Anda di halaman 1dari 10

ISSN Print : 2356-3222

LJTMU: Vol. 03, No. 02, ISSN Online : 2407-3555


Oktober 2016, (01-10)

http://ejournal-fst-unc.com/index.php/LJTMU

Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap Efisiensi Kolektor Surya Pelat


Gelombang Tipe V pada Proses Destilasi Air Laut
Dedy A. Bara1),Gusnawati1), Nurhayati1)
1)
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana
Jl. AdiSucipto, Penfui-Kupang, NTT 85001, Tlp: (0380)881597
Email:alexanderbara97@yahoo.co.id
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh ketebalan kaca penutup 3mm, 5mm dan 8mm
untuk mendapatkan efisiensi kolektor surya plat V dan efisiensi destilasi. Dari hasil penelitian terlihat bahwa
efisiensi kolektor dan jumlah air destilasi yang dihasilkan pada ketebalan kaca 3 mm, 5 mm dan 8 mm
mengalami penurunan secara bersamaan dengan efisiensi kolektor tertinggi pada ketebalan kaca penutup 3 mm
dengan nilai rata-rata sebesar 47,45% dan efisiensi terendah terjadi pada ketebalan kaca penutup 8 mm dengan
nilai rata-rata 40,65 %. Sedangkan jumlah air destilasi terbesar pada ketebalan kaca penutup 3 mm dengan nilai
rata-rata sebesar 16,93 mL dan jumlah air terkecil pada ketebalan kaca 8 mm dengan nilai rata-rata sebesar 11,13
mL. Akibatnya efisiensi rata-rata destilasi terbesar terjadi pada ketebalan kaca 3 mm sebesar 13,95%, sedangkan
efisiensi rata-rata destilasi terendah terjadi pada ketebalan kaca 5 mm sebesar 8,86%. Hal ini disebabkan karena
ketebalan kaca 3 mm memiliki nilai transmisivitas tinggi dan absorbtivitas berbanding terbalik dengan ketebalan
kaca penutup 5 mm dan 8 mm memiliki transmisivitas rendah dan absorbtivitas tinggi
Kata Kunci: Kolektor surya, efisiensi destilasi, efisiensi kolektor, tebal kaca.

Abstract
This study aims to analyze the effect of the glass cover with the thickness 3 mm, 5 mm and 8 mm
get the efficiency of the solar collector plate V and the efficiency of distillation. The result is that the
efficiency of the collector and the amount of water distillation produced by the glass cover with the
thickness 3 mm, 5 mm, and 8 mm reduced simultaneously. The highest efficiency of collector occurred
on the glass cover with the thickness 3 mm with an average value of 47. 85% and the lowest efficiency
occurred on glass cover with the thickness 8 mm with the average value of 40.65%. While the highest
amount of water distillation occurred on glass cover with the thickness 3 mm with an average value
of 16.93 mL and the lowest amount of water occurred on the glass with the thickness 8 mm with an
average value of 11.13 mL. Consequently, the average of the efficiency of the lowest distillation
occurred on glass with the thickness 5 mm is 8.86%. This is due to the glass cover with the thickness
3 mm has a high transmission and absorption in which it is inversely proportional to the glass cover
with the thickness 5 mm and 8 mm that has low transmission and high absorption.
Key Words: Solar collector, Efficiency of distillation, efficiency of collector, glass thickness

alternatif atau energi yang dapat diperbarui.


PENDAHULUAN Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka
salah satu energi terbarukan yang bisa
Seiring dengan perkembangan peradaban
dimanfaatkan sebagai pengganti energi fosil
manusia, kebutuhan akan energi semakin adalah energi surya. Selain bersifat energi tak
meningkat. Kebutuhan energi tersebut sebagian terbatas keuntungan dari pemanfaatan energi
besar diperoleh dari pembakaran bahan bakar
surya yaitu penggunaannya aman dan tidak
fosil seperti minyak bumi, gas alam dan batu
menghasilkan polusi udara.
bara. Disisi lain bahan bakar fosil merupakan
Salah satu pemanfaatannya adalah dengan
bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui
melakukan destilasi air laut menggunakan
sehingga lama kelamaan akan habis. Saat ini tenaga surya. Prinsip dasar destilasi air laut
ketersediaan bahan bakar fosil semakin menipis menggunakan tenaga surya adalah dengan cara
sehingga perlu dilakukan penyediaan energi
menguapkan air laut, kemudian menampung air
LONTAR Jurnal Teknik Mesin Undana, Vol. 03, No. 02, Oktober 2016

yang diembunkan, sehingga diharapkan garam KAJIAN PUSTAKA


mineral dan kotoran-kotoran yang ada pada air
laut tersebut akan terpisahkan, sehingga Energi Surya
diperoleh hasil akhir berupa air bersih. Pada
Energi surya adalah sumber energi yang
prinsipnya destilasi merupakan cara untuk
mendapatkan air bersih melalui proses paling utama di muka bumi. Semua makhluk
penyulingan air kotor. Pada proses penyulingan hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia
kehidupannya tergantung pada energi ini.
terdapat proses perpindahan panas, penguapan,
Energi ini sangat melimpah, ramah lingkungan,
dan pengembunan. Perpindahan panas terjadi
dan tidak bersifat polutif sehingga sangat baik
dari sumber panas menuju air kotor. Jika air
sekali untuk dikembangkan menjadi energi
terus-menerus dipanaskan maka akan terjadi
proses penguapan. Uap ini jika bersentuhan alternatif yang lain. Dalam pemanfaatan energi
dengan permukaan yang dingin maka akan ini diperlukan pengetahuan dan teknologi yang
tinggi agar menghasilkan energi terbarukan
terjadi proses kondensasi pada permukaan
yang efisien dan ekonomis (Sudiyanto, 2011).
dingin tersebut. Pada proses destilasi yang
Radiasi adalah proses perpindahan panas
diambil hanyalah air kondensatnya, kuman dan
melalui gelombang elektromagnetik atau paket-
bakteri akan mati oleh proses pemanasan, dan
kotoran akan mengendap di dasar basin. paket energi (photon) yang dapat dibawa sampai
Pada sistem destilasi air laut tenaga surya, pada jarak yang sangat jauh tanpa memerlukan
interaksi dengan medium (ini yang
kolektor surya sangat berperan penting karena
menyebabkan mengapa perpindahan panas
kolektor surya merupakan suatu alat yang
radiasi sangat penting pada ruang vakum),
berfungsi untuk mengumpulkan energi matahari
yang masuk dan diubah menjadi energi termal disamping itu jumlah energi yang dipancarkan
dan meneruskan energi tersebut ke fluida. sebanding dengan temperatur benda tersebut.
Kedua hal tersebut yang membedakan antara
Prinsip kerja dari kolektor surya ini adalah
peristiwa perpindahan panas konduksi dan
radiasi matahari yang jatuh permukaan kolektor,
konveksi dengan perpindahan panas radiasi
kemudian ditransmisikan melalui kaca penutup
(Koestoer, 2002).
transparan dan diubah menjadi energi panas
oleh pelat penyerap. Selanjutnya akan terjadi
perpindahan panas dari pelat penyerap menuju Radiasi Surya
fluida yang mengalir melewati dalam kolektor. Radiasi surya yang diterima pada setiap
Pada kolektor surya, pelat penyerap sangat titik permukaan bumi tergantung pada hal-hal
berperan penting karena berfungsi sebagai berikut ini:
penyerap intensitas radiasi matahari dan - Posisi surya berdasarkan waktu hari
mengkonversikan menjadi energi panas. Selain - Posisi surya berdasarkan musim
itu, kaca penutup kolektor surya merupakan - Arah kemiringan lokasi
salah satu komponen terpenting dari destilasi - Besar sudut kemiringan lokasi
surya yang berfungsi untuk mengurangi - Ketinggian lokasi dari permukaan air laut
hilangnya panas dari plat penyerap ke - Situasi sekitar lokasi
lingkungan dan tempat kondensasi. Melihat Ada tiga macam cara radiasi surya yaitu
uraian di atas penulis ingin membuat alat (Wiranto, 1995)
destilasi air laut menggunakan kolektor surya - Radiasi langsung (Beam/direct radiation)
pelat gelombang V dengan jenis kaca penutup adalah radiasi yang mencapai bumi tanpa
transparan dan sudut kemiringan 30o. Tujuan perubahan arah atau radiasi yang diterima
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui oleh bumi dalam arah sejajar sinar datang.
performasi alat destilasi, melalui variasi - Radiasi hambur (diffuse radiation) adalah
ketebalan kaca penutup pada kolektor yaitu 3 radiasi yang mengalami perubahan akibat
mm, 5 mm dan 8 mm. pemantulan dan penghamburan.

2
Dedy A. Bara,Gusnawati, Nurhayati, Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap Efisiensi Kolektor Surya Pelat
Gelombang Tipe V pada Proses Destilasi Air Laut

- Radiasi total (global radiation) adalah yang dialami oleh kaca sebelum terpisahnya
penjumlahan radiasi langsung dan radiasi kaca akibat adanya tarikan (fracture). Sumber
hambur. Misalnya data untuk suatu fracture ini dapat muncul jika kaca
permukaan miring yang menghadap tanah mempunyai cacat di permukaan, sehingga
tertutup salju serta menerima komponen tegangan akan terkonsentrasi pada cacat
radiasi karena pemantulan harus dijelaskan tersebut. Kekuatan dari kaca akan bertambah
terlebih dahulu kondisi saljunya yaitu sifat jika cacat di permukaan dapat dihilangkan.
pemantulannya (reflektansi). - Densitas dan Viskositas, densitas adalah
perbandingan antara massa suatu bahan dibagi
Perpindahan Kalor dengan volumenya. Nilai densitas dari kaca
adalah sekitar 2,49 g/cm3. Densitas dari kaca
Perpindahan kalor terjadi karena adanya
akan menurun seiring dengan kenaikan
perbedaan temperatur. Panas akan mengalir
temperatur. Sedangkan, viskositas merupakan
(berpindah) dari tempat yang temperaturnya sifat kekentalan dari suatu cairan yang diukur
lebih tinggi ke tempat yang temperaturnya lebih pada rentang temperatur tertentu. Viskositas
rendah. Perbedaan panas terjadi menurut tiga
dari kaca sekitar 4,5 x 107 poise. Harga
mekanisme, yaitu konduksi, konveksi, dan
viskositas dari kaca merupakan fungsi dari
radiasi.
suhu dengan kurva eksponensial.
Kaca - Sifat termal, konduktivitas panas dan panas
Kaca merupakan sebuah substansi yang ekspansi merupakan sifat thermal yang
keras dan rapuh, serta merupakan padatan penting dari kaca. Kedua sifat ini digunakan
amorf. Hal ini dikarenakan bahanbahan untuk menghitung besarnya perpindahan
pembuat kaca bersifat amorf yang mana dapat panas yang diterima oleh cairan kaca
meleleh dengan mudah. Kaca merupakan hasil tersebut.Nilai dari tahanan kaca sekitar10 20
penguraian senyawasenyawa inorganik yang 1 cm13.
mana telah mengalami pendinginan tanpa Optical properties
kristalisasi. - Refractive properties, kaca mempunyai sifat
Kaca merupakan bentuk lain dari gelas
memantulkan cahaya yang jatuh pada
(Glass). Oksidaoksida yang digunakan untuk
permukaan kaca tersebut. Sebagian sinar dari
menyusun komposisi kaca dapat digolongkan
kaca yang jatuh itu akan diserap dan sisanya
menjadi : akan diteruskan. Apabila cahaya dari udara
- Glass Former merupakan kelompok oksida melewati medium padat seperti kaca, maka
pembentuk utama kaca.
kecepatan cahaya saat melewati kaca
- Intermediatec, oksida yang menyebabkan
menurun. Perbandingan antara kecepatan
kaca mempunyai sifat-sifat yang lebih
cahaya di udara dengan kecepatan cahaya
spesifik, contohnya untuk menahan radiasi,
yang lewat gelas ini disebut dengan indeks
menyerap UV, dan sebagainya. bias. Nilai indeks bias untuk kaca adalah
- Modifier, oksida yang tidak menyebabkan 1,52.
kaca memiliki elastisitas, ketahanan suhu,
- Absorbtive properties, intensitas cahaya yang
tingkat kekerasan, dll.
masuk kedalam akan berkurang karena
Sifat kaca yang penting untuk dipahami
adanya penyerapan sepanjang tebal kaca
adalah sifat pada saat kaca berbentuk fasa cair
tersebut. Jika kaca semakin tebal, maka energi
dan fasa padatnya. Beberapa sifat fisik dan cahaya yang diserap akan semakin banyak
kimia yang penting dari kaca antara lain : sedangkan intensitas cahaya yang masuk
- Sifat mekanik, tension strength atau daya tarik
melalui kaca akan semakin rendah.
adalah sifat mekanik utama dari kaca. Tensile
- Stabilitas kimia adalah ketahanan suatu bahan
strength merupakan tegangan maksimum
terhadap pengaruh zat kimia. Stabilitas kimia

3
LONTAR Jurnal Teknik Mesin Undana, Vol. 03, No. 02, Oktober 2016

banyak dipengaruhi oleh bahan bahan Proses Destilasi


pembentuk kaca.
Destilasi adalah proses pemisahan garam
Bahan baku utama yang dapat digunakan
dan mineral lainnya dari air laut dan air payau
untuk pembuatan kaca, antara lain:
dengan cara pemanasan guna mendapatkan air
- Pasir silika berguna untuk membentuk cairan
murni (air bersih). Pada proses destilasi tenaga
gelas yang sangat kental yang memiliki
surya, air laut dipanaskan dengan tenaga surya
ketahanan terhadap perubahan temperatur
di dalam kolektor kemudian uap air yang
yang mendadak.
dihasilkan dikondensasikan untuk memperoleh
- Dolomite (CaO.MgO.H2O). Penggunaan
air tawar. Proses ini menghasilkan air tawar
dolomite sangat penting karena dapat
yang sangat tinggi kemurniannya dibandingkan
mempermudah peleburan (menurunkan
dengan proses lain, (Mulyanef, 2010).
temperatur peleburan) serta mempercepat
proses pendinginan kaca. Sistem Pengumpulan Langsung Destilasi
- Soda Ash (Na2CO3). Soda Ash ini digunakan Surya
sebagai sumber Na2O dan K2O. Fungsi dari Metode ini memerlukan teknologi yang
Na2O adalah menurunkan titik lebur. relatif sederhana dan dapat dioperasikan oleh
Penggunaan Soda Ash adalah mempercepat pekerja yang tidak terampil. Karena kebutuhan
pembakaran, menurunkan titik lebur, proses pemeliharaan yang rendah, dapat
mempermudah pembersihan gelembung dan digunakan dengan sejumlah masalah kecil yang
mengoksidasi besi. ada di mana-mana. Sebuah contoh awal dari
- Cullet merupakan sisasisa dari pecahan kaca sistem pengumpulan matahari langsung,
yang dapat digunakan sebagai salah satu penggunaan rumah kaca untuk menguapkan air
bahan baku utama dari produksi kaca. asin. Di mana tangki air laut dalam jumlah
Kolektor Energi Surya konstan dengan posisi terbalik dan ditutup kaca
amplop berbentuk V, bagaimana sinar matahari
Kolektor surya dapat didefinisikan sebagai
melewati kaca penutup dan diserap oleh pelat
sistem perpindahan panas yang menghasilkan
absorber berwarna hitam lalu dipanaskan
energi panas dengan memanfaatkan radiasi sinar
dengan tekanan uap yang meningkat. Uap air
matahari sebagai sumber energi utama. Ketika
yang dihasilkan kemudian dikondensasikan di
cahaya matahari menimpa absorber pada
bagian bawah atap dan uap berjalan menuju ke
kolektor surya, sebagian cahaya akan
dalam palung, kemudian terjadinya perilaku
dipantulkan kembali ke lingkungan, sedangkan
penyulingan air di waduk.
sebagian besarnya akan diserap dan dikonversi
menjadi energi panas, lalu panas tersebut Efisiensi Termal Kolektor Surya
dipindahkan kepada udara yang bersirkulasi di Ukuran tingkat performace collector
dalam kolektor surya untuk kemudian disebut juga efisiensi kolektor. Efisiensi
dimanfaatkan guna berbagai aplikasi. Kolektor kolektor didefinisikan sebagai perbandingan
surya yang pada umumnya memiliki komponen- antara energi panas yang digunakan untuk
komponen utama, yaitu: menaikkan temperatur udara terhadap energi
- Cover berfungsi untuk mengurangi rugi panas radiasi yang diterima oleh kolektor dalam waktu
secara konveksi menuju lingkungan. tertentu. Jika ditinjau dari laju aliran massa
- Absorber berfungsi untuk menyerap panas udara, banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk
dari radiasi cahaya matahari. menaikkan temperatur udara. Besar tahanan
- Isolator berfungsi meminimalisasi kehilangan termal yang terjadi antara absorber dengan kaca
panas secara konduksi dari absorber menuju pada kolektor terjadi secara konduksi dan
lingkungan. radiasi. Perhitungan tahanan termal antara
- Frame berfungsi sebagai struktur pembentuk absorber dengan kaca dilakukan secara
dan penahan beban kolektor konduksi karena tidak ada aliran udara yang

4
Dedy A. Bara,Gusnawati, Nurhayati, Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap Efisiensi Kolektor Surya Pelat
Gelombang Tipe V pada Proses Destilasi Air Laut

terjadi di dalam kolektor. sangat panas karena terakumulasi terus menerus


(Koestoer, 2002).
Perhitungan Koefisien Konveksi
hr,amb-cg = cg
T
cg
+Tsky Tcg2 +Tsky
2
Tcg -Tsky
Randall,Vee-Corrugated Enclosures Tcg -Tamb

Parameter yang menghubungkan dimana:


ketebalan relatif antara lapisan batas cg = Emisitas kaca penutup
hidrodinamik dan lapisan batas termal. Randall = Konstanta Stefan-Boltzmann 5,67 x
menginvestigasi permukaan gelombang bentuk 10-8
V dan mengkorelasikan data dalam bilangan Tcg = Temperatur kaca (0C)
Reynolds dan Nusselt dalam bentuk persamaan: Tsky = Temperatur panas datang (0C)
Nu L .k Tamb = Temperatur lingkungan (0C)
hw = hr,cg-abs = Radiasi antara kaca penutup dan
L
absorber (W/m2.K)

Nu = max C.Ra n ,1 Sifat dari permukaan radiasi (emisivitas)
dimana hw sebagai koefisien perpindahan panas, didefinisikan sebagai perbandingan radiasi yang
k konduktivitas termal fluida dan Nu merupakan dihasilkan oleh permukaan benda hitam pada
Suatu bilangan yang didapat secara empiris temperatur yang sama. Emisivitas mempunyai
yang besarnya tergantung dari bilangan Reynold nilai yang berbeda tergantung kepada panjang
dan bilangan Prandtl untuk konveksi paksa dan gelombang dan arahnya. Nilai emisivitas
tergantung pada bilangan Rayleigh untuk bervariasi dari 0-1, di mana benda hitam
konveksi bebas (alami). mempunyai nilai emisivitas 1 (Koestoer, 2002).
Tabs +Tcg
Konveksi antara kaca penutup dan pelat hr,cg-abs =
absorber 1- abs
+
1
+
1- cg Ap
1 abs F12-3 cg Ac
g Tcg -abs L3
g'Tcg -abs L3 T f,cg -abs dimana:
Ra = =
v v abs = Emisitas absorber
dimana: Ap = Luasan penampang Kolektor
Ra = Bilangan Rayleigh Ac = Luasan penampang pelat absorberd (m2)
g = Konstanta gravitasi (m/s2) F12-3 = Perpindahan panas penampang dari kaca
= Koefisien ekspansi volum metric (untuk menuju pelat absorberd dan pelat
gas ideal ' I ) penyerap.
T
T = Perbedaan temperature antara kaca Perhitungan Performansi Kolektor Surya
penutup dengan absorberd - Tahanan thermal antara kaca penutup dan
L = Panjang karakteristik kaca penutup (m) udara luar
v = Viskositas kinematik (m2/s) 1
=Difusi thermal (m2/s) R1 =
hw +hr,amb-cg
Perhitungan Koefisien Radiasi - Tahanan thermal antara kaca penutup dan
Kaca hanya dapat melewatkan cahaya pelat absorber
dengan panjang gelombang tertentu yang kecil 1
R2 =
sehingga ketika panjang gelombang cahaya hc,cg +hr,cg-abs
membesar maka cahaya tidak akan dapat keluar - Koefisien perpindahan panas bagian atas
dari rumah kaca lagi karena panjang Rugi-rugi kalor pada bagian atas terjadi
gelombangnya membesar dan energinya akan secara koveksi dan radiasi, sedangkan rugi-rugi
membuat suhu dalam rumah kaca menjadi kalor secara konduksi diabaikan sebab tebal

5
LONTAR Jurnal Teknik Mesin Undana, Vol. 03, No. 02, Oktober 2016

cover kecil sehingga perbedaan temperatur tidak - Maka faktor efisiensi dapat dihitung pada
begitu signifikan (William,1986). Maka nilai persamaan di bawah ini
koefisien rugi-rugi kalor bagian atas secara teori 1
F' =
dapat didekati dengan persamaan berikut UL
1+
1 h1 1
UT = +
1 1 1
R1 + R2 + sin +
h f1 2 h2 hr
- Koefisien perpindahan panas bagian bawah - Faktor Aliran Kolektor
Maka nilai koefisien rugi-rugi kalor m.C
p
=
bagian bawah secara teori dapat didekati dengan AC .U L .F'
persamaan berikut:
1 -1

UB = F" = 1 - e
L1 L2 1
+ +
k1 k2 h f 2
- Faktor Pelepasan Kalor Kolektor
- Overall Heat Transfer Coefficients Faktor pemindahan panas kolektor, FR,
Proses perpindahan panas tidak semuanya menyatakan rasio antara energi yang berguna
dapat diubah menjadi energi lain, dan pada aktual dari kolektor terhadap energi berguna
kolektor surya terjadi kerugian panas. Kerugian maksimum yang dapat diperoleh kolektor.
panas ini terjadi pada bagian atas, dan bagian FR = F".F'
bawah. Pada umumnya kerugian panas bagian
- Faktor energi kalor yang dihasilkan
samping diabaikan karena luasan kontak
Berdasarkan analisa tersebut dapat
perpindahan panas dari pelat penyerap ke
samping sangat kecil dibandingkan dengan disimpulkan bahwa titik puncak dari QU ataupun
intensitas belum tentu merupakan titik puncak
luasan pelat penyerap pada bagian atas/bawah.
dari efisiensi, karena titik puncak efisiensi
Untuk koefisien kerugian panas total dapat
sendiri adalah kondisi dimana terjadi
ditulis sebagai berikut : U L = U T +U B
peningkatan QU yang sebesar-besarnya dengan
dimana: peningkatan intensitas matahari yang terkecil.
UT = Koefisen kerugian kalor bagian atas Harga efisiensi aktual selalu lebih rendah dari
(W/m2.K) harga teoritisnya, hal ini berlaku untuk ketiga
UB = Koefisien kerugian panas bagian bawah bahan kolektor. Analisa perhitungan efisiensi
(W/m2.K) teoritis berdasar pada kondisi permukaan, serta
UL = Koefisien kerugian panas total (W/m2.K) mengasumsikan bahwa kondisi fluida adalah
- Faktor efisiensi kolektor sama dengan permukaan sistem
Namun peningkatan energi panas yang
dapat dimanfaatkan tidak otomatis akan
Q u,,teo = AC FR S - U L T f,in - Tamb
meningkatkan effisiensi, apabila tambahan - Efisiensi Kolektor
energi yang diberikan jauh lebih besar daripada Energi radiasi yang mengenai bahan
kenaikan energi yang didapatkan, maka efisiensi mengalami beberapa proses dimana sebagian
sistem justru akan menurun. Kemampuan sistem energinya dipantulkan, sebagian lagi diserap
untuk memindahkan kalor ke fluida dapat dilihat dan sebagian lagi diteruskan dimana yang
dari heat removal factor, yaitu hasil kali antara dipantulkan disebut fraksi refleksifitas (), dan
faktor efisiensi dan faktor aliran fluida, dimana fraksi yang diserap disebut fraksi absorbsi(),
efisiensi faktor sendiri dipengaruhi oleh dan fraksi yang diteruskan disebut fraksi
kolektor sehingga dengan laju alir yang sama, transmisivitas () perbandingan antara fluks
maka desain kolektor akan memegang peranan yang diserap oleh pelat penyerap dengan fluks
yang dominan dalam meningkatkan harga heat yang mengenai kaca penutup merupakan hasil
removal factor (William,1986). kali transmisifitas dengan absortivitas. Berkas

6
Dedy A. Bara,Gusnawati, Nurhayati, Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap Efisiensi Kolektor Surya Pelat
Gelombang Tipe V pada Proses Destilasi Air Laut

radiasi matahari yang mengenai kolektor panas Pada bagian penutup kolektor menggunakan
ditunjukan oleh faktor (). Faktor ini kaca bening (transparan), dengan variasi
merupakan hasil kali transmisifitas dan ketebalan kaca yang akan digunakan adalah 3,
absortivitas. Diasumsikan bahwa kaca penutup 5, 8 mm. Dinding kolektor dilapisi stryfoam
tidak menyerap radiasi matahari sehingga untuk mengurangi rugi panas yang terlepas ke
semua radiasi matahari diteruskan ke pelat lingkungan. Pelat aluminium 0,4 mm ditempa
penyerap. Apabila menghitung reduksi laju sampai berbentuk gelombang V dengan tinggi
panas yang hilang karena penyerapan radiasi gelombang 100 mm dan memiliki sudut 35o.
oleh kaca penutup sangat kecil dibandingkan Selanjutnya pelat absorber yang telah dibentuk
yang diserap pelat penyerap, maka efisiensi dilapisi dengan plastik hitam mengikuti bentuk
kolektor surya dapat dinyatakan (Duffie & pelat.
Beckman,1991)
Qu
=
AC I T
dimana:
= Efisiensi kolektor surya (%)
Qu= Energi yang diserap (W/m2)
Ac= Luasan absorber (m2)
IT= Intensitas cahaya (W/m2)
- Efisiensi Destilasi
Efisiensi destilasi merupakan Gambar 1. Desain kolektor
perbandingan energi panas untuk menguapkan
air laut yang menjadi produk air bersih terhadap
besar radiasi matahari yang diterima oleh alat
destilasi melalui pelat penyerap radiasi matahari
dalam selang waktu tertentu (Astawa Ketut,
2011), dengan persamaan:
m . h fg
d = x 100%
A C .IT .t
Dimana: Gambar 2. Penempatan Alat Ukur
m = Massa air kondensat (L)
hfg = Panas laten penguapan (kJ/kg) Pengambilan Data
Ac = Luas pelat penyerap (m2)
IT = Intensitas radiasi matahari (W/m2) Sebelum melakukan pengambilan data,
t = Lama waktu pengujian (s) terlebih dahulu kolektor ditempatkan di bawah
sinar matahari langsung dan tidak terhalang
pepohonan atau bangunan selama penelitian
METODE berlangsung. Pengambilan data pada penelitian
ini adalah :
Desain Kolektor Surya untuk Proses - Mengukur temperatur kaca, (T g).
Destilasi - Mengukur temperatur ruang basin, (Tsv).
- Mengukur temperatur dinding kolektor, (Tw).
Kotak kolektor dibuat sebanyak 3 buah,
- Mengukurtemperatur pelat absorberd, (T abs).
masing-masing memiliki luasan 60 cm 60 cm,
- Mengukur temperatur bagian bawah kolektor,
dan tinggi kolektor 47,84 cm dengan sudut 30o.
(Tb).
Sedangkan tripleks yang digunakan memiliki
- Mengukur temperatur lingkungan, (Ta).
tebal 1,2 cm dan tebal stryfoam adalah 2 cm.
- Mengukur air destilasi yang dihasilkan (liter).

7
LONTAR Jurnal Teknik Mesin Undana, Vol. 03, No. 02, Oktober 2016

Analisa Data nilai efisiensi rata-rata tertinggi terjadi pada


kaca ketebalan 3 mm yaitu 47,85 %, sedangkan
Analisa data yang digunakan dalam
efisiensi terendah terjadi pada ketebalan kaca 8
penelitian ini adalah analisis matematis yakni
mm yaitu 40,65 %. Dari grafik terlihat bahwa
semua data yang diperoleh pada saat penelitian
semakin tebal kaca penutup maka efisiensi
dianalisis berdasarkan rumus-rumus
kolektor surya semakin menurun, fenomena ini
perhitungan yang ada. Dengan menyelidiki
terjadi karena radiasi matahari yang akan
pengaruh ketebalan kaca penutup dan volume
menembus kaca dan diteruskan menuju pelat
air dalam basin terhadap efisiensi kolektor surya
absorber untuk memanasakan air sepenuhnya
tipe gelombang V pada proses destilasi air laut.
tidak diteruskan menuju pelat absorber, namun
Berdasarkan data yang telah diperoleh, maka
terhambat oleh kaca sehingga dapat
analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini
mempengaruhi kerugian panas total kolektor
sebagai berikut :
surya yang terbuang ke lingkungan (UL) juga
- Menghitung koefisien perpindahan panas
semakin besar dan mengakibatkan efisiensi
pada variasi ketebalan kaca penutup 3, 5, 8
kolektor surya perlahan-lahan mengalami
mm.
penurunan.
- Menghitung energi kalor yang dihasilkan dari
kolektor pada variasi ketebalan kaca penutup Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap
3, 5, 8 mm. Jumlah Air dan Efisiensi Destilasi
- Menghitung koefisien kerugian panas total
dari kolektor pada variasi ketebalan kaca
penutup 3, 5, 8 mm.
- Menghitung efisiensi kolektor dari masing-
masing variasi ketebalan kaca penutup
terhadap proses destilasi 3, 5, 8 mm.
- Menghitung efisiensi destilasi dari masing-
masing variasi ketebalan kaca penutup
terhadap proses destilasi 3, 5, 8 mm.

PEMBAHASAN
Gambar 4. Grafik hubungan antara ketebalan kaca
Pengaruh Tebal Kaca terhadap Efisiensi terhadap Jumlah air destilasi
Kolektor

Gambar 5. Grafik hubungan antara ketebalan kaca


terhadap Efisiensi Destilasi
Gambar 3. Grafik hubungan antara ketebalan kaca
terhadap Efisiensi Kolektor Berdasarkan Gambar 4 dan Gambar 5 di
atas, terlihat bahwa ketiga jenis ketebalan kaca
Berdasarkan Gambar 3 di atas, terlihat penutup mengalami penurunan. Pada grafik
bahwa efisiensi kolektor dari ketiga jenis hubungan antara ketebalan kaca penutup
ketebalan kaca mengalami penurunan, di mana terhadap jumlah air destilasi, ketebalan kaca

8
Dedy A. Bara,Gusnawati, Nurhayati, Pengaruh Tebal Kaca Penutup terhadap Efisiensi Kolektor Surya Pelat
Gelombang Tipe V pada Proses Destilasi Air Laut

penutup 3 mm lebih besar menghasilkan air dihasilkan. Dari hasil penelitian terlihat bahwa
tawar hasil destilasi dibanding ketebalan kaca efisiensi kolektor dan jumlah air destilasi yang
penutup 5 mm dan 8 mm. Hal ini disebabkan dihasilkan pada ketebalan kaca 3 mm, 5 mm dan
karena ketebalan kaca penutup 3 mm lebih 8 mm mengalami penurunan secara bersamaan.
banyak meneruskan radiasi matahari menuju Dimana rata-rata efisiensi kolektor surya
pelat absorber dibandingkan dengan ketebalan dengan ketebalan kaca 3 mm yaitu 47,85 %, 5
kaca 5 mm dan 8 mm, sehingga proses mm yaitu 42,48% dan 8 mm yaitu 40,65 %, Jika
penguapan lebih cepat dan air hasil destilasi semakin tebal kaca penutup yang digunakan
yang dihasilkan juga cenderung lebih banyak maka efisiensi kolektor akan mengalami
dari ketebalan kaca penutup 5 mm dan 8 mm. penurunan. Sedangkan untuk air destilasi,
Akibat dari faktor ini, maka sangat semakain tebal kaca penutup yang digunakan
mempengaruhi efisiensi destilasi. Hal ini maka jumlah air destilasi yang dihasilkan juga
terbukti pada grafik hubungan antara ketebalan akan mengalami penurunan, dimana rata-rata
kaca penutup terhadap efisiensi destilasi di atas. jumlah air destilasi pada ketebalan kaca 3 mm
Di mana ketebalan kaca penutup 3 mm yaitu 16,93 mL, 5 mm yaitu 11,20 mL dan 8 mm
menghasilkan jumlah air tawar lebih banyak yaitu 11,13 mL. Sedangkan nilai rata-rata
dari ketebalan kaca penutup 5 mm dan 8 mm. efisiensi destilasi pada ketebalan kaca 3 mm
Namun ketebalan kaca penutup yang digunakan yaitu 13,95 %, 5 mm yaitu 8,86 % dan 8 mm
juga sangat mempengaruhi proses perpindahan yaitu 9,57 %.
panas. Di mana, kolektor surya yang
menggunakan ketebalan kaca penutup 3 mm
menghasilkan temperatur air keluar yang tinggi DAFTAR PUSTAKA
disebabkan karena ketebalan kaca penutup 3 [1] A.Fudholi, K. Sopian, M.Y. Othman, M.H.
mm memiliki transmisivitas tinggi dan Ruslan, M.A. AlGhoul, A. Zaharim and R.
absorbtivitas rendah sehingga ketika radiasi Zulkifly. 2008. Heat Transfer Correlation
matahari mengenai kaca maka radiasi tersebut for the V-Groove Solar Collector, Solar
akan lebih banyak diteruskan menuju absorber Energy Research Institute, University
untuk kemudian digunakan dalam proses Kebangsaan Malaysia 43600 Bangi
pemanasan air. Sedangkan kolektor surya yang Selangor Malaysia.
menggunakan ketebalan kaca penutup 5 mm dan [2] Astawa, K. 2011.Analisa Performansi
8 mm memiliki transmisivitas rendah dan Destilasi Air Laut Tenaga Surya
absorbtivitas tinggi sehingga radiasi matahari Menggunakan Penyerap Radiasi Surya
yang mengenai kolektor surya akan lebih Tipe Bergelombang Berbahan Dasar
banyak diserap oleh kaca sehingga ketebalan Alumunium. Jurusan Teknik Mesin,
kaca penutup 5 mm dan 8 mm akan lebih panas Fakultas Teknik Universitas Udayana,
dibanding ketebalan kaca 3 mm dan radiasi yang Bali.
diteruskan ke absorber juga lebih sedikit [3] BashriaA., and Nor Mariha Adam. 2006.
sehingga pemanasan airnya juga akan semakin Performance Analysis For V-Groove
kecil. Absorber Department of Mechanical and
Manufacturing Engineering, Faculty of
Engineering, University Putra Malaysia.
KESIMPULAN
[4] Burhan, M.,Wijaya, R., S, Anis, dan
Dari hasil pengujian dan analisa data yang Karnowo. 2012. Pemanfaatan Kolektor
telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan Surya Pemanas Air dengan Menggunakan
bahwa: Seng Bekas Sebagai Absorber untuk
Ketebalan kaca penutup mempengaruhi Mereduksi Pemakaian Bahan Bakar
efisiensi kolektor dan jumlah air destilasi yang Minyak Rumah Tangga, Fakultas Teknik

9
LONTAR Jurnal Teknik Mesin Undana, Vol. 03, No. 02, Oktober 2016

Universitas Negeri Semarang, Penyimpanan Panas. Jurusan Teknik


[5] Duffie, J.A. and Beckman, W.A. Mesin, Universitas Bung Hatta. Padang.
1991.Solar Engineering of Thermal [12] Raldi Artono Koestoer. 2002.
Processes, Toronto, John Wiley& Sons. Perpindahan Kalor Edisi I, Salemba
[6] Frank, K.1996. Prinsip-prinsip Teknika, Jakarta.
Perpindahan Panas, Alih bahasa Arko [13] Santosa, I.2010. Sistem Perpindahan
Prijono, Edisi ketiga, Cetakan keempat, Panas Single Basin Solar Still Dengan
Erlangga, Jakarta. Memvariasi Sudut Kemiringan Kaca
[7] Holman, J. P.1995. Perpindahan Kalor, Penutup, jurnal teknik mesin,
Alih bahasa E. Jasjfi, Edisi kelima, Laboratorium Fakultas Teknik, Universitas
Cetakan kelima, Erlangga, Jakarta. Pancasakti Tegal.
[8] Mark W. Zemansky & R. H. Dittman, [14] Sudiyanto, N. A. 2011.Studi
1986. Terbitan ke 6 Kalor Dan Experimental Unjuk Kerja Kolektor Surya
Thermodinamika, Diterjemahkan Oleh V-Grrove Terhadap Perubahan Aspek
Suroso, Penerbit ITB, Bandung. Ratio Pada Honeycom, Jurnal Teknik
[9] Michael J. Moran, I. Howard N Shapiro Mesin, Fakultas Teknologi Industri,
.2006. Fundamentals of Engineering Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Thermodynamics . John Wiley & Sons Surabaya.
Ltd, The Atrium, Southern Gate, [15] Wiranto Arismunandar. 1995.Teknologi
Chichester, England. Rekayasa Surya, PT. Pradnya Paramita,
[10] Mone.2014. Analisis Efisiensi Kolektor Jakarta.
Surya Pelat Gelombang Tipe V Terhadap [16] Y. A. engel and M. A. Boles. 2006.
Variasi Tinggi Gelombang Dan Tipe Thermodynamics: An Engineering
Aliran Udara. Jurusan Teknik Mesin, Approach, 5th ed, McGraw-Hill, (Last
Universitas Nusa Cendana, Kupang. update: Dec. 29, 2005).
[11] Mulyanef.2010. Kaji Eksperimental [17] Yasrendra Rosa. 2005. Rancang Bangun
Untuk Meningkatkan Performansi Kolektor Pelat Datar Energi Surya Untuk
Destilasi Surya Basin Tiga Tingkat Sistem Pengeringan Pasca Panen, Jurnal
Menggunakan Beberapa Bahan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Padang.

10