Anda di halaman 1dari 33

CASE ANAK

IDENTITAS PASIEN
- Nama : An. F
- TTL : Bekasi, 23 Maret 1999
- Umur : 16 tahun
- Jenis Kelamin : Laki-laki
- Pendidikan : SD
- Agama : Islam
- No. RMK : 010660
- Alamat : Tambun, Bekasi
- Tanggal Masuk : 16 September 2015

ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA
(ALLOANAMNESIS)
Memegang pisau dan mengatakan ingin membunuh sejak 1 hari SMRS
(AUTOANAMNESIS)
Ingin memukul dan membunuh teman yang mengejeknya

KELUHAN TAMBAHAN
Sering marah-marah

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke poliklinik RS Jiwa Klender diantar oleh ayah dan ibunya. Orang
tua pasien mengeluh anaknya ingin membunuh orang dengan membawa pisau 1
hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku melihat anak kecil yang
mengganggunya, sehingga ingin memukul dan membunuhnya.
Pasien tampak sering berbicara sendiri seperti ada yang mengajak berbicara,
terawa sendiri tanpa sebab jelas, beberapa kali mengatakan ingin bunuh diri saja.
Menurut pasien, beberapa kali ada suara terdengar ketika sedang sendirian, suara

1
laki-laki namun tidak jelas berkata apa dan dirasakan mengganggu. Pasien juga
mengaku kesal terhadap ayah dan ibunya.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Riwayat psikiatri sebelumnya
Pasien menjadi mudah marah saat usia 13 tahun ketika mulai masa sekolah
SMP. Teman-teman di lingkungan rumah sering mengejek dan mengganggu.
Pasien tidak suka adanya kebisingan, tidak suka gelap, akan marah bila ibunya
memarahi adik-adiknya, dan apabila keinginannya tidak terpenuhi maka
pasien akan marah. Pasien didiagnosis menyandang autisme saat berusia 1,5
tahun.
Riwayat medis umum
Tidak pernah menderita penyakit apapun, riwayat kejang disangkal
Riwayat penggunaan alkohol dan NAPZA
Tidak pernah menggunakan alkohol dan NAPZA

RIWAYAT PRAMORBID
Riwayat Prenatal dan Perinatal
Merupakan anak yang direncanakan. Lahir per vaginam, usia kandungan 7 bulan,
riwayat ketuban pecah dini. Selama masa kehamilan ibu pasien mengalami tekanan
batin akibat perselisihan dengan suami

Masa Kanak-Kanak Dini (0-3 tahuun)


Usia 1 tahun masih belum dapat berbicara. Mendapat terapi dari klinik tumbuh
kembang sampai bisa berbicara. Usia 1,5 tahun didiagnosis autisme

Masa Kanak Pertengahan (3-7 tahun)


Selalu terfokus pada 1 hal yang disenanginya, tampak acuh tak acuh terhadap
lingkungan. Sekolah di sekolah luar biasa, dapat mengikuti pelajaran. Saat SD
sempat berhenti 1 tahun karena ayahnya mengalami kecelakaan dan kesulitan
mengurus pasien.
Pasien selalu menjadi saksi perselisihan yang hebat diantara kedua orang tuanya.

2
Masa kanak akhir dan remaja (11-18 tahun)
Emosi menjadi sering meluap-luap. Lebih senang menyendiri di kamar bermain
komputer untuk bermain facebook. Pasien tidak mempunyai teman, anak-anak
lingkungan rumah selalu mengejeknya yang dianggap tidak normal.

RIWAYAT KELUARGA

pria :
wanita :
pasien :
meninggal : X
tinggal serumah :

STATUS MENTAL
PENAMPILAN
Laki-laki berusia 16 tahun, penampilan pasien tampak sesuai dengan usianya,
berpakaian cukup rapi memakai kaus biru dan celana pendek, rambut rapih,
ekspresi gelisah, perawatan diri cukup baik, dan warna kulit putih.

PERILAKU DAN AKTIFITAS MOTORIK


Pasien kurang kooperatif, selama wawancara tidak didapatkan kontak mata, pasien
tidak bisa duduk tenang, perhatian mudah teralihkan, tidak ada gerakan involunter

SITUASI KEHIDUPAN SEKARANG

3
Pasien tinggal bersama keluarganya, pasien menghabiskan waktu untuk bermain
komputer di kamarnya, sosialisasi pasien kurang, tidak mempunyai teman sebayanya.
Bahasa yang digunakan dalam keluarga adalah Bahasa Indonesia

SIKAP TERHADAP PEMERIKSA


Kurang kooperatif

MOOD DAN AFEK


o Mood : irritable
o Afek : afek luas
o Keserasian afek: serasi

PEMBICARAAN
o Irama : tidak teratur
o Kecepatan : cepat
o Volume : naik-turun
o Kelancaran : lancer

GANGGUAN PERSEPSI
Halusinasi : halusinasi visual dan auditorik. Melihat anak
kecil dan terdengar suara laki-laki
Ilusi : tidak ada
Depersonalisasi : tidak ada
Derealisasi : tidak ada

PROSES PIKIR
9. Produktivitas : kurang
10. Kontinuitas :
11. Hendaya bahasa : tidak ada

ISI PIKIRAN
Preokupasi : tidak ada
Waham : waham curiga

4
Obsesi : tidak ada
Fobia : tidak ada
Ide referensi :

FUNGSI KOGNITIF DAN SENSORIUM


(1) Kesadaran : GCS 15 (composmentis)
(2) Orientasi :
(a) Waktu : Baik
(b) Tempat : kurang baik
(c) Orang : Baik
(a) Daya Ingat :
Daya ingat sementara : baik
Daya ingat pendek : baik
Daya ingat sedang : baik
Daya ingat panjang : baik
1. Konsentrasi dan perhatian : baik
2. Kemampuan visuospasial : baik
3. Kemampuan membaca menulis : baik
4. Pikiran abstak : kurang
5. Kemampuan informasi dan intelegensi : kurang

PENGENDALIAN IMPULS : kurang baik

DAYA NILAI : kurang baik

TILIKAN : 2

RTA : Terganggu

STATUS FISIK
Status Internus : Dalam Batas Normal
Status Neurologis : Dalam Batas Normal

5
DAFTAR MASALAH
Organobiologik : tidak ada masalah
Psikologik : halusinasi visual dan auditorik, keinginan membunuh dan
bunuh diri, kemarahan yang tidak bisa dikendalikan
Lingkungan dan faktor sosial : tidak dapat bersosialisasi dengan orang lain

DIAGNOSIS MULTIAXIAL
Aksis 1: F20.0 skizofrenia paranoid, F84.0 Autisme pada anak
Aksis 2: tidak ada diagnosis
Aksis 3: tidak ada diagnosis
Aksis 4: masalah dengan suasana di rumah
Aksis 5: GAF 60-50

TATALAKSANA
Psikoterapi :
Psikoterapi Suportif
Menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejalanya akan hilang dengan
menganjurkan pasien untuk selalu minum obat secara teratur agar gejala penyakitnya
berkurang dan menjelaskan kepada pasien tentang akibat yang terjadi bila pasien tidak
teratur minum obat.
Konseling keluarga
Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai kondisi pasien agar keluarga dapat
menerima dan tidak dijauhi, dan agar dapat mendukung kesembuhan pasien.

Farmakoterapi :
Risperidon 2x2mg

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia
Quo ad functionam : dubia

6
TINJAUAN PUSTAKA

SKIZOFRENIA

DEFINISI

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah atau
pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau
ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Skizofrenia merupakan suatu
deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit
(tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada
umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi , serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul
(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.

Subtipe paranoid. DSM-IV menyebutkan bahwa tipe paranoid ditandai oleh


keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang
sering, dan tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarahkan pada tipe
terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid ditandai
terutama oleh adanya waham persekutorik (waham kejar) atau waham kebesaran.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua daripada pasien skizofrenik
terorganisasi atau katatonika jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya.
Pasien yang sehat samai akhir usia 20-30 tahunan biasanya mencapai kehidupan
social yang dapat membantu mereka melewati penyakitnya. Juga, kekuatan ego
pasien paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan terdisorganisasi.
Pasien skizofrenik paranoid menunjukan regresi yang lambat dari kemampuan
mentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe lain pasien
skizofrenik.

7
Pasien skizofrenik paranoid tipikal adalah tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah. Mereka juga dapat bersikap bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik
paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka sendiri secara adekuat di
dalam situasi social. Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oeleh kecenderungan
psikosis mereka dan tetap intak.

Faktor-faktor resiko tinggi untuk berkembangnya skizofrenia adalah Mempunyai


anggota keluarga yang menderita skizofrenia, terutama jika salah satu orang
tuanya/saudara kembar monozygotnya menderita skizofrenia, kesulitan pada waktu
persalinan yang mungkin menyebabkan trauma pada otak, terdapat penyimpangan
dalam perkembangan kepribadian, yang terlihat sebagai anak yang sangat pemalu,
menarik diri, tidak mempunyai teman, amat tidak patuh, atau sangat penurut, proses
berpikir idiosinkratik, sensitive dengan perpisahan, mempunyai orang tua denga sikap
paranoid dan gangguan berpikir normal, memiliki gerakan bola mata yang abnormal,
menyalahgunakan zat tertentu seperti amfetamin, kanabis, kokain, Mempunyai
riwayat epilepsi, memilki ketidakstabilan vasomotor, gangguan pola tidur, control
suhu tubuh yang jelek dan tonus otot yang jelek.

Simptom skizofrenia
1. Gangguan pikiran :

Gangguan proses pikir


Pasien biasanya mengalami gangguan proses pikir. Pikiran mereka sering tidak
dapat dimengerti oleh orang lain dan terlihat tidak logis. Tanda-tandanya adalah :
Asosiasi longgar : ide pasien sering tidak menyambung (terjadi keseimbangan
penyampaian dari satu ke ide yang lain). Ide tersebut seolah dapat melompat
dari satu topic ke topic yang lain yang tak berhubungan sehingga
membingungkkan pendengar. Gangguan ini sering terjadi misalnya di
pertengahan kalimat sehingga pembicaraan sering tidak koheren.
Pemasukan berlebihan : arus pikiran pasien secara terus-menerus mengalami
gangguan karena pikirannya sering dimasuki informasi yang tidak relevan.
Neologisme : pasien menciptakan kata-kata baru (yang bagi mereka mungkin
mengandung arti simbolik)
Terhambat : pembicaraan tiba-tiba berhenti (sering pada pertengahan kalimat)
dan disambung kembali beberapa saat (atau beberapa menit) kemudian,
8
biasanya dengan topic yang lain. Ini dapat menunjukan bahwa ada interupsi.
Biasanya pikiran-pikiran lain masuk ke dalam ide pasien sering sangat mudah
teralih dan jangka waktu atensinya singkat.
Klang asosiasi : pasien memilih kata-kata berikut mereka berdasarkan bunyi
kata-kata yang baru saja diucapkan dan bukan isi pikirannya.
Ekolalia : pasien mengulang kata-kata atau kalimat-kalimat yang baru saja
diucapakan oleh seseorang.
Konkritisasi : pasien dengan IQ rata-rata normal atau lebih tinggi, sangat
buruk kemampuan berpikir abstraknya.
Alogia : pasien berbicara sangat sedikit tetapi bukan disebabkan oleh reistensi
yang disengaja (miskin pembicaraan) atau dapat berbicara dalam jumlah
normal tetapi sangat sedikit ide yang disampaikan (miskin isi pembicaraan)

Gangguan isi pikir

Waham
Waham adalah suatu kepercayaan palsu yang menetap yang tak sesuai dengan
fakta dan kepercayaan tersebut mungkin aneh (misalnya; mata saya adalah
computer yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula tidak aneh (hanya
sangat tidak mungkin, misalnya; FBI mengikuti saya) dan tetap dipertahanan
meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya.
Waham kejar
Waham kebesaran
Waham rujukan, yaitu pasien meyakini ada arti di balik peristiwa-peristiwa
dan meyakini bahwa peristiwa-peristiwa atau perbuatan orang lain tersebut
seolah-olah diarahkan kepada mereka.
Waham penyiaran pikiran yaitu kepercayaan bahwa orang lain dapat membaca
pikiran mereka.
Waham penyisipan pikiran yaitu kepercayaan bahwa pikiran orang lain
dimasukkan ke dalam benak pasien.

9
Tilikan
Kebanyakan pasien skizofrenia mengalami pengurangan tilikan yaitu pasien tidak
menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhadap pengobatan, meskipun gangguan
yang ada pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain.

Gangguan persepsi
Halusinasi
Halusinasi paling sering ditemui, bilasanya bentuk pendengaran tetapi bisa
juga bentuk penglihatan, penciuman dan perabaan. Halusinasi pendengaran (paling
sering suara, satu atau beberapa orang) dapat pula komentar tentang pasien atau
peristiwa-peristiwa sekirar pasien. Komentar-komentar tersebut dapat berbentuk
ancaman atau perintah perintah langsung ditujukan kepada pasien (halusinasi
komando)
Ilusi dan depersonalisasi
Ilusi yaitu adanya misinterpretasi panca indra terhadap objek.
Depersonalisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap lingkungan sekitarnya
misalnya dunia terlihat tidak nyata.
Gangguan emosi
Pasien skizofrenia dapat memperlihatkan berbagai emosi dan dapat berpindah
dari satu emosi ke emosi yang lain dalam jangka waktu singkat. Ada tiga efek dasar
yang sering (tetapi tidak patognomonik):
Afek tumpul atau datar: ekspresi emosi pasien sangat sedikit bahkan ketika afek
tersebut seharusnya diekspresikan. Pasien tidak menunjukkan kehangatan.
Afek tak serasi : afeknya mungkin bersemangat atau kuat tetapi tidak sesuai
dengan pikiran dan pemikiran pasien.
Afek labil : dalam jangka pendek terjadi perubahan afek yang jelas.
Gangguan perilaku
Berbagai perilaku tak sesuai atau aneh dapat terlihat seperti gerakan tumbuh
yang aneh, wajah dan menyeringai, perilaku ritual, sangat ketolol-tololan, agresif,
dan perilaku seksual yang tidak pantas. Skizofrenia dapat berlangsung berapa bulan
atau bertahun-tahun (lebih sering). Kebanyakan pasien mengalami kekambuhan,
dalam bentuk episode aktif, secara periodic, dalam kehidupannya, secara khas
dengan jarak beberapa bulan atau tahun. Selama masa pengobatan, pasien biasanya

10
memperlihatkan gejala residual (sering dengan derajat keparahan yang meningkat
setelah beberapa tahun). Walaupun demikian, ada sebagian kecil pasien yang
mengalami remisi.
Sebagian besar pasien-pasien skizofrenia yang dalam keadaan remisi dapat
memperlihatkan tanda-tanda awal kekambuhan. Tanda-tanda awal tersebut meliputi
peningkatan kegelisahan dan ketegangan, penurunan napsu makan, depresi ringan
dan anhedonia, tidak bisa tidur, dan konsentrasi terganggu.

Kriteria Diagnosis skizofrenia


Gejala karakteristik : dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan
berhasil) :
- Waham
- Halusinasi
- Bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
- Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
- Gejala negative, yaitu, pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)

Catatan : hanya satu gejala criteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau pikiran
pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.

Disfungsi sosial atau pekerjaan : untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lenih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal,
atau perawatan diri, adalah jelas di bawah ini tingkat yang dicapai sebelum onset
(atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat
pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).

Durasi : tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Periode
6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati
dengan berhasil) yang menenuhi criteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan mungkin
termasuk perode gejala prodromal atau residual, tanda gangguan mungkin
dimanifestasikan hanya oleh gejala negative atau dua atau lebih gejala yang dituliskan
11
dalam criteria A dalam bentuk yang diperlemah (misalnya, keyanikan yang aneh,
pengalaman persepsi yang tidak lazim).

Penyingkiran gangguan skizofektif dan gangguan mood: gangguan skizoafektif dan


gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena : (1) tidak ada episode
depresi berat, manik, atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala
fase aktif; atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi
totalnya adalah relative singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.

Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek


fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu
medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat adanya


gangguan autistic atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan
skizofrenia dibuat hanya jiwa waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan
untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).

Kriteria Diagnosis Tipe Paranoid


Suatu tipe skizofrenia di mana criteria berikut ini terpenuhi :
Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi yang menonjol.
Tidak ada dari berikut ini yang menonjol : bicara terdisorganisasi, perilaku
terdisorganisasi atau katatonik, atau afek yang datar atau tidak sesuai.

Diagnosis banding
Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang terlihat
pada gangguan skizofreniform, gangguan psikotik singkat, dan gangguan skizoafektif.
Gangguan skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama (durasi)
gejala yang sekurangnya satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan. Gangguan
psikotik berlangsung singkat adalah diagnosis yang tepat jika gejala berlangsung
sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan jika pasien tidak kembali ke
tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan skizoafektif adalah diagnosis yang tepat jika
sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan gejala utama
skizofrenia.

12
Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh
(nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala skizofrenia
lainnya atau suatu gangguan mood.

PROGNOSIS

Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:


1. Usia pertama kali timbul ( onset): makin muda makin buruk.
2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.
3. Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik.
4. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.
5. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.
6. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.
7. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.
8
. Prognosis Baik Prognosis Buruk
Onset lambat Onset muda
K pencetus yang jelas
Faktor Tidak ada factor pencetus
e akut
Onset Onset tidak jelas
a
Riwayat sosial, seksual dan Riwayat social dan pekerjaan premorbid
dpekerjaan premorbid yang baik yang buruk
a
Gejala gangguan mood (terutama Prilaku menarik diri atau autistic
agangguan depresif) Tidak menikah, bercerai atau janda/
n
Menikah duda
Riwayat keluarga gangguan mood Sistem pendukung yang buruk
s
Sistem pendukung yang baik Gejala negatif
o positif
Gejala Tanda dan gejala neurologist
s Riwayat trauma perinatal
i Tidak ada remisi dalam 3 tahun
a Banyak relaps
l Riwayat penyerangan

13
PENATALAKSANAAN
Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi utama perawatan di rumah sakit adalah :
1. Untuk tujuan diagnostik.
2. Menstabilkan medikasi.
3. Keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh.
4. Perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai.
5. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Tujuan utama perawatan di rumah sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan
system pendukung masyarakat.

Terapi somatik
Antipsikotik
Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang mengatasi gangguan waham.
Pada kondisi gawat darurat, klien yang teragitasi parah, harus diberikan obat
antipsikotik secara intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan
obat pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari kelas lain
harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan yang paling sering adalah
ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi ini harus diperhitungkan oleh dokter
dan perawat. Sedangkan terapi yang berhasil dapat ditandai adanya suatu
penyesuaian sosial, dan bukan hilangnya waham pada klien.
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
o Antagonis Reseptor Dopamin
Adalah obat antipsikotik yang klasik dan efektif dalam pengobatan
skizofrenia. Obat ini memiliki dua kekurangan utama, yaitu:
Hanya sejumlah kecil pasien, cukup tertolong untuk mendapatkan kembali
jumlah fungsi mental yang cukup normal.
Disertai dengan efek merugikan yang mengganggu dan serius. Efek
mengganggu yang paling utama adalah akatisia dan gejala mirip
parkinsonisme berupa rigiditas dan tremor. Efek serius yang potensial
adalah tardive dyskinesia dan sindroma neuroleptik malignan.

14
Yang termasuk antipsikotik antagonis reseptor dopamine adalah :
Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan mengurangi
gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 325 mg, kemudian
dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis tertinggi : 1000
mg/hari secara oral.

Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik
diri. Dosis awal : 31 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.

Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan
mania. Dosis awal : 30,5 mg sampai 3 mg.

o Serotonin dopamin antagonis (SDA)


Risperidone
Adalah suatu obat antispikotik dengan aktivitas antagonis yang
bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 ( 5-HT2 ) dan pada reseptor
dopamine tipe 2 ( d2 ). Risperidone menjadi obat lini pertama dalam
pengobatan skizofrenia karena kemungkinan obat ini adalah lebih
efektif dan lebih aman daripada antagonis reseptor dopaminergik yang
tipikal.

Clozapine
Adalah suatu obat antipsikotik yang efektif. Mekanisme kerjanya
belum diketahui secara pasti. Clozapine adalah suatu antagonis lemah
terhadap reseptor D2 tetapi merupakan antagonis yang kuat terhadap
reseptor D4 dan mempunyai aktivitas antagonistic pada reseptor
serotogenik. Agranulositosis merupakan suatu efek samping yang
mengharuskan monitoring setiap minggu pada indeks-indeks darah.
Obat ini merupakan lini kedua, diindikasikan pada pasien dengan
tardive dyskinesia karena data yang tersedia menyatakan bahwa

15
clozapine tidak disertai dengan perkembangan atau eksaserbasi
gangguan tersebut.

Kontraindikasi Utama Antipsikotik:


1. Riwayat respon alergi yang serius
2. Kemungkinan bahwa pasien telah mengingesti zat yang akan berinteraksi
dengan antipsikotik sehingga menyebabkan depresi sistem saraf pusat.
3. Resiko tinggi untuk kejang dari penyebab organic atau audiopatik.
4. Adanya glukoma sudut sempit jika digunakan suatu antupsikotik dengan
aktivitas antikolinergik yang bermakna.
Anti Parkinson
Triheksipenydil (Artane), untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk
menghilangkan reaksi ekstrapiramidal akibat obat. Dosis yang digunakan :
1-15 mg/hari
Anti Depresan
Amitriptylin
Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan
somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.
Imipramin
Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi neurotik.
Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75 mg/hari.
Anti Ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform,
kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara
gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti
ansietas antara lain:
Fenobarbital : 16-320 mg/hari
Meprobamat : 200-2400 mg/hari
Klordiazepoksida : 15-100 mg/hari

Obat Lain
Lithium
Efektif dalam menurunkan gejala psikotik lebih lanjut pada sampai 50
persen pasien dengan skizofrenia dan merupakan obat yang beralasan

16
untuk dicoba pada pasien yang tidak mampu menggunakan medikasi
antipsikotik.

Antikonvulsan
Carbamazepine dan valproat dapat digunakan sendiri-sendiri atau
dalam kombinasi dengan lithium atau suatu antipsikotik. Walaupun
tidak terbukti efektif dalam menurunkan gejala psikotik pada
skizofrenia, namun jika digunakan sendiri-sendiri mungkin efektif
dalam menurunkan episode kekerasan pada beberapa pasien
skizofrenia.

Benzodiazepin
Pemakaian bersama-sama alprazolam ( xanax ) dan antipsikotik bagi
pasien yang tidak berespo terhadap pemberian antipsikotik saja, dan
pasien skizofrenia yang berespon terhadap dosis tinggi diazepam (
valium ) saja. Tetapi keparahan psikosis dapat di eksaserbasi seteloah
putus dari benzodiazepine.

Kegagalan Pengobatan
1. Ketidakpatuhan dengan antipsikotik merupakan alasan utama untuk
terjadinya relaps dan kegagalan percobaan obat.
2. Waktu percobaan yang tidak mencukupi.

Setelah menghilangkan alasan lain yang mungkin bagi kagagalan terapi


antipsikotik, dapat dicoba antipsikotik kedua dengan struktur kimiawi yang
berbeda dari obat yang pertama. Strategi tambahan adalah suplementasi
antipsikotik dengan lithium (eskalith), suatu antikonvulsan seperti
carbamazepine atau valproate (depakene), atau suatu benzodiazepine.
Pemakaian terapi antipsikotik dosis-mega jarang diindikasikan, karena hamper
tidak ada data yang mendukung praktek tersebut.

Terapi Somatik Lainnya

Elektrokonvulsif ( ECT ) dapat diindikasikan pada pasien katatonik dan


bagi pasien yang karena suatu alasan tidak dapat menggunakan antipsikotik (

17
kurang efektif ). Pasien yang telah sakit selama kurang dari satu tahun adalah
yang paling mungkin berespon.

Dimasa lalu skizofrenia diobati dengan koma yang di timbulkan insulin


(insulin-induced coma) dan koma yang ditimbulkan barbiturat (barbiturate-
induced coma).

Terapi Psikososial
o Terapi Perilaku
Tehnik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan
social untuk meningkatkan kemampuan social, kemampuan memenuhi diri
sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah
didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang
diharapkan. Dengan demikian frekuensi perilaku mal adaptif atau
menyimpang dapat diturunkan.

Latihan Keterampilan Perilaku ( Behavioral Skills Trainning )

Sering dinamakan terapi keterampilan sosial ( social skills therapy ).


Terapi ini dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien dan
merupakan tambahan alami bagi terapi farmakologis. Latihan keterampilan ini
melibatkan penggunaan kaset videon orang lain dan pasien permainan
simulasi ( role playing ) dalam terapi, dan pekerjaan rumah tentang
keterampilan yang telah dilakukan.

o Terapi Berorientasi Keluarga


Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk
mengidentifikasik dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan
kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat
terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat.
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas dalam
terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya.

18
AUTISME PADA ANAK
DEFINISI
Autisme merupakan salah satu jenis gangguan yang terdapat pada kelompok
Gangguan Perkembangan Pervasif, biasa muncul sebelum usia 3 tahun. Kondisi ini
mengakibatkan gangguan pada interaksi sosial, pola komunikasi, minat dan gerakan
terbatas, stereotipik dan diulang-ulang (ICD-X/ DSM-IV)

EPIDEMIOLOGI
Autisme ditemukan pada 4-5 per 100.000 anak (penelitian Victor Lotter, di Inggris,
1966) kemudian ditemukan adanya peningkatan autisme: 13 per 10.000 anak
(penelitian Tanoue, di Jepang 1988) dan penelitian (2000) menunjukkan angka 1 per
1000, bahkan laporan tahun 2005 ditemukan pada 1 per 160 anak pra sekolah di
Amerika Serikat (Research Units on Pediatric Psychopharmacology, Autism
Network, Nov 2005)
Pada tahun 2010 diperkirakan terdapat 52 juta kasus autisme di dunia, dengan
prevalensi 7.6 per 1000 atau setara dengan 1 per 132 anak. (The epidemiology and
global burden of autism spectrum disorders, Feb 2015)
Di Indonesia belum ada penelitian khusus mengenai epidemiologi autisme, namun
dari berdasarkan data BPS tahun 2010 maka diperkirakan terdapat lebih dari 112.000
anak penyandang autisme pada rentang usia 5-19 tahun.

ETIOLOGI
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti apa penyebab dari autisme itu. Ada
berbagai macam teori tentang penyebab autisme, antara lain:
Teori psikososial
Kanner mempertimbangkan adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab
autisme: orang tua yang emosional, kaku dan obsesif yang mengasuh anak mereka
dalam suatu atmosfer yang secara emosional kurang hangat bahkan dingin.
Menurut Bruno Bettelheim, perilaku orang tua dapat menimbulkan perasaan
terancam pada anak.
Teori ini pada sekitar tahun 1950-1960 sempat membuat hubungan dokter dan
orangtua mengalami krisis dan menimbulkan perasaan bersalah dan bingung pada
para orang tua yang telah cukup berat bebannya dengan mengasuh anak autistik.
Sekarang teori ini tidak dipakai lagi.

19
Teori Biologis
Adanya hubungan yang erat dengan retardasi mental (75-80%), perbandingan laki-
laki : perempuan = 4:1, meningkatnya insiden gangguan kejang (25%) dan adanya
beberapa kondisi medis dan genetik yang mempunyai hubungan dengan gangguan
ini. Sehingga sekarang ini diyakini bahwa gangguan autistik ini merupakan suatu
sindrom perilaku yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang
mempengaruhi sistem saraf pusat. Walaupun sampai saat ini belum diketahui pasti
dimana letak abnormalitasnya, diduga adanya disfungsi dari batang otak dan
mesolimbik, namun dari penelitian terakhir ditemukan kemungkinan adanya
keterlibatan dari serebelum.
Berbagai kondisi tersebut antara lain:
a. Faktor genetik
Hasil penelitian pada keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya faktor
genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada penelitian dalam
keluarga ditemukan 2,5-3% autisme pada saudara kandung, yang berarti 50-
100 kali lebih tinggi dari pada populasi normal.
Penelitian terbaru menemukan adanya peningkatan gangguan psikiatri pada
anggota keluarga dari anak autistik, berupa peningkatan insiden gangguan
afektif dan anxietas, juga peningkatan gangguan dalam fungsi sosial.
Juga telah ditemukan adanya hubungan autisme dengan sindrom fragile-X,
yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. Pada sindrom ini ditemukan
kumpulan berbagai gejala, seperti retardasi mental dari ringan sampai berat,
kesulitan belajar yang ringan, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang
abnormal pada 80% laki-laki dewasa, clumsiness, serangan kejang, dan hiper-
refleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti hiperaktif, gangguan
pemusatan perhatian, impulsif, dan anxietas. Diduga terdapat 0-205 sindrome
fragile-X pada autisme, walau hal ini masih diperdebatkan.
b. Faktor perinatal
Komplikasi pranatal, perinatal, dan neonatal yang meningkat juga ditemukan
pada anak austik. Komplikasi yang paling sering dilaporkan adalah adanya
perdarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran pada amnion janin,
yang merupakan tanda bahaya janin (fetal distress). Penggunaan obat-obatan
tertentu pada ibu yang sedang mengandung diduga ada hubungannya dengan
timbulnya autisme. Adanya komplikasi waktu bersalin seperti terlambat
20
menangis, gangguan pernafasan, anemia pada janin, juga diduga ada
hubungan dengan autisme.
c. Model neuroanatomi
Berbagai kondisi neuropatologi diduga dapat mendorong timbulnya gangguan
perilaku pada autisme, ada beberapa daerah di otak anak autistik yang diduga
mengalami disfungsi. Adanya kesamaan perilaku autistik dan perilaku
abnormal pada orang dewasa yang telah diketahui mempunyai lesi di otak,
dijadikan dasar dari beberapa teori penyebab autisme.
d. Hipotesis neurokemistri
Sejak ditemukannya adanya kenaikan kadar serotonin didalam darah pada
sepertiga anak autistik (1961), fungsi neurotransmiter pada anak autisme
menjadi fokus perhatian banyak peneliti. Dengan anggapan bila disfungsi
neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif
yang abnormal, tentunya dengan terapi obat diharapkan disfungsi sistem
neurotransmiter ini akan dapat dikoreksi. Beberapa jenis neurotransmiter yang
mempunyai hubungan dengan autisme antara lain serotonin, dopamin, dan
opioid endogen.

Teori imunologi

Ditemukannya penurunan respon sistem imun pada beberapa anak autistik


meningkatkan kemungkinan adanya dasar imunologis pada beberapa kasus
autisme. Ditemukannya antibodi beberapa ibu terhadap antigen leukosit anak
mereka yang autistik, memperkuat dugaan ini karena ternyata antigen lekosit itu
juga ditemukan pada sel-sel otak, sehingga antibodi ibu dapat secara langsung
merusak jaringan saraf otak janin, yang menjadi penyebab timbulnya autisme.

Peningkatan frekuensi yang tinggi dari gangguan autisme pada anak-anak dengan
congenital rubella, herpes simplex, encephalitis, dan cytomegalovirus infection,
juga pada anak-anak yang lahir selama musim semi dengan kemungkinan ibu
mereka menderita influensa musim dingin saat mereka ada didalam rahim, telah
membuat para peneliti menduga infeksi virus ini merupakan salah satu penyebab
autism.

21
GEJALA KLINIS
Ada 3 kelompok gejala yang harus diperhatikan untuk dapat mendiagnosis autism:
a. Dalam interaksi sosial
b. Dalam komunikasi verbal dan non verbal saat bermain
c. Dalam berbagai aktivitas dan minat

Namun demikian anak-anak autistik kemungkinan sangat berbeda satu dengan yang
lain, tergantung pada derajat intelektual serta bahasanya. Anak yang mutisme
(membisu) dan suka menyendiri maupun anak yang mampu bertanya dengan
tatabahasa yang benar, hanya saja tidak sesuai dengan situasi yang ada, kedua
kelompok ini merupakan anak autisme. Dapat pula terjadi salah diagnosis pada
keadaan fungsi intelektual yang ekstrem (sangat tinggi atau sangat rendah). Hilangnya
tingkah laku yang khas autism bersamaan dengan meningkatnya usia, membuat
diagnosis autisme dibuat setelah masa kanak lewat menjadi kurang signifikan.
Biasanya gejala autisme mulai muncul sebelum usia 3 tahun dan ditandai kegagalan
dalam perkembangan berbahasa dan kegagalan dalam menjalin hubungan dengan
orang tuanya.
Ciri Khas Perilaku
- Hendaya kualitatif di dalam interaksi sosial
Anak autistik sering tidak memahami atau membedakan orang-orang yang
penting dalam hidupnya-orangtua, saudara kandung, dan guru, serta dapat
menunjukkan ansietas yang berat ketika rutinitas biasanya terganggu, dan
bereaksi tidak terbuka jika ditinggalkan dengan seorang yang asing. Defisit
jelas di dalam kemampuannya untuk bermain dengan teman sebaya dan
berteman; perilaku sosial aneh dan tidak dapat sesuai. Secara kognitif anak
dengan gangguan autistik lebih terampil dalam tugas visual-spasial, tidak
demikian dengan tugas yang memerlukan ketrampilan dalam pemberian
alasan secara verbal. Anak dengan autisme, mereka tidak mampu
menghubungkan motivasi atau tujuan orang lain, sehingga tidak dapat
memberikan empati.
- Gangguan komunikasi dan bahasa
Defisit perkembangan bahasa dan kesulitan menggunakan bahasa untuk
mengkomunikasikan gagasan adalah kriteria utama untuk mendiagnosis
gangguan autistik. Anak autistik memiliki kesulitan yang signifikan di dalam

22
menggabungkan kalimat yang bermakna meskipun memiliki kosakata yang
luas.
- Gangguan kognitif
Hampir 75-80% anak autistik mengalami retardasi mental, dengan derajat
retardasinya rata-rata sedang.
Menarik untuk diketahui bahwa beberapa orang autistik menunjukkan
kemampuan memecahkan masalah yang luar biasa, seperti mempunyai daya
ingat yang sangat baik, kemampuan membaca yang diatas batas penampilan
intelektualnya (hiperleksia).
50% dari idiot savants, yaitu orang dengan retardasi mental yang
menunjukkan kemampuan luar biasa, seperti menghitung kalendar,
memainkan satu lagu hanya dari sekali mendengar, mengingat nomer telepon
yang ia baca dari buku telepon adalah seorang penyandang autisme.
- Gangguan pada perilaku motorik
Kebanyakan anak autistik menunjukkan adanya stereotipi, seperti bertepuk-
tepuk tangan. Menggoyang goyang tubuh.
Hiperaktivitas biasa terjadi terutama pada anak pra sekolah. Namun
sebaliknya dapat terjadi hipoaktivitas. Beberapa anak juga menunjukkan
gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Juga didapatkan adanya
koordinasi motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan
belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, dan
mengancing baju.
- Reaksi abnormal terhadap perangsangan indera
Beberapa anak menunjukkan hipersensitivitas terhadap suara (hiperakusis) dan
menutup telinganya bila mendengar suara yang keras seperti petasan,
gonggongan anjing, atau sirine polisi. Anak lain mungkin tertarik pada suara
jam tangan, atau remasan kertas. Sinar yang terang mungkin akan membuat
tegang, namun ada juga yang senang terhadap sinar. Mereka mungkin sensitif
terhadap sentuhan, memakai baju yang terbuat dari wol. Atau baju dengan
label yang masih menempel, atau berganti baju yang terbuat dari lengan
pendek menjadi lengan panjang, semua itu dapat membuat mereka menjadi
tantrum. Di pihak lain ada juga anak yang tidak peka terhadap rasa sakit, dan
tidak menangis saat mengalami luka yang parah.

23
- Gangguan tidur dan makan
Gangguan tidur berupa terbaliknya pola tidur. Gangguan makan berupa
keengganan terhadap makanan tertentu karena tekstur dan baunya, menolak
makanan baru, atau pika
- Gangguan afek dan mood/ perasaan/ emosi
Beberapa anak menunjukkan perubahan mood yang tiba-tiba, mungkin
menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas, beberapa anak mudah
emosional. Rasa takut yang sangat kadang-kadang muncul terhadap objek
yang sebetulnya tidak menakutkan. Cemas perpisahan yang berat, juga depresi
berat mungkin ditemukan pada anak autistik.
- Perilaku yang membahayakan
Ada kemungkinan mereka menggigit lengan, tangan atau jari sendiri sampai
berdarah. Membentur-benturkan kepala, mencubit, menarik rambut sendiri
atau memukuli diri sendiri. Temper tantrums, ledakan agresivitas tanpa
pemicu, kurangnya perasaan terhdap bahaya dapat terjadi pada anak autistik.
- Gangguan kejang
Terdapat kejang epilepsi pada sekitar 10-25% anak autistik. Ada korelasi yang
tinggi antara serangan kejang dengan beratnya retardasi mental, derajat
disfungsi susunan saraf pusat.

Fungsi Intelektual
Kemampuan visuomotor atau kognitif yang tidak biasa atau prekoks terjadi pada
beberapa anak autistik yang disebut sebagai splinter functions atau islet of
precocity. Contoh menonjol adalah, pelajar autistik atau idiot, yang memiliki daya
ingat menghafal atau kemampuan berhitung yang luar biasa, biasanya di luar
kemampuan sebaya yang normal. Kemampuan lain mencakup hiperleksia,
kemampuan awal untuk membaca dengan baik (meskipun tidak mengerti),
mengingat dan menceritakan kembali, serta kemampuan musikal (bernyanyi atau
memainkan nada atau memainkan alat musik).

PEMERIKSAAN MEDIS
Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan neurologis, Tes neuropsikologis, Tes pendengaran
dengan BERA, Tes ketajaman penglihatan, Berbagai rating scales.

24
DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Autistik

A. Keenam (atau lebih) hal dari (1), (2), (3), dengan sedikitnya dua dari
(1), dan satu masing-masing dari (2) dan (3) :
(1) Hendaya kualitatif dalam hal interaksi sosial, seperti yang
ditunjukkan oleh sedikitnya dua dari hal berikut:
(a) Hendaya yang nyata dalam hal penggunaan berbagai perilaku
non verbal seperti pandangan mata, ekspresi wajah, postur
tubuh, dan sikap untuk mengatur interaksi sosial
(b) Kegagalan mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai
dengan tingkat perkembangan
(c) Tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan,
minat, atau pencapaian dengan orang lain (cth., dengan tidak
menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek minat)
(2) Hendaya kualitatif dalam hal komunikasi seperti yang ditunjukkan
dengan sedikitnya salah satu dari di bawah ini:
(a) Keterlambatan atau tidak adanya perkembangan bahasa lisan
(tidak disertai dengan upaya untuk mengompensasikan melalui
cara komunikasi alternatif seperti sikap atau mimik)
(b) Pada orang dengan pembicaraan yang adekuat, hendaya yang
nyata dalam hal kemampuannya untuk memulai atau
mempertahankan pembicaraan dengan orang lain
(c) Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang atau bahasa
yang aneh
(d) Tidak adanya berbagai permainan sandiwara spontan atau
permainan pura-pura sosial yang sesuai dengan tingkat
perkembangan
(3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas stereotipik berulang, dan terbatas,
yang ditunjukkan oleh sedikitnya salah satu dari berikut:
(a) meliputi preokupasi terhadap salah satu atau lebih pola minat
yang stereotipik dan terbatas yang abnormal baik dalam
intensitas atau fokus
(b) tampak terlalu lekat dengan rutinitas atau ritual yang spesifik
serta tidak fungsional
(c) manerisme motorik berulang dan stereotipik (cth., ayunan atau
memuntir tangan atau jari, atau gerakan seluruh tubuh yang
kompleks)

25
B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sedikitnya salah satu area ini,
dengan onset sebelum usia 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa yang
digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik dan
khayalan.
C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan
disintegeratif masa kanak-kanak.

Pedoman diagnosis anak autis menurut PPGDJ-III adalah :


Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan
dan/atau hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan
dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang : interkasi sosial, komunikasi,
dan perilaku yang terbatas, dan berulang.
Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normal sebelumnya,
tetapi bila ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usia 3
tahun, sehingga diagnosis sudah dapat ditegakkan. Tetapi gejala-gejalanya
(sindrom) dapat didiagnosis pada semua kelompok umur.
Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik
(reciprocal social interaction). Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat
terhadap isyarat yang sosio-emosional, yang tampak sebagai kurangnya
respons terhadap orang lain dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku
dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat sosial dan integrasi
yang lemah dalam perliaku sosial, emosional, dan komunikatif; dan
khususnya, kurangnya respon timbal balik sosio-emosional.
Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan ketrampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan
sosial; hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial; keserasian
yang buruk dan kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya
keluwesan dalam bahasa ekspresif dan kreativitas, dan fantasi dalam proses
pikir yang relatif kurang; kurangnya respon emosional terhadap ungkapan
verbal dan non-verbal orang lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama
atau penekanan sebagai modulasi komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh
untuk menekankan atau memberi arti tambahan dalam komunikasi lisan.

26
Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang
terbatas, berulang, dan stereotipik. Ini berbentuk kecenderungan untuk
bersikap kaku dan rutin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari; ini
biasanya berlaku untuk kegiatan baru dan juga kebiasaan sehari-hari serta pola
bermain. Terutama sekali dalam masa kanak yang dini, dapat terjadi kelekatan
yang khas terhadap benda-benda yang aneh, khususnya benda yang tidak
lunak. Anak dapat memaksakan suatu kegiatan rutin dalam ritual yang
sebetulnya tidak perlu; dapat terjadi preokupasiyang stereotipik terhadap suatu
minat seperti tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipi motorik;
sering menunjukkan minat khusus terhadap segi-segi non-fungsional dari
benda-benda (misalnya bau atau rasanya); dan terdapat penolakan terhadap
perubahan dari rutinitas atau dalam detil dari lingkungan hidup pribadi (seperti
perpindahan mebel atau hiasan dalam rumah).
Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme,
tetapi pada tiga perempat kasus secara signifikan terdapat retardasi mental.

DIAGNOSIS BANDING
Retardasi mental
Keterampilan sosial dan komunikasi verbal/ non verbal pada anak retardasi
mental adalah sesuai dengan usia mental mereka. Tes intelegensi biasanya
menunjukkan suatu penurunan yang menyeluruh dari berbagai tes, berbeda
dengan anak autistik hasil tesnya tidak menunjukkan hasil yang sama rata.
Kebanyakan anak dengan taraf retardasi yang berat dan usia mental yang
sangat rendah menunjukkan tanda-tanda autisme yang khas, seperti gangguan
dalam interaksi sosial, stereotipi, dan buruknya kemampuan berkomunikasi.
Skrizofrenia
Kebanyakan anak dengan skizofrenia tampak normal pada saat usia 2-3 tahun,
dan baru kemudian muncul halusinasi dan waham, gejala yang tidak terdapat
pada autisme. Biasanya anak dengan skizofrenia tidak retardasi mental,
sedangkan pada autisme sekitar 75-80% adalah retardasi mental.

27
Gangguan perkembangan dan bahasa
Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada pemahaman dan dalam
mengekspresikan pembicaraan. Namun komunikasi non-verbalnya baik,
dengan memakai gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Juga tidak ditemukan
adanya stereotipi dan gangguan yang berat dalam interaksi sosial.
Gangguan penglihatan dan pendengaran
Mereka yang buta dan tuli tidak akan bereaksi terhadap rangsang lingkungan
sampai gangguannya terdeteksi dan memakai alat bantu khusus untuk
mengkoreksi kelainannya.
Gangguan kelekatan yang reaktif
Suatu gangguan dalam hubungan sosial pada bayi dan anak kecil. Keadaan ini
dikarenakan pengasuhan yang buruk, sehingga dengan terapi dan pengasuhan
yang baik dan sesuai, kondisi ini dapat kembali normal.
Semua ganggguan yang termasuk dalam kelompok PDD: Sindrom
Asperger, Sindrom Rett, Autisme yang tak khas, gangguan desintegratif
masa kanak, PDD NOS.
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH)
Banyak anak autisme yang juga mempunyai gejala hiperaktif, impulsif, dan
inatensi, namun dengan pengamatan klinis yang teliti akan tampak bedanya
dengan GPPH. Pada GPPH anak masih mempunyai interaksi sosial yang baik,
komunikasi non-verbal yang baik dan minat/aktivitas motorik yang sesuai dan
terarah, ada tujuan walau tidak selesai.

PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi pada gangguan autistic adalah untuk:
Mengurangi masalah perilaku
Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam
penguasaan bahasa
Mampu bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan sosialnya

1. Pendekatan edukatif
2. Terapi perilaku

28
Metode ABA (Applied Behavioral Analysis): terapi dilakukan
dengan memberikan positive reinforcement bila anak menuruti
perintah terapis. Disini anak diarahkan untuk mengubah perilaku
yang tidak diinginkan dan menggantikannya dengan perilaku yang
lebih bias diterima
Metode option: lebih child centered dimana terapis selalu
mengikuti perilaku anak. Yang ditekankan disini adalah
acceptance and love . orang tua justru harus berusaha untuk
masuk kedalam dunia tersebut
Metode floor time: sejenis terapi bermain pada anak.
Tidak ada terapi khusus yang digunakan untuk menangani gangguan autis.
Deteksi dan penanganan dini dapat memperbaiki gejala dan perkembangan
dengan signifikan. Tujuan terapi untuk anak dengan gangguan autistik adalah
untuk meningkatkan perilaku proposial dan perilaku yang secara sosial dapat
diterima, untuk mengurangi gejala perilaku yang aneh, dan untuk
memperbaiki komunikasi verbal serta non verbal. Perbaikan bahasa dan
akademik sering diperlukan. Anak dengan retardasi mental memerlukan
intervensi perilaku yang sesuai secara intelektual untuk mendorong perilaku
yang dapat diterima secara sosial dan mendorong ketrampilan perawatan diri.
Orang tua, yang sering putus asa, membutuhkan dukungan dan konseling.
Psikoterapi individual yang berorientasi tilikan terbukti tidak efektif.
Intervensi edukasi dan perilaku dianggap terapi pilihan. Pelatihan di dalam
ruang kelas yang terstruktur dikombinasikan dengan metode perilaku adalah
metode terapi yang paling efektif untuk banyak anak autistik.
Pelatihan yang teliti pada orang tua mengenai konsep dan
ketrampilan modifikasi perilaku serta resolusi perhatian orang tua
dapat menghasilkan cukup keuntungan di dalam bahasa, kognitif,
dan area perilaku sosial anak.
3. Terapi khusus: Psikoterapi
4. Terapi obat
Diberikan pada kelompok anak dengan gela seperti temper tantrums, agresivitas,
melukai diri sendiri, hiperaktivitas dan stereotipi. Obat-obat yang digunakan:
Antipsikotik : memblok reseptor dopamine
SSRI : merupakan selective serotonin reuptake inhibitor
29
Methylphenidate : menurunkan hiperaktivitas, inatensi
Naltrexone : antagonis opioida
Clopramine : antidepresan
Clonidine : menurunkan aktivitas noradrenergic

Antipsikotik
Risperidone (risperidal): efektif untuk terapi anak autistic yang disertai dengan
tantrums, agresivitas, dan perilaku yang membahayakan diri sendiri, iritabel,
stereotipik, hiperaktif, dan gangguan komunikasi. Beberapa antipsikotik atipikal
lain juga.
Beberapa antipsikotik atipikal lain juga mempunyai efek positif namun masih
diperlukan penelitian lebih lanjut:
olanzapine (zyprexa): penelitian pada anak autistic usia 6-16 tahun
dengan menggunakan olanzapine meunjukkan perbaikan dalam
iritabilitas, hiperaktivitas, bicara yang berlebihan, dan komunikasi.
Efek samping yang sering muncul penambahan BB dan mengantuk
aripriprazole (abilify): mempunyai efek terapi yang hampir sama,
dengan ES menambahan BB yang lebih minimal dibanding obat dari
kelompok yang sama
SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor)
Termasuk: fluoxetine (procaz), sertraline (Zoloft), fluvoxamine (Luvox), sangat
efektif untuk depresi, cemas, dan obsesif, perilaku stereotipik, juga meningkatkan
perilaku secara umum menjadi lebih terkendali, interest yang terbatas, inatensi,
hiperaktif, labilitas mood, proses belajar, bahasa, dan sosialisasi
Methylphenidate
Hiperaktivitas dan inatensi merupakan gejala yang sering ditemukan oada anak
dengan gangguan autistic. Dari penelitian didapatkan hasil sekitar 50% anak
dengan autistic yang disertai hiperaktifitas memberi respons terhadap
methylphenidate.

PROGNOSIS
Gangguan anak autistik umumnya merupakan gangguan seumur hidup dengan
prognosis terbatas. Prognosis pasien dengan autisme besar hubungannya dengan IQ

30
mereka. Pasien dengan fungsi-fungsi yang rendah tidak dapat hidup mandiri. Mereka
rata-rata membutuhkan perawatan di rumah selama hidupnya. Sedangkan pada pasien
dengan fungsi yang masih baik dapat hidup dengan mandiri, memiliki pekerjaan yang
sukses, dan bahkan dapat menikah dan mempunyai anak.
Area gejala yang tidak nampak membaik seiring waktu adalah gejala yang
terkait perilaku berulang atau ritualistik. Umumnya, studi hasil saat dewasa
menunjukkan bahwa kira-kira dua pertiga orang dewasa dengan autistik tetap
mengalami hendaya berat dan hidup benar-benar bergantung, baik dengan kerabatnya
atau di institusi jangka panjang. Prognosisnya membaik jika lingkungan atau rumah
bersifat suportif dan dapat memenuhi kebutuhan ekstensif anak tersebut. Meskipun
pengurangan gejala dicatat pada banyak kasus, mutilasi diri yang berat atau
agresivitas serta regresi dapat terjadi pada yang lain.

31
DAFTAR PUSTAKA

Baxter, A.J et all. 2010. The epidemiology and global burden of autism spectrum
disorders. Psychological Medicine Journals Cambrige ed feb 2015
Elvira SD, Hadisukanto G. 2010. Autisme Pada Anak. Buku Ajar Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

Hawari, Dadang:Skizofrenia dalam Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa,


Penerbit FKUI, Jakarta, 2003.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Gangguan Autistik. Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jakarta: Binarupa Aksara

Kaplan & Sadock: Skizofrenia dalam Sinopsis Psikiatri Jilid 1, edisi 7, Penerbit
Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1997, halaman 685-729.

Maslim R. 2013. Autisme Masa Anak. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-
III dan DSM V. Jakarta: PT Nuh jaya
Maslim R. 2013. Skizofrenia. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III dan
DSM V. Jakarta: PT Nuh jaya

32
LAPORAN KASUS ANAK

Dokter Pembimbing :
dr. Isa Multazam Noor , SpKJ

Oleh :
Anggia Fitri Widyani
Romi
Nadya Ramadhani 1102010202
Sarah Amani 2011730096

KEPANITERAAN KLINIK STASE PSIKIATRI


RS JIWA ISLAM KLENDER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015