Anda di halaman 1dari 4

Parameter Fisika Perairan : Kecerahan

Kecerahan
Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada
suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari
yang jauh ke dalam perairan. Begitu juga sebaliknya. Kecerahan adalah sebagian cahaya yang
diteruskan ke dalam air yang dinyatakan dalam % dari beberapa panjang gelombang di daerah
spektrum yang terlihat cahaya melalui lapisan 1 meter jauh agak lurus pada permukaan air.
Apabila kecerahan tidak baik, berarti perairan itu keruh. Kekeruhan ( turbidity ) air sangat
berpengaruh terhadap ikan. Kekeruhan terjadi karena plankton, humus dan suspensi lumpur, tau
bisa juga diakibatkan oleh suspensi hidroksida besi. Kekeruhan perairan dapat menghambat
pertumbuhan ikan budidaya baik langsung maupun tidak langsung.
Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen
yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan
untuk proses fotosintesis tumbuhan akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih.
a) Ada beberapa warna-warna air karena beberapa sebab:
Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang
bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.
b) Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai kuning di
Cina.
c) Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat pantai yang memantulkan
warna hijau dan juga karena adanya planton-planton dalam jumlah besar.
d) Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es seperti di laut kutub utara dan
selatan.
e) Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang mengeluarkan sinar-sinar fosfor seperti
di laut ambon.
f) Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam
g) Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil berwarna merah yang terapung-
apung.
Alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan air adalah seichi disk, yaitu
berupa piringan yang diberi warna hitam putih dan dihubungkan dengan tongkat/tali pegangan
yang mempunyai garis-garis skala. Cara penggunaan alat ini adalah dengan mencelupkannya ke
dalam perairan secara perlahan sampai pada kedalam dimana seichi disk mulai tidak kelihatan,
kemudian tingkat kecerahan air dapat terbaca pada skala yang telah ada. Pengukuran kecerahan
air sebaiknya dilakukan pada saat siang hari dan cuaca relatif cerah. Pada perairan kecerahan air
erat hubungannya dan berbanding terbalik dengan kelimpahan plankton terutama jenis
phytoplankton yang berada di dalam perairan tersebut, atau dengan kata lain semakin tinggi
tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton akan semakin rendah dan sebaliknya
semakin rendah tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton di perairan tersebut
semakin tinggi.
Phytoplankton merupakan jenis tanaman berukuran renik yang mempunyai zat hijau daun
(chlorophyl) dan selalu melakukan fotosintesa dengan bantuan sinar matahari. Produktivitas
plankton akan meningkat dengan semakin meningkatnya intensitas matahari ke dalam perairan,
sehingga kelimpahan plankton akan semakin meningkat pula dan akan mengurangi tingkat
penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Berdasarkan uraian tersebut maka kecerahan air
merupakan suatu variable dari kelimpahan plankton dan tingkat intensitas matahari.
Cahaya
Disebutkan bahwa cahaya merangsang dan menarik ikan (fototaxis positif), sifat fototaxis
ini dapat berubah ubah tergantung kepada tingkat hidup dan kedewasaan jenis ikan itu sendiri
(Brand, 1964).
Ikan tertarik oleh cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal
region pada otak). Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaxis. Dengan demikian,
ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fhototaxis, yang umumnya adalah ikan-ikan
pelagis.
Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya, antara lain adalah penyesuaian
intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Dengan demikian,
kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang
sangat senang pada intensitas cahaya yang rendah, tetapi ada pula ikan yang senang terhadap
intensitas cahaya yang tinggi.
Menurut Nikonorov (1975), menyatakan bahwa tingkah laku ikan di bawah sumber
cahaya lampu, adalah tidak normal karena ikan tidak dapat meninggalkan sumber cahaya lampu,
bahkan kadang kadang terdapat keganjilan, misalnya ada beberapa tingkah laku ikan yang
terlihat mendekati sumber cahaya, kemudian berenang cepat sekali sambil berputar putar
mengelilingi sumber cahaya, sesudah itu berlompatan ke atas permukaan.
Menurut Ben Yami, M (1976) bahwa adanya cahaya bulan dalam light
fishingmemberikan pengaruh negatif, cahaya bulan membuat ikan menjadi enggan, bahkan tidak
lagi tertarik pada cahaya lampu. Hal ini disebabkan karena penerangan cahaya lampu berkurang
oleh adanya cahaya bulan,
Laevastu dan Hela (1970), menyatakan bahwa dengan diketahui sifat fototaxis, maka
biasanya penangkapan ikan akan lebih efektif di lakukan sebelum tengah malam, hal ini
disebabkan adanya memanjang dan memendekannya sel sel kerucut retina mata ikan. Jenis
jenis ikan yang mudah ditarik dan dikumpulkan dengan cahaya lampu antara lain : Ikan
Lemuru (Sardinella longiceps), Ikan Layang (Decapterus russeli), Ikan Kembung(Rastrelliger,
sp), Cumi cumi (Loligo sp) dan ikan lainnya.
Subani (1972) menyatakan bahwa pada waktu bulan purnama tingkat keberhasilan
penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya lampu biasanya rendah. Hal ini karena cahaya
terbagi rata, padahal penangkapan ikan dengan lampu diperlukan keadaan gelap guna menarik
ikan ikan ke titik yang terang.
Menurut laevastu dan Hela (1970) menyatakan bahwa ikan ikan pelagis hanya
berkumpul pada suatu titik cahaya selama 1 2 jam setelah itu ikan akan menyebar menjauhi
cahaya. Hal ini disebabkan karena ikan ikan sudah kenyang atau juga adanya
pemangsa (predator) yang berputar putar mengililingi cahaya lampu serta berlompatan ke
permukaan perairan.
Menurut Nomura dan Yamazaki (1977), bahwa dengan menggunakan cahaya lampu
sebagai pemikat ikan maka ;
a. Nelayan tidak sulit mencari gerombolan ikan.
b. Hasil tangkapan cenderung lebih pasti jumlahnya, dan meningkat.
c. Menghemat waktu dan lain lainnya.
Usemahu dan Tomasila (2003) menyatakan agar penangkapan dengan cahaya lampu
dapat memberikan hasil dan daya guna yang maksimal diperlukan syarat syarat antara lain
sebagai berikut ;
a) Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh.
b) Ikan ikan tersebut hendaklah akan tertangkap (catchable area).
c) Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan ikan tersebut tetap berada di san
pada suatu jangka waktu tertentu, dan
d) Sekali ikan terkumpul pada sumber cahaya hendaklah ikan ikan tersebut tidak
melarikan diri ataupun menyebarkan diri (berserakan).

Pengaruh cahaya
Ikan bersifat fototaktik (responsif terhadap cahaya) baik secara positif maupun negatif.
Banyak ikan yang tertarik pada cahaya buatan pada malam hari, satu fakta yang digunakan
dalam penangkapan ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga dipengaruhi oleh faktor
lingkungan lain dan pada beberapa spesies bervariasi terhadap waktu dalam sehari. Secara
umum, sebagian besar ikan pelagis naik ke permukaan sebelum matahari terbenam. Setelah
matahari terbenam, ikan-ikan ini menyebar pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan lebih
dalam setelah matahari terbit. Ikan demersal biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar
selanjutnya naik dan menyebar pada kolom air pada malam hari.
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang
tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya
hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik
yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku
larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam hari
dibandingkan pada siang hari. (Reddy, 1993).