

berkurangnya kuat geser tanah/batuan dan menambah berat massa tanah.

Besarnya curah hujan pemicu terjadinya tanah longsor didasarkan pada dua tipe

hujan, yaitu hujan deras yang mencapai 70 100 mm/hari dan hujan kurang

deras namun berlangsur menerus selama beberapa jam hingga beberapa hari yang

kemudian disusul hujan deras sesaat (Karnawati, 2005).

Secara umum terdapat dua tipe hujan pemicu longsoran di Indonesia,

yaitu tipe hujan deras dan tipe hujan normal tapi berlangsung lama. Tipe hujan

deras misalnya adalah hujan yang dapat mencapai 70 mm/jam atau lebih dari 100

mm/hari. Tipe hujan deras hanya akan efektif memicu longsoran pada

lereng-lereng yang tanahnya mudah menyerap air, misalnya pada tanah lempung

pasiran dan tanah pasir. Pada lereng demikian longsoran dapat terjadi pada

bulan-bulan awal musim hujan, misalnya pada akhir Oktober atau awal

November. Tipe hujan normal contohnya adalah hujan yang kurang dari 20

mm/hari. Hujan tipe ini apabila berlangsung selama beberapa minggu

hingga beberapa bulan dapat efektif memicu longsoran pada lereng yang

tersusun oleh tanah yang lebih kedap air, misalnya lereng dengan tanah lempung.

Pada lereng ini longsoran terjadi mulai pada pertengahan musim hujan, misal

pada bulan Desember hingga Maret.


22

b. Aktifitas Manusia

Pada dasarnya berbagai macam aktifitas manusia selalu merubah factor

topografi, litologi, stratigrafi, dan kemungkinan struktur geologinya.

Berbagai macam aktifitas manusia dapat memberikan pengaruh positif maupun

negative terhadap lahan yang ditempatinya. Salah satu pengaruh negatif yang

mungkin terjadi adalah terjadinya proses gerakan tanah atau yang lebih

dikenal dengan peristiwa tanah longsor. Semakin besar usaha manusia diatas

lahan yang miring untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka akan

meningkatkan resiko terjadinya tanah longsor.

Faktor yang dapat menyebabkan longsor salah satunya adalah aktifitas

manusia yang terkait dengan berbagai macam penggunaan lahan, seperti

pembuatan jalan atau penggalian batuan dasar sehingga menyebabkan

ketidakstabilan lereng dan mengakibatkan bahaya dalam bentuk gerakan tanah.

Longsor yang disebabkan oleh aktifitas manusia diakibatkan oleh

bertambahnya jumlah populasi, penambahan beban, penggalian dan terjadinya

getaran Septianto (2008).

c. Tata guna lahan

Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief,

hidrologi, dan vegetasi, dimana faktor faktor tersebut mempengaruhi potensi

penggunaannya. Penggunaan lahan (landuse) juga diartikan sebagai bentuk

campur tangan manusia terhadap alam dalam rangka memenuhi kebutuhan

hidupnya Septianto (2008).


23

Salah satu faktor penyebab tanah longsor adalah penggunaan lahan yang

tidak kondusif. Tanah longsor ini banyak terjadi di daerah tata guna lahan

perkebunan, pemukiman, dan pertanian yang berada pada lokasi lereng yang

terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah

dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi

longsor. Sedangkan untuk daerah perkebunan penyebabnya adalah karena akar

pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya

terjadi di daerah longsoran lama.

C. Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi khusus yang

mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan) atau

dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan

untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi

berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam

sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan

mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada

suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya

memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial

yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang

memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi

SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan

pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari system informasi


24

lainnya. Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang

terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta

dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang

benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam

memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG

(Rahmawati, 2011).

SIG dapat diperjelas berdasarkan uraian jenis masukan, proses, dan jenis

keluaran yang ada di dalamnya, maka subsistem SIG juga dapat digambarkan

pada gambar 6.

Gambar 6. Uraian subsistem-subsistem SIG (Eddy Prahasta, 2002)

1. Cara Kerja SIG

SIG dapat mempresentasikan realworld (dunia nyata) diatas monpitor

computer sebagai mana lembaran peta dapat mempresentasikan dunia nyata

diatas kertas. Namun SIG memiliki kekuatan lebih dan fleksibilitas daripada

lembaran peta kertas. Peta merupakan presentasi grafis dari dunia nyata, objek-
25

objek yang direpresentasikan diatas peta disebut unsur peta atau map features

(contohnya seperti sungai, kebun, jalan, dan lain-lain). Kerena peta

mengorganisasikan unsur-unsur berdasarkan lokasi-lokasinya, peta sangat baik

dalam memperlihatkan hubungan atau relasi yang dimiliki oleh unsur-unsurnya.

SIG mempunyai semua informasi deskriptif unsur-unsurnya sebagai atribut-

atribut didalam basisdata. Kemudian SIG membentuk dan menyimpannya

didalam tabel-tabel (relasional). Setelah itu SIG menghubungkan unsur-unsur

diatas dengan tabel-tabel yang bersangkutan. Dengan demikian, atribut-atribut ini

dapat diakses melalui lokasi unsur-unsur peta, dan sebaliknya unsur unsut-unsur

peta juga dapat diakses melalui atribut-atributnya. Karena itu unsur-unsur

tersebut dapat dicari dan ditemukan berdasarkan atribut-atributnya.

SIG mengubah sekumpulan unsur-unsur peta dengan atribut-artibutnya di

dalam satuan-satuan yang disebut layer. Contoh layer seperti bangunan, sungai,

jalan, batas-batas administrasi, perkebunan dan hutan. Kumpulan dari layer-layer

ini akan membentuk basisdata SIG. dengan demikia, perancangan basisdata

merupakan hal yang esensial di dalam SIG. rancangan basisdata akan menentukan

efektifitas dan efesiensi dan proses-proses masukan, pengelolaan, dan keluaran

2. Fungsi Analisis

Kemampuan SIG dapat juga dikenal dari fungsi-fungsi analisis yang dapat

dilakukannya. Secara umum terdapat dua jenis fungsi analisis, yaitu fungsi

analisis spasial dan fungsi analisis atribut. Fungsi analisis atribut terdiri dari oprasi

dasar basisdata yang mencakup create data base, drop database, create table,

drop table, record dan insert, field, seek, find, search, rerieve, edit, update, delete,
26

zap, pack, membuat indeks untuk setiap tabel basisdata, dan perluasan oprasi basis

data yang mencakup expot dan import, structured query language, dan oprasi-

oprasi atau fungsi analisis lain yang sudah rutin digunakan didalam system

basisdata. Fungsi analisis lainnya yang sudah rutin digunakan didalam system

basisdata. Fungsi analisis spasial terdiri dari reclassify, overlay, dan buffering

Walaupun produk SIG paling sering disajikan dalam bentuk peta, kekuatan

SIG yang sebenarnya terletak pada kemampuannya dalam melakukan analisis.

SIG dapat mengolah dan mengelola data dengan volume yang besar. Dengan

demikian, pengetahuan mengenai bagaimana cara mengekstrak data tersebut dan

bagaimana menggunakannya merupakan kunci analisis di dalam SIG.

Salah satu fungsi tools SIGyang paling powerfull dan mendasar adalah

integrasi data dengan cara baru. Salah satu contohnya adalah overlay, yang

memadukan layer data yang berbeda. SIG juga dapat mengintegrasikan data

secara matematis dengan melakukan oprasi-oprasi terhadap atribut-atribut tertentu

dari datanya (Eddy Prahasta, 2002)

3. Perangkat Lunak ArcView

ArcView merupakan salah satu perangkat lunak desktop Sistem Informasi

Geografis dan pemetaan yang lebihdikembangkan oleh ESRI (Environmental

System Research Institute, Inc.). Dengan ArcView, pengguna dapat memiliki

kemampuan-kemampuan untuk melakukan visualisasi, meng-explore, menjawab

query (baik basisdata spaial maupun non-spasial), menganalisis data segara

geografis, dan sebagainya. Kemampuan prangkat SIG ArcView secara umum

dapat dijabarkan sebagai berikut (Edy Harseno 2007).


27

1. Pertukaran data : membaca dan menuliskan dari dan ke dalam format

perangkat lunak SIG lainnya.

2. Melakukan amalisis statistik dan oprasi-oprasi matematis.

3. Menampilkan informasi (basisdata) spasiam maupun atribut.

4. Menjawab query spasial maupun atribut.

5. Melakukan fungsi-fungsi dasar SIG)

6. Membuat peta tematik

7. Meng-costomize aplikasi dengan menggunakan bahasa skrip.

8. Melakukan fungsi-fungsi SIG khusus llainnya (dengan menggunakan

extension yang ditunjukan untuk mendukung penggunaan perangkat lunak

SIG ArcView).

Menurut Adi Paramarta (2012), dalam system informasi geografis terdapat

dua macam data yaitu data spasial dan data atribut

a. Data Spasial

Data spasial merupakan data yng menggambarkan bentuk atau

penampakan objek dipermukaan bumi. Data spasial dalam Sistem

Informasi Geografis dibedakan menjadi titik (point), garis (line), dan area

(polygon).

b. Data Atribut,

Data atribut merupakan data deskriptif yang merupakan nilai dari

data data spasial. Data atribut akan tersimpan dalam bentuk tabel atau

sering disebut data tabular


3. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 hingga bulan

September 2016. Secara administrasi daerah penelitian bertempat Kabupaten

Kolaka Timur Propinsi Sulawesi Tenggara yang disajikan pada Gambar 7

Gambar 7. Lokasi Daerah Penelitian

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yang di

lengkapi dengan pendekatan kuantitatif dimana menurut Sugiono (2012) Kegiatan

penelitian ini meliputi pengumpulan data, analisis data, dan kesimpulan yang

mengacu pada analisis data tersebut.

28
29

C. Bahan atau Materi Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data

sekunder.

a. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data hasil

pengumpulan data dilapangan secara langsung (observasi) dan dokumentasi

yang bertujuan mencatat sifat-sifat fisik di lapangan. Pengumpulan data

dilapangan dilakukan setelah dilakukan pembobotan dan overlay terhadap

data sekunder, hal ini bertujuan untuk mencocokan kondisi dilapangan

dengan hasil overlay.

b. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian Peta Administrasi Kabupaten

Kolaka Timur, Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Kolaka Timur , Peta Jenis

Tanah Kabupaten Kolaka Timur, Peta Geologi Kabupaten Kolaka Timur,

Peta Bentuk Lahan Kabupaten Kolaka Timur, Peta Curah Hujan Kabupaten

Kolaka Timur.

D. Instrumen Penelitian

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1.Alat yang di gunakan dalam penelitian


No Nama Alat Fungsi
1 Palu Geologi Menyampling atau mengambil contoh batuan
2 Kompas Geologi Mengukur kedudukan batuan dan
kemiringan lereng
3 GPS Menentukan posisi atau titik koordinat di
(GlobalPositioning lapangan
istem)
4 Kamera Dokumentasi Penelitian
5 Personal Computer / Mengolah data-data penelitian
laptop
6 Software Arc gis 10.2, Mengolah dan menganalisis data spasial
30

Microsoft Office word Tabulasi dan mengolah data-data penelitian


2010, Microsof Office
Excel2010
7 Printer Mencetak hasil layout peta
8 Munshel soil color Untuk penentuan warna tanah
chart

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian


No Nama Bahan Fungsi
1 Peta Rupabumi Indonesia Sebagai peta pendukung
saat penelitian
2 Peta batas administrasi daerah Mengetahui batas-batas
kabupaten kolaka Timur Skala daerah penelitian
1 : 250.000
3 Peta geologi lembar kolaka Timur Skala Sebagai objek pengamatan
1 : 250.000
4 Peta jenis tanah Kabupaten Kolaka Sebagai objek pengamatan
Timur Skala 1 : 250.000
5 Peta kemiringan lereng Kabupaten Sebagai objek pengamatan
Kolaka Timur Skala 1 : 250.000
6 Data curah hujan Kabupaten kolaka Sebagai objek pengamatan
Timur Skala 1 : 250.000
7 Peta tataguna lahan Kabupaten Kolaka Sebagai objek pengamatan
Timur Skala 1 : 250.000

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dibagi manjadi beberapa tahap yaitu sebagai berikut:

1. Studi Literatur

Studi literatur adalah studi kepustakaan guna mendapatkan dasar-dasar teori

serta langkah-langkah penelitian yang berkaitan dengan analisis tanah longsor dan

mencari referensi penelitian yang sejenis.


31

2. Pengumpulan data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data curah hujan yang di

peroleh dari stasiun pengamat curah hujan pada daerah penelitian. Peta

kemiringan lereng, peta tataguna lahan, peta geologi, peta jenis tanah diperoleh

dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kolaka Timur pada tahun

2010-2030.

F. Pengolahan Data Dan Analisis Hasil Penelitian

1. Pengolahan Data

Setelah data diperoleh, maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis

dan perhitungan yang diperlukan untuk analisis daerah rawan longsor dengan

menggunakan SIG (sisten informasi geografi). Pengolahan data dari lima jenis

peta adalah meliputi pemberian/pengharkatan pada peta sesuai dengan parameter

dan kriterianya. Selanjutnya dilakukan proses tumpang susun (overlay) pada lima

jenis peta tersebut. Hasil dari overlay ini akan menunjukan kondisi lahan yang

berbeda-beda sesuai dengan nilai skor yang telah diberikan. Nilai skor yang

telah diberikan ini kemudian akan diakumulasikan sesuai dengan parameter

sehingga akan diketahui nilai skor pada tiap kondisi lahan. Nilai pada tiap

kondisi lahan ini memiliki arti pada tingkat kerawanan longsornya.

Karakteristik parameter penentuan rawan longsor dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 3. Klasifikasi intensitas curah hujan ( Puslit, 2004)


No Curah hujan Bobot
1 >3000 mm/tahun 4
2 2500-3000 mm/tahun 3
3 2000-2500 mm/tahun 2
4 < 2000 mm /tahun 1
32

Tabel 4. Klasifikasi Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1983)


No Kemiringan Lereng Bobot
1 >45% 5
2 25-45% 4
3 15-25% 3
4 8-15% 2
5 0-8% 1

Tabel 5 Klasifikasi Pemanfaatan Lahan (Karnawati,2003)


No Tataguna Lahan Bobot
1 Tegalan, tanah terbuka 5
2 Pemukiman, sawah, kolam 4
3 Perkebunan 3
4 Hujan sejenis 2
5 Hutan tidak sejenis 1

Tabel 6. Klasifikasi jenis tanah (Sobirin,2013)


No Jenis Tanah Bobot
1 Regosol, litosol, organosol 5
2 Andosol, grumosol, podsol 4
3 Brown forest, Mediteran 3
4 Latosol 2
5 Alluvial, glei 1

Tabel 7. Nilai Skor Geologi


No Litologi Skor
1 Aluvial 3
2 Batuan Sedimen 3
3 Batuan Metamorf 3
4 Batuan Beku 1

Tabel 8. Bobot tiap parameter


No Parameter Bobot
1 Kemiringan lereng 5
2 Jenis tanah 4
3 Tataguna lahan 3
4 Curah hujan 2
5 Kondisi geologi 1

Masing-masing parameter tersebut dilakukan pemberian skor yang kemudian

dikalikan dengan nilai bobot dari masing-masing parameter yang mempunyai

pengaruh terhadap terjadinya longsor. Penentuan batas kelas rawan longsor


33

dibagi menjadi lima kelas dan ditentukan dengan pendekatan kuantitatif

berjenjang tertimbang yaitu dengan melihat nilai paling tinggi dan nilai paling

rendah kemudian di bagi dengan jumlah klasifikasi.

2. Analisis Hasil Penelitian

Hasil penelitan berupa Peta Potensi Rawan Longsor dianalisis dan dicek di

lapangan. Hasil dari cek lapangan ini adalah berupa titik-titik potensi bencana

rawan longsor terkait kesesuaian hasil penelitian dan keadaan lapangan di

Kabupaten Kolaka Timur.


34

Pembuatan proposal
Studi literatur
Administrasi
PENDAHULUAN
perlengkapan

Peta Administrasi
Peta geologi
Peta jenis tanah
PENGUMPULAN DATA Data kemiringan lereng
Data curah hujan
Peta tataguna lahan

ANALISIS DAN
PENGOLAHAN DATA

Data Data jenis Data Data Data curah


geologi tanah kemiringan tataguna hujan
lereng lahan

Pengharkatan/skoring

Overlay Pengecekan

Peta Potensi Bencana


Tanah longsor

Kesimpulan

Gambar 8.Bagan Alir Penelitian


4. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Daerah Penelitian

Secara administrasi daerah penelitian terletak di Kabupaten Kolaka Timur,

yang berbatasan dengan sebelah utara Kabupaten Kolaka Utara, sebelah timur

berbatasan dengan Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan, sebelah barat

berbatasan dengan Kabupaten Kolaka dan sebelah selatan berbatasan dengan

Kabupaten Bombana. Secara astronomis daerah penelitian terletak pada


0 0 0 0
121 100 BT - 122 00 BT dan 3 1000 LS - 4 300 LS. Kabupaten

Kolaka Timur terdiri dari 12 Kecamatan diantaranya Kecamatan Lambandia,

Kecamatan Mowewe, Kecamatan Poli-Polia, Kecamatan Lalolae, Kecamatan

Ladongi, Kecamatan Tirawuta, Kecamatan Loea, KecamatanTinondo, Kecamatan

Dangia, Kecamatan Aere, Kecamatan Ueesi, dan Kecamatan Uluiwoi. Daerah

penelitian mempunyai luas wilayah 4149,18 km2.

1. Kemiringan lereng

Kondisi topografi wilayah Kabupaten Kolaka Timur berdasarkan bentuk

bentang alamnya (morfologinya) dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu pedataran

di bagian barat, bergelombang dibagian tengah dan pegunungan di bagian Timur.

Ketiga bentuk bentang alam tersebut juga memanjang dari Utara Barat Laut ke

Tenggara. Kondisi topografi menurut Van Zuidam 1983 di bagi dalam lima kelas

lereng dapat disajikan melalui tabel berikut:

35
36

Tabel 9. Luasan lereng berdasarkan Van Zuidam 1983


Kelas
Luas Luas
No Lereng Deskripsi
(Km) (%)
(%)
1 >45 Sangat Curam 1103,5 26,59
2 26-45 Curam 1933,55 46,6
3 16-25 Bergelombang 663,77 15,99
4 8-15 Landai 247 5,95
5 <8 Datar 201,33 4,85
Sumber : Hasil Analisis Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Kolaka Timur

Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa kemiringan lereng 26-45 % yang

dalam katedori curam merupakan lereng terbesar pada daerah penelitian

dengan luas 1933.55 km2 atau 46,6% dari total luas wilayah penelitian, yang

mendominasi sebagian besar wilayah Kecamatan Tinondo, dan sebagian kecil

terdapat pada bagian barat daerah penelitian pada Kecamatan Ladongi, Kecamatan

Lambandia dan sekitarnya. Lereng sangat curam (>45 % ) yang menempati

daerah yang luas setelah lereng 26-45 % yang mendominasi bagian tengah daerah

penelitian, dan sebagian kecil bagian barat daerah penelitian dengan luas wilayah

menempati 1103.53 km2 atau 26,59 % dari total luas daerah penelitian.

Kemiringan lereng diatas 45% menambah resiko sangat tinggi untuk terjadinya

longsor. Kemiringan lereng yang sangat tinggi merupakan kemiringan lereng yang

paling tinggi untuk resiko terjadinya longsor di bandingkan kemiringan lereng

yang lainya. Sedangkan jenis lereng dengan luas terkecil adalah lereng >8 % yang

merupakan kondisi lereng datar tersebar pada Kecamatan Ladongi, Kecamatan

Mowewe dan Kecamatan Lalolae, yang menempati luas 201.33 km2 atau 4,85 %

dari luas seluruh wilayah daerah penelitian.


37

Gambar 8. Peta kemiringan lereng daerah penelitian


38

2. Tataguna Lahan

Penggunaan lahan pada daerah penelitian cukup bervariasi meliputi lahan

terbuka, alang-alang, belukar, hutan lebat, hutan sejenis, kebun campuran,

pemukiman, perkebunan, sawah, semak-semak, dan tambak. Luasan tataguna

lahan derah penelitian di sajikan pada Tabel berikut:

Tabel 10. Luasan tataguna lahan daerah penelitian


Luas luas
No Tataguna Lahan
(Km2) (%)
1 Lahan Terbuka 321,189 7,74
2 Perkebunan 17,31 0,41
3 Belukar 27,839 0,67
4 Sawah 62,583 1,5
5 Semak-semak 12,974 0,3
6 Hutan Lebat 3300,905 79,55
7 Hutan Sejenis 41,72 1,1
8 Pemukiman 185,722 4,47
9 Alang-alng 2,557 0,06
10 Tambak 1,175 0,02
11 Kebun Campuran 175,196 4,22
Sumber : Hasil Analisis Peta tataguna lahan Kabupaten Kolaka Timur

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa tataguna lahan hutan lebat

merupakan tataguna lahan terbesar pada daerah penelitian dengan luas 3300,905

Km2 atau 79,55 % dari total wilayah penelitian yang mendominasi hampir

seluruh wilayah penelitian diantaranya, Kecamatan Ueesi, Kecamatan Uluiwoi,

Kecamatan tinondo, Kecamaan Polia-polia, Kecamatan Tirawuta, Kecamatan

Mowewe, Kecamatan Loea, Kecamatan Laloale, Kecamatan Aere dan sebagian

kecil Kecamatan Lambandia. Sedangkan tataguna lahan dengan luasan terkecil

adalah tataguna lahan semak-semak dengan luas 12,97 Km2 atau 0,3 % yang

terdapat pada Kecamatan Dangia.


39

Gambar 9. Peta penggunaan lahan daerah penelitian


40

3. Jenis Tanah

Tanah dan batuan merupakan material utama pada tanah longsor. Kondisi

dari material tanah dan batuan yang menyusun sebuah lereng dapat dijadikan

parameter terjadinya longsor. Berdasarkan peta jenis tanah yang dipeoleh dari

rencana tata ruang wilayah Kabupaten Kolaka tahun 2013-2031 daerah penelitian

tersusun dari jenis tanah alluvial, kambisol, litosol, mediteran, organosol, dan

podsolik. Luasan jenis tanah daerah penelitian dapat disajikan pada tabel berikut:

Tabel 11. Luasan jenis tanah daerah penelitian


Luas
No Jenis Tanah Tekstur Tanah luas
(Km2)
(%)

1 Mediteran Lempung lanauan 78.162 1.88

2 Aluvial Lempung Pasiran 412.405 9.93

3 Organosol Lempung lanauan 8.515 0.205


4 Litosol Kerikil 695.612 16.76
5 Kambisol Lempung Pasiran 169.112 4.07

6 Podsolik Lempung Pasiran 2785.367 67.13


Sumber : Hasil Analisis Peta jenis tanah Kabupaten Kolaka Timur

Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa jenis tanah podsolik merupakan jenis

tanah terbesar pada wilayah penelitian dengan luas 2785.367 Km2 atau 67.13%

dari total luas wilayah penelitan yang mendominasi daerah Kecamatan Ueesi,

Kecamatan Uluiwoi, Kecamatan tinondo, Kecamaan Polia-polia, Kecamatan

Tirawuta, Kecamatan Mowewe, Kecamatan Loea, Kecamatan Laloale, Kecamatan

Aere dan sebagian kecil Kecamatan Lambandia dan kecamatan ladongi.

Sedangkan jenis tanah dengan luasan terkecil adalah jenis tanah organosol

dengan luas 8.515 Km2 atau 0.21 % yang terdapat pada Kecamatan Mowewe.
41

Gambar 10. Peta jenis tanah daerah penelitian


42

4. Batuan Penyusun

Kondisi geologi baik struktur geologi maupun formasi batuan akan

berpengaruh terhadap keberadaan batuan induk dan perkembangan tanah

yang ada, sehingga sifat-sifat fisik tanah dan sifat geoteknik tanah tidak dapat

terlepas dari karakteristik batuan induk yang ada. Selanjutnya kondisi geologi

juga akan berpengaruh terhadap kondisi stabilitas lereng dan proses longsoran

yang terjadi. Berdasarkan peta geologi lembar lasusua dan lembar kolaka skala

1:250.000 daerah penelitian tersusun atas formasi Qa (Aluvial), Qpa (Formasi

Alangga), Tml (Formasi Langkowala), Mtps (Kompleks pompangeo), Ku

(Kompleks Ultramafik), Tjt (Formasi Tokala), Pzm (Batuan Malihan

Paleozoikum), dan Pzmm (Pualam Paleozoikum). Luasan geologi dapat disajikan

pada tabel berikut:

Tabel 12. Luasan geologi daerah penelitian


Luas luas
No Formasi Batuan
Umur (Km2) (%)
krikil, kerakal, pasir
1 Qa (Aluvial) dan lempung Holosen 309,86 7,46

Qpa (Formasi konglomerat dan


2 Plistosen 167,55 4,04
Alangga) batupasir
Konglomerat,
Tml (Formasi
3 batupasir, serpih dan Miosen 126,89 3,058
Langkowala)
setempat kalkarenit
sekis mika, sekis
glukovan, sekis
Mtps (Kompleks amfibolit, sekis
4 Paleosen 252,36 6,08
pompangeo) klorit, sekis genscan,
dan batugamping
meta
harburgit, dunit,
Wherlit, serpentinit,
Ku (Kompleks
5 gabro, basalt, diorite, Kapur 59,097 1,42
Ultramafik)
amphibolit, dan
setempat rodinit
43

, batugamping,
Tjt (Formasi batupasir, serpih,
6 Trias 82,744 1,99
Tokala) dan setempat
klakarenit
Pzm (Batuan sekis, gneiss, filit,
7 Malihan kuasit, batusabak, Karbon 2536,44 61,13
Paleozoikum) dan sedikit pualam
pualam dan Karbon
8 Pzmm (Pualam 614,218 14,8
Paleozoikum) batugamping
Sumber : Hasil Analisis Peta geologi Kabupaten Kolaka Timur

Berdasarkan tabel 12 diketahui bahwa jenis batuan terbesar adalah Pzm

(Batuan Malihan Paleozoikum) yang tersusun oleh sekis, gneiss, filit, kuasit,

batusabak, dan sedikit pualam yang berumur karbon dengan luas 2536,44 Km2

atau 61,13 % dari total luas daerah penelitian yang mendominasi Kecamatan

Ueesi, Kecamatan Uluiwoi, Kecamatan tinondo, Kecamaan Polia-polia,

Kecamatan Tirawuta, Kecamatan Mowewe, Kecamatan Loea, Kecamatan

Laloale, dan sebagian kecil kecamatan ladongi. Sedangkan jenis batuan terkecil

adalah Ku (Kompleks Ultramafik) yang terdiri dari harburgit, dunit, Wherlit,

serpentinit, gabro, basalt, diorite, amphibolit, dan setempat rodinit, yang berumur

kapur dengan luas 59,097 Km2 atau 1,42 % dari luas total wilayah penelitian

yang terdapat pada Kecamatan Ladongi, Kecamatan Ueesi, Kecamatan Uluiwoi

dan Kecamatan Aere.


44

Gambar 11. Peta geologi kabupaten daerah penelitian


45

5. Curah hujan

Curah hujan merupakan salah satu variabel mempunyai pengaruh yang

tinggi dalam terjadinya tanah longsor. Berdasarkan data curah hujan 5 tahun

terakhir yang dimulai dari curah hujan pada tahun 2011 sampai degan data curah

hujan tahun 2015, yang diperoleh melalui 4 pos pengamatan hujan yaitu pos

pengamatan hujan Mowewe, pos pengamatan hujan Tirawuta dan Pos pengamatan

hujan Wolo, dan pos pengamatan hujan Kolaka (Data curah hujan Balai Sulawesi

4 Kendari) yang disajikan pada tabel berikut:

Tabel 13. Data Curah Hujan Pada Pos Pengamatan Hujan Tirawuta 040 01
49,6 LS 1210 54 47,9 BT (Sumber: Balai Sulawesi 4 Provinsi
Sulawesi Tenggara)
2011 2012 2013 2014 2015
Bulan
CH CH CH CH CH
Januari - - 134 92 54
Februari - - 58 94 110
Maret - - 66 92 117
April - - 86 19,5 156
Mei - - 131 167 219
Juni - - 222 324 -
Juli - 27 538 12,5 -
Agustus - 46 17 122,5 -
September - 44 12 - -
Oktober - 29 30 - -
November - 55 32 110 207
Desember - 112 36 94 -
Jumlah - 313 1362 1127,5 836
Rata-rata curah
hujan 916,38 mm/Tahun
46

Tabel. 14 Data Curah Hujan Pada Pos Pengamatan Hujan Mowewe 030
50 15,1 LS 1210 43 56,2 BT (Sumber: Balai Sulawesi 4 Provinsi
Sulawesi Tenggara)
2011 2012 2013 2014 2015
Bulan
CH CH CH CH CH
Januari 180 132 134 94 31
Februari 65 12,5 50,7 35 168
Maret 187 98,9 72 185 159
April 258 197 81.6 124 100
Mei 247 205,6 238,8 153 185
Juni 83 115,6 3,4 124 170
Juli 103 191,4 - 384 58
Agustus 50 25,2 1.9 78 11
September 100 56,6 52,2 - -
Oktober 64,2 36,9 90 60 -
November 108 40,6 67 34 26
Desember 127 98,4 97 150 124
Jumlah 1.572,2 1.210,7 888,8 1,421 1,032
Rata-rata curah hujan 1.224,94 mm/tahun

Tabel 15. Data Curah Hujan Pada Pos Pengamatan Hujan Wolo 040 55 46,9 LS
1210 21 01,7 BT (Sumber: Balai Sulawesi 4 Provinsi Sulawesi Tenggara)
Bulan 2011 2012 2013 2014 2015
CH CH CH CH CH
Januari 231.5 220.5 288.5 75.5 411
Februari 188 201 121 250 501
Maret 225.5 279 250 230 247
April 215.5 233.5 187 211 448
Mei 220.5 292.5 298.5 279 105.5
Juni 63.5 98.5 153.5 209,5 193
Juli 95 156 366.5 200.5 39
Agustus 33 97,8 45.5 76.5 37
September 68.5 144,5 171.5 0 0
Oktober 53.8 112.5 87 5.5 4.5
November 152 179 250.5 128.5 31.5
Desember 272 315.5 178.5 304 364
Jumlah 1818.8 2088 2398 1760.5 2381.5
H.Tahunan 2089.36 mm/ tahun
47

Tabel 16. Data Curah Hujan Pada Pos Pengamatan Hujan Kolaka 040 30 54,2
LS 1210 37 15,3 BT (Sumber: Balai Sulawesi 4 Provinsi Sulawesi Tenggara)

2011 2012 2013 2014 2015


Bulan
CH CH CH CH CH
Januari 38.1 129 141 30 74
Februari 71 150 22 78.1 204
Maret 67 179 74 183 134.5
April 36 127 175 150 117.5
Mei 201 74 93 197 104
Juni 52 91 98 73 155
Juli 32 112 288 81 29.5
Agustus 3 21 26 80 54
September 61 44 14 0 0
Oktober 79 130 27 0 7
November 121 32 153 96 21
Desember 103 145.5 141 70 48
Jumlah 864.1 1234.5 1252 1038.1 948.5
H.Tahunan 1067.44 mm/tahun

Curah hujan yang terjadi di daerah penelitian berada pada kisaran <1000

sampai >2000 mm/tahun. Curah hujan tergolong sedang terjadi di bagian utara

daerah penelitian yang meliputi Kecamatan Uluiwoi dengan rata-rata hujan

tahunan lebih dari 2000 mm/tahun.

Curah hujan dengan kapasitas Rendah terjadi sebagian di bagian utara

daerah penelitian, Bagian tengah dan bagian barat, dan bagian timur yang meliputi

sebagian kecil Kecamatan Uluiwoi dan seluruh Kecamatan Mowewe, Kecamatan

Tinondo, Kecamatan Lalolae, Kecamatan Loea, Kecamatan Tirawuta, Kecamatan

Ladongi, Kecamatan Poli-polia dan Kecamatan Lambandia.


48

Gambar 13. Peta curah hujan daerah penelitian


49

B. Tingkat Rawan Longsor Daerah Penelitian

Tingkat rawan longsor daerah penelitian didapatkan dari overlay 5 jenis peta

yaitu peta kemiringan lereng, peta geologi, peta jenis tanah, peta tatagua lahan dan

peta curah hujan, didapatkan 5 klasifikasi yaitu tingkat rawan sangat tinggi, tingka

rawan tinggi, tingkat rawan sedang, tingkat rawan rendah dan tingkat rawan

sangat rendah.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampel area

(area sampling), dimana setiap daerah (area) dikelompokan berdasarkan

karakteristik dari hasil overlay, dimana pengambilan sampel pada penelitian ini

merupakan daerah yang dapat mewakili daerah yang lain. Pengambilan sampel

pada daerah yang memiliki tingkat rawan longsor yang berbeda. penelitian ini

didasarkan pada satuan lahan yang memiliki kemiringan lereng, jenis batuan,

dan jenis tanah yang berbeda. Kemiringan lereng dipilih sebagai pembatas

dalam pengambilan sampel karena faktor kemiringan lereng adalah faktor yang

dianggap paling berpengaruh pada terjadinya fenomena longsor. Jenis batuan dan

jenis tanah dipilih karena faktor tanah dan batuan merupakan meterial yang

paling sering terjadi longsor dan karakteristik pada setiap jenis tanah dan batuan

memiliki tingkat kerentanan longsor yang berbeda-beda.


50

Gambar 14. Peta tingkat rawan longsor daerah peneltian


51

a. Tingkat rawan longsor sangat tinggi

Daerah kawasan longsor paling tinggi dengan luasan 35.634 Km2 atau

0.85 % dari total luas daerah penelitian terdapat di Kecamatan Ladongi dan

Kecamatan Ueesi dan pada Kecamatan Aere. Daerah ini memiliki kemiringan

lereng >40% dengan tataguna lahan hutan. Jenis tanah pada daerah ini podsolik.

Memiliki curah hujan rendah yaitu <2.000 mm/tahun dan pada kecamatan Ueesi

memiliki curah hujan >2.000 mm/tahun. Penyusun batuan pada daerah ini

merupakan batuan malihan paleozoikum dan sebagian kecil kompleks

pompangeo.

b. Tingkat rawan longsor tinggi

Daerah tingkat rawan longsor tinggi dengan penelitian menempati luas

1455.25 Km2 atau 35.07 % . Berdasarkan pengamatan langsung lapangan pada

Kecamatan Mowewe, kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut Kawasan ini

pengaruhi oleh kemiringan lereng 25-40 % yang termasuk dalam kategori curam,

tataguna lahan pemukiman. Jenis batuan yang menyusun kawasan ini memiliki

cirri fisik warna lapuk coklat kemerahan dan warna segar abu-abu kekuningan,

memiliki struktur foliasi dan tekstur kristaloblastik, dan komposisi mineral yang

di jumpai yaitu kuarsa mika dan biotit dengan nama batuan yaitu sekis mika

(Travis 1955; gambar A). Jenis tanah yang terdapat pada kawasan ini yaitu

podsolik yang memiliki ciri fisik, warna coklat kemerahan, memiliki ukuran butir

lanau, memiliki sifat liat gembur (gambar B). Curah hujan pada kawasan ini

masih tergolong rendah yaitu >1000 mm/tahun.


52

A B

Gambar 15 (A) singkapan batuan sekis dengan Arah foto N1170E, arah foliasi N2240E
(B) jenis tanah podsolik dengan Arah foto N1170E, (C) kejadian longsor dengan Arah
foto N2200E

Pengamatan secara langsung juga dilapangan dilakukan pada

Kecamatan Tirawuta dimana kondisi lapangan memperlihatkan jenis tanah yang

terdapat pada kawasan ini masih memiliki kesamaan dengan pengamatan pada

Kecamatan Mowewe yaitu podsolik yang memiliki ciri fisik, warna kuning
53

keabuan, memiliki ukuran butir lanau, memiliki sifat liat gembur. Curah hujan

pada kawasan ini masih tergolong rendah yaitu > 1000 mm.

Jenis batuan penyusun daerah tersebut yaitu merupakan batuan malihan

paleozoikum yang terdiri dari sekis, gneiss, filit kuarsit, batusabak dan sedikit

pualam. Namun yang di jumpai dilapangan yaitu batuan sekis dengan ciri fisik

warna lapuk coklat kemerahan dan warna segar abu-abu kekuningan, memiliki

struktur foliasi dan tekstur kristaloblastik, komposisi mineral yang di jumpai yaitu

kuarsa mika dan biotit.

Gambar 16. Singkapan batuan sekis dengan araf foto N500E, Arah Foliasi N2500E
54

Gambar 17. kejadian longor dengan arah foto N3400E

c. Tingkat rawan longsor sedang

Daerah Tingkat rawan longsor sedang menempati kawasan paling luas

yaitu 2145,04 Km2 atau 51.69 %. Kecamatan yang luas yang menempati kawasan

ringkat rawan sedang adalah Kecamatan Lambandia. Berdasarkan pengamatan

langsung lapangan pada Kecamatan Poli-Polia, kondisi kawsan ini adalah

sebagai berikut Kawasan ini pengaruhi oleh kemiringan lereng 8-15% yang

termasuk dalam kategori curam, tataguna lahan hutan. Jenis batuan yang

menyusun kawasan ini tidak ditemukan langsung diapangan namun dalam

geologi regional lembar kolaka daerah pengamatan termasuk dalam formasi

langkowala yang tersusun atas batupasir, serpih dan konglomerat. Jenis tanah

yang terdapat pada kawasan ini yaitu alluvial yang memiliki ciri fisik, warna

kuning ke abu-abuan, memiliki ukuran butir pasir halus, sifat liat gembur. Curah

hujan pada kawasan ini masih tergolong rendah yaitu > 1000 mm.
55

Gambar 18 . (A) tingkat rawan longsor sedang dengan arah penggambaran


N 180E dan ( B) tingkat rawan longsor rendah dan (C) Sampel jenis tanah aluvial

d. Tingkat rawan longsor rendah

Daerah kawasan longsor rendah menempati luas 498.11 Km2 atau 12,03

%. Berdasarkan pengamatan langsung lapangan pada Kecamatan Tinondo,

kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut: Kawasan ini pengaruhi oleh

kemiringan lereng 0-8 % yang termasuk dalam kategori landai, tataguna lahan

sawah. Jenis batuan yang menyusun kawasan ini merupakan aluvial. Jenis tanah

yang terdapat pada kawasan ini yaitu podsolik yang memiliki ciri fisik, warna
56

coklat ke kuningan, memiliki ukuran butir lanau, memiliki sifat liat gembur.

Curah hujan pada kawasan ini masih tergolong rendah yaitu > 1000 mm.

Gambar 19. (A) kondisi potensi longsor rendah foto N2260E dan (B) jenis tanah
podsolik Kecamatan Tinondo dengan arah foto N 3500E

Pengamatan lapangan juga dilakukan pada Kecamatan Ladongi yang

pengaruhi oleh kemiringan lereng 0-8 % yang termasuk dalam kategori landai,

tataguna lahan sawah. Jenis tanah yang terdapat pada kawasan ini yaitu aluvial

yang memiliki ciri fisik, memiliki warna coklat kemerahan, memiliki ukuran butir
57

pasir, memiliki sifat liat gembur. Curah hujan pada kawasan ini masih tergolong

rendah yaitu > 1000 mm. Jenis batuan yang menyusun kawasan ini memiliki ciri

fisik warna lapuk abu-abu kehitaman dan warna segar abu-abu kecoklatan,

kristalinitas holokristalin, dan granulitas faneritik. Memiliki bentuk euhedral-

subhedral, relasi inequigranular, memiliki struktur massif dan komposisi mineral

olivin, dan piroksin. Berdasarkan cirri fisik tersebut nama batuan ini adalah

peridotit ( Fenton 1940).

Gambar 19. Singkapan batuan beku (peridotit) dengan arah foto N 670E

Gambar 20. Potensi longsor rendah dengan arah foto N170E


58

e. Tingkat rawan longsor sangat rendah

Kawasan longsor sangat rendah menempati luas 15,14 Km2 atau 0.36%

terdapat pada Kecamatan Mowewe dan kecamatan Tirawuta. Potensi longsor

sangat rendah tidak dilakukan pengamatan secara langsung dilapangan namun

daerah ini secara regional tersusun oleh batuan malihan palozoikum yang terdiri

dari sekis, gneiss, filit, kuasit, batusabak, dan sedikit pualam. Jenis tanah yang

yang mendominasi daerah ini yaitu jenis tanah podsolik yang dimana secara

pengamatan lapangan di jumpai pada Kecamatan Mowewe dan tataguna lahan

sawah. Curah hujan pada kawasan ini masih tergolong rendah yaitu > 1000 mm.

C. Sebaran Tingkat Rawan Bencana Tanah Longsor

Sebaran kawasan tingkat ancaman bencana tanah longsor daerah

penelitian terdiri dari ancaman tingkat bencana tanah longsor paling tinggi,

tingkat ancaman tinggi, tingkat ancaman sedang, tingkat ancaman rendah, dan

tingkat ancaman sangat rendah yang di sajikan pada table berikut:

Tabel 17. Potensi longsor pada Kecamatan Uluiwoi


Luas Luas
Nama Luas wilayah wilayah Wilayah
Klasifikasi
Kecamatan (Km2) Kecamatan Dalam
(Km2) (%)
Kecamatan Sangat tinggi -
uluiwoi tinggi 164.75 75.49
218.24
sedang 49.6 218.24 22.73
rendah 3.89 218.24 1.78
Sangat rendah -
59

Tabel 18. Potensi longsor pada Kecamatan Lambandia


Luas Luas wilayah Luas
Nama Wilayah
Klasifikasi wilayah Kecamatan
Kecamatan Dalam
(Km2) (Km2) (%)
Sangat tinggi -
tinggi 34.1 222.25 15.34
Kecamatan
sedang 161.71 222.25 72.76
Lambandia
rendah 26.44 222.25 11.89
Sangat rendah -

Tabel 19. Potensi longsor pada Kecamatan Ueesi


Luas Luas
Nama Luas wilayah wilayah Wilayah
Klasifikasi
Kecamatan (Km2) Kecamatan Dalam
(Km2) (%)
Sangat tinggi 11 1889.76 0.58
tinggi 727.15 1889.76 38.47
Kecamatan
sedang 1054.46 1889.76 55.79
Ueesi
rendah 97.15 1889.76 5.14
Sangat rendah -

Tabel 20. Potensi longsor pada Kecamatan Dangia


Luas Luas
Nama wilayah Wilayah
Klasifikasi Luas wilayah
Kecamatan Kecamatan Dalam
(Km2) (%)
Sangat tinggi - -
tinggi - -
Kecamatan
sedang 4.17 84.11 4.95
Dangia
rendah 79.94 84.11 95.042
Sangat rendah -

Tabel 21. Potensi longsor pada Kecamatan Aere


Luas wilayah Luas
Nama Luas Wilayah
Klasifikasi Kecamatan
Kecamatan (Km2) Dalam
(Km2) (%)
Sangat tinggi 4.19 338.55 1.24
Kecamatan tinggi 38.28 338.55 11.31
Aere sedang 257.17 338.55 75.96
rendah 38.912 338.55 11.49
60

Tabel 22. Potensi longsor pada Kecamatan Lalolae


Luas
Nama Luas wilayah Wilayah Luas Dalam
Klasifikasi
Kecamatan (Km2) Kecamatan (%)
(Km2)
Sangat tinggi 9.39 97.25 9.65
Kecamatan tinggi 27.47 97.25 28.25
Lalolae sedang 47.25 97.25 48.58
rendah 13.14 97.25 13.51

Tabel 23. Potensi longsor pada Kecamatan Lalolae


luas
Nama Luas wilayah wilayah Luas Dalam
Klasifikasi
Kecamatan (Km2) kecamatan (%)
(Km2)
Sangat tinggi 5.59 253.14 2.2
tinggi 31.32 253.14 12.37
Kecamatan
sedang 81.09 253.14 32.03
Ladongi
rendah 133.88 253.14 52.88
Sangat rendah 1.26 253.14 0.49

Tabel 24. Sebaran potensi longsor pada Kecamatan Tirawuta


luas
Luas
Nama wilayah Luas Dalam
Klasifikasi wilayah
Kecamatan kecamatan (%)
(Km2)
(Km2)
Sangat tinggi 5.14 289.31 1.77
tinggi 157.05 289.31 54.28
Kecamatan
sedang 107.95 289.31 37.31
Tirawuta
rendah 17.84 289.31 6.16
Sangat rendah 1.33 289.31 0.45

Tabel 25. Potensi longsor pada Kecamatan Tinondo


Luas
Luas Luas Dalam
Nama Wilayah
Klasifikasi Wilayah (%)
Kecamatan Kecamatan
(Km2) (Km2)
Sangat tinggi - - -
tinggi 97.15 219.11 44.33
Kecamatan
sedang 25.44 219.11 11.61
Tinondo
rendah 93.73 219.11 42.77
Sangat rendah 2.79 219.11 1.27
61

Tabel 26. Sebaran potensi longsor pada Kecamatan Tinondo


Luas Luas Dalam
Nama Luas wilayah Wilayah (%)
klasifikasi
kecamatan Km2) Kecamatan
(Km2)
Sangat tinggi - -
tinggi 35.89 157.98 22.72
Kecamatan
sedang 87.98 157.98 55.69
poli-polia
rendah 34.11 157.98 21.59
Sangat rendah - 157.98

Tabel 27. Potensi longsor pada Kecamatan Mowewe


Luas
Luas Dalam
Nama Wilayah
klasifikasi Luas wilayah (%)
kecamatan Kecamatan
(Km2)
tinggi 119.38 181.75 65.68
Kecamatan sedang 33.43 181.75 18.39
Mowewe rendah 19.3 181.75 10.612
Sangat rendah 9.64 181.75 5.304

Tabel 28. Potensi longsor pada Kecamatan Loea


Luas Luas
Luas
Nama Wilayah Wilayah
klasifikasi Wilayah
kecamatan Kecamatan Dalam
(Km2) (Km2) (%)
Sangat tinggi 0.3 141.76 0.21
tinggi 22.67 141.76 15.99
Kecamatan
sedang 99 141.76 69.83
Loea
rendah 19.69 141.76 13.89
Sangat rendah 0.1 141.76 0.07

Berdasarkan tabel diatas Sebaran potensi longsor sangat tinggi terbesar

terdapat pada Kecamatan Ueesi dengan luas 11 Km2 dari total luas kecamatan dan

terkcil terdapat pada Kecamatan Loea dengan luas 0.3 Km2 dari total luas

Kecamatan. Potensi longsor tinggi terbesar terdapat pada kecamatan Ueesi dengan

luas 727.15 Km2 dari total luas kecamatan dan terkecil terdapat pada kecamatan
62

Loea dengan luas 22.67 Km2. Potensi longsor sedang terbesar terdapat pada

Kecamatan Ueesi dengan luas 1054.46 Km2 dari total luas Kecamatan dan terkecil

terdapat pada Kecamatan Dangia dengan luas 4.17 Km2. Potensi longsor rendah

terbesar terdapat pada Kecamatan Ladongi dengan luas 133.88 Km2 dan terkecil

terdapat pada Kecamatan Uluiwoi dengan luas 3.89 Km2. Sebaran potensi longsor

sangat rendah terbesar pada Kecamatan Mowewe dengan luas 9,64 Km2 dan

terkecil terdapat pada kecamatan Loea dengan luas 0,1 Km2.

Persentase potensi bencana tanah longsor pada daerah penelitian relatif

sedang ( 52%) hingga tinggi (35%) yaitu mendominasi dari seluruh wilayah

daerah penelitian sedangkan sebagian kecil wilayah tersebut memiliki persentase

potensi bencana tanah longsor yaitu rendah (12 %) , sangat tinggi (0.8 %), dan

sangat rendah (0,3%). Data ini menunjukan bahwa kabupaten Kolaka Timur

merupakan daerah yang berpotensi tanah longor.

1%
0%

12%
35% Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
52% Sendah
Sangat Rendah

Gambar 21. Persentase potensi bencana tanah longsor


63

5. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil

kesimpulan sebagi berikut:

1. Klasifikasi tingkat rawan longsor daerah Kabupaten Kolaka Timur

menggunakan metode overlay dan pendekatan berjenjang tertimbang

menghasilkan 5 tingkat ancaman yaitu, tingkat ancaman sangat tinggi

dengan luas 35.63 Km2 atau 0.85 %, tingakat ancaman tinggi dengan luas

1455.25 Km2 atau 35.07%, tingkat ancaman sedang dengan luas 2145.03

Km2 atau 51.69 %, tingkat ancaman rendah dengan luas 498.11 atau 12,03

%, dan tingkat ancaman sangat rendah dengan luas 15.14 Km2 atau 0.36

%.

2. Sebaran potensi longsor sangat tinggi terbesar terdapat pada Kecamatan

Ueesi dengan luas 11 Km2 dari total luas kecamatan atau dan terkcil

terdapat pada Kecamatan Loea dengan luas 0.3 Km2 dari total luas

Kecamatan. Potensi lonsor tinggi terbesar terdapat pada kecamatan Ueesi

dengan luas 727.15 Km2 dari total luas kecamatan dan terkecil terdapat

pada kecamatan Loea dengan luas 22.67 Km2. Potensi longsor sedang

terbesar terdapat pada Kecamatan Ueesi dengan luas 1054.46 Km2 dari

total luas Kecamatan dan terkecil terdapat pada Kecamatan Dangia dengan

luas 4.17 Km2. Potensi longsor rendah terbesar terdapat pada Kecamatan

Ladongi dengan luas 133.88 Km2 dan terkecil terdapat pada Kecamatan

Uluiwoi dengan luas 3.89 Km2.


64

B. Saran

Saran yang dapat saya sampaikan dalam penelitiaan iniadalah sebagai

berikut:

1. Pada analisa selanjutnya data setiap parameter menggunakan data

terbaru sehingga hasik akhir dari analisa bias lebih sempurna

2. Agar penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih detail tentang factor

penyebab terjadinya longsor pada daerah tingkat rawan yang tinggi

3. Parameter geologi yang digunakan masih terlalu umum dan tidak

membahas penyebab terjadinya longsor, yang mungkin disebabkan oleh

fenomena geologi seperti kekar, patahan, lipatan dan sesar.


DAFTAR PUSTAKA

Annisa J. dkk, 2015. Analisis Daerah Rawan Longsor Berbasis Sistem Informasi
Geografis di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Universitas Riau,
JOM FTEKNIK Volume 2 No.2 Oktober 2015.

Arifin, S., Carolila, I., Winarso, G., 2006. Implementasi pengindraan jauh dan SIG
untuk inventarisasi Daerah Rawan Bencana Longsor (Propinsi Lampung).
Jurnal Pengindraan jauh dan pengelolahan itra Digital,3 (1) 77-86.Badan
Geolgi, 2013, Kejadian Gerakan Tanah

Busthan A. 2007. Studi Penyebab Longsoran di Daerah Alejjang Kecamatan


Barru Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian
Geosains, Vol.03 No. 01, Januari April 2007 : 71-82.

Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Manajemen


Bencana Tanah Longsor http ://www .pikiranrakyat .com /cetak
/2005/0305/22/0802.htm [23 September 2013]

Eddy Prahasta. 2002 Konsep-Konsep Sistem Informasi Geografis. CV Informatika


Bandung
Elifas, d.j.1989. Geologi Kuarter Kaitannya dengan Gerakan Tanah Sebagai
Salah Satu Bencana Alam Yang Menonjol di Indonesia, Makalah Dalam
Loka Karya Geologi Kuarter: Bandung

Effendi, A. 2008. Identifikasi Kejadian Longsor dan Penentuan Faktor factor


Utama Penyebabnya di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor.
Skripsi. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor

Harseno Edy, Vickey Igor R Tampubolon, 2007. Aplikasi Sistem Informasi


Geografis Dalam Pemetaan Batas Administrasi, Tanah, Geologi,
Penggunaan Lahan, Lereng, Daerah Istimewa Yogjakarta Dan Daerah
Aliran Sungai Di Jawa Tengah Menggunakan Software Arcview GIS,
Jurnal UKRIM, edisi 1

Indrayana, W. 2011. Geologi Dan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Ruas Jalan
Daerah Plaosan Dan Sekitarnya Kabupaten Magetan Provinsi Jawa
Timur. Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, 2012.
Yogyakarta.

65
66

Karnawati, D. 2005. Bencana alam Gerakan Tanah di Indonesia dan Upaya


Penanggulangannya, Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas
Gajahmada, Yogyakarta.

Karnawati, D. 2007. Mekanisme Gerakan Massa Batuan Akibat Gempa Bumi;


Tinjauan dan Analisis Geologi Teknik. Dinamika Teknik Sipil (Juli, 2007),
Vol. 7, No. 2 : 179 190.

M. Sompotan, Armstrong., 2012. Struktur Geologi Sulawesi. Perpustakaan sains


kebumian institut teknologi Bandung.

Nandi. 2007. Longsor. Bandung : Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI

Paramarta, I Komang Adi, 2013. Sistem Informasi Geografis Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kabupaten Buleleng Berbasis Web. Jurnal Nasional
Pendidikan Teknik Informatika. ISSN : 2089-8673, Vol. 2, No. 3,
Desember 2013

Prasetyo G. 2013. Geographic Information Sistem (GIS) Untuk Deteksi Daerah


Rawan Longsor Studi Kasus di Kelurahan Karang Anyar Gunung
Semarang Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
.
Rahman, A. 2010. Penggunaan Sistem Informasi Geografi Untuk Pemetaan
Kerawanan Longsor Di Kabupaten Purworejo. Jurnal Bumi Lestari
Volume 10 No 2 Banjarmasin< Program Studi Manajemen Sumber Daya
Perairan
Rahmawati, dkk., 2011. Sistem Informasi Geografi (SIG) Pemantauan Balita
Penderita Gizi Buruk di Surabaya Institut Teknologi Sepuluh November,
Surabaya

Septianto, B. 2008. Identifikasi Daerah Rawan Longsor Di Kabupaten Bogor


Jawa Barat. Program Studi Ilmu Tanah Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Sriyono Agus S.Si, 2012 Identifikasi Kawasan Rawan Bencana Longsor


Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang Universitas Negeri
Semarang

Sugiyono., 2007.Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, Bandung

Surono, 2010. Geologi Lengan Tenggara. Badan Geologi. Bandung

Surono, 2013, Geologi Lengan Tenggara Sulawesi, Pusat Penelitian dan


Pengembangan Geologi.
67

Sutikno. 1997. Penanggulangan Tanah Longsor. Bahan Penyuluhan Bencana


Alam Gerakan Tanah. Jakarta.

Sutikno. 2001. Mengenal Tanah Longsor. Bandung : Direktorat Geologi Tata


Lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. Tampang, Emba

Van Zuidam, R. A. 1985. Aerial Photo-Interpretation in Terrain Analysis and


Geomorphologic Mapping. Smith Publisher The Hague, Enschede,
Netherlands.
68