Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN


DENGAN PERILAKU KEKERASAN

OLEH :
KADEK FIRA PARWATI

1002105017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA


PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

I. Kasus (Masalah Utama)


Perilaku Kekerasan

II. Proses Terjadinya Masalah


a. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik, baik terhadap diri sendiri, orang lain
maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal
atau marah yang tidak konstruktif (Stuart & Sundeen, 1995). Perilaku kekerasan
adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik
maupun psikologis.
b. Penyebab
Adapun beberapa hal yang menyebabkan munculnya gangguan jiwa pada perilaku
kekerasan yang dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan faktor presipitasi (Yosep,
2007).
a. Faktor Predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor
predisposisi, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan
jika faktor berikut dialami oleh individu:
Psikologis: kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak
menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi
penganiayaan.
Perilaku: reinforcement yang diterima ketika melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan, merupakan aspek yang menstimuli mengadopsi
perilaku kekerasan.
Sosial budaya: budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif)
dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan menciptakan
seolah-olah perilaku kekerasan diterima (permisive).
Bioneurologis: kerusakan sistem limbic, lobus frontal/temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmiser turut berperan dalam terjadinya
perilaku kekerasan.

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

b. Faktor Presipitasi
Bersumber dari klien (kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan,
percaya diri kurang), lingkungan (ribut, padat, kritikan mengarah penghinaan,
kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan) dan interaksi dengan
orang lain( provokatif dan konflik).

III. Rentang Respon


Perilaku kekerasan atau amuk dapat disebabkan karena frustasi, takut, manipulasi atau
intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat
diselesaikan. Perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan
akan perhatian, dan ketergantungan akan orang lain.
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart &
Sundeen, 1995). Perasaan marah normal bagi tiap individu, namun perilaku yang
dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif
dan maladpatif.

Respon Maladaftif
Adaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk/perilaku


kekerasan

Menurut Yosep (2007) rentang respon marah yaitu:


- Asertif adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan
tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak
menimbulkan masalah.
- Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tidak
realistis atau hambatan dalam proses percakapan tujuan.
- Pasif adalah individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya, klien tampak
pemalu, pendiam sulit diajak bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
- Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk
bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. Perilaku yang tampak
dapat berupa: muka kusam, bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
- Amuk adalah perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai kehilangan kontrol
diri, individu dapat merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

IV. Tanda dan Gejala Perilaku Kekerasan

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

Menurut (Radjiman, 2003), tanda dan gejala yang mucul pada perilaku kekerasan atau
agresifitas dilihat dari tingkah laku klien yaitu :
a) Menyatakan perilaku kekerasan
b) Mengatakan perasaan jengkel atau kesal
c) Sering memaksakan kehendak
d) Merampas atau memukul
e) Tekanan darah meningkat
f) Wajah merah. Pupil melebar
g) Mual
h) Kewaspadaan meningkat disertai ketegangan otot.

V. Pohon Masalah

Risiko Mencederai diri, orang lain dan lingkungan


(Akibat)

Perilaku Kekerasan/Amuk (Core Problem) Defisit Perawatan Diri

Harga Diri Rendah Kronis (Etiologi)

Gambar 1. Pohon Masalah Core Problem PK/ Amuk (Keliat, 1999)


Koping individu tidak efektif
VI. Masalah Keperawatan yang Perlu di Kaji
Pengkajian
1) Pengumpulan data
a) Pengkajian merupakan langkah awal dari proses dan merupakan proses yang
sistematis untuk mengumpulkan data, menganalisis data dan menentukan
diagnosa keperawatan ( Keliat, 1998). Adapun data yang diperoleh pada klien
dengan prilaku kekerasan adalah sebagai berikut : menyatakan melakukan
prilaku kekerasan, mengatakan perasaan jengkel / kesal, sering memaksakan
kehendak, merampas atau memukul. Tekanan darah meningkat. Wajah
memerah, pupil melebar, mual, kewasapadaan meningkat disertai ketegangan
otot, pandangan mata tajam, sering menyendiri, harga diri rendah merasa
keinginan tercapai. Dari data tersebut dapat dirumuskan dalam data subyektif
dan obyektif.

No. Data Subyektif Data Obyektif Masalah


Keperawatan
1. Mata Perilaku kekerasan:

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

Klien mengatakan benci merah, wajah agak amuk


atau kesal pada merah.
seseorang. Nada
suara tinggi dan keras,
Klien suka membentak dan bicara menguasai.
menyerang orang yang Ekspres
mengusiknya jika i marah saat
sedang kesal atau membicarakan orang,
marah. pandangan tajam.
Merusa
Riwayat perilaku k dan melempar
kekerasan atau barang-barang.
gangguan jiwa lainnya.
2. Gangguan konsep
Klien mengatakan: saya Merusak diri sendiri diri: Harga Diri
tidak mampu, tidak bisa, Rendah
tidak tahu apa-apa, Merusak orang lain
bodoh, mengkritik diri
sendiri, mengungkapkan Menarik diri dari hubungan
perasaan malu terhadap sosial
diri sendiri.
Tampak mudah
tersinggung

Tidak mau makan dan
tidak tidur

Perasaan malu

Tidak nyaman jika jadi
pusat perhatian
3. Klien mengatakan saat Kuku klien tampak Defisit Perawatan
mandi tidak kotor dan panjang Diri

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

menggunakan sabun Klien tampak tidak


Klien mengatakan menggunakan sandal
setelah BAB pasti Klien tampak tidak
mencuci tangan pernah menggosok
Klien mengatakan giginya
kuku sudah panjang
Klien mengatakan Klien tidak tampak rapi
ingin mencukur rambut saat makan dan tampak
di dagu(jenggut) mencuci tangan
Klien mengatakan
tidak pernah
menggosok gigi

VII. Diagnosa Keperawatan


1. Perilaku Kekerasan/Amuk (Core Problem)
2. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah (Etiologi)
3. Defisit Perawatan Diri
4. Risiko Mencederai diri, orang lain dan lingkungan
5. Koping Individu tidak Efektif

VIII. Rencana Tindakan Keperawatan


- terlampir

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktek Klinik, Keliat, B.A.
(2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2 Jakarta: EGC

Rajiman, W. (2003). Pedoman Penulisan Laporan dan Strategi Pelaksanaan, Malang: Dep
Kes RI.

Stuart GW, Sundeen. (1995). Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.).
St.Louis Mosby Year Book,

Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa Bandung: Rafika Aditama

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


Program Studi Ilmu Keperawatan Tahun 2015

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa