Anda di halaman 1dari 2

INDIKATOR PENILAIAN KETENAGAAN

RUMAH SAKIT

Untuk menilai atau memberikan gambaran tentang ketenagaan di rumah sakit yang
ada, harus dibandingkan dengan indikator yang dijadikan pembanding.
Dalam hal ketenagaan, indikator yang dipakai adalah standarisasi ketenagaan di
rumah sakit baik menyangkut kuantitas maupun kualitasnya.

Sebagaimana diketahui, peraturan perundang-undangan yang mengatur


standarisasi ketenagaan di rumah sakit adalah Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 262/Menkes/Per/VII/1979. Peraturan Menteri sampai saat
ini masih berlaku, namun disadari bahwa standard tersebut dirasakan kurang sesuai
lagi dengan lajunya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit serta
perkembangan teknologi kesehatan masa kini.

Standarisasi ketenagaan yang dimaksud dalam Permenkes 262 tahun 1979 ini
didasarkan pada rasio jumlah tenaga menurut kategori (Medis, Paramedis
Perawatan, Paramedis Non Perawatan dan Non Medis) dengan tempat tidur rumah
sakit menurut masing-masing kelasnya. Upaya untuk menyusun konsep standarisasi
ketenagaan telah dilaksanakan, diantaranya dengan menggunakan Konsep
Standard Kebutuhan Tenaga Minimal, Indicators of Staff Need (ISN).

Berbagai standard ketenagaan yang ada dapat dijelaskan sebagai berikut :

Standarisasi ketenagaan berdasarkan Permenkes 262 tahun 1979.


Untuk menentukan jumlah ketenagaan minimum bagi setiap kategori ketenagaan
pada tiap-tiap kelas rumah sakit yang diperlukan, dapat digunakan angka
perbandingan antara jumlah tempat tidur yang ada dengan jumlah ketenagaan yang
diperlukan, sbb :

Untuk RSU Kelas A dan Kelas B, adalah :


- tempat tidur : tenaga medis = (4-7) : 1
- tempat tidur : paramedis perawatan = 2 : (3-4)
- tempat tidur : paramedis non perawatan = 3 : 1
- tempat tidur : non medis = 1 : 1

Untuk RSU Kelas C, adalah :


- tempat tidur : tenaga medis = 9 : 1
- tempat tidur : paramedis perawatan = 1 : 1
- tempat tidur : paramedis non perawatan = 5 : 1
- tempat tidur : non medis = 4 : 3

Untuk RSU Kelas D, adalah :


- tempat tidur : tenaga medis = 15 : 1
- tempat tidur : paramedis perawatan = 2 : 1
- tempat tidur : paramedis non perawatan = 6 : 1
- tempat tidur : non medis = 3 : 2

Untuk RS Khusus, standarisasi ketenagaan perlu mempertimbangkan kondisi


obyektif dengan berpedoman pada perumusan keputusan rumah sakit umum.

Standar Kebutuhan Tenaga Minimal.


Standard ini disusun oleh suatu Tim dilingkungan Ditjen Pelayanan Medik. Dasar
pertimbangan yang dipakai dalam standard kebutuhan tenaga minimal adalah
satuan kerja serta standard pelayanan pada tiap-tiap rumah sakit menurut kelasnya.
Disamping itu penentuan kebutuhan tenaga tidak hanya dilihat dari fungsinya
didalam pelayanan kesehatan, tetapi juga dilihat dari fungsinya didalam pelayanan
pendidikan.