Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH GEOGRAFI TRANSPORTASI

TRANSPORTASI REGIONAL INDONESIA

OLEH KELOMPOK :
DEVIRA FRISSILLA MILTON (1305883)
YENITA ROZA ()

PROGRAM STUDI GEOGRAFI


JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah subhanawataala karena dengan rahmat,
nikmat serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Geografi Transportasi yang
berjudul transportasi regional Indonesia ini dengan sebatas kemampuan pengetahuan yang
dimiliki.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan kepada
para pembaca dan masyarakat sekitar. Penulis juga menyadari sepunuhnya bahwa di dalam
makalah ini masih ada terdapat kekurangan.Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun, demi perbaikan di masa mendatang, mengingat tidak ada yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami oleh para pembaca. Dan makalah yang kami buat ini
bisa bermanfaat bagi para pembaca dan kami sendiri. Sebelumnya mohon maaf jika ada kalimat
yang kurang berkenan. Kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada para pembaca.

Padang, November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI..
BAB I PENDAHULUAN......
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sistem Transportasi..
2.2 Sistem Pergerakan
2.3 Sistem Tranportasi di Indonesia..
2.4 Permasalahan Sistem Transportasi di Indonesia
2.5 Sistem Transportasi Antar Pulau di Indonesia
2.6 Permasalahan Transportasi Antar Pulau di Indonesia.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................
3.2 Saran...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transportasi sangat erat kaitannya dengan proses perkembangan suatu negara, semakin
baik transportasi yang dimiliki baik dalam segi sarana, moda maupun sistem transportasinya
dapat terlihat kemajuan dari setiap negara. Setiap negara memilki karakteristik dan wilayah yang
berbeda-beda untuk memenuhikebutuhan akan transportasinya. Dengan kondisi geografis yang
berbeda-beda memungkinkan terjadi perbedaan keseluruhan sistem transportasi tersebut,
dengankata lain tidak dapat disamakan antara negara yang sebagian besar wilayahnya daratan
dengan wilayah yang merupakan kepulauan atau terdapat banyak perairan.
Melihat dari kondisi geografisnya maka Indonesia termasuk negara kepulauan.
Kebutuhan akan transportasi yang aman dan nyaman merupakan hal penting yang harus
diperhatikan pemerintah Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tentu saja
memiliki kebutuhan alat transportasi antar pulau yang tinggi. Indonesia memiliki lebih dari
17.000 pulau, membentang dari barat ke timur sepanjang 5.000 km (sama dengan Amerika
Serikat), dari utara sampai selatankurang lebih 1.900 km. Agar perkembangan terjadi secara
merata diseluruh kawasan di Indonesia dalam segala aspek kehidupan, diperlukan suatu tindakan
penting untuk menyambung pulau-pulauyang menyebar dengan luas ini, hal ini dapat dilakukan
dengan melakukan pembenahan sistem transportasi agar lebih efisien di seluruh kawasan di
Indonesia, terutama di pulau Jawa, tempat terpusatnya penduduk, terutama di ibukota Jakarta.
Sistem transportasi antara pulau di Indonesia memiliki banyak permasalahan yang cukup
berat, permasalahan tersebut meliputi masalah sarana dan prasarana yang kurang memadai yang
disediakan oleh pemerintah, selain itu masalah mahalnya biaya untuk menggunakan jasa dalam
bidang trasportasi antar pulau menjadi salah satu faktor penumpang mengesampingkan faktor
keamanan dan kenyamanan bertransportasi. Saat ini kegiatan mobilitas penduduk antar
pulausebagian besar menggunakan kapal laut dan pesawat udara. Namun seiring berkembangnya
teknologi sudah seharusnya ada aleternif lain yang dapat melayani transportasi antar pulau
terutama di Indonesia. Alternatif ini juga dapat menjadi solusi bagi transportasi udara Indonesia
yang sedang mengalami banyak permasalahan saat ini akibat beberapa kecelakaan transportasi
yang terjadi didalam negeri.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa itu sistem transportasi?
2. Apa saja sistem pergerakan?
3. Bagaimana sistem tranportasi di indonesia?
4. Apa saja permasalahan sistem transportasi di indonesia?
5. Bagaimana sistem transportasi antar pulau di indonesia?
6. Apa saja permasalahan transportasi antar pulau di indonesia?
1.3 Tujuan
2.2 Untuk mengetahui tentang sistem transportasi
2.3 Untuk mengetahui apa saja sistem pergerakan
2.4 Untuk mengetahui tentang sistem tranportasi di Indonesia
2.5 Untuk mengetahui apa saja permasalahan dalam sistem transportasi di Indonesia
2.6 Untuk mengetahui bagaimana sistem transportasi antar pulau di Indonesia
2.7 Untuk mengetahu apa saja permasalahan transportasi antar pulau di indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Transportasi


Sistem Transportasi adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman
terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau, transportasi
penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara serta tansportasi pipa yang masing-masing
terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali pipa, yang saling berinteraksi dengan dukungan
perangkat lunak dan perangkat pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang
efektif dan efisien yang berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang, yang terus
berkembang secara dinamis. Sustainable transport atau transportasi yang berkelanjutan
merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk mencegah atau mengantisipasi masalah-
masalah transportasi yang muncul dan menyediakan akses terhadap kebutuhan dasar individu
atau masyarakat secara aman, terjangkau secara finansial, beroperasi secara efisien, penyediaan
alternatif pilihan moda, dan dapat mendukung laju perkembangan ekonomi.
Sistem transportasi yang berkelanjutan harus memperhatikan setidaknya tiga komponen
penting, yaitu aksesibilitas, kesetaraan dan dampak lingkungan. Upaya aksesibilitas dengan
perencanaaan jaringan transportasi dan keragaman alat angkutan dengan tingkat integrasi yang
tinggi antara satu sama lain. Upaya kesetaraan melalui penyelenggaraan transportasi yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, menjunjung tinggi persaingan bisnis yang sehat, dan
pembagian penggunaan ruang dan pemanfaatan infrastruktur secara adil serta transparansi dalam
setiap pengambilan kebijakan. Upaya pengurangan dampak negatif melalui penggunaan energi
ramah lingkungan, alat angkut yang paling sedikit menimbulkan polusi dan perencanaan yang
memprioritaskan keselamatan. Sistem ini akan lebih mudah terwujud pada sistem transportasi
yang berbasis pada penggunaan angkutan umum dibandingkan dengan sistem yang berbasis pada
penggunaan kendaraan pribadi. Dalam sistem pergerakan terdapat sistem penduduk, sistem
kegiatan, dan sistem prasarana dan sarana yang saling timbal balik.

2.2 Sistem Pergerakan


Dalam skala sistem pergerakan ada tiga kategori sistem pergerakan :
2.2.1 Nasional

Sistem pergerakan Nasional adalah Sistem Transportasi Nasional yang merupakan


kebijakan nasional yang dikembangkan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN),
meliputi antara lain Rencana Induk Perhubungan sebagai masterplan perhubungan nasional.
Sistem Transportasi Nasional adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman
yang terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau,
transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara serta tansportasi pipa yang
masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali pipa, yang saling berinteraksi dengan
dukungan perangkat lunak dan perangkat pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa
transportasi yang efektif dan efisien yang berfungsi melayani perpindahan orang dan atau
barang, yang terus berkembang secara dinamis.

Tujuan Sistranas adalah terwujudnya transportasi yang efektif dan efisien dalam
menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan; meningkatkan mobilitas
manusia, barang dan jasa; membantu terciptanya pola distribusi nasional yang mantap dan
dinamis; serta mendukung pengembangan wilayah dan lebih memantapkan perkembangan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan
nusantara dan peningkatan hubungan internasional.

Peregerakan yang melingkupi tatranas adalah antar simpul atau kota nasional (SKN) dan
dari simpul atau kota nasional ke luar negeri atau sebaliknya. Pergerakan sistem tansportasi
nasional dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. transportasi jalan dengan simpul berupa terminal tipe a dan jaringan jalan arteri
2. transportasi kereta api dengan simpul berupa stasiun penumpang dan stasiun barang
pengumpul dan jaringan pelayanan lintas utama
3. transportasi sungai dan danau dengan simpul pelabuhan utama dan jaringan trayek tetap
dan teratur utama
4. transportasi penyeberangan dengan simpul berupa pelabuhan penyeberangan lintas
propinsi dan antar negara dan jaringan pelayanan angkutan penumpang dan barang lintas
penyeberangan antar negara dan lintas penyeberangan antar propinsi
5. transportasi laut dengan simpul berupa pelabuhan umum internasional hub, internasional,
dan nasional, pelabuhan khusus nasional/internasional dan jaringan trayek luar negeri,
trayek utama dalam negeri dan trayek perintis
6. transportasi udara dengan simpul berupa bandara pusat penyebaran dengan skala
pelayanan primer dan jaringan pelayanan rute utama
7. transportasi pipa dengan simpul berupa pelayanan lintas propinsi dan lintas batas Negara
2.2.2 Wilayah

Sistem transportasi regional berupa Sistem dan Strategi Transportasi Regional, yang
merupakan acuan dari Rencana Umum Jaringan Transportasi Jalan (RUJTJ). Pergerakan yang
melingkupi Sistem transportasi wilayah adalah antar simpul atau kota wilayah dan dari SKW ke
SKN atau sebaliknya. pergerakan sistem transportasi wilayah dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. transportasi jalan dengan simpul berupa terminal tipe b dan jaringan jalan kolektor
2. transportasi kereta api dengan simpul berupa stasiun penumpang dan stasiun barang
pengumpan dan jaringan lintas cabang
3. transportasi sungai dan danau dengan simpul pelabuhan pengumpul dan jaringan trayek
tetap dan teratur pengumpan
4. transportasi penyeberangan dengan simpul berupa pelabuhan penyeberangan lintas
propinsi dan antar kota dan jaringan pelayanan angkutan penumpang dan barang lintas
penyeberangan antar propinsi dan lintas penyeberangan antar kabupaten/kota
5. transportasi laut dengan simpul berupa pelabuhan umum regional, pelabuhan khusus
regional, jaringan dan trayek dalam negeri, trayek pengumpan dalam negeri, dan trayek
perintis.
6. transportasi udara dengan simpul berupa bandara pusat penyebaran dengan skala
pelayanan sekunder dan tersier, dan jaringan pelayanan rute pengumpan
7. transportasi pipa dengan simpul berupa pelayanan lintas propinsi (regional).

2.2.3 Lokal
Sistem transportasi lokal berupa Sistem dan Strategi Transportasi Perkotaan (Urban
Transportation Policy). Sasaran dari Sistem Pergerakan/Transportasi lokal adalah cepat sampai
tujuan,biaya murah, aman dan selamat, kenyamanan,kelancaran, handal, efektif, efisien, terpadu,
menyeluruh, terus-menerus, dan berkelanjutan. Proses dari sistem pergerakan: sangat cepat,
cepat, sedang, lambat, terisolir (ini melahirkan angkutanangkutan perintis). Pergerakan Sistem
transportasi lokal dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. transportasi jalan dengan simpul berupa terminal tipe c dan jaringan jalan lokal.
2. transportasi kereta api dengan simpul berupa stasiun penumpang dan stasiun barang
pengumpan dan jaringan lintas angkutan kota.
3. transportasi sungai dan danau dengan simpul pelabuhan lokal dan jaringan trayek tidak
tetap dan tidak teratur.
4. transportasi penyeberangan dengan simpul berupa pelabuhan penyeberangan lintas dalam
kabupaten/kota dan jaringan pelayanan angkutan penumpang dan barang lintas
penyeberangan dalam kabupaten.
5. transportasi laut dengan simpul berupa pelabuhan umum lokal, pelabuhan khusus lokal,
dan trayek pengumpan dalam kabupaten/kota.
6. transportasi udara dengan simpul berupa bandara bukan pusat penyebaran dan jaringan
pelayanan dalam kabupaten.
7. transportasi pipa dengan simpul berupa pelayanan dalam kabupaten/kota (pelayanan
lokal).
2.3 Sistem Tranportasi di Indonesia
Sistem transportasi di Indonesia saat ini sudah mengalami banyak kemajuan, salah
satunya yaitu adanya busway di Jakarta. Sistem kerja busway ini hampir sama dengan yang ada
di negara-negara Eropa. Alat transportasi umum yang utama di Indonesia adalah kereta api, bus,
kapal, dan juga pesawat. Pembuatan database mengenai perjalanan alat transportasi tersebut juga
diperlukan, sehingga bisa memudahkan pengguna dalam mencari informasi mengenai alat
transportasi yang akan mereka gunakan. Setelah mengetahui alat transportasi yang perlu
digunakan untuk menuju suatu tempat, kita perlu mengetahui berapa besar biaya yang
diperlukan, kapan bisa berangkat ke sana, lama waktu yang diperlukan untuk pergi ke sana, serta
informasi lain yang berkaitan dengan perjalanan dan alat transport. Maka dari itu, diperlukan
adanya suatu sistem basis data yang memberikan informasi lengkap mengenai sistem transportasi
kaitannya dengan perjalanan untuk mempermudah dan memperjelas pengaturan sistem
transportasi di Indonesia.
Indonesia juga perlu mengembangkan sistem transportasi yang tidak hanya bertumpu
pada jalan darat. Selain tidak efisien, ke depannya juga berpotensi menimbulkan kemacetan yang
kian tinggi. Kondisi lalu lintas di Jakarta sekarang menjadi contoh yang nyata bagi kita semua.
Kebijakan transportasi di Indonesia dinilai masih sangat terfokus pada pengembangan jalan darat
dan sarana kendaraannya. Kebijakan yang seperti itu dalam perkembangannya menjadi tidak
efisien dan mengurangi produktifitas masyarakat umum. Hal itu dikarenakan pertumbuhan
kendaraaan dan jalan tidak berimbang. Jumlah kendaraan semakin bertambah banyak tetapi tidak
diikuti dengan penambahan ruas jalan yang ada saat ini. Kebijakan transportasi di Indonesia ke
depannya harus mengarah pada sistem multimoda, yakni mengoptimalkan seluruh moda
transportasi publik, tidak hanya di darat, tapi juga di laut dan udara. Saat ini upaya itu sudah
mulai dilakukan. Hal ini dibuktikan dengan adanya rencana pembangunan mass rapid transit dan
rencana transportasi air di Jakarta.
Perbaikan sistem angkutan umum merupakan solusi lain yang harus segera dilakukan
oleh Pemerintah Indonesia. Perilaku masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi harus
segera dirubah. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan paksaan ataupun dengan penyediaan
pilihan lain. Angkutan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu serta terintegrasi satu sama
lainnya merupakan pilihan lain paling logis yang dapat merubah perilaku tersebut. Angkutan
umum yang baik juga memberikan peluang bagi semua lapisan masyarakat untuk melakukan
perjalanan dengan biaya yang terjangkau dan aksesibilitas yang tinggi dengan dampak
lingkungan yang minimal dalam sebuah kesetaraan sosial yang tinggi.
Di Indonesia, dominasi swasta dalam penentuan kebijakan pola transportasi itu terlihat
jelas melalui jenis-jenis moda transportasi yang dikembangkan, yang tidak sepenuhnya
menjawab kebutuhan warga, sebaliknya justru cenderung memarginalisasikan masyarakat dari
asesibilitas geografis. Marginalisasi itu terjadi karena moda transportasi yang dikembangkan
oleh swastayang difasilitas oleh negaraitu tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat,
melainkan sesuai dengan keinginan swasta saja. Kebutuhan masyarakat untuk melakukan
mobilitas geografis dengan mempergunakan moda angkutan yang sesuai kondisi geografis
mereka, justru tidak tersedia. Fenomena semacam itu tampak jelas pada masyarakat di luar Jawa
yang wilayah mereka mayoritas perairan, tapi infrastruktur yang disediakan atau dikembangkan
oleh swasta dengan fasilitas dari negara justru untuk moda transportasi darat. Di Kalimantan
sering terjadi kasus angkutan air (sungai) mereka lumpuh karena air terlalu dangkal.
Pendangkalan itu salah satunya terjadi karena pemerintah tidak pernah mengurus sungai,
sebaliknya memilih mengalokasikan dananya untuk membangun jembatan. Pilihan membangun
jembatan karena di belakangnya ada industri otomotif yang akan masuk.
Fenomena yang sama terjadi pada masyarakat di wilayah Indonesia bagian timur, seperti
Maluku, Maluku Utara, Papua, dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Warga Indonesia bagian timur
mengalami hambatan dalam hal asksesibilitas geografis disebabkan oleh ketidak-tersediaan
moda transportasi yang mereka butuhkan. Sering kali moda yang tersedia jauh lebih sedikit dari
pada yang mereka perlukan. Pilihan jenis moda pun terbatas, tidak seperti halnya yang terjadi di
Jawa. Di Jawa, penundaan jadwal penerbangan sebuah maskapai bisa menjadi berita media
massa. Tapi di wilayah-wilayah Indonesia bagian timur, penundaan penerbangan merupakan hal
yang biasa saja dan tidak layak menjadi berita lagi. Ini menunjukkan betapa mereka selalu hidup
dalam keterbatasan moda transportasi yang dapat mereka pilih. Keterbatasan itu baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
Sistem transportasi di Indonesia belum sepenuhnya baik, hal ini dikarenakan masih
adanya masalah dalam sistem transportasi di Indonesia. Permasalahan transportasi di Indonesia
merupakan salah satu hal yang menjadi prioritas pemerintah untuk segera diselesaikan,
terutamanya menyangkut transportasi umum di kota-kota besar seperti Jakarta. Salah satu
masalah yang sampai sekarang belum dapat diatasi dalam sistem transportasi di Indonesia adalah
kemacetan. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia mengalami kemacetan.
Manajemen sistem transportasi yang lebih baik mutlak diperlukan di Indonesia ini.
Penerapan manajemen sistem transportasi yang telah dilakukan di Indonesia antara lain:
1. Perbaikan sistem lalu lintas di persimpangan sebidang (isolated dan coordinated) untuk:
a. Meminimumkan keterlambatan dan antrian.
b. Memaksimumkan kapasitas.
2. Perbaikan perencanaan sistem jaringan angkutan umum melalui:
a. Jaringan trayek.
b. Integrasi antar moda.
c. Penetapan jumlah armada.
d. Izin trayek angkutan umum.
e. Melarang angkutan menerus (antar kota) masuk ke dalam jaringan jalan kota
(jaringan sekunder).
f. Memberlakukan fungsi dan kelas jalan sebagaimana mestinya.
3. Kebijaksanaan di bidang perparkiran dengan jalan:
a. Pembatasan tempat parkir.
b. Melarang parkir di pinggir jalan (on street parking).
c. Memberlakukan tarif parkir.
d. Penegakan hukum dan disiplin.
4. Prioritas angkutan umum dengan tindakan:
a. Membatasi kendaraan pribadi yang berpenumpang kecil lewat pada kawasan pusat
kota.
b. Memberlakukan lajur khusus bus (bus lane) atau Bus Only Right Of Way.
5. Memberikan kemudahan pada pejalan kaki dengan cara:
a. Mengadakan jalan khusus bagi pejalan kaki (trotoar).
b. Tempat penyeberangan khusus bagi pejalan kaki baik pada penyeberangan sebidang
(zebra cross) atau penyeberangan tidak sebidang (jembatan penyeberangan).
c. Menata letak halte atau shelter bus agar tidak berjauhan antara halte/shelter yang satu
dengan yang berikutnya dan halte/shelter tersebut sedapat mungkin terletak dekat
dengan persimpangan jalan masuk atau persimpangan transit (ganti moda).
d. Menempatkan pelataran berhenti kendaraan di halte di luar badan jalan agar kapasitas
jalan tetap terjaga.

Bentuk standar dari pola pengelolaan transportasi kota adalah keterpaduan dan koordinasi
lembaga-lembaga (instansi)dalam memecahkan persoalan transportasi kota yaitu regularisasi
jaringan trayek angkutan umum kota, terutama bus kota, mikro bus dan mikrolet. Selain
regularisasi jaringan trayek, juga harus didukung dengan pelayanan angkutan antar moda terpadu
terutama pada kawasan transit atau tempat ganti moda yang tepat. Merencanakan dan
mengembangkan jaringan transportasi nasional, baik dalam jangka pendek, menengah, atau
jangka panjang sangat ditentukan oleh fakto-faktor sebagai berikut:
1. Jaringan transportasi yang ada saaat ini (eksisting).
2. Hierarki kewilayahan (kota, wilayah, nasional, dan seterusnya).
3. Pola tata ruang nasional baik dalam jangka menengah dan jangka panjang.
4. Pola produksi dan konsumsi barang.
5. Pola distribusi barang.
6. Faktor geografis.
7. Karakteristik masing-masing moda transportasi.

Sistem Transportasi Nasional adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara


kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau,
transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara, serta transportasi pipa yang
masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali pipa, yang saling berinteraksi dengan
dukungan perangkat lunak dan perangkat pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa
transportasi yang efektif dan efisien yang berfungsi melayani perpindahan orang dan atau
barang, yang terus berkembang secara dinamis.
Tujuan sistem transportasi nasional yaitu terwujudnya transportasi yang efektif dan
efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan, meningkatkan
mobilitas manusia, barang, dan jasa, membantu terciptanya pola distribusinasional yang mantap
dan dinamis, serta mendukung pengembangan wilayah dan lebih memantapkan perkembangan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan
nusantara dan peningkatan hubungan internasional.
Sasaran sistem transportasi nasional yaitu terciptanya penyelenggaraan transportasi yang
efektif dan efisien. Efektif disini berarti selamat, aksesibilitas tinggi, terpadu, kapasitas
mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah dicapai, nyaman, tepat waktu, tertib, aman, dan
lain-lain. Efisien berarti beban publik rendah dan utilitas tinggi. Fungsi sistem transportasi
nasional sebagai unsur penunjang (servicing) dan pendorong (promoting).
2.4 Permasalahan Sistem Transportasi di Indonesia
2.4.1 Efisiensi sistem transportasi
Hampir seluruh aspek kehidupan manusia modern dipengaruhi oleh transportasi, dan ini
tercermin melalui adanya komponen biaya transportasi sebagai bagian dari seluruh harga barang,
jasa dan biaya rumah tangga sehari-hari. Besarnya komponen biaya transportasi ini sangat
bervariasi dan untuk Indonesia pada umumnya komponen ini terlalu besar, baik secara relatis
secara prosentasi, maupun secara absolute dalam nilai uang. Besarnya komponen ini disebabkan
oleh kurangnya efisiensinya satu atau lebih elemen dari sistem transportasi. Efisiensi ini dapat di
ukur dari satu atau lebih tolak ukur seperti pemanfaatan sumberdaya, pemanfaatan energy, biaya
operasional, nilai waktu, pencemaran lingkungan, keselamatan operasi, dan sebagainnya.
2.4.2 Perundangan dan Regulasi
Perundangan dalam bidang transportasi adalah relative baru, seperti : UU jalan 1980, UU
kereta api 1992, UU lalu lintas dan angkutan jalan 1992, UU penerbangan 1992, UU pelayaran
1992, dan UU pelabuhan 1996. Perundangan ini didukung oleh berbagai peraturan pelaksana,
beserta regulasi teknis dan operasional. Bersama dengan perundangan lain yang berhubungan,
seperti : UU tata ruang 1992, dan berbagai UU perpajakan, perundangan telah mengatur garis
besar kebijakan dalam bidang transportasi. Perundangan dan regulasi perlu disosialisasikan agar
dipahami oleh berbagai pihak yang berkepentingan.
2.4.3 Pendanaan Sektor Transportasi
Pengadaan prasarana dan sarana transportasi meliputi investasi yang sangat besar, yang
dapat disediakan oleh Negara, pihak swasta, investasi pihak asing, ataupun gabungan. Sebagai
Negara yang berkembang maka dana yang tersedia adalah terbatas, sedangkan kebutuhan
investasi untuk transportasi sangat mendesak agar tidak terjadi kemacetan dan tundaan yang
menurunkan efisiensi sistem transportasi. Dengan demikian perlu dicari suatu perimbangan
pendanaan antar berbagai sektor, yang akan menghasilkan pembangunan nasional yang
optimum. Prasarana transportasi yang telah disediakan dengan dana yang besar dapat dianggap
sebagai fasilitas social yang wajib disediakan oleh Negara, atau pemanfaatan prasarana
transportasi dapat dianggap sebagai suatu komoditas yang harus dibeli oleh pengguna, dengan
atau tanpa subsidi.
2.4.4 Sumber Daya Manusia dalam Sektor Transportasi
Sektor transportasi membutuhkan keahlian yang spesifik dalam perencanaan,
perancangan, pembangunan, operasi, pemeliharaan, dan evaluasi dari prasarana dan sarana untuk
berbagai moda transportasi. Akibat arus globalisasi maka ada kenyataan bahwa prasarana dan
sarana transportasi mengacu ke suatu standar yang global, meskipun perekonomian Indonesia
masih lemah. Standar yang global ini akan membutuhkan SDM yang berstandar global juga, dan
ini membutuhkan diadakannya pendidikan, latihan dan sertifikasi yang baku dalam seluruh
bidang terkait. Ketersediaan tenaga ahli yang handal dalam bidang transportasi di Indonesia
dirasakan sangat kurang jumlahnya. Keterbatasan jumlah ini akan merupakan peluang bagi
tenega asing untuk mengisi kekurangan, dan pemerintah harus mengantisipasinya.
2.4.5 Keselamatan Transportasi dan Aspek Lingkungan
Sektor transportasi secara keseluruhan menyebabkan banyak korban dan biaya
kecelakaan, dan jug banyak konstribusi ke pencemaran lingkungan. Keselamatan transportasi
dan aspek lingkungan sebenarnya merupakan aspek presepsi mutu yang ditentukan oleh
masyarakatnya. Makin tinggi kemakmuran masyarakat, makin tinggi mutu yang diharapkannya,
atau makin rendah toleransinya terhadap kecelakaan transportasi dan pencemaran lingkungan.
Penyebab kecelakaan dan pencemaran lingkungan tidak merupakan suatu factor yang tunggal
yang mudah teridentifikasi, tetapi dapat merupakan akibat dari kondisi lain. Penyelesaian
masalah ini tidak terbatas hanya pada sektor transportasi saja, tetapi membutuhkan pengendalian
berbagai sektor lainnya.
2.4.6 Rendahnya Disiplin dan Tingkat Penegakan Hukum
Rendahnya disiplin dan tingkat penegakan hukum disektor transportasi dapat disebabkan
oleh berbagai hal, seperti kurang tepatnya kebijakan, tidak lengkapnya peraturan, kurangnya
sosialisasi peraturan, kurang cocoknya peraturan, kurang tegasnya penegakan hokum, tidak atau
kurangnya sanksi atas pelanggaran, dan mungkin karena factor budaya setempat. Transportasi
langsung berhubungan dengan masyarakat sebagai pengguna, sehingga terkait dengan masalah
psikologi dan sosiologi selain teknis.
2.4.7 Masalah Energi dalam Transportasi di Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan dengan berlangsungnya pembangunan dari
PELITA I sampai PELITA terakhir, diikuti dengan pergeseran pada pola penggunaan energi.
Pada awal PJP-I sektor pemakaian energy yang paling besar adalah sektor rumah tangga yaitu
47.1%, sedangkan sektor industry dan transportasi 21.3% dan 31.6%. Namun demikian pada
tahun terakhir PJP-I terjadi perubahan yaitu sektor industry menjadi sektor pemakaian energy
paling besar yaitu 38% sedangkan sektor lainnya yaitu transportasi 37.1% dan sektor rumah
tangga 24.9%.
Jika kecendrungan pemakaian dimasa mendatang sama dengan PJP-I, maka setelah tahun
2000, sektor transportasi akan menjadi sektor pemakaian energy paling besar. Diperkirakan
bahwa laju prtumbuhan energy sektor transportasi pada PJP-II adalah 8.7%, sedangkan untuk
sektor lainnya adalah sektor industry (7.3%), sektor rumah tangga (5.2%), dan sektor komersial
(10%).
2.5 Sistem Transportasi Antar Pulau di Indonesia
2.5.1 Transpotasi Laut
Angkutan laut sangat penting di dalam pelayaran nasional terutama dalam
mendistribusikan barang antar wilayah di Indonesia maupun keluar wilayah Indonesia atau
memper mudah ekspor impor barang dari dalamdan luar negeri. setiap tahun terjadi kenaikan
jumlah penumpang yang memanfaatkan transportasi laut. Perusahaan pemerintah yang bertugas
untuk melayani pelayaran nasional untuk angkutan penumpang adalah PT. Pelayaranan Nasional
Indonesia (Pelni). Di samping perusahaan pemerintah yang bergerak dalam pelayaran nasional,
perusahaan swasta pun ikut berperan dalam meramaikan lalulintas pelayaran nasional Indonesia
untuk angkutan penumpang.
Sektor Pelabuhan laut mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung
transprotasi laut, baik untuk perdagangan domestik maupun perdagangan internasional. Sebagai
sarana tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang dan penumpang, peran bagi sektor pelabuhan
iniadalah sebagai tempat transit, tempat bongkar dan muat barang dan sebagai moda angkutan
penumpang,ataupun berperan sebagai tempat transaksi perdagangan. Moda transportasi laut
memiliki banyak kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan transportasi lainnya atau
transportasi udara sebagai penghubung antar pulau. Kelebihan transportasi laut antar pulau
adalah :
1. Murah
2. Jaringan alamiah
3. Dapat menggunakan jalur mana saja
4. Servis yang fleksibel
5. Polusi rendah
Sedangkan kekurangan yang dimiliki transportasi laut antar pulau adalah :
1. Tidak cocok untuk berpergian dengan membawa barang cepat rusak atau membusuk.
2. Membutuhkan waktu perjalanan yang relatif lama.
3. Banyak terjadi antrian kendaraan dan penungpang di pelabuhan
4. Route yang tidak fleksibel
5. Apabila perjalanan jarak jauh yang di tempuh, maka menimbulkan ketidak nyamanan.
6. Kanal perlu biaya mahal untuk pembangunanya
2.5.2 Transportasi Udara
Transportasi udara yang memiliki keunggulan kecepatan dari moda transportasi yang lain
dapat menjadi sarana transportasi bagi wisatawan, pengusaha, dan masyarakat. Transportasi
udara di Indonesia perlu dikelola sesuaistandar keselamatan penerbangan internasional, dan
interkoneksi dengan moda transportasi lainnya. Saat ini 67,5 persen dari wisatawan mancanegara
yang datang ke Indonesia menggunakan transportasi udara. Oleh karena ituuntuk menarik
wisatawan mancanegara, Selain promosi tempat daerah tujuan wisata dan jaminan keamanan
didaerah tersebut, diperlukan adanya jaminan keselamatan penerbangan di wilayah udara
Indonesia.
Jaminan itu dapat diwujudkan, baik oleh lembaga pemerintah pemegang otoritas pengelola
transportasi udara maupun operator bandara dan perusahaan penerbangan, dengan memenuhi
standar keselamatan penerbangan Internasional yang telah ditetapkan oleh ICAO ( International
Civil AviationOrganization). Organisasi ini mensyaratkan infrastruktur transportasi udara baik
sarana maupun prasarana harus mempunyai persyaratan dengan tingkat ketelitiandan ketepatan
yang sangat tinggi untuk menjamin keselamatan operasi penerbangan. Angkutan udara
dibedakan atas dua kategori, yaitu angkutan udara internasional dan domestik. Berdasarkan data
BPS, terjadi fluktuasi angkutan barang dan penumpang pada angkutan udara internasional
Angkutan udara internasional ini sangat penting terutama dalam mendatangkan devisa bagi
Indonesia.
Perkembangan angkutan udara melalui penerbangan internasional dapat dilihat dari arus
kedatangan penumpang terutama wisatawan mancanegara (wisman) yang memberikan kontribusi
yang cukup bagi pendapatan nasional kita. Apabila dihitung secara proporsional, maka
sumbangan devisa yang diberikanoleh wisma tersebut sebesar US$ 5,3 milyar di mana US$ 2,3
milyar disumbangoleh transportasi udara. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya transportasi
udaradalam mendatangkan wisma ke Indonesia. Moda transportasi ini memilki kelebihan
tersendiri dalam pengoperasian, seperti kenyamanan dan kecepatan. Selain itu beberapa
kelebihan lainnya antaralain :
1. Sistem yang efisien,
2. Cocok untuk bepergian dengan membawa barang-barang yang sangat penting, mudah
membusuk, dan mahal
3. Dapat mencapai area yang sulit dijangkau
4. Memungkinkan gerakan yang bebas ke mana saja atau routenya fleksibel.
Transportasi ini juga memilki kekurangan, selain kelebihan-kelebihannyadibandingkan dengan
moda transportasi laut sebagai penghubung antar pulau,kekurangan tersebut yaitu :
1. Biaya penerbangan yang mahal
2. Sangat tergantung pada cuaca dan mudah terganggu oleh partikel-partikelyang
tersuspensi di udara misalnya abu volkanik seperti yang terjadi padaerupsi gunung
api.
3. Pemeliharaan bandara mahal
4. Pesawat ukuran besar tidak dapat di bandara yang kecil
5. Untuk daerah yang tidak ada bandaranya tidak dapat disinggahi
6. Suara keras dan polusi tinggi
2.6 Permasalahan Transportasi Antar Pulau di Indonesia
Seiring berkembangnya transportasi di indonesia, baik transportasi local atau transportasi
antar pulau, tentu akan mengalami kendala-kendala dalam pelakasanaannya. Transportasi antar
pulau juga tidak luput dari berbagai masalah yang mendera apalagi dipelosok-pelosok wilayah
nusantara yang jauh dariibukota. Permasalahan transportasi menjadi hal serius dan butuh
penanganan serius dari pemerintah baik daerah maupun pemerintah nasional. Solusi-solusiyang
tepat harus ditemukan guna menyelesaikan permasalahan yang tengahdihadapai. Permasalahan-
permasalahan yang terjadi pada transportasi antar pulau meliputi permasalahan pada transportasi
laut dan permasalahan transportasi udara.
2.6.1 Permasalahan Transportasi Laut
Transportasi laut masih umum digunakan sebagai transportasi antar pulaudi Indonesia,
dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan banyak pulau yangmembentang dari sabang
sampai merauke. Hal ini pasti menyebabkan banyak permasalahan yang timbul akibat jarak
daerah terlalu jauh dengan pusat ibu kotayang mengatur seluruh sistem transportasi di Indonesia.
Permasalahan- permasalahan yang terjadi di pulau yang jauh dari ibu kota banyak terjadi
diwilayah timur indonesia. Transportasi laut menjadi andalan utama bagi masyarakat di wilayah
timur Indonesia seperti Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi dengan kondisi saat ini yangcukup
memprihatinkan. Kondisi kapal sebagai alat transportasi tidak memadaidari sisi jumlah, daya
angkut, keamanan, kenyamanan, dan kapasitas dermaga.
Hal itu menghambat mobilitas manusia sehingga pergerakan ekonomi masyarakatmenjadi
lamban. Terlihat dari minimnya transportasi yang menghubungkan antara pulau-pulau kecil yang
ada disana, seperti di Pulau Makian dan Kayoa untuk datang ke Pulau Bacan atau Obi, Maluku
Utara harus pergi ke Ternate dulu. Halini mengakibatkan waktu tempuh yang lebih lama,
seharusnya hanya perlu waktusekitar 3-5 jam, namun harus ditempuh sekitar 24 jam dan alat
transportasi yangdisediakan atau Kapal yang langsung hanya ada seminggu sekali.Kondisi yang
tidak jauh berbeda terjadi di pulau morotai, untuk berbelanja penduduk harus menggunakan
kapal layar motor ke pulau tobelo dengan ketidaknyamanan karena kapal telah penuh sesak, dan
jika kondisi mendesak harus menyewa speedboat dengan biaya yang sangat mahal, sekitar 2 juta
rupiah.
Transportasi laut ini juga tidak memilki keamanan yang cukup apabila dilakukan selama
bulan November-Desember karena tingginya gelombang laut yangmencapai 1 meter di atas dek
kapal. Perjalanan dengan kapal yang juga tidak nyaman dirasakan warga Biak,Kabupaten Biak-
Numfor, hal ini dikarenakan fasilitas air bersih di kapal perintis maupun kapal motor penumpang
yang sangat minim. Penumpang yang melakukan perjalanan belasan jam dengan alat transportasi
ini tidak bisa ke kamar mandi, karena WC yang disediakan macet dan air tidak ada air bersih.
Hal yangsama dirasakan warga Agats, Kabupaten Asmat, penumpang kapal motor sekelasKM
Kilimutu harus menyewa kasur karena tempat tidur di dek tidak berkasur.Minimnya sarana
transportasi laut di perairan Sulawesi Tengah mengakibatkan perekonomian masyarakat tidak
berkembang baik.
Di indonesia bagian barat juga memiliki permasalahan-permasalahan transportasi. Untuk
menyebrang dari pulau jawa ke pulau sumatera, dipelabuhan merak terjadi kemacetan yang
cukup panjang, diakibatkan kurangnya armadakapal ferry yang beroperasi dan penjadwalan
berlayar yang tidak baik dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Di penyeberangan
sibuk antara Sumatra, Jawa, dan Bali, kapal ferry yang mengangkut muatan dioperasikan 24 jam
per hari, namun tetap terjadi penumpukan kendaraan di sepanjang jalan menuju pelabuhan
dikarenakan jumlah penumpang atau pengguna jasa angkutan ini sangat banyak, selain itu pada
waktu-waktu tertentu penyebrangan akan semakin sibuk seperti pada saat menjelang hari raya
atau hari libur panjang.

2.6.2 Permasalahan Transportasi Udara


Transportasi udara di Indonesia banyak dijadikan transportasi unggulan untuk melakukan
perjalanan antar pulau. Transportasi udara yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia juga
tidak luput dari berbagai masalah. Permasalahan transportasi udara dapat ditinjau dari berbagai
segi, seperti ekonomi, teknis dan permasalahan yang disebabkan oleh alam. Permasalahan juga
terjadi pada moda transportasi yang digunakan untuk menunjang kebutuhan lalulintas
penerbangan antar pulau. Banyaknya keluhan dari pengguna jasaangkutan transportasi udara
juga menjadi tolak ukur seberapa besar pemasalahan yang terjadi berhubungan dengan
transportasi antar pulau melelui jalaur udara.
International Civil Aviation Organization (ICAO), lembaga khusus dibawah PBB untuk
menangani permasalahan penerbangan sipil antarnegara, menganggap regulator penerbangan di
Indonesia masih tidak memenuhi standar pengawasan keselamatan penerbangan. Ada tiga unsur
yang memberikan kontribusi pada keselamatan penerbangan.
1. pesawat terbangnya sendiri, bagaimana pesawat itu didesain, dibuat, dan dirawat.
2. Kedua, sistem penerbangannegara, airport, jalur lalu lintas udara, dan air traffic
controls.
3. Airlines flight operations yang berkaitan dengan pengendalian dan pengoperasian
pesawat di airlines. Karena transportasi penerbangan adalah transportasi global,
makastandar keselamatan dibuat untuk global, sehingga transportasi udara antar pulau
juga memiliki standar keselamatan yang tidak memenuhi syarat.
Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk perjalananantar pulau menjadikan masyarakat
Indonesia memilih moda transportasi lain, mereka beralih dari pesawat ke kapal laut. Namun
bagi sebagian orang yang memikirkan perjalanan dengan pesawat jauh-jauh hari, mereka
jenderung membeli tiket dengan harga promo yang ditawarkan maskapai yang melayani
penerbangan yang mereka tuju. Hal ini dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan, selain
masalah biaya, masalah teknis juga menjadi kendala bagi moda transportasi udara. Pesawat yang
akan terbang ke pulau lain tak jarang memiliki kendala teknis sehingga keberangkatan tertunda.
Bagi pengguna jasa ini yang memilki kepentingan yang mendesak dan harus segera sampai ke
tempat tujuan, hal ini menjadi suatu masalah besar.
Masalah teknis sangat erat kaitannya dengan masalah sistem kerja yang diterapkan pada
sebuath maskapai penerbangan. Pengaturan jadwal penerbangan, jadwal istirahat, pengisian
bahan bakar dan lain-lain yang menyangkut teknis dari sebuah penerbangan harus dipersiapkan
secaramatang, apalagi akan melakukan penerbangan jarak jauh. Penerbangan antar pulau
termasuk penerbangan yang perlu diperhatikan mengingat kondisi cuaca di Indonesia terutama
dibagian timur Indonesia cukup ekstrim. Tingkat kecelakaan yang cukup tinggi yang terjadi pada
penerbangan di Indonesia merupakan masalah serius transportasi udara Indonesia. Maskapai
nasional Indonesia yaitu garuda juga tercatat beberapa kali mengalami kecelakaan seperti :
a) 6 Maret 1979 - Garuda Indonesia Penerbangan 553 menabrak lereng Gunung Bromo di
ketinggian 6.200 kaki menewaskan keempat awaknya.
b) 11 Juli 1979 - Fokker F-28 Garuda Indonesia menabrak lereng Gunung Pertektekan
menewaskan 57 penumpang beserta 4 orang awaknya.
c) 20 Maret 1982 - Fokker F-28 Garuda Indonesia terperosok setelah mendarat di Bandara
Branti, Lampung menewaskan 23 penumpang beserta 4 orangawaknya.
d) 17 Juni 1996 - McDonnell Douglas DC-10 Garuda Indonesia Penerbangan 865, pesawat
terbakar setelah overrun akibat aborting take off oleh penerbangnya di Bandar Udara
Fukuoka, Jepang saat akan take off menuju Jakarta, Indonesia. Kejadian ini disebabkan
kerusakan yang terjadi pada satu mesinnya sehingga pilot harus membatalkan lepas
landas. 3 dari 275 penumpang tewas.
e) 26 September 1997 - Garuda Indonesia Penerbangan 152 jatuh di Desa Buah Nabar,
kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia menewaskan
seluruh penumpang yang berjumlah 222 penumpangdan 12 awak pesawat. Kecelakaan
ini merupakan yang terburuk di sejarah penerbangan Indonesia.
f) 17 Januari 2002 - Garuda Indonesia Penerbangan 421 mendarat darurat di Bengawan
Solo menewaskan 1 awak pesawat.
g) 7 Maret 2007 - Garuda Indonesia Penerbangan 200 meluncur keluar landasan (overrun),
terbakar dan meledak sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta.
Sedikitnya 22 orang meninggal dunia. Pesawat tersebut membawa penumpang sebanyak
133 orang dan 7 awak. Kecelakaan ini disebabkan oleh kesalahan pilot.
Selama tahun 2012 KNKT mencatat terjadi 27 kecelakaan pesawat dengan jumlah korban
meninggal 56 orang, dari 27 kecelakaan tersebut, 16 kasus faktor penyebabnya human factor, 4
kasus disebabkan oleh masalah teknis, dan 2 kasus karena masalah environment. Sedangkan
pada tahun 2007 terjadi 21 kecelakaan, tahun 2008 terjadi 21 kecelakan, tahun 2009 terjadi 21
kecelakaan, tahun 2010 terjadi 18 kecelakaan dan tahun 2011 terjadi 32 kecelakaan. Kecelakaan
pesawat tidak hanya terjadi pada maskapai nasional, tetapi maskapai lokal yang melyani
penerbangan antar pulau di Indonesia. Di media cetak maupun elektronik banyak mengabarkan
seputar kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa tahun terakhir yang cukup mengkhawatirkan
kondisi transportasi udara Indonesia. Kecelakaan tersebut diantaranya :
1) 30 November 2004 Jenis Pesawat jenis MD-82 milik Lion perusahaan penerbangan,
jatuh di areal perkebunan warga di Solo, jumlah korban 26 orang dari 153 penumpang
2) 5 September 2005, pesawat jenis Boeing 737-230 dari perusahaan penerbangan
Mandala Air Liness jatuh di perumahan warga di Medan, Jumlah Korban 101 orang
dari 117 penumpang dan 47 orang warga sekitar jatuhnya pesawat.
3) 1 Januari 2007, pesawat jenis Boeing 737-400 milik Adam Air jatuh dan menghilang
di kawasan Makassar, seluruh penumpang menjadi korban dantidak ditemukan, yaitu
102 orang.
4) 6 April 2009, pesawat jenis Fokker F-27 400M, Perusahaan Penerbangan Indonesian
Air Force, jatuh dekat hangar pesawat di Bandung, Jumlah Korban 24 orang dari total
24 Penumpang.
5) 13 April 2010, Jenis Pesawat Boeing 737-322 milki Merpati Nusantara Air Lines,
jatuh di Rendani, tidak ada korban jiwa dari seluruh penumpang yang berjumlah 103
orang.
6) 12 Februari 2011, Pesawat jenis CASA NC-212-A4 dari Perusahaan Penerbangan
SMAC, jatuh di Bintan Island, seluruh penumpang menjadi korban yaitu sebanyak 5
orang.
7) 7 Mei 2011, Pesawat jenis Xian MA-60 dari Merpati Nusantara Air Lines, kecelakaan
di Kaimana, seluruh korban totol 25 orang dari 25 penumpang.
8) 29 September 2011, Pesawat jenis CASA C-212-200 milik Perusahaan Penerbangan
Nusantara Buana, jatuh di Bohorok, seluruh penumpang menjadi korban dalam
kecelakaan ini berjumlah 18 orang.
9) 20 Desember 2011, pesawat Boeing 737-400 milik perusahaan penerbangan
Sriwijaya Air tergelincir, lokasi pesawat di Yogyakarta, tidak ada korban jiwa dalam
kecelakaan ini dari 131 penumpang.
10) 9 Mei 2012, Pesawat Sukhoi Superjet 100 SU95, dengan perusahaan penerbangan
Sukhoi jatuh di Gunung Salak, Suka Bumi, dengan jumlah korban 45 orang termasuk
awak dan pilot.
Melihat banyaknya kecelakaan yang terjadi maka wajar saja, jika badan keselamatan
dunia untuk penerbangan mengkategorikan Indonesia belum memilki standar keamanan yang
memadai dalam hal transportasi udara. Padahal kebutuhan akan transportasi udara ini cukup
tinggi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem transportasi yang berkelanjutan harus memperhatikan setidaknya tiga komponen
penting, yaitu aksesibilitas, kesetaraan dan dampak lingkungan. Upaya aksesibilitas dengan
perencanaaan jaringan transportasi dan keragaman alat angkutan dengan tingkat integrasi yang
tinggi antara satu sama lain. Upaya kesetaraan melalui penyelenggaraan transportasi yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, menjunjung tinggi persaingan bisnis yang sehat, dan
pembagian penggunaan ruang dan pemanfaatan infrastruktur secara adil serta transparansi dalam
setiap pengambilan kebijakan.
Indonesia juga perlu mengembangkan sistem transportasi yang tidak hanya bertumpu
pada jalan darat. Selain tidak efisien, ke depannya juga berpotensi menimbulkan kemacetan yang
kian tinggi. Kondisi lalu lintas di Jakarta sekarang menjadi contoh yang nyata bagi kita semua.
Kebijakan transportasi di Indonesia dinilai masih sangat terfokus pada pengembangan jalan darat
dan sarana kendaraannya. Kebijakan yang seperti itu dalam perkembangannya menjadi tidak
efisien dan mengurangi produktifitas masyarakat umum. Hal itu dikarenakan pertumbuhan
kendaraaan dan jalan tidak berimbang. Jumlah kendaraan semakin bertambah banyak tetapi tidak
diikuti dengan penambahan ruas jalan yang ada saat ini. Kebijakan transportasi di Indonesia ke
depannya harus mengarah pada sistem multimoda, yakni mengoptimalkan seluruh moda
transportasi publik, tidak hanya di darat, tapi juga di laut dan udara. Saat ini upaya itu sudah
mulai dilakukan. Hal ini dibuktikan dengan adanya rencana pembangunan mass rapid transit dan
rencana transportasi air di Jakarta.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan yang
tidak lain adalah dari keterbatasan penulis. Untuk itu,penulis berharap kepada pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang membangun sehingga dapat menjadi masukan yang berharga
bagi penulis.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah
pengetahuan pembaca agar menjadi seseorang yang sangat mengahargai ilmu apapun.
DAFTAR PUSTAKA

Noviarti, R. (n.d.). Transportasi Antar Pulau. Retrieved November 21, 2015, from
academia.edu: https://www.academia.edu/3854436/Transportasi_antar_pulau
Yulianti, T. (2013, februari 25). Makalah Transportasi di Indonesia. Retrieved November 21,
2015, from shippuden: http://mahronishippuden.blogspot.co.id2013/02/makalah-transportasi-di-
indonesia.html
Bagong45. (2010, november 22). Sistem Transportasi di Indonesia. Retrieved november 22,
2015, from blogspot: http://www.blogspot.com/sistem-transportasi-indonesia/22/11
ITB, T. T. (2012). tantangan dan pemecahan masalah sektor transportasi di Indonesia. jurnal
penelitian , 95-97.