Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH FARMAKOTERAPI

KOLINERGIK

Nama kelompok:

Amelia Lestari

Mirajunnisa

Sauda Riza A

Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang Tahun Ajaran


2015
BAB I
PENDAHULUAN

Sistem saraf pusat (SSP), yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan
merupakan Sistem saraf utama dari tubuh. Sistem saraf tepi, terletak diluar otak dan
medula spinalis, terdiri dari 2 bagian; otonom dan somatic. Setelah ditafsirkan oleh
SSP, Sistem saraf tepi menerima rangsangan dan memulai respons terhadap
rangsangan itu.
Sistem saraf otonom (SSO), juga disebut sebagai sistem saraf visceral, bekerja
pada otot polos dan kelenjar. Fungsi dari SSO adalah mengendalikan dan mengatur
jantung, Sistem pernapasan, saluran gastrointestinal, kandung kemih, mata dan
kelenjar. SSO mempersarafi (bekerja pada) otot polos, tetapi SSO merupakan sistem
saraf involunter yangkita tidak atau sedikit bisa dikendalikan. Kita bernapas jantung
kita berdenyut, dan peristaltik terjadi tanpa kita sadari. Tetapi, tidak seperti Sistem
saraf otonom, sistem saraf somatik merupakan sistem volunter yang mempersarafi
otot rangka, yang dapat kita kendalikan.
Dua peringkat neuron dalam komponen otonom pada sistem saraf perifer adalah:
1. Neuron aferen, atau sensorik, dan
2. Neuron eferen, atau motorik
Neuron aferen mengirimkan impuls ke SSP, dimana impuls itu diinterprestasikan.
Neuron eferen menerima impuls (informasi) dari otak dan meneruskan impuls ini
melalui medula spinalis ke sel-sel organ efektor. Jalur eferen dalam sistem saraf
otonom dibagi menjadi dua cabang; saraf simpatis dan parasimpatis, yang
keseluruhannya disebut sebagai sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis

System saraf pusat

Otak Medula spinalis


Sistem saraf tepi

Sistem saraf Sistem saraf somatik


otonom

Sistem saraf Sistem saraf


simpatis parasimpatis

Pembagian dari Sistem saraf tepi

Sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis bekerja pada organ-organ yang
sama tetapi menghasilkan respons yang berlawanan agar tercapainya homeostasis
(keseimbangan). Kerja obat-obat pada sistem saraf simpatis dan parasimpatis dapat
berupa respons yang merangsang atau menekan.
Jaringan organ tubuh Respons simpatis Respons parasimpatis
Dilatasi pupil Kontriksi pupil

mata
Dilatasi bronkiolus Kontriksi bronkiolus dan
sekresi bertambah
paru-paru
Denyut jantung meningkat Denyut jantung menurun

jantung
Kontriksi pembuluh darah Dilatasi pembuluh darah

pembuluh darah
Relaksasi otot polos dari Peristaltik meningkat
saluran gastrointestinal
gastrointestinal
Relaksasi otot kandung Kontraksi kandung kemih
kemih
kandung
kemih
Relaksasi otot uterus

uterus
Salvasi bertambah

kelenjar
saliva
Efek simpatis dan parasimpatis pada jaringan tubuh

Sistem Saraf Simpatis


Sistem saraf simpatis juga dikenal sebagai sistem adrenergik karena dulu
diperkirakan bahwa adrenalin merupakan neurotransmiter yang mempersarafi otot-
otot polos. Kini neurotransmitter tersebut dikenal sebagai norepinefrin. Obat-obat
yang menyerupai efek dari norepinefrin disebut sebagai obat-obat adrenergik, atau
simpatomimetik. Obat-obat itu juga dikenal dengan nama agonis adrenergik karena
memulai respons pada tempat reseptor adrenergik. Obat-obat yang menghambat efek
norepinefrin disebut sebagai penghambat adrenergik, atau simpatolitik. Obat-obat ini
dikenal juga dengan nama antagonis adrenergic karena mencegah respons pada
tempat reseptor.
Sistem saraf otonom simpatis dan parasimpatis
Perangsang simpatis Perangsang parasimpatis
Simpatomimetik (adrenergic, atau agonis Kerja-Langsung
adrenergik) Parasimpatomimetik (kolinergik atau agonis
kolinergik)
Kerja: Kerja:

Menurunkan tekanan darah Meningkatkan tekanan darah

Menurunkan denyut nadi Meningkatkan denyut nadi

Relaksasi bronkiolus Konstriksi bronkiolus

Dilatasi pupil mata Konstriksi pupil mata

Relaksasi uterus Meningkatkan kontraksi saluran kemih

Meningkatkan gula darah Meningkatkan peristaltic


Kerja tidak langsung
Penghambat kolinesterase (antikolinesterase)
Kerja:
Meningkatkan tonus otot

PENEKAN SIMPATIS PENEKAN PARASIMPATIS


Simpatolitik (penghambat adrenergik, atau Parasimpatolitik (antikolinergik, antagonis
antagonis adrenergic) kolinergik, atau antispasmodik)
Kerja: Kerja:
Menurunkan tekanan darah Meningkatkan denyut nadi
Menurunkan denyut nadi Mengurangi sekresi mucus
Konstriksi bronkiolus
Menurunkan motilitas gastrointestinal
Meningkatkan retensi urin
Dilatasi pupil mata
Respons yang berlawanan pada jaringan organ disebabkan oleh simpatomimetik dan
parasimpatomimetik, dan simpatolitik dan parasimpatolitik. Simpatomimetik dan parasimpatolitik
menghasilkan respons organ yang serupa, sama halnya dengan simpatolitik dan parasimpatomimetik.

Ada tiga jenis sel-sel organ reseptor adrenergik: alfa,beta, dan beta2. Norepinefrin
dilepaskan dari ujung saraf terminal dan merangsang reseptor sel untuk menghasilkan
suatu respons.

Sistem Saraf Parasimpatis


Sistem saraf parasimpatis juga dikenal sebagai system kolinergik karena
neurotransmitter terdapat pada ujung saraf neuron yang mempersarafi otot adalah
asetilkolin. Obat-obat yang menyerupai asetilkolin disebut sebagai obat-obat
kolinergik, atau parasimpatomimetik. Obat-obat itu juga dikenal dengan nama agonis
kolinergik karena memulai repon kolinergik; sebaliknya, obat-obat yang menghambat
efek asetil kolin disebut sebagai antikolinergik, atau parasimpatolitik. Obat-obat ini
dikenal juga dengan nama antagonis kolinergik karena menghambat efek asetilkolin
pada organ.
Reseptor-reseptor kolinergik pada sel-sel organ dapat bersifat nikotinik atau
muskarinik, yang berarti mereka dirangsang oleh alkaloid nikotin atau muskarin

Transmiter dan reseptor simpatis dan parasimpatis


Asetilkolin merangsang sel-sel reseptor untuk menghasilkan suatu respons,
tetapi enzim asetilkolinesterase dapat menginaktivasi asetilkolin sebelum ia mencapai
sel reseptor.

Obat-obat yang menyerupai neurotransmiter norepinefrin dan asetilkolin


menghasilkan respons yang saling berlawanan pada organ yang sama. Contohnya,
suatu obat adrenergic (simpatomimetik) meningkatkan denyut jantung, sedangkan
obat kolinergik (parasimpatomimetik). Tetapi, suatu obat yang menyerupai system
saraf simpatis dan suatu obat yang menghambat system saraf parasimpatis dapat
menghasilkan respons yang serupa pada organ, contohnya adalah obat-obat
simpatomimetik dan parasimpatolitik, keduanya meningkatkan denyut jantung.
Penghambatan adrenergic dan obat kolinergik, keduanya menurunkan denyut jantung.

BAB II
TEORI

A. Kolinergik (parasimpatomimetik)
1. Pengertian Parasimpatomimetika
Parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan
efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena
melepaskan neuron asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama
SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat
penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang
timbulah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek
kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan
memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (Hcl),
juga sekresi mata, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi
kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlamba
pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak
diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan
menurunnya tekanan intraokuler akibatnya lancarnya pengeluaran air mata,
kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran
urin, dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka, menekan SSP setelah
pada permulaan menstimulasinya, dan lain-lain. (Tan Hoan Tjay & Rahardja,
2002).
Menurut sifat kerjanya, reseptor kolinergik (kolinoseptor) dapat dibedakan
menjadi reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik berdasarkan afinitas
terhadap zat yang bersifat sebagai kolinomimetik
2. Reseptor kolinergik
Menurut sifat kerjanya, reseptor kolinergik (kolinoseptor) dapat dibedakan
menjadi reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik berdasarkan afinitas
terhadap zat yang bersifat sebagai kolinomimetik.
a) Reseptor muskarinik
Selain berikatan dengan ACh, reseptor muskarinik juga berikatan
dengan muskarin, yaitu suatu alkaloid yang terdapat pada jamur beracun.
Reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas yang lemah terhadap
nikotin. Hasil studi-studi ikatan (binding study) dan dengan memberikan
penghambat tertentu, telah dapat ditemukan beberapa subtype reseptor
muskarinik yaitu M1, M2, M3, M4, dan M5. Reseptor muskarinik dapat
ditemukan dalam ganglia Sistem saraf efektor dan organ efektor otonom
seperti, jantung, otot polos, otak, dan kelenjar eksokrin. Kelima reseptor
M tersebut terdapat dalam neuron, dan juga ditemukan reseptor M1
dalam didalam sel parietal lambung, reseptor M2 didalam otot jantung dan
otot polos, serta reseptor M3 di dalam kelenjar eksokrin dan otot polos.
Reseptor muskarinik didalam jaringan-jaringan diatas lebih peka terhadap
obat muskarinik, namun dalam dosis tinggi muskarinik dapat pula
memacu reseptor nikotinik.
Mekanisme transduksi sinyal asetilkolin
Setelah asetilkolin berikatan dengan reseptor muskarinik, akan timbul
sinyal dengan mekanisme yang berbeda. Misalnya, bila reseptor M1 atau
M2 diaktifkan, reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan
berinteraksi dengan protein G yang selanjutnya akan mengaktifkan
fosfolipase C. akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol-
94,40bifosfate (PIP2) yang akan menyebabkan peningkatan kadar Ca++
intrasel. Selanjutnya kation ini akan berinteraksi atau memacu ion
menghambat enzim-enzim, atau menyebabkan hiperpolarisasi, sekresi,
atau kontraksi. Sebaliknya, aktivasi reseptor subtype M2 pada otot-otot
jantung memacu protein G yang menghambat adenilsikase dan
mempertinggi konduksi K+ sehingga denyut dan kontraksi otot jantung
menurun.

b) Reseptor Nikotinik
Selain mengikat ACh, reseptor ini dapat mengenal nikotin , dan
afinitasnya lemah terhadap muskarin. Pada tahap awal, nikotin memang
memacu reseptor nikotinik, namun setelah itu nikotin akan menyekat
reseptor nikotinik sendiri. Reseptor nikotinik terdapat dalam SSP, medulla
adrenal, ganglion otonom, dan pada sambungan saraf otot (myoneural
junction). Obat-obat nikotinik akan memacu reseptor nikotinik di
ganglion otonom dan yang terdapat pada sambungan saraf otot. Misalnya
reseptor nikotinik di ganglion dihambat secara selektif oleh
heksametonium, sedangkan reseptor nikotinik pada sambungan saraf otot
dihambat secara spesifik oleh tubokurarin

3. Obat-Obat Kolinergik
Obat-obat kolinergik (agonis kolinergik) ialah obat yang bekerja secara
langsung atau tidak langsung meningkatkan fungsi neurotransmitter
asetilkolin. Kolinergik juga disebut parasimpatomimetik karena menghasilkan
efek yang mirip dengan perangsangan Sistem saraf parasimpatis.
Obat-obat kolinergik memiliki 3 indikasi utama, yaitu:
1. Menurunkan tekanan intraocular pada pasien glaucoma atau operasi mata
2. Mengobati atoni saluran cerna atau vesika urinaria
3. Untuk mendiagnosis dan pengobatan miastenia gravis.
Beberapa obat kolinergik merupakan antidotum penting untuk obat-obat
blokade neuromuscular, antidepresan trisiklik, dan alkaloid beladona.
Obat obat kolinergik memperlihatkan efeknya dengan menunjukkan salah
satu dari 2 cara yaitu bekerja mirip dengan asetilkolin atau menghambat
destruksi asetilkolin oleh enzim asetilkolinesterase di tempat-tempat
reseptornya.

Klasifikasi
Obat-obat kolinergik merangsang reseptor kolinergik. Karena itu, kerjanya
mirip dengan asetilkolin endogen. Obat-obat golongan ini dapat
dikelompokkan berdasarkan:
1. Spektrum efeknya, yaitu muskarinik atau nikotinik; dan
2. Mekanisme kerjanya, yaitu yang bekerja langsung pada reseptor
asetilkolin atau secara tidak langsung melalui penghambatan
asetilkolinesterase. Beberapa obat, seperti neostigmin termasuk dalam
lebih dari satu subkelas.

Penggolongan obat-obat kolinergik beserta prototype, analog utama dan


obat lain
Cara kerja Golongan Prototip Analog utama Obat penting
lain
Kerja langsung Agonis Asetilkolin Muskarin, Karbamolkolin
muskarinik Betanikol, Metakolin
Pilokarpin Arekolin
Karbamikolin
Agonis nikotinik Asetilkolin Nikotin
Suksinilkolin Neostigmin

Kerja tidak Penghambat aktif Neostigmin Edrofonium Pridostigmin


langsung kolinesterase Fisostigmin
(reversible) Karbaril

Penghambat Ekotiofat Parathion Isofluorofat


kolinesterase (disopropil
(irreversible) fluorofosfat
DFP)
Malation Diklorvos
Kolinergik lain Metokloprami
d
Sisaprid

a. ESTER KOLIN (KOLINERGIK KERJA LANGSUNG)


Golongan kolinergik kerja langsung ini meliputi ester kolin (asetilkolin,
metakolin, karbamoilkolin, dan betanekol) dan alkaloid alamiah (muskarin,
pilokarpin, nikotin, lobelin). Beberapa obat sintetik (oksetremorin,
dimetilfenilpiperazinium, DMPP) masih terus diteliti. Diantara anggota-
anggota subkelas ini, terdapat perbedaan dalam spectrum efek (potensi
stimulasi muskarinik dan nikotinik) dan farmakokinetiknya. Kedua macam
perbedaan ini memengaruhi penggunaan kliniknya)
Mekanisme Kerja:
Agonis kolinergik bekerja mirip dengan kerja astilkolin pada reseptor
kolinergik. Obat-obat ini berkaitan dengan reseptor padamembran sel-sel
organ target mengubah permeabilitas membrane sel dan mempermudah
pengaliran kalsium dan natrium ke dalam sel yang menyebabkan stimulasi
otot
Efek samping:
Biasanya efek samping dihasilkan oleh efek-efek nonspesifiknya pada
system saraf parasimpatik. Agonis kolinergik yang berkaitan khusus dengan
reseptor di system saraf parasimpatikmenimbulkan efek parasimpatomimetik
yang tidak diinginkan diluar organ target. Sebagai contoh, penggunaan
betanekol mengurangi retensi urin, juga dapat meningkatkan motilitas
saluran cerna, yang dapat menimbulkan mual, kembung, muntah, kram usus,
dan diare.

Sediaan-sediaan
1) Asetilkolin
Merupakan senyawa ammonium kuartener dengan aktifitas muskarinik
dan nikotinik serta tidak dapat menembus membrane sel. Tidak dapat
digunakan untuk pengobatan karena kerjanya yang berlangsung sangat
cepat dan segera diinaktifkan oleh enzim asetilkolinesterase
2) Metakolin
Masa kerja lebih lama resisten terhadap hidrolisis oleh kolinesterase non
spesifik, relative resisten terhadap hidrolisi oleh ACh.
Indikasi:
a) Pengobatan gawat darurat glaukoma sudut sempit untuk menurunkan
intraocular
b) Uji diagnostik untuk pasien yang diduga mengidap asma.
3) Karbakol
Merupakan ester asam karbamat yang juga merupakan substrat yang
tidak cocok untuk asetilkolinesterase. Karena potensinya yang cukup
tinggi dan kerjanya berlangsung lama, obat ini jarang digunakan untuk
terapi, kecuali untuk mata sebagai miotikum dan untuk menurunkan
tekanan dalam bola mata.
4) Betanekol
Mempunyai struktur kimia yang berkaitan dengan ACh. Bekerja secara
langsung memacu reseptor muskarinik sehingga meningkatkan tonus dan
motilitas usus, meningkatkan tonus otot detrusor kandung kemih, serta
merelaksasi trigonum dan sfingter sehingga berefek pengeluaran urine.
Indikasi: pengobatan atonia kandung kemih pasca persalinan atau
pascabedah
5) Pilokarpin
Merupakan suatu amin tersier yang stabil terhadap hidrolisis oleh
asetilkolinesterase, termasuk obat yang lemah disbanding dengan
asetilkolin dan turunannya. Aktivitas utamanya adalah muskarinik dan
digunakan untuk oftalmologi, serta di indikasikan dalam terapi
glaukoma.

b. OBAT ANTIKOLINESTERASE (KOLINERGIK KERJA TIDAK


LANGSUNG)
Antikolinesterase menghambat enzim asetilkolinesterasi (yang menguraikan
ACh menjadi asetat dan kolin) sehingga ACh menumpuk ditempat reseptor
ACh. Akibatnya, stimulasi reseptor kolinergik di seluruh tubuh berlangsung
lebih lama. Dalam golongan ini kita kenal dua kelompok obat yaitu :
1) Golongan karbamat (ester asam karbamat), dapat disebut juga golongan
antikolinesterase reversible, kecuali edrofonium yang bukan merupakan
suatu ester. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah ambenonium,
edrofonium klorida, neostigmin, fisostigmin salisilat, dan pridostigmin.
2) Golongan fosfat (ester asam fosfat) atau golongan ireversibel.
Mempunyai masa kerja yang sangat lama, dan membentuk kompleks
yang sangat stabil dengan enzim serta dihidrolisis dalam waktu berhari-
hari atau berminggu-minggu

Mekanisme Kerja:
Obat-obat antikolinesterase meningkatkan kadar dan efek ach pada tempat
reseptor dalam SSP atau ganglia otonomik, pada sel-sel efektor di viscera,
dan pada motor end plate. Bergantung pada tempat kerja, dosis obat, dan
masa kerjanya, obat-obat ini dapat memberikan efek stimulasi atau efek
depresi pada reseptor kolinergik

Efek Samping:
Efek samping yang umum terjadi berupa efek parasimpatomimetik. Pada
mata berupa penglihatan kabur, penurunan akomodasi, miosis; pada kulit
akan keluar banyak keringat; pada saluran cerna akan terjadi peningkatan
salvias, kembung, mual, muntah, kram usus dan diare.
Efek brokontriksi: nafas terasa pendek, mengi, atau terasa tegang di dada.
Vasodilatasi: penurunan denyut jantung dan pengurangan kontraksi otot
jantung.
Efek pada SSP: Irritabilitas, ansietas atau rasa takut (pada beberapa kasus),
dan terjadi kejang
Fisostigmin
Fisostigmin berupa amin tersier suatu alkaloid (senyawa nitrogen yang
terdapat dalam tumbuh-tumbuhan). Obat ini adalah substrat untuk
asetilkolinesterase, dan membentuk senyawa perantara enzim-substrat yang
relative stabil yang berfungsi menginaktifkan secara reversible ACh.

Edrofonium
Edrofonium adalah suatu amin kuartener yang mempunyai kerja mirip
dengan neostigmin; dan bila dibandingkan dengan neostigmin, obat ini lebih
cepat diserap dan masa kerjanya lebih singkat (sekitar 10-20 menit).
Penggunaan klinisnya untuk miastenia gravis (kelemahan otot). Kelebihan
dosis dapat menimbulkan krisis kolinergik. Bila terjadi keracunan berikan
atropine sebagai antidotum.

BAB IV

KESIMPULAN

Simpatolitik memegang peranan penting dalam menurunkan tekanan darah melalui


hambatan terhadap pusat vasomotor di otak dengan mengurangi tonus simpatis secara
sentral. Secara perifer simpatolitik dapat bekerja terhadap neurotransmiter pada
ganglion presinaptik atau postsinaptik, atau pada reseptor epinefrin dan norepineprin.
Simpatolitik atau adrenolitika adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh
aktivitas susunan saraf simpatis. Misalnya Simpatolitik meniadakan vasokonstriksi
yang ditimbulkan oleh aktivitas reseptor-alfa akibat adrenolitika.
Berdasarkan mekanisme dan titik kerjanya, Simpatolitik dapat dibagi menjadi 3
kelompok, yakni zat-zat penghambat reseptor Simpatolitik ( alfa-blockers dan beta-
blockers ) dan zat-zat penghambat neuron adrenergis.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.


2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi II. Jakarta: EGC
Kee J.L, Hayes E.R. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta:EGC

Anda mungkin juga menyukai