Anda di halaman 1dari 21

TABLET ANTALGIN

METODE GRANULASI BASAH

1. Nama Zat Aktif, Kekuatan Sediaan, dan Jumlah Sediaan


1.1 Nama Zat Aktif : Antalgin
1.2 Kekuatan Sediaan : 500 mg/652 mg
1.3 Jumlah Sediaan : 120 tablet

2. Formula dan Metode


2.1 Formula :
R/ Antalgin 650 mg
Amprotab 10%
Pasta Na CMC 2% qs
Laktosa qs
Mg stearat 1%
Talk 2%
Amilum kering 5%

2.2 Metode : Granulasi Basah

3. Alasan Pemilihan Formula, Zat Tambahan, dan Metode


3.1 Alasan Pemilihan Formula
a. Amprotab : Sebagai bahan pengikat yang dapat mengikat zat aktif
dengan pengisi dan bahan tambahan lainnya. Berdasarkan
literature, digunakan sebagai bahan pengikat pada konsentrasi 5-
10%. Karena itu pada formula ditambahkan amprotab sebanyak
10% (HOPE : 723-725).
b. Pasta Na CMC : Sebagai bahan pengikat dan pembasah ketika
serbuk akan dibuat granul. Konsentrasi Na CMC sebagai bahan
pengikat menurut literature yaitu 1-6%. Karena itu, pada formula

1
digunakan pasta NA CMC dengan konsentrasi 2% (HOPE : 120-
121).
c. Laktosa : Sebagai bahan pengisi agar tablet memperoleh bobot
sesuai dengan yang diinginkan. Berdasarkan literature, konsentrasi
laktosa sebagai bahan pengisi adalah 65-85% (HOPE : 385).
d. Magnesium stearate : Sebagai lubrikan agar dapat mengurangi
gesekan antara permukaan tablet dengan dinding die ketika proses
pencetakan. Konsentrasi sebagai lubrikan menurut literature adalah
0.5-5%. Untuk itu, pada formula dipakai magnesium stearate
sebanyak 1% (HOPE : 430).
e. Talk : Sebagai glidan, yaitu untuk meningkatkan aliran granul dari
hopper ke dalam die. Menurut literature, konsentrasi sebagai glidan
yaitu 1-10%. Untuk itu, pada formula digunakan talk sebanyak 2%
(HOPE : 767).
f. Amylum kering : Sebagai bahan penghancur tablet ketika
besentuhan dengann cairan saluran cerna di dalam tubuh. Menurut
literature, konsentrasi sebagai bahan penghancur yaitu 3-15%.
Karena itu, pada formula digunakan sebanyak 5% (HOPE : 723-
725).
3.2 Alasan Pemilihan Metode Granulasi Basah
a. Bentuk zat aktif yang hablur dan saling menempel sehingga sulit
untuk mengalir, sehingga dibuat granulasi basah agar dapat
memperbaiki sifat alirannya yang sangat buruk (tidak dapat
mengalir sama sekali ketika dilakukan uji kecepatan alir).
b. Kompresibilitas zat aktif yang sangat buruk sekali (51%) sehingga
akan lebih baik ketika dibuat granulasi basah.
c. Zat aktif yang tahan panas.

4. Monografi Zat Aktif dan Zat Tambahan


4.1 Methampyron
Nama kimia :Natrium 2,3-dimetil-1-fenil-5-pirazolon-

4metilaminometanasulforon,Dipiron

2
Rumus molekul :C13H16N3NaO4S.H2O

Berat molekul :351,37

Pemerian :Serbuk hablur putih atau putih kekuningan

Susut pengeringan :Tidak lebih dari 5,5 % pada suhu 1050C

hingga bobot tetap

Kelarutan : Larut dalam air dan HCl 0,02 N

(FI IV, 1995 : 537-538)

4.2 Magnesium stearat


C36H70MgO4 BM = 591,27
Pemerian : Hablur sangat halus, putih, berbau khas dan
berasa.
Kegunaan : Lubrikan untuk tablet dan kapsul.
Aplikasi : Digunakan untuk kosmetik, makanan, dan
formulasi obat. Biasanya digunakan sebagai
lubrikan pada pembuatan kapsul dan tablet
dengan jumlah antara 0,25 5,0 %.
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam etanol, etanol
(95%), eter, dan air. Sedikit larut dalam
benzen hangat dan etanol (95%) hangat.
Densitas : 1,03 1,08 g/cm3.
Sifat aliran : Sulit mengalir, bubuk kohesif.
Polimorfisme :Trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat,
bentuk lamellar
Titik leleh : 88,5 C.
Stabilitas : Stabil.
Inkompatibilitas :Dengan asam kuat,alkali, dan garam besi.
Penyimpanan :Disimpan pada wadah sejuk (15 25oC),
kering,dan tertutup rapat.
(HOPE, 2009 : 430)

3
4.3 Talk
Pemerian :Serbuk sangat halus, putih sampai putih
abu-abu, tidak berbau. Langsung melekat
pada kulit, lembut disentuh.
Kegunaan :Anticaking agent, glidan, pengisi tablet dan
kapsul,lubrikan tablet dan kapsul.
Aplikasi :Digunakan pada sediaan oral padat sebagai
lubrikan dan pengisi.
Pemakaian :Glidan dan lubrikan tablet : 1-10%
Pengisi kapsul : 5-30%
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam larutan asam dan
alkali, larutan organik, dan air.
pH : 6,5 10 untuk larutan dispersi 20% b/v
Kekerasan : 1 1,5
Higroskopisitas : Talc tidak mengabsorpsi sejumlah air pada
suhu 25C dan kelembaban relatif naik
hingga 90%.
Distribusi ukuran partikel: bervariasi
Indeks refraksi : nD = 1,54 1,59
Gravitasi spesifik : 2,7 2,8
Stabilitas : Stabil, dapat disterilisasi dengan pemanasan
pada 160C selama tidak lebih dari 1 jam.
(HOPE, 2009 : 676)

4.4 Amylum Kering

Rumus molekul : (C6H10O5)n


BM : 50.000 160.000
pH : 5,5 6,5 untuk 2% b/v

4
Pemerian : Tidak berbau dan tidak berasa, serbuk
halus dan putih
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin 95%
dan air dingin.
Suhu pengembangan : 64oC
Inkompabilitas :-
BJ ruah : 0,462 gram/cm3
BJ mampat : 0,658 gram/cm3
OTT : Material bersifat inert
Konsentrasi : 3 15 % w/w
Kegunaan : Zat penghancur / disintegrant
Distribusi partikel : 10 100 m
Rentang : 2 32 m
Flowability : 10,8 11,7 g/s pati jagung.
Stabilitas : Amilum yang kering dan tidak dipanasi
stabil jika terlindung dari cahaya saat
digunakan sebagai pelincir atau disintegran
pada sediaan padat, amilu dipertimbangkan
sebagai bahan inert dibawah kondisi
penyimpanan normal. Namun larutan
amilum yang dipanaskan atau pasta amilum
secara fisik tidak stabil dan rentan serangan
mikroorganisme.
Penyimpanan : Amilum harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat ditempat sejuk dan kering.
(HOPE, 2009 : 723-725)
4.5 Laktosa
Pemerian : serbuk atau masa hablur, keras, putih atau
putih keram. Tidak berbau, dan rasa sedikit
manis. Stabil diudara, tetapi mudah
menyerap bau.
Kelarutan : mudah dan pelan-pelan larut dalam air,

5
dan lebih mudah larut dalam air mendidih,
sangat sukar larut dalam etanol tidak larut
dalam pelarut kloroform dan eter. Dalam 6
bagian air, larut dalam 1 baian air
mendidih, sukar larut dalam etanol 96%
Kejernihan dan warna larutan, Larutkan 3
g dalam 10 ml air mendidih terbentuk
larutan jernih, tidak berwarna atau hampir
tidak berwarana dan tidak berbau.
Khasiat : zat tambahan (segabai bahan pengisi)
(HOPE, 2009 : 385)

4.6 Carboxy Metyl Cellulosium Natrium (CMC-Na)


Pemerian : putih sampai krem hampir tidak
berasa hampir tidak berbau serbuk atau
granul.
Kelarutan :Mudah terdispersi dalam air membentuk
larutan koloid Tidak larut dalam etanol,
dalam eter dan dalam pelarut organik lain
Titik leleh : 227-2520 C
pKa : 4,3
pH larutan : 2-10
Massa molecular : 90.000-200.000 bobot jenis : 0,52
gram/cm3
Stabilitas : Higroskopik dan dapat menyerap air pada
kelembapan tinggi. Stabil pada pH 2-10,
pengendapan terjadi pada pH 2, viskositas
berkurang pada pH lebih dari pH 10
sterilisasi cara kering pada suhu 1600 C
Selama 1 jam, akan mengurangi viskositas
dalam larutan Perlu penambahan
antimikroba dalam larutan

6
Inkompatibilitas :Inkompatibel dengan larutan asam kuat
dan dengan larutan garam dari beberapa
logam pengendapan terjadi pada pH 2 dan
pada saat pencampuran dengan etanol 95%.
Membentuk kompleks dengan gliserin dan
pektin.
(HOPE, 2009 : 120-121)
4.7 Amprotab
Pemerian :Granul atau serbuk Putih,tidak berasa,
tidak berbau
Kelarutan :Praktis tidak larut dalam etanol dingin
( 90%) danair
BJ : 1,478 gr/cm3
pH : 4,0-7,0
inkompatabilitas : Dengan pengoksidasi kuat
kegunaan : Penghancur
(HOPE, 2009 : 723-725)

5. Perhitungan Bahan dan Penimbangan


5.1 Perhitungan Bahan

Formula yang akan dibuat :


Tiap tablet Antalgin mengandung : 500 mg
Bobot tablet yang akan dibuat : 650 mg
Jumlah tablet Antalgin yang akan dibuat : 300 tablet
Untuk tiap tablet :
Fase Dalam : Antalgin : 500 mg
Pasta Na CMC 2% : qs
Amprotab : 0.1 x 650 mg = 65 mg
Laktosa : (598 -500 65) mg = 33 mg +
Fase Dalam = 0.92 x 650 mg
= 598 mg

7
Bobot granul yang didapat : 181.38 gram

Fase Luar :
Mg stearat : 0.01 x 181.38 gram = 1.81 gram
Talk : 0.02 x 181.38 gram = 3.63 gram
Amilum kering : 0.05 x 811.38 gram = 9.07 gram

Untuk 300 tablet :


Bobot granul teoritis :
Fase Dalam :
Antalgin = 500 mg x 300 = 150 gram + 10%
= 165 gram
Amprotab = 65 mg x 300 = 19.5 gram + 10%
= 21.45 gram
Laktosa = 33 mg x 300 = 9.9 gram + 10%
= 10.84 gram +
= 179.4 gram = 197.34 gram

Pasta Na CMC 2% yang ditambahkan : 41.3 ml dari 100 ml


Pasta Na CMC = 41.3 ml/100 ml x 2 gram = 0.83 gram +
198.17 gram

5.2 Penimbangan Bahan


Antalgin : 165 gram
Laktosa : 10.98 gram
Amprotab : 21.45 gram
Pasta Na CMC 2% : 2 gram/100 ml
Mg stearat : 1.81 gram
Talk : 3.63 gram
Amilum kering : 9.07 gram

6. Prosedur Kerja

8
Antalgin (zat aktif) dan bahan tambahan yang menjadi komponen fase
dalam diayak dengan pengayak no. 14, lalu ditimbang sesuai dengan
perhitungan yang telah ditentukan formulanya. Antalgin dan amprotab
dicampur sampai homogen, kemudian ditambahkan laktosa. Pasta Na CMC
dibuat dengan konsentrasi 2%, lalu ditambahkan ke dalam serbuk campuran
sedikit demi sedikit, sampai didapat massa yang dapat dikepal namun dapat
dihancurkan kembali.
Campuran dibentuk menjadi granul dengan pengayak no. 14. Granul
yang terbentuk dimasukkan ke dalam oven pada suhu 50-60 C. setiap 15
menit, diukur LOD granul sampai memenuhi syarat (2-5%). Jika granul ttelah
memenuhi syarat LOD, dilakukan evaluasi granul mencakup uji kecepatan
alir, sudut istirahat, dan kompresibilitas. Setelah itu jumlah granul ditimbang
dan hasilnya dijadikan untuk menentukan jumlah fase luar yang ditambahkan.
Komponen fase luar (amylum kering, magnesium stearate, dan talk)
ditimbang sesuai perhitungan. Selanjutnya dilakukan pencetakan tablet, dan
dilakukan evaluasi pada tablet yang didapat meliputi uji keseragaman bobot,
keseragaman ukuran, friabilitas, friksibilitas, wantu hancur, dan kekerasan
tablet.
Evaluasi serbuk, dengan beberapa metode diantaranya :
a. Penetapam bobot jenis nyata, bobot jenis mampat.
Serbuk dimasukan kedalam piknometer kemudian dilarutkan dalam
larutan yang tidak dapat melarutkan serbuk tersebut, kemudian
timbang piknometer kosong dan piknometer yang telah diisi zat
dan pelarut. Dihitung bobotnya.
b. Kecepatan Alir
Dimasukan granul sebanyak 30 g kedalam corong getar, dicatat
waktu alir, dihitung aliran granul.
c. Sudut Istirahat
Dilakukan prosedur c, diukur tinggi puncak taburan granul, diukur
diameter lingkaran yang terbentuk dari taburan granul, dihitung
sudut yangterbentuk dari taburan granul tersebut diantara bidang
datar dengan tinggi granul.

9
Evaluasi tablet, dengan beberapa metode diantaranya :
a. Keseragaman Bobot
Diambil 20 tablet, ditimbang, dihitung bobot rata-rata dan standar
deviasinya.
b. Keseragaman Ukuran
Diambil 20 tablet, diukur tebal dan diameter tablet, dihitung bobot
rata-rata dan standar deviasinya.
c. Friabilitas
Diambil sejumlah tablet dengan bobot minimal 6500 mg,
dibersihkan dari debu kemudian ditimbang, tablet dimasukan dalam
alat, alat dinyalakan selama 4 menit, tablet dibersihkan lalu
ditimbang, dihitung friabilitasnya.
d. Friksibilitas
Dilakukan dengan firabilitator, diambil sejumlah tablet dengan
bobot minimal 6500 mg, tablet dibersihkan, ditimbang, dimasukan
dalam alat, alat dinyalakan selama 4 menit, tablet dibersihkan lalu
ditimbang, dihitung friksibilitasnya.
e. Uji Waktu hancur
Dimasukan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang,
dimasukan satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, diset
suhu air pada 370, dicatat waktu tablet pertama hancur dan tablet
hancur semua sejak alat dinyalakan.

7. Hasil Evaluasi
Tabel 7.1 Hasil Evaluasi Granul

10
No Jenis Evaluasi Hasil Evaluasi
1. Laju alir granul Massa zat : 6,35 gram
Waktur Alir : detik
Kecepatan alir =

= 11,54 g/s
(SANGAT BAIK)

2. Laju alir massa Massa zat : 6,35 gram


siap cetak Waktur Alir : 0,56 detik
Kecepatan alir =

= = 11,54 g/s
(SANGAT BAIK)

3. % kompresibilitas Volume curah : 0,271 mL


Volume mampat : 0,232 mL
%

kompresibilitas =

=
= 16,8% (BAIK)

4. Sudut Istirahat Tinggi Puncak (h) : 0,8 cm


Diameter Taburan (d) : 7,7 cm
Jari-jari (r) : 0,207 cm
Sudut istirahat (0) : 11,47 0 (SANGAT BAIK)
Tabel 7.2 Hasil Evaluasi Tablet

No Jenis Evaluasi Hasil Evaluasi


1. Keseragaman Bobot (mg)
570 630 620 590
570 590 600 580
590 590 630 610
640 600 520 560

11
590 600 550 540

Rata-rata : 529,5 mg
Standar Deviasi : 10,590
Tablet tidak memenuhi syarat

2. Keseragaman Ukuran
Tebal (cm) Diameter (cm)
0,410 0,390 1.212 1.212
0,392 0,412 1.212 1.212
0,410 0,414 1.212 1.212
0,410 0,410 1.212 1.212
0,398 0,398 1.212 1.212
0,386 0,418 1.212 1.212
0,410 0,410 1.212 1.212
0,412 0,390 1.212 1.212
0,410 0,418 1.212 1.212
0,392 0,410 1.212 1.212

Tebal Diameter
Rata rata: Rata rata : 1,212
0,405 cm cm
Standar deviasi : Standar deviasi :
8,1 0,0099

Keseragaman ukuran tablet


memenuhi syarat

3. Kekerasan (kg/cm 2)
5 4 4 4
2 2 2
kg/cm kg/cm kg/cm kg/cm2
Rata-rata: 4,25 kg/cm2
Kekerasan tablet tidak memenuhi
syarat

4. Friabilitas Bobot tablet awal (wo) : 6,46 gram


Bobot tablet akhir (wt) : 6,38 gram
= 1,23 %
Tablet tidak memenuhi syarat
5. Friksibilitas Bobot tablet awal (wo) : 6,44 gram
Bobot tablet akhir (wt) : 6,36 gram
= 1,24 %
Tablet tidak memenuhi syarat

6. Waktu Hancur Dalam waktu 3 menit, tablet


hancur semua

12
Tablet memenuhi syarat waktu
hancur

8. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tablet dengan
menggunakan metode granulasi basah. Metode granulasi basah ini merupakan
proses pencampuran partikel zat aktif dengan eksipien menjadi partikel yang lebih
besar dengan menambahkan pasta pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga
terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.
Metode ini digunakan karena bentuk zat aktif yang hablur dan saling
menempel sehingga sulit untuk mengalir, sehingga dibuat granulasi basah
agar dapat memperbaiki sifat alirannya yang sangat buruk (tidak dapat
mengalir sama sekali ketika dilakukan uji kecepatan alir). Kompresibilitas zat
aktif nya yang sangat buruk sekali sehingga akan lebih baik ketika dibuat
granulasi basah.
Prinsip dari metode granulasi basah ini adalah membasahi massa serbuk
dengan larutan pengikat atau pasta sampai mendapat tingkat massa yang bisa
dikepal, dan massa tersebut dapat digranulasi.
Tahapan awal yang dilakukan pada pembuatan tablet ini adalah
mencampurkan zat aktif yaitu Antalgin, dengan fase luar nya yaitu amprotab, dan
laktosa. Percampuran ini bertujuan untuk menjadikan campuran menjadi
homogen. Laktosa ini berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengisi ini berfungsi untuk
meningkatkan volume tablet agar dapat dikempa. Sedangkan amprotab berfungsi
sebagai bahan pengikat yang dapat mengikat zat aktif dengan pengisi dan
bahan tambahan lainnya. Setelah itu dibuat pasta Na-cmc dengan cara
dilarutkan dengan air panas sampai membentuk pasta yang homogen. Pasta
Na-cmc ini berfungsi sebagai bahan pengikat dan pembasah ketika serbuk
akan dibuat granul. Kemudian pasta dimasukkan kedalam campuran serbuk
hingga membentuk massa yang dapat dikepal. Pasta yang dibutuhkan untuk
pencampuran yaitu 41,3 ml. setelah membentuk massa yang dapat dikepal
campuran kemudian di ayak pada mesh no 14 fungsinya untuk memperluas
permukaan granul dan mempercepat pengeringan granul. Setelah diayak
granul basah dimasukan kedalam oven untuk dikeringkan. Pengeringan ini

13
berfungsi untuk menghilangkan kelembaban dan kandungan air pada granul.
Pengeringan ini dilakukan selama 2 hari. Dan kadar air dari granul yang
dihasilkan yaitu 4,95%, dengan literature sebenarnya yaitu 2-5%.
Setelah itu granul diayak dengan menggunakan mesh no 40 dan dilakukan
evaluasi kompresibilitas, laju alir, dan sudut istirahat. Evaluasi laju alir ini
dilakukan untuk mengetahui sifat aliran dari campuran serbuk. Sifat aliran ini
akan berpengaruh terhadap proses pencetakan tablet, dimana serbuk harus
mudah mengalir, agar bobot tablet yang tercetak sesuai dengan yang
diinginkan, dan bobot tabletnya pun seragam. Hasil yang didapat dari
pengujian granul ini yaitu kecepatan alirnya sangat baik dengan nilai 11,54
g/s. dan sudut istirahatnya sangat baik dengan nilai 11,74 0. Artinya granul
ini sudah memenuhi syarat. Terakhir yaitu evaluasi kompresibilitas.
Kompresibilitas ini berpengaruh pada kemampuan serbuk untuk mengalir,
dan untuk dimampatkan. Dilihat dari kompresibilitasnya, granul ini memiliki
kompresibilitas yang baik dengan nilai 16,8 %.
Selanjutnya dilakukan penambahan fase luar yaitu Talk dan
Magnesium stearat yang dicampurkan dengan fase dalam (granul kering)
sampai homogen seluruhnya. Magnesium stearat ini berfungsi sebagai
lubrikan agar dapat mengurangi gesekan antara permukaan tablet dengan
dinding die ketika proses pencetakan. Dan Talk ini berfungsi sebagai glidan,
yaitu untuk meningkatkan aliran granul dari hopper ke dalam die. Setelah
homogen granul dapat langsung dikempa menjadi tablet dengan bobot teoritis
650 mg, tetapi dengan adanya penambahan pasta Na-cmc bobot bertambah
menjadi 652 mg. Setelah evaluasi, barulah dilakukan persiapan pencetakan
tablet. Campuran granul ditimbang 652 mg (bobot tablet), sebanyak 2 bagian.
Setelah itu dimasukkan ke dalam lubang, dan ini yang nantinya akan
dijadikan sebagai ukuran dari tablet. Setelah itu dimasukkan seluruh
campuran granul ke dalam corong alat pencetakan tablet. Tablet yang telah
terbentuk ditampung didalam Loyang. Disini terdapat tablet yang gagal yaitu
rapuh sehingga menjadi serbuk kembali, dan ada pula tablet yang mengalami
capping (terpecahkan tablet pada bagian atas atau bawah). Hal ini terjadi
dikarenakan

14
Setelah tablet dicetak, didapatkan hasil sebanyak 334 tablet. Menurut
teoritis tablet seharusnya didapatkan sebanyak 300 tablet. Hal ini dikarenakan
terjjadi pengurangan bobot rata-rata tablet pada saat proses pencetakan, dari
652 mg menjadi 529,5 mg.
Selanjutnya dilakukan evaluasi tablet, yang meliputi evaluasi
keseragaman bobot, keseragaman ukuran, friabilitas dan friksibilitas,
kekerasan, dan waktu hancur. Dari hasil evaluasi yang dilakukan dengan
menimbang satu persatu dari 20 tablet secara acak yang telah berhasil
dicetak, ternyata hasilnya bermacam-macam dan ada yang bobotnya
menyimpang jauh dari 652 mg dan dari kolom penyimpangan bobot tersebut
tidak masuk dikolom A maupun kolom B. Yang seharusnya menurut
literature pada kolom A tidak boleh lebih dari 2 tablet yang menyimpang
sedangkan pada kolom B tidak boleh ada satupun tablet yang menyimpang.
Hal ini dikarenkan pada saat proses pengempaan granul ini tidak homogen.
Selanjutnya pengujian keseragaman ukuran dengan mengukur
diameter dan tebal 20 tablet secara acak, dengan hasil ada beberapa tebal
tablet yang berbeda namun perbedaan tidak terlalu besar. Ukuran diameter
tablet tidak boleh lebih dari tiga kali tebal tablet, dan tidak boleh kurang dari
1 1/3 tebal tablet. Persyaratan ini berhubungan dengan nilai estetika pada
tablet.Ukuran diameter maksimal yaitu 1,215 cm, sedangkan diameter
minimal yaityu 0.54 cm. Berdasarkan data pengukuran pada 20 tablet yang
dijadikan sebagai sampel, ukuran diameter tablet rata-rata yaitu 1,215 cm.
Artinya, tablet ini memenuhi persyaratan keseragaman ukuran.
Pada pengujian selanjutnya hasil yang kami dapat dari uji friabilitas
ini yaitu sebesar 1,23%. Uji friabilitas ini bertujuan untuk menguji kerapuhan
tablet terhadap gesekan antar tablet selama waktu tertentu. Sedangkan
friksibilitas adalah parameter untuk menguji ketahanan tablet bila tablet
mengalami gesekan antar sesamanya. Pada umumnya, banyak tablet yang
dikemas dalam jumlah besar. Ketika proses pengiriman, tablet tersebut dapat
saling bertumbukan dan bergesekan, sehingga dapat membuat terjadinya
kerapuhan pada permukaan tablet. Hasil dari uji friksibilitas ini adalah

15
1,24%. Untuk uji friabilitas dan friksibilitas yang baik yaitu kurang dari 1%,
ini menunjukan tablet yang dibuat tidak baik karena lebih dari 1%.
Selanjutnya yaitu pengujin kekerasan tablet. Tablet harus mempunyai
kekuatan dan kekerasan tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan
mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi.Alat yang
digunakannya adalah Hardness Tester. Kekerasan ini adalah parameter yang
menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti
goncangan, kikisan dan terjadi keretakan tablet selama pembungkusan,
pengangkutan dan pemakaian. Menurut literatur, uji kekerasan tablet dengan
bobot 652 mg adalah 5-12 kg/cm2. Berdasarkan data pengujian terhadap
empat tablet yang dijadikan sebagai sampel, tablet ini tidak memenuhi
persyaratan kekerasan.
Pengujian terakhir yaitu pengujian waktu hancur. uji ini bertujuan
untuk mengetahui berapa lama waktu hancur dalam tubuh, tablet yang baik
yaitu dengan waktu hancur kurang dari 15 menit dengan hancur secara
sempurna. Pada tablet yang diuji waktu yang dicapai untuk hancur yaitu
dalam waktu 3 menit tablet sudah hancur semua. Artinya tablet ini sudah
memenuhi persyaratan waktu hancur tablet.

9. Aspek Farmakologi (ADME)


Antalgin mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi yang berjalan secara simultan langsung atau tidak langsung melintasi
sel membran.
9.1 Absorpsi
Antalgin mudah larut dalam air dan mudah diabsorpsi ke dalam
jaringan tubuh terutama pada saluran cerna, konsentrasi tertinggi dalam
plasma dicapai dalam waktu 30 45 menit dan massa paruh plasma dicapi
dalam wktu 1 4 jam.
9.2 Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui
sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga
ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase

16
berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi
segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik
misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua
jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik
organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini
baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke
ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler
mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak.
9.3 Metabolisme
Obat ini di etabolisme oleh enzim mikrosom yang terdapat dalam
retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk
mikrosom) hati dan di ekskresikan melalui ginjal dan umumnya obat
menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam
mengakhiri kerja obat.
9.4 Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam
bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat
atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak,
kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang
terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 proses, yakni
filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi
pasif di tubuli proksimal dan distal. Ekskresi obat juga terjadi melalui
keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang
relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat.

10. Rendemen/Hasil Produksi/Kesimpulan


10.1 Rendemen
Jumlah tablet teoritis : 300 tablet
Jumlah tablet nyata : 334 tablet
% Rendemen : Error: Reference source not foundError:
Reference source not found

17
10.2 Kesimpulan
Pada praktikum pembuatan tablet dengan metode granulasi basah,
dapat disimpulkan bahwa pada evaluasi setelah dibuat granul terlihat hasil
dengan laju alir, sudut istirahat yang baik, dan kompresibilitas nya cukup
baik. Pada pengujian evaluasi tablet dari pengujian waktu hancur
memenuhi syarat, ukuran tebal tablet memenuhi syarat, friabilitas dan
friksibilitas tidak memenuhi syarat, kekerasan tidak memenuhi syarat, dan
keseragaman bobot tablet nya tidak memenuhi syarat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Ansel. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Jakarta: UI Press.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi


ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi


keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Hadisoewignyo Lanie dan Fudholi Ahmad. 2013. Sediaan Solida. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Rowe, C Raymond, Sheskey, J Paul and E Quinn, Marian. 2009. Handbook


Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London: Pharmaceutical Press.

Syamsuni, H. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: EGC.

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi V. diterjemahkan oleh


Noerono Soendani. Yogyakarta: UGM Press.

19
LAMPIRAN

1. Kemasan

2. Label

3. Brosur

20
LEMBAR KONTRIBUSI

Adrianus : Nama zat aktif, kekuatan sediaan, dan jumlah sediaan


Nina : Alasan pemilihan formula, zat tambahan, dan metode, Prosedur
kerja, Kemasan, Label, Brosur, Perhitungan bahan
Nisa : Hasil evaluasi
Hilda : Aspek farmakologi (ADME), Pembahasan, Perhitungan bahan,
Penimbangan bahan
Dini : Rendemen / hasil produksi / kesimpulan, Formula dan metode,
Monografi zat aktif
Marwatul : Pembahasan

21