Anda di halaman 1dari 12

PENCEMARAN TANAH & PENYEHATAN TANAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan
tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya
masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu
mengembalikan permukaan muda kembali yang kaya akan unsur hara.
Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak
yang digunakan tidak sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang
yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut. Salah satu diantaranya, penyelenggaraan
pembangunan di Tanah Air tidak bisa disangkal lagi telah menimbulkan berbagai dampak positif
bagi masyarakat luas, seperti pembangunan industri dan pertambangan telah menciptakan
lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu seringkali diikuti oleh
dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya menyebabkan
berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air yang dapat menurunkan
kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian, terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia
atau makhluk hidup lain. Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah,
erosi dan sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah
berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama pertambangan yang
dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan
bumi. Untuk memperoleh bijih tambang, permukaan tanah dikupas dan digali dengan
menggunakan alat-alat berat. Para pengelola pertambangan meninggalkan areal bekas tambang
begitu saja tanpa melakukan upaya rehabilitasi atau reklamasi.
Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu mendapatkan
perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan pertanian tersebut
mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya yang bisa mencemari badan air dan merusak
tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh terhadap kesehatan makhluk hidup. Oleh karena itu,
sangat diperlukan pengkajian khusus yang membahas mengenai pencemaran tanah beserta
dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Apakah pencemaran tanah itu?
2. Bagaimana cara menanggulangi pencemaran tanah?
C. Tujuan

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut:


1. Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai Pencemaran Tanah.
2. Sebagai cara untuk mencari berbagai cara untuk menanggulangi dampak pencemaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PENCEMARAN TANAH

Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup,
zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi
sesuai dengan peruntukannya.
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah
sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan
tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah
yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh.
Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat,
tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Pencemaran tanah adalah masuk atau dimasukannya bahan kimia buatan manusia dan
merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair
atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut
minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

B. SUMBER DAN KOMPONEN BAHAN PENCEMAR TANAH

Pencemaran tanah mempunyai hubungan yang erat baik dengan pencemaran udara maupun
dengan pencemaran air. Bahan pencemar yang terdapat di udara larut dan terbawa oleh air hujan,
jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Demikian pula bahan pencemar dalam
air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau dan air payau) dapat masuk ke dalam
tanah dan dapat menyebabkan pencemaran tanah.

1. Sumber Bahan Pencemar Tanah

Karena pencemar tanah mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan pencemaran
air, maka sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada umumnya juga merupakan
sumber pencemar tanah. Sebagai contoh gas-gas oksida karbon, oksida nitrogen, oksida belerang
yang menjadi bahan pencemar udara yang larut dalam air hujan dan turun ke tanah dapat
menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga menimbulkan terjadinya pencemaran pada tanah.
Air permukaan tanah yang mengandung bahan pencemar misalnya tercemari zat radioaktif,
logam berat dalam limbah industri, sampah rumah tangga, limbah rumah sakit, sisa-sisa pupuk
dan pestisida dari daerah pertanian, limbah deterjen, akhirnya juga dapat menyebabkan
terjadinya pencemaran pada tanah daerah tempat air permukaan ataupun tanah daerah yang
dilalui air permukaan tanah yang tercemar tersebut.

a. Limbah Rumah Tangga

Salah satu limbah rumah tangga adalah sampah. Sampah dalam jumlah banyak seperti di kota-
kota besar, berperan besar dalam pencemaran tanah. Tanah yang mengandung sampah di atasnya
akan menjadi tempat hidup berbagai bakteri penyebab penyakit.
Pencemaran oleh bakteri dan polutan lainnya dari sampah akan mengurangi kualitas air tanah.
Air tanah yang menurun kualitasnya dapat terlihat dari perubahan fisiknya. Perubahan fisik
misalnya berbau, berwarna dan berasa, bahkan terdapat lapisan seperti minyak. Beberapa jenis
sampah seperti plastik dan logam, sulit terurai sehingga berpengaruh pada kemampuan tanah
menyerap air.

b. Limbah Pertanian

Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama (pestisida),
dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah. Penggunaan pupuk
buatan secara berlebihan menyebabkan tanah menjadi asam yang selanjutnya berpengaruh
terhadap produktivitas tanaman. Tanaman menjadi layu, berkurang produksinya dan akhirnya
mati.
Pencemaran tanah oleh pestisida dan herbisida terjadi saat dilakukan penyemprotan tersebut
akan terbawa oleh air hujan dan akhirnya mengendap di tanah. Pestisida dan herbisida memiliki
sifat sulit terurai dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Residu pestisida dan herbisida ini
membahayakan kehidupan organisme tanah. Misalnya, residu pestisida DDT (dikloro difenil
trikloroetana) dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi proses pembusukan,
sehingga kesuburan tanah terganggu. Tanah yang tercemar pupuk buatan, pestisida dan herbisida
dapat mencemari sungai karena zat-zat tersebut terbawa air hujan atau erosi.

c. Limbah Pertambangan

Aktivitas penambangan bahan galian juga dapat menimbulkan pencemaran tanah. Salah satu
kegiatan penambangan yang memiliki pengaruh besar mencemarkan tanah adalah penambangan
emas. Pada penambangan emas, polusi tanah terjadi akibat penggunaan merkuri (Hg) dalam
proses pemisahan emas dan beracun yang dapat mematikan tumbuhan, organisme tanah, dan
menggangu kesehatan manusia.
2) Komponen Bahan Pencemar Tanah

Komponen-komponen bahan pencemar yang diperoleh dari sumber-sumber bahan pencemar


tersebut di atas antara lain:
a. Senyawa organik yang dapat membusuk karena diuraikan oleh mikroorganisme, seperti sisa-
sisa makanan, daun, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati.
b. Senyawa organik dan senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan/ diuraikan oleh
mikroorganisme seperti plastik, serat, keramik, kaleng-kaleng dan bekas bahan bangunan,
menyebabkan tanah menjadi kurang subur.
c. Pencemar udara berupa gas yang larut dalam air hujan seperti oksida nitrogen (NO dan NO2),
oksida belerang (SO2 dan SO3), oksida karbon (CO dan CO2), menghasilkan hujan asam yang
akan menyebabkan tanah bersifat asam dan merusak kesuburan tanah/ tanaman.
d. Pencemar berupa logam-logam berat yang dihasilkan dari limbah industri seperti Hg, Zn, Pb,
Cd dapat mencemari tanah.
e. Zat radioaktif yang dihasilkan dari PLTN, reaktor atom atau dari percobaan lain yang
menggunakan atau menghasikan zat radioaktif.Komponen bahan pencemar tanah.

C. PENDUGAAN TINGKAT PENCEMARAN/KERUSAKAN TANAH

Gejala pencemaran tanah dapat diketahui dari tanah yang tidak dapat digunakan untuk keperluan
fisik manusia. Tingkat pencemaran tanah diukur dari banyak tidaknya bahan pencemar yang
terkandung di dalamnya. Bahan pencemarnya antara lain, sampah organik, sampah senyawa
organik atau sampah anorganik, sampah dari pengelolaan limbah industri, sampah zat radioaktif,
penggunaan pupuk yang menggunakan senyawa kimia atau pestisida, dan sampah-sampah dari
limbah rumah tangga.

Tingkat pencemaran/kerusakan tanah dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

1. Pencemaran Ringan

Pencemaran ringan yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan gangguan pada ekosistem lain.
Contohnya tanah yang tidak dapat lagi ditumbuhi tanaman tertentu. Biasanya tanah ini banyak
terdapat sampah-sampah anorganik yang tidak dapat terurai oleh tanah dengan sempurna,
sehingga menyebabkan sebagian tanaman lain tidak dapat hidup karena kesulitan mendapatkan
makanan didalam tanah.

2. Pencemaran Kronis

Pencemaran kronis yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Biasanya tanah ini
tercemar oleh limbah pabrik yang dapat mengkibatkan penyakit.

3. Pencemaran Akut

Pencemaran akut yaitu pencemaran yang mengakibatkan tanah tidak dapat lagi dimamfaatkan
seperti sediakala. Biasanya tanah ini terlalu banyak mengunakan pupuk yang mengandung bahan
kimia dan tidak mematuhi aturan. Ciri-ciri tanah ini biasanya tanahnya kering dan tandus.

D. KRITERIA KERUSAKAN TANAH

Untuk mengukur tingkat pencemaran disuatu tempat digunakan kriteria pencemaran. Kriteria
pencemaran digunakan sebagai indikator (petunjuk) terjadinya pencemaran dan tingkat
pencemaran yang telah terjadi. Kriteria pencemaran tanah meliputi kriteria fisik, kriteria kimia,
dan kriteria biologi.
1. Kriteria Fisik

Kriteria fisik meliputi pengukuran tentang warna, bau, suhu, dan radioaktivitas.

2. Kriteria Kimia

Kriteria kimia dilakukan untuk mengetahui kadar CO2, pH, keasaman, kadar logam, dan logam
berat. Sebagai contoh berikut disajikan pengukuran pH air yang terkandung dalam tanah, kadar
CO2, dan oksigen terlarut.

a. Pengukuran pH air dalam tanah

Air dalam tanah kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5 8,5. Karena
pencemaran, pH air dalam tanah dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5.
Bahan-bahan organik biasanya menyebabkan kondisi air tersebut menjadi lebih asam. Kapur
menyebabkan kondisi air dalam tanah menjadi alkali (basa). Jadi, perubahan pH air tersebut
tergantung kepada macam bahan pencemarnya. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi
kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa) tidak cocok untuk
kehidupan kebanyakan organisme. Untuk setiap perubahan satu unit skala pH (dari 7 ke 6 atau
dari 5 ke 4) dikatakan keasaman naik 10 kali. Jika terjadi sebaliknya, keasaman turun 10 kali.
Keasaman air dapat diukur dengan sederhana yaitu dengan mencelupkan kertas lakmus ke dalam
air untuk melihat perubahan warnanya.

b. Pengukuran Kadar CO2

Gas CO2 juga dapat larut ke dalam tanah. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahan
pencemar tanah juga terkandung dari udara. Kadar gas CO2 terlarut sangat dipengaruhi oleh
suhu, pH, dan banyaknya organisme yang hidup di dalam tanah. Semakin banyak organisme di
dalam tanah, semakin tinggi kadar karbon dioksida terlarut. Kadar gas CO dapat diukur dengan
cara titrimetri.

c. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut dalam tanah yang alami berkisar 5 7 ppm (part per million atau satu per
sejita; 1ml oksigen yang larut dalam 1 liter air dikatakan memiliki kadar oksigen 1 ppm).
Penurunan kadar oksigen terlarut dapat disebabkan oleh tiga hal :
1. Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.
2. Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob.
3. Proses pernapasan orgaisme.
Pencemaran tanah dapat mengurangi persediaan oksigen terlarut. Hal ini akan mengancam
kehidupan organisme yang hidup di dalam tanah. Semakin tercemar, kadar oksigen terlarut
semakin mengecil. Untuk dapat mengukur kadar oksigen terlarut, dilakukan dengan metode
Winkler. Parameter kimia yang dilakukan melalui kegiatan pernapasan jasad renik dikenal
sebagai parameter biokimia. contohnya adalah pengukuran BOD dan COD.
3. Parameter Biologi

Di tanah terdapat hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang peka dan ada pula yang
tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu. Organisme yang peka akan mati karena pencemaran
dan organisme yang tahan akan tetap hidup. Planaria merupakan contoh hewan yang peka
pencemaran. Tanah yang mengandung planaria menunjukkan tanah tersebut belum mengalami
pencemaran. Sebaliknya, cacing Tubifex (cacing merah) merupakan cacing yang tahan hidup dan
bahkan berkembang baik di lingkungan yang kaya bahan organik, meskipun spesies hewan yang
lain telah mati. Ini berarti keberadaan cacing tersebut dapat dijadikan indikator adanya
pemcemaran zat organik. Organisme yang dapat dijadikan petunjuk pencemaran dikenal sebagai
indikator biologis.
Indikator biologis terkadang lebih dapat dipercaya daripada indikator kimia. Pabrik yang
membuang limbah ke sungai dan mengenai tanah dapat mengatur pembuangan limbahnya ketika
akan dikontrol oleh pihak yang berwenang. Pengukuran secara kimia pada limbah pabrik
tersebut selalu menunjukkan tidak adanya pencemaran. Tetapi tidak demikian dengan makluk
hidup yang menghuni ekosistem air dalam tanah secara terus menerus. Disitu terdapat hewan-
hewan, mikroorganisme, bentos, mikroinvertebrata, ganggang, yang dapat dijadikan indicator
biologis.

E. DAMPAK KERUSAKAN TANAH

Berbagai dampak ditimbulkan akibat pencemaran atau kerusakan tanah, diantaranya:

1. Pada Kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke
dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan
herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada
anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh
populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat
meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat
menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait
pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan pada saraf otot.
Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti
sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di
atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

2. Pada Ekosistem

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi
tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis
yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari
mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya
bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika
efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan
dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-
makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti
konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat
Kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat
menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada
konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa
bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia
derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

F. PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH

Cara pencegahan dan penanggulangan Bahan Pencemar Tanah Pencegahan dan


penanggulangan merupakan dua tindakan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam arti biasanya
kedua tindakan ini dilakukan untuk saling menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak
dapat dilakukan, maka dilakukan langkah tindakan.
Namun demikian pada dasarnya kita semua sependapat bahwa tindakan pencegahan lebih
baik dan lebih diutamakan dilakukan sebelum pencemaran terjadi, apabila pencemaran sudah
terjadi baik secara alami maupun akibat aktivisas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
baru kita lakukan tindakan penanggulangan.
Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran dapat
dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan pencemar yang perlu ditanggulangi.
Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran antara lain
dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Langkah Pencegahan

Pada umumnya pencegahan ini pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak menyebabkan
terjadinya pencemaran, misalnya mencegah/mengurangi terjadinya bahan pencemar, antara lain :
Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme antara lain dapat
dilakukan dengan mengubur sampah-sampah dalam tanah secara tertutup dan terbuka, kemudian
dapat diolah sebagai kompos/pupuk. Untuk mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang
timbul pada proses pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis
dengan tanah.
Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan oleh
mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara membakar sampah-sampah yang dapat terbakar
seperti plastik dan serat baik secara individual maupun dikumpulkan pada suatu tempat yang
jauh dari pemukiman, sehingga tidak mencemari udara daerah pemukiman. Sampah yang tidak
dapat dibakar dapat digiling/dipotong-potong menjadi partikel-partikel kecil, kemudian dikubur.
yangPengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat akan mencemari
tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat pembuangan agar dilakukan proses pemurnian.
Sampah zat radioaktif sumur-sumur atau tangki dalamsebelum dibuang, disimpan dahulu pada
jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru dibuang ke tempat yang jauh dari
pemukiman, misal pulau karang, yang tidak berpenghuni atau ke dasar lautan yang sangat
dalam.Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun sesuai dengan
aturan dan tidak sampai berlebihan.Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa
organik yang dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.

2. Langkah Penangulangan

Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap


pencemaran tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan pencemar
tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat.
Ada beberapa langkah penangan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran
tanah. Diantaranya:

a. Remidiasi

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar.


Hal yang perlu diketahui sebelum dilakukan remidiasi adalah sebagai berikut:
1. Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
2. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
4. Jenis tanah,
5. Kondisi tanah (basah, kering),
6. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
7. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site).
Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih
mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.Pembersihan off-site
meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu
di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut
disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut.
Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi
pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

b. Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan


mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

b.1. Jenis jenis biomerasi

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:


Biostimulasi.

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang
tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di
dalam air atau tanah tersebut.

Bioaugmentasi.

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke


dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan
kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini
digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme
dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh
mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke
lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

Bioremediasi Intrinsik.

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :

1). Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien,
pengaturan kondisi redoks, optimasi ph, dsb
2). Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang
memiliki kemampuan biotransformasi khusus
3). Penerapan immobilized enzymes
4). Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

b.2. Proses Biomerasi

Transformasi kimia dari bahan pencemar pestisida melalui proses bioremediasi ini meliputi
beberapa proses, yaitu

1). Detoksikasi, yaitu konversi dari molekul yang bersifat toksik menjadi produk yang tidak
bersifat toksik.
2). Degradasi, yaitu transformasi dari substrat kompleks menjadi produk yang lebih sederhana.
3). Konjugasi, yaitu pembentukan senyawa kompleks, atau reaksi penambahan, dimana suatu
organisme dapat menghasilkan substrat yang lebih kompleks dan mengkombinasikannya dengan
pestisida dengan sel metabolis.
Konjugasi atau pembentukan senyawa pengkompleks dapat dihasilkan dari organisme yang
menghasilkan suatu asam amino, asam organik, methyl atau senyawa lain yang bereaksi dengan
polutan membentuk substrat lainnya. Konjugasi adalah salah satu bentuk bioremediasi dari
metabolisme mikroorganisme terhadap fungisida sodium dimethyldithiocarbamate, dimana
mikroorganisme mengkompleks pestisida dengan asam amino pada sel.
4. Aktivasi, yaitu konversi substrat yang nontoksik menjadi molekul toksik seperti bahan aktif
awal dari pestisida. Sebagai contoh, herbisida 4- (2,4-dichlorophenoxy) butyric acid
ditransformasi dan diaktivasi oleh mikroorganisme dalam tanah menghasilkan senyawa yang
bersifat toksik terhadap gulma dan serangga. Proses aktivasi ini lebih menekankan pada efisiensi
penggunaan pestisida, atau aktivasi residu.
5. Proses defusi, yaitu konversi molekul nontoksik berasal dari pestisida yang sedang dalam
proses aktivasi secara enzimatik, menjadi produk nontoksik yang tidak lagi dalam proses
enzimatik.
6. Perubahan spektrum toksisitas. Contoh bioremediasi bagi lingkungan yang tercemar minyak
bumi. Yang pertama dilakukan adalah mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang
ada di dalam tanah yang mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan
menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak
akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi.

b.3. Manfaat Biomerasi

1. Bidang Lingkungan

Pengolahan limbah yang ramah lingkungan dan bahkan mengubah limbah tersebut menjadi
ramah lingkungan. Contoh bioremediasi dalam lingkungan yakni telah membantu mengurangi
pencemaran dari pabrik, misalnya saat 1979, supertanker Exxon Valdez di Alaska, lebih dari
11juta gallon oli mentah mengalir, tetapi bakteri pemakan oli membantu mengurangi
pencemaran laut yang lebih jauh lagi.

2. Bidang Industri

Bioremediasi telah memberikan suatu inovasi baru yang membangkitkan semangat industri
sehingga terbentuklah suatu perusahaan yang khusus bergerak dibidang bioremediasi, contohnya
adalah Regenesis Bioremediation Products, Inc., di San Clemente, Calif.

3. Bidang Ekonomi

Bioremediasi menggunakan bahan bahan alami yang hasilnya ramah lingkungan, sedangkan
mesin-mesin yang digunakan dalam pengolahan limbah memerlukan modal dan biaya yang jauh
lebih, sehingga bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang lebih baik.

4. Bidang Pendidikan

Penggunaan microorganisme dalam bioremediasi, dapat membantu penelitian terhadap


mikroorganisme yang masih belum diketahui secara jelas.Pengetahuan ini akan memberikan
sumbangan yang besar bagi dunia pendidikan sains.
5. Bidang Teknologi

Bioremediasi memberikan tantangan baru bagi teknologi untuk terus memberikan inovasi yang
lebih baik bagi lingkungan.

6. Bidang Sosial

Bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang mudah dijangkau dan mudah dilakukan baik
bagi rumah tangga dan industri. Dengan begini, limbah rumah tangga dapat dikelola jauh lebih
baik.

7. Bidang Kesehatan

Dengan pengelolaan limbah yang baik, pencemaran dapat diminimalisir sehingga kualitas hidup
manusia jauh meningkat.

8. Bidang Politik

Isu lingkungan dapat lebih ditekan sehingga para petinggi dapat memfokuskan masalah ke
lingkup lain, Bahkan bioremediasi dapat membantu memperbaiki masalah yang
berkesinambungan didalamnya.

b.4. Keunggulan Biomerasi

Meminimalisasi terinfeksinya pekerja lapangan


Perlindungan kesehatan masyarakat yang berjangka panjang
Proses pelaksanaan dapat dilakukan langsung di daerah tersebut dengan lahan yang sempit
sekalipun.
Menghilangkan zat-zat berbahaya
Menggunakan proses yang bersifat alami
Mengubah polutan bukan hanya memindahkannya
Proses degradasi dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang cepat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah
lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau
bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan
tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat
kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang
langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ada beberapa cara untuk mengurangi dampak dari pencemaran tanah, diantaranya dengan
remediasi dan bioremidiasi. Remediasi yaitu dengan cara membersihkan permukaan tanah yang
tercemar. Sedangkan Bioremediasi dengan cara proses pembersihan pencemaran tanah dengan
menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).

B. Saran

Untuk lebih memahami semua tentang pencemaran tanah, disarankan para pembaca mencari
referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para
pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari
hari menjaga kelestarian bumi ini.