Anda di halaman 1dari 10

Lingkungan Tambang (TA-4103)

Identifikasi Dampak Lingkungan dari Kegiatan Penambangan TambangEmas


Martabe dengan Metode Matriks Identifikasi
Yusef Pany | 12113005
Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha No.10, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
yusefpany@gmail.com

Latar Belakang
Tambang Emas Martabe atau PT Agincourt Resources merupakan perusahaan pertambangan yang
memiliki izin penambangan dengan komoditas emas dan perak. Tambang Emas Martabe terletak tepat di
sebelah barat laut Kecamatan Batangtoru, sekitar 40 km tenggara dari kota pantai Sibolga dan 25 km sebelah
barat laut kota Padangsidimpuan. Sebagaimana pada umumnya, kawasan pertambangan di Indonesia,
tambang ini berlokasi di dekat kawasan hutan alam dan jalur air dengan tingkat keanekaragaman flora dan
fauna yang tinggi. Di sekitar kawasan tambang terdapat persawahan, perkebunan, dan permukiman mulai
dari dusun hingga kota kecil. Dari rantai produksi kegiatan pertambangan, penambangan merupakan salah
satu kegiatan yang penting dan harus dijamin dalam hal operasional agar berjalan aman dan efektif. Selain
itu pula kegiatan penambangan ini harus meminimalkan dampak lingkungan (biologi, kimia, social, budaya,
dan ekonomi) di kawasan Tambang Emas Martabe. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah dengan
mengidentifikasi seluruh tahapan dari kegiatan Penambangan dengan menggunakan Metode Matriks.
Diharapkan dengan menggunakan metode ini, dapat menghasilkan identifikasi dampak yang baik dan detail
sehingga dapat dilakukan proses penanganan yang tepat.

Kegiatan Penambangan Tambang Emas Martabe


Kegiatan penambangan yang dilakukan di Martabe Gold Mine secara umum dijelaskan oleh gambar
berikut ini :

Gambar 1 Kegiatan Penambangan Tambang Emas Martabe

1
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Dari diagram alir diatas, dapat dilihat proses pertama yaitu land clearing dan top soil removal. Pada proses
ini, permukaan tanah dibersihkan dari pohon-pohon yang sebelumnya ada untuk diratakan dan selanjutnya
waste material dibuang agar bisa mendapatkan ore yang diinginkan yang berada di bawah top soil. Jika
waste material sudah dibuang, dilakukan persiapan untuk pengeboran (drilling). Hal ini dilakukan untuk
memasukkan bahan peledak untuk proses peledakan (blasting) dimana meledakkan material yang kuat agar
menjadi material dengan fragmentasi yang lebih kecil agar lebih mudah digali. Setelah blasting dilakukan
proses penggalian dan pengangkutan (loading and hauling) yang selanjutkan diangkut menuju stockpile /
ROM untuk ore, dan ke TSF untuk waste material. Ore yang berada di stockpile/ROM akan diproses di Ore
Processing atau Processing Plant untuk dilakukan pemisahan mineral berharga dan tidak berharga. Hasilnya
yaitu berupa emas dan perak, serta tailing yang akan dibuang ke TSF.

Identifikasi Dampak Penting Lingkungan dengan Metode Matriks


Berdasarkan UU No.23/1997, dampak lingkungan hidup merupakan pengaruh perubahan pada
lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. Dalam konteks ini penulis membahas
pada kegiatan penambangan Tambang Emas Martabe. Adapun kriteria dampak besar dan penting dilihat dari
besarnya jumlah manusia yang kaan terkena dampak dari kegiatan penambanganm luas wilayah penyebaran
dampak, intensitas dan lamanya dampak, banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak, sifat kumulatif dampak, dan berbalik atau tidaknya dampak tersebut.
Salah satu metode yang digunakan dalam mengidentifikasi dampak lingkungan dengan menggunakan
Metode Matriks. Metode ini dilakukan dengan melakukan persilangan antara komponen lingkungan yang
terkena dampak dengan tahapan kehgiatan penambangan di Tambang emas Martabe. Dengan adanya
persilangan tersebut menunjukan bahwa adanya indikasi atau teridentifikasinya dampak pada kegiatan
penambangan tersebut dan komponen lingkungan yang terkena dampaknya. Adapun komponen lingkungan
yang penulis masukkan melipui kriteri dari dampak penting dan besar.

Identifikasi Dampak Lingkungan dari Kegiatan Penambangan


Dampak lingkungan diidentifikasi menggunakan matriks antara komponen lingkungan yang terkena
dampak dan kegitan penambangan. Pada kolom komponen lingkungan, penulis membagi menjadi beberapa
kategori yaitu geofisik-kimia, biologi, serta sosial, ekonomi, dan budaya. Adapun hasil dari identifikasi
dampak pada kegiatan penambangan tambang emas perak Martabe pada Tabel 1. Berikut identifikasi dampak
pada setiap tahapan kegiatan penambangan :

Tabel 1 Tabel matriks Identifikasi Dampak


PENIMBUNAN (ORE DAN
WASTE) PENGANGKUTAN DAN
PEMUATAN (ORE DAN
DRILLING DAN BLASTING

WASTE) PENGGALIAN DAN

PENAMPUNGAN TAILING
REVERSE CIRCULATION
LAND CLERARING

ORE PROCESSING
ORE CRUSHING
DRILLING

KOMPONEN LINGKUNGAN

GEOFISIK-KIMIA
Iklim dan Kualitas Udara v v v
Getaran dan Kebisingan v v v v v v
Hidrologi dan Hdrogeologi v v v v v
Kualitas Air v v v v v
Kualitas dan Kesuburan Tanah v v v v

2
Lingkungan Tambang (TA-4103)

PENIMBUNAN (ORE DAN


WASTE) PENGANGKUTAN DAN
PEMUATAN (ORE DAN
DRILLING DAN BLASTING

WASTE) PENGGALIAN DAN

PENAMPUNGAN TAILING
REVERSE CIRCULATION
LAND CLERARING

ORE PROCESSING
ORE CRUSHING
DRILLING
KOMPONEN LINGKUNGAN

Kestabilan Tanah dan Erosi v v v v v


Tata Ruang v v

BIOLOGI
Flora v v v v
Fauna Terestrial v v v v v
Biota Akuatik v v v v

SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA


Demografi
Perbahan Mata Pencaharian
Kesempatan Kerja/Usaha
Konflik Sosial v
Persepsi Sikap Masyarakat v
Keamanan dan Keertiban Umum
Kesehatan Masyarakat v v v v v v v v

Kegiatan Land Clearing

Pada tahap kegiatan ini berdampak pada komponen tanah dimana terjadi gangguan pada kualitas dan
kesuburan tanah yang diakibatkan oleh pembukaan lahan dan hutan. Kestabilan tanah dan erosi juga
terganggu akibat adanya beban oleh kegiatan yang dilakukan pekerja dan peralatan yang di gunakan untuk
land clearing. Selain itu dari komponen air juga akan terkena dampak baik kualitas maupun hidrologi dan
hidrogeologi. Hal ini lebih lanjut lagi akan mencemari air yang akan digunakan oleh penduduk sekitar dari
air tersebut. Dari segi biologi, kegitan ini akan merusak keanekaragaman hayati karena merusak flora yang
ada di daerah tersebut. Selain itu pula, flora terrestrial akan terkena dampak akibat hilangnya habitat dari
flora tersebut, hal yang sama dialami oleh biota akuatik karena penurunan kualitas air. Adanya dapak akibat
kegiatan ini juga akan dirasakan oleh penduduk sekitar dalam segi sosial, dimana persepsi masyarakat akan
berubah karena adanya pengrusakan hutan dan lahan. Hal inilah yang akan menimbulkan konflik sosial
anatara perusahan dengan penduduk sekitar.

Gambar 2

3
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Gambar 3

Gambar 4

Reverse Circulation Drilling

Pada kegiatan ini akan menimbulkan dampak yang luar biasa pada getaran dan kebisingan dari mesin bor
yang digunakan untuk mengambil sampel. Dari mesin ini pun akan menghasilkan debu yang cukup banyak
sehingga dapat menggangu kesehatan pekerja dan masyarakat seperti gangguan pendengaran, pernafasan,
dan penglihatan.

Gambar 5

Gambar 6

4
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Drilling dan Blasting

Mesin bor yang digunakan pada kegiatan ini berbeda dengan mesin bor yang digunakan pada kegiatan
RC Drilling. Perbedaannya pada kedalaman pengeboran sehingga dapat berdampak pada kestabilan tanah
dan erosi apabila dalam pengeboran tidak diperhatikan jenis batuan dan keadaan di daerah lokasi
pengeboran. Baik pengeboran dan peledakan akan berdapak langsung pada getaran dan kebisingan. Hal ini
dikarenakan dalam proses peledakan akan menghasilakan energi yang besar untuk memberai batuan
sehingga menimbulkan getaran dan suara yang besar. Di samping itu pula kegiatan ini menghasilkan debu
yang cukup banyak. Pengaruh yang terjadi adalah terganggunya kesehatan pekerja dan masyarakat seperti
gangguan pendengaran, pernafasan, dan penglihatan. Selain itu pula adanya kerusakan bangunan penduduk
sekitar.

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Penggalian dan Pemuatan

Pada kegiatan ini dampak lingkungan berupa penurunan kualitas air yang disebabkan karena adanya
reaksi air dengan dengan batuan yang bersifat asam. Sistem aliran limpasan air yang tidak baik pun dapat

5
Lingkungan Tambang (TA-4103)

mengakibatkan meunrunnya kualitas air. Selain itu, adanya lahan terbuka dapat menimbulkan erosi, longsor,
dan subsidence. Pada sisi biologi, terjadi degradasi habitat flora dan fauna. Terakhir adalah debu yang
sangat berdampak akibat kegiatan penggalian dan pemuatan tersebut.

Gambar 10

Gambar 11

Pengangkutan dan Penimbunan

Kegiatan ini berdampak pada komponen lingkungan udara, geratan, kebisingan, air, tanah, serta biologi.
Dampak tersebut berupa debu, getaran tanah akibat pergerakat dump truck sehingga terjadi getaran san
kebisingan yang mengganggu manusia dan hewan. Pada tanah, akibat adanya getaran tersebut maka dapat
mengganggu kestabilan tanah yang berdampak pada kelongsoran.

Gambar 12

Ore Crushing

Pada tahap ini, lebih banyak ditimbulkan oleh alat crushing yang digunakan. Adapun dampaknya berupa
getaran dan kebisingan dari adanya kerja alat. Disamping itu juga timbul debu yang dapat mengganggu
pernafasan pekerja dan penduduk sekitar. Timbunan yang ada di daerah crushing juga harus diperhatikan
karena akan mengganggu kestabilan tanah.

6
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Gambar 13

Ore Processing dan Penampungan Tailing

Pada tahap ini dampak yang timbul sebagian besar berasal dari bahan kimia yang digunakan dalam proses
processing. Pada proses processing ini persahan banyak menggunakan sianida yang akan berdampak buruk
pada kesehatan manusia bila tidak di gunakan dengan baik. Pada tahap ini perusahan wajib menjamin tidak
ada kebocoran yang dapat menyebabkan pencemaran ke lingkungan luar yang dapat berdampak
merembesnya ke tanah dan mencemari air. Hal ini sangat penting dikarenakan perusahaan ini dekat dengan
penduduk yang akan menggunakan air. Setelah tahap processing selesai maka akan dihasilkan tailing yang
akan di tamping pada Tailing Sorage Facility yang akan berdampak pada hidrologi dan hidrogeologi dimana
adanya rembesan yang dapat masuk ketika TSF ini tidak memiliki konstruksi yang baik. Tentunya dengan
adanya rembesan ini dapat menimbulkan penurunan kualitas air. Dari segi tampungan TSF juga harus
diperhatikan oleh persahaan karena akan menyebabkan ketidakstabilan tanah dan menyebabkan kelongsoran.
Terakhir, adanya tampungan tailing ini akan berdampak langsung pada komponen lingkungan biologi dimana
berdampak pada degradasinya flora dan fauna.

Gambar 14

Gambar 15

7
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Penanganan Identifikasi Dampak Lingkungan berdasarkan Sumber Dampak


Dari matriks identifikasi dampak lingkungan pada table xxx, maka dapat dikategorikan berdasarkan beberapa
sumber dampak lingkungan. Dari sumber dampak lingkungan tersebut dapat dilakukan analisa penanganan
dampak lingkungan akibat kegiatan penambangan di Tambang Emas Martabe. Adapun penanganan dampak
tersebut adalah :

Kebisingan, debu, dan getaran

1) Pengaturan Pola Peledakan

Pengaturan pola peledakan dapat dilakukan dengan merancang delay time pada peledakan sehingga akan
menurunkan energi akibat peledakan. Hal ini dilakukan untuk mencegah peledakan bersamaan yang
menimbulkan energi yang besar. Selain itu juga, dengan mengatur jumlah bahan peledak akan
mempengaruhi getaran, dan kebisingan. Selain itu dengan menggunakan peledekan terkontrol dan
peledakan elektronik. Teknologi peledakan tersebut akan mengurangi getara dan kebisingan namun akan
menghasilkan ledakan yang baik dan efisien.

2) Penyiraman

Penanganan yang dilakukan untuk sumber dampak berupa debu yaitu dengan melakukan penyiraman
dengan water truck secara teratur. Ketika debu yang timbul sudah mengganggu penglihatan maka wajib
dilakukan penyiraman.

Lahan atau Tanah

1) Membatasi Bukaan Lahan

Dalam melakukan pembukaan lahan perlu diperhatikan dengan baik. Hal yang dilakukan adalah dengan
membatasi bukaan lahan untuk mengurangi atau meminimalkan dampak lingkungan yang terjadi.. Selain
itu juga, hal ini dilakukan untuk menangani dampak yang terjadi tidak menyebar luas atau mencemari
daerah yang belum dilakukan pembukaan lahan. Dengan kata lain komponen lingkungan dari lahan
yang ada di dekat bukaan lahan tidak terpengaruh dampak yang ada.

2) Geometri Timbunan dan Pengendalian Erosi

Dalam melakukan penimbunan baik ore maupun waste harus diperhatikan geometrinya dan beban dari
timbunan. Hal ini akan berpengaruh pada kekuatan dan kestabilan dari tanah. Penanganan ini sangat
penting untuk menghindari erosi akibat ketidakstabilan tanah. Penegndalian erosi dan kelongsoran
akibat timbunana dapat dilakukan dengan pemberian perkuatan berupa bronjong yang akan menahan
beban dari timbunan. Selain itu juga dibuat drain hole berupa vertical / horizontal hole untuk
menurunkan permukaan air tanah. Hal ini dilakukan untuk kestabilan tanah.

Air (Kualitas Air)

1) Pengendalian Aliran Limpasan

Pembuatan sistem penyaliran yang baik harus diterapkan untuk mencegah dampak berupa peresapan air
tambang ke dalam tanah dan mencemari kualitas air tanah yang akan digunakan oleh penduduk sekitar.
Pembuatan system penyaliranyang baik dapat dilakukan dengan rekayasa geometri bench drainage,

8
Lingkungan Tambang (TA-4103)

sump, sediment pond yang sesuai dengan volume air yang masuk dalam area tambang sehingga air yang
terkena kegiatan penambangan dapat dilakukan pengelolaan dengan baik.

2) Pengendalian Kualitas Air Tambang

Pengendalian Kualitas Air tambang harus selalu dilakukan agar sesuai dengan baku mutu air. Adapun
baku mutu air yang sesuai dengan tambang emas adalah sebagai berikut :

Gambar 16 Baku Mutu Air Limbah untuk Tambang Emas

Flora atau Fauna

1) Membatasi Bukaan Lahan dan restorasi habitat

Dengan membatasi bukaan lahan akan meminimalkan pengaruh dampak negatif pada flora dan fauna di
daerah yang sedang dilakukan kegiatan penambangan. Selain itu dilakukan restorasi habitat dengan
merehabilitasi daerah yang terganggu.

2) Reklamasi Progresif

Reklamasi progresif ini dilakuakn untuk mengurangi dampak degradasi dari keanekaragaman flora dan
fauna. Dengan melakukan penanganan ini diharapkan adanya kompensasi keanekaragaman flora fauna
(biodiversity offset). Selain itu, dilakukan skema langkah-langkah dengan cara meningkatkan kualitas
keanekaragaman flora fauna di empat lain untuk mengimbangi dampak yang tidak dapat dihindari akibat
pelaksanaan proyek. Hal ini juga dilakukan apabila upaya-upaya mitigasi dampak lingkungan masih
masih perlu ditingkatkan.

3) Pelaporan dan Pelarangan Berburu Fauna

Dilakukan pelaporan setiap fauna yang terancam punah yang terlihat di wilayah proyek dan larangan
berburu dan menangkap fauna di lokasi tambang.

9
Lingkungan Tambang (TA-4103)

Limbah atau Tailing

1) Penambahan flokulan pada TSF

Tailing hasil processing akan keluar dan tertampung di TSF yang secara bersamaan akan ditambahkan
zat flokulan untuk mempercepat pembentukan flok agar material solid akan terpisah dengan air yang
kemudian akan di olah lagi.

2) Pengelolaan air bekas tailing di TSF

Jumlah air yang di bending pada TSF dilakukan pengelolaan agar bias digunakan kembali dan
dilakukan pelepasan ke aliran air (Sungai Batang Toru) yang ada di sekitar tambang di Water Polishing
Plant (WPP). Plant ini dilakukan untuk menghilangkan zat pencemar dengan menggunakan besi sulfat
untuk menghilangkan logamdan peroksida untuk menghancurkan sisa-sisa sianida pada tailing.

3) Pengaturan Batuan sisa (Waste) sebagai Penutup di TSF

Batuan sisa pada timbunan yang dihasilkan kegiatan penambangan berpotensi menghasilkan asam
ketika terganggu oleh proses penambangan. Proses ini disebut air asam tambangyang dihasilkan Karena
oksida mineral sulfida yang ada pada batuan. Penanganan batuan sisa ini ditempatkan dalam struktur
rekayasa dengan tepat sehingga meminimalkan masuknya oksigen. Adapun penangan air asam tambang
ini dilakukan dengan menggunakan batuan sisa sebagai konstruksi tanggul TSF yang direkayasa dengan
system enkapsulisasi dengan menggunakan batuan sisa yang tidak berpotensi menghasilkan asam.
Rekayasa ini bermanfaat dalam pengurangan biaya rehabilitasi batuan sisa dan biaya penyimpanan
tailing serta meminimalisasi risiko air asam tambang.

10