Anda di halaman 1dari 17

Laporan Kasus Blok Elektif

FAKTOR KETERSEDIAAN ZAT


TERHADAP PENYALAHGUNAAN NAPZA

KAYLA AUDIVISI
1102012139

Kelompok 2 Bidang Kepeminatan Drug Abuse


Tutor : dr. H. Lilian Batubara, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2016-2017
1
ABSTRACT
Objective : Untuk mengetahui efek dan pengaruh dari penyalahgunaan napza karena mudahnya
mendapatkan suatu zat narkotika.
Study design : Laporan kasus berdasarkan pengalaman seorang mantan pecandu yang telah
mengkonsumsi narkotika selama enam tahun.
Method : Hasil wawancara langsung dengan salah satu residen yang masih menjalani proses
rehabilitasinya dengan baik di RSKO Cibubur dan berdasarkan beberapa study
literature.
Discussion : Penyalahgunaan napza seiring waktu terus meningkat bahkan di segala kalangan,
sehingga akan memberikan dampak buruk pada masa depan dan lingkungan.
Masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap napza di Indonesia dan negara
lainnya sudah menjadi persoalan yang besar. Salah satu faktor besar
penyalahgunaan napza adalah mudahnya mendapatkan zat narkotika bagi segala
kalangan sosial dan ekonomi. Termasuk pada mantan pengguna, akan selalu ada
peluang baginya untuk kembali menggunakan zat narkotika, dari lingkungan yang
mendukung dan ketersediaan zat yang dapat mempengaruhi dirinya untuk kembali
memakai.
Conclusion : Narkotika memiliki berbagai macam golongan dan efek yang dapat ditimbulkan,
bahkan dengan ketersediaan zat yang mudah ditemukan dapat mendorong pribadi
seseorang untuk mencoba merupakan faktor yang memicu penyalahgunaan napza.
Faktor mudahnya medapatkan zat diantara kalangan pengguna dan pengedar
narkoba merupakan penyebab terbesar para pengguna tidak bisa menolak
keinginannya untuk terus menggunakan zat adiktif tersebut. Pemerintah telah
memberlakukan undang-undang terkait narkotika, tetapi tidak memberikan efek
jera bagi pada pelaku penyalahgunaan narkoba dan pengedar narkoba.
Key Word : Napza Peredaran Narkotika

LATAR BELAKANG

Negara berkembang tidak selamanya membawa dampak positif ke masyarakat, akan tetapi
dapat juga membawa dampak negatif. Dampak negatif yang timbul dari globalisasi adalah

2
maraknya peredaran dan penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya)
secara ilegal dan telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Semakin kesini, napza sudah mudah ditemukan dan menyebar ke seluruh lapisan
masyarakat. Dengan menyebar luasnya napza, semakin luas juga penyalahgunaannya. Bagi yang
sudah teradiksi dengan napza pun akan kesulitan untuk berhenti karena ketersediaan zat yang selalu
mudah didapatkan.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Narkotika Nasional, penyalahgunaan narkotika
meningkat sebesar 28,9% pertahun. Jumlah tersangka tindak kejahatan Psikotropika meningkat
sebesar 28,6% pertahun. Berdasarkan data yang dimiliki Badan Narkotika bahwa tahun 2005
sampai 2011 terdapat banyak kasus dan setiap tahun meningkat sebesar 28,5%. Penyalahgunaan
napza adalah penggunaan napza secara patologis (diluar pengobatan) yang sudah berlangsung
selama paling sedikit satu bulan berturut-turut dan menimbulkan gangguan dalam fungsi sosial,
sekolah atau pekerjaan. Dampak terhadap kesehatan tubuh jika digunakan secara terus menerus
atau melebihi takaran mengakibatkan ketergantungan sehingga terjadi kerusakan organ tubuh
seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan pada seseorang sangat
tergantung pada jenis napza yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai.
Secara umum dampak penyalahgunaan dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial. Dampak
psikis dan sosial antara lain adalah lamban kerja, apatis hilang kepercayaan diri, tertekan, sulit
berkonsentrasi, gangguan mental, anti-sosial, asusila dan dikucilkan oleh masyarakat. Selain itu,
penyalahgunaan yang menggunakan jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara
bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV. Penggunaan yang
berlebihan atau over dosis dapat menyebabkan kematian.

PRESENTASI KASUS

Tn. R berusia 46 tahun adalah residen yang kini sedang menjalani rehabilitasi di Rumah
Sakit Ketergantungan Obat Cibubur. Pendidikan terakhir S1, berstatus menikah, memiliki 4 anak,
pekerjaannya adalah karyawan swasta. Tn. R pertama kali menggunakan narkoba di tahun 2010 saat
tuntutan pekerjaan yang membuat dirinya kewalahan, lalu temannya memperkenalkan sabu
(metamfetamin) karena memberikan efek semangat hidup dan selalu fokus. Tn. R menghisap sabu
dengan sebuah alat, yaitu bong. Pertama kali mencoba ia langsung merasa semangat dalam
menjalani hidup, percaya diri, dan bisa fokus. Jika ia tidak menggunakan obat itu ia merasa
kehilangan kontrol dalam hidupnya. Seiring dengan berjalannya waktu Tn. R selanjutnya
3
menggunakan sabu tiga kali dalam seminggu dan bahkan menambah dosisnya karena dirasa
semakin lama tubuhnya butuh dosis lebih tinggi untuk merasakan efeknya. Tn. R pernah tidak tidur
dalam seminggu karena efek dari sabu membuat dirinya tidak bisa tidur, tetapi ada efek dimana
tubuh sudah sangat lelah tetapi tetap tidak bisa tidur, dari situ dia menambahkan lagi dosis agar
dirinya merasa bisa lebih tenang. Disaat efek sabu mulai berkurang, ia menjadi pemarah, mudah
emosi, dan melampiaskan emosinya ke karyawan karyawannya, hanya kekerasan verbal, tidak
sampai fisik. Efek jangka panjang dari sabu juga ia alami, giginya mulai rontok, berat badan turun
drastis, dan paru paru mulai terasa sakit.
Tn. R mengaku pertama kali menggunakan sabu pada tahun 2010 sampai dengan tahun
2016, pertama kali menggunakan di rumah saat sendirian, yang awalnya obat tersebut didapatkan
secara cuma-cuma oleh temannya, namun pada penggunaan selanjutnya Tn. R membeli sendiri
melalui pengedar yang dikenalkan oleh temannya. Tidak susah untuk mendapatkan sabu karena
pengedarnya sudah mengetahui kebutuhan setiap pelanggannya. Apabila Tn. R tidak sedang ingin
membeli, pengedarnya tetap memberikannya sabu dengan alasan disimpan dahulu dan bayarnya
bisa lain waktu, dengan seperti itu ia menjadi mudah untuk selalu menggunakannya karena ia selalu
memiliki sabu, tidak pernah kosong. Biaya yang harus dikeluarkan pun cukup mahal yaitu kisaran
satu juta rupiah lebih untuk sekali pemakaian. Tn. R merupakan karyawan swasta di perusahaan
yang sukses, dan jabatan yang cukup tinggi sehingga ia dengan sangat mudah mampu membeli
sabu. Selama 6 tahun menjadi seorang pengguna, Tn. R menggunakan sabu konsisten tiga kali
dalam seminggu, tidak pernah putus.
Tn. R baru pertama kali menjalani rehabilitasi, dan sudah berjalan selama 2 bulan. Ia merasa
harus memperbaiki hidupnya karena anak anaknya yang sudah mulai dewasa, dan
mempertanyakan perilaku ayahnya yang kadang tidak wajar. Dukungan dari keluarga juga sangat
kuat. Istri dan anak - anaknya selalu memberikan tindakan suportif. Pada sebulan pertama, sangat
susah untuk melalui hari hari tanpa sabu, seluruh tubuh terasa menggigil dan nyeri. Sudah banyak
peningkatan positif pada fisik dan mental Tn. R, sebelumnya ia kehilangan berat badan sebanyak
25kg, semakin kesini berat badannya mulai naik dan ia merasa fit. Ia juga merasa dekat dengan
Allah, karena bisa beribadah tepat waktu selama rehabilitasi, apabila teringat sabu ia juga
mengingat Allah agar dijauhkan pikiran seperti itu.
Untuk masa depannya, Tn. R yakin bahwa keluarga dan lingkungannya akan menerimanya
seperti sedia kala. Ia tidak ragu untuk menjalani lagi kegiatan dan pekerjaannya yang tertunda
setelah nanti keluar dari rehabilitasi, dan Tn. R yakin bahwa kedepannya ia tidak akan lagi kembali
menggunakan sabu atau napza lainnya, karena ia sadar bahwa umurnya sudah tidak lagi muda dan
4
mempunyai keinginan kuat untuk bisa bersama keluarganya lagi dan menyaksikan anak anaknya
tumbuh.

DISKUSI
Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran,
suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan,
diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya.
Undang undang Nomor. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika menyebutkan yaitu narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintesis maupun semi sintesis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan golongan sebagaimana terlampir dalam Undang undang ini atau yang kemudian
ditetapkan dengan keputusan Menteri Kesehatan.
Adapun jenis jenis narkotika berdasarkan penggolongan proses pembuatannya:
1. Narkotika alam, yaitu narkotika yang dibuat dari bahan bahan alam seperti tumbuhan dan
sebagainya. Jenis jenis narkotika alam ini antara lain :Ganja (kanabis), Candu/opium, Morfin,
Kokain
2. Narkotika semisintetis, merupakan narkotika yang disintetis dari alkaloid opium yang memiliki
inti phenanthren. Alkaloid ini kemudian diproses secara laboratories menjadi narkotika lain
seperti putau, heroin, metadon, dan lain- lain.
3. Narkotika sintetis, merupakan narkotika yang dibuat secara laboratories menggunakan bahan
dasar senyawa kimia. Contoh narkotika ini adalah Leritine dan Nisentil.
4. Psikotropika menurut UU No.5 Tahun 1997 memberikan pengertian bahwa Psikotropika adalah
obat atau zat alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh efektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku. Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa antara narkotika dan
psikotropika adalah berbeda, walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu besar dan pada
umumnya kurang memahami adanya perbedaan tersebut. Zat Narkotika bersifat menurunkan
bahkan menghilangkan kesadaran seseorang sedangkan zat psikotropika justru membuat
seseorang semakin aktif dengan pengaruh dari saraf yang ditimbulkan oleh pemakai zat
psikotropika tersebut.
Menurut penjelasan Undang-Undang tersebut, Psikotropika dibedakan dalam empat
golongan sebagai berikut :
5
1. Psikotropika Golongan I : Psikoatropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan bukan untuk terapi serta mempunyai potensi yang sangat kuat,
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : ekstasi, (LSD) Llysergic Acid
Dyethylamide.
2. Psikotropika Golongan II : Psikotropika yang digunakan dalam terapi atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : amphitamine, metilfenidat, ritalin.
3. Psikotropika Golongan III : Psikotropika yang banyak digunakan dalam terapi dan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi yang kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : pentobarbital, flunitrazepam.
4. Psikotropika Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi atau untuk ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan,
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : pil koplo, MG, pil BK, dum, pil nipam.
5. Zat adiktif adalah zat atau bahan kimia yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan
memengaruhi tubuh, terutama susunan syaraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan
aktivitas mental, emosional, dan prilaku. Apabila digunakan secara terus menerus akan dapat
menimbulkan kecanduan. Yang termasuk dalam zat adiktif ini selain narkotika dan
psikotropika adalah :
a. Minuman alcohol
Mengandung etanol yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat. Jika digunakan
sebagai campuran dengan Narkotika atau Psikotropika memperkuat pengaruh zat itu dalam
tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol yakni :
1. Golongan A : kadar etanol antara 1%-5% (Bir)
2. Golongan B : kadar etanol antara 5%-20% (minuman anggur)
3. Golongan C : kadar etanol antara 20%-45% (minuman keras)
b. Inhalansia
Gas yang dihirup dan solvent (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik pada
barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai bahan bakar mesin. Yang paling sering
disalahgunakan antara lain lem, thiner, penghapus cat kuku, bensin.
c. Tembakau
Masyarakat kita cukup banyak yang mengkonsumsi tembakau yang mengandung nikotin.
Nikotin itulah yang menyebabkan perokoknya merasa ketagihan. Nikotin dalam rokok
merupakan zat adiktif tingkat sedang. Maka orang yang merokok biasanya merasakan
6
nikmat dan nyaman. Begitu juga orang yang kecanduan, apabila mereka tidak merokok
maka dia akan merasa loyo, tidak produktif, tidak konsentrasi. Pada para remaja, rokok
sering menjadi pemula penyalahgunaan napza lain yang lebih berbahaya.

Sifat Narkoba

Narkoba memiliki 3 sifat jahat yang dapat membelenggu pemakainya, Sehingga para
pemakainya tidak dapat keluar dari jeratannya. Tiga sifat khas yang sangat berbahaya:

1. Habitualis adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat,
terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk mencari dan rindu. sifat ini lah yang
membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh dapat kambuh kembali.

2. Adiktif adalah sikap yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak dapat
menghentikan, penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan menimbulkan efek
putus zat yaitu perasaan sakit yang luar biasa.

3. Dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis yang
lebih tinggi. Bila dosis tidak dinaikkan narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi malah
membuat pemakainya mengalami sakaw.

Peredaran dan Ketersediaan Narkoba


Dari hasil beberapa penelitian, Indonesia tidak hanya sebagai tempat transit atau
mengedarkan narkoba, namun juga telah berkembang menjadi tempat penghasil narkoba. Kondisi
ini tercipta sebagai dampak dari era globalisasi yang ditandai dengan kemajuaan teknologi
informasi, liberalisasi perdagangan dan kemajuaan industri pariwisata yang mendorong Indonesia
dapat tumbuh kembang menjadi negara penghasil narkoba. Peredaran narkoba yang dilakukan
dengan teknik canggih telah merambah seluruh Indonesia.
Dapat dikatakan terjadi perubahan modus dari para sindikat, dimana khusus jenis
psikotropika tidak lagi diimpor namun pengedarnya lebih memilih membuat pabrik untuk
memproduksi sendiri. Pengadaan bahan baku, peracikan, hingga perekrutan orang terkait
pembagian tugas dalam memproduksi narkoba benar-benar direncanakan dengan baik. Hal ini dapat
dikatakan ketika melihat tren kasus pabrik-pabrik narkoba yang terus bermunculan.

7
Peredaran gelap narkoba ini tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, namun juga datang
dari luar negeri baik itu melalui jalur darat, jalur laut ataupun jalur udara. Hal ini terjadi karena
lemahnya sistem pengawasan dan keamanan di wilayah perbatasan.

Peredaran Gelap Narkoba


Peredaran gelap narkoba di Indonesia semakin meningkat terutama hingga tahun 2013.
Sejak tahun 1998 Narkoba diungkap setiap tahun dengan jumlah yang semakin meningkat.
Jumlah tersangka peredaran narkoba berdasarkan kewarganegaraan

NO. KEWARGANEGARAAN JUMLAH TERSANGKA


1 2 3
1. WNI 43.640
2. WNA 127
JUMLAH 43.767

Jumlah tersangka peredaran narkoba berdasarkan jenis kelamin


NO. JENIS KELAMIN JUMLAH TERSANGKA
1 2 3
1. Laki-Laki 39.511
2. Perempuan 4.256
JUMLAH 43.767

Jumlah tersangka peredaran narkoba berdasarkan kelompok umur


NO. KELOMPOK UMUR JUMLAH TERSANGKA
1 2 3
1. <16 Tahun 122
2. 16-19 Tahun 2.377
3. 20-24 Tahun 6.246
4. 25-29 Tahun 16.167
5. > 30 Tahun 18.855
JUMLAH 43.767

Jumlah tersangka peredaran narkoba berdasarkan pekerjaan


NO. PEKERJAAN JUMLAH TERSANGKA
1 2
TERSANGKA 3
1. PNS 410
2. Polri/TNI 256
3. Swasta 19.731
4. Wiraswasta 9.010
5. Petani 2.107
6. Buruh 4.944
7. Mahasiswa 857
8. Pelajar 1.121
9. Pengangguran 5.331
8
JUMLAH 43.767

Jumlah tersangka peredaran narkoba berdasarkan tingkat pendidikan


NO. TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH TERSANGKA
1 2 3
1. SD 7.540
2. SLTP 12.169
3. SLTA 22.952
4. PT 1.106
JUMLAH 43.767

Hasil Survey Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok
Relajar dan Mahasiswa
Pelajar dan mahasiswa tidak bebas resiko penyalah-gunaan Narkoba. Bahkan
penyalahgunaan narkoba sudah terjadi di SLTP. Penyalahgunaan lebih tinggi 3 sampai 6 kali lipat
pada laki-laki dibanding perempuan. Angka penyalahgunaan yang tidak berbeda antara ibu kota
propinsi dan kabupaten menyiratkan kabupaten tidak terhindar dari masalah Narkoba.
Status tinggal bersama atau tidak bersama orang tua, besar uang saku, dan ketaatan ibadah
responden ditemukan terkait dengan resiko penyalahgunaan narkoba. Angka penyalahgunaan lebih
tinggi pada mereka yang tinggal tidak bersama orang tua dibanding mereka yang tinggal bersama
orang tua, dan lebih tinggi pada mereka dengan uang saku banyak dibanding mereka dengan uang
saku lebih sedikit
Diantara penyalahguna narkoba hanya 8% pernah menjalani pengobatan atau rehabilitasi,
termasuk yang banya disebut: detoksifikasi medis, perawatan over dosis, atau perawatan di panti
medis dan non-medis

Angka Penyalahgunaan dan Taksiran Jumlah Penyalahgunaan


Peningkatan angka penyalahgunaan narkoba sesuai dengan peredaran gelap narkoba yang
juga semakin meningkat. Penyalahgunaan narkoba tidak merata, tetapi lebih tinggi pada kelompok-
kelompok masyarakat dengan ciri kehidupan tertentu (misal: pelajar / mahasiswa, penghuni lapas,
dan pekerja tempat hiburan) dibanding masyarakat umum, dan lebih tinggi pada laki-laki dibanding
perempuan. Kelompok rentan penyalahgunaan narkoba mempunyai ciri-ciri antara lain: anggota
berinteraksi erat satu dengan yang lain, cukup mampu secara ekonomi, lebih longgar terhadap
rutinitas produktif, dan lebih permisif terhadap nilai-nilai baru.

Bahaya Pengaruh Penyalahgunaan Napza

9
1. Dampak Negatif
Dampak napza, memang sangatlah berbahaya bagi manusia. Napza dapat merusak kesehatan
manusia baik secara fisik, emosi, maupun perilaku pemakainya. Bahkan, pada pemakaian
dengan dosis berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dosis (OD) bisa mengakibatkan
kematian tetapi masih ada yang menyalahgunakannya.
a. Dampak fisik, akan mengalami gangguan-gangguan fisik sebagai berikut, berat badannya
akan turun secara drastis, matanya akan terlihat cekung dan merah, mukanya pucat,
bibirnya menjadi kehitam-hitaman, tangannya dipenuhi bintik-bintik merah., buang air
besar dan kecil kurang lancer, sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
b. Dampak emosi, akan mengalami perubahan emosi sebagai berikut, sangat sensitif dan
mudah bosan, jika ditegur atau dimarahi, pemakai akan menunjukkan sikap membangkang,
emosinya tidak stabil, kehilangan nafsu makan.
c. Dampak perilaku, akan menunjukkan perilaku negatif sebagai berikut, malas, sering
melupakan tanggung jawab, jarang mengerjakan tugas-tugas rutinnya, menunjukan sikap
tidak peduli, menjauh dari keluarga, mencuri uang di rumah, sekolah, ataupun tempat
pekerjaan, menggadaikan barang-barang berharga di rumah, sering menyendiri
menghabiskan waktu ditempat-tempat sepi dan gelap, seperti di kamar tidur, kloset,
gudang, atau kamar, takut akan air, batuk dan pilek berkepanjangan, bersikap manipulatif,
sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan, sering menguap,
mengaluarkan keringat berlebihan, sering mimpi buruk, sakit kepala, nyeri sendi.
2. Dampak Positif
Walaupun begitu setiap kehidupan memiliki dua sisi mata uang. Di balik dampak negatif,
narkotika juga memberikan dampak yang positif. Jika digunakan sebagaimana mestinya,
terutama untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan, narkotika
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Pemakaian positif narkotika:
1. Opium digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan untuk mencegah batuk dan diare
2. Kokain digunakan untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk meningkatkan daya
tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.
3. Ganja digunakan untuk bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya sangat
kuat, biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.

Dampak Penyalahgunaan Napza


10
Dampak Fisik
a. Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi,
gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
b. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot
jantung, gangguan peredaran darah.
c. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
d. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi
pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
e. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan
sulit tidur.
f. Gangguan pada endokrin,seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen,
progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
g. Perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan
amenorhoe (tidak haid).
h. Bagi pengguna napza melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara
bergantian, risikonya adalah tertular penyakit shepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini
belum ada obatnya.
i. Konsumsi napza melebihi kemampuan (over dosis dan menyebabkan kematian).

Dampak Psikis
1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku brutal
4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

Dampak Sosial
1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Penyalahgunaan Napza

11
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab penyalahgunaan napza, hal itu karena hubungan yang
saling terkait antara prilaku penyalahgunaan, faktor lingkungan dan faktor peredaran napza di
masyarakat.
Faktor-faktor yang dapat memepengaruhi terjadinya penyalahgunaan adalah napza sebagai berikut:
a. Lingkungan Sosial
1. Rasa ingin tahu
Pada masa remaja seseorang lazim mempunyai sifat selalu ingin tahu segala sesuatu
dan ingin mencoba sesuatu yang belum atau kurang diketahui dampak negatifnya.
Bentuk rasa ingin tahu dan ingin mencoba itu misalnya dengan mengenal narkotika,
psikotropika maupun minuman keras atau bahan berbahaya lainnya.
Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti
eksplorasi, investigasi, dan belajar, terbukti dengan pengamatan pada spesies hewan
manusia dan banyak. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan perilaku itu
sendiri disebabkan oleh emosi rasa ingin tahu. Seperti emosi Rasa ingin tahu
merupakan dorongan untuk tahu hal-hal baru, rasa ingin tahu adalah kekuatan pendorong
utama di balik penelitian ilmiah dan disiplin ilmu lain dari studi manusia.
2. Kesempatan
Masyarakat dan lingkungan yang memberi kesempatan pemakaian napza yaitu
adanya situasi yang mendorong diri sendiri untuk mengggunakan napza, dorongan dari
luar adalah adanya ajakan, rayuan, tekanan dan paksaan terhadap seseorang untuk
memakai napza.
Kesibukan kedua orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing- masing,
atau dampak perpecahan rumah tangga (broken home) serta kurangnya kasih sayang
merupakan celah kesempatan para remaja mencari pelarian dengan cara
menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau atau obat
berbahaya, oleh karna itu kondisi dalam masyarakat juga memprilaku pengaruhi prilaku
remaja.
3. Kemudahan/Fasilitas atau prasarana dan sarana yang tersedia
Kemudahan mendapatkan napza merupakan penyebab, memberikan fasilitas dan
uang yang berlebih bisa jadi pemicu penyalah-gunakan uang saku untuk membeli rokok
untuk memuaskan segala mencoba ingin tahu dirinya.
4. Faktor pergaulan

12
Pergaulan adalah merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan
individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok pergaulan mempunyai pengaruh
yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu. Pergaulan yang ia lakukan
itu akan mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan
yang negatif.
5. Konflik keluarga
Konflik keluarga yang dimaksud adalah perceraian, dalam sebuah pernikahan tidak
bisa dilepaskan dari pengaruhnya terhadap anak. Banyak faktor yang terlebih dahulu
diperhatikan sebelum menjelaskan tentang dampak perkembangan anak setelah terjadi
suatu perceraian antara ayah dan ibu mereka. Anak yang sudah menginjak remaja dan
mengalami perceraian orang tua lebih cenderung mengingat konflik dan stress yang
mengitari perceraian itu sepuluh tahun kemudian, pada tahun masa dewasa awal mereka.
Mereka juga nampak kecewa dengan keadaan mereka yang tumbuh dalam keluarga yang
tidak utuh.
6. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Sekolah merupakan lingkungan di mana remaja mendapatkan
pengetahuan,pembinaan perilaku,dan keterampilan. Di sekolah juga, remaja menemukan
teman sebaya yang mendorong munculnya persaingan antar sesama. Ada yang ingin
berprestasi,terlihat bergengsi, dan sebagainya. Jika keadaan ini tidak bisa dibenahi dan
diselesaikan oleh pengelola pendidikan di sekolah,maka remaja yang cenderung
pendiam,malas mengejar prestasi dan beraktivitas akan mengalami stres dan berpotensi
terjerumus ke dalam tindakan penyimpangan seperti penyalahgunaan napza.
7. Lingkungan di pemukiman masyarakatnya yang permisif
Lingkungan masyarakat yang permisif terhadap hukum dan norma kurang patuh
terhadap aturan,status sosial ekonomi. Faktor komunitas yang dimaksud adalah tinggal
di suatu daerah yang tingkat kejahatannya tinggi, yang juga dicirikan oleh kondisi-
kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang
anak akan menjadi nakal. Masyarakat ini seringkali memiliki sekolah-sekolah yang
sangat tidak memadai. Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan
kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja
mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil
atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka.
b. Kepribadian
13
1. Kondisi kejiwaan
Orang-orang yang cukup mudah tergoda dengan penyalahgunaan napza adalah
para remaja yang jiwa labil, pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan
biologis, psikologis maupun sosial.
2. Perasaan
Perasaan rendah diri di dalam pergaulan bermasyarakat, seperti di lingkungan
sekolah, tempat kerja, lingkungan sosial dan sebagainya sehingga tidak dapat mengatasi
perasaan itu, remaja berusaha untuk menutupi kekurangannya agar dapat menunjukan
eksistensi dirinya melakukannya dengan cara menyalahgunakan narkotika, psikotropika
maupun minuman keras sehingga dapat merasakan memperoleh apa-apa yang diangan-
angankan antara lain lebih aktif, lebih berani dan sebagainya.
3. Emosi
Kelabilan emosi remaja pada masa pubertas dapat mendorong remaja melakukan
kesalahan fatal. Pada masa -masa ini biasanya mereka ingin lepas dari ikatan aturan-
aturan yang di berlakukan oleh orang tuanya. Padahal disisi lain masih ada
ketergantungan sehingga hal itu berakibat timbulnya konflik pribadi.
4. Mental
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri,
dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup. Definisi ini lebih
luas dan bersifat umum karena berhubungan dengan kehidupan manusia pada umumnya.
Menurut definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya
sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan
frustasi.

DALIL PENGHARAMAN NARKOBA


Para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan
diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan
akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan (Majmu Al Fatawa, 34: 204).
Dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba:
Pertama: Allah Taala berfirman,


14
Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang
buruk (QS. Al Arof: 157). Setiap yang khobits terlarang dengan ayat ini. Di antara
makna khobits adalah yang memberikan efek negatif.

Kedua: Allah Taala berfirman,



Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (QS. Al Baqarah: 195).


Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu (QS. An Nisa: 29).
Dua ayat di atas menunjukkan akan haramnya merusak diri sendiri atau membinasakan diri sendiri.
Yang namanya narkoba sudah pasti merusak badan dan akal seseorang. Sehingga dari ayat inilah
kita dapat menyatakan bahwa narkoba itu haram.

Ketiga: Dari Ummu Salamah, ia berkata,


- -


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir
(yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini dhoif). Jika khomr itu haram, maka demikian pula
dengan mufattir atau narkoba.

Keempat: Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


,


,

Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka
Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya.
Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap ditangannya dan
dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya. Dan
barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada ditangannya dan dia
tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya (HR Bukhari no.
5778 dan Muslim no. 109).

15
Hadits ini menunjukkan akan ancaman yang amat keras bagi orang yang menyebabkan dirinya
sendiri binasa. Mengkonsumsi narkoba tentu menjadi sebab yang bisa mengantarkan pada
kebinasaan karena narkoba hampir sama halnya dengan racun. Sehingga hadits ini pun bisa menjadi
dalil haramnya narkoba.

Kesimpulan
1. Narkoba merupakan masalah besar yang dapat mengancam masa depan individu bahkan
dapat pula mengancam kesejateraan bangsanya karena efeknya yang addiktif dan merusak
susunan saraf pusat.
2. Berbagai faktor yang menjadi penyebab seseorang menjadi pengguna yaitu, faktor keluarga,
lingkungan, dorongan pribadi untuk mencoba, ekonomi, stress pekerjaan, dan kurangnya
iman.

3. Dari berbagai faktor, ketersediaan dan mudahnya mendapatkan narkoba merupakan


penyebab utama terus merajalelanya penggunaan narkoba disegala kalangan usia, sosial, dan
ekonomi.

Acknowledgement
Penulis berterimakasih kepada Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, yang telah
memberikan kesempatan untuk berkunjung dan mengumpulkan data informasi dari staf maupun
residen untuk kelancaran laporan kasus ini. Tidak lupa, terima kasih kepada DR. drh. Hj. Titiek
Djannatun selaku koordinator penyusun Blok Elektif, dr. Hj. RW. Susilowati, M.Kes selaku
koordinator pelaksana Blok Elektif, dr. Nasrudin Noor, SpKJ selaku dosen pengampu bidang
kepeminatan Ketergantungan Obat/Drug Abuse. Serta kepada dr. H. Lilian Batubara, M.Kes,
sebagai pembimbing kelompok 2 yang telah memberikan bimbingannya, serta teman-teman
kelompok 2 drug abuse dan rekan-rekan calon sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi yang
telah membantu dalam pengerjaan laporan kasus ini.

16
Daftar Pustaka

1. A.W.Widjaya., 1985. Masalah Kenakalan Remaja Dan Penyalahgunaan Narkotika, Armico :


Bandung
2. An Nawazil fil Asyribah, Zainal Abidin bin Asy Syaikh bin Azwin Al Idrisi Asy Syinqithiy, terbitan
Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 205-229.
3. BNN, 2007. Hasil Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok
Pelajar dan Mahasiswa Di 33 Provinsi Di Indonesia Tahun 2006. diakses 1 Oktober 2011;
http://bnn.go.id
4. BNN, 2003. Permasalahan Narkoba di Indonesia dan Penanggulangannya. diakses 13 November
2013; http://bnn.go.id
5. BNN dan Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI, 2003. Survei Nasional Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkoba dikalangan Pelajar dan Mahasiswa. diakses November 2013;
http://bnn.go.id
6. Bright DA; Ritter A. Australian trends in drug user and drug dealer arrest rates: 1993 to 2006-
07. Psychiatry, Psychology and Law 18(2): 190-201, 2011. (21 refs.)
7. Budianto., 1989. Narkoba dan Pengaruhnya, Ganeca Exact : Bandung
8. Carroll FI; Lewin AH; Mascarella SW; Seltzman HH; Reddy PA. Designer drugs: A medicinal
chemistry perspective. Addiction Reviews. Annals of the New York Academy of Sciences 1248: 18-38,
2012. (117 refs.)
9. Somar, L., 2001. Rehabilitasi Bagi Korban Narkoba, Visimedia : Jakarta

17