Anda di halaman 1dari 95

DESIMINASI AKHIR

PRAKTEK KLINIK MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUANG


PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
Prof. Dr. H. M. ANWAR MAKKATUTU
KABUPATEN BANTAENG

OLEH :

KELOMPOK BEDAH

SRIWAHYUNI, S.Kep
HASMAWATI, S.Kep
RAMLAH, S.Kep
JAMELIA AZIS BARKIYAH, S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TANAWALI PERSADA TAKALAR MITRA
BANTAENG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTEK KLINIK MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUANG


PERAWATAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
Prof.Dr.H.M ANWAR MAKKATUTU
KABUPATEN BANTAENG

OLEH :

KELOMPOK BEDAH

C.I LAHAN C.I


INSTITUSI

(ANSHAR, S.Kep.NS) (ZAINUDDIN, S.Kep.NS,


M.Kep )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TANAWALI PERSADA TAKALAR MITRA
BANTAENG 2016
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dengan judul Laporan

Manajemen Keperawatan. Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu

persyaratan dalam menyelesaikan gerobong pada Progaram Studi Pendidikan Profesi

Ners Ilmu Keperawatan.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini dapat selesai karena adanya

bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, baik materi dan doa selama ini, terima

kasih kepada dosen pembimbing (CI Institusi) Bapak Zainuddin, S.Kep.Ns, M.Kep

dan terima kasih kepada kepala ruang bedah (CI Lahan) Anshar, S.Kep.NS.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu dengan lapang dada penulis menerima kritikan dan

saran yang konstruktif demi penyempurnaan laporan ini. Akhirnya penulis

mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuan yang diberikan. Mudah-

mudahan mendapat balasan yang setimpal dari Sang Pencipta. Amin.

Bantaeng , 30 September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................ i

Lembar Pengesahan ................................................................................... ii

Kata Pengantar ........................................................................................... iii

Daftar Isi ...................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

A. Latar Belakang .................................................................... 1


B. Tujuan ................................................................................. 3
C. Manfaat Praktik .................................................................. 4
D. Ruang Lingkup Kegiatan ................................................... 5
E. Tempat dan Waktu .............................................................. 5
F. Tahap Pelaksanaan .............................................................. 5

BAB II TINJAUAN TEORITIS ............................................................ 7

A. Pengertian Manajemen ........................................................ 7


B. Tahap Proses Keperawatan ................................................. 7
C. Pendokumentasian ............................................................... 9
D. Sistem Model Asuhan Keperawatan Profesional ................ 18

BAB III GAMBARAN UMUM RSUD Prof. Dr. H. M. ANWAR

MAKKATUTU ........................................................................... 27

A. Sejarah dan Perkembangan RSUD. Prof. Dr. H. M Anwar


Makkatutu ........................................................................... 27
B. Tugas dan Fungsi ............................................................... 28
C. Stuktur Organisasi .............................................................. 29
D. Keadaan Pegawai dan Sarana/Prasarana ............................ 29
E. Visi Rumah Sakit ............................................................... 31
F. Misi Rumah Sakit ............................................................... 32
G. Gambaran Umum Ruang Perawatan Badah ....................... 32
H. Hasil Analisis SWOT Ruangan dan manajemen
Keperawatan ........................................................................ 34
I. Pengkajian dan Analisis Manajemen Keperawatan
di Ruang Perawatan RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar
Makkatutu Kab. Bantaeng .................................................. 51

BAB IV PEMBAHASAN .......................................................................... 62

1. Pengadaan Hak dan Kewajiban Pasien ............................... 64


2. Pengadaan SOP di Ruang Perawatan Bedah ....................... 65
3. Melakukan Role Model MPKP .......................................... 65

BAB V PENUTUP .................................................................................... 70

A. Kesimpulan ......................................................................... 70
B. Saran ................................................................................... 70

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DOKUMENTAS
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejalan dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan dan keadaan
sosial ekonomi masyarakat, maka kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan
kesehatan tampak makin meningkat pula. Untuk dapat memenuhi kebutuhan
dan tuntutan tersebut tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan kecuali
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya.
Syarat pelayanan kesehatan yang baik banyak macamnya, salah satu
diantaranya yang dipandang mempunyai peranan yang amat penting adalah
menyangkut mutu pelayanan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan yang professional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan
menjadi bagian terdepan dari pelayanan kesehatan yang menentukan kwalitas
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Keberadaan keperawatan dalam
memberikan ASKEP dalam situasi yang komplek selain 24 jam secara
berkesinambungan melibatkan klien, keluarga maupun profesi atau tenaga
kesehatan yang lain.
Menurut Huber (2006) pelayanan Rumah Sakit adalah pelayanan
keperawatan, sedangkan menurut Gillies (2004) sekitar 40% - 60% pelayanan
Rumah Sakit adalah pelayanan keperawatan. Oleh karena itu pengelolaan
pelayanan keperawatan harus mendapatkan perhatian yang lebih dan
menyeluruh karena pelayanan keperawatan sangat menentukan baik buruknya
citra Rumah Sakit.
Manajemen Keperawatan suatu proses kerja yang dilakukan oleh
anggota staf keperawatan untuk memberikan Asuhan Keperawatan secara
professional. Dalam hal ini seorang manajer keperawatan dituntut untuk
melakukan lima fungsi utama yaitu POAC agar dapat memberikan ASKEP
yang efektif dan efisien bagi pasien dan keluarganya (Nursalam 2002, Gillis,
1996), manajeman keparawatan di Indonesia di masa depan perlu
mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan Keperawatan di masa
depan. Hal ini bekaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa
setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara
profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di
Indonesia.
Pelayanan keperawatan yang terorganisir, memerlukan perawat
maneger atau administrator yang mempunyai pengetahuan, keterampilan dan
kompetensi pada semua aspek manajemen. Perawat manager siap terhadap
perubahan dan mampu menghadapi tantangan dari lingkungan yang selalu
berubah dan menggalang sistem pendukung untuk yang lain.
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada era
global akan terus berubah karena masalah kesehatan yang dihadapi
masyarakat juga terus mengalamai perubahan. Masalah keperawatan sebagai
bagian masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat terus menerus berubah
karena berbagai faktor yang mendasarinya juga terus mengalami perubahan.
Sebagaimana proses keperawatan dalam manajemen keperawatan
terdiri pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi akhir/hasil. Karena manajemen keperawatan mempunyai kekhususan
terhadap mayoritas tenaga daripada pegawai, maka setiap tahapan di dalam
proses manajemen lebih rumit jika dibandingkan dengan proses keperawatan.
Model pemberian asuhan keperawatan yang saat ini sedang menjadi
trend dalam keperawatan Indonesia adalah Model Praktek keperawatan
Profesional dengan metode pemberian asuhan keperawatan Modifikasi Primer
yang merupakan modifikasi Primary Nursing. Salah satu kritik yang
dikemukakan mengenai model keperawatan ini adalah terlalu komplek dan
teoritisnya, akan tetapi bila seluruh pembicaraan mengenai model ini
mendorong perawat untuk memperjelas keyakinan dan pekerjaannya,
meningkatkan kemampuannya dalam mendiskusikan masalah tersebut yang
melibatkan sikap politis dan pribadi yang lebih terbuka, dan membantu para
perawat tersebut untuk lebih bertangguang gugat secara profesional terhadap
tindakannya, maka kita telah mendapatkannya. (Salvage, 2005).
RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng adalah salah satu
Rumah Sakit tipe C yang menerima pasien dari berbagai daerah disekitarnya
baik yang berasal dari Kabupaten Bulukumba maupun Kabupaten Jeneponto.
Perlu menampilkan metode pemberian ASKEP yang tepat sehingga dapat
memberikan pelayanan yang berkwalitas.
Hasil observasi yang dilakukan oleh kelompok I (Bedah) praktek
klinik manajemen keperawatan di ruangan perawatan Bedah di dapatkan
beberapa masalah diantaranya, metode asuhan keperawatan yang belum
optimal, timbang terima yang belum efektif, dll. Hal ini dapat disebabkan
oleh pemahaman yang kurang tentang konsep asuhan keperawatan, tenaga dan
fasilitas yang kurang memadai, motivasi yang kurang, dll.
Setelah diadakan seminar awal maka terdapat beberapa program kerja
yang telah disepakati untuk memecahkan masalah tersebut. Implementasi
program kerja dilaksanakan dari tanggal 28 oktober sampai 7 November
2015. Untuk itu kami selaku mahasiswa departemen keperawatan manajemen
merasa perlu mengadakan pertemuan dalam bentuk seminar akhir guna
memaparkan program kerja yang telah terlaksanan dan evaluasi dari program
kerja tersebut.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan penerapan konsep dan prinsip administrasi/manajemen
keperawatan di ruang perawatan Bedah guna meningkatkan mutu pelayanan
keperawatanpada pasien.
2. Tujuan Khusus
Secara individu/kelompok mahasiswa dapat menunjukan kemampuan:
a. Mengidentifikasi masalah manajemen keperawatan yang ada di Ruang
Perawatan Bedah RSUD PROF. dr. H. M. ANWAR MAKKATUTU
Menentukan alternatif pemecahan masalah yang ada di Ruang
Perawatan Bedah RSUD PROF. dr. H. M. ANWAR MAKKATUTU.
b. Melakukan implementasi alternatif pemecahan masalah yang ada di
Ruang Perawatan Bedah RSUD PROF. dr. H. M. ANWAR
MAKKATUTU.
c. Melakukan evaluasi terhadap keefektifan alternatif penyelesaian
masalah yang telah dilaksanakan di Ruang Perawatan Bedah RSUD
PROF. dr. H. M. ANWAR MAKKATUTU.
C. MANFAAT PRAKTIK
1. Bagi Ruangan
Melalui praktik ini mahasiswa praktik profesi manajemen dapat
membantu perawat yang bertugas di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M.
Anwar Makkatutu Kab. Bantaeng untuk menyelesaikan masalah yang bersifat
teknis operasional dari suatu aspek manajemen pelayanan keperawatan
tertentu yang dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan secara umum
yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
2. Bagi Instiusi
Peningkatan kualitas proses pembelajaran yang melibatkan mahasiswa
secara aktif dalam kegiatan administrasi dan manajemen rumah sakit
khususnya di ruang rawat inap Bedah.
3. Bagi Mahasiswa Praktik Profesi Manajemen
Mempunyai pengalaman dan pengetahuan nyata dalam
mengintegrasikan ilmu-ilmu administrasi/manajemen keperawatan pada
tatanan nyata di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kab. Bantaeng sehingga timbul sikap percaya diri.
D. RUANG LINGKUP KEGIATAN
1. Pelaksanaan kegiatan praktik manajemen keperawatan
2. Pengelolaan dan evaluasi manajemen pelayanan keperawatan yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
3. Pengelolaan asuhan keperawatan dengan kegiatan supervisi.
E. TEMPAT DAN WAKTU
Praktik profesi manajemen keperawatan dilaksanakan selama 3 minggu
dimulai pada tanggal 13 September 2016 sampai dengan 1 Oktober 2016 di
Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kab. Bantaeng.
F. TAHAP PELAKSANAAN
1. Tahap Orientasi
a. Perkenalan dengan Kepala Bidang Perawatan, kepala Ruangan
Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kab. Bantaeng.
b. Diskusi dengan Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Ruangan, wakil
kepala ruangan dan staf di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M.
Anwar Makkatutu Kab. Bantaeng.
c. Mengumpulkan data-data terhadap input, proses dan output dari aspek
manajemen keperawatan yang akan di kaji di Ruang Perawatan Bedah
2. Tahap Identifikasi Permasalahan
a. Mengidentifikasi permasalahan yang diperoleh dari hasil pengkajian.
b. Mengidentifikasi permasalahan dengan pembuatan dan penyebaran
kuesioner, perumusan masalah dan presentasi hasil kuesioner.
3. Tahap Pemecahan Masalah dan Implementasi
a. Melakukan analisa data
b. Penentuan prioritas masalah aspek kajian manajemen dari input proses
dan output yang telah disepakati bersama staf di Ruang Perawatan Bedah,
yang dilanjutkan dengan penetapan tujuan dan seleksi alternative
pemecahan masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
mancakup apa, siapa, berapa lama, tujuan yang akan dicapai.
c. Pembuatan rencana kegiatan (Plan Of Action) dengan
mempertimbangkan biaya, waktu, sarana, dan kebijakan yang tersedia di
rumah sakit.
d. Presentasi dan sosialisasi kegiatan.
e. Tahap evaluasi.
4. Tahap Pembuatan Laporan Dan Presentasi Hasil
a. Presentasi hasil akhir dan praktik profesi manajemen
b. Penyerahan laporan pelaksanaan praktik profesi manajemen pada rumah
sakit dan pembimbing.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Manajemen
Manajemen adalah suatu pendidikan yang dinamis dan proaktif dalam
menjalani suatu kegiatan di organisasi sedangkan manajemen keperawatan
adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk
memberikan Asuhan Keperawatan secara professional (Nursalam, 2002).
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata, yaitu di Rumah Sakit dan Komunitas sehingga perawat perlu
memahami konsep dan aplikasi. Konsep manajemen keperawatan
perencanaan berupa rencana strategi melalui pendekatan yaitu pengumpulan
data, analisa SWOT dan menyusun langkah-langkah perencanaan,
pelaksanaan secara operasional, khususnya dalam pelaksanaan metoda asuhan
keperawatan, melakukan pengawasan dan pengadilan serta dokumentasi yang
lengkap.
B. Tahap Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Tahap ini merupakan awal dari proses keperawatan. Tahap pengkajian
memerlukan kecermatan dan ketelitian untuk mengenal masalah. Keberhasilan
proses keperawatan berikutnya sangat bergantung pada tahap ini (Suardi &
Bachtiar, 2002).
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan
dan masalah keperawatan. Jenis data yang dikumpulkan adalah data yang
tepat atau relevan. Artinya data tersebut mempunyai pengaruh atau hubungan
dengan situasi yang sedang ditinjau. Data ini dapat dibedakan menjadi 2 jenis:
data subjektif dan data objektif
b. Sumber data
- Klien
- Keluarga/orang yang mengenal klien
- Tenaga kesehatan
- Catatan yang dibuat oleh tenaga kesehatan
- Hasil pemeriksaan
c. Cara pengumpulan data
- Wawancara
- Observasi
- Pemeriksaan fisik
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti,
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau diubah
melalui tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat dibagi menjadi:
diagnose keperawatan aktual, potensial, dan resiko.
Rumus diagnosa keperawatan adalah: Problem + Etiologi + Tanda/Gejala
Contoh: Nyeri akut b.d agen cidera: biologis yang ditandai dengan wajah
tampak meringis kesakitan. (Suardi & Bachtiar, 2002)
3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai
dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan. Tujuan perencanaan
keperawatan adalah terpenuhinya kebutuhan klien. Langkah-langkah
penyusunan perencanaan keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Menentukan urutan prioritas masalah
Prioritas tertinggi diberikan pada masalah yang mempengaruhi
kehidupan atau keselamatan klien. Masalah nyata mendapatkan perhatian
atau prioritas lebih tinggi daripada masalah potensial dan resiko
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai
Tujuan keperawatan adalah hasil yang ingin yang dicapai dari asuhan
keperawatan untuk menanggulangi dan mengatasi masalah yang telah
dirumuskan dalam keperawatan.
c. Menentukan rencana tindakan keperawatan
Menentukan rencana tindakan keperawatan adalah langkah penentu
dalam tindakan keperawatan yang akan dikerjakan oleh perawat dalam
rangka menolong klien, untuk mencapai suatu tujuan keperawatan. (Suardi
& Bachtiar, 2002)
4. Implentasi
Tindakan keperawatan atau implementasi keperawatan adalah
pelaksanaan perencanaan tindakan yang telah ditentukan dengan maksud
agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan dapat
dilaksanakan sebagian oleh klien itu sendiri, oleh perawat secara mandiri,
atau bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lain. (Suardi & Bachtiar,
2002)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta
pengkajian ulang rencana keperawatan. Hal-hal yang dievaluasi adalah:
a. Apakah asuhan keperawatan tersebut efektif ?
b. Apakah tujuan keperawatan dapat dicapai pada tingkat tertentu?
c. Apakah perubahan klien seperti yang diharapkan?
d. Strategi keperawatan manakah yang efektif?
C. Pendokumentasian
1. Pengertian dokumentasi
Dokumentasi adalah bahan komunikasi yang tertulis untuk
mendukung informasi dan kejadian (Fioshbach. 1991). Jadi, dokumentasi
asuhan keperawatan dokumentasi tentang fakta-fakta terhadap penyakit klien,
gejala-gejala, diagnosa, mudah dan cepat diakses serta sistematis sehingga
dapat dan memberikan informasi yang akurat.
2. Tujuan Dokumentasi Keperawatan
a. Memfasilitasi pemberian perawatan yang berfokus pada klien
b. Memastikan kemajuan hasil yang berfokus pada klien
c. Memfasilitas komunikasi antara disiplin mengenai konsistensi tujuan dan
kemajuan pengobatan
d. Teknik evaluasi
e. Pencatatan dan pelaporan dibuat untuk mempermudah penilaian terhadap
perawatan yang telah diberikan pada klien dan dapat dipastikan apakah
rencana yang diimplementasikan sudah mencapai kemajuan.
f. Penguatan kembali (reinforcement) Catatan perawatan merupakan sumber
untuk mendapatkan informasi tentang penanganan klien dan memberikan
bukti adanya pelayanan. Akreditasi
g. Salah satu syarat penting bagi fasilitas perawatan kesehatan menurut
lembaga pemberi lisensi dan akreditasi adalah mempertahankan rekam
medik, termasuk dokumentasi asuhan keperawatan.
4. Pedoman Umum dalam Mendokumentasikan Proses Keperawatan
Dokumentasi harus ditulis objektif tanpa bias dan informasi subjektif.
Gambaran penafsiran data subjektif harus didukung oleh hasil pengamatan
khusus. Hindari pernyataan yang bersifat umum karena memiliki arti ganda.
Data didokumentasikan secara jelas, singkat dan ringkas. Hasil pengkajian
dicatat dengan tulisan yang besih dan dapat dibaca. Temuan-temuan hendaknya
diuraikan sejelas mungkin. Ejaan harus jelas. Dokumentasi harus ditulis dengan
tinta, jangan dengan pensil. Untuk data biasa, gunakan tinta hitam atau biru dan
tinta merah untuk obat- obatan. Apabila catatan tidak penuh jangan
dikosongkan tetapi buat garis horizontal atau vertical sepanjang bagian yang
kosong. Jika ada kesalahan, pernyataan yang salah jangan dicoret, tetapi harus
dapat dibaca, selanjutnya diparaf. Pencatatan harus selalu dimulai, jam dan
diakhiri dengan tanda tangan, nama jelas serta jabatan perawat.
5. Dokumentasi sebagai Proses Keperawatan
Dokumentasi proses keperawatan sangat penting untuk dilakukan.
a. Pendokumentasikan merupakan mekanisme komunikasi antara anggota Tim
pelayanan kesehatan. Ada hubungan berbagai disiplin ilmu yang terlibat
dalam pelayanan kesehatan ;
- Masing-masing disiplin ilmu informasi mutakhir klien melalui
pengkajian
- Agar informasi terpelihara dengan baik, maka perlu didokumentasikan
b. Dengan catatan yang akurat dapat membantu tercapainya hubungan yang
kreatif antara klien dan provider.
c. Dapat mempermudah pelaksanaan pelayanan klien dan focus asuhan
keperawatan dapat ditentukan
d. Sesuai dengan empat peran yang harus dijalankan perawat, tanggung jawab
dan tanggung gugat.
e. Data yang lengkap dapat digunakan untuk menentukan status kesehatan
klien dan tingkat ketergantungan klien, sehingga dapat diperkirakan jumlah
kebutuhan tenaga perawat.
f. Bahan audit keperawatan, penghitung jasa, pertimbangan pihak ketiga dan
bukti tuntutan hukum.
6. Unsur-Unsur Dokumentasi Asuhan Keperawatan
Unsur-unsur dari dokumentasikan Asuhan Keperawatan diantaranya adalah:
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah pertama dalam proses keperwatan, dimana
pada fase ini perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien
secara sistematis, menyeluruh, akurat, dan berkesinambungan.
b. Mengumpulkan data
Meliputi pengumpulan data dasar yang mencakup informasi tentang klien:
- Riwayat kesehatan dahulu, seperti riwayat alergi terhadap makanan
atau obat tertentu, riwayat pernah dilakukan tindakan bedah,riwayat
menderita penyakit kronis, dan lainlain.
- Riwayat kesehatan sekarang, seperti adanya perasaan nyeri, mual,
ganguan tidur, dan lain-lain.
- Pemeriksaan fisik, dalam hal ini perawat dapat menggunakan teknik
inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dengan prinsip pemeriksaan
head to toe (cephalocaudal) atau berdasarkan
- sistem tubuh, seperti sistem pernapasan , pencernaan, eliminasi dan
lain-lain.
- Pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium,
radiology, CT Scan dan lain-lain.
Tipe data yang dikumpulkan yaitu :
Data Subjektif, yaitu: Data yang meliputi gejala yang dirasakan oleh
klien, kebiasan dan persepsi klien terhadap kesehatannya saat ini. Selain
dari klien, informasi yang didapat dari keluarga, teman atau tenaga
kesehatan yang mengetahui keaadan klien.
Data Objektif, yaitu: Meliputi tanda dan gejala mengenai kondisi
kesehatan klien dapat dilihat, didengar, dirasakan atau dicium serta data-
data lain yang dapat diperoleh dari observasi dan pemeriksaan fisik.
c. Pengorganisasian data
Untuk mendapatkan data secara sistematis, perawat menggunakan
format pengkajian, atau disebut juga pengkajian keperawatan. Format
pengkajian dapat dimodifikasi sesuai dengan keadaan kesehatan klien.
Dalam keperawatan, format pengakajian yang digunakan dapat didasarkan
pada berbagai teori keperawatan, diantaranya:
- Teori Gordon tentang fungsi kesehatan
- Teori Orem tentang perawatan diri
- Teori Roy tentang model adaptasi
- Teori Maslow berdasarkan tigkat kebutuhan manusia
d. Validasi data
Informasi yang telah dikumpulkan harus lengkap, akurat dan sesuai
dengan keadaan klien sehingga dilakukan validasi atau pemeriksaan
kembali terhadap data yang telah dikumpulkan.
e. Pencatatan data
Untuk melengkapi pengkajian, dokumentasi data harus akurat dan
mencangkup semua keadaan kesehatan klien dan tidak berdasrkan hasil
intervensi perawat.
f. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah kesimpulan klinis tentang individu,
keluarga atau masyarakat yang aktual, resiko dari status kesehatan
seseorang. Diagnosa keperawatan ini merupakan dasar untuk melakukan
intervensi keperawatan dalam mencapai tujuan dan dapat dievaluasi
(Nanda, 2012).
Tipe diagnosa keperawatan yaitu:
- Aktual yaitu pernyataan tentang respon klien terhadap kesehatannya saat
ini berdasarkan hasil pengkajian yang meliputi tanda dan gejala seperti
jalan nafas tak efektif ansietas.
- Resiko yaitu pernyataan klinis dari kondisi kesehatan klien dimana
masalah lebih beresiko untuk menjadi actual pada klien tersebut
dibanding dengan orang lain pada kondisi atau situasi yang sama.
Komponen dari diagnosa keperawatan yaitu:
1. Problem (masalah)
Menggambarkan masalah kesehatan klien atau responnya terhadap terapi
yang diberikan oleh perawat yang dituliskan dalam beberapa kata, antara
lain:
- Perubahan (perubahan dari sebelumnya)
- Gangguan (kelemahan, kerusakan, dan pengurangan)
- Penurunan ( pengecilan dari segi ukuran, jumlah atau tingkat/derajat)
- Tidak efektif (tidak menghasilkan efek yang sesuai)
- Akut (terjadi dalam waktu mendadak dan pendek)
- Kronis (terjadi dalam waktu yang lama, berulang dan tetap)
2. Etiologi (penyebab)
Mengidentifikasi kemungkinan dari penyebab masalah
kesehatandalam melakukan intervensi keperawatan yang mencakup tingkah
laku, lingkungan sekitar atau gabungan dari keduanya.
3. Symptom (gejala)
Pengelompokan tanda dan gejala yang merupakan bagian dari
diagnosa keperawatan
g. Perencanaan
Perencanaan adalah tahap sistematik proses keperawatan yang melibatkan
pembuatan suatu keputusan dan menyelesaikan masalah. Dalam perencanaan,
perawat mengacu pada pengkajian data klien dan diagnostik sebagai acuan dan
mewujudkan tujuan klien dan dan mendesain strategi keperawatan untuk
mencegah, mengurangi masalah kesehatan klien.
Proses perencanaan keperawatan meliputi:
1). Membuat prioritas perencanaan
Prioritas perencanaan adalah suatu proses dalam melakukan strategi
keperawatan
2). Membuat tujuan dan kriteria hasil
Tujuan adalah penataan yang lebih luas tentang dampak dari
intervensi keperawatan.
Kriteria hasil adalah pernyataan yang lebih spesifik dan diukur untuk
mengevaluasi apakah tujuan tercapai.
h. Implementasi
Dalam proses keperawatan, implementasi merupakan suatu tahap
dimana perawat melaksanakan rencana keperawatan dalam suatu tindakan.
Implementasi terdiri dari melaksanakan tindakan keperawatan, mendelegasi
dan mencatat apa yang dilakukan. Dalam melaksanakan tindakan
keperawatan, perawat mencatat tindakan keperawatan, perawat mencatat
tindakan yang dilakukan serta respon klien.
i. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi
adalah perencanaan, pelaksanaan, kemajuan aktifitas yang mana klien dan
tenaga profesional kesehatan lainnya dapat mempertimbangkan kemajuan
klien sesuai tujuan dan keefektifan rencana keperawatan.
1. Standar Kewaspadaan Universal Pengertian
Kewaspadaan Universal atau Universal Precaution adalah salah satu
dari dua sistem yang direkomendasikan oleh Central Desease Control (CDC)
ketika merebaknya kasus AIDS di tahun 1980-an. Kewaspadaan universal erat
kaitannya dengan upaya yang diperlukan oleh tim kesehatan ketika menangani
hal yang berkaitan dengan darah dan beberapa cairan tubuh yang terinfeksi,
dimana demi keselamatan tim kesehatan perlu dilakukan perlindungan dari
mereka yang mempunyai HIV positif, Hepatitis B, Hepatitis C atau penyakit
menular lainnya sesuai dengan proses penularannya (Yayasan Spritia, 2006).
2. Penerapan Kewaspadaan Universal
Penerapan dapat diartikan sebagai suatu praktek atau implementasi
dari kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan melalui proses yang
diketahui atu didapatkan seseorang dari lingkungannya (Sofiah,206).
Terkait prinsip penerapan kewaspadaan universal, sangat dipengaruhi
oleh perilaku petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan
sehingga perlu dilakukan penekanan untuk perubahan perilaku dalam upaya
pencegahan dan penularan penyakit, yakni meliputi pengetahuan, sikap,
maupun tindakan.
3. Prinsip Kewaspadaan Universal
Kewaspadaan universal erat kaitannya dengan upaya yang diperlukan
oleh tim kesehatan ketika menangani hal yang berkaitan dengan darah dan
beberapa cairan tubuh yang terinfeksi, dimana demi keselamatan tim
kesehatan perlu dilakukan perlindungan dari mereka yang mempunyai HIV
positif, Hepatitis B, Hepatitis C atau penyakit menular lainnya sesuai dengan
proses penularannya.Sementara pada pasien sumber penularan penyakit dapat
terjadi melalui peralatan yang terkontaminasi atau menerima darah atau
produk darah yang mengandung virus.
4. Komponen-komponen Pelaksanaan Kewaspadaan Universal
Prinsip utama kewaspadaan universal bagi pelayanan kesehatan adalah
menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan, dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tersebut dapat dijabarkan dalam lima kegiatan, yaitu:
a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
Cuci tangan adalah proses membuang debu secara mekanis dari kulit
kedua belah tangan dengan memaki sabun dan air. Sedangkan dalm
kebersihan tangan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme
penyebab penyakit pada kedua tangan dan lengan serta meminimalkan
kontaminasi silang. Cuci tangan tidak hanya mengurangi penyebaran
infeksi dari petugas kesehatan tetapi juga dari pengunjung rumah sakit
(Linda Tiejen, 2004).
b. Pemakaian alat pelindung : sarung tangan, topi, pelindung wajah (masker
dan kacamata), gaun pelindung dan sepatu guna mencegah kontak dengan
darah serta cairan infeksius lainnya.
c. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai guna mencegah transmisi infeksi.
Proses pengelolaan alat kesehatan dilakukan melalui empat tahap kegiatan
yaitu :
- Dekontaminasi
- pencucian alat
- desinfeksi dan sterilisasi
- penyimpanan alat kesehatan
d. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukan
Untuk pengelolaan jarum suntik yang telah dipakai harus dibuang
langsung ke dalam tabung yang tertutup, anti bocor sebelum dibawa ke
tempat insenerator, tanpa menyentuh atu memanipulasi bagian tajamnya
seperti dibengkokkan, dipatahkan, atau ditutup kembali. Jika jarum
terpaksa ditutup kembali (recapping), gunakanlah cara penutupan jarum
dengan satu tangan untuk mencegah jari tertusuk. Sediakan penempatan
wadah tahan tusukan yang telah diberi tanda dengan jelas dan ditempatkan
sedekat mungkin, dimana benda tersebut ditemukan (WHO, 2005).
Pemakaian alat tajam yang telah digunakan untuk sekali pakai
langsung dibuang ke dalam kontainer khusus yang tidak mudah tembus
sebelum dibawa ke insenerator (Ramdhan, 2008)
a. Pengelolaan limbah, sanitasi ruangan dan penanganan terhadap
kecelakaan kerja (Yayasan Spiritia, 2006).Limbah yang berasal dari
rumah sakit/sarana kesehatan secara umum dibedakan atas :
- limbah medis
- limbah berbahaya
- limbah rumah tangga
- Sanitasi ruangan rumah sakit,
Sanitasi ruangan adalah upaya kesehatan dengan cara
memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan sekitar tempat
bekerja untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada (Handoko,2007)
Fungsi sanitasi di rumah sakit adalah melakukan pengendalian
terhadap kontaminasi di rumah sakit, melaksanakan pengolahan
limbah secara baik dan benar, mengawasi serta membantu
menciptakan keadaan lingkungan yang nyaman, bersih, dan selalu
menegakkan peraturan perundangan di bidang sanitasi dan lingkungan
Penanganan terhadap kecelakaan kerja Kecelakaan kerja adalah
kejadian yang tidak diduga dan tidak diharapkan atau tidak
dilatarbelakangi oleh unsur kesengajaan dan direncanakan (Astono,
2007). Pajanan darah atau cairan tubuh dapat terjadi secara parenteral
melalui tusukan, luka, percikan darah atau cairan tubuhpada mukosa
mata, hidung atau mulut dan percikan pad kulit yang tidak utuh,
kejadian seperti ini harus dicegah dan keselamatanpetugas harus
diutamakan.
Proses yang semestinya dilakukan apabila kecelakaan kerja
telah terjadi yaitu :
1. Kejadian harus didokumentasikan dan dilaporkan pada atasan,
kepada panitia keselamatan dan kesehatan kerja, dan panitia infeksi
nosokomial secepatnya
2. Pemberian imunisasi apabila tersedia, diberikan kepada semua staff
yang beresiko mendapat perlukan karena benda tajam. Setelah
terjadi kecelakaan dan harus diberi konseling(WHO, 2005)
E. Sistem Model Asuhan Keperawatan Profesional
Sistem model asuhan keperawatan profesional merupakan suatu kerangka
kerja yang mendefenisikan standar, proses keperawatan, pendidikan
keperawatan dan system model asuhan keperawatan profesional. Dimana
keberhasilan suatu asuhan keperawatan pada klien sangat ditentukan olehmetode
pemberian asuhan keperawatan profesional. Dasar pertimbangan asuhan
keperawatan (MAKP) adalah:
a. Sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit
b. Dapat diterapkannya prosedur keperawatan
c. Efesisensi dan efektif penggunaan biaya
d. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat
e. Kepuasan kinerja perawat
f. Terlaksananya komunikasi yang adekuat antar perawat dan tim kesehatan
1. Jenis Model Asuhan Keperawatan Profesional
a. Model fungsional
Model fungsional bedasarkan orientasi tugas dari filosofi Keperawatan,
dimana perawat melaksakan tugas (tindakan) tertentu berdasarkan jadwal
kegiatan yang ada. Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat pengelolaan
dalam Asuhan Kperawatan sebagai pilihan utama. Penanggung jawab Model
fungsional adalah perawat yang bertugas pada tindakan tertentu, misalnya
dalam pemasangan infus, pemberian obat, dan lain-lain.
Kelebihan dari metode fungsional yaitu:
1) Menekankan efesiensi, pembagian tugas yang jelas dan pengawasan
2) Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga
3) Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial, sedangkan
pasien di serahkan kepada perawat yunior dan atau yang belum
berpengalaman.
Kekurangan dari metode fungsional yaitu:
1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat
2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak menerapakan proses
keperawatan.
3) Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.
b. Model Kasus
Model Kasus berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi Keperawatan,
dimana perawat bertanggung jawab terhadap Asuhan observasi pada pasien
tertentu dan ratio Pasien : Perawat adalah 1:1 Setiap pasien ditugaskan kepada
semua perawat yang melayani semua kebutuhannya pada saat dinas. Pasien
akan dirawat oleh perawat yang berbeda oleh orang yang sama pada hari
berikutnya. Metode penugasan kasus biasanya ditetapkan satu pasien satu
perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat private untuk perawatan
khusus seperti isolasi, intensive care. Penanggung jawab pada Model Kasus
adalah Manajer Keperawatan.
Kelebihan dari metode kasus yaitu:
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kelemahan dari metode kasus yaitu:
1) Belum dapat di identifikasi perawat penanggung jawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar
yang sama
c. Model Tim
Model Tim berdasarkan pada kelompok filosofi keperawatan. Enam
tujuh perawat profesional dan perawat associate bekerja sebagai suatu tim,
disupervisi oleh tim. Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota
yang berbeda-beda dalam memberikan Asuhan Keperawatan terhadap
sekelompok pasien, perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri
dari tenaga profesional, teknikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang
saling membantu.Penanggung jawab dalam Model Tim ini adalah Ketua Tim.
Kelebihan dari metode ini adalah:
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
3) Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah di atasi
dan memberikan kepuasan kepada anggota tim
Kelemahan dari metode ini adalah:
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk
melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
d. Model Primer
Model primer berdasarkan pada tindakan yang komprehensif dari
filosofi Keperwatan. Perawat bertanggung jawab terhadap semua aspek
Asuhan Keperawatan dari hasi pengkajian, kondisi pasien untuk
mengkoordinir Asuhan Keperwatan, dimana ratio Perawat: Pasien 1: 4 / 1:5
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh
selama 24 jam terhadap Asuhan Keperawanan pasien mulai dari pasien masuk
sampai keluar rumah sakit. Model primer mendorong praktek kemandirian
perawat dan terdapat kejelasan antara si pembuat rencana Asuhan dan
pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan
terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan koordinasi Asuhan Keperawatan selama pasien
dirawat. Penanggung jawab pada model primer ini adalah Perawat primer.
Kelebihan dan sistem model primer adalah:
1) Bersifat kontinuitas dan komprehensif
2) Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan pengembangan diri.
3) Keuntungan terhadap pasien, perawat, dokter dan Rumah Sakitmisalnya
pasien merasa dimanusiakan karena terpenuhinya kebutuhan secara
individu.
Kelemahan dan sistem model primer adalah:
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang memadai dengan kemampuan self direction, kemampuan
mengambil keputusan yang tepat menguasai keperawatan klinik dan mampu
bekolaborasi dengan berbagai disiplin.
e. Model Modular
Model modular adalah suatu variasi dari metode keperawatan primer.
Metode ini sama dengan model keperawatan tim karena baik perawat
profesional maupun non professional bekerja bersama dalam memberikan
asuhan keperawatan dibawah kepemimpinan seorang perawat profesional.
Disamping itu, dikatakan memiliki kesamaan dengan metode keperawatan
primer karena dua atau tiga orang perawat bertanggung jawab atas
sekelompok kecil pasien sejak masuk dalam perawatan hingga pulang bahkan
sampai dengan waktu follow up care. Sekalipun didalam memberikan asuhan
keperawatan dengan menggunakan metode ini dilakukan oleh dua hingga tiga
orang perawat, tanggung jawab yang paling besar tetap ada pada perawat
profesional. Perawat profesional juga memiliki kewajiban untuk membimbing
dan melatih non profesional. Apabila perawat profesional sebagi ketua tim
dalam keperawatan modular ini tidak masuk, tugas dan tanggung jawab dapat
digantikan oleh perawat profesional lainnya yang berperan sebagai ketua tim.
Peran perawat kepala ruang (nurse unit manager) diarahkan dalam hal
membuat jadwal dinas dengan mempetimbangkan kecocokan anggota untuk
bekerja sama dan berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta motivator.
2. Fungsi Manajerial
Kepala Ruangan
Kepala ruangan adalah petugas atau perawat yang diberikan tanggung
jawab dan wewenang dalam memimpin pelaksanaan pelayanan keperawatan
serta tata laksana personalia pada suatu ruangan atau bangsal Rumah Sakit.
Tanggung jawab Kepala Rungan:
a. Perencanaan
1) Menunjukan ketua tim akan bertugas diruangan masing-masing
2) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya
3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien, gawat, transisi
4) dan persiapan pulang bersama ketua tim
5) Mengidentifikasi strategi pelaksanaan keperawatan
6) Mengikuti visite dokter, untuk mengetahui kondisi, patofisiologi,
tindakan medis, yang dilakukan. Program pengobatan dan
mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan
terhadap pasien
7) Mengatur dan mengendalikan Asuhan Keperawatan
8) Membimbing pelaksanaan Asuhan Keperawatan
9) Membimbing penerapan proses keperawatan dan Menilai Asuhan
Keperawatan
10) Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah
11) Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk
12) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri
13) Membantu membimbing terhadap pesrta didik keperawatan
14) Menjaga terwujudnya visi dan misi Keperawatan dan rumah sakit
b. Pengorganisasian
1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2) Merumuskan tujuan metode penugasan
3) Membuat rincian ketua tim Anggota tim secara jelas
4) Membuat rentang kendali Kepala Ruangan dan membawahi 2 ketua
tim dan ketua tim membawahi 2-3 Perawat
5) Mengatur dan mengendalikan tenaga Keperawatan membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dl
6) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
7) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek
8) Mendelegasikan tugas saat kepala ruangan tidak berada ditempat
kepada ketua tim Memberi wewenang kepada tata usaha untuk
mengurus administrasi pasien
9) Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya
10) Identifikasi masalah dan cara penanganan
11) Pengarahan
12) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
13) Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan
baik
14) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan dan
sikap
15) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan Askep Pasien
16) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
17) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya
18) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain
c. Pengawasan
1) Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan
ketua tim maupun pelaksana mengenai Asuhan Keperawatan yang
diberikan kepada pasien
2) Melalui supervise
d. Evaluasi
1) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan
rencana keperawatan yang sudah disusun bersama ketua tim
2) Audit Keperawatan
Ketua Tim
Ketua Tim merupakan perawat yang memiliki tanggung jawab dalam
perencenaan, kelancaran dan evaluasi dari askep untuk semua pasien yang di
lakukan oleh Tim di bawah tanggung jawabnya (Nursalam 2003)
Tanggung Jawab ketua Tim:
1) Membuat perencanaan
2) Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi
3) Mengenal / mengetahui kondisi pasien dan pendapat menilai tingkat
kebutuhan pasien
4) Mengembangkan kemampuan anggota
5) Menyelenggarakan konference
Perawat Pelaksana
Perawat pelaksanaan adalah merupakan seorang tenaga keperawatan
yang diberi wewenang untuk melaksanakan pelayanan/ Asuhan keperawatan
di ruang rawat. Dalam melaksanakan tugasanya perawat pelaksan diruang
rawat bertanggung jawab kepada kepala ruangan / kepala instalasi terhadap
hal-hal sebagai berikut:
1) Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan pelaksanaan Asuhan
keperawatan/kegiatan lainnya yang dilakukan
2) Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan pelaksanaan Asuhan
Keperawatan atau kegiatan lain yang dilakukan.
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat pelaksana diruang rawat
mempunyai wewenang sebagai berikut
1) Meminta informasi dan petunjuk kepada Ka tim mengenai Asuhan
Keperawatan
2) Memberikan Asuhan Keperawatan kepada pasien/ keluarga pasien sesuai
kemampuan dan batasan dan kewenangan
Uraian tugas perawat pelaksana
1) Memelihara keberhasilan ruang rawat dan lingkungan
2) Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku
3) Memelihara keperawatan dan medis agar selalu dalam keadaan siap
4) Melakukan pengkajian keperawatan dan menentukan diagnosa sesuai
batas kewenangan
5) Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya
6) Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien sesuai kebutuhan dan
batas kemampuanya antara lain :
- Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai program pengobatan
- Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya
mengenai penyakitnya
7) Melatih / membantu pasien untuk melakukan latihan gerak
8) Melaksanakan evaluasi tindakan, keperawatan sesuai batas
kemampuannya
9) Mengobservasi kondisi pasien selanjutnya melakukan tindakan yang tepat
berdasarkan hasil observasi sesuai batas kemampuannya
10) Berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan
upaya meningkatkan mutu Asuhan Keperawatan
11) Melaksanakan kasus dan upaya meningkatkan mutu Asuhan keperawatan
BAB III
GAMBARAN UMUM RSUD PROF. DR. H.M. ANWAR MAKKATUTU

A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar


Makkatutu
Rumah sakit adalah suatu institusi yang merupakan suatu industri jasa
pelayanan yang mempunyai potensi besar untuk terus dikembangkan pada
masa-masa yang akan datang, ini tentunya dengan tidak menanggalkan fungsi
sosial yang juga diembannya. Menghadapi era yang terus berubah Rumah
Sakit semakin dituntut untuk memberikan pelayanan jasa yang bermutu dan
berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
RSUD Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng didirikan pada
tahun 1921 dan merupakan warisan Pemerintah Belanda, sehingga sebagian
bangunannya terutama pada ruang perawatan masih merupakan bangunan
jaman Pemerintahan Belanda.
RSUD Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng berada di jantung
kota Bantaeng yang terletak di sebelah Selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan posisi 5 2123 - 5 3226 LS dan 119 5142 BT dengan batas
wilayah :
- Sebelah utara : kabupaten Gowa
- Sebelah Timur : kabupaten Bulukumba
- Sebelah Selatan : Laut Flores
- Sebelah Barat : Kabupaten Jeneponto
Pada tahun 2000 RSUD Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
beralih status kelembagaan dari UPTD Dinas Kesehatan menjadi Kantor
RSUD Bantaeng.
Tahun 2001 RSUD Banteng beralih nama menjadi RSUD Prof. DR.
H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng. Nama Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu
diambil dari seorang nama Putera Daerah Kabupaten Bantaeng yang
merupakan salah seorang Guru besar dari Fakultas Kedokteran UNHAS
Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Pada tanggal 17 Desember 2004,
Penetapan RSUD Prof.DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng sebagai
Rumah Sakit Type C berdasarkan SK Menkes No.
1284/Menkes/SK/XII/2004 yang selanjutnya pada Tahun 2009 RSUD Prof
DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng terakreditasi 5 pelayanan (rekam
medik, IGD, Rawat Inap, Pelayanan Medik, serta Manajemen dan
Administrasi) dengan sertifikat No : YM. 01. 10/III/3136/09.
Selanjutnya pada tahun 2012 tepatnya pada tanggal 19 Maret 2012,
RSUD Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng ditetapkan sebagai
SKPD yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah (PPK-BLUD) sesuai SK Bupati No. 161/119/III/2012.11.
Direktur yang pernah menjabat di RSUD Prof. DR. H. M. Anwar
Makkatutu Bantaeng, antara lain :
- Prof. Dr. H. Misbahuddin Adnan
- Dr. Hj. Rosmawar Maknun
- Dr. Irsan Halim (1988-1993)
- Dr. H. AH. Simadiah, MHA (1993-1999)
- Dr. Hj. Takudaeng, M. Kes. (1999-2006)
- Dr. H. Agus Rusfandi (2006-2009)
- Dr. H. M. Syafruddin Nurdin, M. Kes. (2009-2013)
- Dr. H. Sultan, M.Kes (2014-sekarang)
B. TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2007 tentang
pembentukan Organisasi dan Tata Kerja RSUD Prof. DR. H.M.Anwar
Makkatutu Bantaeng, maka tugas pokok RSUD Prof. DR.H.M.Anwar
Makkatutu Bantaeng dalah sebagai berikut :
Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil
guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang
dilaksBedahan secara serasi terpadu dengan upaya peningkatan serta
pencegahan dan melaksBedahan upaya rujukan.
Sedangkan fungsi RSUD Prof.DR.H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng
adalah :
a. Penyelenggaran pelayanan medik
b. Penyelenggaraan pelayanan penunjang medik dan non medik
c. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan
d. Penyelenggaraan pelayanan rujukan
e. Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
f. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan
g. Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan
C. STUKTUR ORGANISASI
Adapun struktur organisasi Kantor RSUD Prof.DR.H.M.Anwar
Makkatutu Bantaeng sesuai Peraturan Daerah No. 07 Tahun 2007 terdiri dari :
1. Direktur
2. Kepala Bagian Tata Usaha :
- Kasubag Keuangan
- Kasubag Kepegawaian
- Kasubag Perencanaan dan Pelaporan
- Kepala Bidang Pelayanan Medik
- Kepala Bidang Penunjang Medik
3. Kepala Bidang Keperawatan
4. Kelompok Jabatan Fungsional
D. KEADAAN PEGAWAI DAN SARANA/PRASARANA
1. Sumber Daya Manusia
Jumlah tenaga keseluruhan yang ada di RSUD Prof. DR. H.M.Anwar
Makkatutu Bantaeng pada Tahun 2016 sebanyak 450 orang tenaga kerja,
dengan jenis ketenagaan :
a) Dokter spesialis : 19 orang
b) Dokter umum : 12 orang
c) Dokter kes. gigi : 2 orang
d) Perawat : 171 orang
e) Bidan : 47 orang
f) Kesehatan Masyarakat : 26 orang
g) Kesehatan farmasi : 22 orang
h) Tenaga laboratrium : 25 orang
i) Fisioterapi : 6 orang
j) Radiografer : 11 orang
k) Elektromedis : 4 orang
l) Tenaga Perekam Medik : 5 orang
m) Tenaga nutrisionis : 11 orang
n) Kesling : 10 orang
o) Tenaga non medis :74 orang
2. Sarana/Prasarana
a. Bangunan
Bangunan RSUD Prof. Dr.H.M.Anwar Makkatutu Bantaeng untuk
Tahun 2016 di atas tanah seluas 2.724.54 M2 dengan luas tanah
perkantoran 2.948 M2 yang terletak di jalan Teratai No. 20 Kelurahan
Pallantikang, Kecamatan Bantaeng Kab.Bantaeng.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat maka
RSUD Prof.DR.H.M.Anwar Makkatutu Bantaeng akan melaksanakan
pengembangan rumah sakit menjadi rumah sakit modern. Pembuatan
master of plan, DED dan Amdal di laksBedahan pada Tahun 2011.
Pembangunan di rencBedahan dengan desain 8 lantai dengan luas
12.000 M2, luas lantai bangunan utama 17.085 M2, bangunan utility
3.082,2 M2. Dengan uraian perlantai sebagai berikut :
1. Lantai pertama : UGD, Lobby, Gudang Farmasi, Dapur, Loundry,
Radiologi, IPSRS, Cafe, Poliklinik dan Lokers
2. Lantai kedua : farmasi, laboratorium, Bank Darah, Medical record,
Ruang Dokter, Hemodialisa, Poliklinik, dan Cafe
3. Lantai ketiga : CSSD, Central Operation, rehabilitasi Medik, Medical
Chek Up dan Cafe
4. Lantai keempat : auditorium, ICCU, ICU, One Day Care, NICU,
PICU, kebidanan, Rawat Inap Kelas III
5. Lantai kelima : Rawat inap kelas III, Nurse Station, dan ruang tunggu
keluarga
6. Lantai keenam : rawat inap kelas III, rawat inap kelas II, Nurse Station,
dan ruang tunggu keluarga (60% TT untuk kelas III)
7. Lantai ketujuh : rawat inap kelas II, rawat inap kelas I, nurse station
dan ruang tunggu keluarga
8. Lantai kedelapan : rawat inap kelas VIP, Nurse Station, Ruang Tunggu
keluarga serta ruang kantor (manajemen dan administrasi).
Gedung rumah sakit dilengkapi dengan area parkir dan taman.
b. Fasilitas PDAM dan PLN
Pelayanan listrik di RSUD Prof.DR.H.M.Anwar Makkatutu Bantaeng
menggunakan 380 volt dan sebagai listrik cadangan tersedia mesin genset,
sedangkan penyediaan air bersih oleh PDAM tersedia 8 meteran.
E. VISI RUMAH SAKIT
Rumah sakit sebagai sebuah institusi yang menyelenggarakan
pelayanan jasa sebagai produk utamanya. Dalam penyelenggaraan pelayanan
tersebut, maka kualitas, keamanan dn kenyamanan menjadi inti dari hasil
produknya. Di sisi lain, rumah sakit menghadapi tuntutan masyarakat yang
semakin kompleks dan kritis serta adanya persaingan global. Sehingga rumah
sakit memerlukan semangat atau spirit serta harapan yang diinginkan dalam
menjaga eksistensi perkembangannya.
Untuk itu RSUD Prof.DR.H.M.Anwar Makkatutu Bantaeng
menetapkan misinya :
Terwujudnya Pelayanan Rumah Sakit yang Bermutu dan
Sejahtera Menuju Pelayanan Prima Tahun 2018
Sebagai pemahaman bahwa primadona dimaknai pada fokus
peningkatan pelayanan dengan nilai-nilai moral berdasarkan etika profesi dan
standar pelayanan dengan efektif dan efisien, serta mengacu pada sistem
kesehatan nasional dimana dalam mengahadapi persaingan yang semakin
kompetitif harus mempunyai nilai tambah dimata konsumennya berupa
kualitas produk yang bisa memenuhi dan memuaskan harapan konsumen,
sehingga masyarakat Sulawesi Selatan memposisikan RSUD Prof. DR. H. M.
Anwar Makkatutu Bantaeng sebagai satu alternatif utama untuk
menyelesaikan masalahnya.
F. MISI RUMAH SAKIT
Untuk mencapai visi Rumah Sakit, maka diperlukan misi yang harus
dilaksBedahan, sebagai berikut :
1. Menciptakan Kepuasan Karyawan
2. Memberikan Pelayanan yang Berkualitas dan Menjadi Pilihan Terpercaya
Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Manusia
G. AMBARAN UMUM RUANG PERAWATAN BEDAH
Ruang Perawatan Bedah
a. Ruang Bedah merupakan salah satu bagian Ruangan Perawatan Rawat
Inap.
b. Gambaran Umum Ruangan Perawatan Bedah. Ruang Perawatan Bedah
dibatasi oleh :
- Sebelah timur dengan instalasi Farmasi
- Sebelah Barat dengan poli Bedah
- Sebelah Selatan dengan bangunan kebidanan
- Sebelah Utara dengan radiologi
Ruang perawatan Bedah di RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar
Makkatutu terletak di bagian selatan kompleks rumah sakit yang terdiri
dari perawatan Bedah Tim A dan Perawatan Tim B Bedah. Yang
dipimpin oleh dua ketua tim yaitu ketua tim A dan ketua Tim B dan satu
kepala ruangan.
Ruang perawatan Bedah dengan kapasitas tempat tidur 24 buah,
dalam 4 jenis kelas terdiri dari :
- Kelas III : 17 tempat tidur.
: 17 tiang infus
: 17 lemari pasien
: 1 kipas angin
: 4 toilet
- Kelas II : 2 kamar terdapat 2 tempat tidur.
: 2 tiang infus
: 2 lemari pasien
: 2 toilet
- Kelas I : 1 kamar terdapat 2 tempat tidur.
: 2 tiang infus
: 1 AC ruangan
: 2 lemari pasien
: 1 toilet
- VIP : 3 Kamar 3 tempat tidur
: 3 tiang infus
: 3 lemari pasien
: 3 TV
: 3 AC
: 3 toilet
- Jumlah tenaga perawat di ruang perawatan Bedah 17 orang; 4 orang
status PNS dan 8 orang status tenaga honorer, 5 orang tenaga magang
yang terdiri dari :
S1 Keperawatan + Ners 8 orang termasuk Kepala Ruangan dan
Ketua Tim.
D3 Keperawatan 9 orang.
H. HASIL ANALISIS SWOT RUANGAN DAN MANAJEMEN
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal yang dilakukan sebelum
merumuskan masalah dengan mengumpulkan data-data yang ada. Dibagian
ini data di khususkan merupakan data subyektif yang dikumpulkan melalui
pembagian quisioner kepada tenaga perawatan di RSUD Prof. dr. H,M.
Anwar Makkatutu Kab. Bantaeng dan didapatkan hasil sebagai berikut :
DATA ANALISA
PERENCANAAN
a. Visi dan Misi Visi Misi :
Dari 15 orang perawat: Tidak terpajang visi misi
- Sebanyak 10 orang (66,6%) perawat ruang perawatan bedah
mengetahui visi dan misi Rumah sakit dan
sebanyak 5 (33,4%) perawat tidak mengetahui
visi misi Rumah Sakit.
- Berdasarkan hasil observasi, tidak terpajang
visi misi ruang perawatan bedah.

b. SOP SOP :
Dari 15 orang perawat: SOP tidak tertempel
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat diruang perawatan
menyatakan diruang perawatan bedah terdapat bedah
standar operasional prosedur (SOP).

PENGORGANISASIAN
a. Struktur Organisasi Struktur Organisasi :
Dari 15 orang perawat: Tidak terdapat struktur
- Sebanyak 12 orang (80%) perawat mengetahui organisasi di Ruang
struktur organisasi RS Perawatan Bedah
- Sebanyak 12 orang (80%) perawat mengatakan
struktur organisasi RS dibuat dalam bentuk
tertulis
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat
mengetahui struktur organisasi diruang
perawatan bedah
- Berdasarkan hasil observasi kelompok tidak
terdapat struktur organisasi secara tertulis di
ruang perawatan bedah
b. Tugas dan Fungsi Tugas dan Fungsi : -
Dari 15 orang perawat:
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengatakan tugas dan fungsi tersebut
disampaikan oleh kepala ruangan kepada
perawat
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
menyatakan tugas dan fungsi tersebut bersifat
tertulis
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengetahui tentang sistem penugasan yang
diterapkan diruang perawatan bedah
c. Sistem Penugasan Sistem Penugasan : -
Dari 15 orang perawat:
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengetahui tugas dan fungsi sebagai perawat
pelaksana
- Sebanyak (86,7%) perawat mengatakan system
penugasan tersebut dalam bentuk kombinasi
antara tim dan fungsional
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengetahui/mengerti tentang system
penugasan tersebut
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengatakan tidak ada pedoman tentang system
penugasan tersebut
d. Tingkat Ketergantungan Pasien Tingkat Ketergantungan
Dari 15 orang perawat; Pasien :
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat Ada pedoman untuk
mengetahui tingkat ketergantungan pasien menentukan tingkat
diruang perawatan bedah ketergantungan pasien.
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengatakan tingkat ketergantungan pasien
tersebut ditentukan setiap hari.
e. Sarana/ Fasilitas
Dari 15 orang perawat:
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat
mengatakan tenaga perawat yang tersedia
diruang perawatan bedah mencakup pelayanan
diruangan
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat pada saat Sarana/ Fasilitas :
baru menjadi perawat diruang perawatan Fasilitas ruangan
bedah, perawat diorientasikan memadai dalam
- Sebanyak 15 orang (100%) perawat melakukan tindakan
mengatakan selama orientasi perawat keperawatan
mendapat bimbingan
f. Jadwal Dinas
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat terlibat Jadwal Dinas :
dalam pembuatan jadwal dinas . Seluruh perawat ikut
- Sebanyak 14 orang (93, 3%) perawat seta dalam pembuatan
mengatakan puas dengan jadwal dinas tersebut. jadwal dinas
- Sebanyak 14 orang(93,3%) perawat
mengatakan dalam penyusunan jadwal dinas
kepala ruangan mempertimbangkan hari raya,
libur, cuti hamil & melahirkan.
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat
mengatakan jadwal dinas disampaikan kepada
perawat sebelum di setujui oleh Kabid
keperawatan.
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat
mengatakan puas dengan jadwal dinas yang
telah di tentukan.

KOORDINASI Penghargaan/ Reward :


a. Penghargaan/ Reward perawat diberikan
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat reward jika tugas
mengatakan kepala ruangan pernah dilaksanakan dengan
mendelegasikan tugas kepada perawat. baik.
- Sebanyak 11 orang (73,3%) perawat
mengatakan melaporkan tugas yang
didelegasikan oleh kepala ruangan.
- Sebanyak 11 orang (73,3%) perawat
mengatakan kepala ruangan memberikan
penghargaan atau pujian atas tugas yang telah
di selesaikan.
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat
mengatakan pernah melakukan kesalahan,
tetapi di tegur langsung oleh kepala ruangan.
b. Pemecahan Masalah Pemecahan Masalah : -
- Sebanyak 12 orang (86,6%) perawat
mengatakan masalah- masalah yang sering
terjadi di ruangan adalah masalah asuhan
keperawatan, hubungan kerja sama perawat,
hubungan perawat dengan pasien, hubungan
perawat dengan keluarga pasien, dan hubungan
perawat dengan tim kesehatan lainnya.
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat
mengatakan bahwa masalah- masalah tersebut
di bicarakan kepada kepala ruangan.
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat
mengatakan kepala ruangan memberikan
bimbingan atas masalah yang terjadi.
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat
mengatakan bahwa kepala ruangan
mengevaluasi masalah yang telah teratasi .
- Sebanyak 12 orang (86,6%) mengatakan
bahwa ada jadwal pertemuan berkala di
ruangan perawatan bedah.
- Sebanyak 12 orang (86,6%) perawat
mengatakan pertemuan di laksbedahan 3 kali
dalam seminggu.
- Sebanyak 12 orang 86,6%) perawat
mengatakan terdapat alat (media) komunikasi
lain yang digunakan diruangan perawatan
bedah.

PENGAWASAN
a. Mutu Pelayanan Keperawatan Mutu Pelayanan
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat Keperawatan:
mengatakan tidak ada formulir yang di isi oleh
pasien tentang mutu pelayanan sebelum pasien
pulang dari rumah sakit.
b. Kotak Saran Kotak Saran :
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat Tidak terdapat kotak
mengatakan tidak ada kotak saran di ruang saran diruangan.
perawatan bedah.
c. Kontrol Kepala Ruangan
- Sebanyak 11 orang (73,3%) perawat
mengatakan kepala ruangan sering mengecek Kontrol Kepala
kehadiran perawat di ruangan. Ruangan :
- Sebanyak 14 orang (93,3%) perawat Kepala ruangan sering
mengatakan ada daftar hadir diruangan. mengecek kehadiran
- Sebanyak 14 orang (86,6%) perawat perawat
mengatakan ada evaluasi dari kepala ruangan
atas tugas yang di delegasikan.
d. Model Pemberian Asuhan Keperawatan Model Pemberian
- Sebanyak 13 orang (86,6 %) perawat Asuhan Keperawatan : -
mengatakan melakukan pengkajian
keperawatan.
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat
mengatakan membuat diagnosa keperawatan.
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat
mengatakan menyusun rencana asuhan
keperawatan, sesuai dengan diagnosa
keperawatan.
- Sebanyak 13 orang (86,6%) perawat
mengatakan melakukan implementasi askep
yang di berikan pada pasien.
- Sebanyak 13 orang (86,6 %) perawat
mengatakan mendokumentasikan askep yang
diberikan kepada pasien.
- Sebanyak 13 orang (86,6 %) perawat
mengatakan mendokumentasikan askep
tersebut di buku khusus atau langsung di status
pasien.
Hasil Analisa :

No MASALAH
1 Perencanaan
a. Visi misi
Berdasarkan hasil observasi tidak ada tertempel di ruang perawatan bedah
b. SOP
Berdasarkan hasil observasi tidak ada tertempel di ruang perawatan bedah

2 Organizing (pengorganisasian)
Struktur Organisasi
Tidak terdapat struktur organisasi di Ruang Perawatan Bedah

3 Koordinasi : -

4 Controling/pengawasan
Kotak Saran : Tidak terdapat kotak saran diruangan.
Observasi :

1. Timbang terima pasien


Berdasarkan hasil observasi timbang terima pasien yang dilakukan belum
efektif penerapannya hal ini dilihat dari hasil kuisioner yang ditujukan
kepada pasien
2. Sarana dan fasilitas
a. Tidak adanya hak dan kewajiban pasien yang tertempel di dinding
(kamar pasien).
b. Tidak adanya struktur organisasi perawat yang ada di ruangan
perawatan bedah.
1. Observasi
Kegiatan Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data - data secara
obyektif sehingga dapat ditemukan permasalahan pada managemen ruang
perawatan bedah dimana pada observasi ruangan ini difokuskan pada sarana
dan fasilitas ruangan, kebutuhan tempat tidur, alat kesehatan dan managemen
keperawatan.
a. Sarana dan fasilitas ruangan
Dari hasil observasi, ruang perawatan bedah memiliki 4 kelas perawatan dan
24 jumlah bed dan dilengkapi dengan alat-alat kesehatan, secara rinci dapat
dilihat pada tabel berikut
1). Fasilitas ruangan Perawatan
No Kelengkapan K. 1 K. 2 K. 3 VIP Ket.
.
1. Luas ruang 2,5 m2 x 2,5 m2 x 2,5 m2 x 2,5 m2 x Memenu
rawat 4,5m2 4,5m2 4,5m2 4,5m2 hi syarat
2. Tempat tidur 2 bh 2 bh 17 bh 3 bh Memenu
hi syarat
3. Lemari kecil 1 bh 2 bh 4 bh 3 bh Memenu
hi syarat
4. Wc/kamar 1 bh 2 bh 4 bh 3 bh Kurang
mandi memenu
hi syarat
5. Stand infus 2 bh 2 bh 17 bh 3 bh Memenu
hi syarat
7. Seprai Terpasang Terpasang Terpasang Terpasang Memenu
hi syarat
8. Selimut - - - Ada -
10. Nomer Ada Ada Ada Ada mmnuhi
kamar syarat

2. Alat Kesehatan (Alkes)


Ruangan perawatan bedah ditunjang oleh perlengkapan kesehatan untuk
memberikan tindakan perawatan yang efektif dan efesien bagi klien dan
membantu proses penyembuhan adapun rincian Alkes di ruang perawatan
bedah RSUD. Prof. dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng yaitu:

No. Jenis peralatan Jumlah Ket.


1 Tensimeter raksa - 1 buah dlm keadaan rusak
2 Tensimeter lapangan 1 1 buah dlm keadaan rusak
3 Stetoskop ( Litmann Abu- abu) 1 Baik
4 Thermometer 1 Baik
6 Regulator 1 Baik
7 Bak Injeksi 1 Baik
8 Bak GV Sedang/ Besar 1/1 Baik
10 Tromol Kasa besar/ sedang 1 Baik
11 Pinset anatomi 3 Baik
12 Pinset Serurgis 2 Baik
13 Klem arteri 2 Baik
14 Gunting jaringan 2 Baik
15 Gunting Verban 2 Baik
16 Troli GV - Baik
17 Tempat sampah Gv biru - Baik
18 Rostur 1 Baik
19 Keranjang obat pasien biru 17 Baik
20 Perforator 1 Baik
21 Stapler 1 Baik
22 Stempel nama dokter 1 Baik
23 Bantalan stempel dokter 1 Baik
24 Gunting biasa 1 Baik
25 Handphone bedah 1 Baik
26 Stand infus pe Bad 24 Baik (Bisa digunakan)
27 Stand infus Ekstra 5 Baik (Bisa digunakan)
28 Lemari kecil pasien kelas 3 b 7
29 Lemari kecil pasien kelas 3 b 10
umum
30 Handrafp 11 Baik
31 Sterilisator 1 Baik

2) Alat-alat rumah tangga ruangan perawat

KEADAAN
NO NAMA ALAT
ADA TIDAK
1 Kipas
2 Jam dinding
3 Jemuran -
4 Kulkas
5 Kursi sofa - -
6 Kursi plastic
7 Kursi teras
8 Lemari pasien
9 Lemari barang
10 Lemari perawat
11 Meja perawat
12 Meja pasien -
13 Pesawat telpon -
15 Remote tv
16 Dispenser
17 Seprei
18 Sarung bantal guling -
19 Sarung bantal kepala
20 Televisi
21 Tempat sampah
22 Tempat tidur
23 Taplak meja
24 Timba
25 Bantal kepala
26 Bantal guling -
28 Bangku
29 Mistar
30 Papan tulis -
31 Kotak saran -
32 Kasur

b. Kebutuhan tempat tidur

Ruang perawatan bedah RSUD. PROF. Dr. H. M. ANWAR


MAKKATUTU Kab. Bantaeng memiliki 24 tempat tidur . Adapun
kesesuaian kebutuhan tempat tidur dengan jumlah pasien dapat di
persentasekan menggunakan perhitungan BOR (Bed Ocupattion Rate)

Persentase pemakaian tempat tidur pada satuan watu tertentu ( Bed


Ocupattion Rate = BOR) diambil dengan periode mingguan yaitu tanggal
13- 16 September 2016


= %

Jumlah pasien hari


perawatan
57
= 100%
13-Sep-2016 7 24 5
57
14- Sep-2016 12 = 100%
120
= 47,5%
15- Sep-2016 19

16-Sep-2016 19

Total 57

Persentase pemakaian tempat tidur pada satuan watu tertentu (Bed


Ocupattion Rate = BOR) diambil dengan periode mingguan yaitu tanggal 13- 16
September 2016

Hasil analisis:

Didapatkan jumlah rata- rata BOR dalam periode mingguan yaitu 47,5%
Menurut acuan Depkes RI. 2005 rentang ideal BOR adalah 60-85%. Apabila rata-rata
tingkat penggunaaan tempat tidur < 60% berarti tempat tidur yang tersedia di Rumah
Sakit belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan apabila lebih dari 85 %
kemungkinan terjadi infeksi nasokomial akan meningkat dan juga akan mengurangi
cadangan tempat tidur bila terjadi KLB. Melihat data yang didapatkan dan acuan
yang ada dapat disimpulkan bahwa jumlah pasien seimbang dengan jumlah bed
yang disediakan di ruangan sehingga resiko untuk terjadi infeksi nasokomial dapat
diminimalisir .

BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu


Kabupaten Bantaeng

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed (2 2 Bed 17Bed 3 bed (1 7/24x100=5,8%
kosong) (1 kosong) (13kosong) kosong)

2 Siang 2 Bed (2 2 Bed (1 17Bed (13 3 bed(1 7/24x100=5,8%


kosong) kosong) kosong) kosong)

3 Malam 2 Bed (2 2 Bed (1 17Bed 3 bed (1 7/24x100=5,8%


kosong) kosong) (13kosong) kosong)

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (7)
5,8%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 4 4 0,17= 0,68 4 0,14= 0,56 4 0,07= 0,28
Parsial 3 3 0,27= 0,81 3 0,15= 0,45 3 0,10= 0,3
Total - - - -
Jumlah 7 1 1 1
Total tenaga perawat
Pagi : 3 orang
Sore : 3 orang
Malam : 3 orang
Jumlah : 9 orang
Jadi jumlah perawat yang butuhkan untuk bertugas per hari di ruang
perawatan Bedah adalah:
3 orang dinas pagi + 1 orang kepala ruangan +2 orang ketua tim + 3 orang dinas
siang + 3 orang dinas malam = 12 orang

INDIKATOR MUTU

1. Tingkat kepuasan pasien


Berikut ini akan dipaparkan mengenai kepuasan pasien terhadap kinerja
perawat. Pelaksanaan evaluasi menggunakan kuesioner yang berisi 20 soal
berbentuk pertanyaan pilihan. Pertanyaan pilihan mencakup pemberian penjelasan
orientasi ruangan, pemberian penjelasan setiap prosedur tindakan, dan sikap
perawat selama memberikan asuhan keperawatan. Jawaban pada pertanyaan
pilihan terdiri atas lima jawaban yaitu tidak pernah, jarang, kadang-kadang,
sering dan selalu. Adapun indikator kepuasaan klien terhadap pelayanan
keperawatan dinilai berdasarkan kuesioner yang berjumlah 20 pertanyaan,masing-
masing pertanyaan diberi nilai berdasarkan jawaban kemudian ditotal tiap-tiap
responden dan jumlah secara keseluruhan. Kriteria penilaian:jika jawaban tidak
pernah diberi nilai 1, jarang diberi nilai 2, kadang-kadang diberi nilai 3,
sering diberi nilai 4 dan selalu diberi nilai 5. Penilaian kepuasaan dilakukan
berdasarkan rentang persentasi yang diadopsi dari skala LIKERT, dengan rumus:
( ) + ( )
2
(20 X 5) + (20 X 1)
=
2
100 + 20
=
2

120
=
2

= 60

Jadi, jika 60 dikatakan Puas


< 60 dikatakan kurang puas

Tingkat Kepuasan pasien Di Ruang Perawatan Bedah


RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat kepuasan
No
Puas Kurang Puas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16 KETERANGAN:
17
Tidak pernah : 1
18
Jarang : 2
19
Kadang-kadang : 3
10 (53%) 9 (47%)
Sering : 4
Selalu : 5

TINGKAT KEPUASAN :

Puas : 60
Kurang puas : < 60

Diagram 1: Tingkat Kepuasan Pasien

Tingkat Kepuasan Pasien

Kurang Puas
47% Puas
53%
Dari diagram diatas dapat diketahui bahwa 10 (53%) responden menjawab puas dan
9 (47%) responden menjawab kurang puas. Namun dari penilaian tingkat kepuasan
yang dilakukan secara menyeluruh di ruang perawatan Bedah, pasien kurang puas
dengan kinerja perawat.

I. PENGKAJIAN DAN ANALISI MENAJEMEN KEPERAWATAN DI


RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD PROF. DR. H. M. ANWAR
MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG
a. Pengkajian Terhadap Aspek Manajemen Keperawatan
Pada praktek manajemen keperawatan oleh mahasiswa profesi Ners
STIKES Tanawali Persada Takalar Mitra Bantaeng dilakukan pengkajian
pada fungsi manajemen keperawatan yang berfokus pada fungsi-fungsi
manajemen dan mutu pelayanan keperawatan.
Pada tahap pengkajian di awali dengan print kuesioner yaitu pada tanggal
13 September 2016 yang kemudian di sebarkan pada 13-15 September 2016
dalam tahap pengkajian ini, di dapatkan data-data bermasalah yang terkait
dengan fungsi manajemen yang ada di Ruang perawatan Bedah. Setelah di
identifikasi ditemukan masalah yang berkaitan dengan Perencanaan
(planning), Pengorganisaian (organizing), Koordinasi (actuating),
Pengawasan (controling).

Pendekatan aspek manajemen yang digunakan yaitu metode wawancara,


observasi dan penyebaran kuesioner, dengan melibatkan kepala Ruang
perawatan Bedah dan perawat pelaksana di Ruang Perawatan Bedah RSUD
Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng

Untuk mendukung kesimpulan dilakukan observasi langsung, wawancara


dengan kepala Ruang perawatan Bedah, ketua tim dan beberapa perawat
pelaksana Ruang Perawatan Bedah RSUD Prof.DR. H. M. Anwar Makkatutu
Bantaeng.
b. Analisa SWOT di ruang perawatan bedah
1) Strength / Kekuatan
- RS berada di lokasi yang strategis.
- Badan Layanan Umum.
- Terdapat banyak tenaga medis profesional dengan disiplin ilmu
masing-masing.
- Terdapat tenaga keperawatan yang berpengalaman dengan masa kerja
lebih dari 14 tahun yaitu 1 orang (Kepala ruangan), serta tenaga
keperawatan dengan masa kerja 1- 4 tahun sebanyak 8 orang dan masa
kerja 4 - 8 tahun sebanyak 8 orang.
- Jumlah kapasitas tempat tidur sebanyak 24 buah dengan 7 kamar.
2) Weakness / kelemahan
- Belum ada visi dan misi perawatan bedah diruangan perawatan Bedah.
- Standar Operasional Prosedur terpasang di nurse stasion.
- Sosialisasi hak-hak pasien masih kurang.
- Tidak ada format penilaian yang diberikan kepada pasien untuk
menilai pelayanan di ruangan.
3) Oppurtunity / Peluang
- Ada Mahasiswa S1 Ners yang melakukan praktik Manajemen dalam
keperawatan
- Ada hubungan kerja sama dengan lembaga/institusi.
- Sebagai sarana pendidikan.
- Melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam
bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
4) Threat / Ancaman
- Semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat akan berdampak pada
tuntutan mutu pelayanan yang optimal khususnya pelayanan
keperawatan.
c. Prioritas masalah dan alternatif pemecahan masalah
1) Prioritas masalah
Setelah identifikasi masalah, selanjutnya masalah tersebut
diprioritaskan berdasarkan metode pembobotan dengan memperhatikan
aspek-aspek yang meliputi :

a) Kecenderungan besar dan seringnya kejadian masalah tersebut


(Magnitude)
b) Besarnya kerugian yang dapat ditimbulkannya (Severity)
c) Dapat atau tidaknya masalah diselesaikan (Managebility)
d) Tuntutan masyarakat keperawatan (Nursing Concern)
e) Kesediaan sumber daya yang ada (Affordability)
Dari masing-masing dinilai untuk setiap aspek tersebut, masing masing
aspek memiliki bobot sendiri dengan rentang 1 5 yaitu :

1. 1 (satu) jika sangat kurang sesuai


2. 2 (dua) jika kurang sesuai
3. 3 (tiga) jika cukup sesuai
4. 4 (empat) jika sesuai
5. 5 (lima) jika sangat sesuai
Nilai dari setiap masalah kemudian dikalikan dengan masing-masing
nilai setiap masalah, masalah yang memiliki total nilai terbesar merupakan
prioritas masalah yang terpilih.

PRIORITAS MASALAH RUANG PERAWATAN BEDAH PROF. DR. H. M.


ANWAR MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG
N Mg Sv Mn Nc Af
MASALAH Total
O (2) (3) (5) (1) (4)
1 Perencanaan :

1. Visi dan misi ruang 3 2 5 4 4 480


perawatan bedah belum
ada ditempel pada
dinding serta kurangnya
sosialiasi oleh kepala
ruangan kepada perawat
pelaksana
2. Kurangnya pemahaman
5 4 3 4 3 720
sebagian perawat tentang
pentingnya SOP dalam
melakukan tindakan
serta tidak adanya SOP
dalam bentuk tertulis dan
tertempel di dinding

Pengorganisasian :

1. Tidak adanya struktur 3 3 4 4 3 432

organisasi ruang
perawatan bedah secara
tertulis dan tidak
terpajang di ruangan
Pengawasan :

Pengisian formulir yang


diberikan kepada pasien
sebelum pulang
untuk 3 4 3 4 4 576
menilai tingkat kepuasan
terhadap pelayanan yang
diberikan.

5 Observasi

Timbang terima pasien yang 5 4 5 4 3 1200


dilakukan perawat belum
efektif

Tidak adanya hak dan


kewajiban pasien yang 3 2 4 4 5 480
tertempel di dinding (kamar
pasien).

Pengadaan identitas pasien


tidak memadai di kamar 4 3 4 3 4 576
pasien

Berdasarkan tabel diatas dapat disusun prioritas masalah sebagai berikut :

a. Timbang terima pasien yang dilakukan perawat belum efektif (1200)


b. Kurangnya pemahaman sebagian perawat tentang pentingnya SOP dalam
melakukan tindakan serta tidak adanya SOP dalam bentuk tertulis dan
tertempel di dinding (720)
c. Pengadaan identitas pasien tidak memadai di kamar pasien (576)
d. Pengisian formulir yang diberikan kepada pasien sebelum pulang untuk
menilai tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan (576)
e. Tidak adanya hak dan kewajiban pasien yang tertempel di dinding (kamar
pasien). (480)
f. Visi dan misi ruang perawatan bedah belum ada ditempel pada dinding serta
kurangnya sosialiasi oleh kepala ruangan kepada perawat pelaksana (480)
g. Tidak adanya struktur organisasi ruang perawatan bedah secara tertulis dan
tidak terpajang di ruangan (432)
2) Tujuan dan alternatif penyelesaian masalah
Tujuan alternatif penyelesaian masalah dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan yang mencakup apa, siapa, dimana, dan berapa lama tujuan dicapai.
Formulasi tujuan dan alernatif pemecahan masalah sesuai masing-masing
permasalahan sebagai berikut :

Tujuan dan alternatif pemecahan masalah

Tujuan dan Alternatif Pemecahan


NO Masalah NO
Masalah

1. MPKP (Model Praktik 1. Melakukan Role model MPKP (timbang


Keperawatan Profesional) terima, pre dan post conference, serta
seperti timbang terima, Ronde keperawatan) (pembuatan video role
ronde keperawatan, pre model)
dan post conference pada
Tujuan :
pasien yang dilakukan
perawat belum efektif Dapat meningkatkan pengetahuan perawat
tentang timbang terima pasien yang sesuai
dengan standar pelayanan yang tepat guna
meningkatkan mutu pelayanan.

2. Kurangnya pemahaman 2. Bersama dengan kepala ruangan


sebagian perawat tentang mengadakan/ membuat SOP untuk ditempel
pentingnya SOP dalam di dinding.
melakukan tindakan serta
Tujuan :
tidak adanya SOP dalam
bentuk tertulis dan Sebagai standar/acuan bagi perawat dalam
tertempel di dinding melakukan tindakan perawatan sebagai
wujud profesionalisme seorang perawat.

3. Pengadaan identitas 3. Mengusulkan kepada kepala ruangan


pasien tidak memadai di pengadaan identitas pasien secara
kamar pasien menyeluruh di setiap bed

Tujuan :

Untuk lebih memudahkan dalam pemberian


pelayanan dan mengidentifikasi pasien

4 Pengisian formulir yang 4 Mengusulkan kepada pihak RS atau kepala


diberikan kepada pasien ruangan perawatan bedah agar mengadakan
sebelum pulang untuk formulir terkait dengan pelayanan yang
menilai tingkat kepuasan diberikan kepada pasien untuk
terhadap pelayanan yang menilaitingkat kepuasan pasien.
diberikan
Tujuan :

Untuk menilai tinggkat kepuasan pasien dan


meningkatkan kualitas pelayanan pasien

5. Tidak adanya hak dan 5. Mengusulkan kepada kepala ruangan


kewajiban pasien yang tentang pengadaan hak dan kewajiban
tertempel di dinding pasien
(kamar pasien).
Tujuan :

Agar pasien dapat mengetahui hak dan


kewajibanya selama dirawat di RS.

6. Visi dan misi ruang 6. Mengusulkan pengadaan visi dan misi serta
perawatan bedah belum di tempel diruang perawatan bedah.
ada ditempel pada
Tujuan :
dinding serta kurangnya
sosialiasi oleh kepala Perawat dapat mengetahuai visi dan misi di
ruangan kepada perawat ruangan perawatan bedah, dan dapat
pelaksana bekerja secara optimal.

7. Tidak adanya struktur 7. Mengusulkan kepada kepala ruangan untuk


organisasi ruang pengadaan struktur organisasi di ruang
perawatan bedah secara perawat.
tertulis dan tidak
Tujuan :
terpajang di ruangan
Agar perawat dapat mengetahui dengan
jelas garis koordinasi jabatan masing-
masing.

3) Seleksi alternatif pemecahan masalah


Terdapat 7 alternatif pemecahan masalah yang dirumuskan dengan
pembobotan menggunakan metode CARL, yaitu capability (C)artinya
kemampuan melaksbedahan alternatif, Accesability (A) artinya kemudahan
dalam melaksbedahan alternatif, Readdines (R) artinya kesiapan dalam
melaksbedahan alternatif, dan Leverage (L) artinya daya ungkit alternatif
tersebut dalam menyelesaikan dengan memberikan rentang nilai dari 1 5
yaitu angka 5 = sangat mampu, 4 = mampu, 3 = cukup mampu, 2 = kurang
mampu, 1 = tidak mampu.
Seleksi alternatif pemecahan masalah

No Alternatif pemecahan masalah C A R L Total

1 Melakukan Role model MPKP 5 5 5 5 625


(timbang terima, pre dan post
conference, serta Ronde keperawatan)
(pembuatan video role model)

2 Bersama dengan kepala ruangan 5 5 5 4 500


mengadakan/membuat SOP untuk
ditempel di dinding.

3 Mengusulkan kepada kepala ruangan 5 4 4 4 320


pengadaan identitas pasien secara
menyeluruh di setiap bed

4 Mengusulkan kepada pihak RS atau 4 4 4 3 192


kepala ruangan perawatan bedah agar
mengadakan formulir terkait dengan
pelayanan yang diberikan kepada
pasien untuk menilaitingkat kepuasan
pasien.

5 Mengusulkan kepada kepala ruangan 4 4 4 4 320


tentang pengadaan hak dan kewajiban
pasien

6 Mengusulkan pengadaan visi dan misi 3 3 3 4 108


serta di tempel diruang perawatan
bedah.

7 Mengusulkan kepada kepala ruangan 3 3 4 4 144


untuk pengadaan struktur organisasi di
ruang perawat.

Melalui pembobotan,maka diperoleh 7 alternatif penyelesaian masalah


dengan urutan prioritasnya sebagai berikut :

a. Melakukan simulasi timbang terima yang sesuai dengan standar pelayanan


yang tepat.
b. Bersama dengan kepala ruangan mengadakan/membuat SOP untuk
ditempel di dinding.
c. Mengusulkan kepada kepala ruangan pengadaan identitas pasien secara
menyeluruh di setiap bed
d. Mengusulkan kepada kepala ruangan tentang pengadaan hak dan
kewajiban pasien
e. Mengusulkan kepada pihak RS atau kepala ruangan perawatan bedah agar
mengadakan formulir terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada
pasien untuk menilaitingkat kepuasan pasien.
f. Mengusulkan kepada kepala ruangan untuk pengadaan struktur organisasi
di ruang perawat.
g. Mengusulkan pengadaan visi dan misi serta di tempel diruang perawatan
bedah.
Setelah diadakan seminar awal, dari tujuh prioritas program kerja, ada 2
program kerja yang disepakati bersama untuk diimplementasikan yaitu
Pengadaan hak dan kewajiban pasien diruang perawatan dan Melakukan Role
model MPKP (timbang terima, pre dan post conference, serta Ronde
keperawatan) (pembuatan video role model) dan ada satu program kerja
tambahan yaitu Mengadakan Asuhan Keperawatan check List, 10 Penyakit
terbanyak untuk ruang perawatan Bedah, anak dan interna. Lima program kerja
yang tidak disepakati beserta dengan alasannya sebagai berikut:

1. Bersama dengan kepala ruangan mengadakan/membuat SOP untuk


ditempel didinding : Program kerja ini tidak diimplementasikan karena
harus melibatkan pihak manajemen rumah sakit dalam pembuatan SOP.
2. Mengusulkan kepada kepala ruangan pengadaan identitas pasien secara
menyeluruh di setiap bed : Program kerja ini tidak dimplementasikan
dengan alasan untuk menjaga privasi pasien dan sekarang yang diterapkan
itu adalah pemasangan gelang berwarna pada setiap pasien.
3. Mengusulkan kepada pihak RS atau kepala ruangan perawatan bedah agar
mengadakan formulir terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada
pasien untuk menilaitingkat kepuasan pasien. Program ini tidak
diimplementasikan karena sudah diadakan dan dilakukan oleh pihak
manajemen rumah sakit dalam kurung waktu tertentu
4. Mengusulkan kepada kepala ruangan untuk pengadaan struktur organisasi
di ruang perawat. Program kerja ini tidak diimplementasikan dengan alasan
harus melalui persetujuan pihak manajemen rumah sakit.
5. Mengusulkan pengadaan visi dan misi ruangan serta di tempel diruang
perawatan bedah. Program kerja ini tidak diimplementasikan dengan alasan
karena harus melalui persetujuan pihak manajemen rumah sakit karena
rumah sakit sekarang berada dalam tahap renovasi.
BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah dilakukan seminar awal manajemen keperawatan di RSUD Prof. Dr.


H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng ditetapkan beberapa rencana program kerja yang
akan di implementasikan oleh mahasiswa profesi Ners Stikes Tanawali persada mitra
bantaeng untuk mengatasi masalah yang telah ditemukan pada waktu pengkajian.

Rencana kegiatan, sasaran, waktu dan tujuan kegiatan, serta penanggung


jawab kegiatan dapat terlihat pada tabel di bawah ini:

RENCANA KEGIATAN ( PLAN OF ACTION ) PROGRAM KERJA

NO Kegiatan Tujuan Sasaran Target P. Jawap


1 Pengadaan hak Agar pasien Ruang 19 24 Mahasiswa
dan kewajiban dapat Instalasi September Ners
pasien mengetahui Perawatan 2016
hak dan
kewajibanya
selama dirawat
di RS.
2 Pengadaan SOP Untuk Ruang 19 24 Mahasiswa
memudahkan Perawatan September Ners
Perawat dalam bedah 2016
melaksanakan
prosedur
keperawatan
secara baik
dan benar.
3 Pelaksanaan Dapat Staff atau 19 24 Mahasiswa
pembuatan meningkatkan Perawat di September Ners
video contoh pengetahuan perawatan 2016
MPKP (Model perawat Bedah
Praktik tentang MPKP
Keperawatan (Model Praktik
Profesional) Keperawatan
seperti timbang Profesional)
terima, ronde kepada pasien
keperawatan, yang sesuai
pre dan post dengan standar
conference pelayanan
pada pasien yang tepat,
guna
meningkatkan
mutu
pelayanan.

Implementasi program kerja dilaksanakan dari tanggal 19 24 September


2016. Masalah yang ditemukan, rencana program kerja untuk mengatasi masalah,
implementasi dari program kerja beserta evaluasinya secara rinci kami jelaskan
sebagai berikut :

1. Pengadaan Hak dan Kewajiban Pasien

Masalah Tidak adanya hak dan kewajiban pasien yang


tertempel di dinding (kamar pasien)

Rencana Program Kerja Mengusulkan kepada kepala ruangan tentang


pengadaan hak dan kewajiban pasien

Tujuan Agar pasien dapat mengetahui hak dan


kewajibanya selama dirawat di RS.

Implementasi Pengadaan Hak-Hak dan kewajiban pasien


dalam bentuk print out dan ditempel didinding.
Evaluasi Print out Hak-hak dan kewajiban pasien dan
ditermpel di ruang perawatan bedah.
Tempat Ruang Perawatan (Perawatan Bedah)
Waktu Tanggal 19 24 September 2016
Penanggung jawab Mahasiswa praktek keperawatan manajemen
Profesi Ners Stikes Tanawali Persada Takalar
Mitra Bantaeng.

2. Pengadaan SOP di Ruang perawatan bedah

Masalah Tidak adanya SOP (Standar Operasional Prosedur)


di Ruang perawatan bedah.

Tujuan Untuk memudahkan Perawat dalam melaksanakan


prosedur keperawatan secara baik dan benar.

Implementasi Mengadakan SOP (EKG dan Section) untuk ruang


perawatan bedah.

Evaluasi Perawat menjadi lebih mudah dalam melakukan


operasional prosedur.

Tempat Ruang Perawatan Bedah (station nurse)

Waktu Tanggal 19 24 September 2016

Penanggungjawab Mahasiswa praktek manajemen keperawatan


Profesi Ners Stikes Tanawali Persada Takalar
Mitra Bantaeng.

3. Melakukan Role Model MPKP (timbang terima, pre dan post conference
serta ronde keperawatan)

Masalah MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional)


seperti timbang terima, ronde keperawatan, pre
dan post conference pada pasien sudah di jalankan
oleh perawat namun belum optimal dan belum
efektif.

Tujuan Dapat meningkatkan pengetahuan perawat tentang


MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional)
kepada pasien yang sesuai dengan standar
pelayanan yang tepat, guna meningkatkan mutu
pelayanan.

Implementasi Melaksanakan pembuatan video contoh role model


MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional)
seperti timbang terima, ronde keperawatan, pre
dan post conference pada pasien.

Evaluasi
Telah dilaksanakan role model MPKP dalam
bentuk TIM (pembuatan video contoh role model
MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional)
seperti timbang terima, ronde keperawatan, pre
dan post conference pada pasien).

Tempat Ruang VIP (Perawatan Neuro), Ners station


Perawatan Neuro dan di ruang Diklat

Waktu Tanggal 28 29 September 2016

Penanggung jawab Mahasiswa praktek keperawatan manajemen


Profesi Ners Stikes Tanawali Persada Takalar
Mitra Bantaeng.

Berdasarkan hasil pengkajian awal dan pengumpulan data yang dilakukan


oleh mahasiswa Praktek Manajemen Keperawatan Profesi Ners Stikes Tanawali
Persada Takalar Mitra Bantaeng dan hasil seminar awal pada tanggal 17
September 2016 di RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng , maka
ditetapkan bersama bahwa akan dilaksanakan Role model MPKP (Model
Praktek Keperawatan Profesional) (pembuatan video contoh role model MPKP
(Model Praktik Keperawatan Profesional) seperti timbang terima, ronde
keperawatan, pre dan post conference pada pasien), yang difasilitasi oleh
mahasiswa praktek Profesi Ners Stikes Tanawali Persada Takalar Mitra Bantaeng
di Ruang (Perawatan Bedah) RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
Role model ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari rencana
kegiatan yang telah disusun bersama untuk mengatasi permasalahan yang
ditemukan di rumah sakit khususnya dibidang keperawatan.
a. Persiapan
Adapun persiapan-persiapan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan
kegiatan ini adalah sebagai berikut :
Konsultasi rencana kegiatan role model MPKP dengan Penanggung
Jawab ruang Perawatan Bedah Anshar, S.Kep.NS.
b. Pelaksanaan
Role model MPKP (dalam bentuk TIM) dilaksanakan selama 2 hari
yakni pada tanggal 28-29 Setember 2016 bertempat di Ruang (Perawatan
Bedah) RSUD. Adapun pihak yang ikut serta dalam Role Model MPKP ini
adalah Kepala Ruangan, Ketua Tim, perawat primer dan asosiet mahasiswa
yang praktek di Ruang Perawatan serta Mahasiswa profesi Ners Stikes
Tanawali Persada Takalar Mitra Bantaeng.

Adapun daftar kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan Role model


MPKP adalah sebagai berikut:

SHIFT KEGIATAN

- Orientasi oleh Kepala Ruangan


- Pre Conference
- Implementasi intervensi keperawatan
PAGI
- Ronde Keperawatan
07.30-
- Pendokumentasian asuhan keperawatan
14.00
- Istirahat secara bergantian
- Evaluasi oleh PP
- Post Conference

A. Tahap Evaluasi
1. Timbang terima, Pre danPost Confrence
Timbang terima, Pre dan Post Conference dilaksanakan setiap hari
selama 2 hari dari tanggal 28-29 September 2016.
a) Input
Peserta yang mengikuti Role model Timbang terima, Pre dan Post
Confrence adalah Kepala Ruangan, Ketua Tim, beberapa perawat,
mahasiswa profesi Ners STIKES Tanawali Persada Takalar Mitra
Bantaeng, dan mahasiswa yang praktek di ruang (perawatan bedah).

b) Proses
a) Dilakukan operan pada setiap pergantian shift oleh PA didampingi PP
dengan isi operan :
- Identitas klien
- Keadaan umum klien
- Masalah klien
- Tindakan yang sudah diberikan
- Rencana intervensi medik dan keperawatan
b) Dilakukan pre conference setelah operan pagi dipimpin PP/Karu dan
diikuti oleh PA shift pagi dengan isi conference rencana intervensi
medik dan keperawatan pada klien.
c) Dilakukan post conference sebelum operan sore dipimpin oleh
PP/Karu dan diikuti oleh PA sift pagi dengan isi conference evaluasi
dan planning / intervensi medik dan keperawatan pada klien.
d) Dilakukan ronde keperawatan.
c) Output
a) Kognitif
Dari hasil Role Model diperoleh hasil bahwa rata-rata perawat mampu
mengisi lembar pengkajian, perencanaan dan implementasi MPKP.
b) Psikomotor
Dari hasil Role Model diperoleh hasil bahwa sebagian besar perawat
mampu melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif
2. Ronde keperawatan
Ronde keperawatan dilakukan pada tanggal 28-29 September 2016

C. Rencana Tindak Lanjut


1. Koordinasi dengan bagian perencanaan RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar
Makkatutu Bantaeng, tentang:
Pengadaan struktur organisasi di ruang perawat
2. Koordinasi dengan perawat dan kepala ruangan dalam memaksimalkan
pelaksanaan model praktek keperawatan professional (MPKP) di Ruang
Perawatan Bedah RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng.
BAB V

PENUTUP

a. Kesimpulan
Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan selama 3
minggu di ruang perawatan bedah, maka disimpulkan sebagai berikut:
1) MPKP belum dilakukan secara maksimal, berhubungan dengan
cara penetapan MPKP yang kurang efektif.
2) Semua program kerja yang dilaksanakan oleh Mahasiswa dapat
berjalan dengan baik, Selama diadakannya Manajemen
keperawatan diruangan bedah RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar
Makkatutu Bantaeng.
b. Saran
1. Pihak Rumah Sakit
a. Diharapkan pengadaan hak-hak dan kewajiban pasien dalam
bentuk tertulis perlu diperhatikan oleh setiap pengelola ruangan
pada khususnya karena mampu meningkatkan pengetahuan
pasien tentang hak-hak dan kewajibannya selama dirawat
sehingga dapat mengontrol pelayanan yang diberikan
diruangan bedah dan berguna agar perawat diruangan dapat
selalu melihat dan mengetahui hak-hak dan kewajiban pasien
selama dirawat sehingga dapat memberikan pelayanan sesuai
yang diharapkan secara profesional.
b. Pengadaan pembuatan SOP untuk memudahkan Perawat dalam
melaksanakan prosedur keperawatan secara baik dan benar.
2. Pihak Institusi
a. Diharapkan kepada pihak institusi kerja sama dengan pihak rumah
sakit untuk membentuk tim MPKP (Model Praktek Keperawatan
Profesional)
b. Bila MPKP sudah diterapkan maka diharapkan kontrol yang intensif
terhadap pelaksanaan diruangan sehingga program MPKP dapat
berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

3. Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa yang akan berpraktek manajemen
Keperawatan di RSUD. PROF. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
dapat melanjutkan rencana yang belum dan sudah dilakukan oleh
mahasiswa praktek sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Muninjaya, A.A.G, 2008, Manajemen Kesehatan, ed 1, EGC : Jakarta

Nursalam, 2007, Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional, ed. 2, Salemba Medika : Jakarta

Nursalam, 2012, Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional, ed. 3, Salemba Medika : Jakarta

Purwanto, A. S. 2009, Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Rumah Sakit, Artikel,


[e-book], diakses pada tanggal 23 Oktober 2015, http://klinis.wordpress.com

Sitorus, R & Yulia, 2010, Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit,
ed. 1, EGC : Jakarta
BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kabupaten Bantaeng

Rabu, 20 September 2016

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed (1 2 Bed 17Bed (3 3 bed (1 19/24x100=70,3%
kosong) kosong) kosong)

2 Siang 2 Bed (1 2 Bed 17Bed (3 3 bed (1 19/24x100=70,3%


kosong) kosong) kosong)

3 Malam 2 Bed (1 2 Bed 17Bed (3 3 bed (1 19/24x100=70,3%


kosong) kosong) kosong)

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (19)
70,3%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 14 15 0,17= 2,55 15 0,14=2,1 15 0,07=1,05
Parsial 5 5 0,27= 1,35 5 0,15= 0,75 5 0,10=0,5

Total - - - -
Jumlah 19 4 3 1
BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kabupaten Bantaeng

Rabu, 21 September 2016

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed 2 Bed 17Bed (2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)
2 Siang 2 Bed 2 Bed 17Bed(2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)
3 Malam 2 Bed 2 Bed 17Bed(2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (22)
91%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 17 17 0,17= 4,59 17 0,14=2,38 17 0,07=1,19

Parsial 5 5 0,27= 1,35 5 0,15= 0,75 5 0,10=0,5

Total - - - -
Jumlah 22 6 3 1
BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kabupaten Bantaeng

Rabu, 22 September 2016

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed 2 Bed 17Bed (2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)
2 Siang 2 Bed 2 Bed 17Bed (2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)
3 Malam 2 Bed 2 Bed 17Bed (2 3 bed 22/24x100=91%
kosong)

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (22)
91%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 15 15 0,17= 2,55 15 0,14= 2,1 15 0,07= 1,05

Parsial 7 7 0,27= 1,89 7 0,15= 1.05 7 0,10= 0,7

Total - - - -
Jumlah 22 5 3 1
BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kabupaten Bantaeng

Rabu, 23 September 2016

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed 2 Bed 17Bed 3 bed 24/24x100=100%

2 Siang 2 Bed 2 Bed 17Bed 3 bed 24/24x100=100%

3 Malam 2 Bed 2 Bed 17Bed 3 bed 24/24x100=100%

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (24)
100%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 15 15 0,17= 2,55 15 0,14= 2,1 15 0,07= 1,05

Parsial 9 9 0,27= 2,43 9 0,15= 1,35 9 0,10= 0,9

Total - - - -
Jumlah 24 5 3 1
BOR Pasien di Ruang Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu
Kabupaten Bantaeng

Rabu, 24 September 2016

No Sift Kelas I Kelas II Kelas III VIP BOR


1 Pagi 2 Bed(1 2 Bed(2 17Bed(3 3 bed(1 17/24x100=70,8%
kosong) kosong) kosong) kosong)

2 Siang 2 Bed(1 2 Bed(2 17Bed(3 3 bed(1 17/24x100=70,8%


kosong) kosong) kosong) kosong)

3 Malam 2 Bed(1 2 Bed(2 17Bed(3 3 bed(1 17/24x100=70,8%


kosong) kosong) kosong) kosong)

Berdasarkan table diatas dari hasil pengkajian BOR di ruangan adalah (17)
70,8%, gambaran kapasitas tempat tidur ruang perawatan bedah yaitu 24 tempat tidur

Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat Di Ruang


Perawatan Bedah Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng

Tingkat ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga


TK.ktg Jmlh pasien Pagi Sore Malam
Minimal 14 14 0,17= 2,38 14 0,14= 1,96 14 0,07= 0,98
Parsial 3 3 0,27= 0,81 3 0,15= 0,45 3 0,10= 0,3

Total - - - -
Jumlah 17 3 2 1
RUANG PERAWATAN BEDAH
PEMBAGIAN/WAWANCARA KUESIONER
IMPLEMENTASI HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DAN SOP
KEGIATAN KERJA LAPORAN DAN MPKAP