Anda di halaman 1dari 23

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama : AS

Jenis Kelamin : Laki laki

Usia : 16 tahun

Alamat : Jl. Letjen S. Parman

Pekerjaan : Pelajar

Agama : Islam

Kunjungan RS : 16 Desember 2016

II. ANAMNESIS

Diambil dari Autoanamnesis pada tanggal 16 Desember 2016 pukul 20.00 WIB

Keluhan Utama :

Kaku pada jari-jari tangan

Keluhan Tambahan :

Sulit membuka mulut

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke IGD RSUD Agoesdjam dengan keluhan kaku pada jari-jari tangan sejak 4 jam
SMRS. Selain itu, pasien juga mengeluh sulit untuk membuka mulut, dan juga sakit kepala yang

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 1
berdenyut. Sulit menelan disangkal. Sesak nafas disangkal. Kejang disangkal. BAB dan BAK
normal. Satu hari sebelumnya, pasien mengaku telapak tangan kiri tertusuk paku berkarat saat
terjatuh ketika bermain bola, luka dicuci dan diberi betadine oleh pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Hipertensi : Disangkal

Alergi : Disangkal

Epilepsi : Disangkal

Operasi : Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

Hipertensi : Disangkal

Diabetes Melitus : Disangkal

Alergi : Disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang


Kesadaran : Compos Mentis
GCS : 4E 5V 6M
Tanda vital :
o TD : 110/70 mmHg
o Nadi : 100x/menit
o RR : 20x/ menit
o Suhu : 36.9 C

Pemeriksaan Sistem

Kepala : Normocephal, rambut hitam, risus sardonicus (-)

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 2
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)

Telinga : Normotia, abses pre/retroaurikula (-/-), nyeri tarik aurikula (-/-), nyeri tekan tragus
dan mastoid (-/-)

Mulut : Mukosa mulut kering (-), sianosis (-), trismus(+) 2 jari

Leher : Tidak ada benjolan, trakea ditengah, kaku kuduk (-)

Thorax :

Paru

I : Simetris saat insipasi dan ekspirasi

P: Tidak tedapat benjolan, krepitasi (-), stem fremitus kanan dan kiri sama kuat

P: Sonor diseluruh lapang paru

A: Terdengar vesikuler diseluruh lapang paru, ronki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

I: Tidak tampak pulsasi iktus kordis

P: Iktus kordis teraba di ICS 5 MCL Sinistra, 1 jari, tidak kuat angkat

P: Batas jantung kanan dan kiri normal

A: Bunyi jantung I dan II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal, distensi (-), opistotonus (-)

Ektremitas : Akral hangat, edem (-), CRT < 2

Atas : kekuatan normal, normotonus, digiti manus kaku (+)

Bawah : kekuatan normal, normotonus

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 3
Genital : Tidak dilakukan

Status Lokalisata

Palmar manus dextra : Terdapat vulnus punctum

Status Neurologis

Kesadaran kuantitatif : GCS (E4 V6M5)

Orientasi :Baik

Refleks Fisiologis

Pemeriksaan Kanan Kiri

Sup dan Inf

Bisep + +

Trisep + +

Patela + +

Achiles + +

Refleks Patologis : Babinski -/-

Tanda Rangsang Meningeal

Kaku kuduk :-

Brudzinski I : -/-

Brudzinski II : -/-

Kernig : -/-

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 4
Laseq : -/-

Peningkatan Tekanan Intrakranial

Penurunan Kesadaran : (-)

Muntah proyektil : (-)

Sakit kepala hebat : (-)

Edema papil : tidak dilakukan pemeriksaan

Saraf Kranial

Nervus I Olfaktorius : Normosmia

Nervus II Optikus

Kanan Kiri

Ketajaman penglihatan Baik Baik

Menilai warna Baik Baik

Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Papil Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Nervus III Okulomotorius

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 5
Kanan Kiri

Ptosis - -

Gerakan mata ke medial + +

Gerakan mata ke atas + +

Gerakan mata ke bawah + +

Bentuk Pupil Bulat, isokor 3mm Bulat,isokor 3mm

Reflek Cahaya Langsung + +

Reflek Cahaya Tidak Langsung + +

Reflek Akomodatif + +

Strabismus Divergen - -

Diplopia - -

Nervus IV Troklearis

Kanan Kiri

Gerakan mata ke lateral bawah + +

Strabismus konvergen - -

Diplopia - -

Nervus V Trigeminus

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 6
Bagian Motorik

Menggigit +

Membuka mulut +, trismus 2 jari

Bagian Sensorik

Ophtalmik Baik

Maxilla Baik

Mandibula Baik

Nervus VI Abdusen

Kanan Kiri

Gerakan mata ke lateral + +

Strabismus konvergen - -

Diplopia - -

Nervus VII Fasialis

Kanan Kiri

Fungsi Motorik

Mengerutkan dahi + +

Mengangkat alis + +

Memejamkan mata + +

Menyeringai + +

Mengembungkan pipi + +

Laporan Kasus Tetanus bibir


Mencucurkan + +
Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
Reflek Glabella
RSUD AgoesdjamKetapang - - Page 7

Tanda Chovstek - -
Nervus VIII Vestibulokoklearis

Kanan Kiri

Mendengar suara berbisik + +

Tes Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tes Weber Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tes Swabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Nervus IX dan X Glossofaringeus dan Vagus

Arkus faring Sulit dinilai

Uvula Sulit dinilai

Refleks muntah Tidak dilakukan

Disartria -

Nervus XI Aksesorius

Mengangkat bahu &Menoleh

Kanan +

Kiri +

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 8
Nervus XII Hipoglosus

Menjulurkan lidah Lurus kearah depan

IV. Atrofi -

Artikulasi Baik

Tremor -

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah rutin: (16 Desember 2016)

o
Hb : 14,4 gr/dl
o
Ht : 35,4 vol%
o
Leukosit : 8.700/mm3
o
Trombosit : 352.000/mm3
o
Eritrosit : 4,46 juta/mm3

V. RESUME

Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 16 tahun dengan keluhan kaku pada jari-jari tangan
sejak 4 jam SMRS. Selain itu, pasien juga mengeluh sulit untuk membuka mulut, dan juga sakit
kepala yang berdenyut. Pasien mengaku telapak tangan kiri tertusuk paku berkarat saat terjatuh
ketika bermain bola, luka dicuci dan diberi betadine oleh pasien.

Tanda vital dalam batas normal. Trismus (+) 2 jari, kaku pada digiti manus dextra dan sinistra,
dan terdapat vulnus punctum pada palmar manum dextra

VI. DIAGNOSA KERJA

Tetanus

VII. DIAGNOSIS BANDING

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 9
VIII. PENATALAKSANAAN

Medikamentosa :

IVFD NaCL 0,9% 20 tpm

Inj Ceftriaxone 1gr/24 jam

Inj Metronidazole 500mg/8 jam

Inj Ranitidin 1 ampul/12 jam

Inj Santagesic 1 ampul/ kp nyeri

Tetagam 3000 IU IM

Nonmedikamentosa

Isolasi di kamar gelap dan minimalisasi suara untuk menghindari rangsang

Edukasi mengenai penyakit serta penatalaksanaan

IX. PROGNOSIS

Ad Vitam : Bonam

Ad Sanationam : Bonam

Ad Functionam : Bonam

X. FOLLOW UP

Hari/ tanggal S O A P

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 10
Sabtu, 17-12- Sakit TD : 110/70 mmHg Tetanus - IVFD NaCl 0,9% 20
2017 kepala, N : 88x/menit tpm
mual RR :20x/m - Inj Ceftriaxone
T :36,60C 1gr/24 jam
Trismus (-)
- Inj Metronidazole
Kaku pada jari (-)
500mg/8 jam

- Inj Ranitidin 1
ampul/12 jam

- Inj Santagesic 1
ampul/ kp nyeri

Minggu, 18- Tidak ada TD : 100/70 mmHg Tetanus - terapi lanjut


12-2017 keluhan N : 80x/menit - pasien meminta
RR :18x/m untuk dirujuk
T :36,40C
Trismus (-)
Kaku pada jari (-)

TINJAUAN PUSTAKA

TETANUS

1. Definisi
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan
oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat.

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 11
Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan
tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani.
Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890, diketemukan toksin
seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin, yang diisolasi dari tanah anaerob
yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan
pencegahan dari tetanus. Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka
pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat
(Tetanus Neonatorum ).

2. Etiologi

Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif, Clostridium tetani. Tetanus tidak
ditransmisikan dari orang ke oranng, infeksi terjadi ketika spora Clostridium tetani masuk ke
luka akut karena trauma, operasi dan injeksi, atau lesi kulit kronis. Spora bakteri ini dijumpai
pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang
terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan
beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang, ia akan memasuki tubuh penderita tersebut,
lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. Pada negara belum berkembang, tetanus
sering dijumpai pada neonatus, bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak
baik, tetanus ini dikenal dengan nama tetanus neonatorum.

3. Patogenesis

Spora kuman tetanus yang ada di lingkungan dapat berubah menjadi bentuk vegetatif
yang menghasilkan tetanospasmin pada keadaan tekanan oksigen rendah, nekrosis jaringan atau
berkurangnya potensi oksigen. Masa inkubasi dan beratnya penyakit terutama ditentukan oleh
kondisi luka. Beratnya penyakit terutama berhubungan dengan jumlah dan kecepatan produksi
toksin serta jumlah toksin yang mencapai susunan saraf pusat.

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 12
Kuman ini dapat membentuk metaloexotosin tetanus, yang terpenting untuk manusia
adalah tetanospasmin. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion
spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke
motor endplate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel
saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP.

Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf
tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga
mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi yaitu GABA dan glisin, sehingga terjadi eksitasi
terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter
(trismus), pada saat toxin masuk ke sumsum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada
extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulai timbul kejang.

Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang
umum yang spontan. Tetanospasmin pada sistem saraf otonom juga berpengaruh, sehingga
terjadi gangguan pada pernafasan, metabolisme, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran
kemih, dan neuromuskular. Spame larynx, hipertensi, gangguan irama jantung, hiperpirexi,
hyperhydrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom, yang dulu jarang dilaporkan
karena penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis
tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus
dikenali dan dikelola dengan teliti.

Mekanisme kerja toksin tetanus:

1. Jenis toksin
Clostridium tetani menghasilkan tetanolisin dan tetanospsmin. Tetanolisin mempunyai efek
hemolisin dan protease, pada dosis tinggi berefek kardiotoksik dan neurotoksik. Sampai saat ini
peran tetanolisin pada tetanus manusia belum diketahui pasti. Tetanospasmin mempunyai efek

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 13
neurotoksik, penelitian mengenai patogenesis penyakit tetanus terutama dihubungkan dengan
toksin tersebut.

2. Toksin tetanus dan reseptornya pada jaringan saraf

Toksin tetanus berkaitan dengan gangliosid ujung membran presinaptik, baik pada
neuromuskular junction, mupun pada susunan saraf pusat. Ikatan ini penting untuk transport
toksin melalui serabut saraf, namun hubungan antara pengikat dan toksisitas belum diketahui
secara jelas. Lazarovisi dkk (1984) berhasil mengidentifikasikan 2 bentuk toksin tetanus yaitu
toksin A yang kurang mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan sel saraf namun tetap
mempunyai efek antigenitas dan biotoksisitas, dan toksin B yang kuat berikatan dengan sel saraf.

3. Kerja toksin tetanus pada neurotransmitter


Tempat kerja utama toksin adalah pada sinaps inhibisi dari susunan saraf pusat, yaitu dengan
jalan mencegah pelepasan neurotransmitter inhibisi seperti glisin, Gamma Amino Butyric Acid
(GABA), dopamin dan noradrenalin. GABA adalah neuroinhibitor yang paling utama pada
susunan saraf pusat, yang berfungsi mencegah pelepasan impuls saraf yang eksesif. Toksin
tetanus tidak mencegah sintesis atau penyimpanan glisin maupun GABA, namun secara spesifik
menghambat pelepasan kedua neurotransmitter tersebut di daerah sinaps dangan cara
mempengaruhi sensitifitas terhadap kalsium dan proses eksositosis.

4. Gejala Klinis

Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa
minggu ). Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni :

1. Tetanus Lokal

2. Cephalic Tetanus

3. Generalized tetanus (Tctanus umum)

Selain itu ada lagi pembagian berupa neonatal tetanus

Karakteristik dari tetanus :

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 14
Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari.

Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya

Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.

Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. Kemudian timbul

kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw ) karena spasme Otot masetter.

Kejang otot berlanjut ke kuduk kaku ( opistotonus , nuchal rigidity )

Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas, sudut mulut

tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .

Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai dengan eksistensi,

lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik.

Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan

dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ).

A. Tetanus lokal

Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah tempat
dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus
lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa
progressif dan biasanya menghilang secara bertahap.

Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang
ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai sebagai prodromal
dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama dijumpai sesudah pemberian
profilaksis antitoksin.

B. Chepalic Tetanus
Laporan Kasus Tetanus
Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 15
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar 1 2
hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India ), luka pada daerah muka
dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung. Tetanus cephalic dicirikan oleh
lumpuhnya saraf kranial VII paling sering terlibat. Tetanus Ophthalmoplegic ialah tetanus yang
berkembang setelah menembus luka mata dan luka dalam dengan kelumpuhan dari safar kranial
III dan adanya ptosis. Selain itu bisa juga kelumpuhan dari N. IV, IX, X, XI, dapat sendiri-sendiri
maupun kombinasi dan menetap dalam beberapa hari bahkan berbulan-bulan. Tetanus chepalic
dapat berkembang menjadi tetanus umum. Pada umumnya prognosanya jelek.

C. Generalized Tetanus

Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak
dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus merupakan
gejala utama yang sering dijumpai ( 50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter,
bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan
menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka,
opistotonus ( kekakuan otot punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot
pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan
retensi urine,kompressi frak tur dan pendarahan didalam otot. Kenaikan temperatur biasanya
hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi,
tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa
ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis.

Derajat penyakit tetanus menurut modifikasi dari klasifikasi Abletts :

a. Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, kekakuan umum, spasme tidak ada, disfagia tidak ada
atau ringan, tidak ada gangguan respirasi.
b. Derajat II (sedang)
Trismus sedang dan kekakuan jelas, spasme hanya sebentar, takipneu dan disfagia
ringan

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 16
c. Derajat III (berat) Trismus berat, otot spastis, spasme spontan, takipneu, apnoeic
spell, disfagia berat, takikardia dan peningkatan aktivitas sistem otonomi
d. Derajat IV (sangat berat)
Derajat III disertai gangguan otonomik yang berat meliputi sistem kardiovaskuler,
yaitu hipertensi berat dan takikardi atau hipotensi dan bradikardi, hipertensi berat atau
hipotensi berat. Hipotensi tidak berhubungan dengan sepsis, hipovolemia atau
penyebab iatrogenik.
D. Neonatal tetanus

Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses
pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang
tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani, maupun
penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang telah terkontaminasi.

Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang tidak
steril,merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus.

5. Diagnosis

Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa :
1.Gejala klinik : Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus ( sardonic
smile ).

2. Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.

3. Kultur: C. tetani (+).

4. Lab : tidak ada yang khas

6. Diagnosis Banding

PENYAKIT GAMBARAN DIFFERENTIAL

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 17
INFEKSI
Meningoencephalitis Demam, trismus tidak ada, sensorium depresi, abnormal CSF
Polio Trismus tidak ada, paralisa tipe flaccid, abnormal CSF
Rabies Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya oropharingeal spasme
Lesi oropharyngeal Hanya local, regiditas seluruh tubuh atau spasme tidak ada
Peritonitis Trismus atau spasme seluruh tubuh tidak ada

7. Tatalaksana

A. Umum
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran toksin,
mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai pulih.
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
Membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik), membuang
benda asing dalam luka serta kompres dengan H202, dilakukan 1-2 jam setelah ATS dan
pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan
menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan personde atau parenteral.

3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap penderita

4. Oksigen, pernafasan buatan dan trakeostomi bila perlu.

5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.

B. Obat- obatan

Antibiotika :

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 18
Diberikan parenteral Penisilin 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan tetanus
pada anak dapat diberikan penisilin dosis 50.000 Unit/KgBB/12 jam secara IM diberikan selama
7-10 hari. Bila sensitif terhadap penisilin, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti
tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam
dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia penisilin intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000
unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.

Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk
toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad
spektrum dapat dilakukan.

Bila penderita alergi penisilin :

Tetrasiklin : 30-50 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis

Eritromisin : 50 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis, selama 10 hari.

Metronidazole lebih dipilih (dosis 500 mg/6 jam secara IV atau PO)

Anti tetanus toksin

Sebelum pemberian antitoksin harus dilakukan anamnesa apakah ada riwayat alergi, tes
kulit. Ini dilakukan karena antitoksin berasal dari serum kuda, yang bersifat heterolog
sehingga mungkin terjadi syok anafilaktik.

Dosis ATS yang diberikan ada berbagai pendapat. Berhrmann (1987) dan Grossman
(1987) menganjurkan dosis 50.000-100.000 IU yang diberikan setengah lewat i.v. dan
setengahnya i.m. pemberian lewat i.v.diberikan selama 1-2 jam. Di FKUI , ATS diberikan
dengan dosis 20.000 IU selama 2 hari.

Antitoksin lainnya

Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan dosis 3000-
6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 19
TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang mana ini dapat
mencetuskan reaksi alergi yang serius.

Tetanus toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan pemberian
antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan
secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap tetanus selesai.

Antikonvulsan
Tabel : JENIS ANTIKONVULSAN
___________________________________________________________
Jenis Obat Dosis Efek Samping
________________________________________________________
Diazepam 0,5 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM) Stupor, Koma
Meprobamat 300 400 mg/ 4 jam (IM) Tidak Ada
Klorpromasin 25 75 mg/ 4 jam (IM) Hipotensi
Fenobarbital 50 100 mg/ 4 jam (IM) Depressi pernafasan
________________________________________________________
Obat yang lazim digunakan ialah :
- Diazepam. Bila penderita datang dalam keadaan kejang maka diberikan dosis 0,5
mg/kgbb/kali i.v. perlahan-lahan dengan dosis optimum 10mg/kali diulang setiap kali
kejang. Kemudian diikuti pemberian diazepam peroral- (sonde lambung) dengan
dosis 0,5/kgbb/kali sehari diberikan 6 kali.
- Dosis maksimal diazepam 240mg/hari. Bila masih kejang (tetanus yang sangat berat),
harus dilanjutkan dengan bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat di
tingkatkan sampai 480mg/hari dengan bantuan ventilasi mekanik, dengan atau tenpa
kurarisasi. Dapat pula dipertimbangkan penggunaan magnesium sulfat, dila ada
gangguan saraf otonom.
- Fenobarbital. Dosis awal : 1 tahun 50 mg i.m.; 1 tahun 75 mg i.m. Dilanjutkan dengan
dosis oral 5-9 mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis.
Laporan Kasus Tetanus
Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 20
- Largactil. Dosis yang dianjurkan 4 mg/kgbb/hari dibagi dalam 6 dosis.
Berdasarkan tingkat penyakit tetanus

a. Tetanus ringan

Penderita diberikan penaganan dasar dan umum, meliputi pemberian antibiotik,


HTIG/anti toksin, diazepam, membersihkan luka dan perawatan suportif seperti diatas.

b.Tetanus sedang

Penanganan umum seperti diatas. Bila diperlukan dilakukan intubasi atau trakeostomi
dan pemasangan selang nasogastrik delam anestesia umum. Pemberian cairan parenteral, bila
perlu diberikan nutrisi secara parenteral.

c. Tetanus berat

Penanganan umum tetanus seperti diatas. Perawatan pada ruang perawatan intensif,
trakeostomi atau intubasi dan pemakaian ventilator sangat dibutuhkan serta pemberikan cairan
yang adekuat. Bila spasme sangat hebat dapat diberikan pankuronium bromid 0,02 mg/kgBB IV
diikuti 0,05 mg/kg/dosis diberikan setiap 2-3 jam. Bila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan
dapat diberikan beta bloker seperti propanolol

8. Komplikasi

- Pada saluran pernapasan


Oleh karena spasme otot-otot pernapasan dan spasme otot laring dan seringnya
kejang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia. Karena akumulasi sekresi saliva serta
sukar menelan air liur, makanan dan minuman sehingga dapat terjadi pneumonia
aspirasi, juga atelektasis akibat obstruksi oleh sekret.

- Pada kardiovaskular
Komplikasi berupa aktivitas simpatis meningkat antara lain berupa takikardia,
hipertensi, vasokonstriksi perifer dan rangsangan miokardium.
- Pada tulang dan otot
Pada otot karena spasme yang berkepanjangan bisa terjadi perdarahan dalam otot.
Pada tulang dapat terjadi fraktur columna vertebralis akibat kejang yang terus

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 21
menerus terutama pada anak dan orang dewasa, beberapa peneliti melaporkan juga
dapat miositis ossifikans sirkumskripta.
- Komplikasi yang lain :
1. Laserasi lidah akibat kejang
2. Dekubitus karena penderita berbaring satu posisi saja
3. Panas yang tinggi karena infeksi sekunder atau toksin yang menyebar luas dan
mengganggu pusat oengatur suhu.

9. Prognosis

Rata-rata angka kematian akibat tetanus berkisar antara 25-75%, tetapi angka mortalitas dapat diturunkan
hingga 10-30 persen dengan perawatan kesehatan yang modern. Banyak faktor yang berperan penting dalam
prognosis tetanus. Diantaranya adalah masa inkubasi, masa awitan, jenis luka, dan keadaan status imunitas pasien.
Semakin pendek masa inkubasi, prognosisnya menjadi semakin buruk. Semakin pendek masa awitan, semakin
buruk prognosis. Letak, jenis luka dan luas kerusakan jaringan turut memegang peran dalam menentukan
prognosis. Jenis tetanus juga memengaruhi prognosis. Tetanus neonatorum dan tetanus sefalik harus dianggap
sebagai tetanus berat, karena mempunyai prognosis buruk. Sebaliknya tetanus lokal yang memiliki prognosis baik.
Pemberian antitoksin profilaksis dini meningkatkan angka kelangsungan hidup, meskipun telah terjadi tetanus.

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 22
Daftar Pustaka

Adams. R.D,et al : Tetanus in :Principles of New'ology,McGraw-Hill,ed 1997, 1205-1207.

Behrman.E.Richard : Tetanus, chapter 193, edition 15 th, Nelson, W.B.Saunders Company, 1996,
815 -817.

Harrison: Tetanus in :Principles of lnternal Medicine, volume 2, ed. 13 th, McGrawHill. Inc,New
York, 1994, .577-579.

Hendarwanto: llmu Penyakit Dalam, jilid 1, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 1987, 49- 51.

WHO Technical Note. Januari, 2010. Current recommendations for treatment of tetanus during
humanitarian emergencies.

Laporan Kasus Tetanus


Program Dokter Internsip Periode 2016 2017
RSUD AgoesdjamKetapang Page 23