Anda di halaman 1dari 21

Penalaran Karangan

Makalah ini akan dipresentasikan pada tanggal ... Desember 2015


untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dosen pengampuh:
Edi Suryadi, S.Pd., M.Pd

Oleh:
Dania Fauziah
061530330973

Program Studi DIII Teknik Telekomunikasi


Fakultas Teknik Elektro
2015
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penalaran
Karangan ini.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang
diberikan dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan data-data yang penulis peroleh dari buku Keterampilan Dasar
Menulis karya Suparno dan Muhammad Yunus, Bahasa Indonesia Berbasis
Pendidikan Karakter Bangsa karya E Kosasih dan Yadi Mulyadi serta dari
beberapa situs internet.

Tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada dosen mata kuliah Bahasa
Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Penulis
berharap, dengan membaca makalah ini dapat menambah wawasan kita mengenai
Penalaran dalam Karangan.

Makalah ini penulis akui masih banyak kekurangan karena pengalaman


yang penulis miliki sangat kurang. Oleh kerena itu penulis harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Palembang, Desember 2015

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................... i


Kata Pengantar ..................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2
1.4 Manfaat ...................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 3
2.1 Pengertian Penalaran ................................................................................. 3
2.1.1 Proposisi dan Term .......................................................................... 3
2.1.2 Jenis-Jenis Proposisi ........................................................................ 4
2.1.3 Bentuk-Bentuk Proposisi ................................................................. 5
2.2 Jenis-Jenis Penalaran ................................................................................. 6
2.2.1 Penalaran Deduktif .......................................................................... 6
2.2.3 Penalaran Induktif ........................................................................... 9
2.3 Salah Nalar ................................................................................................ 11
2.3.1 Deduksi Yang Salah ......................................................................... 11
2.3.2 Generalisasi Terlalu Luas ................................................................ 11
2.3.3 Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif ......................................... 12
2.3.4 Penyebab yang Salah Nalar ............................................................. 12
2.3.5 Analogi yang Salah ......................................................................... 12
2.3.6 Argumentasi Bidik Orang ............................................................... 12
2.3.7 Meniru-niru yang Sudah Ada .......................................................... 13
2.3.8 Penyemerataan Para Ahli ................................................................ 13
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 14
3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 14
3.2 Kritik dan Saran ............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik


kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan
sebagainya. Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan terjaga (tidak
tidur), kita selalu berfikir. Menulis merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita
berfikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar sesuatu yang tidak hadir
secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya,
tanpa kesadaran, misalnya melamun. Kegiatan yang lebih tinggi dilakukan secara
sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk
sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berfikir yang terakhir inilah yang
disebut kegiatan bernalar. Dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya
penalaran merupakan proses berfikir yang sistematik untuk memperoleh
kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau
tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dibedakan sebagai penalaran induktif
dan deduktif.
Berdasarkan uraian diatas mengenai penalaran maka dapat kita katakan
penalaran merupakan proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data
atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Sementara dalam
karangan penalaran berarti penggunaan pikiran untuk suatu kesimpulan yang
tuangkan dalam bentuk tulisan atau tertulis. Dengan penalaran yang tepat, hal-hal
yang akan dituangkan dalam karangan menjadi kuat. Penyajian materi karangan
akan sesuai dengan jalan pikiran yang tepat. Oleh karena itu, setiap pengungkapan
harus dipertimbangkan terlebih dahulu agar hal-hal yang tidak tepat tidak masuk
dalam karangan.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara penalaran yang baik menurut tata Bahasa Indonesia?

1.3 Tujuan
Tujuan Umum:
Dapat memahami proses penalaran ilmiah secara memadai.
Tujuan Khusus:
1.Dapat menarik kesimpulan dengan membedakan secara deduktif dan induktif.
2. Jika ada faktanya maka dapat menarik kesimpulan induktif
3. Jika ada premisnya maka dapat menarik kesimpulan deduktif.
4. Jika ada silogisme dapat mengubahnya menjadi entimen.
5. Jika ada entimen, dapat mengubahnya menjadi silogisme.
6. Jika ada pernyataan yang mengandung salah nalar, maka dapat menjelaskan
kesalahan nalar itu.

1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memperdalam teori keilmuan tentang tata
Bahasa Indonesia khususnya tentang proses penalaran. Dan setelah membaca
makalah ini diharapkan dapat berguna bagi pembaca khususnya bagi yang ingin
membuat karangan ilmiah dan sebagainya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penalaran


Menurut Keraf dan Moeliono (dalam Suparno dan Yunus, 2007:1.41)
Penalaran (reasoning) adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-
hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap
bahan bukti, menuju pada suatu kesimpulan. Dari pernyataan tersebut Suparno
dan Yunus(2007:1.41) mengemukakan Penalaran adalah proses berfikir yang
sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan (pengetahuan atau
keyakinan).
Dengan demikian, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar
untuk menarik kesimpulan. Data atau fakta yang dinalarkan itu boleh benar dan
boleh tidak. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu
kesimpulan harus dalam bentuk kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang
dapat dipergunakan sebagai data itu disebut Proposisi. Dalam penalaran, proposisi
yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil
kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis
dan konklusi disebut konsekuensi.

2.1.1. Proposisi dan Term


Menurut Keraf (dalam Suparno dan Yunus, 2007: 1.48) Proposisi
merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau ditolak karena
kesalahan yang terkandung didalamnya. Namun proposisi juga dapat diartikan
sebagai kalimat pernyataan tentang hubungan antara fakta-fakta yang dapat
dinilai benar atau salah. Suatu proposisi mempunyai subjek dan predikat yang
berbentuk kalimat, tetapi tidak semua kalimat digolongkan dalam proposisi.
Hanya kalimat berita netral yang dapat disebut proposisi.
Term adalah suatu kata atau frasa yang menempati fungsi subjek atau
predikat. (Suparno dan Muhammad Yunus, 2007: 1.49). Term adalah kata

3
atau sejumlah kata yang dapat berdiri sendiri. Jenis kata seperti itu disebut kata
kategorimatis. Misalnya : bunga, burung, pohon (term tunggal), orang tua asuh,
pencinta lingkungan hidup (term majemuk).

2.1.2. Jenis-jenis Proposisi


Berdasarkan jenis dibedakan dengan lingkaran yang disebut lingkaran Euler.
1. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang

terdapat dalam predikat.


Semua S adalah semua P
Semua sehat adalah semua tidak sakit.
2. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek menjadi bagian dari
perangkat predikat.

Semua S adalah P
Semua sepeda beroda.
3. Sebaliknya, suatu perangkat predikat merupakan bagian dari peringkat
subjek

Sebagian S adalah P
Sebagian binatang adalah kera
4. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada diluar perangkat
predikat. Dengan kata lain, antara subjek dan predikat tidak terdapat
relasi.

Tidak satu pun S adalah P


Tidak seorang pun manusia adalah binatang
5. Sebagian perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat
predikat.

Sebagian S tidaklah P
Sebagian kaca tidaklah bening P
P

4
Jenis proposisi:
1. Berdasarkan bentuk:
a. Proposisi Tunggal:
Proposisi tunggal hanya mengandung satu pertanyaan.
Contoh: Semua mahasiswa adalah agen perubahan
b. Proposisi Majemuk
Proposisi majemuk mengandung lebih dari satu pernyataan,
Contoh: Semua mahasiswa adalah agen perubahan dan calon pemimpin
2. Berdasarkan sifatnya :
a. Proposisi Kategorial
Proposisi kategorial adalah hubungan subjek dan predikat terjadi
tanpa syarat.
Contoh: Sebagian binatang berkaki empat.
b. Proposisi Kondisional
Proposisi Kondisional adalah hubungan antara subjek dan predikat
terjadi dengan suatu syarat yang dapat diingat sebelum peristiwa
berlangsung.
Proposisi Kondisional dibagi 2, yaitu:
1) Proposisi Kondisional Hipotesis yang terdiri anteseden (syarat) dan
konsekuen (akibat).
Contoh: Kalau metodenya diubah (anteseden), maka hasilnya akan
berbeda (konsekuen).
2) Proposisi kondisional Disjungtif, yaitu suatu alternate atau pilihan.
Contoh: Kita akan melanjutkan diskusi ini, atau bubar saja.
3. Berdasarkan kualitas :
a. Preposisi Positif (afirmatif)
Preposisi positif (afirmatif) adalah preposisi yang membenarkan
adanya persesuaian hubungan antara subjek dan predikat.
Contoh: Sebagian mahasiswa tidak melekukan KKN.

5
b. Preposisi Negatif
Preposisi negatif adalah preposisi yang menyatakan tidak ada hubungan
antara subjek dan predikat.
Contoh: Sebagian orang jompo tidaklah pelupa.
4. Berdasarkan kuantitasnya
a. Proposisi Universal
Proposisi universal adalah predikat proposisi membenarkan atau
mengingkari seluruh objek.
Contoh: Semua dokter adalah orang pintar
Tidak seorang dokter pun adalah orang yang tak pintar.
b. Proposisi Khusus
Proposisi khusus adalah predikat proposisi hanya membenarkan atau
mengingkari sebagian subjek.
Contoh: Sebagian mahasiswa gemar olahraga.

2.1.3. Bentuk-Bentuk Proposisi


Berdasarkan dua jenis preposisi yaitu preposisi kuantitas (umum dan
khusus) dan proposisi kualitas (positif dan negatif) didapatkan empat macam
proposisi, antara lain:
1. Proposisi Umum positif
Proposisi umum positif adalah proposisi yang predikatnya membenarkan
keseluruhan asubjek yang disebut proposisi A.
2. Proposisi Umum Negatif
Proposisi umum negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari
keseluruhan subjek yang disebut proposisi E.
3. Proposisi Khusus Positif
Proposisi khusus positif adalah proposisi yang predikatnya membenarkan
sebagian subjek yang disebut proposisi I.
4. Proposisi Khusus Negatif
Proposisi khusus negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari
sebagian subjek yang disebut proposisi O.

6
2.2 Jenis-Jenis Penalaran
Secara umum, penalaran atau pengambilan kesimpulan itu dapat dilakukan
secara induktif dan deduktif.

2.2.1 Penalaran Deduktif


Penalaran deduktif adalah suatu proses berfikir yang bertolak dari
sesuatu yang umum menuju hal-hal yang khusus; atau penerapan sesuatu yang
umum pada peristiwa yang khusus untuk mencapai sebuah
kesimpulan.dikemukakan oleh Suparno dan Yunus (2007: 1.41). Penalaran
deduktif didasarkan atas prinsip hukum,teori atau keputusan lainnya yang
berlaku umum untuk suatu hal ataupun gejala. Dalam penalaran deduktif
terdapat premis. Yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Penarikan
kesimpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Menarik Kesimpulan Secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh: Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2. Menarik Kesimpulan Secara Tidak Langsung
Simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai
data. Premis pertama bersifat umum dan premis kedua bersifat khusus.
Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan kesimpulan secara
tidak langsung, antara lain: .
1.) Silogisme:
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua
proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah
kesimpulan yang merupakan proposisi ketiga. (Suparno dan Yunus, 2007:
1.48).
A. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi
yang terdiri dari dua proposisi premis dan satu proposisi kesimpulan.

7
Premis bersifat umum disebut premis mayor dan bersifat khusus
disebut premis minor. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat
simpulan disebut term mayor. Untuk menghasilkan kesimpulan harus ada
term penengah.

Contoh Silogisme Kategorial:


1. Premis Mayor(My) : Semua cendikiawan adalah pemikir.

Premis Minor(Mn) : Sasono adalah cendikiawan.

Kesimpulan (K) : Sasono adalah pemikir.

2. My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA


Mn : Badu adalah mahasiswa
K : Badu lulusan SLTA
3. My : Tidak ada manusia yang kekal
Mn : Socrates adalah manusia
K : Socrates tidak kekal
4. My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
K : Amir bukan mahasiswa

Aturan umum silogisme kategorial, yaitu:


1) Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu term mayor, term minor dan
term simpulan.
2) Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor,
dan simpulan.
3) Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan .
4) Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5) Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7) Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.

8
8) Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negative tidak
dapat ditarik satu simpulan.

B. Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis (pengandaian) terdiri atas mayor yang
berproposisi kondisional hipotesis. Kalau premis minornya membenarkan
aden, maka simpulannya membenarkan konsekuen begitu juga sebaliknya.
Contoh :
1. My : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn : Air tidak ada.
K : Jadi, Manusia akan kehausan.
2. My : Kalau rupiah mengalami devaluasi, harga-harga barang akan naik.
Mn : Rupiah mengalami devaluasi.
K : Harga-harga barang akan naik.

C. Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif (pilihan) terdiri atas premis mayor berupa
proposisi alternatif. Kalau premis minor membenarkan salah satu
alternatif, maka simpulannya akan menolak alternatif lain.
Contoh :
1. My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
2. My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.

9
2.) Entimen
Entimen adalah bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor
karena sudah diketahui secara umum,tetapi yang dikemukakan hanya premis
minor dan simpulan. Menurut Guinn dan Marder (dalam Suparno dan Yunus,
2007: 1.50) Dalam kenyataan sehari-hari, kita jarang menggunakan bentuk
silogisme secara lengkap, Demi kepraktisan, bagian silogisme yang dianggap
telah dipahami, dihilangkan.
Contoh entimen:
1. Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara
itu.
2. Pak Jadam adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang
dilanda kesusahan.

2.2.2 Penalaram Induktif


Menurut Suparno dan Yunus (2007: 1.41) Penalaran induktif adalah suatu
proses berfikir yang bertolak dari hal-hal yang khusus menuju sesuatu yang
umum. Proses penalaran induktif dibatasi sebagai proses penalaran untuk
sampai kepada suatu keputusan, prinsip, atau sikap yang bersifat umum
maupun khusus berdasarkan pengamatan atas hal-hal yang khusus. Beberapa
bentuk penalaran induktif antara lain:

1.) Generalisasi

Menurut Suparno dan Yunus (2007: 1.41) Generalisasi atau


perampatan adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau
peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau
sebagian dari gejala atau peristiwa itu.. Generalisasi juga diartikan oleh
Kosasih dan Mulyadi (2013:229) sebagai proses penalaran yang menggunakan
beberapa pernyataan yang mempunyai ciri-ciri tertentu untuk mendapatkan
kesimpulan yang bersifat umum.

10
Contoh:
1. Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.

2. Jika ada udara, manusia akan hidup.

Jika ada udara, hewan akan hidup.

Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.


Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

3. Setelah karangan anak-anak kelas tiga diperiksa, ternyata Ali, Toto,


Alex, dan Burhan, mendapat nilai delapan. Anak-anak yang lain mendapat
nilai tujuh. Hanya Maman yang enam dan tidak seorang pun mendapat
nilai kurang. Oleh karena itu, boleh dikatakan anak-anak kelas tiga cukup
pandai mengarang..

Benar atau tidaknya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dengan cara:
a. Data itu harus memadai jumlahnya
b. Data itu harus mewakili keseluruhan
c. Data-data yang bersifat khusus tidak dapat dijadikan data.

2.) Analogi
Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dua hal yang
memiliki sifat yang sama(Kosasih dan Mulyadi, 2013:229). Suparno dan
Yunus (2007 : 1.44) mengemukakan bahwa Melalui analogi, seseorang dapat
menerangkan sesuatu yang bersifat abstrak atau rumit secara konkret dan lebih
mudah dicerna.
Contoh:
Dr. Maria C. Diamond tertarik untuk meneliti pengaruh pil

11
kontrasepsi terhadap pertumbuhan cerebral kortex wanita, sebuah bagian
otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi sejumlah tikus betina
dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil. Hasilnya, tikus-tikus
itu memperlihatkan pertumbuhan celebral kortex yang sangat rendah
dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan
studi itu, Dr. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of
California, menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat
perkembangan otak penggunanya (Salmon, 1998).

Tujuan penalaran secara analogi yaitu:


a. Meramalkan kesamaan
b. Menyingkapkan kekeliruan
c. Menyusun klasifikasi.

3.) Hubungan Kausal


Kosasih dan Mulyadi (2013:229) berpendapat bahwa Hubungan
kausal(Sebab-Akibat) adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-
peristiwa yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Pola yang dapat
terwujud dalam penalaran Kausalitas dijelaskan oleh Suparno dan
Yunus(2007:1.46) sebagai berikut:
1. Sebab Akibat
Akibat dari satu peristiwa yang dianggap penyebab lebih dari satu.
Contoh:
Sejumlah pengusaha angkutan di Bantul terpaksa gulung tikar
karena pendapatan yang mereka peroleh tidak bisa menutup biaya
operasional. Minimnya pendapatan karena sebagian besar penumpang
membayar ongkos dibawah ketentuan tarif yang sudah ditetapkan, akibat
ketidakmampuan ekonomi.

12
2. Akibat- Sebab
Akibat- sebab mirip dengan entimen karena peristiwa sebab merupakan
simpulan.
Contoh:
Andi mendapat nilai yang memuaskan pada ujian semester
kenaikan kelas. Dia mendapat rangking pertama di kelasnya. Hasil yang
diperoleh Andi ini dia dapatkan karena belajar yang sangat tekun setiap
harinya.

3. Akibat- Akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya.
Peristiwa akibat langsung disimpulkan pada akibat yang lain.
Contoh :
Kemarin Lusi mengalami kecelakaan akibat menabrak pembatas
jalan. Akibat dari kecelakaan tersebut dia mengalami patah kaki dan harus
dirawat di rumah sakit.

2.3 Salah Nalar


Suparno dan Yunus (2007: 1.51) berpendapat bahwa Salah nalar(logical
fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau
menarik kesimpulan.. Jadi, salah nalar juga bisa diartikan sebagai kekeliruan atau
kesalahan pada gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan. Pada salah nalar ini
disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Salah nalar
dapat disebabkan oleh beberapa macam, yaitu:

2.3.1 Deduksi Yang Salah


Deduksi yang salah terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari
suatu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi
syarat.

13
Contoh:

1. Pak ruslan tidak dapat dipilih sebagai lurah di sini karena dia miskin.
2. Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas
.
2.3.2 Generalisasi Terlalu Luas
Generalisasi terlalu luas disebabkan oleh jumlah premis yang
mendukung generalisasinya tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu
sehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Salah nalar ini terjadi karena
kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan,
malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera
meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.

Contohnya :

1. Semua pejabat pemerintah korupsi.


2. Para remaja sekarang rusak moralnya.
3. Orang Makasar pandai berdayung.

2.2.3 Pemilihan Terbatas Pada Dua alternatif


Dilandasi penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan itu
atau ini.

Contoh:

1. Engkau harus memilih antara hidup di Jakarta dengan serba kekurangan


dan hidup di kampong dengan menanggung malu.
2. Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak
diketahui orang lain.

2.3.4 Penyebab Yang Salah Nalar


Disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan
terjadi pergeseran maksud.

14
Contoh:

1. Sejak ia memperhatikan dan membersihkan kuburan para leluhurnya, dia


hamil.
2. Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

2.3.5 Analogi Yang Salah


Apabila orang menganologikan sesuatu dengan yang lain dan
beranggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan
pada segi lainnya.
Contoh:

Sumini, seorang alumni Universitas Indonesia, dapat menyelesaikan


tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Tata, seorang alumni Universitas
Indonesia, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

2.3.6 Argumentasi Bidik Orang


Salah nalar ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang
dengan tugas yang diembannya.

Contoh:

1. Kamu tidak boleh kawin dengan Verdo karena orang tua Verdo itu bekas
penjahat.
2. Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena
petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak.

2.3.7 Meniru-niru Yang Sudah Ada


Salah nalar ini adalah anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan jika
atasan kita melakukan hal itu.

15
Contoh:

1. Peserta penataran boleh pulang sebelum waktunya karena para undangan


yang menghadiriacara pembukaan pun sudah pulang semua.
2. Kita melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.
3. Anak SLTA saat mengerjakan ujian matematika dapat menggunakan
kalkulator karena para 16rofessor menggunakan kalkulator saat menjawab
ujian matematika

2.3.8. Penyemarataan Para Ahli


Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu
dengan pandangan yang sama dan mengakibatkan kekeliruan mengambil
kesimpulan.

Contoh:

Pembangunan pasar swalayan itu sesuai dengan saran Toto, seorang ahli
di bidang perikanan.

16
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Cara berbahasa seseorang, termasuk menulis, akan dipengaruhi oleh


caranya bernalar. Penalaran (Reasoning) adalah suatu proses berpikir yang
sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan (pengetahuan,
keyakinan, atau opini). Secara umum, penalaran itu dapat dilakukan dengan cara
induksi atau deduksi, atau gabungan keduanya. Induksi adalah suatu proses
berpikir yang bertolak dari hal-hal khusus menuju sesuatu yang umum. Deduksi
adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum menuju hal-
hal yang khusus; atau penerapan sesuatu yang umum pada peristiwa khusus untuk
mencapai sebuah kesimpulan.

Penalaran induktif dapat dilakukan melalui generalisasi, analogi, atau


hubungan kasual. Sementara itu, penalaran deduksi menggunakan silogisme atau
variannya (entimen) sebagai sarana bernalar.

Dalam bernalar, seseorang dapat melakukan salah nalar yang disebabkan


oleh deduksi yang salah, generalisasi terlalu luas, pemilihan terbatas pada dua
alternatif, penyebab yang salah nalar, analogi yang salah, argumentasi bidik
orang, meniru-niru yang sudah ada, dan penyemerataan para ahli.

3.2 Saran

Semoga dengan adanya makalah ini saya selaku pemateri, mendapatkan


manfaatnya. Dan apabila terdapat kekhilafan dan kekurangan dalam makalah ini
saya senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar
makalah ini lebih bermanfaat diimasa yang akan datang.

17
DAFTAR PUSTAKA

Kosasih, E dan Mulyadi, Yadi. 2013. Bahasa Indonesia Berbasis Pendidikan

Karkter Bangsa. Bandung: PT SEWU (Srikandi Empat Widya Utama).

Mila, Trisda.2011.Penalaran. http://triezdamila.blogspot.co.id/p/penalaran.html

(Diakses tanggal 18 November 2015).

Suparno, dan Yunus, Muhammad. 2007. Keterampilan Dasar Menulis.Jakarta:

Universitas Terbuka.

18