Anda di halaman 1dari 2

ANATOMI, HISTOLOGI, DAN FISIOLOGI SALURAN PERNAPASAN

Sistem pernapasan manusia meliputi paru-paru dan saluran bercabang yang


menghubungkan lingkungan luar, yang menjadi sumber oksigen, dengan tempat pertukaran gas
di dalam paru-paru. Udara di dalam paru-paru digerakkan sehingga dapat melalui seluruh proses
respirasi dengan kerjasama dari rongga toraks, otot interkostal, diafragma, dan komponen elastis
jaringan paru yang membentuk suatu mekanisme ventilasi terpadu.
Secara anatomis, saluran pernapasan memiliki bagian atas dan bawah. Saluran napas
meliputi kavum nasi sampai faring dan saluran napas bawah meliputi laring sampai paru. Secara
fungsional, struktur-struktur pada sistem pernapasan terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian
konduksi dan bagian respiratorik. Bagian konduksi terdiri dari kavum nasi, nasofaring, laring,
trakea, bronki, bronkiolus, dan bronkiolus terminalis yang memiliki fungsi menghantarkan udara
ke bagian respiratorik (tempat berlangsungnya pertukaran gas) dan mengondisikan udara yang
dihirup tersebut. Untuk menjamin kelangsungan pasokan udara yang kontinu, kombinasi tulang
rawan, serat elastin dan kolagen, serta otot polos memberikan bagian konduksi ini sifat kaku dan
fleksibilitas serta ekstensibilitas yang diperlukan. Bagian respiratorik sendiri terdiri dari
bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli (Junqueira, 2011).
Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel bertingkat silindris bersilia yang dikenal
sebagai epitel respiratorik. Epitel ini sedikitnya memiliki lima jenis sel, yang kesemuanya
menyentuh membran basal yang tebal:
Sel silindris bersilia adalah sel yang terbanyak. Setiap sel memiliki lebih kurang 300 silia
pada permukaan apikalnya.
Sel goblet mukosa juga banyak dijumpai di sejumlah area epitel respiratorik, yang terisi
di bagian apikalnya dengan granula glikoprotein musin.
Sel sikat (brush cells) adalah tipe sel silindris yang lebih jarang tersebar dan lebih sulit
ditemukan dengan permukaan apikal kecil yang memiliki banyak mikrovili pendek dan
tumpul. Sel sikat memperlihatkan sejumlah komponen transduksi sinyal seperti
komponen pada sel kecap dan memiliki ujung saraf aferen pada permukaan basalnya dan
dipandang sebagai reseptor kemosensoris.
Sel granul kecil juga sulit ditemukan pada sediaan rutin, tetapi memiliki banyak granul
padat berdiameter 100-300 nm. Seperti sel sikat, sel-sel ini membentuk sekitar 3% total
sel dan merupakan bagian sistem neuroendokrin.
Sel basal, yaitu sel bulat kecil pada membran basal tetapi tidak meluas sampai permukaan
lumen epitel, merupakan sel punca yang membentuk jenis sel lain.