Anda di halaman 1dari 64

BAB I PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pesatnya perkembangan Dunia Telekomunikasi. mendorong manusia


untuk selalu mendapatkan informasi secara cepat dan akurat. Banyak media yang
dapat digunakan dalam memperoleh informasi-informasi tersebut, baik melalui
media cetak maupun elektronik. Kemajuan media elektronik inilah yang menjadi
acuan bagi manusia untuk lebih meningkatkan sumber daya manusia yang telah
ada. Untuk itulah Politeknik Kota Malang (Poltekom) dengan jenjang pendidikan
D3 membuat program Praktek Kerja Industri (Prakerin). Selain dapat menambah
keahlian di bidang sumber daya manusia, kegiatan ini juga diharapkan dapat
mendekatkan mahasiswa dengan dunia industri. Dengan demikian para mahasiswa
akan lebih siap untuk langsung terjun ke dunia industri setelah lulus nanti.

Dengan beberapa alasan di atas, maka penulis memilih PT.Telkom Akses Malang
(AP Blimbing)Jalan Letjen Sutoyo No. 107 Malang sebagai tempat untuk
melakukan kegiatan Praktek Kerja Industri. PT.Telkom Akses Malang (AP
Blimbing)merupakan tempat yang sering digunakan untuk pelatihan para siswa
SMK maupun Mahasiswa. Selain itu di sini mahasiswa akan mendapatkan
pembimbing industri yang lebih ahli dalam bidang teknologi informasi yang dapat
menambahkan ilmu lebih selain penerapan ilmu yang telah diperoleh selama
perkuliahan.

1
BAB I PENDAHULUAN

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari praktek kerja industri adalah :
1. Mengetahui prosedur kerja secara langsung dan dapat meningkatkan kualitas
mahasiswa itu sendiri.
2. Menambah wawasan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja
sesungguhnya.
3. Sinkronisasi antara ilmu yang diterima dari kampus dengan lingkungan kerja
secara langsung.
4. Dapat mengetahui sistematika kerja dan arsitektur jaringan fiber optic yang
ada di dalamPT.Telkom Akses Malang (AP Blimbing).
5. Membantu mahasiswa dalam pengembangan diri dan mengetahui
perkembangan sistem perangkat yang ada dalam perusahaan.

1.3 BATASAN MASALAH

Dalam penyusunan Laporan Praktek Kerja Industri ini hanya akan


membahas mengenai arsitektur PT 1 (satu) yaitu mulai dari ODP sampai dengan
menuju pelanggan yang dilakukan saat melakukan Praktek Kerja Industri
diPT.Telkom Akses Malang (AP Blimbing).

1.4 METODOLOGI
Tahapan kegiatan praktek kerja industri yang akan dilakukan antara lain
terdiri dari:
1. Sosialisasi.
2. Pengarahan dari pembimbing perusahaan.
3. Pemberian tugas oleh pembimbing perusahaan.
4. Diskusi.
5. Evaluasi hasil PKL dengan materi yang sudah didapat.
Untuk pelaksanaan tahapan di atas, disesuaikan dengan kondisi perusahaan
yang bersangkutan.

2
BAB I PENDAHULUAN

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


Untuk memberikan gambaran tugas akhir ini, secara singkat dapat diuraikan
sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang,tujuan,batasan masalah, metodologi,


dan sistematika pembahasan yang digunakan dalam penulisan laporan praktek
kerja industri.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

Pada bab ini menjelaskan tentang profil perusahaan tempat praktek kerja
industri.

BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Pada bab ini akan dibahas apa saja yang dilakukan pada praktek kerja industri.

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas Kegiatan selama Praktek kerja

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari kegiatan Praktek Kerja Industri yang
telah dilaksanakan Mahasiswa Politeknik Kota Malang.

3
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Tentang PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Perusahaan PT.Telekomunikasi Indonesia merupakan BUMN (Badan


Usaha Milik Negara) yang bergerak di bidang jasa layanan telekomunikasi dan
jaringan di wilayah Indonesia. PT.Telkom mengklaim sebagai perusahaan
Telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap
sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta. Dengan
statusnya sebagai Perusahaan milik Negara yang sahamnya di perdagangkan di
bursa saham, pemegangan saham mayoritas perusahaan adalah Pemerintah
Republik Indonesia sedangkan sisanya dikuasai oleh publik. Saham Perusahaan di
perdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), New York Stok Exchange (NYSE),
London Stock Exchange (LSE), dan Public Offering Without Listing (POWL) di
jepang.

Layanan Telekomunikasi dan jaringan Telkom sangat luas dan beragam,


meliputi layanan dasar telekomunikasi domestik dan internasional, baik
menggunakan jaringan kabel, nirkabel tidak bergerak (Code Division Multiple
Access atau CDMA) maupun (Global System for Mobile Communication atau
GSM) serta layanan interkoneksi antar operator penyedia jaringan. Di luar layanan
telekomunikasi, Telkom juga berbisnis di bidang multimedia berupa konten dan
aplikasi, melengkapi portofolio bisnis perusahaan yang disebut TIME. Bisnis
telekomunikasi adalah fundamental platform bisnis Perusahaan yang bersifat
legacy, sedangkan portofolio bisnis lainnya disebut sebagai bisnis new wave yang
mengarahkan perusahaan untuk terus berinovasi pada produk berbasis kreatif
digital. Hal tersebut mempertegas komitmen Telkom untuk terus meningkatkan
pendapatan di dalam situasi persaingan bisnis di industri ini yang sangat terbuka.

PT.Telkom akan mengikuti perkembangan dengan cara tersendiri, yaitu


selalu menciptakan inovasi yang dahsyat. Strategi PT.Telkom adalah memberikan
pelayanan sesuai dengan yang pelanggan harapkan, yakni menyediakan produk
dan layanan yang berkualitas dengan harga yang murah. PT.Telkom percaya

4
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

bahwa telekomunikasi adalah suatu daya penggerak utama untuk efisiensi dan
produktivitas bangsa yang pada akhirnya akan mengakibatkan pertumbuhan
ekonomi. PT.Telkom juga akan selalu mempertahankan kualitas produk serta akan
selalu menawarkan sesuatu yang baru, bermanfaat, menyenangkan dan sederhana.

2.2 Visi dan Misi PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Visi

PT.Telekomunikasi Indonesia memiliki visi yaitu :

To become a leading InfoCome player in the region

Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom


terkemuka dalam bidang kinerja finansial, pasar dan operasional di kawasan Asia.

Misi

PT.Telekomunikasi Indonesia memiliki misi yaitu:

To provide one stop InfoCome services with excellent quality and competitive
price

PT.Telekomunikasi Indonesia berkomitmen :

a. Memberikan layanan terbaik dan berkualitas, untuk kemudahan bagi


pelanggan dengan harga yang kompetitif.
b. Memaksimalkan Nilai Perusahaan melalui ekspansi dan pengembangan
portofolio usaha di bidang adjacent industries telekomunikasi.
c. Menjadi perusahaan holding strategis demi pertumbuhan tinggi dan sinergi
melalui anak-anak perusahaan dan unit bisnis strategis.
d. Menjadi kontributor pendapatan yang utama bagi pemegang saham.

5
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.3 Sejarah PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Perusahaan Telekomunikasi sudah ada sejak masa Hindia Belanda dan yang
menyelenggarakan adalah pihak swasta. Sedangkan perusahaan Telekomunikasi
Indonesia (PT.Telkom) sendiri juga termasuk bagian dari perusaahaan tersebut
yang mempunyai bentuk badan usaha Post-en Telegraaflent dengan Staats blaad
No.52 tahun 1884. Dan sejak tahun 1905 perusahaan Telekomunikasi sudah
berjumlah 38 peusahaan. Namun setelah itu pemerintah Hindia Belanda
mengambil alih perusahaan tersebut yang berdasar kepada Staatsblaad tahun
1906. Dan sejak itu berdirilah Post, Telegraf en Telefoon Dients (PTT-Dients),dan
perusahaan ini ditetapkan sebagai Perusahaan Negara berdasar Staats blaad
No.419 tahun 1927 tentang Indonesia Bedrijven Weet (I.B.W Undang-Undang
Perusahaan Negara).

Perusahaan PTT tesebut bertahan sampai adanya Peraturan Pemerintah


Pengganti Undang-Undang (Perpu) No.19 tahun 1960 oleh Pemerintah Republik
Indonesia, tentang adanya persyaratan suatu Perusahaan Negara (PN). Tetapi pada
tahun 1961 menurut Peraturan Pemerintah No.240 bahwa Perusahaan Negara
dilebur menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi yang dimuat dalam
pasal 2 I.B.

Namun pada tahun 1965 pmemerintah membagi perusahaan Pos dan


Telekomunikasi menjadi dua bagian yang berdiri sendiri yaitu Perusahaan Pos dan
Giro (PN. Pos dan Giro) serta Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN.
Telekomunikasi) yang sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah No.30 tahun
1965. Dan perusahaan tersebut berkembang menjadi Perusahaan Umum (Perum).
Dalam Peraturan Pemerintah No.36 tahun 1974 dinyatakan bahwa Perum
Telekomunikasi sebagai penyelenggara jasa Telekomunikasi untuk umum baik
Telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri.

Perusahaan Umum (PERUM) Telekomunikasi merupakan penyelenggara


jasa telekomunikasi untuk umum, baik hubungan telekomunikasi dalam negeri
maupun luar negeri. Tentang hubungan telekomunikasi luar negeri saat itu juga
diselenggarakan oleh PT. Indonesia Satelite Corporation (INDOSAT), yang
6
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

masih berstatus perusahaan asing yakni dari American Cable and Radio Corp
yaitu suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan negara bagian
Delaware, USA.

Seluruh saham PT Indosat dengan modal asing ini pada tahun 1980 dibeli
oleh Indonesia dari American Cable and radio Corp. Pemerintah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1274 berdasarkan PP No. 53 tahun 1980,
Perumtel ditetapkan sebagai badan usaha yang berwenang menyelenggarakan
telekomunikasi untuk umum dalam negeri dan Indosat ditetapkan sebagai badan
usaha penyelenggara telekomunikasi urnurn untuk internasional.

Memasuki Repelita V, pemerintah merasakan perlu percepatan


pembangunan telekomunikasi sebagai infrastruktur yang diharapkan dapat
memacu pembangunan sektor lainnya. Berdasarkan PP No. 15 tahUH 1991, maka
Perum dialihkan menjadi Perusahaan Perseroan (persero). Mengantisipasi era
globalisasi, seperti diterapkannya perdagangari bebas baik internasional maupun
regional, maka PT Telkom pada tahun 1995 melaksanakan 3 program besar.
Program-program tersebut adalah restrukturisasi internal, penerapan KSO dan
persiapan Go Public Internasional (International Public Offering).

Kronologi sejarah PT Telkom dijelaskan sebagai berikut :

1. 1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap
dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
2. 1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang
mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan
Pos, Telegrap dan (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).
3. 1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan
berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.
4. 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan
Telekomunikasi (PN Postel).
5. 1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN
Pos dan Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN
Telekomunikasi).
7
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

6. 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum


Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa
telekomunikasi nasional maupun internasional.
7. 1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk
menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari
Perumtel.
8. 1989 Undang-undang No. 3 tahun 1989 tentang Telekomunikasi,
tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan Telekomunikasi.
9. 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no. 25 tahun
1991.
10. 1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public
Offering) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham
TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ),
Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan
London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga
diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing) di
Tokyo Stock Exchange.
11. 1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1
Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra dengan mitra PT
Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat
dan Banten-dengan mitra PT Aria West International (AriaWest);
Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta - dengan mitra PT
Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI
Kalimantan dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra);
dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia-dengan mitra PT
Bukaka Singtel.
12. 1999 Undang-undang nomor 36/ 1999, tentang penghapusan monopoli
penyelenggaraan telekomunikasi.
13. 2001 KOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai
bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di
Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama

8
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan


transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel.
TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan
mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan
keuangan TELKOM.
14. 2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap,
yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada
tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan
sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual
12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan
demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus
2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
15. Sejak 1 Juli 1995 PT. Telkom telah menghapus struktur wilayah usaha
telekomunikasi (WTTEL) dan secara de facto meresmikan dimulainya
era Divisi Network. Badan Usaha utama dikelola oleh 7 divisi regional
dan 1 divisi network. Divisi regional menyelenggarakan jasa
telekomunikasi di wilayah masing masing dan divisi network
menyelenggarakan jasa telekomunikasi jarak jauh luar negeri melalui
pengoperasian jaringan transmisi jalur utama nasional. Daerah
regional.

PT. Telkom mencakup wilayah-wilayah yang dibagi sebagai berikut :

1. Divisi Regional I, Sumatera.

2. Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya.

3. Divisi Regional III, Jawa Barat.

4. Divisi Regional IV, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

5. Divisi Regional V, Jawa Timur.

6. Divisi Regional VI, Kalimantan.

9
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

7. Divisi Regional VII, Kawasan timur Indonesia (Sulawesi, Bali, Nusa


Tenggara, Maluku dan Papua).

Masing-masing divisi dikelola oleh suatu tim manajemen yang terpisah


berdasarkan prinsip desentraiisasi serta bertindak sebagai pusat investasi (Divisi
Regional) dan pusat keuntungan (Divisi Network), serta divisi lainnya yang
mempunyai keuntungan internal secara terpisah. Divisi-divisi pendukung terdiri
dari divisi pelatihan, divisi properti, divisi sistem informasi. Berdasarkan
organisasi divisional ini, maka kantor pusat diubah menjadi pusat biaya.
Berlakunya kebijaksanaan dekonsentrasi menjadikan jumlah SDM menjadi lebih
sedikit.

2.4 Logo PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Gambar 2.1 Logo Telkom dahulu

Arti dari Logo di atas adalah :


a. Bentuk bulatan dari logo melambangkan : Keutuhan Wawasan Nusantara,
ruang gerak Telkom secara nasional dan internasional.
b. Tulisan TELKOM yang mantap, modern, luwes dan sederhana.
c. Warna biru tua dan biru muda bergradasi melambangkan teknologi
telekomunikasi tinggi atau canggih yang terus berkembang dalam suasana
masa depan yang gemilang.
d. Garis-garis tebal dan tipis yang mengesankan gerak pertemuan yang
beraturan menggambarkan sifat komunikasi dan kerjasama yang selaras
secara berkesinambungan dan dinamis.

10
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

e. Tulisan INDONESIA dengan huruf Futura Bold Italic menggambarkan


kedudukan perusahaan Telkom sebagai Pandu Bendera Telekomunikasi
Indonesia

Perubahan Logo
Tak terasa perusahaan sebesar PT Telekomunikasi Indonesia (PT
TELKOM) sudah berusia 153 tahun. Kesan birokrat terhadap perusahaan plat
merah ini sangat terasa hingga kini membuat para petinggi perusahaan
menciptakan strategi dan aksi agar perusahaan ini selalu berubah dan mampu
beradaptasi terhadap segala perubahan yang ada (makro).
Salah satu strategi yang baru-baru ini direalisasikan adalah perubahan
Corporate Identity yang mencakup perubahan brand positioning dan brand
value yang baru.

Gambar 2.2 Logo Telkom sekarang

Banyak perubahan yang sudah dilakukan oleh perusahaan ini sebelum


corporate identity berubah. Diantaranya adalah transformasi bisnis melalui
penguatan bisnis inti (Fixed Wireline, Fixed Wireless Access dan penajaman
portofolio bisnis) transformasi system dan model operasi melalui peningkatan
kompetensi dan menumbuhkan layanan baru (new wave) seperti layanan berbasis
broadband, enterprise, IT services, dan melakukan ekspansi bisnis media dan
edutainment. Di bidang teknologi TELKOM juga sudah melakukan transformasi
besar-besaran dengan membangun jaringan berbasis teknologi NGN dengan
konsep yang dikenal dengan nama INSYNC2014. Transformasi organisasi dan
sumber daya manusia juga dilakukan demi pencapaian sasaran organisasi yang
semakin adaptif.

11
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

Perubahan-perubahan diatas masih bersifat internal dan tidak dapat


dirasakan langsung oleh masyarakat atau stakeholders. Maka dari itu perubahan
budaya dan strategi brand ikut menentukan hasil dari transformasi perusahaan
yang sudah dilaksanakan sejak 5 tahun silam ini.
Logo baru TELKOM mencerminkan brand positioning Life Confident
dimana keahlian dan dedikasi akan diberikan bagi semua pelanggan
untuk mendukung kehidupan mereka dimanapun mereka berada. Brand
positioning ini didukung oleh service culture baru yaitu: expertise, empowering,
assured, progressive dan heart.
Sekilas logo bulat dengan siluet tangan terkesan simple. Simplifikasi logo
ini terdiri dari lingkaran biru yang ada di depan tangan berwarna kuning. Logo ini
merupakan cerminan dari brand value baru yang selanjutnya disebut denganLife
in Touch dan diperkuat dengan tag line baru pengganti committed 2Uyakni
the world is in your hand.

Untuk lebih mengenal logo ini, ada baiknya kita memaknai arti dari
simbol-simbol tersebut.
a. Expertise : makna dari lingkaran sebagai simbol dari kelengkapan
produk dan layanan dalam portofolio bisnis baru TELKOM yaitu
TIME(Telecommunication, Information, Media & Edutainment.
b. Empowering : makna dari tangan yang meraih ke luar. Simbol ini
mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi ke luar.
c. Assured : makna dari jemari tangan. Simbol ini memaknai sebuah
kecermatan, perhatian, serta kepercayaan dan hubungan yang erat
d. Progressive : kombinasi tangan dan lingkaran. Simbol dari matahari terbit
yang maknanya adalah perubahan dan awal yang baru.
e. Heart : simbol dari telapak tangan yang mencerminkan kehidupan
untuk menggapai masa depan.
f. Selain simbol, warna-warna yang digunakan adalah :
g. Expert Blue pada teks Telkom melambangkan keahlian dan pengalaman
yang tinggi
h. Vital Yellow pada telapak tangan mencerminkan suatu yang atraktif,
hangat, dan dinamis

12
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

i. Infinite sky blue pada teks Indonesia dan lingkaran bawah mencerminkan
inovasi dan peluang yang tak berhingga untuk masa depan.
PT. TELKOM mempunyai kredo adapun arti dari
kredo tersebut adalah sebagai berikut:

a) TELKOM ingin selalu fokus kepada pelanggan.


b) TELKOM ingin selalu memberikan pelayanan yang prima dan
mutuproduk yang tinggi serta harga yang kompetitif.
c) TELKOM ingin selalu melaksanakan segala sesuatu melalui cara-carayang
terbaik (Best Practices)
d) TELKOM ingin selalu menghargai karyawan yang proaktif dan
inovatif dalam peningkatan produktivitas dan kontribusi kerja.
e) TELKOM ingin selalu berusaha menjadi yang terbaik.

2.5 Kegiatan Usaha

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan


Perusahaan adalah menyelenggarakan jaringan dan layanan telekomunikasi,
informatika serta optimalisasi sumber daya Perusahaan. Untuk mencapai tujuan
tersebut di atas, Perusahaan menjalankan kegiatan usaha yang meliputi:

A. Usaha Utama
a. Merencanakan, membangun, menyediakan, mengembangkan,
mengoperasikan, memasarkan atau menjual/menyewakan dan
memelihara jaringan telekomunikasi dan informatika dalam arti yang
seluas-luasnya dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
b. Merencanakan, mengembangkan, menyediakan, memasarkan atau
menjual dan meningkatkan layanan jasa telekomunikasi dan
informatika dalam arti yang seluas-luasnya dengan memperhatikan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
B. Usaha Penunjang
a. Menyediakan layanan transaksi pembayaran dan pengiriman uang
melalui jaringan telekomunikasi dan informatika.
13
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

b. Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi


sumber daya yang dimiliki Perusahaan, antara lain pemanfaatan aset
tetap dan aset bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan
dan pelatihan dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan.

2.6 Sejarah PT. Telkom Akses

Telkom Akses merupakan salah satu anak perusahaan Telkom yang


bergerak di bidang konstruksi pembangunan dan manage service infrastruktur
jaringan. PT Telkom Akses didirikan pada tanggal 12 Desember 2012.

PT Telkom Akses (PTTA) merupakan anak perusahaan PT


Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) yang sahamnya dimiliki sepenuhnya
oleh Telkom. PTTA bergerak dalam bisnis penyediaan layanan konstruksi dan
pengelolaan infrastruktur jaringan. Pendirian PTTA merupakan bagian dari
komitmen Telkom untuk terus melakukan pengembangan jaringan broadband
untuk menghadirkan akses informasi dan komunikasi tanpa batas bagi seluruh
masyarakat indonesia.

Telkom berupaya menghadirkan koneksi internet berkualitas dan


terjangkau untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga
mampu bersaing di level dunia. Saat ini Telkom tengah membangun jaringan
backbone berbasis Serat Optik maupun Internet Protocol (IP) dengan
menggelar 30 node terra router dan sekitar 75.000 Km kabel Serat Optik.
Pembangunan kabel serat optik merupakan bagian dari program Indonesia
Digital Network (IDN) 2015. Sebagai bagian dari strategi untuk
mengoptimalkan layanan nya, Telkom mendirikan PT. Telkom Akses.
Kehadiran PTTA diharapkan akan mendorong pertumbuhan jaringan akses
broadband di indonesia. Selain Instalasi jaringan akses broadband, layanan
lain yang diberikan oleh PT Telkom Akses adalah Network Terminal
Equipment (NTE), serta Jasa Pengelolaan Operasi dan Pemeliharaan (O&M
Operation & Maintenance) jaringan akses pita lebar.

14
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.7 Visi dan Misi PT. Telkom Akses

Visi

PT.Telekomunikasi Indonesia memiliki visi yaitu :

To become a leading InfoCome player in the region

Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom


terkemuka dalam bidang kinerja finansial, pasar dan operasional di kawasan Asia.

Misi

PT.Telekomunikasi Indonesia memiliki misi yaitu:

To provide one stop InfoCome services with excellent quality and competitive
price

PT.Telekomunikasi Indonesia berkomitmen :

e. Memberikan layanan terbaik dan berkualitas, untuk kemudahan bagi


pelanggan dengan harga yang kompetitif.
f. Memaksimalkan Nilai Perusahaan melalui ekspansi dan pengembangan
portofolio usaha di bidang adjacent industries telekomunikasi.
g. Menjadi perusahaan holding strategis demi pertumbuhan tinggi dan sinergi
melalui anak-anak perusahaan dan unit bisnis strategis.
h. Menjadi kontributor pendapatan yang utama bagi pemegang saham.

15
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.8 Struktur Organisasi PT. Telkom Akses Malang (AP Blimbing)

Struktur organisasi umum dari PT. TELKOM Kraksaan adalah sebagaiberikut :

16
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

3.1 Tempat Pelaksanaan


Tempat pelaksanaan praktek kerja di PT. TELKOM AKSES
MALANG bertempat di Jalan Letjen Sutoyo No. 107 Malang, Jawa Timur,
Indonesia.

3.2 Waktu Pelaksanaan


Praktek kerja dilaksanakan pada tanggal 01 Februari 2016 s/d
29Februari 2016. Hari efektif kerja pada hari Senin s/d Sabtu dimulai
pukul 07.30 s/d 16.30 WIB.

3.3 Serat Optik


Serat Optik (lihat Gambar 3.1) adalah alat optik yang berguna
untuk mentransmisikan informasi melalui media cahaya. Teknologi ini
melakukan perubahan sinyal listrik kedalam sinyal cahaya yang kemudian
disalurkan melalui serat optikl dan selanjutnya di konversikan menjadi
sinyal listrik pada bagian penerima.

Gambar 3.1Struktur fiber optic

Secara umum struktur serat optik terdiri dari 3 bagian, yaitu :

17
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

1. Inti (core)

Terbuat dari bahan silica (SiO2) atau plastik dan merupakan tempat
merambatnya cahaya. Diameternya berkisar antara 8 micron sampai
62,5micron.

2. Selubung(cladding)

Terbuat dari bahan yang sama dengan inti, tapi memiliki indeks
bias yang lebih kecil agar cahaya tetap berada pada inti fiber optic.

3. Jaket(coating)

Jaket berfungsi sebagai pelindung mekanis yang melindungi fiber


optic dari kotoran, goresan, dan kerusakan lainnya.

3.3.1 Komponen Serat Optik

Suatu transmisi serat optik terdiri dari tiga komponen utama yaitu
perangkat pengirim (Tx), perangkat penerima (Rx), dan media transmisi
seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.2. ketiga komponen ini mutlak
dimiliki dalam suatu dasar transmisi serat optik.

Gambar 3.2 Skema transmisi serat optic

18
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

3.3.2 Cara Kerja Serat Optik

Penemuan serat optik sebagai media transmisi pada suatu sistem


komunikasi didasarkan pada hukum Snellius untuk perambatan cahaya
pada media transparan seperti pada kaca yang terbuat dari kuartz kualitas
tinggi dan dibentuk dari dua lapisan utama yaitu lapisan inti dengan indeks
bias n1 dan dilapisi oleh cladding dengan indeks bias n2 yang lebih kecil
dari n1. Menurut hukum Snellius jika seberkas sinar masuk pada suatu
ujung serat optik (media yang transparan) dengan sudut kritis dan sinar itu
datang dari medium yang mempunyai indeks bias lebih kecil dari udara
menuju inti fiber optik (kuartz murni) yang mempunyai indeks bias yang
lebih besar maka seluruh sinar akan merambat sepanjang inti ( core) serat
optik menuju ujung yang satu. Disini cladding (lihat gambar 3.3 dan
Gambar 3.4) berguna untuk memantulkan kembali cahaya kembali ke
core.

Gambar 3.3 Perambatan cahaya pada serat optik yang lurus

Gambar 3.4 Perambatan cahaya pada serat optik yang melengkung

19
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Cahaya pada serat optik merambat melalui core dengan secara


terus-menerus memantul dari cladding, prinsip ini dikenal dengan total
internal reflection yaitu ketika dua material yang mempunyai dua indeks
bias yang berbeda dimana n1>n2 maka total internal reflection akan
terjadi apabila sudut datang (i) pada material dengan indeks n1 lebih
besar dibanding sudut kritis (c) . Cladding tidak menyerap cahaya apapun
dari core, gelombang cahaya dapat merambat pada jarak yang sangat jauh.
Tapi bagaimanapun juga, beberapa sinyal cahaya menurun di dalam fiber,
karena ketidakmurnian kaca. Besarnya penurunan sinyal bergantung pada
kemurnian kaca dan panjang gelombang cahaya yang ditransmisikan
(Contoh, 850 nm = 60 to 75 persen/km, 1300 nm = 50 to 60 persen/km,
1550 nm = lebih besar dari 50 persen/km).

3.3.3 Jenis Serat Optik

Secara umum terdapat dua jenis serat optik yaitu :

a) Serat optik single mode

Serat optik jenis ini (Lihat Gambar 2.5) memiliki diameter inti
yang sangat kecil antara 810 micron sehingga cahaya hanya dapat
merambat melalui satu mode saja, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar
2.5. Biasanya digunakan untuk transmisi jarak jauh dengan kecepatan
tinggi dan memiliki loss yang lebih kecil dari pada multimodefiber optic.

Gambar 3.5Fiber opticsingle mode

Serat optik single-mode memiliki bandwidth yang lebih besar


dibandingkan dengan mode lainnya, dimana serat optik ini juga memiliki

20
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

tingkat akurasi yang tinggi dalam mentransmisikan impuls pada


penerimanya.

b) Serat Optik multimode

Serat optik jenis ini (lihat Gambar 3.6) memiliki diameter inti 50
80 micron sehingga cahaya dapat merambat melalui beragam mode
(lintasan/ path). Pada saat sebuah pulsa cahaya melalui fiber optic
multimode, daya pulsa didistribusikan hampir ke seluruh mode dimana
setiap mode memiliki kecepatan yang berbeda, sehingga mode dengan
kecepatan yang lebih tinggi akan sampai terlebih dahulu. Fenomena ini
disebut modal dispersion dan mengakibatkan pulsa yang dikirim
mengalami pelebaran. Serat optik jenis ini biasanya digunakan untuk
transmisi jarak pendek dengan kecepatan rendah, karena memiliki loss
yang besar.

Gambar 3.6 Serat optik multimode

3.4 Rugi-rugi Serat optik

Ada beberapa komponen yang menjadi bahan pertimbangan dalam


mendisain suatu jaringan. Salah satunya adalah rugi-rugi transmisi serat
optik ( attenuation). Rugi-rugi transmisi ini adalah salah satu karakteristik
yang penting dari serat optik. Rugi-rugi ini menghasilkan penurunan dari
daya cahaya dan juga penurunan bandwidht dari sistem, transmisi
informasi yang dibawa, efisiensi, dan kapasitas sistem secara keseluruhan.

21
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi serat optik tersebut ataupun karena
gangguan ataupun tambahan pada jaringan serat optik tersebut.

Selain itu, rugi-rugi pada suatu saluran transmisi yang


mempergunakan serat optik juga didapat dari pemasangan komponen-
komponen pendukung yang dibutuhkan dalam suatu jaringan seperti
konektor, splice, ataupun komponen lain yang disambungkan pada saluran
transmisi. Rugi-rugi pada serat optik merupakan pelemahan power dari
cahaya yang ditransmisikan mulai dari pemancar sampai jarak tertentu.
Misalkan pada suatu transmisi serat optik disalurkan cahaya dengan
powerP(0) dari pemancar, maka pada jarak l km, sinyal tersebut akan
mengalami degradasi atau penurunan power menjadi P(l).

Pelemahan sinyal atau rugi-rugi ini dinyatakan dengan satuan


dB/km dan dilambangkan dengan . Perumusannya secara sistematis dapat
menggunakan Persamaan (3.1) berikut ini,

10 (0)
= log ( / )
()

(3.1)

3.4.1 Rugi-rugi Absorpsi(Penyerapan)

Rugi-rugi ini analog dengan disipasi daya pada kabel tembaga,


dimana serat optik menyerap cahaya dan mengubahnya menjadi panas.
Untuk mengatasinya digunakan kaca yang benar-benar murni yang
diperkirakan kemurniannya sampai 99,9999%. Namun rugi-rugi absorpsi
antara 1 dan 1000 dB/km tetap saja lumayan besar. Ada tiga faktor yang
turut menimbulkan rugi absorpsi pada serat optik yaitu absorpsi
ultraviolet, absorpsi infra merah, dan absorpsi resonansi ion.

Absorpsi ultraviolet, disebabkan oleh elektron valensi dari bahan


silika.

22
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Cahaya mengionisasi elektron valensi tersebut menjadi konduktor.


Ionisasi tersebut sama saja dengan rugi cahaya total dan tentu saja
menimbulkan rugi-rugi transmisi pada serat optik.

Absorpsi infra merah, adalah hasil dari penyerapan photon-photon

Cahaya oleh atom-atom molekul inti kaca. Ini menyebabkan


photon bergetar secara acak dan menyebabkan panas.

Absorpsi resonansi ion (lihat Gambar 3.7), disebabkan oleh ion-ion

OH- pada bahan penyusunnya. Ion OH- ini terdapat pada molekul
air yang terperangkap pada kaca saat proses pembuatannya. Absorpsi
ion juga dapat disebabkan oleh molekul besi, tembaga, dan khromium.

Gambar 3.7 Mulekul-Mulekul air yang terdapat dalam inti glass

Berikut adalah perumusan loss-lossdiatas menggunakan Persamaan


3.2 dan 3.3 berikut ini,

154.2 .
= 10
46.6 + 60

(3.2)

.
= 7.81 10

(3.3)

23
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

dengan ,

uv = ultraviolet loss (dB/km)

x = mole fraction

IR = Infrared loss (dB/km)

= Panjang gelombang sinar pembawa

3.4.2 Rugi-rugi Pada Inti dan Cladding

Struktur serat optik terdiri dari 3 komponen yaitu inti, cladding,


dan pembungkus. Masing-masing bagian serat optik ini terbentuk dari
berbagai macam material yang berbeda. Meskipun inti maupun cladding
memiliki bahan penyusun dasar yang sama, namun inti memiliki indeks
bias yang lebih besar dari cladding dengan adanya bahan aditif yang
ditambahkan dalam material penyusun inti.

Akan tetapi secara alami, material-material penyusun inti maupun


cladding memiliki dampak terhadap transmisi sinyal dalam serat optik.
Mengingat bahan-bahan penyusun kedua bagian ini memiliki karakteristik
tersendiri, maka baik inti maupun cladding juga memiliki komponen
pelemahan sinyal. Pelemahan sinyal atau rugi-rugi pada inti dan cladding
adalah berbeda, hal ini disebabkan karena berbedanya bahan penyusun inti
dan cladding itu sendiri.

3.4.3 Rugi-rugi Pada Konektor dan Splice

Suatu saluran transmisi serat optik pasti akan tersambung dengan


komponen-komponen lainnya. Komponen tersebut antara lain adalah
konektor antar serat optik, konektor serat optik dengan komponen lain
seperti sumber cahaya, atau penerima. Konektor dalam sambungan serat
optik bersifat tidak permanen sehingga dapat dibongkar apabila sudah
tidak memenuhi kebutuhan. Splice (lihat Gambar 3.8) pada dasarnya
merupakan penyambung antar serat optik, namun sifat sambungan yang
mempergunakan splice adalah permanen. Selain konektor dan splice juga

24
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

ada komponen lain yang mungkin ditemui dalam sambungan serat optik,
yaitu repaired splice yang merupakan splice yang diperbaiki dari splice
sebelumnya yang mengalami kerusakan atau gangguan lain.

Gambar 3.8Splice pada 2 buah fiber optic

Konektor dan splice keduanya memiliki kontribusi terhadap rugi-


rugi pada transmisi sinyal optik pada serat. Sinyal yang berpropagasi dan
melalui komponen-kompnen ini akan mengalami penurunan daya.
Pemilihan konektor yang tidak tepat dapat mengakibatkan pemakaian
amplifier yang sangat banyak, hal inilah yang mengakibatkan biaya
bertambah. Secara umum, rugi-rugi akibat penambahan konektor atau
splice diantara dua buah serat optik disebut insertionloss. Perumusannya
dapat menggunakan Persamaan (3.4) berikut ini. Konektor dan splice
keduanya

1
= 10 log
2

(3.4)

dengan

P1 = daya keluaran tanpa konektor

P2 = daya keluaran dengan menggunakan konektor

Selain insertionloss diatas, masih ada beberapa rugi-rugi lain yang


disebabkan oleh penyambungan dua buah serat optik terutama pada dua
buah serat optik dengan karakteristik yang berbeda. Rugi-rugi yang dapat
terjadi dalam penyambungan tersebut diantaranya adalah:

a) rugi-rugi akibat ketidaksinkronan NA,

25
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

b) rugi-rugi akibat ketidaksinkronan ukuran inti/ cladding.

Ketidaksinkronan NA dapat menyebabkan pelemahan sinyal jika


NA dari serat optik yang mentransmisikan sinyal lebih besar dari NA serat
optik yang menerimanya (Nat>NAr). Secara matematis rugi-rugi akibat
ketidaksikronan NA ini dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan
(3.5) berikut ini.

= 10 log ( )

(3.5)

Ukuran inti dan cladding yang berbeda juga menyebabkan


hilangnya sebagian daya dari sinyal yang ditransmisikan. Ketika ukuran
inti serat optik yang mentransmisikan (diat) lebih besar dari diameter inti
yang menerima (diar), maka terjadi rugi-rugi. Perumusannya dapat
menggunakan Persamaan (3.6) berikut ini.

= 10 log ( )

(3.6)

Faktor lainnya yang turut memberikan sumbangan rugi-rugi pada


suatu transmisi serat optik adalah fresnel reflection. Fresnel reflection ini
merupakan fenomena yang terjadi akibat penggunaan konektor dalam
menyambung dua buah serat optik. Pada umumnya, saat instalasi, dua
kabel yang dihubungkan oleh konektor tersebut tidak dihubungkan secara
langsung namun diberi sedikit jarak.

Jarak antar dua serat optik ini memberikan rongga udara


diantaranya. Hal ini menyebabkan meskipun kedua serat optik memiliki
indeks bias yang sama tetap akan ada daya yang dipantulkan kembali
kearah kabel pengirim karena ada beda indeks antara inti dari serat optik
dengan udara. Dengan perbedaan indeks tersebut didapat suatu nilai faktor

26
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

yang disebut faktor fresnel reflection (R). Perumusannya dapat


menggunakan Persamaan (3.7) berikut ini.


=( )
+

(3.7)

dengan n1 adalah indeks bias dari serat optik pengirim dan n


adalah indeks bias serat optik penerima atau medium perantara. Nilai
faktor ini menunjukkan banyaknya persen daya yang hilang karena
dipantulkan kembali ke dalam inti. Besarnya daya yang hilang akibat
fresnel reflection dapat dihitung menggunakan Persamaan (3.8) berikut
ini.

( ) = 10 log(1 )

(3.8)

3.4.4 Hamburan

Rugi-rugi ini berasal dari variasi mikroskopik pada kepadatan


material. Pada dasarnya, serat optik terbentuk dari beberapa molekul.
Keberadaan molekul pada serat optik ini memiliki kepadatan molekul yang
lebih padat pada suatu daerah dibanding dengan daerah lainnya. Adanya
perbedaan ini menimbulkan variasi indeks bias pada serat optik dalam
jarak tertentu yang relatif kecil dibandingkan dengan panjang gelombang.
Variasi indeks bias ini menyebabkan hamburan Rayleigh dari cahaya
tersebut. Hamburan Rayleigh ini berbanding terbalik dengan 4 sehingga
nilai rugi-rugi hamburan akan berkurang seiring dengan pertambahan
panjang gelombang. Fungsi rugi-rugi hamburan secara matematis
perumusannya dapat menggunakan Persamaan (3.9) berikut ini.

8
= ( 1)
3

(3.9)

27
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

dengan :

= rugi-rugi hamburan (dB/km)

= konstanta Boltzmann

= titik beku

= isothermal compressibility dari material

n = indeks bias

3.4.5 Pembengkokan

Pada saat pemasangan serat optik pada suatu saluran transmisi akan
ada beberapa kondisi yang akan mengubah keadaan fisik dari serat optik
tersebut. Misalnya adalah kondisi lapangan/daerah yang berkelok-kelok
dan mengharuskan kabel dipasang dengan pembelokan. Selain itu, tekanan
secara fisis dari lingkungan maupun kesalahan instalasi juga akan
berpengaruh dalam mengubah kondisi fisik serat optik.

Perubahan fisik ini biasa disebut bending dan terdiri dari dua jenis
sebagai berikut.

a. Pembengkokan makro

Pembengkokan makro (lihat Gambar 3.9) adalah pembengkokan


kabel optik dengan radius pembengkokan yang mempengaruhi banyaknya
pelemahan sinyal yang berpropagasi dalam inti. Adanya pembengkokan
dengan radius pembengkokan lebih besar dari radius intiserat optik
mengakibatkan sebagian sinyal hilang terutama dalam pembengkokan
serat optik.

28
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Gambar 3.9 Rugi-rugi pembengkokan makro

b. Pembengkokan mikro

Pembengkokan mikro (lihat Gambar 3.10) berasal dari keadaan


kabel yang tidak sempurna akibat berbagai pengaruh dari luar kabel,
seperti tekanan dari luar, ataupun ketidaksempurnaan bentuk inti didalam
kabel optik tersebut. Adanya perubahan radius inti berakibat sama seperti
halnya pembengkokan mikro dimana sinyal yang berpropagasi akan hilang
pada saat berpropagasi.

Gambar 3.10 Pembengkokan mikro pada serat optik akibat tekanan dari luar
kabel

Pembengkokan mikro yang diakibatkan oleh tekanan dari luar


kabel diantisipasi dengan mempergunakan pembungkus yang lebih kuat
dan tidak sensitif terhadap pengaruh eksternal.

29
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

3.4.6 Coupling losses

Pada kabel serat optik, coupling losses (lihat Gambar 3.11) dapat
terjadi pada tiga tipe sambungan optik, yaitu: sambungan light source-to-
fiber, sambungan fiber-to-fiber, dan sambungan fiber-to-
photodetector.Rugi-rugi sambungan lebih sering disebabkan pada salah
satu masalah-masalah penyambungan yang bisa terjadi pada saluran (
lateral misalignment), longitudinalmisalignment, dan (sudut)
angularmisalignment.

a) longitudinal misalignment

b) lateral misalignment

c) Angular misalignment

Gambar 3.11Coupling Losses: a) longitudinal misalignment

b) lateral misalignmentc)Angularmisalignment

30
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Kesemua jenis misalignment ini memiliki prinsip yang sama, yaitu


inti dari serat optik pengirim dengan serat optik penerima tidak bertemu
dengan keadaan yang sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa rugi-rugi
daya yang diakibatkan oleh misalignment bukan karena perbedaan
karakteristik serat optik, namun lebih mengacu kepada kesalahan mekanis
yang sangat mungkin terjadi pada instalasi serat optik dalam suatu saluran
transmisi. Masing-masing misalignment memiliki parameter yang
berbeda-beda sehingga perhitungan rugi-rugi pada setiap misalignment
juga berbeda-beda.

3.5 Aplikasi Serat Optik( Fiber Optic)

Penggunaan serat optik( fiber optic ) secara umum tidak ada


sampai tahun 1970 dapat saat Corning Glass Works dapat memproduksi
serat optik (fiber optic) dengan ketipisan 20 dB/km. Sudah diakui bahwa
serat optic akan memungkinkan bagi transmisi telekomunikasi hanya bila
gelas bias dibuat begitu murni sehingga kepastiannya mencapai 20 dB/km
atau kurang dari itu. Ini berarti 1% cahaya akan tersisa setelah menempuh
1 km. Ketipisan serat optic saat ini berkisar dari 0,5 dB/km tergantung
pada serat optik yang dipakai. Batas ketipisan berdasar pada aplikasi yang
dimainkan.

Aplikasi komunikasi serat optic telah dengan melaju pesat, sejak


pemasangan sistem serat optic komersial pertama 1977. Perusahaan-
perusahaan telepon sudah memulai sejak awal, mengganti sistem kawat
tembaga mereka yang lama dengan jalur serat optic diseluruh sistem
mereka sebagai arsitektur tulang punggung (backbone) dan sebagai sistem
telekomunikasi telepon hubungan jarak jauh antar kota.

Perusahaan-perusahaan TV kabel (Cable TV) yang lagi marak di


masa ini juga sudah mulai mengintegrasikan serat optik di dalam sistem
kabel mereka. Jalur-jalur utama yang menghubungkan kantor-kantor pusat
kebanyakan telah diganti dengan serat optik. Beberapa provider telah
mulai bereksperimen dengan serat optic kepinggiran jalan menggunakan

31
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

serat optik/hibrida koaksial. Hibrida semacam ini memungkinkan adanya


integrasi serat optic dan koaksial dilokasi yang dekat. Lokasi ini, yang
disebut Node, akan menyediakan penerima optis yang mengubah impuls-
impuls cahaya ke sinyal elektronik. Sinyal tersebut kemudian disalurkan
kerumah-rumah pribadi melalui kabel koaksial.

Local Area Network (LAN) adalah grup kolektif komputer, atau


sistem komputer, yang dihubungkan satu dengan yang lain yang
memungkinkan dijalankannya database atau perangkat lunak (software)
program bersama. Universitas, gedung perkantoran dan pabrik industri,
Cuma sebagian kecil saja diantara sekalian pengguna yang memanfaatkan
serat optic dalam sistem LAN mereka.

Perusahaan-perusahaan listrik merupakan kelompok yang baru


muncul yang mulai memanfaatkan serat optic dalam sistem komunikasi
mereka. Hampir semua pabrik, listrik sudah memiliki sistem komunikasi
serat optik yang digunakan untuk memonitor sistem jaringan listriknya.

Sistem komunikasi Fiber optic merupakan sistem komunikasi yang


dalam pengiriman dan penerimaan sinyal informasi dilakukan dengan
menggunakan sumber optik, detektoroptik, dan kabel fiber optic dengan
panjang gelombang cahaya 850 nm, 1310 nm dan 1550 nm. Secara umum,
sistem komunikasi secara umum terdiri dari beberapa komponen yaitu :
Sumber informasi
transmitter (modulator)
media transmisi
receiver (demodulator)
dan tujuan (destination)
Jika salah satu dari komponen tersebut tidak ada maka
komunikasi tidak akan berjalan. Fiber opticsendiri digunakan sebagai
media transmisi untuk pengiriman dan penerimaan data. Secara umum blok
diagram dari sistem komunikasi fiber optic dapat digambarkan sebagai
berikut :

32
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Sumber Electrical Optical Optical Optical


Informasi Transmit Source Fiber Detector

Destinatio Receiver
Demodulat
n
or

Gambar 3.12 Blok Diagram Sistem Komunikasi Fiber optic

Seiring dengan kemajuan teknologi pada bidang telekomunikasi, saat


ini banyak perusahaan di bidang telekomunikasi yang mulai menggunakan
teknologi fiber optic untuk dapat mentransmisikan data yang besar pada
kecepatan tinggi.Fiber optic sendiri mempunyai beberapa kelebihan :
a. Redaman transmisi yang kecil
Sistem Telekomunikasi fiber optic mempunyai redaman transmisi per
km relatif kecil dibandingkan dengan transmisi lainnya, seperti kabel
coaxial ataupun kabel PCM. Ini berarti fiber optic sangat sesuai untuk
dipergunakan pada telekomunikasi jarak jauh.
b. Bidang frekuensi yang lebar
Secara Teoritis fiber optic dapat dipergunakan dengan kecepatan yang
tinggi, hingga mencapai beberapa Gigabit/detik. Dengan demikian
sistem ini dapat dipergunakan untuk membawa sinyal informasi dalam
jumlah yang besar hanya dalam satu buah fiber optic.
c. Ukurannya Kecil dan Ringan
Dengan demikian sangat memudahkan pada saat instalasi di lokasi.
Misalnya dapat ditempatkan pada tempat pemasangan kabel yang
lama tanpa harus membuat polongan baru
d. Tidak ada Gangguan (Interferensi)
Hal ini disebabkan sistem transmisi fiber optic menggunakan sinar
atau cahaya laser sebagai gelombang pembawanya. Sebagai akibatnya
akan bebas dari cross talk yang sering terjadi pada twisted pair cable.
Atau dengan perkataan lain kualitas transmisi yang dihasilkan lebih
baik dibandingkan dengan transmisi lainnya. Dengan begitu

33
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

akanmemungkinkan fiber optic dipasang pada jaringan tenaga listrik


tegangan tinggi.
e. Tidak berkarat
Karena bahan pembuatan kabelnya memakai serat kaca maka resiko
dari kabel berkarat dapat dihindari.
f. Tidak akan terjadi hubungan api pada saat kontak atau terputusnya
fiber optic
Sedangkan Fiber optic juga mempunyai beberapa kekurangan
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Biaya Instalasi lebih mahal dibandingkan dengan kabel tembaga
b. Konstruksi fiber optic lemah sehingga dalam pemakaiannya
diperlukan lapisan penguat sebagai proteksi.
c. Karakteristik transmisi dapat berubah bila terjadi tekanan dari luar
yang berlebihan.
d. Membutuhkan peralatan spesial/khusus.
Lapisan Kabel serat optik terdiridari 4 lapisan :
a. Cable Jaket (400 m)
b. Buffer (250 m)
c. Cladding (125 m)
d. Core (8 m)
Berikut Perbandingan Media Transmisi Fiber optic dengan yang lainnya
Tabel 3.1PerbandinganKecepatan Media Transmisi

Media Kecepatan Biaya

Twisted Pair 300bps - 10Mbps Rendah

Coaxial Cable 56Kbps - 200Mbps Rendah

Microwave 256Kbps - 100Mbps Tinggi

Satelite 256Kbps - 100Mbps Tinggi

Fiber optic 500Kbps 6,4Tbps Tinggi

34
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

3.5.1 Klasifikasi Fiber optic


Secara umum tipe kabel fiber optic berdasarkan jumlah mode yang
dilewatkan dalam inti core ada dua macam yaitu :
1. Fiber optic mode jamak (multimode) : Biasanya digunakan untuk
komunikasi jarak pendek karena lebar bandwidth frekuensinya hanya
20 MHz.
2. Fiber optic mode tunggal (single mode) : Digunakan untuk
komunikasi jarak jauh, karena dayanya lebih banyak diserap,
rambatan lebih baik dibanding multimode, serta lebar bandwidth
frekuensinya mencapai 40 GHz
Pada Kegiatan Praktek Industri di PT Telkom Akses, Malang
kebanyakan instalasi jaringan fiber optic menggunakan kabel single mode
karena unggul dan dapat digunakan untuk komunikasi jarak jauh.

3.6. Gigabit Passive Optical Network (GPON)

GPON merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T


via G.984 dan hingga kini bersaing dengan GEPON (Gigabit Ethernet PON),
yaitu PON versi IEEE yang berbasiskan teknologi Ethernet. GPON mempunyai
dominansi pasar yang lebih tinggi dan roll out lebih cepat dibanding penetrasi
GEPON. Standar G.984 mendukung bit rate yang lebih tinggi, perbaikan
keamanan, dan pilihan protokol layer 2 (ATM, GEM, atau Ethernet). Baik GPON
ataupun GEPON, menggunakan serat optik sebagai medium transmisi.

Satu perangkat akan diletakkan pada sentral, kemudian akan


mendistribusikan trafik Triple Play (Suara/VoIP, Multi Media/Digital Pay TV dan
Data/Internet) hanya melalui media 1 core kabel optik disisi subscriber atau
pelanggan. Yang menjadi ciri khas dari teknologi ini dibanding teknologi optik
lainnya semacam SDH adalah teknik distribusi trafik dilakukan secara pasif. Dari
sentral hingga ke arah subscriber akan didistribusikan menggunakan splitter pasif
(1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, 1:64). GPON menggunakan TDMA sebagai teknik

35
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

multiple access upstream dengan data rate sebesar 1.2 Gbps dan menggunakan
broadcast kearah downstream dengan data rate sebesar 2.5 Gbps. Model paketisasi
data menggunakan GEM (GPON Encapsulation Methode) atau ATM cell untuk
membawa layanan TDM dan packet based. GPON jadi memiliki efisiensi
bandwidth yang lebih baik dari BPON (70 %), yaitu 93%.

3.6.1. Prinsip Kerja GPON


GPON merupakan teknologi FTTx yang dapat mengirimkan informasi sampai ke
pelanggan menggunakan kabel optik. Prinsip kerja dari GPON, ketika data atau
sinyal dikirimkan dari OLT, maka ada bagian yang bernama splitter yang
berfungsi untuk memungkinkan serat optik tunggal dapat mengirim ke berbagai
ONU, untuk ONU sendiri akan memberikan data-data dan sinyal yang diinginkan
pelanggan.

Pada prinsipnya, PON adalah sistem point to multipoint, yang menggunakan


splitter sebagai pembagi jaringannya. Arsitektur sistem GPON berdasarkan pada
TDM (Time Division Multiplexing) sehingga mendukung layanan T1, E1 dan
DS3.

3.6.2. Komponen GPON


1. Network Management System (NMS)
NMS merupakan perangkat lunak yang berfungsi untuk mengontrol dan
mengkonfigurasi perangkat GPON. Letak NMS ini bersamaan di dekat OLT
namun berbeda ruangan. Konfigurasi yang dapat dilakukan oleh NMS adalah
OLT dan ONT. Selain itu NMS dapat mengatur layanan GPON seperti POTS ,
VoIP , dan IPTV. NMS ini menggunakan platform Windows dan bersifat GUI
(Graffic Unit Interface)maupun command line. NMS memiliki jalur langsung ke
OLT , sehingga NMS dapat memonitoring ONT dari jarak jauh.
2. Optical Line Terminal (OLT)
OLT menyediakan interface antara sistem PON dengan penyedia layanan
(service provider) data, video, dan jaringan telepon. Bagian ini akan membuat link
ke sistem operasi penyedia layanan melalui Network Management System
(NMS).

36
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

3. Optical Distribution Cabinet (ODC)


ODC (Optical Distribution Cabinet) adalah jaringan optik antara perangkat
OLT sampai perangkat ODC. Letak dari ODC ini adalah terletak di rumah
kabel.ODC menyediakan sarana transmisi optik dari OLT terhadap pengguna dan
sebaliknya. Transmisi ini menggunakan komponen optik pasif.
ODC menyediakan peralatan transmisi optik antara OLT dan ONT. Perangkat
interior pada ODC terdiri dari :
- Konektor optik merupakan salah satu perlengkapan kabel serat optik yang
berfungsi sebagai penghubung serat. Dalam operasinya konektor mengelilingi
serat kecil sehingga cahayanya terbawa secara bersama-sama tepat pada inti dan
segaris dengan sumber cahaya (serat lain). Konektor yang digunakan pada Optical
Access Network (OAN) dapat dipasang di luar dan di lokasi pelanggan.
- Splitter merupakan komponen pasif yang dapat memisahkan daya optik dari
satu input serat ke dua atau beberapa output serat. Splitter pada PON dikatakan
pasif sebab tidak memerlukan sumber energi eksternal dan optimasi tidak
dilakukan terhadap daya yang digunakan terhadap pelanggan yang jaraknya
berbeda dari node splitter, sehingga cara kerjanya membagi daya optik sama rata.

3.14 Gambar Splitter


Passive splitter atau splitter merupakan optical fiber couplersederhana
yang membagi sinyal optik menjadi beberapa path (multiple path) atau sinyal-
sinyal kombinasi dalam sutu jalur. Selain itu splitter juga dapat berfungsi untuk
merutekan dan mengkombinasikan berbagai sinyal optik. Alat ini sedikitnya
terdiri dari 2 port dan bisa lebih hingga mencapai 32 port.
Berdasarkan ITU G.983.1 BPON Standard direkomendasikan agar sinyal
dapat dibagi untuk 32 pelanggan, namun rasio meningkat menjadi 64 pelanggan
berdasarkan ITU-T G.984 GPON Standard. Hal ini berpengaruh terhadap redaman
sistem, seperti pada tabel dibawah ini.

37
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

Ratio Redaman
1:2 2,8 4,0 dB
1:4 5,8 7,5 dB
1:8 8,8 11,0 dB
1:16 10,7 14,4 dB
1:32 14,6 18,0 dB

4. Optical Distribution Pack (ODP)


Instalasi atau terminasi yang bagus dari serat adalah persyaratan utama untuk
menjamin kemampuan transmisi pada kabel serat optik. Syarat utama DP adalah :
a. DP dapat diubah tanpa mengganggu kabel yang sudah terpasang dengan cara
melebihkan kabel serat optik beberapa meter.
b. Setiap DP harus punya ruangan untuk memuat splitter.
c. DP harus memiliki akses dari sisi depan.
d. Setiap DP harus memiliki penutup depan untuk melindungi orang dari cahaya
laser yang langsung keluar dari ujung serat.
e. DP harus mempunyai ruang untuk memuat dan memandu kabel serat optik.
5. Optical Network Termination (ONT)
ONU menyediakan interface antara jaringan optik dengan pelanggan. Sinyal
optik yang ditransmisikan melalui ODN diubah oleh ONU menjadi sinyal elektrik
yang diperlukan untuk service pelanggan. Pada arsitektur FTTH, ONU diletakkan
di sisi pelanggan. Perangkat ONU yang digunakan PT.Telkom salah satunya
adalah ZXA10 FN62X yang merupakan pabrikan merek ZTE.

3.6.3. Keunggulan dan Kekurangan GPON


a. Mendukung aplikasi triple play (suara,data, dan video) pada layanan FTTx yang
dilakukan melalui satu core fiber optik.
b. Dapat membagi bandwidth sampai 32 ONT.
c. GPON mengurangi penggunaan banyak kabel dan peralatan pada kantor pusat
bila dibandingkan dengan arsitektur point to point. Hanya satu port optik di
central office (menggantikan multiple port).
d. Alokasi bandwidth dapat diatur.

38
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

e. Biaya maintenance yang murah karena menggunakan komponen pasif.


f. Transparan terhadap laju bit dan format data. GPON dapat secara fleksibel
mentransferkan informasi dengan laju bit dan format yang berbeda karena
setiap laju bit dan format data ditransmisikan melalui panjang gelombang yang
berbeda. Laju bit 1.244 Gbit/s untuk upstream dan 2.44 Gbit/s untuk
downstream.
g. Biaya pemasangan, pemeliharaan dan pengembangan lebih effisien. Hal ini
dikarenakan arsitektur jaringan GPON lebih sederhana dari pada arsitektur
jaringan serat optik konvensional. Sedangkan kekurangan yang dimiliki
GPON, antara lain:
a. Model layering yang kompleks
b. Lebih mahal dibandingkan GEPON
c. Transceiver pada laju 2.4 Gbps saat ini mahal
d. Bandwidth upstream terbatas pada hingga 622 Mbps saat ini

39
BAB IV PEMBAHASAN

OPERATIONAL DAN MAINTENANCE PERSEROAN


TERBATAS 1 PADA JARINGAN FIBER TO THE HOME

4.1. Jaringan Fiber to The Home (FTTH)

Sekarang dengan begitu pesatnya perkembangan kebutuhan akan Layanan


Internet dan aplikasi multimedia lainnya, teknologi FTTH saat ini telah menjadi
salah satu solusi untuk dapat memberikan layanan Triple Play yang terdiri dari
Data (Internet atau Intranet), Voice/Suara (VoIP) dan Video (Interaktive TV dan
Multimedia) di dalam satu infrastruktur yang praktis.

Sebagai perbandingan sejak tahun 2007 di Jepang, hampir 70%


masyarakat Jepang adalah pengguna internet, dan bersamaan dengan itu, minat
masyarakat menjadi pelanggan FTTH juga meningkat pesat seiring dengan
menurunnya minat akan Digital Subscriber Line (DSL)[5]. Sedangkan di
Indonesia keinginan masyarakat akan internet masih rendah, dan tentunya alih
teknologi kepada FTTH itu sendiri belum berpengaruh signifikan.

Saat ini di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, kebutuhan akan akses
internet yang cepat sudah cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya,
sehingga keinginan untuk beralih ke FTTH tentunya sudah menjadi gaya hidup
tersendiri.

Pemasangan jaringan instalasi serat optik merupakan bahagian yang paling


mahal dalam investasi teknologi ini. Beberapa metode instalasi yang telah
diperkenalkan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti, anggaran yang
disediakan, pilihan topologi jaringan, teknologi akses dan protokol, budaya
masyarakat sekitar serta estetika. Berikut ini ada tiga metoda yang telah
diimplementasikan dalam pemasangan instalasi jaringan serat optik:

1. Instalasi bawah tanah (direct burial)

2. Instalasi dalam pipa (duct installation)

3. Instalasi udara (aerial installation)

40
BAB IV PEMBAHASAN

FTTH dapat didefinisikan sebagai arsitektur jaringan optic mulai dari


sentral office (STO) hingga ke perangkata pelanggan, sedangkan desain
berasal dari kata Desaino dalam bahasa Itali yang artinya adalah suatu
gambar yang mengandung arti atau bermakna, jadi dalam bahasan disini
desain merupakan suatu seni yang dituangkan dalam bentuk gambar dan
mengandung arti, tentu didalamnya terdapat keterangan- keterangan seperti
dimensi, symbol symbol yang digunakan, penamaan, spesifikasi, ukuran
dan lain lain tergantung desain apa yang ditampilkan.

4.1.1 Arsitektur pada FTTH

Gambar 4.1 Arsitektur FTTH

Keterangan Gambar :

Segmen A : Catuan kabel Feeder

Segmen B : Catuan kabel Distribusi

Segmen C : Catuan kabel Penanggal/Drop

Segmen D : Catuan kabel Rumah/Gedung

Dalam jaringan akses fiber / FTTH sama hal seperti pada jaringan
akses tembaga dimana terdapat segmen segmen catuan, pada jaringan
FTTH terdapat Catuan Kabel Feeder, Catuan Kabel Distribusi, Catuan Kabel

41
BAB IV PEMBAHASAN

Drop dan Catuan kabel Indoor dan peraqngkat aktif seperti OLT dan
ONU/ONT.

Dalam mendesain jaringan FTTH sangat perlu diketahui tentang


teknologi perangkat aktifnya, karena ada kaitannya dengan penggunaan core
optik, Pada panduan atau Panduan disini teknologi yang digunakan adalah GPON.

pentransmisian sinyal optik dari pusat sentral sampai ke rumah pelanggan


menggunakan kabel fiber optik sebagai media transmisinya. FTTH muncul setelah
makin maraknya layanan Triple Play yang notabene membutuhkan bandwidth
yang lebar dan kecepatan tinggi. Pada jaringan FTTH, kabel fiber optik digelar
mulai dari pusat informasi di sentral sampai ke perangkat yang terletak di rumah
pelanggan. Untuk dapat menikmati layanan ini, nyatanya pelanggan perlu
membayar dengan nominal yang lebih besar dari pada jaringan eksisting yang
masih menggunakan tembaga karena operator harus mengganti kabel tembaga
dengan kabel fiber optik yang baru. Perangkat di sisi sentral yang dimaksud
adalah OLT, dan perangkat di rumah pelanggan disebut ONT. Batas maksimal
jaringan FTTH dari OLT sampai ke ONT adalah 20 km jika diinginkan layanan
yang diterima di pelanggan dalam kondisi baik.

Untuk konfigurasi jaringan FTTH digunakan panjang gelombang 1490 nm


untuk downstream dan 1310 nm untuk upstream. Panjang gelombang yang
berbeda digunakan agar tidak terjadi interferensi antar kedua link yang dilewatkan
melalui satu kabel fiber optik yang sama. Performansi sistem dipengaruhi oleh
panjang gelombang yang digunakan, selain itu juga dipengaruhi oleh besarnya
redaman kabel tiap km. Besarnya redaman/km dari kabel fiber optik
mengindikasikan bahwa semakin panjang kabel fiber optik yang digunakan, maka
redaman yang dihasilkan akan semakin besar pula.

42
BAB IV PEMBAHASAN

4.2. Peralatan Kerja

4.2.1 Connector (penguhubung)


Pada kabel serat optik, sambungan ujung terminal atau disebut juga
konektor, biasanya memiliki tipe standar seperti berikut:
1. FC ( Fiber Connector )
digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat
tinggi dalam menghubungkan kabel dengan transmitter maupun
receiver.
Konektor ini menggunakan sistem drat ulir dengan posisi yang
dapat diatur, sehingga ketika dipasangkan ke perangkat lain,
akurasinya tidak akan mudah berubah.

Gambar 4.2 FC Connector

2. SC (Subsciber Connector )

Digunakan untuk kabel single mode, dengan sistem


dicabut-pasang. Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel, dan dapat
diatur secara manual serta akurasinya baik bila dipasangkan ke
perangkat lain.

Gambar 4.3SC Connector

43
BAB IV PEMBAHASAN

3. LC ( Lucent Connector )

Lebih sering digunakan untuk kabel multimode,dengan sistem


pasang cabut.Connector jenis ini digunakan untuk sambungan pada
SFP ( Small Form-Factor Plugable ).

Gambar 4.4 LC Connector


4.2.2 Protection Sleeve
PS termasuk dalam jenis media pasif.Saat pengerjaan penyambungan
fiber optic PS bertindak sebagai pelindung dari hasil penyambungan tadi.Hasil
penyambungan fiber optic sangat rentan terhadap gangguan secara
fisik.Seperti retakan ataupun patahan dan core yang terkena debu.Sehingga PS
yang terbentuk dari bahan plastik yang mudah lebur saat dipanaskan dan
mengeras saat didinginkan serta penegak dari besi yang terselebung
didalamnya, mampu melindungi hasil splicing tadi dari gangguan-gangguan
yang kemungkinan terjadi.

Gambar 4.5 Protection Sleeve

44
BAB IV PEMBAHASAN

4.2.3 Stripper

Gambar 4.6 Stripper FO


Merupakan alat pengikis khusus untuk fiber optic.Alat ini sudah di
setting sedemikian rupa, sesuai ukuran kabel yang akan di kikis.

4.2.4 Cleaver
Merupakan alat yang berfungsi sebagai pemotong core yang telah
dikikissebelumnya menggunakan stripper.Sama halnya dengan stripper,
cleaver juga mempunyai ukuran tersendiri untuk beberapa jenis coat pada
fiber optic.Ada beberapa jenis cleaver yang sering ditemukan dilapangan,
seperti:
1. Cleaver FTTH
2. Cleaver Splicing
Perbedaan dari keduanya adalah penggunaan alat sesuai kondisi.

45
BAB IV PEMBAHASAN

Gambar 4.7 Cleaver FO


4.2.5 Splicer
Terdapat 2 metode dalam penyambungan optik yaitu fusion splicingdan
mechanical splicing.Fusion splicing memiliki redaman lebih kecil yaitu
sekitar 0.1 dBm dibanding Mechanical splicing yang mencapai 0.5 sampai
0.75 dbm di setiap sambungan nya.
Fusion splicing melakukan penyambungan dengan cara menyelaraskan
/ meluruskan kedua ujung serat optik yang ingin disambung, memanaskan
dan melebur nya hingga menjadi 1 bagian yang tersambung.
Fusion splicer menggunakan nichrome wire (teknik lama), atau CO2
laser atau pun gas api untuk meleleh kan serat optik yang ingin
disambung.

Gambar 4.8 Splicer Optic

46
BAB IV PEMBAHASAN

4.2.6 Optical Power Meter (OPM)

Digunakan untuk mengukur panjang gelombang dan power dari sinyal


optik.Dari informasi power yang di terima, seorang engineer dapat
mengetahui apakah kualitas power masih dalam spesifikasi perangkat yang
digunakan atau tidak.

Gambar 4.9 Optical Power Meter

4.2.7 Adaptor
Digunakan untuk penyambung/menghubungkan kabel fiber optic satu
dengan yang lain. Jika penyambungan dilakukan terhadap kabel fiber optic
yang memiliki konektor berbeda maka fiber optic adapter disebut fiber optic
adapter hibrid atau Special Adapter.Berikut beberapa jenis fiber optic adapter
1. FC Adapter
Tersedia dalam jenis single mode dan multimode. Ada tiga jenis
bentuk / type fiber optic FC adapter, tipe persegi, dan tunggal. Semua
adapter pembungkusnya terbuat dari logam dan selongsonya terbuat dari
keramik

a. Tipe persegi
b. Tipe Oval HD dan ,
c. Tipe D,

47
BAB IV PEMBAHASAN

2. SC Adapter
Tersedia dalam jenis single mode dan multimode, Simplex dan
duplex.
SC adapter fiberoptic dengan perumahan (housing) plastik, ada warna: biru
untuk PC single mode, hijau untuk APC single mode dan multimode beige
untuk PC. Semua Fiber Optic SC adapter adalah jenis flange, single mode
adapter adalah dengan lengan zirkonia sementara serat multimode adaptor
dengan lengan perunggu.

3. LC Adapter
Adapter fiber optik LC semua rumah (housing) plastik; ada simpleks
LC adapter dan adapter LC duplex, fiber optic adapter LC warna sama
dengan fiber optic SC adapter: biru untuk PC single mode, warna beige
untuk PC modus multi dan hijau untuk APC single mode. Fiber optik
adapter LC dengan lengan perunggu untuk multimode dan lengan zirkonia
untuk single mode.

Gambar 4.10 Adapter

4.2.8 Fast Connector


Merupakan jenis connector juga, namun cara penggunaannya yang
membedakan dengan jenis connector yang lainnya.Fast connector berfungsi
sebagai media/ kepala untuk core yang akan di sambungkan dengan core yang
lain tanpa teknik penyambungan ( splicing ).

Berikut langkah menggunakan Fast Connector,

1. Kupas selubung kabel core yang akan digunakan menggunakan alat


pengikis khusus ( stripper ).
2. Potong ujung core menggunakan pemotong khusus fiber optic (cleaver)
48
BAB IV PEMBAHASAN

3. Bersihkan hasil potongan dengan 49lcohol 90%.


4. Selipkan pemutar Fast connector pada pangkal core sebelum di
patenkan.
5. Masukkan ujung core secara perlahanlalu tekan bagian kuning pada
badan inti fast connector ke atas untuk mengunci core. Lalu terakhir
pasangkan pemutar fast connector menyatu dengan badan inti.

Gambar 4.11 Fast Connector

4.2.9 Pig-tail
Sepotong kabel yang hanya memiliki satu buah konektor diujungnya,
pigtail akan disambungkan dengan kabel fiber yang belum memiliki
konektor.
Biasanya kabel pigtail di install di OTB (Optical Distribution Box) dan
disambung / splicing dengan tarikan kabel Optic yang glondongan (Loose
tube cable / Tight buffered cable).

Gambar 4.12 Pig-tail

49
BAB IV PEMBAHASAN

4.2.10 Splitter
Splitter merupakan komponen pasif yang dapat memisahkan daya
optik dari satu input serat ke dua atau beberapa output serat. Splitter pada
PON dikatakan pasif sebab optimasi tidak dilakukan terhadap daya yang
digunakan terhadap pelanggan yang jaraknya berbeda dari node splitter,
sehingga sifatnya idle dan cara kerjanya membagi daya optik sama rata.
Misalnya, ketika seberkas cahaya serat optik ditransmisikan dari
splitter rasio 1:4 yang sama, maka akan dibagi menjadi 4-serat optik cahaya
dengan rasio yang sama yaitu berkas setiap 25% dari yang asli

Gambar 4.13 Splitter


4.2.11 Patch core
Patchcoreadalah kabel fiber optic dengan panjang tertentu yang sudah terpasang
konektor di ujungnya.Digunakan untuk menghubungkan antar perangkat atau ke
koneksi telekomunikasi. Patchcore adalah kabel fiber indoor yang dipakai hanya
untuk di dalam ruangan saja.Ada yang simplex (1 core) dan ada pula yang duplex
(2 core), Single mode dan Multimode.Patchcore mempunyai banyak sekali jenis
konektor, karena masing-masing perangkat / alat yang digunakan mempunyai tipe
yang berbeda pula disesuaikan dengan kebutuhan.

50
BAB IV PEMBAHASAN

4.2.12 Alkohol

Gambar 4.14 Alkohol

Merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan core pada kabel


fiber optik agar bersih dan mudah dalam proses penyambungan kabel fiber optik.
Alkohol yang digunakan dalam proses tersebut adalah yang memiliki kadar
minimal 70%.

4.2.13 Kabel UTP

Gambar 4.15 Kabel UTP

Kabel UTP digunakan sebagai pelindung pada saat penyambungan kabel


fiber optik. Pada proses penyambungan kabel fiber optik kabel UTP digunakan
sebagai selubung optik dan pada bagian ujung kabel UTP diberi solasi sebagai
pelindung.

51
BAB IV PEMBAHASAN

4.2.14 Tang Potong / Knip

Gambar 4.16 Tang Potong

Merupakan alat yang digunakan sebagai pemotong pada kabel fiber optik.
Biasanya digunakn untuk memotong kawat yang barada pada kabel drop core.

4.3. Pengoperasian Arsitektur PT 1

Gambar4.17 Arsitektur PT 1

52
BAB IV PEMBAHASAN

4.3.1 Optical Distribution Point (ODP)

Gambar 4.18 Optical Distribution Point (ODP)

Merupakan tempat terminasi kabel yang memiliki sifat-sifat tahan korosi,


tahan cuaca,kuat dan kokoh dengan konstruksi untuk dipasang diluar. ODP
berfungsi
sebagai tempat instalasi sambungan jaringan optik single-mode terutama untuk
menghubungkan kabel fiberoptik distribusi dan kabel drop.Perangkat ODP dapat
berisi optical pigtail, connectoradaptor, splitter room dan dilengkapi ruang
manajemen fiber dengan kapasitas tertentu.

ODP dipasang harus sesuai dengan peruntukannya, ODP Pole hanya boleh
dipasang pada tiang, ODP Pedestal dipasang pada permukaan tanah, ODP Wall
dipasang pada dinding dan ODP Clousure hanya boleh dipasang pada kabel SCPT
dan kabel SSW baik pada pertengahan gawang maupun di dekat Tiang.
Cara pemasangan ODP dengan cara mencabut salah satu core dari kabel
distribusi secara urut. Kemudian core tersebut dimaskukan kedalam pasif, pasif
yang biasa digunakan pada ODP yaitu pasif 1/2, 1/4, 1/8, 1/16. ODP juga
merupakan suatu perangkat pasif yang diinstalasi diluar STO bisa di lapangan
(Outdoor) dan juga bisa didalam ruangan (Indoor) didalam gedung HRB,
yang mempunyai fungsi sebagai berikut :
Sebagai titik terminasi ujung kabel distribusi dengan kabel
penanggal (drop wire).

53
BAB IV PEMBAHASAN

Sebagai titik distribusi kabel distribusi menjadi beberapa saluran


yang menuju ke pelanggan.
Tempat Splitter.
Tempat Penyambungan

Sehingga ODP ini harus dilengkapi dengan space untuk splicing dan
space untuk splitter.Kapasitas ODP bermacam macam sesuai dengan
kebutuhan. Secara standart kapasitas port pada ODP yaitu :

Kapasitas 8 port

Kapasitas 12 port

Kapasitas 16 port

Kapasitas 24 port

Kapasitas 48 port

Splitter merupakan komponen pasif yang dapat memisahkan daya optik


dari satu input serat ke dua atau beberapa output serat. Splitter pada PON
dikatakan pasif sebab tidak memerlukan sumber energi eksternal dan optimasi
tidak dilakukan terhadap daya yang digunakan terhadap pelanggan yang jaraknya
berbeda dari node splitter, sehingga cara kerjanya membagi daya optik sama rata.

Gambar 4.18 Splitter

Passive splitter atau splitter merupakan optical fiber couplersederhana


yang membagi sinyal optik menjadi beberapa path (multiple path) atau sinyal-
sinyal kombinasi dalam sutu jalur. Selain itu splitter juga dapat berfungsi untuk

54
BAB IV PEMBAHASAN

merutekan dan mengkombinasikan berbagai sinyal optik. Alat ini sedikitnya


terdiri dari 2 port dan bisa lebih hingga mencapai 32 port.
Berdasarkan ITU G.983.1 BPON Standard direkomendasikan agar sinyal
dapat dibagi untuk 32 pelanggan, namun rasio meningkat menjadi 64 pelanggan
berdasarkan ITU-T G.984 GPON Standard. Hal ini berpengaruh terhadap redaman
sistem, seperti pada tabel dibawah ini.
Ratio Redaman
1:2 2,8 4,0 dB
1:4 5,8 7,5 dB
1:8 8,8 11,0 dB
1:16 10,7 14,4 dB
1:32 14,6 18,0 dB

Jenis Jenis ODP

1. ODP Pole, Jenis ODP ini Biasanya diletakkan pada tiang Telkom

2. ODP Closure, ODP Clousure hanya boleh dipasang pada kabel SCPT dan kabel
SSW baik pada pertengahan gawang maupun di dekat Tiang.

3. ODP Pedestal, ODP Pedestal ini biasanya dipasang pada permukaan tanah

Permasalahan dan Penanganannya

1. Splitter rusak
Cara Mengatasi :
- Cek apakah redaman pada spliter masih bisa diperbaiki, apabila tidak
ganti dengan yang baru dan yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Manajemen kabel
Cara mengatasi :
- Pastikan kabel di instalasi sesuai petunjuk dan pastikan semuanya
terpasang sesuai petunjuk pastikan juga tidak ada kabel yang terjepit.

55
BAB IV PEMBAHASAN

4.3.2 Kabel Drop Core

suatu jenis kabel yang diperuntukkan sebagai media transmisi terarah


(guieded/wireline) guna kepentingan perpindahan arus data dalam dunia jaringan
komputer.

Gambar 4.19 Kabel Drop Core

Karakteristik

Selain beberapa komponen di atas, karakteristik kabel jaringan fiber optik


secara umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Bagian dalam kabel jaringan fiber optik terdiri dari inti yang terbuat dari
serat kaca dan diselubungi oleh beberapa lapisan yang bersifat sebagai
pelindung.
Konektor yang umum digunakan untuk kabel jaringan fiber optik adalah
konektor ST, namun baru-baru ini ada konektor lain yang diperkenalkan
sebagai pasangan kabel jaringan fiber optik yakni konektor SC.
Kecepatan transfer data yang mampu dilakukan kabel fiber optik berada di
angka 100 Mbps ke atas (bahkan dapat mencapai 1000 Mbps).
Biaya rata-rata pernode cukup mahal.
Diameter kabel jaringan fiber optik dan dan ukuran konektornya relatif
kecil sehingga fleksibel dalam proses instalasi.
Panjang kabel jaringan fiber optik sangat panjang yakni mencapai 2 km
(mengalahkan kabel jaringan lainnya seperti Coaxial dan Twisted Pair).

56
BAB IV PEMBAHASAN

Kelebihan

Kabel jaringan fiber optik dapat beroperasi dengan kecepatan yang sangat
tinggi dalam membawa informasi atau data, bahkan lebih tinggi dibanding
kabel jaringan Coaxial ataupun kabel Twisted Pair. Kecepatan transfer
data-nya bahkan dapat mencapai 1000 mbps.
Bandwith kabel jaringan fiber optik tak perlu diragukan lagi karena
mampu membawa paket-paket dengan kapasitas besar (bisa tembus 1
gigabit per detik).
Kabel jaringan fiber optik dapat mengirim sinyal lebih jauh dibanding
kabel jaringan jenis lainnya, bahkan tanpa memerlukan perangkat penguat
sinyal seperti repeater atau lainnya. Kalaupun dibutuhkan, penguat sinyal
tidak perlu dipasang setiap 5 km seperti kabel-kabel jaringan lainnya,
melainkan cukup dipasang setiap 20 km saja.
Material yang dipakai untuk membuat kabel jaringan fiber optik memiliki
keunggulan untuk bisa bertahan pada banyak gangguan seperti
kelembaban udara dan cahaya (panas). Dengan begitu maka dapat
disimpulkan bahwa kabel fiber optik relatif awet karena tidak gampang
rusak.
Kemampuan kabel jaringan fiber optik yang tahan lama dan tidak
gampang rusak membuatnya jadi lebih efisien dibanding kabel jaringan
lainnya, karena biaya perawatan pun jadi kian murah.
Tak berbeda jauh dengan kabel jaringan STP, kabel jaringan fiber optik
juga kuat terhadap interferensi elektromagnetik yang berasal dari sekitar
kabel.
Kabel jaringan fiber optik terdiri dari berbagai macam jenis yang dapat
menjadi opsi untuk menyesuaikan dengan lokasi instalasinya. Mulai dari
instalasi di dalam gedung, di bawah tanah hingga di dalam air, semuanya
tersedia dengan kriteria dan karakteristik yang berbeda-beda.
Karena bukan mengirim sinyal listrik melainkan gelombang cahaya, kabel
jaringan fiber optik mampu mengatasi masalah gangguan gelombang
frekuensi bahan elektrik. Dengan bagitu maka kabel jaringan jenis ini

57
BAB IV PEMBAHASAN

sangat ideal untuk digunakan pada kawasan yang dikelilingi gelombang


frekuensi cukup tinggi.
Diameter kabel jaringan fiber optik yang relatif kecil dan tipis, ditambah
lagi dengan bobotbya yang ringan membuat proses instalasi kabel fiber
optik relatif mudah karena bersifat fleksibel.
Berbeda dengan kabel jaringan lainnya yang berpotensi menyebabkan
terjadinya korsleting atau kebakaran, khusus pada kabel fiber optik hal itu
tidak akan terjadi karena menggunakan bahan dasar serat kaca yang aman
dan tidak mudah terbakar karena: tidak mengalirkan listrik.
Berbeda dengan kabel jaringan UTP dan STP yang masih menimbulkan
kemungkinan terjadnya penyadapan, hal ini tidak berlaku pada kabel
jaringan fiber optik karena dapat meneruskan data tanpa ada distorsi atau
gangguan.
Kabel jaringan fiber optic dapat dengan mudah di-upgrade bahkan tanpa
perlu mengubah sistem kabel yang ada.

Kekurangan

Harga kabel jaringan fiber optik masih terlalu mahal, terutama jika
dibandingkan dengan kabel jaringan lainnya seperti kabel UTP yang
terkenal murah meriah.
Dalam proses instalasi kabel jaringa fiber optik diperlukan beberapa alat
khusus berupa perangkat elektronik yang untuk saat ini memang masih
sangat mahal. Alhasil tidak semua orang bisa ataupun mau menggunakan
kabel ini sebagai media pendukung dalam instalasi sebuah jaringan
komputer.
Dalam proses pengiriman sinyal, karena harus dilakukan perubahan sinyal
listrik ke sinyal optik terlebih dahulu maka kabel jaringan fiber optik
menunut adanya sumber cahaya yang kuat untuk melakukan pen-sinyalan
seperti alat pembangkit listrik eksternal.
Jika rusak, perbaikan instalasi kabel jaringan fiber optik yang kompleks
memerlukan tenaga yang ahli di bidang ini.

58
BAB IV PEMBAHASAN

Kabel jaringan fiber optik ditakutkan bisa menyerap hidrogen sehingga


dapat menyebabkan loss data.
Mengingat kabel jaringan fiber optik menggunakan gelombang cahaya
untuk mentransmisikan data, maka kabel jaringan jenis ini tidak dapat
diinstal dalam jalur yang berbelok secara tajam atau menyudut. Jika
terpaksa harus berbelok, maka harus dibuat belokan yang melengkung.

4.3.3 Optical Indoor Outlet (ROSET)

Roset merupakan perangkat pasif yang diletakkan di dalam rumah


pelanggan, yang menjadi titik terminasi akhir dari kabel indor fiber optik,
kapasitas roset biasanya 1 atau 2 port

Gambar 4.20 Roset


4.3.4 Patch core
Patchcore adalah kabel fiber optic dengan panjang tertentu yang sudah
terpasang konektor di ujungnya.Digunakan untuk menghubungkan antar
perangkat atau ke koneksi telekomunikasi. Patchcore adalah kabel fiber indoor
yang dipakai hanya untuk di dalam ruangan saja.

4.3.5 Connector (penguhubung)


Pada kabel serat optik, sambungan ujung terminal atau disebut juga konektor,
biasanya memiliki tipe standar seperti berikut:

59
BAB IV PEMBAHASAN

1. FC ( Fiber Connector )
Digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat tinggi
dalam menghubungkan kabel dengan transmitter maupun receiver.
2. SC (Subsciber Connector )

Digunakan untuk kabel single mode, dengan sistem dicabut-pasang. Konektor


ini tidak terlalu mahal, simpel, dan dapat diatur secara manual serta akurasinya
baik bila dipasangkan ke perangkat lain.

3. LC ( Lucent Connector )

Lebih sering digunakan untuk kabel multimode,dengan sistem pasang


cabut.Connector jenis ini digunakan untuk sambungan pada SFP ( Small Form-
Factor Plugable ).

4.3.6 Optical Network Terminal (ONT)

Adalah suatu perangkat aktif yang dipasang di sisi pelanggan, diamana ONT
tersebut mempuntai fungsi sebagai berikut :

1. Mengubah sinyal Optik menjadi sinyal elektrik

2. Sebagai alat demultiplex

Gambar 4.21 Optical Network Terminal (ONT)

60
BAB IV PEMBAHASAN

Permasalahan yang sering terjadi

1. ONT Error/Mati
Cara mengatasinya :
- Cek apakah ONT dapat dikonfigurasi
- Ganti dengan yang baru
2. Wifi Rusak
Cara mengatasinya:
- Setting ulang wifi
3. Port LAN tidak bisa
Cara mengatasi :
- Ganti dengan yang baru

Keluaran Dari ONT adalah Layanan :

1. Telphon (voice)
Permasalahan sering yang terjadi :
- Telphone tidak ada suara
Cara mengatasi :
1. Lakukan setting ulang pada ONT

2. Internet
Permasalahan yang sering terjadi :
- Tidak bisa browsing
- Tidak dapat connect ke wifi
Cara mengatasi :

1. Lakukan setting ulang pada ONT

3.. UseeTV

Permasalahan yang sering terjadi :

- Tidak bisa Konek ke tv

Cara mengatasi:

1. Lakukan setting ulang pada ONT

61
BAB IV PEMBAHASAN

Gambar 4.23 Penarikan Kabel Fiber Optik

Gambar 4.24 Splashing Fiber Optik

Gambar 4.23 Pengecekan ODP

62
BAB V PENUTUP

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari kegiatan yang kami dapat selama menjalani kegiatan
Praktek Kerja Industri adalah kami menyimpulkan bahwa dengan
melaksanakan Praktek Kerja Industri, dalam dunia industry banyak hal baru
yang didapat, dan belum pernah kami temukan sebelumnya dalam dunia
pendidikan, dalam dunia industri kami mengamati beberapa bagian yang
penting dalam pendukung kinerja PT. Telkom Akses Malang (AP Blimbing)
antara lain :
1. Mengutamakan tanggung jawab saat di lapangan kerja.
2. Disiplin saat pelaksanaan kerja lapangan
3. Tidak takut untuk bertanya

5.2 SARAN
Demikianlah yang dapat kami tuliskan mengenai materi yang
menjadi pokok pembahasan dalam laporan ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan terbatasnya pengetahuan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul laporan ini. Penulis mengharapkan kritik dan
saran kepada pembaca yang bertujuan untuk membangun penulis demi
sempurnanya laporan ini dan penulisan laporan di kesempatan berikutny

63
DAFTAR PUSTAKA
a. Sabiq,Wildan Aula,2007,Teknologi dan Implementasi FTTx,Achmad
Hidayatno,Semarang.
b. Zairuddin,Mochammad,2010,Analisa Perhitungan untuk Kebutuhan Daya
Serat Optik di Telkom,ITS,Surabaya.
c. Agrawal, G.P., 2002, Fiber-optic communication systems, Ed. 3, New-
York: John Wiley & Sons, Inc.
d. Oliviero, Andrew, and Woodward, Bill, (2009), Cabling: the complete
guide to copper and fiber-optic networking, Indianapolis:Wiley
Publishing, Inc.,
e. Bachrudin,Fahraini,2012,Saluran Transmisi,Universitas Mercu
Buana,Yogyakarta.
f. Sejarah Telkom https://id.wikipedia.org/wiki/Telkom_Group.
g. Tentang Telkom http://www.telkom.co.id/UHI2011/ID/0302_riwayat.html
PT.Telekomukasi Indonesia, Tbk

64